Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH OBAT BATUK

Disusun oleh: 1. Husna Kamilah NIM J1E113049 2. Dewita Fitri W. NIM J1E113066

Asisten: Maruf Algifarie NIM J1E112069

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2013

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah ini dibuat dan telah disetujui sebagai tugas asistensi mahasiswa baru Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Farmasi tahun 2013. Judul : Obat Batuk 1. Nama : Husna Kamilah NIM J1E113049 2. Nama : Dewita Fitri W. NIM J1E113066

Banjarbaru, 12 September 2013 Asisten

Maruf Algifarie NIM J1E112069

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul OBAT BATUK. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas asistensi mahasiswa baru Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Farmasi tahun 2013. Secara khusus, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada asisten pembimbing dalam penulisan makalah ini hingga dapat terselesaikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan makalah ini. Dalam makalah ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan, kritik dan saran demi perbaikan karya tulis ini di masa mendatang. Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Banjarbaru, 12 September 2013

Penulis

iii

DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................ i LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... ii KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN I. 1. I. 2. LATAR BELAKANG ........................................................................... 1 TUJUAN ............................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN II. 1. II. 2. II. 3. II. 4. PENGERTIAN ...................................................................................... 3 MEKANISME KERJA .......................................................................... 4 PENGGOLONGAN OBAT ................................................................... 9 PENANGANAN DAN PEMILIHAN OBAT ........................................ 9

BAB III PENUTUP III. 1. KESIMPULAN ..................................................................................... 11 III. 2. SARAN ............................................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 12 LAMPIRAN

iv

BAB I PENDAHULUAN

I. 1. LATAR BELAKANG Batuk merupakan simptom umum bagi penyakit respiratori dan nonrespiratori. Batuk bisa menyebabkan morbiditas yang tinggi dan simptom seperti letargi, imsomnia, suara serak, nyeri muskuloskeletal, berkeringat, dan inkotinensia urin. Batuk akut merupakan salah satu simptom yang utama yang dikeluhkan penderita di praktik dokter. Mayoritas dari kasus batuk akut ini disebabkan oleh infeksi virus saluran pernafasan atas yang merupakan satu self-limiting disease (Susanti, 2009). Satu penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa terdapat kirakira 26 juta kasus batuk akut rawat jalan pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak yang tidak mengetahui batuk akut merupakan self-limiting symptom yang bisa ditangani tanpa berobat ke dokter. Batuk kronis merupakan kondisi umum yang menyebabkan morbiditas fisik dan psikologi yang tinggi. Batuk kronis yang terus-menerus mempunyai efek pada kualitas hidup dan menyebabkan isolasi sosial serta depresi klinis (Susanti, 2009). Obat batuk terdapat banyak jenisnya yaitu antitusif sebagai obat menekan refleks batuk, ekspektoran untuk merangsang dahak dikeluarkan dari saluran pernafasan, dan mukolitik untuk mengencerkan dahak. Antitusif akan diberikan kepada penderita batuk yang tidak berdahak, sedangkan ekspektoran dan mukolitik akan diberikan kepada penderita batuk yang berdahak. Obat batuk banyak diiklankan dan bisa diperoleh tanpa resep dokter atau dikenal sebagai obat bebas (over-the-counter medicine) (Susanti, 2009). Jenis obat batuk bebas yang sering ada di pasaran adalah jenis ekspektoran dan antitusif. Amerika Serikat, biaya pertahun untuk obat batuk bebas kira-kira berjumlah milyaran dolar. Pada tahun 1994, di Amerika Serikat penjualan obat bebas antitusif berharga US$19 milyar. Statistika dari Departemen Kesehatan Farmasi di Hong Kong menunjukkan pasien rawat

jalannya telah menggunakan sebanyak 370.000 liter antitusif yang berharga HK$2 juta pada tahun 2000. Hal ini jelas menunjukkan beban ekonomi yang berat (Susanti, 2009). Diketahui bahwa obat batuk tidak bisa disamaratakan untuk semua jenis batuk. Oleh sebab itu, perlu dicapai pengetahuan yang benar mengenai penggunaan jenis-jenis obat batuk terhadap jenis batuk yang diderita. Masyarakat seharusnya mendapat edukasi tentang jenis obat batuk yang diambil, supaya penanganan sendiri simptom batuk yang diderita dapat diobati dengan baik (Susanti, 2009). I. 2. TUJUAN Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : 1. 2. 3. 4. Untuk mengetahui variasi obat batuk. Untuk mengetahui fungsi setiap jenis obat batuk. Untuk mengetahui pemilihan obat batuk sesuai dengan jenis batuk. Untuk mengetahui efek samping obat batuk.

BAB II PEMBAHASAN

II. 1. PENGERTIAN Batuk adalah suatu refleks fisiologi protektif yang bermanfaat untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernafasan dari dahak, debu, zatzat perangsang asing yang dihirup, partikel-partikel asing dan unsur-unsur infeksi. Orang sehat hampir tidak batuk sama sekali berkat mekanisme pembersihan dari bulu getar di dinding bronchi, yang berfungsi untuk menggerakkan dahak keluar dari paru-paru menuju batang tenggorok. Cillia ini membantu untuk menghindarkna masuknya zat-zat asing ke saluran nafas (Tjay, 2007). Batuk dapat dibedakan menjadi dua, yakni batuk produktif (dengan dahak) dan batuk non-produktif (kering). 1. Batuk produktif merupakan suatu mekanisme perlindungan dengan fungsi mengeluarkan zat-zat asing (kuman, debu,dsb) dan dahak dari batang tenggorok (Tjay, 2007). 2. Batuk non-produktif bersifat kering tanpa adanya dahak, misalnya pada batuk rejan (pertussis, kinkhoest), atau juga karena

pengeluarannya memang tidak mungkin, seperti pada tumor (Tjay, 2007). Penyebab utama penyakit batuk dalam pernafasan, antara lain: 1. Mikroorganisme pathogen yang mampu bertahan terhadap fagositos (Susanti, 2009). 2. Partikel-partikel mineral yang menyebabkan kerusakan atau kematian makrofag yang menelannya, sehingga menghambat pembersihan dan merangsang reaksi jaringan (Susanti, 2009). 3. Partikel-partikel organik yang merangsang respon imun (Susanti, 2009). 4. Kelebihan beban sistem akibat paparan terus-menerus terhadap debu respirasi berkadar tinggi yang memupuk di sekitar saluran nafas terminal (Susanti, 2009).

Gangguan pada saluran pernafasan , ditandai dengan gejala-gejala yaitu: 1. Gejala lokal, seperti: a. Batuk; Batuk merupakan gejala yang paling umum akibat penyakit pernafasan. Batuk bisa bersifat kering maupun basah tergantung dari pada produk sekret. b. c. d. e. 2. Sesak nafas; Pengeluaran dahak; Nyeri dada; Batuk darah.

Gejala umum Gejala-gejala yang disebut diatas bersifat setempat. Beberapa penyakit memberi juga gejala umum, seperti suhu badan meninggi, pusing dan mabuk kepala, tidak mau makan, rasa lesu/lemah, keringat dingin dan sebagainya (Susanti, 2009).

II. 2. MEKANISME KERJA Debu, aerosol dan gas iritan kuat menyebabkan refleks batuk-batuk atau spasme laring (penghentian bernapas). Kalau zat-zat ini menembus kedalam paru-paru, dapat terjadi bronchitis toxic, edema paru-paru atau pneumonitis. Para pekerja menjadi toleran terhadap paparan iritan berkadar rendah dengan meningkatkan sekresi mucus, suatu mekanisme yang khas pada bronchitis dan terlihat pada perokok tembakau (Susanti, 2009). Ekspektoran ialah obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran napas (ekspektorasi). Penggunaan ekspektoran didasarkan pengalaman empiris. Mekanisme kerjanya berdasarkan stimulasi mukosa lambung dan selanjutnya secara refleks merangsang sekresi kelenjar saluran napas lewat N. vagus sehingga menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak. Obat yang termasuk golongan ini ialah gliseril guaiakolat. Untuk gliseril guaiakolat, penggunaan obat ini hanya didasarkan tradisi dan kesan subyektif pasien dan dokter. Efek samping yang mungkin timbul dengan dosis besar, berupa ngantuk, mual dan

muntah. Gliseril guaikolat tersedia dalam bentuk sirup 100 mg/5 ml. Dosis dewasa yang dianjurkan 2-4 kali 200-400 mg sehari. Sirup ipeka dan kalium yodida sebaiknya tidak digunakan sebagai ekspektorans karena tidak jelas kebutuhannya dan dapat menyebabkan efek samping yang serius (Susanti, 2009). Mukolitika ialah obat yang dapat mengencerkan sekret saluran napas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum. Contoh mukolitika asetilsistein. a. Bromheksin, yaitu derivat sintetik dari vasicine, zat aktif dari Adhatoda vasica. Obat ini digunakan secara local di bronkus untuk memudahkan pengeluaran dahak. Efek samping pada pemberian oral berupa mual dan peninggian transaminase serum. Harus hati-hati digunakan pada pasien tukak lambung. Dosis oral untuk orang dewasa yang dianjurkan 3 kali 4-8 mg sehari (Susanti, 2009). b. Ambroksol, suatu metabolit bromheksin diduga sama cara kerja dan penggunaannya. Ambroksol sedang diteliti tentang kemungkinan manfaatnya pada keratokonjungtivitis sika dan sebagai perangsang produksi surfaktan pada anak lahir premature dengan sindrom pernafasan (Susanti, 2009). c. Asetilsistein, diberikan secara semprotan (nebulization) atau obat tetes hidung. Asetilsistein, menurunkan viskositas sekret paru pada pasien radang paru. Aktivitas mukolitika zat ini langsung terhadap mukoprotein dengan melepaskan ikatan disulfidanya, sehingga menurunkan viskositas sputum. Aktivitas mukolitika terbesar pada pH 7-9. Efek samping berupa spasme bronkus, terutama pada pasien asma. Dapat juga timbul mual, muntah, stomatisis, pilek, hemoptisis dan terbentuknya sekret berlebihan sehingga perlu disedot atau suction (Susanti, 2009). Berikut klasifikasi berdasarkan tanda klinis (batuk berdahak ataupun batuk kering), yakni: ialah bromheksin, ambroksol dan

1.

Batuk berdahak; batuk berdahak adalah batuk yang terjadi karena adanya dahak pada tenggorokan. Lebih sering terjadi pada saluran nafas yang peka terhadap paparan debu, lembab berlebih dan sebagainya. Pada batuk berdahak mekanisme pengeluaran sekret atau benda asing disaluran nafas sebaiknya tidak ditekan.

2.

Batuk kering; batuk kering seringkali sangat menganggu, tidak dimaksudkan untuk membersihkan saluran nafas, dan pada kondisi tertentu berbahaya (pasca operasi) sehingga perlu ditekan. Batuk kering terjadi apabila tidak ada sekresi saluran nafas, dan iritasi pada tenggorokan, sehingga timbul rasa sakit.

Obat batuk untuk batuk berdahak: 1. Ekspektoransia Obat-obat kelompok ini diduga bekerja merangsang sekresi cairan saluran nafas dengan demikian mempermudah pengeluaran dahak. Contoh: a. Gliseril guaiakolat Kegunaan: Mengencerkan lendir saluran nafas. Hal yang harus diperhatikan: Hati-hati atau minta saran dokter untuk penggunaan bagi anak dibawah 2 tahun dan ibu hamil. Aturan pemakaian: Dewasa: 1-2 tablet (100-200 mg) setiap 6 jam atau 8 jam. Anak: 2-6 tahun tablet (50 mg) setiap 8 jam. 6-12 tahun -1 tablet (50-100 mg) setiap 8 jam. b. Amonium klorida Cara kerja obat: Efek ekspektoran diduga berdasarkan peningkatan cairan disaluran napas dengan refleks melalui rangsangan selapit lendir saluran cerna. Amonium klorida merupakan salah satu komponen obat batuk hitam. Hal yang harus diperhatikan: Tidak dianjurkan digunakan pada penderita penyakit hati, ginjal dan jantung kronik, karena dapat mengganggu keseimbangan kimia darah yang

mempengaruhi ekskresi obat. Pemberian dosis 5 gram pada penderia ini dapat membahayakan, dan akan timbul gejala antara lain: Rasa mual, muntah, haus, sakit kepala, hiperventilasi. Aturan pemakaian: Dewasa: 300 mg setiap 4 jam. c. Bromheksin Kegunaan obat: Mengencerkan lendir saluran nafas. Hal yang harus diperhatikan: Konsultasikan kedokter atau apoteker untuk penderita tukak lambung dan wanita hamil 3 bulan pertama. Efek samping: Rasa mual, diare dan perut kembung ringan. Aturan Pemakaian: Dewasa: 1 tablet (8 mg) diminum 3x sehari (setiap 8 jam). Anak: Umur diatas 10 tahun 1 tablet (8 mg diminum 3x sehari (setiap 8 jam). 5-10 tahun tablet (4 mg) diminum 2x sehari (setiap 8 jam). d. Kombinasi Bromheksin dengan Gliseril Guaiakolat Kegunaan obat: Mengencerkan lendir saluran napas. Hal yang harus diperhatikan: 1) Konsultasikan ke dokter atau apoteker bagi anak di bawah 2 tahun. 2) Konsultasikan ke dokter atau apoteker bagi penderita tukak lambung. 3) Konsultasikan ke dokter atau apoteker bagi ibu hamil. Efek samping: Rasa mual, diare, kembung ringan.

Obat batuk untuk batuk kering : 1. Antitussiva Bekerja sentral pada susunan saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk. Contoh antitussiva :

a.

Dekstrometorfan HBr Cara kerja obat: Dekstrometorfan HBr adalah obat penekan batuk yang cukup efektif, kecuali pada batuk yang mendadak dan berat. Hal yang perlu diperhatikan: 1) Jangan digunakan pada batuk kronik akibat rokok, asma, atau emfisema, karena akan menekan batuk dan berakibat penghambatan pengeluaran dahak. 2) Penderita penyakit hati sebaiknya tidak menggunakan obat ini. 3) Jangan menggunakan obat ini bersama obat-obat penekan susunan saraf pusat. Efek samping biasanya ringan dan jarang terjadi, antara lain seperti: Mual dan pusing. Efek sentral dan depresi pernafasan hanya terjadi pada dosis sangat besar. Aturan pemakaian: Dewasa 10 20 mg, 3 kali sehari. Anak anak 5 10 mg, 3 kali sehari.

b.

Dipenhidramin HCl Cara kerja obat: Dipenhidramin mempunyai fungsi sebagai antitussiva yang menyebabkan kantuk. Selain itu juga sebagai antihistamin, sehingga sesuai untuk batuk yang disebabkan oleh alergi. Hal yang harus diperhatikan: 1) Obat ini dapat menyebabkan kantuk. Jika menggunakan obat ini, diharapkam tidak sedang mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin. 2) Harap jangan digunakan bersama obat influenza yang mengandung antihistamin. 3) Agar dikonsultasikan dengan dokter atau unit pelayanan kesehatan terlebih dahulu apabila digunakan pada penderita asma (karena dapat mengurangi sekresi dan

mengentalkan dahak), wanita hamil maupun menyusui dan anak berusia kurand dari 6 tahun. Aturan Pemakaian: Dewasa 1-2 kapsul (25 50 mg), setiap 8 jam. Anak-anak tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam. II. 3. PENGGOLONGAN OBAT NO. GOLONGAN 1. Mukolitika ZAT AKTIF Asetilsistein Ambroxol BRAND NAME Fliumucil Fliumucil Pediatric Pectocil Ambril Berea Bronchopront Codipront Codipront Cum Expectorant Romilar Zenidex Woods Pepermint Versaldex Pyril Longatin Mercotine Neocodin

2.

Antitussiva

Codein

Dekstrometorfan 3. Ekspektoransia

Gliseril Guaiakolat Noscapin

II. 4. PENANGANAN DAN PEMILIHAN OBAT Tindakan penting adalah terutama berhenti merokok guna

menghindarkan perangsang lebih lanjut dari saluran napas. Disamping itu dapat dilakukan inhalasi uap air (mendidih) yang dihirup guna memperbanyak sekret yang diproduksi ditenggorok. Metode ini efektif dan murah, terutama batuk dalam , artinya bila rangsangan batuk timbulnya dari pangkal tenggorok. Seringkali minum banyak air juga dapat menghasilkan efek yang sama (Tjay, 2007).

Pengobatan farmakoterapi pada batuk pertama hendaknya ditujukan pada mencari dan mengobati penyebabnya (terapi kausal), seperti antibiotik terhadap infeksi kuman dari saluran pernafasan, misalnya: 1. Pneumonia; bagi orang dewasa pneumonia dapat ditanggulangi dengan doksisiklin selama 7 hari (permulaan 200 mg, lalu 1 dd 100 mg), bagi wanita hamil dan menyusui amoksisilin 3 dd 500 mg selama 7 hari atau eritromisin 4 dd 500 mg selama 7 hari. Anak-anak dapat diberikan amoksisilin 30mg/kg selama 7 hari, bila terdapat kontraindikasi : azitromisin 1 dd 10mg/ kg selama 3 hari. 2. Batuk rejan; sebenarnya pada hakikatnya batuk rejan hanya dapat diobati dengan antibiotika bila dilingkungan dekat terdapat bayi atau wanita hamil, jadi untuk prevensi penularan infeksi sekunder. Dalam hal ini diberikan pada anak-anak azitromisin 1dd 10mg/ kg selama 3 hari, dewasa 1 dd500mg selama 3 hari, wanita hamil dan menyusui eritromisin 4 dd 500mg selama 7 hari. Dalam kasus parah obat pilihan utama pada anak-anak adalah noskapin (2-4 dd 7,5-15 mg tergantung usia) dan untuk dewasa noskapin 3-4 dd 15-30 mg atau kodein 3-4 dd 10-20 mg. 3. Kodein, noskapin, dan d-metorfan; ketiga antibiotik tersebut boleh digunakan selama kehamilan dan laktasi, begitu pula mukolitika, amonium klorida dan sirup ipekak. Bagi oksolamin dan mesna belum tersedia cukup data mengenai keamanannya. Pentoksiverin tidak boleh digunakan selama laktasi, karena mencapai air susu ibu dan dapat mengakibatkan sesak napas pada bayi.

10

BAB III PENUTUP

III. 1. KESIMPULAN 1. Batuk merupakan gejala penting yang ditimbulkan oleh terpicunya refleks batuk. Variasi obat batuk untuk batuk produktif yakni ekspektoransia, dan mukolitika. Dan untuk obat batuk non-produktif yaitu antitussiva. 2. Fungsi untuk ekspektoran ialah obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran napas (ekspektorasi). Mukolitika ialah obat yang dapat mengencerkan sekret saluran napas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum. Antitussiva bekerja sentral pada susunan saraf pusat menekan pusat
batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk.

3.

Pengobatan pada batuk pertama hendaknya ditujukan pada mengobati penyebabnya misalnya seperti antibiotika terhadap infeksi bakterial dari saluran pernapasan. Namun sebelumnya haruslah diadakan perbedaan antara batuk produktif (dahak) dan batuk non-produktif (kering).

4.

Bromheksin mempunyai efek samping pada pemberian oral berupa mual dan peninggian transaminase serum. Asetilsistein mempunyai efek samping berupa spasme bronkus, terutama pada pasien asma. Dapat juga menimbulkan mual, muntah, stomatisis, pilek, hemoptisis dan terbentuknya sekret secara berlebihan sehingga perlu disedot atau yang disebut suction. Dekstrometorfan HBr mempunyai efek samping
biasanya ringan dan jarang terjadi, antara lain seperti mual dan pusing. Efek sentral dan depresi pernafasan biasanya hanya terjadi pada dosis sangat besar.

III. 1. SARAN Diharapkan mahasiwa dan masyarakat pada umumnya menjadi paham tentang bagaimana pengobatan pada penyakit batuk. Mengetahui tentang obat-obat batuk, dan mengetahui cara-cara dalam menghindari penyakit batuk.

11

DAFTAR PUSTAKA

Mardjono, Profesor Dr. Mahar. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi Ke V. Departemen Farmakologi dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Muchid, Apt., Drs. Abdul. 2005. PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. http://ilmufarmasis.file.wordpress.com/2011/03/ph-care-ispa.pdf Diakses tanggal 09 September 2013 Sanjoyo, Raden. 2009. Obat (Biomedik Farmakologi). FMIPA Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. http://yoyoke.web.ugm.ac.id/download/obat.pdf Diakses tanggal 09 September 2013 Susanti, Dewi dkk. 2009. BATUK. Universitas Sumatera Utara. Medan. http://ocw.usu.ac.id/course/download/1129-PENGOBATANSENDIRI/swamedikasi_slide_batuk.pdf Diakses tanggal 09 September 2013 Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. OBAT-OBAT PENTING : Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya Edisi Ke VI. Elex Media Komputindo. Jakarta.

12