Anda di halaman 1dari 19

http://grundelanbankcentury.blogspot.

com/search/label/bank%20run Dongeng "bank run"


Bank sebagus apapun, kalau di-rush nasabah, dia akan "selesai" Deputi Gubernur BI, Budi Rohadi, pada konferensi pers tanggal 30 Agustus 2009. Salah satu argumentasi atau teori yang dikemukakan untuk mendukung bailout Century adalah "mencegah bank run atau rush di bank-bank lain". Konon pada saat itu (akhir 2008) ada 23 bank yang akan terpengaruh atau kena rush kalau bank Century tidak di-bailout. http://www.hotstocked.com/articles-img/small/northern_rock.gif Ada juga yang berpendapat, situasi pasar uang pada saat itu sangat mencekam karena likuiditas ketat; rentan isu sehingga ada kabar negatif sedikit saja akan memicu penarikan dana nasabah besar-besaran. Benarkah nasabah bank mudah panik dan terpancing isu? Dongeng mengenai "bank run" akan saya awali dengan kejadian di Inggris, September 2007. Tanggal 13 September 2007 sekitar jam 20.00, BBC memberitakan Northern Rock (NR) minta fasilitas diskonto dari Bank of England. Tanggal 14 September 2007 nsabah mulai antri tarik dana di kantor-kantor NR. Tanggal 17 September 2007 pemerintah Inggris mengumumkan simpanan nasabah dijamin sepenuhya. Penarikan dana berhenti, tidak terlihat lagi antrian deposan di kantor NR. Rush nasabah hanya terjadi di NR dan tidak di bank-bank lain; padahal likuiditas di pasar uang mulai ketat. Mengapa bank lain "selamat" dari serbuan nasabah? Apakah karena penduduk Inggris lebih berpendidikan dari Indonesia sehingga mereka tidak latah? Atau ada penjelasan lain? Bank run sebenarnya tidak selalu negatif atau fenomena yang harus dihilangkan. Menurut teori ekonomi/keuangan, "bank run" sebenarnya bermanfaat karena fenomena itu merupakan sarana untuk mendisiplinkan bankir. Kalau nasabah tidak diijinkan untuk melakukan penarikan uang bersama-sama (rush atau bank run), bankir akan seenaknya mengelola uang yang dititipkan. Tapi "bank run" bisa mengganggu kalau nasabah tidak bisa membedakan informasi dari isu/ gosip kosong. Nasabah bisa tarik dana bersama-sama di bank yang sebetulnya dikelola dengan baik. Kalau ini terjadi di beberapa bank secara simultan, dan mengakibatkan hilangnya kepercayaan pada bank (uang dibawa keluar dari sistem perbankan), teori ekonomi menyebutnya sebagai "panic". Dengan kata lain, menurut teori, kalau terjadi "bank run", total dana pihak ketiga di industri relatif

tidak berubah. Deposan tarik dana dan dipindah ke bank lain yang dianggap lebih aman. Sebaliknya kalau terjadi "panic", deposan tarik dana dan simpan dana dalam bentuk lain misalnya properti, emas, atau taruh di bawah bantal. "Panic" mengurangi total dana pihak ketiga pada industri perbankan. Dalam percakapan sehari-hari, orang tidak membedakan antara "bank run" dan "panic". Tapi jelas keduanya berbeda. "Panic" menular, dan uang tidak kembali; tapi "bank run" biasanya hanya terjadi di bank tertentu, tidak menular ke bank lain karena uang hanya pindah bank. Proponen bailout Century menganggap penutupan bank akan mengakibatkan "panic" (banyak bank ambruk;terjadi "bank run" di banyak bank secara bersama-sama;terjadi krisis kepercayaan). Benarkah "panic" mudah terjadi? Saya tidak atau belum menemukan dongeng "panic" khas Indonesia (kalao dodol "picnic" ada..). Tapi saya dapat dongeng "panic" dan "bank run" di negeri orang. Begini ceritanya: Amerika: Sejarah Amerika mencatat krisis keuangan awal abad 19, tepatnya tahun 1837; 1893, lalu tahun 1907; lalu tahun 1929. Yang terakhir ini monumental, disebut "great depression", karena parah dan mengakibatkan perubahan struktur industri keuangan Amerika. Krisis keuangan pada tahun 1930an diawali dengan kejatuhan harga saham di tahun 1929, yang kemudian berubah menjadi depresi ekonomi. Singkat cerita, industri keuangan waktu itu kacau. Setidaknya ada dua studi menarik mengenai "panic" Amerika pada masa itu. Yang pertama mengambil sampel bank-bank di New York, yang kedua mengambil sample bank-bank di Chicago. Deposan bank di New York pada awal krisis (tahun 1929) ternyata bisa membedakan bank jelek dan bank baik. Mereka memindahkan dana dari bank yang memiliki kinerja keuangan buruk; dan menyimpannya di bank yang memiliki kinerja lebih baik. Tapi dengan berlalunya waktu, mungkin juga dengan memburuknya ekonomi makro, "bank run" berubah jadi "panic". Pada tahun 1930-1932, nasabah tidak lagi membedakan bank, mereka tarik dana dan tidak kembali. Di Chicago, pada bulan Juni 1932, terjadi krisis kepercayaan pada industri keuangan. Pada bulan itu secara bersama-sama terjadi kegoncangan di bursa saham Chicago, terbongkarnya skandal keuangan, krisis keuangan di pemerintah negara bagian, dan ditutupnya 24 bank sekaligus. Penduduk Chicago mulai menarik dana besar-besaran sehingga mengakibatkan bank-bank ditutup sukarela (voluntary liquidation) oleh manajernya (pada tahun 1930an hal itu dimungkinkan). Tapi ternyata, bank-bank yang kena rush sampai ditutup adalah bank-bank yang memiliki kinerja keuangan yang lemah. Bank dengan kinerja keuangan yang kuat bisa bertahan. Dalam situasi tidak menentu, di Chicago waktu itu memang terjadi rush di dua bank yang solven. Bank Central Republic akhirnya tidak sampai ditutup karena dibantu oleh konsorsium bank-bank lain. Tapi Chicago Bank of Commerce akhirnya ditutup karena di-rush nasabahnya. Dari laporan keuangan, bank ini memang nampak solven. Tapi sewaktu rasio keuangan dihitung untuk kepentingan penelitian, bank ini memiliki probabilitas gagal yang tinggi. Singkat cerita, dua penelitian di Amerika tahun 1930an itu menyimpulkan, nasabah bank sebenarnya bisa membedakan bank jelek dari bank bagus. Rush terjadi di bank yang memang berkinerja buruk; "panic" terjadi kalau situasi ekonomi makro juga memburuk. India: Pada bulan Maret 2001, bank sentral India mengenakan sanksi pada satu "cooperative bank" (mungkin semacam koperasi simpan pinjam) di Gujarat. Institusi ini (cooperative bank terbesar di India) meminjamkan 80% dana nasabah ke broker saham yang kemudian diketahui merugi di pasar modal. Hari berikutnya (9 Maret dan 12 Maret) nasabah melakukan penarikan besar-besaran. Tanggal 13, bank ini tidak dapat lagi mengembalikan uang nasabah. Peristiwa gagal bayar ini mengakibatkan penarikan dana besar2an di "cooperative bank" yang lain di Gujarat. Tapi tidak ada yang sampai collapsed. Penelitian menemukan penarikan nasabah dipengaruhi antara lain oleh keeratan hubungan antara nasabah dengan bank. Nasabah baru cenderung tarik dana; tapi tidak demikian dengan nasabah lama

apalagi yang memiliki pinjaman (debitur sekaligus kreditur). Argentina: Ada setidaknya dua penelitian mengenai "bank run" yang terjadi seputar krisis ekonomi tahun 1995 dan 2001. Keduanya menyimpulkan, nasabah cenderung menarik dana dari bank yang memiliki "bank fundamental" (kinerja keuangan) rendah. Dengan kata lain, "bank run" ada kaitannya dengan kinerja keuangan bank. Meskipun demikian, penelitian yang dilakukan seputar krisis ekonomi 1995 menemukan "bank run" juga dipengaruhi kondisi ekonomi makro dan "contagion". Dari dongeng-dongeng negeri orang, dapat disimpulkan, depositor atau nasabah bisa membedakan bank jelek dari bank bagus. Kemampuan membedakan ini memang tidak sempurna karena mereka tidak pegang informasi akurat. Faktor ekonomi makro juga berperan dalam "bank run". Kalau toh ada penarikan karena rumor/gosip, sifatnya temporer dan akan berhenti dengan sendirinya seperti yang terjadi di Gujarat India. Tapi yang jelas, kecil kemungkinan ada bank bagus di-rush nasabah sampai ambruk.

Main-main dengan angka Indonesia 2007-2009 Kembali ke Indonesia. Akhir 2007 sampai 2008 likuiditas ketat. Situasi "mencekam"; tidak mungkin menutup bank (dalam kondisi itu) karena dikhawatirkan terjadi "rush" di 23 bank. Otoritas keuangan tidak ingin ada kisruh di perbankan seperti waktu krismon 1997-1998. Kalau "panic" diartikan penabung bawa uang keluar dari industri perbankan, benarkah ada indikasi "panic" antara 2007-2008? Iseng-iseng saya download data dari ADB dan Statistik Moneter BI. Data yang saya ambil dari ADB adalah Key Indicators Indonesia (annual), khususnya dana pihak ketiga (demand deposit, savings, time deposits dan credit outstanding). Saya bandingkan perubahannya dari tahun 1993-2008. Semua angka telah disesuaikan dengan Implicit GDP Deflator tahun yang bersangkutan. Tabelnya seperti ini:

Ocehan saya sebagai berikut: perhatikan perubahan jumlah Demand Deposit (DD=giro) antara tahun 1997-1998 (saat rupiah mulai terdevaluasi besar2an). DD turun 32%, turun lagi 5% tahun berikutnya. Ketika ekonomi mulai pulih 1999-2000, DD meningkat 21%. Di Indonesia, orang buka giro biasanya karena punya kredit.

Jadi bisa dibilang, pemegang DD adalah debitor bank. Tren yang saya ocehkan, sejalan dengan perubahan kredit. 1997-1998, kredit outstanding turun 24%, turun lagi 17%, lalu meningkat 26% ketika ekonomi mulai sembuh. Nggak perlu jadi pengamat, semua orang tau, ekonomi antara 19971999 mengalami kontraksi. Tapi, coba lihat Savings&Time Deposit (ST): akhir 1997, kurs rupiah sudah jelek sekali, orang panik dan tarik tabungan/deposito keluar dari industri perbankan. ST turun 5% (1996-1997), dan turun terus antara 1-2% tahun-tahun berikutnya. Ini "panic" benerrrr. Antara 2001-2002 angka perubahan DD,ST dan kredit oustanding besar sekali. Mungkin ini "arus balik" dana yang sempat keluar dari sistem perbankan Indonesia beberapa tahun sebelumnya. Tapi untuk kredit masih mengalami kontraksi, turun 52%. Sekarang lihat baris 2007-2008. Likuiditas ketat "baru" menular ke Indonesia kira2 semester kedua 2008. Di tabel nampak, antara 2006-2007 perubahan DD,ST dan kredit masih positif. Tapi antara 2007-2008 DD turun 10%. ST meningkat 1%, kredit meningkat 11%. ST meningkat 1% itu angka net. Angka aslinya, S turun 3.8%, T naik 4.9% (data savings dan time deposit baru dipisah mulai 2002). Disclimer sebelum lanjut ngoceh: membandingkan angka2 periode krisis moneter dengan periode krisis likuiditas barusan mustinya diuji statistik. Saya tidak lakukan karena cuma untuk iseng2 saja. Kayaknya tidak ada indikasi "panic" (uang dibawa keluar dari sistem perbankan) 2007-2008 dari data anual ini. Kecuali angka DD, jenis simpanan lain terlihat biasa2 saja. Bisa saja orang bilang: jelas tidak ada "panic" kan tidak ada bank ditutup...Coba kalau Century ditutup saat itu, bakal laen ceritanya. Ya, karena data di tabel itu data tahunan, tidak bisa lihat tren dana nasabah sebelum atau sesudah "bailout Century". Kalau pakai data bulanan, "potret"nya bisa makin jelas. Sekedar iseng, saya download data dari website BI. Data simpanan semua bank, dari Juli 2007-Juli 2009. Angka dideflated; untuk tahun 2009 saya deflated pakai GDP deflator 2008. Grafiknya kayak gini:

Antara Desember 2007Januari 2008 memang ada drop besar di dana pihak ketiga. Untuk bank persero -21%, bank pemerintah daerah-19%, bank swasta nasional -16%, bank asing dan campuran -11%. Tapi dana pihak ketiga turun sebesar itu ya hanya di bulan itu saja. Artinya kalau ada "panic" ya hanya saat itu saja (Century di bail out akhir 2008). Setelah itu tren dana pihak ketiga meningkat, uang yang sempat dibawa keluar dari industri perbankan, masuk lagi. (Angka GDP deflator mungkin juga berpengaruh sehingga antara Desember 2007-Januari 2008 tampak ada penurunan besar dana simpanan. Perubahan angka GDP deflator 2007 ke 2008 sebesar 18%; sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya berkisar antara 4-16%).

Selain itu dari grafik bisa dilihat, keempat jenis bank punya kemiripan tren dana. Saya mengintepretasikan, kalau toh ada penarikan besar, nasabah hanya memindahkan uang dari satu jenis bank ke bank lain. Misalnya saja Century ditutup sekitar September 2008, menurut saya, maksimal yang terpengaruh adalah tren dana bank swasta. Tapi secara keseluruhan (industrywide) tidak akan terlalu signifikan; tidak seperti waktu krisis moneter (turun dan turun terus). Dengan kata lain, seadainya Century tidak di-bailout, mungkin akan ada "bank run", tapi bukan "panic". Yang diharapkan dari otoritas keuangan Indonesia (kalau Century ditutup) adalah menenangkan publik seperti yang dilakukan otoritas Inggris September 2007; terutama untuk nasabah bank2 kecil. Sebagai perbandingan: pada saat krisis likuiditas mulai menghantam Eropa, bulan Oktober 2008, otoritas keuangan Irlandia mengeluarkan kebijakan penjaminan penuh simpanan untuk bank-bank utama di negeri itu. Tindakan Irlandia diprotes negara Eropa lainnya yang bergabung dalam European Union. Tapi Irlandia beralasan: kalau bank-bank itu kami "nasionalisasi", sistem keuangan kami akan ambruk. Kenapa ya, otoritas keuangan Indonesia tidak menerapkan "penjaminan penuh simpanan" terbatas untuk bank-bank kecil?? Mestinya, bailout Century bukan satu-satunya pilihan saat itu. Kebijakan bailout konon diambil untuk mencegah "bank run"; biaya bailout lebih "murah" dibanding potensi biaya kalau terjadi rush besarbesaran (yang belum tentu terjadi). Tapi biaya penyelamatan sistem keuangan (dalam hal ini penyelamatan bank) mestinya tidak hanya dilihat atau diukur dari berapa uang pemerintah/LPS yang keluar. Apa gunanya baiaya lebih murah, tapi kredibilitas rusak seperti sekarang ini. Yang ndongeng: Sri Sumber dongeng: http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601085&sid=aILmsUcUeuqE Saunders http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1299494 Calomiris http://fraser.stlouisfed.org/docs/MeltzerPDFs/calcon97.pdf India: http://www.nber.org/papers/w14280 Argentina: http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1255502 http://www.bcra.gov.ar/pdfs/invest/trabajo2.pdf Northern Rock: http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1107570

============================================================ http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2012/06/08/waspadai-bank-runs/

Waspadai BANK RUNS!


June 8th, 2012 nico Leave a comment Go to comments

The whole problem with the world is that fools and fanatics are always so certain of themselves, and wiser people so full of doubt. -Bertrand Russell Bursa saham dunia naik lebih dari 2 persen kemarin (6 Juni), sedikit pulih dari tekanan belakangan ini, seiring dengan adanya pembahasan untuk menyelamatkan bank-bank bermasalah Spanyol dan harapan stimulus moneter lanjutan. Demikian juga dengan pasar Asia pagi ini (7 Juni) yang berlanjut naik rata-rata 1 sampai 2 persen. Sementara IHSG memimpin kenaikan kemarin, tercatat lebih dari 3% setelah mayoritas saham-saham blue-chip-nya tenggelam dalam wilayah oversold. Kamis hari ini (7 Juni) semua mata akan tertuju pada ketua umum the Fed AS, Ben Bernanke, yang akan berpidato di depan U.S. Congressional Joint Economic Committee parlemen AS dan dapat memberikan indikasi pelonggaran moneter lanjutan. Keith Dicker, Chief Investment Officer pada IceCap Asset Management Ltd., mungkin menyampaikan pandangan yang paling menarik mengenai bank runs yang saat ini sedang terjadi di Eropa: bank deposits in all of the troubled European countries are plummeting . Weve probably written before that a bank without deposits is like a burger without cheese it just doesnt work.

Without trying to sound too dramatic the situation in Europe is putting us on the cusp of witnessing the biggest bank run in the history of the World . Unlike the old fashion bank run where a single bank fell into trouble, today in Europe we are witnessing both individuals and corporations withdrawing their savings from entire countries.

Chart 1 on the next page shows deposits in Greek banks. Its astonishing that the Greek banking system has lost over 30% of its deposits. Come to think of it, considering the circumstances its even more astonishing that anyone has kept any of their money in any Greek bank at all.

Yet, the real reason for the stomach ulcer inducing epidemic in Europe is not the Greek banking system. Rather, the worry is what happens to the banking system in the other troubled countries should Greece completely unravel. People in Spain, Ireland, Portugal and Italy are all experiencing bank deposit remorse and this is what the fuss is all about.

The fuss of course is due to the Worlds banks being structured as a fractional reserve banking system. This quite simply means all banks ever only have a fraction of peoples money available to repay them. The thinking is that there is very little chance of EVERY bank client showing up at the SAME TIME demanding their money back.

Well, in Europe these days that very little chance is potentially turning into a very big chance.

Yet, despite Spanish Prime Minister Mariano Rajoy asking the European Central Bank to print money to buy Spanish government bonds, and then quickly adding that Spanish Banks are under no risk, one would have to wonder how the average Spaniard isnt thinking about giving their money a yank out of their bank.

The solution to this mess of course is to simply allow the free market economy to act as it should. Some money and jobs will be lost, yet the financial excess slate will be wiped clean and the next Secular BULL Market can start in earnest.

Instead, we are likely to see a plethora of new bailouts starting with guaranteed bank deposits, followed next by new money printing programs as well as the ultimate French financial product

Euro Bonds. Any and all of the above will certainly create another mini-rally for stocks and risky assets as well as also providing the story-line for this very same conversation a year from now.

Perhaps theres no need to worry. After all, the head of the Euro-zone Financial Ministers, Jean Claude Juncker did say I dont envisage, not even for one second, Greece leaving the euro area. This is nonsense. This is propaganda. We have to respect Greek democracy.

Come to think of it, he also so infamously admitted when it becomes serious, you have to lie.

We think he just lied. Berikutnya Eric Sprott dan David Baker dari Sprott Asset Management dalam artikel terakhir mereka yang berjudul The Real Banking Crisis, Part II menyatakan bahwa apapun yang terjadi di zona euro, skenario terburuk yang paling mutlak bagi pemerintah adalah bank run: It terrifies all involved, because they can spiral out of control faster than governments can react to stop them, save for the most Draconian measures. They also prompt banks to liquidate whatever assets they can, revealing the truth about what their assets are actually worth. In this environment, no one wants to find out what the market will really pay for them. Were seeing this now in Spain, where according to Bloomberg, Many Spanish banks are avoiding property sales so they dont have to mark to market valuations. Instead, theyre giving developers new loans to pay debt coming due to prevent defaults. Sound familiar? Were now at the point where a bank run in one Euro zone country could quickly seize up the entire system not just in Greece or Spain, but throughout the entire Euro zone and beyond. Greek and Spanish banks are just like all the others; they operate with leverage ratios averaging 25x their equity capital. They are all so overleveraged that it takes very little in deposit withdrawals to cause instantaneous liquidity issues. This is why well likely see another ECB-induced printing program announced (with a new abbreviation, hopefully) before a broader bank run can take root.

Dan juga tetap perhatikan melebarnya spread antara yieldobligasi 10 tahun Spanyol dan Jerman! Mengapa? Karena, menurut Doug Noland dari PrudentBear.com, the Bank of Spain reported yesterday (May 31, 2012) that 100bn euros had exited the country during the first quarter. One is left fearing the scope of outflows during April, May and now June. It is worth noting that the spread between Spain and German 10-year yields widened 37 this week to a record 509 bps with today (June 1, 2012) the fourth consecutive session where the spread traded wider than 500 bps. The Financial Times this week noted that Greek debt traded wider than 500 bps for 16 days before it required a bailout, while it took 24 days for Ireland and 34 days for Portugal. Sementara, jika Anda masih belum yakin bahwa perekonomian Yunani secara harfiah sudah mati,lihat saja kekacauan yang disebabkan oleh tagihan-tagihan tak terbayar:

unpaid bills are now threatening Greeces electricity supply. State-owned Electricity Market Operator (LAGIE), a clearing house for power transactions, hasnt paid independent power producers for electricity it bought from them. They, in turn, havent paid their natural gas supplier, Public Gas Corporation (Depa), which now doesnt have the money to pay its supplier. Payment is due on June 22. Alas, its supplier is Gazprom in Russia, and they insist on getting paid. If not, they will shut the valve, and Depa wont get the gas to supply the independent producers, which will have to take their power plants off line, removing about a third of the countrys electricity production. Richard Russell, seorang penulis media kawakan, dalam wawancaranya dengan King World News mengatakan mengenai saham dan emas: How far will the bear market carry? No one knows. Already all of 2012s gains have been wiped out. Theres a number down there to where the bear market is heading. I dont know what that number is. Dow 8,000? Dow 6,000? Dow 4,000? Dow 2,500?

The number could be any one of these. What I hope is that we get to that number as quickly as possible. I just hope we get the pain of the bear market over as fast as possible. One mistake is to think we know how costly the bear market is fated to be and how far the bear market will carry. The Primary trend is a law unto itself. It will continue until it dies of exhaustion.

In the meantime, the bear market goes on. Im afraid it has a long way to go. But we will survive. In all seriousness, I feel it is my duty to help my subscribers to survive and weather this bear market.

DANGER A primary bear market has been signaled according to Dow Theory. On May 1 the Dow Industrials rose to a high of 13,279.32. The Transports failed by a wide margin to confirm. The two Averages then turned down and broke below their April lows. Under Dow Theory, this was confirmation that a primary bear market is in progress.

As so often happens, the bear signal arrived at a time when the stock market was acutely oversold. Most bear markets wipe out a half to two-thirds of the preceding bull market. As a rule, the more froth the bull market generates, the nastier the bear market that follows.

Major bear market declines can be extended and even tedious, while the rallies or counter-moves can come unexpectedly and are often rapid and violent (the violence is usually a result of frantic short-covering by traders who are trapped by the rally).

I want to reiterate that bear markets tend to be deceptive and not usually given to logical analysis. One reason for this is that bear markets operate within a background of naked fear. Two emotions rule the market Fear and greed. Of the two, fear is the stronger of the two because the specter behind the fear is LOSS. Greed is also a strong emotion, but fear of loss trumps the desire for gain.

Russell also added: Gold is finally above 1600 again, and I think it has moved into a buying range. I no longer see a BIG correction ahead for gold. As the euro and other junk fiat currencies weaken, there will be more and more buyers of gold including confused central banks.

Retail sentiment for gold is now low, which is bullish for the metal. Ive been sitting with all my gold and paper gold. Ive been determined that Im not going to be knocked out of gold by sentiment or rumors. Trade it and you trade it away. I still think gold will be the last man standing.

Yang terakhir yang tak kalah penting adalah dari Dr. Martin Weiss, presiden Weiss Ratings dan pimpinan Sound Dollar Committee, yang 2 hari lalu dalam artikel terakhirnya menjawab 2 pertanyaan terkait dengan emas dan perak: How Much Longer Will Silver and Gold Decline This Time? And Once They Hit Bottom, How Far Will They Rise?

For an answer, consider these facts

Today, entire nations are on the brink of failure not just individual financial institutions. And these nations will typically stop at nothing to save themselves, especially rolling the money-printing presses. Today, the US federal deficit is $1.327 trillion, 8.2 times larger than the deficit in 2007, the last full fiscal year before the Lehman collapse. Where are they going to get the money? Unabashed money printing seems to be the only answer they can come up. Today, the mega banks in danger BNP Paribas, Barclays, Socit Gnrale, Crdit Agricole, and many others are far larger than the banks that failed or needed cash infusions in 2008. That means even BIGGER bailouts and far MORE money printing. Today, global central banks have already fired their biggest guns stimulus plans, bailout deals, austerity measures with only limited success. As a consequence, the only remaining device they know is you guessed it! Pure and unadulterated money printing!

Today, millions of citizens are rebelling at the polls or in the streets against new policy initiatives in France, Greece, Portugal, Spain, Italy, and even Germany. Result: Insatiable demands for even MORE paper money. And most important, the Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, and Bank of Japan have already embarked on the biggest orgy of money printing the world has ever seen. And theyre bound to push for more!

In sum, the next financial mega shock could be larger, precipitating even bigger swings and greater opportunities in precious metals.

When all is said and done, investors may look back at these months and recognize, after the fact, it was the last great buying opportunity for precious metals of a lifetime.

Heres what I recommend

First, be sure to wait for the right time before loading up on precious metals. Remember: Even after a Lehman-type event, gold could continue to suffer a short-term correction.

Second, be sure to respond to the announcement as soon as you get it.

Third, no matter what, invest prudently, keeping a substantial portion of your money in cash.

Dan sebelum saya menyelesaikan artikel ini, saya ingin bertanya apakah Anda sudah melihat mata uang kertas euro yang baru untuk Yunani? Mereka menyebutnya ZERO EUROS. Tentunya ini hanya lelucon, namun saya sangat yakin bahwa orang Yunani tidak akan tertawa oleh lelucon ini Dibuat Tanggal 7 Juni 2012

=============================================================== =============================================================== http://grundelanbankcentury.blogspot.com/2009/09/dongeng-bank-bailout-di-amerikainggris_18.html Dongeng "bank bailout": di Amerika, Inggris, Indonesia-apa bedanya?

Krisis industri keuangan (atau perbankan) biasanya diikuti dengan tindakan penyelamatan. Hampir semua negara di dunia ini pernah mengalami krisis perbankan sehingga bank bailout terjadi dimanamana. Tapi, mirip dengan orang sakit, yang

membedakan adalah penyebabnya, cara penanggulangannya dan biaya (tidak harus dalam bentuk uang) bailout yang dikeluarkan.

http://blog.game-resources.com/uploads/citibank_bailout.jpg

Bailout di Amerika sewaktu krisis keuangan barusan, bisa dibagi jadi dua macam. Yang pertama, pemerintah (melalui departemen Keuangan) dan Bank Sentral bertindak sebagai matchmaker sekaligus meminjamkan dana. Bear & Sterns (BS) pada bulan Maret 2008 minta fasilitas diskonto ke Federal Reserve New York. Fasilitas itu dengan cepat berubah menjadi bailout karena eksposur BS pada subprime mortgage. BS nyaris mati karena kewajiban yang harus segera dilunasi sudah lebih besar dari modal. Otoritas keuangan Amerika menjodohkan BS dengan peminat, JP Morgan Chase. Fed New York bersama JP Morgan Chase iuran total USD 30 milyar untuk membantu neraca BS. Sebagai jaminan Fed menerima asset BS senilai USD 29 milyar; untung atau rugi atas asset tersebut akan ditanggung oleh Fed New York. Metode bailout kedua adalah menyuntikan modal untuk menutup kerugian, mirip dengan bailout bank Century di Indonesia. Model bailout ini diterapkan pada American International Group(AIG). Otoritas semula memberikan USD 85 milyar kepada AIG dengan syarat antara lain, utang itu harus dilunasi dalam waktu 2 tahun berikut bunga sebesar 8.5% per tahun (belakangan jumlah itu membengkak menjadi USD 200 milyar karena AIG harus membayar kewajiban-kewajiban transaksi derivatif yang jatuh tempo). Sebagai imbalan, pemerintah Amerika menguasai 80% saham AIG. Citibank di-bailout dengan metode serupa. Baik AIG maupun Citi, dikategorikan sebagai institusi keuangan too big to fail; potensi atau prospek bisnis keduanya bagus; dan (mungkin juga) keduanya punya lobi kuat di kongres Amerika. Itu sebabnya ototritas keuangan bail out keduanya dengan cara injeksi modal, tidak ditawarkan ke pihak lain, atau di-spin off. Bailout yang dilakukan otoritas keuangan Inggris mirip dengan bailout bank Century. Awal September

2007, Bank of England memberi fasilitas diskonto kepada Northern Rock (NR) yang kesulitan likuiditas karena imbas krisis keuangan.. Tapi karena publik curiga NR mengalami kesulitan likuiditas serius, terjadi rush. Sebenarnya ada dua investor berminat untuk membeli NR. Tapi karena pengambilalihan akan diikuti pemutusan hubungan kerja, proposal mereka ditolak. Pemerintah Inggris (dikuasai partai Buruh yang jelas akan menolak setiap propsal phk) akhirnya mengambilalh NR. Yang menarik dari bailout NR adalah cara pejabat otoritas keuangan Inggris menenangkan publik/penabung NR (lihat url BBC): dalam waktu kurang dari seminggu, bank run atau depositor run di kantor-kantor NR berhenti. Selain itu, dalam waktu 6 bulan auditor intern Financial Service Authority (FSA) dapat menyelesaikan review (dan rekomendasi) mengenai kinerja FSA dalam mengawasi NR. FSA mengakui ada kekurangan dalam pengawasan NR; lima dari tujuh pejabat yang terkait pengawasan NR mengundurkan diri.. Di Indonesia, banyak yang mengkaitkan penyelamatan bank Century dengan bangkrutnya Lehman Brothers (LB). Argumentasi yang dikemukakan: kalau Century tidak di-bail out, akan ada kejadian ikutan (yang mengerikan) seperti di Amerika ketika otoritas keuangan menolak bail out LB. Ada juga yang bilang, pemerintah Amerika menyesal tidak bailout LB, karena akhirnya harus bailout AIG. Sebenarnya, otoritas keuangan Amerika tidak membiarkan LB mati begitu saja. Bailout sebenarnya sudah diupayakan. Peminat LB antara lain Bank of America, Barclays (investment bank dari Inggris), Korean Development Bank, dan (konon) Warren Buffett. LB dibiarkan bangkrut karena sampai batas waktu yang ditentukan, tidak menemukan pembeli yang cocok (tepatnya: jual mahal, tidak mau terima tawaran dari calon pembeli). LB dibiarkan mati pada bulan September 2008, bursa saham seluruh dunia goncang. Hubungan sebabakibat dua kejadian tersebut bisa diperdebatkan. Ada yang menyalahkan Paulson, menteri keuangan Amerika karena keputusannya membiarkan LB mati. Tapi ada juga yang membenarkan tindakan otoritas keuangan: kalau waktu itu LB diinjeksi modal (dan bukannya dibeli pesaingnya), investment bank yang lain akan meniru sikap LB, antri minta uang pemerintah. Membiarkan LB mati merupakan keputusan yang mengejutkan dan menakutkan investment bank lain yang juga hampir ambruk yaitu Merrill Lynch (ML). Karena ketakutan akhirnya ML dengan mudah diakuisisi Bank of America hanya beberapa hari setelah Bank of America batal mengakuisisi LB. Jadi, apa beda bailout di sini dan di sana?

Pertama, bailout (dalam bentuk injeksi modal) di Amerika dan Inggris diberikan untuk bank yang sebenarnya masih memiliki modal positif (solvent), prospektif, tapi mengalami kesulitan likuiditas karena kondisi pasar. Kedua, penyelamatan sistem keuangan di Indonesia identikdengan menyelamatkan bank (yang sudah karam). Di Amerika, penyelamatan sistem keuangan bisa diimplementasikan dalam bentuk mengorbankan bank untuk memberi pelajaran anti moral hazard bagi yang lain. Ketiga, otoritas keuangan Amerika dan Inggris selalu minta bank (yang di-bailout) untuk menyelesaikan sendiri masalahnya dalam tenggat waktu yang jelas (dan singkat). Artinya, bank tidak bisa berlama-lama cari pembeli atau investor, asset makin lama makin jelek, lalu (malah) dikasi modal. Pelajaran yang bisa diambil dari bailout: forbearance (pemberian dispensasi kepada bank untuk tidak memenuhi ketentuan) dan/atau negligence seharusnya tidak mendahului bailout. Kalau hal ini terjadi, biaya bailout akan besar. Biaya tidak selalu berarti uang, tapi juga kredibilitas pengawas bank. Di

Indonesia, forbearance terlalu lama diberikan kepada Century; di Inggris, pengawas bank ternyata tidak teliti (negligence) dalam mengawasi risk management NR. Di Amerika, AIG di-bailout karena ternyata selama ini AIG diawasi secara parsial; sebenarnya tidak/belum ada otoritas yang bertanggungjawab penuh atas pengawasan AIG sebagai satu entity. Yang ndongeng: Sri Sumber dongeng: American International Group http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2008/09/17/AR2008091703349.html http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601039&sid=aUePOd7voLic&refer=columnist_berry

http://www.time.com/time/business/article/0,8599,1841699,00.html?xid=site-cnn-partner

AIG Supervision

http://www.insurancejournal.com/news/national/2008/09/17/93798.htm http://www.marketwatch.com/story/senators-regulators-didnt-do-their-job http://online.wsj.com/article/SB123730363714756931.html? mod=http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601087&sid=abiYc037lTNI Bear Sterns http://www.forbes.com/2008/03/24/bear-stearns-update3-markets-equitycx_md_cg_0324markets47.html http://www.forbes.com/2008/04/03/briefing-bearstearns-hearing-markets-equtiycx_ss_0403markets18.html Lehman Brothers http://www.telegraph.co.uk/finance/financetopics/financialcrisis/6179138/Lehman-collapse-thedrama-of-a-mad-48-hours-that-will-never-fade.html http://www.businessweek.com/investor/content/sep2009/pi20090915_139811.htm Merrill Lynch http://www.marketwatch.com/story/fearing-collapse-merrill-lynch-sells-out-to-bank-of-america? dist=sp_nlMarketing&sguid=EbkHc_MynE-vFgBrehdOnA Bailout Amerika: http://online.wsj.com/article/SB10001424052970203440104574403144004792338.html? mod=googlenews_wsj http://dealbook.blogs.nytimes.com/2009/09/14/lehman-had-to-die-so-global-finance-could-live/ http://www.usnews.com/money/blogs/flowchart/2009/09/01/how-the-bailouts-could-have-gonebetter.html Northern Rock (NR): http://www.marketwatch.com/story/northern-rock-gets-central-bank-lifeline-as-credit-squeezed http://www.marketwatch.com/story/uk-stocks-stumble-on-northern-rock-bailout http://www.marketwatch.com/story/uk-government-to-nationalize-northern-rock http://news.bbc.co.uk/2/low/business/7007076.stm Financial Service Authority dan NR http://www.forbes.com/feeds/afx/2008/03/26/afx4815579.html

http://www.guardian.co.uk/business/2008/jan/04/northernrock?gusrc=rss&feed=worldnews http://www.guardian.co.uk/business/2008/mar/19/northernrock.banking1 Paper: http://ssrn.com/abstract=1362639 at 9:39 PM Labels: bailout, bank century, bank indonesia, penyelamatan bank

=============================================================== =============================================================== http://blognyamyun.blogspot.com/2008/08/risiko-likuiditas-bank.html Risiko Likuiditas Bank

Risiko likuiditas (liquidity risk) merupakan salah satu jenis risiko yang dapat dialami oleh bank sebagai lembaga perantara keuangan ( fianancial intermediary). Risiko ini terkait dengan masalah likuiditas dari perantara keuangan (bank) karena ada kemungkinan bagi deposan untuk menarik dana yang mereka simpan melebihi dari biasanya. Sebagai contoh, hal ini dapat terjadi pada saat perekonomian sedang mengalami gejolak ekonomi (seperti fluktuasi nilai tukar) yang menyebabkan para penabung menarik dananya dari bank yang sakit maupun pada bank yang sehat, sehingga menimbulkan bank run. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya pemerintah melakukan penjaminan terhadap dana yang disimpan oleh para penabung, karena penjaminan tersebut akan menyebabkan para penabung merasa aman dan mempercayai sistem perbankan. Pemerintah juga dapat bertindak sebagaithe lender of the last resort , dengan memberikan bantuan likuiditas kepada bank yang mengalami masalah likuiditas. Pada saat industri perbankan tidak memiliki pertahanan yang kuat dalam menjalankan usahanya, maka risikorisiko tersebut dapat menyerang sektor perbankan. Jika hal ini semakin memperburuk kondisi perbankan, maka kepercayaan masyarakat terhadap

kinerja perbankan akan semakin menurun. Masyarakat (nasabah) yang menyimpan uang di bank mulai tidak yakin akan kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya secara penuh, sehingga semakin banyak nasabah yang menarik uangnya dari bank. Krisis kepercayaan yang diikuti oleh penarikan dana secara besarbesaran dari bank oleh nasabah ini disebut sebagaibank runs. Berikut beberapa teori tentang penyebab dan dampak terjadinyabank runs(Bank Indonesia, 2002: 3446): Teori penyebabbank run Moral hazarddan penurunan aset Dalam teori ini diasumsikan bahwa banyak bank yang memperoleh fasilitas berupa kemudahan mendapatkan pinjaman dengan tingkat bunga yang aman dari pemerintah, sehingga terjadi persaingan dalam menyalurkan kredit. Hal ini mengakibatkan kinerja dari bank seolaholah sangat sehat dibandingkan dengan kondisi yang sebenarnya. Penurunan nilai aset terjadi jika pemerintah tidak lagi memberikan jaminan pada pinjaman bank, sehingga mengubah ekspektasi investor karena mereka merasa dananya tidak aman lagi. Bank runs terjadi pada saat ketidakpercayaan investor atau nasabah diwujudkan dengan menarik dana mereka dalam jumlah besar.

Disintermediasi dan likuidasi Diasumsikan bahwa pihak bank adalah pihak yang baik, sehingga penyebab utama terjadinya krisis danasset deflation adalahfinancial panic (bank runs) yang tidak diikuti oleh kebijakan yang tepat. Pihak bank melakukan investasi utamanya untuk jangka panjang, sehingga membutuhkan pembiayaan dana yang bersifat jangka

panjang. Keadaan ini menyebabkan bank mudah terserang panik finansial.

Teori tentang dampakbank runs No contagion effect Berdasarkan teorino contagion effect,bank runs tidak akan merubah volume deposito dalam pengertian bahwa nasabah yang tidak percaya kepada suatu bank memindahkan dananya kepada bank lain, sehingga total simpanan dalam sistem perbankan akan tetap jumlahnya. Sebaliknya, koalisi antar bank (dimana bank yang mengalamiexcess liquidity mengalirkan dananya kepada bank yang kekurangan likuiditas) akan mengurangi efekbank runs lebih lanjut. Contagion effect Ketidakpercayaan pada suatu bank juga akan membawa ketidakpercayaan kepada sistem perbankan secara keseluruhan, sehingga akan

menimbulkanpanics.Contagion effect daribank runs suatu bank terjadi jika nasabah menarik dananya dari bank yang gagal dan yang masih baik dalam waktu yang sama tanpa adanya proses pemindahan deposito. Contagion effect dapat ditentukan dengan membandingkan uang kartal terhadap simpanan dana pihak ketiga (DPK) dalam sistem perbankan (rasio C/D). Sebagai lembaga keuangan yang berperan penting bagi sistem perekonomian di

negara kita, bank dituntut agar mampu mengelola berbagai risiko yang harus dihadapi oleh lembaga perantar keuangan. Jika tidak, maka risiko ini akan memberikan effect nya kepada para masyarakat. Tingkat kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada lembaga keuangan menentukan eksistensi dari lembaga keuangan (bank) tersebut yang akhirnya berpengaruh kepada kelancaran aliran dana dalam sistem perekonomian negara kita. Sumber:

Bank Indonesia, 2002. Studi Ekonomi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Jakarta.

=============================================================== ============================================================== http://en.wikipedia.org/wiki/Bank_run