Anda di halaman 1dari 5

Makna kontekstual Makna kontekstual adalah makna sebuah kata atau gabungan kata atau suatu ujaran di dalam

konteks pemakaiannya. Konteks di sini bisa berupa konteks kalimat, konteks situasi, atau konteks bidang pemakaian. Sebagai contoh makna kontekstual dalam konteks kalimat, perhatikan makna kata mengambil pada kalimat-kalimat berikut. 1 a). Anak itu mengambil buku saya. 1 b). Semester ini saya belum mengambil kuliah Sejarah Melayu. 1 c). Kabarnya Pak Ahmad akan mengambil pemuda itu sebagai pemandunya.. 1 d). Dalam hal itu kami harus pandai-pandai mengambil kesempatan. 1 e). Tahun depan kami akan mengambil 10 orang pegawai baru. kata mengambil pada kalimat (1a) adalah masih dalam makna leksikalnya iaitu menjemput sesuatu lalu membawanya, pada kalimat (1b) kata mengambil bermakna kotekstual mengikuti, pada kalimat (1c) bermakna menjadikan, pada kalimat (1d) bermakna menggunakan, dan pada kalimat (1e) bermaksud menerima. Dalam pelajaran semantik pelbagai makna yang dimiliki oleh sebuah kata yang digunakan dalam konteks kalimat berbeza seperti dicontohkan oleh kata mengambil pada kalimatkalimat (1) di atas disebut makna polisemi. Makna-makna polisemi ini mempunyai perkaitan semantik dengan makna leksikal dari kata yang dipolisemikan, termasuk perkaitan asosiasi dan perbandingan. Untuk jelasnya kita ambil kata kepala. Makna leksikal kata kepala adalah bahagian tubuh manusia (binatang) dari leher ke atas. Sekarang perhatikan kata kepala pada kalimat-kalimat berikut. 2 a). Ibunya menjadi kepala sekolah di Johor Bahru. 2 b). Nombor telefonnya ada pada kepala surat itu. 2 c). Kepala paku itu agak bulat. 2 d). Setiap kepala mendapat bantuan Rm 500.00 2 e). Tamu kehormatan duduk di kepala meja. Makna polisemi, kata kepala pada kalimat (2a) adalah pemimpin (sekolah), pada kalimat (2b) adalah bahagian atas/kertas surat, pada kalimat (2c) adalah menyerupai (bentuk) kepala, pada kalimat (2d) adalah orang, dan pada kalimat (2e) adalah bagian utama dari meja. Makna pemimpin pada kalimat (2a) dengan kaitan makna leksikalnya adalah bahwa kepala merupakan bahagian utama pada manusia, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa kepala. Hal ini sama dengan sekolah, sebuah sekolah harus dipimpin oleh seorang kepala. Makna bahagian sebelah atas pada kalimat (2b) memiliki kaitan dengan kepala, iaitu bahwa kepala

terletak di sebelah atas, sama dengan letaknya kepala surat itu yang juga di sebelah atas. Makna menyerupai pada kalimat (2c) juga mempunyai kaitan dengan kepala, iaitu bahwa kepala berbentuk bulat, sama dengan kepala paku yang juga relatif bulat. Kemudian, yang disebut makna asosiasi atau makna kias, juga mempunyai kaitan semantik dengan makna leksikalnya. Misalnya kata bunga dalam kalimat (3) adalah berarti gadis cantik. 3 a). Aminah adalah bunga di desa kami. Yang dikaitkan adalah kecantikan Aminah dengan keindahan bunga. Gadis cantik diasosiasikan dengan bunga. Bunga di mana-mana disukai orang kerana keindahannya, sedangkan gadis cantik kerana kecantikannya, apalagi kalau ditambah kesopanannya. Makna kontekstual dalam konteks situasi biasanya berbentuk ujaran. Maka makna ujaran itu bergantung pada konteks situasinya. Umpamanya ujaran Sudah hampir pukul dua belas. Ujaran tersebut bila diucapakan oleh seoarng warden asrama putri pada malam hari, ditujukan pada seorang pemuda yang masih bertamu akan bermakna permintaan atau peringatan agra pemuda tersebut harus segera pulang. kalau diucapkan seorang ustaz siang hari di sebuah surau akan bermakna peringatan pada anak-anak bahwa sebentar lagi waktu shalat zuhur akan tiba. Jadi, ujaran, Sudah hampir pukul dua belas bukanlah bermakna memberitahukan soal waktu, melainkan memberitahukan yang lain berkenaan dengan waktu itu. Konteks bidang pemakaian dapat kita lihat perbedaan makna kata servis pada kalimat-kalimat berikut: 11 a). Servisnya melambung tinggi. b). Mobil ini selalu saya servis di bengkel itu. c). Maskannya enak, harganya murah, servisnya pun memuaskan. Kata servis pada kalimat (11a) berasal dari bidang olahraga maknanya adalah pukulan bola pertama (pada permainan badminton atau tennis). Kata servis pada kalimat (11b) berasal dari bidang perbengkelan, maknanya adalah perbaikan atau perawatan. Sedangkan kata servis pada kalimat (11c) berasal dari bidang jasa, maknanya adalah pelayanan. Makna Kontekstual

Makna kontekstual adalah makna sebuah laksem atau kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya, makna konteks kata kepala pada kalimat-kalimat berikut: a. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. b. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. c. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. d. Kepala paku dan kepala jarum tidak sama bentuknya. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu, dan lingkungan

penggunaan bahasa itu. Contohnya : Tiga kali empat berapa? Jika dilontarkan di depan kelas tiga SD sewaktu mata pelajaran matematika berlangsung. Tentu dijawab dua belas atau mungkin tiga belas. Namun kalau pertanyaan itu dilontarkan kepada tukang photo, maka pertanyaan itu mungkin akan ditanya dua ratus atau tiga ratus, mengapa begitu? Sebab pertanyaan itu mengacu pada biaya pembuatan pas photo yang berukuran tiga kali empat centimeter.

d. Makna Kontekstual Makna kontekstual adalah makna sebuah kata atau gabungan kata atau suatu ujaran di dalam konteks pemakaiannya.Makna ini muncul sebagai akibat antara ujaran dan konteks. Banyak faktor yang mempengaruhi konteks ini, yaitu : konteks pembicara, kebahasaan, waktu, tujuan, situasi atau suasana hati si pembicara/pendengar, objek pembicaraan, dan lain-lain. Makna kontekstual ini berkaitan erat dengan kolokasi. Definisi kolokasi dijelaskan oleh Baker sebagai kecenderungan sejumlah kata untuk bergabung secara teratur dalam suatu bahasa, tetapi kata yang mana dapat berkolokasi dengan kata apa tidak ada hubungannya secara logis. Shei dan Pain menegaskan bahwa kolokasi ialah sekelompok kata yang sering muncul bersama. Sejalan dengan itu, dalam Oxford Collocations Dictionary dijelaskan bahwa kolokasi adalah the way words combine in a language to produce a natural-sounding speech and writing. Kolokasi berbeda dengan idiom. Idiom adalah ungkapan yang kalau diterjemahkan secara harfiah tidak masuk akal atau ungkapan yang maknanya tidak dapat ditelusuri melalui kata per kata dan membentuk kata baru.[12]Misalnya, idiom cuci tangan dalam kalimat Mereka cuci tangan atas masalah itu. Idiom cuci tangan tidak bisa dipahami melalui kata cuci dan kata tangan, tetapi harus dipahami sebagai satu kesatuan. Sebaliknya, kolokasi adalah gabungan kata yang maknanya dapat ditelusuri melalui kata per kata, tetapi tidak membentuk kata baru. Misalnya, gabungan kata memanjat pohon dapat dipahami maknanya melalui kata memanjat dan kata pohon. Dengan demikian, kolokasi adalah kecenderungan sejumlah kata atau sekelompok kata untuk bergabung secara teratur guna menghasilkan bicara dan atau tulisan yang terdengar lazim dan berterima dalam suatu bahasa.

cut a cake cut someoness hair cut a wood cut a diamond cut a deck of cards cut a disc cut a notch non compositional meaning (arti bukan kata majemuk) compositional meaning kata= kata majemuk)

(arti

Cut has same vague /general meaning in every collocation (arti tidak jelas/umum)

Cut has different meaning in every

collocation (artinya berbedabeda) Contohnya adalah kata cut yang memiliki banyak padanan kata yang mengikutinya, seperti :

Untuk contoh kata cut ini, secara umum mempunyai arti (general meaning) memotong dengan menggunakan benda tajam. Dalam kata majemuk kata cut diikuti dengan kata benda lainnya. Namun pada kenyataannya tidak semua arti cut memotong ini dilakukan dengan benda tajam, misalkan cut a deck of cards (membagikan kartu), cut in (menerobos antrian) atau cut butter(memotong mentega) karena bisa juga memotong mentega ini tidak menggunakan benda tajam. Dengan demikian maka arti cut secara umum menjadi tidak sesuai dengan konteksnya, karena tidak jelas atau ambigu. Inilah yang menjadi masalah dalam Hipotesis arti kata cut secara umum. Menyikapi hal tersebut, maka timbullah arti kata cut dalam arti yang berbeda-beda sesuai dengan konteks kalimatnya, namun masalahnya arti kata cut ini menjadi banyak sehingga tidak efisien dan membingungkan makna leksikalnya. Bila kita lihat arti cut ini secara bukan kata majemuk maka artinya menjadi satu kesatuan, tanpa harus per kata dan memiliki arti yang jelas. Contohnya:Cutting the grass (memotong rumput), cutting a disc (mendengarkan musik).

Bahasa merupakan satu sistem komunikasi yang amat penting bagi manusia, Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa sentiasa dianalisis dan didekati dengan menggunakan perbagai pendekatan untuk mengkajinya. Antara pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Bidang makna atau semantic, yang sebenarnya menjadi sebahagian daripada ilmu linguistik ini, menjadi suatu pekara yang amat penting memandangkan kajian bahasa tidak akan sempurna jika tidak ada unsur makna. Bahasa, menurut R. H. Robbins (1952) menegaskan bahawa kajian makna merupakan salah satu bahagian yang penting dalam linguistik am. Sementara itu, Firth (1944) menegaskan bahawa makna menjadi inti dalam kajian bahasa. Lazimnya, kata makna memberi erti maksud atau erti. Walau bagaimanapun, kata makna boleh diberi bermacam-macam pergertian lagi. Misalnya, Ogden dan Richard dalam buku The Meaning of Meaning (1956) pernah memberi 16 pengertian dan erti bagi makna; antaranya makna adalah suatu yang intrinsik, pokok, kemahuan, dan suata peristiwa yang diharapkan.

Kata semantik ini, sebenarnya berasal daripada kata adjektif bahasa Yunani semantickos yang membawa makna penting atau bererti dan sema maksudnya tanda / lambang. Istilah semantik (semiotic,semilogi dan semasiologi).

Semantik ialah kajian tentang makna linguistik bagi morfem, perkataan, frasa, klausa dan ayat dalam bahasa manusia ( Lyons, 1977: 137). Sementara Ellis (1966:33) mentakrifkan semantik sebagai penggunaan bahasa untuk membuat sesuatu. Pragmatik pula meliputi penggunaan bahasa yang berkaitan dengan konteks serta khusus untuk komunikasi linguistik ( Morris, 1964:117 ). Ellis ( 196:93) mentakrifkan pragmatik sebagai penggunaan bahasa semasa membuat sesuatu. Semantik dan pragmatik merupakan gambaran akal dan rujukan bagi sebarang simbol yang boleh terdiri daripada pelbagai jenis seperti warna, bentuk gerak-geri bunyi bahasa (Hashim, 2006: 79 ). Rujukan ialah proses memperoleh dan memberikan pengertian, makna sebenar dan makna konteks tentang alam persekitaran yang menyentuh kehidupan sosial dal alam fizikal. Secara ringkas, semantik, dapat dijelaskan sebagai suatu bidang ilmu yang mengkaji makna perkataan dan ayat dalam bahasa. Semantik dalam bahasa, pada umumnya, dapat diteliti dari pelbagai sudut. Demikian juga semantik dalam Bahasa Melayu dapat diteliti dari aspekaspek seerti dan rujukan, perkataan, ayat, jenis-jenis makna, perubahan makna, peribahasa (termasuk simpulan bahasa), dan unsur semantik dalam nahu.