Anda di halaman 1dari 12

ACCOUNTING FOR FOREIGN CURRENCY

Strategic Decision Points Pada press release Honda Motor Co. Januari 2005, menyebutkan bahwa kekuatan yen telah merugikan keuntungan mereka untuk kuartal Oktober-Desember 2004. Tidak ada informasi yang menyebutkan kenapa hal ini bisa terjadi. Namun terdapat kemungkinan bahwa hal ini terjadi akibat kekuatan yen terhadap eksport ke US. Alasannya adalah laba yang dihasilkan dollar US dalam operasi Honda di US lebih sedikit daripada yen sebagai akibat kuatnya yen/rendahnya dollar sehingga Honda harus mentranslasikan operasinya di US menjadi yen untuk laporan konsolidasi dalam yen. Isu yang timbul dari kasus ini yaitu bagaimana Honda mengatur perubahan mata uang asing yang dapat mempengaruhi labanya dan bagaimana Honda melaporkan perubahan nilai mata uang asing tersebut ke dalam L/K sehingga dapat dimengerti oleh shareholders. Basics in Foreign Exchange Foreign exchange dapat ditemui dalam OTC, exchange atau internet. OTC terdiri dari bank komersial dan bank investasi. Masing-masing trader OTC memiliki ruang perdagangan dengan spesialis mata uang tertentu. Pasar modal dimana mata uang asing diperdagangkan, contohnya Philadelphia SE, London International Financial Futures Exchage dan Chicago Mercantile Exchange, memperdagangkan beberapa instrumen foreign exchange seperti futures dan option. Traditional foreign exchange instruments terdiri dari spot, outright forward dan FX swap market. Transaksi spot merupakan transaksi yang dilakukan oleh 2 exchange traders dengan spot rate pada tanggal transaksi. Transaksi outright forward adalah transaksi 2 atau 3 hari setelah tanggal transaksi yang dilakukan trader. Transaksi ini merupakan jual-beli tunggal mata uang asing untuk future delivery. Kurs yang digunakan adalah forward rate dan contract rate antara 2 pihak. Forward transaction akan tetap menggunakan forward rate walaupun pada saat yang sama terdapat spot rate. Dalam FX swap, suatu mata uang diubah menjadi mata uang lain pada satu tanggal yang kemudian ditukar kembali pada masa yang akan datang. Contohnya, Toyota Jepang menerima dividen dalam dollar US dari perusahaan anak di US, tetapi belum digunakan sampai dengan 30 hari. Toyota dapat menggunakan FX swap pada bank Jepang yang dapat menjual dollar menjadi yen pada spot market dan setuju untuk membeli dollar dengan yen dalam 30 hari pada forward rate. Foreign exchange instruments lainnya yaitu futures dan option. Futures dapat diperdagangkan di OTC atau securities exchange, seperti Philadelphia SE. Future contract adalah perjanjian antara 2 pihak untuk membeli atau menjual sejumlah mata uang dengan harga dan tanggal tertentu. Option adalah hak (tetapi bukan perjanjian) untuk memperdagangkan mata uang asing di masa mendatang. Instrumen-instrumen ini tidak mempertimbangkan spot foreign exchange, yang dikenal sebagai derivatif. Spot Market

Tansaksi mata uang asing banyak dilakukan oleh foreign traders of banks. Untuk itu, kurs ditentukan oleh perspektif trader. Trader akan memberikan 2 pilihan, yaitu bid price dan offer price. Contohnya untuk mata uang poundsterling Canada : $ 1.9072/83 ini berarti bahwa trader akan membeli poundsterling senilai $ 1.9072 (bid) dan akan menjual poundsterling dengan harga $ 1.9083 (offer). Perbedaan antara 2 harga ini akan memberikan profit margin bagi para traders. Pilihan juga sering menggunakan mid-rate, seperti sontoh diatas mid-ratenya adalah $ 1.9077. Pilihan kurs mata uang dapat dilihat di beberapa sumber seperti Wall Street Jurnal (US) atau Financial Times (UK), atau di beberapa on-line services seperti CNN, Yahoo! dan electronic newspapers. TRANSAKSI MATA UANG ASING Conceptual Issues Transaksi mata uang asing adalah persamaan transaksi dalam mata uang selain pelaporan mata uang tersebut dalam perusahaan. Isunya adalah bagaimana pelaporan mata uang dimana perusahaan tersebut beroperasi. Contohnya pendapatan perusahaan US di Canada yang diterima dalam dollar Canada, merupakan transaksi mata uang asing bagi perusahaan US tetapi jika pendapatan tersebut diperoleh dalam dollar US, maka transaksi ini bukan merupakan transaksi mata uang asing, walaupun pembelinya bukan perusahaan US. Transaksi mata uang asing dapat timbul dari transaksi jual-beli B/J, simpan-pinjam dana, penerimaan atau pembayaran dividen, royalti, dll. Tidak terdapat permasalahan akuntansi selama transaksi diubah ke dalam mata uang domestik perusahaan. Jika terdapat transaksi yang diselesaikan, penjualan dan pembelian dicatat dengan spot rate, dan jumlah kas yang dibayarkan atau diterima juga dicatat dengan spot rate. Saat transaksi diubah ke dalam mata uang asing dan pembayarannya diselesaikan pada tanggal neraca, maka perusahaan harus memecahkan 4 permasalahan akuntansi: Pencatatan awal transaksi Pencatatan mata uang asing pada tanggal neraca berikutnya Perlakukan keuntungan dan kerugian pertukaran mata uang asing Pencatatan penerimaan dan pembayaran pertukaran mata uang asing saat jatuh tempo Transaksi mata uang asing memiliki 2 komponen, yaitu moneter dan non-moneter. Komponen moneter adalah kas yang diterima/dibayar atau pendapatan/piutang. Sedangkan komponen non-moneter yaitu perlengkapan atau persediaan yang dibeli atau dijual.

Terdapat banyak kombinasi yang berbeda terhadap penyelesaian 4 masalah diatas, tetapi salahsatunya diadopsi dari IAS 21 (IASB) dan SFAS (FASB), yaitu keuntungan dan kerugian pertukaran mata uang asing diakui dalam pendapatan untuk masing-masing tanggal neraca. Dengan menggunakan pembelian peralatan sebagai contoh, kita dapat melihat 2 standar yang digunakan untuk pencatatan peralatan dan jumlah piutangnya pada tanggal neraca dengan spot rate. Transaksi ini dilihat menjadi 2 bagian: (1) pembelian peralatan, dan (2) keputusan membayar secara kredit atau tunai. Pada tanggal neraca peralatan dinilai dengan historical cost, tetapi nilai A/P berubah sesuai dengan spot rate yang baru. Perbedaan antara spot rate sebelumnya dengan spot rate yang baru diakui sebagai keuntungan atau kerugian. Asumsi dari pendekatan ini adalah keuntungan atau kerugian harus direfleksikan pada saat kurs pertukaran itu berubah bukan di masa yang akan datang. Dan perubahan nilai kewajiban juga harus direfleksikan sebagai keputusan pembiayaan (seperti beban bunga) daripada efeknya terhadap nilai peralatan. Evolution of IAS 21 and Accounting for Foreign Currency Transactions Isu pertukaran mata uang pertama kali dikeluarkan oleh IASC (sekarang IASB) yaitu IAS 21 tentang Accounting for the Effect of Changes in Foreign Exchange Rates (1983). IAS 21 memberikan pilihan terhadap akuntansi untuk mata uang asing yang dapat diperbandingkan dengan standar US. IAS mengalami revisi tahun 1993 (efektif tanggal 1 Januari 1995) dan tahun 2003 (efektif tanggal 1 Januari 2005). Sebagai catatan, IAS 21 mewajibkan transaksi dicatat dengan spot rate pada tanggal transaksi. Sedangkan pada tanggal neraca: Item moneter harus dicatat dengan closing rate (spot rate pada tanggal neraca, yang dikenal sebagai current rate). Item non-moneter yang dinilai dengan historical cost harus dicatat pada historical exchange rate (spot rate pada saat pencatatan awal transaksi). Item non-moneter yang dinilai dengan fair value harus dicatat pada kurs disaat fair value tersebut ditetapkan. Pada awalnya, IAS 21 memperbolehkan perlakuan alternatif untuk keuntungan dan kerugian pertukaran bagi negara-negara berkembang yang mata uangnya masih lemah, selama mata uang tersebut kursnya tetap atau mengambang. Pendekatan ini dihapus dari IAS 21 (revisi 2003), sehingga membuat perlakuan IAS 21 dan SFAS 52 sama. Hal ini merupakan contoh yang baik bagaimana proses konvergensi diterapkan oleh standar IASB dan FASB. Illustration: Accounting for Sales and Purchases Denominated in Foreign Currency (based on IASB and FASB standards)

Asumsikan perusahaan US mengimpor peralatan dari Jerman pada tanggal 1 Maret senilai 200.000 disaat exchange rate $ 1.3112 per euro. Pembayaran dalam euro tidak dapat dilakukan sampai tanggal 30 April. Pada tanggal 31 Maret exchange rate-nya $ 1.3500 dan 30 April exchange rate-nya $ 1.3300. Diasumsikan laporan perusahaan ditutup pada akhir kuartal kalender. Maka jurnalnya:
1 Maret Pembelian A/P (200.000 x $ 1.3112= $262.240) Kerugian pertukaran A/P (200.000 x [$1.3112-$1.3500]= $ 7.760) A/P Keuntungan pertukaran Cash (200.000 x $1.3300= $ 266.000) 262.240 262.240

31 Maret

7.760 7.760

31 April

270.000 4.000 266.000

Dengan menggunakan contoh diatas, asumsikan bahwa hal tersebut merupakan penjualan, maka jurnalnya sbb:
1 Maret A/R Pendapatan (200.000 x $ 1.3112= $1.3112) A/R Keuntungan pertukaran (200.000 x [$1.3112-$1.3500]= $ 7.760) Cash Kerugian pertukaran A/R (200.000 x $1.3300= $ 266.000) 262.240 262.240

31 Maret

7.760 7.760

31 April

266.000 4.000 270.000

Illustration: Accounting for Debt in a Foreign Currency Sebuah perusahaan berkemungkinan untuk melakukan pinjaman dalam mata uang asing dengan perjanjian untuk membayar pokok pinjaman dan bunganya dalam mata uang asing. Peraturan umum yang harus diaplikasikan yaitu pencatatan awal pinjaman dicatat dengan spot rate

(misalnya dollar US). Pada tanggal neraca, pinjaman harus ditetapkan kembali pada kurs pertukaran yang baru, dan keuntungan atau kerugian yang muncul dicatat dalam L/R. Yang menjadi tantangan adalah pembayaran beban bunga, yang akan diasumsikan pembayarannya setiap 6 bulan pada ilustrasi di bawah ini. Pada 1 Januari, perusahaan US meminjam CHF2.000.000 (Swiss France) untuk 5 tahun dengan bunga 3 % yang akan dibayar dengan CHF. Pokok pinjaman tidak harus dibayarkan kembali sampai akhir dari masa pinjaman. Diasumsikan juga pinjaman disesuaikan dengan perubahan kurs pertukaran setiap 6 bulan. Berikut exchange rate untuk tahun pertama:
1 Januari 30 Juni 31 Desember $0.8064 7901 8839

Kurs rata-rata untuk 6 bulan pertama $0.79825 dan untuk 6 bulan kedua $0.8370. CHF meningkat tajam pada akhir tahun. Dari informasi ini, maka jurnalnya:
1 Januari Cash Wesel bayar Wesel bayar Keuntungan pertukaran (CHF2.000.000x[$0.7901-$0.8064]=$32.600) Beban bunga Keuntungan pertukaran Cash (CHF2.000.000 x 3%/2 x $0.79825=$23.948) (CHF2.000.000 x 3%/2 x $0.7901=$23.703) Kerugian pertukaran Wesel bayar (CHF2.000.000x[$0.8839-$0.7901])=$ 187.600) Beban bunga Kerugian pertukaran Cash (CHF2.000.000 x 3%/2 x $0.8370=$25.110) (CHF2.000.000 x 3%/2 x $0.8839=$26.517) 1.612.800 1.612.800 32.600 32.600 23.948 245 23.703

30 Juni

31 Desember

187.600 187.600

31 Desember

25.110 1.407 26.517

Sebagai catatan, kurs rata-rata digunakan untuk menghitung beban bunga dan akan menimbulkan keuntungan ataupun kerugian pertukaran akibat kas yang dibayar menggunakan spot rate pada tanggal pembayaran. TRANSLATION OF FOREIGN CURRENCY FINANCIAL STATEMENTS Sesuai dengan Strategic Points diatas, Honda dihadapkan pada tekanan laba karena laba tersebut harus ditranslasikan ke dalam L/K US dollar ke dalam L/K yen untuk tujuan konsolidasi. Untuk dapat memahami isu mengenai translasi ini, ada beberapa istilah yang harus dimengerti, yaitu mata uang fungsional, mata uang pelaporan, mata uang asing, mata uang lokal, perbedaan pertukaran serta operasi asing. Mata uang fungsional adalah mata uang utama dalam arti substansi ekonomi yang dicerminkan dalam kegiatan operasi perusahaan. Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan L/K. Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang fungsional perusahaan. Mata uang lokal adalah mata uang utama yang digunakan suatu negara. Perbedaan pertukaran adalah perbedaan yang dihasilkan dari translasi sejumlah mata uang ke mata uang lain dengan kurs yang berbeda. Operasi asing adalah perusahaan anak, asosiasi, joint venture atau cabang dimana aktivitasnya dihasilkan pada negara tempat beroperasinya daripada pelaporan perusahaan induknya. Contohnya, asumsikan perusahaan multinasional US memiliki perusahaan anak di Prancis yang mengimpor dari UK. Mata uang fungsional perusahaan anak adalah euro, karena diasumsikan perusahaan anak memiliki hak otonomi dari perusahaan induk sehingga arus kasnya dalam euro. Mata uang lokalnya juga euro, mata uang asingnya pounds, dan mata uang pelaporannya adalah dollar US. Euro dan pounds akan menjadi mata uang asing bagi perusahaan US. Jika perusahaan Prancis dependent dari perusahaan US dalam hal persediaan, arus kas dst, maka mata uang fungsional dianggap mata uang pelaporannya (dollar US). Karena perusahaan anak di Prancis mengimpor barang dagangan dari UK, maka akan timbul A/P yang akan didenominasikan dalam pounds. Hal ini mengimplikasikan bahwa jumlah kewajiban tetap dalam pounds dan karena itu mata uang untuk kewajiban harus ditetapkan. Untuk tujuan L/K, kewajiban dalam pounds harus dinilai dalam euro atau tidak bisa dimasukkan kewajiban (euro) dalam neraca. Kewajiban dalam euro dapat diukur dan didenominasikan dalam euro. Proses translasi terdiri dari penetapan kembali sebuah akun dari suatu negara ke negara lain. Jika kurs perubahan berpengaruh terhadap kapan transaksi dilakukan (seperti akuisisi property, plant and equipment) maka kurs ini disebut historical exchange rate. Kurs perubahan yang digunakan berpengaruh pada tanggal neraca, maka kurs ini dipertimbangkan sebagai current rate atau closing rate. TRANSLATION METHODOLOGIES: AN OVERVIEW 1. Metode Current Non-Current Metode ini didasarkan pada aspek karakteristik current (lancar) dan non-current (tidak lancar) pos-pos yang ada pada neraca. Lancar atau tidaknya suatu pos ditentukan oleh kapan pos tersebut menjadi kas. Metode ini menjabarkan semua pos-pos lancar (current)

dengan menggunakan kurs pada tanggal neraca dan pos-pos tidak lancar (non-current) dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. 2. Metode Monetary Non-Monetary Metode ini didasarkan pada aspek karakteristik moneter dan non-moneter dari pos-pos neraca. Karakteristik moneter dari suatu aktiva atau kewajiban diartikan sebagai aktiva dan kewajiban yang realisasi dan penyelesaiannya dilakukan dalam jumlah moneter yang tetap. Pada neraca, pos-pos moneter adalah kas, piutang, deposito, hutang jangka panjang dan jangka pendek. Sementara pos-pos non-moneter adalah persediaan, aktiva tetap, aktiva tidak berwujud dan ekuitas. Berdasarkan metode ini, pos-pos moneter akan dijabarkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca, sementara pos non-moneter dijabarkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. 3. Metode Temporal Dasar yang digunakan metode temporal dalam menjabarkan pos-pos neraca adalah penggunaan dasar-dasar penilaian untuk aktiva dan kewajiban. Pendekatan ini flexible. Jika nilai akuntansi suatu negara berubah dari historical cost menjadi current value, maka metode ini akan menggunakan current rate. Sesuai dengan pendekatan temporal, untuk cabang dan perusahaan anak akan ditranslasikan ke dalam mata uang perusahaan induk sehingga mata uang perusahaan induk merupakan unit pengukuran tunggal. 4. Metode Current Rate (Closing Rate) Metode ini mudah untuk diterapkan karena metode ini mensyaratkan aktiva dan kewajiban ditranslasikan dengan current rate. Hanya nilai bersih yang ditranslasikan dengan historical rate. Selain itu, perusahaan tidak harus memiliki catatan mengenai historical rate-nya. Pendekatan current rate yang digunakan dalam laporan translasi akan memperkuat rasio dan hubungan yang sama dengan mata uang lokalnya.
Exchange Rate Used To Translate Selected Assets And Liabilities
Current Non-Current Cash, current receivables, and payables Inventory Fixed assets Long-term receivables and payables C C H H Monetary NonMonetary C H H C Current Rate C C C C Temporal C C or H H C

C = current exchange rate H = historical exchange rate INTERNATIONAL ACCOUNTING STANDARDS

IASC (sekarang IASB) telah mengeluarkan IAS 21 tentang Accounting for the Effects of Changes in Foreign Exchange Rates, pada Juli 1983 (efektif tanggal 1 Januari 1985). IAS 21 direvisi tahun 1993 (efektif tanggal 1 Januari 1995) sebagai bagian dari perbandingan project L/K. Pada tahun 2003, IAS 21 direvisi kembali sebagai bagian dari proses konvergensi yang efektif tanggal 1 Januari 2005. IAS 21 dikeluarkan setelah FASB mengeluarkan statement no. 52 (Desember 1981), jadi IASC mengambil keuntungan dari statement ini untuk mengembangkan standarnya. Sebagai tambahan, standar ini dikeluarkan bersamaan dengan standar Kanada dan Amerika, dan interaksi IASC dengan standard-setter Inggris, Kanada dan Amerika sangat baik sehingga menghasilkan standar yang dapat diterima. IAS 21 berisi ketentuan mengenai transaksi dan translasi L/K. Untuk translasi mata uang asing dalam L/K, digunakan closing rate dan metode temporal, tergantung dari karakteristik operasi asing perusahaan. Jika operasi asing merupakan satu-kesatuan dengan perusahaan induknya, maka metode temporal digunakan untuk translasi L/K dalam mata uang pelaporan, dan keuntungan atau kerugian pertukaran diakui dalam pendapatan. Jika operasi asing tersebut merupakan entitas asing, yang berarti operasi asing tersebut bukan satu-kesatuan dengan perusahaan induknya, maka translasi L/K-nya ke dalam mata uang pelaporan menggunakan metode closing rate, dan perbedaan akibat pertukaran diakui ke dalam ekuitas sampai penyelesaian investasi bersih. Aktiva dan kewajiban ditranslasikan dengan closing rate; pendapatan dan beban ditranslasikan pada kurs yang dipengaruhi tanggal transaksi (average rate). Dalam kasus hyperinflationary-economies, pendapatan dan beban ditranslasi pada closing rate sebagai pengganti average rate. L/K entitas asing dalam kondisi hyperinflationary-economies harus disesuaikan pada level perubahan tertentu (IAS 29) dan kemudian ditranslasikan menjadi mata uang pelaporan pada closing rate. HISTORICAL DEVELOPMENT IN THE UNITED STATES Pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an, dollar US memiliki tekanan yang rendah daripada nilai mata uangnya sendiri, dan pada tahun 1971 devaluasi mencapai 10 % berlawanan dengan nilai emasnya. Selama masa itu, Accounting Principle Board (APB) mempelajari isu translasi ini, dan pada tahun 1972 mengeluarkan Accounting Research Study 12, yang menggunakan metode temporal dalam translasi. Kemudian peran APB ini digantikan oleh FASB. Pada Desember 1973, FASB mengeluarkan Statement no.1, Disclosure of Foreign Currency Translation Information untuk mencegah tekanan tambahan dari isu bagaimana L/K mata uang asing ditranslasikan. Perlu diketahui bahwa dollar mengalami devaluasi lagi pada awal 1973 sehingga isu translasi menjadi kritikal. Pada 21 Februari 1974, FASB mengeluarkan Discussion Memorandum tentang translasi. Setelah public hearing Discussion Memorandum, dikeluarkanlah exposure draft. Dari hearing exposure draft, akhirnya pada Oktober 1975 FASB mengeluarkan statement no.8.

Pernyataan No.8 FASB


Berdasarkan statemen No.8, tujuan dijelaskan seperti sebagai berikut:untuk tujuan menyiapkan laporan keuangan perusahaan, tujuannya adalah sebagai alat ukur dan penjelasan (a)

dalam dollar dan (b) dalam rangka menyesuaikan dengan peraturan aset,kewajiban, pendapatan atau beban US GAAP yang diukur dan didenominasi pertukaran mata uang luar negeri. Metode temporal translation telah diuraikan dengan jelas, tetapi masih terdapat hal penting tentang prinsip temporal dan pernyataan no.8 yang tidak jelas. Dalam laporan laba rugi, contohnya, banyak pendapatan dan beban dijelaskan dengan menggunakan tarif pertukaran rata rata setiap tahun. Akun beban penjualan dan beban deperesiasi dijelaskan dengan menggunakan tarif pertukaran yang berpengaruh saat aset dijual. Hal penting lain yang terdapat dalam statement no.8 yaitu keuntungan dan kerugian dari transaksi pertukaran mata uang asing dan penjelasan laporan keuangan pertukaran mata uang asing harus diungkapkan dalam laporan laba rugi. Artinya, pendapatan berfluktuasi tergantung kepada apa yang terjadi pada tarif pertukaran. Hal ini menjadi sumber perdebatan perusahaan dunia dan menjadi salah satu faktor penting yang menggoyahkan statement no.8. Pada umumnya, banyak perusahaan yang komplain mengenai persediaan pada tarif historis dengan 2 alasan. Pertama, mengenai cost-benefit yang sederhana. Dikarenakan jika persediaan naik dengan sangat cepat menjadi sangat besar dan diperkirakan dengan tarif sekarang, hal ini akan menjadi lebih mudah dengan menghitung nilai persediaan jika tarif sekarang dapat digunakan bersamaan dengan tarif pertukaran historis yang lama. Alasan yang kedua berhubungan dengan waktu. Manajer keberatan karena persediaan ditranslasikan dengan menggunakan tarif historis, hal ini memungkinkan tarif pertukaran berubah yang dapat mempengaruhi earning pada persediaan dalam harga pokok penjualan. Mereka pikir hal ini akan dapat mengubah kinerja operasi. Sejumlah kritikan untuk statement no.8 menyatakan statemen ini sebaiknya ditingkatkan jika persediaan dapat dijelaskan pada tarif pertukaran sekarang dari pada tarif pertukaran historis. Sebuah kritik utama mengenai penempatan untung rugi utang jangka panjang. Statemen no.8 menjelaskan translasi perusahaan utang jangka panjang menggunakan tarif sekarang, praktek ini telah dilakukan oleh hampir oleh setengah perusahaan multinasional AS sejak tahun 1975. karena banyaknya pertukaran mata uang asing utang jangka penjang pada tahun 1970-an yang dipertukarkan untuk memperkuat vis-a-vis dollar AS, perusahaan AS menentukan ukuran kerugian. Banyak perusahaan berpikir begitu karena utang pertukaran mata uang asing secara umum dilikuidasi oleh pendapatan pertukaran mata uang asing, tidak ada pengaruh dollar sama sekali. Mereka juga berpendapat bahwa aset tetap dibeli oleh utang yang secara alami dihedging atau diproteksi untuk menghindari kerugian. Oleh karena itu, mereka pikir mereka harus menghapus kerugian aset atau memperlakukan kerugian sebagai penyesuaian terhadap beban bunga.

Perubahan ke statemen no.52


Sebagai hasil kritikan yang terjadi, dewan memutuskan pada bulan mei 1978 untuk menerima masukan terhadap statemen 1 sampai 12. 200 surat yang diterima oleh dewan, kebanyakan surat berkomentar mengenai statemen no.8. pada januari 1979, anggota IASC sebagai badan pengaturan standar profesional di Inggris dan Kanada mengadakan pertemuan untuk memberikan saran kepada dewan.

Bulan agustus 1980, exposure draft diterbitkan setelah pertemuan 18 dewan publik. Bulan Desember 1980, konferensi pers diadakan yang menghasilkan 360 surat dan 47 presentasi. Dewan menerbitkan sebuah exposure draft yang direvisi tanggal 30 Juni 1981, yang dilanjutkan dengan pertemuan publik dan 260 komentar surat. Akhirnya, bulan desember 1981, statemen no.52, translasi pertukaran mata uang asing diterbitkan.

FASB statemen no.52


Pengembangan statemen no.52 bukanlah hal yang mudah. Tidak ada solusi yang tepat untuk statemen no.8, dan saran perubahan berkisar dari minor alteration statemen hingga major rethinking keseluruhan proses translasi. Dalam analisis akhir, pandapat minoritas setuju dengan statemen no.8 dan tidak menerima perubahan inheren pada statemen 52. Salah satu perbedaan utama dalam statemen yaitu statemen no.52 mengadopsi tujuan baru translasi. Tujuannya yaitu; 1. menghasilkan informasi yang secara umum dapat dibandingkan dengan dampak ekonomi yang diharapkan terhadap perubahan tarif dari ekuitas dan arus kas perusahaan. 2. merefleksikan statemen konsolidasi hasil keuangan dan hubungan konsolidasi entitas individu sebagai pengukuran dalam fungsi pertukaran dalam hubungannya dengan GAAP AS.

Pemilihan Mata Uang Fungsional


Istilah functional currency digunakan pertama kali dalam literatur translasi dalam hubungannya dengan statemen no.52. Secara konsep, dapat dimungkinkan untuk entitas asing memiliki lebih dari satu pertukaran mata uang asing. Contohnya, entitas dapat menjual dan mendistribusikan produk pabrik oleh perusahaan induk sehingga functional currency merupakan bagian dari induk. Bagaimanapun juga, dapat juga diproduksi dan menjual produk secara lokal, sehingga functional currency untuk fungsi tersebut menjadi lokal currency. Dalam prakteknya, dewan berharap perusahaan dapat mengambil hanya satu functional currency untuk setiap aktivitas LN. Sekali functional currency dipilih, proses translasi dapat dimulai. Hal ini penting mengingat functional currency dipilih berdasarkan kriteria operasi yang dibentuk oleh manajemen. Jika perusahaan berharap mengubah functional currency, maka dapat dilakukan juga hanya karena kriteria operasi digunakan dalam seleksi inisial telah diubah. Hal ini dedesain sehingga perusahaan tidak akan mengganti functional currency sekehendak hati untuk mengambil keuntungan dari perbedaan dalam laporan keuangan yang dihasilkan dari metode translasi yang berbeda.

Proses Translasi
Dewan memutuskan proses translasi dalam statemen no.52 sebagai proses mengkespresikan dalam pelaporan pertukaran perusahaan yang jumlahnya didominasi atau diukur pada mata uang yang berbeda.

Proses translasi aktual tergantung pada mata uang mana yang dipesan dan disimpan oleh entitas LN dan bagaimana induk menentukan fungsi mata uang entitas asing. Sekali keputusan dibuat, proses translasi mencakup metode tarif sekarang atau metode temporal. Lebih jauh lagi mengenai proses translasi, dewan merujuk pada proses translation dan restatement. Pemesanan dan penyimpanan entitas LN dapat dilakukan pada mata uang asing atau pelaporan mata uang perusahaan induk. Jika penggunaan dan penyimpanan digunakan dalam pelaporan mata uang dan mata uang fungsional ditentukan sebagai pelaporan mata uang, maka proses translasi tidak dibutuhkan. Jika penggunaan dan penyimpanan entitas LN digunakan dalam mata uang asing, proses translasi bergantung pada pengertian dari mata uang fungsional. Jika mata uang fungsional merupakan mata uang LN, laporan keuangan ditranslasikan kedalam mata uang induk dengan menggunakan metode tarif sekarang. Seperti yang lainnya, walaupun jarang, kemungkinan, pemesanan dan pencatatan disimpan dalam mata uang asing, tetapi mata uang fungsional merupakan mata uang ketiga. Pada situasi ini, laporan keuangan harus diukur ulang dari mata uang asing ke mata uang fungsional menggunakan metode temporal dan kemudian ditranslasikan kedalam laporan mata uang dengan menggunakan metode current rate. Sifat rasional dibelakang konsep pengukuran kembali adalah untuk menghasilkan hasil yang sama seperti jika transaksi transaksi diperlakukan secara aktual dalam mata uang fungsional. Namun, aset non moneter dicatat kembali dalam mata uang fungsional pada tarif pertukaran dan memiliki dampak ketika aset yang diperoleh dalam mata uang asing. Kemungkinan akhir, pemesanan dan pencatatan disimpan dalam mata uang asing, tetapi mata uang fungsional ditentukan sebagai mata uang pelaporan. Pada situasi ini, laporan keuangan mata uang asing diukur kembali kedalam pelaporan mata uang menggunakan metode temporal. Hal penting yang perlu dicatat dari diskusi ini yaitu IAS 21 dan pernyataan no.52 keduanya menggunakan metode current rate dan metode temporal untuk translasi dan pengukuran kembali laporan keuangan dari mata uang asing ke dollar AS. Kuncinya adalah mengetahui dalam mata uang apa dipesan dan dicatat, dan bagaimana mata uang fungsional entitas LN ditentukan. Pernyataan no.52 tidak secara penting menyederhanakan proses translasi, dan kita tidak bisa melupakan semua masalah yang terjadi dalam pernyataan no.8. juga, tidak benar merujuk ke pernyataan no.52 sebagai metode current rate karena metode ini mencakup kedua metode. Exhibit 10.3 faktor faktor yang mempengaruhi penentuan mata uang fungsional a. indikator arus kas 1. mata uang asing arus kas berhubungan dengan entitas LN,aset dan utang individu merupakan hal yang utama dalam mata uang asing dan tidak berdampak langsung pada arus kas perusahaan induk.

2. mata uang perusahaan induk arus kas berhubungan dengan aset dan utang individu entitas mata uang asing yang berdampak secara langsung kepada arus kas perusahaan induk dalam basis sekarang dan selalu siap membayar ke perusahaan induk. b. indikator harga jual 1. mata uang asing harga jual produk entitas LN bukan yang terutama memberikan respon dalam basis jangka pendek terhadap perubahan tarif pertukaran tetapi lebih ditentukan oleh kompetisi lokal atau peraturan pemerintah lokal. 2. Mata uang perusahaan induk harga jual produk entitas LN terutama memberikan respon dalam basis jangka pendek untuk pertukaran tarif pertukaran, contohnya, harga jual lebih ditentukan oleh kompetisi dunia atau harga internasional. c. indikator pasar jual 1. Mata uang asing adanya pasar lokal yang aktif untuk produk entitas LN 2. Mata uang perusahaan induk pasar jual lebih banyak terdapat di kota induk atau kontrak penjualan didominasi dalam mata uang perusahaan induk. d. indikator biaya biaya 1. mata uang asing tenaga kerja, material, dan biaya biaya lain untuk produk entitas LN atau jasa terutama biaya lokal, walaupun mungkin ada impor dari negara lain. 2. mata uang Perusahaan induk tenaga kerja, material, dan biaya biaya lainnya untuk produk entitas LN atau jasa, dalam basis berkelanjutan, terutama biaya untuk komponen komponen yang diperoleh dari negara lokasi perusahaan induk. e. indikator pendanaan 1. mata uang asing pendanaan terutama didominasi mata uang asing, dan dana diturunkan oleh entitas operasi LN yang dicukupkan untuk jasa dan obligasi utang yang diharapkan normal. 2. Mata uang induk pendanaan yang terutama dari perusahaaan induk atau obligasi yang didominasi dollar lain, atau dana yang berasal dari operasi entitas LN tidak cukup untuk adanya jasa dan obligasi utang yang diharapkan secara normal tanpa adanya tambahan dana dari perusahaan induk. Tambahan dana dari perusahaan induk untuk perluasan bukan merupakan suatu faktor, menghasilkan dana turunan oleh perluasan operasi entitas LN diharapkan cukup untuk menyediakan dana tambahan. f. indikator perjanjian dan transaksi antar perusahaan 1. Mata uang asing adanya volume yang rendah dari transaksi antar perusahaan, dan tidak adanya hubungan yang ekstensif diantara operasi operasi entitas LN dan perusahaan induk. Walaupun begitu, operational entitas LN dapat berjalan dalam induk atau keuntungan kompetitif afiliasi, seperti paten dan trademark. Mata uang induk adanya volume yang tinggi dari transaksi transaksi antar perusahaan, dan adanya hubungan yang ekstensif diantara operasi operasi entitas LN dan perusahaan induk. Secara umum, mata uang induk umumnya merupakan mata uang fungsional jika entitas LN sebagai alat atau pelindung perusahaan sebagai pemilik investasi, obligasi, aset tak berwujud, dan sebagainya yang dapat dibawa induk atau pesanan cabang.