Anda di halaman 1dari 7

III. TINJAUAN PUSTAKA

Produktivitas tenaga kerja merupakan salah satu hal yang sangat menentukan keberhasilan suatu proyek dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Hal ini juga akan mempengaruhi dalam persaingan dalam industri. Oleh karena itu, pengukuran produktivitas tenaga kerja sangatlah diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan prestasi dari suatu proyek. Selama ini, seringkali produktivitas tenaga kerja di lapangan diabaikan. Padahal pada kenyataannya produktivitas tenaga kerja di lapangan masih sangat rendah karena hilangnya waktu produktif akibat material (30.7 %) dan sumber daya manusia (69.3 %) (Kaming, 1997). Pengukuran produktivitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal ini menyebabkan sulit dilakukannya pengukuran produktivitas secara detail. Manajemen seringkali tidak memperhitungkan produktivitas dalam merencanakan proyek karena membutuhkan tenaga dan biaya yang besar. Selain itu, pengukuran produktivitas tidak bisa dilakukan secara akurat sehingga pengukuran produktivitas dilakukan dengan pendekatan (Pilcher, 1992). Mengingat produktivitas sangat menentukan dalam merencanakan suatu proyek dalam hal ketepatan waktu penyelesaiannya maka pengukuran produktivitas harus dilakukan sebagai pertimbangan dalam merencanakan proyek berikutnya. Dengan mengukur produktivitas di lapangan, maka dapat diketahui sejauh mana prestasi proyek tersebut yang nantinya akan memberikan pertimbangan dalam usaha peningkatan produktivitas untuk diterapkan dalam proyek. Usaha peningkatan produktivitas ini diharapkan dapat memperbaiki produktivitas rencana yang ada dengan harapan akan meningkatkan keuntungan.

3.1 Pengukuran Waktu Kerja

Secara singkat pengukuran waktu kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara jalur manusia yang dikontribusikan dengan unit keluaran yang dihasilkan. Tujuannya adalah menentukan waktu standar seorang pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Waktu standar adalah waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja yang memiliki tingkat

kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan pekerjaannya. Waktu standar ini sangat diperlukan sekali untuk:

a. Perencanaan kebutuhan tenaga kerja (man power planning)

b. Estimasi biaya-biaya upah karyawan/pekerja

c. Penjadwalan produksi dan penganggaran

d. Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan atau pekerja yang berprestasi

e. Indikasi keluaran (output) yang mampu menghasilkan seorang pekerja

f. Menyeimbangkan lintasan produksi (the balancing ofproduction lines) Pengukuran waktu kerja dilakukan secara langsung mengamati operator di lapangan. Hasil pengukuran yang dilakukan akan menghasilkan waktu baku yang dapat dijadikan sebagai waktu standar bagi pekerja tersebut. Elemen dasar dari pengukuran kerja adalah pemikiran usaha pencapaian efisiensi kerja dan pemikiran untuk mempertimbangkan perilaku manusia (Sutalaksana, 1979).

Pengambilan data dilakukan dengan pencatatan waktu mulai dan waktu selesainya suatu pekerjaan. Jumlah waktu dari tiap komponen adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dari data tersebut kemudian ditentukan standar waktu (Soedradjat, 1984).

9

3.1.1

Waktu Normal

Waktu normal merupakan waktu penyelesaian pekerjaan oleh pekerja dalam kondisi wajar dan kemampuan rata-rata. Untuk menormalkan waktu yang diperoleh dari pengukuran kerja akibat tempo atau kecepatan kerja operator yang berubah-ubah, maka diperlukan adanya penyesuaian. Penyesuaian ini didasarkan dari performace rating dari operator. Perfomance rating adalah suatu aktivitas untuk menilai atau mengevaluasi kecepatan, usaha, tempo, ataupun performance kerja yang semuanya akan menunjukkan gerakan operator pada saat bekerja. Penilaian ini merupakan suatu proses yang dilakukan perusahaan dalam menilai kinerja dari tenaga kerja. Salah satu tujuannya adalah memberikan feedback kepada perusahaan dan tenaga kerja bersangkutan dalam upaya memperbaiki kinerja dan produktivitasnya (Hariandja, 2007). Adapun konsep penyesuaian yang dilakukan adalah Weslinghome Sistems Rating. Weslinghouse berpendapat bahwa ada empat faktor yang menyebabkan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja, yaitu: keterampilan (skilf), usaha (effort), kondisi kerja (conditions) dan konsistensi (consistency). Nilai perfomance rating keempat faktor tersebut dapat terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Performance Rating Menurut Westinghouse (Sutalaksana, 1979)

Faktor

Kelas

Lambang

Performance Rating

 

Superskill

A1

0,15

 

A2

0,13

 

Excellent

B1

0,11

 

B2

0,08

 

Good

C1

0,06

Keterampilan

C2

0,03

 

Average

D

0

Fair

E1

-0,05

 

E2

-0,1

 

Poor

F1

0,16

 

F2

-0,22

 

Excessive

A1

0,13

 

A2

0,12

 

Excellent

B1

0,1

 

B2

0,08

 

Good

C1

0,05

Usaha

C2

0,02

 

Average

D

0

Fair

E1

-0,04

 

E2

-0,08

 

Poor

F1

-0,12

 

F2

-0,17

 

Ideal

A

0,06

Excellent

B

0,04

Kondisi Kerja

Good

C

0,02

Average

D

0

 

Fair

E

-0,03

Poor

F

-0,07

 

Perfect

A

0,04

Excellent

B

0,03

Konsistensi

Good

C

0,01

Average

D

0

Fair

E

-0,02

Poor

F

-0,04

10

Keterampilan didefinisikan sebagai kecakapan dalam mengerjakan metode yang diberikan dan lebih lanjut berhubungan dengan pengalaman, ditujukan dengan kordinasi yang baik antara pikiran dan tangan. Usaha didefinisikan sebagai hal yang menunjukkan kemampuan untuk bekerja secara efektif. Usaha ditujukan oleh kecepatan pada tingkat kemampuan yang dimiliki dan dapat dikontrol pada tingkat yang lebih tinggi oleh operator. Kondisi kerja didefinisikan sebagai prosedur performance rating yang berakibat pada operator

dan bukan pada operasi. Kondisi ini terdiri dari kondisi fisik, lingkungan kerja seperti pencahayaan, temperatur dan kebisingan ruangan. Konsistensi juga merupakan bagian yang penting karena pada kenyataannya setiap pengukuran tidak mencatat semua angka sama dan waktu penyelesaian yang ditunjukkan pekerja selalu berubah dari satu siklus ke siklus yang lain. Konsistensi dikatakan sempurna jika waktu penyelesaian tetap setiap saat. Nilai faktor penyesuaian ditentukan sebagai berikut:

a.

Jika operator terlalu cepat bekerja diatas batas normal maka faktor penyesuaian > 1.

b.

Jika operator bekerja terlalu lambat dan bekerja dibawah normal maka rating faktor penyesuaian < 1.

c.

Jika operator bekerja normal maka faktor penyesuaian = 1. Sistem bekerja normal berarti pekerja berpengalaman tanpa usaha berlebih, menguasai cara kerja, kesungguhan bekerja.

3.1.2

Waktu Baku

Waktu baku adalah jumlah waktu yang diperlukan guna menyelesaikan suatu pekerjaan dalam prestasi standar, yaitu dengan memperhitungkan kelonggaran-kelonggaran serta penyesuaian-

penyesuaian yang dibutuhkan. Waktu baku ini diperoleh dengan penambahan faktor kelonggaran pada waktu normal yang telah diperoleh. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam perhitungan kelonggaran beserta nilainya disajikan pada Tabel 3. Kelonggaran yang biasanya terdapat proses produksi, dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi (personal allowance) Hal-hal yang termasuk dalam kebutuhan pribadi antara lain minum untuk menghilangkan rasa haus, pergi ke kamar kecil, berbicara dengan teman sekerja untuk menghilangkan kejenuhan.

b. Kelonggaran untuk melepas lelah (fatique allowance) Kelonggaran ini diberikan kepada karyawan untuk beristirahat setelah melakukan pekerjaan dengan maksud untuk melepas lelah dan memulihkan stamina dari keletihan fisik maupun psikologis.

c. Kelonggaran untuk hal-hal tak terduga (unavoidable allowance) Hal-hal ini antara lain: berhentinya mesin karena listrik padam, meminta petunjuk kepada pengawas, melakukan penyesuaian, dsb.

11

Tabel 3. Kelonggaran Berdasarkan Faktor-Faktor yang Berpengaruh (Sutalaksana, 1979)

 

Faktor

Contoh Pekerjaan

Kelonggaran (%)

 

A

Tenaga yang digunakan

Wanita 0 6 6 7,5 7,5 16 16 -30

1

Dapat diabaikan

Bekerja di meja, duduk

Bekerja di meja, berdiri

Menyekop ringan

Mencangkul

Mengayun palu yang berat

Memanggul beban

Memanggul karung berat

Ekivalen beban Tanpa beban 0 2,25 kg 2,25 9 kg 9 18 kg 18 27 kg 27 50 kg Di atas 50 kg

Pria 0 6 6 7,5 7,5 -12 12 19 19 30 30 50

2

Sangat ringan

3

Ringan

4

Sedang

5

Berat

 

6

Sangat berat

7

Luar biasa berat

B

Sikap Kerja

1

Duduk

Bekerja duduk, ringan

Bekerja tegak, ditumpu dua kaki

Satu kaki mengerjakan alat kontrol

Pada bagian sisi, belakang atau depan badan

Badan dibungkukkan bertumpu pada kedua kaki

0 1 1 2,5 2,5 4 2,5 4 4 10

 

2

Berdiri di atas dua kaki

3

Berdiri di atas satu kaki

4

Berbaring

5

Membungkuk

C

Gerakan Kerja

1

Normal

Ayunan bebas dari palu

0

2

Agak terbatas

Ayunan terbatas dari palu

Membawa beban berat dengan satu tangan

Bekerja dengan tangan di atas kepala

Bekerja di lorong pertambangan yang sempit

0 5 0 5 5 10 10 - 15

 

3

Sulit

4

Pada anggota badan terbatas

5

Seluruh anggota badan terbatas

D

Kelelahan Mata *)

Pencahayaan

 
 

Baik

Buruk 0 6 6 7,5 7,5 16

1

Pandangan yang terputus-putus

2

Pandangan yang hampir terus menerus

Pandangan terus-menerus dengan fokus berubah-ubah

Membaca alat ukur Pekerjaan yang teliti Memeriksa cacat pada kain

0 6 6 7,5 7,5 12

3

4

Pandangan terus-menerus dengan fokus tetap

Pemeriksaan yang sangat teliti

12 - 30

16 30

E

Keadaan Temperatur tempat kerja **)

Kelemahan Normal Berlebihan

1

Beku

Temperatur ( o C) Di bawah 0 0 13 13 22 22 -28 28 38

Di atas 38

Di atas 10 10 0 5 0 0 5 5 40 Di atas 40

Di atas 12 12 5 8 0 0 8 8 100 Di atas 100

2

Rendah

3

Sedang

4

Normal

5

Tinggi

6

Sangat tinggi

F

Keadaan atmosfer ***)

1

Baik

Ruang yang berventilasi baik, udara segar

0

2

Cukup

Kurang baik

Buruk

Ventilasi kurang baik, ada bau-bauan

Adanya debu beracun, atau tidak beracun tetapi banyak

Adanya bau-bauan berbahaya yang mengharuskan menggunakan alat-alat bantu pernapasan

0 - 5 5 10 10 20

 

3

4

G

Keadaan lingkungan yang baik

 

1

Bersih, sehat, cerah dengan kebisingan rendah

0

2

Siklus kerja berulang-ulang antara 5 10 detik

0 1

3

Siklus kerja berulang-ulang antara 0 5 detik

1 3

4

Sangat bising

0 5

5

Jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kualitas

0 5

6

Terasa adanya getaran pada lantai

 

5 10 5 15

 

7

Keadaan-keadaan yang luar biasa (bunyi, kebersihan, dll)

*) Kontras antara warna hendaknya diperhatikan **) Tergantung juga pada ventilasi ***) Dipengaruhi juga oleh ketinggian tempat kerja dari permukaan laut dan keadaan iklim Catatan pelengkap : kelonggaran untuk kebutuhan pribadi : Pria 0-2,5% dan Wanita 2-5%.

12

3.2

Produktivitas

Secara umum, produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya (ILO, 1975). Greenberg yang dikutip oleh Sinungan (2008) mengartikan produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut. Pengertian lain menurut Hasibuan (2008) produktivitas merupakan perbandingan antara keluaran dan masukan serta mengutarakan cara pemanfaatan baik terhadap sumber-sumber dalam memproduksi suatu barang dan jasa. Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja orang. Pada

hakikatnya, melalui produktivitas, manajemen dan para penentu kebijakan serikat buruh mengarahkan efektifitas dan pelaksanaan organisasi perseorangan secara menyeluruh, yang mencakup sedikit gambaran jelas seperti tidak adanya rintangan dan kesulitan tingkatan pembalikan, ketidak hadiran dan bahkan kepuasan langganan. Dengan dikemukakan konsepsi produktivitas yang lebih luas ini maka dapat dipahami bahwa para pembuat kebijaksanaan mengetahui batas antara pekerja, kepuasan para langganan dan produktivitas (Sinungan, 2008). Dalam berbagai referensi terdapat banyak sekali pengertian mengenai produktivitas yang oleh Sinungan (2008) dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

a. Rumusan tradisional bagi keseluruhan produktivitas tidak lain ialah ratio dari pada apa yang dihasilkan (output) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang dipergunakan (input).

b. Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan

bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.

c. Produktivitas merupakan interaksi terpadu secara serasi dari tiga faktor esensial, yakni:

investasi termasuk penggunaan pengetahuan dan teknologi serta riset; manajemen; dan tenaga kerja. Produktivitas merupakan suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktivitas untuk menggunakan sumber- sumber secara efisien, dam tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi. Produktivitas mengikutsertakan pendayagunaan secara terpadu sumber daya manusia dan keterampilan, barang modal teknologi, manajemen, informasi, energi, dan sumber-sumber lain menuju kepada pengembangan dan peningkatan standar hidup untuk seluruh masyarakat, melalui konsep produktivitas semesta total. Produktivitas mempunyai pengertiannya lebih luas dari ilmu pengetahuan, teknologi dan teknik manajemen, yaitu sebagai suatu philosopi dan sikap mental yang timbul dari motivasi yang kuat dari masyarakat, yang secara terus menerus berusaha meningkatkan kualitas kehidupan. Produktivitas

pekerja menentukan keberhasilan suatu proyek dalam melaksanakan jadwal proyek yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, dalam merencanakan jadwal proyek harus memperhatikan produktivitas tenaga kerja agar terjadi kesesuaian antara durasi dan jumlah tenaga kerja rencana dengan durasi dan jumlah tenaga kerja aktual. Besarnya produktivitas menunjukkan sampai sejauh mana tenaga kerja mampu menyelesaikan jumlah pekerjaan yang telah ditentukan dalam jadwal proyek (Han dan Leong, 1996).

3.2.1 Konsepsi Produktivitas

Peningkatan produktivitas merupakan sumber pertumbuhan utama untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Sebaliknya, pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan juga merupakan unsur penting dalam menjaga kesinambungan peningkatan produktivitas jangka panjang.

Dengan demikian, pertumbuhan dan produktivitas bukan dua hal yang terpisah atau memiliki

13

hubungan satu arah, melainkan keduanya adalah saling tergantung dengan pola hubungan yang dinamis, tidak mekanistik, non linear dan kompleks. Secara makro, sumber pertumbuhan dapat dikelompokkan kedalam unsur berikut. Pertama, peningkatan stok modal sebagai hasil akumulasi dari proses pembangunan yang terus berlangsung. Proses akumulasi ini merupakan hasil dari proses investasi. Kedua, peningkatan jumlah tenaga kerja juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketiga, peningkatan produktivitas merupakan sumber pertumbuhan yang bukan disebabkan oleh peningkatan penggunaan jumlah dari input atau sumber daya, melainkan disebabkan oleh peningkatan kualitas sumber dayanya. Dengan jumlah tenaga kerja dan modal yang sama, pertumbuhan output akan meningkat lebih cepat apabila kualitas dari kedua sumber daya tersebut meningkat.Walaupun secara teoritis faktor produksi dapat dirinci, pengukuran kontribusinya terhadap output dari suatu proses produksi sering dihadapkan pada berbagai kesulitan. Disamping itu, kedudukan manusia, baik sebagai tenaga kerja kasar maupun sebagai manajer, dari suatu aktivitas produksi tentunya juga tidak sama dengan mesin atau alat produksi lainnya. Seperti diketahui bahwa output dari setiap aktivitas ekonomi tergantung pada manusia yang melaksanakan aktivitas tersebut, maka sumber daya manusia merupakan sumber daya utama dalam pembangunan. Sejalan dengan fenomena ini, konsep produktivitas yang dimaksud adalah produktivitas tenaga kerja. Tentu saja, produktivitas tenaga kerja ini dipengaruhi, dikondisikan atau bahkan ditentukan oleh ketersediaan faktor produksi komplementernya seperti alat dan mesin. Namun demikian konsep produktivitas adalah mengacu pada konsep produktivitas sumber daya manusia.Secara umum konsep produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) persatuan waktu.

3.2.2 Manfaat Pengukuran Produktivitas

Pada tingkat sektoral dan nasional, produktivitas menunjukkan kegunaannya dalam membantu evaluasi penampilan, perncanaan, kebijakan pendapatan, upah dan harga melalui identifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi distribusi pendapatan, membandingkan sektor-sektor ekonomi yang berbeda untuk menentukan prioritas kebijakan bantuan, menentukan tingkar pertumbuhan suatu sektor

atau ekonomi, mengetahui pengaruh perdagangan internasional terhadap perkembangan ekonomi dan seterusnya. Pada tingkat perusahaan, manfaat dari pengukuran produktivitas adalah:

a. Perusahaan dapat melihat efisiensi sumber dayanya sehingga dapat memproduksi barang atau jasa lebih optimal dengan jumlah sumber daya yang tersedia.

b. Melalui pengukuran produktivitas, perencanaan sumber daya dapat menjadi lebih efektif dan efisien.

c. Perencanaan target level produktivitas untuk masa mendatang dapat dimodifikasi kembali berdasarkan hasil pengukuran produktivitas saat ini.

d. Strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dapat ditetapkan berdasarkan perbedaaan antara level produktivitas yang direncanakan dengan hasil pengukuran.

e. Hasil pengukuran produktivitas dapat berguna dalam merencanakan tingkat keuntungan yang didapatkan perasahaan.

f. Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan-tindakan yang kompetitif berupa upaya- upaya peningkatan produktivitas terus-menerus.

g. Pengukuran produktivitas yang teratur akan memberikan informasi yang bermanfaat untuk

menentukan dan mengevaluasi perkembangan produktivitas perusahaan dari waktu ke waktu. Manfaat lain yang diperoleh dari pengukuran produktivitas mungkin terlihat pada penempatan perusahaan yang tetap seperti dalam menentukan target/sasaran tujuan yang nyata dan pertukaran informasi antara tenaga kerja dan manajemen secara periodik terhadap masalah-masalah yang saling

14

berkaitan. Pengamatan atas perubahan-perubahan dari gambaran data yang diperoleh sering nilai diagnostik yang menunjuk pada kemacetan dan rintangan dalam meningkatkan penampilan perusahaan.

3.2.3 Metode-Metode Pokok Pengukuran Produktivitas

Suatu perusahaan perlu mengetahui pada level produktivitas mana perusahaan itu beroperasi, agar dapat membandingkannya dengan produktivitas standar yang telah ditetapkan manajemen, mengukur tingkat perbaikan produktivitas dari waktu ke waktu dan membandingkan dengan produktivitas industri sejenis yang menghasilkan produk serupa. Hal ini menjadi penting agar perusahaan itu dapat peningkatkan daya saing dari produk yang dihasilkannya. Sepintas pengukuran produktivitas terlihat sederhana. Produktivitas adalah rasio antara apa

yang dimasukkan ke dalam proses produksi (input) dengan apa yang dihasilkan (output). Tetapi input dan output dari proses yang bahkan paling sederhana pun banyak jenisnya (Crocker et al., 2007). Secara umum pengukuran produktivitas berarti perbandingan yang dapat dibedakan dalam tiga jenis yang sangat berbeda:

a. Perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan pelaksanaan secara historis yang tidak menunjukkan apakah pelaksanaan sekarang ini memuaskan, namun hanya mengetengahkan apakah meningkat atau berkurang serta tingkatannya.

b. Perbandingan pelaksanaan antara satu unit (perorangan tugas, seksi, proses) dengan lainnya.

Pengukuran seperti itu menunjukkan pencapaian relatif.

c. Perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya, dan inilah yang terbaik sebagai memusatkan perhatian pada sasaran/tujuan. Utilisasi merupakan suatu ukuran yang penting dalam menentukan produktivitas. Nilai utilisasi yang rendah menunjukkan adanya pengelolaan yang kurang baik dalam penyesuaian antara sumber daya yang ada dengan kesibukan dari tenaga kerja (Schonberger, 1985). Utilisasi akan meningkat jika tenaga kerja yang ada tetap dalam kondisi sibuk dengan pekerjaannya dan bahanbahan serta peralatan tersedia dengan lengkap. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan akan berkurang seiring dengan meningkatnya utilisasi. Utilisasi adalah perbandingan antara time working dan available time to work. Working time adalah waktu yang digunakan untuk bekerja. Jadi tidak termasuk istirahat siang dan rest and delay. Working time merupakan selisih antara available time to work dengan rest and delay. Rest and delay merupakan waktu tidak efektif dari para pekerja, misalnya waktu untuk beristirahat, merokok, minum dan berpindahnya pekerja dari pekerjaan satu ke pekerjaan yang lain.Sedangkan available time to work adalah waktu yang dimiliki untuk menyelesaikan pekerjaan. Utilisasi merupakan persentase dari waktu tersedia dalam sebuah pusat kerja yang sedang berproduksi. Dalam hal ini, idle time harus dilaporkan guna mengidentifikasi dan memperbaiki masalah-masalah yang muncul. Utilisasi pada umumnya menekankan bahwa semua pusat kerja tidak perlu berproduksi pada tingkat waktu 100%, tetapi seharusnya berproduksi pada tingkat permintaan total. Membuat lebih banyak produk dibandingkan dengan permintaan total akan menimbulkan kelebihan produksi yang berakibat kelebihan inventori dan membebankan secara berlebihan pada pekerjaan yang lain. Waktu yang diperlukan untuk preventive maintenance, pelatihan karyawan, dan aktivitas perbaikan lainnya, merupakan suatu investasi bagi sistem industri manufaktur moderen, meskipun untuk itu akan membuat seolah-olah tingkat utilisasi sumber daya menjadi kurang baik. Utilisasi dapat ditentukan untuk mesin, tenaga kerja atau keduanya, tergantung pada mana yang lebih cocok untuk situasi dan kondisi aktual di perusahaan. Angka utilisasi tidak dapat melebihi 1,0

(100%).

15