Anda di halaman 1dari 32

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.

Kariadi Semarang

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Aborsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengguguran kandungan. Makna aborsi lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim. Sedangkan abortus adalah berakhirnya kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus sendiri terbagi dua yaitu abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus spontan adalah merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yag diderita si ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi. Abortus spontan sering disebut dengan keguguran. Sedangkan abortus provokatus adalah suatu upaya yang disengaja untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar.1 Abortus provokatus sendiri terbagi menjadi dua yaitu abortus provokatus artifisial terapeutik dan abortus provokatus kriminalis. Abortus provokatus artifisial terapeutik adalah pengguguran kandungan menggunakan alat-alat medis dengan alasan kehamilan membahayakan dan dapat membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu mempunyai penyakit berat tertentu. Abortus terapeutik diizinkan menurut ketentuan profesional seorang dokter atas indikasi untuk menyelamatkan sang ibu. Jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam Abortus buatan legal. Sedangkan abortus provokatus kriminalis adalah pengguguran kandungan tanpa alasan medis yang sah dan dilarang hukum karena jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam abortus buatan ilegal. Termasuk dalam abortus jenis ini adalah abortus yang terjadi atas permintaan pihak perempuan, suami, atau pihak keluarga kepada seorang dokter untuk menggugurkan kandungannya. 1 Aborsi di dunia dan di Indonesia khususnya tetap menimbulkan banyak persepsi dan bermacam interpretasi, tidak saja dari sudut pandang kesehatan, tetapi juga dari sudut pandang hukum dan agama. Aborsi merupakan masalah kesehatan masyarakat karena memberi dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab
1

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

kematian ibu yang utama adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Diperkirakan diseluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta kasus aborsi tidak aman, 70 ribu perempuan meninggal akibat aborsi tidak aman dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. 95% (19 dari 20 kasus aborsi tidak aman) dintaranya bahkan terjadi di negara berkembang. Di Indonesia setiap tahunnya terjadi kurang lebih 2 juta kasus aborsi, artinya 43 kasus/100 kelahiran hidup (sensus 2000). Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah aborsi di Indonesia masih cukup besar (Wijono 2000). Suatu hal yang dapat kita tengarai, kematian akibat infeksi aborsi ini justru banyak terjadi di negara-negara dimana aborsi dilarang keras oleh undang-undang. 2 Permasalahan 1. Apa yang dimaksud dengan abortus ? 2. Apa macam-macam abortus serta penjelasannya ? 3. Apa saja metode yang digunakan untuk melakukan abortus ? 4. Apa saja komplikasi dari abortus ? 5. Bagaimana pemeriksaan untuk mengetahui suatu tindakan abortus ? 6. Bagaimana abortus dipandang dari aspek hukum,etika dan agama? Tujuan 1. Mampu mengetahui definisi abortus 2. Mampu mengetahui dan menjelaskan macam-macam abortus 3. Mampu mengetahui dan menjelaskan metode-metode abortus 4. Mampu menjelaskan komplikasi abortus 5. Mampu mengetahui dan melakukan pemeriksaan terhadap korban abortus 6. Mampu mengetahui landasan hukum,etika dan agama mengenai abortus

BAB II
2

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Aspek medis Pengeluaran hasil konsepsi setiap stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan lengkap Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan Kedokteran Forensik : Keluarnya janin dari kandungan seorang wanita pada setiap saat sebelum masa kehamilan lengkap tercapai. Aspek hukum Tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran tanpa melihat usia kandungan Sewaktu pengguguran dilakukan, kandungan masih hidup Ada faktor kesengajaan 2.2. Jenis Abortus Jenis-jenis abortus menurut terjadinya dibagi menjadi: 2.2.1. Abortus spontan Merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan tanpa tindakan. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si Ibu ataupun sebabsebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi, diantaranya3: Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam ) : ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan3 :
3

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

o Perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin masih dalam intrauterine timbul pada pertengahan trimester pertama. o TFU sesuai dengan usia gestasi berdasarkan HPHT. o Perdarahan biasanya sedikit, hal ini dapat terjadi beberapa hari. o Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai perdarahan. o Tidak ditemukan kelainan pada serviks dan serviks tertutup o Kadar hormon hCG pada urin menentukan prognosis dari abortus imminens, jika pemeriksaan (+) sebelum dan setelah diencerkan 1/10, prognosis mengarah ke ad bonam dan bila (-) saat diencerkan 1/10, maka prognosis mengarah ke ad malam. o Pemeriksaan USG diperlukan untuk mengetahui keadaan plasenta apakah sudah terjadi pelepasan atau belum, dan apakah ada hematoma retroplasenta. Diperhatikan ukuran biometri janin/ kantong gestasi apakah sesuai dengan umur kehamilan berdasarkan HPHT, gerak janin dan denyut jantung janin.

Abortus Insipiens : peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat dan mendatar, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus, tinggi fundus uteri sesuai dengan usia gestasi berdasarkan HPHT. Ditandai dengan adanya3 : o Nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat. o Robeknya selaput amnion dan adanya pembukaan serviks o Terjadi kontraksi uterus untuk mengeluarkan hasil konsepsi o Perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan darah. o Tes hCG biasanya negatif namun dapat positif karena produksi hCG oleh korion, dan bukan oleh fetus
4

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

o Pada pemeriksaan USG didapati pembesaran uterus yang masih sesuai dengan umur kehamilan, gerak janin dan gerak jantung janin masih jelas walau mungkin sudah mulai tidak normal, perhatikan apakah adanya perdarahan retroplasenta dan ovum yang mati.

Abortus Kompletus : proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi (desidua dan fetus) telah keluar melalui jalan lahir sehingga rongga rahim kosong pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.Tanda dan Gejala3 : o Serviks menutup. o Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea. o Gejala kehamilan tidak ada. o Uji kehamilan biasanya positif sampai 7-10 hari setelah abortus.

Abortus Inkompletus : pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus3. Gejala Klinis : o Didapati amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas o Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan biasanya disertai stolsel (darah beku). o Sudah ada keluar fetus atau jaringan o Pada pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa jaringan pada kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih kecil dari seharusnya. Missed Abortion : berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil konsepsi tertahan dalam uterus 2 bulan atau lebih. Fetus yang meninggal ini dapat3 :
5

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

o Keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati. o Diresorbsi kembali sehingga hilang o Mengering dan menipis yang disebut : fetus papyraceus o Menjadi mola karnosa, dimana fetus yang sudah mati 1 minggu akan mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi. Gejala Klinis o Ditandai dengan kehamilan yang normal dengan amenorrhea, dapat disertai mual dan muntah o Perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya o Pertumbuhan uterus mengecil dengan fundus yang tidak bertambah tinggi jika kehamilannya berkisar antara 14 sampai 20 minggu. o Mamae menjadi mengecil sebagai tanda-tanda kehamilan sekunder yang menghilang. o Gejala-gejala kehamilan menghilang diiringi reaksi kehamilan menjadi negative pada 2-3 minggu setelah fetus mati. o Pada pemeriksaan dalam serviks tertutup dan ada darah sedikit o Pasien merasa perutnya dingin dan kosong. o Pada pemeriksaan USG didapatkan : uterus yang mengecil, kantong gestasi yang mengecil dan bentuknya tidak beraturan disertai gambaran fetus yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. o Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4 minggu harus diperhatikan kemungkinan terjadinya gangguan pembekuan darah oleh karena hipofibrinogemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan evakuasi dan kuretase.

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Abortus Habitualis : abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih oleh sebab apapun. Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk hamil kembali, tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran secara berturut-turut. Bishop melaporkan kejadian abortus habitualis terjadi 0,41% dari seluruh kehamilan. 3 Penyebab paling sering pada abortus ini dahulu ditetapkan karena reaksi immunologi yaitu TLX ( lymphocyte trophoblast cross reactive), tetapi dekade belakangan ini diketahui penyebab yang tersering dijumpai adalah inkompetensia serviks yaitu keadaan dimana serviks uterus tidak dapat menerima beban untuk tetap bertahan menutup setelah kehamilan melewati trimester pertama, di mana os serviks akan membuka tanpa disertai tanda-tanda inpartu lainnya seperti perut tegang dan mulesmules, akhirnya terjadi pengeluaran janin. Penyebab lain yang sering ditemukan berupa kelainan anatomis, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum, kesalahan plasenta, yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesteron sesudah korpus luteum atrofis. 3,4 Pemeriksaan : o Histerosalfingografi, untuk mengetahui adanya mioma uterus submukosa atau anomali congenital. o BMR dan kadar jodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak gangguan glandula thyroidea. o Psiko analisis

Abortus Infeksious : suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi genital. Diagnosis3,4: o Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di luar rumah sakit. o Pemeriksaan : Kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan, dan sebagainya.

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

o Tanda tanda infeksi yakni kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,5 derajat Celcius, kenaikan leukosit dan discharge berbau pervaginam, uterus besar dan lembek disertai nyeri tekan.

Septic Abortion : abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Diagnosis septic abortion ditegakan jika didapatkan tanda tanda sepsis, seperti nadi cepat dan lemah, syok dan penurunan kesadaran.3,4

2.2.2. Abortus Provokatus Abortus Provokatus adalah abortus yang sengaja dibuat atau merupakan suatu upaya yang disengaja, baik dilakukan oleh ibunya sendiri atau dibantu oleh orang lain, untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar. 4,5 Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi: Abortus provokatus Medisinalis/Therapeutikus Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa Ibu. Syarat-syaratnya adalah4,5: o Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi. o Mengkonsultasikan obstetric/gynekologi berpengalaman. o Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi). o Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat. dengan sedikitnya dua orang ahli, yaitu ahli

dan ahli penyakit dalam atau ahli jantung yang

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

o Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/ peralatan yang memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah. o Prosedur tidak dirahasiakan. o Dokumen medik harus lengkap. Abortus Provokatus Kriminalis Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi medik (ilegal) dan dilarang oleh hukum. Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obatan tertentu, atau dengan kekerasan mekanik lokal.4,5 Kekerasan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti melakukan gerakan fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawah, kekerasan langsung pada perut atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya. 4,5,6 Kekerasan dari dalam yaitu dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus. Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas pada porsio, aplikasi asam arsenik, kalium permanganat pekat, atau jodium tinktur; pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks; atau manipulasi serviks dengan jari tangan. Manipulasi uterus, dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau dengan penyuntikan ke dalam uterus. 4,5,6 Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson tipe syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun, desinfektan atau air biasa/air panas. Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli udara. 4,5,6 Obat / zat tertentu Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter tertentu yang dapat merangsang saluran cerna hingga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus dan hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus. Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas individu dankeadaan kandungannya (usia gestasi). 4,5,6
9

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nanas muda, bubuk beras dicampur lada hitam, dan lain-lain. Ada juga yang agak beracun seperti garam logam berat, laksans dan lain-lain; atau bahan yang beracun, seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin, dikumarol, kina dan lain-lain. Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika (aminopterin) sebagai abortivum. 4,5,6 2.3. Metode-Metode Aborsi dan Efek Sampingnya Trimester Pertama Metode Penyedotan (Suction Curettage) Pada 1-3 bulan pertama dalam kehidupan janin, aborsi dilakukan dengan metode penyedotan. Teknik inilah yang paling banyak dilakukan untuk kehamilan usia dini. Mesin penyedot bertenaga kuat dengan ujung tajam dimasukkan ke dalam rahim lewat mulut rahim yang sengaja dimekarkan. Penyedotan ini mengakibatkan tubuh bayi berantakan dan menarik ari-ari (plasenta) dari dinding rahim. Hasil penyedotan berupa darah, cairan ketuban, bagian-bagian plasenta dan tubuh janin terkumpul dalam botol yang dihubungkan dengan alat penyedot ini. Ketelitian dan kehati-hatian dalam menjalani metode ini sangat perlu dijaga guna menghindari robeknya rahim akibat salah sedot yang dapat mengakibatkan pendarahan hebat yang terkadang berakhir pada operasi pengangkatan rahim. Peradangan dapat terjadi dengan mudahnya jika masih ada sisa-sisa plasenta atau bagian dari janin yang tertinggal di dalam rahim. Hal inilah yang paling sering terjadi yang dikenal dengan komplikasi paska-aborsi.7 Metode D&C - Dilatasi dan Kerokan Dalam teknik ini, mulut rahim dibuka atau dimekarkan dengan paksa untuk memasukkan pisau baja yang tajam. Bagian tubuh janin dipotong berkeping-keping dan diangkat, sedangkan plasenta dikerok dari dinding rahim. Darah yang hilang selama dilakukannya metode ini lebih banyak dibandingkan dengan metode penyedotan. Begitu juga dengan perobekan rahim dan radang paling sering terjadi. Metode ini tidak sama dengan metode D&C yang dilakukan pada wanita-wanita dengan keluhan penyakit rahim (seperti pendarahan rahim, tidak terjadinya
10

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

menstruasi, terjadi
7

dsb). lain

Komplikasi robeknya

yang dinding

sering rahim

antara

yang dapat menjurus

hingga ke kandung kencing.

Keterangan gambar: Alat kuret dimasukkan ke dalam rahim untuk mulai mengerok janin, ari-ari, dan air ketuban dari rahim.

PIL RU 486 Masyarakat menamakannya "Pil Aborsi Perancis". Teknik ini menggunakan 2 hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol untuk secara kimiawi menginduksi kehamilan usia 5-9 minggu. Di Amerika Serikat, prosedur ini dijalani dengan pengawasan ketat dari klinik aborsi yang mengharuskan kunjungan sedikitnya 3 kali ke klinik tersebut. Pada kunjungan pertama, wanita hamil tersebut diperiksa dengan seksama. Jika tidak ditemukan kontra-indikasi (seperti perokok berat, penyakit asma, darah tinggi, kegemukan, dll) yang malah dapat mengakibatkan kematian pada wanita hamil itu, maka ia diberikan pil RU 486. 7,8 Kerja RU 486 adalah untuk memblokir hormon progesteron yang berfungsi vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar. Karena pemblokiran ini, maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan menjadi kelaparan. Pada kunjungan kedua, yaitu 36-48 jam setelah kunjungan pertama, wanita hamil ini diberikan suntikan hormon prostaglandin, biasanya misoprostol, yang mengakibatkan terjadinya kontraksi rahim dan membuat janin terlepas dari rahim. Kebanyakan wanita mengeluarkan isi rahimnya itu dalam 4 jam saat menunggu di klinik, tetapi 30% dari mereka mengalami hal ini di rumah, di tempat kerja, di kendaraan umum, atau di tempat-tempat lainnya, ada juga yang perlu menunggu hingga 5 hari kemudian. Kunjungan ketiga dilakukan kira-kira 2 minggu setelah pengguguran kandungan, untuk mengetahui apakah aborsi telah berlangsung. Jika belum, maka
11

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

operasi perlu dilakukan (5-10 persen dari seluruh kasus). Ada beberapa kasus serius dari penggunaan RU 486, seperti aborsi yang tidak terjadi hingga 44 hari kemudian, pendarahan hebat, pusing-pusing, muntah-muntah, rasa sakit hingga kematian. Sedikitnya seorang wanita Perancis meninggal sedangkan beberapa lainnya mengalami serangan jantung. Efek jangka panjang dari RU 486 belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa alasan yang dapat dipercaya mengatakan bahwa RU 486 tidak saja mempengaruhi kehamilan yang sedang berlangsung, tetapi juga dapat mempengaruhi kehamilan selanjutnya, yaitu kemungkinan keguguran spontan dan cacat pada bayi yang dikandung. 7,8 Suntikan Methotrexate (MTX) Prosedur dengan MTX sama dengan RU 486, hanya saja obat ini disuntikkan ke dalam badan. MTX pada mulanya digunakan untuk menekan pertumbuhan pesat sel-sel, seperti pada kasus kanker, dengan menetralisir asam folat yang berguna untuk pemecahan sel. MTX ternyata juga menekan pertumbuhan pesat trophoblastoid selaput yang menyelubungi embrio yang juga merupakan cikal bakal plasenta. Trophoblastoid tidak saja berfungsi sebagai 'sistim penyanggah hidup' untuk janin yang sedang berkembang, mengambil oksigen dan nutrisi dari darah calon ibu serta membuang karbondioksida dan produk-produk buangan lainnya, tetapi juga memproduksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin), yang memberikan tanda pada corpus luteum untuk terus memproduksi hormon progesteron yang berguna untuk mencegah gagal rahim dan keguguran. 7,8,9 MTX menghancurkan integrasi dari lingkungan yang menopang, melindungi dan menyuburkan pertumbuhan janin, dan karena kekurangan nutrisi, maka janin menjadi mati. 3-7 hari kemudian, tablet misoprostol dimasukkan ke dalam kelamin wanita hamil itu untuk memicu terlepasnya janin dari rahim. Terkadang, hal ini terjadi beberapa jam setelah masuknya misoprostol, tetapi sering juga terjadi perlunya penambahan dosis misoprostol. Hal ini membuat cara aborsi dengan menggunakan suntikan MTX dapat berlangsung berminggu-minggu. Si wanita hamil itu akan mendapatkan pendarahan selama berminggu-minggu (42 hari dalam sebuah studi kasus), bahkan terjadi pendarahan hebat. Sedangkan janin dapat gugur kapan saja - di rumah, di dalam bis umum, di tempat kerja, di supermarket, dsb. Wanita yang kedapatan masih mengandung pada kunjungan ke klinik aborsi selanjutnya, mau tak
12

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

mau harus menjalani operasi untuk mengeluarkan janin itu. Bahkan dokter-dokter yang bekerja di klinik aborsi seringkali enggan untuk memberikan suntikan MTX karena MTX sebenarnya adalah racun dan efek samping yang terjadi terkadang tak dapat diprediksi. 7,8,9 Efek samping yang tercatat dalam studi kasus adalah sakit kepala, rasa sakit, diare, penglihatan yang menjadi kabur, dan yang lebih serius adalah depresi sumsum tulang belakang, kekuragan darah, kerusakan fungsi hati, dan sakit paru-paru. Dalam bungkus MTX, pabrik pembuat menuliskan peringatan keras bahwa MTX memang berguna untuk pengobatan kanker, beberapa kasus artritis dan psoriasis, "kematian pernah dilaporkan pada orang yang menggunakan MTX", dan pabrik itu menyarankan agar hanya para dokter yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang terapi antimetabolik saja yang boleh menggunakan MTX. Meski para dokter aborsi yang menggunakan MTX menepis efek-efek samping MTX dan mengatakan MTX dosis rendah baik untuk digunakan dalam proses aborsi, dokter-dokter aborsi lainnya tidak setuju, karena pada paket injeksi yang digunakan untuk aborsi juga tertera peringatan bahaya racun walau MTX digunakan dalam dosis rendah. 7,8,9 Trimester Kedua Metode Dilatasi dan Evakuasi Metode ini digunakan untuk membuang janin hingga usia 24 minggu. Metode ini sejenis dengan D&C, hanya dalam D&E digunakan tang penjepit (forsep) dengan ujung pisau tajam untuk merobek-robek janin. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh tubuh janin dikeluarkan dari rahim. Karena pada usia kehamilan ini tengkorak janin sudah mengeras, maka tengkorak ini perlu dihancurkan supaya dapat dikeluarkan dari rahim. Jika tidak berhati-hati dalam pengeluarannya, potongan tulang-tulang yang runcing mungkin dapat menusuk dinding rahim dan menimbulkan luka rahim. Pendarahan mungkin juga terjadi. Dr. Warren Hern dari Boulder, Colorado, Amerika Serikat, seorang dokter aborsi yang sering melakukan D&E mengatakan, hal ini sering membuat masalah bagi karyawan klinik dan menimbulkan kekuatiran akan efek D&E pada wanita yang menjalani aborsi. Dokter Hern juga melihat trauma yang terjadi pada para dokter yang melakukan aborsi, ia mengatakan,

13

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

"tidak dapat disangkal lagi, penghancuran terjadi di depan mata kita sendiri. Penghancuran janin lewat forsep itu seperti arus listrik." 7,8,9

Keterangan : Tang penjepit dan alat sedot tengah dimasukkan ke dalam rahim untuk menghancurkan janin.

Metode Racun Garam (Saline) Caranya ialah dengan meracuni air ketuban. Teknik ini digunakan saat kandungan berusia 16 minggu, saat air ketuban sudah cukup melingkupi janin. Jarum disuntikkan ke perut si wanita dan 50-250 ml (kira-kira secangkir) air ketuban dikeluarkan, diganti dengan larutan konsentrasi garam. Janin yang sudah mulai bernafas, menelan garam dan teracuni. Larutan kimia ini juga membuat kulit janin terbakar dan memburuk. Biasanya, setelah kira-kira satu jam, janin akan mati. Kirakira 33-35 jam setelah suntikan larutan garam itu bekerja, si wanita hamil itu akan melahirkan anak yang telah mati dengan kulit hitam karena terbakar. Kira-kira 97% dari wanita yang memilih aborsi dengan cara ini melahirkan anaknya 72 jam setelah suntikan diberikan. Suntikan larutan garam ini juga memberikan efek samping pada wanita pemakainya yang disebut "Konsumsi Koagulopati" (pembekuan darah yang tak terkendali diseluruh tubuh), juga dapat menimbulkan pendarahan hebat dan efek samping serius pada sistim syaraf sentral. Serangan jantung mendadak, koma, atau kematian mungkin juga dihasilkan oleh suntikan saline lewat sistim pembuluh darah.

14

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Keterangan : Jarum suntik ditusuk hingga mencapai air ketuban. Jarum ini kemudian menyedot dari sedikit air ketuban keluar, lalu diganti dengan larutan racun garam.

Urea Karena bahaya penggunaan saline, maka suntikan lain yang biasa dipakai adalah hipersomolar urea, walau metode ini kurang efektif dan biasanya harus dibarengi dengan asupan hormon oxytocin atau prostaglandin agar dapat mencapai hasil maksimal. Gagal aborsi atau tidak tuntasnya aborsi sering terjadi dalam menggunakan metode ini, sehingga operasi pengangkatan janin dilakukan. Seperti teknik suntikan aborsi lainnya, efek samping yang sering ditemui adalah pusingpusing atau muntah-muntah. Masalah umum dalam aborsi pada trimester kedua adalah perlukaan rahim, yang berkisar dari perlukaan kecil hingga perobekan rahim. Antara 1-2% dari pasien pengguna metode ini terkena endometriosis/peradangan dinding rahim. 7,8,9 Prostaglandin Prostaglandin merupakan hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh dalam proses melahirkan. Injeksi dari konsentrasi buatan hormon ini ke dalam air ketuban memaksa proses kelahiran berlangsung, mengakibatkan janin keluar sebelum waktunya dan tidak mempunyai kemungkinan untuk hidup sama sekali. Sering juga garam atau racun lainnya diinjeksi terlebih dahulu ke cairan ketuban untuk memastikan bahwa janin akan lahir dalam keadaan mati, karena tak jarang terjadi janin lolos dari trauma melahirkan secara paksa ini dan keluar dalam keadaan hidup. Efek samping penggunaan prostaglandin tiruan ini adalah bagian dari ari-ari yang tertinggal karena tidak luruh dengan sempurna, trauma rahim karena dipaksa melahirkan, infeksi, pendarahan, gagal pernafasan, gagal jantung, perobekan rahim. 7,8 Partial Birth Abortion

15

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Metode ini sama seperti melahirkan secara normal, karena janin dikeluarkan lewat jalan lahir. Aborsi ini dilakukan pada wanita dengan usia kehamilan 20-32 minggu, mungkin juga lebih tua dari itu. Dengan bantuan alat USG, forsep (tang penjepit) dimasukkan ke dalam rahim, lalu janin ditangkap dengan forsep itu. Tubuh janin ditarik keluar dari jalan lahir (kecuali kepalanya). Pada saat ini, janin masih dalam keadaan hidup. Lalu, gunting dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk menusuk kepala bayi itu agar terjadi lubang yang cukup besar. Setela itu, kateter penyedot dimasukkan untuk menyedot keluar otak bayi. Kepala yang hancur lalu dikeluarkan dari dalam rahim bersamaan dengan tubuh janin yang lebih dahulu ditarik keluar. 7,8,9 Histerektomi (untuk kehamilan trimester kedua dan ketiga) Sejenis dengan metode operasi caesar, metode ini digunakan jika cairan kimia yang digunakan/disuntikkan tidak memberikan hasil memuaskan. Sayatan dibuat di perut dan rahim. Bayi beserta ari-ari serta cairan ketuban dikeluarkan. Terkadang, bayi dikeluarkan dalam keadaan hidup, yang membuat satu pertanyaan bergulir: bagaimana, kapan dan siapa yang membunuh bayi ini? Metode ini memiliki resiko tertinggi untuk kesehatan wanita, karena ada kemungkinan terjadi perobekan rahim. Dalam 2 tahun pertama legalisasi aborsi di kota New York, tercatat 271,2 kematian per 100.000 kasus aborsi dengan cara ini. 7,8,9 2.4. Komplikasi Aborsi Komplikasi yang dapat terjadi karena aborsi adalah10 : 1. Perdarahan (hemorrhage) 2. Perforasi : sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli seperti bidan dan dukun. 3. Infeksi dan tetanus 4. Gagal ginjal akut 5. Syok, pada abortus dapat disebabkan oleh: - Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik - Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik
16

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

6. DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation) Komplikasi dari post abortus berkembang menjadi 3 bagian besar11 : a) Evakuasi yang inkomplit dan atonia uterus yang menyebabkan komplikasi perdarahan. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. b) Infeksi Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas pada desidua. Pada abortus septik, virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium tuba, parametrium dan peritonium. c) Kerusakan organ-organ 2.5. Pembuktian Kasus Abortus Untuk dapat membuktikan apakah kematian seorang wanita itu merupakan akibat dari tindakan abortus yang dilakukan atas dirinya, diperlukan petunjuk-petunjuk12 : 1. Adanya kehamilan 2. Umur kehamilan, bila dipakai pengertian abortus menurut pengertian medis 3. Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian 4. Adanya hubungan antara saat dilakukannya tindakan abortus dengan saat kematian 5. Adanya barang bukti yang dipergunakan untuk melakukan abortus sesuai dengan metode yang dipergunakan 6. Alasan atau motif untuk melakukan abortus itu sendiri Pemeriksaan Korban Hidup Pada pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter adalah mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan menentukan cara pengguguran yang dilakukan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan oleh Sp.OG. 12
17

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Untuk menentukan tanda-tanda sisa kehamilan diusahakan melakukan anamnesis secara teliti dan pemeriksaan fisik berupa adanya payudara yang membesar dan pengeluaran ASI serta dijumpai adanya kolustrum pada pemeriksaan laboratorium, Warna kehitaman disekitar payudara, uterus masih membesar, dijumpai adanya striae, lochia dari vagina, dan perlukaan pada portio. 12 Untuk menentukan usaha penghentian kehamilan dilakukan pemeriksaan toksikologi, pemeriksaan PA jaringan hasil aborsi atau sisa plasenta yang tertinggal dirahim, luka, peradangan, bahan-bahan yang tidak lazim dalam liang senggama, sisa bahan abortivum. Pada masa kini bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan DNA untuk pemastian hubungan ibu dan janin. 12 Pemeriksaan Korban Mati Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam (autopsi). Pemeriksaan ditujukan pada12: a) Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak. Untuk ini diperiksa : Payudara secara makroskopis maupun mikroskopis Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara mikroskopik adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel decidua b) Mencari tanda-tanda cara abortus provokatus yang dilakukan Mencari tanda-tanda kekerasan lokal seperti memar, luka, perdarahan jalan lahir Mencari tanda-tanda infeksi akibat pemakaian alat yang tidak steril. Jika digunakan zat kimia secara lokal maka pada liang senggama atau cavum uteri dapat ditemukan zat-zat tersebut. Jika digunakan obat-obatan oral atau suntikan maka tentunya obat-obatan tersebut akan dapat dilacak melalui pemeriksaan toksikologik. c) Menentukan sebab kematian.

18

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Dengan otopsi yang teliti disertai pemeriksaan penunjang maka dapat diketahui penyebab kematiannya: Vagal refleks : Komplikasi ini terjadi karena adanya rangsangan pada permukaan sebelah dalam dari canalis servikalis. Kematian khas terjadi di meja operasi. Perdarahan : Terjadi karena robeknya vagina, serviks, atau uterus sehingga menyebabkan perdarahan yang masif. Emboli udara : Komplikasi ini sering terjadi pada aborsi dengan alat semprot. Dimana udara ikut masuk ke dalam pembukuh darah dan dapat menyebabkan emboli udara pada arteri coronaria atau arteri otak. Kematian terjadi dalam waktu 10 menit. Jumlah udara yang mematikan tergantung dari banyak faktor. Udara sebanyak 10 mililiter saja sudah dapat menyebabkan kematian, tetapi pernah ada laporan bahwa penderita dapat sembuh sesudah mengalami emboli sebanyak 100 mililiter. Sepsis : Dapat terjadi karena alat-alat yang digunakan tidak steril, uterus tidak bersih, dan robeknya usus besar.

2.6. Aborsi Dipandang Dari Segi Hukum, Etika dan Agama UU Kesehatan No 36 tahun 2009: Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

19

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a) Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; c) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; d) Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan e) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 77 Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pada penjelasan UU Kesehatan pasal 77 dinyatakan sebagai berikut: Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada indikasi medis. Namun sayangnya didalam UU Kesehatan ini belum disinggung soal masalah kehamilan akibat hubungan seks komersial yang menimpa pekerja seks komersial.
20

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

(3) Dalam peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenai keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian & kewenangan bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan abortus yaitu pasal 283, 299, 346,347,348, 349,535 KUHP.13 Pasal 283 KUHP Barang siapa mempertunjukkan alat atau cara menggugurkan kandungan kepada anak dibawah usia 17 tahun atau dibawah umur hukuman maksimum 9 bulan. Pasal 299 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah. (2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. (3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu. Pasal 346 KUHP Seorang wanita dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Pasal 347 KUHP (1) Barang siapa dngan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
21

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Pasal 348 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lima tujuh tahun. Pasal 349 KUHP Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterapkan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.

Pasal 535 KUHP Barang siapa mempertunjukkan secara terbuka alat atau cara menggugurkan kandungan, hukuman maksimum 3 bulan. Dari Pasal 346, 347 dan 348 KHUP, jelas bahwa undang-undang tidak mempersoalkan masalah umur kehamilan atau berat badan dari fetus yang keluar. Sedangkan pasal 349 dan 299 KUHP memuat ancaman hukuman untuk orang-orang tertentu yang mempunyai profesi atau pekerjaan tertentu bila mereka turut membantu atau melakukan kejahatan seperti yang dimaksud ke tiga pasal tersebut. Yang dapat dikenakan hukuman adalah tindakan menggugurkan atau mematikan kandungan yang termasuk tindakan pidana sesuai dengan pasal-pasal pada KUHP (abortus kriminalis). Sedangkan tindakan yang serupa demi keselamatn ibu yang dapat dipertanggung jawabkan secara medis (abortus medicinalis atau abortus therapeuticus), tidaklah dapat dihukum walaupun pada kenyataan dokter dapat melakukan abortus medisinalis, itu diperiksa oleh penyidik dan dilanjutkan dengan pemeriksaan di pengadilan.13

22

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Pemeriksaan oleh penyidik atau hakim di pengadilan bertujuan untuk mencari buktibukti akan kebenaran bahwa pada kasus tersebut memang murni tidak ada unsur kriminalnya, semata-mata untuk keselamatan jiwa ibu. Perlu diingat bahwa hanya Hakimlah yang berhak memutuskan apakah seseorang itu (dokter) bersalah atau tidak bersalah. 13 UU HAM pasal 53 ayat 1 : Setiap anak sejak dalam kandungan berhak untuk hidup, mempertahankan hidup & meningkatkan taraf kehidupannya.

Aspek Etika Profesi Kedokteran


Pasal 7d: Setiap dokter harus senantiasa mengingatkan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan pelanggaran, maka penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari panitia etik di masing-masing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK).14 Aspek Agama Beberapa pandangan agama tentang aborsi adalah sebagai berikut : Islam Tidak ada satupun ayat didalam Al-Quran yang menyatakan bahwa aborsi boleh dilakukan oleh umat Islam. Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa janin dalam kandungan sangat mulia. Dan banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa hukuman bagi orang-orang yang membunuh sesama manusia adalah sangat mengerikan.15 1. Pertama: Manusia berapapun kecilnya adalah ciptaan Allah yang mulia. Agama Islam sangat menjunjung tinggi kesucian kehidupan. Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Quran yang bersaksi akan hal ini. Salah satunya, Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan umat manusia.(QS 17:70) 2. Kedua: Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang.
23

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Didalam agama Islam, setiap tingkah laku kita terhadap nyawa orang lain, memiliki dampak yang sangat besar. Firman Allah: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan hukum qishash, atau bukan karena kerusuhan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya. (QS 5:32) 3. Ketiga: Umat Islam dilarang melakukan aborsi dengan alasan tidak memiliki uang yang cukup atau takut akan kekurangan uang. Banyak calon ibu yang masih muda beralasan bahwa karena penghasilannya masih belum stabil atau tabungannya belum memadai, kemudian ia merencanakan untuk menggugurkan kandungannya. Alangkah salah pemikirannya. Ayat Al-Quran mengingatkan akan firman Allah yang bunyinya: Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar. (QS 17:31) 4. Keempat: Aborsi adalah membunuh. Membunuh berarti melawan terhadap perintah Allah. Membunuh berarti melakukan tindakan kriminal. Jenis aborsi yang dilakukan dengan tujuan menghentikan kehidupan bayi dalam kandungan tanpa alasan medis dikenal dengan istilah abortus provokatus kriminalis yang merupakan tindakan kriminal tindakan yang melawan Allah. Al-Quran menyatakan: Adapun hukuman terhadap orang-orang yang berbuat keonaran terhadap Allah dan RasulNya dan membuat bencana kerusuhan di muka bumi ialah: dihukum mati, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara bersilang, atau diasingkan dari masyarakatnya. Hukuman yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang pedih. (QS 5:36) 5. Kelima: Sejak kita masih berupa janin, Allah sudah mengenal kita. Sejak kita masih sangat kecil dalam kandungan ibu, Allah sudah mengenal kita. AlQuran menyatakan:Dia lebih mengetahui keadaanmu, sejak mulai diciptakaNya unsur tanah dan sejak kamu masih dalam kandungan ibumu.(QS: 53:32) Jadi, setiap janin
24

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

telah dikenal Allah, dan janin yang dikenal Allah itulah yang dibunuh dalam proses aborsi. 6. Keenam: Tidak ada kehamilan yang merupakan kecelakaan atau kebetulan. Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan rencana Allah. Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadi segumpal darah dan menjadi janin. Semua ini tidak terjadi secara kebetulan. Al-Quran mencatat firman Allah: Selanjutnya Kami dudukan janin itu dalam rahim menurut kehendak Kami selama umur kandungan. Kemudian kami keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi. (QS 22:5) Dalam ayat ini malah ditekankan akan pentingnya janin dibiarkan hidup selama umur kandungan. Tidak ada ayat yang mengatakan untuk mengeluarkan janin sebelum umur kandungan apalagi membunuh janin secara paksa. 7. Ketujuh: Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan aborsi. Bahkan dalam kasus hamil diluar nikah sekalipun, Nabi sangat menjunjung tinggi kehidupan. Hamil diluar nikah berarti hasil perbuatan zinah. Hukum Islam sangat tegas terhadap para pelaku zinah. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW seperti dikisahkan dalam Kitab Al-Hudud tidak memerintahkan seorang wanita yang hamil diluar nikah untuk menggugurkan kandungannya: Datanglah kepadanya (Nabi yang suci) seorang wanita dari Ghamid dan berkata,Utusan Allah, aku telah berzina, sucikanlah aku.. Dia (Nabi yang suci) menampiknya. Esok harinya dia berkata,Utusan Allah, mengapa engkau menampikku? Mungkin engkau menampikku seperti engkau menampik Mais. Demi Allah, aku telah hamil. Nabi berkata,Baiklah jika kamu bersikeras, maka pergilah sampai anak itu lahir. Ketika wanita itu melahirkan datang bersama anaknya (terbungkus) kain buruk dan berkata,Inilah anak yang kulahirkan. Jadi, hadis ini menceritakan bahwa walaupun kehamilan itu terjadi karena zina (diluar nikah) tetap janin itu harus dipertahankan sampai waktunya tiba. Bukan dibunuh secara keji.

Kristen Dalam Alkitab dikatakan dengan jelas betapa Tuhan sangat tidak berkenan atas pembunuhan seperti yang dilakukan dalam tindakan aborsi.
25

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Jangan pernah berpikir bahwa janin dalam kandungan itu belum memiliki nyawa Yer 1:5 ~ Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Ayat ayat lain yang berhubungan dengan abortus. Kej 16:11; Kej 25:21-26; Hos 12:2-3; Rom 9:10-13; Kel 21-22; Yes 7:14; Yes 44:2,24; Yes 46:3; Yes 49:1-2; Yes 53:6; Ayb 3:1116; Ayb 10:8-12; Ef 1:4; Mat 25:34; Why 13:8; Why 17:8 Hukuman bagi para pelaku aborsi sangat keras. Keluaran 21:22-25 ~ Apabila ada orang berkelahi dan seorang dari mereka tertumbuk kepada seorang perempuan yang sedang mengandung, sehingga keguguran kandungan, tetapi tidak mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka pastilah ia didenda sebanyak yang dikenakan oleh suami perempuan itu kepadanya, dan ia harus membayarnya menurut putusan hakim. Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak. Aborsi karena alasan janin yang cacat tidak dibenarkan Tuhan. Yoh 9:1-3 ~ Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. MuridmuridNya bertanya kepadaNya: Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus: Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia Ayat lain yang berhubungan dengan aborsi karena alasan janin cacat : Kis 17:25-29; Mzm 94:9; Rom 8:28; Im 19:14; Yes 45:9-12 Aborsi karena ingin menyembunyikan aib tidak dibenarkan Tuhan.

Kej 19:36-38 ~ Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang. Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya BenAmi; dialah bapa bani Amon yang sekarang. Kej 50:20; Rom 8:28 Tuhan tidak pernah memperkenankan anak manusia dikorbankan. Apapun alasannya.
26

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Kel 1:15-17 ~ Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup. Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. Ayat lain yang berhubungan dengan aborsi karena menyembunyikan aib : Yeh 16:2021; Yer 32:35; Mzm 106:37-42 ; II Raj 16:3; 17:17 ; 21:6 ; Ul 12:31; 18:10-13; Im 18:21, 24 dan 30 Anak-anak adalah pemberian Tuhan. Jagalah sebaik-baiknya. Kej 30:1-2 ~ Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati. Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata: Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung? Mzm 127:3-5 ~ Sesungguhnya, anak laki-laki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang. Secara singkat di dalam Al Kitab dapat disimpulkan bahwa aborsi dalam bentuk dan alasan apapun dilarang karena : 1. Apabila ada sperma dan ovum telah bertemu maka unsur kehidupan telah ada. 2. Abortus pada janin yang cacat tidak diperbolehkan karena Tuhan mempunyai rencana lain pada hidup seorang manusia. 3. Anak adalah pemberian Tuhan. 4. Bila terjadi kasus pemerkosaan, diharapkan keluarga serta orang-orang terdekat dapat memberi semangat. 5. Aborsi untuk menyembunyikan aib tidak dibenarkan.
27

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Katolik Hampir sama dengan pernyataan agama Kristen, dalam agama katolik aborsi juga dilarang. Hindu Aborsi dalam teologi Hinduisme tergolong pada perbuatan yang disebut Himsa karma yakni salah satu perbuatan dosa yang disejajarkan dengan membunuh, meyakiti, dan menyiksa. Membunuh dalam pengertian yang lebih dalam sebagai menghilangkan nyawa mendasari falsafah atma atau roh yang sudah berada dan melekat pada jabang bayi sekalipun masih berbentuk gumpalan yang belum sempurna seperti tubuh manusia. Oleh karena itulah perbuatan aborsi disetarakan dengan menghilangkan nyawa. Kitab-kitab suci Hinduantara lain Rgveda 1.114.7 menyatakan : Ma no mahantam uta ma no arbhakam artinya : Janganlah mengganggu dan mencelakakan bayi. Atharvaveda X.1.29 : Anagohatya vai bhima artinya : Jangan membunuh bayi yang tiada berdosa. Dan Atharvave da X.1.29 : Ma no gam asvam purusam vadhih artinya : Jangan membunuh manusia dan binatang.Dalam epos Bharatayuda Sri Krisna telah mengutuk Asvatama hidup 3000 tahun dalam penderitaan karena asvatama telah membunuh semua bayi yang ada dalam kandungan istri - istri keturaunan pandawa, serta mebuat istri istri itu mandul selamanya. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa agama hindu menolak praktik aborsi. Budha Dalam pandangan agama Buddha aborsi adalah suatu tindakan pengguguran kandungan atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam rahim seorang ibu. Syarat yang harus dipenuhi terjadinya makhluk hidup: 1. Mata utuni hoti : masa subur seorang wanita 2. Mata pitaro hoti : terjadinya pertemuan sel telur dan sperma 3. Gandhabo paccuppatthito : adanya gandarwa, kesadaran penerusan dalam siklus kehidupan baru (pantisandhi-citta) kelanjutan dari kesadaran ajal (cuti citta), yang memiliki energi karma.

28

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Dari penjelasan diatas agama Buddha menentang dan tidak menyetujui adanya tindakan aborsi karena telah melanggar pancasila Buddhis, menyangkut sila pertama yaitu panatipata. Suatu pembunuhan telah terjadi bila terdapat lima faktor sebagai berikut: 1. Ada makhluk hidup (pano) 2. Mengetahui atau menyadari ada makhluk hidup (pannasanita) 3. Ada kehendak (cetana) untuk membunuh (vadhabacittam) 4. Melakukan pembunuhan ( upakkamo) 5. Makhluk itu mati karena tindakan pembunuhan ( tena maranam) Apabila terdapat kelima faktor dalam suatu tindakan pembunuhan, maka telah terjadi pelanggaran sila pertama. Oleh karena itu sila berhubungan erat dengan karma maka pembunuhan ini akan berakibat buruk yang berat atau ringannya tergantung pada kekuatan yang mendorongnya dan sasaran pembunuhan itu. Bukan hanya pelaku saja yang melakukan tindak pembunuhan, ibu sang bayi juga melakukan hal yang sama. Bagaimanapun mereka telah melakukan tindak kejahatan dan akan mendapatkan akibat di kemudian hari, baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Dalam Majjhima Nikaya 135 Buddha bersabda "Seorang pria dan wanita yang membunuh makhluk hidup, kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa belas kasihan kepada makhluk hidup, akibat perbuatan yang telah dilakukannya itu ia akan dilahirkan kembali sebagai manusia di mana saja ia akan bertumimbal lahir, umurnya tidaklah akan panjang". Hendaknya kasus aborsi yang sering terjadi menjadi pelajaran bagi semua pihak. Bagi para remaja tidak menyalahartikan cinta sehingga tidak melakukan perbuatan salah yang melanggar sila. Bagi pasangan yang sudah berumah tangga mengatur kelahiran dengan program yang ada dan bagi pihak-pihak lain yang terkait tidak mencari penghidupan dengan cara yang salah sehingga melanggar hukum, norma dan ajaran agama.

BAB III KESIMPULAN

29

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

Banyak orang yang melakukan aborsi dengan alasan-alasan tertentu. Sebagian besar orang yang melakukan abortus adalah karena alasan kesehatan, ekonomi, sosial. Melakukan aborsi apapun alasannya mengandung suatu persoalan yang mengancam keselamatan dan kesehatan ibu, yang lebih parah adalah resiko gangguan psikologis. Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Semua agama sangat tidak berkenan atas pembunuhan seperti yang dilakukan dalam tindakan aborsi, karena ini adalah kejahatan yang terbesar. Hidup manusia dari dalam kandungan itu layak untuk mendapatkan segala usaha untuk memastikan kelahirannya. Kelahiran seorang bayi adalah anugerah yang teramat luar biasa dari Allah. Aborsi menjadi fenomena dan problem sosial yang telah menjadi budaya di masyarakat. Aborsi hukumnya haram dan merupakan tindakan kriminal atau jarimah, kecuali dalam kondisi darurat/indikasi medis, Walaupun aborsi dilarang secara undangundang tapi banyak yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Abdul Munim Idries. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik (Edisi Pertama). Jakarta. Binarupa Aksara
30

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

2. Chadha, PV. Abortus dalam Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologik. 1995. Jakarta : Widya Medika. 91 9. 3. Prawirohardjo, Sarwono. 2002.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 4. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 246. 5. Varney, Helen, dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC, 604-605. 6. Walsh, Linda V. 2008. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC, 447-449. 7. Kontroversi Seputar Aborsi, available at http ://www.kesrepro.info.gendervaw/Mei/ 2003/gendervaw 02. htm, accessed on may 2, 2004 8. Pradono, Julianty et al. Pengguguran yang Tidak Aman di Indonesia, SDKI 1997. Jurnal Epidemiologi Indonesia. Volume 5 Edisi I-2001. hal. 14-19Adami Chazawi. 2002. Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa. Jakarta. Raja Grafindo Persada 9. World Health Organization.Unsafe Abortion: Global and Regional Estimates of Incidence of and Mortality due to Unsafe Abortion with a Listing of Available Country Data. Third Edition. Geneva: Division of Reproductive Health (Technical Support) WHO, 1998. 10. Cunningham, Gary, F. dkk. 2006. Obstetri Williams Vol. 2. Jakarta: EGC, 951-964. 11. Wiknjosastro, Hanifa. Gangguan Bersangkutan dengan Konsepsi dalam Ilmu Kandungan. Edisi kedua. 1999. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiohardjo. 246 9 12. Apuranto, H dan Hoediyanto. 2006. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal. Surabaya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UNAIR 13. Hamzah, Andi, Dr.SH., 1984, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta. 14. Hanafiah, M. Yusuf., Prof.Dr.SPOG & Amri Amir, Dr.SpF., 1999, Etika Kedokteran &Hukum Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
31

Universitas Trisakti. Coass forensik RSUP Dr.Kariadi Semarang

15. Abbas Syauman. 2004. Hukum Aborsi Dalam Islam. Jakarta. Cendekia Sentra Muslim .

32