Anda di halaman 1dari 12

MATA KULIAH Modul Dosen Pokok Bahasan Tujuan Pembelajaran : : : :

: AKUNTASI PERPAJAKAN 12 (pertemuan ke12) Drs. Sugianto, MM Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai

Setelah mempelajari pokok bahasan tersebut diatas diharapkan dapat menjelaskan materimateri yang berkenaan dengan : 1. Pencatatan yang Diwajibkan 2. Saat Pajak Pertambahan Nilai Terutang 3. Tempat Pajak Pertambahan Nilai Terutang 4. Prosedur Pembukuan Pajak Pertambahan Nilai 5. Pengusaha yang memilih Pedoman Norma Perhitungan 6. Pajak Masukan PPN dalam Harga Pokok

Pencatatan Yang Diwajibkan Ketentuan dasar yang dipakai untuk mewajibkan Pengusaha Kena Pajak untuk mencatat Pajak Pertambahan Nilai adalah ketentuan yang ada dalam Undang-Undang No.6 Tahun 1983 yang diperbarui dengan UU No. 10 Tahun 1994. Pencatatan transaksi yang berhubungan dengan PPN diatur khusus dalam UU PPN 1984 Pasal 6. Dalam pasal itu disebutkan bahwa setiap Pengusaha Kena Pajak diwajibkan mencatat semua jumlah harga perolehan dan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dalam mudah. Pada catatan dalam pembukuan itu harus dicantumkan secara terpisah dan jelas antara lain : 1. Jumlah harga perolehan atau nilai impor; 2. Jumlah harga jual atau nlai pengganti; 3. Nama barang dan satuannya; 4. Jumlah harga jual dari bukan Barang Kena Pajak (hasil agraria, perikanan, kehutanan, dan sebagainya); 5. Jumlah nilai ekspor; 6. Jumlah harga jual yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. pembukuan perusahaan.Terselenggaranya pencatatan tersebut merupakan pencerminan teraturnya pembukuan sehingga dasar pengenaan PPN dapat ditentukan dengan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

Pencatatan pembelian atau impor, penjualan atau ekspor, dan retur barang, diatur khusus oleh Direktur Jenderal Pajak yang dapat ditemui dalam Buku Penuntun Pajak Pertambahan Nilai 1985. 1. Pencatatan Pembelian atau Impor Pencatatan pembelian atau impor sekurang-kurangnya mencatumkan : a. Nomor urut; b. Tanggal Faktur Pajak/PPUD; c. NPWP penjual/pembeli jasa/Kantor Bea Cukai; d. Nama barang/jasa; e. Kuantum; f. Dasar pengenaan pajak; 1. Yang dapat dikreditkan 2. Yang tidak dapat dikreditkan. 2. Pencatatan Penjualan atau Ekspor Pencatatan penjualan atau ekspor sekurang-kurangnya mencantumkan : a. Nomor urut ; b. Tanggal Faktur Pajak/Pemberitahuan Ekspor Barang/E.3; c. Nomor Faktur Pajak/PEB/E3; d. NPWP pembeli/penerima jasa; e. Nama barang/jasa; f. Kuantum; g. Dasar pengenaan pajak; h. Besarnya Pajak Pertambahan Nilai; 1. Kepada PKP; 2. Kepada bukan PKP/lain-lain. 3. Pencatatan Retur Barang Retur barang harus dicatat secara tersendiri dan dari masing-masing langganan dipisahkan untuk retur pembelian, retur penjualan. g. Besarnya Pajak Pertambahan Nilai:

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

Untuk retur penjualan dicatat dalam Buku Penjualan/Ekspor serta mengurangi jumlah penjualan dan Pajak Keluaran. Untuk retur pembelian dicatat dalam BUku Pembelian Impor dan mengurangi pembelian serta Pajak Masukan. 4. Pengambilan Barang dari Persediaan Pengambilan barang dari persediaan selain untuk keperluan usaha seperti untuk pemakaian sendiri, hadiah, contoh, dan sebagainya harus dicatat secara terpisah dalam buku penjualan / ekspor. Pencatatan ini harus dilakukan karena keperluan barang untuk maksud-maksud di atas termasuk dalam pengertian penyerahan. Saat Pajak Pertambahan Nilai Terutang Saat dan tempat terutangnya PPN sangat penting dalam pemungutan pajak. Karena itu, ketentuan peraturan undang-undang perpajakan menetapkan saat dan tempat terutangnya PPN. Penentuan saat dan tempat terutangnya PPN juga sangat diperlukan dalam akuntansi. Pada prinsipnya PPN dipungut berdasarkan dua prinsip dasar, yaitu prinsip akrual dan prinsip kas. 1. Prinsip Akrual Dalam prinsip akrual PPN terutang pada saat penyerahan barang, jasa, atau impor barang, meskipun atas penyerahan tersebut belum atau belum sepenuhnya diterima pembayarannya. Hal ini diatur dalam pasal 11 Ayat (1) UU. PPN 1984. 2. Prinsip Kas Dalam prinsip kas PPN terutang pada saat penerimaan pembayaran, dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan barang atau jasa. Hal ini diatur dalam pasal 11 Ayat (2) UU. PPN 1984. Atas dasar hal tersebut, faktur pajak harus dibuat pada saat penyerahan barang atau pada saat pembayaran diterima sebelum penyerahan barang atau jasa dilakukan. Sesuai dengan ketentuan Kep. Menkeu. No. 1117/KMK.04/ 1989, faktur pajak harus dibuat selambat-lambatnya pada saat penerimaan pembayaran. Dalam hal pembayaran diterima setelah penyerahan, faktur pajak dibuat pada akhir bulan berikutnya setelah penyerahan barang. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Jadi, pembuatan faktur pajak dapat Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

ditunda sampai akhir bulan berikutnya. Meskipun demikian, prinsip akrual masih tetap berlaku dalam ketentuan ini. Ada dua cara pembukuan PPN dalam akuntansi yaitu : 1. metode faktur, 2. metode kas. Dalam metode faktur, PPN terutang dicatat pada saat faktur dikeluarkan. Faktur pajak dibuat pada saat pembayaran atau pada saat penyerahan. Karena itu, metode faktur dipakai oleh Pengusaha Kena Pajak yang telah dikukuhkan. Sedangkan metode kas, PPN dicatat pada saat penerimaan pembayaran. Pencatatan tidak tergantung pada pembuatan faktur. Dengan demikian, metode kas digunakan dalam perusahaan yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Tempat Pajak Pertambahan Nilai Terutang Undang-undang dan peraturan pelaksanaannya menentukan tempat terutangnya PPN. Tempat pajak terutang di tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan. Tempat tersebut adalah tempat tinggal atau kedudukan mereka dan atau di tempat usaha dilakukan. Suatu perusahaan mungkin mempunyai lebih dari satu tempat usaha, misalnya pabrik (pusat) dan cabang. Dengan demikian, PPN akan terutang apabila pabrik menyerahkan barang ke cabang. Meskipun demikian, pengusaha dapat mengajukan permohonan kepada fiskus untuk menetapkan satu tempat usaha sebagai tempat pajak terutang (sentralisasi). Adapun maksud penjelasan saat dan tempat terutangnya PPN; adalah agar kita dapat melihat hubungan antara kedua hal tersebut dengan cara system pembukuannya. System pembukuan PPN pada perusahaan yang tidak diperkenankan untuk melakukan sentralisasi akan berbeda dari perusahaan yang diperbolehkan. Prosedur Pembukuan Pajak Pertambahan Nilai Berikut ini akan dijelaskan prosedur pencatatan untuk transaksi-transaksi: 1. Pembelian barang yang PPN-nya dapat dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan; 2. Penjualan dan PPN yang terutang; Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

3. PPN yang masih harus dibayar atau lebih; 4. Dan lain-lain. Dilihat dari pengenaan PPN, barang yang dibeli oleh perusahaan dapat digolongkan ke dalam dua jenis barang yaitu : 1. barang yang PPN nya dapat dikreditkan, 2. barang yang PPN nya tidak dapat dikreditkan. Pembelian kedua jenis barang tersebut perlu dipertimbangkan dalam rangka pembukuan. Selain itu, ada dua hal lain yang masih perlu dipertimbangkan pada saat pencatatan pembelian dilakukan yaitu : 1. masalah potongan harga 2. dan retur pembelian. Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Huruf o Undang-Undang PPN 1984, potongan harga dan barang yang dikembalikan tidak termasuk harga jual sebagai Dasar Pengenaan Pajak. Pembelian barang yang PPN-nya dapat dikreditkan masih dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis yaitu: 1. Pembelian barang untuk diolah (persediaan), dan 2. Pembelian barang modal yang ada hubungannya dengan proses produksi. Sesuai dengan Pasal 9 Ayat (8) Undang-Undang PPN 1984 dan Kep.Menkeu.No. 1441b/KMK.04/1989 ada beberapa alasan yang menyebabkan PPN tidak dapat dikreditkan. 1. Pembelian barang atau jasa sebelum pengusaha dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak. 2. Pembelian barang dan pengeluaran biaya lain yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan proses menghasilkan Barang Kena Pajak atau jasa kena pajak. 3. Pembelian dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan, jeep, station wagon, van dan combi, kecuali untuk barang dagangan atau digunakan secara langsung sesuai dengan bidang usahanya. 4. Pembelian yang sifatnya untuk kepentingan pribadi pemilik / pemegang saham, Direktur, Komisaris, dan karyawan. 5. Penyerahan yang Pajak Keluarannya ditanggung pemerintah kecuali ditetapkan lain oleh Menkeu.RI. 6. Perolehan BKP / JKP yang PPN nya ditanggung oleh pemerintah . Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

7. Faktur pajaknya fiktif. 8. Pajak masukan yang menggunakan faktur pajak sederhana. Berikut ini akan diuraikan prosedur pembukuan pembelian barang yang PPN nya dapat dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan. Penjelasan prosedur pembukuan akan diberikan dengan contoh untuk transaksi sebagai berikut : 1. Pembelian barang persediaan yang PPN nya dapat dikreditkan. 2. Pembelian barang modal yang PPN nya dapat dikreditkan. 3. Pembelian barang / persediaan yang PPN nya tidak dapat dikreditkan. 4. Pembelian barang modal yang PPN nya tidak dapat dikreditkan. 5. Pembelian dengan potongan. 6. Pengembalian pembelian. Contoh 1 : Pembelian barang / persediaan yang PPN nya dapat dikreditkan PT. Tamma membeli barang untuk persediaan dalam bulan Agustus 2008 seharga Rp.10.000,00 dengan kredit darim PT. Merah. Transaksi dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut : Pembelian PPN masukan Utang Contoh 2 : Pembelian barang modal yang PPN nya dapat dikreditkan Pt. Tamma membeli mesin tenun seharga RP.100.000,00 dengan kredit pada bulan Juni 2008 dari PT. Mesin. Transaksi dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut : Mesin PPN masukan Utang Contoh 3 : Pembelian barang / persediaan yang PPN nya tidak dapat dikreditkan Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN 100.000,00 10.000,00 110.000,00 10.000,00 1.000,00 11.000,00

PT. Tamma membeli tunai alat-alat tulis seharga Rp.5.000,00 ditambah PPN 10 %. Karena alat-alat tulis ini tidak mempunyai hubungan langsung dengan proses produksi, Pajak Masukannya tidak boleh dikreditkan. dengan ayat jurnal sebagai berikut : Alat tulis menulis Biaya PPN Kas Contoh : Pembelian barang modal yang PPN nya tidak dapat dikreditkan PT. Tamma membeli kendaraan sedan untuk keperluan kantor administrasi seharga Rp.20.000,00 tunai. Pajak masukan pembelian kendaran sedan tidak dapat dikreditkan. Namun pajak tersebut dapat dibebankan sebagai biaya perolehan kendaraan. Jadi, tidak dapat dibebankan sekaligus di tahun perolehannya, melainkan disusut sesuai dengan tariff penyusutannya. Transaksi ini dicatat sebagai berikut : Kendaraan sedan Kas Contoh 5 : Pembelian dengan potongan PT. Tamma membeli barang seharga Rp.12.000,00 dengan potongan pembelian Rp.2.000,00 jika pembayaran dilakukan dalam periode yang ditentukan tariff PPN 10 %. dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut : Pembelian Cadangan potongan pembelian PPN masukan Utang 12.000,00 ( 2.000,00) 1.000,00 11.000,00 Transaksi ini 22.000,00 22.000,00 5.000,00 500,00 5.500,00 Sesuai dengan ketentuan dalam UU. PPh. 1984, PPN yang tidak dapat dikreditkan dapat dibebankan sebagai biaya operasi. Transaksi ini dicatat

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

Apabila perusahaan tidak dapat membayar utang dalam waktu yang ditentukan maka pembeli tidak berhak atas potongan. Pembayaran utang pembelian ini dicatat dengan ayat jurnal : Utang PPN masukan Rugi karena potongan tidak diambil Kas 11.000,00 200,00 2.000,00 13.200,00

Karena potongan tidak diambil oleh pembeli, maka PPN masukan atas potongan yang belum dihitung pada saat pembelian harus dibebankan. Demikian pula penjual harus memperhitungkan PPN terutang dengan jumlah yang sama. Contoh 6 : Pengembalian Pembelian Karena tidak sesuai dengan spesifikasi barang, pembelian sebanyak Rp.1000,00 ditambah 10 % dikembalikan kepada penjual. Transaksi ini dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut : Utang Pembelian PPN masukan 1.100,00 1.000,00 100,00

Pengembalian ini akan mengurangi PPN masukan, demikian pula penjual akan mengurangkan PPN terutang. Berikut ini akan dibahas contoh transaksi-transaksi yang berkaitan dengan PPN terutang yaitu : 1. Penjualan barang, 2. Pengembalian penjualan, 3. Penjualan dengan uang muka, 4. Penjualan dengan cicilan, 5. Saat perhitungan, pembayaran, dan pembuatan laporan. Contoh 7 : Penjualan Barang Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

PT. Tamma menjual barang secara tunai Rp.10.000,00 dengan PPN 10 %. dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut : Kas Penjualan PPN keluaran Contoh 8 : Pengembalian Penjualan Barang yang terjual dalam contoh 7 dikembalikan sebanyak Rp.2.000,00. dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut : Penjualan PPN keluaran Kas Contoh 9 : Penjualan dengan uang muka 2.000,00 200,00 2.200,00 11.000,00 10.000,00 1.000,00

Transaksi ini

Pengembalian ini

Pada tanggal 12 April 2008 Pengusaha Kena Pajak Tamma menerima uang muka dari Pengusaha Kena Pajak Ayu atas pembelian Barang Kena Pajak kertas yaitu sebesar Rp.10.000,00 ditambah PPN 10 %. Pada tanggal 12 Mei 2008 yaitu pada saat penyerahan barang, diterima sisa pembayaran Rp.20.000,00 dimana dalam pembayaran tersebut belum termasuk PPN. Karena itu, ada dua transaksi yang harus dicatat yaitu pada saat : 1. Pembayaran uang muka Kas Uang muka pelanggan PPN keluaran 2. Penyerahan barang Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN 11.000,00 10.000,00 1.000,00

Kas Uang muka pelanggan Penjualan PPN keluaran

22.000,00 10.000,00 30.000,00 2.000,00

Sesuai dengan ketentuan bahwa PPN sudah terutang pada saat pembayaran. Karena itu, pada saat pembayaran uang muka Pengusaha Kena Pajak yang menerima uang muka harus memungut PPN. Dari contoh diatas, uang muka yang diterima terutang PPN untuk masa bulan April. Setelah penyerahan barang PPN terutang pada bulan Mei 2008 dalam hal pembayarannya dilakukan pada bulan itu. Apabila sisa pembayaran dilakukan secara tunai (pembayaran tidak dilakukan pada bulan Mei), sesuai dengan ketentuan PPN terutang pada bulan berikutnya yaitu Juni 2008. Contoh 10 : Penjualan dengan Angsuran PT. ABC menjual suatu barang dengan angsuran seharga Rp. 24.000,00. Pembayaran dilakukan dengan 10 kali cicilan. Transaksi penjualan dan angsuran setiap bulan dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut : a. Pada saat penyerahan barang Piutang penjualan angsuran Penjualan PPN keluaran b. Kas Pada saat pembayaran angsuran Rp. 2.640,00 Piutang penjualan angsuran Rp. 2.640,00 Rp. 26.400,00 RP. 24.000,00 2.400,00

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984, penjualan cicilan termasuk dalam pengertian penyerahan yang telah terutang PPN. Karena barang sudah diserahkan dalam contoh 10, PPN telah terutang pada saat penyerahannya. PPN tidak terutang lagi pada saat penerimaan angsuran, sebab itu tidak ada pengenaan PPN atas angsuran tersebut. Pengusaha yang Memilih Pedoman Norma Perhitungan Sesuai dengan Pasal 6 Ayat (3) UU PPN 1984 , pengusaha yang berdasarkan UU PPh. 1984 memilih dikenakan pajak dengan pedoman norma perhitungan, sepanjang terhutang PPN, Wajib Pajak yang bersangkutan harus membuat catatan nilai peredaran bruto secara teratur. Yang harus dicatat hanyalah nilai peredaran bruto setiap bulan yang akan menjadi dasar pengenaan PPN. Seperti diuraikan sebelumnya, Wajib Pajak yang termasuk kategori yang diperkenankan memilih pedoman norma perhitungan tidak wajib menyelenggarakan pembukuan. Yang minimal harus dilakukannya adalah mencatat jumlah peredaran, sebab peredaran tersebut merupakan dasar penghitungan Penghasilan Kena Pajak (PKP). Pajak Masukan PPN dalam Harga Pokok PPN yang telah dikenakan atas bahan baku atau bahan pembantu dan barang modal yang dipakai dalam proses produksi tidak boleh ditambahkan sebagai unsur harga pokok barang yang dijual. Hal ini disebabkan karena pajak yang telah dibayar kembali oleh pengusaha melalui metode pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran. Atas pertimbangan hal tersebut, Pajak Masukan tidak boleh dikurangkan sebagai biaya dalam rangka penghitungan Penghasilan Kena Pajak. Dengan demikian, PPN yang terutang tidak merupakan unsur harga pokok produksi. Berikut ini dapat dilihat contoh yang dapat menjelaskan bahwa baik PPN Masukan maupun PPN yang terutang dan dibayarkan ke Negara tidak termasuk sebagai biaya. Contoh 11 :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN

Pedagang besar membeli Barang Kena Pajak sebesar Rp. 100.000,00. Kemudian barang tersebut dijual dengan harga Rp. 200.000,00. Harga beli PPN Masukan 10% Harga Jual PPN Keluaran 10% PPN ke Kas Negara Rp. 200.000,00 Rp. 2.000,00 Rp. 1.000,00 Rp. 100.000,00 Rp. 1.000,00

Pada dasarnya yang menanggung beban PPN adalah konsumen akhir. Karena itu, PPN Masukan yang dibayar akan diganti dengan PPN yang ditarik dari pembeli barang tersebut; sedangkan PPN yang dibayarkan ke Kas Negara, bukanlah uang pengusaha melainkan uang pembeli yang wajib ditarik oleh pengusaha tersebut. Apabila Pengusaha Kena Pajak membeli Barang Kena Pajak yang PPN masukannya tidak dapat dikreditkan maka PPN tersebut dapat dimasukkan sebagai biaya fiscal. Namun, dalam praktek ada perbedaan penafsiran berkenaan Pajak Masukan PPN yang tidak dapat dikreditkan seperti dimaksudkan dalam Pasal 9 ayat (8) UU PPN 1984 serta pembebanannya sebagai biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 PP No. 42 tahun 1985 tentang pelaksanaan Pajak Penghasilan 1984. Sehubungan dengan hal tersebut maka pada awal tahun 1991, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat edaran No. SE-01/PJ-/1991 tentang Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan guna memberikan penjelasan dan penegasan mengenai hal tersebut.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Sugianto MM AKUTANSI PERPAJAKAN