Anda di halaman 1dari 35

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

JADWAL PRAKTIKUM

Pertemuan 1 : Responsi Pertemuan 2 : Modul 1 Pertemuan 3 : Modul 1 Pertemuan 4 : Diskusi Modul 1 Pertemuan 5 : Modul 2 Pertemuan 6 : Diskusi Pertemuan 7 : UTS (Modul 1 & 2) Pertemuan 8 : Modul 3 Pertemuan 9 : Modul 4 Pertemuan 10 : Diskusi modul 3 dan 4 Pertemuan 11 : Modul 5 Pertemuan 12 : Diskusi modul 5 Pertemuan 13 : UAS (Modul 3, 4, dan 5)

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

DAFTAR ISI

Modul 1
UJI DISOLUSI SEBAGAI EVALUASI BIOFARMASETIK SEDIAAN

Modul 2
DISPERSI PADAT

Modul 3
ABSORPSI OBAT PER ORAL SECARA IN VITRO

Modul 4
ABSORPSI OBAT PER ORAL SECARA IN SITU

Modul 5
ABSORPSI OBAT PERKUTAN SECARA IN VITRO

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

MODUL 1
UJI DISOLUSI SEBAGAI EVALUASI BIOFARMASETIK SEDIAAN

TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa: 1. Memahami disolusi sebagai salah satu evaluasi biofarmasetik suatu sediaan 2. Terampil dan memahami bagaimana melakukan uji disolusi suatu sediaan berdasarkan Farmakope Indonesia edisi IV 3. Dapat menginterpretasi hasil uji disolusi sediaan

TEORI DASAR
Biofarmasi adalah cabang ilmu farmasi yang mempelajari hubungan antara sifat fisikokimia obat, faktor fisiologi tempat pemberian obat, serta faktor formulasi dan teknologi pembuatan sediaan obat dengan berbagai proses yang dialami obat dalam tubuh sampai zat aktif masuk ke dalam sistem peredaran darah atau yang disebut ketersediaan hayati (bioavailability) (Shargel, 2007). Ketersediaan hayati adalah persentase dan kecepatan zat aktif dalam suatu produk obat yang mencapai/tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif setelah pemberian produk obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau dari ekskresinya dalam urin. (Anonim, 2005). Proses biofarmasetik yang dialami sediaan obat dalam tubuh dapat meliputi disintegrasi, disolusi, difusi, dan absorpsi baik sebagian maupun seluruh proses. Sebagai contoh, sediaan tablet/kapsul mengalami seluruh proses biofarmasetik (gambar 1) sampai obat tersebut mencapai sirkulasi darah

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

Gambar 1 : Proses biofarmasetik sediaan tablet atau kapsul (Shargel,2007)

Berdasarkan proses yang dialami sediaan tablet/kapsul maka salah satu yang menentukan kecepatan zat aktif mencapai sirkulasi sistemik adalah kecepatan disolusi. Oleh karena itu salah satu studi biofarmasetik suatu sediaan tablet/kapsul adalah dengan melakukan uji disolusi. Disolusi (Kecepatan pelarutan) adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya zat terlarut dalam pelarut tertentu tiap satuan waktu. Hubungan yang menggambarkan proses pelarutan suatu zat padat dikembangkan oleh Noyes and Whitney dalam persamaan berikut:
dM DS = (Cs C) dt h

Dimana :

dM/dt D S Cs C H

= Kecepatan pelarutan = Koefisien Difusi = luas permukaan zat = kelarutan zat = Konsentrasi zat dalam larutan pada waktu t = tebal lapisan difusi

Dan koefisien difusi (D) tergambar pada persamaan Bolztman berikut ini
D= KT 6 r

Dimana

D K T r

= Koefisien difusi = konsntanta Boltzman = suhu mutlak = Viskositas pelarut = jari-jari molekul

Ketentuan uji disolusi sebagai evaluasi sediaan secara teknis dapat dilihat di Farmakope Indonesia edisi IV lampiran halaman 1083 - 1085. Hal-hal yang diatur dalam lampiran
Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

tersebut seperti spesifikasi alat, posisi tempat pengambilan sampel dari medium disolusi, kriteria penerimaan, toleransi dalam parameter seperti waktu uji disolusi, pH media, suhu, kecepatan pengadukan, dan lain-lain. Dan hal-hal yang diatur dalam masing-masing monografi sediaan adalah 1. Jenis media disolusi 2. Volume media disolusi 3. Tipe alat yang digunakan dan kecepatannya 4. Prosedur penetapan kadar yang terlarut 5. Waktu uji disolusi 6. Persyaratan Q Berikut adalah contoh monografi sediaan tablet parasetamol dari Farmakope Indonesia edisi IV (hal 650) dalam hal uji disolusinya:

Media disolusi : 900 ml Larutan dapar posfat pH 5,8 Alat tipe 2 Waktu Prosedur : 50 rpm : 30 menit : lakukan penetapan jumlah parasetamol yang terlarut dengan mengukur serapan filtrate larutan uji, jika perlu diencerkan dengan Media disolusi dan serapan larutan baku Parasetamol BPFI dalam media yang sama pada panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 243 nm : Dalam waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 80% (Q) parasetamol dari jumlah yang tertera pada etiket

Toleransi

ALAT DAN BAHAN


Alat : Dissolution tester, labu takar, pipet volum, spektrofotometer UV, p ilter holder, kuvet Bahan : Tablet parasetamol, dapar posfat (KH2PO4, NaOH), aquades, kertas lensa, kertas whatman

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

PROSEDUR
Petunjuk Umum Lakukan evaluasi disolusi tablet parasetamol beberapa macam merk baik obat generik maupun paten. Dan nyatakan apakah sediaan tersebut memenuhi persyaratan disolusi menurut Farmakope Indonesia edisi IV atau tidak Petunjuk Khusus
a.

Pembuatan dapar posfat pH 5,8 (dilakukan pada pertemuan kedua) Cara pembuatan dapar posfat pH 5,8 dapat dilihat di Farmakope Indonesia edisi 3 (Tugas: tuliskan cara pembuatan dapar posfat pH 5,8 tersebut pada jurnal)
1.

Buat larutan dapar posfat pH 5,8 sebanyak 6 x 900 mL untuk pengujian 6 tablet dan ditambah 1600 mL untuk pengenceran jika diperlukan.

2. 3.

Hitung jumlah volume larutan KH2PO4 dan larutan NaOH yang diperlukan Hitung penimbangan KH2PO4 dan NaOH yang dibutuhkan untuk volume dapar posfat pH 5,8 yang diperlukan

4. 5. 6.

Larutkan KH2PO4 dan NaOH dalam gelas kimia yang terpisah Campurkan larutan KH2PO4 dan larutan NaOH Kedalam campuran tersebut, tambahkan akuades sekitar 1000 mL sebelum tanda batas

7.

Ukur pH campuran menggunakan pH meter yang sebelumnya telah dikalibrasi menggunakan larutan dapar berturut-turut pH 7,0 ; 4,0 ; dan 10,01

8. 9. b.

pH larutan dapar harus menunjukkan 5,8 0,05 (5,75 s/d 5,85) Tambahkan akuades sampai tanda batas.

Pembuatan kurva kalibrasi parasetamol dalam dapar posfat pH 5,8 (dilakukan pada pertemuan kedua) 1. Buat larutan induk parasetamol 1000 bpj sebanyak 50,00 mL dalam dapar posfat pH 5,8 (tuliskan perhitungan penimbangan parasetamol dalam jurnal) 2. Buat 6 larutan dengan seri konsentrasi yaitu 2, 4, 6, 8, 10, 12 bpj sebanyak 10,00 mL yang diencerkan dari larutan induk (Tuliskan perhitungan pengenceran pada jurnal praktikum)

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

3. Ukur absorbansi masing 6 larutan tersebut pada panjang gelombang 243 nm dengan menggunakan blanko larutan dapar posfat pH 5,8 dan isi datanya mengikuti format tabel 1. Tabel 1. Data persamaan kurva kalibrasi parasetamol dalam dapar posfat pH 5,8 Kadar (bpj) 2 4 6 8 10 12 4. Tentukan persamaan kurva kalibrasi yang didapat (Y = BX + A)
c.

Absorban

Uji disolusi tablet parasetamol (dilakukan pada pertemuan ketiga) 1. Masukkan masing-masing 900 mL dapar posfat ke dalam enam chamber disolusi dan turunkan pengaduk Alat tipe 2 (dayung) sampai jarak antara dasar chamber dengan batas bawah dayung 25 mm 2 mm. 2. Biarkan sampai suhu medium disolusi mencapai 37o 0,5o C 3. Masukkan satu tablet ke dalam masing-masing chamber, dan hilangkan gelembung udara dari permukaan sediaan jika ada, kemudian nyalakan rotor pengaduk dengan kecepatan 50 putaran per menit (toleransi 4%) 4. Matikan alat setelah 30 menit, kemudian ambil sampel menggunakan filter holder yang telah dipasang kertas saring whatman, pada posisi tengah-tengah antara batas atas medium dengan batas atas dayung dan 1 cm dari dinding chamber Catatan: Hati-hati dalam mencuci filter holder : jangan sampai karet di dalamnya hilang 5. Ambil 1,00 ml sampel menggunakan pipet volum kemudian masukkan ke dalam labu takar 100 mL dan tambahkan larutan dapar posfat sampai tanda batas.

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

6. Ukur absorban sampel yang telah diencerkan tersebut (pengenceran ??? kali) pada panjang gelombang 243 nm. 7. Hitung nilai Q(%) sesuai alur perhitungan yang terdapat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji disolusi tablet parasetamol


Tablet A Kadar Pct (g/mL) C C = (Y-A)/B Faktor pengenceran Fp Kadar Pct sebenarnya (g/mL) C C = C x Fp Jumlah Pct dalam 900mL (mg) D D = C x 0,9 Q (%) Q = (D/500)x 100

8. Nyatakan apakah tablet tersebut memenuhi syarat uji disolusi atau tidak berdasarkan tabel kriteria penerimaan (Tuliskan tabel penerimaan yang terdapat di Farmakope Indonesia edisi IV Hal 1085 di jurnal praktikum)

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

MODUL 2
DISPERSI PADAT

TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa: 1. Memahami tujuan pembuatan dispersi padat 2. Mengetahui metode-metode pembuatan dispersi padat dan evaluasinya

TEORI DASAR
Laju disolusi atau kecepatan melarut obat-obat yang relatif tidak larut dalam air telah lama menjadi masalah pada insustri farmasi. Obat-obat tersebut umumnya mengalami proses disolusi yang lambat demikian pula laju absorpsinya. Dalam hal ini partikel obat terlarut akan diabsorpsi pada laju rendah atau bahkan tidak diabsorpsi seluruhnya. Dengan demikian absorpsi obat tersebut menjadi tidak sempurna. Umumnya absorpsi obat di saluran cerna terjadi secara difusi pasif. Agar dapat diabsorpsi, obat harus larut dalam cairan pencernaan. Sebelum absorpsi terjadi, suatu bentuk sediaan tablet mengalami disintegrasi, deagregasi, dan disolusi. Disintegrasi, deagregasi, dan disolusi dapat berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan. Proses disintegrasi belum menggambarkan pelarutan sempurna suatu obat. Partikel-partikel kecil hasil disintegrasi akan terdisolusi. Disolusi atau laju pelarutan obat dalam saluran cerna merupakan salah satu tahapan penentu ( rate limiting step) absorpsi sistemik. (Abdou, 1989) Upaya untuk meningkatkan laju disolusi bahan obat telah banyak dikembangkan, baik dengan mengubah sifat fisika bahan obat, menambahkan bahan pembantu, menambahkan bahan peningkat kelarutan, membentuk senyawa ester atau garam dan sistem dispersi padat. Dispersi padat merupakan dispersi dari satu atau lebih bahan aktif dalam pembawa inert atau matriks pada keadaan padat. Dispersi padat diklasifikasikan dalam enam tipe yaitu campuran eutektik sederhana, larutan padat, larutan dan suspensi gelas, pengendapan
Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

10

amorf dalam pembawa kristal, pembentukan senyawa kompleks dan kombinasi dari lima tipe di atas. Pembuatan dispersi padat dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain: metode peleburan (melting method), metode pelarutan (solvent method), dan metode campuran (melting-solvent method) (Chiou et al, 1971). Salah satu pembawa yang umum digunakan pada pembuatan dispersi padat adalah polietilen glikol (PEG). Polietilen glikol disebut juga makrogol, merupakan polimer sintetik dari oksietilen dengan rumus struktur H(OCH2CH2)nOH, dimana n adalah jumlah rata-rata gugus oksietilen. PEG umumnya memiliki bobot molekul antara 200 300.000. Penamaan PEG umumnya ditentukan dengan bilangan yang menunjukkan bobot molekul rata-rata. Konsistensinya sangat dipengaruhi oleh bobot molekul. PEG dengan bobot molekul 200 600 (PEG 200-600) berbentuk cair, PEG 1500 semipadat, dan PEG 3000 20000lebih berupa padatan semikristalin. PEG dengan bobot molekul lebih besar dari 100000

berbentuk seperti resin pada suhu kamar. Umumnya dengan bobot molekul 1500-20000 yang digunakan untuk pembuatan dispersi padat (Fikri Alatas, 2006). PEG 4000 dan 6000 paling sering digunakan dalam pembuatan dispersi padat. Proses pembuatan dispersi padat dengan PEG 4000 umumnya menggunakan metode peleburan, karena lebih mudah dan murah (Alatas, 2006) Asam nalidiksat mempunyai kelarutan yang praktis tidak larut dalam air. Bahan obat yang mempunyai kelarutan rendah dalam air dan kecepatan melarut obat yang rendah dalam saluran cerna sering menyebabkan masalah di dalam sedikitnya zat aktif di dalam saluran cerna yang diabsorbsi. Apabila kecepatan melarut suatu obat merupakan faktor utama pada proses disolusi dan selanjutnya berpengaruh terhadap proses absorpsi maka suatu bahan obat yang mempunyai kelarutan rendah harus diperbaiki sifat fisika dan kimianya sehingga kelarutannya dapat ditingkatkan. Salah satunya caranya adalah dengan cara dibuat dispersi padat. Pembawa yang telah banyak digunakan dalam dispersi padat adalah PEG khususnya PEG 4000. Dalam percobaan ini akan diteliti pengaruh konsentrasi PEG 4000 dalam sistem dispersi padat PEG 4000-asam nalidiksat terhadap laju disolusi asam nalidiksat. ketersediaan hayati karena

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

11

ALAT DAN BAHAN


Alat : Dissolution tester, Filter holder, spektrofotometer UV-VIS, kuvet , cawan penguap, gelas kimia, batang pengaduk, timbangan digital, ayakan mesh 80, desikator, pipet ukur, labu ukur, dan alat-alat lain yang diperlukan Bahan : Asam nalidiksat, PEG 4000, akuades, kertas whatman, kertas lensa

PROSEDUR
Petunjuk Umum Buat dispersi padat asam nalidiksat-PEG 4000 dan evaluasinya (disolusi) dengan memvariasikan konsentrasi PEG 4000 menggunakan metode peleburan. Petunjuk Khusus a. Pembuatan kurva kalibrasi asam nalidiksat 1. Buat larutan induk asam nalidiksat 1000 bpj dalam larutan NaOH encer (0,01) sebanyak 50 mL (Tuliskan perhitungan penimbangan asam nalidiksat dalam jurnal praktikum) 2. Buat 6 larutan dengan seri konsentrasi yaitu 2, 4, 6, 8, 10, 12 bpj sebanyak 10,00 mL yang diencerkan dari larutan induk (Tuliskan perhitungan pengenceran pada jurnal praktikum) 3. Ukur absorbansi masing 6 larutan tersebut pada panjang gelombang serapan maksimumnya (Cari data panjang gelombang serapan masksimum asam nalidiksat dan tulisakan pada jurnal praktikum ) dan isi data mengikuti format tabel 2 Tabel 2. Data persamaan kurva kalibrasi asam nalidiksat NaOH encer Kadar (bpj) 2 4 6 8 10 12 Absorban

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

12

4. Tentukan persamaan kurva kalibrasi yang didapat (Y = BX + A) b. Pembuatan dispersi padat asam nalidiksat-PEG 4000 1. Buat 3 formula dispersi padat asam nalidiksat-PEG 4000 masing-masing sebanyak 10 g (perbandingan asam nalidiksat-PEG 4000 pada F1, F2, dan F3 berturut-turut 1:1 ; 1:2 ; 1:3) 2. Hitung penimbangan asam nalidiksat dan PEG 4000 untuk 10 g dispersi padat untuk masing-masing formula (Tuliskan perhitungan penimbangannya pada jurnal praktikum) 3. Timbang asam nalidiksat dan PEG yang diperlukan dan masukkan ke dalam cawan penguap 4. Panaskan cawan penguap di atas hot plate stirrer 5. Biarkan campuran sampai meleleh kemudian aduk rata 6. Setelah meleleh dengan segera campuran disebarkan tipis di atas plat besi dingin sampai memadat 7. Campuran padat digerus kemudian diayak menggunakan mesh 80 8. Campuran hasil ayakan dibungkus dalam kertas perkamen kemudian disimpan di desikator sebelum dievaluasi c. Evaluasi dispersi padat (disolusi) 1. Lakukan uji disolusi terhadap asam nalidiksat murni dan dispersi padat dari ketiga formula 2. Timbang dengan seksama sebanyak 500 mg asam nalidiksat murni. 3. Timbang dengan seksama dispersi padat setara dengan 500 mg asam nalidiksat (Hitung penimbangan dispersi padat untuk masing-masing formula dan tuliskan perhitungannnya dalam jurnal ) 4. Pada saat yang sama, masukkan 4 @ 900 ml air ke dalam masing-masing 4 chamber disolusi. 5. Biarkan air sampai mencapai suhu 37oC 0,5 6. Setelah air mencapai suhu 37oC, masukkan asam nalidiksat murni, DP F1, DP F2, DP F3, yang telah ditimbang ke alat tipe 1 (basket) yang dasarnya diberi alas kertas perkamen. 7. Turunkan pengaduknya

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

13

8. Nyalakan alat dan atur kecepatnnyap pada 100 rpm 9. Ambil sampel dari masing-masing chamber sebanyak 10 mL menggunakan filter holder pada menit ke 5, 10, 20, 40. Dan ganti dengan jumlah sampel yang diambil dengan air yang bersuhu 37oC sehingga selam percobaan volume medium disolusi tetap 900 mL 10. Ukur absorban sampel pada panjang gelombang serapan maksimummnya menggunakan spektrofotometer ultraviolet, bila perlu diencerkan terlebih dahulu 11. Hitung persen yang terdisolusi mengikuti format tabel 3 12. Buat grafik persen obat terdisolusi terhadap waktu dalam kertas milimiter blok

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

14

Tabel 3. Hasil uji disolusi asam nalidiksat murni dan DP 1, DP2, serta DP3 Me nit ke 5 10 20 40 Absorban / Y
M DP 1 DP 2 DP 3 M DP 1

Fp
DP 2 DP 3 M

C (bpj) / X
DP 1 DP 2 DP 3 M

C (bpj)
DP 1 DP 2 DP 3 M

D (mg)
DP 1 DP 2 DP 3 M

Fk (mg)
DP 1 DP 2 DP 3 M

D (mg)
DP 1 DP 2 DP 3 M

D (%)
DP 1 DP 2 DP 3

Keterangan M DP1 DP2 DP3 Fp C C D Fk D D (%) : Asam nalidiksat murni : Dispersi padat formula 1 (1 : 1) : Dispersi padat formula 2 (1 : 2) : Disepersi padat formula 3 (1: 3) : Faktor pengenceran jika dilakukan : Konsentrasi asam nalidiksat X = (Y-A)/B : Konsentrasi asam nalidiksat sebelum pengenceran C = C x Fp : Jumlah obat yang terlarut D = (C x 900 mL) / 1000 : Faktor koreksi Fk = (C x 10 mL) / 1000 : Jumlah obat terlarut setelah dikoreksi D = D + Fk kumulatif : Persen terdisolusi D(%) = (D/500 mg) x 100

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

15

MODUL 3
ABSORPSI OBAT PER ORAL SECARA IN VITRO

TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami pengaruh pH terhadap absorpsi obat melalui saluran pencernaan secara in vitro.

TEORI DASAR
Absorpsi obat adalah suatu proses pergerakan obat yang sudah terlarut dari tempat pemberian ke dalam sirkulasi darah melalui membran pada tempat pemberian obat. Mekanisme absorpsi terdiri dari tiga macam yaitu (1) difusi pasif, (2) transport menggunakan protein yang dapat berupa saluran (channel), difusi terfasilitasi oleh pembawa (carrier) dan transport aktif oleh sistem pompa (pumps). Sebagian besar obat melalui meknisme difusi pasif, serta (3) pinositosi dan endositosis (Wellong, 2007)

Gambar 2. Struktur membran sel (wellong, 2007)

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

16

Penyusun membran sel (gambar 2) adalah dua lapis fospolipid (phospholipid bilayer) yang terintegrasi juga dengan protein-protein fungsional yang bertanggung jawab dalam mekanisme obat transport protein. Oleh karena penyusun membran sel adalah lipid maka secara umum obat yang lebih larut lemak/lipid yang lebih mudah menembus membran jika mekanisme absorpsinya melalui difusi pasif. Sebagian besar obat merupakan asam atau basa organik lemah. Absorpsi obat dipengaruhi oleh derajat ionisasinya pada waktu zat tersebut berhadapan dengan membran. Membran sel lebih permeabel terhadap bentuk obat yag tidak terionkan daripada bentuk terionkan, karena obat bentuk tak terion lebih larut lemak dibandingkan dengan bentuk terion. Derajat ionisasi tergantung pada pH larutan dan pKa obat seperti terlihat pada persamaan HendersonHasselbalch sebagai berikut :

Untuk suatu asam : pH = pKa + log fraksi


fraksi obat yang terionkan obat yang tak terionkan

Untuk suatu basa : pH = pKa - log fraksi


fraksi obat yang terionkan obat yang tak terionkan

Dengan menyusun kembali persamaan untuk asam :


fraksi obat yang terionkan obat yang tak terionkan

log fraksi

= pKa pH

Maka secara teoritis dapat ditentukan jumlah relatif dari suatu obat dalam bentuk tidak terionkan pada berbagai kondisi pH. Untuk obat yang ditranspor secara difusi pasif, peranan dinding usus hanya sebagai membran difusi. Studi absorpsi in vivo dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang mekanisme absorpsi suatu bahan obat, tempat terjadinya absorpsi yang optimal, permeabilitas membran saluran pencernaan terhadap berbagai obat, serta pangram berbagai factor terhadap absorpsi suatu obat.
Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

17

Menurut Tumer dkk, permeabilitas membran biologi terhadap suatu obat dapat digambarkan oleh koefisien partisinya dan mempunyai hubungan linear dengan kecepatan transpor atau kecepatan absorpsinya, yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
1

= Dm. Am.Pm/s (Cg Cb )

Dengan

= Kecepatan transpor obat ke kompartemen dalam (darah) = Tetapan luas kecepatan difusi obat melalui membran = Luas membran yang digunakan untuk berdifusi = Koefisien partisi obat dalam membrane pelarut

Dm Am Pm/s

= Ketebalan membran Cg Cb = Kadar obat dalam kompartemen luar (usus) pada waktu t = Kadar obat dalam kompartemen dalam (darah) pada waktu t

Untuk obat-obat yang strukturnya tertentu dan tempat absorpsinya sudah tertentu pula, maka kecepatan absorpsinya hanya ditentukan oleh gradien kadar obat di antara kedua permukaan membran, yang memisahkan lumen saluran pencernaan dengan (plasma) darah, sehingga persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi :
d b 1 dt

= (Cg Cb )

Dengan : Pm = Dm.Am.Pm/s. Disebut sebagai permeabilitas membran. Jika Cb dapat diabaikan karena Cb << Cg maka persamaan tersebut dapat disederhanakan Menjadi :
d b dt

= .Cg

Hasil integrasi persamaan ini adalah b = Pm . Cg Dengan b = Jumlah obat yang ditranspor dari kompartemen dalam selang waktu t .

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

18

Kurva hubungan jumlah obat yang ditranspor sehingga funsi waktu akan memberikan garis linear dengan angka arah K = Pm . Cg dan lag time yaitu harga perpotongan garis dengan sumbu t. Bahan obat yang memiliki lag time kurang dari 15 menit biasanya tidak menimbulkan masalah pada proses transpor melalui membran biologis. (Gozali, 2000)

ALAT DAN BAHAN


Alat : Tabung Crane and Wilson (yang telah dimodifikasi), water bath, tabung gas oksigen, selang silikon, spektrofotometer UV-VIS, kuvet, timbangan analitik, peralatan bedah, dan alat-alat gelas lain yang biasa digunakan di laboratorium Bahan : parasetamol, KH2PO4, NaOH, HCl, NaCl, asam sulfamat, NaNO2, kertas lensa Hewan : tikus putih jantan putih

PROSEDUR
Petunjuk Umum Lakukan percobaan absorpsi obat (parasetamol) per oral secara in vitro menggunakan alat Tabung Crane and Wilson yang telah dimodifikasi (gambar 3) yang di dalamnya terpasang usus tikus yang sudah dibalik. Percobaan dilakukan dalam 2 (dua) kondisi pH cairan mukosal yang berbeda yaitu menggunakan cairan lambung buatan (CLB) yang mempunyai pH 1,2 dan cairan usus buatan (CUB) yang mempunyai pH 7,4. Penetapan kadar parasetamol menggunakan metode kolorimetri

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

19

Gas O2 masuk kanula berisi cairan serosal

kanula untuk keluar gas

Tabung berisi cairan mukosal

Usus halus tikus bagian ileum yang telah dibalik

Gambar 3. Skema alat tabung Crane and Wilson

Petunjuk Khusus a. Pembuatan cairan mukosal dan cairan serosal 1. Cairan mukosal dibuat untuk menggambarkan cairan saluran cerna. Buatlah 2 (dua) macam cairan mukosal yaitu CLB dan CUB tanpa enzim sebanyak 1 Liter. Tuliskan cara pembuatan CUB dan CLB dalam jurnal (Cara pembuatan CLB dan CUB dapat di lihat di Farmakope Indonesia edis IV). 2. Cairan serosal dibuat untuk menggambarkan cairan darah. Dalam percobaan ini cairan serosal direpresentasikan oleh larutan NaCl 0,9% (b/v) yang isotonis dengan cairan darah. Buatlah larutan NaCl 0,9% (b/v) sebanyak 100 mL atau langsung menggunakan cairan infus.
Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

20

b. Pembuatan larutan parasetamol dalam CUB dan CLB Larutkan sebanyak masing-masing 500 mg parasetamol dalam masing-masing 100 ml CUB dan CLB c. Pembuatan pereaksi warna Buat larutan HCl 6 N, NaNO2 10%, asam amidosulfonat 15%, dan NaOH 10% masingmasing 100 mL d. Pembuatan kurva kalibrasi parasetamol dalam CUB dan CLB 1. Buat dua larutan induk parasetamol 1000 bpj dalam larutan CUB dan CLB sebanyak 50 mL (Tuliskan perhitungan penimbangan parasetamol dalam jurnal praktikum) 2. Buat 2 x 6 larutan dengan seri konsentrasi yaitu 20, 40, 60, 80, 100, 120 bpj sebanyak 10,00 mL yang diencerkan dari larutan induk (Tuliskan perhitungan pengenceran pada jurnal praktikum). Gunakan pelarut CUB dan CLB untuk mengencerkan. 3. Ambil masing-masing 1,0 ml dan masukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi (jangan lupa masing-masing tabung reaksi diberi label) 4. Tambahkan pereaksi warna ke dalam masing-masing tabung reaksi tersebut 4.1 Tambahkan 0,5 mL HCl 6 N dan 1,0 mL NaNO 2 10% campur baik-baik diamkan selama 5 (lima) menit. 4.2 Dengan hati-hati tambahkan 1,0 mL asam amidosulfonat 15%, dan kemudian 2,5 mL NaOH 10% diamkan tiga menit sambil direndam di air es. 5. Ukur absorbansi masing 2 x 6 larutan tersebut pada panjang gelombang serapan maksimumnya yaitu 435 nm dan isi data mengikuti format tabel 4 dan 5 Tabel 4. Data persamaan kurva kalibrasi parasetamol dalam CUB Kadar (bpj) 20 40 60 80 100 120 Absorban

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

21

Tabel 4. Data persamaan kurva kalibrasi parasetamol dalam CLB Kadar (bpj) 20 40 60 80 100 120 6. Tentukan dua persamaan kurva kalibrasi yang didapat (Y = BX + A) e. Penyiapan usus halus tikus bagian ileum yang dibalik 1. Gunakan tikus putih jantan. 2. Puasakan tikus tersebut selama 20 24 jam dengan tetap memberinya minum 3. Bunuh tikus menggunakan eter atau dengan cara lain. 4. Bedah perut tikus di sepanjang linea mediana dan keluarkan usus tikus 5. Buang usus tikus sepanjang 15 cm di bawah pylorus dan gunakan usus tikus sepanjang 20 cm di bawahnya untuk percobaan 6. Balikkan usus tikus sehingga bagian dalam menjadi di luar dan bagian luar menjadi di dalam 7. Rendam usus tikus yang telah di balik dalam larutan NaCl fisiologis (0,9%) sebelum digunakan f. Percobaan absorpsi obat 1. Isi waterbath dengan air kran dan atur alat pada suhu 37oC 2. Gunakan 2 (tabung) Crane and Wilson 3. Pasang dua usus tikus yang sudah dibalik yang panjangnya sama pada kanula bagian tengah dari masing masing dua tabung. 4. Ikat masing-masing kedua ujung usus tikus dengan hati-hati jangan sampai usus putus atau bocor Absorban

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

22

5. Masukkan cairan serosal ke dalam kanula tengah dan pastikan cairan serosal masuk ke dalam usus dan pastikan usus tidak bocor dan catat volume cairan serosal yang bisa masuk 6. Setelah dipastikan cairan serosal masuk dan usus tidak bocor, letakkan kanula pada tabung Crane and Wilson yang sebelumnya telah diisi cairan mukosal yaitu CUB dan CLB yang mengandung parasetamol sebanyak 100 mL dan telah terpasang di waterbath bersuhu 37oC. 7. Aliri kanula pinggir dengan oksigen melalui selang silicon atur kecepatan gelembung agar sama antara tabung 1 dan 2. 8. Pantau usus agar selama percobaan terendam cairan mucosal. 9. Ambil sampel dari kanula tengah (cairan serosal) sebanyak 1,5 mL pada menit ke 5, 10, 20, dan 30. 10. Setiap pengambilan sampel, ganti cairan serosal dengan jumlah volume yang sama (1,5 mL) 11. Pipet sebanyak 1,0 mL sampel dan masukkan ke dalam tabung reaksi 12. Tambahkan pereaski warna ke dalamnya seperti prosedur sebelumnya 13. Ukur absoran sampel pada panjang gelombang 435 nm 14. Catat hasil percobaan mengikuti format tabel 5 Tabel 5. Hasil percobaan absorpsi parasetamol per oral secara in vitro Menit ke 5 10 20 30
Keterangan Abs/Y: didapat dari hasil pengukuran C = Konsentrasi parasetamol X = (Y-A)/B (gunakan persamaan kurva kalibrasi yang CUB untuk percobaan yang CUB dan persamaan kurva kalibrasi yang CLB untuk yang percobaan yang CLB Qb= jumlah obat yang diabsorpsi Qb = C x Volume serosal yang tercatat Fk = Faktor koreksi Fk = C x 1,5 mL (Volume sampel) Qb = Jumlah obat yang diabsorpsi setelah dikoreksi Qb = Qb + Fk kumulatif Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

Abs / Y CUB CLB

C (bpj) / X CUB CLB

Qb (g) CUB CLB

Fk (g) CUB CLB

Qb (g) CUB CLB

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

23

15. Buat grafik hubungan Qb (sumbu Y) terhadap waktu (sumbu X) untuk kedua kondisi percobaan dalam satu grafik sehingga didapat dua garis 16. Buat persamaan regresi linier antara Qb (sebagai Y) dan waktu (sebagai X) untuk dua kondisi percobaan sehingga didapat dua persamaan Y = BX + A 17. Dari persamaan yang didapat hitunglah 17.1 Tetapan absorpsi / K (tetapan absorpsi adalah nilai B dari persamaan 17.2 Tetapan permiabilitas / Pm (Pm = B/kosentrasi parasetamol dalam cairan mukoasal 17.3 lag time (X) untuk kedua kondisi percobaan dengan memasukkan nilai Y = 0 (Qb = 0) 18. Catat hasil perhitungan mengikuti format tabel 6 Tabel 6. Rekap hasil perhitungan parameter absorpsi dari percobaan Parameter absorpsi K Pm lag time Pada kondisi percobaan CUB CLB

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

24

MODUL 4
ABSORPSI OBAT PER ORAL SECARA IN SITU

TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami pengaruh pH terhadap absorpsi obat melalui saluran pencernaan secara in situ.

TEORI DASAR
Percobaan obat secara in situ melalui usus halus didasarkan atas penentuan kecepatan hilangnya obat dari lumen usus halus setelah larutan obat dengan kadar tertentu dilewatkan melalui lumen usus halus secara perfusi dengan kecepatan tertentu. Cara ini dikenal dengan nama teknik perfusi, karena usus dilubangi untuk masuknya ujung kanul, satu kanul di bagian ujung atas usus untuk masuknya sampel cairan percobaan dan satu lagi bagian bawah untuk keluarnya cairan tersebut. Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa obat yang dicobakan stabil, ridak mengalami metabolisme dalam lumen usus, sehingga hilangnya obat dari lumen usus akan muncul dalam darah atau plasma darah, atau dengan perkataan lain hilangnya obat dari lumen usus tersebut adalah karena proses absorpsi. Bagi obat-obat yang berupa asam lemah atau basa lemah, pengaruh pH terhadap kecepatan absorpsi sangat besar, karena pH akan menentukan besarnya fraksi obat dalam bentuk tak terionkan. Bentuk ini yang dapat terabsorpsi secara baik melalui mekanisme difusi pasif. Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari berbagai faktor yag dapat berpengaruh pada permeabilitas dinding usus dari berbagai macam obat pengembangan lebih lanjut dapat digunakan untuk merancang obat dalam upaya mengoptimalkan kecepatan absorpsinya melalui pembentukan prodrug, khususnya untuk obat-obat yang sangat sulit atau praktis tidak dapat terabsorpsi. Melalui metode ini akan dapat diungkapkan pula besarnya permeabilitas membran
Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

25

usus terhadap obat melalui lipoid pathway, pori, dan aqueous boundary layer. Metode Through and Through merupakan salah satu cara percobaan in situ. Cara ini dilakukan dengan menentukan fraksi obat yang terabsorpsi, setelah larutan obat dialirkan melalui lumen intestine yang panjangnya tertentu dan kecepatan alirnya tertentu pula. Dalam keadaan tunak proses absorpsi dapat dinyatakan dengan persamaan :
(1) 2. 1+
0 +

1 (0) = 1- exp (-

= 1- exp (-

2.

In (0) =
(1) 2.

(1)

2.

In (0) =

Dengan , C(0) = Kadar larutan obat mula-mula C(1) l r = Kadar larutan obat setelah dialirkan melalui lumen intestin sepanjang 1 cm = panjang usus dalam cm = jari-jari penampang lintang intestin = kecepatan alir larutan obat dalam ml menit -1

Papp = tetapan permeabilitas semu

(Gozali, 2000)

ALAT DAN BAHAN


Alat : seperangkat alat infus beserta tiangnya, seperangkat alat bedah, benang, spektrofotometer UVVIS, Kuvet, dan alat gelas yang biasa digunakan di labroratorium

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

26

Bahan : parasetamol, KH2PO4, NaOH, HCl, NaCl, asam sulfamat, NaNO 2, kertas lensa Hewan : Tikus putih jantan putih

PROSEDUR
Petunjuk Umum Lakukan percobaan absorpsi obat (parasetamol) per oral secara in situ. Percobaan dilakukan dalam 2 (dua) kondisi pH cairan mukosal yang berbeda yaitu menggunakan cairan lambung buatan (CLB) yang mempunyai pH 1,2 dan cairan usus buatan (CUB) yang mempunyai pH 7,4. Penetapan kadar parasetamol menggunakan metode kolorimetri Petunjuk Khusus a. Pembuatan CUB dan CLB Buatlah CUB dan CLB tanpa enzim sebanyak 1 Liter. Ikuti cara pembuatan seperti pada modul 3 b. Pembuatan larutan parasetamol dalam CUB dan CLB Larutkan sebanyak 2 x 500 mg parasetamol dalam masing-masing 500 mL CUB dan CLB c. Penetapan kadar parasetamol dalam CUB dan CLB sebagai konsentrasi awal (C0) 1. Pipet masing-masing 1,0 mL larutan parasetamol dari pekerjaan point b dan masukkan ke dalam tabung reaksi dan beri label 2. Tambahkan kedalamnya pereaksi warna seperti prosedur yang terdapat di modul 3 3. Ukur absorbannya pada panjang gelombang 435 nm 4. Hitung kadar parasetamol menggunakan persamaan kurva kalibrasi yang didapat dari pekerjaan modul 3 d. Percobaan absorpsi (CATATAN : Hewan percobaan harus tetep hidup selama percobaan dan pembuluh darah terutama yang melewati usus tikus tidak putus) 1. Gunakan dua tikus putih jantan.
Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

27

2. Tikus pertama dan kedua masing-masing untuk percobaan menggunakan CUB dan CLB 3. Puasakan tikus tersebut selama 20 24 jam dengan tetap memberinya minum 4. Bius tikus menggunakan eter atau dengan cara lain. 5. Bedah perut tikus di sepanjang linea mediana sampai jelas terlihat bagian ususnya 6. Cari bagian lambung 7. Ukur 15 dari dari lambung ke arah anal dengan bantuan benang 8. Dari tempat itu, dengan hati-hati, lubangi usus menggunakan selang infus yang terhubung dengan labu infus berisi CUB atau CLB ke arah anal dan ikat menggunakan benang. 9. Sekitar 20 cm dari lokasi tersebut, buat lubang kembali menggunakan selang infus yang terhubung ke dalam gelas kimia ke arah lambung, kemudian ikat. 10. Buka kran infus dan biarkan CUB atau CLB mengalir melalui usus dan keluar sampai ke gelas kimia, sampai cairan yang keluar jernih 11. Ganti labu infus menggunakan CUB atau CLB yang mengandung parasetamol 12. Aliri usus selama 30 menit 13. Catat volume CUB atau CLB yang tertampung dalam gelas kimia dan tentukan kecepatan alirnya (Q) = volume terukur / 30 menit 14. Potong usus tikus antara kedua ujung dan ukur panjangnya menggunakan penggaris. Data yang terukur sebagai l 15. Ikat ujung usus dan masukkan aquades melalui ujung yang lain sampai usus menggelembung 16. Ukur diameter usus menggunakan jangka sorong dan tentukan jari-jarinya (r) e. Penetapan kadar parasetamol dalam CUB atau CLB yang tertampung sebagai konsentrasi akhir (C1) 1. Pipet sebanyak 1,0 mL CUB atau CLB yang tertampung dalam gelas kimia 2. Tambahkan kedalamnya pereaksi warna seperti prosedur yang terdapat di modul 3 3. Ukur absorbannya pada panjang gelombang 435 nm

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

28

4. Hitung kadar parasetamol menggunakan persamaan kurva kalibrasi yang didapat dari pekerjaan modul 3 f. Perhitungan Papp 1. Hitung Papp (CUB) dan Papp (CLB) menggunakan data yang telah didapat dengan memasukkan pada persamaan yang tertera pada teori dasar. 2. Bandingkan kedua Papp tersebut 3. Analisis data tersebut

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

29

MODUL 5
ABSORPSI OBAT PERKUTAN SECARA IN VITRO

TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui cara evaluasi sediaan yang diberikan perkutan secara in vitro menggunakan sel difusi franz.

TEORI DASAR
Kulit merupakan lapisan pelindung tubuh yang sempurna terhadap pengaruh luar, baik pengaruh fisik maupun pengaruh kimia. Kulit merupakan jaringan yang lentur dan elastis, menutupi seluruh permukaan tubuh dan merupakan 5% berat tubuh. Kulit dibentuk dari tiga lapisan berbeda yang berurutan dari luar ke dalam (gambar 4) yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis yang tersusun atas pembuluh darah dan pembuluh getah bening, dan lapisan hypodermis yang merupakan jaringan di bawah kulit yang berlemak. (Aiache, 1982)

Gambar 4. Penampang melintang kulit


Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

30

Istilah absorpsi perkutan menunjukkan bahwa penembusan obat terjadi pada lapisan epidermis kulit dan penyerapan dapat terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda (gambar 5) yang terdiri dari berurutan dari luar ke dalam stratum corneum, stratum lucidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale.

Gambar 5. Penampang melintang lapisan epidermis

Terdapat 2 (dua) rute absoprsi perkutan (gambar 6) yaitu trascellular route (rute menembus sel) dan intercellular route (rute menembus ruang antar sel). Sediaan yang diaplikasikan di kulit bisa bertujuan lokal atau sistemik. Untuk sediaan yang bertujuan lokal, obat tidak diharapkan sampai ke pembuluh darah yang ada di lapisan dermis. Untuk sediaan yang bertujuan sistemik, obat diharapkan sampai menembus ke pembuluh darah yang ada di dermis dan akan dialirkan oleh darah ke seluruh tubuh, sediaan ini disebut dengan istilah sediaan transdermal.

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

31

Gambar 6. Rute absorpsi perkutan

Dalam formulasi sediaan transdermal biasanya ditambahkan zat peningkat penetrasi (absorption enhencher). Golongan-golongan senyawa yang dapat digunakan sebagai absorption enhancher adalah alkohol dan poliol, amin dan amida, asam lemak, terpen, ester, sulfoksid, siklodekstrin, dan surfaktan (Remon, 2007) Evaluasi biofarmasetik sediaan yang diaplikasikan di kulit diperlukan baik untuk sediaan yang bertujuan lokal maupun yang sistemik. Terdapat dua teknik evaluasi sediaan yang diberikan secara perkutan (gambar 7) yaitu menggunakan teknik sel difusi Franz dan sel difusi FlowThrough (Addicks, 1987)

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

32

Sel difusi Franz

Sel difusi flow through

Gambar 7. Skema alat sel difusi Franz dan sel flow through Keterangan: a. Membran b. Kompartemen donor c. Kompartemen reseptor d. Water jacket e. Pelarut masuk f. Pelarut keluar g. Tempat sampling h. Batang pengaduk magnet

ALAT DAN BAHAN


Alat : Sel difusi Franz, spektrofotometer UV-VIS, kuvet, dan alat gelas yang biasa digunakan di labroratorium Bahan : Parasetamol, KH2PO4, NaOH, kertas lensa, Viscolam, sodium lauri sulfat (Texapon), trieanolamin (TEA)

PROSEDUR
Petunjuk Umum Buat 2 (dua) formula gel. Gel pertama tanpa mengandung sodium lauril sulfat sedangkan gel kedua mengandung sodium lauril sulfat sebagai peningkat penetrasi (skin penetrant). Evaluasi

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

33

kedua sediaan tersebut menggunakan teknik sel difusi Franz. Gunakan parasetamol sebagai model zat aktif. Petunjuk Khusus a. Pembuatan cairan reseptor (menggambarkan cairan tubuh) Buat larutan dapar posfat pH 7,4 sebanyak 500 mL Cara pembuatan dapar posfat pH 7,4 dapat dilihat di Farmakope Indonesia edisi 3 (Tugas: tuliskan cara pembuatan dapar posfat pH 7,4 tersebut pada jurnal) b. Penyiapan membran Gunakan membran buatan yang terbuat dari kertas Whatman yang dibacem dalam cairan Spangler (cara pembuatan dapat dilihat di penuntun praktikum Farmasi Fisik II , Catat cara pembuatannya dalam jurnal praktikum ) Pada prakteknya sebaiknya bobot dua membran yang digunakan relatif sama (Bahas mengapa demikian) c. Pembuatan gel 1. Timbang parasetamol sebesar 2 x 500 mg 2. Timbang viscolam sebesar 2 x 10 gram 3. Timbang sodium lauril sulfat sebesar 2,5 gram 4. Masukkan parasetamol masing-masing kedalam gelas kimia 100 mL yang telah berisi 50 mL akuades, aduk sampai larut 5. Masukkan viscolam masing-masing ke dalam gelas kimia tersebut kemudian tetesi dengan trietanolamin sedikit demi sedikit sampai terbentuk massa gel. 6. Ke dalam gelas kimia pertama masukkan sodium lauril sulfat 7. Tambahkan aquades pada kedua gelas kimia tersebut sampai tanda batas 100 mL 8. Aduk 9. Beri label gel tanpa sodium laurel sulfat sebagai F0, dan gel mengandung sodium laurel sulfat sebagai F1 d. Evaluasi sediaan gel 1. Aliri alat dengan air yang bersuhu 37oC 2. Masukkan cairan reseptor ke dalam kompartemen reseptor, dan catat volumenya
Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

34

3. Letakkan membran yang telah disiapkan pada alat, pastikan cairan reseptor bersentuhan dengan membrane 4. Adaptasika alat selama 10 menit 5. Oleskan gel masing-masing sebanyak 1 gram di atas membran 6. Ambil sampel dari cairan reseptor pada menit ke 5, 15, 30, 60, 120 sebanyak 3 mL 7. Setiap pengambilan sampel, ganti cairan reseptor yang diambil dengan volume yang sama menggunakan cairan reseptor yang bersuhu 37oC. 8. Ukur absorban sampel menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 243 9. Isi data mengikuti format tabel 7 Tabel 7. Hasil absorpsi perkutan menggunakan teknik sel difusi Franz Menit ke 5 15 30 60 Keterangan
F0 : gel tanpa peningkat penetrasi F1 : gel mengandung peningkat penetrasi Absoran : didapat dari pengukuran C : Konsentrasi parasetamol X = (Y-A)/B (gunakan persamaan kurva kalibrasi yang didapat dari modul 3 dalam CUB) Qb : jumlah obat yang terabsorpsi Qb C x volume cairan reseptor Fk : Faktor koreksi Fk = C x volume sampling (3 mL) Qb : jumlah obat yang terabsorpsi setelah dikoreksi Qb + kumulatif Fk

Absorban / Y F0 F1

C (bpj) / X F0 F1

Qb (g) F0 F1

Fk F0 F1 F0

Qb F1

10. Buat grafik Qb (sumbu Y) terhadap waktu (sumbu X) dalam satu grafik, sehingga terdapat dua garis untuk F0 dan F1 11. Analisis data dan grafik tersebut.

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOFARMASI STFB

35

DAFTAR PUSTAKA
Abdou, H.M., 1989, Dissolution, Bioavalability, and Bioequivalence, Mack Publishing Company, Pennsylvania, 53-72 Addicks, W.J., et. al., (1987), Validation of a Flow-Through Diffusion Cell for Use in Transdermal Research, Pharmaceutical Research, Vol.4 No.4. 338. Aiche, J.M., and Herman, A. M. G., (1982), Farmasetika & Biofarmasi, edisi 2, Technique et Documentation, Paris, 443. Alatas, F., 2006, Pengaruh konsentrasi PEG 4000 terhadap laju disolusi ketoprofen dalam sistem dispersi padat ketoprofen-PEG 4000, Majalah Farmasi Indonesia, 17(20), 57-62. Anonim, (1995), Farmakope Indonesia, edisi IV, Ditjen POM, Jakarta. Anonim, (2005), Pedoman Uji Bioekivalensi, Badan POM, Jakarta. Chiou, WL., and Riegelman S., 1971, Preparation and Dissolution Characteristics of Several FastRelease Solid Dispersion of Gliseofulvin, Journal of Pharmaceutical Sciences, vol 58 number 12. 1505-1506. Gozali, D., (2000), Penuntun Praktikum Biofarmasi, STFB, Bandung. Remon J.P., (2007), Absorption Enhancher, in Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, Swarbrick J. (Ed.), Pharmaceutech Inc., North Carolina, 13-17. Shargel, L., (2007), Biopharmaceutic, in Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, Swarbrick J. (Ed.), Pharmaceutech Inc., North Carolina, 13-17 Wellong P. G., (2007), Absorption of Drugs in Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, Swarbrick J. (Ed.), Pharmaceutech Inc., North Carolina, 25.

Penyusun | Dadih Supriadi, M.Si., Apt.