Anda di halaman 1dari 47

DASAR PEMISAHAN ANALITIK

Dosen Pengampu:Nailys Saadah,M.Si


OUTLINE EKSTRAKSI
PENDAHULUAN
PRINSIP EKSTRAKSI
TUJUAN EKSTRAKSI
JENIS-JENIS EKSTRAKSI
HUKUM DISTRIBUSI DAN PARAMETER EKSTRAKSI
PENDAHULUAN

Ekstraksi ??
pemisahan suatu zat dari sampel berdasarkan kelarutannya
pada pelarut tertentu.
Hasil ekstraksi ??
Dalam proses ekstraksi dihasilkan dua jenis larutan yaitu
larutan fase organik dan fase air. Larutan fase organik yang
dihasilkan dari proses esktraksi adalah larutan yang kaya
dengan solut yang diinginkan dan sering disebut ekstrak
sedangkan larutan fase air adalah larutan yang miskin
dengan solut disebut rafinat.
Perbandingan antara konsentrasi solut dalam fase organik
terhadap solut dalam fase air disebut koefisien distribusi
(Kd).
PRINSIP DASAR

Suatu metode pemisahan yang berdasarkan


perbedaan distribusi antara dua pelarut.
Proses tersebut terjadi dengan cara
memisahkan zat terlarut melalui dua buah
pelarut yang dapat melarutkan zat tersebut
namun kedua pelarut ini tidak dapat saling
melarutkan.

****
Tujuan Ekstraksi
1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari
organisme. Prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan
dibuat modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan atau
menyesuaikan kebutuhan.
2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia
tertentu, misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin. Dalam situasi
seperti ini, metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa kimia
yang diminati dapat diperoleh dari pustaka.
3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan
tradisional, misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM). Proses ini
harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui kajian ilmiah
biologi atau kimia lebih lanjut, khususnya jika tujuannya untuk
memvalidasi penggunaan obat tradisional.
4. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya
dengan cara apapun. Situasi ini (utamanya dalam program skrining)
dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik
yang dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional
untuk mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus.
Kelebihan Ekstraksi
Dapat dilakukan baik dalam tingkat makro
maupun mikro
Tidak memerlukan alat khusus/ canggih
Proses pemisahan sederhana, cepat dan mudah
Digunakan dalam industri untuk menghilangkan
zat-zat yang tidak diinginkan dalam produk
KLASIFIKASI EKSTRAKSI

Berdasarkan Bentuk Campuran Yang Diekstraksi

Ekstraksi Padat-Cair
Zat yang diekstraksi terdapat dalam campuran yang berbentuk
padatan.
Ekstraksi ini banyak dilakukan dalam usaha mengisolasi zat yang
berkhasiat yang terkandung dalam bahan alam steroid, hormon,
antibiotika, lipid pada biji-bijian.
Ekstraksi Cair-Cair (ekstraksi pelarut)
Zat yang diekstraksi terdapat dalam campuran yang berbentuk
cair.
contoh: pemisahan iod atau logam-logam dalam air.
KLASIFIKASI EKSTRAKSI

Berdasarkan Proses Pelaksanaannya


Ekstraksi kontinyu
Pelarut yang sama digunakan berulang kali sampai proses
ekstraksi selesai.
Alat : soxhlet.
Ekstraksi tunggal/bertahap
Pada ekstraksi ini, setiap kali ekstraksi selalu digunakan
pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai.
Eskt Tunggal dilakukan 1x penggojokan
Eskt Bertahap dilakukan beberapa kali penggojokan
Alat : corong pisah.
EKSTRAKSI CAIR-CAIR

Ekstraksi cair cair /pelarut merupakan


pemisahan suatu senyawa dalam dua macam
pelarut organik diusahakan agar kedua jenis
pelarut (dalam hal ini pelarut organik dan air)
tidak saling tercampur satu sama lain.
Selanjutnya proses pemisahan dilakukan dalam
corong pemisah dengan jalan pengocokan
beberapa kali. Partisi zat-zat terlarut antara dua
cairan yang tidak dapat campur (immiscible).
LANJUTAN.

Ekstraksi pelarut umum digunakan untuk


memisahkan sejumlah gugus yang diinginkan
dari campuran sehingga diperoleh senyawa
murni yang diinginkan
Mengekstraksi gugus/senyawa pengganggu
dalam campuran sehingga diperoleh sampel
yang siap dianalisis secara keseluruhan
Proses Ekstraksi

Prinsip Ekstraksi Cair-Cair


Suppose we have 100 ml of
an aqueous solution containing
A grams of an organic
substance.
We can extracts the substance
with ether (ethoxyethane), its
distribution ratio being twice
in favour of ether. We are
provided with 100 ml of ether
Suppose we have 100 ml
of an aqueous solution
containing A grams of an
organic substance.
We can extracts the
substance with ether
(ethoxyethane), its
distribution ratio being
twice in favour of ether.
We are provided with
100 ml of ether which
may be used in one lot or
in two portions of 50 mL
of each
PEMILIHAN PELARUT
Kelarutannya rendah dalam fase air
Viskositasnya rendah untuk mencegah
terbentuknya emulsi
Toksisitas rendah
Tidak mudah terbakar
Harga Kd besar untuk zat-zat terlarut
Harga Kd kecil untuk kontaminan
Mudah mengambil kembali zat terlarut dan pelarut
(perhatikan titik didih).
ALAT EKSTRAKSI PELARUT
TEKNIK PENGERJAAN

Penambahan pelarut organik pada larutan air


yang mengandung gugus yang bersangkutan.
Dalam pemilihan pelarut organik agar kedua jenis
pelarut (dalam hal ini pelarut organik dan air) tidak
saling tercampur satu sama lain. Selanjutnya
proses pemisahan dilakukan dalam corong pisah
dengan jalan pengocokan beberapa kali.
Ekstraksi dapat dilakukan secara kontinu atau
bertahap, ekstraksi bertahap cukup dilakukan
dengan corong pisah. Campuran dua pelarut
dimasukkan dengan corong pemisah, lapisan
dengan berat jenis yang lebih ringan berada pada
lapisan atas.
EKSTRAKSI PADAT-CAIR

Ekstraksi padat-cair banyak digunakan dalam dunia usaha


untuk mengisolasi substansi berkhasiat di alam, di mana
ekstraksi padat-cair dalam laboratorium akan lebih muda
dengan mengunakan alat ekstraksi yang dikenal dengan
ekstraktor soxhlet. Langkah-langkah ekstraksi padat-cair,
yaitu pencampuran pelarut dan badan-bahan yang
diekstrak, lalu dipisahkan dengan beberapa fase.
Ekstraksi antara padat dan cair yang digunakan untuk
memisahkan analit yang terdapat pada padatan
menggunakan pelarut organik.
Lanjutan.
Transfer difusi komponen terlarut dari padatan
inert ke dalam pelarutnya digunakan untuk
memisahkan analit yang terdapat pada padatan
menggunakan pelarut organik.
Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik,
karena komponen terlarut kemudian dikembalikan
lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan
kimiawi.
Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika
bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven
pengekstraksi.
JENIS-JENIS EKSTRAKSI

1.Metode meserasi
Istilah meceration berasal dari bahasa latin
macerare yang artinya merendam. meserasi
adalah mencari zat aktif yang dilakukan dengan
cara merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari yang sesuai selama beberapa
hari pada temperatur kamar terlindung dari
cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel
melewati dinding sel.
Ekstraksi yang dilakukan dengan merendam bahan
sampel yang akan diekstrak (simplisia) selama
beberapa waktu, umumnya 24 jam, dalam suatu
wadah dengan menggunakan satu atau campuran
pelarut dengan melakukan pengadukan beberapa
kali pada suhu kamar

Prinsip dasar: Penyaringan zat aktif dengan cara


merendam simplisia dalam cairan penyari pada
temperatur ruang dan terlindung dari cahaya
Lanjutan

2.Metode Soxhletes
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara
serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang
telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan
penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga
menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola
menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke
dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan
jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon,
seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat
melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi.

Lanjutan.

Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon


tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT,
atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak
yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
Cara Kerja Soxhletasi

Padatan yang akan diekstrak


dilembutkan terlebih dahulu, dapat
dengan cara ditumbuk atau dapat
juga di iris-iris menjadi bagian-
bagian yang tipis. Kemudian padatan
yang telah halus di bungkus dengan
kertas saring dan dimasukkan
kedalam alat ekstraksi soxhlet.
Pelarut organik dimasukkan ke
dalam labu godog. Kemudian
peralatan ekstraksi di rangkai
dengan pendingin air. Ekstraksi
dilakukan dengan memanaskan
pelarut organik sampai semua analit
terekstrak.
Fungsi dari bagian-bagian alat :
Condensor merupakan bagian alat dari
seperangkat alat ekstraktor Soxhlet yang
berfungsi sebagai system pendingin uap pelarut
panas, sehingga uap pelarut tersebut berubah
menjadi fasa cair karena proses kondensasi.
Sistem dingin pada kondensor diperoleh dari
aliran air dingin yang didinginkan dengan es batu
dan dialirkan dengan pompa melalui water in
dan keluar melalui water out.
Bypass sidearm merupakan bagian dari
seperangkat alat ekstraktor Soxhlet yang
berfungsi sebagai penghubung labu pemanas
dengan thimble yang tembus langsung ke atas
dengan kondensor, sehingga uap air dapat naik
dari labu pemanas menuju kondensor.
Thimble merupakan bagian dari seperangkat alat
Soxhlet yang berfungsi sebagai tempat sampel
padat yang telah ditumbuk dan siap untuk
diekstrak dengan pelarut yang telah terkondensasi
menjadi fasa cair.
Siphon armmerupakan bagian dari seperangkat
alat Soxhlet yang berfungsi sebagai alat penanda
bahwa proses ekstraksi berjalan satu siklus.
Boiling flask merupakan bagian dari seperangkat
alat Soxhlet yang berfungsi sebagai tempat pelarut
dan hasil ekstraksi.
Heating mantle merupakan alat pemanas yang
berfungsi untuk memanaskan pelarut agar terjadi
proses penguapan pelarut pada ekstraksi Soxhlet.
Keuntungan Metode Sokhletasi

Dapat digunakan dalam skala besar.


Keamanan kerja dengan alat ini lebih tinggi.
Lebih effisien tenaga karena tinggal menunggu hasil
dari proses sirkulasi.
Pelarut dapat di peroleh kembali setelah proses
ekstraksi selesai, sehingga dapat digunakan
kembali.
Kemurnian tinggi karena susunan alat menyebabkan
proses berjalan efektif dan tanpa adanya
pengotor.
Lanjutan
3.Metode Perkolasi
Perkolasi adalah metoda ekstraksi cara dingin yang
menggunakan pelarut mengalir yang selalu baru.
Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi metabolit
sekunder dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang
tidak tahan panas (termolabil).
Ekstraksi dilakukan dalam bejana yang dilengkapi kran
untuk mengeluarkan pelarut pada bagian bawah.
Perbedaan utama dengan maserasi terdapat pada pola
penggunaan pelarut, dimana pada maserasi pelarut
hanya di pakai untuk merendam bahan dalam waktu
yang cukup lama, sedangkan pada perkolasi pelarut
dibuat mengalir.
Prinsip kerja dari teknik ini adalah serbuk
simplisia ditempatkan dalam suatu bejana
silinder, yang bagian bawahnya diberi
sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari
atas ke bawah melalui serbuk tersebut,
cairan penyari akan melarutkan zat aktif
sel-sel yang dilalui sampai mencapai
keadaan jenuh. Gerak kebawah
disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya
sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi
dengan daya kapiler yang cenderung untuk
menahan. Kekuatan yang berperan pada
perkolasi antara lain: gaya berat,
kekentalan, daya larut, tegangan
permukaan, difusi, osmosis, adesi, daya
kapiler dan daya geseran.
Hukum Distribusi NERNST

Nernst pertama kalinya memberikan pernyataan yang jelas


mengenai hukum distribusi ketika pada tahun 1891. Nernst
menunjukkan bahwa suatu zat terlarut akan membagi dirinya
antara dua cairan yang tak-dapat campur sedemikian rupa
sehingga angka banding konsentrasi pada keseimbangan
adalah konstanta pada suatu temperatur tertentu.
Lanjutan.
Bila suatu zat X yang terlarut dalam pelarut 1
dikocok dengan pelarut 2 yang tidak saling campur di
dalam corong pisah maka sebagian zat X akan
terdistribusi pada pelarut 2. proses ini merupakan
proses bolak balik (reversible).
[X]1 [X]2

Proses ini akhirnya akan mencapai


kesetimbangan, artinya pada suhu
tertentu jumlah X yang terekstraksi
di dalam pelarut 2 telah sesuai dengan
nilai kelarutan X dalam pelarut 2 tersebut.
Pada Kesetimbangan tersebut berlaku
Hk. Nerst

Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua


pelarut tersebut tetap, dan merupakan suatu tetapan
pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan
distribusi atau koefisien distribusi. Koefisien
distribusi dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

KD = [X]2 / [X]1

SYARAT :
1. Keadaan molekul sama dalam kedua pelarut (tidak mengalami
asosiasi, disosiasi)
2. Suhu Konstan
Jika solut di dalam kedua fasa pelarut mengalami
reaksi-reaksi tertentu seperti assosiasi, dissosiasi,
maka akan lebih berguna untuk merumuskan
besaran yang menyangkut konsentrasi total
komponen senyawa yang ada dalam tiap-tiap
fasa, yang dinamakan (D) angka banding
distribusi
Perbandingan Distribusi (D)
D menyatakan perbandingan distribusi semua
spesies yang ada dalam masing-masing fasa.
Contoh: Asam benzoat (HBz) merupakan asam
lemah yang di dalam air dapat terionisasi
sebagian

HBz H+ + Bz -

Ka = konstanta ionisasi

****Karena ada HBz yang sebagian terionisasi di dalam air, maka dalam
tinjauan kimia analitik diperhitungkan nilai D.
Jika semua keadaan diperhitungkan dalam
menghitung konstanta distribusi, maka besaran
baru diberi nama rasio distribusi (D)

Karena adanya ionisasi maka harga konsentrasi HBz dalam air akan berkurang,
karena molekul asam benzoat akan terurai sebagian. Konsekuensinya, Konstanta
Distribusi (Kd) harus dikoreksi dan faktor Ka harus dimasukkan.
Rumus ini menyatakan hubungan antara D, KD, Ka asam lemah
dan pH fasa air. Oleh karena pada umumnya asam-asam
lemah mempunyai nilai Ka dan KD yang berbeda satu sama
lain, maka pemisahan campuran asam-asam lemah dapat
dilakukan dengan cara ekstraksi pelarut yaitu dengan jalan
mengatur pH fasa air.
Contoh Soal

Sebanyak 1 gram asam benzoat yang dilarutkan


dalam 100 mL air diekstraksi dengan 100 mL eter.
Diketahui Kd=100, Ka=6,5.10-5. Hitung D jika pH
lapisan air 3, 5, dan 7.
pH =3
D = 100 / 1 + 6,5.10-5/10-3 = 93,9
pH =5
D = 100 / 1 + 6,5.10-5/10-5 = 13,3
pH =7
D = 100 / 1 + 6,5.10-5/10-7 = 0,15
Ekstraksi Berulang

Bagaimana cara yang paling efisien untuk


mengekstrak suatu zat X secara kuantitatif dari
suatu larutan Efisiensi Ekstraksi
Contoh :
Sebanyak Xo gr zat X dalam Va mL air
diekstraksi dengan Vo mL pelarut organik.
Berapa gram zat X yang masih tinggal dalam
fase air setelah n kali ekstraksi?
Xn = Xo (Va / Kd.Vo + Va) n
Cara 1
Contoh Soal
Sebanyak 40 mg I2 dilarutkan dalam 100 mL air,
kemudian diekstraksi dengan pelarut CS2 pada
suhu dimana Kd I2 antara CS2 dan air = 400.
Berapa gram I2 yang tinggal dalam fase air
setelah :
a. Diekstraksi 1x dengan 50 mL CS2
b. Diekstraksi 2x dengan 25 mL CS2
Jawab
Xn = Xo ( Va / Kd.Vo + Va)
n=1

Va=100
Vo=50
Xn = 40 (100/ 400.50 + 100)1= 0,20mg
n=2

Va=100
Vo=25
Xn = 40 (100/ 400.25 + 100)2= 0,004 mg
Cara 2
Kd = Co / Ca

Contoh, jika sampel berjumlah 4 gram asam butirat


hendak diekstrak dari 500mL air dengan 500mL
eter dan harga koefisien distribusi sistem ini = 3
maka perhitungan dapat dibandingkan dengan
menggunakan cara ekstraksi tunggal dan ekstraksi
berulang.
Jika ekstraksi tunggal :
Kd = Cet / Cair

Maka di dapatkan X = 1 yang artinya 1 gram asam butirat


yang tertinggal di pelarut air.
Jika ekstraksi berulang
Jika dilakukan dua kali ektraksi dengan menggunakan 2x250 mL
eter maka:

didapatkan sisa asam butirat


sebanyak 1,6 gr (artinya di
dapatkan 2,4 gr asam butirat
dalam lapisan eter)

Sisa asam butirat 1,6 gr diambil dari sisa volume eter (250 mL)
sehingga didapatkan :

didapatkan sisa asam butirat


sebanyak 0,64 gram (artinya di
dapatkan 0,96 gram asam butirat
dalam di lapisan eter)

Total ektstraksi = 2,4 + 0,96 = 3,36 gram


Sisa di lapisan air 0,64 gram.
Hubungan %E dan D
Jika Va =/ Vo

Jika Va = Vo
Contoh soal

20 mL larutan asam butirat 0,1 M dikocok dengan


10 mL eter. Setelah keduanya dipisahkan lapisan
air di titrasi lalu diketahui 0,5 mmol masih ada
dalam air.
a. Berapa harga D?
b. Berapa harga %E?
Jawab
mmol asam butirat = 0,1 M.20 mL = 2 mmol
Asam butirat dalam fase organik = 2 mmol 0,5
mmol = 1,5 mmol

D = [As.butirat]o / [As.butirat]a
= 1,5mmol/10mL / 0,5mmol/20mL
=6
%E = 100.D / D +(Va/Vo)
= 100.6 / 6+(20/10)
= 75%