Anda di halaman 1dari 18

Ari Filologus Sugiarto

11 2013 204

Ilmu Penyakit Dalam


RS Bhakti Yudha
 DEFINISI
 Peningkatan suhu tubuh dari variasi suhu
normal sehari – hari yang berhubungan
dengan peningkatan titik patokan suhu di
hipotalamus
 Suhu normal 36,5 – 37,2
 Disebut demam – rectal temperature ≥ 38, oral
temperature ≥ 37,5 atau axillary temperature ≥
37,2
 Hiperpireksia – demam > 41,5 (perdarahan
SSP)
Demam Septik
 Suhu badan berangsur naik ketingkat yang
tinggi sekali pada malam hari dan turun
kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari
 Sering disertai keluhan menggigil dan
berkeringat
 Demam tifoid

 Demam turun ketingkat normal disebut


demam hektik
Demam Remiten
 Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah
mencapai suhu badan normal
 Perbedaan 2°C dari demam septik
 ISK, ISPA, Otitis Media, Tonsilitis faringitis dan
laryngitis, stomatitis herpetika dan demam pasca
imunisasi, TBC
Demam Intermiten
 Suhu badan turun ketingkat normal selama beberapa
jam dalam satu hari
 Malaria, Limfoma, Endokarditis
 Demam 2 hari sekali – tersiana
 2 hari bebas demam diantara tersiana - kuartana
Demam Kontinyu
 Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih
dari satu derajat
 Leptospirosis, Malaria falciparum malignan
 Demam terus menerus tinggi sekali – hiperpireksia
Demam Siklik
 Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari
yang diikuti periode bebas demam untuk beberapa
hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu
seperti semula
 DBD, Yellow fever, poliomyelitis, Cikungunya,
Leptospirosis
Faktor infeksi

 Infeksi Bakteri
 Pneumonia, bronkitis, osteomyelitis, appendisitis,
tuberkulosis, bakteremia, sepsis, bakterial
gastroenteritis, menigitis, ensepalitis, selulitis, otitis
media, infeksi saluran kemih dll
 Infeksi Virus
 Viral pneumonia, influenza, DBD, chikungunya,
H1N1
 Infeksi Jamur
 Coccidioides imitis, criptococcosis dll
 Infeksi Parasit
 Malaria, toxoplasmosis dan helmintiasis
Faktor non infeksi

 Suhu lingkungan eksterbal tinggi


 Pertumbuhan gigi
 Penyakit autoimun
 Arthritis, SLE, Vaskulitis
 Keganasan
 Hodgkin dan limfoma non hodgkin, leukimia
 Obat obatan
 Antibiotik, difenilhidantoin, antihistamin
 Imunisasi
 Perdarah otak, cidera hipotalamus, koma, status
epileptikus
 Anak usia 2 bulan – 3 tahun resiko tinggi
karena kurangnya IgG
Demam terjadi karena adanya zat pirogen
Pirogen terbagi 2 :
 Pirogen eksogen
 pirogen dari luar tubuh
 Contohnya produk mikroorganisme seperti toksin
atau mikroorganisme seutuhnya – endotoksin
lipopolisakarida oleh gram negatif
 Pirogen endogen
 Berasal dari dalam tubuh
 IL-1, IL-6, TNF-a dan IFN
 Sumber : monosit, neutrofil dan limfosit
 Stimulasi sel darah putih oleh pirogen eksogen
berupa toksin, mediator inflamasi atau reaksi imun
 Sel darah putih mengeluarkan pirogen endogen
 P. endogen dan eksogen merangsang endotelium
hipotalamus – membentuk prostaglandin
 Prostaglandin meningkatkan patokan termostat
dipusat termoregulasi hipotalamus
 Hipotalamus menganggap suhu lebih rendah
 Memicu mekanisme untuk meningkatkan panas
anta lain menggigil, vasokonstriksi kulit,
mekanisme volunter (memakai selimut)
 Peningkatan prodiksi panas
Demam memiliki 3 fase
1. fase kedinginan
 Fase peningkatan suhu tubuh ditandai dengan
vasokonstriksi pembuluh darah dan
peningkatan aktivitas otot yang berusaha
memproduksi panas sehingga tubuh merasa
kedinginan dan menggigil
2. fase demam
 Fase keseimbangan produksi panas dan
kehilangan panas di titik patokan suhu yang
sudah meningkat
3. fase kemerahan
 Fase terjadi penurunan suhu yang ditandai
dengan vasodilatasi pembuluh darah dan
berkeringat yang berusaha untuk
menghilangkan panas sehingga tubuh
berwarna kemerahan
Terapi non Farmakologi
 Pemberian cairan dalam jumlah banyak untuk
mencegah dehidrasi dah istirahat cukup
 Tidak memberi pakaian berlebihan.

 Memberikan kompres hangat. Efektif setelah


pemberian obat.
 Note : jangan kompres dingin, akan
menyebabkan keadaan menggigil dan
menigkatkan kembali suhu inti.
Terapi Farmakologi
 Antipiretik
 Paracetamol (asetaminofen)
 Ibuprofen – efek kerja lebih lama
 Pada anak dianjurkan paracetamol
 OAINS tidak dianjurkan karena fungsi
koagulan dan sindrom Reye pada anak
 Dosis Paracetamol
Umur (tahun) Dosis (mg)
<1 60
1-3 60 – 125
4–6 125 – 250
6 – 12 250 – 500

 Selain antipiretik perlu pemberian obat untuk


mengatasi penyebab – Antibiotik untuk
mengatasi infeksi