P. 1
MODEL PELAKSANAAN ESD MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

MODEL PELAKSANAAN ESD MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

|Views: 136|Likes:
Dipublikasikan oleh Iwan Sukma Nuricht
Oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan
Balitbang Depdiknas
Sumber alamat : http://litbang.kemdikbud.go.id/sekretariat/content/ESD2009%20-%20Model%20EXTRA%20isbn.pdf
Oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan
Balitbang Depdiknas
Sumber alamat : http://litbang.kemdikbud.go.id/sekretariat/content/ESD2009%20-%20Model%20EXTRA%20isbn.pdf

More info:

Published by: Iwan Sukma Nuricht on Apr 10, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2015

pdf

text

original

Pembentukan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif melalui Implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for

Sustainable Development/ESD)

MODEL PELAKSANAAN ESD
MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan
Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, 2009

i

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional Pengkajian Pembentukan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif: Pengembangan Model Pembentukan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif melalui Implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) - Model Pelaksanaan ESD melalui Kegiatan Ekstrakurikulerr. - Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Depdiknas, 2009 vi, 34h ISBN : 978-602-8613-05-7
1. Pendidikan 2. Pembangunan Berkelanjutan 3. Insan Cerdas Komprehensif dan Kompetitif 4. Model Kegiatan Ekstrakurikuler I. Judul II. Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Depdiknas III. Seri Pengembangan Model Tim Penyusun : 1. 2. 3. 4. 5. Drs. Philip Suprastowo, APU Dra. Karmidah, M.Si Dr. Sabar Budiraharjo, M. .Pd Teguh Supriyadi, S.Si., M.Si Dra. Asri Ika Dwi Martini 6. 7. 8. 9. Nur Listiawati, SS., M.Ed Dra. Etty Sisdiana Sudiyono, S.Pd Drs. Iskandar Agung, M.Si

Penyunting

:

Prof. Dr. Zaenal Arifin Prof. Dr. Nadiroh Drs. Mahdiansyah, MA

Desain Sampul dan Tata Letak : Anugrah Sukma

PERNYATAAN HAK CIPTA

© Puslitjaknov/Copyright @ 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-undang. Diperbolehkan mengutip dengan menyebut sumber.
Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Depdiknas Kompleks Depdiknas, Gedung E Lt-19 Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 12401 Telp. 021-5736365, Faks. 021-5741664 Website: puslitjaknov.org e-mail: puslitjaknov@yahoo.com

Pembentukan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif melalui Implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD)

MODEL PELAKSANAAN ESD MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, 2009

ii

Balitbang, Depdiknas

PENGANTAR
Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dalam sidang umum pada sesi ke 57 tahun 2002 mendeklarasikan periode 2005-2014 sebagai dekade pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Decade of Education for Sustainable Development/DESD). Tujuan DESD adalah untuk mengintegrasikan prinsipprinsip, nilai, dan praktek pembangunan berkelanjutan ke dalam semua aspek pendidikan dan pembelajaran. Upaya ini diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan sikap yang dapat menciptakan masa depan yang berkelanjutan dalam konteks integritas lingkungan, pembangunan ekonomi, komunitas yang adil bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Berdasarkan konteks tersebut pada tahun 2009 Puslitjaknov Balitbang Depdiknas melakukan kegiatan tentang „Pengkajian Pembentukan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif berupa Pengembangan Model Pembentukan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif melalui Implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD)‟. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menemukan suatu model yang dapat digunakan sebagai acuan guna mengimplementasikan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Secara spesifik model tersebut meliputi: (1) Model Strategi Nasional Pelaksanaan ESD, (2) Model Pelaksanaan ESD melalui Kegiatan Intrakurikuler, dan (3) Model Pelaksanaan ESD melalui Kegiatan Ekstrakurikuler. Buku ini merupakan Model Pelaksanaan ESD melalui Kegiatan Ekstrakurikuler yang diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas tentang implementasi pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di tingkat satuan pendidikan. Model tersebut juga dapat dijadikan acuan bagi pemerintah (Depdiknas), pemerintah daerah (dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kabupaten/kota), kepala sekolah, dan guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan tersebut. Model ini telah divalidasi di beberapa kota/kabupaten dengan melibatkan dinas pendidikan, kepala sekolah dan para guru, serta diseminarkan di lingkungan Depdiknas secara terbatas. Kami berharap model ini dapat ditindaklanjuti serta didayagunakan oleh para pengambil kebijakan dan para pelaksana di lapangan dalam mengimplementasikan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Jakarta, November 2009 Kepala Puslitjaknov

Burhanuddin Tola, Ph.D. NIP: 19510818 198112 1 001

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

iii

iv

Balitbang, Depdiknas

DAFTAR ISI
PENGANTAR ................................................................................... iii DAFTAR ISI ..................................................................................... v Bab I PENDAHULUAN ........................................................................ 1 A. Latar Belakang ........................................................................... 1 B. Tujuan ..................................................................................... 2 C. Ruang Lingkup ............................................................................ 3 D. Pengguna .................................................................................. 3 Bab II LANDASAN HUKUM DAN HAKEKAT ESD .......................................... 5

A. Landasan Hukum ......................................................................... 5 n Hambata B. Hakekat ESD .............................................................................. 6 C. Pengertian Kecerdasan Komprehensif dan Kompetitif ............................. 14 Bab III PELAKSANAAN ESD MELALUI EKSTRAKURIKULER ............................. 15 A. Model ESD ................................................................................. 15 B. Pelaksanaan Ekstrakurikuler ............................................................ 16 C. Komponen dalam Implementasi ESD melalui Kegiatan Ekstrakurikuler ............................................................................ 18 D. Operasionalisasi ESD ...................................................................... 20 Bab IV PRINSIP DAN IMPLIKASI ........................................................... 33 33 A. Prinsip ..................................................................................... 33 B. Implikasi .................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 35

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

v

vi

Balitbang, Depdiknas

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

K

onferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang ”Lingkungan Hidup Manusia (The Human Environment)” di Stockholm, Swedia, 1972, menjadi awal penggerak untuk memfokuskan perhatian pada masalah lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan akan berdampak terhadap rusaknya ekosistem, dan menimbulkan bencana alam yang dapat mengganggu keberlangsungan kehidupan makhluk di dunia. Sejak tahun 1980-an berkembang konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yakni “pembangunan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup generasi sekarang tanpa harus mengesampingkan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka”. Konsep tersebut merupakan respons terhadap pentingnya merealisasikan keseimbangan kemajuan ekonomi dan sosial dengan menaruh perhatian pada lingkungan dan pelestarian sumber daya alam. Sidang umum PBB sesi ke 57 pada tahun 2002 mendeklarasikan periode 2005-2014 sebagai dekade pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Decade of Education for Sustainable Development/DESD). Tujuan umum dari DESD adalah untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip, nilai, dan praktek pembangunan berkelanjutan ke dalam semua aspek pendidikan dan pembelajaran. Upaya pendidikan ini bertujuan mendorong terjadinya perubahan kesadaran dan sikap untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dalam konteks integritas lingkungan, keberlanjutan pembangunan ekonomi, komunitas yang adil bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. UNESCO sebagai badan PBB ditunjuk untuk memandu dan mengembangkan standard kualitas dalam pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD). Esensi pembangunan berkelanjutan adalah keselarasan hubungan sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini, manusia merupakan pusat dari pembangunan berkelanjutan, karenanya penting untuk menanamkan nilai-nilai yang mendorong terciptanya masa depan yang lebih berkelanjutan. Nilai-nilai dimaksud, antara lain adalah: (1) menghargai nilai-

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

1

nilai dan hak-hak semua manusia di seluruh planet bumi dan komitmen terhadap keadilan sosial dan ekonomi bagi semua, (2) menghargai hak-hak azasi manusia generasi mendatang dan komitmen terhadap tanggungjawab antargenerasi, (3) menghargai dan peduli pada kehidupan komunitas dengan keanekaragamannya yang mencakup perlindungan dan perbaikan terhadap ekosistem planet bumi, dan (4) menghargai keanekaragaman budaya dan komitmen untuk membangun toleransi budaya lokal dan global, perdamaian, dan non-violence. Upaya merealisasikan pembangunan berkelanjutan dapat ditempuh melalui pendidikan, yakni sebagai usaha sadar atau disengaja dan terencana untuk mentransformasikan nilai-nilai ESD kepada peserta didik. Tujuannya adalah agar peserta didik berkembang ke arah pembentukan insan cerdas komprehensif dan kompetitif yang berwawasan nilai-nilai ESD, baik dalam konteks kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spritual, kecerdasan sosial, dan kecerdasan kinestetik. Penerapan ESD di Indonesia belum dilaksanakan secara optimal. Hal ini tercermin dari hasil evaluasi ESD Balitbang tahun 2008, antara lain: 1. Banyak kepala sekolah dan guru belum memahami sepenuhnya tentang ESD, baik secara konsep, tujuan, kebijakan, program. Hal tersebut berkonsekuensi logis terhadap penerapan ESD kepada peserta didik baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. 2. Belum ada kebijakan yang eksplisit tentang ESD yang dapat dijadikan acuan untuk menyusun program dan penerapannya di tingkat satuan pendidikan. 3. Belum ada acuan tentang implementasi ESD di sekolah khususnya bagi pembina dalam melaksanakan pembimbingan kegiatan ekstrakurikuler. Atas dasar itu masih dinilai perlu adanya pemikiran dan langkah-langkah yang sistematis untuk menerapkan nilai-nilai ESD ke dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional sebagai upaya mencapai tujuan pendidikan nasional, yakni membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif. Oleh karena itu perlu adanya sebuah model implementasi nilainilai ESD ke dalam kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru pembina/pembimbing dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Model tersebut diharapkan dapat menjawab hal-hal tentang: (1) landasan hukum dan hakekat ESD, serta Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif, (2) penerapan nilai-nilai ESD ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta (3) prinsip dan implikasi model pelaksanaan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler.

B. Tujuan
Secara umum model ini bertujuan untuk memberikan acuan dasar bagi pembina/pendamping kegiatan ekstrakurikuler dalam mengimplementasikan ESD yang mencakup hal-hal berikut:

2

Balitbang, Depdiknas

1. 2.

3.

Landasan hukum dan hakekat ESD, serta Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif. Penerapan nilai-nilai ESD ke dalam kegiatan ekstrakurikuler yang meliputi: (a) kompetensi, (b) pembina/pendamping, (c) program kegiatan, (d) sarana prasarana, (e) pengelolaan, (f) pendanaan, (g) penilaian, dan (h) pengawasan. Gambaran tentang prinsip dan implikasi model pelaksanaan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler.

C. Ruang Lingkup
1. Penerapan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler diperuntukkan pada satuan pendidikan SD/MI; 2. Model pelaksanaan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler dapat diterapkan pada semua kegiatan ekstrakurikuler namun pada pengembangan ini dibatasi pada Kepramukaan, Olahraga, serta Seni dan budaya

D. Pengguna
1. Pimpinan Pemerintah Daerah, terutama Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota; serta Kanwil Depag Provinsi dan Kandep Depag Kota/Kabubaten. 2. Kwartir pramuka dari tingkat nasional, daerah, dan tingkat sekolah. 3. Kepala sekolah/madrasah. 4. Komite sekolah/madrasah. 5. Pembina/pembimbing kegiatan ekstrakurikuler.

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

3

4

Balitbang, Depdiknas

BAB II

LANDASAN HUKUM DAN HAKEKAT ESD
A. Landasan Hukum
1. UUD 1945

P

embukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. 2. UU Nomor (pasal 3) 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 3. Renstra Depdiknas 2005-2009 Pembentukan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif sesuai dengan yang diamanatkan pada Renstra Depdiknas Tahun 2005-2009 yang tertera pada bab II Dasar Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional pada bagian Visi Departemen Pendidikan Nasional. Insan Indonesia cerdas komprehensif dan kompetitif merupakan suatu target dari visi pendidikan nasional yaitu ”terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia sehingga berkembang menjadi manusia yang berkualitas dan mampu serta proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah”. Insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif, yang meliputi cerdas spiritual, cerdas emosional dan sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

5

4. UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025; … untuk mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan adil; sumber daya alam dan lingkungan hidup harus dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. 5. UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pasal 1 ayat 3) Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; 6. UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. 7. PP 19 SNP 2005 (pasal 5 –18, pasal 25,26,27) Delapan standar pendidikan, yakni: (1) Isi, pasal 6, 7, 17 (2) Proses, pasal 19, (3) Kompetensi lulusan, (4) Pendidik dan tenaga kependidikan, pasal 28 (5) Sarana dan prasarana, (6) Pengelolaan, (7) Pembiayaan, dan (8) Penilaian pendidikan. Kedelapan standar tersebut memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan yang memungkinkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya.

B.

Hakekat ESD
1. Pengertian ESD ESD adalah upaya yang luas dan sepanjang hayat yang menantang setiap individu, lembaga dan komunitas untuk memandang hari esok sebagai hari bagi kita semua. ESD merupakan konsep dinamis yang mencakup sebuah visi baru pendidikan yang mengusahakan pemberdayaan orang segala usia untuk turut bertanggungjawab dalam menciptakan sebuah masa depan berkelanjutan. ESD berurusan dengan upaya mengubah perilaku dan gaya hidup kita bagi transformasi masyarakat yang positif12. Dalam hal ini perlu dikembangkan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan sehingga dapat mengubah perilaku dan gaya hidup

12

http://www. UNESCObkk.org/index. php?id =3808

6

Balitbang, Depdiknas

kita bagi transformasi masyarakat yang positif. Nilai-nilai pembangunan berkelanjutan dimaksud adalah sebagai berikut. a. Menghargai nilai-nilai dan hak-hak semua manusia diseluruh planet bumi dan komitment terhadap keadilan sosial dan ekonomi bagi semua. b. Menghargai hak-hak azasi manusia generasi mendatang dan komitmen terhadap tanggungjawab antar-generasi. c. Menghargai dan peduli pada kehidupan komunitas dengan keanekaragamannya yang mencakup perlindungan dan perbaikan terhadap ekosistem planet bumi. d. Menghargai keanekargaman budaya dan komitmen untuk membangun toleransi budaya lokal dan global, perdamain dan nonviolence. Tujuan umum dari dekade ESD adalah untuk mengintegrasikan prinsipprinsip, nilai, dan praktek pembangunan berkelanjutan kedalam semua aspek pendidikan dan pembelajaran. Upaya kependidikan ini akan mendorong terjadinya perubahan sikap yang mendorong terciptanya masa depan yang lebih berkelanjutan dalam konteks integritas lingkungan, keberlanjutan pembangunan ekonomi, komunitas yang adil bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. ESD adalah berlaku untuk setiap orang, dan pada setiap tahapan kehidupan dimana masing-masing orang menemukan diri mereka. Oleh karena itu, ESD berlaku dalam sebuah perspektif belajar sepanjang hidup, mencakup semua semua ruang lingkup belajar yang memungkinkan, baik formal, non-formal dan informal, serta dimulai dari usia dini hingga dewasa. ESD menuntut reorientasi pendekatanpendekatan pendidikan-struktur dan isi kurikulum, pedagogi dan sistem ujian. Ruang lingkup belajar mencakup belajar secara non-formal, organsisasi-organisasi berbasis masyarakat dan masyarakat lokal, tempat kerja, pendidikan formal, pelatihan teknis dan kejuruan, pelatihan guru, pendidikan tinggi, badan-badan pengambil keputusan, dan sebagainya13. ESD harus mendemonstrasikan hal-hal sebagai berikut14. a. Lintas Disiplin dan Holistik/Menyeluruh; belajar untuk pembangunan berkelanjutan harus tercakup didalam semua kurikulum, bukan sebagai subjek yang terpisah. b. Nilai Pendorong; penting bahwa norma-norma, nilai-nilai, dan prinsipprinsip yang dimiliki bersama dapat menopang pembangunan berkelanjutan harus dibuat seeksplisit mungkin sehingga dapat diukur, diuji, diperdebatkan dan diaplikasikan.

13

http://www.yplhc.org/krgka_implementasi_int.php. Kerangka Implementasi Internasional (DESD) 14 http://www.yplhc.org/konsep_desd.php

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

7

c. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah; menuntun pada kepercayaan dan keyakinan untuk mengatasi dilema dan kebingungan serta tantangan dalam pembangunan berkelanjutan. d. Multi-Metode; puisi, drama, debat, pengalaman dan lain-lain, adalah pedagogi-pedagodi yang berbeda yang menjadi model proses-proses dalam ESD. Pengajaran yang hanya mengtransfer pengertahuan sudah seharusnya diganti dengan pendekatan dimana para guru dan murid bekerja bersama untuk mencari pengetahuan dan memainkan peranan penting dalam membangun lingkungan dalam institusi pendidikan mereka. e. Pengambilan Keputusan secara Partisipatif; murid berpartisipasi dalam pengamblilan keputusan tentang bagaimana mereka harus belajar. f. Aplikabel (dapat diterapkan); pengalaman belajar menawarkan terintegrasinya kehidupan personal dan profesional dari hari ke hari. g. Relevan secara Lokal; menggumuli masalah dan isu baik lokal maupun global, dan menggunakan bahasa yang digunakan oleh murid. Konsepkonsep pembangunan berkelanjutan harus secara hati-hati diekspresikan dalam bahasa yang lain- karena pada kenyataannya masing-masing bahasa dan budaya mengekspresikan hal-hal secara berbeda-beda, dan setiap bahasa memiliki cara-cara kreatif dalam mengekspresikan konsep-konsep. UNESCO dalam publikasinya (http://www. UNESCObkk.org/ index.php.id=3808) mengidentifikasi tujuh kelompok pemangku kepentingan yang dapat melaksanakan ESD, yakni: pemerintah dan Komisi Nasional UNESCO, masyarakat, sektor swasta, lembaga pendidikan formal, masyarakat adab (civil society), media, dan lembaga internasional. Pemerintah adalah penggerak utama karena ia melaksanakan perundang-undangan dan kebijakan bangsa. Komisi-Komisi Nasional UNESCO merupakan lembaga utama di tingkat nasional. KomisiKomisi itu, umumnya berpusat di kementerian pendidikan suatu negara, mempunyai peran yang diperlukan, yaitu mereka melakukan kerja koordinasi dengan lembaga pemerintah dan nonpemerintah lain dan menyiapkan mekanisme untuk kegiatan-kegiatan ESD. Masyarakat merupakan sasaran yang harus dijangkau ESD. Unsur masyarakat seperti kaum perempuan, muda, dan kelompok beragama adalah tempat ESD ditanamkan dan disemaikan. ESD harus diakarkan di masyarakat lokal karena dampak pembangunan berkelanjutan dan pembangunan tidak berkelanjutan dirasakan langsung di tingkat lokal. Sektor swasta merupakan mesin pertumbuhan yang memiliki tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/ CSR) yang memainkan peran penting dalam menyertakan sumber daya profesional dan keuangan untuk mendukung ESD. Lembaga pendidikan berpotensi dalam menyebarkan ESD kepada peserta

8

Balitbang, Depdiknas

didik di segenap jenjang pendidikan. Namun penyebaran ESD melalui jalur pendidikan hendaknya jangan dijadikan sebagai satu mata pelajaran tersendiri, sebaliknya diintegrasikan dalam semua mata ajaran. Organisasi non-pemerintah berperan dalam mengadvokasikan dan mengkampanyekan nilai ESD kepada warga masyarakat. Sementara itu dukungan media memiliki peran penting untuk mengkomunikasikan pesan ESD kepada masyarakat secara meluas. Dengan demikian diharapkan membangun kesadaran, pemahaman, dan tanggung jawab sosial warga masyarakat dalam mengembangkan kehidupan yang sesuai dengan jiwa dan semangat ESD. Lembagalembaga internasional berfungsi memperluas kerjasama dalam ESD pada tingkat kawasan dan global, terutama dalam mempengaruhi arah politik penyebaran ESD di setiap Negara. Berdasarkan uraian di atas ESD dirumuskan sebagai pendidikan yang bermakna, berfungsi dan bertujuan untuk: (1) pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup generasi sekarang tanpa harus mengesampingkan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, (2) meningkatkan mutu hidup manusia dengan tetap hidup di dalam daya dukung ekosistem, dan (3) menguntungkan bagi semua makhluk di bumi (manusia dan ekosistem) pada masa kini maupun di masa yang akan datang. Dengan demikian nilai-nilai ESD dapat menjadi “roh pendidikan”. 2. Komponen ESD Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga perspektif penting, yakni sosial-budaya, lingkungan, dan ekonomi15. Perspektif Sosial-Budaya merupakan sebuah pemahaman terhadap institusi sosial dan peran manusia dalam perubahan dan pembangunan. Sama halnya dengan sistem demokrasi dan partisipasi yang memberikan peluang untuk mengemukakan pendapat, memilih pemerintahan, mengembangkan kesepakatan dan menyadari adanya perbedaan. Perspektif Lingkungan merupakan suatu kesadaran terhadap sumbersumber daya alam, lingkungan hidup fisik yang sensitif, dampak aktifitas manusia, dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan komitmen untuk menciptakan kebijakan pembangunan sosial dan ekonomi.

15

UNESCO, UNESCO and Sustainable Development, 2005

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

9

Perspektif Ekonomi merupakan kepekaan terhadap keterbatasan dan potensi pertumbuhan ekonomi serta dampaknya terhadap masyarakat maupun lingkungan, dikaitkan dengan komitmen untuk mengevaluasi tingkat konsumsi individu dan masyarakat sebagai bentuk keprihatinan terhadap lingkungan serta keadilan sosial. Ketiga perspektif tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan (gambar 1). Ini berarti dalam melakukan pembangunan berkelanjutan tidak bisa mempertimbangkan satu aspek saja, seperti aspek ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan aspek lainnya seperti aspek sosial-budaya dan lingkungan.
BERKELANJUTAN

SOSIAL BUDAYA Dapat ditanggung Adil

Layak

LINGKUNGAN

EKONOMI ONOMI
a

Gambar 1. Skema pembangunan berkelanjutan pada titik temu tiga pilar (Sumber: Hagan Foundation Center for the Humanities/http://www.scc.spokane.edu/?hfchsustain)

Ketiga perspektif tersebut di atas terdiri dari 15 komponen. Ke-15 komponen disajikan dalam tabel berikut. Tabel 1. Komponen ESD untuk masing-masing perspektif16
Sosial-Budaya Lingkungan 8. 9. 10. Sumber Daya Alam Perubahan cuaca Ekonomi 13. Pengurangan kemiskinan 14. Tanggung jawab perusahaan (CSR) 15. Ekonomi pasar

1. Hak Azasi Manusia 2. Keamanan 3. Kesetaraan gender
4. Keragaman budaya dan pemahaman lintas budaya 5. Kesehatan 6. HIV/AIDS 7. Tata Kelola

Pembangunan perdesaan 11. Urbanisasi berkelanjutan Pencegahan dan penanganan bencana

12.

16

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan#cite_note-0

10

Balitbang, Depdiknas

Ke-15 komponen dari tiga perspektif ESD (Sosial-Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi) tersebut masih belum cukup operasional untuk kepentingan implementasinya dalam pembelajaran di tingkat satuan pendidikan. Untuk kepentingan kegiatan di satuan pendidikan, masih perlu dijabarkan lebih lanjut. Tabel-2 di bawah ini merupakan salah satu contoh penjabaran dimaksud yang didapatkan dengan cara mengidentifikasi dan mengkategorisasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) untuk mata pelajaran tingkat SD.

Tabel 2. Aspek-Aspek Dalam Tiga Perspektif ESD No
1 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3 1.1.4 1.1.5 1.1.6 1.1.7 1.1.8 1.1.9 1.1.10 1.2 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.3 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 1.3.5 1.3.6 1.3.7 1.3.8

Aspek-Aspek dalam Tiga Perspektif ESD
Perspektif Sosial Budaya Hak Azasi Manusia Hak untuk hidup Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan Hak untuk mengembangkan diri Hak atas kebebasan pribadi Hak atas rasa aman Hak memperoleh keadilan Hak turut serta dalam pemerintahan Hak atas kesejahteraan Hak wanita Hak anak Keamanan Hidup rukun, damai, kasih sayang, dan tolong menolong dalam keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa, dan dunia Hidup saling bertoleransi Bersikap sportif, objektif, dan menjadi suri tauladan Rendah hati, santun, dan saling menghargai Jujur, tanggung jawab Persatuan dan kesatuan bangsa (NKRI) Kesetaraan Gender Kesadaran terhadap orientasi seksual dan Relasi yang setara antara Laki-laki dan perempuan Persamaan hak atas pendidikan dan kesehatan Persamaan hak mendapatkan pekerjaan/jabatan Persamaan hak terhadap hukum Persamaan hak terhadap agama Persamaan hak untuk bernegara Peran serta/partisipasi termasuk mengutarakan aspirasi, pendapat (memperjuangkan kodrat) Persamaan hak terhadap reproduksi

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

11

No
1.4 1.4.1 1.4.2 1.4.3 1.4.4 1.4.5 1.4.6 1.5 1.5.1 1.5.2 1.6 1.6.1 1.6.2 1.6.3 1.7 1.7.1 1.7.2 1.7.3 1.7.4 1.7.5 1.7.6 1.7.7 2 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.2 2.2.1

Aspek-Aspek dalam Tiga Perspektif ESD
Keragaman Budaya dan Pemahaman Lintas Budaya Menghargai perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan dan budaya Rukun dalam kemajemukan (kebhinekaan) dan menghargai ciri khas budaya lokal Kerjasama dan toleransi antar suku, agama, ras, dan antar golongan dan budaya Memberikan kesempatan dan peluang dalam pengembangan kebudayaan suku bangsa Menghargai/ apresiasi terhadap keberagaman karya seni tari, lukis, teater, patung, suara dan musik Menghargai keberagaman nilai-nilai, norma, aturan, dan budaya setempat. Kesehatan Kesadaran diri untuk hidup bersih, sehat jiwa dan raga (pengetahuan, sikap, dan perilaku) Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar HIV/AIDS Pemahaman tentang HIV (termasuk penyebabnya) Kesadaran diri tentang bahaya HIV Cara penanggulangan HIV Tata Kelola Musyawarah dan mufakat dalam mengambil keputusan Pelayanan kehidupan publik (pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, transportasi dsb.) Mengenal aturan-aturan yang berlaku dalam pemerintahan (desa, kecamatan, kab/kota, propinsi dan nasional) serta sanksi bagi yang melanggar. Mengenal strukrur dan lembaga pemerintahan (desa, kecamatan, kab/kota, propinsi dan nasional) Menjaga keutuhan NKRI Akuntabilitas publik (pelayanan, pertanggungjawaban, dan penyalahgunaan wewenang, misal korupsi) Kerjasama antarnegara (dalam cakupan ASEAN, ASIA, ASIA PASIFIK dll) Lingkungan Sumber Daya Alam Pelestarian, konservasi, rehabilitasi (reboisasi) SDA Pengelolaan, pemanfaatan (pendayagunaan) SDA Eksplorasi dan eksploitasi SDA Perubahan Cuaca Pengetahuan perubahan suhu, kelembaban, angin, dan pola Balitbang, Depdiknas

12

No
2.2.2 2.2.3

Aspek-Aspek dalam Tiga Perspektif ESD
curah hujan Penyebab perubahan suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan Dampak perubahan suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan terhadap kehidupan manusia, binatang, tumbuhtumbuhan, dan alam semesta Pembangunan Perdesaan Perubahan potensi SDA daerah Perubahan mata pencaharian Perubahan peta daerah Perubahan sistem pemerintahan (otonomi) Urbanisasi Berkelanjutan Terbatasnya mata pencaharian di desa Pembangunan yang tidak merata Keamanan hidup Dampak urbanisasi (SDM di desa berkurang, mempengaruhi tata kota, keamanan/kriminalitas meningkat, kerusakan lingkungan) Pencegahan dan Penanganan Bencana Macam-macam bencana alam Cara mencegah bencana alam Penyelamatan diri Empati terhadap korban bencana Ekonomi Pengurangan Kemiskinan Etos kerja Penciptaan lapangan kerja Pemberdayaan masyarakat Usaha Masyarakat Kelompok Mandiri (UMKM) Koperasi dan usaha rakyat lain Pemberian bantuan masal dari pemerintah (BLT, setelah bekerja) Tanggung Jawab Perusahaan (CSR) Pemberdayaan masyarakat Mendorong kemandirian masyarakat Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan masyarakat Meningkatkan kesehatan Pengurangan kemiskinan Ekonomi Pasar Harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan

2.3 2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.4 2.4.1 2.4.2 2.4.3 2.4.4

2.5 2.5.1 2.5.2 2.5.3 2.5.4 3 3.1 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.1.6 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.2.5 3.3 3.3.1

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

13

No
3.3.2 3.3.3 3.3.4 3.3.5 3.3.6

Aspek-Aspek dalam Tiga Perspektif ESD
Kemampuan menguasai jaringan pasar Kompetensi mutu produk Kemampuan negosiasi dan diplomasi Kewirausahaan Penguasaan ICT

C. Pengertian Kecerdasan Komprehensif dan Kompetitif
Kecerdasan merupakan kondisi dan proses berpikir yang mengindikasikan makna kesempurnaan, perkembangan akal budi, dan kesempurnaan pertumbuhan (sehat, kuat). Howard Gardner mengkategorikan adanya Sembilan kecerdasan yakni: (1) linguistik, (2) logis-matematis, (3) spasial, (4) kinestetik-jasmani, (5) musikal (6) interpersonal, (7) intrapersonal, (8) naturalis, dan (9) eksistensialis. Renstra Depdiknas dalam menetapkan tujuan pendidikan nasional mengacu pada pembentukan insan cerdas komprehensif dan kompetitif. Makna Kecerdasan komprehensif meliputi: (1) cerdas intelektual, (2) cerdas spiritual, (3) cerdas emosional dan sosial, dan (4) cerdas kinestetis. Kecerdasan intelektual merupakan aktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif, dan imajinatif. Sementara kecerdasan spiritual merupakan aktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul. Kecerdasan emosional dan sosial dimaknai sebagai aktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasi akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya, dan aktualisasi diri melalui interaksi sosial yang membina dan memupuk hubungan timbal balik, demokratis, empatik dan simpatik, ceria dan percaya diri, menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara, serta berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara, sedangkan Kecerdasan Kinestetis diartikan sebagai aktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, berdaya tahan, sigap, terampil, dan trengginas, dan aktualisasi insan adiraga. Makna kompetitif adalah upaya pembentukan insan yang berkepribadian unggul dan „gandrung‟ akan keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, pembangun dan pembina jejaring, bersahabat dengan perubahan, inovatif dan menjadi agen perubahan, produktif, sadar mutu, berorientasi global, dan pembelajar sepanjang hayat.

14

Balitbang, Depdiknas

BAB III

PELAKSANAAN ESD MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER
A. Model ESD

P

engimplementasian nilai-nilai Education for Sustainable Development (ESD) tidak berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran atau materi kegiatan ekstrakurikuler tetapi terintegrasi ke dalam materi pembinaan/bimbingan yang ada. Umumnya pembina/pembimbing kegiatan ekstrakurikuler dalam melaksanakan pembinaan belum memahami tentang konsep dan komponen-komponen ESD, oleh karena itu perlu disusun model yang dapat dijadikan acuan bagi pembina/pembimbing untuk menyampaikan nilai-nilai ESD dalam proses pembinaan. Model tersebut dapat digambarkan seperti yang terlihat pada Gambar 2.
SEKOLAH
Visi sekolah sebagai Pusat Pendidikan dan Pembudayaan Peserta didik

EKSTRAKURIKULER
Komponen dalam kegiatan: 1.Kompetensi 2.Pembina/Pembimbing 3.Program Kegiatan 4.Sarana Prasarana

5.Pengelolaan 6.Pendanaan 7.Penilaian 8.Pengawasan

Jenis Kegiatan
Jenis Kegiatan Kepramukaan Olahraga Seni dan budaya Perspektif ESD Lingkungan Sosbud Ekonomi Cerdas Komprehensif dan Kompetitif

Gambar 2. Model Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler Berwawasan ESD

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

15

Diagram pada Gambar 2 dapat dijelaskan sebagai berikut. Tiga lingkaran pada gambar adalah tiga perspektif ESD yang meliputi Lingkungan, Sosial budaya, dan Ekonomi. Jika nilai-nilai ESD pada komponen-komponen dalam ketiga perspektif dilaksanakan, maka akan tercapai apa yang disebut pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Sementara itu jika nilai-nilai ESD pada komponen dalam perspektif Sosial Budaya dan Lingkungan sudah dilaksanakan maka terjadi keselarasan antara lingkungan dan sosial budaya, di mana lingkungan dapat memenuhi atau menanggung (bearable) kebutuhan masyarakat, dan masyarakat memelihara dan mempergunakan sumber daya alam secara tidak berlebihan. Jika nilai-nilai ESD pada komponen perspektif Lingkungan dan Ekonomi sudah dilaksanakan dengan baik maka akan tercipta lingkungan yang aman, dan kehidupan masyarakat yang layak (viable) secara ekonomi. Jika nilai-nilai ESD dalam komponen perspektif Sosial Budaya dan Ekonomi sudah dilaksanakan dengan baik, maka akan tercipta masyarakat yang aman, saling menghargai, adil (equitable) dan berkecukupan. Implementasi ESD pada tingkat sekolah didasarkan pada visi sekolah yakni sekolah sebagai Pusat Pendidikan dan Pembudayaan Peserta didik. Pelaksanaan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler perlu mempertimbangkan komponen-komponen yang mencakup: kompetensi; pembina/pendamping; program kegiatan; sarana prasarana; pengelolaan; pendanaan; penilaian; pengawasan, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Kegiatan ekstrakurikuler yang dicanangkan adalah sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Pada model ini jenis kegiatan yang dipilih adalah kepramukaan, olah raga, dan seni-budaya. Nilai-nilai ESD yang mencakup tiga perspektif yakni; ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan dapat diimplementasikan serta dikembangkan melalui kegiatan tersebut.

B. Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan penunjang intrakurikuler dan dilangsungkan di luar dari jam belajar efektif secara akademik17. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram. Kegiatan tersebut direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Tujuan kegiatan ekstrakurikuler adalah untuk menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah, serta kemandirian18.

17 18

http://www.google.co.id/search?hl=en&source=hp&q=kegiatan+ekstrakurikuler Pusat kurikulum, pengembangan diri,2006 Balitbang, Depdiknas

16

1. Visi dan misi Visi kegiatan ekstrakurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Misi kegiatan ekstra kurikuler adalah: (1) menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka; (2) menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengekspresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok. 2. Fungsi Kegiatan Ekstrakurikuler Fungsi kegiatan ekstrakurikuler adalah untuk pengembangan, sosial, rekreatif dan persiapan karir. a. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.

b. c.

d.

3. Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler Implementasi nilai-nilai ESD ke dalam kegiatan ekstrakurikuler mengacu pada prinsip sebagai berikut: a. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing. b. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela oleh peserta didik. c. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh. d. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan menggembirakan peserta didik. e. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

17

f. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat. 4. Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dapat berlangsung melalui berbagai jenis kegiatan sebagai berikut. a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Peserta didik (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA). b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian. c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan. d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya. 5. Peserta Kegiatan Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler dapat diikuti peserta didik secara individual, kelompok, klasikal, dan gabungan.

C. Komponen dalam Implementasi ESD melalui Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan guna mengimplementasikan nilai-nilai ESD hendaknya memuat komponen sebagai berikut.

1. Kompetensi
Mengembangkan bakat dan minat peserta didik agar memiliki kemampuan kepemimpinan, kerjasama, kemampuan sosial, pengembangan wawasan dan kemandirian serta kepribadian peserta didik.

2. Program
Program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, dan program harian. Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan dilaksanakan oleh pembina/pembimbing dan tenaga kependidikan di sekolah/Madrasah, sedangkan kegiatan terprogram dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pelaksana sesuai dengan yang direncanakan19.

19

http://pjj-vedca.depdiknas.go.id./pengawasan3/materi/pembelajaran-4ekstrakurikuler.pdf. Balitbang, Depdiknas

18

3. Pembina/Pembimbing
Pembina/Pembimbing adalah tenaga yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurukuler sesuai dengan jenisnya. Tenaga tersebut dapat berasal dari dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah.

4. Pembinaan
Proses pembinaan ektrakurikuler antara lain meliputi; pembinaan/ pembimbingan dalam pembukaan, pelaksanaan kegiatan, pengamatan, penutup, dan penilaian.

5. Sarana Prasarana
Sekolah menyediakan kelengkapan sarana prasarana yang sesuai dengan jenis kegiatan ekstrakurikuler yang telah ditentukan.

6. Pengelolaan
Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler meliputi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian. Kepala sekolah bertanggungjawab terhadap keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler, sedangkan pembina/pendamping bertanggungjawab terhadap keberhasilan pelaksanaan setiap jenis kegiatan ekstrakurikuler.

7. Pendanaan
Pendanaan kegiatan ekstrakurikuler diperoleh dari APBN, APBD, orangtua peserta didik, dan masyarakat serta dunia usaha. Jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dipilih sekolah dan peserta didik disesuaikan dengan kemampuan anggaran sekolah dan peserta didik.

8. Penilaian Kegiatan (Sertifikasi Kompetensi)
Pada akhir kegiatan ekstrakurikuler dilakukan penilaian dengan memberikan tanda penghargaan sesuai dengan tingkat kemampuan yang dicapai peserta didik.

9. Pengawasan
Pengawasan kegiatan ekstrakurikuler dilakukan secara internal oleh kepala sekolah/madrasah, dan eksternal oleh pihak yang secara struktural/fungsional memiliki kewenangan membina kegiatan ekstrakurikuler yang dimaksud.

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

19

D. Operasionalisasi ESD 1. Kepramukaan
Kegiatan kepramukaan memiliki relevansi dengan ESD. Kegiatan tersebut mengutamakan pembinaan karakter, kesehatan, dan kepedulian. Pembinaan kepramukaan dilakukan secara total yang mencakup moral/mental/spiritual, fisik, intelektual, emosional, dan sosial, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat20. Sasaran peserta didik kepramukaan pada pendidikan dasar adalah Pramuka Siaga berusia 7 s.d. 10 tahun dan Pramuka Penggalang berusia 11 s.d. 15 tahun. Gerakan pramuka bertujuan agar mereka menjadi; (1) manusia berkeripabadian, berwatak dan berbudi pekerti yang luhur yang: (a) beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, kuat mental dan tinggi moral, (b) tinggi kecerdasan dan mutu ketrampilannya, (c) kuat dan sehat jasmaninya; (2) warga negara RI yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada negara kesatuan RI serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna yang dapat membangun dirinya secara mandiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama mahluk hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional maupun internasional21. Pengintegrasian nilai-nilai ESD melalui kegiatan Pramuka Siaga dan Penggalang diberikan dalam bentuk kegiatan: kreatif dan rekreatif, serta mengenal dan mencintai lingkungan. Kegiatan kreatif dan rekreatif adalah kegiatan kepramukaan yang dirasakan menyenangkan dan menggembirakan bagi peserta didik. Kegiatan mengenal dan mencintai lingkungan adalah untuk mengembangkan kesadaran peserta didik terhadap lingkungan yang akhirnya dapat memelihara dan melestarikan alam lingkungan. Kegiatan tersebut dapat berbentuk kegiatan yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Bentuk kegiatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ini; a. Pramuka Siaga Pramuka siaga merupakan peserta didik golongan pertama dalam gerakan pramuka sebagai bibit awal yang kelak diharapkan bertunas dan berkembang melalui kepramukaan. Oleh karena itu, perkembangan jiwa anak usia siaga perlu dihadapi dengan cara mengenal dan memahami sifat-sifat karakteristiknya antara lain sifat positif dan negatif.
20

Susanto,dkk., Pramuka di Sekolah, Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta,2005, Anggaran Dasar Gerakan Pramuka 1999, hlm 1- 9 Ibid, hlm 36

21

20

Balitbang, Depdiknas

Sifat positif,(1) suka bermain, bergerak dan bekerja, (2) suka meniru, senang mengkhayal, (3) suka menyanyi, gemar mendengar cerita, (4) suka bertanya, ingin tahu, ingin mencoba, (5) suka pamer, suka disanjung, senang kejutan, (6) spontan, lugu, polos, mudah kagum dan suka humor, (7) bersenda gurau, gemar berlomba dan bersaing, (8) gemar membanding-bandingkan dan (9) selalu mencari hal-hal yang baru, cepat bosan dan lain-lain. Sifat negatif; (1) labil, emosional, egois, (2) manja, mudah putus asa, (3) sensitif, rawan, mudah kecewa, (4) kurang perhitungan tidak mau mengalah, (5) kurang peduli kebersihan jasmaninya, dan (6) masih malu-malu, memerlukan perlindungan22. Pokok-pokok pembinaan Pramuka Siaga meliputi; a) menanamkan disiplin dalam Perindukan Siaga, b) menerapkan sistem berkelompok, c) menanamkan janji dan ketentuan moral, d) mendorong peserta didik mendapatkan tanda kecakapan. Jenis pertemuan dan latihan Kepramukaan Siaga peserta didik dikelompokkan menjadi; (a) kelompok pendidikan/ latihan; mengarah pada usaha penyelesaian syarat kecakapan umum dan syarat kecakapan khusus yang diletakkan di kwartir dibawah bimbingan Pembina Pramuka. (b) kelompok kegiatan pertemuan seperti; wisata, tamasya, pasar, lomba, pesta, permainan besar, pekan seni, dan pekan tani siaga. Contoh kegiatan Pramuka Siaga yang berwawasan ESD seperti pada tabel di bawah ini:

22

Sutomo, dkk., Pramuka di Sekolah, Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta, 2005, hal 60-61 Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

21

Tabel 3. Pramuka Siaga: Kegiatan ekstrakurikuler yang berwawasan ESD
Kecakapan/ Kompetensi 1. Manusia berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti yang luhur yang:  beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, kuat mental dan tinggi moral  tinggi kecerdasan dan mutu ketrampilannya  kuat dan sehat jasmaninya. Pokok pembinaan  menanamkan sikap jujur, tanggung jawab, dan disiplin Perspektif Sosial Budaya  Hak untuk mengembangkan diri dan berusaha dengan sikap tanggung jawab dan disiplin  Menghargai nilai-nilai, norma, dan aturan yang didukung oleh masyarakat disekitarnya. Perspektif Lingkungan  Kepatuhan terhadap peraturan dan tata tertib di lingkungan sekitar, serta partisipasi dalam pencegahan kerusakan, memelihara, dan melestarikan lingkungan.  Kepedulian terhadap potensi lingkungan di sekitarnya Perspektif ekonomi  Kerajinan, ketekunan, dan keuletan dalam mengerjakan tugas yang diberikan.  Pengenalan terhadap usaha-usaha keterampilan masyarakat di sekitar. Jenis Kegiatan

 Kegiatan atau permainan yang menanamkan sikap tanggung jawab, disiplin, dan usaha (misal: kerja bakti kebersihan lingkungan, mencari jejak)  Pengenalan lingkungan, wisata siaga, dan lain-lain.

2. Warga negara RI yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada negara kesatuan RI serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna yang dapat membangun dirinya secara mandiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama mahluk hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional maupun internasional

a. Pengenalan kehidupan dalam sistem berkelompok

 Pemahaman hak atas kebebasan pribadi secara bertanggungjawab dengan menghormati hak orang lainnya.  Pengenalan terhadap pentingnya toleransi dan solidaritas dalam pergaulan satu sama lain.

 Turut berpartisipasi dalam memelihara keharmonisan kehidupan lingkungan sekitar.  Mewujudkan pergaulan sosial melalui kesetaraan, tanpa membedakan latar belakang status sosialekonomi  Empati terhadap sesama yang terkena musibah, tanpa memandang status, suku, agama, dan ras.

 Keterbukaan menerima pendapat orang lain  Hidup hemat, sederhana, tidak pamer

 Kegiatan latihan dan atau permainan yang mengandung nilai kebersamaan dan kerjasama  Kegiatan permainan berkelompok, Pasar Siaga dalam rangka pengumpulan dana, dll.

22

Balitbang, Depdiknas

Kecakapan/ Kompetensi

Pokok pembinaan b. Menanamkan janji dan ketentuan moral pada siaga,

Perspektif Sosial Budaya  Pengenalan terhadap peraturan dan tata tertib di sekitar.  Penanaman nilai persatuan kesatuan bangsa, dan cinta tanah air

Perspektif Lingkungan  Kepatuhan terhadap peraturan dan tata tertib di lingkungan sekitar  Mencegah terjadinya pelanggaran oleh diri sendiri maupun orang lain  Berpartisipasi dalam menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan  Pengenalan bentuk/jenis keragaman flora, fauna, dan budaya  Pengenalan situs bersejarah di lingkungan sekitar

Perspektif ekonomi  Pengenalan peraturan dan tata tertib dalam upaya penegakan hukum  Turut dalam kegiatan keterampilan pemanfaatan potensi lingkungan yang bersifat ekonomis  Pengenalan bentuk perekonomian masyarakat Indonesia yang bersumber dari potensi lingkungan sekitar dalam sektor pertanian, kenelayanan, pariwisata, dll  Menjaga kelestarian peninggalan budaya nenekmoyang  mengenal dan menjaga manfaat peninggalan situs bersejarah dan manfaatnya dalam menarik minat wisatawan sebagai sumber penghasilan masyarakat.

Jenis Kegiatan  Kegiatan pengenalan peraturan/ tata tertib lalulintas, kegiatan pelatihan keterampilan, Pengenalan lingkungan, Pekan tani siaga, penanaman pohon masal, dll.  Kegiatan keterampilan, Wisata siaga, Pesta seni, pekan tani siaga, koperasi, dll  Kunjungan wisata siaga,

c. mendorong

 Hak untuk

 Pengenalan ter-

 Pengenalan

 Pelatihan

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

23

Kecakapan/ Kompetensi

Pokok pembinaan peserta didik menyelesaikan syarat kecakapan untuk mendapatk an tanda kecakapan

Perspektif Sosial Budaya mengembang kan diri sesuai bakat dan minat secara adil dan memperhatikan kesetaraan gender  Kesetaran hak antara lakilaki dan perempuan

Perspektif Lingkungan hadap ekosistem lingkungan sekitar  Persamaan kewajiban dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam mencegah kerusakan dan memelihara kelestarian lingkungan

Perspektif ekonomi arti penting ekosistem lingkungan dalam mendukung sistem mata pencaharian penduduk.  Perlakuan yang setara antara lakilaki dan perempuan dalam pelaksanaan kegiatan

Jenis Kegiatan kecakapan umum dan kecakapan khusus  Kegiatan pelatihan dan atau permainan

b. Pramuka Penggalang
Membina Pramuka Penggalang pada hakekatnya merupakan upaya pendidikan bagi remaja usia 11 sampai dengan 15 tahun. Peserta didik SD yang termasuk dalam pramuka penggalang adalah kelas tinggi (kelas IV, V, dan VI). Dalam membentuk kepribadian bagi pramuka penggalang, pokokpokok pembinaan yang diberikan adalah (a) menanamkan disiplin, (b) menerapkan sistem berkelompok, (c) menanamkan janji dan kebaikan moral pada pramuka penggalang, (d) mendorong peserta didik menyelesaikan syarat kecakapan untuk mendapatkan tanda kecakapan23. Oleh karena itu, semua kegiatan dalam gerakan pramuka diarahkan untuk membina watak, ketrampilan dan kesehatan peserta didik. Oleh karena itu kegiatan penggalang yang berwawasan ESD dalam kepramukaan sebaiknya menantang, kreatif, inovatif, mandiri, sesuai kepentingan atau kebutuhan, dan sesuai situasi dan kondisi jaman, bermanfaat, bagi dirinya dan masyarakat lingkungannya. Pelaksanaan kegiatannya berlandaskan pada prinsip dasar kepramukaan. Contoh kegiatan Pramuka Penggalang yang berwawasan ESD pada tabel berikut. seperti

23

Ibid, hlm 138 - 144 Balitbang, Depdiknas

24

Tabel 4. Pramuka berwawasan ESD
Kecakapan/ Kompetensi 1. Manusia berkeripabadian, berwatak dan berbudi pekerti yang luhur yang: a. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, kuat mental dan tinggi moral b. tinggi kecerdasan dan mutu ketrampilann ya c. kuat dan sehat jasmaninya, Pokok Pembinaan  menanamkan sikap jujur, tanggung jawab, dan disiplin

Penggalang:

Kegiatan

Ekstrakurikuler

yang

Perspektif Sosial Budaya  Hak untuk mengembangk an diri dan berusaha dengan sikap tanggungjawa b dan disiplin  Menghargai nilai-nilai, norma, dan aturan yang didukung oleh masyarakat di sekitarnya.

Perspektif Lingkungan  Mampu mewujudkan kepatuhan terhadap peraturan dan tata tertib di lingkungan sekitar, serta partisipasi aktif dalam penegakan hukum  Partipasi aktif dalam mencegah kerusakan , serta memelihara kelestarian lingkungan.  Kepedulian dan berupaya memahami potensi lingkungan di sekitarnya.

Perspektif Ekonomi  Kerajinan, ketekunan, dan keuletan dalam mengerjakan tugas yang diberikan.  Partisipasi aktif terhadap bentuk usaha keterampilan masyarakat di sekitar yang berpotensi ekonomis.

Jenis Kegiatan  Kegiatan latihan atau permainan yang menanamkan sikap tanggung jawab, disiplin, dan usaha  Pengenalan lingkungan, wisata siaga, bazar, dan lain-lain.

2. Warga negara RI yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada negara kesatuan RI serta menjadi anggota  Pengenalan masyarakat yang kehidupan baik dan berguna dalam sistem yang dapat berkelompok membangun dirinya serta mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara memiliki sesama mahluk hidup dan alam lingkungan, baik lokal nasional maupun internasional

 Pemahaman hak atas kebebasan pribadi secara bertanggungjawab dengan menghormati hak orang lainnya.  Pengenalan dan pemahaman terhadap pentingnya toleransi dan solidaritas dalam pergaulan satu sama lain.

 Partisipasi  Partisipasi  Kegiatan aktif dalam aktif ke dalam latihan perkumpulan kegiatan keterampilan organisasi, dan perkumpulan mengandung turut menjaga organisasi nilai keharmonisan dengan kebersamaan kehidupan memanfaatkan dan lingkungan lingkungan kerjasama sekitar. sekitar yang  Kegiatan berpotensi  Keterbukaan diskusi, ekonomis. menerima outbond,  Mampu pendapat bakti sosial, orang lain mewujudkan bazar kemampuan murah  Mewujudkan kerjasama dalam pergaulan rangka sosial melalui  Mampu pengumpul kesetaraan, mewujudkan an dana, dll. tanpa sikap dan membedakan perilaku latarbelakang hidup hemat, status sosialsederhana, ekonomi tidak pamer

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

25

Kecakapan/ Kompetensi

Pokok Pembinaan

Perspektif Sosial Budaya

Perspektif Lingkungan  Empati terhadap sesama yang terkena musibah, tanpa memandang status, suku, agama, dan ras.  Kepatuhan terhadap peraturan dan tata tertib di lingkungan sekitar  Mencegah terjadinya pelanggaran oleh diri sendiri maupun orang lain  Berpartisipasi dalam menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan  Pengenalan dan pemahaman keragaman bentuk flora, fauna, dan budaya  Pengenalan dan pemahaman terhadap situs bersejarah di lingkungan sekitar

Perspektif Ekonomi

Jenis Kegiatan

 menanamkan janji dan ketentuan moral pada pramuka penggalang

 Pengenalan dan pemahaman terhadap peraturan dan tata tertib lingkungan di sekitar.  Penanaman nilai Persatuankesatuan bangsa, dan cinta tanah air

 Mampu  Kegiatan mewujud pengenalan sikap dan peraturan/ perilaku tata tertib kepatuhan lalulintas, terhadap kegiatan peraturan dan pelatihan tata tertib keterampilan, dalam upaya pengenalan penegakan lingkungan, hukum di Pekan tani sekitar. siaga, penanaman  Turut dalam pohon massal, kegiatan dll keterampilan  Kegiatan pemanfaatan potensi ceramah, lingkungan diskusi, yang bersifat koperasi, ekonomis bazar murah, keterampilan,  Kemampuan kunjungan untuk mengenal wisata sejarah, bentuk sistem pesta seni, perekonomian pekan tani, dll di Indonesia;  Kunjungan  Kemampuan wisata, mengidentifikas lomba i potensi penulisan lingkungan yang karya ilmiah, dapat promosi, dll. mendukung perekonomian masyarakat di sekitar dalam sektor pertanian, kenelayanan, pariwisata, dll  Partisipasi aktif dalam mendukung peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar.

26

Balitbang, Depdiknas

Kecakapan/ Kompetensi

Pokok Pembinaan

Perspektif Sosial Budaya

Perspektif Lingkungan

Perspektif Ekonomi

Jenis Kegiatan

 mendorong  Hak untuk  Memahami peserta didik mengembangkan arti penting menyelesaikan diri sesuai bakat ekosistem syarat dan minat lingkungan kecakapan dengan sekitar untuk perlakuan adil  Pemahaman mendapatkan dan kesetaraan terhadap tanda gender persamaan kecakapan  Kesetaran hak kewajiban antara laki-laki dan tanggung dan perempuan jawab lakilaki dan perempuan dalam mencegah kerusakan dan memelihara kelestarian lingkungan

 Menjaga kelestarian peninggalan budaya nenekmoyang  mengenal dan menjaga peninggalan situs bersejarah dan manfaatnya dalam menarik minat wisatawan sebagai sumber penghasilan masyarakat.  Pemahaman  Kegiatan terhadap Pelatihan potensi kecakapan lingkungan umum dan yang dapat kecakapan menunjang khusus, bakti perekonomian sosial, dan ceramah, pendapatan eksperimen, masyarakat rehabilitasi dan reboasasi,  Partisipasi dlll. aktif dalam  Kegiatan menjaga kerusakan pelatihan ekologi akibat dan atau aksploatasi permainan lingkungan oleh penduduk sekitar  Perlakuan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam pelasanaaniatan

2. Olahraga
Olah raga merupakan suatu usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan jasmaniah maupun rohaniah pada tiap manusia. Tujuan olahraga selain membangun fisik juga membangun mental dan spiritual. Olah raga membentuk manusia Indonesia yang kuat dan sehat, berprestasi tinggi, serta memiliki ketahanan mental dan

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

27

keterampilan kerja dan kreatif.24 Ada beberapa bentuk olahraga seperti (1) bermain (play), aktifitas bermain dalam suasana riang dan gembira tidak ada unsur ketegangan, (2) pendidikan jasmani (physical education), (3) olahraga prestasi (sport), (4) rekreasi (recreation), dan (5) tari (dance)25. Pembinaan olahraga yang dilakukan secara sistematik, tekun dan berkelanjutan diharapkan dapat mencapai prestasi yang bermakna. Salah satu pokok pembinaan melalui kegiatan olahraga adalah menanamkan sikap disiplin, sportif, dan bertanggung jawab. Pokok pembinaan itu lebih lanjut dapat disisipkan dengan nilai ESD yang ditinjau dari perspektif sosial-budaya, lingkungan, dan ekonomi. Berikut ini diperlihatkan contoh kegiatan ekstrakurikuler pengembangan bakat olahraga yang berwawasan ESD. Tabel 5. Kegiatan Olahraga yang berwawasan ESD
Kecakapan/ Kompetensi Manusia  Indonesia yang kuat dan sehat, berprestasi tinggi, serta memiliki ketahanan mental dan keterampila n kerja yang kritis dan kreatif Pokok Pembinaan Menanamkan sikap disiplin  Perspektif Sosial Budaya Hak untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat dan bakat dalam membentuk jasmani dan rohani yang sehat dengan memberikan pemahaman terhadap pentingnya sikap disiplin Menanamkan kesadaran diri terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku untuk hidup sehat jiwa dan raga Perspektif Lingkungan Perspektif Ekonomi Jenis Kegiatan Kegiatan olah raga “bermain”, kegiatan olahraga yang berhubunga n dengan penanaman nilai-nilai sosial kehidupan.

 Pengelolaan dan  Partisipasi  pemanfaatan aktif dalam sumberdaya kegiatan dan alam yang dapat mendorong digunakan penyebarlua sebagai sarana san membentuk informasi kemampuan bentuk/jenis mental dan sikap olahraga dari disiplin lingkungan sekitar yang  Keterampilan berpotensi olahraga beladiri ekonomis. memberikan kemampuan  menanamkan untuk bertahan motivasi dan terhadap menyelamatkan peningkatan diri. etos kerja melalui sikap disiplin untuk mengejar prestasi olah raga yang bernilai ekonomis

24

Redemtius Supriyanto S.Pd, Kreasijaskes, http://kreasijaskes.blogsport.com/2009/gerakan olaraga indonesia.html
25

Johansyah Lubis, http://www.koni.or.id/filesdocuments/journal/4, hal 10-13

28

Balitbang, Depdiknas

Kecakapan/ Kompetensi 

Pokok Pembinaan Menanamkan sikap sportif

Perspektif Sosial Budaya

Perspektif Lingkungan

Perspektif Ekonomi

Jenis Kegiatan Kegiatan pendidikan jasmani (physical education), olah raga memerlukan dukungan kematangan emosi dalam permainan bagi yang kalah maupun yang menang, sehingga olah raga menjadi kegiatan yang menyenangkan

Menanamkan sikap tanggung jawab

 Menananmkan  Mengembang Menanamkan  nilai-nilai olah kan sikap sikap jujur, raga yang empati, sportif, sehingga dapat kepedulian dan tepat waktu bersikap sportif, tanggung jawab dan obyektif, dan terhadap mendorong menjadi suri lingkungan etos kerja tauladan bersih dan dalam sehat kegiatan  rendah hati, olah raga santun, dan saling menghargai  Menanamkan prestasi prinsip olahraga orang efisien dan lain ekonomis serta  Menanamkan memenuhi pemahaman kewajiban tentang adanya tepat pada berbagai jenis waktunya olah raga daerah yang dapat menumbuh-kan  adanya kerjasama dan tolerenasi antar suku, agama, ras dan antar golongan dan budaya.  Hak untuk me Pengenalan dan Menanamkan  ngembangkan diri pemaham-an sikap tanggung dalam bentuk-bentuk jawab dalam membentuk kegiatan berolah raga jasmani dan olahraga di hingga dapat rohani yang sehat lingkungan menunjukan secara Jujur dan sekitar prestasi dan tanggung jawab dapat  Pemahaman menempatkan  Menanamkan tentang posisi olah sikap tanggung pentingnya raga sebagai jawab sebagai pemanfaatan suatu profesi. warga negara atau pendayaIndonesia gunaan sumber sehingga melalui daya yang ada di olah raga dapat lingkungan menjaling sekitar untuk bekerjasama mendukung antar bangsa prestasi olah raga. 

Jenis kegiatan olah raga ”kompetitif”, sebagai himpunan aktifitas fisik yang resmi terorganisasi , olah raga yang perlu dukungan sikap tanggung jawab dalam berkompetisi dengan lawan demi mempertahan kan nama baik.

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

29

3. Kegiatan Seni dan Budaya
Kegiatan seni dan budaya bertujuan antara lain menumbuhkembangkan potensi bakat dan minat dalam bidang seni dan budaya sehingga dapat menjadi bekal bagi peserta didik untuk melangsungkan kehidupannya di masa selanjutnya. Salah satu pokok pembinaan melalui kegiatan seni dan budaya adalah menanamkan sikap dan rasa kebanggaan terhadap seni dan budaya yang dimiliki oleh lingkungan di sekitar, baik bersifat lokal maupun nasional. Pokok pembinaan itu lebih lanjut dapat disisipkan dengan nilai ESD yang mencakup perspektif sosial-budaya, lingkungan, dan ekonomi. Pendidikan seni budaya dan keterampilan berperan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan, kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, serta kecerdasan emosional26. Kegiatan seni budaya dan keterampilan memiliki sifat : (1) multilingual yang bermakna mengembangkan kemampuan mengekpresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa, rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya, (2) multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi dan kreasi dengan memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika, (3) multikultral, mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya nusantara dan manca negara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk. Di bawah ini contoh kegiatan ekstrakurikuler seni dan budaya yang berwawasan ESD.

26

http://www.google.co.id/search?hl=en&source=hp&q=pendidikan+senidan+budaya&meta=&aq =f&oq.

30

Balitbang, Depdiknas

Tabel 6. Kegiatan Ekstrakurikuler Seni dan Budaya yang berwawasan ESD

Kecakapan/ kompetensi
Manusia yang memiliki apresiasi terhadap seni dan budaya lokal dan nasional

Pokok pembinaan
 Menanamkan sikap dan rasa kebanggaan terhadap seni dan budaya yang dimiliki oleh lingkungan di sekitar, baik bersifat lokal maupun nasional

Perspektif Sosial Budaya
 Hak atas  kebebasan pribadi dalam peran serta memilih jenis seni dan budaya yang diminati.  Menanamkan kerjasama dan toleransi antar suku bangsa, negara melalui keanekaragaman  seni dan budaya  Menghargai apresiasi terhadap keragaman karya seni tari, lukis, teater, patung, suara/musik  Pengenalan dan pemahaman terhadap bentuk/jenis dan makna nilai yang terkandung dalam seni dan budaya berbagai daerah untuk dapat menghargai budaya daerah lain

Perspektif Linkungan

Perspektif ekonomi

Jenis Kegiatan

pelestarian  Pemahaman  Kegiatan sumber daya potensi seni pengembayang memiliki dan budaya ngan seni dan potensi seni dan dalam budaya yang budaya yang pembangunan bisa ada di berbagai bidang dilaksanakan daerah untuk pariwisata di sangar dapat dan seni, kursus, mempertahan- kemampuan dsb kan ciri seni menciptakan  Penulisan di dan budaya lapangan cerpen yang telah ada. kerja berbagai  Partisipasi media yang Pengelolaan aktif dalam dapat diakses dan kegiatan seni publik pemanfaatan dan budaya terkait potensi yang dengan seni lingkungan berpotensi dan budaya fisik sekitar ekonomis daerah dan dalam melalui nasional. mendukung bentuk kegiatan seni kewirausaha-  melakukan dan budaya an. kegiatan  Partisipasi pentas seni aktif dalam yang penyebar dilakukan luasan antar daerah bentuk seni dan negara dan budaya masyarakat yang berpotensi ekonomis

E. Peran dan Fungsi Pihak Terkait
Pelaksanaan pendidikan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler, khususnya pramuka, olahraga, seni dan budaya, tidak terlepas dari keterlibatan aktif dari berbagai pihak yang terkait, baik di tingkat pusat, daerah, maupun sekolah. Berikut ini dikemukakan keterlibatan yang perlu diwujudkan oleh pihak Depdiknas, pemerintah daerah, kwartir nasional dan daerah, serta sekolah.

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

31

1. Depdiknas, menerbitkan kebijakan yang diperlukan dalam pelaksanaan pendidikan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler, disertai dengan perangkat model dan pedoman umum yang dapat digunakan sebagai acuan operasionalisasinya di tingkat sekolah; 2. Pemerintah Daerah, menerbitkan kebijakan yang lebih operasional dalam mendukung penerapan pendidikan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler di tingkat sekolah; 3. Kwarnas/Kwarda, menyiapkan bahan kegiatan pramuka dan memberikan pelatihan kepada pembina/pendamping terhadap nilai-nilai ESD yang diintegrasikan ke dalam suatu kegiatan yang ada; 4. Sekolah, melaksanakan pengintegrasian nilai-nilai ESD ke dalam kegiatan kepramukaan, olahraga, seni dan budaya kepada peserta didik.

32

Balitbang, Depdiknas

BAB IV

PRINSIP DAN IMPLIKASI
A. Prinsip

1.

G

uru Pembina/Pembimbing kegiatan ekstrakurikuler secara otonom diberi kesempatan dan peluang yang seluas-luasnya untuk mengembangkan nilai-nilai ESD sesuai dengan konteks, kebutuhan peserta didik, kemampuan sekolah, orangtua dan masyarakat dan sesuai dengan lingkungan lokal setempat, serta kreativitas guru sehingga memberikan warna dan variasi yang bermakna bagi pengembangan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler.

2. Pengembangan dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler berbasis pada pengembangan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan yang bervariasi, dengan penyediaan sarana dan prasarana, fasilitas dan sumberdaya manusia (pembina/pembimbing, pelatih, guru) yang memadai. B. Implikasi
Jika pelaksanaan ESD melalui kegiatan ekstrakurikuler ini dilaksanakan, maka ada beberapa implikasi yang harus mendapatkan perhatian dari berbagai pihak antara lain: 1. Adanya kebijakan dan program penerapan ESD. 2. Ketersediaan fasilitas, sarana dan dana yang memadai 3. Ketersediaan sumber daya manusia pelaksana kegiatan ekstrakurikuler yang memahami ESD 4. Kepala sekolah, Pembina/Pembimbing kegiatan ekstrakurikuler perlu memahami landasan hukum, hakekat, tujuan, dan pentingnya ESD dalam membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif dan Kompetitif. 5. Dinas pendidikan kota/kabupaten perlu melakukan sosialisasi untuk memberikan wawasan dan pemahaman ESD kepada kepala sekolah, guru, pembina/pembimbing dan pengawas. 6. Dinas pendidikan kota/kabupaten perlu merencanakan serta mengalokasikan biaya untuk mendukung penyelenggarakan ESD di satuan pendidikan. 7. Dinas pendidikan kota/kabupaten berkoordinasi dengan stakeholders lainnya (unit kerja terkait, seperti Kwarnas/Kwarda, pusat seni dan

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

33

budaya, serta KONI) untuk mendukung penyelenggarakan ESD di satuan pendidikan. 8. Guna memahami tingkat keberhasilan ESD secara nasional perlu dilaksanakan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan ESD di tingkat satuan pendidikan, khususnya yang dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler sebagai perwujudan akuntabilitas publik dan bahan laporan periodik untuk kepentingan domestik maupun dalam rangka laporan DESD.

34

Balitbang, Depdiknas

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, 2005, Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional, MPPNJP, Depdiknas, Jakarta. _______, 2003, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas, Jakarta. _______,Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Hagan Foundation Center for the Humanities: http://www.scc.spokane.edu/?hfchsustain http://www.yplhc.org/konsep_desd.php. Sustainable Development (DESD) Konsep Sustainability of (2009), for

Decade

Education

http://pjj-vedca.depdiknas.go.id./pengawasan3/materi/pembelajaran-4 ekstrakurikuler.pdf. http://www.yplhc.org/krgka_implementasi_int.php. Internasional (DESD) Kerangka Implementasi

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan#cite_note-0. Pembangunan Berkelanjutan http://www.google.co.id/search?hl=en&source=hp&q=kegiatan+ekstrakurikuler (http://www. UNESCObkk.org/ index.php?id =3808). http://www.yplhc.org/krgka_implementasi_int.php. Internasional (DESD) http://www.yplhc.org/konsep_desd.php Http://citizennews.suara merdeka.com/index2.php.option http://www.google.co.id/search?hl=en&source=hp&q=pendidikan+senidan+buday a&meta=&aq=f&oq. Hidayatulah, Furqon, Prof.Dr., Harre, Ed (1982:21) http://pustaka.UNS.ac.id/include/inc.pdf.google.olahraga tahun. Kerangka Implementasi

tradisionalusia6-12

Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan

35

Johansyah Lubis, http://www.koni.or.id/filesdocuments/journal/4 PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota; PP 19 SNP 2005 (pasal 5 –18, pasal 25,26,27) Susanto,dkk., Pramuka di Sekolah, Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta,2005, Anggaran Dasar Gerakan Pramuka 1999. Redemtius Supriyanto S.Pd, Kreasijaskes, http://kreasijaskes.blogsport.com/2009/gerakan olaraga indonesia.html UNESCO (2007), Sustainable Development UUD 1945 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;

36

Balitbang, Depdiknas

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->