Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Kimia Organik

Asetaldehid

Nama NIM

: Kathrin Dian Cintika : 128114053

Kelompok : B1

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

I.

MEKANISME REAKSI I.1. REAKSI UMUM OKSIDASI ALKOHOL PRIMER MENJADI ALDEHID DAN OKSIDASI ALDEHID MENJADI ASAM KARBOKSILAT

OKSIDASI ALKOHOL SEKUNDER MENGHASILKAN KETON. KETON TIDAK BEREAKSI KETIKA DIOKSIDASI

I.2. MEKANISME REAKSI

PEMBUATAN CHROMIC ACID

REAKSI PEMBUATAN ETANOL MENJADI ETANAL

II.

DATA PENGAMATAN Penimbangan K2Cr2O7 Penimbangan dilakukan dengan cara menara kertas perkamen. Sehingga langsung didapat berat zat 7,532 g. Hasil percobaan secara teoritis

0,17 mol 0,17 mol 0 mol

0,02 mol 0,17 mol -0,15 mol

0,10 mol 0,17 mol -0,07 mol 0,17 mol 0,17 mol

(mula-mula) (reaksi) (sisa)

(perhitungan mol terinci terlampir) Pereaksi pembatas yang digunakan bukan yang memiliki mol terkecil, tetapi etanol, karena pada reaksi di atas, etanollah yang melakukan reaksi oksidasi. Kalium bikromat hanya sebagai oksidator, dan asam sulfat sebagai katalis. Dari persamaan di atas, didapat destilat berupa asetaldehida : m=0,17x44,05=7,48 g Hasil percobaan Berat erlenmeyer + destilat Berat erlenmeyer Berat destilat % rendemen Berat asetaldehid hasil percobaan x 100% Berat teoritis Organoleptis asetaldehid secara teori Mudah terbakar, mudah menguap, berbau menyengat, dapat bercampur dengan air dan alkohol, berbentuk cair. = 5,998/7,48 x 100% = 80,18% = 120,764 g = 120,764 g = (120,764 -120,764)g = 5, 998 g

Reaksi hasil pecobaan Asetaldehid + Fehling A (dipanaskan) Asetaldehid + tollens Asetaldehid + fenil hidrazon Aseton + fenil hidrazon biru jernih

terbentuk cermin perak kuning pudar kuning jernih

III. PEMBAHASAN Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenalkan reaksi pembuatan asetaldehid, memahami persamaan dan perbedaan sifat kimia asetaldehid dan keton, serta mengetahui cara melakukan destilasi. Prinsip pembuatan asetaldehid adalah reaksi oksidasi. Etanol dioksidasi menjadi asetaldehid. Asetaldehid selanjutnya dapat dioksidasi kembali menjadi asam etanoat. Dalam praktikum kali ini, yang bertindak sebagai oksidator adalah K2Cr2O7, dan yang bertindak sebagai katalis adalah H2SO4. Asam sulfat digunakan karena oksidator kalium bikromat bekerja lebih optimal pada suasana asam. Sedangkan etanol 96% bertindak sebagai agen pereduksi yang akan mengalami reaksi oksidasi menjadi asetaldehid. Pembuatan asetaldehid dimulai dengan memasukkan 7,5 g K2Cr2O7 ke dalam LAB 125 ml, kemudian ditambahkan5,5 ml larutan H2SO4 baru kemudian dimasukkan etanol 96% sebanyak 10 ml. urutan bahan yang dimasukkan ke LAB didasarkan pada berat jenis masingmasing zat. Zat yang memiliki BJ paling kecil dimasukkan terlebih dahulu, hal ini diharapkan membuat campuran yang dihasilkan itu lebih merata (homogen). Hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat melarutkan H2SO4 pekat dengan air. Sebagian air dimasukkan dulu ke dalam gelas beker, kemudian asam sulfat pekat ditambahkan sedikit demi sedikit melalui tepi dalam gelas beker, kemudian ditambahkan sisa air. Hal ini dilakukan mengingat sifat H2SO4 yang korosif dan flammable. Pelarutan juga sebaiknya dilakukan di lemari asam. Ke dalam LAB ditambahkan pula batu didih yang bermanfaat untuk meratakan pemanasan campuran. Setelah campuran siap didestilasi, LAB diletakkan di atas mantel heater yang sebelumnya sudah dipanaskan (untuk mempercepat pemanasan). Jangan lupa menaruh termometer untuk mengontrol suhu. Kemudian LAB disambungkan ke alat destilasi yang sudah dirangkai. Campuran didestilasi selama 3 jam. Destilasi adalah metode pemisahan campuran yang terdiri dari 2 atau lebih zat cair, yang didasarkan pada perbedaan titik didih. Dimana zat yang memiliki titik didih lebih rendah dibandingkan yang lain akan menguap terlebih dahulu. Uap ini akan didinginkan oleh pendingin liebig, yang akan mengkondensasikan uap tersebut sehingga diperoleh destilat (asetaldehid, dalam percobaan). Rangkaian alat destilasi diberi lem pada sambungan antar-alat untuk mencegah keluarnya uap yang dihasilkan sehingga tidak mengurangi jumlah destilat. Pada pendingin liebig, air masuk dengan selang melalui bagian bawah menuju ke atas (melawan gravitasi). Hal ini

bertujuan untuk memperkecil kemungkinan timbul gelembung udara pada air yang berputar mengalir di sepanjang pendingin liebig. Jika tidak ada gelembung, aliran air akan lancar, uap yang ditangkap pendingin maksimal, sehingga kondensasi maksimum dan menghasilkan hasil yang reprodusible (sama sepanjang proses destilasi). Pemanasan selama proses destilasi harus stabil, agar yang menguap benar-benar hanya zat yang ingin didestilasi (etanol), sehingga diperoleh destilat yang murni. Uji terhadap asetaldehid yang dilakukan dalam praktikum ini adalah uji Fehling A dan Tollens. Untuk membedakan aseton dan asetaldehid dilakukan pula uji dengan reagen Fenil Hidrazon. Secara teori fehling A yang ditambahkan ke dalam asetaldehid kemudian dipanaskan, akan menghasilkan endapan merah bata (Cu2O) karena dalam reaksi terdapat gugus O yang jika bertemu dengan gugus Cu dalam fehling (berasal dari CuSO 4) akan menghasilkan warna merah. Sedangkan asetaldehid yang ditambah dengan Tollens akan menghasilkan cermin perak (Ag) yang dihasilkan oleh bertemunya ion perak amoniakal dengan gugus asetaldehid. Aseton dan asetaldehid dapat dibedakan dengan perubahan warna (kuning) yang ditimbulkan keduanya ketika reagen fenil hidrazon ditambahkan. Dalam percobaan, asetaldehid menghasilkan warna biru jernih setelah ditambah fehling dan dipanaskan. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena destilat yang dihasilkan tidak memiliki kemurnian yang tinggi, yang disebabkan karena suhu pemanasan tidak stabil selama destilasi (kerja mantel heater kurang optimal). Sedangkan saat asetaldehid direaksikan dengan Tollens, terbentuk endapan cermin perak. Saat uji dengan fenil hidrazon, aseton menghasilkan warna kuning jernih, sedangkan asetaldehid menghasilkan warna kuning pudar. Dengan perbedaan warna ini, dapat dibedakan antara aseton dan asetaldehid. Manfaat dari praktikum kali ini adalah kita dapat mempelajari cara pembuatan asetaldehid dan cara membedakannya dengan keton. Asetaldehid adalah salah satu dari sekian banyak senyawa yang mengandung gugus karbonil. Asetaldehid banyak terdapat dalam sistem makhluk hidup, seperti pada progresteon dan gula ribosa. Asetaldehid juga digunakan sebagai zat antara dalam sintesis asam etanoat, anhidrida asetat dan senyawa lain dalam industri. Asetaldehid memiliki bau merangsang yang membedakannya dengan aseton yang umumnya berbau harum. Dengan memahami cara pembuatan dan cara membedakan asetaldehid dengan aseton, kita dapat memanfaatkan asetaldehid seefisien mungkin, yang tentu saja harus digunakan untuk tujuan yang baik.

IV. BAHAN DISKUSI 1. Oksidator lain yang dapat digunakan untuk sintesis asetaldehid adalah KMnO4/H2O, CrO3/asam asetat, CrO3/piridin dan Ag2O. 2. Persamaan dan perbedaan reaksi antara aldehid dan keton: - uji Tollens positif terhadap aldehida. Dengan uji Tollens aldehida menghasilkan cermin perak, sedangkan pada keton hasil positif ditunjukkan setelah melakukan pemanasan. - uji Fehling positif terhadap aldehida. Dengan uji Fehling aldehida membentuk endapan Cu2O berwarna merah bata. Sedangkan pada keton tidak berhasil positif. - uji fenil hidrazon menghasilkan warna kuning pudar terhadap aldehid, dan kuning jernih terhadap aseton.

V. KESIMPULAN 1. Aldehid dapat dibuat dengan reaksi oksidasi alkohol primer. Dalam praktikum ini, asetaldehid dibuat dengan mengoksidasi etanol menggunakan agen pengoksidasi kalium bikromat dalam suasana asam (asam sulfat sebagai katalis). 2. Aldehid dan keton merupakan 2 contoh senyawa yang memiliki gugus karbonil. Aldehid menghasilkan endapan merah bata Cu2O saat direaksikan dengan Fehling A. Keton tidak bereaksi terhadap fehling A karena tidak ada gugus karbonil yang bisa dioksidasi. Aldehid menghasilkan endapan cermin perak Ag saat direaksikan dengan Tollens. Sementara keton dapat menunjukkan hasil positif dengan uji Tollens setelah dilakukan pemanasan. Uji fenil hidrazon menghasilkan warna kuning pudar terhadap aldehid, dan kuning jernih terhadap aseton. 3. Destilasi adalah metode pemisahan campuran yang terdiri dari 2 atau lebih zat cair, yang didasarkan pada perbedaan titik didih. Dimana zat yang memiliki titik didih lebih rendah dibandingkan yang lain akan menguap terlebih dahulu kemudian diembunkan dan akhirnya menghasilkan destilat.