Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus MOLA HIDATIDOSA

PEMBIMBING : dr. Zufrial Arief, Sp.OG PENYUSUN : Jatu Sarasanti 030.08.130 Yurike Natalie 030.08.266 Arini Nurlela 030.08.040 Andriati Nadhilah W 030.06.027

IDENTITAS
Nama Usia Pekerjaan Agama Suku Alamat MRS : : : : : : : Ny. D 48 tahun Ibu rumah tangga Islam Jawa Harjosari Lor, Adiwerna 4 Juni 2013

ANAMNESIS
Keluhan Utama Keluhan Tambahan
keluar darah dari jalan lahir sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit Nyeri perut, mual, muntah berisi makanan

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeselo Slawi dengan keluhan keluar darah dari vagina sejak satu bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku darah yang keluar dari vagina berwarna hitam, dalam sehari habis 2 pembalut sehari. Terdapat nyeri perut. Mual (+), muntah (+) berisi makanan. Pasien mengaku pusing dan juga lemas.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengaku tidak pernah memiliki riwayat keluhan yang serupa. Pasien juga menyangkal adanya riwayat penyakit jantung, ginjal, hipertensi, diabetes mellitus, dan asma.

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Penyakit Alergi

Di keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan seperti pasien. Riwayat penyakit jantung, ginjal, hipertensi, diabetes mellitus, dan asma disangkal.

Pasien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan dan makanan.

Riwayat Obstetri

Pasien mengaku menikah 1 kali, dengan suami sekarang Pasien mengatakan mengalami haid pertama (menarke) pada usia 13 tahun. Pasien memiliki siklus haid yang teratur (30hari). HPHT : Maret 2013 Riwayat ANC : tidak pernah Riwayat USG: tidak pernah Riwayat KB : -

Status Generalis
Keadaan umum : baik Kesadaran Tanda Vital Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi napas Suhu
: compos mentis : : : : 110/80 mmHg 80 x/menit 20 x/menit 36,5oC

Mata : anemis (-/-), ikterus (-/-) Jantung : S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-) Paru : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-) Ekstremitas : edema - akral teraba hangat + +

STATUS GINEKOLOGI
Abdomen : Inspeksi : abdomen tampak mengalami pembesaran, tidak ada tanda-tanda peradangan, bekas operasi (-). Palpasi : teraba tinggi fundus uteri 2 jari diatas simpisis pubis, balotement (-), tidak teraba bagian janin, nyeri tekan (+) Inspekulo Porsio ukuran normal, tampak licin, erosi (-), tampak jaringan mola, stolsel (+), perdarahan aktif (-), massa (-), peradangan (-) VT : Dinding vagina normal, massa (-), porsio licin, (+), teraba jaringan (+), nyeri goyang porsio (-), Adneksa Parametrium Cavum Douglass dextra et sinistra dbn, korpus uteri antefleksi, 12minggu, lunak.

Laboratorium
Hematologi
Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit DIFF COUNT Eosinofil Basofil Netrofil Limfosit Monosit 2.4 0.20 65.30 21.20 10.90 % % % % % 2.00-4.00 0-1 50-70 25-40 2-8

Hasil
8.6 3.9 12.3 35 253

Satuan
10^3/ul 10^6/ul g/dl % 10^3/ul

Nilai Rujukan
3.6-11.0 3.8-5.20 11.7-15.5 35-47 150-400

Hematologi APTT Test PT Test Rhesus Factor Kimia Klinik GDS Ureum Kreatinin SGOT SGPT

Hasil 25.9 11.1 Positif 75 33.0 0.60 81 100

Satuan Detik Detik

Nilai Rujukan 25.5-42.1 9.7-13.1

Golongan Darah O

Mg/dl Mg/dl Mg/dl u/l u/l

75-140 17.1-42.8 0.40-1.00 13-33 6.0-30.0

HBsAg

Non reaktif

Non reaktif

Penatalaksanaan
Rencana Diagnosis Rencana Terapi Rencana Monitoring Kie Pasien dan Keluarga
Cek -HCG PA

Infus RL 23 tpm Pro Kuretase


Observasi keadaan umum dan vital sign Observasi perdarahan

Pembahasan
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339). Mola dapat mengandung janin (mola parsial) atau tidak terdapat janin di dalamnya (mola komplit). Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor faktor yang dapat menyebabkan antara lain, faktor ovum, imunoselektif dari tropoblast, keadaan sosioekonomi yang rendah, paritas tinggi, kekurangan protein, infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas. Pada kasus ini, faktor resiko terjadinya kehamilan mola kemungkinan dikarenakan keadaan sosioekonomi yang rendah, sehingga kekurangan asupan protein dan asam folat. Kemungkinan penyebab lain masih belum dapat diidentifikasi. Pada pasien ini, ciri-ciri mola yang dapat dilihat antara lain perdarahan uterus yang merupakan gejala utama pada kasus, gejala ini bervariasi mulai dari spoting sampai perdarahan yang banyak. Selain itu, gejala lain yang ditampakkan pasien yang dapat digali dari anamnesis yaitu hiperemesis gravidarum, dimana 1 bulan sebelumnya pasien mengeluhkan mual muntah >10x sehari, hal ini merupakan salah satu manifestasi klinis yang ditimbulkan mola akibat peningkatan kadar beta HCG. Gerakan janin juga tidak pernah dirasakan pasien selama hamil, dimana pada kehamilan normal gerakan janin sudah mulai bisa dirasakan pada minggu ke 18-20.

Hasil pemeriksaan didapatkan status generalis tekanan darah dan nadi masih dalam batas normal. Status lokalis, didapatkan konjungtiva tidak anemis, namun pemeriksaan lain masih dalam batas normal. Pemeriksaan obstetri, TFU dua jari diatas simphisis pubis, djj tidak dinilai, balotement (-), dan tidak teraba bagian janin. Hasil pemeriksaan dengan inspekulo dan VT semakin mempertegas diagnosis, dimana dengan inspekulo dapat terlihat pembukaan servix dan jaringan mola. Pada VT teraba pula jaringan mola dan korpus uteri dengan konsistensi lunak, ukuran 12 minggu. Dalam pemeriksaan ini, USG digunakan untuk mengetahui adanya jaringan mola yang masih tersisa dalam uterus. Untuk penatalaksanaan, suction curetase dilakukan pada pasien ini dan didapatkan darah keluar bersama cairan berwarna coklat dan jaringan mola 75 gram. Ada tidaknya janin tidak dapat diketahui dari temuan intra kuretase karena sebagian besar jaringan mola sudah mengalami ekspulsi spontan. Tindakan suction curetage pada pasien ini sudah tepat dilakukan dan perlu tindakan kuret ke-2 (7-10 hari berikutnya) untuk memastikan tidak ada jaringan mola yang tersisa. Sebagai penatalaksanaan lanjutan pasien sebaiknya menunda kehamilan selama 12 bulan dengan menggunakan kontrasepsi. Tindakan histerektomi total merupakan pilihan pada pasien ini dikarenakan pasien dalam kasus ini tergolong beresiko tinggi yang memiliki kriteria usia lebih dari 30 tahun, paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih.