Anda di halaman 1dari 10

Sebagian orangtua sering mengeluhkan dan merasa bahwa anak mereka kurang cerdas bahkan termasuk lambat belajar.

Standar atau patokan yang digunakan biasanya berdasarkan prestasi belajar yang didapat di bangku sekolah. Namun demikian, para orangtua lupa bahwa hampir seluruh aspek yang dinilai dalam dunia pendidikan kita masih berpusat pada kemampuan kognitif atau intelektual semata.

Pada 1904, Alfred Binet dkk mengembangkan alat untuk menentukan siswa mana yang berisiko mengalami kegagalan, agar mereka dapat diberi perhatian khusus. Mereka membuahkan tes kecerdasan yang pertama hingga segera tersebar luas. Masyarakat jadi beranggapan ada hal yang disebut kecerdasan, dan bahwa kecerdasan dapat diukur secara obyektif dan dapat dinyatakan dalam angka atau nilai IQ Daniel Goleman Konsep Emotional Intelligence yang meyakini bahwa kecerdasan emosi (Emotional Quotient) jauh lebih penting dan terbukti memberi sumbangan yang lebih besar dalam keberhasilan hidup seseorang dibandingkan kecerdasan intelektual-nya.

Mary Poplin (editor Learning Disability Quarterly/LDQ) Mengapa kita tidak tahu apakah muridmurid kita berbakat dalam bidang seni, tari, musik, atletik, komputer, atau bidang lainnya ? Penyebabnya adalah seperti umumnya pendidik, kita hanya peduli pada kemampuan dalam arti yang paling tradisional dan akademis, seperti pintar membaca, menulis, mengeja, IPA dan matematika dalam bentuk buku pelajaran dan lembar latihan standar. Pada saat anak-anak LD bersekolah, semua perhatian guru dan orang tua dipusatkan pada ketidakmampuan mereka dan bukan memperhatikan kemampuannya. (seperti cerita tentang para binatang yang memutuskan untuk menciptakan sebuah sekolah memanjat, terbang, berlari, berenag dan menggali. Yang pada akhirnya mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berprestasi dalam bidang keahliannya)

Thomas Armstrong Seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang aktif dan bersemangat, dengan penuh gairah memulai hari pertamanya di sekolah. Ia terbiasa mengisi hari-harinya dengan menggambar, bermain di kolam renang bersama teman-temannya, bermain bola dan bernyanyi riang. Ketika masuk sekolah pada hari pertama yang berkesan itu, ia berharap bisa bergerak bebas, menjelajahi benda-benda disekitarnya, bernyanyi, bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya. Tetapi sebaliknya ia malah menemukan dirinya dalam sebuah dunia dimana ia harus duduk di kursinya selama berjam-jam, belajar memahami perintah yang panjang dan rumit dari sang guru dan memaksakan matanya melihat angka dan huruf yang tercetak di dalam buku. Ketika kekecewaan dan kebingungannya didiagnosis oleh para pakar maka disimpulkan bahwa anak tersebut menderita LD, ADD, disleksia
dan hiperaktivitas

Satu keyakinan penting yang perlu dimiliki oleh para guru dan orangtua tentang anak-anak mereka adalah bahwa setiap anak lahir dengan membawa potensi. Dengan keyakinan demikian, harapannya akan muncul kesungguhan untuk lebih peka dan cermat dalam berusaha menemukan serta mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anak. Sebuah kepastian, bahwa Allah SWT tidaklah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Apalagi dalam penciptaan makhluk bernama manusia. Kita, orangtua dan guru, ibarat para pembuat keramik. Dan anak-anak adalah tanah liatnya. Dia memberi amanah berupa anakanak pada kita untuk diasuh, dibimbing dan diarahkan hingga menjadi generasi yang terbaik, sebagai rahmatan lil alamin.

HowardGardner mengungkapkan teorinya tentang multiple intelligence (kecerdasan ganda) yang dimiliki oleh setiap anak. Menurut Gardner, setiap anak memiliki delapan jenis kecerdasan yang tersusun menjadi satu dengan cara yang unik dan kombinasi yang berlainan. anak bukan hanya berkaitan dengan berpikir (kecerdasan logis dan matematis), tapi ada berbagai kecerdasan lain. Sebagai contoh, bisa jadi anak memiliki kecerdasan berpikir yang biasa saja, namun ia memiliki kelebihan dalam hal kecerdasan musikal. Anak yang lain mungkin memiliki kecerdasan berpikir biasa saja, namun ia memiliki kecerdasan kinestetik yang menjadikannya memiliki skill olahrga yang jauh di atas rata-rata anak yang lain.

Sudah berapa banyak pemikir dan jiwa kreatif yang telah disia-siakan, berapa banyak kekuatan otak yang terbuang percuma karena pandangan kuno dan picik kita tentang otak dan pendidikan

Didiklah anakanakmu. Sesungguhnya mereka dilahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang benar-benar berbeda dengan zamanmu. (Ali bin Abi Thalib ra)