Anda di halaman 1dari 23

SKENARIO I KARIES GIGI

Seorang mahasiswa, usia 20 tahun dating ke RSGM karena sudah 2 hari gigi belakang kanan bawahnya sakit cekot-cekot tanpa sebab. Awalnya, 2 tahun yang lalu, pada gigi tersebut hanya ada bercak putih, beberapa bulan kemudian, ada keluhan linu bila minum dingin atau panas dan sering sakit spontan. Dua (2) hari yang lalu gusi di daerah bukal gigi tersebut bengkak. Pada pemeriksaan klinis pada gigi 46 tampak karies klas V profunda perforasi dengan saluran akar mesial masih vital, sedangkan saluran akar distal sudah non vital. Terdapat fistula pada daerah gingiva bukal. Dari pemeriksaan rontgen foto panoramik menunjukkan adanya gambaran radiolusen difuse berdiameter 4 mm pada apical akar distal.

STEP 1 1. Fistula jalan keluar nanah; suatu lubang abnormal di antara dua organ berongga atau dari suatu kavitas ke bagian luar tubuh. 2. Radiolusen Difuse radiolusen maksudnya lolosnya sebagian sinar X; difuse artinya tersebar; radiolusen difuse adalah penampakan gelap radiografi yang tampak tersebar dengan batas-batas gambar yang jelas; gambar tersebut biasanya disebut abses. 3. Karies Kelas V karies yang mengenai bagian servikal gigi anterior dan posterior; kavitas pada permukaan gigi yang halus, pada bagian labial dan bukal yang lebih sering terkena. 4. Karies Profunda Perforasi kedalaman karies sudah menyentuh pulpa sehingga atap pulpa sudah terbuka dan pada tahap ini sudah terjadi radang.

STEP 2 1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi karies gigi? 2. Bagaimana klasifikasi karies gigi? 3. Bagaimana proses terjadinya karies gigi?

4. Bagaimana cara mendiagnosa karies gigi? 5. Bagaimana gejala klinis dan gambaran radiografinya?

STEP 3 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Karies Gigi A. Faktor Utama Karies Gigi: a. Host Bagian dari gigi yang rentan terkena karies adalah pada pit, fissure, permukaan halus, proksimal sedikit di bawah titik kontak, servikal, permukaan akar yang terbuka, tepi tumpatan. Pada gigi susu yang memiliki susunan kristal HA yang lebih longgar dari gigi permanen sehingga lebih rentan terkena karies dibanding dengan gigi permanen yang memiliki susunan Kristal HA lebih padat.

b. Mikroorganisme/agen Diawali dengan plak sebagai media pertumbuhan bakteri Setelah menggosok gigi selanjutnya gigi akan diselubungi atau dilapisi oleh pelikel pelikel ini akan menarik bakteri Streptococcus yaitu bakteri yang bersifat kariogenik karena dapat merubah karbohidrat menjadi asam sehingga terbentuk plak.

c. Substrat Karbohidrat merupakan substrat yang menpengaruhi pH rongga mulut. Dibutuhkan waktu 30-60 menit dari pH asam menjadi normal kembali setelah mengkonsumsi karbohidrat.

d. Waktu Penurunan pH mulut dengan intensitas waktu yang berulang-ulang akan menyebabkan demineralisasi email.

B. Faktor Pendukung

a. Produksi Saliva Fungsi saliva: sebagai pembersih alami yang dipengaruhi oleh jumlah sekresinya sehingga semakin tinggi sekresi saliva maka semakin potensi terjadinya karies semakin menurun; sebagai buffer sehingga dapat mengurangi keasaman plak yang disebabkan oleh gula dan dapat mempertahankan pH tetap konstan yaitu pH 6-7; mengandung mineral sehingga dapat meremineralisasi email; mengandung enzim yang bersifat bakteriostatis yang dapat membuat bakteri mulut menjadi tidak berbahaya. Produksi saliva dapat terhambat bila: penggunaan antihistamin dan antidepresan; menderita penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, adanya radiasi pada kepala leher; konsumsi tembakau.

b. Kebiasaan Buruk Dapat disebabkan dari kebiasaan menguyah, kebiasaan makan, dan kebersihan yang kurang.

c. Otot-otot Otot-otot wajah, bibir dan lidah dengan aktif menggerakkan otot tersebut dapat mengurangi terjadinya karies, contoh: saat terjadi food impaction.

d. Jenis Kelamin Wanita lebih rentan terkena karies karena pada saat wanita hamil kalsium dalam tubuhnya di absopsi oleh janin, sehingga menyebabkan kurangnya kadar kalsium dalam tubuhnya dan memudahkan untuk terkena karies.

e. Umur Gigi susu pada anak-anak lebih rentan terhadap karies dibanding gigi permanen, hal ini berdasarkan kandungan fluornya.

f. Ras Ras dengan rahang kecil dapat menyebabkan pertumbuhan gigi kurang teratur sehingga berpotensi untuk terkena karies.

g. Posisi Gigi pada Lengkung Gigi Gigi yang dekat dengan duktus lebih jarang terkena karies.

h. Frekuensi Terkena Karies Daerah yang pernah terkena karies lebih rentan terkena karies dibanding dengan daerah yang sehat.

2. Klasifikasi Karies Gigi A. Berdasarkan Lokasi Karies 1. Karies pit dan fissure 2. Karies pada permukaan yang halus

B. Berdasarkan Dalamnya atau Jaringan yang Terkena 1. Karies superfisialis atau email Mengenai email 2. Karies media atau dentin Mengenail email dan belum melebihi dentin yaitu perbatasan antara DEJ dan ntanduk pulpa 3. Karies profunda atau pulpa Dibagi menjadi 3 stadium: Stadium I belum terjadi radang Stadium II sudah terjadi radang Stadium III sudah perforasi dan radang

C. Berdasarkan Waktu Terjadinya 1. Karies primer Karies yang terjadi pada lokasi yang belum pernah memiliki riwayat karies sebelumnya.

2. Karies sekunder Karies yang rekuren, karies timbul pada lokasi yang telah memiliki riwayat karies sebelumnya. Karies ditemukan pada tepi

tambalan/tumpatan.

D. Berdasarkan Tingkat Progresifitasnya 1. Karies akut Karies yang berkembang dan memburuknya dengan cepat, misalnya rampant karies pada pasien xerostomia. 2. Karies kronis Proses karies berjalan lambat dengan penampakan warna kecoklatan sampai hitam. 3. Karies terhenti (arrested caries) Lesi karies tidak berkembang, bisa disebabkan oleh perubahan dari lingkungan.

E. Berdasarkan Sistem Black 1. Kelas I : Pit dan fissure oklusal gigi posterior dan foramen caecum insisal gigi anterior 2. Kelas II : Approksimal gigi posterior

3. Kelas III : Approksimal gigi anterior 4. Kelas IV : Approksimal gigi anterior meluas ke sudut insisal 5. Kelas V : Fasial / lingual gigi pada 1/3 gingiva

6. Kelas VI : Tonjol gigi posterior tepi insisal gigi (SIMON) anterior

F. Berdasarkan Permukaan yang Terkena 1. Karies oklusal 2. Karies labial 3. Karies mesial 4. Karies distal 5. Karies disto-oklusal 6. Karies mesio-oklusal

7. Karies lingual

G. Berdasarkan Keparahan 1. Karies ringan 2. Karies sedang 3. Karies berat mengenai pit dan fissure mengenai oklusal dan proksimal sudah pada pulpa

3. Proses Terjadinya Karies Gigi Ada 4 tahap, yaitu: a. Lesi email awal pH dalam rongga mulut rendah b. Lesi korona lanjut Demineralisasi meningkat dan remineralisasi menurun c. Lesi mencapai dentin Bakteri menerobos dentin, lalu terjadi perubahan warna pada gigi, perubahan warna gigi ini dapat disebabkan oleh bakteri atau dari makanan d. Lesi mencapai pulpa Toksin Steptococcus mutan dan Lactobacilus masuk ke dalam tubuli dentin dan pulpa sehingga terjadi inflamasi dan penumpukan eksudat dan menyebabkan sakit cekot-cekot Demineralisasi terjadi karena karbohidrat diubah oleh bakteri menjadi asam sehingga menyebabkan demineralisasi pada gigi (white spot). Letak gigi yang demineralisasi jika dekat dengan duktus saliva maka akan diremireralisasi, sedangkan yang juah dari duktus saliva maka akan terbentuk kavitas yang menyebabkan plak terus tertumpuk.

4. Cara Mendiagnosa Karies Gigi Jika kavitas dengan sonde lurus atau dengan sonde bengkok. Diberi rangsangan akan terasa sakit.

Pemeriksaan subjektif dengan anamnesa. Pemeriksaan objektif dengan menggunakan pemeriksaan visual, sinar X, benang.

5. Gejala Klinis dan Gambaran Radiografi Karies Gigi a. Gejala Klinis Karies di enamel ada kavitas, diskolorisasi Karies di dentin jarang terasa nyeri, tetapi bila ada rangsang makanan manis/asam/panas/dingin terasa nyeri Karies mencapai pulpa sering sakit gigi dan terjadi sakit spontan

b. Gambaran Radiografi Karies radiolusen Abses radiolusen dengan batas tidak jelas (difuse)

STEP 4 FAKTOR KARIES

PROSES KARIES KLASIFIKASI KARIES KARIES

K. EMAIL

K. DENTIN

K. PULPA

K. PULPO PERIAPIKAL

GEJALA KLINIS

GAMBARAN HPA

GAMBARAN RADIOGRAFI

STEP 5 LO 1. Menjelaskan etiologi karies gigi 2. Menjelaskan pathogenesis karies gigi 3. Menjelaskan kalsifikasi karies gigi 4. Menjelaskan tanda dan gejala klinis karies gigi 5. Menjelaskan gambaran HPA karies gigi 6. Menjelaskan gambaran radiografi karies gigi

STEP 7 1. Etiologi Karies Gigi Teori Multifaktorial Keyes menyatakan penyebab karies gigi mempunyai banyak faktor seperti: host atau tuan rumah yang rentan, agen atau mikroorganisme yang kariogenik, substrat atau diet yang cocok, dan waktu yang cukup lama.Faktor-faktor tersebut digambarkan sebagai tiga lingkaran yang bertumpang tindih. Untuk terjadinya karies, maka kondisi setiap faktor tersebut harus saling mendukung.

Faktor Utama 1. Faktor host atau tuan rumah Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah terhadap karies yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis. Pit dan fisur pada gigi posterior sangat rentan terhadap karies karena sisa-sisa makanan mudah menumpuk di daerah tersebut terutama pit dan fisur yang dalam. Selain itu, permukaan gigi yang kasar juga dapat menyebabkan plak mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi. Enamel merupakan jaringan tubuh dengan susunan kimia kompleks yang mengandung 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat, fluor), air 1% dan bahan organik 2%. Bagian luar enamel mengalami mineralisasi yang lebih sempurna dan mengandung banyak fluor, fosfat dan sedikit karbonat dan

air. Kepadatan kristal enamel sangat menentukan kelarutan enamel. Semakin banyak enamel mengandung mineral maka kristal enamel semakin padat dan enamel akan semakin resisten. Gigi susu lebih mudah terserang karies daripada gigi tetap. Hal ini disebabkan karena enamel gigi susu mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan jumlah mineralnya lebih sedikit daripada gigi tetap. Selain itu, secara kristalografis kristal-kristal gigi susu tidak sepadat gigi tetap. Mungkin alasan ini menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi karies pada anak-anak. Kawasan-kawasan yang mudah diserang karies adalah: 1. pit dan fisur pada permukaan oklusal molar dan premolar; pit bukal molar dan pit palatal insisif 2. permukaan halus di daerah aproksimal sedikit di bawah titik kontak 3. email pada tepian di daerah leher gigi sedikit di atas tepi gingiva 4. permukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien dengan resesi gingiva karena penyakit periodonsium 5. tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper 6. permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan jembatan.

2. Faktor agen atau mikroorganisme Plak gigi memegang peranan peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi mikroorganisme dalam plak berbeda-beda. Pada awal pembentukan plak, kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptokokus mutans, Streptokokus sanguis, Streptokokus mitis dan Streptokokus salivarius serta beberapa strain lainnya. Selain itu, ada juga penelitian yang menunjukkan adanya laktobasilus pada plak gigi. Pada penderita karies aktif, jumlah laktobasilus pada plak gigi berkisar 104 105 sel/mg plak.

Walaupun demikian, S. mutans yang diakui sebagai penyebab utama karies oleh karena S. mutans mempunyai sifat asidogenik dan asidurik (resisten terhadap asam).

3. Faktor substrat atau diet Faktor substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta bahan lain yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang banyak mengonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan pada gigi, sebaliknya pada orang dengan diet yang banyak mengandung lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak mempunyai karies gigi. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa karbohidrat memegang peranan penting dalam terjadinya karies. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi bakteri mulut dan secara langsung terlibat dalam penurunan pH. Dibutuhkan waktu tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email, tidak semua karbohidrat sama derajat kariogeniknya. Karbohidrat yang kompleks misalnya pati (polisakarida) relatif tidak berbahaya karena tidak dicerna secara sempurna di dalam mulut, sedangkan karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti gula akan meresap ke dalam plak dan dimetabolisme dengan cepat oleh bakteri, sehingga makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepat sampai level yang menyebabkan demineralisasi email. Plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu, untuk kembali ke pH normal sekitar 7, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu konsumsi gula yang berulang-ulang menyebabkan demineralisasi email.

4. Faktor waktu Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan.

Faktor Luar Faktor luar merupakan faktor presdiposisi dan faktor penghambat yang berhubungan tidak langsung dengan proses terjadinya karies. Beberapa faktor luar yang erat hubungannya dengan terbentuknya karies gigi, antara lain usia, jenis kelamin, ras, letak geografis, kultur sosial dan perilaku penduduk dan lingkungannnya, pengetahuan dan kesadaran serta sikap terhadap kesehatan gigi. Faktor luar tersebut tidak berbeda baik terhadap gigi tetap maupun gigi sulung anak usia prasekolah. Karena anak masih sangat tergantung pada orangtuanya dalam masalah kesehatan gigi, maka peranan orang tua sangat menentukan bagi keadaan kesehatan gigi anak. a. Usia Sejalan dengan bertambahnya usia seseorang jumlah karies pun akan bertambah. Hal ini jelas, karena faktor resiko terjadinya karies akan lebih lama berpengaruh terhadap gigi. Anak yang pengaruh faktor resiko terjadinya karies kuat akan menunjukkan jumlah karies lebih besar dibandingkan yang kurang kuat pengaruhnya. Sepanjang hidup dikenal tiga fase umur dilihat dari sudut gigi-geligi, antara lain: 1. Periode gigi campuran Pada periode ini gigi molar pertama yang sering terkena karies. 2. Periode pubertas (remaja) Pada periode ini rentan usia berkisar antara 14 sampai dengan 20 tahun. Pada masa ini terjadi perubahan hormonal yang dapat menimbulkan pembengkakan gusi, sehingga kebersihan mulut menjadi

kurang terjaga. Hal inilah yang menyebabkan prosentase karies lebih tinggi. 3. Umur antara 40 sampai dengan 50 tahun Pada usia ini, sudah terjadi retraksi atau menurunnya gusi dan papil, sehingga sisa-sisa makanan lebih sering sukar dibersihkan.

b. Jenis kelamin Prevalensi karies gigi tetap wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Demikian juga halnya anak-anak prevalensi karies gigi sulung anak perempuan sedikit lebihn tinggi dibanding anak laki-laki. Hal ini disebabkan antara lain erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibandingkan dengan ank laki-laki, sehinggag gigi anak perempuan berada lebih lama dalam mulut. Akinnbatnya gigi anak perempuan akan lebih lama berhubungan dengan faktor resiko terjadinya karies.

c. Suku Bangsa Beberapa penelitian menunjukkan ada perbedaan pendapat tentang hubungan suku bangsa dengan prevalensi karies; semua tidak membantah bahwa perbedaan ini karena keadaan sosial ekonomi, pendidikan, makanan, cara pencegahan karies dan jangkauan pelayanan kesehatan gigi yang berbeda di setiap suku tersebut. Perbedaan karies anak juga terlihat di berbagai suku dan kebangsaan anak. Anak-anak cina memiliki lebih banyak karies daripada anak melayu dan India. Demikian juga anak-anak kulit putih dan kulit hitam perbedaan ini disebabkan perbedaan sosial ekonomi, nutrisi, dan status perkembangan anak.

d. Letak geografis Perbedaan prevalensi karies juga ditemukan pada penduduk yang letak geografis kediammannya berbeda. Faktor-faktor yang menyebabkan

perbedaan ini belum jelas, kemungkinan karena perbedaan lamanya matahari bersinar, suhu, cuaca, air, keadaan tanah, dan jarak dari laut.

Dinegara maju dan berkembang telah banyak dijumpai laporan tentang hubungan karies gigi tetap dan gigi sulung dengan kandungan fluor didalam air minum, misalnya Tamilmadu, India Selatan, terbukti ada hubungan antara kandungan fluor dalam air tanah dengan karies gigi tetap menyatakan bahwa anak-anak dengan sosial ekonomi tinggi tinggal di daerah dengan atau tanpa fluoridasi air minum, prevalensi kariesnya rendah.

e. Kultur Sosial penduduk Faktor yang mempengaruhi perbedaan ini adalah pendidikan dan penghasilan yang berhubungan dengan diet, kebiasaan merawat gigi, dan lainlain. Perilaku sosial dan kebiasaan akan menyebabkan perbedaan jumlah karies. Selain itu, perbedaan suku, budaya, lingkungan, dan agama akan menyebabkan keadaan karies yang berbeda pula.

f. Kesadaran, sikap, dan perilaku individu terhadap kesehatan gigi Fase perkembangan anak usia lima tahun kebawah masih sangat bergantung pada pemeliharaan dan bantuan orang dewasa; dan pengaruh paling kuat dalam masa tersebut datang dari ibunya. Peranan ibu sangat menentukan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu harus benarbanr sadar dan mampu memberikan perhatian penuh dalam bidang kesehatan. Biasannya ibu yang pertama kali merawat dan menumpai keadaan kesehatan anaknya. Demikian juga keadaan kesehatan gigi dan mulut anak usia prasekolah masih sangat ditentukan oleh kesadaran, sikap, dan perilaku serta pendidikan ibunya. Orang tua di desa belum mempunyai motivasi untuk merawat gigi, artinya belum mengetahui kegunaaan perawatan gigi sehingga banyak orang tua di desa yang belum mau secara sukarela melakuakan perawatan gigi. Anak yang dipisahkan dari ibunya dan dititipkan di institusi (panti asuhan) akan mengalami kehampaan psikis. Biasanya anak kurang mendapatkan perawatan sehingga pertumbuhan fisik dan mental anak agak terlamabt terutama dalam intelegensia dan emosi. Anak yang tinggal disuatu institusi akan mendapatkan perlakuan ketat dengan jadwal acara yang telah

disusun

secara

cermat.

Bagaimana

dan

kapan

harus

maakan,

minum,membersihkan badan, dan lain-lain termasuk bilamana dan bagaimana membersihkan gigi.

2. Pathogenesis Karies Gigi Karies Email Karies pada email diawali dengan adanya timbunan plak yang terakumulasi sehingga dapat melarutkan lapisan email pada gigi. Dalam keadaan bersih, gigi dilapisi oleh lapisan yang lengket seperti gelatin yang disebut pelikel. Terdapat beberapa bakteri normal yang berada pada pelikel. Pada perkembangannya,ila tida segera dibersihkan, pelikel akan menjadi plak yang berisi bakteri beserta produk-produknya . Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel terutama yang berbentuk kokus. Yang paling banyak adalah streptokokus. Organisme tersebut tumbuh, berkembang biak dan

mengeluarkan ge-gel ekstra dan menjerat berbagai bakteri yang lain. Akumulasi plak ditambah dengan peran karbohidrat, bakteri,waktu serta oral hygine yang buruk akan menyebabkan demineralisasi dari email dan menyebabkan terjadinya karies. Gejala paling dini suatu karies pada email adalah terlihat bercak putih atau white spot. Lesi email awal didapat saat level pH pada permukaan gigi lebih rendah sehingga tidak dapat diimbangi dengan remineralisasi pada permukaan email. Ion asam berpenetrasi dalam menuju porus lapisan prisma yang dapat menyebabkan demineralisasi di sub permukaan. Pada tahapan white spot, gigi masih mengalami proses demineralisasi-remineralisasi secara terus menerus tergantung pada tingkat oral hygine personal dan daerah gigi yang masih dapat terjangkau oleh saliva. Terjadinya kavitas disebabkan oleh proses demineralisasi yang tidak dapay diimbangi oleh proses remineralisasi , sedangkan bila proses remineralisasi yang disebabkan oleh peningkatan level ion flouride, ion kalsium dan HPO4 , dan saliva baik,maka lesipun akan terhenti.

Menurut kedalamannya, karies pada email dibagi menjadi dua, yaitu ; 1. Karies Insipien Merupakan suatu tahapan karies yang baru saja dimulai , (dini) . Belum terjadi kavitasi, namun terlihat bercak putih ataupun coklat. Lesi email yang terdemineralisasi ini belum meluas ke DEJ, dan permukaan email masih keras dan masih halus ketika disentuh.

2. Karies Superficial Merupakan karies yang terjadi pada permukaan email agak dalam namun belum mengenai dentin. Pasien belum merasakan adanya nyeri, karena lapisan dentin yang masih tertutup oleh email.

Karies Dentin dan Pulpa Jika lesi karies pada enamel tidak segera di tangani, maka bakteri karies akan masuk lebih dalam pada jaringan dibawah pulpa yaitu dentin dan menyebabkan karies dentin. Berbeda dengan lesi karies pada enamel, lesi karies pada dentin lebih cepat meluas karena struktur dari dentin yang lebih lunak dibandingkan dengan enamel. Pada fase ini penderita akan mulai

merasakan ngilu pada gigi yang bersangkutan, karena dentin merupakan tempat terletaknya tubulu-tubuli dentin yang berhubungan langsung dengan odontoblas dan pulpa sebagai tempat terjadinya penyaluran rangsang.

Pada gambar diatas terlihat struktur gigi yang mengalami karies. Lesi karies pada dentin terlihat lebih luas dan menggaung dubandingkan dengan lesi karies pada enamel. Karies dentin yang terus berlanjut dan semakin mendekati pertautan dentin-pulpa, akan mengakibatkan terjadinya suatu proses reaksi yang berusaha untuk menjaga pulpa dari invasi bakteri. Proses tersebut disebut

dengan kompleks dentin-pulpa. Reaksi pertahanan kompleks dentin-pulpa terdiri dari 3 proses : 1. Sklerosis tubuler didalam dentin Proses ini merupakan mineralisasi pada lumen tubulus dentin sehingga menurunkan permeabilitas dari tubuli dentin untuk mencegah

berpenetrasinya bakteri maupun hasil toksinnya masuk ke dalam pulpa. 2. Pembentukan dentin reaksioner Merupakan dentin reparatif yang terbentuk antara dentin dan pulpa karena suatu rangsang yang ringan (termasuk toksin yang dihasilkan bakteri karies). Pembentukan dentin reparatif ini bertujuan untuk menambah jarak antara dentin dan pulpa sehingga perjalanan karies menuju pulpa akan semakin lama. 3. Peradangan pulpa Jika bakteri dapat menembus pertahanan kompleks dentin-pulpa (sklerosis tubuler dan dentin reparatif) dan masuk kedalam pulpa, maka akan terjadi suatu proses keradangan. Proses keradangan yang terjadi dapat berupa keradangan akut maupun kronik tergantung beberapa faktor misalnya saja adalah lama dan intensitas rangsang itu sendiri. Rangsang yang ringan akan menyebabkan peradangan kronik sedangkan rangsang yang berat dan tiba tiba besar akan menimbulkan pulpitis akut. Pada skenario sendiri pasien mengalami gejala keradangan kronis yang disertai dengan keradangan akut. Hal ini dapat dilihat dari ciri ciri dan gejala yang dirasakan pasien yakni sakit cekot cekot, gigi menjadi sensitif apabila dirangsang dengan makanan manis, panas atau dingin serta gusi yang engalami pembengkakan. Terdapat lima tanda yang terdapat pada proses keradangan ini yakni kalor (panas), tumor (pembengkakan), rubor, dolor (rasa nyeri) dan functio laes (hilangnya fungsi). Proses radang akut akan ini menimbulkan perubahan vaskuler yaitu vasokonstriksi pembuluh darah yang diikuti dengan dilatasi pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan aliran darah dan eksudat. Eksudat yang terbentuk ini pada akhirnya akan mengakibatkan aliran darah terhenti. Sementara di lain pihak terjadi tekanan

jaringan yang meningkat yang disebabkan oleh emigrasi sel sel neutrofil yang aktif. Proses tersebut pada akhirnya akan menimbulkan kematian pulpa karena jaringan ikat yang peka terkurung dalam ruang berdinding keras yang menerima aliran darah hanya dari pembuluh darah yang terbatas jumlahnya dan masuk ke dalam pulpa hanya melalui foramen yang sempit. Eksudat radang kadang kadang membuat gigi sedikit terangkat dari soketnya sehingga mengakibatkan gigi goyang. Gigi yang demikian akan peka sekali terhadap gigitan dan sentuhan karena eksudat tersebut berperan sebagai penghantar rangsang tekanan dalam soket langsung ke jaringan periapeks yang meradang. Peradangan periapeks akut mungkin berubah menjadi kronik dan sebaliknya.

3. Klasifikasi Karies Gigi Klasifikasi karies (Edwina dan Sally Josyston, 1992) 1. Menurut kedalamannya, dapat dibagi : a. Karies superfisial yaitu karies yang hanya mengenai email. Biasanya pasien belum merasa sakit. b. Karies media yaitu karies yang mengenai email dan telah mencapai setengah dentin. Menyebabkan reaksi hiperemi pulpa, gigi biasanya ngilu, nyeri bila terkena rangsangan panas atau dingin dan akan berkurang bila rangsangannya dihilangkan. c. Karies profunda yaitu karies yang mengenai lebih dari setengah dentin dan bahkan menembus pulpa. Menimbulkan rasa sakit yang spontan.

2. Menurut sistem Black : a. Klas I : karies ini terjadi pada ceruk dan fisura dari semua gigi,

meskipun lebih ditujukan pada gigi posterior atau pada 2/3 oklusal, baik pada permukaan labial/palatal/lingual/ dari gigi-geligi. b. Klas II : kavitas yang terdapat pada permukaan aproksimal gigi

posterior, karies klas II dapat mengenai permukaan mesial dan distal

atau hanya salah satunya sehingga dapat digolongkan menjadi kavitas MO (mesio-oklusal) atau MOD (mesio-oklusal-distal). Karena akses untuk perbaikan biasanya dibuat dari permukaan oklusal, permukaan oklusal dan aproksimal dari gigi direstorasi sekaligus. Tetapi dilihat dari definisinya kavitas ini adalah lesi proksimal dan tidak selalu mencakup permukaan oklusal. c. Klas III: karies ini terdapat pada permukaan proksimal dari gigi-geligi depan dan belum mengenai incisal edge. d. Klas IV: kavitas ini adalah kelanjutan dari kavitas klas III. Lesi ini pada permukaan proksimal gigi anterior yang telah meluas sampai ke sudut insisal. Jika karies iniluas atau abrasi hebat dapat melemahkan sudut insisal dan menyebabkan terjadinya fraktur. e. Klas V : karies yang terdapat pada 1/3 cervical dari permukaan

buccal / labial atau lingual palatinal dari seluruh gigi-geligi.

3. Berdasarkan lokasi : a. Karies pada permukaan licin / rata Merupakan jenis karies yang terjadi pada permukaan yang licin dan paling bisa dicegah dengan menggosok gigi, proses terjadinya paling lambat. Karies dimulai sebagai bintik putih buram (white spot) yang terjadi karena telah terjadi pelarutan email oleh asam sebagai hasil metabolisme bakteri. b. Karies pada pit dan fissure Terbentuk pada gigi belakang, yaitu pada permukaan gigi untuk mengunyah dan pada bagian gigi yang berhadapan dengan pipi. Daerah ini sulit dibersihkan karena lekukannya lebih sempit dan tidak terjangkau oleh sikat gigi. c. Karies pada akar gigi Berawal sebagai jaringan yang menyerupai tulang, yang membungkus permukaan akar (sementum). Pembusukan ini sering terjadi karena penderita mengalami kesulitan dalam membersihkan

daerah akar gigi. Pembusukan akar merupakan jenis pembusukan yang paling sulit dicegah. Setelah menembus ke dalam lapisan kedua (dentin, lebih lunak), pembusukan akan menyebar lebih cepat dan masuk ke dalam pulpa (lapisan gigi paling dalam yang mengandung saraf dan pembuluh darah).

4. Berdasarkan waktu terjadinya : a. Karies primer, yaitu karies yang terjadi pada lokasi yang belum pernah terkena riwayat karies sebelumnya. b. Karies sekunder, yaitu karies yang rekuren artinya karies yang timbul pada lokasi yang telah memiliki riwayat karies sebelumnya, biasanya karies ini ditemukan pada tepi tambalan.

5. Berdasarkan tingkat progresifitasnya a. Karies akut, yaitu karies yang berkembang dan memburuk dengan cepat. Misalnya : rampant karies, pasien xerostomia b. Karies kronis, yaitu proses karies yang berjalan dengan lambat. Karies ini menunjukkan warna kecoklatan sampai hitam. c. Karies terhenti, yaitu karies yang lesinya tidak berkembang lagi, karies ini bisa disebabkan oleh perubahan lingkungan.

6. Berdasarkan tingkat keparahannya a. Karies ringan, yaitu jika serangan karies hanya pada gigi yang paling rentan, seperti pit dan fisure, sedangkan kedalamannya hanya mengenai lapisan email (iritasi pulpa). b. Karies sedang, yaitu jika serangan karies meliputi permukaan oklusal dan aproksimal gigi posterior. Kedalaman karies sudah mengenai lapisan dentin (hiperemi pulpa). c. Karies berat/parah, yaitu jika serangan karies juga meliputi gigi anterior yang biasanya bebas karies. Kedalamannya sudah mengenai

pulpa, baik pulpa yang tertutup maupun pulpa yang terbuka (pulpitis dan gangren pulpa). Karies pada gigi anterior dan posterior sudah meluas ke bagian pulpa.

7. Berdasarkan etiologi Berdasarkan etiologi maka ada 2 yang paling umum digunakan oleh para dokter gigi, yaitu : a. Karies botol bayi adalah karies yang ditemukan pada gigi susu anak kecil. Karies botol bayi disebabkan glukosa / gula yang terdapat pada botol susu yang terus menempel ketika bayi tertidur. Kebiasaan ini banyak dilakukan oleh orang tua karena tidak ingin repot dengan tangisan si anak. Padahal kebiasaan ini akan mengakibatkan gula yang terdapat dalam susu akan berinteraksi dengan cepat untuk membentuk lubang gigi karena terpapar dalam waktu yang lama dengan mulut anak. b. Karies rampan adalah karies yang berkembang secara drastis dan terjadi pada banyak gigi secara cepat pada orang dewasa. Karies rampan banyak terjadi pada pasien dengan xerostomia (air ludah kurang), kebersihan mulut yang buruk, penggunaan methampetamin, radiasi berlebihan, dan konsumsi gula berlebihan.

KESIMPULAN Karies merupakan suatu penyakit infeksi yang merusak struktur gigi, yang menyebabkan gigi berlubang. Terdapat faktor utama dan faktor pendukung yang dapat menyebabkan karies. Karies dapat diklasifikasikan berdasarkan kedalaman, sistem Black, lokasi, waktu, tingkat, progresifitasnya, dan keparahannya. Pada setiap tahapan karies dapat ditemukan tanda dan gejala klinis, gambaran HPA dan gambaran radiografinya. Jika karies tidak segera ditangani maka akan menyebar hingga apical dan jaringan sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA Heyman. 1995. Art & Science of Operative Dentistry. USA: Mosby. Kidd, Edwina A.M. 1991. Dasar Dasar Karies Penyakit dan

Penanggulangannya. Jakarta: EGC. Torabinejad M and Walton RE. 1996. Endodontics 5th Ed in Periradicular lesion. Hamilton, Ont: BC Decker Inc. S. Dyah, Amandia P. S. Etiopatologi Karies Gigi. Stomatognatic Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Jember Vol. 4 No. 3 2007 : 116-127.