Anda di halaman 1dari 65

ANALISIS DAN EVALUASI PENERAPAN KEBIJAKAN PERENCANAAN MANAJEMEN SUMBER DAYA DALAM MANAGEMENT OPERATING SYSTEM (MOS) PROCESS

MAINTENANCE
PT. Newmont Nusa Tenggara

Rama Renspandy & Bazuni R. Husni Kerja Praktek Teknik Industri

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara BAB I PENDAHULUAN


Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, tujuan kerja praktek, manfaat kerja praktek, batasan dan asumsi yang digunakan, serta sistematika penulisan.

1.1

Latar Belakang Sistem pendidikan pada masa kini menuntut mahasiswa untuk dapat memahami ilmu

pengetahuan, baik secara teori yang diajarkan pada perkuliahan di dalam kelas maupun secara praktek untuk dapat menerapkan teori yang telah diajarkan tersebut dalam dunia kerja yang nyata. Kenyataan yang ada pada masa kini, banyak terdapat mahasiswa yang menuntut ilmu di kampus hanya memperoleh penjelasan dari dosen yang bersifat teoritis saja tanpa dapat menerapkan teori yang telah dijelaskan dalam kehidupan nyata. Kegiatan kerja praktek sangat dibutuhkan sebagai wadah agar para mahasiswa dapat menerapkan teori yang telah diajarkan di kelas ke dalam dunia kerja yang nyata. Kerja praktek memiliki peranan yang sangat penting bagi para mahasiswa karena dalam dunia keteknikindustrian, permasalahan yang sebenarnya terjadi di lapangan akan sangat jauh berbeda dengan teori yang diajarkan di kampus. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan wadah kerja praktek untuk melakukan eksplorasi terhadap kemampuan dan keterampilan yang dimiliki dalam rangka mengenali masalah yang terjadi pada dunia kerja yang sesungguhnya. Dalam kerja praktek ini, akan diamati mengenai bagian perencanaan dalam Management Operating System (MOS) Process Maintenance PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT), khususnya yang berkaitan dengan perencanaan manajemen sumber daya. Perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance meliputi perencanaan material yang dibagi menjadi raising issue atau purchase requisition, pemeriksaan komponen atau material yang diminta, proses penentuan komponen, dan perencanaan pemesanan material. Selain itu, perencanaan manajemen sumber daya juga meliputi perencanaan pekerja (orang) yang dibagi menjadi standard job dan maintenance scheduled task (MST). Sedangkan untuk perencanaan manajemen sumber daya lainnya adalah perencanaan equipment support yang terdiri dari crane, flatbed truck, dan boom truck. Seluruh komponen yang termasuk dalam perencanaan manajemen sumber daya tersebut bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas dan meminimalkan downtime. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu analisis dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan manajemen sumber daya yang telah dilakukan untuk menentukan apakah kebijakan yang selama ini diterapkan telah mencapai tujuan atau belum. Selain itu, hasil dari analisis dan evaluasi tersebut kedepannya dapat digunakan sebagai saran perbaikan bagi perusahaan untuk dapat meningkatkan performansi dalam proses perencanaan manajemen sumber daya pada MOS Process Maintenance.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


1.2 Tujuan Kerja Praktek Tujuan dilakukannya kerja praktek adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui dan memahami mengenai proses perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance PT. Newmont Nusa Tenggara. 2. Melakukan analisis dan evaluasi terhadap kegiatan dalam perencanaan manajemen sumber daya pada MOS Process Maintenance PT. Newmont Nusa Tenggara.

1.3

Manfaat Kerja Praktek Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan kerja praktek dibagi menjadi 2, yaitu

manfaat bagi perusahaan dan manfaat bagi penulis.

1.3.1 Manfaat bagi Perusahaan Manfaat yang dapat diperoleh bagi PT. NNT antara lain : 1. Perusahaan dapat melakukan perbaikan dalam proses perencanaan manajemen sumber daya pada MOS Process Maintenance. 2. Performansi perusahaan dalam proses perencanaan manajemen sumber daya pada MOS Process Maintenance dapat ditingkatkan.

1.3.2 Manfaat bagi Penulis Adapun manfaat yang diperoleh bagi penulis adalah sebagai berikut : 1. Menambah pengetahuan dan pengalaman untuk mengaplikasikan ilmu teori yang didapatkan dalam perkuliahan ke dalam dunia kerja yang nyata. 2. Dapat memberikan solusi untuk permasalahan perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance PT. Newmont Nusa Tenggara.

1.4

Batasan dan Asumsi Batasan dan asumsi yang digunakan dalam kerja praktek bertujuan agar permasalahan yang akan

dibahas dapat lebih terfokus.

1.4.1 Batasan Batasan yang digunakan antara lain : 1. Permasalahan yang dihadapi hanya terbatas pada kegiatan perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance PT. NNT. 2. Sumber daya yang dibahas hanya terbatas pada pekerja, material, dan equipment support. 3. Waktu kerja praktek dibatasi hanya selama 1 bulan dengan kebijakan 5 hari kerja mulai pukul 06.30 WITA sampai pukul 16.30 WITA.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


1.4.2 Asumsi Adapun asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Tidak ada perubahan kebijakan dalam MOS Process Maintenance PT. NNT secara keseluruhan. 2. Data yang digunakan merupakan data terkini dan akurat berdasarkan database perusahaan. 3. Narasumber memberikan data yang sebenarnya mengenai proses perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance PT. NNT.

1.5

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan kerja praktek ini dibagi menjadi enam bab, yaitu bab pendahuluan,

gambaran umum perusahaan, laporan aktivitas harian, analisis dan interpretasi, evaluasi, dan kesimpulan serta saran.

1.5.1 Bab I Pendahuluan Bab pendahuluan menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan kerja praktek, manfaat kerja praktek, batasan dan asumsi, serta sistematika penulisan.

1.5.2 Bab II Gambaran Umum Perusahaan Pada bab ini dijelaskan mengenai gambaran umum perusahaan yang terdiri dari sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, deskripsi perusahaan, struktur organisasi perusahaan, dan informasi lain yang berkaitan dengan perusahaan.

1.5.3 Bab III Laporan Aktivitas Harian Pada bab ini dijelaskan mengenai lokasi kerja praktek, waktu pelaksanaan kerja praktek, pembimbing kerja praktek, dan detail aktivitas harian yang dilakukan oleh mahasiswa selama melakukan kerja praktek yang meliputi hari dan tanggal, pihak yang terlibat dalam kegiatan, serta aktivitas yang dilakukan.

1.5.4 Bab IV Analisis dan Interpretasi Pada bab ini dijelaskan mengenai analisis dan interpretasi dari seluruh kegiatan yang dilakukan selama kerja praktek. Bab ini juga merujuk pada saran perbaikan yang dapat diberikan bagi perusahaan.

1.5.5 Bab V Evaluasi Bab ini menjelaskan mengenai kebijakan perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance yang diterapkan oleh perusahaan, analisis dan evaluasi mengenai kebijakan eksisting, serta saran perbaikan yang dapat diberikan untuk melakukan pengembangan terhadap perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance perusahaan. 1.5.6 Bab VI Kesimpulan dan Saran

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Bab ini akan menjawab tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dalam bentuk kesimpulan dan saran yang dapat diberikan untuk pelaksanaan kerja praktek selanjutnya maupun untuk penelitian berikutnya.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum perusahaan yang meliputi sejarah perusahaan, visi dan misi, deskripsi, strukur organisasi, produk, dan informasi lain yang berkaitan dengan perusahaan.

2.1

Sejarah Perusahaan PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT) terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan

lokasi tambang dari PT. NNT yang dikenal dengan sebutan Batu Hijau berada di Kabupaten Sumbawa Barat di barat daya Pulau Sumbawa. Batu Hijau adalah tambang penghasil tembaga dan emas terbesar yang ditemukan pada tahun 1990. PT. NNT menandatangani Kontrak Karya pada tanggal 2 Desember 1986 dengan Pemerintah RI untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi dalam wilayah Kontrak Karya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan kontrak kerja ini, pada bulan Mei tahun 1990, ahli geologi dari pihak Newmont menemukan deposit Batu Hijau yang merupakan cebakan tembaga porfiri yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat. Selanjutnya pada bulan Oktober 1996, pemerintah RI menyetujui hasil analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang dilakukan berkaitan dengan sistem penempatan tailing bawah laut yang akan dilakukan oleh PT. NNT untuk membuang material tak berharga dari proses produksi. Konstruksi proyek dimulai pada awal 2007 dengan nilai investasi sebesar USD 1,8 milyar. Pada Desember 1999, PT. NNT menyelesaikan konstruksi area tambang dan pada tanggal 1 Maret 2000 produksi komersial PT. NNT dimulai. Masa berlaku kontrak PT. NNT dengan Pemerintah RI adalah sampai dengan tanggal 28 Februari 2030.

2.2

Visi dan Misi Perusahaan Sebagai suatu perusahaan tambang tembaga dan emas yang besar, PT. NNT tentunya memiliki

visi dan misi yang menjadi dasar dan pedoman dalam menjalankan segala aktivitas perusahaan. Adapun visi dari PT. NNT adalah Kita akan menjadi perusahaan tambang yang paling dihargai dan dihormati melalui pencapaian kinerja terdepan dalam industri tambang. Berdasarkan visi tersebut, terdapat 6 nilai utama yang dibangun oleh PT. NNT, diantaranya : 1. Bertindak atas dasar integritas, kepercayaan, dan rasa hormat. 2. Menghargai kreatifitas, tekad untuk menjadi yang terbaik, dan komitmen untuk bertindak. 3. Mewujudkan kepemimpinan di bidang kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab sosial. 4. Mengembangkan karyawan untuk menjadi yang terbaik. 5. Mengutamakan dan mewujudkan kerja tim serta komunikasi yang jujur dan terbuka. 6. Mendukung perubahan yang positif dengan mendorong inovasi dan menerapkan praktek yang telah disepakati.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Sedangkan misi dari PT. NNT adalah Kita akan membangun perusahaan tambang yang berkelanjutan yang mampu memberikan laba tertinggi kepada para pemegang saham dan menjadi yang terdepan di bidang keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab sosial. Adapun dasar strategi yang dirumuskan oleh PT. NNT untuk dapat mewujudkan visi dan misi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Karyawan, sumber daya kita yang paling berharga. 2. Perencanaan dan pelaksanaan operasional. 3. Perencanaan dan pelaksanaan proyek. 4. Peningkatan cadangan dan produksi. 5. Pemanfaatan, lingkup, dan skala. 6. Kekuatan dan fleksibilitas finansial.

2.3

Deskripsi Perusahaan Tambang batu hijau PT. NNT merupakan pit terbuka dengan metode penambangan konvensional

yang menggunakan shovel dan truk. Produk PT. NNT adalah berupa konsentrat tembaga yang mengandung sebagian emas dan perak yang dihasilkan melalui proses flotasi yang selanjutnya dikirimkan ke berbagai daerah pemasaran, seperti Jepang, Eropa, Korea Selatan, Australia, dan berbagai daerah lain untuk pengolahan selanjutnya. Tambang Batu Hijau PT. NNT berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat seperti ditunjukkan dalam gambar di bawah ini :

Gambar 2.1 Peta Lokasi Tambang Batu Hijau PT. NNT

Berdasarkan studi kelayakan, cadangan bijih tambang Batu Hijau adalah sebesar 1,1 miliar ton dengan kandungan 0,43% tembaga dan 0,33% emas per ton batuan. Mengacu pada tingkat produksi saat ini, usia tambang Batu Hijau diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2023. PT. NNT saat ini tengah melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah lain di dalam wilayah Kontrak Karya. Sebagai kontraktor Pemerintah Indonesia, PT. NNT memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian bangsa melalui penciptaan lapangan kerja dan pembayaran royalti serta pajak. Saat ini, PT. NNT menyediakan lapangan kerja langsung bagi lebih dari 7.400 orang. Dari jumlah itu, lebih dari

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


60% berasal dari Provinsi NTB. Sepanjang tahun 2011, PT. NNT memberikan kontribusi lebih dari Rp. 7,405 triliun berupa pajak, non-pajak, dan royalti kepada Pemerintah Indonesia. Selain itu, sepanjang tahun 2011 PT. NNT telah mengeluarkan dana untuk membeli barang dan jasa dari dalam negeri dan mengeluarkan dana untuk kegiatan pengembangan masyarakat dengan total dana mencapai Rp. 53,272 triliun. Dalam aktivitas penambangannya, PT. NNT tidak berjalan sendirian. PT. NNT merangkul masyarakat sekitar, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, dan sejumlah rekanan sebagai mitra kerja. PT. NNT sangat perlu untuk menjalin hubungan baik dengan semua elemen tersebut karena walaupun sebagai perusahaan yang besar, PT. NNT tetap membutuhkan bantuan dan dukungan dari semua pihak. Adapun sejumlah perusahaan yang dijadikan mitra kerja oleh PT. NNT adalah sebagai berikut : 1. 2. International SOS mengelola rumah sakit dan klinik serta menyediakan jasa pengobatan. Travira Air mengelola jasa penerbangan yang menyediakan helikopter dan jasa penerbangan lainnya. 3. Trakindo Utama sebagai perusahaan pengadaan dan perawatan alat-alat berat untuk Caterpillar. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Prasmanindo Boga Utama mengelola jasa cathering dan mini market. PT. Orica Mining Services menyediakan bahan-bahan explosive untuk kegiatan blasting. PT. Fluidcon Jaya sebagai pemasok suku cadang alat berat dan LV serta specialist hose. PT. Atlas Copco sebagai penjual barang-barang untuk alat berat. PT. Chakra Jawara sebagai pemasok suku cadang dan alat berat. PT. SLS Bearindo sebagai spesialis bearing atau alat-alat kendaraan yang berhubungan dengan bearing (penjualan segala jenis dan tipe bearing). 10. PT. Sanggar Sarana Baja (SSB) sebagai spesialis las untuk berbagai jenis baja dan besi. 11. PT. Meratus untuk menangani masalah kapal-kapal yang mengangkut barang-barang dari luar dan dalam negeri. 12. PT. Harnischfeger Indonesia (P&H) sebagai penjual alat-alat shovel. 13. Inamco sebagai supplier jasa dan tenaga kerja. 14. PT. Eka Mandiri Pratama sebagai pemasok tenaga kerja di Departemen Maintenance. 15. PT. Interek sebagai penyedia jasa laboratorium untuk batuan hasil eksplorasi. 16. PT. Kirana sebagai pemasok jasa tenaga kerja untuk kebersihan workshop di Trakindo.

2.4

Struktur Organisasi Perusahaan Seperti perusahaan lain pada umumnya, PT. NNT juga memiliki struktur organisasi yang

menggambarkan mengenai bagian-bagian atau jabatan pada perusahaan, mulai dari puncak hingga ke bawah. Pada sub bab ini akan dijabarkan mengenai struktur organisasi yang terbatas hanya pada Process Maintenance Department. Hal ini disebabkan karena struktur organisasi yang terlalu kompleks yang dimiliki oleh PT. Newmont Nusa Tenggara sehingga tidak memungkinkan untuk dijabarkan secara keseluruhan. Process Maintenance Department terdiri dari 4 bagian utama, yaitu Bagian Process

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Maintenance Planning and Strategy, Bagian Process Mechanical Maintenance, Bagian Process Electrical Maintenance, dan Bagian Process Management Development Maintenance yang khusus untuk menangani proyek-proyek dalam process maintenance. Masing-masing bagian tersebut dipimpin oleh seorang Superintendent. Bagian Process Maintenance Planning and Strategy terdiri dari 3 sub bagian, yaitu Planning, Engineering Reliability, dan Process Training yang masing-masing dipimpin oleh seorang General Foreman atau General Supervisor. Untuk Bagian Process Mechanical Maintenance terdiri dari sub bagian Mechanical Maintenance (Grinding Area), Mechanical Maintenance (Fabrication), Mechanical Maintenance (Crusher Area), dan Mechanical Maintenance (Tailing Area) yang masing-masing dipimpin oleh seorang General Foreman. Sedangkan untuk Bagian Electrical Maintenance terdiri dari sub bagian Electrical Maintenance (Grinding Area), Electrical Maintenance (Fabrication), Electrical Maintenance (Tailing Area), dan Electrical Control and Instrument yang masing-masing dipimpin oleh seorang General Foreman.

2.5

Produk Perusahaan Sebagaimana telah dijelaskan dalam sub bab sebelumnya, produk PT. NNT adalah berupa

konsentrat tembaga yang mengandung sebagian kecil emas dan perak. Berdasarkan data RKAB PT. NNT Kementrian ESDM tahun 2007, profil cadangan dan kandungan PT. NNT adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Tabel Profil Cadangan dan Kandungan PT. NNT

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa total cadangan bijih tambang PT. NNT adalah sebesar 1,1 milyar ton dengan kadar tembaga sebesar 0,43% dan kadar emas sebesar 0,33%. Berdasarkan data Kementrian ESDM, produksi mineral PT. NNT dalam kurun waktu antara tahun 2004-2010 adalah sebagai berikut :

Gambar 2.2 Produksi Mineral PT. NNT dalam Kurun Waktu 7 Tahun

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa produksi mineral tertinggi terjadi pada tahun 2004 dengan menghasilkan 1.007.099 dmt. konsentrat yang terdiri dari 320 ribu ton tembaga, 22.359 kg emas, dan 70.307 kg perak.

2.6

Kebutuhan Pendukung Perusahaan PT. Newmont Nusa Tenggara membangun prasarana fisik dan manusia yang besar untuk

menunjang bisnis penambangan tembaga dan emas di Batu Hijau. Adapun prasarana yang dimiliki oleh PT. NNT, antara lain : 1. 2. Administrasi yang merupakan kantor kedaerahan yang berada di Mataram dan Sumbawa. Transportasi yang terdiri dari ferry, bus, mobil perusahaan, truk, kapal, helikopter, dan seaplane. 3. Sarana pelabuhan yang merupakan tempat penampungan kendaraan dan sekaligus sebagai gudang untuk menyimpan produk perusahaan sebelum dikirim ke beberapa negara tujuan. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Komunikasi yang terdiri dari komputer, telepon, radio, dan jaringan microwave. Pendukung medis yang terdiri dari klinik, stasiun P3K, bantuan medis, dan evakuasi. Kontraktor yang bertugas untuk mendirikan camp dan melaksanakan kegiatan kerja spesifik. Tenaga kerja terampil yang bertugas untuk menyediakan makanan, akomodasi, dan lain-lain. Tim Respon Keadaan Darurat. Sarana olahraga, seperti kolam renang, lapangan bola, lapangan tenis, lapangan voli, lapangan golf, lapangan bulutangkis, lapangan basket, fitness center, dan biliard. 10. Koperasi pegawai yang menyediakan perlengkapan atau kebutuhan hidup sehari-hari. 11. Bank dan ATM. 12. Rumah Makan. 13. Pembangkit listrik. 14. Pengolah air. 15. Sarana ibadah. 16. Sarana rekreasi. 17. Sarana pendidikan yang terdiri dari Sekolah Nasional dan Sekolah Internasional. 18. Perumahan dan camp.

2.7

Management Operating System (MOS) Process Maintenance Perusahaan Management Operating System (MOS) Process Maintenance merupakan suatu kebijakan yang

dibuat oleh PT. NNT untuk mengatur mengenai kegiatan pemeliharaan. Selama ini, kegiatan pemeliharaan membutuhkan biaya yang sangat besar, khususnya bagi kegiatan operasi tambang. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu manajemen pemeliharaan yang efektif sehingga dapat meningkatkan kemampuan produksi dan penurunan biaya pemeliharaan. Kebijakan ini bertujuan untuk mencapai suatu tingkat kinerja pemeliharaan yang memberikan keuntungan ekonomis terbaik dengan

mempertimbangkan biaya produksi satuan dan penggunaan anggaran cost center. Kebijakan ini juga

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


digunakan untuk menilai tingkat kinerja dan mengelola upaya peningkatannya. Kebijakan ini berlaku bagi semua departemen di area konsentrator yang mencakup bidang perencanaan, pemeliharaan, manajemen kerja, pemeriksaan pabrik dan peralatan, serta peningkatan reliabilitas peralatan. Terdapat 6 fase atau siklus kerja pemeliharaan dalam MOS Process Maintenance yang terdiri dari : 1. Identifikasi dan inisiasi kerja. 2. Perencanaan kerja. 3. Penjadwalan kerja. 4. Pelaksanaan kerja. 5. Penutupan kerja. 6. Analisis dan perbaikan. Dalam laporan ini, akan dibahas secara lebih rinci mengenai proses perencanaan kerja, khususnya dalam kegiatan perencanaan manajemen sumber daya, yang meliputi perencanaan material yang dibagi menjadi raising issue atau purchase requisition, pemeriksaan komponen atau material yang diminta, proses penentuan komponen, dan perencanaan pemesanan material. Untuk perencanaan pekerja (orang) dibagi menjadi standard job dan maintenance scheduled task (MST). Sedangkan untuk equipment support dibagi menjadi crane, flatbed truck, dan boom truck. Berikut merupakan gambar dari bagian proses perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance PT. NNT :

10

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

11

Gambar 2.3 Bagian Proses Perencanaan dalam MOS Process Maintenance

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


2.8 Aspek K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Perusahaan Sesuai dengan visi korporasi PT. NNT, maka untuk mencapai visi tersebut salah satu nilai utama dari PT. NNT adalah mewujudkan kepemimpinan di bidang kesehatan dan keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, serta tanggung jawab sosial. Kebijakan regional tersebut telah diselaraskan dengan kebijakan kesehatan, keselamatan, dan kendali rugi korporasi PT. NNT. PT. NNT berkeyakinan bahwa manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang bertanggung jawab dan kinerja kesehatan dan keselamatan kerja terdepan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu perusahaan yang efisien dan sukses. Selain itu, peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai kesehatan dan keselamatan kerja untuk industri tambang juga telah diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 555.K/26/M.PE/1995 mengenai Garis Besar Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pertambangan Umum. Oleh karena itu, sebagai suatu perusahaan tambang maka PT. NNT berkewajiban untuk mematuhi peraturan yang telah dikeluarkan tersebut. Guna mencapai tujuan kesehatan dan keselamatan kerja, maka PT. NNT berkomitmen untuk : 1. Mematuhi semua ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku yang menjadi kewajiban kita sebagai standar minimum. 2. Menerapkan dan menjalankan Sistem Manajemen Terpadu (IMS) APAC dan Standar Teknis untuk mengurangi resiko bahaya terhadap personal atau kerusakan properti. 3. Mengidentifikasi bahaya terhadap kesehatan dan keselamatan kerja, resiko, serta peluang untuk peningkatan guna menetapkan standar yang dapat dicapai sesuai dengan nilai dan harapan karyawan serta masyarakat luas. 4. Mematuhi prinsip keselamatan kerja Newmont yang mencakup kepemiminan di bidang kesehatan dan keselamatan kerja bagi seluruh karyawan. 5. Memadukan keselamatan kerja ke dalam semua aspek kegiatan perusahaan, termasuk eksplorasi, pengembangan proyek, operasi tambang, perluasan tambang, akuisisi, divestasi, dan penutupan. 6. Menyampaikan tujuan dan sasaran yang dapat diukur yang akan mendorong peningkatan berkelanjutan guna menciptakan tempat kerja yang bebas penyakit dan cedera. 7. Mendorong perilaku yang aman dan menekankan tanggung jawab karyawan terhadap perilaku yang beresiko. 8. Melakukan inspeksi berkala, program audit penilaian, dan menindaklanjuti rekomendasi untuk peningkatan dengan segera mengambil keputusan dan langkah tindak lanjut. 9. Menunjukkan komitmen terhadap perilaku positif guna mencapai kinerja K3 yang terbaik.

12

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara BAB III LAPORAN AKTIVITAS HARIAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai laporan aktivitas harian mahasiswa selama melakukan kerja praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara.

13

3.1

Lokasi Kerja Praktek Kerja praktek dilakukan di PT. Newmont Nusa Tenggara yang terletak di daerah operasi tambang

Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat. Dalam kerja praktek ini, peserta kerja praktek ditempatkan pada Bagian Process Maintenance Planning and Strategy, Process Department PT. Newmont Nusa Tenggara.

3.2

Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek Pelaksanaan kerja praktek berlangsung selama 1 bulan, terhitung mulai tanggal 10 Juli 2012

sampai dengan tanggal 10 Agustus 2012. Jam kerja peserta kerja praktek disepakati hanya 5 hari kerja, mulai hari Senin sampai dengan hari Jumat, sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Aktivitas kerja untuk hari Senin sampai hari Jumat dimulai pukul 06.30 WITA - 16.30 WITA dengan waktu istirahat selama 1 jam mulai pukul 12.00 WITA - 13.00 WITA. Sedangkan jam kerja untuk hari Jumat dimulai pukul 06.30 WITA - 16.30 WITA dengan waktu istirahat mulai pukul 11.30 WITA 13.00 WITA.

3.3

Pembimbing Kerja Praktek Peserta kerja praktek didampingi oleh beberapa orang pembimbing yang akan membantu dan

memberikan arahan atau masukan pada mahasiswa dalam melaksanakan tugas pada Bagian Process Maintenance Planning and Strategy. Adapun para pembimbing tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pembimbing Internal 2. Pembimbing Eksternal : Bapak Dody Hartanto : Bapak Zainul Wahidin

Selain dibimbing oleh para pembimbing yang disebut diatas, karyawan yang secara resmi bukan sebagai pembimbing pun banyak memberikan masukan-masukan mengenai data-data atau keterangan yang diperlukan oleh peserta kerja praktek.

3.4

Pelaksanaan Harian Kerja Praktek Dalam sub bab ini, akan diuraikan mengenai aktivitas harian peserta kerja praktek selama

melakukan kerja praktek di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy PT. NNT.

3.4.1 Laporan Hari Ke-1 (10 Juli 2012)

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Pada hari pertama, semua peserta kerja praktek tiba di pelabuhan Benete pada pukul 12.00 WITA. Kemudian peserta melakukan sesi pemotretan untuk pembuatan badge sebagai kartu identitas selama berada di wilayah PT. Newmont Nusa Tenggara. Setelah itu, peserta diarahkan menuju Training Center Concentrator dan mendapatkan arahan secara garis besar mengenai kegiatan kerja praktek di perusahaan.

14

3.4.2 Laporan Hari Ke-2 (11 Juli 2012) Di hari kedua kerja praktek, kegiatan dilanjutkan dengan safety induction oleh Bapak Romli dan tes kesehatan oleh pihak International SOS.

3.4.2.1

Safety Induction Safety induction dilakukan untuk memberikan bekal awal bagi setiap orang, baik pengunjung

maupun karyawan PT. NNT terhadap keselamatan kerja sebelum bekerja langsung di lapangan. Adapun materi yang diberikan oleh Bapak Romli selaku instruktur, meliputi identifikasi bahaya, kasus-kasus yang sering terjadi, dan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri). Izin beraktifitas di lapangan baru akan keluar ketika peserta berhasil meraih skor minimal, yaitu skor 70 pada tes tertulis yang diadakan di akhir pertemuan.

3.4.2.2

Tes Kesehatan Lokasi tambang PT. NNT yang berada di daerah endemi malaria dan kondisi lingkungan yang

berdebu membuat perusahaan cukup concern terhadap kesehatan karyawan dan orang-orang yang berada di daerah sekitar lingkar tambang. Perhatian ini ditunjukkan dengan adanya tes mantoux dan penyuluhan tentang bahaya penyakit malaria, TBC, dan HIV/AIDS. Selain itu, peserta diberikan informasi terkait fasilitas kesehatan yang tersedia di sekitar lokasi perusahaan.

3.4.3 Laporan Hari Ke-3 (12 Juli 2012) Hari ketiga diisi dengan pembagian APD (Alat Pelindung Diri), tanda tangan agreement, dan penempatan departemen. Adapun departemen yang diperoleh peserta kerja praktek adalah Process Department, yaitu pada Bagian Process Maintenance Planning and Strategy. Setelah tiba di departemen penempatan, peserta mendapatkan materi singkat di sub unit Process Training oleh Bapak Boedi Arda terkait gambaran umum proses bisnis yang terjadi di Concentrator.

3.4.4 Laporan Hari Ke-4 (13 Juli 2012) Pada hari keempat, kegiatan diawali dengan penerimaan oleh Bapak Zainul Wahidin selaku General Foreman Planning di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy, dimana Bapak Zainul Wahidin juga merupakan pembimbing eksternal peserta kerja praktek. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi terhadap objek amatan yang akan diamati oleh peserta kerja praktek terkait dengan Bagian Process Maintenance Planning and Strategy. Berikut adalah gambaran

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


umum proses manajemen yang dilakukan di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy yang disebut sebagai Management Operating System (MOS) Process Maintenance :
Work Identificati on Analysis Planning

15

Closure Executio n

Scheduli ng

Gambar 3.1 Management Operating System (MOS) Process Maintenance

Management Operating System (MOS) adalah panduan manajemen di dalam Process Maintenance Department. Secara umum, terdapat 6 fase atau langkah utama dalam MOS. Langkah pertama adalah penentuan jenis pekerjaan yang dibutuhkan dari berbagai sumber, termasuk feedback pekerja lapangan. Daftar pekerjaan ini kemudian dikelola oleh planner, mulai dari penyusunan maintenance scheduled task (MST), material requirement planning (MRP), dan lain-lain. Output dari perencanaan ini digunakan dalam kegiatan penjadwalan. Setelah jadwal kegiatan beserta work order (WO) telah terbit, maka dilanjutkan dengan eksekusi dan closure ketika perbaikan telah selesai dilakukan. Hasil pekerjaan perbaikan ini kemudian dianalisa dan menjadi feedback perbaikan untuk work identification selanjutnya. Di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy, keseluruhan alur MOS Process Maintenance rutin dilakukan, kecuali alur eksekusi dan work closure.

3.4.5 Laporan Hari Ke-5 (16 Juli 2012) Aktivitas hari kelima diisi dengan beberapa diskusi dengan karyawan di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy.

3.4.5.1

Resources Management Dalam perencanaan manajemen sumber daya, terdapat tiga objek yang dikelola, yaitu

material/komponen, manusia (man), dan equipment support. Pengelolaan sumber daya manusia dilakukan dalam bentuk penjadwalan kerja. Total kapasitas jam kerja yang dimanfaatkan hanya sekitar 80% untuk kegiatan planned maintenance (termasuk pekerjaan tertunda/backlog), sedangkan sisanya digunakan sebagai antisipasi terjadinya unplanned maintenance pada saat proses produksi berlangsung. Setiap pekerjaan diurutkan berdasarkan prioritas pekerjaan yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Production Services (calibration etc) Modification, upgrade etc (change)

16

Repair Rotable Equipment

Breakdown (Emergent)

Safety & Environment

Routine (corrective)

Equipment Trial

Equipment Type Utilities (site wate, power, etc) Production Critical 1 Equipment - No Redudancy Production Critical 1 Equipment - With Redudancy Material Handling Systems Mobile Equipment Production Critical 2 Equipment - No Redudancy Production Critical 2 Equipment - With Redudancy Support Equipment Production Criticality 3 Equipment (buildings etc) Other

10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

10 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10

9 90 81 72 63 54 45 36 27 18 9

8 80 72 64 56 48 40 32 24 16 8

7 70 63 56 49 42 35 28 21 14 7

6 60 54 48 42 36 30 24 18 12 6

5 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5

4 40 36 32 28 24 20 16 12 8 4

3 30 27 24 21 18 15 12 9 6 3

2 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2

Gambar 3.2 Skala Prioritas Pekerjaan

Keterangan : Prioritas 1 Prioritas 2 Prioritas 3 Prioritas 4 Prioritas 5

3.4.5.2

Material Requirement Planning (MRP) dan Inventory Material requirement planning (MRP) merupakan salah satu cara untuk dapat mengetahui

kebutuhan material/komponen yang dibutuhkan dalam kurun waktu tertentu. Komponen yang telah memiliki stock code di warehouse akan dikenakan raising issue (IR) yang merupakan slip pengambilan langsung komponen di warehouse. Sedangkan apabila komponen belum memiliki stock code, maka akan menghasilkan purchase requisition (PR) yang selanjutnya akan diarahkan kepada petugas purchasing untuk pengadaan barang.

3.4.5.3

Letterman List dan Cost Center Setiap minggu, pihak planner, warehouse, dan purchasing mengadakan pertemuan untuk

membahas masalah pembelian komponen, pemilihan supplier, penentuan stock level, dan koordinasi lainnya. Hal ini diharapkan dapat membangun koordinasi yang baik antara pihak planning, purchasing, maupun warehouse agar dapat meminimasi kesalahan pembelian dan optimisasi biaya. Adapun komponen yang dibahas pada pertemuan ini hanya diperuntukkan bagi komponen yang bersifat kritis.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Administration
1 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

Housekeeping

Work Type

PM/PdM

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Cost center merupakan pengelompokan biaya-biaya yang muncul di Process Maintenance Department. Setiap cost center memiliki kode tertentu dan alokasi biaya masing-masing. Berikut adalah list dari cost center code :
Tabel 3.1 Cost Center Code

17

Process Maintenance Code


321001 330001 331001 332001 351001 352001 380001 391001 392001 262001 Process Milling - Crushing - Gen - Maint Process Milling - Grinding - Gen - Maint Process Milling - Grinding - Ball - Maint Process Milling - Grinding - SAG - Maint Process Milling - Concentration - Flotation - Maint Process Milling - Concentration - Thickening - Maint Process Milling - Concentration - Tailling & Utilities - Maint Process Milling - Maint - Central - Maint Process Milling - Maint - Planning - Maint Mining Surface - MWM - WTP - Maint

Cost center code tentunya dapat mempermudah tracing (penelusuran) penggunaan biaya. Sedangkan tracing penggunaan biaya yang lebih detail dapat menggunakan kode expect element (EE). Jika cost center code mengelompokkan biaya ke dalam area aktivitas maintenance tertentu, kode EE mengelompokkan setiap peralatan yang digunakan. Berikut adalah sebagian contoh EE code :
Tabel 3.2 Expect Element (EE) Code

EE Code & Description


1001 1005 2016 2070 2081 2156 3510 3512 4412 5342 Hourly Regular Hourly Overtime Other Chemical & Reagents Small Tools Safety Clothing Rubber Liners Equipment Computer & Communications Hardware Contracted Services Food & Catering

3.4.6 Laporan Hari Ke-6 (17 Juli 2012) Pada hari ini, kegiatan seperti biasa dimulai dengan safety talk. Topik pada safety talk kali ini terkait evaluasi kegiatan total plant shutdown yang telah berakhir. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan praktek scheduling bersama Bapak Hendra. Scheduling yang dilakukan adalah alokasi human resource pada tiap pekerjaan yang dibebankan secara kolektif (workgroup). Utilisasi pekerja ditetapkan antara 80% - 90%. Setiap minggunya dilakukan meeting commit dengan pekerja lapangan untuk mendiskusikan pekerjaan yang akan dikerjakan selama satu minggu kedepan.

3.4.7 Laporan Hari Ke-7 (18 Juli 2012) Aktivitas di hari ini diisi dengan diskusi mengenai pembuatan CIR (Catalogue Item Request) online bersama Bapak Edy. Berikut merupakan gambar form dari CIR online :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

18

Gambar 3.3 Tampilan Form CIR Online

CIR merupakan form registrasi komponen baru yang ingin dibeli, akan tetapi belum terdaftar di dalam stock code. Pihak planner harus mengisi beberapa keterangan, diantaranya nama, deskripsi, harga, forecast kebutuhan, dan menentukan ROP (Re-Order Point) dan ROQ (Re-Order Quantity). Setelah CIR terbit, maka pihak katalog dan purchasing akan memproses lebih lanjut hingga item tersebut datang ke warehouse dan memiliki stock code. Dalam periode tertentu, ROP dan ROQ setiap item selalu diperbaharui pada Ellipse sesuai dengan pengalaman penggunaan (usage) di lapangan.

3.4.8 Laporan Hari Ke-8 (19 Juli 2012) Kegiatan pada hari ini diisi dengan diskusi mengenai penjadwalan dan pengelolaan equipment support bersama Bapak Asri Noor. Equipment support merupakan salah satu dari tiga sumber daya yang didalamnya mencakup peralatan-peralatan yang membantu kegiatan pemeliharaan, seperti crane, boom truck, dan flatbed truck. Penjadwalan dilakukan dengan menggunakan planning horizon selama 22 hari dan database tersebut di-update setiap dua kali sehari ke dalam intra-net. Tugas planner adalah mengatur jadwal penggunaan equipment support dan berkoordinasi dengan petugas lapangan. PT. Newmont Nusa Tenggara kini tengah dalam proses pembelian crane baru semenjak beberapa crane milik perusahaan telah di-phase out. Untuk menjaga kelangsungan operasional, perusahaan menyewa sekitar sembilan crane dari perusahaan lain.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Setelah itu, peserta kerja praktek mengikuti meeting commit bersama pekerja lapangan (pimpinan workgroup) untuk membahas list pekerjaan yang akan dikerjakan dalam satu minggu kedepan. Setelah pimpinan workgroup menyampaikan update manpower yang dimiliki, planner kemudian menyesuaikan pekerjaan pemeliharaan yang mencakup preventive maintenance dan corrective maintenance. Apabila utilisasi pekerja masih diatas 90%, maka pekerjaan yang tidak terlalu kritis, seperti pemeliharaan setiap tiga bulan akan ditunda terlebih dahulu.

19

3.4.9 Laporan Hari Ke-9 (20 Juli 2012) Pada hari ini, kegiatan dimulai dengan safety talk membahas peristiwa PFO, yaitu karyawan yang mengalami kecelakaan di bagian electrical. Seluruh karyawan mendapatkan himbauan untuk lebih hatihati dan mampu mengidentifikasi bahaya di sekitar lingkungan kerja sebelum melakukan segala aktivitas. Selanjutnya peserta kerja praktek melakukan kunjungan ke warehouse untuk memeriksa ketersediaan komponen bersama Bapak Marthen.

3.4.10 Laporan Hari Ke-10 (23 Juli 2012) Di awal minggu ketiga ini, kegiatan diisi dengan diskusi hasil KPI Bagian Process Maintenance untuk minggu ke-28. KPI itu sendiri mencakup beberapa area, seperti performa sumber daya, produksi, penggunaan biaya, safety & environment, dan OEE score. Selanjutnya peserta kerja praktek melakukan kunjungan ke warehouse Con 1 untuk melakukan pengecekan komponen direct purchase bersama Bapak Sujito.

3.4.11 Laporan Hari Ke-11 (24 Juli 2012) Kegiatan pada hari ini diisi dengan membantu merapikan APD dan mengidentifikasi masalah berdasarkan weekly report pada minggu ke-28. Secara garis besar, beberapa masalah yang dapat diidentifikasi dari laporan tersebut, antara lain utilitas workgroup yang bervariasi, tingginya jumlah backlog, work compliance, dan variasi budget yang cukup tinggi.

3.4.12 Laporan Hari Ke-12 (25 Juli 2012) Kegiatan pada hari ini diisi dengan melanjutkan pengerjaan laporan dan penyusunan poin-poin evaluasi yang mencakup evaluasi kinerja penjadwalan manpower dan equipment support serta performa inventory level. Kegiatan selanjutnya diisi dengan diskusi bersama Bapak Dedy tentang list part-part yang termasuk ke dalam stock class routine, critical, dan insurance. Part ini nantinya akan masuk dalam analisa penetapan ROP dan ROQ.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


3.4.13 Laporan Hari Ke-13 (26 Juli 2012) Pada hari ini, kegiatan diisi dengan melanjutkan pengerjaan laporan untuk bab evaluasi yang telah sampai pada tahap identifikasi masalah. Permasalahan terkait manpower terdapat pada utilitas pekerja work compliance dan pekerjaan backlog. Sementara itu, permasalahan untuk material terdapat pada part inventory control. Sedangkan untuk equipment support terdapat masalah pada aliran informasi dari lapangan ke planner. Kegiatan dilanjutkan dengan turut menghadiri meeting commit bersama Bapak Hendra dan Bapak Win. Setelah itu, dilanjutkan dengan melakukan pengecekan kondisi swiss pump di lokasi pembuangan tailing. Swiss pump adalah salah satu pompa vital yang berfungsi untuk menyedot air laut dan mengalirkannya melalui pipa menuju concentrator.

20

3.4.14 Laporan Hari Ke-14 (27 Juli 2012) Kegiatan hari ini diisi dengan presentasi progress laporan kepada Bapak Wahid selaku pembimbing eksternal. Progress laporan yang disampaikan mencakup bab 1 hingga bab 4 yang dilanjutkan dengan penyampaian draft untuk bab 5. Disamping itu, Bapak Wahid selaku pembimbing eksternal juga memberikan beberapa masukan dan revisi terhadap progress laporan yang disampaikan. Beliau juga menyampaikan beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh seorang planner di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy. Seorang planner seharusnya dapat mengerti kondisi lapangan dan memegang kontrol terhadap kegiatan maintenance tersebut. Terkait masalah penjadwalan, planning horizon yang digunakan tidak lagi satu minggu kedepan, melainkan beberapa minggu kedepan atau bahkan mungkin bulanan. Hal inilah yang menyebabkan pekerjaan seorang planner adalah pekerjaan yang dinamis dan memerlukan pemikiran strategis untuk jangka panjang maupun respon cepat untuk jangka pendek.

3.4.15 Laporan Hari Ke-15 (30 Juli 2012) Kegiatan kerja praktek hari ini diisi dengan melanjutkan penyelesaian laporan untuk bab evaluasi dan pencarian literatur yang membahas mengenai materi spare part inventory control. Materi ini akan digunakan sebagai referensi evaluasi dan tata cara inventory control terkait komponen yang bersifat kritis dalam kegiatan maintenance.

3.4.16 Laporan Hari Ke-16 (31 Juli 2012) Kegiatan pada hari ini diisi dengan safety talk dan evaluasi bersama mengenai weekly planning schedule oleh Bapak Wahid. Beberapa isu yang muncul dari laporan mingguan adalah terdapat masalah dalam pelaksanaan perencanaan mingguan. Beberapa planner mengeluhkan masalah dalam membuat weekly planning schedule, diantaranya terdapat workgroup yang kekurangan resource manpower, absennya foreman dalam meeting commit, dan pengembalian job card yang tidak tepat waktu. Dari beberapa permasalahan tersebut, dalam safety talk ini dihasilkan beberapa kesimpulan, yaitu diperlukan koordinasi lebih lanjut terkait pengembalian job card dengan penanggung jawab masing-masing

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


workgroup dan perlu adanya sosialisasi bantuan pengisian job card bagi pekerja yang masih kurang paham.

21

3.4.17 Laporan Hari Ke-17 (1 Agustus 2012) Kegiatan pada hari ini diisi dengan melanjutkan pengerjaan laporan dan perhitungan ROP dan ROL untuk part routine (stock code: 4051785) dengan menggunakan beberapa pendekatan, antara lain model klasik Economic Order Quantity (EOQ), Continous Review Model, dan Base Stock Model.

3.4.18 Laporan Hari Ke-18 (2 Agustus 2012) Kerja praktek hari ini diawali oleh safety talk yang dilanjutkan dengan melakukan diskusi dengan bapak Muis terkait review inventory dari Supply Chain Department yang sudah tidak digunakan selama kurun waktu 2 (dua) tahun, 3 (tiga) tahum, dan 4 (empat) tahun. Pihak planner ditugaskan untuk dapat membuat justifikasi terhadap komponen tersebut apabila memang masih diperlukan. Apabila sudah tidak dibutuhkan, stock class komponen yang saat ini bersifat critical dan routine dapat diubah menjadi obsolate, insurance, atau order on demand. Pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan menghadiri meeting commit dengan pimpinan workgroup upstream.

3.4.19 Laporan Hari Ke-19 (3 Agustus 2012) Kegiatan pada hari ini diisi dengan safety meeting membahas topik tips mengatasi mata lelah di depan monitor. Topik ini merupakan wujud nyata kampanye K3 PT. NNT, khususnya pada Bagian Process Maintenance Planning and Strategy untuk menjaga kesehatan para karyawan agar tetap fit dalam beraktivitas karena sebagian besar aktivitas para karyawan dihabiskan di depan layar monitor. Selanjutnya, kegiatan diisi dengan pengerjaan laporan untuk bagian evaluasi equipment support dan bab kesimpulan dan saran.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara Halaman ini sengaja dikosongkan

22

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pengertian umum Bagian Process Maintenance Planning and Strategy, Management Operating System (MOS) Process Maintenance, maintenance scheduled task (MST), perencanaan manajemen sumber daya, material yang meliputi raising issue atau purchase requisition, pemeriksaan komponen atau material yang diminta, proses penentuan komponen, dan perencanaan pemesanan material, pekerja (orang) yang meliputi standard job dan maintenance scheduled task (MST), serta equipment support yang meliputi crane, flatbed truck, dan boom truck.

23

4.1

Bagian Process Maintenance Planning and Strategy Bagian Process Maintenance Planning and Strategy merupakan salah satu bagian yang berada

dalam Process Maintenance Department yang mengurusi mengenai perencanaan kegiatan pemeliharaan dalam proses produksi PT. NNT. Walaupun tidak terlibat langsung dalam prosesnya, namun Bagian Process Maintenance Planning and Strategy memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan kegiatan pemeliharaan karena seluruh proses perencanaan yang terkait dengan pekerjaan, penjadwalan, penentuan sumber daya, dan sebagainya harus disusun sebaik mungkin agar dapat meningkatkan kemampuan produksi dan menghemat biaya pemeliharaan melalui manajemen pemeliharaan yang efektif. Secara umum, fungsi kerja dari Bagian Process Maintenance Planning and Strategy digambarkan dalam sebuah flowchat yang disebut sebagai Management Operating System (MOS) Process Maintenance, dimana kegiatan utamanya meliputi identifikasi dan inisiasi kerja, perencanaan kerja, penjadwalan kerja, pelaksanaan kerja, penutupan kerja, dan analisis serta perbaikan terhadap hasil kerja. Bagian Process Maintenance Planning and Strategy dipimpin oleh seorang superintendent dan dibagi dalam 3 sub bagian, yaitu planning, reliability, dan process training. Seluruh sub bagian inilah yang akan berkoordinasi untuk membuat perencanaan kegiatan pemeliharaan dalam proses produksi PT. NNT, baik dari sisi perencanaan, uji ketahanan/keandalan terhadap equipment, dan pelatihan kepada para pekerja (manpower) yang akan melakukan kegiatan pemeliharaan.

4.2

Management Operating System (MOS) Process Maintenance Secara umum, Management Operating System (MOS) merupakan bagian dari program kerja

business excellence yang merupakan sekumpulan set proses, pengukuran, dan peralatan untuk memaksimalkan efisiensi dan meningkatkan produktivitas. Metodologi ini menggunakan sebuah pendekatan sistematis dan berulang dalam membuat rencana, mengelola, mengeksekusi, dan mengawasi performa bisnis dengan cara menguraikan rencana bisnis jangka panjang ke dalam tugas kerja terpisah. Management Operating System (MOS) Process Maintenance merupakan suatu kebijakan yang dibuat oleh PT. NNT untuk mengatur mengenai kegiatan pemeliharaan. Selama ini, kegiatan pemeliharaan membutuhkan biaya yang sangat besar, khususnya bagi kegiatan operasi tambang. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu manajemen pemeliharaan yang efektif sehingga dapat meningkatkan

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


kemampuan produksi dan penurunan biaya pemeliharaan. Selain itu, peningkatan kinerja keselamatan, kepedulian lingkungan, dan kualitas pemeliharaan juga dipadukan dalam proyek peningkatan pemeliharaan. Kebijakan ini bertujuan untuk mencapai suatu tingkat kinerja pemeliharaan yang memberikan keuntungan ekonomis terbaik dengan mempertimbangkan biaya produksi satuan dan penggunaan anggaran cost center. Kebijakan ini juga digunakan untuk menilai tingkat kinerja dan mengelola upaya peningkatannya. Kebijakan ini berlaku bagi semua departemen di area konsentrator yang mencakup bidang perencanaan, pemeliharaan, manajemen kerja, pemeriksaan pabrik dan peralatan, serta peningkatan reliabilitas peralatan. Selain itu, kebijakan ini juga mencakup fungsi pemeliharaan dan manajemen material, kontrol manajemen kerja operasi tambang, pelaporan produksi dan downtime, dan bidang penganggaran serta sistem pelaporan biaya. Kebijakan ini tidak mencakup masalah kontrol operasional, seperti pemanfaatan pabrik. Terdapat 6 fase atau siklus kerja pemeliharaan dalam MOS Process Maintenance yang terdiri dari : 1. Identifikasi dan Inisiasi Kerja Identifikasi kerja berfungsi untuk mengidentifikasi pekerjaan pemeliharaan yang tepat untuk dilakukan pada waktu yang tepat. Pada proses ini, terdapat 3 kegiatan utama yang dilakukan, yaitu pemberitahuan, permohonan kerja, dan otorisasi pekerjaan. 2. Perencanaan Kerja Perencanaan pekerjaan berfungsi untuk mempertimbangkan, menganalisis, dan menyiapkan sumber daya dan anggaran yang dibutuhkan dalam pekerjaan pemeliharaan agar lebih efektif sesuai dengan keadaan pekerjaan pemeliharaan tersebut. Proses perencanaan dibagi menjadi 4 bagian utama, yaitu analisis lingkup kerja, pembuatan maintenance scheduled task (MST), dan manajemen sumber daya. 3. Penjadwalan Kerja Penjadwalan kerja adalah kegiatan yang dilakukan oleh maintenance planner untuk me-review beban kerja yang akan datang dengan memperhatikan prioritas kerja, ketersediaan tenaga kerja, sumber daya, dan faktor lain yang mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan. Proses penjadwalan kerja dibagi menjadi penjadwalan jangka panjang, penjadwalan jangka menengah, dan penjadwalan mingguan. 4. Pelaksanaan Kerja Pelaksanaan kerja merupakan tanggung jawab dari maintenance foreman untuk memastikan bahwa pekerjaan telah dilakukan dengan benar dan tepat waktu. Agar efisiensi yang dihasilkan maksimal, personal maintenance harus tiba di lokasi kerja sebelum waktu yang direncanakan (pre-planned time) dan pekerjaan harus dilakukan dalam kerangka waktu yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kerja terdiri dari 3 kegiatan utama, yaitu pemeliharaan yang direncanakan, pemeliharaan yang tidak direncanakan, dan pemantauan kondisi (condition monitoring-CoMo). 5. Penutupan Kerja

24

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Penutupan kerja berkaitan dengan sistem pencatatan work order untuk menindaklanjuti kegiatan pemeliharaan, baik dari aspek teknis maupun aspek finansial. Dalam jangka panjang, analisis work order dapat memberikan cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketersediaan sumber daya. Agar analisis yang dilakukan akurat, maka semua pekerjaan pemeliharaan harus dicatat dan database yang ada dipindahkan dari work order ke dalam Ellipse dengan menggunakan kategori yang telah ditentukan. Work order yang dikembalikan harus menunjukkan status pekerjaan, jam kerja aktual, material yang digunakan, dan indikasi mengenai pekerjaan yang telah dilakukan atau rekomendasi pekerjaan tambahan. 6. Analisis dan Perbaikan Tujuan dari analisis work order adalah untuk menganalisis dan memprediksi kegagalan dengan menggunakan data yang dibuat berdasarkan riwayat, analisis penyebab dasar, dan inspeksi untuk mencegah agar kegagalan tersebut tidak terulang kembali pada masa yang akan datang. Terdapat 4 analisis utama yang dilakukan dalam proses ini, yaitu analisis gangguan kronis, analisis downtime terencana, analisis perencanaan, dan pengukuran kinerja pelaksanaan. Kebijakan ini disusun dengan menggunakan Pedoman Manajemen Pemeliharaan Newmont Global, strategi yang dikembangkan sebelumnya, dan praktek terbaik yang telah diakui. Kebijakan ini juga didukung oleh Pedoman Pemeliharaan PT. NNT dan prosedur yang ada. Senior Manager Process Concentrator telah menyetujui kebijakan ini dan segala perubahan yang signifikan terhadap kebijakan ini harus mendapatkan persetujuan dari Senior Manager. Superintendent departemen bertanggung jawab atas implementasi kebijakan ini melalui General Foreman dengan me-review kinerja, melaksanakan rencana peningkatan pemeliharaan, dan mengontrol perkembangan sesuai rencana.

25

4.3

Maintenance Scheduled Task (MST) Maintenance Scheduled Task (MST) yang terdapat dalam Ellipse secara sederhana dapat diartikan

sebagai preventive maintenance task. Pengembangan program preventive maintenance bertujuan untuk menentukan tugas pemeliharaan rutin yang harus dilakukan untuk mencapai tingkat kinerja yang diharapkan guna memenuhi kebutuhan bisnis. Jika program preventive maintenance berjalan efektif, maka program preventive maintenance akan dapat mengidentifikasi dan menemukan kerusakan yang dapat dicegah melalui pemeliharaan. Terdapat 4 fase atau langkah dalam proses pembuatan MST, yaitu pembuatan equipment group identifier (EGI), pembuatan applied parts list (APL), pembuatan standard job, dan pembuatan MST itu sendiri. Secara umum, keempat fase atau langkah tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam perencanaan manajemen sumber daya material dan pekerja. Untuk perencanaan manajemen sumber daya material dapat melalui fase EGI dan APL, sedangkan untuk perencanaan manajemen sumber daya pekerja dapat melalui fase standard job dan MST.

4.4

Perencanaan Manajemen Sumber Daya dalam MOS Process Maintenance

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Untuk memaksimalkan produktivitas dan meminimalkan downtime peralatan, maka kebutuhan material dan sumber daya, seperti crane, kontraktor, tenaga kerja, dan lain-lain harus tersedia di lokasi kerja sebelum setiap kegiatan pemeliharaan dimulai. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu perencanaan kedepan, baik untuk jangka panjang, seperti shutdown utama dan overhaul, maupun untuk jangka pendek yang dilakukan setiap hari dan setiap minggu. Khusus untuk pekerjaan yang bersifat darurat, material dan sumber daya yang dibutuhkan harus disediakan secepat mungkin untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, rencana yang telah dibuat terkadang dapat berubahubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Untuk menghindari material yang berserakan di tempat kerja dan sumber daya eksternal yang tidak digunakan, maka metode koordinasi sumber daya perlu dilakukan. Koordinasi sumber daya secara efektif dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Menelusuri lead time untuk memastikan bahwa pekerjaan tidak dimulai sampai seluruh sumber daya yang dibutuhkan tersedia. 2. Manajemen material yang aktif terkait dengan masalah pengadaan sumber daya dari luar untuk memastikan kedatangan yang tepat waktu. 3. Menetapkan prioritas yang tepat dan rencana yang kemungkinan akan terjadi untuk semua work order. 4. Koordinasi yang teratur antara pihak operasional dan pihak pemelihara untuk mendapatkan akses peralatan terbaik dan minimalisasi downtime. 5. Kolaborasi antara pemelihara, supply chain management, dan penyedia jasa eksternal. 6. Proses permintaan dibuat menjadi purchase order untuk memenuhi kebutuhan dengan catatan bahwa purchase order umumnya akan membuat komitmen keuangan yang mengikat untuk Newmont sehingga tidak boleh tergesa-gesa dalam pengambilan keputusan. 7. Menentukan dan mengkomunikasikan mengenai ketersediaan material. Selain itu, seorang maintenance planner juga harus : 1. Meminta dan mengeluarkan semua material yang dibutuhkan sesuai dengan spesifikasi. 2. Memeriksa semua masalah yang terkait dengan kebenaran dan kualitas spesifikasi. 3. Menerima dan menangani semua material sehingga siap untuk digunakan. 4. Memahami dan menelusuri lead time untuk melakukan verifikasi tanggal mulai pekerjaan yang telah dijadwalkan. Berkaitan dengan hal diatas, maka seharusnya seorang supply chain management harus mengkonfirmasi lead time pengiriman secara akurat. Sedangkan maintenance planner atau supervisor harus memastikan bahwa kebijakan terhadap site telah dikomunikasikan kepada penyedia jasa eksternal untuk menunjukkan bahwa segala persyaratan yang ada telah dipenuhi sebelum sumber daya tiba di site, seperti perizinan, lingkungan, prosedur isolasi dan keselamatan, dan ruang lingkup kerja.

26

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


4.4.1 Material Material merupakan salah satu bagian dari sumber daya yang merupakan bahan baku atau komponen yang dibutuhkan dalam kegiatan pemeliharaan perusahaan. Material merupakan sumber daya yang sangat penting dalam kegiatan pemeliharaan perusahaan. Oleh karena itu, ketersediaan material harus selalu diperhatikan oleh pihak planner untuk mengantisipasi kebutuhan secara tiba-tiba yang membutuhkan material dengan cepat dan tepat. Dalam MOS Process Maintenance, terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan material, yaitu jenis permintaan material, proses pemeriksaan material yang diminta, proses penentuan jenis material/komponen, dan perencanaan pemesanan material.

27

4.4.1.1

Raising Issue atau Purchase Requisition Material yang dibutuhkan dapat dibagi menjadi item yang berupa stok dan item yang berupa

purchase requisition. Item berupa stok ditandai dengan adanya stock code dari material yang dibutuhkan. Sedangkan purchase requisition muncul akibat belum adanya stock code dari material yang dibutuhkan. Kemudian, dari purchase requisition tersebut akan muncul purchase order yang selanjutnya akan dilakukan proses pemesanan material oleh pihak purchasing. Material yang dibutuhkan diminta langsung oleh user yang dalam hal ini adalah planner atau pengguna akhir dengan sistem transaksi sebagai berikut : 1. Item stok akan menghasilkan warehouse requisition, dimana slip pengambilan akan dicetak secara otomatis untuk warehouse requisition pada warehouse yang telah ditentukan. 2. Item purchase requition akan menghasilkan purchase requisition, dimana purchase requisition tersebut akan diarahkan kepada petugas purchasing untuk dilakukan pengadaan barang. Kedua proses transaksi tersebut pada dasarnya tidak memerlukan dokumen sebagai input. Namun bagaimanapun juga, beberapa dokumen mungkin saja diperlukan untuk prosedur dalam departemen. Proses pembuatan rekuisisi (daftar isian permintaan) memiliki tiga jenis barang, dimana masing-masing barang memiliki wewenang pembuatan yang berbeda, yaitu : 1. District stocked item only. 2. Purchase requisition item only. 3. Any item. Purchase requisition memerlukan persetujuan dan tidak akan diproses tanpa otoritas yang sesuai, sedangkan warehouse requisition tidak memerlukan persetujuan tersebut. Seluruh item yang distok dalam requisition akan dialokasikan/ditempatkan pada nomor IR yang sama oleh sistem, begitu pula dengan PR yang akan dikelompokkan pada nomor PR yang sama. Setelah dilakukan persetujuan, maka : 1. Requisition untuk stocked item akan diteruskan secara elektronik menuju warehouse. Selanjutnya slip pengambilan akan dicetak secara otomatis sebagai pemberitahuan kepada pihak warehouse.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


2. Requisition untuk purchase requitions item diteruskan secara elektronik menuju bagian purchasing yang akan melakukan pembelian langsung. Terdapat beberapa istilah yang sangat berkaitan dengan proses perencanaan material, diantaranya adalah equipment group identifier (EGI), applied parts list (APL), dan catalogue item requisition (CIR).

28

4.4.1.1.1 Equipment Group Identifier (EGI) Equipment Group Identifier (EGI) merupakan pengelompokan komponen yang memiliki persamaan spesifikasi dan karakteristik, seperti APL, standard jobs, MST, dan profil serta hirarki komponen ke dalam kelompok tertentu. Hal ini bertujuan untuk mempermudah analisa performa dan biaya secara kolektif. Aplikasi equipment group identifier (EGI) digunakan untuk mengelola informasi yang bertujuan untuk : 1. Menyediakan daftar kelompok komponen peralatan yang memiliki kebutuhan pemeliharaan yang sama atau sejenis. 2. Menyediakan profil semua komponen yang ada (kode komponen) yang dapat digunakan pada satu komponen peralatan. 3. Menentukan hirarki konfigurasi komponen sebagai suatu struktur dalam EGI, termasuk indikator komponen yang dapat diperbaiki. 4. Mencatat jumlah komponen yang harus dipasang di tempat tertentu pada suatu peralatan.

4.4.1.1.2 Applied Parts List (APL) Sub sistem applied parts list (APL) menyediakan informasi mengenai daftar material atau komponen apa saja yang diperlukan untuk memelihara suatu peralatan tertentu. Fungsi ini juga terintegrasi dengan sistem kalatog/stock code yang memudahkan identifikasi komponen usang. Dengan adanya APL, identifikasi komponen dan servis yang diperlukan untuk pemeliharaan suatu peralatan dapat secara cepat diketahui. Fungsi utama APL adalah untuk mendukung maintenance strategy dengan menyediakan daftar komponen material untuk melakukan perbaikan pada : 1. Pekerjaan yang direncanakan dan dijadwalkan. 2. Pekerjaan perbaikan terencana. 3. Perlengkapan perbaikan standar untuk menjalankan kegiatan yang gagal. 4. Perlengkapan tipe re-build untuk pemeliharaan komponen yang dapat diperbaiki. APL dapat menghemat waktu bagi petugas pemeliharaan dengan memudahkan identifikasi terhadap stock code dan jumlah yang diperlukan untuk melaksanakan masing-masing tugas pemeliharaan. Manfaat nyata dari penggunaan APL dapat dilihat pada saat APL dihubungkan dengan tugas pada standard job yang dihasilkan dari proses maintenance schedule. APL dapat digunakan secara tersendiri atau dilampirkan pada APL lain (induk) untuk membentuk suatu hirarki APL.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


APL menyediakan daftar standar dari material dan servis yang memudahkan identifikasi terhadap : 1. Komponen yang digunakan dalam proses perakitan peralatan (bill of material). 2. Material dan servis yang digunakan dalam tugas yang bersifat rutin. 3. Perkiraan permintaan material berdasarkan kegiatan tugas pemeliharaan yang telah dijadwalkan.

29

4.4.1.1.3 Catalogue Item Requisition (CIR) Catalogue Item Requisition (CIR) merupakan formulir registrasi komponen baru yang akan dibeli, tetapi belum terdaftar dalam stock code. Pihak planner harus mengisi beberapa keterangan yang terdapat dalam formulir CIR, diantaranya identitas pemesan, seperti nama, nomor badge, asal departemen, posisi, dan sebagainya. Selain itu, untuk data komponen yang ingin dipesan, pihak planner juga harus mengisi beberapa keterangan, seperti nama komponen, deskripsi komponen, estimasi harga komponen, forecast jumlah kebutuhan komponen, lokasi dan jenis warehouse yang dibutuhkan untuk menyimpan komponen, kode dan jumlah peralatan yang akan menggunakan komponen tersebut, dan penentuan ROP (Re-Order Point) serta ROQ (Re-Order Quantity). Setelah CIR terbit, maka pihak katalog dan purchasing akan memproses lebih lanjut dengan menentukan supplier sebagai pemasok komponen yang ingin dipesan hingga komponen tersebut datang ke warehouse dan memiliki stock code. Dalam formulir CIR juga terdapat bagian dalam bentuk rangkaian pertanyaan, dimana jawaban yang diberikan oleh planner atas pertanyaan tersebut berfungsi untuk mengetahui stock class dari komponen/item yang ingin dipesan. Hal tersebut dilakukan agar pihak warehouse lebih mudah dalam mengelompokkan komponen/item dan dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan perubahan terhadap ROP dan ROQ dari komponen/item tersebut. Untuk periode tertentu, ROP dan ROQ setiap komponen/item dapat diperbaharui pada Ellipse sesuai dengan riwayat penggunaan (usage) di lapangan. Berikut ini adalah gambar dari formulir CIR :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

30

Gambar 4.1 Formulir Catalogue Item Requisition

4.4.1.2

Pemeriksaan Komponen atau Material yang Diminta Setelah barang diterima dari gudang, maka langkah selanjutnya adalah memeriksa dan

mengidentifikasi material tersebut untuk mengetahui adanya kecacatan atau kerusakan yang mungkin terjadi selama proses pengiriman atau penyimpanan. Pemerikasaan dilakukan dengan memperhatikan jenis barang, kemasan yang ada, dan lokasi penyimpanan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pemeriksaan adalah sebagai berikut : 1. Kain yang terpapar harus ditempelkan Denso. 2. Pinggiran roda yang terbuka harus dilapisi dan ditutupi. 3. Lubang port harus disumbat atau ditutup. 4. Memastikan tidak ada kerusakan pada produk yang terbuat dari karet. 5. Setiap poros harus dilapisi dengan segel lunak. 6. Permukaan yang dibuat dengan menggunakan mesin harus dilindungi. 7. Bearing harus tetap dalam keadaan asli. 8. Instrumentasi dan alat kontrol harus tetap berada dalam kotak pengiriman asli. 9. Gearbox disimpan sesuai dengan volume dan tipe pelindung yang diperlukan. Selain itu, poros juga harus memiliki keterangan rotasi berkala.

4.4.1.3

Proses Penentuan Komponen Untuk memudahkan kebijakan pengontrolan inventarisasi, maka komponen dapat

diklasifikasikan berdasarkan penggunaannya, yaitu : 1. Komponen Usang Kategori ini termasuk pada barang yang memiliki stok melebihi dari kebutuhan dan secara ekonomis tidak dapat digunakan lagi. Barang jenis ini timbul akibat pemesanan, perencanaan, dan forecast yang tidak akurat. Item ini disimpan secara terpisah dari sistem manajemen inventory dalam Ellipse pada nilai $0 sampai akhirnya barang tersebut dapat dibuang. Pembuangan ini sendiri dapat menyebabkan timbulnya biaya khusus pembuangan yang dibebankan pada departemen pengguna. Apabila item ini tidak terkait oleh departemen manapun, maka akan dialihkan ke Site Management G&A. Departemen Supply Chain

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Management harus menyediakan data item tidak aktif kepada departemen terkait sebagai informasi penetapan anggaran. 2. Komponen Jaminan (Insurance) Sebuah item yang penting untuk keberlangsungan kegiatan operasi, akan tetapi tidak dapat direncanakan dan dijadwalkan secara akurat untuk digunakan. Karakteristik produk ini juga memiliki lead time yang panjang, tetapi memiliki kemungkinan rusak. Apabila item ini tidak ada saat dibutuhkan, maka akan menyebabkan peristiwa High Financial Loss. Permintaan penambahan inventory untuk item jenis ini harus mengacu pada tingkat High Risk Loss, dimana didalamnya mempertimbangkan inventory carrying cost dan biaya akibat keusangan. Kedua aspek ini dievaluasi pada formulir CIR. Item ini memiliki service level 100% yang berarti bahwa item ini harus ada setiap saat ketika dibutuhkan. Penetapan ROP dan ROQ ditentukan berdasarkan pada resiko kehilangan, waktu pengiriman, service level, dan jumlah yang diperlukan untuk setiap kegiatan pemeliharaan. Apabila penggunaan reguler selama 2 tahun kosong, maka item ini dipertimbangkan untuk diubah menjadi item kritis. Item disimpan dalam inventory dengan biaya $0 dan biaya awal ditanggung oleh departemen pengguna. Untuk nilai item diatas $10,000, maka harus melalui prosedur penentuan cost center tersendiri (menggunakan biaya proyek). Hal ini dilakukan agar tidak membebankan anggaran cost center yang telah ada. 3. Komponen Kritis Merupakan item yang penting untuk keberlangsungan kegiatan operasional yang memiliki jangka waktu penggunaan reguler yang rutin selama 4 tahun. Tipikal item ini adalah memiliki lead time yang panjang. Seperti halnya item insurance, apabila item ini tidak ada saat dibutuhkan maka akan mengakibatkan peristiwa High Financial Loss. Permintaan penambahan inventory untuk item jenis ini harus mengacu pada tingkat High Risk Loss, dimana didalamnya mempertimbangkan inventory carrying cost dan biaya akibat keusangan. Kedua aspek ini dievaluasi pada formulir CIR. Item ini memiliki service level 90% - 94% (terdapat 0,9 - 0,94 probabilitas item ini tersedia saat dibutuhkan). ROP dan ROQ ditentukan berdasarkan pada rencana penggunaan, waktu pengiriman, dan service level. Review penggunaan inventory dilakukan setiap tahun dan apabila ditemukan tidak ada penggunaan selama jangka waktu 4 tahun, maka stock class item ini diubah menjadi jenis item usang, kecuali terdapat justifikasi yang menyatakan item tersebut masuk kategori item insurance. 4. Komponen Order on Demand Item yang dibutuhkan untuk keberlangsungan operasi dan memliki rencana penggunaan reguler. Akan tetapi, frekuensi penggunaan sangat kecil dan untuk mempermudah permintaan, pengadaan, dan pengiriman, maka item ini penting untuk tetap masuk ke dalam katalog item, namun tidak terlalu penting untuk disimpan secara utuh di gudang. Oleh karena itu, barang ini hanya akan ada apabila dilakukan pemesanan saat itu juga. Service level, ROP, dan ROQ ditetapkan pada 0% (tidak ada stok di warehouse). Apabila tidak ada penggunaan dalam

31

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


jangka waktu 3 tahun, maka keberadaan item ini dalam katalog akan di-review ulang. Biaya pemesanan item jenis ini akan langsung dibebankan kepada departemen pengguna. 5. Komponen Rutin Item yang dibutuhkan untuk keberlangsungan operasi, direncanakan, dan diharapkan memiliki penggunaan reguler selama 2 tahun. Tanpa akses langsung ke item jenis ini akan mengakibatkan ketidaknyamanan atau re-schedule kegiatan. Service level jenis ini berada pada 87% - 90%. ROP dan ROQ ditentukan berdasarkan pada rencana penggunaan, waktu pengiriman, dan service level. Review penggunaan inventory dilakukan setiap tahun dan apabila ditemukan tidak ada penggunaan selama jangka waktu 2 tahun, maka stock class item ini diubah menjadi jenis item usang, kecuali terdapat justifikasi lain. 6. Komponen Phase-out Item yang terdapat pada inventory yang sebelumnya memiliki kategori routine, bulk, critical, insurance, atau capitalized, akan tetapi karena pertimbangan operasional dan teknis maka item ini direncanakan untuk digantikan oleh item baru. Jenis item ini harus digunakan hingga habis dan tidak diperkenankan untuk re-order kembali. Oleh karena itu, ROP dan ROQ ditetapkan pada nilai 0. 7. Komponen Bulk Item yang berjumlah sangat besar dan membutuhkan pemantauan khusus. Service level berada pada tingkat 90% - 94%. ROP dan ROQ ditentukan berdasarkan pada rencana penggunaan, waktu pengiriman, dan service level. Contoh item jenis ini meliputi bahan bakar, batu bara, pelumas, reagent, media penggerusan, amonium nitrat, semen, pasir, dan kapur. 8. Komponen Repairable Item yang terdapat pada inventory yang sebelumnya memiliki kategori routine, bulk, critical, insurance, atau capitalized, akan tetapi sedang dalam kondisi rusak dan memiliki potensi untuk diperbaiki. Item ini distok pada setengah nilai aslinya dan memiliki tambahan biaya perbaikan yang terkonsiliasi dalam modul RIM. 9. Komponen Vendor Held Stock Item berkategori routine, bulk, critical, insurance, atau capitalized yang hanya memiliki catatan tertentu pada Ellipse, namun secara fisik disimpan oleh supplier atau di tempat yang dekat dengan lokasi proyek (tidak dalam warehouse). Untuk service level, ROP, dan ROQ dikelola oleh supplier. Berikut merupakan flowchart yang menggambarkan alur penentuan stock class dan inventory review yang dilakukan terhadap ketersediaan komponen di warehouse :

32

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

33

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

34

CIR Initiated by User

Item Classified Accordingly

Annual Review of Attributes

Reguler Use Within 24 Months? Yes

No

Yes Item Classified as : Vendor Held Stock Repair/Return Supersedes Existing Reguler Use < 24 Months? No No Yes Bulk Item? No High Risk of Loss?

CIR Approved Item Classified as Routine Stock No CIR Approved Item Classified as Critical Stock

Annual Review of Attributes

Reguler Use Within 24 Months? Yes

No

No Associated with Project AFE? Yes No Value > $2,500?

Yes

Annual Review of Attributes

Reguler Use Within 24 Months? Yes

No

Yes CIR Approved Item Classified as Bulk Annual Review of Attributes

Reguler Use Within 24 Months? Yes

No

Obsolete

Planned Use but Frequency Low? Yes

Yes

CIR Approved Item Classified as Order on Demand

Archive Record After 36 Months no Transaction

Existing Stock on Hand?

Yes

No No Not Planned or Expected to Use No High Risk of Loss? Yes Value < $10,000? No Yes CIR Approved Item Classified as Insurance Annual Review of Attributes No

Equipment Still in Service?

Yes Annual Review of Attributes

Capital Approved? No CIR Rejected

Yes

Items Held as Capital

Initial Use Occured? Yes

No

Equipment Still in Service?

No

Yes

Initiate CIR Application for New Replacement or Establish Repairable Component

Gambar 4.2 Penentuan Stock Class dan Inventory Review

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Pengalaman menunjukkan bahwa fungsi gudang seringkali tidak dijalankan dengan baik. Departemen Maintenance merasa bahwa mereka seringkali tidak mendapatkan pelayanan dengan baik, seperti servis lambat, kehabisan stok, tidak dapat menemukan komponen, dan lain-lain. Namun disisi lain, pihak manajemen merasa bahwa terdapat biaya administrasi yang sangat tinggi apabila terjadi kelebihan stok di gudang, terutama untuk komponen yang memiliki kategori slow moving. Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut perlu dilakukan suatu pemeriksaan secara berkala terhadap stok terkini untuk inventory lama dan komponen yang bersifat slow moving serta meningkatkan sistem maintenance yang akan memungkinkan peningkatan komponen order on demand yang lebih tinggi. Berikut ini adalah gambar flowchart yang digunakan untuk mereview status stok terkini setiap bulan :

35

Gambar 4.3 Flowchart Review Stok Komponen

4.4.1.4

Perencanaan Pemesanan Material Sebagaimana diketahui, perencanaan pemesanan material atau yang biasa disebut dengan

MRP merupakan sistem informasi berbasis komputer yang didesain untuk memesan dan menjadwalkan permintaan (raw material, komponen, dan sub assemblies) dengan cara yang terkoordinasi (Oden, et al., 1998). Perencanaan MRP mencakup semua kebutuhan akan semua komponen MRP, yaitu kebutuhan material dimana terdapat dua fungsi dengan diterapkannya MRP, yaitu pengendalian persediaan dan penjadwalan produksi. Sedangkan tujuan dari MRP adalah untuk menentukan kebutuhan sekaligus mendukung jadwal produksi induk, mengendalikan persediaan, menjadwalkan produksi, dan menjaga jadwal valid serta up-to date. Semakin detail informasi yang disampaikan dalam MRP, maka akan semakin baik MRP tersebut. Catatan pengiriman Departemen Maintenance mengenai pekerjaan akan datang dikaji setiap 6 minggu untuk rentang operasi selama 12 minggu. Semua pemesanan komponen yang diketahui untuk periode ini dapat dikirim kepada inventory control sebagai sebuah MRP. Semua permintaan komponen yang direncanakan harus diproses melalui Ellipse Issue Plan (IP) dan akan ditetapkan sebagai reserve item dalam Ellipse. Selanjutnya, inventory control akan membuat dan mengirimkan informasi mengenai perkiraan komponen atau material apa saja yang perlu dipesan kepada

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


bagian purchasing berdasarkan IP yang telah dibuat oleh departemen pengguna. Waktu pemesanan untuk barang IP akan dimulai ketika tanggal komponen atau material tersebut diperlukan telah mencapai total lead time yang ditambahkan dengan masa tenggang selama 30 hari. Di lokasi lain, pihak warehouse issuing team akan menyiapkan komponen MRP sesuai dengan keperluan agar komponen tersebut dapat diambil sesuai dengan tanggal yang ditetapkan atau pada saat komponen tersebut diperlukan. MRP pada Bagian Process Maintenance Planning and Strategy PT. NNT biasanya disebut sebagai letterman list yang memuat informasi mengenai semua komponen yang dibutuhkan lengkap dengan nama supplier, line item, stock code, equipment yang membutuhkan komponen tersebut, warehouse requisition, dan informasi lain yang berkaitan dengan pemesanan komponen atau material. Berikut adalah contoh bentuk letterman list pada Bagian Process Maintenance Planning and Strategy PT. NNT :

36

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

37

Gambar 4.4 Formulir Letterman List Pemesanan Material

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


4.4.2 Pekerja (Orang) Pekerja merupakan sumber daya yang penting dalam melakukan kegiatan pemeliharaan. Dalam kegiatan pemeliharaan, pekerja biasanya disebut sebagai manpower yang berarti adalah jumlah orang yang tersedia untuk melakukan pekerjaan yang direncanakan. Ketersediaan terhadap manpower harus diperhatikan oleh penanggung jawab masing-masing workgroup, terutama berkaitan dengan jadwal off dan cuti dari manpower. Hal tersebut sangat penting dilakukan karena ketersediaan terhadap manpower sangat berpengaruh pada jumlah pekerjaan yang akan direncanakan untuk dilakukan. Semakin banyak manpower yang tersedia, maka akan semakin banyak pekerjaan yang dapat direncanakan untuk dilakukan pada waktu yang ditetapkan.

38

4.4.2.1

Standard Job Inisiatif utama PT. NNT untuk meningkatkan standar kerja dilakukan dengan menerapkan

suatu standar khusus pada pekerjaan berulang. Standarisasi bertujuan untuk menyediakan informasi pemeliharaan yang lebih akurat dan memastikan bahwa pekerjaan telah menggunakan sumber daya yang sesuai. Hal ini tentunya dapat meminimasi waktu pengalokasian sumber daya. Fungsi utama standard job adalah untuk mendukung maintenance strategy dengan menyediakan tempat untuk melakukan perbaikan terhadap : 1. Pekerjaan terjadwal terencana. 2. Pekerjaan perbaikan dan shutdown terencana. 3. Mengaktifkan pembacaan dan inspeksi perbaikan standar yang akan dijalankan untuk kegiatan yang gagal. 4. Kegiatan re-build pemeliharaan komponen. Di dalam sistem ERP (Ellipse), standard job merupakan template pekerjaan yang menyediakan perencanaan pemeliharaan, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks. Setelah dibuat, standard job dapat digunakan berulang kali untuk membuat work order (WO) sesuai keinginan. Standard job juga dapat diperbaharui apabila terdapat perubahan dari penerapan di lapangan. Standarisasi suatu pekerjaan akan memastikan bahwa material, sumber daya, dan peralatan dapat segera dialokasikan untuk suatu pekerjaan. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan bahwa peralatan tersebut tidak dapat tersedia secara cepat untuk pekerjaan penting. Pembuatan template bagi pekerjaan yang sangat penting dan berpotensi bahaya akan memastikan bahwa seluruh persyaratan wajib terhadap keselamatan dapat dicatat untuk setiap pekerjaan yang dibuat berdasarkan template standard job. Selain itu, standard job juga dapat digunakan sebagai template untuk membuat work order secara online dan otomatis yang berasal dari maintenance scheduling. Pembuatan suatu standard job untuk menentukan suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan menggunakan MST, dimana MST akan menentukan kapan dan siapa yang akan melakukan pekerjaan tersebut, sehingga memungkinkan Ellipse untuk membuat work order secara otomatis pada saat pekerjaan yang bersifat rutin telah mengalami jatuh tempo.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Pada dasarnya, standard job dibuat untuk pekerjaan yang bersifat rutin, namun standard job juga dapat dibuat untuk pekerjaan non rutin, yaitu pekerjaan yang diperkirakan tetapi tidak selalu direncanakan. Pekerjaan yang bersifat non rutin, seperti perbaikan dan penggantian dapat dibuat sebagai suatu standard job yang kemudian digunakan untuk membuat work order sementara. Hal ini dilakukan agar pekerjaan yang bersifat non rutin dapat terdokumentasi dengan baik sesuai dengan prosedur yang ada. Terkait dengan masalah kebutuhan terhadap suatu pekerjaan, maka standard job berfungsi untuk menentukan kebutuhan, seperti material, equipment, dan pekerja yang dibutuhkan dalam rangka penambahan kebutuhan tugas maupun penggantian jumlah total tugas. Kebutuhan material dari suatu pekerjaan dibuat berdasarkan masing-masing tugas yang terdapat dalam standard job. Kebutuhan material dapat dapat dibuat berdasarkan metode EGI dan APL. Jika suatu work order dibuat berdasarkan standard job, maka permohonan untuk semua komponen dalam APL dapat dibuat untuk masing-masing tugas yang akan dilakukan. Selain itu, permintaan terhadap material juga dapat dilakukan langsung dari work order. Dalam rangka pembuatan work order dengan menggunakan template dari standard job, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menentukan pekerjaan apa saja yang akan dimasukkan dalam work order sampai menghasilkan suatu perintah kerja, diantaranya : 1. Weekly Planning Schedule Weekly planning schedule adalah proses untuk menentukan pekerjaan apa saja yang akan dilakukan untuk 1 minggu mendatang. Daftar pekerjaan yang akan dijadwalkan untuk dikerjakan selama 1 minggu mendatang awalnya disusun oleh pihak planner berdasarkan data yang terdapat dalam Ellipse mengenai daftar pekerjaan yang harus dilakukan untuk jenis pekerjaan yang bersifat preventive maintenance. Setelah itu, rencana pekerjaan tersebut kemudian dibahas secara bersama-sama oleh pihak planner dengan penanggung jawab untuk masing-masing workgroup yang terdapat dalam Process Department melalui sebuah meeting yang dilaksanakan setiap satu minggu sekali sebelum periode commit. Dalam meeting tersebut, pihak penanggung jawab untuk masing-masing workgroup akan memilih pekerjaan apa saja yang dijadwalkan untuk dilakukan selama 1 minggu mendatang, baik untuk pekerjaan yang bersifat preventive maintenance maupun yang bersifat corrective maintenance. Selain daftar pekerjaan yang dijadwalkan untuk dilakukan, dalam meeting tersebut dibahas pula mengenai manpower atau pekerja yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan dan waktu atau durasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, dimana dari kedua kebutuhan tersebut akan didapatkan mengenai data resources hours untuk masing-masing pekerjaan. Dalam setiap meeting untuk membahas weekly planning schedule tersebut, selalu disepakati bahwa utilisasi dari perencanaan adalah sebesar 80%. Maksud dari angka utilisasi sebesar 80% tersebut adalah bahwa untuk melakukan pekerjaan yang dijadwalkan untuk dilakukan selama 1 minggu mendatang, pihak penanggung jawab untuk masing-masing

39

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


workgroup harus menggunakan maksimal 80% dari total manpower yang tersedia. Hal ini sengaja dilakukan dengan tujuan untuk mengantisipasi pekerjaan yang tidak direncanakan yang secara tiba-tiba terjadi pada minggu pelaksanaan pekerjaan yang telah dijadwalkan tersebut, seperti kerusakan equipment yang bersifat penting dalam proses produksi sehingga harus segera diperbaiki. Jika nantinya memang benar terjadi pekerjaan yang tidak direncanakan tersebut dan keadaan yang ada di lapangan adalah bahwa total alokasi pekerja sebesar 20% dari sisa pekerja yang tersedia belum mencukupi, maka pihak planner akan mengalokasikan pekerja yang bekerja pada pekerjaan yang telah dijadwalkan untuk melakukan pekerjaan yang tidak direncanakan tersebut. Hal tersebut tentu akan mengakibatkan tertundanya pelaksanaan pekerjaan yang telah dijadwalkan, sehingga pekerjaan yang telah dijadwalkan tersebut akan digeser pada minggu selanjutnya dan bersifat backlog. Dalam penentuan alokasi pekerja dari pekerjaan yang telah dijadwalkan ke pekerjaan yang tidak direncanakan, pihak planner memiliki pertimbangan mengenai prioritas dari masingmasing pekerjaan untuk mengetahui pekerjaan mana yang mungkin dapat ditunda untuk dikerjakan dan digeser pada minggu selanjutnya. Adapun mengenai syarat kelebihan dan kekurangan jam kerja, telah disepakati bahwa jam kerja tidak boleh lebih atau kurang dari 10% dari jam kerja yang telah dijadwalkan. Berikut ini adalah contoh bentuk dari weekly planning schedule :

40

Gambar 4.5 Weekly Planning Schedule

2. Pembuatan Work Order Setelah dicapai kesepakatan antara pihak planner dan pihak penanggung jawab untuk masing-masing workgroup, pihak planner kemudian memasukkan daftar masing-masing pekerjaan yang telah disepakati tersebut ke dalam work order yang terdapat dalam Ellipse. Selanjutnya, berdasarkan input masing-masing pekerjaan tersebut secara otomatis akan memunculkan number of work order untuk masing-masing pekerjaan. Dalam work order juga

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


terdapat informasi lain mengenai standard job, tipe work order, tipe pemeliharaan, prioritas pekerjaan, pihak yang menetapkan, dan informasi lain yang berkaitan dengan masing-masing pekerjaan. Berikut adalah bentuk dari work order yang terdapat dalam Ellipse :

41

Gambar 4.6 Work Order dalam Ellipse

3. Job Card Secara umum, job card adalah bentuk cetak dari work order yang telah dibuat. Job card digunakan sebagai surat perintah kerja yang ditujukan kepada masing-masing manpower atau pekerja agar para pekerja dapat mengetahui mengenai instruksi pekerjaan yang harus dilakukan. Dalam job card juga terdapat informasi mengenai safety instruction dan kemungkinan bahaya yang mungkin terjadi dalam pekerjaan sesuai dengan standard job dari pekerjaan tersebut. Pada bagian belakang job card, terdapat kolom terhadap hasil pekerjaan yang telah dilakukan dan identitas pekerja yang harus diisi oleh para manpower atau pekerja setelah melakukan pekerjaan. Setelah itu, para manpower atau pekerja harus mengembalikan job card yang telah diisi kepada penanggung jawab masing-masing workgroup untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak planner yang bertugas untuk memeriksa hasil pekerjaan sekaligus sebagai laporan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. Berikut adalah contoh dari job card untuk work order :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

42

Gambar 4.7 Contoh Bentuk Job Card

4.4.2.2

Maintenance Scheduled Task (MST) Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, MST merupakan template untuk pekerjaan yang

dapat dimasukkan ke dalam jadwal pemeliharaan dan dapat dibuat dari standard job. Template ini ditentukan terlebih dahulu berdasarkan pekerjaan pemeliharaan terjadwal. Terdapat 3 fungsi utama MST, yaitu : 1. Menentukan Tugas MST adalah suatu template yang ditentukan terlebih dahulu berdasarkan pekerjaan pemeliharaan terjadwal dan dapat dibuat untuk memenuhi suatu kebutuhan khusus sebagai MST tersendiri. MST yang baru juga dapat disalin dari MST yang telah ada yang hampir dapat memenuhi kebutuhan dari MST baru yang akan dibuat. Dalam hal ini, MST dapat digunakan untuk menentukan : a. Equipment yang akan dikerjakan. b. Sumber daya yang diperlukan untuk kegiatan tersebut. c. Penjadwalan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


2. Menentukan Frekuensi Berbagai data dapat disimpan berdasarkan masing-masing MST. Namun, di dalam Ellipse terdapat empat elemen informasi untuk masing-masing MST, antara lain : a. Schedulling unit yang merupakan unit pengukuran yang digunakan untuk menghitung kapan tugas pemeliharaan tertentu dilakukan. b. Schedulling frequency yang merupakan jumlah kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dalam suatu rentang waktu tertentu. Misalnya, frekuensi pekerjaan yang dilakukan tiap 250 jam operasi. c. Schedulling indicator yang merupakan kode dalam Ellipse yang mengontrol deadline pekerjaan selanjutnya. d. Operative field yang berfungsi mencatat kapan suatu tugas/pekerjaan terakhir kali dilakukan. Berdasarkan schedulling indicator, setiap pekerjaan akan ditampilkan dalam pekerjaan terjadwal selanjutnya sesuai waktu (penanggalan) maupun sesuai dengan statistik dengan menambahkan frekuensi penjadwalan bagi pekerjaan tersebut. 3. Mengidentifikasi Sumber Daya Pekerja Menentukan tipe sumber daya merupakan pendorong utama dalam pembuatan keputusan untuk membentuk suatu proses standar bagi perencanaan pembiayaan, perkiraan, dan kemampuan sumber daya untuk PT. NNT. Hal ini akan memberikan peningkatan yang sangat penting bagi : a. Proses perkiraan dan pembiayaan pemeliharaan (pembuatan dasar perkiraan sumber daya untuk memudahkan penyesuaian dengan biaya tenaga kerja aktual). b. Perencanaan dan penyeimbangan sumber daya untuk memenuhi komitmen kerja yang direncanakan. Fungsi utama Ellipse Maintenance Module meliputi penugasan pekerjaan, seperti permohonan pekerjaan, perintah kerja, dan tugas pemeliharaan terjadwal. Oleh karena itu, workgroup code merupakan hal yang sangat penting dalam sistem pemeliharaan karena semua pekerjaan membutuhkan workgroup code sebagai input wajib untuk tujuan penugasan, perencanaan, dan penjadwalan. Tujuan utama workgroup di PT. NNT adalah untuk menyediakan sumber daya dan manajemen backlog melalui pengelolaan pekerjaan, tugas, pemeliharaan terjadwal, dan perintah kerja. Hal tersebut dapat dicapai dengan menjaga dan mengelola manajemen sumber daya dalam aplikasi workgroup tersebut.

43

4.4.3 Equipment Support Equipment support merupakan salah satu bagian dari sumber daya yang dibutuhkan dalam kegiatan pemeliharaan. Equipment support berfungsi sebagai peralatan pendukung dalam kegiatan pemeliharaan. Meskipun hanya sebagai peralatan pendukung, namun ketersediaan terhadap equipment support dalam kegiatan pemeliharaan harus diperhatikan oleh pihak planner. Jadwal pemakain terhadap

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


equipment support harus diatur dan dicatat secara benar oleh pihak planner untuk mengatasi kekacauan yang mungkin terjadi di lapangan. Selain itu, jadwal pemeliharaan terhadap equipment support juga harus dijadwalkan secara teratur untuk menjaga kondisi dari equipment support agar tetap baik dan aman saat digunakan. Equipment support yang dibutuhkan biasanya berupa alat berat yang berfungsi untuk mengangkut material-material yang dibutuhkan dalam kegiatan pemeliharaan. Terdapat beberapa macam dan jenis dari equipment support tergantung pada jenis dan berat material yang akan diangkut.

44

4.4.3.1

Crane Crane merupakan kategori equipment support/alat berat sebagai pengangkut material. Fungsi

crane secara umum adalah untuk memindahkan material/beban dari satu tempat ke tempat lain. Secara khusus fungsi crane dibagi menjadi 3 fase, yaitu mengangkat material/beban secara tegak lurus, memindahkannya secara mendatar, dan menurunkannya secara tegak lurus. Terdapat beberapa jenis crane yang sering digunakan, diantaranya mobile crane, overhead crane, tower crane, portal crane, dan sebagainya. Namun, jenis crane yang biasanya digunakan sebagai equipment support dalam kegiatan pemeliharaan di PT. Newmont Nusa Tenggara hanya mobile crane dan overhead crane. Overhead crane atau biasa disebut bridge crane merupakan suatu jenis crane yang ditemukan di lingkungan industri. Overhead crane terdiri dari dua roda paralel dan sebuah titian/anjungan diantaranya. Derek yang merupakan komponen pengangkat pada crane diletakkan di tengah anjungan yang dapat bergerak leluasa ke arah kiri dan kanan. Umumnya, crane jenis ini digunakan untuk aktivitas manufaktur atau berbagai aplikasi maintenance/pemeliharaan, dimana efisiensi atau downtime adalah faktor kritis yang sangat dipertimbangkan. Saat ini PT. NNT telah mengoperasikan 45 unit overhead crane di berbagai departemen dengan kapasitas angkut yang berbeda-beda, mulai dari 250 kg hingga 100 ton. Pemeliharaan terhadap overhead crane tersebut dilakukan secara rutin setiap 3 bulan oleh mitra kerja PT. NNT, yaitu PT. MHE-Demag. Namun, pemeliharaan juga dapat dilakukan juga pada saat terjadi kerusakan terhadap overhead crane diluar jadwal pemeliharaan yang telah ditentukan. Berikut merupakan contoh overhead crane yang dioperasikan di PT. NNT :

Gambar 4.8 Overhead Crane PT. NNT

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Selain overhead crane, PT. NNT juga mengoperasikan jenis mobile crane. Secara umum, mobile crane merupakan sebuah crane yang dikendalikan oleh kabel dan menyatu dengan sebuah carrier seperti truk. Mobile crane didesain untuk memudahkan proses transportasi beragam tipe angkutan atau kargo tanpa harus melakukan setup dan assembly tambahan. Mobile crane biasanya mengoperasikan sebuah derek yang dikaitkan dengan tali baja. Crane jenis ini dioperasikan melalui berbagai macam jenis mesin, baik itu mesin uap, motor elektrik, dan mesin internal combustion (IC). Salah satu modifikasi crane jenis ini adalah berupa crane penghancur (demolition crane) yang dibuat dengan mengaitkan bola besi sebagai mediumnya. Sebelumnya, PT. NNT memiliki mobile crane sendiri untuk membantu kegiatan operasional perusahaan sebanyak 6 unit crane dengan kapasitas angkut yang berbeda-beda. Namun, pada tahun 2010 dilakukan audit/inspeksi oleh 3rd party dari pihak luar menggunakan standar Australia terhadap mobile crane yang telah berumur sekitar 12 tahun. Dari hasil audit/inspeksi tersebut, diputuskan bahwa seluruh mobile crane yang dimiliki oleh PT. NNT tidak layak untuk digunakan. Oleh karena itu, sebagai rencana jangka pendek PT. NNT membuat kebijakan untuk menyewa mobile crane. Saat ini, terdapat 9 unit mobile crane dengan kapasitas angkut yang berbedabeda, mulai dari 30 ton hingga 400 ton telah disewa oleh PT. NNT. Berikut merupakan contoh mobile crane yang disewa oleh PT. NNT :

45

Gambar 4.9 Mobile Crane yang Disewa oleh PT. NNT

Proses penyewaan terhadap mobile crane diatur oleh pihak planner berdasarkan request dari departemen yang ingin menggunakan atau menyewa mobile crane melalui formulir pada gambar di bawah ini :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

46

Gambar 4.10 Formulir Crane Request

Berdasarkan gambar di atas, pada saat melakukan request terhadap crane, departemen yang ingin menggunakan/menyewa crane diwajibkan untuk mengisi beberapa keterangan yang terdapat dalam formulir, seperti tipe crane yang ingin digunakan, prioritas, area yang menunjukkan tempat crane akan digunakan, jangka waktu penyewaan crane, estimasi jarak pemindahan peralatan/material, estimasi berat dari peralatan/material yang akan diangkat, nama penyewa sekaligus sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap crane yang disewa, dan data-data lain yang dibutuhkan. Selanjutnya dari formulir crane request tersebut, pihak planner akan melakukan penyesuaian dengan jadwal penggunaan untuk masing-masing crane yang terdapat dalam database. Jika jadwal waktu penyewaan terhadap jenis crane yang diusulkan oleh pihak penyewa ternyata sudah terisi oleh jadwal pihak lain yang menyewa sebelumnya, maka pihak planner akan menghubungi pihak penyewa tersebut untuk melakukan negosiasi mengenai alternatif waktu lain penyewaan crane yang dibutuhkan. Namun, jika jadwal waktu penyewaan terhadap jenis crane yang diusulkan oleh pihak penyewa masih belum terisi, maka pihak planner akan langsung memasukkan data penyewa ke dalam database dan melakukan konfirmasi kepada pihak penyewa crane tersebut bahwa crane siap digunakan pada jadwal waktu penyewaan berdasarkan data dalam formulir crane request. Database mengenai jadwal penggunaan terhadap masing-masing jenis crane selalu di-update oleh pihak planner setiap 2 kali sehari dan dapat diakases oleh seluruh pihak perusahaan melalui Ellipse, namun hanya dalam bentuk read only.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


4.4.3.2 Flatbed Truck dan Boom Truck Flatbed truck merupakan salah satu bagian dari equipment support yang dimiliki oleh PT. NNT. Secara umum, flatbed truck adalah tipe truk yang memiliki permukaan badan datar tanpa sisi atau atap. Fitur ini membuat proses loading dan unloading barang dapat dilakukan secara cepat. Tipe truk ini sering digunakan untuk mengangkut beban berat yang tidak membutuhkan perlindungan khusus, seperti peralatan bangunan atau beban yang berukuran sangat besar dan memerlukan banyak space. Saat ini, Process Department PT. NNT memiliki 2 unit flatbed truck yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan. Selain flatbed truck, PT. NNT juga memiliki equipment support berupa boom truck. Boom truck atau dikenal dengan nama cherry picker adalah kendaraan dengan tiang (mini crane) menyerupai tangan yang terintegrasi pada badan truk. Truk tipe ini sering digunakan untuk mengangkut pekerja di ketinggian atau mengangkut beban lainnya ke badan truk. Tiang/mini crane yang terdapat pada truk dapat diperpanjang hingga sepanjang badan truk dan memiliki kapasitas antara 10 hingga 50 ton. Jumlah boom truck yang dioperasikan oleh Process Department PT. NNT saat ini berjumlah 2 unit. Pada dasarnya, kegunaan antara flatbed truck dan boom truck pada kegiatan operasional PT. NNT hampir sama, yaitu untuk mengangkut dan memindahkan material dari satu tempat ke tempat lain. Perbedaan mendasar antara flatbed truck dan boom truck yang dimiliki oleh PT. NNT hanya terdapat pada kapasitas angkut truk, dimana flatbed truck memiliki kapasitas angkut yang lebih besar daripada boom truck. Selain itu, flatbed truck bersifat fleksibel yang berarti bahwa flatbed truck dapat mengangkut berbagai jenis barang, sedangkan boom truck hanya dapat mengangkut jenis barang tertentu saja. Sama halnya dengan crane, jadwal penggunaan flatbed truck dan boom truck juga diatur oleh pihak planner. Departemen yang ingin menggunakan flatbed truck atau boom truck dapat mengirimkan request kepada pihak planner melalui formulir material delivery request seperti pada gambar di bawah ini :

47

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

48

Gambar 4.11 Formulir Material Delivery Request

Berdasarkan gambar formulir di atas, departemen/pihak yang akan menggunakan flatbed truck atau boom truck harus mengisi beberapa keterangan yang terdapat dalam formulir, seperti tanggal pemesanan, tanggal peralatan dibutuhkan/digunakan, penjelasan singkat mengenai pekerjaan yang akan dilakukan, load dan unload used, dan identitas pengirim serta penerima.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara BAB V EVALUASI


Pada bab ini akan dijelaskan mengenai evaluasi terhadap perencanaan manajemen sumber daya di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy PT. Newmont Nusa Tenggara.

49

5.1

Identifikasi Masalah Secara umum, pelaksanaan MOS Process Maintenance, khususnya yang berkaitan dengan

masalah perencanaan manajemen sumber daya di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy telah berjalan cukup baik. Permasalahan yang sering terjadi dalam manajemen sumber daya, antara lain pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan biaya pemeliharaan yang tidak sesuai rencana, tertundanya pekerjaan (backlog), dan beban kerja antar workgroup yang sangat berbeda. Adapun data yang digunakan dalam evaluasi ini adalah data berdasarkan weekly report pada minggu ke-28 (8-14 Juli 2012) yang termasuk dalam periode total plant shutdown (major maintenance).

5.1.1 Utilitas Salah satu permasalahan yang muncul dalam manajemen sumber daya, khususnya manpower adalah utilitas pekerja yang tidak merata. Setiap pekerjaan yang diberikan untuk masing-masing workgroup memiliki beban kerja yang sangat beragam. Hal ini terjadi karena adanya jadwal pekerjaan yang mengharuskan pemeliharaan pada sektor tertentu dan jumlah manpower yang tersedia berbeda antara satu workgroup dengan workgroup yang lain. Berikut adalah laporan utilisasi tiap workgroup pada minggu ke-28 :

Gambar 5.1 Grafik Utilisasi Workgroup Mingguan

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa terdapat beberapa workgroup pada sektor crushing, electrical, dan condition monitoring (Co-Mo) yang memiliki utilitas diatas 90% (batas ideal yang direncanakan).

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


5.1.2 Backlog Adanya kegiatan yang tidak diharapkan ataupun jumlah recources yang terbatas dapat menyebabkan terjadinya backlog/pekerjaan tertunda. Kriteria suatu pekerjaan dapat dikatakan sebagai backlog adalah apabila pengerjaan pekerjaan tersebut tertunda selama satu minggu dari jadwal yang telah ditetapkan. Backlog secara langsung akan menyebabkan penumpukan kegiatan di minggu yang akan datang. Tingginya angka backlog mencerminkan bahwa perencanaan yang dilakukan kurang tepat. Berikut adalah data backlog masing-masing workgroup pada minggu ke-28 :

50

Gambar 5.2 Backlog Actual Minggu ke-28

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa terdapat backlog yang cukup tinggi untuk workgroup 3850 (electrical). Sedangkan backlog terendah dimiliki oleh workgroup 3525 (condition monitoring).

5.1.3 Schedule & Preventive Maintenance (PM) Compliance Salah satu cara untuk mengukur performa dari workgroup adalah dengan merekap persentase pekerjaan aktual di lapangan yang terselesaikan. Seorang maintenance planner harus dapat mengolah informasi ini sebagai feedback yang baik dalam evaluasi serta perbaikan schedulling untuk minggu selanjutnya. Berikut adalah rekap data tersebut :
Tabel 5.1 Planned & Actual Work Compliance
Work Group 2030 Crushing 2031 2032 3720 Grinding 3721 3722 Floatation & CCD 3730 3731 3750 2030E Electrical 3820 3820A 3830 Electrical 3850 EIPR Electrical DCS PCI 3530 Outage & Service COMO Total 3530R 3540 3730U 3525 SUPRA 27 38 1 4 14 9 2 31 353 27 32 1 4 14 9 2 31 326 P1/P2 Assign 6 6 3 3 13 6 27 17 14 4 14 25 43 46 Com plete % Com ply 6 6 3 3 4 6 27 17 14 3 8 22 41 46 100% 100% 100% 100% 31% 100% 100% 100% 100% 75% 57% 88% 95% 100% 0% 100% 84% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 20 1 168 1 149 1 20 8 2 10 35 30 39 1 7 2 1 16 6 1 7 35 30 34 1 7 2 1 4 1 2 1 2 1 2 1 3 1 1 Assign P3 Com plete % Com ply 0% 100% 33% 0% 100% 50% 100% 100% 0% 100% 80% 75% 50% 70% 100% 100% 87% 100% 100% 100% 0% 0% 100% 15 1 4 12 9 27 21 29 72 426 12 9 27 15 29 72 355 Assign 9 23 47 54 38 32 12 11 11 5 2 4 1 2 P4/P5 Com plete % Com ply 8 15 19 50 31 26 10 10 10 4 1 4 1 2 89% 65% 40% 93% 82% 81% 83% 91% 91% 80% 50% 100% 100% 100% 0% 0% 0% 100% 100% 100% 71% 100% 100% 17 Assign 15 30 53 57 52 42 40 30 25 10 36 37 46 58 35 58 81 14 20 43 30 31 104 947 Total Com plete % Com ply 14 22 23 53 36 34 38 29 24 8 25 32 43 55 35 57 66 14 20 43 24 31 104 830 93% 73% 43% 93% 69% 81% 95% 97% 96% 80% 69% 86% 93% 95% 100% 98% 81% 100% 100% 100% 80% 100% 100% 88%

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa beberapa workgroup memiliki penyelesaian pekerjaan dibawah target. Bahkan untuk klasifikasi pekerjaan prioritas 1 dan 2, terdapat dua workgroup hanya mampu menyelesaikan pekerjaan tidak lebih dari 60% saja. Disamping itu, beberapa pekerjaan dengan prioritas lebih rendah justru memiliki penyelesaian lebih baik dibandingkan prioritas diatasnya. Hal

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


tersebu bertentangan dengan ketentuan yang terdapat dalam MOS Process Maintenance, dimana pekerjaan dengan prioritas 1 dan 2 harus mendapatkan perhatian yang lebih besar.

51

5.2

Analisis dan Rekomendasi Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, permasalahan maupun tantangan yang terdapat pada

Bagian Process Maintenance Planning and Strategy, khususnya yang berkaitan dengan manajemen sumber daya dapat diklasifikasikan dalam tiga aspek besar, yaitu perencanaan manpower, perencanaan material, dan perencanaan equipment support. Setelah itu dilakukan analisis terhadap penyebab terjadinya berbagai permasalahan tersebut dengan menggunakan beberapa metode dan tools untuk selanjutnya diberikan rekomendasi perbaikan sebagai solusi atau pembenahan dari sistem yang sudah ada.

5.2.1 Manpower Perencanaan manpower merupakan salah satu bagian penting dalam manajemen sumber daya. Aktivitas yang dilakukan juga cukup variatif, mulai dari mengumpulkan informasi ketersediaan human resources dan list pekerjaan untuk satu minggu ke depan hingga penjadwalan kerja yang dirancang sedemikian rupa agar memenuhi standar utilisasi pekerja. Output dari perencanaan ini adalah keluarnya work order dan job card yang diberikan kepada pekerja lapangan. Konsep manajemen maintenance yang digunakan di Process Maintenance Department adalah konsep decentralized maintenance. Konsep ini memanfaatkan beberapa grup maintenance atau biasa disebut dengan workgroup yang mengerjakan aktivitas di area tertentu saja, seperti workgroup di area cruching, grinding, electrical, dan sebagainya. Hal ini terbukti berhasil untuk meminimasi waktu pengerjaan, meningkatkan koordinasi antar pekerja, dan pekerja lebih terspesialisasi pada bidangnya (Dhillon, 2002). Berikut adalah flowchart yang menjelaskan alur aktivitas perencanaan manpower :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

52

Start

Meeting commit

Release work order

Release job card

Work done?

Backlog

Job card collection

Work closure

End

Gambar 5.3 Flowchart Aktivitas Perencanaan Manpower

Prosedur ini pada dasarnya telah tertera dalam dokumen MOS Process Maintenance yang merupakan panduan sistem kerja. Namun, pelaksanaan yang ada di lapangan sangat berbeda. Berdasarkan weekly report yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, terdapat beberapa indikator negatif, diantaranya jumlah backlog yang tinggi, work compliance yang rendah, dan utilisasi yang tidak sesuai. Pekerjaan backlog yang tinggi dapat disebabkan karena beban kerja yang memang berbeda antara satu workgroup dengan workgroup yang lain. Beban kerja ini sangat dipengaruhi oleh availability pekerja di lapangan. Apabila pada minggu tertentu terdapat cukup banyak pekerja yang off atau absen, maka potensi pekerjaan backlog akan semakin tinggi. Disamping itu, adanya kegiatan unplanned akan dapat mengganggu progress pekerjaan dan mengakibatkan pekerjaan yang dilakukan menjadi tertunda. Berikut adalah proporsi perbandingan antara pekerjaan planned dan unplanned untuk minggu ke-28 :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

53

Gambar 5.4 Grafik Perbandingan Planned dan Unplanned Work

Berdasarkan dokumen MOS Process Maintenance, target minimum perbandingan antara planned dan unplanned adalah 9:1. Data ini menunjukkan bahwa perbandingan masih berada pada batas toleransi sehingga pekerjaan unplanned tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap penyelesaian pekerjaan planned. Selain permasalahan backlog, utilitas pekerja yang melibihi 100% menjadi suatu persoalan tersendiri. Hal ini disebabkan bahwa pada minggu ke-28 adalah jadwal TPS (Total Plant Shutdown) yang membuat beberapa volume pekerjaan meningkat. Situasi ini membuat overtime menjadi solusi satu-satunya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penyelesaian pekerjaan/work compliance juga menjadi isu penting di lapangan, selain permasalahan utilitas dan backlog. Walaupun realita atau kenyataan di lapangan tidak selalu tepat dengan yang direncanakan, tetapi indikator ini memberikan panduan untuk menilai performa pekerja yang nantinya dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan improvement. Dalam MOS Process Maintenance telah ditetapkan beberapa target persentase penyelesaian sesuai dengan prioritas pekerjaan. Untuk pekerjaan P1/P2 ditargetkan selesai 100%, P3 > 95%, sedangkan P4/P5 > 80%. Pada weekly report minggu ke-28, workgroup 3721 (grinding) menjadi sorotan tersendiri karena hanya mampu menyelesaikan pekerjaan P1/P2 sebesar 31%. Meskipun workgroup di bagian grinding memiliki over utilization akibat kekurangan ketersediaan manpower, akan tetapi rendahnya compliance untuk pekerjaan dengan prioritas utama tidak terjadi di workgroup lainnya. Oleh karena itu, penyelesaian pekerjaan dengan prioritas utama perlu mendapatkan perhatian lebih dengan cara membantu tracing masalah dan koordinasi yang baik antara pekerja lapangan dan planner. Koordinasi antara planner dengan pekerja lapangan pada kenyataannya sudah cukup baik. Sistem kerja yang diatur dalam MOS Process Maintenance mampu memberikan ruang untuk terjadinya komunikasi tersebut, misalnya meeting commit yang secara rutin diadakan setiap minggu untuk membahas pekerjaan yang akan dilakukan untuk satu minggu kedepan. Namun berdasarkan hasil observasi dan data weekly report, terdapat masalah dalam proses pengembalian job card harian pekerja. Pekerja lapangan seharusnya melakukan pengembalian job card setiap kali pekerjaan tersebut selesai

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


(daily) untuk mempermudah penutupan kerja (work closure). Berikut adalah rekap data pengembalian job card :
Tabel 5.2 Return Job Card Record
Returned day WG Monday 9 2030 2031 2032 3720 3721 3722 3730 3731 3750 2030E 3820 3820A 3830 3850 EIPR DCS PCI 3530 3530R 3540 3730U Total: 29 31 19 19 23 44 33 16 14 33 22 37 7 2 35 22 2 31 17 17 Tuesday 10 Wednesday 11 Thursday 12 Friday 13 Saturday 14 Sunday 15 20 19 25 45 40 21 37 33 39 20 19 25 62 40 38 37 33 39 0 31 33 45 55 35 51 50 19 23 44 33 732 Total # job card returned

54

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa dalam pelaksanaannya sebagian besar workgroup baru melakukan pengembalian terhadap job card para pekerja di akhir minggu (jumat, sabtu, dan minggu) sehingga mengakibatkan terjadinya penumpukan. Penumpukan tersebut membuat beberapa masalah, seperti : 1. Penumpukan pekerjaan work closure di Ellipse. 2. Kemungkinan kurangnya keakurasian pengisian job card yang tertunda. 3. Proses planning atau perancangan strategi menjadi kurang responsif. Sebagian besar pekerja lapangan/workgroup menganggap bahwa tanggung jawab pengisian job card adalah tugas dari foreman. Selain itu, pekerja lapangan juga masih merasa kesulitan dalam mengisi lembar job card sehingga banyak informasi mengenai pekerjaan yang seharusnya terekam dengan detail hanya diisi dengan singkat. Solusi dari permasalahan ini adalah pada penguatan komunikasi antara pekerja lapangan dan planner. Sosialisasi tentang cara pengisian job card harus dilakukan kembali. Selain itu, aturan khusus yang berkaitan dengan pengembalian job card secara harian harus dibuat dan dilengkapi dengan sanksi yang tegas apabila terjadi pelanggaran terhadap aturan tersebut.

5.2.2 Material Seperti halnya perencanaan manpower, perencanaan material juga memegang peran yang cukup penting dalam menjaga seluruh kegiatan pemeliharaan agar berjalan sesuai rencana. Terkadang, aktivitas perbaikan/pemeliharaan sering terganggu akibat minimnya perhatian pada pengelolaan sumber daya ini. Mengingat pentingnya keberadaan sumber daya ini, Bagian Process Maintenance Planning and Strategy bekerja sama dengan pihak purchasing dan warehouse (Supply Chain Management Department) untuk melakukan pengelolaan terhadap material. Secara umum, prosedur pengelolaan material dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Start

55

Material Request

Stocked Item?

Purchase Requisition (PR)

Y Catalogue Item Database Catalogue Item Request (CIR) Does it have Stock Code?

Order/Purchasing

Request to Warehouse

Delivery

End

Gambar 5.5 Flowchart Aktivitas Perencanaan Material

Berdasarkan hasil observasi, order material melalui purchase requisition (PR) tidak banyak mengalami kendala. Barang-barang tersebut dipesan secara langsung tanpa melalui proses penyimpanan di dalam gudang. Sementara itu, inventory yang dalam hal ini adalah stocked items sering menjadi permasalahan, khususnya bagi process maintenance. Process maintenance memiliki faktor kritis pada availability material/komponen, sehingga inventory memegang peranan penting untuk menjaga ketersediaan material tersebut. Disisi lain, inventory yang berlebihan justru menunjukkan performa yang tidak baik. Planner di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy bertugas untuk memastikan keperluan material yang dibutuhkan, baik untuk kegiatan pemeliharaan rutin maupun untuk kegiatan skala besar, seperti shutdown. Sebelum melakukan kegiatan pemeliharaan, segala material yang dibutuhkan harus sudah tersedia di tempat kerja. Oleh karena itu, planner sebagai user harus dapat menentukan inventory control agar ketersediaan dari material tersebut dapat terjaga. Inventory control yang terdapat di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy meliputi penetapan re-order point (ROP) dan re-order level (ROL). Pada awalnya, kebijakan ini ditetapkan oleh planner selaku user dan dapat di-review kembali, baik oleh user maupun oleh pihak warehouse.

5.2.2.1

Inventory Control in Maintenance Inventory control pada dasarnya memiliki tiga fungsi dasar, yaitu memenuhi demand,

melindungi dari shortage, dan menjaga operasi agar tetap berjalan (availability). Dalam hal maintenance, fungsi inventory control untuk menjaga opearsi agar tetap berjalan adalah fungsi yang

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


sangat penting. Inventory dibuat untuk memenuhi availability komponen agar kegiatan pemeliharaan dapat dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Memenuhi demand

56

Tujuan inventori
Melindungi dari shortage Menjaga operasi tetap berjalan

Gambar 5.6 Tujuan Inventori (B.S Dhilon, 2002)

Pemilihan keputusan inventory spare parts secara umum dipengaruhi oleh dua hal, yaitu jenis kebijakan pemeliharaan dan efek apabila terjadi stockout. Menurut (Dhilon, 2002), planner dapat mengambil keputusan pada area-area inventory control tertentu, seperti : Item/material yang akan disimpan di gudang. Keputusan ini diambil berdasarkan kemampuan vendor untuk menyediakan material. Jumlah yang akan disimpan. Keputusan ini mempertimbangkan tingkat penggunaan (usage) dan lead time. Jumlah yang akan dipesan. Keputusan ini mempertimbangkan pengalaman pembelian dan riwayat penggunaan. Di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy, penentuan keputusan inventory didasarkan pada jenis kebijakan pemeliharaan dan tingkat criticality komponen tersebut. Formulir yang terdapat dalam CIR online atau Ellipse telah mendukung hal ini. Klasifikasi komponen berdasarkan stock class maupun klasifikasi komponen untuk jenis maintenance yang berbeda telah tersedia. Penentuan ROP dan ROL komponen dilakukan oleh planner dengan estimasi kebutuhan sesuai dengan tingkat criticality dari equipment. Apabila equipment tersebut mudah rusak atau dapat mengakibatkan equipment lain breakdown, maka ROP dan ROQ level dibuat lebih tinggi. Level ini akan diperbaharui setiap tahun dengan menggunakan sistem by experience. Dari hasil observasi, cara ini cukup mudah dilakukan, namun tidak menutup kemungkinan terjadinya stockout di warehouse. Beberapa kasus telah terjadi pada komponen-komponen electric, seperti adanya komponen yang memiliki ROP dan ROL level yang terlalu rendah pada tahun-tahun awal penggunaan. Namun, dalam dua tahun ini demand komponen tersebut mengalami peningkatan sehingga mengakibatkan stockout terus terjadi. Oleh karena itu, diperlukan cara atau metode perhitungan estimasi ROP dan ROL yang lebih baik.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


5.2.2.2 Spare Part Quantity Estimation Model Dalam kegiatan pemeliharaan, salah satu aktivitas vital adalah estimasi jumlah spare part yang dibutuhkan. Hal ini berdampak akan berdampak pada inventory yang digunakan. Saat ini, berbagai macam pendekatan telah digunakan untuk menentukan kuantitas dari spare part yang dibutuhkan. Penentuan ini bergantung pada beberapa faktor, seperti reliability dari item, jumlah item yang digunakan dalam sistem, dan probabilitas spare part tersebut tersedia saat dibutuhkan. Menurut (Dhillon, 2002), rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

57

Keterangan: Ps t n q = probabilitas spare part tersedia saat dibutuhkan = failure rate = waktu/lead time = jumlah spare part dalam inventory = jumlah part yang spesifik untuk satu equipment

Nilai Ps disebut juga sebagai safety factor. Safety factor mengindikasikan level proteksi yang diinginkan untuk mengestimasi kebutuhan. Semakin besar nilai Ps, maka semakin besar pula inventory cost yang dibutuhkan.

5.2.2.3

Calculation Sebagai contoh perhitungan model spare part quantity estimation, dilakukan perbandingan

dengan salah satu routine item (stock code : 4051785), yaitu circuit breaker 1 pole. Berdasarkan data yang diperoleh di Ellipse, diketahui bahwa annual usage item ini adalah 55 unit dengan ROP sebesar 18 unit dan ROQ sebesar 14 unit. Pertama-tama, dilakukan perhitungan failure rate dengan menggunakan rumus : = jumlah failure / running hours = 55 / (365 x 24) = 0,00627 Selanjutnya, data variabel diperoleh sebagai berikut : t n q = 3 bulan (diperoleh dari rekord Ellipse) = 18 unit (berdasarkan ROP/base stock) = 1 unit (hanya satu komponen spesifik yang digunakan)
18

Kemudian data tersebut dimasukkan ke dalam rumus utama seperti di bawah ini : = {[(1) ] }/!
=0

=0{[(1) 10,0062733024 ] 10,0062733024 } !

18

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


=0 13,5432 1,313 6 !
18

58

= = 0,9063 90,63%

Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa dengan ROP sebesar 18 unit, terdapat probabilitas komponen tersebut tersedia adalah sebesar 90,63%. Jika dibandingkan dengan panduan inventory control dari Supply Chain Management Department, stock class routine memiliki service level antara 87% - 90% sehingga data ROP dan ROQ untuk item ini telah memenuhi kriteria. Untuk mengetahui fleksibilitas penetapan ROP, perlu dilakukan analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat berapa besar perubahan service level/nilai Ps terhadap perubahan nilai ROP. Berikut adalah hasil dari analisis sensitivitas menggunakan software Ms. Excel :
Analisis sensitivitas Service level, 19 unit, 0.9407

0,9063 0,858 0,794 Service level, 15 unit, 0.7137

19 unit

18 unit

17 unit

16 unit

15 unit

Gambar 5.7 Grafik Analisis Sensitivitas

Berdasarkan gambar di atas, terlihat bahwa ketika ROP turun sebanyak satu unit, service level item ini turun menjadi 85,8% (diluar ketentuan), sedangkan apabila ROP ditambah sebanyak satu unit, service level meningkat menjadi 94,07% (menyamai standar stock class critical).

5.2.3 Equipment Support Perencanaan equipment support di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy lebih difokuskan pada penggunaan crane. Untuk peralatan yang lain, seperti flatbed truck dan boom truck, request dapat disampaikan langsung setiap hari tanpa diperlukan planning khusus. Perencanaan crane dilakukan dengan membuat penjadwalan menggunakan spreadsheet yang memiliki planning horizon selama 22 hari. Utilisasi setiap crane sangat beragam. Beberapa crane dengan kapasitas tertentu memiliki jadwal penggunaan yang lebih sering dibandingkan dengan crane yang memiliki kapasitas lain. Utilisasi crane

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


untuk periode 18 Juli 2012 hingga 9 Agustus 2012 (update 19 Juli 2012) dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

59

Gambar 5.8 Grafik Utilisasi Crane

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa crane dengan kapasitas 45 ton memiliki utilisasi tertinggi, sedangkan crane dengan kapasitas 400 ton hanya memiliki utilisasi sebesar 20%. Hal ini menunjukkan crane dengan kapasitas antara 30 hingga 40 ton lebih sering digunakan. Sedangkan crane dengan kapasitas besar lebih banyak dialokasikan untuk pekerjaan khusus, seperti membantu change out (C/O) mantle primary crusher. Variansi utilisasi ini akan lebih rendah apabila crane dengan kapasitas besar juga digunakan dalam mengerjakan pekerjaan yang lebih ringan karena terdapat crane yang tergolong highly utilitized. Namun, mengingat dinamika perubahan kegiatan maintenance atau kegiatan training operator yang dilakukan di Process Department, maka tidak menutup kemungkinan bahwa di periode tertentu crane dengan kapasitas besar akan terutilisasi lebih tinggi dibandingkan crane dengan kapasitas kecil. Permasalahan yang terjadi di lapangan adalah planner mengalami kesulitan untuk melakukan tracing terhadap lama penggunaan crane secara aktual. Alokasi waktu peminjaman juga tidak fleksibel karena crane memerlukan waktu handling yang cukup lama untuk pindah dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga jangka waktu peminjaman biasanya dihitung per hari atau per setengah hari. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memperkuat kembali koordinasi planner dengan pekerja lapangan yang meng-handle crane. Penempatan crane beserta rute yang akan dituju sebaiknya mempertimbangkan pekerjaan crane untuk jadwal selanjutnya. Apabila terdapat request pekerjaan yang harus dialokasikan, sementara jarak antara tempat crane yang telah dipesan berada dengan lokasi pekerjaan cukup jauh, maka request tersebut dapat dialihkan ke crane lain yang lebih dekat dengan lokasi pekerjaan. Perencanaan equipment support masih memiliki beragam potensi untuk dikelola menggunakan software tersendiri yang mempertimbangkan routing lokasi pekerjaan, namun dengan tetap menggunakan konstrain kapasitas.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara

60

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan yang didapatkan dari kerja praktek dan saran yang dapat diberikan, baik untuk perusahaan maupun untuk pelaksanaan kerja praktek selanjutnya.

61

6.1

Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan kerja praktek di Bagian Process Maintenance

Planning and Strategy, antara lain : 1. Perencanaan manajemen sumber daya dalam MOS Process Maintenance PT. Newmont Nusa Tenggara meliputi tiga elemen, yaitu manpower, material, dan equipment support. Manajemen sumber daya merupakan salah satu bagian kecil dalam MOS Process Maintenance yang terletak pada bagian planning (perencanaan). 2. Manajemen sumber daya manpower meliputi penjadwalan aktivitas mingguan (weekly planning schedule) yang dilanjutkan dengan merilis work order dan job card bagi pekerja lapangan. Pada bagian ini, planner bertugas untuk menjaga utilitas pekerja antara 80 - 90% untuk mengantisipasi unplanned schedule work. Manajemen sumber daya material meliputi pembuatan stockcode untuk item baru, me-review inventory level di warehouse, melakukan order material, dan lain-lain. Planner bertugas untuk menjaga aliran material dan ketersediannya di warehouse sebelum suatu pekerjaan pemeliharaan dilakukan. Sementara itu, manajemen sumber daya equipment support meliputi pembuatan jadwal request crane selama 22 hari kedepan dan mengelola daily request untuk flatbed truck dan boom truck. 3. Pelaksanaan perencanaan manajemen sumber daya di Bagian Process Maintenance Planning and Strategy sudah berjalan dengan baik. Terdapat laporan mingguan yang memaparkan performa setiap pekerjaan. Namum terdapat beberapa evaluasi, antara lain terkait perencanaan manpower, dimana terdapat utilitas workgroup yang tidak merata, pekerjaan backlog yang menumpuk, dan pengembalian job card yang tidak tepat waktu. Hal ini dapat diatasi dengan mengutamakan penyelesaian pekerjaan backlog dan pekerjaan dengan prioritas P1/P2 terlebih dahulu serta menguatkan kembali koordinasi antara planner dengan pekerja lapangan untuk dapat menghimbau agar job card dapat dikembalikan tepat waktu. Kemudian, untuk perencanaan material dievaluasi kembali mengenai penetapan ROP dan ROL menggunakan spare part estimation model. ROP yang baik akan menghasilkan nilai Ps yang berada dalam range service level komponen sesuai dengan stock class dari komponen tersebut. Sedangkan dalam perencanaan equipment support, diperlukan penguatan koordinasi (follow up) tentang update status crane dan alokasi crane dengan mempertimbangkan rute pekerjaan crane untuk beberapa hari kedepan.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


6.2 Saran Adapun saran yang dapat diberikan dari pelaksanaan kerja praktek adalah sebagai berikut : 1. Untuk perusahaan, sebaiknya perusahaan melakukan perbaikan terhadap perencanaan manajemen sumber daya agar dapat meningkatkan performansi perusahaan kedepannya melalui evaluasi secara berkala bersama para pihak terkait. 2. Perusahaan juga sebaiknya membuat sebuah aturan yang dilengkapi dengan sanksi tegas terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh para pelaksana kegiatan pemeliharaan agar tugas atau kerja dari masing-masing pihak pelaksana tidak terganggu. 3. Untuk kerja praktek, sebaiknya peserta kerja praktek diberikan alokasi waktu yang seimbang antara praktek kerja di dalam kantor dengan praktek kerja secara langsung di lapangan/pabrik.

62

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara DAFTAR PUSTAKA


Chang, L.P., Chou, T.C., Huang, M.G., 2004. A (r,r,Q) Inventory Model for Spare Parts Involving Equipment Criticality. Production Economics 97, (66-74).

63

Dhillon, B. S., 2002. Engineering Maintenance, A Modern Approach. CRC Press: BocaRaton, Florida.

Nurria, E., 2010. Sejarah Singkat PT. Newmont Nusa Tenggara for Contoh. Universitas Indonesia. http://www.scribd.com/doc/36382772/5/III-1-2-Sejarah-Singkat-PT-Newmont-Nusa-Tenggara diakses tanggal 16 Juli 2012.

Oden, et all., 1998. Material Requirement Planning. http://e-je.blogspot.com/2009/03/materialrequirements-planning-mrp.html diakses tanggal 24 Juli 2012.

Process Maintenance Department PT. Newmont Nusa Tenggara, Kerja Praktek 2012.

PT. NNT., 2011. MOS Process Maintenance. Process Maintenance Department.

PT. NNT., 2010. Inventory and Catalogue Management. Supply Chain Assets Management Department.

Rego, J.R., Mesquita, M.A., 2010. Spare Parts Inventory Control: A Literature Review. Produo v.21, (656-666).

Rengkodrider,

2011.

Macam-macam

Alat

berat

dan

Fungsinya. diakses

http://rengkodriders.wordpress.com/2011/11/09/macam-macam-alat-berat-dan-fungsinya/ tanggal 30 Juli 2012.

Risvandi,

S.,

2009.

Pengetahuan

Crane.

http://sonydwirisvandi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html diakses tanggal 31 Juli 2012.

Wikipedia, 2012. Flatbed Truck. http://en.wikipedia.org/wiki/Flatbed truck diakses tanggal 31 Juli 2012.

Wikipedia, 2012. Mobile Crane. http://en.wikipedia.org/wiki/Mobile_crane diakses tanggal 1 Agustus 2012.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012

Laporan Kerja Praktek di PT. Newmont Nusa Tenggara


Wikipedia, 2012. Overhead Crane. http://en.wikipedia.org/wiki/Overhead crane diakses tanggal 1 Agustus 2012.

64

WiseGEEK, 2012. What is Boom Truck?. http://www.wisegeek.com/what-is-a-boom-truck.html diakses tanggal 2 Agustus 2012.

Jurusan Teknik Industri FTI ITS | 2012