Anda di halaman 1dari 24

eukaristia semarang, jawa tengah, Indonesia paranoid, anti-social, dependent, avoidant, narcissistic, histrionic, irritable, easily offended, vindictive,

high selfishness, emotional electorate, easy to criticize, arrogant, spiteful, like to see others suffer, i love the way i am

Kamis, 29 Maret 2012


TEKNIK RELAKSASI
presented by eukaristia at 20:07

A. Asumsi Dasar Asumsi dasar yang melatarbelakangi teknik relaksasi adalah bahwa individu memiliki kecemasan-kecemasan yang timbul dari keadaan fisik maupun psikisnya, sehingga diperlukan usaha untuk menyalurkan kelebihan energi dalam dirinya melalui suatu kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan. B. Pengertian Relaksasi Relaksasi merupakan salah satu cara untuk mengistirahatkan fungsi fisik dan mental sehingga menjadi rileks (Suryani,2000). Relaksasi merupakan kegiatan untuk mengendurkan ketegangan, pertama-tama ketegangan jasmaniah yang nantinya akan berdampak pada penurunan ketegangan jiwa (Wiramihardja,2006). Menurut Thantawy (1997: 67) relaksasi adalah teknik mengatasi

kekhawatiran/kecemasan atau stress melalui pengendoran otot-otot dan syaraf, itu terjadi atau bersumber pada obyek-obyek tertentu. Relaksasi merupakan suatu kondisi istirahat pada aspek fisik dan mental manusia, sementara aspek spirit tetap aktif bekerja. Dalam keadaan relaksasi, seluruh tubuh dalam keadaan homeostatis atau seimbang, dalam keadaan tenang tapi tidak tertidur, dan seluruh otot-otot dalam keadaan rileks dengan posisi tubuh yang nyaman. Menurut pendapat Cormier dan Cormier, 1985 (Abimanyu dan Manrihu,

1996:320)Relaksasi dapat diartikan sebagai usaha untuk mengajari seseorang untuk relaks, dengan menjadikan orang itu sadar tentang perasaan-perasaan tegang dan perasaan-perasaan relaks kelompok-kelompok otot utama seperti tangan, muka, dan leher, dada, bahu, punggung, perut, dan kaki.

Relaksasi merupakan upaya sejenak untuk melupakan kecemasan dan mengistirahatkan pikiran dengan cara menyalurkan kelebihan energi atau ketegangan (psikis) melalui sesuatu kegiatan yang menyenagkan. Relaksasi dapat memutuskan pikiran-pikiran negatife yang menyertai kecemasan (Greenberg,2000). Chaplin (1975) memberi pengertian relaksasi sebagai kembalinya otot ke keadaan istirahat setelah kontraksi. Atau relaksasi merupakan suatu keadaan tegang yang rendah dengan tanpa adanya emosi yang kuat. Sedangkan menurut Hakim (2004: 41) relaksasi merupakan suatu proses pembebasan diri dari segala macam bentuk ketegangan otot maupun pikiran senetral mungkin atau tidak memikirkan apapun. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teknik relaksasi adalah salah satu bentuk terapi yang berupa pemberian instruksi kepada seseorang dalam bentuk gerakan-gerakan yang tersusun secara sistematis untuk merilekskan pikiran dan anggota tubuh seperti otot-otot dan mengembalikan kondisi dari keadaan tegang ke keadaan rileks, normal dan terkontrol, mulai dari gerakan tangan sampai kepada gerakan kaki. C. Karakteristik Relaksasi 1. Merupakan metode untuk mengembalikan tubuh dalam kondisi homeostatis sehingga konseli dapat kembali tenang. 2. Relaksasi tidak menganggap penting usaha pemecahan masalah penyebab terjadinya ketegangan melainkan menciptakan kondisi individu yang lebih nyaman dan menyenangkan D. Tujuan Relaksasi 1. Melegakan stress untuk penyakit darah tinggi, penyakit jantung, susah hendak tidur, sakit kepala disebabkan tekanan dan asma. 2. Membantu orang menjadi rileks, dan dengan demikian dapat memperbaiki berbagai aspek kesehatan fisik. 3. Membantu individu untuk dapat mengontrol diri dan memfokuskan perhatian sehingga ia dapat mengambil respon yang tepat saat berada dalam situasi yang menegangkan. E. Prinsip Relaksasi

1.

Teknik relaksasi adalah seni keterampilan dan pengetahuan, sehingga ketika seseorang berusaha meraih kesehatan lahir batinnya melalui metode relaksasi, dianjurkan untuk memahami benar, apa yang akan diupayakan dan apa yang diharapkan dari hasilnya.

2.

relaksasi dapat menjadi suatu kegiatan harian yang rutin, semakin sering dan teratur teknik relaksasi ini diterapkan maka diri konseli akan semakin rileks.

F.

Jenis-jenis Relaksasi Lichstein (1988), mengemukakan jenis-jenis teknik relaksai antara lain:

1. Autogenic Training yaitu suatu prosedur relaksasi dengan membayangkan (imagery) sensasisensasi yang meyenagkan pada bagian-bagian tubuh seperti kepala, dada, lengan, punggung, ibu jari kaki atau tangan, pantan, pergelangan tangan. Sensasi-sensasi yang dibayangkan itu sepert rasa hangat, lemas atau rileks pada bagian tubuh tertentu, juga rasa lega karena nafas yang dalam dan pelan. Sensasi yang dirasakan ini diiringi dengan imajinasi yang meyenangkan misalnya tentang pemandangan yang indah, danau, yang tenang dan sebagainya. 2. Progressive Training adalah prosedur teknik relaksasi dengan melatih otot-otot yang tegang agar lebih rileks, terasa lebih lemas dan tidak kaku. Efek yang diharapkan adalah proses neurologis akan berjalan dengan lebih baik. Karena ada beberapa pendapat yang melihat hubungan tegangan otot dengan kecemasan, maka dengan mengendurkan otot-otot yang tegang diharapkan tegangan emosi menurun dan demikian sebaliknya. 3. Meditation adalah prosedur klasik relaksasi dengan melatih konsentrasi atau perhatian pada stimulus yang monoton dan berulang (memusatkan pikiran pada kata/frase tertentu sebagai focus perhatiannya ), biasanya dilakukan dengan menutup mata sambil duduk, mengambil posisi yang pasif dan berkonsentrasi dengan pernafasan yang teratur dan dalam. Ketenangan diri dan perasaan dalam kesunyian yang tercipta pada waktu meditasi harus menyisakan suatu kesadaran diri ynag tetap terjaga, meskipun nampaknya orang yang melakukan meditasi sedang berdiam diri/terlihat pasif dan tidak bereaksi terhadap lingkungannya.Selain ketiga jenis di atas relaksasi juga dapat menggunakan media aroma, suara, cita rasa makanan, minuman, keindahan panorama alam dan air. Semua itu merupakan teknik relaksasi fisik/tubuh. Bernstein dan Borkovec,1973; Goldfried dan Davidson,1976; Walker dkk,1981 juga merumuskan relaksasi otot menjadi tiga macam tipe yaitu : 1. Relaxation via tension- Relaxation, yaitu relaksasi otot bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan dengan cara melemaskan otot-otot badan disini konseli diberitahu bahwa pada

fase menegangkan akan membantu dirinya untuk lebih menyadari sensasi yang berhubungan dengan kecemasan dan sensasi-sensasi tersebut bertindak sebagai isyarat utau tanda untuk melemaskan ketegangan. Konseli dilatih untuk melemaskan otot yang tegang dengan cepat seolah-olah mengeluarkan ketegangan dari badan sehingga konseli akan merasa rileks. Pada mulanya prosedur pelemasan otot-otot dengan cepat ini dikenalkan oleh Lazarus dan Paul (dikutip oleh Goldfried dan Davidson,1976). Otot yang dilatih adalah otot lengan, tangan, bisep, bahu, leher, wajah, perut, dan kaki. 2. Relaxation via Letting Go. Metode ini bertujuan memperdalam relaksasi konseli dilatih untuk menyadari dan merasakan rileksasi. Konseli dilatih untuk menyadari ketegangannya dan berusaha sedekat mungkin untuk mengurangi serta menghilangkan ketegangan tersebut dengan demikian, konseli akan lebih peka terhadap ketegangan dan lebih ahli dalam mengurangi ketegangan. 3. Differential Relaxation. Merupakan salah satu penerapan keterampilan relaksasi progesif. Latihan relaksasi ini dapat dilakukan dengan cara merangsang konseli untuk relaksasi yang dalam pada otot-otot yang tidak diperlukan untuk melakukan aktivitas tertentu, kemudian mengurangi ketegangan yang berlebihan pada otot-otot yang diperlukan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Latihan relakssai ini dapat dilakukan apabila subyek telah mencapai keadaan yang rileks. Latihan relaksasi deferensial yang teratur akan menghasilkan penurunan tingkat ketegangan secara umum. Hal ini akan menghasilkan berkurangnya ketegangan dan meningkatkan rasa nyaman sewaktu individu melakukan aktivitas sehari-hari. Program yang dilakukan untuk relaksasi diferensial, meliputi suatu seri latihan yang dimulai dari situasi yang hanya sendiri di ruang sunyi sampai pada situasi dengan orang lain di tempat yang ramai, dari posisi duduk sampai posisi berdiri, dari aktivitas yang sederhana sampai aktivitas yang kompleks. Dalam teknik ini konseli diberi sutu seri pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara lisan, tetapi dirasakan sesuai dengan apa yang dapat atau tidak dapat dialami oleh konseli pada waktu instruksi dilakukan. Selain itu juga ada macam relaksasi kesadaran indra yang dikembangkan oleh Goldfried yang dipelajari dari Weitzman. Dalam teknik ini konseli diberi sutu seri pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara lisan, tetapi dirasakan sesuai dengan apa yang dapat atau tidak dapat dialami oleh konseli pada waktu instruksi dilakukan. Seperti pada relaksasi otot, instruksi

relaksasi kesadaran indra juga dapat diberikan melalui tape recorder sehingga dapat digunakan untuk latihan di rumah. G. Manfaat Relaksasi Ada beberapa manfaat dari penggunaan teknik relaksasi. Burn (dikutip oleh Beech dkk, 1982) melaporkan beberapa keuntungan yang diperoleh dari latihan relaksasi, antara lain: 4. Relaksasi akan membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan karena adanya stress. 5. Masalah-masalah yang berhubungan dengan stress seperti hipertensi, sakit kepala, insomnia dapat dikurangi atau diobati dengan relaksasi. 6. 7. Mengurangi tingkat kecemasan. Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress dan mengontrol anticipatory anxiety sebelum situasi yang menimbulkan kecemasan, seperti pada pertemuan penting, wawancara atau sebagainya. 8. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku tertentu dapat lebih sering terjadi selama periode stress, misalnya naiknya jumlah rokok yang dihisap, konsumsi alkohol, pemakaian obat-obatan, dan makanan yang berlebih-lebihan. 9. 10. Meningkatkan penampilan kerja, sosial, dan penampilan fisik. Kelelahan, aktivitas mental dan atau latihan fisik yang tertunda dapat diatasi dengan menggunakan ketrampilan relaksasi. 11. Kesadaran diri tentang keadaan fisiologis seseorang dapat meningkat sebagai hasil dari relaksasi, sehingga memungkinkan individu untuk menggunakan ketrampilan relaksasi untuk timbulnya rangsangan fisiologis. 12. Relaksasi merupakan bantuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu dalam operasi, seperti pada persalinan yang alami, relaksasi tidak hanya mengurangi kecemasan tetapi juga memudahkan pergerakan bayi melalui cervix. 13. Konsekuensi fisiologis yang penting dari relaksasi adalah bahwa tingkat harga diri dan keyakinan diri individu meningkat sebagai hasil kontrol yang meningkat terhadap reaksi stress. 14. Meningkatkan hubungan antar personal. Menurut Welker, dkk, dalam Karyono,1994; penggunaan teknik relaksasi memiliki beberapa manfaat sebagai berikut: 1. Memberikan ketenangan batin bagi individu.

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Mengurangi rasa cemas, khawatir dan gelisah. Mengurangi tekanan dan ketegangan jiwa. Mengurangi tekanan darah, detak jantung jadi lebih rendah dan tidur menjadi nyenyak. Memberikan ketahanan yang lebih kuat terhadap penyakit. Kesehatan mental dan daya ingat menjadi lebih baik. Meningkatkan daya berfikir logis, kreativitas dan rasa optimis atau keyakinan. Meningkatkan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. bermanfaat untuk penderita neurosis ringan, insomnia, perasaan lelah dan tidak enak badan. Mengurangi hiperaktif pada anak-anak, dapat mengontrol gagap, mengurangi merokok, mengurangi phobia, dan mengurangi rasa sakit sewaktu gangguan pada saat menstruasi serta dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi ringan. Terapi relaksasi dilakukan untuk mencegah dan mengurangi ketegangan pikiran dan otot - otot akibat stres karena ketegangan dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh. Bila ketegangan terjadi maka tubuh akan menjadi lemah dan akibatnya tubuh tidak dapat melakukan fungsinya secara optimal. Relaksasi penting apabila anda mempunyai gejala seperti berikut:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Berdebar-debar. Sakit kepala. Berpeluh. Susah untuk bernafas. Paras glukos darah yang tidak terkawal. Keadaan badan yang tidak selesa seperti ketidakcernaan,sembelit dan kegelisahan. Kepenatan atau susah hendak tidur. Ketegangan otot terutama otot ditengkuk dan otot bahu. Susah untuk memberi tumpuan dan mudah risau.

10. Kurang sabar, mudah tersinggung dan cepat marah. 11. Hilang selera makan atau makan berlebihan. 12. Hilang minat terhadap seks. H. Kelebihan dan Kekurangan Relaksasi 1. a. b. Kelebihan Konseli menjadi tidak merasa tegang dan tertekan dengan penggunaan teknik ini. Tidak memerlukan model atau media.

2. a.

Kekurangan Pelaksanaan teknik relaksasi memerlukan waktu yang relative lama (karena dilakukan berulangulang atau tidak hanya sekali).

b. c.

Pelaksanaanya membutuhkan tempat yang kondusif (nyaman dan tenang). Konseli yang kurang bisa memfokuskan pikiran atau konsentrasinya dapat menghambat pelaksaan teknik relaksasi.

d.

Membutuhkan sarana dan prasarana yang cukup banyak. Selain itu, menurut Nadjamuddin keterbatasan dalam pelaksanaan relaksasi antara lain disebabkan karena adanya faktor:

a.

Faktor teknis ini meliputi kurang terampilnya instruktur dalam memberikan instruksi, sehingga kesannya kaku; media yang digunakan dalam relaksasi kurang begitu diperhatikan; kondisi ruangan kurang diperhatikan.

b.

Faktor dari Dalam Diri. Konseli kurang bisa mengontrol diri; konseli salah kostum; konseli mengutamakan nilai pribadinya.

c.

Faktor dari Masalah Konseli itu Sendiri. Beratnya masalah yang dihadapi konseli itu membuatnya dikuasai masalah tersebut padahal seharusnya dia harus mampu menguasai masalah tersebut. Meskipun dia sudah beberapa kali diterapi kurang menunjukkan perubahan yang lebih baik.

I.

Tahap-tahap atau Langkah-langkah Relaksasi Dalam menerapkan teknik relaksasi kita perlu mempertimbangkan beberapa persiapan yang harus diperhatikan seperti setting lingkungan yang tenang atau tidak mengganggu, pakaian yang longgar atau tidak mengikat, perut yang tidak sedang kelaparan atau kekenyangan, serta tempat yang nyaman dan tepat untuk mengambil posisi tubuh. Bisa pula ditambahkan aromatherapy dan alunan musik klasik dalam pelaksanaan teknik relaksasi. Untuk dapat melakukan teknik relaksasi secara efektif, konseli harus terlebih dahulu mengenal secara baik bagian-bagian dari tubuhnya. Tubuh adalah satu kesatuan system unik yang terdiri dari beberapa sub-sistem seperti system pencernaan, system pernafasan, system saraf, system rangka, dan sebagainya. Posisi atau postur untuk relaksasi bebas, dapat dengan duduk di lantai atau kursi, berdiri auatupun berbaring yang penting dapat membawa konseli ke keadaan rileks atau istirahat serta berguna untuk memperbaiki postur tubuh yang salah.

Secara umum pelasanaan relaksasi

atau penenangan dilakukan dengan cara

mengendurkan urat-urat seluruh bagian badan secara berangsur-angsur sehingga tidak ada lagi bagian tubuh yang kejang atau kaku. 1. a. Persiapan lingkungan Fisik Kondisi Ruangan. Ruang yang digunakan untuk latihan relaksasi harus tenang, segar, nyaman, dan cukup penerangan sehingga memudahkan konseli untuk berkonsentrasi. b. Kursi. Dalam relaksasi perlu digunakan kursi yang dapat memudahkan individu untuk menggerakkan otot dengan konsentrasi penuh; seperti menggunakan kursi malas, sofa, kursi yang ada sandarannya atau mungkin dapat dilakukan dengan berbaring di tempat tidur. c. Pakaian. Saat latihan relaksasi sebaiknya digunakan pakaian yang longgar dan hal-hal yang mengganggu jalannya relaksasi (kacamata, jam tangan, gelang, sepatu, ikat pingga) dilepas dulu.

2. a.

Lingkungan yang ada dalam Diri Konseli. Individu harus mengetahui bahwa: Latihan relaksasi merupakan suatu ketrampilan yang perlu dipelajari dalam waktu yang relatif lama dan individu harus disiplin serta teratur dalam melaksanakannya.

b.

Selama frase permulaan latihan relaksasi dapat dilakukan paling sedikit 30 menit setiap hari, selama frase tengah dan lanjut dapat dilakukan selama 15-20 menit, dua atau tiga kali dalam seminggu. Jumlah sesion tergabtung pada keadaan individu dan stress yang dialaminya.

c.

Ketika latihan relaksasi kita harus mengamati bahwa bermacam-macam kelompok otot secara sistematis tegang dan rileks.

d.

Dalam melakukan latihan relaksasi individu harus dapat membedakan perasaan tegang dan rileks pada otot-ototnya.

e.

Setelah suatu kelompok otot rileks penuh, bila individu mengalami ketidakenakan ketidakenakan, sebaiknya kelompok otot tersebut tidak digerakkan meskipun individu mungkin merasa bebas bergerak posisinya.

f.

Saat relaksasi mungkin individu mengalami perasaan yang tidak umum, misalnya gatal pada jarijari, sensasi yang mengambang di udara, perasaan berat pada bagian-bagian badan, kontraksi otot yang tiba-tiba dan sebagainya, maka tidak perlu takut; karena sensasi ini merupakan petunjuk adanya relaksasi. Akan tetapi jika perasaan tersebut masih mengganggu proses relaksasi maka

dapat diatasi dengan membuka mata, bernafas sedikit dalam dan pelan-pelan, mengkontraksikan seluruh badan kecuali relaksasi dapat diulangi lagi. g. Waktu relaksasi individu tidak perlu takut kehilangan kontrol karena ia tetap berada dalam kontrol yang dasar. h. i. Kemampuan untuk rileks dapat bervariasi dari hari ke hari. Relaksasi akan lebih efektif apabila dilakukan sebagai metode kontrol diri. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penerapan teknik relaksasi adalah: a. b. c. d. e. f. g. J. Rasional. Instruksi tentang pakaian. Menciptakan lingkungan yang aman. Konselor memberi contoh latihan relaksasi itu. Intruksi-instruksi untuk relaksasi. Penilaian setelah latihan. Pekerjaan rumah dan tindak lanjut. Relevansi Relaksasi Relevansi dalam teknik relaksasi adalah kesesuaian atau kecocokan (kaitan antara penggunaan teknik itu) dengan perilaku atau masalah individu, misalnya seseorang yang mengalami ketegangan dan kecemasan yang berat kemudian diberikan relaksasi maka ketegangan dan kecemasan yang dialami tersebut akan berkurang, sehingga individu tersebut akan merasa lebih rileks, tenang, dan mampu berfikir secara jernih. K. Verbatim Teknik Relaksasi Ki Ko Ki Ko Ki Ko Ki Ko Ki : Assalamualikum... : waalaikumsalam.., Oh.. Ana, Silahkan masuk dan silahkan duduk : Iya bu, terima kasih : Bagaimana kabar kamu hari ini? : Alhamdulillah baik Bu, Ibu sendiri bagaimana? : Ibu juga baik, kemarin bukannya kamu ikut lomba cerdas cermat? : Iya Bu, saya dipilih untuk mewakili sekolah ini bu di lomba cerdas cermat. : Hmm..., Gimana acaranya? Menyenangkan atau menegangkan? : Senang Bu, disana saya bertemu dengan teman-teman saya di SMP dulu.

Ko

: Syukurlah kalau begitu.Tapi kenapa wajah kamu terlihat sedih? Apa ada suatu hal yang ingin kamu bicarakan dengan ibu?

Ki Ko Ki Ko Ki

: Itulah bu, kenapa saya menemui ibu. Saya bingung bu harus bagaimana... : Bingung bagaimana? : saya kesal dengan sikap teman saya bu, dia selalu mencotek tugas saya : bisa kah kamu menceritakan lebih lanjut tentang masalah kamu? : Jadi begini bu, saya memiliki seorang teman, dan teman saya itu selalu mencotek tugas saya, setiap kali mendapatkan tugas dia selalu saja melihat tugas saya, dan dia itu bukan hanya melihat tugas saya saja, melainkan tugas teman-teman yang lain.

Ko Ki

: hmm.., jadi teman anda itu selalu memcontek tugas anda dan teman anda yang lain? : benar bu, Coba ibu bayangkan saya yang sudah capek mengerjakan tugas selalu saja kalah saing dengan dia yang hanya mencontek.

Ko Ki

: berarti selama ini nilai dia lebih banyak dibanding anda? : iya bu, saya marah, gondok banget sama dia..., seandainya saja saya berani saya pengin memukul-mukul dia bu, menjambak rambutnya, dan memarainya habis-habisan (sambil terengah-engah)

Ko

: sabar..sabar, ibu tau perasan kamu, sekarang atur dulu emosi kamu, lihat saking marahnya tubuhmu sampai berkeringat seperti itu. Sekarang tarik nafas pelan-pelan dan keluarkan agar kamu bisa relaks dalam bercerita

Ki Ko Ki Ko

: baik bu...(relaksasi) : sekarang bagaimana? Sudah cukup tenang? : sudah bu.., : baiklah lanjutkan cerita kamu

Daftar pustaka: 1. Jones, Richard Nelson. 2011. Teori dan Praktik Konseling dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

2. 3.

Komalasari, G. et al. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks Fauzan, Lutfi. 2009. Konseptual Tentang Desensitisasi Sistematisi. Online

http://lutfifauzan.wordpress.com/2009/08/09/kontrak-perilaku/ [accessed 16/11/2011] A. Pengertian Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer & Bare, 2002). B. Tujuan Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi napas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan. C. Prosedur teknik relaksasi napas dalam menurut Priharjo (2003) Bentuk pernapasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernapasan diafragma yang mengacu pada pendataran kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi. Adapun langkah-langkah teknik relaksasi napas dalam adalah sebagai berikut : 1) Ciptakan lingkungan yang tenang 2) Usahakan tetap rileks dan tenang 3) Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3 4) Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan bawah rileks 5) Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali 6) Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan 7) Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks 8) Usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil terpejam 9) Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri 10) Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang 11) Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali. 12) Bila nyeri menjadi hebat, seseorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat. D. Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri Teknik relaksasi napas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu : 1) Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic. 2) Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorphin dan enkefalin (Smeltzer & Bare, 2002) 3) Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat

Relaksasi melibatkan sistem otot dan respirasi dan tidak membutuhkan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu. Prinsip yang mendasari penurunan nyeri oleh teknik relaksasi terletak pada fisiologi sistem syaraf otonom yang merupakan bagian dari sistem syaraf perifer yang mempertahankan homeostatis lingkungan internal individu. Pada saat terjadi pelepasan mediator kimia seperti bradikinin, prostaglandin dan substansi, akan merangsang syaraf simpatis sehingga menyebabkan vasokostriksi yang akhirnya meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah, mengurangi aliran darah dan meningkatkan kecepatan metabolisme otot yang menimbulkan pengiriman impuls nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri. DAFTAR PUSTAKA Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan medikal bedah. Edisi 8 Vol.1. Alih Bahasa : Agung waluyo. Jakarta. EGC. Priharjo, R. (2003). Perawatan nyeri. Jakarta. EGC. TEKNIK RELAKSASI Makalah Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktek Teknik Konseling yang dibimbing oleh Bapak Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd Oleh : 1. Romia Hari Susanti 107111406844 2. Santy Andrianie 107111406846 3. Layla Desmara P 107111409859 JURUSAN BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS NEGERI MALANG OKTOBER 2009 TEKNIK RELAKSASI (RELAXATION) A. KONSEP TEKNIK RELAKSASI Kata kunci: 1. Relaksasi dirintis oleh Edmund Jacobson (1929), dengan berpedoman bahwa pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan berada dalam peripheral musculature. 2. Relaksasi dipakai untuk mengatasi ketegangan dan kecemasan serta mengurangi stress. 3. Relakasasi merupakaunan ketegangan keadaan jiwa yang seimbang.

B. PENGERTIAN TEKNIK RELAKSASI Ada beberapa pengertian mengenai relaksasi, yaitu: 1. Relaksasi merupakan salah satu cara untuk mengistirahatkan fungsi fisik dan mental sehingga menjadi rileks (Suryani,2000) 2. Relaksasi merupakan kegiatan untuk mengendurkan ketegangan, pertama-tama ketegangan jasmaniah yang nantinya akan berdampak pada penurunan ketegangan jiwa (Wiramihardja,2006) 3. Relaksasi merupakan upaya sejenak untuk melupakan kecemasan dan mengistirahatkan pikiran dengan cara menyalurkan kelebihan energi atau ketegangan (psikis) melalui sesuatu kegiatan yang menyenagkan 4. Relaksasi dapat memutuskan pikiran-pikiran negatife yang menyertai kecemasan (Greenberg,2000) 5. Chaplin (1975) memberi pengertian relaksasi sebagai kembalinya otot ke keadaan istirahat setelah kontraksi. Atau relaksasi merupakan suatu keadaan tegang yang rendah dengan tanpa adanya emosi yang kuat. C. KARAKTERISTIK TEKNIK RELAKSASI 1. Merupakan metode untuk mengembalikan tubuh dalam kondisi homeostatis sehingga konseli dapat kembali tenang. 2. Relaksasi tidak menganggap penting usaha pemecahan masalah penyebab terjadinya ketegangan melainkan menciptakan kondisi individu yang lebih nyaman dan menyenangkan D. TUJUAN TEKNIK RELAKSASI 1. Tujuan pokok relaksasi adalah membantu orang menjadi rileks, dan dengan demikian dapat memperbaiki berbagai aspek kesehatan fisik. 2. Membantu individu untuk dapat mengontrol diri dan memfokuskan perhatian sehingga ia dapat mengambil respon yang tepat saat berada dalam situasi yang menegangkan. E. JENIS-JENIS TEKNIK RELAKSASI Lichstein (1988), mengemukakan jenis-jenis teknik relaksai antara lain: 1. Autogenic Training Yaitu suatu prosedur relaksasi dengan membayangkan (imagery) sensasi-sensasi yang meyenagkan pada bagian-bagian tubuh seperti kepala, dada, lengan, punggung, ibu jari kaki atau tangan, pantan, pergelangan tangan. Sensasi-sensasi yang dibayangkan itu sepert rasa hangat, lemas atau rileks pada bagian tubuh tertentu, juga rasa lega karena nafas yang dalam dan pelan. Sensasi yang dirasakan ini diiringi dengan imajinasi yang meyenangkan misalnya tentang pemandangan yang indah, danau, yang tenang dan sebagainya. 2. Progressive Training Adalah prosedur teknik relaksasi dengan melatih otot-otot yang tegang agar lebih rileks, terasa lebih lemas dan tidak kaku. Efek yang diharapkan adalah proses neurologis akan berjalan dengan lebih baik. Karena ada beberapa pendapat yang melihat hubungan tegangan otot dengan kecemasan, maka dengan mengendurkan otot-otot yang tegang diharapkan tegangan emosi menurun dan demikian sebaliknya. 3. Meditation Adalah prosedur klasik relaksasi dengan melatih konsentrasi atau perhatian pada stimulus yang monoton dan berulang (memusatkan pikiran pada kata/frase tertentu sebagai focus perhatiannya ), biasanya dilakukan dengan menutup mata sambil duduk, mengambil posisi yang pasif dan

berkonsentrasi dengan pernafasan yang teratur dan dalam. Ketenangan diri dan perasaan dalam kesunyian yang tercipta pada waktu meditasi harus menyisakan suatu kesadaran diri ynag tetap terjaga, meskipun nampaknya orang yang melakukan meditasi sedang berdiam diri/terlihat pasif dan tidak bereaksi terhadap lingkungannya. Selain ketiga jenis di atas relaksasi juga dapat menggunakan media aroma, suara, cita rasa makanan, minuman, keindahan panorama alam dan air. Semua itu merupakan teknik relaksasi fisik/tubuh. Bernstein dan Borkovec,1973; Goldfried dan Davidson,1976; Walker dkk,1981 juga merumuskan relaksasi otot menjadi tiga macam tipe yaitu : 1. Relaxation via tension- Relaxation Relaksasi otot bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan dengan cara melemaskan otot-oto badan. Dalam metode ini konseli diminta untuk menegangkan dan melemaskan masing-masing otot, kamudian diminta untuk merasakan dan menikmati perbedaan antara ketika otot tegang dan ketika otot lemas. Di sini konseli diberitahu bahwa pada fase menegangkan akan membantu dirinya untuk lebih menyadari sensasi yang berhubungan dengan kecemasan dan sensasi-sensasi tersebut bertindak sebagai isyarat utau tanda untuk melemaskan ketegangan. Konseli dilatih untuk melemaskan otot yang tegang dengan cepat seolah-olah mengeluarkan ketegangan dari badan sehingga konseli akan merasa rileks. Pada mulanya prosedur pelemasan otot-otot dengan cepat ini dikenalkan oleh Lazarus dan Paul (dikutip oleh Goldfried dan Davidson,1976). Otot yang dilatih adalah otot lengan, tangan, bisep, bahu, leher, wajah, perut, dan kaki. 2. Relaxation via Letting Go Metode ini bertujuan untuk memperdalam relaksasi. Setelah konseli berlatih relaksasi pada semua kelompok otot tubuhnya, maka langkah selanjutnya adalah latihan relaxation via letting go. Pada fase ini konseli dilatih untuk menyadari dan merasakan rileksasi. Konseli dilatih untuk menyadari ketegangannya dan berusaha sedekat mungkin untuk mengurangi serta menghilangkan ketegangan tersebut dengan demikian, konseli akan lebih peka terhadap ketegangan dan lebih ahli dalam mengurangi ketegangan. 3. Differential Relaxation Relaksasi differential merupakan salah satu penerapan keterampilan relaksasi progesif. Latihan relaksasi ini dapat dilakukan dengan cara merangsang konseli untuk relaksasi yang dalam pada otot-otot yang tidak diperlukan untuk melakukan aktivitas tertentu, kemudian mengurangi ketegangan yang berlebihan pada otot-otot yang diperlukan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Latihan relakssai ini dapat dilakukan apabila subyek telah mencapai keadaan yang rileks. Latihan relaksasi deferensial yang teratur akan menghasilkan penurunan tingkat ketegangan secara umum. Hal ini akan menghasilkan berkurangnya ketegangan dan meningkatkan rasa nyaman sewaktu individu melakukan aktivitas sehari-hari. Program yang dilakukan untuk relaksasi diferensial, meliputi suatu seri latihan yang dimulai dari situasi yang hanya sendiri di ruang sunyi sampai pada situasi dengan orang lain di tempat yang ramai, dari posisi duduk sampai posisi berdiri, dari aktivitas yang sederhana sampai aktivitas yang kompleks. Selain itu juga ada macam relaksasi kesadaran indra yang dikembangkan oleh Goldfried yang dipelajari dari Weitzman. Dalam teknik ini konseli diberi sutu seri pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara lisan, tetapi dirasakan sesuai dengan apa yang dapat atau tidak dapat dialami oleh konseli pada waktu instruksi dilakukan. Seperti pada relaksasi otot, instruksi relaksasi kesadaran

indra juga dapat diberikan melalui tape recorder sehingga dapat digunakan untuk latihan di rumah. F. ASUMSI TEKNIK RELAKSASI Asumsi dasar yang melatarbelakangi teknik relaksasi adalah bahwa individu memiliki kecemasan-kecemasan yang timbul dari keadaan fisik maupun psikisnya, sehingga diperlukan usaha untuk menyalurkan kelebihan energi dalam dirinya melalui suatu kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan. G. RELEVANSI TEKNIK RELAKSASI Relevansi dalam teknik relaksasi adalah kesesuaian atau kecocokan (kaitan antara penggunaan teknik itu) dengan perilaku atau masalah individu, misalnya seseorang yang mengalami ketegangan dan kecemasan yang berat kemudian diberikan relaksasi maka ketegangan dan kecemasan yang dialami tersebut akan berkurang, sehingga individu tersebut akan merasa lebih rileks, tenang, dan mampu berfikir secara jernih. H. PRINSIP TEKNIK RELAKSASI 1. Teknik relaksasi adalah seni keterampilan dan pengetahuan, sehingga ketika seseorang berusaha meraih kesehatan lahir batinnya melalui metode relaksasi, dianjurkan untuk memahami benar, apa yang akan diupayakan dan apa yang diharapkan dari hasilnya. 2. relaksasi dapat menjadi suatu kegiatan harian yang rutin, semakin sering dan teratur teknik relaksasi ini diterapkan maka diri konseli akan semakin rileks. I. MANFAAT TEKNIK RELAKSASI Ada beberapa manfaat dari penggunaan teknik relaksasi, menurut Welker,dkk,dalam Karyono,1994; penggunaan teknik relaksasi memiliki beberapa manfaat sebagai berikut: 1. Memberikan ketenangan batin bagi individu 2. Mengurangi rasa cemas, khawatir dan gelisah 3. Mengurangi tekanan dan ketegangan jiwa 4. Mengurangi tekanan darah, detak jantung jadi lebih rendah dan tidur menjadi nyenyak 5. Memberikan ketahanan yang lebih kuat terhadap penyakit 6. Kesehatan mental dan daya ingat menjadi lebih baik 7. Meningkatkan daya berfikir logis, kreativitas dan rasa optimis atau keyakinan 8. Meningkatkan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain 9. bermanfaat untuk penderita neurosis ringan, insomnia, perasaan lelah dan tidak enak badan 10. Mengurangi hiperaktif pada anak-anak, dapat mengontrol gagap, mengurangi merokok, mengurangi phobia, dan mengurangi rasa sakit sewaktu gangguan pada saat menstruasi serta dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi ringan. Sedangkan Burn (dikutip oleh Beech dkk, 1982) melaporkan beberapa keuntungan yang diperoleh dari latihan relaksasi, antara lain: 1. Relaksasi akan membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan karena adanya stress 2. Masalah-masalah yang berhubungan dengan stress seperti hipertensi, sakit kepala, insomnia dapat dikurangi atau diobati dengan relaksasi 3. Mengurangi tingkat kecemasan 4. Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress dan mengontrol

anticipatory anxiety sebelum situasi yang menimbulkan kecemasan, seperti pada pertemuan penting, wawancara atau sebagainya 5. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku tertentu dapat lebih sering terjadi selama periode stress, misalnya naiknya jumlah rokok yang dihisap, konsumsi alkohol, pemakaian obat-obatan, dan makanan yang berlebih-lebihan 6. Meningkatkan penampilan kerja, sosial, dan penampilan fisik 7. Kelelahan, aktivitas mental dan atau latihan fisik yang tertunda dapat diatasi dengan menggunakan ketrampilan relaksasi 8. Kesadaran diri tentang keadaan fisiologis seseorang dapat meningkat sebagai hasil dari relaksasi, sehingga memungkinkan individu untuk menggunakan ketrampilan relaksasi untuk timbulnya rangsangan fisiologis 9. Relaksasi merupakan bantuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu dalam operasi, seperti pada persalinan yang alami, relaksasi tidak hanya mengurangi kecemasan tetapi juga memudahkan pergerakan bayi melalui cervix 10. Konsekuensi fisiologis yang penting dari relaksasi adalah bahwa tingkat harga diri dan keyakinan diri individu meningkat sebagai hasil kontrol yang meningkat terhadap reaksi stress 11. Meningkatkan hubungan antar personal J. KENDALA PENGGUNAAN TEKNIK RELAKSASI 1. Pelaksanaan teknik relaksasi memerlukan waktu yang relative lama (karena dilakukan berulang-ulang atau tidak hanya sekali) 2. Pelaksanaanya membutuhkan tempat yang kondusif (nyaman dan tenang) 3. Konseli yang kurang bisa memfokuskan pikiran atau konsentrasinya dapat menghambat pelaksaan teknik relaksasi 4. Membutuhkan sarana dan prasarana yang cukup banyak Selain itu, menurut Nadjamuddin keterbatasan dalam pelaksanaan relaksasi antara lain disebabkan karena adanya faktor: 1. Faktor Teknis Faktor teknis ini meliputi kurang terampilnya instruktur dalam memberikan instruksi, sehingga kesannya kaku; media yang digunakan dalam relaksasi kurang begitu diperhatikan; kondisi ruangan kurang diperhatikan. 2. Faktor dari Dalam Diri Konseli Konseli kurang bisa mengontrol diri; konseli salah kostum; konseli mengutamakan nilai pribadinya 3. Faktor dari Masalah Konseli itu Sendiri Beratnya masalah yang dihadapi konseli itu membuatnya dikuasai masalah tersebut padahal seharusnya dia harus mampu menguasai masalah tersebut. Meskipun dia sudah beberapa kali diterapi kurang menunjukkan perubahan yang lebih baik. K. PROSEDUR APLIKASI TEKNIK RELAKSASI Dalam menerapkan teknik relaksasi kita perlu mempertimbangkan beberapa persiapan yang harus diperhatikan seperti setting lingkungan yang tenang atau tidak mengganggu, pakaian yang longgar atau tidak mengikat, perut yang tidak sedang kelaparan atau kekenyangan, serta tempat yang nyaman dan tepat untuk mengambil posisi tubuh. Bisa pula ditambahkan aromatherapy dan alunan musik klasik dalam pelaksanaan teknik relaksasi.

Untuk dapat melakukan teknik relaksasi secara efektif, konseli harus terlebih dahulu mengenal secara baik bagian-bagian dari tubuhnya. Tubuh adalah satu kesatuan system unik yang terdiri dari beberapa sub-sistem seperti system pencernaan, system pernafasan, system saraf, system rangka, dan sebagainya. Posisi atau postur untuk relaksasi bebas, dapat dengan duduk di lantai atau kursi, berdiri auatupun berbaring yang penting dapat membawa konseli ke keadaan rileks atau istirahat serta berguna untuk memperbaiki postur tubuh yang salah. Persiapan-persiapan yang perlu dilakukan sebelum menerapkan teknik relaksasi antara lain: 1. Lingkungan Fisik a. Kondisi Ruangan Ruang yang digunakan untuk latihan relaksasi harus tenang, segar, nyaman, dan cukup penerangan sehingga memudahkan konseli untuk berkonsentrasi. b. Kursi Dalam relaksasi perlu digunakan kursi yang dapat memudahkan individu untuk menggerakkan otot dengan konsentrasi penuh; seperti menggunakan kursi malas, sofa, kursi yang ada sandarannya atau mungkin dapat dilakukan dengan berbaring di tempat tidur c. Pakaian Saat latihan relaksasi sebaiknya digunakan pakaian yang longgar dan hal-hal yang mengganggu jalannya relaksasi (kacamata, jam tangan, gelang, sepatu, ikat pingga) dilepas dulu. 2. Lingkungan yang ada dalam Diri Konseli Individu harus mengetahui bahwa: a. Latihan relaksasi merupakan suatu ketrampilan yang perlu dipelajari dalam waktu yang relatif lama dan individu harus disiplin serta teratur dalam melaksanakannya b. Selama frase permulaan latihan relaksasi dapat dilakukan paling sedikit 30 menit setiap hari, selama frase tengah dan lanjut dapat dilakukan selama 15-20 menit, dua atau tiga kali dalam seminggu. Jumlah sesion tergabtung pada keadaan individu dan stress yang dialaminya c. Ketika latihan relaksasi kita harus mengamati bahwa bermacam-macam kelompok otot secara sistematis tegang dan rileks d. Dalam melakukan latihan relaksasi individu harus dapat membedakan perasaan tegang dan rileks pada otot-ototnya e. Setelah suatu kelompok otot rileks penuh, bila individu mengalami ketidakenakan ketidakenakan, sebaiknya kelompok otot tersebut tidak digerakkan meskipun individu mungkin merasa bebas bergerak posisinya f. Saat relaksasi mungkin individu mengalami perasaan yang tidak umum, misalnya gatal pada jari-jari, sensasi yang mengambang di udara, perasaan berat pada bagian-bagian badan, kontraksi otot yang tiba-tiba dan sebagainya, maka tidak perlu takut; karena sensasi ini merupakan petunjuk adanya relaksasi. Akan tetapi jika perasaan tersebut masih mengganggu proses relaksasi maka dapat diatasi dengan membuka mata, bernafas sedikit dalam dan pelan-pelan, mengkontraksikan seluruh badan kecuali relaksasi dapat diulangi lagi. g. Waktu relaksasi individu tidak perlu takut kehilangan kontrol karena ia tetap berada dalam kontrol yang dasar h. Kemampuan untuk rileks dapat bervariasi dari hari ke hari i. Relaksasi akan lebih efektif apabila dilakukan sebagai metode kontrol diri

Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penerapan teknik relaksasi adalah: a. Rasional b. Instruksi tentang Pakaian c. Menciptakan Lingkungan yang Aman d. Konselor Memberi Contoh Latihan Relaksasi itu e. Intruksi-instruksi untuk Relaksasi f. Penilaian setelah Latihan g. Pekerjaan Rumah dan Tindak Lanjut APLIKASI TEKNIK RELAKSASI 1. Identitas Layanan a. Fungsi : pemahaman dan perbaikan b. Jenis Layanan : konseling individu c. Masalah : menangani rasa tegang d. Sumber atau Media : inventori skala sikap e. Waktu : 245 menit 2. Identitas Klien a. Nama : Tita Surya Indah b. Kelas : XII-IPA 1 c. Tempat, tanggal lahir : Madura, 29 Februari 1988 d. Jenis Kelamin : perempuan e. Alamat : Jln. Semua Girang No. 33, Madura f. Anak ke- : 1 dari 5 bersaudara 3. Wawancara Awal Tita (fiktif) adalah siswa kelas SMU, dia sekarang duduk di kelas 3 jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Aktivitas sehari-harinya menuntut dia untuk bergerak cepat dalam segala hal, karena aktivitasnya yang sangat padat dan waktu yang terbatas. Setiap harinya Tita harus berangkat ke sekolah pukul 06.45 dan pulang pukul 14.00. bahkan jika ada tambahan pelajaran Tita harus pulang sampai pukul 16.00. Banyaknya tugas yang harus Tita hadapi membuatnya terkesan tegang dalam melakukan aktivitas sehari-harinya. Selain itu, Tita juga dihadapkan pada Ujian Akhir Nasional. Tita merasa bahwa waktu 24 jam satu hari tidak cukup untuk belajar dan menyelesaikan tugas. Bagi Tita, tidak ada waktu luang untuk bersantai-santai dan memanjakan diri, serta pikirannya selalu dipenuhi dengan tugas-tugas sekolahnya. Tita juga menjadi kurang memperhatikan kebutuhan tubuh untuk istirahat karena dia selalu memaksakan dirinya untuk terus mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang sangat menumpuk tanpa jeda waktu untuk beristirahat. Di hadapan teman-temannya, Tita dikenal sebagai pribadi yang sangat serius dan kaku. Bahkan Tita juga merasa kalau dirinya semakin menarik diri dari interaksi dengan temantemannya karena Tita lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama buku-buku dan tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk. Hal ini memang disadari oleh Tita bahwa dirinya sangat tegang dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari. 4. Kompetensi a. Standar Kompetensi Mampu mengembangkan pola hidup berdasarkan nilai-nilai keselarasan, kesehatan rohani, dan kebugaran jasmani. b. Kompetensi Dasar

Konseli mampu mengatasi ketegangan (nervous) yang berlebihan pada dirinya c. Indikator Keberhasilan Konseli mampu menunjukkan perilau rileks pada saat mengalami ketegangan (nervous) yang berlebihan 5. Orientasi Teknik : Relaksasi Otot 6. Prosedur Pelaksanaan a. Konselor memberikan rasional kepada konseli mengenai penggunaan relaksasi b. Konselor menyiapkan relaksasi melalui penjelasan secara rinci tentang ruangan dan kenyamanan konseli c. Konselor mulai memberi contoh relaksasi otot untuk konseli. Contoh ini menunjukkan pada konseli untuk bagaimana melakukan relaksasi otot dan memungkinkan konseli dapat mengurangi rasa malunya. d. Konselor memberikan informasi lebih lanjut tentang relaksasi otot , mendiskripsikan sensasisensasi yang mungkin dirasakan konseli dan mengecek apakah konseli telah mengerti prosedur relaksasi ini sebelum berlanjut. e. Konselor meneruskan instruksi-instruksi untuk secara bergantian menegangkan dan merilekskan setiap 17 kelompok otot. f. Konselor melakukan penilaian terhadap hasil latihan, dengan menanyakan session pertama dari latihan relaksasi itu, masalah-masalah apa yang dialami dan sebagainya. g. Konselor memberi tugas pekerjaan rumah, mencatatnya dalam buku, dan merencanakan pertemuan lanjutan Skenario Relaksasi Otot Prosedur 1 Konseli : (toktoktok) Assalamualaikum Konselor : Waalaikumsalam (sambil membereskan pekerjaannya, lalu berdiri dan menghampiri Konseli) Mari silahkan masuk Konseli : Terima kasih bu Konselor : Silahkan duduk. (setelah konseli duduk) Bagaimana perasaan Tita hari ini? Konseli : Ketegangan yang saya rasakan semakin membuat saya semakin berat dalam menjalani aktivitas-aktivitas saya. Konselor : Baik, Ibu bisa mengerti. Tita, ibu dengar kalau jam bimbingan sekarang ditambah dari yang semulanya hanya 2 jam sekarang menjadi 3 jam? Konseli : Benar bu, dan hal itu membuat waktu saya semakin padat karena jam bimbingan ditambah Konselor : Baiklah Tita, kedatangan Tita hari ini terkait dengan janji yang sebelumnya telah kita buat, bahwa hari ini ibu akan memberikan treatment relaksasi untuk membantu mengurangi masalah ketegangan yang Tita alami. Apakah Tita sudah siap hari ini? Konseli : Saya sudah siap bu. Konselor : Pada dasarnya, kita belajar menguasai tegangan badan kita. Beberapa orang dapat

menguasainya, tetapi ada tempat tegangan di badan kita yang biasanya akan lebih tegang, walaupun kamu mungkin tidak menyadarinya. Jika kamu dapat belajar mengenai tegangan otot dan merelekskan otot-ototmu, maka keadaan relaks ini dapat menolong mengurangi kecemasan dan nervousmu. Apa yang akan kita lakukan adalah membantu kamu mengenali jika badanmu tegang, dengan sengaja menegangkan dan merelekskan kelompok otot-otot yang berbeda dalam badanmu. Kita hendaknya mencapai pada titik di mana kamu dapat mengenali sensasi-sensasi yang berarti tegangan dan menggunakan ini sebagai tanda pada dirimu sendiri untuk relaks. Dapatkah ini kamu pahami Tita? Konseli : Iya, saya mengerti. Apakah ibu akan memberitahukan kepada saya tentang bagaimana melakukannya? Prosedur 2 Konselor : Ya, pertama-tama ibu akan menunjukkan pada kamu sehingga kamu dapat memahaminya. Satu hal yang perlu kita lakukan sebelum memulai adalah kamu harus sedapat mungkin merasa nyaman. Jika kamu menggunakan kacamata lebih baik dilepas. Jika kacamata membuatmu merasa lebih nyaman, maka dalam treatment ini, sebaiknya mata dalam keadaan tertutup. Selain itu, ibu juga menggunakan kursi khusus ini, yaitu kursi yang dilapisi oleh busa. Karena jika kamu duduk di kursi yang sandarannya lurus dalam waktu yang lam akan mengganngu kenyamanan kamu. Konseli : (duduk di kursi empuk) hhmmmm. Memang benar-benar nyaman. Prosedur 3 Konselor : Baik, kursi itu memang benar-benar membantu. Sekarang saya akan menunjukkan pada kamu bagaimana kamu dapat merileksasikan otot-ototmu. Saya akan mulai dengan tangan kanan saya (mengepalkan tangan kanan, istirahat dan menunjukkan tegangan. Lalu melerekskan kepalan dan menunjukkan relaksasi. Konseli : Konselor juga menunjukkan kelompok dan kelompok lainnya). Apakah contoh ini dapat kamu ikuti ? Ya, Ibu tidak perlu melakukan semuanya. Prosedur 4 Konselor : Ya, kamu kerjakan. Tetapi kita akan mengambil setiap kelompok otot terpisah. Pada saat kamu menegangkan dan merelakskan setiap kelompok otot, seluruh badanmu akan terasa relaks. Kamu akan merasa seperti dibebaskan, hal ini sangat penting. Karena terbebas dari ketegangan jauh lebih baik daripada berada terus dalam ketegangan. Sekarang, yang penting kamu berusahalah tetap merasa nyaman sementara Ibu akan memberi instruksi padamu. Apakah ada pertanyaan sebelum kita memulainya ? Konseli : Tidak. Sepertinya relaksasi ini agak mirip yoga. Prosedur 5 Konselor : Benar. Relaksasi didasarkan pada ide yang sama dengan yoga, yaitu belajar meringankan ketegangan badan. Oke, duduklah dalam posisi yang enak. Kta akan segera memulainya. (memberi Sita kesempatan untuk duduk dengan nyaman, lalu memberi instruksiinstruksi. Sebagian besar sesi ini digunakan untuk memberi instruksi pada Tita dalam relaksasi otot). (1) Pertama tangan kananmu. Kepalkan tinju kananmu. Kepalkan dengan kuat dan raba tegangan

di tangan itu dan di lengan bawah. Pelajari rasa tegang itu (berhenti sejenak). Sekarang buka. Kendorkan tangan kananmu dan biarkan di tangan kursi (berhenti sebebtar) dan perhatikan perbedaan antara dalam keadaan tegang dan relaks (berhenti 10 detik). (2) Sekarang kita akan melakukan hal yang sama dengan tangan kirimu. Kepalkan tinju kirimu. Perhatikan tegangannya (5 detik istirahat) dan sekarang relakskan. Rasakan perbedaan antara tegang dan relaks (berhenti 10 detik). (3) Sekarang bengkokkan kebelakang pada pergelangan tangan sehingga kamu tegangkan otototot di belakang tangan itu dan di lengan bawah. Tunjukkan jari-jari tanganmu ke arah langitlangit. Rasakan tegangannya dan sekarang relakskan (istirahat sebentar). Rasakan bedanya antara ketika dalam keadaantegang dan relaks. (10 detik istirahat) (4) Sekarang, kepalkan tanganmu dan bawa kearah bahu. Selagi kamu lakukan itu, keraskan otot bisepmu, yaitu otot-otot pada bagian atas tanganmu. Rasakan tegangan otot-otot pada bagian atas tanganmu. Rasakan tegangnnya (istirahat). Sekarang relakskan. Biarkan tangan-tanganmu jatuh ke bawah lagi disampingmu. Rasakan perbedaannya antara tegang dan relaks pada bahumu (istirahat 10 detik). Apakah bahumu sudah terasa relaks ? Konseli : (mengangguk) Konselor : (1) Sekarang kita akan merelakskan bagian muka atau wajah kita. Pertama, kerutkan dahi dan alismu. Kerjakan ini sampai kamu merasa alismu beralur (istirahat sebentar). Sekarang relakskan, biarkan dahi dan alismu rata seperti semula (10 detik istirahat). (2) Sekarang pejamkan matamu kuat-kuat. Dapatkah kamu merasakan ketegangan di sekeliling matamu ? (konseli mengangguk) (5 detik istirahat). Sekarang relakskan. Rasakan perbedaan antara ketika dalam keadaan tegang dan relaks (10 detik istirahat). (3) Sekarang rapatkan rahang atas dan bawah dengan merapatkan gigi atas dan bawahmu. Tarik sudut mulutmu ke belakang. Rasakan ketegangan di rahangmu (5 detik istirahat). Relakskan rahangmu sekarang. Dapatkah kamu mengatakan perbedaan antara saat tegang dan relaks ? (10 detik istirahat). Konseli : (mengangguk) Konselor : (1) Sekarang rapatkan kedua bibirmu kuat-kuat, ketika kamu lakukan ini perhatikan tegangan di sekitar mulutmu. (istirahat sebentar). Sekarang kendorkan otot-otot sekitar mulutmu. Rasakan sekarang relaksasi di daerah mulut dan seluruh mukamu. (istirahat 10 menit) (2) Sekarang kita akan pindah ke otot-otot leher. Tekan kepalamu kebelakang. Dapatkah kamu merasakan ketegangan di belakang lehermu dan punggung atas ? sekarang biarkan kepalamu relaks. Perhatikan perbedaannya (istirahat 10 detik). (3) Sekarang teruskan konsentrasi pada daerah leher. Lihat apakah kamu bisa membenamkan dagumu ke dalam dadamu. Perhatikan tegangan di leher depanmu (istirahat 5 menit). Sekarang relakskan (10 detik istirahat). (4) Sekarang arahkan perhatianmu ke daerah punggung atas. Bungkukkan punggungmu seperti kamu membusungkan dadamu dan perutmu. Dapatkah kamu merasakan ketegangan di punggungmu ? rasakan tegangan itu (istirahat). Sekarang relakskan. Perhatikan perbedaannya (istirahat 10 detik). (5) Selanjutnya, ambil nafas dalam-dalam, isi paru-parumu lalu tahan nafas. Lihat tegangan di seluruh badanmu dan daerah perutmu. Tahan sebentar (istirahat). Sekarang relakskan. Biarkan nafasmu keluar dengan sendirinya. Rasakan kelegaan perasaanmu. Apakah dadamu serileks punggung dan bahumu ? (istirahat 10 detik). (6) Sekarang pikirkan tentang perutmu. Kencangkan otot perutmu. Tahan gerakan itu dan rasakan ketegangannya. Buat perutmu seperti kejang. Sekarang relakskan (istirahat 10 detik).

(7) Saya ingin kamu sekarang memusatkan pada kakimu. Rentangkan kedua kakimu dan rasakan ketegangan pada bagian yang keras (istirahat 5 detik). Sekarang relakskan. Rasakan perbedaan antara bagian yang keras dengan relaksasi yang kamu rasakan saat ini (10 detik istirahat). (8) Kemudian pusatkan perhatianmu pada kaki bawah. Keraskan otot betis dengan menegakkan jari-jari kakimu ke arah kepalamu. Umpamakan seutas tali menarik jari-jari kakimu ke atas. Dapatkah kamu merasakan tarikan ketegangnnya ? rasakan ketegangan itu (istirahat). Sekarang relakskan. Biarkan kakimu benar-benar relaks. Rasakan perbedaan antara saat tegang dan relaks (10 detik istirahat). (9) Sekarang saya akan mengulangi lagi kelompok otot yang berbeda yang telah kita kerjakan jika Ibu sebutkan setiap kelompok otot, coba untuk memperhatikan apakah ada tegangan otototot itu. Jika ada, coba pusatkan perhatianmu pada otot-otot itu dan katakan pada otot-otot itu untuk relaks. Pikirkan untuk sisa-sisa ketegangan keluar dari tubuhmu. Kendorkan otot-otot di kakimu, pergelangan kaki dan betis (istirahat). Kemudian ke lutut dan keraskan otot-ototnya (istirahatt). Relakskan pantatmu (istirahat). Kendorkan otot-otot bawah badanmu (istirahat). Relakskan semua otot perut, pinnggang dan punggung bawah (istirahat). Hilangkan semua ketegangan dari punggung, dada dan bahu (istirahat). Kendorkan lengan atas tangan belakangmu dan telapak tangan (istirahat). Kendorkan otot-otot tenggorokan dan lehermu (istirahat). Relakskan majahmu (istirahat). Relakskan semua otot-otot badanmu. Hilangkan semua ketegangan dari badanmu (istirahat). Sekarang duduklah dengan tenang dan pejamkan matamu. (10) Berikutnya, Ibu ingin kamu memikirkan tentang skala antara 0-5 dimana 0 adalah benarbenar relaks dan 5 adalah benar-benar tenang. Katakan pada Ibu dimana kamu menempatkan dirimu pada skala ini. Saya ada pada nomor 2 karena saya masih merasa ada bagian-bagian dimana saya belum sepenuhnya merasa relaks. Prosedur 6 Konselor : Yang kamu capai itu sudah bagus. Tapi bolehkah Ibu tahu bagaimana kesanmu terhadap relaksasi yang telah kita lakukan tadi ? Konseli : Kok terkesan bertele-tele, maaf kalau saya salah. Konselor : Kesan kamu ada benarnya, karena itu baru pertama kali bagimu . Tapi kalau kamu sudah sering melakukannya, kamu justru akan merasa terlalu singkat. Coba kamu pikirkan lagi tentang apa yang baru saja kita lakukan. Apakah kamu mengalami kesulitan dengan kelompok otot tertentu ? Konseli : tidak juga Konselor : Apa reaksimu ketika kamu memusatkan pada ketegangan ? Bagaimana halnya dengan relaksasi ? Konseli : Saya merasakan ketegangan yang benar-benar tegang dan tidak enak. Sebaliknya, setelah relaks saya benar-benar merasakan kenyamanan. Konselor : Jadi bagaimana perbedaan antara perasaan tegang dan relaksasi ? Konseli : Bedanya jauh sekali. Perasaan tegang membuat saya kacau, lelah dan tidak enak. Sedangkan relaks membuat saya merasa lebih enak dan tenang. Prosedur 7 Konselor : Baik sekali. Kamu telah mengalami banyak kemajuan. Tapi, relaksasi sama seperti keterampilan lainnya yang memerlukan banyak latihan. Ibu ingin kamu melakukan latihan secara mandiri di rumah dua kali sehari sekitar 15 sampai 20 menit setiap latihan. Lakukan latihan di kursi yang ada sandarannya, di lantai dengan bantal atau di tempat tidur dengan bantal kepala.

Selain itu, cobalah melakukan relaksasi sewaktu-waktu terutama jika ada waktu senggang seperti, setelah bangun tidur, pulang dari sekolah, setelah bekerja atau sebelum makan malam. Usahakan untuk menghindari gangguan seperti bunyi telepon dan orang yang ingin bertemu denganmu. Isi buku catatan yang Ibu berikan setiap kali selesai latihan. Dimana, kapan, berapa lama, kesulitan yang kamu dapatkan dan keberhasilan-keberhasilannya. Apakah ada pertanyaan dari penjelasan yang Ibu berikan Konseli : Tidak Bu, saya kira sudah jelas semuanya. Konselor : Ibu berharap kamu dapat berlatih selama dua minggu. Setelah itu kita bertemu lagi di ruangan ini. Dan jangan lupa membawa buku catatan hasil latihanmu. FORMAT EVALUASI 1. Identitas Klien a. Nama : Tita Surya Indah b. Kelas : XII-IPA 1 c. Tempat, tanggal lahir : Madura, 29 Februari 1988 d. Jenis Kelamin : perempuan e. Alamat : Jln. Semua Girang No. 33, Madura f. Anak ke- : 1 dari 5 bersaudara 2. Aspek yang dievaluasi : Keberhasilan proses konseling 3. Petunjuk : Berilah tanda cek () pada kolom yang sesuai dengan pernyataan atau gejala yang nampak.

Malang, November 2009 Konselor


Suka

Be the first