Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keragaman atau kemajemukan merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan dalam kehidupan di masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di waktu-waktu mendatang. Sebagai fakta, keragaman sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun juga bisa menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik. Setiap manusia dilahirkan setara, meskipun dengan keragaman identitas yang disandang. Kesetaraan merupakan hal yang inherent yang dimiliki manusia sejak lahir. Setiap individu memiliki hak-hak dasar yang sama yang melekat pada dirinya sejak dilahirkan atau yang disebut dengan hak asasi manusia. Kesetaraan derajat individu melihat individu sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial yang menempel pada dirinya berdasarkan atas asal rasial, suku bangsa, kebangsawanan ataupun kekayaan dan kekuasaan. Tidak dapat dipungkiri lagi, hampir semua wilayah (termasuk kota) di Indonesia adalah wilayah dengan masyarakat multikultur. Kondisi masyarakat Indonesia, yang berdimensi majemuk dalam berbagai sendi kehidupan, seperti budaya, agama, ras dan etnis, berpotensi menimbulkan konflik. Ciri budaya gotong royong yang telah dimiliki masyarakat Indonesia dan adanya perilaku musyawarah/mufakat, bukanlah jaminan untuk tidak terjadinya konflik, terutama dengan adanya tindakan diskriminasi ras dan etnis. Di Indonesia, berbagai konflik antar suku bangsa, antar penganut keyakinan keagamaan, ataupun antar kelompok telah memakan korban jiwa dan raga serta harta benda, seperti kasus Sambas, Ambon, Poso, dan kalimantan Tengah. Masyarakat majemuk Indonesia belum menghasilkan tatanan kehidupan yang egalitarian dan demokratis.

Kerusuhan rasial yang pernah terjadi tersebut menunjukkan bahwa di Indonesia, pada sebagian warga negaranya masih terdapat adanya diskriminasi atas dasar ras dan etnis, misalnya, diskriminasi dalam dunia kerja atau dalam kehidupan sosial ekonomi. Konflik antar ras dan etnis tersebut biasanya diikuti dengan pelecehan, perusakan, pembakaran, perkelahian, pemerkosaan dan pembunuhan. Konflik tersebut muncul karena adanya ketidakseimbangan hubungan yang ada dalam masyarakat, baik dalam hubungan sosial, ekonomi, maupun dalam hubungan kekuasaan. Adanya dominasi sosial dimana semua kelompok manusia ditunjukkan pada struktur dalam sistem hirarki sosial pada suatu kelompok. Di dalamnya ditetapkan satu atau sejumlah kecil dominasi dan hegemoni kelompok pada posisi teratas dan satu atau sejumlah kelompok subordinat pada posisi paling bawah. Di antara kelompok-kelompok yang ada, kelompok dominan dicirikan dengan kepemilikan yang lebih besar dalam pembagian nilai-nilai sosial yang berlaku. Dominasi sosial ini dapat mengakibatkan ketidak-seimbangan hubungan sehingga konflik sosial menjadi lebih tajam. Konflik yang terjadi tersebut tidak hanya merugikan kelompok-kelompok masyarakat yang terlibat konflik tetapi juga merugikan masyarakat secara keseluruhan. Kondisi itu dapat menghambat pembangunan nasional yang sedang berlangsung. Hal itu juga mengganggu hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, perdamaian dan keamanan di dalam suatu negara serta menghambat hubungan persahabatan antarbangsa. Konsitusi yang merupakan cita-cita yang mendasari berdirinya NKRI yang dirumuskan oleh pendiri bangsa, secara tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berkesetaraan. Pasal 27 menyatakan: Setiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan adalah rujukan yang melandasi seluruh produk hukum dan ketentuan moral yang mengikat warga negara. Keberagaman bangsa yang berkesetaraan merupakan kekuatan besar bagi kemajuan dan kesejahteraan negara Indonesia. Negara yang beragam tetapi tidak memiliki kesetaraan dan diskriminatif akan menghadirkan kehancuran.

Berdasarkan sejarah dan pengalaman kehidupan manusia Indonesia itulah, guna menghilangkan diskriminasi ras dan etnis yang telah mengakibatkan keresahan, perpecahan serta kekerasan fisik, mental, dan sosial, sangat diharapkan adanya suatu langkah atau terobosan. Melalui terobosan tersebut nantinya diharapkan falsafah Pancasila, pandangan hidup bangsa Indonesia serta UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang tercermin dalam sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat terlaksana sepenuhnya di masyarakat. Pada akhirnya amanat konstitusional bahwa bangsa Indonesia dapat dijalankan dan segala bentuk diskriminasi ras dan etnis dapat terhapuskan sepenuhnya. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Apakah diskriminasi dan konflik itu? Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya konflik dari diskriminasi di Indonesia serta dampak yang ditimbulkannya? Bagaimanakah bentuk-bentuk perilaku diskriminasi di Indonesia? Bagaimanakah keterkaitan perilaku diskriminasi tersebut dengan kemajemukan/keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia? Apa saja penyelesaian atau terobosan yang diharapkan untuk diterapkan guna menghapuskan diskriminasi di masyarakat Indonesia sepenuhnya? 1.3. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1)

Untuk menambah pengetahuan di Bidang Ilmu Sosial dan Budaya Dasar tentang diskriminasi dan konflik serta problematikanya di masyarakat Indonesia.

2)

Melalui pengetahuan yang didapat tersebut, pembaca diajak untuk menjauhkan diri dari perilaku diskriminasi karena banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Diskriminasi & Konflik Kata diskriminasi berasal dari bahasa Belanda discriminatie artinya pemisahan atau perbedaan. Kata diskriminasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III artinya perbedaan perlakuan terhadap sesame warga Negara. Kata diskriminasi juga berasal dari bahasa Inggris disebut discrimination artinya perbedaan perlakuan. Kata diskriminasi yang berasal dari bahasa Arab disebut tafriq dan merupakan sifat tercela yang harus dihapus. Menurut UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Bab 1 pasal 1 menjelaskan kata diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tidak langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas alasan agama, suku, ras, etnik, kelompok, jenis kelamin, bahasa, keyakinan, politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dalam kehidupan, baik individu atau kolektif dalam bidang politik ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lain. Menurut Theodorson & Theodorson, diskriminasi adalah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesuku-bangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Istilah tersebut biasanya untuk melukiskan suatu tindakan dari pihak mayoritas yang dominan dalam hubungannya dengan minoritas yang lemah sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku mereka itu bersifat tidak bermoral dan tidak demokrasi. Dalam arti tersebut, diskriminasi adalah bersifat aktif atau aspek yang dapat terlihat (overt) dari prasangka yang bersifat negatif (negative prejudice) terhadap seorang individu atau suatu kelompok. Diskriminasi juga diartikan sebagai tindakan yang melakukan pembedaan terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku, etnis, kelompok, golongan, status, kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik,

usia, orientasi seksual, pandangan ideologi, dan politik serta batas negara dan kebangsaan seseorang. Definisi yang dikemukaan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berbunyi: Diskrimasi mencakup perilaku apa saja yang berdasarkan perbedaan yang dibuat berdasarkan alamiah atau pengkategorian masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan individu atau jasanya (merit). Perlu kiranya dicatat di sini, bahwa dalam arti tertentu diskriminasi mengandung arti perlakuan tidak seimbang terhadap sekelompok orang, yang pada hakekatnya adalah sama dengan kelompok pelaku diskriminasi. Obyek diskriminasi tersebut sebenarnya memiliki beberapa kapasitas dan jasa yang sama. Apakah diskriminasi dianggap illegal tergantung dari nilai-nilai yang dianut masyarakat bersangkutan atau kepangkatan dalam masyarakat. Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. 2.2. Faktor-faktor Penyebab Diskriminasi dan Konflik Komunitas Internasional telah mengakui bahwa diskriminasi masih terjadi di berbagai belahan dunia, dan prinsip non diskriminasi harus mengawali

kesepakatan antar bangsa untuk dapat hidup dalam kebebasan, keadilan, dan perdamaian. Pada dasarnya diskriminasi tidak terjadi begitu saja, akan tetapi karena adanya beberapa faktor penyebab antara lain: 1) 2) 3) Persaingan yang semakin ketat dalam berbagai bidang kehidupan, terutama ekonomi. Adanya tekanan dan intimidasi yang biasanya dilakukan oleh kelompok yang dominan terhadap kelompok atau golongan yang lebih lemah. Ketidak-berdayaan golongan miskin akan intimidasi yang mereka dapatkan membuat mereka terus terpuruk dan menjadi korban diskriminasi. Dari kajian yang dilakukan terhadap berbagai kasus disintekrasi bangsa dan hancurnya sebuah negara, dapat disimpulkan adanya enam faktor utama yang sedikit demi sedikit bisa menjadi penyebab utama yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Kegagalan kepemimpinan Krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama Krisis politik Krisis sosial Demoralisasi Interfensi asing Agus Dwiyanto (2001) menyebutkan ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab diskriminasi dalam pemberian pelayanan publik di Indonesia. Pertama, faktor struktural yaitu adanya ssstem paternalisme dalam birokrasi. Paternalisme adalah sistem yang menempatkan atasan sebagai pihak yang sentral dalam birokrasi. Orientasi aparat birokrasi dalam memberikan pelayanan lebih ditujukan kepada kepentingan pejabat atasan dibanding ke masyarakat pengguna jasanya. Kedua, faktor kultural yaitu adanya ikatan kekerabatan untuk mendahulukan lingkungan terdekat yakni saudara terdekatnya atau sesama etniknya. Budaya nepotisme ini turut memberikan sumbangan terhadap perlakuan diskriminatif dalam pelayanan publik. Ketiga, faktor ekonomi. Rendahnya tingkat penghasilan seorang petugas pelayanan memaksa petugas untuk mencari alternatif sumber

penghasilan yang lain dengan jalan memberikan pelayanan lebih cepat kepada pengguna jasa dengan imbalan tertentu. Ketiga faktor penyebab di atas cocok untuk menjelaskan diskriminasi dalam pelayanan publik yang berdasarkan alasan status sosial ekonomi. Dalam pemberian pelayanan publik juga berlaku diskriminasi yang tidak disadari sebagai bentuk ketidakadilan yakni diskriminasi karena karakteristik fisik seperti cacat tubuh, ras, dan jenis kelamin. Menurut Novi (2010), diskriminasi diawali dari proses keragaman dengan faktor-faktor penyebab sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang seringkali memiliki kebudayaan yang berbeda. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non komplemeter. Kurang mengembangkan konsesus diantara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar. Secara relatif sering kali terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Secara relatif intergrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan didalam bidang ekonomi. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain. Secara umum konflik dapat terbentuk akibat: 1) Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

2)

Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadipribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan

pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. 3) Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohonpohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. 4) Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang

mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada. 2.3. Dampak Diskriminasi Perilaku diskriminasi yang terjadi dalam masyarakat akan cenderung menimbulkan konflik pada masyarakat itu sendiri. Ada beberapa teori yang menyatakan munculnya konflik dalam masyarakat antara lain: 1) Teori hubungan masyarakat, memiliki pandangan bahwa konflik yang sering muncul ditengah masyarakat disebabkan polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda, perbedaan bisa dilatarbelakangi SARA bahkan pilihan ideologi politiknya. 2) Teori identitas yang melihat bahwa konflik yang mengeras di masyarakat tidak lain disebabkan identitas yang terancam yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan masa lalu yang tidak terselesaikan 3) Teori kesalahpahaman antar budaya, teori ini melihat konflik disebabkan ketidakcocokan dalam cara-cara berkomunikasi di antara budaya yang berbeda. 4) Teori transformasi yang memfokuskan pada penyebab terjadi konflik adalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial budaya dan ekonomi.

10

Menurut Novi (2010), jika masalah diskriminasi tidak diselesaikan dengan baik ada beberapa masalah lanjutan yang akan timbul yaitu: 1)
2)

Disharmonisasi, adalah tidak adanya penyesuaian atas keragaman antara manusia dengan dunia lingkungannya. Kesenjangan dalam berbagai bidang yang tentu saja tidak menguntungkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Eksklusivisme, rasialis, bersumber dari superioritas diri, alasannya dapat bermacam-macam, antara lain keyakinan bahwa secara kodrati ras/sukunya kelompoknya lebih tinggi dari ras/suku/kelompok lain.

3)

2.4. Bentuk-bentuk Diskriminasi di Indonesia Diskriminasi adalah perbuatan zalim dan tercela karena akan mendatangkan kerugian kepada orang yang diperlakukan diskriminatif. Secara umum diskriminasi bisa terdapat dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat dan bernegara. 1)
2)

Orangtua yang membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya adalah contoh perilaku diskriminasi dalam kelusarga . Islam mengajarkan agar dalam berkehidupan bertetangga, antara satu tetangga dengan tetangga lainnya saling menghormati dan menghargai, tanpa membedakan suku bangsa, agama, status sosial, dan sebagainya.

3)

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, perilaku diskriminasi itu misalnya jika pemerintah hanya melindungi golongan tertentu. Padahal pemerintah wajib melindungi seluruh rakyatnya tanpa kecuali. Berdasarkan ras, suku, warna kulit, perlakuan diskriminasi antara lain

adalah:
1)

Diskriminasi kelamin, yaitu pembedaan sikap dan perlakuan terhadap orang berdasarkan jenis kelamin. Di kota Mekkah pada masa Jahiliah, kaum perempuan berkedudukan sangat rendah.

11

2)
3)

Diskriminasi ras, yaitu pembedaan berdasarkan asal bangsa yang menganggap bahwa tras yang satu lebih hebat daripada ras yang lain. Diskriminasi sosial, yaitu berdasarkan status sosialnya, seperti kaya dan miskin, bangsawan dan rakyat jelata, atau suatu agama dengan agama lain. Diskriminasi warna kulit (apartheid) yaitu berdasarkan warna kulit, orang yang berkulit putih dianggap lebih terhormat. Di Indonesia terdapat berbagai bentuk diskriminasi. Beberapa bentuk

4)

diskriminasi yang disebutkan di bawah ini adalah segelintir kasus yang sering beredar di masyarakat. Permasalahan diskriminasi yang paling umum misalnya adalaha dalam jenis kelamin, permasalahan utama yang dihadapi adalah kuatnya pandangan sebagian masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Pandangan demikian tidak hanya terdapat pada kaum laki-laki, tetapi juga banyak perempuan yang mempunyai pandangan bahwa perempuan secara kodrati memang merupakan subordinasi dari laki-laki. Apabila seseorang yang berpandangan demikian berada di posisi pembentuk peraturan perundangundangan atau pembuat kebijakan publik, potensi terjadinya kebijakan yang diskriminatif menjadi lebih besar. Di samping itu, kurangnya perhatian para pembentuk peraturan perundang-undangan dalam mematuhi asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan juga berperan besar bagi lahirnya peraturan perundang-undangan yang diskriminatif. Di beberapa daerah, kebijakan yang bersifat diskriminatif masih sering terjadi, antara lain dengan dibentuknya peraturan daerah (perda) yang mengatur tentang tata cara berpakaian dan batas ruang gerak perempuan di ruang publik serta melarang perempuan keluar malam tanpa muhrim. Disamping itu, sejak diberlakukannya UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, laporan terhadap terjadinya tindakan kekerasan terhadap perempuan malah semakin meningkat, sedangkan catatan terjadinya kekerasan terhadap laki-laki tidak tersedia. Sistem sosial belum memungkinkan hal tersebut dilakukan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2005 terjadi 20.392 kasus kekerasan

12

terhadap perempuan. Angka tersebut meningkat menjadi 22.512 kasus pada tahun 2006. Selain itu, Indonesia sebagai negara yang juga meratifikasi berbagai konvensi, salah satunya adalah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/CEDAW) melalui UU Nomor 7 Tahun 1984, tetapi dalam tataran pelaksanaan ketentuan yang ada dalam konvensi tersebut belum sepenuhnya dijadikan acuan bagi aparat penegak hukum dalam penyelesaian kasus-kasus yang berhubungan dengan tindakan diskriminasi khususnya diskriminasi terhadap perempuan. Dalam konteks kesenjangan ekonomi, diskriminasi pada tingkat kebijakan juga terjadi pada kelompok masyarakat kurang mampu. Dalam kaitan itu, beberapa peraturan perundang-undangan, terutama pada tingkat operasional, menetapkan berbagai persyaratan tertentu yang mengakibatkan sulitnya kelompok masyarakat kurang mampu untuk memperoleh pelayanan publik hampir pada semua bidang. Hal itu antara lain tercermin dari tingginya biaya pendaftaran perkara perdata pada pengadilan tingkat pertama, sehingga menyulitkan kelompok masyarakat yang kurang mampu untuk memperoleh pelayanan publik di bidang hukum atau memperoleh keadilan. Kendala yang sama juga dialami oleh kelompok masyarakat kurang mampu dalam memperoleh pelayanan publik pada bidang kehidupan lainnya. Pada tingkat pelaksanaan, permasalahan utama terletak pada kurangnya pemahaman masyarakat termasuk para penyelenggara negara dan aparat penegak hukum akan pentingnya kesamaan cara pandang dalam upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, misalnya terminologi kekerasan dalam rumah tangga yang sering dipahami secara sempit sebagai kekerasan fisik, padahal peraturan perundang-undangan memberikan arti luas, antara lain meliputi kekerasan ekonomi (penelantaran ekonomi) dan kekerasan psikis. Hal yang perlu mendapat perhatian khusus berkaitan dengan upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk ialah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. Keluhan masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik

13

merupakan isu yang sering kita dengar dari masyarakat. Secara umum yang menjadi permasalahan adalah kelambanan proses pelayanan terhadap kelompok masyarakat yang kurang mampu dibandingkan dengan kelompok yang secara ekonomis lebih mampu. Pada kenyataannya, beberapa contoh yang telah tersebut di atas belumlah mewakili kasus-kasus diskriminasi di Indonesia. Mengingat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk, kemajemukan yang besar tersebut akan semakin besar potensinya dalam memunculkan kasus-kasus diskriminasi lain jika tidak ditangani secara baik dan tepat. 2.5. Keragaman Bangsa Indonesia
Berdasarkan teori kultur dominan, masyarakat multikultur di Indonesia dalam lingkup provinsi dapat dikategorikan menjadi empat: 1) Kelompok etnis tertentu menjadi dominan di wilayah teritorialnya. Beberapa provinsi yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah lima provinsi di Jawa (Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Jawa Barat), Bali, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nangroe Aceh Darusalam 2) Kelompok etnis tertentu menjadi dominan di luar wilayah teritorialnya. Untuk kategori ini hanya terjadi di propinsi Lampung, dimana orang Jawa menjadi mayoritas (61,89%) diikuti dengan Orang asli Lampung (Peminggir, Pepadun, Abang Bunga Mayang) justru menjadi minoritas. 3) Beberapa etnis memiliki jumlah yang berimbang, dapat dikateorikan lagi menjadi: Perimbangan jumlah etnis dengan jumlah etnis asli lebih besar Kategori ini kebanyakan berasal dari etnis diaspora seperti Batak, Bugis, Melayu, Minahasa, dan Buton di wilayah teritorialnya. Selain itu, etnis Banten juga paling banyak jumlahnya meskipun tidak dominan. Beberapa provinsi yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah: Banten, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

14

Perimbangan jumlah etnis dengan jumlah etnis pendatang lebih besar Kategori ini kebanyakan terjadi di wilayah dimana para pendatang yang justru membangun wilayah di perantauan, terutama DKI Jakarta, Kalimanatan Timur, Kalimantan Tengah, dan Bengkulu. Di ketiga propinsi ini orang Jawa merupakan etnis yang jamlahnya terbesar.

4)

Beberapa etnis memiliki jumlah yang berimbang, namun yang terbanyak adalah kumpulan beberapa etnis (kelompok lain-lain), yaitu Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi Tengah.

Pemahaman terhadap multikultural sendiri sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari pengertian kebudayaan. Karena kata kebudayaan itulah, yang menjadi kunci pemahaman konsep multikulturalisme. Kebudayaan merupakan sekumpulan nilai moral untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaan. Multikulturalisme adalah sebuah paham yang mengakui adanya perbedaan dalam kesetaraan, biak secara individual maupun secara kelompok dalam kerangka kebudayaan. Heterogenitas kekayaan Negara Indonesia ini terekatkan dalam bhineka tunggal ika. Dengan kata lain, kekayaan budaya dapat bertindak sebvagai faktor pemersatu, yang sifatnya majemuk dan dinamis. Tidak ada kebudayaan Indonesia, bila bukan terbentuk dari kebudayaan masyarakat yang lebih kecil. Sebagai sebuah konsep, mutikulturalisme manjadi dasar bagi tumbuhnya masyarakat sipil yang demokratis demi terwujudnya keteraturan sosial. Dengan demikian, bisa menjamin rasa aman bagi masyarakat dan kelancaran tata kehidupan masyarakat. Melihat kemajemukan Indonesia yang begitu luasnya terdiri dari sedikitnya 500 suku bangsa, maka mutikulturalisme hendaknya tidak hanya sekedar retorika, tetapi harus diperjuangkan sebagai landasan bagi tumbuh dan tegaknya proses demokrasi, pengakuan hak asasi manusia, dan akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Upaya itu harus dilakukan jika melihat berbagai konflik yang terjadi di sejumlah daerah di tanah air beberapa waktu lalu. Konflik itu mengindikasikan belum tuntasnya penbentuka masyarakat mutikultural di Indonesia. Munculnya konflik antar suku misalnya, menunjukkan belum

15

dipahaminya prinsip mutikulturalisme yang mengakui perbedaan dalam kesetaraan. Pemahaman nilai-nilai kesetaraan dalam perbedaan itulah yang senantiasa dilakukan secara aktif baik oleh tokoh masyarakat, tokoh partai, maupun lembaga swadaya masyarakat. Dengan demikian, pemahaman bahwa bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang terdiri dari berbagai kebudayaan harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesetaraan setiap warga masyarakat dan dijaminnya hak masyarakat tradisional merupakan unsur dasar dari prinsip demokrasi yang terkandung dalam pengakuan terhadap kesetaraan dan toleransi perbedaan dalam kemajemukkan. Tuntutan kesetaraan mungkin belum beberapa abad terakhir ini dimulai oleh manusia. Tentunya seruan dengan suara kecil malah yang hamper tidak terdengar, pada ribuan tahun yang lalu suda ada. Tingkatanya rakyat jelata, tetapi berkeinginnan agar menjadi seapadan dengan para bangsawan, dengan para orang kaya serta berkuasa bahkan memjadi anggota kalangan sang bagianda raja. Kalau seandainya setiap orang mau memikirkan matang-matang keinginan untuk setara itu, biasanya dan selalu datang dari pihak yang kurang beruntung untuk menyamai kaum yang sedang atau sudah beruntung. Sudah adakah yang sebaliknya? Mungkin saja pernah ada dan contohnya bisa kita ambil misalnya saja seorang raja yang ingin hidup seperti rakyat biasa, seorang pemimpin atau khalifah yang amat merakyat. Mungkin yang dijalani oleh Umar bin Abdul Aziz adalah seperti itu. Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad adalah contoh lain yang paling mengena. Seorang penguasa seperti dia masih hidup di rumahnya yang kecil sejak dia masih dosen, tidur bukan di atas temapat tidur, tetapi di atas kasur yang digelar dilantai, kalau bersembahyang di dalam masjid, dia duduk dimana saja, di tengah jamaah lain, tidak menuju shaf paling depan seperti presiden lainnya yang selalu begitu. Kalau sekarang ini ada yang meneriakkan kesetaraan mungkin sekali adalah karena jurang yang memisahkan kaum yang merasa dirinya tidak setara dengan kaum yang ingin disetarai, semakin suram dan semakin lebar saja. Kesetaraan ini tidak akan muncul dan berkembang dalam susunan masyarakat yang didirikan diatas paham dominasi dan kekuasaan satu kelompok terhadap kelompok yang

16

lain. Republik yang sudah berumur tua untuk ukuran manusia, 65 tahun saja tidak ada keadilan dalam kehidupan berbangsa. Keadaan adil dan makmur yang menjadi idaman seluruh rakyat Indonesia tidak pernah datang sampai sekarangdan kemungkinan besar di masa yang akan dating nanti. Untuk mencapai kesetaraan itu sebaiknya dengan cara menaikkan derajat, peringkat, kondisi serta kemampuan setiap perorangan ketingkat yang diingininya dengan upaya sendiri-sendiri untuk tahap awal. Ini adalah satu-satunya jalan. Jangan mengajak teman sejawat terlebih dahulu hanya untuk membentuk mass forming. Mass forming seperti ini akan menjadi utuh kalau para pemebentuknya memang memiliki peringkat yang setara. Kalau isi para pembentuknya tidak sama kemampuannya, visinya dan tugasnya maka masa yang dibentuknya akan tidak utruh serta mudah tercerai-berai. Yang memilukan adalah bahwa setiap orang yang menpunyai ambisi untuk menggerakkan massa untuk mencapai kesetaraan, kurang mengamati sekelilingnya sendiri. Dengan identitas pluralis dan multikulturalis itu bangunan interaksi dan relasi antara manusia Indonesia akan bersifat setara. Paham kesetaraan akan menandai cara berfikir dan perilaku bangsa Indonesia, apabila setiap orang Indonesia berdiri di atas realitas bangsanya yang plural dan multikultural itu. Identitas kesetaraan ini tidak akan mucul dan berkembang dalam susunan masyarakat yang didirikan di atas paham dominasi dan kekuasaan satu kelompok terhadap kelompok yang lain. Kesetaraan merupakan identitas nasional Indonesia. 2.6. Solusi Penyelesaian Masalah Diskriminasi Dalam menghapus permasalahan diskriminasi ini sangat diharapkan partisipasi berbagai pihak. Untuk itu penulis menawarkan beberapa solusi pada setiap sisi yang terlibat antara lain: 1) Keagamaan Dengan dasar Al-Quran:

17

Artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal (Q.S. Al Hujurat:13) Maka diskriminasi dapat dihilangkan dengan cara-cara berikut: a) b) c) d) e) f) g) Gemar bersilaturahmi Menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan Bersikap toleransi (tasamuh) terhadap sesama umat beragama dan tidak memaksakan keyakinan agama kepada orang lain. Aktif dalam kegiatan yang tujuannya mengahapus diskriminasi. Tidak menimpakan kesalahan kepada orang lain. Tidak menghina, berburuk sangka , bahakn memfitnah orang lain. Selalu beribadah kepada Allah dan tidak menyukutukan-Nya, serta berbuat baik kepada sesama. 2) Pemerintahan Berdasarkan pandangan dan pertimbangan, undang-undang yang dibuat oleh pemerintah hendaklah harus mengenai aspek berikut: a) b) c) d) Asas dan tujuan penghapusan diskriminasi ras dan etnis Tindakan yang memenuhi unsur diskriminatif Pemberian perlindungan kepada warga negara yang mengalami tindakan diskriminasi ras dan etnis Penyelenggaraan perlindungan terhadap warga negara dari segala bentuk tindakan diskriminasi ras dan etnis yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, serta seluruh warga negara e) f) g) h) Pengawasan terhadap segala bentuk upaya penghapusan diskriminasi ras dan etnis oleh Komnas HAM Hak warga negara untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam mendapatkan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya Kewajiban dan peran serta warga negara dalam upaya penghapusan diskriminasi ras dan etnis Gugatan ganti kerugian atas tindakan diskriminasi ras dan etnis

18

i)

Pemidanaan terhadap setiap orang yang melakukan tindakan berupa perlakukaan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Di samping itu pemerintah juga harus mempercepat penyusunan RUU Anti-

Diskriminasi Ras dan Etnik yang saat ini sedang dilakukan pembahasan antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai salah satu upaya untuk menghapuskan diskriminasi dalam berbagai bentuk terutama diskriminasi rasial. Dengan demikian, diharapkan RUU itu dapat segera disahkan dalam waktu dekat. Serta meratifikasi International Covenant on Economic, Social and Culture Rights (ICESCR) dan I (ICCPR) melalui UU No. 11 dan UU No.12 Tahun 2005, saat ini sedang dilakukan proses harmonisasi berbagai peraturan perundangundangan untuk mewujudkan kepastian hukum di bidang tersebut. Penghapusan diskriminasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik juga harus terus dilakukan melalui berbagai penyederhanaan persyaratan, prosedur serta peningkatan transparansi. Dalam rangka mendukung peningkatan investasi telah dilakukan pendelegasian wewenang kepada 33 Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM serta peningkatan kualitas pelayanan melalui proses sistem informasi penyusunan prosedur, standardisasi, persyaratan pelayanan jasa hukum. 3) Pendidikan Sudah saatnya memikirkan pendidikan multikultur yang mengembangkan konsep toleransi, saling menghargai, saling menghormati dan saling menyadari tentang sebuah perbedaan. Para pendidik harus bekerja keras untuk melakukan reorientasi pembelajaran agama kepada para peseta didik dengan tetap mensosialisasikan nilai-nilai dan norma agama dari masing-masing agama yang diajarkan tetapi dengan mengembangkan konsep multiculturalism education/learning. Karena dengan begitu mekanisme manajemen konflik akan bisa dilaksanakan.

19

Dalam buku laporannya ke UNESCO, Jacques Delors pada tahun 1996 mengemukkan bahwa ada empat buat sendi/pilar pendidikan, yaitu: a) Yaitu Learning to know (belajar untuk mengetahui) memadukan pengetahuan umum yang cukup luas dengan keseempatan untuk mempelajari secara mendalam pada sejumlah kecil mata pelajaran. Pilar ini juga berarti juga learning to learn (belajar untuk belajar) sehingga memperoleh keuntungan dari kesempatan-kesempatan pendidikan yang disediakan sepanjang hayat. b) Learning to do (belajar untuk berbuat) Yaitu untuk memperoleh bukan hanya suatu keterampilan kerja tetapi juga lebih luas sifatnya, kompetensi untuk berurusan dengan banyak situasi dan bekerja dalam tim. Ini juga belajar berbuat dalam konteks pengalaman kaum muda dalam berbagai kegiatan sosial dan pekerjaan yang mungkin bersifat informal, sebagai akibat konteks lokal atau nasional, atau bersifat formal melibatkan kursus-kursus, program bergantian antara belajar dan bekerja. c) Learning to live togather, learning to live with others (belajar untuk hidup bersama) Yaitu dengan jalan mengembangkan pengertian akan orang lain dan apresiasi atas interdependensi melaksanakan proyek-proyek bersama dan belajar mengatur konflik dalam semangat menghormati nilai-nilai kemajemukan, saling memahami dan perdamaian. d) Learning to be ( belajar untuk menjadi seseorang) Yaitu mengembangkan kepribadian lebih baik dan mampu bertindak mandiri, membuat pertimbangan dan rasa tanggung jawab pribadi yang semakin besar, ingatan, penalaran, rasa estetika, kemampuan fisik, dan keterampilan berkomunikasi. 4) Kebangsaan Solusi yang pantas untuk dikembangkan lainnya adalah pembangunan karakter dan semangat kebangsaan atau nation and character building (NCB). Dalam hal ini, karakter kebangsaan merupakan pengembangan jati diri bangsa

20

Indonesia yang (pernah) dikenal sebagai bangsa yang ramah, sopan, toleran, dan sebagainya. Sedangkan semangat kebangsaan adalah keinginan yang amat mendasar dari setiap komponen masyarakat untuk berbangsa. Karakter dan semangat kebangsaan seperti itu akan berkembang, baik secara natural maupun kultural, menuju tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks NCB, bangsa itu adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan. Pada akhirnya persatuan dan kesatuan merupakan konsekuensi logis pengembangan jati diri dan keinginan mendasar untuk berbangsa.

21

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah disampaikan sebelumnya, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil yaitu: 1) Diskriminasi merupakan tindakan pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tidak langsung didasarkan pada perbedaan manusia yang menyebabkan ketidakseimbangan terhadap perorangan atau kelompok. 2) Suatu konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi, dimana perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. 3) Perilaku diskriminasi dapat terbentuk dari berbagai hal atau faktor. Faktor yang paling berpengaruh dalam terbentuknya adalah terbentuknya segementasi dan stratifikasi yang tidak seimbang atau disalahartikan. 4) 5) Konflik yang berkepanjangan merupakan dampak dari perilaku diskriminasi. Dengan keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia, sangatlah penting untuk memahami, menghargai, mengakui dan menerima keberagaman yang sudah menjadi realitas sosial. 6) Penyelesaian diskriminasi dan konflik dapat ditempuh melalui tindakantindakan yang solutif di bidang keagamaan, pemerintahan, pendidikan dan kebangsaan. 3.2. Saran Berdasarkan analisa dan pengamatan yang dilakukan penulis, saran-saran yang pantas untuk dilakukan antara lain: 1) Setiap orang adalah sama di hadapan Allah SWT, hanya taqwa yang membedakannya.

22

2) 3) 4)

Biasakanlah hidup dengan nilai-nilai keagamaan dan rasa cukup, syukur serta tidak berlebihan. Mulailah untuk membentuk rasa sosial dan saling toleransi serta buanglah keangkuhan. Teruslah belajar dan belajar dan menerapkan apa yang didapat, karena dengan hal tersebut orang-orang akan menjadi semakin baik seiring berjalannya waktu.

23

DAFTAR PUSTAKA Andarimsa, Wenaldy, 2010, Pluralisme Indonesia, Hubungan Internasional Unikom, Diakses dari www.google.com pada 14 Oktober 2011 pukul 23.04 WIB. Anonimus, 2011, Kemajemukan Indonesia dan Konflik Sosial.doc, Diakses dari www.google.com pada 14 Oktober 2011 pukul 23.00 WIB. Anonimus, 2011, Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk: Bab 9 dan Bab 10.doc, Diakses dari www.google.com pada 14 Oktober 2011 pukul 23.04 WIB. CWGI, 2007, Implementasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) di Indonesia.pdf, Jakarta. Danandjaja, James, Prof, Dr, MA., Diskriminasi Minoritas Merupakan Masalah Aktual sehingga Perlu Ditangani Segera.pdf. Diakses dari www.google.com pada 14 Oktober 2011 pukul 22.58 WIB. Febriyanti, Novi, dkk., 2011. Makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar: Manusia, Keragaman dan Kesetaraan.pdf, Jurusan Teknik Elektro-Fakultas Teknik, Palembang, Universitas Sriwijaya. Muttaqin, Tatang, 2006, Strategi dalam Membangun Masyarakat Multikultur.doc, Diakses dari www.google.com pada 14 Oktober 2011 pukul 23.05 WIB. Nitibaskara, T.R.R, 2002, Paradoks Konflik dan Otonomi Daerah: Sketsa Bayang-bayang Konflik Dalam Prospek Maasa depan Otonomi Daerah, Peradaban, Jakarta. Septianingrum, Herwinda, dkk., 2010, Proposal Ilmu Sosial Budaya Dasar: Keragaman Etnis dan Ras di Indonesia.pdf, Program Studi Teknik Informatika-Fakultas Teknik, Malang, Universitas Muhammadiyah Malang. Sudiadi, Dadang, 2011, Menuju Kehidupan Harmonis Dalam Masyarakat Yang Majemuk: Suatu Pandangan Tentang Pentingnya Pendekatan Multikultur dalam Pendidikan di Indonesia.doc. Diakses dari www.google.com pada 14 Oktober 2011 pukul 23.18 WIB Syamsuri, Drs. H., 2007, Pendidikan Agama Islam, Jakarta, Erlangga. Theodorson, G. A. dan Theodorson A. G., 1979, A Modern Dictionary of Sociology, London, Barnes & Noble Books.

24

Yuliani, Sri, Waria: Warga Negara yang Tersisihkan dalam Pelayanan Publik.doc, Program Studi Administrasi Negara FISIP UNS, Diakses dari www.google.com pada 14 Oktober 2011 pukul 23.08 WIB.