Anda di halaman 1dari 61

1.

SAMUEL SITINJAK (173309010234)


2. SANDI NOEL (173309010219)
3. VANDE H.T SIRAIT (173309010232)
4. GUNTUR HUTAGALUNG (173309010217)
5. MICHAEL YUSUF L.TOBING (183309010150)
6.ALFREDO SIMANJUNTAK
Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak
keberagaman budaya yang berbeda di setiap tempatnya.
Kebudayaan atau budaya itu sendiri awalnya berasal dari bahasa
sansekerta yaitu “budhi” yang berarti akal, dan “dayah” yang
berarti kekuatan.
Jadi, budaya adalah suatu kekuatan yang dimiliki
masyarakat untuk menciptakan dan mengkreasikan hasil akal
pikiran sehingga terciptalah suatu karya yang akhirnya menjadi
kebudayaan suatu tempat. Budaya itu sendiri terwujud atas tiga
bentuk, yaitu cipta (berupa rancangan/pemikiran/ide), rasa
(berupa tindakan yang diwujudkan dalam tata karma), dan karsa
(hasil karya manusia).
 Tarombo

 Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat


penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui
silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar
(nalilu). Orang Batak diwajibkan mengetahui silsilahnya
minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan
teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar
mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu
klan atau marga.
A. Kekerabatan Suku Batak
Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa di
Indonesia. cikal bakal Suku Batak berasal dari daerah Toba,
Pulau Samosir, Sumatera Utara. Nama ini merupakan sebuah
terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa
yang bermukim dan berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara. Suku
bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah
• Toba

• Karo

• Pakpak

• Simalungun

• Mandailing

• Angkola
Ada bermacam-macam marga di dalam sebuah lingkup
suku Batak yang pastinya antar mereka terdapat perbedaan
karena pengaruh geografis maupun orang yang berkuasa saat itu.
Namun perbedaan tersebut malah menjadikan sebuah
keanekaragaman yang menarik dalam kehidupan suku tersebut.
Nama Marga yang melekat di belakang nama orang Batak
menunjukkan garis keturunan. Pengertian Marga hampir sama
dengan trah dalam budaya Jawa. Sehingga orang Batak yang
semarga secara emosional hubungannya akan lebih erat. Bahkan
bisa lebih akrab dari saudara kandung sendiri. kedekatan
hubungan teritorial mengalahkan kedekatan hubungan biologis.
Identitas Batak

Ada tiga pendapat yang mengungkapkan mengenai identitas suku batak yaitu;

1. R.W Liddle mengatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatra bagian utara
tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya
sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar
individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada
kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih
besar.

2. Munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada
zaman kolonial. Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah "Tanah
Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing.
3. Siti Omas Manurung, istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan,
bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun
Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah
membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut.

Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi tentang asal usul
suku batak menyatakan, bahwa Pusuk Buhit, salah satu puncak di barat
Danau Toba, adalah tempat "kelahiran" bangsa Batak. Selain itu mitos-
mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak
berasal dari Samosir. Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari
berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi
keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra.
Salam Khas Batak :
1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam
Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir
Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”
Falsafah Dan Sistem Kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam
kemasyarakatannya yakni yang dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut
penyebutan Dalihan Natolu menurut kelima puak Batak

1. Dalihan Na Tolu (Toba) • Somba Marhula-hula • Manat Mardongan Tubu • Elek


Marboru

2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) • Hormat Marmora • Manat Markahanggi •


Elek Maranak Boru

3. Tolu Sahundulan (Simalungun) • Martondong Ningon Hormat, Sombah • Marsanina


Ningon Pakkei, Manat • Marboru Ningon Elek, Pakkei

4. Rakut Sitelu (Karo) • Nembah Man Kalimbubu • Mehamat Man Sembuyak • Nami-
nami Man Anak Beru

5. Daliken Sitelu (Pakpak) • Sembah Merkula-kula • Manat Merdengan Tubuh • Elek


Marberru
Dari silsilah diatas, bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak.
Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai
konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hula hula, juga
sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan
posisinya secara kontekstual
• Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati
posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua
sub-suku Batak.
• Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-
laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama.
• Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari
suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah
sebagai 'parhobas' atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari
maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun
berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan
semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk,
diistilahkan: Elek marboru.
B. Kepercayaan
Sebelum suku Batak menganut agama Kristen Protestan, mereka
mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang
memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud
dalam Debata Natolu. Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak mengenal tiga
konsep, yaitu:
• Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh
karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak
seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang,
maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara
mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
• Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua
orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala
sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau
hula-hula.
• Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama
dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam


pustaha.Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi,
namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang
sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.
 Masuknya Kristen

 Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar


Danau Toba pada tahun 1861, dan sebuah misi
pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig
Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama
kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh
Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab
Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada
tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf
latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma,
terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan
terdengar aneh dalam bahasa Batak.
 Selanjutnya Misi Katolik di Tanah Batak terhitung sejak
Pastor Misionaris pertama yakni Pastor Sybrandus van
Rossum, OFM.Cap masuk ke jantung Tanah Batak, yakni
Balige tanggal 5 Desember 1934.
 Masyarakat Toba dan Karo menyerap agama Nasrani
dengan cepat, dan pada awalabad ke-20 telah
menjadikan Kristen sebagai identitas budaya. Pada
masa ini merupakan periode kebangkitan
kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang
Batak sudah tidak melakukan perlawanan lagi dengan
pemerintahan kolonial. Perlawanan secara gerilya
yang dilakukan oleh orang-orang Batak Toba
berakhir pada tahun 1907, setelah pemimpin
kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat.
Saat ini, kepercayaan yang mayoritas dianut oleh masyarakat
batak adalah Islam dan Kristen. Islam masuk ke dalam
masyarakat batak berawal dari terjadinya perang paderi di awal
abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan
melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat
Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas
wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut,
yang pada akhirnya mereka menganut agama Protestan.
Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam
mengislamkan masyarakat Karo, Pakpak, dan Dairi. Sementara
itu, Kristen masuk ke daerah batak diawali oleh Dewan Injil
Belanda
 Oscar von Kessel mengunjungi Silindung pada tahun 1840-
an, dan pada tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang
mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina
dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi
paralel dari Marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel
menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak
sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi
untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian,
perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe
merah, dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban
sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat
dan tidak memikirkan balas dendam.
Upacara Adat Suku Batak diantaranya yaitu
Upacara pemakaman partuat ni natua tua merupakan
pemakaman bagi orang tua usia lanjut yang di adakan
sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum. Dalam
adat Batak Dalihan Na Tolu ini, terdapat beberapa
tingkatan pemakaman berdasar regenerasi almarhum.
Almarhum akan dikatakan sempurna bila meninggal
dengan memiliki nini (cicit dari anak laki-laki) atau nono
(cicit dari anak perempuan).
E. Upacara Pernikahan Adat Batak

Berikut sedikit ulasan mengenai urut-urutan pra sampai pasca


pernikahan adat Na Gok:
1. Mangarisika, adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi
ke tempat wanita dalam rangka penjajakan.
2. Marhori-hori Dinding/marhusip, yaitu Pembicaraan antara
kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas
dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh
umum.
3. Marhata Sinamot, yaitu Pihak kerabat pria (dalam jumlah
yang terbatas) datang pada kerabat wanita untuk melakukan
marhata sinamot, membicarakan masalah uang (tuhor).
4. Pudun Sauta, yaitu Pihak kerabat pria tanpa hula-hula
mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya
(ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak
parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan
pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang
terdiri dari :
• Kerabat marga ibu (hula-hula)
• Kerabat marga ayah (dongan tubu)
• Anggota marga menantu (boru)
• Pengetuai (orang-orang tua)/pariban

Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita


dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-
masuon.
 5. Martumpol (baca : martuppol), yaitu Penanda-tanganan persetujuan
pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan
anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja yang dilanjutkan dengan
pemberkatan nikah (pamasu-masuon)
 6. Martonggo Raja atau Maria Raja, adalah suatu kegiatan pra pesta/acara
yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara
pesta/acara
 7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan), yaitu
pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja
(pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan
pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri
menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah
pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak
pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk
mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta
Mangalap parumaen.
Dalam persoalan perkawinan, dalam tradisi suku
Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak
yang berbeda klan. Maka dari itu, jika ada yang menikah
harus mencari pasangan hidup dari marga lain. Apabila
yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku
Batak, maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga
Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan
prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja bila agama
yang dianutnya adalah Kristen.
 Ulos Ragi Hotang
 Pemberian ulos ini diberikan kepada
sepasang pengantin yang sedang
melaksanakan pesta adat yang disebut
dengan nama Ulos Hela. Yang memiliki
makna menyetujui putrinya dipersunting atau
diperistri oleh laki-laki yang telah disebut
sebagai “Hela” (Menantu).
 Ulos Suri Suri Ganjang
 Ulos ini dipakai sebagai Hande-hande
(selendang) pada waktu margondang (menari
dengan alunan musik batak) dan juga di
pergunakan oleh pihak Hula-hula (orang tua
dari pihak istri) untuk manggabei
(memberikan berkat) kepada pihak borunya
(keturunannya) karena itu disebut juga Ulos
gabe-gabe (berkat).
 Ulos Tumtuman
 Ulos Tumtuman = Dipakai sebagai tali-tali
yang bermotif dan di pakai oleh anak yang
menunjukkan bahwa yang bersangkutan
adalah anak pertama dari hasuhutan (tuan
rumah).
 Ulos Sibolang Rasta Pamontari
 . Ulos Sibolang Rasta Pamontari = Ulos ini di pakai
untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman
sekarang, Ulos Sibolang bisa dikatakan sebagai simbol
duka cita, yang di pakai sebagai Ulos Saput (orang
dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu) dan di
pakai juga sebagai Ulos Tujung untuk Janda dan Duda
dengan kata lain kepada laki-laki yang ditinggal mati
oleh istri dan kepada perempuan yang di tinggal mati
oleh suaminya. Apabila pada peristiwa duka cita Ulos
ini dipergunakan maka hal itu menunjukkan bahwa
yang bersangkutan adalah sebagai keluarga dekat dari
orang yang meninggal.
 Panggora
 Sarune Bolon
 Hasapi
 Garantung
 Gondang
 Taganing
 Dekke Na Niura
 Natinombur
 Saksang
 Ikan Arsik
 Contoh Pakaian Pernikahan Adat Batak Toba
Batak merupakan salah satu suku bangsa di
Indonesia. Cikal bakal Suku Batak berasal dari
daerah Toba, Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Nama ini merupakan sebuah terma
kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa
suku bangsa yang bermukim dan berasal
dari Tapanuli, Sumatera Utara.
Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak
adalah Karo, Pakpak, Toba,
Simalungun, Mandailing,Angkola.