Anda di halaman 1dari 23

REFERAT KEKERASAN TAJAM

Dosen Penguji:
dr.Gatot Suharto, Sp.F,SH,MKes

Dosen Pembimbing:
dr.Ainur Rofiq,MHKes

Disusun Oleh:
Hendrawan Budi Raharja (05-091) Rhendy Irono (05-072) Selo Pramita Singkali (07-043) Wyckmell Octof (07-052) Stella Junette Wattimury (08-082) Sarita Sharchis (08-086) Ronny Parlindungan Sinaga (08-091)

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK PERIODE 11 JUNI 2012-07 JULI 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO LEMBAR PENGESAHAN

Judul referat Disusun Oleh

: Kekerasan Tajam
: Hendrawan Budi Raharja (05-091)

Rhendy Irono (05-072) Selo Pramita Singkali (07-043) Wyckmell Octof (07-052) Stella Junette Wattimury (08-082) Sarita Sharchis (08-086) Ronny Parlindungan Sinaga (08-091) Program : Strata Satu (S1) Jurusan : Kedokteran Semarang, 21 Juni 2012 Menyetujui, Pembimbing , Penguji,

dr.Ainur Rofiq,MHKes

dr.Gatot Suharto, Sp.F,SH,MKes

KATA PENGANTAR
Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga referat dengan judul Kekerasan Tajam ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Bidang Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang Periode 11 Juni 2012 sampai 7 Juli 2012. Di samping itu, referat ini ditujukan untuk menambah pengetahuan bagi kita semua tentang kekerasan tajam. Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kerja sama yang telah diberikan selama penyusunan makalah ini, kepada: 1. dr.Gatot Suharto,Sp.F,SH,Mkes selaku dosen pembimbing referat ini 2. dr.Ainur Rofiq,MHKes selaku pembimbing yang telah memberikan saran dan koreksi dalam penyusunan referat ini 3. Teman-teman dokter muda dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini Penulis menyadari masih banyak kekurangan, maka penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, supaya referat ini dapat menjadi lebih baik, dan berguna bagi semua yang membacanya. Penulis mohon maaf yang sebesarbesarnya apabila masih banyak kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini.

Semarang, Juni 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Dalam menyelesaikan suatu perkara terutama suatu tindak pidana, tidak jarang penyidik membutuhkan bantuan para ahli dalam bidang pengetahuan masing-masing. Bilamana bantuan ini berhubungan dengan bidang kedokteran, maka sudah selayaknya bahwa yang diminta bantuan adalah seorang dokter. Salah satu peranan dokter di lapangan adalah ikut menegakkan dan membela kebenaran serta keadilan yang diwujudkan dalam bentuk visum et repertum. Tidak jarang dokter dihadapkan untuk ikut memeriksa korban yang menderita luka atas permintaan penyidik. Suatu luka dapat didefinisikan sebagai rusaknya jaringan tubuh yang disebabkan oleh suatu trauma. Ada bermacam-macam penyebab luka, yaitu yang disebabkan oleh tembakan, aliran listrik, persentuhan dengan benda tumpul, benda tajam, bahan kimia, dan sebagainya. Tindakan kriminal yang disertai dengan senjata tajam sering terjadi, hal ini sering berkaitan dengan mudahnya memperoleh senjata tajam dimana-mana, karena senjata tajam ini banyak kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.Cara kematian luka akibat benda tajam dapat terjadi karena pembunuhan, bunuh diri dan kecelakaan sebagai contoh adalah: 1. Kasus mayat terpotong yang sering terjadi akhir-akhir ini. 2. Perampokan di rumah tangga, nasabah bank yang disertai pembunuhan dengan senjata tajam 3. Bunuh diri dengan menggorok lehernya dengan senjata tajam 4. Bayi baru lahir dibunuh dengan diiris-iris, dipotong-potong oleh ibunya sendiri

I.2 Rumusan Masalah I.2.1 Apakah yang dimaksud dengan kekerasan tajam? I.2.2 Apakah kekerasan tajam dapat membedakan antara luka akibat luka tusuk dan luka akibat diiris-iris? I.2.3 Apakah dari identifikasi luka akibat tusuk, bisa mengetahui senjata yang digunakan untuk menusuk korban?

I.2.4 Apakah dari identifikasi luka akibat diiris-iris, bisa mengetahui senjata yang digunakan untuk mengiris-ngiris korban? I.2.5 Bagaimana kita membedakan luka tajam karena luka akibat bacokan dengan luka tusuk? I.2.6 Apakah dari identifikasi luka kita bisa mengetahui senjata dari luka bacok tersebut? I.3 Tujuan I.3.1 Tujuan Umum: 1. Untuk memahami dan mengerti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan tajam dimana tindakan kriminal tersebut sangat sering terjadi di masyarakat I.3.2 Tujuan Khusu: 1. Menngetahui dan memahami pengertian dari kekerasan tajam, dapat membedakan luka tajam akibat bacok, diiris-iris dan ditusuk serta jenis alat yang digunakan 2. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi para mahasiswa kedokteran maupun masyarakat lainnya 3. Sebagai bahan pembuatan referat periode berikut dengan tema judul yang sama 4. Sebagai persyaratan mengikuti ujian stase forensik dan medikolegal di Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang I.4 Manfaat Penulisan referat ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menjalani stase forensik dan medikolegal mengenai kekerasan tajam yang meliputi: pengertian dan identifikasi kekerasan tajam, bagaimana identifikasi kekerasan tajam, bagaimana membedakan kekerasan tajam akibat luka tusuk, luka bacok atau luka diiris-iris

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Sejarah dan perkembangan Ilmu Forensik tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan perkembangan hukum acara pidana. Sebagaimana diketahui bahwa kejahatan yang terjadi di muka bumi ini sama usia tuanya dengan sejarah manusianya itu sendiri. Luka merupakan salah satu kasus tersering dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Luka bisa terjadi pada korban hidup maupun korban mati. Secara medis luka dipandang sebagai suatu kerusakan jaringan akibat dari trauma, sedangkan secara hokum luka merupakan bukti suatu keadaan yang dapata disebabkan oleh suatu tindak pidanan baik yang bersifat intensional (sengaja), recklessness (ceroboh) atau negligence (kurang hati hati). Untuk menentukan berat ringannya hukuman terhadap pelaku tindak pidana perlu ditentukan terlebih dahulu berat ringannya derajat luka, oleh sebab itu diperlukan keterangan dokter untuk membuat luka tersebut berbicara secara hokum dalam bentuk alat bukti yang sah yang dikenal dengan nama visum et repertum. Agar menjadi alat bukti yang sah dimata hokum maka harus memenuhi syarat formal dan material. Syarat material adalah bahwa isi yang tertulis dalam visum et repertum harus sesuai dengan keadaan yang sebenernya serta tidak boleh bertentangan dengan teori kedokteran yang sudah teruji kebenarannya. Syarat formal adalah prosedur untuk mendapatkan barang bukti tersebut tidak boleh melanggar kaidah hokum yang berlaku. Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam. Luka merupakan kerusakan atau hilangnya hubungan antara jaringan (discontinuous tissue) seperti jaringan kulit, jaringan lunak, jaringan oto, jaringan pembuluh darah, jaringan saraf dan tulang. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal luka kelalaian atau karena yang disengaja. Luka yang terjadi ini disebut Kejahatan Terhadap Tubuh atau Misdrijven Tegen Het Lijf. Kejahatan terhadap jiwa ini diperinci menjadi dua yaitu kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan sengaja) dan kejahatan culpose (yang dilakukan karena kelalaian atau kejahatan). Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam BAB XX, pasal-pasal 351-358. Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian diatur dalam pasal 359,360 dan 361 KUHP. Dalam pasal-pasal tersebut

dijumpai kata-kata, mati, menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan pekerjaan sementara, yang tidak disebabkan secara langsung oleh terdakwa, akan tetapi karena salahnya diartikan sebagai kurang hati-hati, lalai, lupa dan amat kurang perhatian. Sebagai seorang dokter, hendaknya dapat membantu pihak penegak hukum dalam melakukan pemeriksaan terhadap pasien atau korban korban perlukaan. Dokter sebaiknya dapat menyelesaikan permasalahan mengenai jenis luka apa yang ditemui, jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka dan bagaimana kualifikasi dari luka itu. Sebagai seorang dokter, ia tidak mengenal istilah penganiayaan. Jadi istilah penganiayaan tidak boleh dimunculkan dalam Visum et Repertum. Akan tetapi sebaiknya dokter tidak boleh mengabaikan luka sekecil apapun. Sebagai misalnya luka lecet yang satu-dua hari akan sembuh sendiri secara sempurna dan tidak mempunyai arti medis, tetapi sebaliknya dari kaca mata hukum. Pada pasal 133 ayat (1) KUHAP dan pasal 179 ayat (1) KUHAP dijelaskan bahwa penyidik berwenang meminta keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau bahkan ahli lainnya. Keterangan ahli tersebut adalah Visum et Repertum, dimana didalamnya terdapat penjabaran tentang keadaan korban, baik korban luka, keracunan, ataupun mati. Seorang dokter perlu menguasai pengetahuan tentang mendeskripsikan luka. Visum et Repertum harus dibuat sedemikian rupa, yaitu memenuhi persyaratan formal dan material , sehingga dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah di sidang pengadilan. Dokter sebagai warga Negara bahkan kebanyakan adalah pegawai negeri maka berdasarkan pasal 108 KUHAP mempunyai kewajiban melaporkan kepada yang berwenang bila mengetahui adanya tindak pidana. Dokter yang merupakan bagian dari sumber daya rumah sakit yang harus dilindungi oleh rumah sakit. Pemeriksaan pada korban hidup dalam hal korban tindak pidana penganiayaan atau kelalaian orang lain makan bantuan dokter diperlukan untuk membuktikan ada luka atau tidak, benda penyebab luka, bagaimana cara benda tersebut dapat menimbulkan luka serta bagaimana dampak atau pengaruh luka tersebut. Pengaruh luka pada tubuh dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan disfungsi, dinyatakan sebagai penyakit. Dampak atau pengaruh luka pada tubuh menjadi dasar penentuan berat ringannya luka. Secara hukum hal ini didasarkan atas pengaruhnya terhadap kesehatan jasmani, kesehatan rohani, kelangsungan hidup janin di dalam kandungan, estetika jasmani, pekerjaan

jabatan atau pekerjaan mata pencarian serta fungsi alat indera. Penentuan berat ringannya luka tersebut dicantumkan dalam bagian kesimpulan visum et repertum. Menurut KUHP berat ringannya luka atau kualifikasi luka tersebut adalah sebagai berikut : 1. Luka ringan : Adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencariannya. Hukuman terhadap luka ringan ini tercantum pada pasal 352 ayat 1 KUHP : kecuali yang tersebut pada pasal 353 dan 356 maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidanan denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. 2. Luka sedang : Adalah luka yang menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencariannya untuk sementara waktu. Hukuman dapat dijatuhkan berdasarkan pasal 351 ayat 1 KUHP : penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. 3. Luka berat : Adalah sebagaimana tercantum di dalam pasal 90 KUHP, yaitu : a. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak member harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut. b. Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian c. Kehilangan salah satu panca indera d. Mendapat cacat berat e. Menderita sakit lumpuh f. Terganggunya daya piker selama empat minggu lebih g. Gugur atatu matinya kandungan seorang perempuan Hukuman dapat dijatuhkan berdasarkan dalam KUHP pasal 351 ayat 2 dan ayat 3, pasal 353, pasal 354, pasal 355.

A. Anatomi Lapisan Tubuh : Sebelum membahas lebih dalam mengenai traumatologi dan jenis luka, sebaiknya kita bahas lapisan tubuh dari kulit sampai ke tulang. Secara umum tubuh mempunyai lapisan lapisan tubuh yang mempunyai fungsi untuk melindungi organ organ yang ada di dalamnya. Tiap tiap lokasi mempunya kedalaman lapisan yang berbeda beda tergantung dari organ yang dilindungi organ vital atau tidak. Secara umum tubuh terdiri dari beberapa lapisan yaitu ; 1. Lapisan kulit : kulit merupakan lapisan terluar yang dimiliki tubuh. Dari kepala sampai telapak kaki bagian tubuh terluar dilindungi oleh kulit. Kulit berfungsi untuk mengatur suhu tubuh, membantu ekskresi dari hasil metabolism dan respirasi. Selain itu kulit juga berfungsi untuk melembabkan tubuh melalui kelenjar yang ada di bagian kulit itu sendiri.

2. Lapisan lemak : dibawah dari lapisan kulit terdapat lapisan lemak yang berfungsi untuk penyimpanan energy yang bisa digunakan untuk menghasilkan ATP saat tubuh kita mengalami hipoglicemia ( kadar gula darah di bawah normal). Ketebalan lapisan lemak ini tergantung dari berat badan tubuh dari seseorang. Jika seseorang tersebut mengalami kegemukan maka ketebalan lapisan lemak orang tersebut lebih tebal dari orang yang tidak mengalami kegemukan. Selain itu lapisan lemak juga bisa tipis pada orang orang dengan keadaan gizi buruk.

3. Lapisan jaringan ikat : lapisan ini berada pada bawah lapisan lemak yang berfungsi sebagai pengikat, penyokong, dan penambat berbagai macam jaringan tubuh lain, organ, dan bagian bagian tubuh yang lain.

4. Lapisan otot : lapisan ini berada dibawah jaringan ikat, yang berfungsi untuk melindungi organ yang ada didalamnya, untuk kontraksi/ untuk gerak tubuh yang terdiri dari origo dan insersionya yang melekat pada tulang. 5. Organ : yaitu suatu bagian tubuh yang berada dalam rongga pada tubuh, yang mempunyai fungsi berbeda beda tergantung dari organ tersebut. 6. Tulang : yaitu lapisan terdalam dari tubuh yang berfungsi sebagai penyokong tubuh untuk bisa berdiri dan bergerak pada tulang tulang yang mempunyai persendian.

B. Definisi traumatologi Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas jaringan tubuh yang masih hidup, sedang logos berarti ilmu. Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang trauma atau perlukaan, cedera serta hubungannya

dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), yang kelainannya terjadi pada tubuh karena adanya diskontinuitas jaringan akibat kekerasan yang menimbulkan jejas.

C. Penyebab trauma Kekerasan yang mengenai tubuh seseorang dapat menimbulkan efek pada fisik maupun psikisnya. Efek fisik berupa luka- luka yang kalau di periksa dengan teliti akan dapat di ketahui jenis penyebabnya, yaitu: 1. Benda-benda mekanik 2. Benda-benda fisik 3. Kombinasi benda mekanik dan fisik 4. Zat-zat kimia korosif Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam. 1. Benda-benda mekanik a. Trauma benda tajam Trauma tajam ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Ciri-ciri umum dari luka benda tajam adalh sebagai berikut : 1) Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata dan sudutnya runcing 2) Bila ditautkan akan mejadi rapat (karena benda tersebut hanya memisahkan , tidak menghancurkan jaringan) dan membentuk garis lurus dari sedikit lengkung. 3) Tebing luka rata dan tidak ada jembatan jaringan. 4) Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada memar. Trauma tajam dikenal dalam tiga bentuk pula yaitu luka iris atau luka sayat (vulnus scissum), luka tusuk (vulnus punctum) dan luka bacok (vulnus caesum). 1) Luka sayat (Cuts or incised wound) Luka sayat ialah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relativ ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit sehingga syok traumatic tidak terjadi kecuali ditimbulkan oleh factor factor yang lain seperti perdarahan. Komplikasi fatal dari luka iris yang paling sering terjadi adalah perdarahan sepsis. Luka iris pada kasus bunuh diri paling sering terjadi di kerongkongan dan pergelangan tangan dan lengan bawah sisi fleksor. Seseorang biasanya memegang senjata dengan tangan kanannya dan memulai irisan dari sisi kiri

ke sisi kanan, atau mungkin dia mengiris dari sisi kanan leher ke depan dan ke bawah. Seseorang yang kidal akan mengiris dirinya dengan cara yang sama , pada umumnya memulai irisan dari sisi kanan leher. Ciri luka sayat : a) Pinggir luka rata b) Sudut luka tajam c) Rambut ikut terpotong d) Jembatan jaringan ( - ) e) Biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak sampai tulang

2) Luka tusuk (stab wound) Luka tusuk ialah luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Efek yang terjadi pada luka tusuk tergantung dari lokasinya pada tubuh. Luka dapat terjadi pada dada, abdomen tulang belakang, leher, kepala dan ekstremitas.

Contoh: -Belati, bayonet, keris -Clurit -Kikir -Tanduk kerbau

Ciri luka tusuk (misalnya senjata pisau / bayonet) : Tepi luka rata Dalam luka lebih besar dari panjang luka Sudut luka tajam Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam Sering ada memar / echymosis di sekitarnya 3) Luka bacok (chop wound) Luka bacok ialah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. Contoh : pedang, clurit, kapak, baling-baling kapal.

Ciri luka bacok : Luka biasanya besar Pinggir luka rata Sudut luka tajam

Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang, dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar, aberasi b. Trauma benda tumpul Trauma tumpul ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tumpul. hal ini disebabkan oleh benda-benda yang mempunyai permukaan tumpul, seperti batu, kayu, martil, terkena bola, ditinju, jatuh dari tempat ketinggian, kecelakaan lalu-lintas dan lain-lain sebagainya. Trauma tumpul dapat menyebabkan tiga macam luka yaitu: 1) Luka memar (contusio) Memar merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan jaringan tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit. Kerusakan tersebut disebabkan oleh pecahnya kapiler sehingga darah keluar dan meresap kejaringan di sekitarnya. Mula mula terlihat pembengkakan, berwarna merah kebiruan. Sesudah 4 sampai 5 hari berubah menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari seminggu menjadi kekuningan. Pada orang yang menderita penyakit defisiiensi atau menderita kelainan darah, kerusakan yang terjadi akibat trauma tumpul tersebut akan lebih besar di bandingkan pada orang normal. Oleh sebab itu, besar kecilnya memar tidak dapat di jadikan ukuran untuk menentukan besar kecilnya benda penyebabnya atau kekerasan tidaknya pukulan. Pada wanita atau orang orang yang gemuk juga akan mudah terjadi memar.Dilihat sepintas lalu luka memar terlihat seperti lebam maya, tetapi jika di periksa dengan seksama akan dapat dilihat perbedaan perbedaanya, yaitu: Memar Lokasi Bisa dimana saja Lebam mayat Pada terendah Pembengka:kan Bila di tekan Mikroskopik Positif Warna tetap negatif Memucat / hilang bagian

Reaksi jaringan( Reaksi jaringan ( - ) +)

2) Luka lecet (abrasio) Luka lecet adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri cirinya adalah : o Bentuk luka tak teratur o Batas luka tidak teratur o Tepi luka tidak rata o Kadang kadang di temukan sedikit perdarahan o Permukaannya tertutup oleh krusta ( serum yang telah mongering ) o Warna coklat kemerahan o Pada pemeriksan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih di tutupi epitel dan reaksi jaringan (inflamasi)

Bentuk luka lecet kadangkadang dapat memberi petunjuk tentang benda penyebabnya; seperti misalnnya kuku, ban mobil, tali atau ikat pinggang. Luka lecet juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia, dengan tanda tanda sebagai berikut : o Warna kuning mengkilat o Lokasi biasnya didaerah penonjolan tulang o Pemeriksaan mikroskopik tidak di temukan adanya sisa- sia epitel dan tidak di temukan reaksi jaringan. 3) Luka robek (vulnus laceratum) Luka terbuka / robek adalah luka yang disebabkan karena persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya, yang ciricirinya sebagai berikut : o Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata o Bila ditautkan tidak dapat rapat ( karena sebagaian jaringan hancur ) o Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan o Di sekitar garis batas luka di temukan memar o Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang ( misalnya daerah kepala, muaka atau ekstremitas ). Karena terjadinya luka disebabkan oleh robeknya jaringan maka bentuk dari luka tersebut tidak menggambarkan bentuk dari benda penyebabnya. Jika benda tumpul yang mempunyai permukaan bulat atau persegi dipukulkan pada kepala maka luka robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi.

c. Trauma benda yang mudah pecah (kaca) Kekerasan oleh benda yang mudah pecah ( missal kaca ), dapat mengakibatkan luka luka campuran; yang terdiri atas luka iris, luka tusuk dan luka lecet. Pada daerah luka atau sekitarnya biasanya tertinggal fragmen-fragmen dari benda yang mudah pecah itu. Jika yang menjadi penyebabnya adalah kaca mobil maka luka-luka campuran yang terjadi hanya terdiri atas luka lecet dan luka iris saja, sebab kaca mobil sengaja dirancang sedemikian rupa sehingga kalau peah akan terurai menjadi bagian-bagian kecil.

2. Benda-benda fisik Kekerasan fisik adalah kekerasan yang disebabkan oleh benda-benda fisik, antara lain: a. Benda bersuhu tinggi Kekerasan oleh benda bersuhu tinggi akan dapat menimbulkan luka bakar yang cirinya amat tergantung dari jenis bendanya, ketinggian suhunya serta lamanya kontak dengan kulit. Api, benda padat panas atau membara dapat mengakibatkan luka bakar derajat I, II, III, atau IV. Zat cair panas dapat mengakibatkan luka bakar tingkat I, II, atau III. Gas panas dapat mengakibatkan luka bakar tingkat I, II, III, atau IV. b. Benda bersuhu rendah Kekerasan oleh hawa bersuhu dingin biasanya dialami oleh bagian tubuh yang terbuka; seperti misalnya tangabn, kaki, telinga atau hidung. Mula-mula pada daerah tersebut akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superfisial sehingga terlihat pucat. Selanjutnya akan terjadi paralise dari vasomotor kontrol yang mengakibatkan daerah tersebut menjadi kemerahan. Pada keadaan yang berat dapat terjadi gangren. c. Sengatan listrik Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi panas. Besarnya pengaruh listrik pada jaringan tubuh tersebut tergantung dari besarnya tegangan (voltase), kuatnya arus (amper), besarnya tahanan (keadaan kulit kering atau basah), lamanya kontak serta luasnya daerah terkena kontak. Bentuk luka pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa kerusakan lapisan kulit dengan tepi agak menonjol dan di sekitarnya terdapat daerah pucat,

dikelilingi daerah hyperemis. Sering ditemukan adanya metalisasi. Pada tempat keluarnya arus dari tubuh juga sering ditemukan luka. Nahkan kadang-kadang bagian dari baju atau sepatu yang dilalui oleh arus listrik ketika meninggalkan tubuh juga ikut terbakar. Tegangan arus kurang dari 65 volt biasanya tidak membahayakan, tetapi tegangan antara 65-1000 volt dapat mematikan. Sedangkan kuat arus (amper) yang dapat mematikan adalah 100 mA. Kematian tersebut terjadi akibat fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernafasan atau pusat pernafasan. Sedangkan faktor yang sering mempengaruhi kefatalan adalah kesadaran seseorang akan adanya arus listrik pada benda yang dipegangnya. Bagi orangorang tidak menyadari adanya arus listrik pada benda yang dipegangya biasanya pengaruhnya lebih berat dibanding orang-orang yang pekerjaannya setiap hari berhubungan dengan listrik. d. Petir Petir terjadi karena adanya loncatan arus listrik di awan yang tegangannya dapat mencapai 10 mega volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A ke tanah. Luka-luka karena sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara. Luka akibat panas berupa luka bakar dan luka akibat ledakan udara berupa luka-luka yang mirip dengan luka akibat persentuhan dengan benda tumpul. Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang melumpuhkan susunan saraf pusat, menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat terjadi karena efek ledakan ataun efek dari gas panas yang ditimbulkannya. Pada korban mati sering ditemukan adanya arborescent mark (percabangan pembuluh darah terlihat seperti percabangan pohon), metalisasi benda-benda dari logam yang dipakai. Pakaian korban terbakar atau robek-robek. e. Tekanan (barotrauma) Trauma akibat perubahan tekanan pada medium yang ada di sekitar tubuh manusia dapat menimbulkan kelainan atau gangguan yang sering disebut disbarisme yang terdiri atas 2 macam yaitu: 1) Hiperbarik Sindrom ini disebabkan oleh karena tekanan tinggi, antara lain: Turun dari ketinggian secara mendadak: saat pesawat mendarat atau turun gunung

Berada didalam kedalaman air: pada penyelam bebas, scuba diving (menyelam dengan tangki oksigen), snorkeling (menyelam dengan tube di mulut) penyelam dengan pakaian khusus. Gejala yang dapat ditimbulkan oleh perubahan tekanan tersebut dapat berupa: Barotrauma pulmoner: pneumotoraks, emboli udara atau emfisema interstisial. Barotalgia: rasa nyeri, membrana timpani pecah, perdarahan, vertigo atau dizzines. Barodontalgia: pengumpulan gas yang menyebabkan rasa nyeri atau bahkan meletus. Narkosis Nitrogen: amnesia atau disorientasi 2) Hipobarik Sindroma ini disebabkan oleh perubahan tekanan rendah, antara lain: Naik ke tempat tinggi secara mendadak: saat pesawat mengudara atau saat pesawat meluncur keluar angkasa. Berada di dalam ruang bertekanan rendah: misalnya di dalam

decompression chamber. Gejala yang ditimbulkannya disebabkan oleh pembentukan dan pengumpulan gelembung-gelembung udara di dalam jaringan lunak, rongga-rongga atau organ-organ berongga. Gejala tersebut antara lain: Sendi-sendi terasa kaku disertai nyeri hebat Rongga dada dirasakan tercekik, sesak napas dan batuk yang hebat Gejala pada susunan syaraf tergantung letak emboli dan letak emfisema subkutan Rongga perut terasa kembung Gigi-geligi terasa rasa nyeri (barodontalgia)

3. Kombinasi benda mekanik dan fisik Luka akibat tembakan senjata api pada hakekatnya merupakan luka yang dihasilkan oleh trauma benda mekanik (benda tumbul) dan benda fisik (panas), yaitu anak peluru yang jalannya giroskopik (berputar/mengebor). Mengingat lapisan kulit mempunyai elastisitas yang kurang baik dibandingkan lapisan di bawahnya maka

jaringan yang hancur akibat terjangan anak peluru lebih luas. Akibatnya, bentuk luka tembak masuk terdiri atas lubang, dikelilingi oleh cincin lecet yang diameternya lebih besar. Diameter cincin lecet tersebut lebih mendekati kaliber pelurunya. Sedangkan luka akibat senjata yang tidak menggunakan mesiu sebagai tenaga pendorong anak pelurunya (senjata angin), pada hakekatnya merupakan luka yang disebabkan oleh persentuhan dengan benda tumpul saja. Ciri-ciri luka tembak amat tergantung dari jenis senjata yang ditembakkan, jarak tembakan, arah tembakan serta posisinya (sebagai tempat masuk atau keluarnya anak peluru).

4. Zat-zat kimia korosif Zat-zat kimia korosif dapat menimbulkan luka-luka apabila mengenai tubuh manusia. Ciri-ciri lukanya amat tergantung dari golongan zat kimia tersebut, yaitu: a. golongan asam Termasuk zat kimia korosif golongan asam antara lain: Asam mineral, yaitu: H2SO4, HCL, NO3 Asam organik, yaitu: asam oksalat, asam formiat dan asam asetat Garam mineral, yaitu: AgNO3, dan Zinc Chlorida Halogen, yaitu: F, Cl, Ba dan J

Cara kerja zat kimia korosif dari golongan ini sehingga mengakibatkan luka ialah: Mengekstraksi air dari jaringan Mengkoagulasi protein menjadsi albuminat Mengubah hemoglobin menjadi acid hematin

Ciri-ciri dari luka yang terjadi akibat zat-zat asam korosif tersebut di atas ialah: Terlihat kering Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan oleh nitric acid erwarna kuning kehijauan Perabaan keras dan kasar

b. golongan basa Zat-zat kimia korosif yang termasuk golongan basa antara lain: KOH NaOH NH4OH

Cara kerja dari zat-zat tersebut sehingga menimbulkan luka ialah:

Mengadakan ikatan dengan protoplasma sehingga membentuk alkaline albumin dan sabun Mengubah hemoglobin menjadi alkaline hematin

Ciri-ciri luka yang terjadi sebagai akibat persentuhan dengan zat-zat ini adalah: Terlihat basah dan edematus Berwarna merah kecoklatan Perabaan lunak dan licin

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. 2. Mekanisme terjadinya luka bergantung pada efek dari kekuatan mekanis benda yang berlebih pada jaringan tubuh dan menyebabkan penekanan, penarikan,

perputaran pada tubuh. Selain itu, terjadinya luka juga dipengaruhi dari jenis benda apakah benda tajam atau tumpul dan target jaringannya. 3. Secara mekanis, jenis penyebab luka dapat dibedakan atas luka tajam dan luka tumpul. Luka tajam dapat menyebabkan luka iris, luka tusuk dan luka bacok. Sedangkan luka tumpul dapat menyebabkan luka memar, luka lecet dn luka robek. 4. Proses penyembuhan luka dapat dibedakan atas penyembuhan luka terbuka dan tertutup. Penyembuhan luka terbuka terdiri dari tiga fase yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan maturasi. Sedangkan penyembuhan luka tertutup dibedakan untuk luka memar dan lecet. Pada luka memar terjadi vasokonstriksi pembuluh darah sebagai respon rusaknya pembuluh darah kemudian terjadi respon dari trombosit guna membentuk sumbat trombosit selanjutnya proses koagulasi dan terakhir terjadi fibrinolisis sehingga darah dapat mengalir kembali secara normal. Pada luka lecet terjadi proses penyembuhan melalui fase formasi keropeng, regenerasi epitel, granulasi subepitel dan hiperplasia epitel, dan regresi epitel dan granulasi jaringan.

B. SARAN 1. Bagi mahasiswa Diharapkan selalu menambah pengetahuan tentang luka, klasifikasi luka. Mekanisme luka, sampai dengan proses penyembuhan luka baik luka akibat benda tajam maupun luka tumpul, sehingga mahasiswa mampu mendeskripsikan luka yang berguna dalam proses pembuatan Visum et Repertum saat menjadi dokter di masa depan.

2. Bagi dokter Diharapkan dokter menambah pengetahuan dan ketrampilannya dalam penatalaksanaan luka akibat benda tajam dan tumpul, sehingga mampu memberi penatalaksanaan yang tepat bagi setiap luka, selain itu dokter mampu membuat deskripsi luka dalam Visum et Repertum yang berguna dalam sebuah proses hukum.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu kedokteran forensik edisi pertama. Jakarta:Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997;37-54.

2. Sofwan D. Ilmu kedokteran forensik pedoman bagi dokter dan penegak hukum. Semarang:Balai Penerbit Universitas Diponegoro; 2004;67-91. 3. Nugraha A. Penyembuhan luka. 2009. Available from : http://cupu.web.id/pengertianluka-wound-dan-wound-healing-proses-penyembuhan-luka/ [cited : 19 September 2010]