Anda di halaman 1dari 18

Mengapa Perencanaan Pariwisata perlu dilakukan di Lingkup Destinasi Contoh Kasus: Taman Impian Jaya Ancol

Lova Oktavia P, Bethania Sarah


Abstrak Perencanaan pariwisata perlu dilakukan karena adanya banyak perubahan dalam industri pariwisata saat ini. Pariwisata mencakup banyak hal yang melibatkan banyak pihak, maka dibutuhkan strategi tertentu dalam perencanaan kegiatan pariwisata sehingga dapat berlangsung dengan baik. Merencanakan sesuatu dalam hal ini perencanaan pariwisata bila dilakukan dengan baik tentu akan memberikan manfaat dan dapat memperkecil semua efek yang tidak menguntungkan. Karena itu pentingnya perencanaan dalam pengembangan pariwisata sebagai suatu industri agar perkembangan industri pariwisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Pengembangan pariwisata yang tidak direncanakan, akan dapat menimbulkan masalah-masalah sosial dan budaya, terutama di daerah atau tempat di mana terdapat perbedaan tingkat sosialnya antara pendatang dan penduduk setempat. Sebagai akibat tingkah laku penduduk yang suka meniru seperti apa yang dilakukan wisatawan asing tanpa mengetahui latar belakang kebudayaan wisatawan asing yang ditirunya. Suatu perencanaan dan pertumbuhan pembangunan yang tidak direncanakan akan mengakibatkan degradasi atau penurunan daya tarik suatu atraksi wisata, bahkan dapat menjurus kepada kerusakan lingkungan. Makalah ini memberikan penjelasan mengapa perencanaan pariwisata perlu dilakukan di lingkup destinasi. Makalah ini menggunakan metode deskriptif dan studi literatur. Hasil dari makalah ini adalah memberikan gambaran umum kepada para pemangku kepentingan pariwisata (pemerintah, swasta, dan

masyarakat) dan perencana pariwisata dalam melakukan pengembangan atau pembangunan destinasi wisata harus melakukan perencanaan pariwisata yang baik terlebih dahulu karena perencanaan dalam kepariwisataan sangat penting.
Kata Kunci : Perencanaan Pariwisata, Destinasi Wisata.

I. Pendahuluan Merencanakan sesuatu bila dilakukan dengan baik tentu akan memberikan manfaat dan dapat pula memperkecil semua efek yang tidak menguntungkan. Karena itu pentingnya perencanaan dalam pengembangan pariwisata sebagai suatu industri agar perkembangan industri pariwisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup. Kita semua menyadari bahwa pengembangan pariwisata sebagai suatu industri diperlukan biaya yang besar, seperti; perbaikan jembatan dan jalan menuju obyek wisata, pengembangan hotel dengan segala fasilitasnya, angkutan wisata (darat, laut, dan udara) yang harus dibangun, penyediaan air bersih yang harus diciptakan dengan baik, sarana komunikasi yang teratur yang perlu diadakan, bahkan pendidikan karyawan yang profesional dalam bidangnya. Semuanya itu memerlukan biaya yang tidak sedikit dan agar uang tidak dihamburkan sia-sia, maka suatu perencanaan yang matang mutlak diperlukan. Pertumbuhan kepariwisataan yang tidak terkendali sebagai akibat dari perencanaan yang tidak baik, pasti akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan tentunya akan tidak menguntungkan semua pihak. Misalnya saja bangunan hotel yang menjulang tinggi, poster iklan yang merusak pemandangan dan lingkungan, pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, pengotoran pantai yang tidak terkendali sebagai akibat banyaknya wisatawan yang berkunjung, semuanya dapat saja terjadi sebagai akibat dari perencanaan yang tidak baik. Dengan kata lain, pengembangan pariwisata yang tidak

direncanakan akan menimbulkan masalah-masalah sosial dan budaya, terutama di daerah atau tempat di mana terdapat perbedaan tingkat social antara pendatang dan penduduk setempat. Hal itu terjadi akibat tingkah laku penduduk yang suka meniru seperti apa yang dilakukan wisatawan asing tanpa mengetahui latar belakang kebudayaan wisatawan asing yang ditirunya. Hal yang serupa ini jika terjadi akan dapat menimbulkan masalah-masalah sosial seperti hilangnya kepribadian, mundurnya kualitas kesenian tradisional, menurunnya kualitas barang-barang kerajinan, pencemaran pada candi-candi dan monumen yang menjadi obyek wisata atau menurunnya moral kaum muda dengan adanya kebebasan melakukan sesuatu. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata sebagai suatu industry perlu dipertimbangkan dalam segala aspek (tanpa terkecuali) karena pariwisata sebagai suatu industri tidak dapat berdiri sendiri, pariwisata berkaitan erat dengan sektorsektor lainnya, seperti sektor ekonomi, sosial, dan budaya yang hidup dalam masyarakat. Apabila pengembangan pariwisata tidak terarah dan tidak direncanakan dengan matang, maka bukan manfaat yang akan diperoleh, melainkan perbenturan sosial, kebudayaan, kepentingan yang akan menyebabkan kualitas pelayanan kepada wisatawan pun menjadi rendah dan selanjutnya akan mematikan usaha-usaha yang telah lama dibina dengan susah payah. Hal yang semacam ini tentu tidak diinginkan untuk terjadi, malah sebaliknya kita harus menghindari hal demikian sedini mungkin. Caranya dengan membuat perencanaan yang terpadu dan sejalan dengan perencanaan perekonomian negara secara keseluruhan. Dengan perkataan lain, pengembangan pariwisata harus sejalan dengan pembangunan nasional seperti yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan. Perencanaan pariwisata hendaknya harus sejalan dengan sasaran yang hendak dicapai. Keputusan pertama yang harus diambil oleh suatu daerah ialah; apakah sudah ada kesepakatan di antara pemuka/pejabat setempat bahwa daerah itu akan dikembangkan menjadi suatu obyek wisata

atau suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW), dan apakah manfaat serta keuntungan langsung bagi penduduk sekitar DTW sehingga pengembangan pariwisata selanjutnya akan mendapat dukungan dari masyarakat banyak. Aspek-aspek yang perlu diketahui dalam perencanaan pariwisata adalah: a. Wisatawan (tourist); sebagai seorang perencana, kita harus tahu terlebih dahulu (melalui penelitian atau observasi) mengenai karakteristik wisatawan yang diharapkan akan datang (target pasar yang dikehendaki)n misalnya dari daerah atau negara asal wisatawan, usia muda atau tua, berpenghasilan besar atau kecil, pola perjalanan, apa motivasi melakukan pariwisata, lama tinggal atau waktu kunjungan dilakukan. b. Pengangkutan (transportations); seorang perencana harus melakukan penelitian lebih dahulu, bagaimana fasilitas transportasi yang tersedia atau dapat digunakan, baik untuk membawa wisatawan dari daerah atau negara asalnya maupun transportasi menuju ke DTW yang dikehendaki. Selain itu, bagaimana pula transportasi lokal jika melakukan perjalanan wisata di DTW yang sedang dikunjungi tersebut. c. Atraksi/obyek wisata (atractions); bagaimana obyek wisata/atraksi akan dijual, apakah memenuhi tiga syarat seperti apa yang dilihat (something to see), apa yang dapat dilakukan (something to do), apa yang dapat dibeli (something to buy) di DTW yang dikunjungi. d. Fasilitas pelayanan (services fasilities); fasilitas apa saja yang tersedia di DTW tersebut, bagaimana akomodasi perhotelan yang ada, restoran, pelayanan umum seperti bank/money changers, kantor pos, telepon/teleks/faksimili di DTW yang akan dikunjungi wisatawan. e. Informasi dan promosi (informations); calon wisatawan perlu memperoleh informasi tentang DTW yang akan dikunjunginya. Untuk itu perlu dipikirkan cara-cara publikasi atau promosi yang akan dilakukan. Kapan iklan harus dipasang, kemana leaflets/brochures harus disebarkan, sehingga calon wisatawan mengetahui tiap paket wisata yang akan kita jual

sehingga calon wisatawan lebih cepat mengambil keputusan, berangkat atau tidak ke DTW yang ditawarkan tersebut. Pada dasarnya perencanaan bermaksud untuk memberikan batasan tentang tujuan yang hendak dicapai dan menentukan cara-cara mencapai tujuan yang dimaksudkan tersebut. Jadi perencanaan merupakan predeterminasi dari tujuan-tujuan yang bersifat produktif secara sistematis dengan menggunakan alat-alat, metode dan prosedur yang perlu untuk mencapai tujuan yang dianggap paling ekonomis. Bila kita rinci pengertian tersebut di atas, maka dalam batasan perencanaan terdapat unsur: a. Suatu pandangan jauh ke depan. b. Merumuskan secara konkret apa yang hendak dicapai dengan menggunakan alat-alat secara efektif dan ekonomis. c. Menggunakan koordinasi dalam pelaksanaannya. II. pendekatan teoritis Menurut G.R. Terry dalam bukunya Principles of Management yang disadur oleh Dr. Winardi keuntungan-keuntungan dari sebuah perencanaan adalah: a. Planning menyebabkan aktivitas dilakukan secara teratur dan dengan tujuan tertentu. b. Planning meminimalisir pekerjaan yang tidak produktif. c. Planning membantu penggunaan suatu alat pengukur mengenai hasil yang akan dicapai. d. Ada pendapat yang menyatakan bahwa planning menyebabkan penggunaan fasilitas-fasilitas yang ada menjadi lebih baik lagi. e. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa planning menyebabkan fasilitas-fasilitas yang ada dipergunakan secara lengkap. f. Planning juga memberikan suatu keadaan untuk pengawasan (waktu-waktu tertentu serta menyelesaikan setiap aktivitas-aktivitas). Pariwisata masa kini tidak hanya terkait dalam batas-batas

wilayah dalam skala tertentu. Pariwisata pada masa kini menjadi sangat khas karena melibatkan paduan budaya dan bentang alam sehingga melibatkan seluruh pihak untuk terkait didalamnya. Diantaranya ada pemerintah, swasta dan masyarakat lokal. Dalam pelaksanaannya ketiga unsur ini saling melengkapi di mana pemerintah sebagai penyelenggara dan pihak swasta sebagai media perantara untuk menyampaikan produk wisata. Sedangkan masyarakat lokal adalah unsur penting yang terlibat dalam kepemerintahan atau pihak swasta pun tidak dapat berdiri sendiri sehingga dalam penyelenggaraan pariwisata pemerintah dan swasta secara bersama-sama dapat mendayagunakan komunitas dan masyarakat lokal untuk menjadi pelaksana kegiatan pariwisata. Berikut ini gambar mengenai kompleksitas pariwisata dan sistem pariwisata:

Gambar 1 Kompleksitas Pariwisata : Sistem Pariwisata (Sumber: http://www.ar.itb.ac.id/wdp/archives/category/tourism-courses)

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa pariwisata mencakup

banyak hal dan melibatkan banyak pihak, untuk itu dibutuhkan strategi tertentu dalam perencanaan kegiatan pariwisata sehingga pariwisata dapat berlangsung dengan baik. Lima hal yang harus diperhatikan dalam pariwisata berkelanjutan menurut konsep Muller (1997) yaitu: 1) pertumbuhan ekonomi yang sehat, 2) kesejahteraan masyarakat lokal, 3) tidak merubah struktur alam dan melindungi sumber daya alam, 4) kebudayaan masyarakat yang tumbuh secara sehat, 5) memaksimalkan kepuasan wisatawan dengan memberikan pelayanan yang baik karena wisatawan pada umumnya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Teori siklus hidup destinasi wisata yang dikemukakan oleh Butler pada tahun 1980 yang dikenal dengan Tourism Area Life Cycle (TALC). Siklus hidup destinasi wisata yang dikemukan oleh Butler (1980) terbagi menjadi tujuh tahap, yaitu: a. Tahap exploration yang berkaitan dengan discovery yaitu suatu tempat sebagai potensi wisata baru ditemukan baik oleh wisatawan, pelaku pariwisata, maupun pemerintah, biasanya jumlah pengunjung sedikit, wisatawan tertarik pada daerah yang belum tercemar dan sepi, lokasinya sulit dicapai namun diminati oleh sejumlah kecil wisatawan yang justru menjadi minat karena belum ramai dikunjungi. b. Tahap involvement disebut dengan tahap keterlibatan. Pada fase ini, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mengakibatkan sebagian masyarakat lokal mulai menyediakan berbagai fasilitas yang memang khusus diperuntukkan bagi wisatawan. Kontak antara wisatawan dengan masyarakat lokal masih tinggi dan masyarakat mulai mengubah pola-pola sosial yang ada untuk merespon perubahan ekonomi yang terjadi. Disinilah mulai suatu daerah menjadi suatu destinasi wisata yang ditandai oleh mulai adanya promosi. c. Tahap development disebut dengan tahap pembangunan. Pada fase ini, investasi dari luar mulai masuk serta mulai munculnya pasar wisata secara sistematis. Daerah semakin terbuka secara fisik, advertensi (promosi) semakin intensif, fasilitas lokal sudah tersisih atau digantikan oleh fasilitas yang benar-benar touristic dengan standar internasional, dan

atraksi buatan sudah mulai dikembangkan untuk menambahkan atraksi yang asli alami. Berbagai barang dan jasa impor menjadi keharusan termasuk tenaga kerja asing untuk mendukung perkembangan pariwisata yang pesat. d. Tahap consolidation (konsolidasi). Pada fase ini, peristiwa sudah dominan dalam struktur ekonomi daerah dan dominasi ekonomi ini dipegang oleh jaringan internasional atau major chains and franchise. Jumlah kunjungan wisatawan masih naik tetapi pada tingkat yang lebih rendah. Pemasaran semakin gencar dan diperluas untuk mengisi berbagai fasilitas yang sudah dibangun. Fasilitas lama sudah mulai ditinggalkan. e. Tahap stagnation (stagnasi). Pada fase ini, kapasitas berbagai faktor sudah terlampaui di atas daya dukung sehingga menimbulkan masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kalangan industri sudah mulai bekerja berat untuk memenuhi kapasitas dari fasilitas yang dimiliki khususnya dengan mengharapkan repeater guests atau wisata konvensi/bisnis. Selain itu, atraksi buatan sudah mendominasi atraksi asli alami (baik budaya maupun alam), citra awal sudah mulai meluntur, dan destinasi sudah tidak lagi populer. f. Tahap decline (penurunan). Pada fase ini, wisatawan sudah beralih ke destinasi wisata baru dan yang tinggal hanya sia-sia, khususnya wisatawan yang hanya berakhir pekan. Banyak fasilitas pariwisata sudah berlatih atau dialihkan fungsinya untuk kegiatan non-pariwisata, sehingga destinasi semakin tidak menarik bagi wisatawan. Partisipasi lokal mungkin meningkat lagi terkait dengan harga yang merosot turun dengan melemahnya pasar. Destinasi dapat berkembang menjadi destinasi kelas rendah (a tourism slum) atau sama sekali secara total kehilangan diri sebagai destinasi wisata. g. Tahap rejuvenation (peremajaan). Pada fase ini, perubahan secara dramatis dapat terjadi (sebagai hasil dari berbagai usaha dari berbagai pihak) menuju perbaikan atau peremajaan. Peremajaan ini dapat terjadi karena adanya inovasi dalam pengembangan produk baru dan menggali atau memanfaatkan sumber daya alam dan budaya yang sebelumnya belum dimanfaatkan.

Siklus Hidup Destinasi Wisata atau Tourism Area Life Cycle berdasarkan penjelasan di atas apabila dibuat gambar secara visual seperti berikut ini:

Gambar 2 Tourism Area Life Cycle (Sumber: Butler, 1980)

Relevansi tahap-tahap pada gambar di atas dalam konsep pembangunan pariwisata adalah bahwa setiap tahap/tingkatan pembangunan mempunyai karakter yang berlainan, yang memerlukan perlakuan perencanaan yang berbeda pula. Bali misalnya yang telah berada pada tahap stagnation oleh karenanya masalah-masalah evaluasi daya dukung (carrying capacity) memerlukan pencermatan kembali, disamping masalah manajerial lainnya yang secara keseluruhan perlu dituangkan dalam re-evaluasi tata ruangnya. Konsekuensi dari adanya perbedaan karakteristik dalam pembangunan atau perkembangan pariwisata menuntut seorang perencana pariwisata untuk selalu mencermati bentuk keterkaitan antara komponen kepariwisataan dengan karakteristik komponen

lingkungan untuk menentukan lingkup pekerjaan. Perencanaan biasanya dapat membantu meminimalkan konflik yang terjadi berkaitan dengan penggunaan tanah atau sumber daya lainnya (Glaria and Cenal, 1990). Diperlukannya sebuah perencanaan dapat juga dikaitkan dengan perkembangan wilayah dan/atau perkembangan kota. Kebutuhan ini terutama dirasakan setelah perkembangan fisik industri atau usaha kepariwisataan, khususnya hotel yang teraglomerasi di lokasilokasi tertentu, menyebabkan permasalahan pada skala yang lebih luas. Dalam perencanaan termasuk perencanaan kepariwisataan perlu dipahami perihal kebutuhan di satu sisi serta pemahaman cara pemenuhan kebutuhan tersebut di sisi lain. Memahami bahwa pariwisata mencakup aspek yang amat luas dan rencana tata ruang wilayah sebagai suatu konsep penataan ruang kegiatan, maka kebutuhan akan rencana pariwisata yang komprehensif dirasakan sebagai suatu keharusan. Rencana pariwisata bukan sekedar menyangkut kebutuhan akan akomodasi, mendandani obyek wisata atau membangun obyek rekaan, melainkan harus menjadi satu kesatuan yang terpadu dengan rencana umum tata ruang wilayah; dan sebaliknya, rencana tata ruang wilayah tidak dapat mengabaikan unsur suka yang paling tidak adalah kebutuhan akan rekreasi dan lebih luas adalah kebutuhan akan pariwisata. Pengaruh dari kurangnya perencanaan dalam sebuah organisasi telah didokumentasikan dalam berbagai literatur, pengaruhnya meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Pengaruh fisik; kerusakan atau perubahan tetap sekitar fisik, kerusakan atau perubahan tetap dalam sejarah/kebudayaan, kekumuhan dan keterbatasan, polusi, serta masalah-masalah lalu lintas. b. Pengaruh manusia; kurangnya penerimaan dalam pelayanan dan atraksi-atraksi lokal yang mengecewakan para turis, kidaksukaan para turis pada bagian tempat mereka tinggal, hilangnya identitas budaya, kurangnya pendidikan para pekerja kepariwisataan dalam hal keterampilan dan penerimaan tamu, serta kurang sadar akan keuntungan-

keuntungan pariwisata untuk daerah tujuan wisata. c. Pengaruh organisasi; lemahnya pendekatan pemasaran dan pengembangan pariwisata, kurangnya kerjasama diantara operator, tidak selarasnya gambaran dari ketertarikan pariwisata, kurangnya dorongan dari pejabat daerah, serta tidak adanya tindakan atas isu-isu penting, masalah-masalah dan kesempatan dari ketertarikan masyarakat pada umumnya. d. Pengaruh lain; tidak selarasnya isyarat-isyarat, kurang cukupnya atraksi-atraksi dan even-even wisata, musim yang tinggi dan pendeknya jangka tinggal, miskinnya atau menekan kualitas dari fasilitas dan pelayanan, serta miskinnya atau tidak selarasnya informasi perjalanan. III. contoh kasus: taman impian jaya ancol sebelum dan setelah perencanaan Taman Impian Jaya Ancol merupakan sebuah obyek wisata yang berlokasi di Jakarta Utara yang senantiasa menciptakan lingkungan sosial yang lebih baik melalui sajian hiburan berkualitas yang mengandung unsur seni, budaya dan pengetahuan, yang diwujudkan dalam komunitas life recreation. Berikut ini peta lokasi Taman Impian Jaya Ancol:

Gambar 3 Peta Lokasi Taman Impian Jaya Ancol (Sumber: Map data, 2012)

Saat ini Ancol memiliki obyek wisata dan fasilitas sebagai berikut; pantai dan taman, Dunia Fantasi, Atlantis Water Adventure, Gelanggang Samudra, Sea World, Putri Duyung Cottages, Padang Golf Ancol, Marina, Pasar Seni, Pulau Bidadari, Ritel, Hailai Executive Club, Kereta Gantung, Bowling, Wisata Kuliner, fasilitas resto dan kafe, hotel dan apartemen. Padahal sebelum adanya perencanaan pariwisata, Ancol hanya merupakan sebuah tempat jin buang anak. Namun setelah dilakukan perencanaan pariwisata, Ancol merupakan salah satu destinasi wisata andalan di DKI Jakarta. Ancol dapat disebut sebagai suatu sistem jejaring yang berhasil dan sukses di Indonesia karena dalam kepemilikkan sahamnya, Ancol dimiliki oleh para stakeholder pariwisata yaitu; kepemilikkan saham 72% oleh Pemda DKI Jakarta dan 18% oleh PT. Pembangunan Jaya serta 10% oleh masyarakat sehingga dalam konsep pelaksanaan dan pengembangannya Ancol lebih berpihak ke publik agar kinerja perusahaan dapat lebih terkontrol, terukur, efisien dan efektif dengan tingkat profesionalisme yang tinggi serta menciptakan sebuah Good & Clean Governance. Untuk lebih jelasnya berikut ini perbedaan Ancol sebelum dan setelah dilakukan perencanaan pariwisata;

Sebelum

Gambar 4 Ancol Sebelum dan Setelah Perencanaan (Sumber: http://www.destinationrecovery.com)

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat perubahan yang signifikan ketika Ancol belum dikembangkan (belum dilakukan perencanaan pariwisata) dengan setelah dilakukan perencanaan pariwisata menjadi sebuah destinasi wisata. Untuk lebih jelasnya, berikut ini kronologi Ancol ketika dalam tahap pengembangan pariwisata sebelum menjadi destinasi wisata yang terkenal di Indonesia seperti saat ini: a. Pada tahun 1656, Ancol merupakan kubu pertahanan Belanda, Kemudian dibangun jalan yang sejajar dengan terusan yang kini telah dibangun jalan tol yang menghubungkan PriokAncol-Kota-Cengkareng. b. Pada tahun 1737-1741, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai dan mulai banyak di bangun vila-vila peristirahatan di kawasan ini. c. Pada akhir abad 18, Ancol mulai ditinggalkan seiring eksodusnya warga Batavia ke wilayah Kota Baru Weltevreden dan pada masa ini, terkadang air Sungai Ciliwung meluap hingga mengubah kawasan tersebut menjadi kumuh dan berlumpur sehingga membuat orang tidak ingin datang ke

Ancol. d. Pertengahan abad 19, nama Ancol kembali terdengar. Seorang Cina kaya raya, Oey Tambahsia memiliki rumah peristirahatan dan pelesiran (suhian) bernama Bintang Mas di kawasan Ancol ini. Si playboy kaya raya ini memang kejam dan banyak kejahatan yang telah dilakukannya, hingga akhirnya pengadilan Batavia menjatuhi Oey Tambahsia Si Playboy Betawi ini hukuman mati di tiang gantungan. Di Ereveld Ancol ini bukan hanya pejuang-pejuang Belanda yang dimakamkan tetapi pejuang-pejuang Indonesia yang pada waktu itu berjuang turut dimakamkan disini, baik yang beragama Kristen maupun beragama Islam. e. Tahun 1940 yaitu masa kependudukan Jepang dan kawasan Ancol mengalami perjalanan terkelam karena rawa sekitar Ancol sempat menjadi tempat pembuangan mayat Belanda yang melawan pemerintah Jepang. f. Pada tahun 1966, kawasan Ancol mulai dilakukan pembenahan. Diawali dengan pembangunan kawasan Pantai Bina Ria Ancol yang terkenal dengan Theater Mobil di era 1970an serta pusat perjudian Copacabana pun sempat dibangun di kawasan ini. Berdasarkan kronologi di atas dapat dilihat bahwa Taman Impian jaya Ancol sebelum dikembangkan menjadi destinasi wisata adalah wilayah yang mempunyai banyak masalah sosial berupa sarang penyakit bahkan tempat pembuangan jenazah pegawai Belanda, namun setelah dibangun dan dikembangkan menjadi obyek wisata, Ancol berhasil menjadi daerah yang bermanfaat baik secara sosial budaya maupun ekonomi. Dengan merujuk pada perubahan Ancol sebelum dan setelah perencanaan, dapat dianalisa mengapa perlu dilakukannya perencanaan pariwisata dalam lingkup sebuah destinasi wisata: a. Memberi pengarahan, karena dengan adanya perencanaan, para pelaksana dalam suatu organisasi atau tim mengetahui apa yang hendak dilakukannya dan ke arah mana yang akan dituju, atau apa yang akan dicapai. b. Membimbing kerjasama karena perencanaan dapat

membimbing para petugas bekerja tidak menurutkan kemauannya sendiri. Dengan adanya perencanaan, ia merasa sebagai bagian dari suatu tim dimana tugas seorang banyak bergantung pada tugas yang lainnya. c. Menciptakan koordinasi karena jika dalam suatu proyek masing-masing keahlian berjalan secara terpisah, maka kemungkinan besar tidak akan tercapai suatu sinkronisasi dalam pelaksanaan. Karena itu sangat diperlukan adanya koordinasi antara beberapa aktivitas yang dilakukan. d. Menjamin tercapainya kemajuan, karena suatu perencanaan umumnya telah menggariskan suatu program yang hendak dilakukan yang meliputi tugas dan tanggung jawab tiap individu atau tim dalam proyek yang akan dikerjakan. Bila ada penyimpangan antara yang telah direncanakan dengan apa yang telah dilaksanakan, akan segera dapat dihindarkan. Dengan demikian akan dapat dilakukan koreksi pada saat diketahui, sehingga sistem ini akan mempercepat penyelesaian suatu proyek. e. Untuk memperkecil risiko karena perencanaan mencakup mengumpulkan data yang relevan (baik yang tersedia maupun yang tidak tersedia) dan secara hati-hati menelaah segala kemungkinan yang terjadi sebelum diambil suatu keputusan. Suatu keputusan yang diambil atas dasar intuisi, kerjakan ini dan kerjakan itu tanpa melakukan suatu penelitian pasar atau tanpa melakukan perhitungan rates of return on investment, sangat dikhawatirkan akan menghadapi risiko besar. Oleh karena itu, perencanaan dapat lebih memperkecil risiko yang mungkin timbul. f. Mendorong dalam pelaksanaan, karena perencanaan menjamin bahwa suatu organisasi dapat memperoleh kemajuan secara sistematis dalam mencapai hasil yang diinginkan melalui insiatif sendiri. Itu sebabnya untuk mencapai suatu hasil diperlukan suatu tindakan, namun demikian untuk melakukan tindakan dibutuhkan suatu perencanaan dan program. Disamping itu juga, untuk membuat suatu perencanaan diperlukan suatu kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, sedangkan untuk mengambil keputusan diperlukan

data dan analisa risiko yang mungkin timbul. Dengan demikian untuk mengetahui data yang perlu dikumpulkan kita memerlukan tujuan yang hendak dicapai terlebih dahulu, sedangkan untuk menentukan suatu tujuan (objectives) diperlukan suatu pemikiran (thought) yang khusus. Jadi perencanaan (planning) merupakan suatu mata rantai yang esensial antara pemikiran (thought) dan pelaksanaan (action). Dan mengapa perencanaan pariwisata perlu dilakukan dilingkup destinasi karena adanya banyak perubahan dalam industri pariwisata saat ini, diantaranya: a. Fenomena pariwisata yang semakin kompleks dari sebelumnya. Bilamana dahulu masyarakat menganggap pariwisata hanya sebatas menginap di hotel atau bepergian ke suatu obyek wisata, maka saat ini pariwisata menjadi semakin kompleks disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Hal ini disebabkan pariwisata melibatkan banyak bidang dalam prosesnya diantaranya bidang penginapan, atraksi, jalan-jalan, makan dan lain-lain yang membentuk suatu pertukaran antara penyedia dan pemberi sebagai tuan rumah berhadapan dengan tamu melalui media perantara. b. Pariwisata berdampak positif dan negatif. c. Pariwisata semakin kompetitif dan promosi destinasi wisata semakin gencar. d. Pariwisata dapat berakibat buruk bagi sumber daya alam dan budaya. e. Pariwisata mempengaruhi semua pihak dalam komunitas tertentu dan semua yang terlibat dalam pariwisata perlu berpartisipasi dalam perencanaannya. Mengapa perencanaan pariwisata diperlukan karena perencanaan dan pertumbuhan pembangunan yang tidak direncanakan akan mengakibatkan degradasi atau penurunan daya tarik suatu atraksi wisata, bahkan dapat menjurus kepada kerusakkan lingkungan. Konsekuensinya dalam hal ini ialah penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung. Apabila pembangunan pariwisata terjadi tanpa sebuah

perencanaan yang luas, maka perubahan kepariwisataan tersebut memiliki dampak negatif terhadap ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan sekitar pada daerah tujuan wisata tersebut. Tambahan investasi dalam kepariwisataan tanpa sebuah rencana untuk suatu tindakan dapat dijadikan suatu kemalangan bagi perusahaan pribadi dan agen-agen umum. Sebuah perencanaan terpadu untuk pembangunan daerah tujuan wisata adalah penting untuk beberapa alasan. Pertama, kepariwisataan adalah saling ketergantungan, fasilitas-fasilitas tidak dapat hidup jika tidak ada atraksi-atraksi dalam satu daerah, kita dapat melihat hanya ada kecenderungan untuk menyewa yang membuat persediaan (kamar hotel), jadi sangat bertentangan memiliki kamar-kamar hotel bagi para turis untuk tinggal adalah penting sebelum pengunjung tiba, pendekatan yang lebih luas mengambil semua elemen dari pariwisata. Kedua, perhitungan adalah penting untuk menjamin semua bagian menjadi layak secara bersama-sama. Sebuah pendekatan perencanaan terpadu akan membantu menjamin tipe pembangunan yang hasil-hasilnya akan menjadi satu kecocokkan bagi masyarakat, kebutuhan-kebutuhan dan harapan dari masyarakat akan diperhitungkan sebagai bagian dari proses perencanaan. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa perencanaan pariwisata diperlukan di lingkup destinasi wisata dan seorang perencana pariwisata harus mengetahui hal itu. IV. kesimpulan Perencanaan pariwisata perlu dilakukan di lingkup destinasi karena tujuan utama dari perencanaan sebuah pengembangan pariwisata di suatu destinasi yaitu untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat lokal, maka pertimbanganpertimbangan atau kebijakan-kebijakan dalam perencanaan harus mengutamakan kepentingan masyarakat dengan memperhatikan segi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan karena dalam pelaksanaannya para pemangku kepentingan (pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal) harus saling melengkapi di mana pemerintah sebagai penyelenggara

dan sektor swasta sebagai media perantara untuk menyampaikan produk wisata. Sedangkan masyarakat lokal adalah unsur penting yang terlibat dalam kepemerintahan dan swasta yang tidak dapat berdiri sendiri, sehingga dalam penyelenggaraan pariwisata diharapkan pemerintah dan pihak swasta dapat bersama-sama mendayagunakan komunitas dan masyarakat lokal untuk menjadi pelaksana kegiatan pariwisata, dan perencanaan pariwisata selain sejalan dan sinkron dengan perencanaan yang ada (skala nasional, regional maupun