Anda di halaman 1dari 14

Teroris dalam Pandangan Islam

OPINI | 05 June 2011 | 10:12 Dibaca: 1978 Komentar: 0 1 aktual

Akhir akhir ini sering kali telinga kita mendengar kata teroris yang mana dipikiran kita masing masing menyimpan saratus, seribu, bahkan berjuta juta makna teroris, adakalanya jahat, buruk, pembawa bencana, mirisnya lagi ada yang mengatakan kalau teroris itu orang islam dan lebih lebih ada pula yang mengatakan kalau teroris itu dari kalangan kaum sarungan atau bisa dikatakan santri. Ya, itu lah yang membuat telinga umat islam dan sebagian besar santri merasa panas. Di era modern ini banyak sekali para fanatisme agama yang menganggap agama mereka paling benar, selalu mengedepankan agamanya tuk menepis semua problematika kehidupan yang seringkali di terpanya. Parahnya, mereka saling tuduh menuduh teroris satu sama lainnya, agama satu dengan agama yang lainnya. Kalau kita pikir, apakah pantas sebagai umat islam kita saling tuduh menuduh seperti itu? Di dalam konsep kerajaan surgawi banyak para pelajar yang memiliki faham yang berbea beda, ini merupakan suatu fenomenal di kalangan para pelajar surgawi saja. Hanya mereka yang tahu bagaimana konsep dan literature pendidikan serta ilmu yang mereka terima dari kerajaan surgawi pilhan mereka, zaman sekarang banyak sekali faham faham berbahaya yang masuk secara ilegal di kerajaan suci mereka, para wakil tuhan . Jadi tak dapat dipungkiri bagaimana para pelajar tersebut mengamali segala ilmu dan amaliyah kesehariannya di masyarakat yang mereka dapat dengan faham yang berbeda beda. Adakala baik adakala buruk yang keduanya sangat berpengaruh bagi kehidupan dan kelanjutan kisah ras manusia di atas panggung sandiwara ini. Ya, realitanya saat ini banyak sekali pengeboman yang terjadi di tanah air tercinta kita ini, jangan jauh jauh mengambil contoh tentang terorisme yang ada di WTC Amerika Serikat sana, cukup kita lihat di negeri kita sendiri, Cirebon. Baru baru ini banyak sekali bom yang ber motif bom kotak, buku dan sebagainya. Seperti yang terjadi di universitas universitas ternama dan di tempat khalayak umum lainnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, terorisme dapat diartikan secara gamblang dan luas. Menurut kamus besar Indonesia terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan ( terutama tujuan politik ). Nah, dari penafsiran diatas dapat di paparkan bahwa terorisme tak hanya terwujud dalam satu kata yaitu teroris . Yang pekerjaannya sudah taka asing lagi di Insonesia ini, suka mengebom, pembawa bancana bagi semua manusia. Namun tidak hanya orang jahat saja yang suka mengebom yang dikatakan terorisme, melainkan para politisi, para

pejabat negara yang tak pernah merasa puas dalam bersaimbara mencari cari laci dunia yang dapat dikatakan sebagai terorisme. Banyak para pemain politik yang saling menjatuhkan harkat dan martabat lawan politiknya, mengancam dengan tindak kekerasan atau pembunuhan dengan maksud tercapainya satu tujuan menguasai dan memberantas apa apa yang menghalangi alur roda politiknya. Itulah terorisme, itulah politik. Sama jahatnya dengan para teroris. Karena poitik banyak masyarakat miskin yang tercekik hutang, kelaparan, sengsara dan selalu dipandang hina di mata para konglomerat, darah biru dan orang orang kaya. Kembali ke pembahasan awal. Cobalah kita lihat dari kacamata sosial tentang terorisme. Sungguh sangat buruk bukan, dan ironsinya, negara kita ini saya rasa sangatlah lengah dalam menindak lanjuti dan menyelesaikan masalah dalam negri seperti teroris yang saat ini di perdebatkan dari berbagai kalangan. Serasa negri kita sudah sangat rapuh, lelah dan lengah tuk bertindak. Bisa dikatakan urusan yang satu belum selesai malah pindah ke urusan yang lainnya. Itulah negeri tercinta kita ini. Bagaimana dalam pandangan islam, cobalah kita lihat dari beberapa ayat kitab suci umat islam dan hadis hadis rasulullah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiyaa' : 107] Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [QS. Saba' : 28] Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki sifat lemah-lembut serta hati beliau terasa amat berat atas penderitaan yang menimpa pada manusia, maka beliau berusaha keras untuk membebaskan dan mengangkat penderitaan yang dirasakan oleh manusia tersebut. Dalam kata lain perbanyaklah untuk melakukan perbuatan baik, dan berlindung kepada Allah, bergaul dengan para ulama Al ulama waratsatul anbiya . Kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam. Dan orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Ahmad juz 7, hal. 410, no. 20874] Dari beberapa ayat Al Quran dan Hadis hadis rasul dapat kita lihat bagaimana islam memandang teroris dan terorisme. Islam agama yang indah, penuh kasih cinta dan sayang. Seperti yang diajarkan rasulullah tuk menyayangi satu dengan yang lainnya. Maka salah jika

mengklaim islam sebagai agama teroris, dan salah besar jua jika menghancurkan umat beragama non muslim dengan mengedepankan islam dan menancapkan kata kata Jihad fi sabilillah di hati para orang islam, seperti kasus bom Bali Amrozi, Imam Samudera dan temannya. Dan orang orang yang berjihad dijalan kami. Sungguh kami benar benar akan menunjukkan mereka pada kami (QS: Al Ankabut : 69 ) Siapa siapa yang berjihad maka sesungguhnya ia erjihad untuk dirinya sendiri. ( QS: Al Ankabut : 6 ). Makna jihad sangatlah luas jika dipandang sebelah mata. Jihad berarti berjuang dan bersungguh sungguh dengan tujuan mendapat maklamat disisi Allah diatas muka bumi ini, dengan pengorbanan jiwa dan raga bahakan matipun menjadi taruhan tuk berjihad. Kalau kita lihat dan dibaca sejenak mudah sekali kita menafsiri apa itu jihad, secara tanggap jihad seperti para teroris yang mengklaim dirinya sendiri sebagai sosok yang sangat berharga bagi umat islam lainnya, yang mana niat mereka ialah berjihad fi sabilillah, seperti yang kasus Amrozi dan kawan kawan. Kalau kita maknai jihad hanya seperti itu sangatlah salah, dan fatal akibatnya bagi pertumbuhan dan pemikiran para anak bangsa yang notabenenya mayoritas beragama slam. Kita harus mempunya ilmu fiqih dan kaidah kaidah ushul fiqih yang mumpuni tuk memaknai arti Jihad tersebut. Jihad bisa diterapkan di kehidupan masyarakat antara lain : Berbuat baik antar sesama, saling menasihati, berperasangka baik, mengikuti aturan Allah dan Rasulullah serta menjalankan printah perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah tekad dan akhlak mulia yang harus kita tanamkan disanubari kita khususnya semua umat islam di belahan dunia manapun agar terhindar dari perbuatan maksiat dan kezhaliman yang saat ini tengah merajalela di kalangan umat beragama. Allah yahfaz. Maka kita sebagai umat beragama dengan kepercayaan masing masing tidak baik untuk saling menyalahkan dan menuduh satu dengan yang lainnya atas perasangkaan teroris. Dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah dan praktek Rasulullah dalam menggalang ummat, serta menghindari terorisme dalam mencapai tujuan. Dengan demikian, jelas dan teranglah bahwa Terorisme dalam pandangan agama Islam tidak dibenarkan, dan jauh dari tuntunan Islam. Semoga bermanfaat. Amin.

MENURUT kamus besar Bahasa Indonesia, kosa kata TEROR berarti perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis, dalam usaha menciptakan ketakutan, kengerian oleh seseorang atau golongan. Sementara itu, TERORISME dimaknai sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik). Sedangkan TERORIS bermakna orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik).

Islam dan teror merupakan dua kosa kata yang berlawanan dan tidak bisa disamakan. Islam merupakan agama monoteis yang menuntut kepatuhan total kepada Tuhan. Islam adalah sebuah kata dari bahasa Arab yang terdiri atas tiga konsonan, S-L-M, yang berarti kedamaian (salam), kebaikan, dan keselamatan. Dengan kata lain, Islam memberi seseorang kedamaian jiwa dan kebaikan hidup serta keselamatan dari balasan Tuhan dalam kehidupan sesudah mati. Sedangkan teror-terorisme, meski memiliki banyak definisi, merupakan tindakan kekerasan terencana dan bermotif politik yang dilakukan terhadap orang-orang tak bersenjata atau penduduk sipil.

Dua istilah ini (Islam dan terorisme) sangat jauh berbeda karena Islam sangat menghargai nyawa manusia. Islam juga menganggap kehidupan sebagai semangat Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia. Dalam Alquran disebutkan bahwa siapa saja yang menghilangkan nyawa seseorang, maka Allah menganggap dia telah menghilangkan nyawa seluruh umat manusia (Surat 5 ayat 32). Tetapi, kita terhenyak ketika terjadi tragedi 11 September di AS. Mengapa aksi teroris seperti itu terjadi dan dilakukan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai muslim dan memiliki semangat besar untuk menyebarkan ajaran Islam.

Pandangan Ulama Mengenai Terorisme Sebagian ulama dan fuqaha mengatakan bahwa istilah Muharabah dan Fasad fi al-ardh merupakan dua istilah yang sepadan dengan istilah terorisme. Guna menguji dan mengetahui sejauh mana kebenaran dakwaan ini, cukup bagi kami untuk membawakan pengertian yang diberikan Shahib alJawahir, karena definisi-definisi yang diberikan para ulama terkait dua istilah ini, tidak terdapat perbedaan yang mendasar.

ILUSTRASI

Shahib al-Jawahir mengatakan, Muharib ialah seseorang yang menghunuskan senjata kepada orang lain dengan maksud untuk menakut-nakutinya, baik tindakan ini dilakukan di dataran atau di lautan, baik pada siang hari maupun malam hari dan baik di dalam kota ataupun di wilayah lainnya.

Akan tetapi pada hakikatnya, apabila istilah Muharib dibandingkan dengan istilah terorisme, maka akan didapati bahwa istilah muharib memiliki pengerian yang lebih luas, sehingga setiap orang yang Muharib tidak dapat dikatagorikan sebagai teroris. Tentunya terorisme dengan definisi dan arti sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan di atas.

Di era globalisasi seperti sekarang, terorisme bukan hanya di lakukan dalam bentuk pengeboman ataupun pembajakan alat transportasi massal. Melainkan dengan cara DOKTRINASI, dimana sasarannya sebagian besar berasal dari kalangan pelajar terutama mahasiswa yang secara psikologis masih bisa digoyahkan pendiriannya seperti yang di lakukan oleh organisasi NII (Negara Islam Indonesia).

Makna Terorisme dalam Pandangan Islam


November 24, 2006 pada 12:14 am | Ditulis dalam Artikel, Fatwa | Tinggalkan Komentar

Fatwa Syeikh Zaid bin Muhammad bin Hady Al-Madkhaly Dalam kitabnya yang berjudul Al-Irhab Wa Atsaruhu Alal Afradi Wal Umam (Terorisme dan dampaknya terhadap individu dan umat), beliau menulis pembahasan yang sangat mengagumkan dalam menguraikan makna dan hukum terorisme. Berikut ini adalah perkataan beliau : Manusia dalam penggunaan kata Irhab berada pada dua kutub dan satu (yang lainnya -pen.) berada di pertengahan : Kutub Pertama : Musuh-musuh Islam dan para Muqollid-nya (pengekornya) yang memperluas penggunaan kata irhab. Maka mulailah mereka mendengung-dengungkannya dengan berlebihan dan menggunakannya untuk setiap orang yang iltizam (berpegang teguh) pada agama Islam dari para ulama rabbany (pendidik), dai-dai yang memperbaiki (umat) yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana mereka juga menggunakannya untuk selain mereka (di atas) dari orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai dai-dai Islam akan tetapi berjalan di atas jalanjalan kebodohan dalam mengajak manusia untuk Iltizam dengan agama Islam dan hukum-hukum syariatnya -menurut persangkaannya-. Penggunaan umum ini kepada mereka (ulama-ulama rabbany-pen.) dan mereka (dai-dai sesat-pen.) tentunya tidak ditetapkan (baca : tidak diterima) oleh syariat dan akal sehat, bahkan tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk irhab dari mereka dengan mengatasnamakan memerangi terorisme dan menghinakan pelakunya dengan maksud untuk menjelekkan nama Islam yang agung, merendahkan derajat pemeluknya dan meremukkan hak-hak mereka sehingga para musuh (Islam) dengan slogan-slogan yang penuh tipu daya tersebut mengantarkan mereka ke target menghalangi manusia untuk masuk Islam yang tidak ada kehidupan yang baik bagi manusia di seluruh alam ini kecuali di bawah naungannya. Karena Islam adalah agama yang benar, penutup, penghapus dan pengganti dari seluruh agama yang diturunkan dari langit. Allah tidak menerima suatu agamapun dari siapapun selainnya, tidak (pula diterima) dari orang Arab, Ajam (selain Arab), tidak pula Yahudi, Nashara dan tidak pula dari pemeluk agama apapun selain agama Islam yang hanif ini, dengan dalil firman Allah Taala : ) 11 : ( Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran : 11).

Dan firman-Nya subhanahu : 58 : ( ) Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran : 58). Dan sabda Nabi Shollallahu alaihi wa sallam : Demi Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seorangpun dari ummat (manusia) ini yang mendengar tentang saya (diutus), baik Yahudi maupun Nashara kemudian dia mati dan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti menjadi penduduk Neraka. (HSR. Muslim no.153). Dan sabdanya : Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya seandainya (Nabi) Musa hidup, niscaya tidak ada keluasan (pilihan-ed.) baginya kecuali harus mengikutiku. (HR. Ahmad : 3/357). Kemudian beliau berkata : Kutub kedua : Mereka yang ekstrim dalam menafikan (baca : meniadakan) segala bentuk irhab dan para pelakunya dengan penafian secara umum dimana mereka menganggap bahwa kalimat irhab itu hanyalah tenunan (baca : rekayasa) orang-orang Yahudi dan Nashara dan para muqollid-nya dari orang-orang sekuler dan para pengekor syahwat menurut batas ungkapan mereka. Orang-orang yang ekstrim di dalam penafian Al-Irhab ini, mereka adalah yang tertimpa oleh musibah At-Tanzhimat (aturan-aturan) rahasia dan kelompok-kelompok Hizbiyah untuk menentang segenap pemerintah di seluruh alam Islami, sesudah mereka menganggap bahwa mereka (para pemerintah di bangsa Islam-pen.) adalah orang-orang yang sudah kafir atau fasiq lagi berbuat zhalim, karena mereka berhukum dengan selain dari apa yang diturunkan oleh Allah. Kemudian mereka bergerak dengan strategi (rencana-rencana) untuk menggulingkan pemerintah dengan menggunakan berbagai cara yang ngawur (Jawa-pen.) seperti Al-Ightiyal (pembunuhan secara rahasia) terhadap para pemerintah (penguasa) dan pejabat-pejabat pemerintahannya, peledakan di tempat-tempat umum maupun khusus sebagai bentuk penyembuhan (luka hati), balas dendam dan makar hizbiyah menurut sangkaan mereka. Dan aksi-aksi ini menyebabkan tersebarnya

ketidakstabilan di dalam masyarakat, terjadinya goncangan keamanan disebabkan apa yang mereka susupkan ke tengah masyarakat dari bentuk irhab secara nyata maupun pemikiran, dan terjadilah kegoncangan pada zaman ini yang diketahui oleh kawan maupun lawan disebabkan karena kelakuan-kelakuan yang kosong dari Al-Bashirah (ilmu dan amal yang benar) dan (kosong dari) sandaran terhadap manhaj dakwah kepada Allah di atas petunjuk Nabi yang mulia. Kemudian beliau berkata : Dan pendapat yang pertengahan yang nampak dari nash -nash syariat dan kaidah-kaidah ahli fiqih dari para ulama salaf yang dengan jujur mencari petunjuk dari Allah, sehingga ditunjuki oleh Allah jalan yang lurus dan mendapatkan anugerah ilmu yang bermanfaat yang membuahkan amalan sholeh di setiap zaman dan tempat dan setiap waktu dan keadaan. (Pendapat itu) adalah irhab dengan dua bentuknya (yaitu irhab nyata dan pemikiran-pen.) adalah perkara yang terjadi dan nyata dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang memiliki penyesatan dan penipuan terhadap manusia untuk menutupi tanzhimat (aturan-aturan) jamaah dan kelompok-kelompok hizbiyyah mereka. Dan (irhab) ada dua jenis : (Pertama) Jenis yang disyariatkan. Disyariatkan menurut nash Al -Kitab dan As-Sunnah yaitu irhab terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafiqin. Adapun orang-orang kafir dengan mempersiapkan kekuatan perang untuk meng-irhab mereka dengan senjata dan meng-irhab mereka dengan ancaman yang keras sebagaimana dalam nash-nash Al-Kitab dan Sunnah. (Allah) Taala berfirman : . Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kudakuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian meng-irhab musuh Allah dan musuh kalian dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (QS.Al-Anfal : 60). Dan persiapan tersebut berasal dari negara-negara Islam yang Allah telah memuliakannya dengan diberikannya seorang wali (pemimpin) yang berhukum dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan telah mengangkat bendera jihad dengan seluruh makna yang terkandung dalam kalimat jihad itu ketika telah terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya. Bukan dengan cara yang ngawur yang akan menghancurkan dan tidak membangun, merusak dan tidak memperbaiki. Adapun orang-orang munafiq, maka irhab terhadap mereka adalah dengan hujjah dan dalil sehingga tercabut hati-hati mereka hingga tenggorokan mereka, karena mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka

waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? Dan demikian pula yang datang dari As-Sunnah yang suci tentang cara irhab orang-orang muslim, mumin dan muhsin kepada orang-orang kafir, munafiq dan orang-orang yang sewenang-wenang (yaitu) dengan pedang, tombak, hujjah dan dalil. Dan sungguh nampak hal tersebut dalam medan peperangan yang penuh keberanian ketika bertemu di dalam medan tersebut dua pasukan ; tentara iman dan tentara besarnya orang kafir dan orang-orang yang melampaui batas sebagaimana dikenal dalam siroh (sejarah hidup) Nabi Shollallahu alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin Al -Fatihin (pembuka wilayah-wilayah Islam) dan siapa yang berjalan di atas jalannya mereka dari kalangan orang-orang yang beriman lagi berjihad dan mereka tidak mengadakan perubahanperubahan/penggantian. Maka ini adalah perkara yang sangat jelas dimana dia tidak memerlukan banyak dalil dan penjelasan. (Kedua) Dan jenis yang tidak diperbolehkan sama sekali, yaitu yang telah dijelaskan sebelumnya secara terperinci disertai dengan contoh dan bentuk-bentuknya yang beragam di dalam berbagai persoalan. Dan jenis inilah yang berhak untuk dinamakan dengan nama irhab (teroris-pent.) karena di dalamnya ada pemberian/penyebab timbulnya rasa takut dan menakut-nakuti baik secara langsung maupun secara manawi. FATWA PARA ULAMA BESAR MENYIKAPI TERORISME Melihat berbagai peristiwa teror yang terjadi di berbagai negara, apalagi hal tersebut dituduhkan identik dengan syariat yang mulia nan suci, melihat b anyaknya kebingungan di kalangan kaum muslimin akibat syubhat (kerancuan) dan racun yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam tentang terorisme dan melihat salah terjemah terhadap kalimat terorisme dan salah menempatkannya. Maka kami mengangkat fatwa-fatwa para ulama besar yang merupakan lentera di tengah gulita dan kelompok yang terus-menerus menampakkan kebenaran di setiap zaman sebagaimana dalam hadits yang mutawatir, Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda : Terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu. Tulisan ini juga sebagai penjelasan hakikat syariat Islam yang mulia dan agung.

Dan tulisan ini juga sebagai bantahan terhadap orang-orang yang penuh dengan nista pemikiran sesat dan bergelimang dengan lumpur penyimpangan yang menodai nama Islam dengan ulah terorismenya. Dan sebagai bantahan terhadap orang-orang jahil dan bodoh yang menampilkan dirinya sebagai ahli fatwa yang berani mengucapkan statement yang mengidentikkan Islam dengan terorisme. Dan yang lebih aneh lagi ucapan kotor ini keluar dari orang yang mengaku dirinya Ahlus Sunnah. Simak kalimatnya yang menyanjung pelaku peledakan gedung WTC dan Pentagon pada tanggal 11 September 2001 : Serangan berani penuh kepahlawanan dari para pemuda yang kecewa dengan kecongkakan Amerika Serikat dan simak ucapannya yang lain Kalau ditanya kepada kami :Bagaimana serangan terhadap Amerika itu, maka kami mengatakan bahwa cara itu tidak benar menurut pandangan syariat. Kemungkinan besar memang Usamah berada di belakang penyerangan terhadap WTC dan Pentagon. Walaupun cara bunuh diri itu salah, bagi kami sasarannya benar. Kami memberi applaus kepada sasaran seperti itu. Kami angkat tulisan ini dengan harapan mengembalikan kaum muslimin kepada agama yang lurus dan mengangkat derajat mereka di dunia dan di akhirat. Amin. Pembagian Orang Kafir dalam Islam Orang kafir dalam syariat Islam ada empat macam : Pertama : Kafir Dzimmy, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya firman Allah Al-Aziz Al-Hakim : Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan shogirun (hina, rendah, patuh). (QS. At -Taubah : 29).

Dan dalam hadits Buraidah riwayat Muslim Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa salllam bersabda : Adalah Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa salllam apabila beliau mengangkat amir/pimpinan pasukan beliau memberikan wasiat khusus untuknya supaya bertakwa kepada Allah dan (wasiat pada) orang-orang yang bersamanya dengan kebaikan. Kemudian be liau berkata : Berperanglah kalian di jalan Allah dengan nama Allah, bunuhlah siapa yang kafir kepada Allah, berperanglah kalian dan jangan mencuri harta rampasan perang dan janganlah mengkhianati janji dan janganlah melakukan tamtsil (mencincang atau merusak mayat) dan janganlah membunuh anak kecil dan apabila engkau berjumpa dengan musuhmu dari kaum musyrikin dakwailah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka. Dan dalam hadits Al-Mughiroh bin Syubah riwayat Bukhary beliau berkata : Kami diperintah oleh Rasul Rabb kami shollallahu alaihi wa alihi wa sallam untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah satu-satunya atau kalian membayar Jizyah. Kedua : Kafir Muahad, yaitu orang -orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Dan kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Allah Jalla Dzikruhu berfirman :

Maka selama mereka berlaku istiqomah terhadap kalian, hendaklah kalian berlaku istiqomah (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah : 7). Dan Allah berfirman : Kecuali orang-orang musyrikin yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi dari kalian sesuatu pun (dari isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kalian, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. At -Taubah : 4). dan Allah Jallat Azhomatuhu menegaskan dalam firman-Nya : Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. (QS. At -Taubah : 12). Dan Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda dalam hadits Abdullah bin Amr riwayat Bukhary : Siapa yang membunuh kafir Muahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. Ketiga : Kafir Mustaman, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman :

Dan jika seorang di antara kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia agar ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At -Taubah : 6). Dan dalam hadits Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu, Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa sallam menegaskan : Dzimmah (janji, jaminan keamanan dan tanggung jawab) kaum muslimin itu satu, diusahakan oleh orang yang paling bawah (sekalipun). (HSR. Bukhary -Muslim). Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah : Yang diinginkan dengan Dzimmah di sini adalah Aman (jaminam keamanan). Maknanya bahwa Aman kaum muslimin kepada orang kafir itu adalah sah (diakui), maka siapa yang diberikan kepadanya Aman dari seorang muslim maka haram atas (muslim) yang lainnya mengganggunya sepanjang ia masih berada dalam Amannya. Dan dalam hadits Ummu Hani` riwayat Bukhary beliau berkata : Wahai Rasulullah anak ibuku (yaitu Ali bin Abi Tholib-pen.) menyangka bahwa ia boleh membunuh orang yang telah saya lindungi (yaitu) si Fulan bin Hubairah. Maka Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa salllam bersabda : Kami telah lindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani`. Keempat : Kafir Harby, yaitu kafir selain tiga di atas. Kafir jenis inilah yang disyariatkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Demikianlah pembagian orang kafir oleh para ulama seperti syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadiiy, syeikh Ibnu Utsaimin, Abdullah Al-Bassam dan lain-lainnya. Dan bagi yang menelaah buku-buku fiqih dari berbagai madzhab akan menemukan benarnya pembagian ini. Wallahul Mustaan. (Dikutip dari tulisan al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain, judul asli Makna Terorisme Dalam Syariat Islam dan Fatwa Para Ulama Besar Menyikapi Terorisme, URL Sumber http://www.annashihah.com/isi_berita.php?id=48 dan http://www.an-nashihah.com/isi_berita.php?id=44)