Anda di halaman 1dari 7

V.

Perhitungan Rendemen

Penimbangan Kalium Iodida (KI) sebanyak 6 g Berat kertas Berat kertas + KI Berat kertas+ sisa Berat KI = 0,390 g = 6,399 g = 0,434 g = 5,965 gram

Penimbangan kaporit (CaOCl2) 5% dalam 250 ml larutan yaitu 12,5 g

Berat kertas Berat kertas + CaOCl2 Berat kertas+ sisa Berat CaOCl2

= 0,425 g = 12,939 g = 0,010 g = 12,504 g

Aquadest = 100 ml Aseton = 2 ml Kaporit (CaOCl2) diencerkan dalam aquadest sebanyak 110 ml aquadest (CaOCl2) + 2KI + H2O 0,0384 mol 0,0359 mol 0,01795 mol 0,0359 mol 0.02045 mol = = = CH3COCH3 0,02720 mol 0,01795 mol 0,00935 mol = = = + 3I2 0,01795 mol 0,01795 mol CH3COCI3 0,01795 mol 0,01795 mol + 3HI 0,01795 mol 0,01795 mol 2KCl + Ca(OH)2 0,01795 mol 0,0359 mol 0,01795mol 0,01795 mol 0,0359 mol 0,01795mol I +

Mula-mula Reaksi Setimbang Massa CaOCl2 Mol CaOCl2 Mol KI

Mula-mula Reaksi Setimbang Massa aseton Mol aseton

Massa iodoform teoritis Dari hasil percobaan didapati: Berat kertas saring = 0,363 g Berat kertas saring + bahan = 0,904 g Berat iodoform = 0,541 g % rendemen =

Titik lebur iodoform dari literatur = 119 oC (MSDS Iodoform) Titik lebur iodoform yang diperoleh = 121,8oC - 122,6oC dari melting point system Organoleptis: Warna Bentuk Bau

: Kuning : Kristal : Bau khas

VI.

Pembahasan Tujuan praktikum Kimia Organik dalam pembuatan iodoform adalah untuk

mengenal dan mempelajari reaksi substitusi alfa (halogenasi alfa). Reaksi halogenasi alfa adalah reaksi penggantian atau pertukaran atom hidrogen alfa yang terdapat pada metil keton yang diserang oleh unsur-unsur halogen yaitu fluor, kloro, brom dan iodium, dimana

atom hidrogen yang terikat pada karbon dan terikat langsung pada gugus karbonil (C=O). Pada percobaan ini digunakan bahan-bahan antara lain Aseton sebagai starting material atau bahan dasar untuk pembentukan iodoform yang direaksikan dengan iod, kalium iodida sebagai starting material dan penyedia halogen berupa I2, kaporit (CaOCl2) sebagai pemberi suasana basa yang direaksikan dengan KI dan aquadest membentuk Ca(OH)2 dan I2 (Pengoksidasi I menjadi I), aquadest sebagai pelarut kaporit, pencuci hasil iodoform karena sifatnya yang tidak dapat larut dengan iodoform dan menjenuhkan kertas saring, alkohol yang berfungsi sebagai pelarut iodoform pada proses rekristalisasi. Kalium iodide ditimbang sebanyak 6 g, aquadest dan aseton diukur, kemudian dicampurkan dalam Labu Alas Bulat (LAB), lalu ditutupi dengan aluminium foil karena sifat dari aseton dan iod yang mudah menguap. I mudah menguap karena bentuknya adalah gas. Selanjutnya kaporit ditimbang 12,5 g dan digerus untuk memperkecil ukuran partikel sehingga luas permukaannya besar dan mudah larut, lalu diencerkan sampai 250 ml dan campuran kaporit dengan aquadest, pada bagian tengah diambil kemudian ditetesi ke dalam campuran KI, aquadest, dan aseton hingga tidak menimbulkan perubahan warna lagi, sambil dilakukan penggojokan ditujukan untuk memperbanyak tumbukan antara molekul-molekul sehingga semakin banyak tumbukan maka reaksi akan semakin cepat. Apabila bagian atas yang diambil akan terbentuk kloroform bukan iodoform, karena bagian atas yaitu buih merupakan gas Cl, sedangkan bagian bawah merupakan endapan kapur yang tidak larut air, nantinya apabila terambil akan menjadi pengotor. Apabila larutan kaporit yang ditambahkan masih menimbulkan perubahan warna (coklat) berarti masih terjadi reaksi (sedang bereaksi), tetapi apabila sudah tidak berubah warna (kuning) berarti sudah tidak bereaksi, setelah itu didiamkan selama kurang lebih 10 menit, dengan harapan reaksi dapat berjalan lebih optimal dan terbentuk endapan. Dalam pembentukan iodoform ini terjadi penyerangan halogen pada karbanion yang selanjutnya penyerangan nukleofilik (-OH) pada atom hidrogen alfa hingga habis pada metil keton. I- memiliki keelektronegatifan yang cenderung manarik elektron sehingga ikatan C-H mudah lepas. Langkah berikutnya LAB dimasukkan ke dalam baskom berisi es batu yang tujuannya adalah untuk pembentukan kristal, kemudian dilakukan penyaringan dengan alat corong Buchner yang luas permukaannya besar dan pompa vakum yang menyedot udara dalam labu hisap sehingga air cepat turun ke bawah. Keduanya dapat mempercepat proses penyaringan. Prinsip pemurnian kristal dimana larutan dapat larut pada suhu panas tetapi tidak larut pada suhu ruangan. Prinsip kerja dari rangkaian alat ini adalah perbedaan

tekanan udara dimana tekanan udara didalam lebih rendah daripada tekanan udara diluar. Setelah itu, dilakukan pencucian menggunakan aquadest untuk menetralkan kondisi basa karena bukan bagian dari produk yang diinginkan. Untuk mengetahui basa atau tidaknya digunakan kertas lakmus merah, jika tetap merah berarti tidak basa lagi namun jika biru berarti masih basa sehingga masih ditambah aquadest. Apabila masih dalam kondisi basa berarti mempunyai PEB yang bisa menyerang senyawa yang lebih positif sehingga dapat menyebabkan reaksi samping dan bisa mengiritasi kulit. Kemudian masuk pada proses rekristalisasi dengan alkohol panas. Prinsip rekristalisasi yaitu memurnikan zat padat yang didasarkan atas perbedaan kelarutan zat yang diinginkan dari zat pengotornya seperti KCl dan Ca(OH)2. Digunakan alkohol panas karena semakin tinggi suhu akan semakin mempercepat kelarutanya. Setelah itu, disaring kembali dengan corong Buchner panas yang sudah dipanaskan di oven, supaya tidak terjadi shock termal. Shock termal dihindari agar kristal iodoform tidak terbentuk pada penyaringnya. Filtrat berisi iodiform didinginkan dalam baskom berisi es batu yang dapat mempercepat pembentukan kristal. Kristal disaring lagi dengan corong Buchner dan pompa vakum, kemudian dikeringkan di dalam oven selanjutnya ditimbang. Setelah itu, diuji titik leburnya untuk mengetahui murni atau tidak kristal iodoform tersebut dan mengetahui bahwa setiap kristal memiliki titik lebur yang berbeda-beda. Iodoform yang diperoleh dari hasil percobaan yaitu sebanyak 0,541 g dengan % rendemen adalah 7,654 %. Iodoform yang diperoleh berwarna kuning, berbau khas dan berbentuk kristal. Pada saat diuji dengan melting point system, titik lebur yang didapati adalah 121,8oC - 122,6oC. Artinya, iodoform yang diperoleh praktikan adalah tidak murni karena titik lebur iodoform secara teoritis yaitu 119oC dalam Material Safety Data Sheet (MSDS) Iodoform. Range titik leburnya adalah , jadi 117-121oC.

Fungsi Iodoform adalah sebagai antiseptik luar dan desinfektan.

VII.

Kesimpulan

1.

Reaksi halogenasi alfa adalah reaksi penggantian atau pertukaran atom hidrogen alfa dengan suatu unsur halogen. Pada praktikum ini adalah penggantian atom hidrogen alfa pada metil keton dalam Aseton dengan I2.

2.

Massa Iodoform yang diperoleh dari hasil percobaan yaitu 0,541 g dan secara teoritis yaitu 7,06745 g.

3. 4.

% rendemen uji iodoform yang diperoleh adalah 65,11%. Titik lebur iodoform dari hasil percobaan yaitu 121,8oC - 122,6oC sedangkan secara teoritis yaitu 119oC (dari MSDS Iodofrom). Jadi, iodoform yang diperoleh adalah tidak murni.

5.

Organoleptisnya adalah warna iodoform yang kuning, berbentuk kristal dan berbau khas.

Jawaban Bahan Diskusi 1. Reaksi pembentukan iodoform antara lain: CaOCl2


+

2KI + H2O

2 KCl + I2

Ca(OH)2

Mekanisme Reaksi

2.

Kegunaan kaporit pada percobaan pembuatan iodoform adalah sebagai pemberi suasana basa yang direaksikan dengan KI dan aquadest membentuk Ca(OH)2 dan I2 (Pengoksidasi I menjadi I).

3.

Syarat yang harus dimiliki suatu senyawa agar senyawa tersebut dapat mengalami reaksi iodoform adalah memiliki hidrogen alfa yang mudah disubstitusi oleh elektrofil dan bertindak sebagai karbanion.

4.

Syarat tersebut berlaku untuk reaksi bromoform dan kloroform karena termasuk dalam unsur-unsur haloform yang dapat terbentuk bila halogen direaksikan dengan senyawa metil keton.

5.

Kegunaan iodoform dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai desinfektan dan antiseptik luar, seperti pemusnah bakteri terhadap luka-luka lecet karena membebaskan I2 dan juga sebagai pencegah keluarnya nanah dan pencegah pertumbuhan bakteri.