Anda di halaman 1dari 21

SUSPENSI

(SIFAT ALIR DAN EVALUASI)


Fadila shinta
Fatiyah Syahida
Ferryan Ardiantio
Frisca Yunita
RHEOLOGY
Rheologi berasal dari bahasa Yunani
yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir, dan logos
berarti ilmu. Sehingga rheologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang aliran zat cair dan deformasi zat
padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas.
Antara lain mempelajari viskositas (kekentalan), pembuatan
formulasi sediaan suspensi dan emulsi
1. Pertama kali yang menggunakan istilah Rheology
menurut Fisher, adalah: Bingham dan Crawford
2. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan:
a. Aliran dan sifat alir pada zat cair
b. Deformasi pada zat padat
BERBAGAI MACAM TIPE ALIR
Dikenal ada 2 golongan tipe alir :
1. Tipe Alir Newton
2. Tipe Alir Non-Newton:
a. Tipe Alir Plastik
b. Tipe Alir Pseudoplastik
c. Tipe Alir Dilatan
Sifat aliran suspensi
Umumnya non Newton, kecuali suspensi encer yang
sering menunjukkan sifat aliran Newton. Untuk
suspensi sistem dispersi, viskositas larutan akan
berubah dengan adanya kecepatan kocok (rate of
shear)
SISTEM NEWTON
1. Cairan ini mengikuti Hk. Newton mengenai aliran
zat cair.
2. Hk. Newton mengenai aliran zat cair:
a. Antara kecepatan alir/kecepatan geser atau
Shearing rate (dv/dr) sebanding dengan
kecepatan alir/tekanan geser atau shearing
stress (F = F/A) yang diberikan.
b. Hubungan tersebut bila digambarkan dalam
kurva Rheogram, menghasilkan kurva linear
melalui titik 0,0 dengan slope disebut fluidity :
= 1/

4
SISTEM NON-NEWTON
1. Sistem ini tidak mengikuti Hk Newton
mengenai aliran zat cair
2. Ada 3 tipe sifat alir Non-Newton:
a. Aliran plastis
b. Aliran pseudoplastik
c. Aliran dilatan
3. Sebagian besar sediaan obat bentuk cair dan
semipadat termasuk golongan ini, misalnya:
larutan koloidal, suspensi cair, emulsi, cream
dan salep.
ALIRAN PLASTIS
1. Sering disebut Bingham bodies
2. Rheogramnya hubungan dv/dr vs F/A
atau F, linear dan tidak melalui titik 0,0
tetapi memotong sumbu F di f,
perpotongan ini disebut yielt value
3. Harga f ini diasumsikan sebagai titik
perubahan fase padat ke fase cair dengan
naiknya tekanan, dan merupakan indikasi
kekuatan flokulasi partikel-partikelnya.
Aliran plastis akan terlihat pada suspensi
dengan konsentrasi cukup tinggi, apabila
pembawa mempunyai viskositas tinggi
dan partikel terflokulasi.
ALIRAN PSEUDOPLASTIK
Tidak ada nilai ambang gerak. Zat akan
mengalir jika ada tekanan kocok dan
kemiringan kurva akan naik dengan naiknya
kecepatan kocok. Viskositas akan turun, jika
kecepatan pengocokan makin tinggi.
Yang termasuk kelompok tipe alir ini a.l.
sistem koloid: larutan gom, tragacantha, natr.
alginat, CMC dan metil-selulose, juga
beberapa sediaan suspensi dan emulsi
Menurut Martin dkk, rheogramnya
merupakan persamaan eksponensial dan
melalui titik 0,0.
ALIRAN DILATAN
Viskositas naik dengan naiknya kecepatan kocok.
Volume material bertambah besar selama pengocokan
dan memperlihatkan terjadinya pengentalan.
1. Biasanya terjadi pada sediaan suspensi dengan fase
dispers > 50 % yang daya hambatnya meningkat
dengan meningkatnya Shearing rate (G)
2. Padea sistem ini terjadi dilatasi susunan partikelnya.
Oleh adanya shear suspensi yang tadinya memiliki
sisten deflokulasi flokulasi dengan adanya
shear
3. Sistem ini sering juga disebut Shear Thickening
System, kerena maningkat dengan naiknya
shearing stress.
Karakteristik rheologis dari suatu suspensi farmasi
dapat merupakan faktor penentu yang penting
dalam mengoptimisasi stabilitas fisika sistem
suspensi tersebut. Khususnya yang paling
diinginkan adalah suspensi yang mempunyai
thiksotropi yang mudah dikembangkan.
Suspensi seperti itu bila diformulasi dengan tepat
dapat mencegah sedimentasi, agregasi dan caking
yang berdasarkan suatu yield value viskositas tinggi
pada keadaan istirahat, sedangkan pengocokan
kuat mengurangi viskositas agar dapat dituang,
sehingga produk tersebut dapat diberikan.
Pengujian Stabilitas Suspensi

Cara uji volume sedimentasi :


1. Masukkan sediaan yang sudah jadi kedalam beker
glass.
2. Biarkan dan amati pemisahannya atau
pengendapannya dalam waktu yang telah
ditentukan (15 menit, 30 menit, 1 hari, 3 hari, 5
hari, 7 hari).
3. Kemudian amati sediaan memisah atau tidak, jika
tampak memisah maka bagian yang bening
diukur.
Hasil :
Bila F=1 dinyatakan sebagai Flocculation
equilibrium, merupakan sediaan yang baik.
Demikian bila F mendekati 1.
Bila F>1 terjadi Floc sangat longgar dan halus
sehingga volume akhir lebih besar dari volume
awal. Maka perlu ditambahkan zat tambahan.
Formulasi suspensi lebih baik jika dihasilkan kurva
garis yang horizontal atau sedikit curam.

Metode Reologi
Metode ini dapat digunakan untuk
membantu menentukan perilaku
pengendapan dan pengaturan
pembawa dari sifat yang menonjol
mengenai susunan partikel dengan
tujuan untuk perbandingan. Metode
reologi menggunakan alat viskometer
Brookfield.
Cara metode reologi :
Dimasukkan sediaan dalam gelas beker
Dicelupkan spindle yang telah terpasang ke dalam cairan
sampai ujung bagian bawah tenggelam dan penyangga
mencapai dasar beker
Ditekan tombol on pada bagian belakang, diatur nomor
spindle yang akan digunakan yang disesuaikan dengan
kekentalan cairan serta kecepatannya
Ditekan tombol on pada bagian depan dan dibaca angka
yang muncul
Perubahan Ukuran Partikel
Digunakan cara freeze-thaw cycling, yaitu
temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu
dinaikkan sampai mencair kembali.
Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal,
yang pada pokoknya menjaga agar tidak terjadi
perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.
Homogenitas
Homogenitas dapat ditentukan berdasarkan
jumlah partikel maupu distribusi ukuran partikelnya
dengan pengambilan sampel pada berbagai tempat
(ditentukan menggunakan mikroskop untuk hasil
yang lebih akurat).
Pengambilan sampel dapat dilakukan pada
bagian atas, tengah, atau bawah. Sampel diteteskan
pada kaca objek kemudian diratakan dengan kaca
objek lain sehingga terbentuk lapisan tipis .
(Farmakope Indonesia IV, 1995)
Hasil :
Suspensi yang homogen akan memperlihatkan jumlah
atau distribusi ukuran partikel yang relative hampir
sama pada berbagai tempat pengambilan sampel
(suspense dikocok terlebih dahulu).
Uji pH
Dengan cara mencelupkan indicator pH ke dalam
suspensi, kemudian bandingkan perubahan warna yang
terjadi pada indicator dengan tabel perubahan warna.
PH standar suspensi yaitu antara 5-7.
Uji Bobot Jenis
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing
monografi, penetapan bobot jenis digunakan hanya
untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, didasarkan
pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu
25C terhadap bobot air dengan volume dan suhu
yang sama. Bila suhu ditetapkan dalam monografi,
bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara
pada volume dan suhu yang sama. bila pada suhu
25C zat berbentuk padat, tetapkan bobot jenis
pada suhu yang telah tertera pada masing-masing
monografi, dan mengacu pada air pada suhu 25C.
Gunakan piknometer bersih, kering, dan telah
dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer
dan bobot air yang baru dididhkan, pada suhu 25C.
Atur hingga suhu zat uji lebih kurang 20C,
masukkan ke dalam piknometer.
Atur suhu pikometer yang telah diisi hingga suhu
25C.
Buang kelebihan zat uji dan timbang.
Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot
piknometer yang telah diisi.
Bobot jenis adalah hasil yang diperoleh dengan
membagi bobot zat dengan bobot air, dalam
piknometer. Kecuali dinyatakan lain dalam
monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25C.