Anda di halaman 1dari 64

THANATOLOGI

Dosen Penguji :
dr. R.P. Uva Utomo, MH (Kes), SpKF
Residen pembimbing :
dr. Devi Novianti Santoso, SH, MH (Kes)
Penyusun :
Satri Syahreza
Winda Anggraeni
Wisnu Wahyu Nugroho
Muhamad Helmi H
Riris Rismawati
Lidya Dewi Rahayuningsih
Charisma Eris Aliffia

22010113220175
22010113220176
22010114210139
22010114210140
1061050197
1161050166
1161050170

FK UNDIP
FK UNDIP
FK UNDIP
FK UNDIP
FK UKI
FK UKI
FK UKI

Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medicolegal


Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
RSUP Dr. Kariadi Semarang
Periode : 11 Mei 2015 6 Juni 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan referat kelompok kami dengan judul
Thanatologi yang merupakan salah satu syarat dalam melaksan kepanitraan klinik
di bagian Ilmu Forensik di Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi.
Referat yang berjudul Thanatologi ini berisikan tentang definisi mati,
perubahan yang terjadi setelah mati, faktor yang mempengaruhi perubahan-perubahan
tersebut, serta manfaat dalam menentukan waktu terjadinya kematian.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan referat ini tidak akan tercapai tanpa
bantuan dari semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam penyusunan
referat. Oleh karenanya pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima
kasih kepada:
1. Dr R.P Uva U, MH (Kes), Sp.KF selaku dosen pembimbing kelompok selama
di kepaniteraan klinik kedokteran forensik.
2. Dr Devi Novianti Santoso, SH, MH (Kes) yang telah berkenan memberikan
bimbingan dan ilmunya kepada kami.
3. Teman-teman dokter muda di bagian forensik Rumah Sakit Umum Pusat
Dokter Kariadi.
Penulis menyadari bahwa penyusunan referat ini masih jauh dari sempurna.
Untuk itu segala kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan di masa
mendatang. Semoga referat ini bermanfaat bagi pembaca.
Semarang,

Mei 2015

Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman Judul.....................................................................................................
Kata Pengantar................................................................................................
Daftar Isi.........................................................................................................
Daftar Gambar....................................................................................................
Daftar tabel........................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................................
1.1 Latar Belakang...................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................
1.3 Tujuan.......................................................................................................
1.3.1 Tujuan Umum.........................................................................................
1.3.2 Tujuan Khusus..........................................................................................
1.4 Manfaat......................................................................................................
BAB II. PEMBAHASAN..................................................................................
2.1 Definisi Thanatologi....................................................................................
2.2 Jenis Kematian.............................................................................................
2.2.1 Mati Somatis.............................................................................................
2.2.2 Mati Suri....................................................................................................
2.2.3 Mati Seluler.................................................................................................
2.2.4 Mati Serebral.................................................................................................
2.2.5 Mati Otak...................................................................................................
2.3 Kegunaan Thanatologi....................................................................................
2.3.1 Penentu Diagnosis Kematian..........................................................................
2.3.2 Penentu Saat Kematian..................................................................................
2.3.3 Perkiraan Sebab Kematian.............................................................................
2.3.4 Perkiraan Cara Kematian................................................................................
2.4 Perubahan perubahan Postmortem...............................................................
2.4.1 Perubahan Kulit Muka...............................................................................
2.4.2 Relaksasi Otot..........................................................................................
2.4.2.1 Relaksasi Primer.....................................................................................
2.4.2.2 Relaksasi Sekunder...............................................................................
2.4.3 Perubahan Pada Mata.................................................................................
2.4.4 Perubahan Suhu Tubuh...............................................................................
2.4.5 Lebam Mayat..................................................................................................
2.4.6 Kaku Mayat
2.4.7 Pembusukan dan modifikasinya
2.4.8 Biokimiawi Darah
2.3.9 Cairan Serebrospinal
2.3.10 Perubahan Pada Lambung
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

i
ii
iii
v
vi
1
1
1
1
1
2
2
3
3
6
7
7
7
8
8
8
8
8
9
9
9
9
10
10
11
11
13
16
18
23
31
31
31
32
32
33
iii

DAFTAR PUSTAKA

34

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. perubahan postmortem yang dapat menentukan waktu kematian
Gambar 2. Pemeriksaan Eksitasi Elektrik Muskulus Orbicularis Oculi (atas) dan

i
ii

Muskulus Orbicularis Oris (bawah)

Gambar 3. Taches noires sclerotique


Gambar 4. Pemeriksaan stimulus kimia pada pupil mata, kanan miosis, kiri

iii
v

midriasis.
Gambar 5. Metabolism Glukosa
Gambar 6. Termometer digital rektal
Gambar 7. Pengukuran Suhu Rektal pada Tubuh Mayat
Gambar 8. Lebam Mayat yang belum menetap
Gambar 9. Lebam Mayat yang sudah menetap
Gambar 10. Fisiologi Kontraksi Otot
Gambar 11. Pemeriksaan Rigor Mortis pada Sendi Siku
Gambar 12. Pemeriksaan Rigor Mortis pada Sendi Lutut
Gambar 13. Kaku Mayat pada Lengan dan Leher.
Gambar 14. Gambaran Kaku Mayat pada Mayat Baru
Gambar 15. Cadaveric Spasme pada Korban Drowning
Gambar 16. Proses Awal Pembusukan Warna Kehijauan di Fosa Iliaca Kanan

vi
1
1
1
1
2
2
3
3
6
7
7
iv

Gambar 17. Gambaran Marbling dan Bloating


Gambar 18. Gambaran bula pembusukan pada kulit
Gambar 19. Gamabaran Skin Slippage dan Postmortem Discoloration
Gambar 20. Gambaran Blood Purge
Gambar 21. Gambaran pembusukan dan infestasi larva
Gambar 22. Skeletonisasi
Gambar 23. Mumifikasi
Gambar 24. Adiposera
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hanssgen Normogram untuk temperatur ambien dibawah 23C
Tabel 2. Perbedaan Lebam Mayat dengan Memar
Tabel 3. Perbedaan Antara Kaku Mayat dengan Spasme Kadaver

8
8
8
8
8
9
9
9

i
ii
iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kematian merupakan fase akhir dalam kehidupan tiap manusia. Menurut ilmu
kedokteran manusia memiliki dua dimensi, yaitu sebagai individu dan sebagai
kumpulan dari berbagai macam sel. Menurut PP No. 18 Tahun 1981 Bab I Pasal IG
menyebutkan bahwa meninggal dunia adalah keadaan insan yang diyakini oleh ahli
kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernapasan, dan atau denyut jantung
seseorang telah terhenti. Definisi ini adalah merupakan definisi yang sah di
Indonesia, namun dikalangan dokter Indonesia mengguanakan acuan Dalam UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pasal 117 : Seseorang dinyatakan
mati apabila fungsi jantng-sirkulasi dan system pernapasan terbukti telah berhenti
secara permanen atau apabila kematian batang otak telah dapat dibuktikan..
Berdasarkan pengertian tersebut maka kematian dapat dilihat dari dua dimensi yaitu
kematian seluler (celluler death) akibat ketiadaan oksigen baru akan terjadi setelah
kematian manusia sebagai individu (somatic death).1-2
Setelah terjadinya kematian, tubuh akan mengalami perubahan perubahan,
antara lain perubahan kulit muka sebagai akibat dari berhentinya sirkulasi darah,
relaksasi otot, perubahan pada mata, penurunan suhu tubuh, timbulnya lebam mayat

karena adanya gaya gravitasi, kaku mayat karena penumpukkan ADP pada otot - otot,
pembusukan, perubahan pada darah yang dilanjutkan dengan kematian sel.
Segala aspek yang berkaitan dengan kematian manusia meliputi definisi, cara
- cara melakukan diagnosis, perubahan perubahan yang terjadi setelah mati serta
kegunaannya tersebt dipelajarai dalam ilmu yang disebut Thanatologi. Thanatologi
merupakan ilmu yang sangat penting dikuasai oleh tenaga medis terutama para
professional yang berkecimpung dalam dunia kedokteran kehakiman. Dalam ilmu
Thanatologi dipelajari suatu topic yang mempelajari perubahan perubahan yang
terjadi setelah kematian (Postmortem changes) yang sangat bermanfaat dalam
mendiagnosa terjadinya kematian maupun menentukan saat terjadinya kematian.
Salah satu manfaat Thanatologi adalah untuk mendiagnosis kematian pada
seseorang sebagai individu (somatic death). Oleh karena itu, diperlukan kriteria
diagnosis

yang

benar

dipertanggungjawabkan

berdasarkan

secara

ilmiah.

konsep
Mengingat

diagnostik
pentingnya

yang

dapat

mempelajari

Thanatologi dan segala aspeknya termasuk perubahan perubahan post mortem


untuk menentukan diagnosis kematian atau membantu mencari barang bukti
pengadilan dalam kedokteran forensik, maka kami mengangkat topik ini sebagai
topik referat kelompok kami.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Thanatologi dan apa keguanaannya?
2. Apa yang dimaksud dengan kematian dan parameter apa yang digunakan
untuk mendiagnosis kematian?
3. Apa saja perubahan yang terjadi setelah kematian?
4. Tanda apa saja yang dapat digunakan sebagai parameter untuk menentukan
waktu kematian?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penyususnan referat ini terbagi dalam tujuan umum dan khusus, sebagai
berikut :
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Thanatologi dan apa kegunaannya
dalam dunia kedokteran kehakiman.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi Thanatologi dan keguanaannya dalam kedokteran
kehakiman.
2. Untuk mengetahui definisi kematian dan parameter yang digunakan untuk
mendiagnosis kematian.
3. Untuk mengetahui perubahan - perubahan yang terjadi setelah kematian.
4. Untuk mengetahui tanda apa saja yang dapat digunakan sebagai parameter
untuk menentukan waktu kematian.
1.4 Manfaat Penulisan
Kegunaan dilakukannya referat ini, diantaranya sebagai berikut :
1. Bagi penulis, berguna untuk menambahaj pengetahuan berkaitan dengan topik
referat dan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan

Kedokteran Forensik di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro


Semarang.
2. Bagi ilmu kedokteran forensic, sebagai salah satu referensi tentang
thanatologi dan penerapannya dalam kedokteran forensic.
3. Bagi pembaca, guna menambah pengetahuan mengenai topik referat ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Thanatologi

Istilah Thanatologi berasal dari Bahasa Yunani, terdiri dari kata thanatos
(berhubungan dengan kematian) dan logos (ilmu). Thanatologi adalah bagian dari
ilmu kedokteran forensik yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan
dengan mati, meliputi pengertian, tipe kematian, cara-cara melakukan diagnosis,
perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya. Kegunaannya
yaitu untuk memastikan kematian klinis, memperkirakan sebab kematian,
memperkirakan saat kematian dan memperkirakan cara kematian.1-4
Mati menurut ilmu kedokteran didefinisikan sebagai berhentinya fungsi saraf
pusat, sirkulasi dan respirasi secara permanen (mati klinis). Dengan adanya
perkembangan teknologi ada alat yang bisa menggantikan fungsi sirkulasi dan
respirasi secara buatan. Oleh karena itu, definisi kematian berkembang menjadi
kematian batang otak. Brain death is death (mati adalah kematian batang otak).1,3
Menurut ilmu kedokteran, kematian manusia dapat dilihat dalam dua dimensi
yaitu kematian sel (cellular death) akibat ketiadaan oksigen baru akan terjadi setelah
kematian manusia sebagai individu (somatic death). Selain kematian individu dan
kematian sel, terdapat jenis kematian lain yaitu mati suri (apparent death), mati
somatic, mati seluler, mati serebral dan mati otak. 1-3
Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pasal 117 :
Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi jantng-sirkulasi dan system pernapasan
terbukti telah berhenti secara permanen atau apabila kematian batang otak telah dapat

dibuktikan. Untuk penentuan kematian seseorang para ahli membuat konsep kriteria
diagnostik yang dimana sekarang disebut konsep brain stem death is death. Hal
tersebut muncul berdasarkan pemikiran bahwa mustahil dapat mendiagnosa brain
death dengan memeriksa seluruh fungsi otak (melihat, mencium, mendengar, fungsi
serebelar dan beberapa fungsi korteks) dalam keadaan koma, proses brain death tidak
terjadi secara serentak, tetapi bertahap mengingat resistensi yang berbeda-beda dari
berbagai bagian otak terhadap ketiadaan oksigen, dan brain stem merupakan bagian
dari otak yang mengatur fungsi vital, terutama pernapasan. Berdasarkan konsep
tersebut, disusun kriteria diagnostik seperti berikut :1-5
a.

Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon perintah, taktil dan

b.

sebagainya)
Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang berada

c.
d.
e.
f.
g.

dibawah pengaruh obat-obatan


Tidak ada reflek pupil
Tidak ada reflek kornea
Tidak ada respon motorik dari syaraf kranial terhadap rangsangan
Tidak ada reflek menelan atau batuk ketika tuba endotrakeal didorong kedalam
Tidak ada reflek vestibulo-okularis terhadap rangsangan air es yang

h.

dimasukkan ke dalam lubang telinga


Tidak ada napas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup lama
walaupun pCO2 sudah melampaui nilai ambang rangsangan napas (50 torr).
Tes klinik tersebut baru dapat dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset koma

serta apneu dan harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes yang pertama.
Penentuan fungsi paru-paru telah berhenti bernapas perlu dilakukan pemeriksaan :1

1.

Auskultasi
Auskultasi dilakukan secara hati-hati dan lama, jika perlu dilakukan pada laring

2.

juga.
Tes Winslow
Dengan meletakkan gelas berisi air di atas perut atau dadanya. Bila permukaan

3.

air bergoyang berarti masih ada gerakan nafas.


Tes Cermin
Dengan meletakkan kaca cermin di depan mulut dan hidung. Bila basah berarti

4.

masih bernapas.
Tes Bulu Burung
Dengan meletakkan bulu burung di depan hidung. Bila bergetar berarti masih
bernapas.

Penentuan fungsi jantung perlu dilakukan pemeriksaan :1


1.
2.

Auskultasi
Auskultasi dilakukan di daerah prekardial selama 10 menit terus-menerus.
Tes Magnus
Dengan mengikat jari tangan sedemikian rupa sehingga hanya aliran dara vena
saja yang terhenti. Bila terjadi bendungan berwarna sianotik berarti masih ada

3.

sirkulasi.
Tes Icard
Dengan cara menyuntikkan larutan dari campuran 1 gram zat fluoroscen dan 1
gram natrium bicarbonate di dalam 8 ml air secara subkutan. Bila terjadi

4.

perubahan warna kuning kehijauan berarti masih ada sirkulasi darah.


Incisi arteri radialis
Bila terpaksa dapat dilakukan pengirisan pada arteri radialis. Bila keluar darah
secra pulsasif berarti masih ada sirkulasi darah.

2.2 Jenis Kematian


Agar suatu kehidupan seseorang dapat berlangsung, terdapat tiga sistem yang
mempengaruhinya. Ketiga sistem utama tersebut antara lain sistem pernafasan, sistem
kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Ketiga sistem itu sangat mempengaruhi satu
sama lainnya, ketika terjadi gangguan pada satu sistem, maka sistem-sistem yang
lainnya juga akan ikut terpengaruh. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang
mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati
otak (mati batang otak).1-5
2.2.1

Mati Somatis
Mati somatis (mati klinis) adalah suatu keadaan dimana oleh karena sesuatu

sebab terjadi gangguan atau penghentian permanen pada ketiga sistem utama tersebut
yang mengakibatkan kehilangan sensibilitas dan kemampuan menggerakkan tubuh
secara komplit, namun beberapa bagian tubuh seperti otot masih dapat memberi
respon terhadap stimulus elektrik, thermal atau kimia. Kematian somatik dapat dilihat
dari adanya penghentian detak jantung, penghentian pernafasan, dan penghentian
aktivitas otak.1,4
2.2.2

Mati Suri
Mati suri (apparent death) adalah merupakan suatu keadaan dimana proses

vital turun ke tingkat yang paling minimal untuk mempertahankan kehidupan


sehingga tanda-tanda kliniknya tampak seperti sudah mati. Dengan pertolongan yang
8

cepat dan tepat atau kadang-kadang secara spontan kondisinya dapat pulih kembali
seperti sebelumnya.. Kasus seperti ini sering ditemukan pada kasus keracunan obat
tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.1,5

2.2.3

Mati Seluler
Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian seluruh elemen seluler, dimana

cadangan oksigen pada sel mengalami deplesi, kematian sel atau kematian molekuler
terjadi. Kematian timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Kematian seluler
dapat dilihat dengan ketidakadaan segala respon terhadap stimulus elektrik, thermal,
maupun kimia pada jaringan. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan
berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ tidak
bersamaan.1,4
2.2.4

Mati Serebral
Mati serebral adalah suatu kematian akibat kerusakan kedua hemisfer otak

yang irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya
yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi debfab bantuan alat.
2.2.5

Mati Otak

Mati otak (mati batang otak) adalah kematian dimana bila telah terjadi
kerusakan seluruh isi neuronal intracranial yang irreversible, termasuk batang otak
dan serebelum. Dangan diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat
dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga
alat bantu dapat dihentikan.1,5

2.3 Kegunaan Thanatologi


Kegunaan Thanatologi dalam bidang forensik adalah sebagai penentu
diagnosis kematian, penentu saat kematian, perkiraan sebab kematian dan perkiraan
cara kematian. 1
2.3.1

Penentu Diagnosis Kematian1-2


Menentukan kematian seseorang tidaklah sulit sehingga orang awam

(termasuk penegak hukum) dapat melakukannya, tetapi juga tidak selalu mudah
sehingga kadang-kadang dokter pun dapat melakukan kesalahan. Oleh karena itu,
ilmu ini perlu dipahami sungguh-sungguh agar tidak terjadi kesalahan dalam
menegakkan diagnosis kematian.
Thanatologi juga perlu dipelajari oleh penegak hukum sebab dalam
pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) tidak tertutup kemungkinan menemukan
korban yang ada masih dalam keadaan hidup meskipun terlihat tidak bergerak seperti
mati.
Dalam situasi seperti ini penentuan kematian dapat dilakukan dengan
menggunakan tanda-tanda pasti kematian, antara lain :

10

Lebam mayat
Kaku mayat
Pembusukan
Jika tanda-tanda pasti kematian tidak ditemukan maka korban harus dianggap

masih dalam keadaan hidup sehingga perlu mendapatkan pertolongan (misalnya


dengan melakukan pernafasan bantuan) sampai menunjukkan tanda-tanda kehidupan
atau sampai munculnya tanda pasti kematian yang paling awal, yaitu lebam mayat.
2.3.2

Penentu Saat Kematian1-2


Sehubungan dengan alibi seseorang, pemeriksaan forensik untuk menentukan

saat kematian korban menjadi sangat penting sebab dapat tidaknya seseorang
diperhitungkan sebagai pelaku pembunuhan tergantung dari keberadaannya ketika
tindak pidana itu terjadi. Tidaklah logis seseorang dituduh membunuh jika pada saat
dilakukannya tindak pidana berada di tempat yang sangat jauh.
Perubahan eksternal maupun internal yang terjadi pada tubuh seseorang yang
sudah meninggal dunia dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk memperkirakan
saat terjadinya kematian meskipun sebenarnya interval dari variasi terjadinya
perubahan-perubahan itu sangat luas.
Perubahan-perubahan yang dapat dijadikan bahan kajian tersebut terdiri atas :
a.

Perubahan eksternal, antara lain :


- Penurunan suhu
- Lebam mayat
- Kaku mayat
11

Pembusukan
Timbulnya larva
Menurut penelitian Madea dan Henbge (2004) metode yang digunakan untuk

menentukan saat kematian dapat berdasarkan dari tanda-tanda kematian seperti livor
mortis dan rigor mortis.
b. Perubahan internal, antara lain :
- Kenaikan Potasium pada cairan bola mata
- Kenaikan non protein nitrogen dalam darah
- Kenaikan ureum darah
- Penurunan kadar gula darah
- Kenaikan kadar dekstrose pada vena cava inferior
2.3.3 Perkiraan Sebab Kematian1-2
Perubahan tidak lazim yang ditemukan pada tubuh mayat sering dapat
memberi petunjuk tentang sebab kematiannya.
- Perubahan warna lebam mayat menjadi :
o Merah cerah (cherry-red) memberi petunjuk keracunan Carbo
Monoksida (CO).
o Coklat memberi petunjuk keracunan Potasium Chlorate.
o Lebih gelap, memberi petunjuk kekurangan oksigen.
Keluarnya urine, faeces atau vomitus memberi petunjuk adanya relaksasi
sphincter akibat kerusakan otak, anoksia atau kejang-kejang.

2.3.4

Perkiraan Cara Kematian1-2


Perubahan yang terjadi pada tubuh mayat juga dapat memberi petunjuk cara

kematiaannya seperti distribusi lebam mayat dapat memberi petunjuk apakah yang
bersangkutan mati bunuh diri atau karena pembunuhan.

12

Pada mayat dari orang yang mati akibat gantung diri (bunuh diri dengan cara
menggantung) biasanya didapati lebam mayat pada ujung kaki, ujung tangan atau alat
kelamin laki-laki. Jika disamping itu juga ditemukan lebam mayat di tempat lain
maka hal itu dapat dipakai sebagai petunjuk cara kematiannya karena akibat

13

pembunuhan

Gambar 1. perubahan postmortem yang dapat menentukan waktu kematian3

14

2.4 Perubahan perubahan Postmortem3,6-7


Perubahan yang terjadi setelah kematian dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan
waktu terjadinya.yaitu early (immediete), early (non immediete) dan late changes.
Berikut adalah perubahan yang terjadi paska kematian :
Early changes (immediete) of death : Berhentinya system pernapasan,
berhentinya system sirkulasi, relaksasi muskulus, menghilangnya reflex,

2.4.1

kulit pucat, pupil dilatasi


Early changes (not immediate) of death : Livor mortis, rigor mortis, algor

mortis.
Late changes of death : Pembusukan dan modifikasinya, skeletonisasi
Perubahan Kulit Muka3
Perubahan paska kematian yang dapat terlihat adalah perubahan yang terjadi

pada kulit muka. Perubahan kulit muka terjadi akibat berhentinya sirkulasi darah
maka darah yang berada pada kapiler dan venula di bawah kulit muka akan mengalir
ke bagian yang lebih rendah sehingga warna raut muka menjadi lebih pucat. Pada
mayat dari orang yang mati akibat kekurangan oksigen atau keracunan zat zat
tertentu (misalnya keracunan karbon monoksida) warna semula dari raut muka akan
bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat.

2.4.2 Relaksasi Otot


2.4.2.1 Relaksasi Prmer

15

Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya, otot-otot polos akan
mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi pada

stadium

itu disebut relaksasi primer.1 Relaksasi perimortal didapatkan 2 3 jam setelah


kematian. Sel-sel jaringan otot masih hidup. Peristaltik usus positif atau masih
bergerak. Leukosit darah masih bergerak. Pupil masih bereaksi. Pada fase ini otot
sudah tidak memiliki rangsangan dari sistem saraf pusat. Akibat tidak adanya impuls
listrik darisistem saraf pusat maka tidak ada lagi koordinasi otot-otot tubuh yang
selalu berusaha menjaga keseimbangan dalam segala posisi tubuh. Jutaan sel serabut
otot yang selalu berada dalam keadaan siaga dengan selalu menjaga posisi
kontraksi dan relaksasi yang serasi sehingga kestabilan tubuh selalu terjaga
dalam segala posisi tersebut hilang dengan tidak berfungsinya sistem saraf. Akibat
dari peristiwa ini adalah terjadi relaksasi pada seluruh otot tubuh yang tampak
sebagai relaksasi primer. Sehingga tampak

rahang

bawah

akan

melorot

menyebabkan mulut terbuka, dada kolap dan bila tidak ada yang menyangga
anggota tubuh akan jatuh kebawah. Relaksasi yang terjadi pada otot-otot muka
akan mengesankan lebih muda dari umur yang sebenarnya, sedang relaksasi pada
otot polos akan mengakibatkan iris dan spingter ani mengalami dilatasi. Oleh sebab
itu jika ditemukan dilatasi pada anus, harus hati-hati untuk menyimpulkan sebagai
akibat hubungan seksual per ani. Pada fase ini kematian sel belum terjadi sempurna.
Korban masih dalam pengertian mati somatik.3,6

16

Gambar 2. Pemeriksaan Eksitasi Elektrik Muskulus Orbicularis Oculi (atas)


dan Muskulus Orbicularis Oris (bawah)7

2.4.2.2 Relaksasi Sekunder

17

Rigor mortis menghilang secara bertahap sesuai urutan timbulnya. Relaksasi


sekunder ini terjadi karena mulai terjadi lisis dari sel-sel otot akibat

proses

pembusukan. Hancurnya sel otot, jaringan otot membuat tulang-tulang tidak lagi
dipertahankan posisinya, kecuali akan dijatuhkan posisinya karena adanya gaya
berat otot dan tulang akibat daya tarik grafitasi.3,6
2.4.3

Perubahan Pada Mata


Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di

kiri-kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga
dengan dasar di tepi kornea (taches noires sclerotique). Kekeruhan kornea terjadi
lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan
meneteskan air, tetapi kekeruhan yang yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak
dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kirakira 6 jam pasca mati.3,8

18

Gambar 3. Taches noires sclerotique7


Baik dalam keadaan mata terbuka maupun tertutup, kornea menjadi keruh
kira-kira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak
jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil
pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan
lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15
jam pasca mati. HIngga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai
memucatnya diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat
dan tepinya tidak tajam lagi.3,8
Selama dua jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar diskus
menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar makula yang menjadi lebih
gelap. Pada saat itu pola vaskular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan
latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam
pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat. Pada
kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-pembuluh besar
yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kunig-kelabu.
Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan
sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan adanya
konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati
tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja
yang tampak berwarna coklat gelap.1,3
19

Gambar 4. Pemeriksaan stimulus kimia pada pupil mata, kanan miosis, kiri
midriasis.7

Perubahan pada mata juga meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya.
Hilangnya reflek cahaya bersamaan dengan proses terjadinya iskemia pada batang
otak. Dalam hal ini iris masih dapat bereaksi terhadap rangsang (dalam waktu 4 jam
setelah kematian), namun reflek sudah negatif. Hilangnya reflek kornea berhubungan
dengan kegagalan proses lakrimasi.1,8
Pada pemeriksaan mata juga akan didapatkan midriasis akibat adanya proses
relaksasi. Beberapa pemeriksaan dapat dilakukan untuk melihat fungsi jaringan pada
mata pada awal kematian. Walaupun beberapa refleks menghilang, namun sel-sel
dalam jaringan mata masih hidup dan dapat distimulus dengan rangsang listrik
maupun kimia. Pada pemeriksaan kimia dapat digunakan zat carbahol untuk miosis
dan adrenalin HCl untuk midriasis pupil.1,3
2.4.4

Perubahan Suhu Tubuh

20

Pada saat sel masih hidup ia akan selalu menghasilkan kalor dan energi. Kalor
dan energi ini terbentuk melalui proses pembakaran sumber energi seperti glukosa,
lemak, dan protein. Sumber energi utama yang digunakan adalah glukosa. Satu
molekul glukosa dapat menghasilkan energi sebanyak 36 ATP yang nantinya
digunakan sebagai sumber energi dalam berbagai hal seperti transport ion, kontraksi
otot dan lain lain. Energi sebanyak 36 ATP hanya menyusun sekitar 38% dari total
energi yang dihasilkan dari satu molekul glukosa. sisanya sebesar 62% energi yang
dihasilkan inilah yang dilepaskan sebagai kalor atau panas.1-3

21

Gambar 5. Metabolism Glukosa6


Sesudah mati, metabolism yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga
suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium di sekitarnya. Penurunan ini
disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panad. Proses
penurunan suhu pada mayat ini biasa disebut algor mortis. Algor mortis ini
merupakan salah satu perubahan yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah
berada pada fase lanjut postmortem.3,6
Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat dengan
bentuk sigmoid. Hal ini disebabkan ada 2 faktor, yaitu :3
1.

Masih adanya sisa metabolism dalam tubuh mayat, yakni karena masih adanya

2.

proses glikogenolisis dari cadangan glikogen yang disimpan di otot dan hepar.
Perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga suhu.
Pada jam jam pertama penurunannya sangat lambat tetapi sesudah itu

penurunan menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali. Jika
dirata rata maka penurunan suhu tersebut antara 0,9 sampai 1 Celcius atau sekitar
1,5 Fahrenheit setiap jam, dengan catatan perubahan suhu dimulai dari 37 Celcius
atau 98,4 Fahrenheit sehingga dengan dapat dirumuskan cara untuk memperkirakan
berapa jam mayat telah mati dengan rumus (98,6 F suhu rectalF): 1,5F.
pengukuran dilakukan per rectal dengan menggunakan thermometer kimia (long
chemical thermometer).3,6,7

22

Gambar 6. Termometer digital rektal7

Gambar 7. Pengukuran Suhu Rektal pada Tubuh Mayat7

23

Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu mayat ini yakni:1,3
1.

Faktor internal
a.
Suhu tubuh saat mati
Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati dengan
suhu tubuh tinggi. Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati ini akan
mengakibatkan penurunan suhu tubuh menjadi lebih cepat. Sedangkan,
b.

pada hipotermia tingkat penurunannya menjadi sebaliknya.


Keadaan tubuh mayat
Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan
suhu tubuh mayat. Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat

2.

penurunannya menjadi lebih cepat.


Faktor Eksternal
a.
Suhu medium
Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka semakin
cepat terjadinya penurunan suhu. Hal ini dikarenakan kalor yang ada di
b.

tubuh mayat dilepaskan lebih cepat ke medium yang lebih dingin.


Keadaan udara di sekitarnya
Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih besar. Hal
ini disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang
baik. Selain itu, aliran udara juga makin mempercepat penurunan suhu
tubuh mayat.

c.

Jenis medium
Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air
merupakan konduktor panas yang baik sehingga mampu menyerap

d.

banyak panas dari tubuh mayat.


Pakaian mayat

24

Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat semakin
cepat. Hal ini dikarenakan kontak antara tubuh mayat dengan suhu
medium atau lingkungan lebih mudah.
Dalam

mengestimasi

waktu

lamanya

kematian

dapat

menggunakan

normogram Henssgen. Menggunakan alat bantu ini dapat mempermudah dalam


memperkirakan kematrian lebih cepat dengan keakuratan mencapai 95%. Dalam
menggunakan normogram variabel yang diperlukan adalah suhu rektal, suhu
lingkungan dan berat badan mayat. Estimasi waktu ditentukan dengan membuat titik
pertemuan dari garis-garis yang menghubungkan variabel-variabel tersebut terhadap
garis diagonal utama.3,6,7

Tabel 1. Hanssgen Normogram untuk temperatur ambien dibawah 23C3

25

2.4.5

Lebam Mayat

26

Lebab mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem Suggilation,
Hypostasis, Livor Mortis, Stainning. Lebam mayat terbentuk bila terjadi kegagalan
sirkulasi darah dalam mempertahankan tekanan hidrostatik yang menggerakan dara
mencapai capillary bed di mana pembuluh-pembuluh darah kecil afferent dan efferent
saling berhubungan. Maka secara bertahap darah yang mengalami stagnasi di dalam
pembuluh vena besar dan cabang-cabangnya akan dipengaruhi gravitasi dan mengalir
ke bawah, ke tempat-tempat yang terendah yang dapat dicapai. Dikatakan bahwa
gravitasi lebih banyak mempengaruhi sel darah merah tetapi plasma akhirnya juga
mengalir ke bagian terendah yang memberikan kontribusi pada pembentukan
gelembung-gelembung di kulit pada awal proses pembusukan.1-3
Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit sebagai
perubahan warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah terjadi secara
pasif maka tempat-tempat di mana mendapatkan tekanan local akan menyebabkan
tertekannya pembuluh darah di daerah tersebut sehingga meniadakan terjadinya
lebam mayat yang mengakibatkan kulit di daerah tersebut berwarna lebih pucat.6
Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam setelah
kematian, di mana setelah terbentuk hypostasis yang menetap dalam waktu 10-12 jam
ternyata akan memberikan lebam mayat pada sisi yang berlawanan setelah dilakukan
reposisi pada tubuh dari pronasi ke supinasi (interpostmorchange).6
Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan dimulai dengan
timbulnya bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam waktu kurang dari setengah
jam sesudah kematian di manana bercak-bercak ini intensitasnya menjadi meningkat
27

dan kemudian bergabung menjadi satu dalam beberapa jam kemudian, di mana
fenomena ini menjadi komplet dalam waktu kurang lebih 8-12 jam, pada waktu ini
dapat dikatakan lebam mayat terjadi secara menetap. Menetapnya lebam mayat ini
disebabkan oleh karena terjadinya perembesan darah ke dalam jaringan sekitar akibat
rusaknya pembuluh darah akibat tertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah yang
banyak, adanya proses hemolisa sel-sel darah dan kekakuan otot-otot dinding
pembuluh darah. Dengan demikian penekanan pada daerah lebam yang dilakukan
setelah 8-12 jam tidak akan menghilang. Hilangnya lebam pada penekanan dengan
ibu jari dapat memberikan indikasi bahwa suatu lebam belum terfiksasi secara
sempurna. Setelah 4 jam, kapirer-kapiler akan mengalami kerusakan dan butir-butir
darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah akan keluar
dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di sekitarnya sehingga menyebabkan
warna lebam mayat akan menetap serta tidak hilang jika ditekan dengan ujung atau
jika posisi mayat dibalik. Jika pembalikan posisi dilakukan setelah 12 jam dari
kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul pada posisi terendah, karena
darah sudah mengalami koagulasi.1-5

28

Gambar 8. Lebam Mayat yang belum menetap7

Gambar 9. Lebam Mayat yang sudah menetap7

29

Tabel 2. Perbedaan Lebam Mayat dengan Memar1-3,6


Sifat
Letak

Lebam mayat
Epidermal, karena pelebaran
pembuluh darah yang tampak
sampai ke permukaan kulit

Memar
Subepidermal, karena rupture pembuluh
darah yang letaknya bisa superficial atau
lebih dalam

Kutikula
Lokasi

Rusak
Terdapat di sekitar, bisa tampak di mana
saja pada bagian tubuh dan tidak meluas

Gambaran

Tidak rusak
Terdapat pada daerah yang luas,
terutama luka pada bagian tubuh
letak rendah
Tidak ada elevasi dari kulit

Pinggiran
Warna

jelas
sama

Tidak jelas
Memar yang lama warnanya bervariasi,
memar yang baru warna lebih tegas
daripada
warnal
lebam
mayat
disekitarnya

Pada
pemotongan

Darah tampak pembuluh darah Menunjukkan resapan darah ke jaringan


dan mudah dibersihkan, jaringan sekitar, susah dibersihkanjika hanya
subkutan tampak pucat
dengan air mengalir, jaringan subkutan
berwarna merah kehitaman

Dampak
setelah
penekanan

Akan hilang walaupun hanya Warnanya berubah sedikit saja bila diberi
diberi penekanan yang ringan
penekanan

Biasanya membengkak,
resapan darah dan edema

karena

Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat relative.
Perubahan lebam ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama sesudah kematian, bila
telah terbentuk lebam primer kemudian dilakukan perubahan posisi maka akan terjadi
lebam sekunder pada posisi yang berlawanan. Distribusi dari lebam mayat yang
ganda ini adalah penting untuk menunjukan terlah terjadi manipulasi posisi pada

30

ada

tubuh. Akan tetapi waktu yang pasti untuk terjadinya pergeseran lebam ini adalah
tidak pasti, Polson mengatakan untuk menunjukan tubuh sudah diubah dalam waktu
8 sampai 12 jam, sedangkan Camps memberikan patokan kurang lebih 10 jam.1-3,6
Akan tetapi pada kematian wajar pun darah dapat menjadi permanen
incoagulable oleh karena adanya aktifitas fibrinolisin yang dilepas ke dalam aliran
darah selama proses kematian. Sumber dari fibrinolisin ini tidak diketahui tetapi
kemungkinan berasal dari endothelium pembuluh darah, dan permukaan serosa dari
pleura. Aktifitas fibrinolosin ini nyata sekali pada kapiler-kapiler yang berisi darah.
Darah selalu ditemukan cair dalam venule dan kapiler, dan ini yang bertanggung
jawab terhadap lebam mayat.3
Akumulasi darah pada daerah yang tidak tertekan akan menyebabkan
pengendapan darah pada pembuluh darah kecil yang dapat mengakibatkan pecahnya
pembuluh darah kecil tersebut dan berkembang menjadi petechie (tardieu`s spot) dan
purpura yang kadang-kadang berwarna gelap yang mempunyai diameter dari satu
sampai beberapa millimeter, biasanya memerlukan waktu 18 sampai 24 jam untuk
terbentuknya dan sering diartikan bahwa pembusukan sudah mulai terjadi. Fenomena
ini sering terjadi pada asphyxia atau kematian yang terjadinya lambat. 1,3
2.4.6

Kaku Mayat
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang

kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah
periode pelemasan atau relaksasi primer. Hal ini disebabkan karena terjadinya

31

perubahan kimiawi pada protein yang terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut
Szen-Gyorgyi di dalam pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat penting.
Seperti diketahui bahwa serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu aktin dan
myosin, di mana kedua jenis protein ini bersama dengan ATP membentuk suatu
massa yang lentur dan dapat berkontraksi. Bila kadar ATP menurun, maka akan
terjadi perubahan pada akto-myosin, di mana sifat lentur dan kemampuan untuk
berkontraksi menghilang sehingga otot yang bersangkutan akan menjadi kaku dan
tidak dapat berkontraksi.9

32

Gambar 10. Fisiologi Kontraksi Otot6


Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu berbeda-beda,
sehingga waktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi asam laktat dan energi sat
terjadinya kematian somatic, dimana energi tersebut untuk resintesa ATP, akan
menyebabkan adanya perbedaan kadar ATP dalam setiap otot. Keadaan tersebut dapat
menerangkan mengapa kaku mayat akan mulai nampak pada jaringan otot yang
jumlah serabut ototnya sedikit. Atas dasar itulah mengapa pada kematian karena
infeksi, konvulsi kelelahan fisik serta keadaan suhu keliling yang tinggi akan dapat
mempercepat terbentuknya kaku mayat, demikian pula pada mereka yang keadaan

33

gizinya jelek akan lebuh cepat terjadi kaku mayat bila dibandingkan korban yang
mempunyai tubuh yang baik6,9

Gambar 11. Pemeriksaan Rigor Mortis pada Sendi Siku7

Gambar 12. Pemeriksaan Rigor Mortis pada Sendi Lutut7


Secara biokimiawi saat relaksasi primer, pH protoplasma sel otot masih
alkalis. Perubahan alkalis menjadi asam terjadi 2-6 jam kemuadian karena adanya
perubahan biokimia, yaitu glikogen menjadi asam sarkolaktik/fosfor. Perubahan
protoplasma menjadi asam menyebabkan otot menjadi kaku (rigor). Relaksasi
34

sekunder terjadi setelah ada perubahan biokimia, yaitu asam berubah menjadi alkalis
kembali saat terjadi pembusukan. 6
Kaku mayat terjadi pada seluruh otot, baik otot lurik maupun otot polos dan
bila terjadi pada oto rangka, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang mirip atau
menyeruoai papan sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan kekakuan
tersebut, bila hal ini terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak mungkin
lagi terjadi kaku mayat. 8-11

Gambar 13. Kaku Mayat pada Lengan dan Leher.10


Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai
puncaknya setelah 10-12 jam post mortem, keadaan ini akan menetap selam 24 jam
dan setelah 24 jam kaku mayat akan mulai menghilang sesuai dengan urutan
terjadinya yaitu dimulai dari otot-otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai. 9
Adanya kejanggalan dari postur pada mayat dimana kaku mayat telah
terbentuk dengan posisi sewaktu mayat ditemukan, dapat menjadi petunjuk bahwa

35

pada tubuh korban telah dipindahkan setelah mati. Ini mungkin dimaksudkan untuk
menutupu sebab kematian atau cara kematian yang sebenarnya.3,6,9

Gambar 14. Gambaran Kaku Mayat pada Mayat Baru10


Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat: 1,3,6
a.

Kondisi otot
- Persediaan glikogen
Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi
tubuh sehat sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga
pada orang yang sebelum mati banyak makan karbohidrat, makan kaku
mayat akan lambat.
-

Gizi
Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat
terjadi.

36

Kegiatan Otot
Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku
mayat akan terajadi lebih cepat.3,17

b.

c.

d.

Usia
- Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.
- Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi
cukup bulan.
Keadaan lingkunan
- Keadaan kering lebih lambat daripada panas dan lembab
- Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung
-

lama
Pada udara suhu tinggi, kaku mayat akan terjadi lebih cepat dan singkat,

tetapi pada suhu rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.
Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10 derajat celcius kekakuan

yang terjadi pembekuan atau cold stiffening.


Cara kematian
- Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kaku mayat lebih cepat
-

terjadi dan berlangsung tidak lama.


Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih
lama.

Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat:


-

Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang


terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya
merupaka kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului
oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen
37

dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi
yang hebat sesaat sebelum meninggal. Kepentingan medikolegalnya adalah
menunjukan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya, tangan yang menggeggam
erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tamgam yang menggenggam
pada kasus bunuh diri.3,6,9

Gambar 15. Cadaveric Spasme pada Korban Drowning7

Tabel 3. Perbedaan Antara Kaku Mayat dengan Spasme Kadaver6


Sifat

Kaku mayat

Spasme cadaver

Mulai timbul

1-2 jam setelah kematian

Segera

Factor predisposisi

negatif

Kematian mendadak, aktivitas


berlebih, ketakutan, terlalu lelah

Otot yang tertekan

Semua otot, termasuk volunteer


dan involunter

Biasanya terbatas pada satu


kelompok volunter

38

Kaku otot

Tidak jelas, dapat dilawan


dengan sedikit tenaga

Sangat jelas, perlu tenaga yang


kuat untuk melawan kekakuannya

Kepentingan
medikolegal

Untuk perkiraan waktu


kematian

Menunjukkan cara kematian, yaitu


bunuh diri, pembunuhan, atau
kecelakaan

Suhu mayat

dingin

Hangat

Kematian sel

ada

Tidak ada

Rangsangan listrik

Tidak ada respon otot

Ada respon otot

Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas.
Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh (mudah robek). Keadaan ini
dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada saat stiffening serabut-serabut
ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut,
membentuk sikap petinju atau (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak
memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, itravitalitas, penyebab atau
cara kematian.

Clod stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah 3,5 C

atau 40 F), sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi,
pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, bila cairan sendi yang membeku
menyebabkan sendi tidak dapat digerakan. Bila sendi dibengkokkan secara paksa
maka akan terdengar suara es pecah dan mayat yang kaku ini akan menjadi lemas

39

kembali bila diletakan ditempat yang hangat, kemudian rigor mortis akan terjadi
dalam waktu yang sangat singkat.3,6
Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat) :1-6
o Kurang dari 3-4 jam post mortem: belum terjadi rigor mortis
o Lebih dari 3-4 ja post mortem: mulai terjadi rigor mortis
o Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
o Rogor mortis di pertahankan selama 12 jam
o Rigor mortis menghilang 24-36 jam post mortem
2.4.7 Pembusukan atau Modifikasinya
Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection. Pembusukan
adalah proses degradasi jaringan pada tubuh mayat yang terjadi sebagai akibat proses
autolisis dan aktivitas mikroorganisme, terutama Clostridium welchii yang banyak
terdapat di kolon.3
Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam
keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler,
sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses
autolisis lebih cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan
demikian pancreas akan mengalami autolisis lebih cepat daripada organ-organ yang
tidak memiliki enzim, dengan demikian pankreas akan mengalami autolisis lebih
cepat dari pada jantung. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme
oleh karena itu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam kandungan proses
autolisis ini tetap terjadi. Proses autolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim

40

yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena adalah nukleoprotein yang
terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan
mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan mencair.
Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat oleh pengaruh suhu
yang rendah maka proses autolisis ini akan dihambat demikian juga pada suhu tinggi
enzim-enzim yang terdapat pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses ini
akan terhambat.1-3,6,11
Fase pembusukan pada manusia terbagi menjadi 5 fase yaitu fase fresh,
bloating, decay, postdecay, dan skeletal atau remain stage. Beberapa ahli membagi
fase decay menjadi active dan advance decay. Fase fresh dimulai segera setelah
meninggal duni sampai terjadinya bloating. Perubahan yang terjadi pada fase fresh
adalah munculnya warna kehijauan di perut kanan bawah, terjadinya livor mortis,
munculnya retak pada kulit, taches noires sclerotiques pada sclera mata, dan
hinggapnya lalat dan serangga pada lubang-lubang tubuh dan luka pada tubuh. Fase
bloating mulai proses dekomposisi dan puterifikasi tubuh oleh mikroorganisme.
Bakteri anaerob di intestinal mencerna jaringan yang mengakibatnya terbentuknya
gas H2S. gas tersebut menekan rongga abdomen sehingga menggembung dan tubuh
berubah menjadi balloon-like appearance. Pada fase ini juga mulai terjadi
metabolism oleh maggot yang menimbulkan peningkatan suhu internl tubuh hingga
jauh di atas suhu lingkungan. Pada fase ini tercium bau amoniak yang kuat. Selain itu
gas dalam tubuh juga mendorong isi tubuh keluar seperti urin, feses, cairan

41

pembusukan yang bercampur darah dan hasil konsepsi melaui lubang-lubang tubuh.
Pada fase decay terjadi perubahan berupa skin slippage atau mengelupasmya lapisan
terluar kulit, keluarnya gas dari abdomen, tubuh mayat juga berbau pembusukan yang
sangat menyengat, mulai terinvasi larva dipteral. Pada fase ini semua jaringan lunak
terdekomposisi oleh larva hingga menyisakan kulit, kartilago dan tulang. Proses
dekomposisi selanjutnya oleh larva diptera hingga hanya menyisakan tulang yang
bersih terjadi pada fase postdecay. Pada fase ini mulai investasi larva calliphoride dan
sacnophagidae. Sedangkan yang terakhir fase skeletal tersisa tulang, gigi, dan rambut
yang dapat terdekomposisi setelah bertahun-tahun lamanya tergantung faktor
lingkungan tempat mayat berada.11,13

Gambar 16. Proses Awal Pembusukan Warna Kehijauan di Fosa Iliaca Kanan7
Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan
hilang, bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk
ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah, dimana darah merupakan media yang
terbaik bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa,

42

pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan thrombus
atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusukan. Bakteri
yang sering menyebabkan destruktif ini sebgaian besar berasal dari usus dan yang
paling utama adalah Clostridium welchii. Bakteri ini berkembang biak dengan cepat
sekali menuju ke jaringan ikat dinding perut yang menyebabkan perubahan warna.
Perubahan warna ini terjadi oleh karena reaksi antara H2S (gas pembusukan yang
terjadi dalam usus besar) dengan Hb dan Sulf-Meth-Hb. Tanda pertama pembusukan
baru dapat dilihat kira-kira 24 - 48 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada
dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa iliaka kanan dimana isinya
lebih cair, mengandung lebih banyak bakteri dan letaknya yang lebih superfisial.
Perubahan warna ini secara bertahap akan meluas keseluruh dinding abdomen sampai
ke dada dan bau busuknya mulai tercium. Perubahan warna ini juga dapat dilihat pada
permukaan organ dalam seperti hepar, dimana hepar merupakan organ uang langsung
kontak dengan kolon transversum. Pada saat Clostridium welchii mulai tumbuh pada
satu organ parenkim, maka sitoplsama dari organ sel itu akan mengalami disintergrasi
dan nukleusnya akan dirusak sehingga sel menjadi lisis atau rhexis. Kemudian sel-sel
menjadi lepas sehingga jaringan kehilangan strukturnya.3,11,12

43

Gambar 17. Gambaran Marbling dan Bloating7


Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang biak
didalamnya yang menyebabkan hemolisa yang kemudian mewarnai dinding
pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Bakteri ini memproduksi gas-gas
pembusukan yang mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh
darah bserta cabang-cabangnya tampak lebih jelas seperti pohon gundul (arborescent
pattern atau arborescent mark) yang sering disebut marbling. Bakteri pembusukan ini
banyak terdapat dalam intestinal dan paru, maka gambaran marbling ini jelas terlihat
pada bahu, dada bagian atas, abdomen bagian bawah dan paha.3,6,11

44

Gambar 18. Gambaran bula pembusukan pada kulit7


Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga
jaringan dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran
gelembung gas yang tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai honey combed
appearance. Lesi ini dapat dilihat pertama kali pada hati. Kemudian permukaan
lapisan atas epidermis dapat dengan mudah dilepaskan dengan jaringan yang ada
dibawahnya dan ini disebut skin slippage. Skin slippage ini meneyebabkan
identifikasi melalui sidik jari sulit dilakukan. Pembentukan gas yang terjadi antara
epidermis dan dermis mengakibatkan timbulnya bula-bula yang bening, fragil, yang
dapatr berisi cairan coklat kemerahan yang berbau busuk. Cairan ini kadang-kadang
tidak mengisi secara penuh di dalam bula. Bula dapat menjadi sedemikian besarnya
menyerupai pendulum yang berukuran 5-7,5 cm dan bila pecah meninggalkan daerah
yang berminyak, berkilat dan berwarna kemerahan, ini disebabkan oleh karena

45

pecahnya sel-sel lemak subkutan sehingga cairan lemak keluar ke lapisan dermis oleh
karena tekanan gas pembusukan dari dalam. Selain itu epitel kulit, kuku, rambut
kepala, aksila dan pubis mudah dicabut dan dilepaskan oleh karena adanya
disintegrasi pada akar rambut. 11,12

Gambar 19. Gamabaran Skin Slippage dan Postmortem Discoloration7


Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung
udara mengisi hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang terdapat di dalam jaringan
dinding tubuh akan menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan
pembengkakan tubuh yang menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic
attitude atau balon-like appearance.11,13
Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan muka dapat
menggembung, bibir menonjol seperti frog-like-fashion kedua bola mata keluar,
lidah terjulur diantara dua gigi, ini menyebabkan mayat sulit dikenali kembali oleh
46

keluarganya. Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat


bdan mayat yang tadinya 57-63 kg sebelum mati menjadi 95-114 kg sesudah mati.1,3,6
Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas pembusukan
yang terjadi didalam cavum abdominal menyebabkan pengeluaran udara dan cairan
pembusukan yang berasal dari trakea dan bronkus yang terdorong keluar bersamasama dengan cairan darah yang keluar melalui mulut dan hidung yang disebut dengan
blood purge. Cairan pembusukan dapat ditemukan di dalam rongga dada, ini harus
dibedakan dengan hematotorak dan biasanya caiaran pembusukan ini tidak lebih dari
200 cc.1,6,11

Gambar 20. Gambaran Blood Purge7


Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan intra abdominal
yang meningkat pada uterus wanita dapat menjadi prolaps dan fetus dapat lahir dari

47

uterus yang sedang hamil sedangkan pada anak-anak adanya gas pembusukan dalam
tengkorak dan otak menyebabkan sutura-sutura kepala menjadi muda terlepas.11
Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang berbeda-beda.
Jaringan intestinal, medulla adrenal dan pankreas akan mengalami autolisis dalam
beberapa jam setelah kematian. Organ-organ dalam lain seperti hati, ginjal dan limpa
merupakan organ yang cepat mengalami pembusukan. Perubahan warna pada dinding
lambung terutama di fundus dapat dilihat dalam 24 jam pertama setelah kematian.
Difusi cairan kandung empedu kejaringan sekitarnya menyebabkan perubahan warna
pada jaringan sekitarnya menjadi cokelat kehijuan. Pada hati dapat dilihat gambaran
honey combs appearance, limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek dan otak
menjadi lunak.6,11
Pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan granula-granula
milliary atau milliary plaques yang berukuran kecil dengan diameter 1-3 mm yang
terdapat pada pemukaan serosa yang terletak pada endothelial dari tubuh seperti
pleura, peritoneum, pericardium dan endocardium.11

48

Gambaran 21. Gambaran pembusukan dan infestasi larva7


Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu:1,3,6
1.

Early: Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan intestinal,
medulla adrenal, pancreas, otak, lien, usus, uterus gravidarum, uterus post partum

2.

dan darah
Moderate: Organ dalam yang lamabat membusuk antara lain paru-paru, jantung,

3.

ginjal, diafrgma, lambung, otot polos dan otot lurik.


Late: Uterus non gravidarum dan prostas merupakan organ yang lebih tahan
terhadap pembusukan karena memiliki strukstur yang berbeda dengan jaringan
yang lain yaitu fibrous.
Pada orang yang mengalami obesitas, lemak-lemak tubuh terutama perianal,

omentum dan mesenterium dapat mencair menjadi cairan kuning yang transluscent
yang mengisi rongga badan diantara organ yang dapat menyebabkan autopsy lebih
suliti dilakukan. Pada mayat dari orang tua, proses pembusukannya lebih lambat

49

disebabkan lemak tubuhnya relative lebih sedikit. Pembusukkan yang lambat juga
terjadi pada mayat bayi yang baru lahir dan belum pernah diberi makan sebab pada
mayat tersebut kemasukan bakteri pembusuk3,6
Mayat dari orang yang keracunan kronis dari zat asam karbol, arsen, dan zink
klorida mengalami pembusukan lebih lambat. Mayat dari orang yang mati mendadak
lebih lambat mengalami pembusukan disbanding mayat dari orang yang meninggal
karena penyakit kronis. Badan berbaring di permukaan tanah cenderung membusuk
jauh lebih cepat dibandng mayat yang dikuburkan.3
Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan penting
dalam proses pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah kematian lalat akan
hinggap di badan dan meletakan telur-telurnya pada lubang-lubang mata, mulut dan
telinga. Biasanya jarang pada daerah genianal. Bila ada luka ditubuh mayat lalat lebih
sering melatakan telur-telurnya pada luka tersebut, sehingga bila ada telur atau larva
lalat di daerah genitoanal ini maka dapat dicurigai adalanya kekerasan seksual
sebelum kematian. Telur-telur lalat ini akan berubah menjadi larva dalam waktu 24
jam. Larva ini mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat mempercepat
penghancuran jaringan pada tubuh. Larva lalat dapat kita temukan pada mayat kirakira 36-48 jam pasca kematian. Berguna untuk memperkirakan saat kematian dan
penyebab kematian karena keracunan. Saat kematian dapat kita perkirakan dengan
cara mengukur panjang larva lalat. Penyebab kematian karena racun dapat kita
ketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam larva lalat.1,3,6,11,12

50

Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi mereka juga
memberi informasi penting yang berhubungan dengan kematian. Insekta dapat
dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh
mayat telah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada badan
bagian mana yang mengalami trauma, dan dapat dipergunakan dalam pemeriksaan
toksikologi bila jaringan untuk spesimen standart juga sudah mengalami
pembusukan.11,12
Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar antara 70
100F (21,1-37,8C ) aktifitas ini dihambat bila suhu berada dibawah 50F(10C)
atau pada suhu diatas 100F (lebih dari 37,8C). Bila mayat diletakkan pada suhu
hangat dan lembab maka proses pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Bila
mayat diletakkan pada suhu hangat dan lembab maka proses pembusukan akan
berlangsung lebih cepat. Sebaliknya bila mayat diletakkan pada suhu dingin maka
proses pembusukan akan berlangsung lebih lambat. Pada mayat yang gemuk proses
pembusukan berlangsung lebih cepat dari pada mayat yang kurus. Pembusukan
berlangsung lebih cepat karena kelebihan lemak akan menghambat hilangnya panas
tubuh dan pada mayat yang gemuk memiliki darah yang lebih banyak, yang
merupakan media yang baik untuk perkembangbiakkan organisme pembusukan.6,11

51

Gambar 22. Skeletonisasi 11


Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat menghambat
pertumbuhan bakteri disamping pada tubuh bayi yang baru lahir memang terdapat
sedikit bakteri sehingga proses pembusukan berlangsung lebih lambat. Proses
pembusukan juga dapat dipercepat dengan adanya septikemia yang terjadi sebelum
kematian seperti peritonitis fekalis, aborsi septik, dan infeksi paru. Disini gas
pembusukan dapat terjadi walaupun kulit masih terasa hangat.6,11
Secara garis besar terdapat 17 tanda pembusukan pada jenazah, yaiitu :1,5
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Wajah membengkak
Bibir membengkak
Mata menonjol
Lidah terjulur
Lubang hidung keluar cairan pembusukan
Lubang mulut keluar cairan pembusukan
Lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan partus

8.

(gravid)
Badan gembung
52

9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Bulla atau kulit ari terkelupas


Aborescent pattern / morbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna kehijauan
Pebuluh darah bawah kulit melebar
Dinding perut pecah
Skrotum atau vulva membengkak
Kuku terlepas
Rambut terlepas
Organ dalam membusuk
Larva lalat
Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor intrinsik diatas, selain itu juga

dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban udara dan medium di mana
mayat berada. Semakin lembab udara disekeliling mayat maka pembusukan lebih
cepat berlangsung, sedangkan pembusukan pada medium udara lebih cepat
dibandingkan pada medium tanah. Mayat yang tercelup dalam air akan lebih lambat
proses pembusukkannya. Berdasarkan hukum atau rasio Caspers apabila semua
faktor sama dan akses ke udara bebas sama, tubuh terdekomposisi dua kali lebih
cepat dari pada mayat yang tercelup di air dan delapan kali lebih cepat dari pada yang
terpendam atau terkubur.3,6,11
Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak dijumpai,
namun yang ditemui adalah modifikasi pembusukan. Jenis-jenis modifiksi
pembusukan antara lain :11
a.

Mumifikasi
Mumifikasi dapat terjadi karena proses dehidrasi jaringan yang cukup cepat
sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan
pembusukan. Proses mumifikasi terjadi bila keadaan disekitar mayat kering,

53

kelembaban rendah, suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan bakteri.
Terjadinya beberapa bulan sesudah mati tanda-tanda sebagai berikut mayat
menjadi kecil, kering, mengkerut atau melisut, warna coklat kehitaman, kulit
melekat erat dengan tulang dibawahnya, tidak berbau, dan keadaan anatominya
masih utuh.3,6,11

Gambaran 23. Mumifikasi11


b. Saponifikasi (Adipocere)

6,11,12

Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada didalam suasana hangat,
lembab atau basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam
lemak. Selanjutnya asam lemak yang tak jenuh akan mengalami dehidrogenisasi
menjadi asam lemak jenuh dan kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun
yang tak larut. Terbentuk pertama kali pada letak superfisial bentuk bercak, di
pipi, di payudara, bokong bagian tubuh atau ekstremitas. Terjadinya saponifikasi
memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi pada setiap jaringan tubuh
yang berlemak dengan tanda-tanda berwarna keputihan dan berbau seperti
minyak kelapa.

54

Gambar 24. Adiposera11


2.4.8

Biokimiawi Darah
Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis

darah pasca mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa
hidupnya. Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta
gangguan permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh
selama proses kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum
kematian itu terjadi. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam darah yang
dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih cepat.2,3,12
2.4.9

Cairan Serebrospinal
Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14% menunjukkan kematian belum

lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian
belum 24 jam, kadar protein kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing masing
menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.2

55

2.4.10 Perubahan Pada Lambung


Kecepatan pengosongan

lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat

digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat
mati. Namun, keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat
keputusan. Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam
lambung dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal
telah makan makanan tersebut.2

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Thanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang
mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati, meliputi
pengertian, tipe kematian, cara-cara melakukan diagnosis, perubahanperubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya. Kegunaannya
yaitu untuk memastikan kematian klinis, memperkirakan sebab kematian,
memperkirakan saat kematian dan memperkirakan cara kematian.

56

2. Mati didefinisikan sebagai berhentinya fungsi saraf pusat, sirkulasi dan


respirasi secara permanen (mati klinis). Dengan adanya perkembangan
teknologi ada alat yang bisa menggantikan fungsi sirkulasi dan respirasi
secara buatan definisi kematian berkembang menjadi kematian batang
otak (mati otak). Kematian didiagnosis dengan kriteria diagnostik berupa
tanda negatif dan tanda positif. Tanda negatif berupa hilangnya fungsi
sistem saraf pusat, pernafasan dan sirkulasi beserta reflek refleknya.
Tanda positif berupa munculnya tanda tanda perubahan postmortem
awal.
3. Setelah terjadinya kematian, tubuh akan mengalami perubahan
perubahan, antara lain perubahan kulit muka sebagai akibat dari
berhentinya sirkulasi darah, relaksasi otot, perubahan pada mata,
penurunan suhu tubuh, timbulnya lebam mayat karena adanya gaya
gravitasi, kaku mayat karena penumpukkan ADP pada otot - otot,
pembusukan, perubahan pada darah yang dilanjutkan dengan kematian sel.
4. Parameter - parameter yang dapat digunakan untuk menentukan saat
kematian adalah :
Perubahan eksternal : penurunan suhu, lebam mayat, kaku mayat,

pembusukan, dan timbulnya larva.


Perubahan internal : kenaikan potasium pada cairan bola mata,
kenaikan non protein nitrogen dalam darah, kenaikan ureum darah,
penurunan kadar gula darah, dan kenaikan kadar dekstrose pada vena
cava inferior.

a.

Saran

57

Thanatologi merupakan suatu hal yang sengat penting bagi kedokteran


forensic untuk membantu menentukan cara kematian, sebab kematian, saat
kematian, dan diagnosis kematian. Oleh karena itu ilmu thanatologi ini sebaiknya
dipelajari secara mendalam agar dapat melengkapi dengan ilmu-ilmu yang sudah
ada sebelmnya

DAFTAR PUSTAKA
1. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik.pedoman Bagi Dokter dan
Penegak hukum. Cetakan V. Semarang : Badan Penerbut Universitas
Diponegoro, 2007; p.47-65.
2. NN. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 1997; p.25-35.
3. Vij, Krishan. Forensic Medicine and Toxicology.5 th Ed. Death and Its
Medicolegal (Forensic Thanatology). New Delhi : Elsevier, 2011; p.74-99.
4. Idris, MA Dr. Saat Kematian. Edisi Pertama. Pedoman Ilmu Kedokteran
Forensik. Jakarta : Bina Rupa Aksara, 1997; p.53-77.
5. Yu X, Wang H, Feng L, Zhu J. Quantitative Research in Modern Forensic
Analysis of Death Cause : New Classification of Death Cause, Degree of
Contribution, and Determination of Manner of Death. J Forensic Res 5:221.

58

Shantou : Departemen of Forensic Medicine of Shntou University College,


2014
6. Bate-Smith EC, Bendall JR. Rigor Motis and Adenosinetriphosphate. J
Physiol 106, 1947; p.177-185
7. Poposka V, Gutevska A, Stankov A, Pavlovski G, Jakovski Z, Janeska B.
Estimation of Time Since Death by using Algorithm in Early Postmortem
Period. Global Journal of Medical Research. USA ; Global Journals Inc,
2013; Volume 13 Issue 3 Version 1.0
8. Abraham dkk. Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi II. Semarang :
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2010; p.43-50.
9. Prasad BK. Postmortem Ocular Changes : A Study on Autopsy Cases in
Bharatpur Hospital. Nepal : Kathmandu University Medical Journal, 2003;
Vol.1 No.4 Issue 4 p. 276-277
10. Lee, GM. Early Post Mortem Changes and Stage of Decomposition in
Exposed Cadavers. USA : Springer, 2009; Volume 49 p. 21-36.
11. Pounder, Derrick. Post Mortem Changes and Time of Death. Departemen of
Forensic Medicine University of Dundee, 1995.
12. Hau TC, Hamzah NH, Lian HH, Hamzah SPAA. Decomposition Proccess
and Postmortem Changes. Kuala Lumpur : Sains Malaysiana, 2014; volume
43 Issue 12 p. 1873-1882.
13. Cox, William A. Early Postmortem Changes and Time of Death. Forensic
Pathologist, 2009.

59

Anda mungkin juga menyukai