Anda di halaman 1dari 23

PATOFISIOLOGI HIV-AIDS

Kelompok 6

Desternia Agmi
Eva Velyana
Muhammad Gadafi
Natalia Adriani Uku Hipir
Tri Indriani
ETIOLOGI

Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa


menyebabkan abses melalui beberapa cara:
1. Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang
berasal dari tusukan jarum yang tidak steril
2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh
yang lain
3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam
tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan,
kadang menyebabkan terbentuknya abses
NARASI PERJALANAN PENYAKIT HIV-
AIDS
HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen
permukaan CD4, yang bekerja sebagai reseptor viral.
Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong
dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas
imun, juga memperlihatkan pengurangan bertahap
bersamaan dengan perkembangan penyakit. HIV secara
istimewa menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan
CD4, yang bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit
ini, yang mencakup linfosit penolong dengan peran kritis
dalam mempertahankan responsivitas imun, juga
memperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan dengan
perkembangan penyakit.
LANJUTAN...
induksi apoptosis melalui antigen viral, yang dapat bekerja
sebagai superantigen; penghancuran sel yang terinfeksi
melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian
atau disfungsi precursor limfosit atau sel asesorius pada
timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi
jenis sel selain limfosit. Infeksi HIV pada monosit, tidak
seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak menyebabkan
kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang
sebagai reservoir virus laten tetapi tidak dapat diinduksi,
dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak, dan
menetap di otak.
1. Tahap pertama (periode jendela)

a. HIV masuk ke dalam tubuh hingga terbentuk antibodi


dalam darah.
b. Penderita HIV tampak dan merasa sehat.
c. Pada tahap ini, tes HIV belum bisa mendeteksi
keberadaan virus.
d. Tahap ini berlangsung selama 2 minggu sampai 6 bulan.
2. Tahap kedua

a. Pada tahap ini HIV mulai berkembang di dalam tubuh.


b. Tes HIV sudah bisa mendeteksi keberadaan virus karena
antibodi yang mulai terbentuk.
c. Penderita tampak sehat selama 5-10 tahun, bergantung
pada daya tahan. Rata-rata penderita bertahan selama 8
tahun. Namun di negara berkembang, durasi tersebut lebih
pendek
3. Tahap ketiga

a. Pada tahap ini penderita dipastikan positif HIV dengan


sistem kekebalan tubuh yang semakin menurun.
b. Mulai muncul gejala infeksi oportunistis, misalnya
pembengkakan kelenjar limfa atau diare terus-menerus.
c. Umumnya tahap ini berlangsung selama 1 bulan,
bergantung pada daya tahan tubuh penderita.
4. AIDS
a. Pada tahap ini, penderita positif menderita AIDS.
b. Sistem kekebalan tubuh semakin turun.
c. Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistis) menyebabkan
kondisi penderita semakin parah.

Pada tahap ini, penderita harus secepatnya dibawa ke dokter dan


menjalani terapi anti-retroviral virus (ARV). Terapi ARV akan
mengendalikan virus HIV dalam tubuh sehingga dampak virus
bisa ditekan.
PATOGENESIS

HIV adalah retrovirus yang menggunakan RNA sebagai genom.


Untuk masuk ke dalam sel, virus ini berikatan dengan receptor
(CD4) yang ada di permukaan sel. Artinya, virus ini hanya akan
menginfeksi sel yang memiliki receptor CD4 pada
permukaannya. Karena biasanya yang diserang adalah sel T
lymphosit (sel yang berperan dalam sistem imun tubuh), maka sel
yang diinfeksi oleh HIV adalah sel T yang mengekspresikan CD4
di permukaannya (CD4+ T cell).
Lanjutan..
  Setelah berikatan dengan receptor, virus berfusi dengan sel
(fusion) dan kemudian melepaskan genomnya ke dalam sel. Di
dalam sel, RNA mengalami proses reverse transcription, yaitu
proses perubahan RNA menjadi DNA. Proses ini dilakukan oleh
enzim reverse transcriptase. Proses sampai step ini hampir sama
dengan beberapa virus RNA lainnya. Yang menjadi ciri khas dari
retrovirus ini adalah DNA yang terbentuk kemudian bergabung
dengan DNA genom dari sel yang diinfeksinya. Proses ini
dinamakan integrasi (integration). Proses ini dilakukan oleh
enzim integrase yang dimiliki oleh virus itu sendiri. DNA virus
yang terintegrasi ke dalam genom sel dinamakan provirus.
Lanjutan..
Dalam kondisi provirus, genom virus akan stabil dan mengalami
proses replikasi sebagaimana DNA sel itu sendiri. Akibatnya,
setiap DNA sel menjalankan proses replikasi secara otomatis
genom virus akan ikut bereplikasi. Dalam kondisi ini virus bisa
memproteksi diri dari serangan sistem imun tubuh dan sekaligus
memungkinkan manusia terinfeksi virus seumur hidup (a life
long infection).
Lanjutan...

Spesifikasi HIV terhadap CD4+ T cell ini membuat virus ini bisa
digunakan sebagai vektor untuk pengobatan gen (gene therapy)
yang efisien bagi pasien HIV/AIDS. Soalnya, vektor HIV yang
membawa gen anti-HIV hanya akan masuk ke dalam sel yang sudah
dan akan diinfeksi oleh virus HIV itu sendiri. Limfosit CD4+
merupakan target utama infeksi HIV karena virus mempunyai
afinitas terhadap molekul permukaan CD4. Limfosit CD4+
berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang
penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon
imun yang progresif. Kejadian infeksi HIV primer dapat dipelajari
pada model infeksi akut Simian Immunodeficiency Virus SIV  ). 
SIV dapat menginfeksi limfosit CD4+ dan monosit pada mukosa
vagina.
Lanjutan..

Virus dibawa oleh antigen presenting cells ke kelenjar getah bening regional. Pada
model ini, virus dideteksi pada kelenjar getah bening dalam 5 hari setelah inokulasi. Sel
individual di kelenjar getah bening yang mengekspresikan SIV dapat di deteksi dengan
hibridisasi in situ dalam 7- 14 hari setelah inokulasi. Viremia SIV dideteksi 7-21 hari
setelah infeksi . Puncak jumlah sel yang mengekspresikan SIV di kelenjar getah bening
berhubungan dengan puncak antigenemia p26 SIV. Jumlah sel yang mengekspresikan
virus di jaringan limfoid kemudian menurun secara cepat dan di hubungkan sementara
dengan pembentukan respon imun spesifik. Koinsiden dengan menghilangnya viremia
adalah peningkatan sel limfosit CD8. Walaupun demikian tidak dapat dikatakan bahwa
respon sel limfosit CD8+ menyebabkan kontrol optimal terhadap replikasi HIV.
Replikasi HIV berada pada keadaan ‘ steady-state ‘ beberapa bulan setelah infeksi .
Kondisi ini bertahan relatif stabil selam beberapa tahun, namun lamanya sangat
bervariasi. Faktor yang mempengaruhi tingkat replikasi HIV tersebut, dengan 
demikian juga perjalanan kekebalan tubuh pejamu, adalah heterogeneitas 
kapasitas replikatif virus dan heterogeneitas intrinsik pejamu.
Antibodi muncul di sirkulasi dalam beberapa minggu setelah infeksi, namun secara
umum dapat dideteksi pertama kali setelah replikasi virus telah menurun sampai ke level
‘steady state’. Walaupun antibodi ini umumnya memiliki aktifitas netralisasi yang kuat
melawan infeksi virus, namun ternyata tidak dapat mematikan virus.
LANJUTAN..
Antibodi muncul di sirkulasi dalam beberapa minggu
setelah infeksi, namun secara umum dapat dideteksi
pertama kali setelah replikasi virus telah menurun sampai
ke level ‘steady state’. Walaupun antibodi ini umumnya
memiliki aktifitas netralisasi yang kuat melawan infeksi
virus, namun ternyata tidak dapat mematikan virus.
PERJALANAN PENYAKIT
Dalam  tubuh  odha,  partikel  virus  bergabung 
dengan  DNA  sel  pasien,  sehingga  satu  kali 
seseorang  terinfeksi  HIV,  seumur  hidup  ia  akan 
tetap  terinfeksi.  Dari semua orang  yang terinfeksi 
HIV  sebagian  berkembang  masuk  tahap  AIDS 
pada  3  tahun  pertama,  50%  berkembang  menjadi 
pasien  AIDS  sesudah  10  tahun,  dan  sesudah  13 
tahun  hampir  semua  orang  yang  terinfeksi  HIV 
menunjukkan  gejala  AIDS,  dan  kemudian 
meninggal.  Perjalanan  penyakit  tersebut 
menunjukkan  gambaran  penyakit  yang  kronis, 
sesuai  dengan  kerusakan  sistem  kekebalan  tubuh 
yang juga bertahap 
Lanjutan..

Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala


tertentu. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi
HIV akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah
demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam,
diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, di mulailah infeksi HIV
asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya
berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok kecil orang
yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya sekitar 2
tahun, dan ada pula yang perjalanannya lambat (non-pogresor).
Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh, odha mulai
menampakkan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik seperti berat
badan menurun, demam lama, rasa lemah, pembesaran kelenjar
getah bening, diare, tuberculosis, infeksi jamur, herpes, dll
Lanjutan..

Tanpa pengobatan ARV, walaupun selama beberapa tahun tidak


menunjukkan gejala, secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang
yang terinfeksi HIV akan memburuk, dan akhirnya pasien
menunjukkan gejala klinik yang makin berat, pasien masuk tahap
AIDS. Jadi yang disebut laten secara klinik (tanpa gejala),
sebetulnya bukan laten bila ditinjau dari sudut penyakit HIV.
Manifetasi dari awal dari kerusakan sistem kekebalan tubuh adalah
kerusakan mikro arsitektur folikel kelenjar getah bening dan infeksi
HIV yang luas di jaringan limfoid, yang dapat dilihat dengan
replikatif virus dan heterogeneitas intrinsik pejamu.
Lanjutan..

 pemeriksaan hibridisasi in situ. Sebagian besar replikasi HIV


terjadi di kelenjar getah bening, bukan di peredaran darah tepi.
 Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat, klinis
tidak menunjukkan gejala, pada waktu itu terjadi replikasi HIV
yang tinggi, 10 partikel setiap hari. Replikasi yang cepat ini
disertai dengan mutasi HIV dan seleksi, muncul HIV yang
resisten. Bersamaan dengan replikasi HIV, terjadi kehancuran
limfosit CD4 yang tinggi, untungnya tubuh masih bisa
mengkompensasi dengan memproduksi limfosit CD4 sekitar 109
sel setiap hari.
Lanjutan..

Perjalanan penyakit lebih progresif pada pengguna narkotika. Lebih


dari 80% pengguna narkotika terinfeksi virus hepatitis C. Infeksi
pada katup jantung juga adalah penyakit yang dijumpai pada odha
pengguna narkotika dan biasanya tidak ditemukan pada odha yang
tertular dengan cara lain. Lamanya penggunaan jarum suntik
berbanding lurus dengan infeksi pneumonia dan tuberkulosis. Makin
lama seseorang menggunakan narkotika suntik , makin mudah
terkena pneumonia dan tuberkulosis. Infeksi secara bersamaan ini
akan menimbulkan efek yang buruk. Infeksi oleh kuman penyakit
lain akan menyebabkan virus HIV membelah dengan lebih cepat
sehingga jumlahnya akan meningkat pesat. Selain itu juga dapat
menyebabkan reaktivasi virus di dalam limfosit T. Akibatnya
perjalanan penyakitnya biasanya lebih progresif.
SIKLUS HIDUP HIV-AIDS
Seperti virus lain pada umumnya, HIV hanya dapat
bereplikasi dengan memanfaatkan sel inang. Siklus hidup
HIV diawali dengan penempelan partikel virus (virion)
dengan reseptor pada permukaan sel inang, di antaranya
adalah CD4, CXCR5, dan CXCR5. Sel-sel yang menjadi
target HIV adalah sel dendritik, sel T, dan makrofaga. Sel-
sel tersebut terdapat pada permukaan lapisan kulit dalam
(mukosa) penis, vagina, dan oral yang biasanya menjadi
tempat awal infeksi HIV. Selain itu, HIV juga dapat
langsung masuk ke aliran darah dan masuk serta bereplikasi
di noda limpa.
LANJUTAN....
Setelah menempel, selubung virus akan melebur (fusi) dengan membran sel
sehingga isi partikel virus akan terlepas di dalam sel. Selanjutnya,
enzim transkriptase balik yang dimiliki HIV akan mengubah genom virus yang
berupa RNA menjadi DNA. Kemudian, DNA virus akan dibawa ke inti sel manusia
sehingga dapat menyisip atau terintegrasi dengan DNA manusia. [ DNA virus yang
menyisip di DNA manusia disebut sebagai provirus dan dapat bertahan cukup lama
di dalam sel. Saat sel teraktivasi, enzim-enzim tertentu yang dimiliki sel inang akan
memproses provirus sama dengan DNA manusia, yaitu diubah menjadi mRNA.
Kemudian, mRNA akan dibawa keluar dari inti sel dan menjadi cetakan untuk
membuat protein dan enzim HIV. Sebagian RNA dari provirus yang merupakan
genom RNA virus. Bagian genom RNA tersebut akan dirakit dengan protein dan
enzim hingga menjadi virus utuh. Pada tahap perakitan ini, enzim protease virus
berperan penting untuk memotong protein panjang menjadi bagian pendek yang
menyusun inti virus. Apabila HIV utuh telah matang, maka virus tersebut dapat
keluar dari sel inang dan menginfeksi sel berikutnya. Proses pengeluaran virus
tersebut melalui pertunasan (budding), di mana virus akan mendapatkan selubung
dari membran permukaan sel inang.
THANKYOU