Anda di halaman 1dari 26

Presented By :

Sahmia
Alifa Indriastuti P.S
Luqman hakim
Di Indonesia penyakit batu saluran kemih
masih menempati porsi terbesar dari jumlah
pasien di klinik urologi
Dari data di luar negeri didapatkan bahwa
resiko pembentukan batu sepanjang hidup
(life time risk) dilaporkan berkisar 5-10%
(EAU Guidelines). Laki-laki lebih sering
dibandingkan wanita (kira-kira 3:1) dengan
puncak insidensi antara dekade keempat dan
kelima, hal ini kurang lebih sesuai dengan
yang ditemukan di RSUPN-CM. Beberapa
macam batu saluran kemih, salah satunya
adalah batu ureter (IAUI, 2007).
Definisi
Batu saluran kemih adalah terbentuknya batu
yang disebabkan oleh pengendapan
substansi yang terdapat dalam air kemih
seperti garam kalsium, magnesium, asam
urat, atau sistein yang jumlahnya berlebihan
atau karena faktor lain yang mempengaruhi
daya larut substansi (Purnomo, 2011).
Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di
dalam ureter. Batu ureter pada umumnya berasal
dari batu ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter
mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih
dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter
juga bisa sampai ke kandung kemih dan
kemudian berupa nidus menjadi batu kandung
kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di
ureter sambil menyumbat dan menyebabkan
obstruksi kronik dengan hidroureter dan
hidronefrosis. Jika disertai dengan infeksi
sekunder dapat menimbulkan pionefrosis,
urosepsis, abses ginjal, abses perinefrik, abses
paranefrik, ataupun pielonefritis. Tidak jarang
terjadi hematuria yang didahului oleh serangan
kolik (Purnomo, 2011).
Etiologi
1. Faktor Intrinsik
Herediter
Umur
Laki-laki

2. Faktor Ekstrinsik
geografi
Iklim dan temperatur
Asupan air
Diet
Pekerjaan
Kebiasaan menahan kencing
1. Anamnesis
pasien mengeluh nyeri kolik hebat, nyeri pada saat kencing dan sering
kencing, hematuri, mual, muntah, distensi abdomen

2. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Terlihat pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas.
Pembesaran ini mungkin karena hidronefrosis.
Palpasi
Ditemukan nyeri tekan pada abdomen sebelah atas. Bisa kiri, kanan atau
dikedua belah daerah pinggang. Pemeriksaan bimanual dengan memakai
dua tangan atau dikenal juga dengan nama tes Ballotement. Ditemukan
pembesaran ginjal yang teraba disebut Ballotement positif.
Perkusi
Ditemukan nyeri ketok pada sudut kostovertebra yaitu sudut yang
dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang vertebra (Tanagho et al,
2004; IAUI, 2007)
3. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
a)Urinalisis
Makroskopik didapatkan gross hematuria.
Mikroskopik ditemukan sedimen urin yang menunjukkkan
adanya leukosituria,hematuria, kristal-kristal pembentuk batu.
Pemeriksaan kimiawi ditemukan pH urin lebih dari 7,6
menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea dan
kemungkinan terbentuk batu fosfat. Bisa juga pH urin lebih asam
dan kemungkinan terbentuk batu asam urat.
Pemeriksaan kultur urin menunjukkan adanya pertumbuhan
kuman pemecah urea.
Pemeriksaan Faal Ginjal. Pemeriksaan ureum dan kreatinin
adalah untuk melihat fungsi ginjal baik atau tidak. Pemeriksaan
elektrolit untuk memeriksa factor penyebab timbulnya batu
antara lain kadar kalsium, oksalat, fosfat maupun urat di dalam
urin.
b)Pemeriksaan Darah Lengkap
Dapat ditemukan kadar hemoglobin yang menurun akibat
terjadinya hematuria. Bisa juga didapatkat jumlah lekosit yang
meningkat akibat proses peradangan di ureter.
Radiologi
Foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya
batu apakah terjadi bendungan atau tidak. Pada
gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat
dilakukan; pada keadaan ini dapat dilakukan
retrograd pielografi atau dilanjutkan dengan
antegrad pielografi, bila hasil retrograd pielografi
tidak memberikan informasi yang memadai. Pada
foto BNO batu yang dapat dilihat disebut sebagai
batu radioopak, sedangkan batu yang tidak
tampak disebut sebagai batu radiolusen, berikut
ini adalah urutan batu menurut densitasnya, dari
yang paling opaq hingga yang paling bersifat
radiolusent; calsium fosfat, calsium oxalat,
magnesium amonium fosfat, sistin, asam urat,
xantine.
Pielografi intra vena (PIV)
Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan
anatomi dan fungsi ginjal. Juga untuk
mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun
batu non-opak yang tidak terlihat oleh foto
polos abdomen.
IPV menit ke 5
Pada menit ke-5, organ yang dinilai yaitu
perginjalan, yang meliputi nefrogram dan
sistem pyelocalices (SPC). Nefrogram yaitu
bayangan dari ginjal kanan dan kiri yang
terisi kontras. Warnanya semiopaque, jadi
putihnya sedang-sedang saja.
Pada menit ke-5, contoh penyakit yang bisa
diketahui yaitu penyakit-penyakit yang ada di
ren, misalnya pyelonefritis, nefrolitiasis,
hidronefrosis, massa/tumor renal, dll.
IPV menit ke 15

Penilaian ureter:
Jumlah ureter.
Terkadang, ureter bisa hanya nampak 1 aja, itu
mungkin di sebabkan kontraksi ureter saat
pengambilan foto, jadi tidak nampak ketika difoto.
Posisi ureter.
Kaliber ureter.
Maksudnya diameternya, normal < 0.5 cm.
Ada tidaknya batu, baik lusen maupun opaque.
Kemudian nyatakan bentuk, jumlah, ukuran, dan letak
batu.
Contoh penyakit pada menit ke 15 diantaranya:
hidroureter, ureterolithiasis, ureteritis.
IVP menit ke 45
Menit ke 45 : Menilai buli-buli.
Apakah dinding buli reguler? adakah
additional shadow (divertikel) ataupun filling
defect (masa tumor) dan indentasi prostat.
gambaran dinding yang menebal ireguler
dicurigai adanya sistitis kronis.
Contoh penyakit pada menit ke 45 yaitu
cystitis, pembesaran prostat, massa
vesikolithiasis
POST MIKSI
Kita harus menilai apakah setelah pasien
berkemih kontras di buli minimal? Seandainya
terdapat sisa yang banyak kita dapat
mengasumsikan apakah terdapat sumbatan
di distal buli ataupun otot kandung kencing
yang lemah. Normalnya yaitu sisa 1/3 dari
buli-buli penuh
Identitas Pasien
Nama : Ny. NB
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 41 Tahun
Status : Sudah menikah
Alamat : Jl. Primatama
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Swasta
MRS : 5Februari 2017
Anamnesis (tanggal5Februari 2017)
1. Keluhan utama : Nyeri pinggang bagian kiri
2. Riwayat penyakit sekarang :
Nyeri yang dirasakan pasien sejak bulan Januari 2017.
Nyeri menjalar dari pinggang kiri sampai ke bagian perut,
nyeri hilang timbul. Pasien juga sering merasakan demam
dan mengigil, tidak ada mual dan muntah, makan dan
minum baik, BAB baik, riwayat BAK berwarna kecoklatan,
riwayat BAK keluar batu tidak ada, BAK berwarna merah
tidak ada. BAK berpasir tidak ada.
Pasien pada bulan November pernah diopname di RS
dengan keluhan yang sama. Pasien juga sudah melalukan
pemeriksaan USG dengan hasil diagnosa batu ureter kiri
dan pasien disarankan untuk operasi. Tetapi pasien
sebelum melakukan tindakan operasi pasien diberi obat
untuk menghancurkan batu tersebut, tetapi selama pasien
kontrol ke poli tidak ada perubahan sampai sekarang.
Maka dari itu pasien harus di opname untuk dilakukan
tindakan operasi.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien baru pertama kali sakit seperti ini.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga kakak pasien pernah mengalami
penyakit seperti yang pasien alami.
5. Riwayat Psikososial
Pasien merupakan pekerja kantoran. Riwayat
alkohol (-), riwayat merokok (-). Kebiasan pasien
setiap hari minum 500 1000ml/ hari.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
GCS : E4V5M6
TTV : Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 22 x/menit
Suhu : 36,6C
Status Generalis :
Kepala :Bentuksimetris
Mata :Konjungtivaanemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor(+/+), reflekcahaya (+/+)
Telinga :Simetris (-/-)
Hidung :Deviasi septum (-), perdarahan (-/-)
Mulut :Muluttidakkotor, faring tidakhiperemis
Leher :Pembesarankelenjargetahbening (-/-), JVP tidakmeningkat
Thorax :Simetris, ikutgeraknafas, retraksi (-)
Jantung :Bunyijantung I,II reguler, gallop (-), murmur (-)
Paru-paru :
Inpeksi : simetris
Palpasi : vocal premitus kedua lapang paru sama
Perkusi : bunyi sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suaranafasvesikuler (+/+),rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Abdomen :
Inpeksi : cembung
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : nyeti tekan (-)
Perkusi : tympani
Status Urologi:
Flank kiri :
Nyeri ketok (+)
Nyeri tekan (+)
Diagnosis kerja
Batu Ureter Proximal Sinistra
Penatalaksanaan
IVFD RL 500cc 20 tpm
Inj. Ceftriaxon 2x1 gr
Inj. Ranitidin 2x1 amp
Inj. Ketorolac 3x1 amp
Tindakan operasi
Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam :dubia ad bonam