Anda di halaman 1dari 33

Pragmatik October 30th, 2009 Related Filed Under Pragmatik itu sendiri menurut Leech (1983:x) adalah studi

di tentang makna ujaran di dalam situasi-situasi tertentu. Lebih lanjut ia juga menyatakan bahwa pragmatik merupakan kajian mengenai makna di dalam hubungannya dengan situasi ujar. Dari pengertian ini terlihat bahwa kedua batasan tersebut mengeksplisitkan makna, yang kemudian di dalam pragmatik disebut maksud. Lebih lanjut lagi, Gunarwan menyebutkan salah satu definisi pragmatik, yaitu kajian mengenai kemampuan pengguna bahasa untuk menyesuaikan kalimat dengan konteks sehingga kalimat itu patut diujarkan (dalam Rustono, 1999:2). Jadi pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa, atau maksud di balik suatu tuturan. Penggunaan bahasa yang tepat harus diperoleh seorang anak karena kemampuan berbahasa yang baik tidak hanya terletak pada kepatuhan terhadap aturan gramatikal tetapi juga pada aturan pragmatik. Menurut Ninio dan Snow (dalam Dardjowidjojo, 2000:43-48), mau tidak mau seorang anak mengembangkan pengetahuan yang diperlukan agar dalam situasi komunikasi bahasa yang dia pakai itu pantas, efektif, dan sekaligus mengikuti aturan gramatikal. Lebih lanjut mereka juga menyatakan bahwa untuk menelusuri kemampuan pragmatik seorang anak, paling tidak ada tiga hal yang perlu dipelajari, yaitu: 1. Pemerolehan niat komunikatif Ninio dan Snow mendapati bahwa dalam mewujudkan niat komunikatif secara verbal, terdapat urutan yang dilandaskan pada berbagai kepentingan pragmatik seperti: a. Kepentingan ujaran: bertitik tolak pada sudut pandang anak sehingga jenis ujaran yang muncul juga mencerminkan kepentingan tersebut. 3 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com PEMEROLEHAN PRAGMATIK PADA AMELIA GITA SWASTIKA Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa selain memperoleh aturan tata bahasa atau memiliki kompetensi linguistik, anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu menggunakan bahasa secara sosial dengan tepat, atau memiliki kemampuan komunikatif. Karena anak juga terlibat dalam dunia sosial maka ia harus berhubungan dengan anak-anak maupun orang dewasa lainnya. Anak harus menguasai berbagai aturan sosial termasuk mengucap salam, kata-kata tabu, bentuk panggilan yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda dengan orang yang berbeda. A. Tindak Ujaran dan Dampak Ilokusioner Menurut Dardjowidjojo (2000:277), salah satu bentuk

yang umum dipelajari dalam analisis kemampuan pragmatik adalah dengan menganalisis percakapan yang dibuat seorang anak dengan orang dewasa atau anak lain. Dalam penguasaan ujaran yang termasuk dalam PSA, tujuan ilokusioner dari tindak ujaran seperti [bude nda? punya prmn]? Bisa memiliki kemungkinan makna seperti: 1. Perintah: Bude, Amel minta permen. 2. Pertanyaan: Apakah bude punya permen? Untuk tindak ujar meminta tolong, penulis tidak menemukan ujaran yang menggunakan kata tolong. Sedangkan untuk ucapan terima kasih, Amel sudah terbiasa menggunakannya. Misalnya pada percakapan berikut: NN: Me, ini buat kamu. Nanti bilang dari bude Rum ya? AM: [ya. makasih ya]. 9 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com Definisi Pragmatik Seorang filosof dan ahli logika Carnap (1938) menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak. Pragmatik mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda. Selanjutnya Montague mengatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai idexical atau deictic. Dalam pengertian ini pragmatik berkaitan dengan teori rujukan atau deiksis, yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakaiannya. Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian linguistik, bidang yang merupakan penelitian bagi para ahli bahasa. Pragmatik yang dimaksud sebagai bahan pengajaran bahasa atau yang disebut fungsi komunikatif, biasanya disajikan dalam ajaran bahsa asing. Levinson (1983) dalam bukunya yang berjudul Pragmatics, memberikan beberapa batasan tentang pragmatik. Beberapa batasan yang dikemukakan Levinson antara lain mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Dalam batasan ini berarti untuk memahami pemakaian bahasa kita dituntut memahami pula konteks yang mewadahi pemakaian bahasa tersebut. Batasan lain yang dikemukakan Levinson mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu. Leech (1983:6(dalam Gunawan 2004:2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam bidang linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini disebut semantisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik dan komplementarisme atau

melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. Pragmatik dibedakan menjadi dua hal: 1. Pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu pragmatik sebagai bidang kajian linguistik dan pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa. 2. Pragmatik sebagai sesuatu yang mewarnai tindakan mengajar. Pragmatik pada dasarnya memperhatikan aspek-aspek proses komunikatif (Noss dan Llamzon, 1986). Menurut Noss dan Llamzon, dalam kajian pragmatik ada empat unsur pokok, yaitu hubungan antar peran, latar peristiwa, topik dan medium yang digunakan. Pragmatik mengarah kepada kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi yang menghendaki adanya penyesuaian bentuk (bahasa) atau ragam bahasa dengan faktor-faktor penentu tindak komunikatif. Faktor-faktor tersebut yaitu siapa yang berbahasa, dengan siapa, untuk tujuan apa, dalam situasi apa, dalam konteks apa, jalur yang mana, media apa dan dalam peristiwa apa sehingga dapat disimpulkan bahwa pragmatik pada hakekatnya mengarah pada perwujudan kemampuan pemakai bahasa untuk menggunakan bahasanya sesuai dengan faktor-faktor penentu dalam tindak komunikatif dan memperhatikan prinsip penggunaan bahasa secara tepat. Konsep-konsep yang berhubungan dengan pragmatik antara lain adalah tindak bahasa, implikatur percakapan, praaggapan dan deiksis. Dalam kamus bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2005 disebutkan bahwa pragmatik adalah yang berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996;3) menyebutkan 4 definsi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melabihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau ter komunikasikan oleh pembicara, dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995;2) menyebut adanya kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian yaitu, pertama dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara. Kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif,

menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran. Selanjutnya Thomas (1995:22) dengan

mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makan dalam interaksi. 2.2 Pragmatik sebagai bahan pengajaran linguistik Bidang linguistik yang disebut pragmatik dalam linguistik Amerika merupakan bidang baru. Berikut akan dipaparkan sejarah dan latar belakang pemunculan pragmatik serta perbedaan antara pandangan pragmatik dan pandangan structural 2.2.1 Sejarah dan Latar Belakang Saat ini topik pragmatik sangat dikenal dalam linguistik. Padahal dahulu pragmatik dianggap tidak penting. Sikap ini berubah ketika pada akhir tahun 1950an Chomsky menemukan titik pusat sintaksis. Namun sebagai seorang struktualis ia masih menganggap makna terlalu rumit untuk dipikirkan dengan sungguh- sungguh. Pada permulaan tahun 1960 Katz dan kawankawannya (Katz dan Fodor, 1963; Katz dan Postal, 1964; Katz, 1964) mulai menemukan cara memasukkan makna ke dalam teori linguistik formal, dan tidak lama kemudian semangat California atau bust membuat pragmatik masih mencakup. Kemudian pada tahun 1971 lakoff dan lain- lainnya berargumentasi bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari studi penggunaan bahasa. Sejak saat itu pragmatik masuk dalam peta linguistik. Masuknya pragmatik dalam linguistik merupakan tahap akhir dalam gelombang ekspansi linguistik, dari sebuah ilmu sempit yang mengurusi data fisik bahasa, menjadi suatu disiplin ilmu yang luas yang meliputi bentuk, makna dalam konteks. Tetapi, ini tahap perkembangan jalur utama aliran linguistik di belahan Amerika. Pada 1940-an di belahan Eropa sudah berkembang kegiatan mengkaji bahasa dengan mempertimbangkan makna dan situasi (aliran praha, aliran firth) dan pada tahun 1960-an Halliday megembangkan teori sosial mengenai bahasa. Munculnya istilah pragmatik dapat dihubungkan dengan seorang filsuf yang bernama Charles Morris (1938). Ia sebenarnya mengolah kembali pemikiran para filsuf pendahulunya seperti Locke dan Peirce mengenai semiotik (ilmu tanda dan lambang). Oleh Morris semiotik

dibagi menjadi tiga cabang : sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda, semantik mempelajari hubungan antara tanda dengan obyek, dan pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dengan penafsir. Tanda-tanda yang dimaksud di sini adalah tanda bahasa bukan tanda yang lain. Perubahan linguistik di Amerika pada tahun 1970-an diilhami oleh karya filsuf-filsuf seperti : Austi (1962) dan Searle (1969), yang melimpahkan banyak perhatian pada bahasa. Teori mereka mengenai tindak ujaran mempengaruhi perubahan linguistik dari pengkajian bentukbentuk bahasa (yang sudah mapan dan merata pada tahun 1950-1960-an) ke arah fungsi-fungsi bahasa dan pemakaiannya dalam komunikasi. Di Indonesia konsep pragmatik baru diperkenalkan pertama kali dalam kurikulum bidang studi Bahasa Indonesia (Kurikulum 1984) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bila dibandingkan dengan munculnya istilah pragmatik (1938) kita tampaknya jauh ketinggalan dari mereka. Yang penting adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan pragmatik dalam hubungannya dengan kajian bahasa. 2.2.2 Perkembangan Pragmatik Jangkauan linguistik yang semakin luas menyebabkan berubahnya pandangan mengenai hakikat bahasa dan mengenai batasan linguistik. Para strukturalis Amerika yakin sekali bahwa linguistik adalah termasuk ilmu eksakta dan karena itu berusaha keras agar masalah dibuang dari bidang ini. Namun ketika Chomsky mulai menerima sinonim sebagai salah satu data linguisti dasariah, ia telah membuka dasar ilmu semantik. Kemudian murid- murid Chomsky tidak puas dan menemukan bahwa betapa sulitnya memisahkan makna dari konteksnya, karena makna itu berbeda dari konteks yang satu dengan yang lainnya. Akibatnya iakah semantik masuk dalam pragmatik. Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi.

Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (Wellformednes) bukanlah segalanya. Sebab seperti yang sering kita jumpai komunikasi tetap berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak baik secara sintaksis (ill- formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang keiga dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein dan terutam John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya dalam kaitannya dengan logika/ Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa misalnya Searle dan Grice dalam pragmati lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 2.2.3 Pandangan struktural dan pandangan pragmatic Dalam analisis struktural yang dibahas adalah bentuk. Suatu kalimat dianalisis dengan mengamati yang mana subyek dan predikat dalam kalimat tersebut. Bagian yang berupa subyek dapat dipotong-potong lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, demikian juga dengan predikatnya. Dan bagian-bagian tersebut masih dapat dipotong-potong lebih lanjut dan diteruskan sampai pada bagian yang paling kecil. Dalam analisis struktural konteks pemakaian kalimat tidak ikut diperhitungkan. Contoh kalimat: Knnten Sie mir helfen?

Dilihat dari segi bentuknya, kalimat Knnten Sie mir helfen? Merupakan kalimat interogatif, tetapi dari segi fungsinya kalimat tersebut tidak dimaksudkan untuk menanyakan tentang kemampuan (bisa tidaknya) orang yang diajak bicara. Dari segi fungsinya kalimat tersebut bermakna perintah (secara tidak langsung). Makna yang sama dapat juga diutarakan dengan konstruksi imperatif sehingga menjadi kalimat berikut ini. Helfen Sie mir! Tentu saja konteksnya menjadi lain pula. Dengan mengamati kapan suatu perintah dibahasakan dengan konstruksi imperatif dan kapan perintah itu dibahasakan dengan konstruksi interogatif, maka akan terlihat perbedaan yang berhubungan dengan siapa dan kepada siapa kalimat tersebut diucapkan. Konteks menjadi patokan utama dalam analisis pragmatik, sehingga dalam analisis pragmatik dibahas tentang hal-hal sebagai berikut: 1. suatu satuan lingual (dapat dipakai untuk mengungkapkan sejumlah fungsi di dalam komunikasi) 2. suatu fungsi komunikatif tertentu dapat diungkapkan dengan sejumlah satuan lingual 2.2.4 Pragmatik dalam Linguistik Seperti uraikan sebelumnya, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang

mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya

(force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. makna dalam interaksi (meaning in interaction). Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmat http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/programatik/ 13 maret 2012

Semantik Bahasa Indonesia 30 Maret 2011 (SEBUAH RANGKUMAN & CATATAN PERKULIAHAN) A. Pengenalan Semantik Menurut Katz (1971:3) semantik adalah studi tentang makna bahasa. Sementara itu semantik menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara. Secara singkat, semantik ini mengkaji tata makna secara formal (bentuk) yang tidak dikaitkan dengan konteks. Akan tetapi, ternyata ilmu yang mempelajari atau mengkaji makna ini tidak hanya semantik, ada juga pragmatik. Untuk membedakannya, berikut ini ada beberapa poin yang mudah untuk diingat dan dapat dengan jelas membedakan semantik dengan pragmatik. Perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik:

1. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik. Contoh: Di sebuah ruang kelas, Dewi duduk di deretan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya, Pak, maaf saya mau ke belakang. Kata yang dicetak miring itu belakang secara semantik berarti lawan dari depan, berarti kalau dikaji secara semantik, Dewi hendak ke belakang. Akan tetapi, kalau kita lihat konteksnya, Dewi sudah duduk di deretan paling belakang. Tentu saja tidak mungkin makna belakang yang diartikan secara semantik yang dimaksud Dewi. Nah, sekarang kita kaji dengan menggunakan pragmatik, di mana dalam pragmatik ini dilibatkan yang namanya konteks. Konteksnya apa? Konteksnya yaitu keadaan Dewi yang sudah duduk di belakang, sehingga tidak mungkin ia minta izin untuk ke belakang lagi (kita gunakan logika). Biasanya, orang minta izin ke belakang untuk keperluan sesuatu, seperti pergi ke toilet atau tempat lainnya. Nah, kalau yang ini masuk akal kan?

Jadi, makna kata belakang dalam kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik, hanya bisa dijelaskan secara pragmatik. Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik berada di luar jangkauan semantik. 2. Sifat kajian dalam semantik adalah diadic relation (hubungan dua arah), hanya melibatkan bentuk dan makna. Sifat kajian dalam pragmatik adalah triadic relation (hubungan tiga arah), yaitu melibatkan bentuk, makna, dan konteks. 3. Semantik merupakan bidang yang bersifat bebas konteks (independent context), sedangkan pragmatik bersifat terikat dengan konteks (dependent context). Hal ini dapat dijelaskan pada contoh soal poin ke-1. Pada contoh tersebut, ketika makna kata belakang dikaji secara semantik, ia tidak memperhatikan konteksnya bagaimana (independent context), ia hanya dikaji berdasarkan makna yang terdapat dalam kamus. Namun, ketika kata belakang dikaji dengan pragmatik, konteks siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, di mana, dan apa tujuannya ini sangat diperhatikan, sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. 4. Salah satu objek kajian semantik adalah kalimat, sehingga semantik ini sering disebut makna kalimat. Dalam pragmatik, objek kajiannya adalah tuturan (utterance) atau maksud. 5. Semantik diatur oleh kaidah kebahasaan (tatabahasa), sedangkan pragmatik dikendalikan oleh prinsip komunikasi. Jadi, kajian makna dalam semantik lebih objektif daripada pragmatik, karena hanya memperhatikan makna tersebut sesuai dengan makna yang terdapat dalam leksemnya. Kajian makna pragmatik dapat dikatakan lebih subjektif, karena mengandung

konteks/memperhatikan konteks. Dan setiap orang pasti mempunyai makna sendiri sesuai dengan konteks yang dipandangnya. Selain itu, pragmatik juga dimotivasi oleh tujuan komunikasi. Selain itu, pemaknaan semantik itu ketat, karena terpaku pada makna kata secara leksikal (tanpa konteks), sedangkan pemaknaan pragmatik lebih lentur karena tidak mutlak bermakna itu. 6. Semantik bersifat konvensional, sedangkan pragmatik bersifat non-konvensional. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tatabahasa atau menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan.

7. Semantik bersifat formal (dengan memfokuskan bentuk: fonem, morfem, kata, klausa, kalimat), sedangkan pragmatik bersifat fungsional. 8. Semantik bersifat ideasional, maksudnya yaitu makna yang ditangkap masih bersifat individu dan masih berupa ide, karena belum dipergunakan dalam berkomunikasi. Sedangkan pragmatik bersifat interpersonal, maksudnya yaitu makna yang dikaji dapat dipahami/ditafsirkan oleh orang banyak, tidak lagi bersifat individu, karena sudah menggunakan konteks. 9. Representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan interpretasi pragmatiknya. Contoh: Kawan, habis makan-makan kita minum-minum yuk Dikaji dari semantik, kata minum-minum berarti melakukan kegiatan minum air berulangulang, tidak cukup sekali minum. Dikaji dari segi pragmatik, kata minum-minum berarti meminum minuman keras (alkohol).

B. Jenis Semantik

Penjelasan gambar di atas: Kalau objek kajian semantiknya adalah makna-makna gramatikal, maka jenis semantik ini disebut SEMANTIK GRAMATIKAL. Jenis semantik ini mengkaji satuan-satuan gramatikal yang terdiri atas sintaksis dan morfologi. Konteks morfologi: Kata sepatu akan memiliki makna yang berbeda setelah mengalami proses morfologis, misalnya dengan afiksasi menjadi bersepatu. Konteks sintaksis: Di kebun binatang ada enam ekor beruang.

Hanya

orang

yang

beruang

yang

dapat

membeli

rumah

itu.

Perbedaan makna beruang pada kalimat pertama dan kedua itu terjadi karena adanya perbedaan konteks kalimat yang dimasuki kata-kata tersebut. Pada fonologi tidak ada semantiknya, atau dengan kata lain fonologi tidak termasuk dalam jenis-jenis semantik karena fonologi hanya mampu membedakan makna kata dengan perbedaan bunyi. Kalau objek kajian semantiknya leksikon (kosa kata) dari suatu bahasa, maka jenis semantiknya dinamakan SEMANTIK LEKSIKAL. Kajian semantik leksikal ini adalah makna utuh yang terdapat pada masing-masing leksikon tanpa terpengaruh proses apapun (proses morfologi maupun sintaksis). Dikatakan SEMANTIK WACANA kalau objek kajiannya adalah wacana. Tugas jenis semantik ini adalah mengkaji makna wacana. Pemaknaan suatu wacana tidak terlepas dari pola berpikir yang runtut dan logis.

C. Kaidah Umum Semantik 1. Hubungan antara leksem dengan acuannya bersifat arbitrer. Contoh: kata kursi dengan media (yang sekarang kita ketahui wujudnya dan dinamakan kursi) itu tidak bersifat mutlak, tetapi arbitrer. Tidak ada alasan kenapa media tersebut dinamakan kursi. 2. Kajian waktunya ada yang sinkronik (melihat makna dalam kurun waktu tertentu, sehingga maknanya bersifat tetap, tidak mengalami perubahan baik dulu maupun sekarang) dan diakronik (melihat makna dalm kurun waktu panjang, sehingga maknanya relatif berubah.) Contoh diakronik adalah kata bapak. Dahulu, kata bapak digunakan pada seorang laki-laki yang mempunyai hubungan darah (dengan anaknya), sedangkan sekarang kata bapak dapat digunakan pada seseorang yang tidak mempunyai hubungan darah sekalipun, belum tua, dan bahkan belum menikah, misalnya Bapak guru, Bapak walikota, Bapak camat, dsb. 3. Beda bentuk, beda makna.

Contoh kata bisa dan dapat, di mana arti keduanya bersinonim. Akan tetapi, setelah keduanya mendapatkan proses morfologis, misalkan afiksasi peN- + -an, sehingga bentuknya menjadi pembisaan dan pendapatan. Jelas sekali kata dapat yang diberi proses morfologis itu lebih berterima daripada kata bisa setelah mendapat proses morfologis. 4. Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri. Contoh: Kata pipis, dalam Bahasa Sunda kata tersebut berarti air kencing, tetapi dalam Bahasa Bali kata tersebut berati uang jajan. Contoh lainnya yaitu kodok, dalam Bahasa Sunda berarti mengambil sesuatu dari sebuah lubang yang dalam, sedangkan dalam Bahasa Indonesia berarti katak. 5. Makna berkaitan dengan pandangan hidup/budayanya. Pada poin ini berkaitan dengan tabu atau tidaknya penggunaan kata tersebut di suatu masyarakat. Contoh kata anjing, bagi orang Islam kata anjing dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bernajis, tetapi bagi orang Kristen dapat dimaknai sebagai hewan yang lucu dan menggemaskan. Contoh lainnya yaitu kata momok, bagi masyarakat Indonesia (umum) kata tersebut berarti sesuatu yang menakutkan, tetapi bagi masyarakat Sunda kata tersebut berati vagina. Satu contoh lagi yaitu kata butuh, bagi masyarakat Indonesia (umum) kata tersebut berati perlu, tetapi bagi masyarakat di Kalimantan dapat berarti nama kemaluan pria. 6. Luasnya bentuk luasnya makna Secara bentuk, semakin lebar (kata-kata yang digunakan) maka semakin sempit maknanya, begitu sebaliknya. Contoh: Kereta Kereta api Kereta api ekspres Bandingkan makna kata kereta dengan makna yang terkandung dalam kereta api ekspres. Secara bentuk, kata kereta lebih simpel daripada kereta api ekspres. Akan tetapi secara

makna, makna kereta masih terlalu luas, apakah yang dimaksudkan itu kereta api atau kereta uap, atau kereta apa? Sedangkan makna kereta api ekspres sudah jelas berarti kereta api khusus yang lajunya lebih cepat dan fasilitas serta pelayanannya lebih baik daripada kereta api ekonomi. D. Penamaan dalam Semantik Penamaan dalam semantik ini ada 8 penyebab yaitu: 1. Peniruan bunyi; contohnya tokek disebut demikian karena bunyi hewan tersebut adalah tokek-tokek. Penamaan sesuatu berdasarkan peniruan bunyinya disebut ONOMATOPE. 2. Penyebutan bagian; contoh Ibu membeli empat ekor ayam yang dimaksud kalimat tersebut pastilah bukan hanya ekor ayamnya saja yang dibeli ibu, tetapi ayam secara keseluruhan. 3. Penyebutan sifat khas; contoh si kerdil karena anak tersebut tetap berbadan kecil, tidak tumbuh menjadi besar. 4. Penemu dan pembuat; contoh Aqua dan kodak, kalau kita mau membeli air minum dalma kemasan, pasti kita akan berkata, Pak, beli Aqua satu botol. Padahal di toko tersebut tidak ada air minum kemasan bermerek Aqua. Demikian juga dengan Kodak yang merupakan nama merek sebuah kamera. 5. Tempat asal; contoh kata magnet berasal dari nama tempat Magnesia, nama burung kenari diambil dari asal burung itu berada yaitu Pulau Kenari di Afrika, ikan sarden berasal dari Pulau Sardinia di Italia. Ada juga nama piagam atau perjanjian-perjanjian besar seperti Piagam Jakarta karena tempatnya di Jakarta, Perjanjian Linggarjati karena pelaksanaan perjanjian tersebut di Linggarjati. 6. Bahan; contoh nama karung goni karena bahan karung tersebut dari goni, dan bambu runcing karena benda tersebut terbuat dari bambu dan ujungnya runcing. 7. Keserupaan; perhatikan contoh kaki, kaki gunung, kaki kursi, dan kaki meja, hal yang sama dari empat contoh tersebut adalah letaknya, di mana letak kaki selalu ada di bawah. Contoh lain misalnya kepala, kepala masinis, kepala sekolah, dan kepala surat, hal yang sama pada kata-kata tersebut yaitu letaknya, di mana letak kepala selalu berada di atas, kepala surat selalu diletakkan di bagian atas kan? ^_^

8. Pemendekan; contoh UPI menjadi nama sebuah universitas negeri di Bandung, padahal namanya bukan UPI, tetapi Universitas Pendidikan Indonesia. Contoh lain yaitu cireng yang menjadi nama sebuah makanan ringan, cireng merupakan kependekan dari aci digoreng. E. Aspek Makna Aspek makna dibedakan atas empat macam yaitu pengertian (sense), perasaan (feeling), nada (tone), dan maksud atau tujuan (intention). Pengertian sense sama dengan tema. Perasaan berkaitan dengan sikap pembicara terhadap apa yang sedang dibicarakan serta bagaimana situasi pembicaraan saat itu. Nada adalah sikap pembicara terhadap lawan bicaranya. Maksud adalah hal yang mendorong pembicara untuk mengungkapkan satuan-satuan bahasa. Contohnya yaitu Hari ini panas, apabila orang yang diajak berbicara itu menanggapinya dengan hal lain seperti meminta minum, maka akan berbeda pula dengan maksud di penutur (hanya memberi tahu bahwa hari ini cuacanya panas).

F. Jenis Makna

Makna leksikal adalah makna yang terdapat pada kata tersebut secara utuh, sesuai dengan bawaannya. Contoh Tikus itu mati diterkam kucing, makna kata tikus pada kalimat tersebut adalah binatang tikus, bukan yang lainnya. Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apa pun. Makna generik adalah makna konseptual yang luas, umum, yang mencakup beberapa makna konseptual yang khusus maupun umum. Contoh kata sekolah dalam kalimat Sekolah kami menang, bukan hanya gedung sekolahnya saja yang menang, tetapi juga mencakup gurugurunya, muridnya, dan warga sekolah lainnya. Bila kita berkata, Ani sekolah di Lampung, hal ini sudah tidak dapat dikaitkan dengan makna konseptual sekolah, tetapi sudah lebih luas yaitu Ani belajar di gedung yang namanya sekolah dan sekolah tersebut berada di Lampung.

Makna spesifik adalah makna konseptual yang khusus, khas, dan sempit. Contoh pada kalimat Pertandingan sepak bola itu berakhir dengan kemenangan Bandung, yang dimaksud hanya beberapa orang yang bertanding saja, bukan seluruh penduduk Bandung. Makna asosiatif disebut juga makna kiasan. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. Contoh kata bunglon berasosiasi dengan makna orang yang tidak berpendirian, kata lintah darat berasosiasi dengan makna orang yang suka memeras (pemeras) atau pemakan riba. Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar leksikalnya. Makna afektif adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atua pembaca terhadap penggunaan bahasa. Contoh datanglah ke pondok buruk kami, gadungan pondok baru kami mengandung makna afektif merendahkan diri. Makna stilistika adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. Makna stilistika berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama kepada pembaca. Makna stilistika lebih dirasakan di dalam karya sastra. Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama. Contoh kata-kata ikan, gurame, sayur, tomat, minyak, bawang, telur, garam, dan cabai tentunya akan muncul di lingkungan dapur. Contoh lain yaitu bantal, kasur, bantal guling, seprei, boneka, selimut, dan lemari pakaian tentu akan muncul di lingkungan kamar tidur. Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Dalam Bahasa Indonesia ada dua macam idiom yaitu IDIOM PENUH dan IDIOM SEBAGIAN. Idiom penuh adalah idiom yang unsurunsurnya secara keseluruhan merupakan satu-kesatuan dengan satu makna. Contoh Orang tua itu membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan anaknya, ungkapan membanting tulang dalam kalimat tersebut tentu memiliki satu kesatuan makna yaitu kerja keras. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalam unsur-unsurnya masih terdapat unsur yang memilikii makna

leksikal. Contoh daftar hitam yang berarti daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai atau dianggap bersalah. Makna kontekstual muncul sebagai akibat adanya hubungan antara ujaran dengan situasi. Contoh Saya lapar, Bu, minta nasi! yang berarti orang tersebut berada dalam situasi yang benar-benar lapar dan ia meminta nasi. Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsiinya sebuah kata dalam suatu kalimat. Contoh kata mata, secara leksikal bermakna alat/indera yang berfungsi untuk melihat, tetapi setelah digabung dengan kata-kata lain menjadi mata pisau, mata keranjang, mata air, air mata, dan mata duitan maka maknanya akan berubah menjadi makna gramatikal. Makna tematikal adalah makna yang dikomunikasikan oleh pembicara/penulis melalui urutan kata-kata, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan. Contoh Aminah anak Bapak Roni meninggal dunia kemarin, makna dari kalimat tersebut bisa ada tiga yaitu: (1) Aminah/anak Bapak Roni/meninggal kemarin. (2) Aminah!/anak Bapak Roni meninggal kemarin. (3) Aminah/anak/Bapak/Roni/meninggal kemarin. Makna kalimat (1) adalah anak Bapak Roni yang bernama Aminah telah meninggal kemarin, kalimat (2) berarti sebuah informasi memberi tahu Aminah bahwa anak Bapak Roni yang entah siapa namanya telah meninggal kemarin, dan kalimat (3) berarti ada emmpat orang yang meinggal kemarin yaitu Aminah, anak, Bapak, dan Roni. G. Relasi Makna Relasi makna adalah hubungan antara makna kata yang satu dengan makna kata yang lainnya. Prinsip relasi makna ada empat yaitu prinsip kontiguitas, prinsip komplementasi, prinsip overlaping, dan prinsip inklusi. PRINSIP KONTIGUITAS adalah prinsip yang menjelaskan bahwa beberapa kata dapat memiliki makna yang sama/mirip; prinsip ini dapat menimbulkan relasi makna yang disebut SINONIMI. PRINSIP KOMPLEMENTASI adalah prinsip yang menjelaskan bahwa makna kata yang satu berlawanan dengan makna kata yang

lainnya; prinsip ini dapat menimbulkan relasi makna yang disebut ANTONIMI. PRINSIP OVERLAPING adalah prinsip yang menjelaskan bahwa satu kata memiliki makna yang berbeda, atau kata-kata yang sama bunyinya tetapi berbeda maknanya; prinsip ini menimbulkan adanya relasi makna yang disebut HOMONIMI dan POLISEMI. PRINSIP INKLUSI adalah prinsip yang menjelaskan bahwa makna satu kata mencakup beberapa mekna kata lain; prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut HIPONIMI.

Contoh sinonimi: Pintar, pandai, cerdik, cerdas, cakap Cantik, molek, bagus, indah, permai Bunga, kembang, puspa Aku, saya, beta, hamba

Contoh antonimi: Kuat >< dingin

Contoh homonimi: a) Homonimi yang berhomograf dan berhomofon: bisa = (1) sanggup/dapat, (2) racun ular buku = (1) media untuk menulis/membaca, (2) bagian tekukan pada jari-jari

b) Homonimi yang tidak berhomograf (homofon): bang = bentuk singkat dari abang yang berarti kakak laki-laki bank = lembaga yang mengurus lalu lintas uang sangsi = ragu-ragu, bimbang sanksi = hukuman, konsekuensi, akibat sah = dilakukan menurut hukum syah = raja syarat = ketentuan sarat = penuh

c) Homonimi yang tidak berhomofon (homograf): teras = pegawai utama teras [tras] = halaman depan rumah, lantai rumah tempat bersantai apel = nama buah apel [apl] = upacara resmi tahu [tau] = mengerti, paham tahu = nama makanan yang terbuat dari kedelai yang digiling halus

contoh hiponimi:

Hubungan antar hiponim (merah, kuniing hijau) disebut kohiponim.

Contoh polisemi: kepala (karena selalu terletak di bagian atas/tertinggi posisinya, contoh kepala suku, kepala surat, kepala sekolah) mulut (sebagai jalan masuk dan letaknya selalu di depan, contoh mulut gua, mulut harimau,

mulut gang, mulut botol) bibir (terletak di tepian, contoh bibir sungai) Referensi: Fasha, Mahmud, Sitaresmi, Nunung. 2011. Pengantar Semantik. Bandung: UPI PRESS http://robita.wordpress.com/2011/03/30/semantik-bahasa-indonesia/ 13 maret 2012

Pragmatik dan Lingkupnya Istilah pragmatik sebagaimana kita kenal saat ini dapat ditelusuri melalui nama seorang filosof Charles Morris (1938) yang mengolah kembali pemikiran para filosof pendahulunya (Locke dan Pierce), mengenai ilmu tanda atau semiotik (semiotics). Dikatakan oleh Morris bahwa semiotik memiliki tiga cabang kajian, yaitu sintaksis (syntax), semantik (semantics), dan pragmatik (pragmatics). Sintaksis adalah kajian tentang hubungan formal antar tanda; semantik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan objek tanda tersebut (designata); dan pragmatik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu (Levinson, 1985: 1; Nababan, 1987: 1; Purwo, 1990: 11; Wijana, 1996: 5). Meskipun semantik dan pragmatik sama-sama berurusan dengan makna, namun keduanya memiliki perbedaan. Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic), sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic). Dengan demikian, makna dalam pragmatik diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dalam semantik, makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan dalam bahasa tertentu terpisah dari situasi, penutur, dan petutur (Leech, 1983: 8). Semantik sebagai salah satu cabang (linguistik mengkaji makna bahasa (linguistic meaning, linguistic sense) secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna penutur (speaker meaning, speaker sense) yang bersifat eksternal (Wijana, 1997: 7; 1999: 6). Semantik adalah telaah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Pada dasarnya, semantik menelaah makna kata atau klausa tetapi makna yang bebas konteks (context-independent), sedangkan pragmatik menelaah makna yang terikat konteks (context-independent) (Purwo, 1990: 16). Leech (1983: 1) menyatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu. Bila dikaitkan dengan semantik, studi semantik bersifat komplementer yang berarti bahwa studi tentang penggunaan bahasa dilakukan baik sebagai bagian terpisah dari sistem formal bahasa maupun sebagai bagian yang melengkapinya. Levinson (1985: 1) menyatakan bahwa pragmatics, the study of the relation of signs to interpreters. Pengertian/pemahaman bahasa menunjuk pada fakta bahwa untuk mengerti suatu ungkapan/

ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungan dengan konteksnya. Sementara Parker (dalam Wijana, 1996: 2) menyatakan Pragmatics is distinct from grammar, which is the study of languange use to communicate. Sebagai konklusi Purwo (1990: 16) menyatakan bahwa pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. Dari definisi-definisi di atas terlihat bahwa pragmatik akan selalu berhubungan dengan penutur dan makna yang dipengaruhi oleh situasi. Oleh karenanya sebuah tuturan bisa memiliki makna yang berbeda dari makna secara semantis. Hal itu berarti bahwa makna dalam pragmatik bersifat eksternal karena dipengaruhi oleh konteks, sedangkan makna dalam semantik bersifat internal. Terjadinya perbedaan makna tersebut disebabkan oleh konteks yang digunakan. Konteks yang dimaksud adalah ihwal siapa yang mengatakan, kepada siapa, tempat, dan waktu diujarkannya suatu kalimat, anggapan-anggapan mengenai yang terlibat dalam tindakan mengutarakan kalimat (Purwo, 1990: 14). Oller (dalam Yalden, 1985: 54) mendefinisikan pragmatik sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara bentuk linguistik dan konteks. Secara logis aliran pragmatik juga melibatkan sintaksis, suatu bentuk linguistik tertentu yang berhubungan dengan setting paralinguistik yang sering disebut sebagai cash-value dari suatu kata tertentu. Cash-value ditentukan oleh aturanaturan kebahasaan sehubungan dengan konteks paralinguistik yang berlaku yang bisa memberi arah bagi penutur untuk menggunakan suatu istilah tertentu. Teori pragmatik -menekankan pada fungsi bahasa dalam komunikasi riil karena makna setiap kata akan sangat bergantung pada fungsi yang dimainkan oleh bahasa tersebut dalam komunikasi yang sedang berlangsung. Teori pragmatik fungsional ini lebih cenderung bersifat sosial daripada psikologis. Berkait dengan pengertian pragmatik di antaranya ada rumusan-rumusan lain sebagai berikut : 1. Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks

ditatabahasakan atau yang dikodekan pada struktur bahasa. (Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of a language) (Levinson, 1985: 9). 2. Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar untuk mengartikan bahasa itu. (Pragmatics is the study of the relations between

language and contexts that are basic to an account of language understanding). (Levinson, 1985: 21). 3. Pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai sehingga kalimat-kalimat tersebut dapat dimaknai. (Pragmatics is the study of the ability of langunge users to pair sentences with the contexts in which they would be appropriate) (Levinson, 1985: 24). Definisi-definisi di atas menunjukkan bahwa yang menjadi fokus pragmatik adalah hubungan antara bahasa dan konteks. Konteks menurut Hymes meliputi enam dimensi. Pertama, tempat dan waktu (setting); seperti di ruang kelas, di pasar, stasiun, masjid, dan warung kopi. Kedua, pengguna bahasa (participants); seperti dokter dengan pasien, dosen dengan mahasiswa, penjual dengan pembeli, menteri dengan presiden, dan anak dengan orang tua. Ketiga, topik pembicaraan (content); seperti pendidikan, kebudayaan, politik, bahasa, dan olah raga. Keempat, tujuan (purpose); seperti bertanya, menjawab, memuji, menjelaskan, dan menyuruh. Kelima, nada (key); seperti humor, marah, ironi, sarkastik, dan lemah lembut. Keenam, media/saluran (channel); seperti tatap muka, melalui telepon, melalui surat, melalui e-mail, dan melalui telegram (dalam Nurkamto, 2002: 2). Sedangkan menurut Levinson (1985: 54) konteks di mana ujaran diproduksi, atau istilahnya adalah deixis, merupakan hal yang juga menjadi perhatian di dalam pragmatik. Ia memberikan contoh sebuah kalimat (Levinson, 1985: 54-55)yang kita baca dari tempelan yang ada di sebuah pintu kantor seseorang: Ill be back in an hour. Kalimat ini susah untuk diinterpretasi sebab kita tidak tahu kapan kalimat tersebut ditulis, sehingga kita pun tidak tahu kapan ia bakal kembali. Ia lalu memberikan contoh kalimat lainnya yang misalnya kita peroleh dari dalam sebuah botol yang terapung di laut: Meet me here a week from now with a stick about this big. Kalimat tersebut bakal susah diinterpretasikan sebab informasi yang ada tidaklah mencukupi. Kita tidak tahu siapa yang bakal ditemui, di mana atau kapan bakal kita temui, atau seberapa besar tongkat yang harus kita bawa. Dari sinilah sebenarnya terpahami bahwa ujaran yang kita

temui sehari-hari terikat kuat dengan aspek-aspek konteks ujaran. Levinson kemudian menjabarkan macam-macam deixis berdasarkan rujukannya atas tulisan Bhler, Frei, Fillmore, dan Lyons (1985: 61). Macam-macam deixis tersebut adalah: 1. person deixis yang merujuk pada pemilihan pronomina yang bergantung pada konteks ujaran. 2. time deixis yang merujuk pada perbedaan antara saat pengujaran (moment of utterance) yang disebut juga dengan coding time (CT) dengan saat penerimaan suatu ujaran (moment of reception) atau juga diistilahkan dengan receiving time (RT). 3. place deixis atau space deixis merujuk pada kekhasan tempat yang menyebabkan perbedaan ujaran. 4. discourse deixis merujuk kepada penggunaan ungkapan yang mengikut pada konteks wacana sebelumnya. 5. social deixis yang merujuk kepada aspek-aspek ujaran yang terikat pada beberapa realitas situasi sosial menurut terjadinya ujaran. Kemudian Levinson juga memaparkan lingkup pragmatik lainnya yaitu implicature. Implicature menempati posisi penting di dalam kajian pragmatik disebabkan oleh empat alasan (Levinson, 1985: 97-100). Alasan pertama adalah konsep implicature dapat menjelaskan fungsi makna dari fenomena linguistik bahwa penyusunan ujaran terkait dengan interaksi antarmanusia. Alasan kedua adalah bahwa implicature dapat menjelaskan interpretasi sebuah ajaran lebih daripada yang sebenarnya dikatakan. Alasan ketiga adalah bahwa implicature berkait dengan simplifikasi substansial berkait dengan baik struktur ujaran maupun konten deskripsi-deskripsi semantis. Alasan terakhir adalah konsep implicature menjadi penting di dalam beraneka rupa fakta mendasar mengenai bagaimana bahasa seharusnya diletakkan. Konsep implicature sendiri merupakan konsep yang diusulkan oleh Herbert Paul Grice. Implicature secara istilah adalah suatu teori tentang bagaimana manusia menggunakan bahasa (Levinson, 1985: 101-102). Grice mengajukan lima prinsip penggunaan bahasa, yaitu:

1. The co-operative principle; sebab penggunaan bahasa atau komunikasi adalah proses yang bukan satu arah, maka kontribusi yang memadai diperlukan. Partisipan harus saling berkerjasama di dalam percakapan. 2. The maxim of Quality; agar komunikasi berjalan baik maka: (i) jangan katakan apa yang diyakini salah, (ii) jangan katakan hal yang tidak mempunyai kecukupan bukti. 3. The maxim of Quantity; (i) kontribusi yang diberikan partisipan haruslah informatif dalam kerangka ketepatan komunikasi, (ii) jangan memberikan kontribusi yang melebihi kerangka kebutuhan informasi yang dibutuhkan di dalam komunikasi tersebut. 4. The maxim of Relevance; berikan kontribusi yang relevan. 5. The maxim of Manner; berikan kontribusi ujaran yang jelas dan dapat dipahami, serta secara khusus: (i) hindari obscurity (ketidakjelasan atau kesulitdimengertii), (ii) hindari ambiguity (ambiguitas), (iii) be brief (tidak usah bertele-tele), (iv) be orderly (runtut). Konsep yang diusulkan oleh Grice sendiri mengalami kesulitan di dalam praktiknya karena tidak semua percakapan mengandung semua prinsip yang ia kemukakan. Meskipun demikian, sumbangsih Grice mengenai konsep ideal dari percakapan merupakan bahan kajian yang menarik di dalam pragmatik. Meskipun konsep tersebut dapat dikatakan berhasil digambarkan dalam film The Invention of Lying (2009). Hal lainnya yang juga menjadi objek kajian pragmatik adalah presupposition (persangkakiraan), speech acts (tindak tutur) yang diperkenalkan oleh John Langshaw Austin lalu kemudian dipermak oleh John Rogers Searle, dan conversation analysis. DAFTAR PUSTAKA Leech, Geoffrey. 1983. The Principle of Pragmatics. London: Longman Group UK. Limited. Levinson, Stephen C. 1985. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta: Depdikbud. Proyek Pengembangan Tenaga Kependidikan.

Nurkamto, Joko. 2002. Pragmatik. Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret. Purwo, Bambang K. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Kanisius. Latsis, Paris K. et al (Produser); Ricky Gervais (Sutradara); & Matthew Robinson (Sutradara). 2009. The Invention of Lying. United States: Warner Bros. Pictures. Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi. ________. 1997. Linguistik, Sosiolinguistik, dan Pragmatik. Yogyakarta: Makalah Temu Ilmiah Bahasa dan Sastra 26-27 Maret. ________. 1999. Semantik dan Pragmatik. Makalah Seminar Nasional Semantik I. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Yalden, Janice. 1985. The Communicative Syllabus Evolution, Design, and Implementation. New York: Pergamon Press. http://dipanugraha.blog.com/2011/04/11/pragmatik-dan-lingkupnya/ 13 maret 2012

Pragmatik Oleh Ade Heryawan, S. Pd.

A.

Pengertian

Pragmatik

Sebagai ilmu kajian bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu, antara lain: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Fonologi merupakan cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk bunyi bahasa. Morfologi merupakan cabang linguistik yang

mengkajiseluk-beluk morfem dan penggabungannya. Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji penggabungan satuan-satuan lingual berupa kata yang dapat membentuk satuan kebahasaan lebih besar, seperti: frase, klausa, kalimat, dan wacana. Semantik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna satuan-satuan lingual, baik makna leksikal maupun gramatikal. Sedangkan pragmatic merupakan cabang linguistik yang mengkaji struktur bahasa secara eksternal, yakni penggunaan satuan kebahasaan dalam komunikasi.

Dari kelima cabang linguistik tersebut, terdapat dua cabang yang menjadikan makna satuan bahasa sebagai objek kajiannya. Kedua cabang linguistik itu adalah semantik dan pragmatik. Semantik mengkaji makna-makna satuan lingual secara internal. Sedangkan pragmatik mengkaji makna-makna satuan lingual secara eksternal. Perbedaan cara pengkajian makna dalam semantik dan (1) (2) Badu Ayah : pragmatik Keterampilan Ayah : Bagus, ini dapat dilihat yang sangat dalam bagus, contoh menjadikan ujian 50, PS saja, kalimat ia juara berikut. pidato.

berbicaranya :

Bagaimana Wah, besok dapat main

bahasamu? Yah! ya!

Kata bagus, pada kalimat (1) dan (2) memiliki makna yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena makna kata bagus pada kalimat (1) dikaji secara internal, sehingga bermakna baik atau tidak buruk. Sedangkan pada kalimat (2), kata bagus harus dikaji secara eksternal, sehingga tidak lagi bermakna baik atau tidak buruk, tetapi bermakna sebaliknya dan biasa digunakan untuk menyindir.

Bertolak pada perbedaan cara pengkajian dalam semantik dan pragmatik yang mengkaji makna secara internal dan eksternal, berikut disajikan beberapa pengertian pragmatik dari berbagai sumber. 1. Menurut F. H. George dalam Semantics;

Pragmatik atau semantik behavioral menelaah perilaku insan, terutama sekali dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku dalam keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan tanda (George, 2. Menurut Madelon E. 1964: Heatherington dalam How Language 31). Works;

Pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosialperformansi bahasa yang dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi. Pragmatik menelaah bukan saja pengaruh-pengaruh fonem suprasegmental, dialek, dan register, tetapi justru memandang performansi ujaran sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh aneka ragam konvensi sosial. Dan para teoritikus pragmatik telah mengidentifikasi adanya tiga jenis prinsip kegiatan ujaran, yaitu kekuatan ilokusi, prinsip-prinsip percakapan, dan presuposisi (Heatherington, 3. Menurut C. W. Morris dalam 1980: Foundations of the Theory for 155). Sign;

Pragmarik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan para penafsir (Morris, 1938: 6). 4. Menurut Stephen C. Levinson dalam Pragmatics;

Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa (Levinson, 1980: 1). 5. Menurut Geoffrey N. Leech dalam Principles of Pragmatics;

Pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa mengkaji penggunaan bahasa yang berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik (Leech, 1983: 13).

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna satuan bahasa berupa fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana yang digunakan penutur dengan memperhatikan situasi tutur.

B.

Sumber

Kajian

Pragmatik

Dengan mencermati uraian dan berbagai pengertian pada bagian 1.1, terlihat jelas bahwa makna yang dikaji semantik dan pragmatik berbeda. Semantik mengkaji makna yang bebas konteks, sedangkan pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks.

Dengan demikian, sumber kajian semantik dan pragmatik pun berbeda. Semantik menjadikan makna internal yang bersifat bebas konteks (context independent) sebagai sumber kajian. Sedangkan sumber kajian pragmatik merupakan dikotomi dari sumber kajian semantik, yaitu makna eksternal yang bersifat terikat konteks (context dependent).

Dan bila dicermati secara mendalam, makna yang menjadi sumber kajian semantik merupakan makna linguistik (linguistic meaning) atau speaker sense. Hal ini berarti bahwa, makna yang dikaji semantik bersifat diadis, yaitu makna yang dapat dirumuskan dengan kalimat Apa makna x itu?, sedangkan makna yang dikaji pragmatik bersifat triadis, yaitu makna yang dapat dirumuskan dengan kalimat Apakah yang kau maksud dengan berkata x itu?. Dalam bahasa Inggris, kedua konsep makna itu dapat dibedakan dengan kalimat What does x mean? dan What do you mean by x?.

C. Analisis pragmatik merupakan

Analisis pengkajian suatu kalimat atau

Pragmatik wacana dengan

mempertimbangkan situasi tutur yang dapat melahirkan kesimpulan tersirat dalam kalimat atau wacana tersebut. Analisis pragmatik ini dapat dilihat dalam wacana berupa teks iklan bumbu masak (3) (4) (5) Regu Regu nasi tembak Tahanan tembak dan : Coba : tahanan : Hm! goring katakan, Nasi (Makan nasi apa Kokita permintaan goring goreng berikut. terakhirmu? Kokita. bersama-sama)

Dari teks iklan tersebut, secara analisis pragmatik diperoleh kesimpulan bahwa nasi goreng dengan bumbu masak Kokita sangat lezat. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan hasil perbandingan teks tersebut dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa, bila seorang tahanan yang akan menjalani eksekusi di depan regu tembak ditanyai tentang permitaan terakhirnya, maka jawaban yang disampaikannya adalah Ingin bertemu dengan keluarga atau teman terdekat. Namun, dalam teks iklan itu ternyata tahanan menjawab Nasi goreng

Kokita.Hal ini menunjukkan bahwa, makan nasi goreng dengan bumbu masak Kokita dipandang lebih penting daripada bertemu dengan anak dan istri. Jadi dalam teks iklan itu diungkapkan secara tersirat bahwa, bumbu masak Kokita sangat lezat, sehingga dapat melupakan anak dan istri, serta kedudukan dan kewajiban regu tembak terlupakan karena ikut menikmati nasi goreng dengan bumbu masak Kokita yang diminta tahanannya. Dengan demikian, jawaban Nasi goreng Kokita yang diungkapkan tahanan, bukanlah sekedar informasi biasa, tetapi merupakan informasi yang memiliki daya persuasi yang kuat.

D.

Analisis

Linguistik

Struktural

Berbeda dengan analisis pragmatik yang mengkaji suatu kalimat atau wacana dengan mempertimbangkan situasi tutur, analisis linguistik struktural merupakan pengkajian suatu kalimat atau wacana dengan menjadikan bentuk-bentuk lingual tanpa mempertimbangkan situasi tutur sebagai dasar pengkajian, sehingga penganalisisannya bersifat formal.

Bila teks iklan pada bagian 1.3 dianalisis secara linguistik struktural, setidak-tidaknya akan diperoleh kesimpulan bahwa dalam teks iklan itu terdapat: 1. klausa interogatif-informatif, yaitu pada kalimat Coba katakan, apa permintaan terakhirmu? dengan penanda perintah coba, predikat katakan, kata Tanya apa sebagai predikat, dan subjeknya permintaan terakhirmu. 2. kalimat jawaban, yaitu pada kalimat Nasi goreng Kokita. berupa frase nomina atributif yang menduduki fungsi predikat. 3. kalimat minor, yaitu pada kalimat Hm! berupa kalimat seru yang terdiri atas interjeksi. Dan bila diteruskan dengan menggunakan analisis gramatika secara formal, biasanya penganalisisan secara linguistik struktural itu akan dilanjutkan pada tataran subklausa, kata, dan morfem. Analisis formal seperti ini tidak akan menangkap maksud penulisan teks iklan tersebut, bila pendekatan pragmatik untuk melengkapinya tidak digunakan. http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/pragmatik.html 13 maret 2012