Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK 1

FOTOKIMIA REDUKSI ION BESI(III)


( KA1-6 )







DISUSUN OLEH
NAMA : DESI NUR ASTUTI
NIM : 09/283718/PA/12679
FAK/PRODI : MIPA/KIMIA
KELOMPOK : 3 (TIGA)
HARI/TANGGAL : KAMIS, NOVEMBER 2011
ASISTEN : DANIEL AGUNG P



LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2011
FOTOKIMIA REDUKSI ION BESI(III)
( KA1-6 )

Desi Nur Astuti
09/283718/PA/12679

INTISARI

Telah dilakukan percobaan 'Fotokimia Reduksi Ion Besi(III)` yang bertufuan untuk
mempelafari reaksi reduksi ion Besi(III) secara fotokimia dan untuk mempelafari
pemanfaatnya untuk cetak biru. Ion Besi(III) dapat direduksi oleh ion oksalat dan
dipercepat dengan adanya cahaya melalui reaksi fotokimia. Untuk kepentingan
pencetakan obfek, reduksi diperlambat oleh diammonium hidrofosfat. Untuk cetak biru,
reduksi besi dibantu oleh cahaya dan dicuci dengan K
3
]Fe(CN)
6
}, K
2
Cr
2
O
7
, HCl, dan air
kran. Pada praktikum ini dilakukan variasi waktu penyinaran 5, 10, dan 15 menit.
Hasilnya, ketiga variasi waktu penyinaran tidak menampakan obfek yang diinginkan. Hal
ini terfadi karena waktu penyinaran yang terlalu singkat.
Kata kunci. Fotokimia, Reduksi, Ion Besi, Cetak biru.


1. TU1UAN
Mempelajari reaksi reduksi ion Besi(III) secara Iotokimia dan mempelajari
pemanIaatannya untuk cetak biru.

. DASAR TEORI
Fotokimia merupakan cabang ilmi kimia yang berkaitan dengan reaksi kimia yang
dihasilkan oleh cahaya terutama radiasi sinar ultraviolet / UV (Pudjaatmaka, 2002). Fotokimia
adalah suatu proses reaksi kimia yang membutuhkan sinar (Fardiaz, 2006). Teknologi
Iotokimia merupakan suatu teknologi yang berkaitan dengan adanya perubahan secara kimia
suatu bahan akibat adanya aktiIitas sinar matahari (Rachimoellah, 2010). Perubahan Iotokimia
(photochemical changes) disebabkan karena paparan sinar matahari yang cukup kuat pada
senyawa kimia (Hadi, 2007). Ada 2 Jenis reaksi Iotokimia, yaitu: (1) Reaksi Eksergonik,
disebut juga Iotokatalitik, cahaya hanya memulai reaksi dengan menurunkan energi aktivasi
reaksi, (2) Reaksi Endergonik, energi cahaya sebagian diubah menjadi energi kimia (Atkins,
1999). Menurut Montalti, dkk (2006), hukum-hukum dasar Iotokimia yaitu:
1. Hukum Grotthus-Draper ( Theodor Grotthus - John W. Draper)
Hanya sinar yang diserap oleh molekul yang menghasilkan perubahan kimia dalam
molekul.
2. Hukum Einstein-Stark (Albert Einstein Johannes Stark)
Jika suatu spesies menyerap radiasi, maka satu partikel tereksitasi untuk setiap kuantum
radiasi yang diserap.

Besi murni adalah logam yang berwarna putih perak yang kukuh dan liat yang melebur
pada 1535C (Svehla, 1990). Besi murni cukup reaktiI dalam udara lembab cepat teroksidasi
memberikan besi(III) oksidasi hidrat (karat) (Cotton, 1989). Besi(III) dibuat dengan melarutkan
logam besi pada asam sulIat pekat panas. Besi(II) dibuat dengan melarutkan logam besi pada
asam nitrat encer dingin (Svehla, 1990).
2 Fe 3 H
2
SO
4
6 H

2 Fe3

3 SO
2
6 H
2
O
4 Fe 10 H

NO
3-
4 Fe
2
NH
4

3 H
2
O
Besi(III) tereduksi menjadi Besi(II) oleh asam oksalat dan bantuan cahaya matahari
(reaksi Iotokimia). Apabila ion Besi(II), Fe
2
, direaksikan denagn heksasianoIerrat(III), Fe
3
,
maka akan terbentuk larutan biru. Besarnya pengaruh cahaya terhadap reduksi Besi(III)
menjadi Besi(II) akan tampak sesuai dengan kepekatan warna biru yang terbentuk (Sugiyarto,
2003). Larutan kalium heksasianoIerrat(II) akn bereaksi dengan ion Besi(III) membentuk
endapan biru tua, Besi(III)heksasianoIerrat, yang berwarna biru prusia
4 Fe
3
3 |Fe(CN)
6
|
4-
Fe
4
|Fe(CN)
6
|
3

Endapan tak larut dalam asam encer, tetapi terurai dalam asam encer dan asam klorida
pekat. Reagensia yang sangat berlebihan melarutkannya sebagian atau seluruhnya. Dimana
diperoleh larutan yang berwarna biru tua (Svehla, 1990).

. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
1 buah gelas beker 400 mL, 1 buah labu takar 50 mL, pipet ukur 10 mL, 3 buah gelas
beker 150 mL, 2 buah keping kaca, 1 buah gelas pengaduk, pinset, sumber cahaya (lampu),
ruang gelap (almari).

. BAHAN
Larutan besi(III) klorida (FeCl
3
), Larutan diammonium hidroIosIat (NH
4
)
2
HPO
4
},
Larutan asam oksalat (H
2
C
2
O
4
), Larutan Kalium heksasianoIerrat(III) K
3
Fe(CN)
6
}, Larutan
kalium dikromat(VI) (K
2
Cr
2
O
7
), Larutan asam klorida (HCl) 0,1 M, 3 helai kertas tik, 3
helai kertas kalkir, kertas saring secukupnya, tinta cina (spidol marker).

. ARA KER1A
Dalam gelas beker 400 mL, dicampurkan 50 mL larutan FeCl
3
dan 10 mL larutan
(NH
4
)
2
HPO
4
. Larutan diletakkan didalam ruang gelap. Larutan ditambahkan 50 mL larutan
H
2
C
2
O
4
, penambahan dilakukan dalam ruang gelap. 3 helai kertas tik dicelupkan dalam larutan,
lalu diangkat dan dikeringkan dengan cara meletakkan kertas tik diantara 2 buah kertas saring
lalu didiamkan selama 15 menit dalam ruang gelap. Diambil 3 buah kertas kalkir dan diberi
objek (tulisan/gambar) dengan tinta cina. Setelah kering, kertas tik diambil. Kertas kalkir yang
telah diberi objek diletakkan diatas kertas tik dengan posisi objek menyentuh kertas tik. Kertas
dijepit diantara 2 keping kaca lalu disinari selama 5, 10, dan 15 menit. Pada saat penyinaran,
yang disinari adalah kertas kalkir. Disiapkan 2 buah gelas beker 150 mL dan diisi larutan
K
3
Fe(CN)
6
}, larutan K
2
Cr
2
O
7
encer, dan larutan HCl 0,1 M. Setelah disinari, kertas tik secara
berturut-turut dicelupkan dalam larutan K
3
Fe(CN)
6
}, larutan K
2
Cr
2
O
7
encer, larutan HCl 0,1
M, lalu dicuci dengan air kran. Kertas dikeringkan dalam ruang gelap lalu diamati Ienomena
yang terjadi.

. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. HASIL
Waktu Penyinaran (menit) Fenomena
5 Kertas tik berwarna biru, objek tidak tampak
10 Kertas tik berwarna biru, objek tidak tampak
15 Kertas tik berwarna biru, objek tidak tampak, ada titik-titik putih

Hasil percobaan terlampir dalam laporan sementara.

. PEMBAHASAN
Praktikum ini memiliki dua tujuan utama, yaitu mempelajari reaksi reduksi ion
Besi(III) secara Iotokimia dan mempelajari pemanIaatnya untuk cetak biru. Praktikum ini
dialkukan pada dua tahap yang berkelanjutan. Tahap pertama adalah tahap reaksi reduksi ion
Besi(III) oleh Oksalat. Tahap kedua, merupakan lanjutan dari tahap pertama, adalah tahap
reaksi cetak biru.
Tahap pertama adalah reaksi reduksi Besi(III) menjadi Besi(II) oleh Oksalat, reaksi ini
sangat cepat terjadi dengan adanya cahaya matahari, untuk memperlambat prosesnya, reaksi
dilakukan dalam ruang gelap dam ditambahkan larutan Diammonium hidroIosIat sebagai
inhibitor reaksi redoks. Langkah pertama yaitu penambahan larutan (NH
4
)
2
HPO
4
ke dalam
larutan FeCl
3
. Sinar matahari dapat mereduksi ion Besi(III) dari FeCl
3
menjadi ion Besi(II).
Fe
3
(aq)
Fe
2
(aq)
OH
Reaksi reduksi ion Besi(III) oleh sinar matahari menghasilkan radikal bebas OH.
Radikal bebas ini sangat berbahaya, sehingga sebisa mungkin reaksi ini dihindari. Untuk
mencegah reaksi ini terjadi maka ditambahkan larutan (NH
4
)
2
HPO
4
. Reaksinya
FeCl
3(aq)
(NH
4
)
2
HPO
4(aq)
FePO
4(aq)
HCl
(aq)
2 NH
4
Cl
(aq)

Tak berwarna kuning
Larutan FeCl
3
yang semula tak berwarna berubah menjadi kuning ketika ditambahkan
larutan diammonium hidroIosIat. Hal ini karena ion Cl
-
dari FeCl
3
berikatan dengan ion H


dari (NH
4
)
2
HPO
4
membentuk HCl yang berwarna kuning. Larutan kemudian letakkan
didalam ruang gelap untuk mencegah terjadinya reaksi dengan cahaya.
Didalam ruang gelap, larutan ditambahkan larutan asam oksalat. Asam oksalat ini
secara spontan bereaksi mereduksi ion Besi(III). Penambahan dilakukan dalam ruang gelap
untuk mencegah reaksi reduksi yang spontan terjadi, karena reaksi redoks tersebut sangat
peka dan berlangsung sangat cepat oleh adanya cahaya. Adanya larutan diammonium
hidroIosIat juga berpengaruh dalam menurunkan kespontanan reaksi reduksi ini. Jika tidak
ada larutan Diammonium hidroIosIat, ion Besi(III) akan langsung tereduksi oleh Oksalat.
Keberadaan (NH
4
)
2
HPO
4
akan menghambat atau menginhibisi reaksi reduksi karena FeCl
3

akan bereaksi dengan diammonium hidroIosIat membentuk FePO4 kemudian baru tereduksi
oleh Oksalat. Reaksi reduksi berlangsung dalam dua tahap, sehingga membutuhkan waktu
yang lebih lama. Larutan kemudian sampai homogen agar reaksi reduksi berlangsung merata
dan sempurna.
2 FePO
4(aq)
3 H
2
C
2
O
4(aq)
2 FeC
2
O
4(aq)
2 CO
2(g)
2 H
3
PO
4(aq)

Tahap kedua merupakan tahap cetak biru. Dalam larutan dicelupkan 3 helai kertas tik.
Kertas tik harus tercelup semua tetapi dijaga agar kertas tidak rusak. Kertas tik ini berIungsi
untuk kertas peka (kertas Ioto). Reaksi reduksi ini harus diperlambat oleh diammonium
hidroIosIat agar kertas tik dapat mengabsorpsi ion besi(III) dari larutan. Kertas tik kemudian
dikeringkan dengan kertas saring dan disimpan didalam ruang gelap selama 15 menit agar
larutan pencelup terabsorp sempurna pada kertas. Proses pengeringan kertas tik harus
terhindar dari cahaya agar ion Besi(III) dalam kertas tidak tereduksi oleh cahaya.
Sementara menunggu kertas tik mengering, diambil 3 helai kertas kalkir yang
berIungsi sebagai negatiI Iilm. Kertas kalkir diberi objek dengan tinta cina. Digunakan tinta
cina karena tinta ini memiliki partikel dengan kerapatan yang tinggi sehingga tidak tembus
cahaya akibatnya pemindahan objek dengan bantuan cahaya dapat dengan mudah dilakukan.
Setelah kering, kertas tik dikeluarkan. Kertas kalkir ditempelkan pada kertas tik dengan
posisi objek menyentuh kertas tik agar pemindahan objek ke kertas tik dapat berlangsung.
Kedua kertas kemudian dijepit dengan dua keping kaca agar kertas tik dan kertas kalkir
menempel dengan kuat dan rapi sehingga akan dihasilkan objek sesuai yang diinginkan.
Kertas kemudian disinari dengan sumber cahaya dengan posisi kertas kalkir yang
terkena cahaya (kertas kalkir diatas kertas tik). Pada saat penyinaran, terjadi reduksi ion
Besi(III).
Fe
3

Fe
2

Reduksi ini hanya terjadi pada bagian kertas tik yang terpapar cahaya, sedangkan
bagian kertas tik yang tertutup oleh tinta cina tidak mengalami reduksi sehingga
menimbulkan gambar seperti objek pada kertas tik. Setelah penyinaran, kertas tik yang
terpapar cahaya mengandung ion Besi(II) sedang kertas yang terlindung dari cahaya tetap
mengandung ion Besi(III).
Kertas tik kemudian dicelupkan dalam larutan K
3
Fe(CN)
6
}, tujuannya untuk
membuktikan adanya ion Besi(III) pada kertas tik yang terlindung dari sinar. Ketika kertas
tik dicelupkan dalam larutan K
3
Fe(CN)
6
}, ada bagian kertas yang berwarana biru. Hal ini
menunjukkan adanya bagian kertas yang mengandung ion Besi(III), yaitu bagian kertas yang
terlindung dari sinar.
4 Fe
3
3 |Fe(CN)
6
|
4-
Fe
4
|Fe(CN)
6
|
2

Biru
Larutan K
3
Fe(CN)
6
} juga berIungsi untuk mengikat pengotor dalam kertas tik seperti
oksalat.
2 FeC
2
O
4
2 K
3
Fe(CN)
6
} Fe
3
|Fe(CN)
6
|
2
3 K
2
C
2
O
4

Kertas kemudian dicelupkan dalam larutan K
2
Cr
2
O
7
untuk mengikat kelebihan
K
3
Fe(CN)
6
} dalam kertas, juga untuk mengikat pengotor H
3
PO
4
pada kertas tik.
H
3
PO
4
3 K
2
Cr
2
O
7
2 K
3
PO
4
3 |Cr
2
O
7
|
2-

Kertas tik dicelupkan lagi dalam larutan HCl untuk menghilangkan kelebihan K
2
Cr
2
O
7

yang digunakan.
2 HCl K
2
Cr
2
O
7
2 KCl H
2
Cr
2
O
7

Kertas lalu dibilas dengan air kran. Air kran yang digunakan adalah air mengalir,
tujuannya untuk mengilangkan KCl dan H
2
Cr
2
O
7
dari kertsa tik. Air ini berIungsi untuk
menstabilkan ion besi menjadi |Fe(H
2
O)
6
|
3
sehingga objek tidak cepat pudar.
Dalam praktikum ini, dilakukan 3 variasi waktu penyinaran yaitu 5, 10, dan 15 menit.
Ketiganya menunjukkan Ienomena yang sama, kertas tik berwaran biru dan objek tidak
terlihat. Hasil ini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Seharunya ada gradasi objek tidak
tampak, agak tampak, dan tampak jelas. Hal ini dikarenakan waktu penyinaran yang terlalu
singkat, sehingga perbedaan bagian kertas yang tereduksi menjadi Besi(II) dan bagian kertas
yang tetap mengandung Besi(III) tidak terlihat.

6. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan. Ion Besi(III) dapat direduksi secara Iotokimia, yaitu dengan penyinaran dan
penambahan asam oksalat. Reduksi ion Besi(III) oleh cahaya ini dapat diaplikasikan untuk
cetak biru, misalnya pada cuci cetak Ioto konvensional yang masih menggunakan negatiI Iilm.
Dalam praktikum ini, dilakukan 3 variasi waktu penyinaran yaitu 5, 10, dan 15 menit.
Ketiganya menunjukkan Ienomena yang sama, kertas tik berwaran biru dan objek tidak terlihat
Saran. Variasi waktu penyinaran ditambah agar objek dapat tercetak dengan jelas terlihat.
Misalnya variasi waktu penyinaran 15, 30, dan 45 menit.

. DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W., 1999, Kimia Fisik Jilid 2, Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta.
Cotton, Wilkinson, 1989, Kimia Anorganik Dasar, UI Press, Jakarta.
Fardiaz, Srikandi, 2006, Polusi Air dan Udara, cetakan ke sebelas, Kanisius, Yogyakarta.
Hadi, Anwar, 2007, Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan, cetakan kedua, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Montalti, Marco, Alberto Credi, Luca Prodi, M. Teresa GandolIi, 2006, Handbook of
Photochemistry, 3
rd
edition, Taylor & Francis, Amazon.
Pudjaatmaka, Hadyana A., 2002, Kamus Kimia, cetakan kedua, Balai Pustaka, Jakarta.
Rachimoellah, M., 2010, Teknologi Fotokimia dan Peranannya dalam Memanfaatkan Energi
Cahaya Matahari di Bidang Industri dan Lingkungan, Skripsi, ITS, Surabaya.
Sugiyarto, Kristian H., 2003, Kimia Anorganik II, UNY, Yogyakarta.
Svehla, 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I, PT.
Kalman Media Pustaka, Jakarta.


Yogyakarta, November 2011
Asisten, Praktikan,



Daniel Agung P. Desi Nur Astuti
TUGAS

1. Jika ada dua larutan masing-masing berisi ion Besi(II) dan Besi(III), perkirakan larutan mana
yang memiliki pH lebih rendah! Jelaskan!
2. Mengapa larutan diammonium hidroIosIat dapat menghambat rekasi redoks antara ion
Besi(III) dengan asam oksalat?

Jawaban

1. Dimisalkan ion besi membentuk ion kompleks dengan ligan yang sama
Fe
3
6 CN
-
|Fe(CN)
6
|
3-

Fe
2
6 CN
-
|Fe(CN)
6
|
4-

Jika ion kompleks tersebut membentuk asam,
3 H

|Fe(CN)
6
|
3-
H
3
|Fe(CN)
6
| (1)
4 H

|Fe(CN)
6
|
4-
H
4
|Fe(CN)
6
| (2)
Dalam larutan, kompleks tersebut akan terurai, kompleks (2) menghasilkan jumlah ion H


lebih banyak dari kompleks (2), sehingga kompleks (2) lebih asam dari kompleks (1).
Kesimpulannya, pH larutan yang mengandung ion Besi(II) lebih rendah dari larutan yang
mengandung ion Besi(III).

2. Jika tidak ada larutan Diammonium hidroIosIat, ion Besi(III) akan langsung tereduksi oleh
Oksalat. Keberadaan (NH
4
)
2
HPO
4
akan menghambat atau menginhibisi reaksi reduksi karena
FeCl
3
akan bereaksi dengan diammonium hidroIosIat membentuk FePO
4
kemudian baru
tereduksi oleh Oksalat. Reaksi reduksi berlangsung dalam dua tahap, sehingga membutuhkan
waktu yang lebih lama.
Dalam keadaan tidak ada Diammonium hidroIosIat
FeCl
3(aq)
H
2
C
2
O
4(aq)
FeC
2
O
4(aq)
HCl
(aq)

Ada penambahan Diammonium hidroIosIat
FeCl
3(aq)
(NH
4
)
2
HPO
4(aq)
FePO
4(aq)
HCl
(aq)
2 NH
4
Cl
(aq)

2 FePO
4(aq)
3 H
2
C
2
O
4(aq)
2 FeC
2
O
4(aq)
2 CO
2(g)
2 H
3
PO
4(aq)