Anda di halaman 1dari 51

MENGENAL SALAFI

Oleh: Farid Numan Hasan

Pendahuluan
BOLEHKAH MENDIRIKAN ORGANISASI/KELOMPOK DAKWAH? Dalil-Dalil:
1.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran (3): 104)

Berkata Al Imam Asy Syaukani Rahimahullah: Ayat ini merupakan dalil kewajiban amar maruf nahi munkar, kewajibannya adalah pasti dalam Al Quran dan As Sunnah, dan termasuk kewajiban yang besar menurut syariat yang suci, dan termasuk dari dasar syariat dan penyangganya, yang dengannya dapat menyempurnakannya dan meninggikannya. (Fathul Qadir, 2/8. Mawqi Ruh Al Islam)

Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:


Maksud dari ayat ini adalah adanya firqah (kelompok) yang berorientasi dalam urusan ini, jika hal ini wajib bagi setiap orang maka ini sudah mencukupinya. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 2/91. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi) Imam Ibnu Katsir menggunakan kata Firqah (kelompok indefinitif), bukan Al Firqah (sebuah kelompok definitif).

2. Ayat lain: Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok (tsubaatin), atau majulah bersama-sama! (QS. An Nisa (4): 71)

: majulah berkelompok-kelompok, tafsir tentang kalimat ini:


Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma: saraya mutafarriqin (pasukan yang berbeda-beda). Ini juga tafsir dari Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As Sudi, Atha Al Khurasani, Adh Dhahak, Muqatil bin Hayyan, Al Khushaif Al Jazari. ( Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, 2/357. Lihat juga Imam As Suyuthi, Ad Durul Mantsur, 3/166. Mawqi Ruh Al Islam) Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan:

:
Maknanya: majulah dengan jamaah (kelompok) yang berbeda-beda. (Imam Al Qurthubi, Al Jami Li Ahkamil Quran, 5/274. Dar Alim Al Kutub - Riyadh. Lihat juga Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 2/173)

3. Dalam Organisasi dakwah memaklumi adanya pemimpin atau tokoh sentral. Hal ini pun masyru, dan bukan termasuk negara dalam negara. Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:


Jika ada tiga orang melakukan perjalanan maka angkatlah salah seorang mereka sebagai pemimpin. (HR. Abu Daud No. 2608, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No.10129. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami No. 763) Ucapan seperti ini juga ada secara mauquf sebagai ucapan Umar bin Al Khathab. (Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1623, katanya: shahih sesuai syarat syaikhan. Ibnu Khuzaimah No. 2541. Syaikh Al Albani mengatakan: isnadnya shahih mauquf dan rijalnya tsiqat. Lihat Shahih Ibnu Khuzaimah , 4/141) Wajh Istidalal (sisi pendalilan)nya adalah jika dalam bepergian saja disyariatkan mengangkat seorang pemimpin, maka apalagi dalam hal yang lebih urgen dari itu seperti dakwah dan jihad. Ini diistilahkan dengan Qiyas Aula.

4. Hal ini diperkuat lagi oleh sirah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengirim berbagai tim ekspedisi yang berbeda-beda, dan masing-masing memiliki amir (pemimpin) yang mesti ditaati oleh pasukannya.

Dalam sirah nabawiyah kita mengenal ada Sariyah (satuan eskedisi/pleton) Abdullah bin Jahys, Sariyah Hamzah bin Abdul Muthalib, Sariyah Ubaidah bin Al Harits, dan Sariyah Saad bin Abi Waqash.
Dalam kelanjutan sejarah umat Islam, umat ini pun mengenal amirul haj (pemimpin haji), qaidul jaisy (komandan pasukan), dan lain-lain kepemimpinan selain khalifah al uzhma. Para Salaf seperti Ibnu Abbas mengartikan Ulil Amri dalam An Nisa ayat 59 adalah Ahlul Fiqh wad Din (Ahli fiqih dan agama). Sedangkan Atha, Mujahid, Hasan Al Bashri, Abul Aliyah mengatakan, maksudnya adalah ulama. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 2/345. Darut Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi)

Imam Nashiruddin Abul Khair Abdullah bin Umar bin Muhammad, biasa dikenal Imam Al Baidhawi, berkata dalam tafsirnya, ketika mengomentari surat An Nisa, ayat 59 (Athiullaha wa athiur rasul wa ulil amri minkum), bahwa yang dimaksud dengan pemimpin di sini adalah para pemimpin kaum muslimin sejak zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sesudahnya, seperti para khalifah, hakim, panglima perang, di mana manusia diperintah untuk mentaati mereka setelah diperintah untuk berbuat adil, wajib mentaati mereka selama mereka di atas kebenaran (maa daamuu alal haqqi). (Anwarut Tanzil wa Asrarut Tawil, 1/466)

Maka, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup saja, beliau membenarkan adanya pemimpin kecil (imamah ash sughra) di bawahnya, dan beliau tidak menganggap pemimpinpemimpin itu sebagai pembangkangan, maka apalagi saat ini ketika khilafah tidak ada. Justru Rasulullah memerintahkan mentaati pemimpin tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Barang siapa yang mentaatiku maka dia telah mentaati Allah, barang siapa yang membangkang kepadaku maka dia telah membangkang kepada Allah. Dan barang siapa yang mentaati pemimpinku (yakni pemimpin yang Rasul tunjuk) maka dia telah mentaatiku, dan barang siapa yang membangkang kepada pemimpinku maka dia telah membangkang kepadaku. (HR. Bukhari No. 7137 dan Muslim No.1835)

Fatwa-Fatwa Ulama
Fatwa Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah tentang hukum berafiliasi dengan jamaah tertentu saja. Beliau menjawab: Yang menjadi kewajiban setiap orang adalah mengikuti kebenaran, yaitu apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya saw. Janganlah seseorang mengikuti manhaj jamaah apapun; tidak Ikhwanul Muslimin, Ansharus Sunnah, dan tidak pula selain mereka. Akan tetapi, dia harus mengikuti kebenaran. Apabila dia berafiliasi kepada Ansharus Sunnah dan membantu mereka dalam kebenaran atau kepada Ikhwanul Muslimin dan sepakat dengan kebenaran mereka tanpa bersikap ekstrim, maka ini tidak mengapa. Adapun jika mengikuti pendapat mereka yang benar maupun salah, maka in tidak boleh. Hendaklah dia beredar bersama kebenaran di mana pun berada. Apabila kebenaran ada bersama Ikhwnaul Muslimin, dia harus mengambilnya. Apabila kebenaran ada bersama Ansharus Sunnah atau selain mereka, dia pun juga harus mengambilnya. Hendaklah dia beredar bersama kebenaran. Dia Bantu jamaah-jamaah lain dlam kebenaran. Tidak boleh mengikuti manhaj tertentu tanpa boleh menyangkal keskipun batil atau salah karena ini adalah kemungkaran. Ini tidak boleh. Akan tetapi, hendaklah dia menyertai jamaah dalam setiap kebenaran dan tidak menyertai mereka dalam kesalahan-kesalahan mereka.
Diterjemahkan dari : http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=95

:Teks Asli

: : .

Fatwa Syaikh Ibnu Baz tentangberafiliasi denagn jamaah spesifik (fatwa sangat panjang diambil bagian pentingnya saja). Beliau berkata:
Alhasil yang dipegang adalah istiqamah mereka di atas Al Haq, jika ditemukan manusia atau jamaah yang mengajak kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu Alaihi wa Sallam , mengajak mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan mengikuti syariatNya maka MEREKA SEMUA ITULAH AL-JAMAAH, DAN MEREKA TERMASUK FIRQAH NAJIYYAH. Adapun mereka yang menyeru kepada selain kitabullah, atau kepada selain Sunnah Ar Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam maka mereka itu bukan termasuk Al-Jamaah, bahkan termasuk firqah yang sesat dan binasa, karena firqah an-najiyyah (yang selamat) adalah penyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, sekalipun mereka adalah Jamaah disini atau Jamaah disana, sepanjang tujuan & aqidah mereka satu. MAKA TIDAK MASALAH BAHWA YANG INI BERNAMA ANSHARUS-SUNNAH, DAN YANG INI BERNAMA AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN, dan yang itu bernama anu, yang penting aqidah dan amal mereka, jika mereka istiqamah atas Al Haq dan atas Tauhidullah dan Ikhlas kepadaNya dan mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perkataan, perbuatan dan aqidah maka NAMA APAPUN TIDAK MENJADI MASALAH. Tetapi wajib bagi mereka bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dan benar dalam ketaqwaannya, ADAPUN SEKALI LAGI BAHWA SEBAGIAN MEREKA DISEBUT ANSHARUSSUNNAH DAN SEBAGIAN LAGI DINAMAKAN AS-SALAFIYYUN ATAU DINAMAKAN AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN atau disebut dengan nama Jamaah anu, tidak masalah jika mereka benar, istiqamah atas Al-Haq, mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dan berhukum kepada keduanya dan istiqamah atas keduanya aqidah, perkataan dan perbuatan, dan jika Jamaah tsb salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ilmi untuk memperingatkan dan menasihatinya kepada Al-Haq jika dalilnya sudah jelas.

:Teks Asli : : : : : : : : Sumber; Al-Ikhwan.net

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah No. 6280 Semua Jamaah adalah BAIK selama berada di atas kebenaran Pertanyaan: Ada sekian jamaah pada saat ini, seperti Jamaah Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Jamaah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyyah, Al-Jumiyyah Asy-Syariyyah, Salafi, dan mereka yang disebut At-Takfir wal Hijrah. Semua jamaah ini dan jamaah lainnya terdapat di Mesir. Yang saya tanyakan, Bagaimana sikap seorang muslim terhadap jamaah-jamaah tersebut? Pantaskah jika kita terapkan kepada mereka hadits Hudzaifah radhiallahuanhu, Jauhilah semua kelompok itu meskipun engkau harus menggigit akar pepohonan hingga meninggal dunia sedangkan dirimu tetap dalam keadaan seperti itu. (HR. Imam Muslim dalam Shahihnya)?

Jawaban: Semua kelompok tersebut memiliki kebenaran dan kebatilan serta salah

dan benar. Sebagian mereka lebih dekat kepada kebenaran, lebih banyak kebaikannya, dan lebih banyak memberikan manfaat kepada umat daripada kelompok lainnya. Hendaknya engkau saling membantu bersama setiap kelompok dalam kebenaran yang ada pada mereka. Nasihatilah mereka dalam perkara yang engkau lihat salah. Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukanmu. Billahit taufiq. Semoga Allaah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad saw, keluarganya, dan para sahabatnya.
Diterjemahkan dari : http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=77

:Teks Asli ( 0826) ( ) .... : . / / /

Fatwa Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah Tidak terlarang keberadaan jamaah-jamaah dakwah yang mengajak ke kitabullh dan as sunnah Pertanyaan: Apakah berdirinya jamaah-jamaah Islam di negeri-negeri Islam untuk mentarbiyah para pemuda terhadap Islam dapat dianggap sebagai fenomena positif pad zaman ini?

Jawaban: Keberadaan jamaah-jamaah Islam itu membawa kebaikan bagikaum Muslimin. Akan tetapi, hendaknya jamaah-jamaah tersebut bersungguh-sungguh dalam menjelaskan kebenaran beserta dalilnya dan jangan sampai membuat orang lari dari jamaah lainnya. Demikian pula, hendaknya mereka saling tolong-menolong antara jamaah satu dengan jamaah lainnya, saling mencintai saudara-saudaranya dari jamaah lain, memberikan nasihat kepada mereka, menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka, dan meninggalkan perkara-perkara yang dapat merusak hubungan antara satu jamaah dengan jamaah lain. Tidak ada larangan atas keberadaan jamaah-jamaah apabila mereka mengajak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Diterjemahkan dari : http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=98

:Teks Asli
: :

Fatwa Lajnah Daimah No. 7122; Semua Jamaah Adalah Firqah Najiyah kecuali yang kufur. Pertanyaan: Pada zaman ini terdapat banyak jamaah. Semua mengklaim berafiliasi di bawah al-firqah an-najiyyah. Kami tidak mengetahui manakah jamaah yang berada di atas al-haq. Kami mengharap kepada Anda agar menunjukkan kepada kami; manakah jamaah yang paling utama dan paling baik sehingga kami bias mengikuti kebenaran yang ada pada mereka disertai dengan dalil-dalilnya? Jawaban: Semua jamaah Islam termasuk dalam al-firqatun najiyah, kecuali jika ada di antara mereka melakukan kekufuran yang mengeluarkannya dari dasar keimanan. Akan tetapi, perbedaan kekuatan dan kelemahan derajat mereka tergantung pada kedekatan mereka dengan kebenaran dan penerapannya serta pada kesalahan mereka dalam memahami dalil dan penerapannya. Jamaah yang paling banyak mendapat hidayah adalah jamaah yang paling bisa memahami dalil dan mengamalkannya. Oleh karena itu, kenalilah arah pandangan mereka. Bergabunglah bersama mereka yang paling banyak mengikuti kebenaran. Tetapi, janganlah berbuat semena-mena terhadap saudara sesama muslim yang karenanya Anda menolak kebenaran yang mereka lakukan. Ikutilah kebenaran di mana pun ia berada, sekalipun berasal dari orang yang bertentangan denganmu dalam satu dua masalah. Kebenaran adalah penuntun orang mukmin. Kekuatan dalil dari Kitabullah dan Sunnah merupakan pemisah antar kebenaran dan kebatilan. Billahit taufiq. Diterjemahkan dari : http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=78

:Teks Asli

( 2217 )
.... : .

/
/ / /

Bolehkah Membaiat Pemimpin Organisasi Dakwah?


Sebagian orang membidahkan baiat kepada pemimpin organisasi dakwah, bagi mereka baiat yang sunah hanya kepada khalifah al uzhma, bagi mereka baiat-baiat yang saat ini ada adalah hizbiyah. Sementara yang lain secara ekstrim mengatakan, bahwa amir kelompoknyalah satu-satunya yang mesti dibaiat, kalau tidak, maka yang lain adalah kafir, murtad, dan jika mati matinya jahiliyah. Keduanya tidak benar.

Realita Baiat Pada Masa Salaf


Sebagian kaum muslimin ber-baiat pada Ummul Muminin Aisyah Radhiallahu Anha dan berperang bersamanya melawan Khalifah Ali Radhiallahu Anhu. (HR Al-Hakim, Al-Mustadrak ala Shahihain, III/119), padahal jelasjelas Aisyah bukan khalifah bagi umat Islam. Kaum muslimin mem-baiat para tokoh selain Khalifah, seperti yang dilakukan oleh qabilah Nakhai terhadap AlAsytar, menjelang perang Shiffin. (HR Ibnu Abi Syaibah & Al-Hakim, dari Umar bin Said An-Nakhai( Sebagian kaum muslimin juga mem-baiat Al Hasan bin Ali Radhiallahu Anhu di masa pemerintahan Muawiyyah Radhiallahu Anhu masih berkuasa, dan tidak diingkari oleh para shahabat yang lainnya. (Al Mustadrak, 1/265)

Sebagian kaum muslimin juga mem-baiat Yazid bin Muawiyah, sementara sebagiannya mem-baiah Al-Husein bin Ali Radhiallahu Anhu, sebagaimana dalam Shahih Bukhari. Nah, secara fiqih tak satu pun ulama pada masa itu (masa sahabat dan tabiin) yang mengingkari mereka. Ini menunjukkan kelirunya pihak yang membidahkan baiat kepada selain khalifah, sebab ini bukan barang baru yang tidak dikenal pada masa salaf, dan mereka pun tidak mencegahnya bahkan justru menjadi pelakunya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:


. . .
Demikian juga dalam syarat-syarat jual beli, hibah, wakaf, nadzar, baiat kepada para imam, akad kepada para masyayikh (para tokoh agama), perjanjian persaudaraan, akad anggota keluarga, suku atau kabilah serta perkara-perkara yang lain, semua itu wajib dalam kerangka mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal, serta menjauhi kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk mendurhakai Khaliq. Dan wajib mencintai Allah dan RasulNya lebih dicintainya di atas segalanya. Dan tidak ada ketaatan kecuali bagi siapa saja yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Wallahu Alam (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu Al Fatawa, 35/98)

Ada pun tidak berbaiat kepada khalifah al uzhma Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah Anhu berkata pada Saad bin Abi Waqqash Radhiallahu Anhu: Berbaiatlah Engkau! Saad menjawab: Aku tidak akan berbaiat sebelum orang-orang semua berbaiat. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku. Mendengar itu Ali berkata: Biarkanlah dia. Lalu Ali menemui Ibnu Umar dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma: Aku tidak akan berbaiat sebelum orang-orang semua berbaiat. Jawab Ali: Berilah aku jaminan. Jawab Ibnu Umar : Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan. Lalu Al Asytar berkata: Biar kupenggal lehernya! Jawab Ali : Akulah jaminannya, biarkan dia. (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa An Nihal, 4/103) Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan baiat pada Khalifah Ali Radhiallahu Anhu yaitu: Saad bin Abi Waqqash, AbdullaH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa dan Usamah bin Zaid Radhiallahu Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)

Para sahabat ini, tidak ada satu pun manusia yang mengatakan mereka sebagai pemberontak, tidak pula dikatakan khawarij, apalagi kafir, walau mereka menolak berbaiat kepada khalifah. Kenyataan Ini menunjukkan kesalahan pihak atau kelompok yang mengkafirkan kaum muslimin yang tidak berbaiat kepada amir kelompok mereka. (selesai bagian pendahuluan ..)

Mengenal Salafi
Secara historis, dakwah kelompok salafi merupakan lanjutan dari dakwah Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Muhammad bin Abdil Wahhab. Pada titik ini, bukan hanya salafi, tetapi juga Ikhwanul Muslimin, Al Irsyad, Persis, dan Muhammadiyah. Yang membedakan adalah kadar kepekatan pengaruh pada masing-masing organisasi, dan keterbukaan pada dunia luar, antara yang sangat ekslusif sampai yang sangat longgar.

Salafi dalam arti sebuah entitas gerakan, tidak memiliki pemimpin organisasi dan tanzhim, kecuali kaum salafi di Mesir membentuk Jamaah Anshar As Sunnah Muhammadiyah yang didirikan oleh Syaikh Abdul Hamid Al Faqi. Tetapi gerakan salafi dalam wujud sekelompok manusia memang ada berikut pula tokoh-tokohnya, sehingga mereka disebut kelompok salafiyah. Hal ini sama dengan kelompokkelompok masa lalu seperti khawarij, mutazilah, dll, mereka tidak ada pemimpin atau tanzhim, tapi memiliki tokoh, yang punya corak pemikiran dan sikap yang dianut oleh sekelompok orang. Walau tanpa pimpinan dan tanzhim, khawarij, mutazilah, qadariyah dan jabbariyah, tetaplah secara de facto disebut sebagai sebuah firqah. Oleh karena itu, pengingkaran kelompok salafi bahwa dirinya adalah jamaah atau kelompok (firqah), adalah pengingkaran yang tidak berdasar.

Tokoh-Tokoh
1.

2.

3.
4.

Umumnya para ulama besar di Saudi Arabia. Seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Al Luhaidan, Syaikh Ghudyan, Syaikh Abdul Aziz Alu Asy Syaikh, Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Syaikh bakr Abu Zaid, Syaikh Ibnu Jibrin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, Syaikh Rabi bin Hadi, Syaikh Muhammd bin Hadi, Syaikh Zaid bin Hadi, dll. Ulama Jordania, seperti Syaikh Al Albani, Syaikh Salim Id Al Hilali, Syaikh Ali Hasan, dll Ulama Kuwait, seperti Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini, dll Yaman seperti Syaikh Muqbil bin Hadi, Syaikh Yahya Al Hajuri, Syaikh Ubaid Al Jabiri, dll

Untuk Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan, dan para ulama di Lajnah Daimah, tidak lagi secara sempit disebut milik kelompok salafi, tetapi mereka telah menjadi milik umat. Hal ini sama dengan Syaikh Al Qaradhawi, Syaikh Al Ghazali, Syaikh Asy Syarawi, Syaikh Manna Khalil Al Qattan, dll, tidak lagi sebagai ulama dari IM tapi milik dunia.

Para ulama ini sebenarnya tidak mau dikotak-kotakan, tetapi terlanjur manusia menyebut mereka sebagai mashdarul ilmi bagi kelompok salafi. Sebab, mereka sendiri kadang mengkritik kelompok salafi, dan justru memberikan pembelaan terhadap kelompok yang diserang salafi. Saat ini, yang menjadi rujukan kelompok salafi adalah Syaikh Rabi bin Hadi, yang oleh pengikutnya disebut sebagai Imam Jarh wa Tadil, tapi tidak diakui para ulama. Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Ghudyan mengatakan saat ini tidak ada ulama Jarh wa Tadil, termasuk Syaikh Rabi. Dan, yang menjadi mainstrem salafi saat ini adalah pemikiran keras Syaikh Rabi dan Syaikh Muqbil, termasuk fenomena umumnya di Indonesia.

Masuknya di Indonesia
Secara pemikiran, salafi sudah ada sejak lama, yakni dibawa oleh Imam Bonjol di sumbar. Lalu, awal abad 20 ada Muhammadiyah, Al Irsyad, dan Persis. Hanya saja saat itu, mereka di sebut Wahabi oleh kalangan tradisionalis. Salafi dalam arti sebuah arus baru gerakan Islam, masuk ke Indonesia tahun 80an. Paling senior adalah Abdul Hakim Abdat (dijuluki Syaikhul Maktabahnya LIPIA) dan Yazid Jawas (Seorang TKI yang nuntut ilmu kepada Syaikh Utsaimin), lalu Jafar Umar Thalib awal 90an sepulangnya dari Yaman. Sejak awal dakwahnya, mereka sudah menyerang gerakan Islam lain dan tokohnya. Hal ini bisa kita lihat pada majalah Salafi dan As Sunnah pada edisi tahun 90an.

Sarana Dakwah
Sarana Dakwah kelompok ini tidak jauh beda dengan yang lain, seperti: - Taklim dan tabligh akbar - Bedah buku - Majalah, buletin, buku-buku - Website di internet - Radio (contoh: Roja, Fajri)

Tujuan Dakwah
1.

2.

3. 4.

Memberantas syirk, tahayul, bidah dan khurafat Menghidupkan sunah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Menghilangkan fanatisme kelompok Meniti jejak salafush shalih

Friksi Dalam Salafi


Secara Global Salafi ada 2 kelompok: 1. Kelompok yang sama sekali anti dengan gerakan Islam lain. Untuk diluar negeri, tokoh-tokohnya adalah Syaikh Rabi, Syaikh Yahya An Najmi, Syaikh Muqbil, Syaikh Yahya Al Hajuri, Syaikh Ubaid Al Jabiri, dll (mereka pun saat ini juga berpecah saling tuding sebagai ahlul fitnah dsb, yakni Syaikh Yahya Al Hajuri VS Syaikh Ubaid Al Jabiri. Untuk dalam negeri: A. Mereka yang mantan Lasykar Jihad dan sepemikiran (Umar As Sewed, Jafar Shalih, Afifuddin, Luqman Baabduh, Dzulkarnain, Usamah Mahri, Dzul Akmal, Abu Karimah Askari, para asatidz di majalah Asy Syariah, An Nashihah, dll. Belakangan mereka disebut Salafi Yamani, terlepas benar tidaknya istilah ini)
Kelompok pertama ini pun terpecah lagi bahkan dengan perpecahan yang lebih runyam. Sebagaimana perpecahan yang sekarang terjadi di Yaman, khususnya di mahad Dammaj yang didirikan oleh Syaikh Muqbil.

B. Yang kontra Lasykar Jihad (Abdul Hakim, Yazid, Ibnu Saini, Abu Nida, Abu Haidar, Abu Qatadah, Mubarak Bamuallim, Abdurrahman At Tamimi, Abdurrahman Thayyib, Khalid Syamhudi, Abu Ishmah Al Medani, Ahmaz Faiz Asifuddin, para asatidz di radio Rodja; Zainal Abidin, Badrussalam, Mudrik ilyas , Agus Hasan Bashari, dll. Majalahnya adalah As Sunnah, Al Furqan, El Fata, Qiblati, Nikah, dan para asatidz di Al Irsyad As Salafi pecahan dari Al Irsyad Al Islamiyah. Kelompok ini lebih dekat dengan Syaikh Salim Id Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan Al Halabi, kelompok inilah yang sering disebut/dituduh Sururi dan Turatsi oleh kelompok pertama) Nampaknya kelompok kedua lebih berkembang, mereka telah membuat banyak penerbitan; seperti Darul Falah, Pustaka Imam Syafii, Darus Sunnah, Pustaka Azzam, dll. Kedua kelompok ini juga saling berbalas tahzir, baik dalam buku, situs, bahkan kajian, dan ini sudah masyhur. Ada pun Jafar Umar Thalib, dia telah disisihkan oleh semua kelompok salafi setelah dia bergabung dengan majelis dzikir Arifin Ilham.

2. Kelompok Salafi yang mau mengambil pendapat Ulama lain di luar kelompoknya. Bahkan kadang membela para ulama yang diserang oleh kelompok pertama. Di luar mereka adalah Syaikh Aidh Al Qarni, Syaikh Salman Al Audah, Syaikh Safar Al Hawali, Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, dll. Di indonesia mereka adalah: A. Wahdah Islamiyah di Makasar, sekarang sudah menyebar di beberapa propinsi. Mereka mendirikan mahad, kampus, situs, dan lembaga dakwah. Seperti L Data, nya Ridhwan Hamidi, Lc. Pimpinan saat ini adalah Muhammad Zaitun razmin, Lc. MA. Kelompok ini kerap juga membela Syaikh Hasan Al Banna dan Syaikh Sayyid Quthb. Mereka pun memiliki mentoring (liqo) dalam pembinaan kader-kadernya

B.

HASMI (Harakah Suniyah Masyarakat Islam) di Cimanglit, Bogor. Dakwahnya dengan mendirikan mahad, talim, majalah, dan radio; Fajri FM. Mereka pun masih menggunakan Syaikh Sayyid Quthb dengan Azh Zhilalnya.
Salafi Jihadi, seperti MMI dan Ansharut Tauhid-nya Abu Bakar Baasyir. Secara pemikiran dan gerakan merupakan perpaduan antara salafi dan IM. Hanya saja mereka anti demokrasi, sebagaimana semua kelompok salafi lainnya. Tokohnya: seperti Abu Jibril, Aman Abdurrahman (mantan As Sofwa), Halawi Makmun, Fauzan Anshari, dan Irfan Awwas.

C.

Semua kelompok salafi ini saling serang, namun untuk Wahdah Islamiyah, HASMI, dan Salafi Jihadi, mereka cenderung akur dan kompak.
Perselisihan yang tidak jelas ujung pangkalnya paling sering dilakukan oleh kelompok mantan lasykar jihad dan yang kontra lasykar jihad.

Kritikan Ulama Untuk Salafi


Kritikan ini tentu tidak untuk semua kelompok salafi, melainkan untuk kelompok yang ekstrim, merasa paling ahlus sunah, dan suka mencela gerakan lain dan ulamanya.

Kritikan ini pun datangnya dari para masyaikh salafi sendiri seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Abdullah Muthlaq, Syaikh Shalih Fauzan, dll

Syaikh Utsaimin
Beliau berkata:

( ) ()

Tidak ragu lagi, bahwa wajib bagi seluruh kaum muslimin menjadikan mazhab mereka adalah madzhab salaf, bukan terikat dengan kelompok tertentu yang dinamakan Salafiyyin. Wajib bagi umat Islam menjadikan madzhab mereka adalah madzhab salafus shalih, bukan berkelompok kepada siapa-siapa yang dinamakan Salafiyyun. Maka, di sana ada jalan salaf, dan ada juga hizb (kelompok) yang dinamakan Salafiyun, dan yang dituntut adalah mengikuti salaf. (Syaikh Muhammad bin Shalih Utsamin, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 263. Mawqi Ruh Al Islam)

Syaikh Shalih fauzan


Ada orang yang mengklaim bahwa dirinya di atas madzhab salaf, tetapi mereka menyelisihinya, mereka melampaui batas (ghuluw) dan menambah-nambahkan, dan keluar dari metode As Salaf. Di antara mereka juga ada yang mengaku bahwa dirinya di atas madzhab salaf, tetapi mereka menggampangkan dan meremehkan, hanya cukup menyandarkan diri (intisab).

Orang yang di atas manhaj salaf itu adalah lurus dan pertengahan antara melampaui batas (ifrath) dan meremehkan (tafrith), demikianlah thariqah salaf, tidak melampaui batas atau meremehkan. Untuk itulah Allah Taala berfirman: dan prang-orang yang mengikuti mereka dengan baik .

Maka, jika engkau hendak mengikuti jejak salaf, maka engkau harus mengenal jalan (thariqah) mereka, tidak mungkin mengikuti mereka kecuali jika engkau telah mengenal jalan mereka, dan itqan dengan manhaj mereka lantaran engkau berjalan di atasnya. Adapun bersama orang bodoh, engkau tidak mungkin berjalan di atas thariqah mereka (salaf), dan engkau tidak mengetahuinya dan tidak mengenalnya, atau menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak pernah mereka katakan atau yakini. Engkau berkata: Ini madzhab salaf, sebagaimana yang dihasilkan oleh sebagian orang bodoh saat ini, orangorang yang menamakan diri mereka dengan salafiyyin, kemudian mereka menyelisihi kaum salaf, mereka amat keras, mudah mengkafirkan, memfasiq-kan, dan membidahkan.

Kaum salaf, mereka tidaklah membidahkan, mengkafirkan, dan memfasiq-kan kecuali dengan dalil dan bukti, bukan dengan hawa nafsu dan kebodohan. Sesungguhnya engkau menggariskan sebuah ketetapan: Barangsiapa yang menyelisihinya, maka dia adalah mubtadi (pelaku bidah) dan sesat, Tidak yaa akhi, ini bukanlah manhaj salaf.
Manhaj salaf adalah ilmu dan amal, ilmu adalah yang pertama, kemudian beramal di atas petunjuk. Jika engkau ingin menjadi salafi sejati (salafiyan haqqan), maka wajib bagimu mengkaji madzhab salaf secara itqan (benar, profesional), mengenal dengan bashirah (mata hati), kemudian mengamalkannya dengan tanpa melampau batas dan tanpa meremehkan. Inilah manhaj salaf yang benar, adapun mengklaim dan sekedar menyandarkan dengan tanpa kebenaran, maka itu merusak dan tidak bermanfaat. Demikian perkataan Syaikh Shalih Fauzan. (Syaikh Mutab bin Suryan Al Ashimi, Kasyful Haqaiq Al Khafiyah Inda Mudai As Salafiyyah, Hal. 15-16. Dar Ath Tharafain)

:Teks Asli . : ... .. : () . : .

Syaikh Shalih Fauzan ditanya tentang hukum menggunapan embel-embel As Salafi dan Al Atsari di belakang nama. Syaikh Shalih Fauzan menjawab: Yang dituntut adalah agar manusia mengikuti kebenaran, dituntut mencari kebenaran, dan beramal dengannya. Adapun, bahwa ada yang mengaku bahwa dirinya salafy atau atsary atau apa saja yang seperti itu, maka janganlah mengklaim seperti itu. Allah Subahanahu wa Taala yang Mengetahui, telah berfirman: Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?"(QS.AlHujurat: 16) Menggunakan nama salafy atau atsary, atau yang serupa dengannya, hal ini tidak ada dasarnya (dalam syariat, pent). Kita melihat pada esensinya, tidak melihat pada perkataan, penamaan, atau klaim semata, ia berkata bahwa dirinya salafy padahal ia bukan salafy, atau atsary padahal ia bukan atsary. Namun, ada orang yang sebenarnya salafy dan atsary walau tanpa mengaku dirinya adalah salafy atau atsary.

Kita melihat pada hakikatnya, bukan pada penamaan, atau klaim semata, dan hendaknya seorang muslim komitmen terhadap adab bersama Allah Subhanahu wa Taala. Ketika orang Badui berkata: Kami telah beriman, Allah mengingkari mereka (Berkatalah orang-orang Badui Kami telah beriman, katakanlah (wahai Muhammad): Kalian belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah berserah diri-Islam.) Jadi, Allah mengingkari penamaan mereka.dan penyifatan diri mereka dengan iman, dan mereka belum sampai pada martabat itu. Orang-orang Badui itu datang dari pedalaman dan mereka mendakwakan bahwa mereka sudah beriman sejak lama, tidak. Mereka telah berserah diri dan masuk Islam, dan jika mereka terus-menerus seperti itu dan mereka mempelajarinya, maka iman masuk ke dalam hati mereka. (Dan iman belum (lamma) masuk ke dalam hati mereka), kata lamma (belum) digunakan untuk sesuatu yang belum terjadi, artinya iman itu akan masuk, tetapi sejak awal kalian sudah mengklaim. Inilah bentuk pensucian diri (maksudnya menganggap diri bersih dan lebih dari yang lain, pent) Maka, engkau tidak perlu berkata Saya salafy, Saya atsary, saya begini begitu. Wajib bagimu mencari kebenaran dan beramal dengannya dan meluruskan niat. Allah Subhanahu wa Taala Maha Mengetahui keadaan sebenarnya dari hamba-hambaNya. (Ibid)

:Teks Asli " ( ) ( ) . ( ) . : . ) ) . : " " - "

Syaikh Abdullah Al Muthlaq

"Wahai saudara-saudaraku tercinta! Mereka yang mempersempit makna salafiyyah, gemar mengeluarkan tuduhan, tidak mau menerima taubat, tidak mau berdiskusi, dan tidak mau menyebarkan kebaikan; mereka itu membahayakan salafiyyah lebih banyak daripada kebaikan mereka kepada salafiyyah. Apabila engkau perhatikan para ulama yang ada di Saudi; ada berapa banyak mereka? Mereka hanya menghendaki tida atau empat ulama saja; sedangkan sisanya?! Tidak termasuk (pengikut) salaf? Ini musibah besar, wahai saudara-saudaraku! Apabila engkau perhatikan para ulama yang ada di Dunia Islam pada saat ini, maka engkau dapati para ulama itu menurut mereka telah menyimpang. Apabila engkau perhatikan para ulama uamt yang berkhidmat demi agama ini, seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnu Qudamah pengarang kitab Al-Mughni dan kitab-kitab bermanfaat lainnya, Ibnu Aqil, dan Ibnul Jauzi; mereka engkau akan dapati para ulama ini menurut mereka memiliki karangan-karangan yang mengeluarkannya dari salafiyyah karena terdapat komentar terhadap para ulama tersebut.

Mereka yang mempersempit makna salafiyyah itu telah berbuat buruk kepada umat, wahai ikhwah fillah! Oleh karena itu, lihatlah Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah, dan mufti yang sekarang ada; bagaimana mereka berinteraksi dengan manusia? Bagaimana baiknya akhlak mereka? Bagaimana mereka menghadapi para penuntut ilmu? Bagaimana mereka menghormati ulama? Akan tetapi, apakah manhaj ini ada pada orang-orang yang mempersempit makna salafiyyah itu? Tidak! Mereka tidak senang, kecuali terhadap jumlah sedikit dan terbatas dari ulama yang dikemukakan oleh sejumlah penuntut ilmu. Mereka sibuk memakan daging ulama di majelis-majelis mereka. Terkadang, perkataan mereka penuh dengan tudingan palsu. Terkadang pula, mereka berdusta atas nama ulama. Tidak ada kata taubat di kamus mereka. Merekapun tidak mau menerima sikap rujuk seseorang. Mereka mempersempit din ini. Mereka gembira apabila menusia keluar darinya, namun mereka tidak bias bergembira menerima udzr manusia. Lihatlah! Ini adalah musibah, wahai saudara-saudaraku. Apabila musibah ini menimpa umat, mungkin salafiyyah hanya terbatas berada pada tempat tertentu di Jazirah Arab ini.

Wahai ikhwah fillah, lihatlah bagaimana sopannya akhlak Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Muhammad Al-Utsaimin! Bagaimana mereka menjadi mufti bagi seluruh pemuda Dunia Islam meskipun negeri mereka berbeda-beda! Ada yang di Eropa, Amerika, Afrika, Jepang, Indonesia, dan Australia. Mereka ridha terhadap kedua Syaikh tersebut. Engkau dapati mereka mau menerima Abdul Aziz bin Bazz, Muhammad AlUtsaimin, Syaikh Fulan, dan Syaikh Fulan. Akan tetapi, apakah mereka ridha terhadap para masyayikh orang-orang yang mempersempit makna salafiyyah tersebut? Bagaimana?! Tidak! Demi Allah, mereka tidak ridha dan tidak mau menerimanya. Sesungguhnya jalan yang ditempuh oleh mereka itu (para pemuda yang gemar menuduh dan tidak mau berdiskusi)semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka mempersempit makna salafiyyah dan menyebabkan orang lari menjauh darinya. Jalan yang mereka tempuh itu menjadikan salafiyyah sebagai arti sempit lagi terbatas yang kebanyakan perbuatannya adalah mengkafirkan dan memfasikkan manusia, mengumpulkan kesalahan-kesalahan mereka, merusak citra mereka, dan mencemarkan nama baik mereka." Diterjemahkan dari : http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=32

:Teks Asli

Dan masih banyak lagi kritik para ulama terhadap salafi, diantaranya: Syaikh Bakr Abu Zaid yang telah menulis buku tentang hukum mentashnif (menggolongkan) manusia, begitu pula fatwa Syaikh Shalih Fauzan tentang hukum menggolongkan manusia, sebagai reaksi dari kebiasaan kelompok salafi yang membagi-bagi manusia menjadi: sururi, turatsi, hadadi, dll

Buku dan Tulisan Yang Mengkritik Salafi


-

Mudzakarah Al Watsa-iq Al Jaliyyah Allati Yataaamaa Anhaa Adiyaa As Salafiyah (Kumpulan Dokumen Penting Yang Para Pengklaim Salafiyah Tidak Mau tahu). Disusun oleh Para Thulabul Ilmi yang berisi pembelaan para ulama Saudi terhadap Aidh Al Qarni, Salman Audah, Safar Hawali, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, dll. (setebal 235 Hal) Ar Rad Ala Adiyaa As Salafiyah (Bantahan Untuk Para Pengklaim Salafiyah). Disusun oleh Syaikh Abdul Aziz bin Manshur Al Kinani (Setebal 239 Hal)

Ihda wa sittuuna ashlan faasidan lifirqati murjiah al khuluf :ar rabiiyun. (61 prinsip rusak firqah murjiah yang busuk: para pengikut rabi). Disusun oleh Syaikh Abu Utsman As Salafi
Kasyful Haqaiq Al Khafiyah Inda MudaI As Salafiyah (Menyinkap Hakikat Tersembunyi pada Para Pengklaim Salafiyah). Disusun oleh Syaikh Mutab bin Suryan Al Ashimi. Dar Tharafain - Fadhihah ilmiyah Lid Duktur Rabi (skandal ilmiyah Dr. Rabi) Dan masih banyak lagi .

Wa akhiru dawana an alhamdulillahi rabbil alamin