Anda di halaman 1dari 31

ALIRAN SWISS DAN FIRTH (LONDON)

NASTITI KHARISMA (1720722002)


ADRIANI TRIHARRY ROSEMERRY (1720722010)
WIDDYA SYAFITRI (1620722004)
ALIRAN SWISS

Tahun 1872 Johannes Schmidt dan kawan-


kawan yang meragukan kebenaran
studi historis komparatif.

Samsuri, 1988: 11
ALIRAN SWISS

Abad XX Muncul karya (catatan-catatan


kuliah Ferdinand de Saussure) yang
dengan tegas mengatakan
kekeliruan studi bahasa dalam
abad XIX

Samsuri, 1988: 11
ALIRAN SWISS

Berisi pikiran-pikiran de Saussure


Catatan
tentang bahasa adalah sebagai
de
objek tertentu yang dapat
Saussure
dibedakan dari objek-objek lain.

Gagasannya merupakan suatu revolusi dalam


linguistik yang melahirkan aliran serta studi yang
tidak saja dianut di Swiss dan Perancis, melainkan
seluruh Eropa.

Samsuri, 1988: 11
Catatan Ia tidak setuju dengan gagasan
de kaum Junggrammatiker yang
Saussure hanya membatasi studi bahasa
pada aspek kesejarahan saja.

Catatan tersebut disunting oleh dua orang bekas


mahasiswanya (Charles Billy dan Albert Sechehaye)
dengan bantuan Albert Reidlinger menjadi sebuah
buku Cours de Linguistique Generale yang sebagian
berupa dikotomi-dikotomi seperti sinkronik dan
diakronik, bahasa dan ujaran, signifiant dan
signifie, paradigmatik dan sintagmatik, bentuk dan
substansi, serta bahasa sebagai tanda semiotika.
Samsuri, 1988
ALIRAN SWISS

Aliran Swiss merupakan rekonstruksi pemikiran


Ferdinand de Saussure dimana Saussure
merupakan penganut aliran strukturalis.

Ada tiga gagasan Schmidt di dalam buku Cours de


Linguistique Generale, yaitu:

1. Bahwa studi bahasa yang ilmiah bersifat sinkronik,


2. Bahwa fakta-fakta bahasa itu ada,
3. Bahwa ia ingin menentukan metode-metode
untuk mengidentifikasikan dan membicarakan
fakta bahasa itu.
Samsuri, 1988: 11
ALIRAN FIRTH (LONDON)

Aliran neo-Firthian
Aliran Firthian (Pengembangan
dari aliran Firthian)

Tokoh
Aliran

John Rupert Firth


(1890-1960)

Pengikut aliran ini disebut


dengan kaum Firthian.
ALIRAN FIRTH (LONDON)

John Dia adalah guru besar General


Rupert Linguistik pada Universitas London
Firth yang berkembang dari tahun 1944
sampai dengan 1956.

Aliran
Aliran Aliran
Prosodic
Firth London
Phonology

karena aliran ini lebih


menekankan pada
bidang fonologi Alwasilah, 2011
ALIRAN FIRTH (LONDON)
Suatu cara untuk menentukan arti
Fonologi pada tataran fonetis dan terdiri dari
Prosodi satuan fonematis dan satuan
prosodi.

Satuan Unsur-unsur segmental  konsonan


fonematis dan vokal.

Satuan Ciri-ciri atau sifat-sifat struktural


prosodi yang lebih Panjang dari pada suatu
segmen tunggal.

Chaer, 2007
ALIRAN FIRTH (LONDON)

Ada 3 macam prosodi:

1. prosodi yang menyangkut gabungan fonem


yaitu struktur kata, struktur suku kata,
gabungan konsonan, dan gabungan vokal,
2. prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda, dan
3. prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui
satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem
suprasegmental.

Chaer, 2007
ALIRAN FIRTH (LONDON)

John Rupert Guru dari para linguistik di


Firth zamannya.

Firth juga terkenal dengan pandangannya mengenai


bahasa. Hal tersebut dapat kita lihat dari bukunya The
Tongues of Man and Speech (1934) dan Papers in Linguistics
(1951). Firth berpendapat bahwa telaah bahasa harus
memperhatikan komponen sosiologis. Tiap tutur harus dikaji
dalam konteks situasinya, yaitu orang-orang yang berperan
dalam masyarakat, kata-kata yang mereka ungkapkan
dan hal-hal lain yang berhubungan. Menurut Firth dalam
kajian linguistik yang paling penting adalah konteks.
Chaer, 2007
OBJEK KAJIAN ALIRAN FIRTH
Objek yang dikaji dalam linguistik adalah
pemakaian bahasa secara aktual.

Pemakaian bahasa adalah salah satu bentuk


kehidupan manusia dan tuturan dilarutkan dalam
hubungan antara anggota masyarakat.

Firth menyadari bahwa istilah bersifat idiosinkritik.


Idiosinkritik adalah penyimpangan kaidah gramatika
pada ragam bahasa seseorang atau sekelompok
orang sebagaimana terjadi.
Busri, 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

Ada 4 hal yang menjadi titik berat teori Firth:

1. komponen sosiologi,
2. teori makna,
3. analisis makna dalam bahasa level,
struktur, sistem,
4. teori fonologi

Busri, 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

1. Komponen Sosiologi

John Rupert Firth mengembangkan gagasan


Baronislaw Malinowski tentang bahasa. Baronislaw
Malinowski menyatakan pentingnya
menempatkan kata-kata dalam konteks
keseluruhan ujaran pada situasinya. Inilah yang
disebutkan dengan the context of situation. Bagi
Malinowski konteks ini merupakan lingkungan fisik
sebenarnya dari satu ujaran.

Busri, 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

1. Komponen Sosiologi

Firth juga memakai istilah context of situation


namun dengan makna yang lebih umum dan
abstrak. Konteks tersebut adalah arena hubungan-
hubungan (field of relations), yaitu hubungan
antara orang-orang yang memainkan peran
dalam masyarakat, kata-kata yang mereka
ujarkan, dan objek-objek lain, kejadian-kejadian
dan seterusnya yang ada hubungannya dengan
orang-orang dan ujaran itu.

Busri, 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

1. Komponen Sosiologi

Dalam kajian hubungan bahasa dan konteks sosial,


Firth menolak formalism structural yang statis yang
ditekankan pada perbedaan langue dan parole
dari de Saussure. Dengan ungkapan lain, bahasa
seharusnya dikaji sebagai bagian dari proses sosial,
sebagai suatu bentuk kehidupan manusia, tidak
hanya sekedar seperangkat tanda-tanda arbitrer
atau sewenang-wenang.

Busri, 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

2. Teori Makna

Konsep tentang makna : social dan behavioral.


Kata-kata menjadi bagian dari kebiasaan, dan
makna yang timbul pada kata-kata itu adalah
pola-pola tingkah laku, dan dalam pola ini kata-
kata tersebut mempunyai fungsi koordinasi. Kata-
kata mengacu pada sesuatu dan situasi yang
disebut directive reference. Dalam bahasa lisan,
makna melibatkan tiga hal, yaitu: sikap terhadap
acuan, sikap terhadap lawan tutur, sikap terhadap
tujuan dari suatu ujaran.
Busri, 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

2. Teori Makna

Gagasan dasar tentang hakikat bahasa:


1. kalimat adalah data bahasa yang paling dasar;
2. kata merupakan abstraksi sekunder.

Ia membatasi kalimat sebagai sebuah tuturan


yang diikat oleh jeda yang dapat didengar. Makna
tuturan dalam lingkungan tertentu dapat dilihat
akibatnya dalam lingkungannya, kemudian baru
dipilih tuturan manakah yang patut terus
dipertahankan dan mana yang tidak.
Busri, 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

3. Analisis Makna dalam Bahasa Level, Struktur dan SIstem

Komponen ini berhubungan dengan bidang sintaksis. Firth


mengembangkan Teori Sanding Kata atau istilah lainnya
Collocational Theory. Yang dimaksud collocation adalah
dua kata atau lebih yang dianggap sebagai butir-butir
kosakata sendiri, dipakai sandingan antara satu dan
lainnya yang lazim dalam bahasa tertentu. Hal ini
menunjukkan bahwa butir-butir leksikal itu satu sama
lainnya berkaitan.
Contoh:
Renta  tua
Belia  muda
Alwasilah, 2011
TITIK BERAT TEORI FIRTH

3. Analisis Makna dalam Bahasa Level, Struktur dan SIstem

Kaitan antara butir-butir leksikal terungkap dalam


tiga bentuk, yaitu: probalistik, implication, dan
conceptual.
Contoh:
Malam  gelap

Busri: 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

3. Analisis Makna dalam Bahasa Level, Struktur dan SIstem

Ada dua hubungan butir-butir bahasa:


1. Hubungan formal
2. Hubungan situasional

Busri: 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

3. Analisis Makna dalam Bahasa Level, Struktur dan SIstem

Hubungan formal artinya hubungan antara satu


butir formal dan yang lainnya, misalnya hubungan
antara kosakata dengan sanding katanya atau
hubungan sintaksis dengan kategori-kategori
gramatik.

Hubungan situasional adalah hubungan antara


butir-butir bahasa dengan unsur-unsur non-verbal
dari situasi ujaran.

Busri: 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

4. Teori Fonologi

Teori fonologi yang dikembangkan Firth terkenal


dengan sebutan analisis prosodik (prosodic analysis)
atau fonologi prosodik (prosodic phonology).

Kelemahan analisis fonemik yang didasarkan


sepenuhnya pada pemisahan kesatuan ujaran ke
dalam segmen-segmen dapat diatasi dengan
pengenalan fonem-fonem suprasegmental
(suprasegmental phonems).

Busri: 2008
TITIK BERAT TEORI FIRTH

4. Teori Fonologi

Dalam analisa prosodik, sistem fonologi yang


berbeda dapat disusun untuk struktur-struktur
yang berbeda, misalnya ciri-ciri yang terjadi pada
awal satu suku kata dapat tidak sama dengan ciri
yang dapat terjadi pada akhir satu suku kata
dalam bahasa tertentu.

Busri: 2008
ALIRAN NEO-FIRTHIAN

Halliday (Murid Firth)

Tata Bahasa Sistemik


grammar (tata bahasa
sistematik)

Busri: 2008
ALIRAN NEO-FIRTHIAN

Tata Bahasa Sistemik

1. Form (bentuk) organisasi dari substansi peristiwa


yang ada pada arti, yaitu tata bahasa dan leksis;

2. Substance (substansi), materi fonik dan grafik;

3. Context (konteks) hubungan antara “bentuk” dan


“situasi”, yaitu semantik.

Busri: 2008
ALIRAN NEO-FIRTHIAN
Empat Gagasan penting sebagai kategori umum
dalam bahasa:

1. Unit
2. Struktur
3. Kelas
4. Sistem

Busri: 2008
ALIRAN NEO-FIRTHIAN

1. Unit 2. Struktur

suatu segmen
pembawa pola pada klausa: subjek-
segala level, misalnya predikator-
kalimat terdiri pola- komplementer-ajung”.
pola.

Busri: 2008
ALIRAN NEO-FIRTHIAN

3. Kelas 4. Sistem

seperangkat butir- penyusunan


butir yang beroperasi paradigmatik dari
dengan fungsi tertentu kelas-kelas dalam
dalam akar kata. hubungan pilihan.

Busri: 2008
ALIRAN NEO-FIRTHIAN
Halliday menguraikan pula tentang linguistik
sebagai studi atau kajian “bagaimana kita
mempergunakan bahasa untuk hidup”.
Ia menolak “mentalis” maupun “mekanis” yang ekstrim, dan
menolak konsep tentang bahasa yang terdiri atas “bentuk”
dan “makna”. Dalam hal ini yang menjadi penekanan aliran
Neo-Firthian adalah bahwa makna adalah milik dari segala
jenis pola yang ada dalam bahasa; kita tidak dapat
memberikan bahasa tanpa memberikan makna. Akan
tetapi untuk memberikan secara mendalam kita harus
mengenal berbagai level bahasa-tata bahasa, fonologi, dan
seterusnya.

Busri: 2008