Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH PLANKTON TERHADAP BUDIDAYA

Disusun oleh :

Puji Sasmito Handaryono

( 105080500111028 )

BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

I. I.I LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN

Budidaya ikan air tawar telah menjadi sebuah kegiatan agribisnis yang mulai diminati banyak orang. Hingga ikan mas, lele, nila ( mujair ), bawal air tawar, patin ( pangasius ), gurami dan yang sedang trend adalah udang galah ( Andri, 2008 ). Organism berukuran kecil yang hidupnya atau pergerakannya tergantung arus atau yang lebih dikenal dengan nama plankton baik hidupnya sebagai hewan ( zooplankton ) maupun sebagai tumbuh tumbuhan ( phytoplankton ) dapat digunakan sebagai parameter kualitas air, karena plankton sangat peka atau sensitive terhadap perubahan kualitas air akibat adanya pencemaraan. Adanya pencemaraan menyebabkan keanekaragaman spesies menurun. Keanekaragaman spesies yang tinggi menandakan kualitas air tersebut baik atau belum tercemar tetapi sebaliknya keanekaragaman spesies rendah menandakan air sudah tercemar ( Kamarina, 2000 ). Salah satu jenis biota yang sering digunakan untuk keperluan analisis kualitas air adalah plankton. Fitoplankton merupakan microalgae yang hidup bebas di kolom air ( free living algae ) dan berfungsi sebagai sumber oksigen terlarut, pakan alami, serta shading. Fitoplankton merupakan produsen primer di perairan karena kemampuannya melakukan proses fotosintesis yang menghasilkan bahan organic dan oksigen( Ghosal, 2000 dalam Supono et.al, 2008 ).

I.II

TUJUAN PENULISAN Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan memahami tentang peranan plankton yang merupakan pakan alami dalam suatu perairan, dimana sangat dibutuhkan oleh organism ( ikan ) dalam perairan tersebut. Jenis pakan ada tiga, yaitu pakan alami, pakan buatan dan pakan tambahan. Supaya para pembudidaya ikan dapat mengerti tentang pentingnya plankton dalam proses budidaya. Sehingga pada saat panen, ikan yang dipanen melimpah dan berkualitas baik.

II.

PEMBAHASAN

Pakan alami dalam hal ini yaitu fitoplankton dan zooplankton, Kelimpahan plankton yang terdiri dari phytoplankton dan zooplankton sangat diperlukan untuk mengetahui kesuburan suatu perairan yang akan dipergunakan untuk kegiatan budidaya. Plankton sebagai organisme perairan tingkat rendah yang melayang-layang di air dalam waktu yang relatif lama mengikuti pergerakan air. Plankton pada umumnya sangat peka terhadap perubahan lingkungan hidupnya (suhu, pH, salinitas, gerakan air, cahaya matahari dll) baik untuk mempercepat perkembangan atau yang mematikan. Keberadaan plankton terutama dari jenis phytoplankton di dalam ekosistem perairan tambak ataupun kolam air awar mempunyai peran yang sangat besar terhadap kestabilan dan produktifitas perairan yang sangat dibutuhkan oleh organisme yang berada di dalamnya dalam melakukan aktifitas kehidupannya. Peran dan fungsi utama plankton (phytoplankton) di dalam perairan yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan pengelolaan kualitas air antara lain : 1. Phytoplankton merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang terdapat di dalam ekosistem perairan tersebut, sehingga tingkat produktivitasnya akan berpengaruh pada produktifitas perairan; 2. Phytoplankton merupakan salah satu penyuplai oksigen melalui proses fotosintesa dengan bantuan sinar matahari yang dibutuhkan organisme lainnya untuk melakukan respirasi di dalam perairan; 3. Oksigen (O2) yang dihasilkan phytoplankton dapat menekan terjadinya proses kimiawi perairan yang bersifat racun dan membahayakan bagi udang dan organisme lainnya; 4. Phytoplankton merupakan shelter bagi udang yang bersifat nocturnal dan phototaksis negatif. Keberhasilan dalam kultur plankton sebagai pakan alami ikan dalam kolam atau tambak, yaitu dengan cara pemupukan air tambak yang pada

dasarnya merupakan salah satu perlakuan teknis budidaya yang berupa pemberian pupuk organik maupun an organik untuk menyuplai zat-zat yang dibutuhkan phytoplankton di dalam tambak dengan dosis sesuai dengan tingkat keperluan. Kegiatan pemupukan air tambak bertujuan antara lain: 1. Mengatur dan mengontrol tingkat kecerahan air tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang. 2. Mengatur dan mengontrol kestabilan plankton di dalam tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang. 3. Memacu pertumbuhan bibit plankton pada perairan yang sedang diperbaiki kualitasnya. Syarat utama melakukan kegiatan pemupukan air tambak adalah ketersediaan bibit plankton dan adanya sinar matahari. Pemupukan yang dilakukan pada perairan tambak yang tingkat ketersediaan bibit planktonnya sangat minim/tidak ada sama sekali dapat menimbulkan tumbuhnya lumut di dalam tambak atau munculnya kamuflase color yang sangat berpengaruh terhadap kondisi udang atau teknis budidaya. Sinar matahari sangat dibutuhkan dalam kegiatan pemupukan air tambak yaitu untuk membantu proses fotosintesa plankton sehingga suplai unsur-unsur dalam pupuk yang diperairan dapat diserap oleh plankton dan memacu pertumbuhan dan perkembangannya. Berlandaskan pada dasar pemikiran tersebut maka sebaiknya pemupukan air tambak dilakukan pagi hari pada saat cuaca cerah. Pada kondisi cuaca tidak cerah/musim hujan kegiatan pemupukan sebaiknya dilakukan secara rutin dengan dosis yang sesuai agar tidak terjadi mortalitas plankton secara massal yang disebabkan karena curah hujan yang tinggi, sehingga kestabilan perairan tambak akan tetap terjaga dari kondisi collaps. Permasalahan kualitas perairan tambak, kolam secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain: 1. Faktor internal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh kondisi dari dalam perairan tambak itu sendiri. Pada kondisi ini terjadi karena proses-

proses yang berlangsung di dalamnya cenderung tidak terkendali dan tidak dapat dikontrol oleh mekanisme keseimbangan yang bersifat alami. 2. Faktor eksternal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar tambak dan biasanya karena adanya perubahan cuaca. 3. Faktor treatment error, yaitu permasalahan kualitas perairan yang disebabkan oleh kesalahan teknis budidaya yang diterapkan. Kondisi ini terjadi karena pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan pengamatan dan analisis yang cermat sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Setelah menggetahui faktor-faktor serta cara pengkulturan

fitoplankton sebagai pakan alami dalam budidaya ikan dari mulai larva sampai dewasa, karena dengan menggunakan makanan alami yang lebih murah dan mudah cara pengkulturanya. Tingkat permasalahan kualitas air bisa dikatakan memiliki korelasi dengan pengelolaan kualitas perairan yang dilakukan sebelum perairan terkena masalah terutama yang menyangkut tingkat ketelitian pengamatan kondisi perairan dan udang, metode pengelolaan air, treatmen yang telah digunakan, serta jangka waktu penanganan masalah tersebut. Suatu permasalahan kualitas yang tidak teridentifikasi dan terindikasi sejak dini akan memperberat tingkat permasalahan tersebut, karena terjadi akumulasi permasalahan yang semakin berkembang serta dapat menjalar ke permasalahan aspek lainnya. Jika kondisi ini terjadi maka tingkat permasalahan tersebut tidak hanya bertambah berat tapi juga akan semakin rumit dalam proses pengambilan keputusannya. Ada dua jenis fitoplankton yang digunakan pada kegiatan

pembenihan ikan laut di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Bojonegara Serang yaitu Chlorella sp. dan Tetraselmis chuii. Pembudidayaan plankton jenis Chlorella sp. dan Tetraselmis chuii tergantung pada kondisi lingkungan perairannya, serta diperlukan paket teknologi budidaya yang baik. Budidaya plankton berbeda di tiap-tiap Negara sesuai dengan kondisi alamnya, misalnya Indonesia adalah Negara tropis dimana suhu airnya relative sama sepanjang tahun dibandingkan dengan Negara lain termasuk Jepang. Untuk menyediakan makanan dalam jumlah yang cukup, tepat waktu dan berkesinambungan, pengetahuan tentang teknik kultur murni fitoplankton yang

baik mutlak diketahui oleh mereka yang bergerak di bidang usaha perikanan baik dalam skala besar maupun kecil. Mengingat pentingnya pakan alami tersebut sebagai salah satu factor penentu keberhasilan usaha pembenihan ikan dan udang, maka penulis berpendapat sp. dan perlu dilakukan chuii pengamatan intensif kultur untuk fitoplankton Chlorella Tetraselmis secara

memperkaya pengetahuan dalam rangka sumbangsih ilmu pengetahuan di bidang perikanan. Menurut Vashita ( 1979 ) dalam Rostini ( 2007 ), Cholrella termasuk dalam : Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies : Chlorophyta : Chlorophyceae : Chlorococcales : Chlorellaceae : Chlorella : Chlorella sp.

Sel Chlorella berbentuk bulat, hidup soliter, berukuran 2-8 m. dalam sel Chlorella mengandung 50 % protein, lemak serta vitamin A, B, D, E dan K, disamping banyak terdapat pigmen hijau ( klorofil ) yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis ( Sachlan, 1982 dalam Rostini, 2007 ). Sel Chlorella umumnya dijumpai sendiri, kadang kadang bergerombol. Protoplast sel kelilingi oleh membrane yang selektif, sedangkan di luar membrane terdapat dinding yang tebal terdiri dari sellulosa dan pectin. Di dalam sel terapat suatu protoplast yang tipis berbentuk seperti cawan atau lonceng dengan menghadap ke atas. Pineroid pineroid stigma dan vacuola kontraktil tidak ada(Vashista,1979). Warna hijau pada alga ini disebabkan selnya mengandung klorofil a dan b dalam jumlah yang besar, di samping karotin dan xantofil(Volesky, 1970 dalam Rostini, 2007). Chlorella tumbuh pada salinitas 25 ppt. alga tumbuh lambat pada salinitas 15 ppm, dan hampir tidak tumbuh pada salinitas 0 ppm dan 60 ppm. Chlorella tumbuh baik pada suhu 20 0C, tetapi lambat pada suhu 32 0C. Tumbuh sangat baik sekitar 200 230 C ( Hirata, 1981 dalam Rostini, 2007 ). Menurut

Presscott ( 1978 ) dalam Rostini ( 2007 ), Chlorella sp. Berkembang biak dengan membelah diri membentuk autospora. Sedangkan pada waktu membelah diri membentuk autospora, Chlorella sp. Melalui empat fase siklus hidup. Keempat fase tersebut adalah : 1. Fase pertumbuhan ( growth ), periode perkembangan aktif sel massa yaitu autospora tumbuh menjadi besar. 2. Fase pematangan awal ( early revening ), autospora yang telah tumbuh menjadi besar mengadakan persiapan untuk membagi selnya menjadi sel sel baru. 3. Fase pematangan akhir ( late revening ), sel sel yang baru tersebut mengadakan pembelahan menjadi dua. 4. Fase autospora ( autospora liberation ), pada fase ini sel induk akan pecah dan akhirnya terlepas menjadi sel sel baru. Dalam melakukan usaha budidaya ikan baik ekstensif, intensif atau semi intensif. Banyak hal yang harus dilakukan agar usaha dalam melakukan budidaya ikan mendapat hasil yang bias memuaskan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ketika orang melakukan budidaya aspek aspek yang mendukung dalam melakukan budidaya ikan tersebut, yaitu factor internal ataupun eksternal. Salah satu factor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan adalah ketersediaan pakan, dimana penyediaan pakan merupakan factor penting di samping penyediaan pakan. Pemberian pakan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup akan memperkecil persentase larva yang mati. Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang diramu dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki. Organism air ( ikan ) yang dibudidayakan haruslah memenuhi ekosistem yang ada pada tempat tersebut sehingga kelangsungan hidup dapat terjamin dan ikan dapat berkembang dengan semestinya (seperti kondisi di alam). Saat sekarang ini masyarakat cenderung melakukan budidaya dengan

cara seadanya, tidak mementingkan parameter kualitas air yang menjadi media hidup ikan. Ketika media hidup ikan memenuhi semua aspek yang ada maka kemungkinan ikan akan hidup dengan sehat dan berkembang dengan baik. Ketika saat sekarang ini komoditas perikanan tangkap yang semakin lama semakin menurun. Mengakibatkan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pasokan ikan dalam negri melalui budidaya baik tawar, payau, laut ( asin ). Ketika sekarang ini dibutuhkan metode yang dapat menjadikan hasil produksi. Secara keseluruhan zooplankton yang berhasil diidentifikasi pada penelitian ini berjumlah 33 ordo. Pada umumnya komposisi zooplankton terdiri dari Copepoda terutama Calanoida, Cyclopoida dan Nauplius copepoda dengan kepadatan tinggi yaitu lebih dari 50%. Dari kelompok Copepoda ini, Calanoida merupakan yang pre dominan (50%) dengan kelimpahan terbesar 23938 individu/m3 ( 67.73 %). Taksa zooplankton lainnya yaitu, Chaetognata, Polychaeta,Oikopleura, Gastropoda, Bivalva, telur ikan, larva ikan. Ketujuh taksa zooplankton ini umumnya mempunyai prosentase kepadatan yang tinggi (>10%), kecuali Polychaeta tidak ditemukan pada stasiun 9. Kelimpahan zooplankton di perairan gilimanuk mengandung zooplankton dua kali lebih banyak dibandingkan kepulauan Berau dan Selat Malaka. Taksa zooplankton predominan ( >10%) yang diperoleh dari pengamatan ini ternyata lebih variatif sebagai zooplankton predominan selama 20 tahun [18]. Hal ini mempertegas bahwa kandungan zooplankton di perairan Gilimanuk lebih padat dibandingkan di bagian tenggara Selat Malaka. Perkembangan persentase dan kelimpahan Copepoda yang selalu mendominasi di seluruh perairan. Copepoda yang selalu merupakan komponen utama zooplankton predominan, mengindikasikan bahwa perairan ini cukup potensial untuk mendukung kehidupan biota laut pelagis. Hal ini didukung oleh penelitian para pakar, yang menyatakan bahwa ikan-ikan pelagis seperti teri, kembung, lemuru, tembang dan bahkan cakalang berprefensi sebagai pemangsa Copepoda dan larva decapoda. Kelompok Copepoda harus disadari bahwa di dalam lingkungan yang kondisinya normal, bergerombolnya biota laut hampir selalu berkaitan erat dengan banyaknya mangsa pakan di suatu perairan.

III.

KESIMPULAN

Dari penulisan di atas, dapat disimpulkan bahwa: Plankton adalah organism berukuran kecil yang hidupnya atau pergerakannya tergantung arus. Jenis plankton ada dua, yaitu plankton yang bersifat tumbuhan (fitoplankton) dan plankton yang bersifat hewan ( zooplankton ). Plankton merupakan organism air yang biasa digunakan untuk mengetahui parameter kualitas air, karena plankton sensitive terhadap perubahan air yang tidak baik ( buruk ). Plankton berfungsi sebagai: Sebagai produsen primer. Penghasil oksigen. Makanan alami. Penahan sinar matahari. Dapat menyerap senyawa beracun. Menghambat perkembangan bakteri vibrio. Merupakan indicator kualitas air. Plankton merupakan pakan alami yang baik untuk organism air ( ikan ) pada suatu perairan.

Permasalahan dapat

kualitas oleh

perairan beberapa

tambak, kolam secara garis besar disebabkan faktor, yaitu antara lain: Faktor internal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh kondisi dari dalam perairan tambak itu sendiri. Pada kondisi ini terjadi karena proses-proses yang berlangsung di dalamnya cenderung tidak terkendali dan tidak dapat dikontrol oleh mekanisme keseimbangan yang bersifat alami. Faktor eksternal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar tambak dan biasanya karena adanya perubahan cuaca. Faktor treatment error, yaitu permasalahan kualitas perairan yang disebabkan oleh kesalahan teknis budidaya yang diterapkan. Kondisi ini terjadi karena pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan pengamatan dan analisis yang cermat sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan

DAFTAR PUSTAKA Andri, Hikmah. 2008. Forum Kerjasama Agribisnis. http://foragri.blogsome.com. Diakses pada hari Senin, 31 Oktober 2011. Kamarina, Woro.2000. pengaruh Kualitas Air Sungai Terhadap Indeks

Keanekaragaman Plankton Disungai Bengawan Solo Surakarta Tahun 2000. http://www.fkm.undip.ac.id. Diakses pada hari Senin, 31 Oktober 2011. Rostini, Iis. 2007. Kultur Fitoplankton ( Chlorella sp. dan Tetraselmis chuii ) Pada Skala Laboratorium. http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/KULTUR %20FITOPLANKTON.PDF. Diakses pada hari Senin, 31 Oktober 2011. Supono et.al, 2008. Analisis Diatom Epipelic Sebagai Indiktor Kualitas Lingkungan Tambak Untuk Budidaya Diakses Udang. pada http://eprints.undip.ac.id/18694/1/Supono.pdf. hari Senin, 31 Oktober 2011.