ANTI INFLAMASI
KE
LO
M
PO
K
NAMA ANGGOTA :
LINA NAFISA (J210180132)
NUZHULUL LIFQI IWANDANI (J210180145)
2
HENITA SETYANINGRUM (J210180147)
DEWI NASTITI (J210180156) FA
DILLA NURFATIKA SARI (J210180162)
SATRIA SUTRISNA WIRASAKTI (J210180171)
JUNDA AINUL FAHMI (J210180174)
R
M
A
DEFINISI
INFLAMASI AGENS ANTI INFLAMASI
Inflamasi adalah respon Agens anti-inflamasi
tubuh untuk melindungi umumnya menghambat
diri dari cedera dan atau mengubah reaksi
patogen dengan kimia yang berhubungan
menggunakan mediator dengan respons inflamasi
kimia yang guna menghentikan satu
mengakibatkan atau lebih tanda dan
munculnya tanda dan gejala inflamasi.
gejala penyakit seperti
bengkak, nyeri, dan
demam. Kadang kala,
inflamasi menjadi suatu
kondisi kronis dan benar-
benar dapat
PEMBAHASAN MENGENAI AGENS
ANTI-INFLAMASI BERFOKUS
PADA SALISILAT, OBAT ANTI-
INFLAMASI NONSTEROID, DAN
OBAT TERKAIT LAINNYA.
Terdapat beberapa jenis obat berbeda
yang digunakan sebagai agens anti-
infiamasi.
• Kortikosteroid
Digunakan secara sistemis untuk menghambat
sistem inflamasi dan imun. Penghambatan proses
tersebut dapat menimbulkan banyak efek
merugikan, termasuk penurunan resistansi
terhadap infeksi dan neoplasma. Kortikosteroid juga
digunakan secara topikal untuk menghasilkan efek
anti-inflamasi lokal tanpa menimbulkan banyak efek
merugikan.
• Antihistamin
Digunakan untuk menghambat pelepasan histamin
S A L I S I L AT
Salisilat merupakan agens anti-inflamasi yang populer,
bukan hanya untuk menghambat respons inflamasi, tetapi
juga karena memiliki khasiat antipiretik (penghambat
demam) dan analgesik (penghambat nyeri).
Obat-obat tersebut umumnya didapat tanpa resep dokter
dan relatif nontoksik jika digunakan sesuai aturan.
Obat ini diekstrak dari willow bark, pohon poplar, dan
tanaman lainnya yang oleh manusia purba digunakan untuk
mengobati demam, nyeri, dan yang sekarang kita sebut
inflamasi.
Salisilat sintetis mencakup
obat-obat berikut ini
A. Aspirin (Bayer, Empirin, dan
lain-lain)
adalah salah satu obat yang paling
banyak digunakan untuk mengobati
kondisi inflamasi. Obat ini merupakan
obat bebas.
B. Kolin magnesium trisalisilat
(Trilisate)
digunakan untuk mengobati nyeri
ringan, demam serta artritis
(peradangan pada sendi).
C. Kolin salisilat (Arthropan)
digunakan untuk mengobati nyeri ringan
dan demam juga artritis. Obat ini
tersedia sebagai obat bebas.
D. Mesalamin (Pentasa dan lainnya)
merupakan senyawa unik yang
melepaskan aspirin di usus besar untuk
mendapatkan efek anti-inflamasi
langsung pada kolitis ulseratif atau
kondisi Iainnya yang melibatkan
inflamasi pada usus besar.
E. Olsalazin (Dipentum)
merupakan obat yang diubah menjadi
mesalamin di kolon dan memiliki efek
anti inflamasi Iangsung.
F. Salsalat (Argesic dan Iainnya)
digunakan untuk mengobati nyeri,
demam, dan inflamasi.
G. Natrium tiosalisilat (Rexolate)
digunakan terutama untuk episode gout
akut (gejala asam urat) dan nyeri
muskular, serta untuk mengobati
demam reumatik.
H. Balsalazid, (Colazal)
merupakan obat baru yang dimasukkan
utuh ke kolon, yang memberikan efek
anti-inflamasi lokal pada pasien kolitis
ulseratif (penyakit radang usus).
Cara Kerja Obat
• Salisilat menghambat sintesis prostaglandin yang merupakan suatu
mediator penting dalam reaksi inflamasi. Efek antipiretik salisilat
dapat dihubungkan dengan penghambatan mediator prostaglandin
dari pirogen (zat kimia yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh
dan dilepaskan oleh sel darah putih aktif) pada pusat termoregulator
di hipotalamus.
• Aspirin pada kadar yang rendah dapat memengaruhi agregasi
trombosit dengan menghambat sintesis tromboksan A, suatu
vasokonstriktor kuat yang secara normal meningkatkan agregasi
trombosit dan pembentukan bekuan darah. Dan pada kadar yang lebih
tinggi, aspirin menghambat sintesis prostasiklin, suatu vasodilator
yang menghambat agregasi trombosit.
lndikasi Terapeutik
• Salisilat diindikasikan untuk pengobatan nyeri ringan sampai
berat, demam, dan beberapa kondisi inflamasi, termasuk artritis
reumatoid dan osteoartritis.
• Aspirin dosis rendah diindikasikan untuk pencegahan transient
ischemic attack (TIA) dan stroke pada pria yang memiliki riwayat
emboli. Dan aspirin dosis rendah diindikasikan untuk mengurangi
risiko kematian dan infark miokardium (MI) pada pasien dengan
riwayat MI atau angina yang tidak stabil.
Fa r m a k o k i n e t i k
Salisilat segera diabsorpsi secara langsung dari lambung dan
mencapai kadar puncak dalam 5 sampai 3O menit. Salisilat
dimetabolisme di hati dan diekskresi melalui urine, dengan waktu
paruh 15 menit sampai 12 jam, bergantung pada salisilat yang
digunakan. Salisilat yang melewati plasenta dan masuk ke air susu
ibu tidak diindikasikan pengunaannya selama kehamilan atau
laktasi karena kemungkinan adanya efek merugikan pada neonatus
dan risiko perdarahan akibat obat tersebut pada ibu hamil.
Kontraindikasi dan
Peringatan
Penggunaan salisilat dikontraindikasikan pada orang yang mengalami
alergi terhadap salisilat, seperti AFNS (lebih sering terjadi pada pasien
dengan riwayat polip hidung, asma, atau urtikaria kronis), atau
tartrazin (suatu bahan pewama yang memiliki sensitivitas silang
terhadap aspirin), perdarahan abnormal (karena perubahan agregasi
trombosit dikaitkan dengan penggunaan obat ini), kerusakan fungsi
ginjal (karena obat tersebut diekskresikan melalui urine), cacar air
atau influenza (risiko sindrom Reye pada anak-anak dan remaja),
pembedahan atau prosedur invasif lainnya yang dijadwalkan dalam 1
minggu (karena adanya risiko perdarahan), dan kehamilan atau laktasi.
Efek Samping
Efek samping dari penggunaan salisilat mungkin disebabkan oleh efek
obat secara langsung pada lambung (mual, dispepsia, heartburn, rasa tidak
nyaman di epigastrik), dan sistem pembekuan darah (kehilangan darah,
abnormalitas perdarahan). Salisilisme dapat terjadi karena penggunaan
aspirin berkadar tinggi dengan gejala pusing, telinga berdengung, sulit
mendengar, mual, muntah, diare, konfusi mental, dan kelemahan.
Toksisitas salisiliat akut dapat terjadi pada dosis 20 sampai 25 g pada
dewasa atau 4 g pada anak-anak. Tanda toksisitas salisilat meliputi
alkalosis respiratori, hiperpnea, takipnea, hemoragi, gelisah, konfusi,
edema paru, kejang, tetani, asidosis metabolik, demam, koma, dan kolaps
kardiovaskular, ginjal, serta pernapasan.
Interaksi Obat-Obat yang
Penting Secara Klinis
Interaksi salisilat dengan obat-obatan lainnya terutama dapat
disebabkan oleh perubahan dalam absorpsi, efek pada hati, atau
perluasan efek terapeutik salisilat atau obat yang berinteraksi
ataupun keduanya. Perawat harus membaca daftar interaksi obat
pada setiap monograf obat dalam pedoman obat keperawatan dan
memberitahu kepada dokter yang menuliskan resep sebelum
menambah atau menghapus salisilat dari setiap program obat.
AINS
Obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS)
adalah obat yang paling banyak
digunakan di Amerika Serikat. Obat ini
memberikan efek anti-inflamasi dan
analgesik yang kuat tetapi tidak
memiliki efek merugikan yang berkaitan
dengan kortikosteroid. AINS merupakan
kelas obat yang relatif barn.
K e l o m p o k obat ini meliputi
a g e n s - a g e n s berikut :
ASAM PROPIONAT
a. Fenoprofen (nalfon) digunakan untuk mengobati nyeri
dan mengatasi artritis.
b. Flurbiprofen (ansaid) digunakan untuk penatalaksanaan
artritis jangka panjang dan sebagai preparat topikal
untuk mengatasi nyeri setelah pembedahan mata.
c. Ibuprofen (motrin, advil, dan lainnya) digunakan
sebagai obat bebas pereda nyeri dan untuk
penatalaksanaan nyeri amitis serta dismenore jangka
panjang; obat ini merupakan ains yang paling banyak
digunakan.
d. Ketoprofen (orudis) tersedia untuk
penatalaksanaan nyeri jangka pendek dan
sebagai agens topikal untuk menghilangkan
gatal okular yang disebabkan oleh rinitis
musiman.
e. Naproksen (naprosyn) tersedia sebagaj obat
bebas pereda nyeri dan mengobati artritis serta
dismenore.
f. Oksaprozin (daypro) sangat berhasil digunakan
untuk mengobati artritis.
ASAM ASETAT
a. Diklofenak (Voltaren) digunakan untuk mengobati
nyeri akut jangka panjang akibat kondisi infiamasi.
b. Etodolak (Lodine) digunakan secara luas untuk nyeri
artritis.
c. lndometasin (Indocin) tersedia dalam preparat oral,
topikal, dan rektal untuk meredakan nyeri sedang
sampai berat akibat kondisi inflamasi dan dalam
bentuk intravena untuk meningkatkan penutupan
duktus arteriosus secara nyata pada bayi prematur.
d. Ketorolak (Toradol) digunakan untuk penatalaksanaan
jangka pendek dan secara topikal untuk menghilangkan
gatal okular.
e. Nabumeton (Relafen) digunakan untuk mengobati nyeri
artritis akut dan kronis.
f. Sulindak (Clinoril) digunakan untuk pengobatan jangka
panjang dan jangka pendek dari tanda dan gejala berbagai
kondisi inflamasi.
g. Tolmetin (Tolectin) digunakan untuk pengobatan serangan
akut artritis rematoid dan juvenile artritis.
fenamat
a. Meklofenamat (generik) digunakan
untuk mengobati dismenore, nyeri
ringan, dan artritis.
b. Asam mefenamat (Ponstel) digunakan
hanya untuk pengobatan nyeri jangka
pendek.
c. Piroksikam (F eldene) digunakan untuk
mengobati artritis akut dan kronis.
d. Ditiunisal (Dolobid) digunakan untuk
nyeri sedang dan pengobatan artritis. .
P E N G H A M B AT S I K LO O K S I G E N A S E - Z
a. Selekoksib (Celebrex) digunakan untuk pengobatan artritis akut dan
jangka panjang, terutama pada pasien yang tidak dapat menoleransi
efek GI dari AINS lainnya; untuk nyeri akut pada dewasa; dan untuk
dismenore primer.
b. Rofekoksib (Vioxx) digunakan untuk meringankan tanda dan gejala
osteoartritis, nyeri akut pada dewasa, dan pengobatan dismenore
primer, terutama pada pasien yang tidak dapat menoleransi efek GI
dari AINS lainnya.
c. Valdekoksib (Bextra) digunakan sebagai pengobatan osteoartritis sekali
sehari, pengobatan reumatoid artritis dewasa, dan dismenore primer.
Pilihan AINS bergantung pada pengalaman
personal dan respons pasien terhadap obat.
Pasien mungkin sedikit berespons terhadap
salah satu obat AINS dan berespons kuat
terhadap AINS lainnya.
CARA KERJA OBAT
AINS menghambat dua enzim, yang dikenal sebagai
siklooksigenase-l (COX-l) dan siklooksi genase-Z (COX-Z).
COX-l terdapat di seluruh jaringan dan tampaknya
terlibat dalam banyak fungsi tubuh, termasuk
pembekuan darah, melindungi lapisan lambung, dan
mempertahankan keseimbangan natrium dan air di
dalam ginjal. COX-I mengubah asam arakidonat menjadi
prostaglandin sesuai kebutuhan dalam berbagai
jaringan.
COX-Z aktif pada tempat-tempat trauma atau cedera
ketika lebih banyak prostaglandin diperlukan, tetapi
Dengan mengganggu bagian reaksi inflamasi ini, AINS
menghambat infiamasi sebelum semua tanda dan gejala
berkembang. Kebanyakan AINS juga menghambat berbagai
fungsi prostaglandin yang lain, termasuk perlindungan
lapisan lambung, pengaturan pembekuan darah, dan
keseimbangan air serta garam di dalam ginjal. Inhibitor
COX2 yang lebih baru diduga hanya bekerja pada tempat-
tempat trauma dan cedera untuk menghambat reaksi
intflamasi secara lebih spesifik.
INDIKASI TERAPEUTIK
AINS diindikasikan untuk meredakan tanda dan gejala
artritis reumatoid dan osteoartritis; untuk meredakan
nyeri ringan sampai sedang; untuk pengobatan
dismenore primer; dan untuk penurunan demam.
FA R M A K O D I N A M I K
AINS dengan cepat diabsorpsi dari saluran GI,
mencapai kadar puncak dalam 1 sampai 3
jam. AINS dimetabolisme di hati dan
diekskresi di dalam urine. AINS menembus
plasenta dan masuk ke dalam air susu ibu.
Oleh karena itu, obat ini tidak
direkomendasikan selama kehamilan dan
menyusui karena berpotensi menimbulkan
efek merugikan pada neonatus.
KONTRAINDIKASI DAN PERINGATAN
Dikontraindikasikan jika ada alergi terhadap AINS atau salisilat.
Selekoksib juga dikontraindikasikan jika pasien alergi terhadap
sulfonamid. Kontraindikasi tambahan adalah disfungsi kardiovaskular
atau hipertensi, karena berbagai efek prostaglandin seperti ulkus
peptik atau perdarahan saluran gastrointestinal yang diketahui
berpotensi memperburuk perdarahan saluran gastrointestinal, dan
kehamilan atau laktasi. Kewaspadaan harus diterapkan pada
disfungsi ginjal atau hati, yang dapat mengubah metabolisme dan
ekskresi obat-obatan ini, dan pada alergi lain yang mengindikasikan
peningkatan sensitivitas.
EFEK SAMPING
Pasien yang mendapatkan AINS sering kali mengalami mual,
dispepsia, nyeri saluran gastrointestinal, konstipasi, diarea, atau
flatulensi yang disebabkan oleh efek obat langsung pada saluran
gastointestinal. Potensi terjadinya perdarahan saluran
gastrointestinal sering kali menyebabkan penghentian obat. Sakit
kepala, pusing, somnolen, dan keletihan juga sering terjadi dan
dapat dikaitkan dengan aktivitas prostaglandin pada SSP.
Perdarahan, inhibisi trombosis, dan bahkan depresi sumsum
tulang dilaporkan pada penggunaan AINS kronis dan kemungkinan
terkait dengan penghambatan aktivitas prostaglandin. Ruam dan
seriawan dapat terjadi dan reaksi anafilaktik dengan rentang
sampai syok anafilaktik fatal terjadi pada kasus-kasus
hipersensitivitas berat.
I N T E R A K S I O B A T- O B A T Y A N G
PENTING SECARA KLINIS
Sering kali terjadi penurunan efek diuretik jika obat-obat
ini dikonsumsi bersama loop diuretic. Ada kemungkinan
penurunan efek antihipertensi penyekat jika obat-obatan
ini dikombinasi dan ada laporan toksisitas litium, khususnya
jika dikombinasikan dengan ibuprofen. Pasien-pasien yang
menerima kombinasi ini harus dipantau dengan ketat dan
penyesuaian dosis yang tepat dilakukan oleh dokter.