Anda di halaman 1dari 20

V.

PENENTUAN TITIK ISOSBESTIK

I.

TUJUAN 1. Mencari panjang gelombang pada titik isosbestik 2. Menentukan konsentrasi sampel pada panjang gelombang titik isosbestik 3. Membandingkan penetapan kadar pada panjang gelombang maksimum dan pada panjang gelombang titik isosbestik.

II.

DASAR TEORI Dalam nomenklatur spektroskopi, absorpsi merupakan suatu proses penyerapan energi frekuensi radiasi tertentu secara selektif oleh species kimia di dalam medium tranparan. Disini energi radiasi elektromagnetik tersebut dipindahkan ke dalam atom atau molekul materi itu. Akibatnya terjadi suatu peningkatan energi elektronik atom-molekul tersebut (terjadi eksitasi elektron dari tingkat pemukaan energi dasar ke tingkat energi pemukaan energi eksitasi). Menurut teori kuantum, setiap partikel dasar (atom,ion, atau molekul) memiliki satu tingkat permukaan energi yang khas, dengan yang terendah disebut tingkat permukaan energi dasar (ground state) dan yang lebih tinggi disebut tingkat energi eksitasi (Widjaja dkk., 2008). Molekul-molekul melibatkan tiga tipe transisi terkuantisasi bila berinteraksi dengan radiasi elektromagnetik. Interaksi dengan energi radiasi sinar ultraviolet-sinar tampak (UV-vis), menyebabkan terjadinya promosi elektron orbital dari atom ataupun molekul dari tingkat energi elektronik rendah ke tingkat energi lebih tinggi. Harus diingat kembali bahwa untuk terjadinya absorpsi energi hv foton harus benar-benar sama dengan perbedaan energi dua tingkat permukaan energi orbital. Transisi electron antara dua orbital disebut transisi elektronik sedangkan proses absorpsinya disebut absorpsi elektronik (Widjaja dkk., 2008).

Suatu spektrometer serapan bekerja pada daerah panjang gelombang sekitar 200 nm (pada ultra-violet dekat) sampai sekitar 800 nm (pada inframerah sangat dekat). Lompatan elektron yang mungkin menyerap sinar pada daerah itu jumlahnya terbatas. Lompatan yang mungkin terjadi pada specktrum UV-vis ditunjukan dengan panah hitam, dan yang tidak mungkin dengan warna abu-abu. Panah dengan titik-titik abu-abu menunjukan lompatan yang menyerap sinar di luar daerah spektrum yang diamati (Clarck, 2007).

Lompatan yang lebih besar membutuhkan enrgi yang lebih besar dan menyerap sinar dengan panjang gelombang yang lebih pendek. Lompatan yang ditunjukan dengan tanda panah abu-abu menyerap sinar UV dengan panjang gelombang yang lebih rendah dari 200 nm. Lompatan yang penting diantaranya:

Dari orbital Dari orbital n Dari orbital n Artinya untuk menyerap sinar pada daerah antara 200 800 nm (pada

daerah dimana spektra diukur), molekul harus mengandung ikatan pi atau terdapat atom dengan orbital non-ikatan. Ingat bahwa orbital non-ikatan adalah pasangan elektron bebas, misalnya pada oksigen, nitrogen, atau halogen. Bagian molekul yang dapat menyerap sinar disebut kromofor (Clarck, 2007).

Faktor-faktor yang mempengaruhi energi dari transisi adalah : 1. Konjugasi dan delokalisasi Adanya konjugasi akan memperluas delokalisasi suatu senyawa. Serapan maksimum bergeser ke panjang gelombang yang lebih tinggi dengan meningkatnya delokalisasi. Panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi sehingga serapan maksimum bergeser ke frekuensi yang lebih pendek dengan meningkatnya delokalisasi. Dengan kata lain, serapan memerlukan energi yang lebih kecil dengan meningkatnya delokalisasi. Karena itu perbedaan energi antara orbital ikatan dan orbital anti-ikatan makin berkurang dengan meningkatnya delokalisasi, untuk senyawasenyawa dengan delokalisasi yang sangat besar, panjang gelombang yang terserap akan cukup tinggi dalam daerah spektrum sinar tampak, dan senyawa akan terlihat berwarna. Contoh yang baik adalah pigmen tanaman yang berwarna orange, beta-karoten yang ada pada wortel (Clarck, 2007). 2. Polaritas Penambah suatu pelarut yang memiliki polaritas yang sama dengan polaritas jenis ikatan akan menstabilkan ikatan sehingga terjadi pergeseran panjang gelombang ke arah yang lebih besar (batokromik) atau menuju panjang gelombang yang lebih pendek (hipokromik) (Clarck, 2007). 3. pH Proses ionisasi untuk menghasilkan asam dan basa dalam air akan merubah struktur molekul dari senyawa sehingga terdapat perubahanperubahan ikatan kimia. Bertambahnya atau berkurangnya jumlah ikatan phi akan mempengaruhi kemampuan delokalisasi (Clarck, 2007).

Titik Isosbestik Titik isosbestik adalah perpotongan beberapa spektrum absorpsi suatu kromofor pada berbagai pH. Titik isosbestik dapat pula diartikan sebagai panjang gelombang, bilangan gelombang atau frekuensi di mana total absorbansi dari suatu sampel tidak berubah terjadi selama reaksi kimia atau perubahan fisik sampel.

Kurva di atas menggambarkan titik isosbetik dari suatu senyawa yang diukur absorbansinya pada pH yang berbeda. Kurva dengan garis kuning menunjukkan absorbansi panjang gelombang pada suasana asam. Kurva hijau menggambarkan absorbansi panjang gelombang pada suasana netral, dan kurva berwarna biru menggambarkan absorbansi pada suasana basa. Dari kurva terlihat perbedaan absorbansi pada masing-masing pH dan pada akhirnya akan ditemukan suatu panjang gelombang dimana pada ketiga pH tersebut memiliki besaran adsorbansi yang sama. Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan titik isosbestik terhadap fenolftalein. Fenolftalein merupakan salah satu indikator asam-basa.

Fenolftalin sebagai indikator akan menunjukkan perubahan warna yang sangat signifikan yaitu tak berwarna dalam suasana asam dan berwarna merah muda pada larutan basa. Terdapat hubungan antara perubahan warna yang dihasilkan terhadap struktur molekulnya. Dibawah ini adalah struktur dari dua molekul yang berbeda warna :

Keduanya menyerap sinar ultra-violet, selain itu struktur di sebelah kanan juga menyerap sinar tampak dengan puncak 553 nm. Molekul dalam larutan asam tak berwarna karena mata tidak dapat mendeteksi fakta adanya penyerapan beberapa sinar ultra-violet. Akan tetapi, mata mampu mendeteksi penyerapan pada 553 nm yang dihasilkan oleh pembentukan molekul dalam larutan basa. Panjang gelombang 553 nm merupakan daerah hijau pada spektrum sinar tampak. Hijau dan merah muda (magenta) adalah warna komplementer, dimana apabila keduanya digabungkan akan menghasilkan sinar putih. Warna dapat dilihat oleh mata adalah komplementer dari hijau (Clarck, 2007). Perubahan warna tersebut terjadi berkaitan dengan perubahan struktur dari fenolftalein. Adanya perubahan struktur pada molekul fenolftalein menyebabkan terjadinya pergeseran serapan ke panjang gelombang yang lebih tinggi pada larutan basa. Pergeseran ke panjang gelombang yang lebih tinggi terkait dengan derajat delokalisasi yang lebih besar (Clarck, 2007). Berikut adalah struktrur pada larutan asam yang telah dimodifikasi bentuk tak berwarna. Jangkauan delokalisasi ditunjukan dengan warna merah (Clarck, 2007).

Perlu diketahui bahwa delokalisasi terjadi pada ketiga cincin melebar hingga ikatan rangkap dua karbon-oksigen, dan ke atom-atom oksigen karena adanya pasangan elektron bebas. Tetapi delokalisasi tidak meluas ke seluruh molekul. Atom karbon di tengah dengan empat ikatan tunggal menghalangi tiap daerah delokalisasi berhubungan satu sama lain. Sekarang bandingkan dengan bentuk yang berwarna merah muda:

Penataan-ulang menyebabkan delokalisasi melebar ke seluruh ion. Delokalisasi yang lebih besar ini menurunkan beda energi antara orbital molekul berpasangan yang tertinggi dan orbital pi anti-ikatan tak berpasangan yang paling rendah. Energi yang dibutuhkan untuk melompat lebih rendah dan panjang gelombang sinar yang diserap lebih panjang.

III. ALAT DAN BAHAN ALAT: Pipet volume Gelas beaker Pipet tetes Labu takar

Ball filler Spatula Gelas ukur Spektrofotometer Tissue Lap BAHAN: Fenolftalein HCl 37% NaOH

Aquades

IV. PELAKSANAAN PERCOBAAN A. Pembuatan Larutan Baku Pembuatan larutan baku fenolftalein dengan kadar 10 g/mL yang dibuat dalam suasana asam, basa dan netral. Perhitungan : Dik : M1 = 1 mg/mL M2 = 10 g/mL = 0,01 mg/mL V2 = 10 ml Dit : V1 = .... mL ? Jawab : V1 . M1 = V2 . M2 V1 .1 mg/mL = 10 ml . 0,01 mg/mL V1 = 0,1 mL

1. Larutan Baku Asam Dipipet 0,1 ml larutan phenolphtalein dengan kadar 10 g/ml dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml. Ditambahkan 0,2 ml HCl 0,1 M, kemudian ditambahkan aquades hingga tanda batas. 2. Larutan Baku Basa Dipipet 0,1 ml larutan phenolphtalein dengan kadar 10 g/ml dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml. Ditambahkan 0,2 ml NaOH 0,1 N, kemudian ditambahkan aquades hingga tanda batas. 3. Larutan Baku Netral Dipipet 0,1 ml larutan phenolphtalein dengan kadar 10 g/ml, dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml, kemudian ditambahkan aquades hingga tanda batas. B. Pelaksanaan Percobaan 1. Penentuan panjang gelombang maksimum pada laruran baku asam, netral, dan basa serta titik isosbestiknya. Spektrofotometer dikalibrasi terlebih dahulu dengan blangko aquadest. Ketiga larutan baku diukur nilai absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 260-660 nm. Dicari panjang gelombang maksimum dari masing-masing larutan baku. Dibuat kurva dan dicari titik isosbestiknya. 2. Penentuan kadar sampel Spektrofotometer di kalibrasi terlebih dahulu dengan blangko aquadest.

Larutan

sampel

diukur

nilai

absorbansinya

pada

panjang

gelombang maksimum larutan baku asam dan basa serta pada titik isosbestiknya dan digunakan larutan baku netral sebagai standar. Dicatat nilai absorbansinya dan dihitung untuk mendapatkan kadar dari sampel. V. DATA PENGAMATAN

Panjang Absorbansi Absorbansi Absorbansi gelombang dalam asam dalam basa dalam netral (nm) (HCI) (NaOH) 260 0.073 0.364 0.157 263 0.073 0.300 0.159 266 0.073 0.255 0.162 269 0.073 0.026 0.165 272 0.074 0.209 0.166 275 0.073 0.200 0.161 278 0.071 0.201 0.149 281 0.068 0.212 0.129 284 0.063 0.237 0.096 287 0.056 0.275 0.051 290 0.050 0.298 0.016 293 0.046 0.306 -0.007 296 0.044 0.306 -0.023 299 0.042 0.299 -0.034 302 0.040 0.283 -0.043 305 0.038 0.255 -0.047 308 0.036 0.208 -0.041 311 0.034 0.163 -0.025 314 0.033 0.135 -0.003 317 0.032 0.120 0.015 320 0.031 0.110 0.026 323 0.030 0.105 0.032 326 0.030 0.102 0.035 329 0.029 0.100 0.036 332 0.028 0.100 0.037 335 0.027 0.103 0.036 338 0.026 0.109 0.035 341 0.026 0.115 0.035 344 0.026 0.112 0.034 347 0.025 0.129 0.033 350 0.024 0.137 0.033 353 0.024 0.147 0.032 356 0.023 0.160 0.032 359 0.023 0.175 0.031 362 0.022 0.190 0.029 365 0.021 0.200 0.029 368 0.021 0.207 0.028 371 0.020 0.211 0.028 374 0.019 0.213 0.027 377 0.019 0.212 0.027 380 0.019 0.208 0.026 383 0.018 0.197 0.026 386 0.017 0.177 0.025 389 0.017 0.151 0.025 392 0.016 0.129 0.024 395 0.016 0.110 0.024 398 0.016 0.093 0.023 401 0.015 0.078 0.023 404 0.015 0.063 0.023 407 0.015 0.051 0.022

VI. PERHITUNGAN Diketahui: Tabel 1. Absorbansi larutan standar pada panjang gelombang maksimum Asam maks Absorbansi 272 nm 0,074 Basa 554 nm 1,088 Netral 272 nm 0,166 Titik Isosbestik 656 nm 0,004

Tabel 2. Absorbansi larutan sampel pada panjang gelombang maksumum Asam maks 272 nm Basa 554 nm Netral 272 nm Titik Isosbestik 656 nm

Absorbansi

0,068

0,010

0,208

0,008

konsentrasi larutan standar (cstandar) = 10 g/mL

o tebal kuvet (b) = 1 cm


o o o o o o

absorbansi larutan standar dalam suasana asam (A1 asam) = 0,074 absorbansi larutan standar dalam suasana basa (A1 basa) = 1,088 absorbansi larutan standar pada titik isosbestik (A1 isosbestik) = 0,004 absorbansi sampel dalam suasana asam (A2 asam) = 0,201 absorbansi sampel dalam suasana basa (A2 basa) = 0,010 absorbansi sampel pada titik isosbestik (A2 isosbestik) = 0,008 :

Ditanya
a) b)

Absortivitas molar () = . . . ? Konsentrasi sampel (csampel) dan kadar sampel = . . . ?

Jawab : Konsentrasi larutan standar = mol =

Absortivitas molar () :

asam

= A g bxc = 0,074 j 1 cm x (3,141 x 10-5 mol/L) = 2, 355 x 103 cm-1.mol-1.dm3

basa

= A g bxc = 1,088 1 cm x (3,141 x 10-5 mol/L) = 3, 464 x 104 cm-1.mol-1.dm3 j

netral

= A g bxc = 0,166 j 1 cm x (3,141 x 10-5 mol/L) = 5,284 x 103 cm-1.mol-1.dm3

isosbestik

= A g bxc = 0,004 j 1 cm x (3,141 x 10-5 mol/L) = 1, 273 x 102 cm-1.mol-1.dm3

a) Konsentrasi sampel (csampel) :

Dalam suasana asam Konsentrasi :

A = . b . csampel csampel = A g

xb = 0,068 j 2, 355 x 103 cm-1.mol-1.dm3 x 1 cm = 2,887 x 10-5 mol/dm3

Kadar = csampel x BM

= 2,887 x 10-5 mol/dm3 x 318,33 g/mol = 9,190 x 10-3 g/dm3 = 9,190 g/ml

Dalam suasana basa Konsentrasi : A = . b . csampel csampel = A g

xb = 0,010 j 3, 464 x 104 cm-1.mol-1.dm3 x 1 cm = 2,887 x 10-7 mol/dm3


Kadar = csampel x BM

= 2,887 x 10-7 mol/dm3 x 318,33 g/mol = 9,190 x 10-5 g/dm3

= 0,092 g/ml

Dalam suasana netral Konsentrasi : A = . b . csampel csampel = A g

xb = 0,166 j 5,284 x 103 cm-1.mol-1.dm3 x 1 cm = 3,142 x 10-5 mol/dm3


Kadar = csampel x BM

= 3,142 x 10-5 mol/dm3 x 318,33 g/mol = 1,000 x 10-2 g/dm3 = 100 g/ml

Pada titik isosbestik Konsentrasi : A = . b . csampel csampel = A g

xb = 0,008 1, 273 x 102 cm-1.mol-1.dm3 x 1 cm = 6,284 x 10-5 mol/dm3 j

Kadar = csampel x BM

= 6,284 x 10-5 mol/dm3 x 318,33 g/mol = 2,000 x 10-2 g/dm3 = 20 g/ml VII . Pembahasan Praktikum ini bertujuan untuk mencari panjang gelombang pada titik isosbestik, menentukan konsentrasi sampel pada panjang gelombang titik isosbestik, dan membandingkan penetapan kadar pada panjang gelombang maksimum dan pada panjang gelombang titik isosbestik. Pada dasarnya adalah melakukan pengukuran absorbansi larutan standar fenolftalein dengan kadar 10 g/mL yang dibuat dalam suasana asam, netral dan basa pada panjang gelombang 260-660 nm menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Sehingga nantinya akan diperoleh panjang gelombang maksimum dalam suasana asam, netral, dan titik isosbestiknya untuk diukur kembali absorbansinya dan mendapatkan kadar sampel pada larutan yang diselidiki. Sebelum dilakukan pengukuran, terlebih dahulu spektrofotemeter dikalibrasi menggunakan blangko. Larutan blanko adalah larutan yang tidak berisi analit dan biasanya digunakan untuk tujuan kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam analisis fotometri. Larutan blangko berperan dalam kalibrasi untuk membuat titik nol konsentrasi dari grafik kalibrasi; larutan ini hanya berisi pengencer yang digunakan untuk membuat larutan standar (anonim a, 2010). Karena pelarut larutan standar pp yang digunakan adalah aquadest, maka blangko yang digunakan juga aquadest. Sementara itu, karena spektrofotometer yang digunakan hanya mampu menghasilkan rentang panjang gelombang 100 nm, maka pengukuran dilakukan sebanyak 4 kali, masing-masing pada rentang 260-360 nm, 362-462 nm, 464-564 nm, dan 566-666 nm. Saat pengukuran, dimasukkan larutan standar ke dalam kuvet setebal 1cm yang diisi hingga 2/3 tinggi kuvet. Lalu, kuvet dimasukkan dengan memegang bagian kasarnya, sementara bagian halusnya harus dihindari dari

kotoran ataupun sidik jari. Hal ini dikarenakan, pada bagian halus akan dilewati oleh cahaya. Untuk menghindari kotoran pada bagian halus, dinding kuvet tersebut dilap dengan tisu. Dari pengukuran tersebut, didapatkan bahwa pada panjang gelombang maksimum larutan standar pp dalam suasana asam adalah sebesar 272 nm dengan absorbansi senilai 0,068 , dalam suasana basa panjang gelombang maksimum pada 554 nm dengan absorbansi senilai 0,010, dan dalam suasana netral panjang gelombang maksimum pada 272 nm dengan absorbansi senilai 208. Adanya kesamaan antara panjang gelombang maksimum dalam suasana asam dan netral dikarenakan fenolftalein hanya terurai pada suasana basa, sedangkan pada suasana asam tidak terjadi perubahan molekul sehingga kurva absorbansi yang dihasilkan berhimpit (Depkes RI, 1995). Berdasarkan literatur, panjang gelombang maksimum untuk fenolftalein bentuk tak terionisasi (pH asam dan netral) adalah 275 nm dan pada bentuk terionisasi yang menunjukkan warna magenta (pH basa) maks yang dimiliki 553 nm (Anderson et al., 2007). maks yang didapatkan pada percobaan ini sudah hampir mendekati pada suasana basa. Terdapat perbedaan karena keterbatasan alat dalam membaca absorbansi yang tidak dapat mencantumkan satu persatu panjang gelombang dimana alat hanya dapat membaca pada tiap rentang panjang gelombang 3 nm, sehingga kemungkinan angka 553 nm dimasukkan ke dalam panjang gelombang 554 nm. Hasil absorbansi larutan standar PP pada suasana asam, netral dan basa digambarkan pada kurva dibawah ini : Gambar 1. Kurva absorbansi larutan standar pp

Tahap selanjutnya adalah menentukan titik isosbestik. Titik isosbestik adalah titik dimana kromofornya tidak dipengaruhi oleh pH atau nilai absorbansi dari ketiga suasana larutan PP adalah sama, yaitu 0,004 pada panjang gelombang maksimum 656 nm. Pengukuran titik isosbestik ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan akurasi dari penetapan kadar yang dilakukan pada masingmasing panjang gelombang maksimum dan titik isosbestik. Dari harga absorbansi yang didapat, maka dapat dihitung konsentrasi sampel yang dibuat berdasarkan persamaan Lambert-Beer, dimana terlebih dahulu dihitung absortivitas molar (). Absortivitas molar didapatkan dengan mengukur absorbansi larutan standar dengan konsentrasi yang telah diketahui dan pada maks asam, basa, netral, dan isosbestik. Dari hasil perhitungan didapatkan pada maks asam adalah 2, 355 x 103 cm-1.mol-1.dm3 , pada maks basa didapatkan 3, 464 x 104 cm-1.mol-1.dm3 , pada maks netral adalah 5,284 x

103 cm-1.mol-1.dm3 , dan pada maks isosbestik didapatkan 1, 273 x 102 cm1

.mol-1.dm3. Dengan demikian, didapat konsentrasi sampel pada maks asam

yaitu 2,887 x 10-5 mol/dm3 , pada maks basa yaitu 2,887 x 10-7 mol/dm3, pada maks netral yaitu 3,142 x 10-5 mol/dm3 dan pada titik isosbestik 6,284 x

10-5 mol/dm3. Kemudian ditentukan kadar dari masing-masing sampel, yaitu


pada maks asam sebesar 9,190 g/ml, pada maks basa sebesar 0,092 g/ml , pada maks netral sebesar 100 g/ml dan pada titik isosbestik sebesar 49,98 g/ml . Dari beberapa hal mendasar di atas, maka berikut tabel mengenai panjang gelombang maksimum, absorbansi, absortivitas molar (), dan konsentrasi sampel baik dalam suasana asam, basa dan titik isosbestiknya:

Tabel 1. Perbandingan maks, absorbansi, kosentrasi sampel, dan kadar sampel dalam suasana asam, basa, netral, dan titik isosbestiknya Asam maks Absorbansi (A) Absortivitas molar () 272 nm 0,201 Basa 554 nm 0,010 Netral 272 nm 0,208 Titik Isosbestik 656 nm 0,008

2, 355 x 103 cm-1.mol-1.dm3

3, 464 x 104 cm-1.mol1 .dm3

5,284 x 103 cm-1.mol1 .dm3

1, 273 x 102 cm-1.mol1 .dm3

Konsentrasi sampel (c)

2,887 x 10-5 mol/dm3

2,887 x 10-7 mol/dm3

3,142 x 10-5 mol/dm3

6,284 x 10-5 mol/dm3

Kadar

9,190 g/ml

0,092 g/ml

100 g/ml

20 g/ml

Diketahui konsentrasi kadar sampel sebenarnya adalah 10 g/ml dan dari hasil perhitungan konsentrasi sampel pada pada panjang gelombang maksimum (dalam suasana asam dan basa) dan pada panjang gelombang titik isosbestik, kadar sampel pada suasana asam yang paling mendekati kadar sampel yang telah diketahui yaitu sebesar 9,190 g/ml. Berdasarkan hasil yang diperoleh, didapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang cukup jauh antara kadar sampel sebenarnya dengan kadar sampel yang telah diketahui.

VII. KESIMPULAN

1. Titik isosbestik dari larutan standar PP 10 g/ml berada pada panjang

gelombang 656 nm
2. Konsentrasi sampel pada panjang gelombang titik isosbestik adalah 20

g/ml
3. Kadar sampel pada panjang gelombang maksimum asam adalah 27,16,

g/ml pada panjang gelombang maksimum basa 0,092 g/ml, pada panjang gelombang maksimum netral adalah 100 g/ml dan pada panjang gelombang titik isosbestik 20 g/ml . Dari ketiga penetapan kadar sampel pada masing-masing panjang gelombang maksimum, maka kadar yang paling mendekati kadar sampel sebenarnya yaitu 9,190 g/ml adalah pada panjang gelombang maksimum asam.