Anda di halaman 1dari 25

ETIOLOGI DISENTRI & FAKTOR

Diana Etika Azzahra (2008260099)


LEONANDO ROVI (200260107)
Definisi
• Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu
(=gangguan) dan enteron (=usus), yang berarti
suatu peradangan usus besar yang dapat
menimbulkan gejala meluas seperti :
• BAB dengan tinja berdarah
• BAB dengan tinja bercampur lendir (mucus)
• Kram perut
• Nyeri saat buang air besar (tenesmus)
Etiologi
1. Bakteri (Disentri basiler)
– Shigella, Shigella adalah basil non motil, gram negatif,
famili enterobacteriaceae. Ada 4 spesies Shigella, yaitu
S.dysentriae, S.flexneri,S.bondii dan S.sonnei.
– Penyebab disentri yang tersering
2. Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba
hystolitica
• - E.histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup
sebagai mikroorganisme komensal (apatogen) di usus
besar manusia.
• Dapat berubah menjadi patogen dengan cara
membentuk koloni di dinding usus dan menembus
dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi.
Patogenesis
Transmisi : fecal-oral, melalui : makanan / air yang
terkontaminasi, person-to-person contact.

1.Disentri basiler
a. Shigella
MO → bertahan terhadap pH yang rendah,  dapat
melewati barrier asam lambung  kolonisasi di ileum
terminalis/kolon, terutama kolon  invasi ke sel epitel
mukosa kolon→ replikasi  menghasilkan eksotoksin :
ShET1, ShET2, dan toksin Shiga, yang mempunyai sifat
enterotoksik, sitotoksik,dan neurotoksi  ↑ cAMP →
hipersekresi usus (diare cair, diare sekresi) → infiltrasi sel
radang → mukosa usus hiperemik, lebam dan tebal,
nekrosis superfisial → ulkus-ulkus kecil → mengenai
pembuluh darah → tinja bercampur darah
2.Disentri amoeba
• Bentuk histolitika (trofozoit) → menjadi patogen
 invasi ke sel epitel mukosa usus 
memproduksi enzim fosfoglukomutase dan
lisozim → kerusakan dan nekrosis jaringan
dinding usus ulkus amoeba → ulkus melebar,
menonjol → malabsorpsi → kerusakan
permukaan absorpsi → ↑ massa intraluminal →
tekanan osmotik intraluminal → diare osmotik.
Manifestasi Klinis
1.Disentri basiler
• Onset : berlangsung cepat, sering mendadak, dapat juga
perlahan-lahan
• Defeksi sedikit-sedikit dan dapat terus menerus. Sifat :
mulanya sedikit-sedikit sampai isi usus terkuras habis,
selanjutnya pada keadaan ringan masih dapat
mengeluarkan cairan, sedangkan bila keadaan berat
tinja berlendir dengan warna kemerah-merahan (red
currant jelly) atau lendir yang bening dan berdarah,
bersifat basa.
• Sakit perut kolik
• Muntah
• Sakit kepala
• Mikroskopik : sel-sel pus, leukosit/eritrosit, sel
makrofag.
• Suhu bervariasi dari rendah-tinggi
• Nadi cepat
• Sakit perut terutama di sebelah kiri, terasa
melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga
mengakibatkan perut menjadi cekung.
• Di daerah anus luka dan nyeri
• Bentuk yang berat (fulminating cases)
biasanya disebabkan oleh S. dysentriae.
– Gejalanya timbul mendadak dan berat,
berjangkitnya cepat,
– BAB cair dengan lendir dan darah yang sering
– muntah-muntah,
– suhu subfebris,
– Dehidrasi bahkan syok
– Kadang-kadang gejalanya tidak khas, dapat
berupa seperti gejala kolera atau keracunan
makanan
2.Disentri amoeba
Disentri amoeba ringan
• onset penyakit perlahan-lahan.
• perut kembung, kadang nyeri perut ringan
• diare ringan, 4-5 kali sehari, dengan tinja berbau busuk.
Kadang tinja bercampur darah dan lendir.
• nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang nyeri di daerah
epigastrium, tergantung pada lokasi ulkusnya.
• Keadaan umum baik, tanpa atau sedikit demam
ringan(subfebris).
• Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikit
nyeri tekan.
Disentri amoeba sedang 
• Keluhan gejala klinis lebih berat dibanding
disentri ringan,tetapi pasien masih mampu
melakukan aktivitas sehari-hari.
• Tinja disertai lendir dan darah.
• perut kram,
• demam
• lemas
• hepatomegali ringan
Disentri amoeba berat
• Keluhan dan gejala klinis lebih berat lagi
• Diare disertai darah yang banyak, lebih dari 15
kali sehari.
• Demam tinggi (40 C-40,5 C)
• Mual
• anemia
Diagnosis
Disentri basiler
• keluhan nyeri abdomen bawah, dan diare
• Pemeriksaan mikroskopik tinja menunjukkan adanya
eritrosit dan leukosit PMN.
• Untuk memastikan diagnosis dilakukan kultur dari bahan
tinja segar atau hapus rektal.
• Endoskopi : mukosa hemoragik yang terlepas dan ulserasi.
Kadang tertutup eksudat. Sebagian besar lesi terdapat di
bagian distal kolon dan secara progresif berkurang di
segmen proksimal kolon
• Px. Enzim immunoassay : mendeteksi toksik di tinja.
Disentri amuba
• Pemeriksaan tinja : tidak banyak mengandung leukosit tetapi
banyak mengandung bakteri.
• Diagnosis pasti baru dapat ditegakkan bila ditemukan amoeba
(trofozoit).
• Tinja berbau busuk, bercampur darah dan lendir.
Pemeriksaan sigmoidoskopi dan kolonoskopi
• didapatkan ulkus yang khas dengan tepi menonjol, tertutup
eksudat kekuningan, mukosa usus antara ulkus-ulkus tampak
normal
Foto rontgen kolon
• pada kasus amoebiasis kronis, tampak ulkus disertai spasme
otot. Pada ameboma nampak filling defect yang mirip
karsinoma
Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk diare darah :
1.Disentri amuba
2.Disentri basiler
3.Eschericiae coli
1. Escherichia coli Enteroinvasive (EIEC)
2. Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)
Komplikasi
• Perdarahan usus
• Perforasi
• Peritonitis
• Ameboma
• Intususepsi
• Penyempitan usus (striktura)
• Amebiasis hati
• Abses pleuropulmonal
• Abses otak, limpa, dan organ lain
• Amebiasis kulit
• Haemolytic uremic syndrome (HUS)
• Arthritis
• Toksik megakolon
• Prolaps rectal
• perforasi
• Trombositopenia
• Hiponatremia
• Hipoglikemia
• Gejala susunan saraf : ensefalopati,
penurunan kesadaran.
Terapi
Disentri basiller
• Prinsipnya : istirahat, mencegah atau memperbaiki dehidrasi, dan pada
kasus berat dapat diberikan antibiotik
• Cairan dan elektrolit :
– Dehidrasi ringan – sedang : cairan rehidrasi oral
– Berat : cairan IV..
– Bila pasien tidak muntah : diberikan melalui minuman atau air kaldu
atau oralit.
– Bila berangsur sembuh : susu tanpa gula
• Diiet :
• Makanan lunak sampai frekuensi BAB < 5x/hari
• Makanan ringan biasa bila ada kemajuan
• Antibiotik :
• Berikan atibiotik selama 2 hari. Bila ada
kemajuan dilanjutkan selama 5 hari.. Bila
tidak ada perbaikan diganti dengan jenis
lain.
• Jika dengan pengobatan antibitik yang
kedua pasien tidak menunjukkan perbaikan
diagnosis harus ditinjau ulang dan dilakukan
pemeriksaan mikroskopik tinja, kultur, dan
resistensi mikroorganisme.
• Shigella biasanya resisten terhadap Ampisillin, namun bila
masih peka : ampisillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari.
• Trimetropim – sulfametoksazol 2 x 960 mg hari selama 3-5
hari.
• Amoksisilin tidak dianjurkan karena tidak efektif,
• Pemakaian jangka pendek : siprofloksasin 2 x 500 mg/hari
selama 3 hari. KI anak dan bumil.
• Azitromisin 1 gr dosis tunggal
• Sefiksim 400 mg/hari selama 5 hari
• Bila multiresisten : asam nalidiksik 3x1 g/hari selama 5 hari
• Obat antispasmodik (bila kram berat) : tinktura beladona
Disentri amoeba
– Amebiasis ringan – sedang : tetrasiklin 500 mg 4 kali
selama 5 hari
– Amebiasis berat : metronidazole 3 x 750 mg selama 5
– 10 hari, kloroquin posfat 1 gr / hari selama 2 hari,
dilanjutkan 500 mg/hari selama 4 minggu, dan
emetin 1 mg/kgBB/hari/IM selama 10 hari
Prognosis
• Prognosis baik pada kasus tanpa komplikasi
• Bentuk S. dysentriae biasanya lebih berat dan
masa penyembuhan lama.
• Bentuk S. flexneri mempunyai angka kematian
yang rendah.
• Prognosis buruk pada abses otak amoeba
Pencegahan
• Sanitasi
• Air minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu
REFERENSI
• Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Stiyohadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. VI.
Jakarta: InternaPublishing; 2014:562-74.
• Williams PCM, Berkley JA. Guidelines for the treatment of dysentery (shigellosis): a systematic
review of the evidence. Paediatrics and International Child Health. 2018;38(sup1):S50–S65.
Available at: https://doi.org/10.1080/20469047.2017.1409454 
• Kantor, Micaella & Abrantes, Anarella & Estevez, Andrea & Schiller, Alan & Torrent, Jose &
Gascon, Jose & Hernandez, Robert & Ochner, Christopher. (2018). Entamoeba Histolytica:
Updates in Clinical Manifestation, Pathogenesis, and Vaccine Development. Canadian Journal
of Gastroenterology and Hepatology. 2018. 1-6. 10.1155/2018/4601420. 
• Zulfiqar H, Mathew G, Horrall S. Amebiasis [Internet]. StatPearls Publishing,
Treasure Island (FL); 2020. Available from: http://europepmc.org/books/NBK519535
Terima kasih 

Anda mungkin juga menyukai