Anda di halaman 1dari 0

351.

770 212
Ind
p

PROFIL
KESEHATAN INDONESIA
2008

DEPARTEMEN KESEHATAN R.I.


JAKARTA
2009

TIM PENYUSUN
Pengarah
Dr. H. Sjafii Ahmad, MPH
Sekretaris Jenderal Depkes

Ketua
dr. Untung Suseno S., MKes
Kepala Pusat Data dan Informasi Depkes

Editor
Hasnawati, SKM, MKes
Sugito, SKM, MKes
Hary Purwanto, MKes, MMSi
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes

Anggota,
Sunaryadi, SKM, MKes; Fetty Ismandari, dr.; Nuning Kurniasih, SSi, Apt;
Farida Sibuea, SKM, MScPH; Evida V. Manullang, SSi; Marlina Indah Susanti, SKM;
Supriyono Pangribowo, SKM; Dewi Roro Kumbini, SPd; Istiqomah, SS;
Sarijono; Sondang Tambunan; Maryati; B.B Sigit

Kontributor
Badan Pusat Statistik; Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional;
Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal; Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat;
Ditjen Bina Pelayanan Medik; Ditjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan;
Ditjen Bina Kefarmasian & Alkes; Badan Litbangkes; Badan PPSDMKes;
Biro Perencanaan dan Anggaran; Biro Kepegawaian;
Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan; Pusat Penanggulangan Krisis

Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan RI


351.770 212
Ind
Indonesia. Departemen Kesehatan. Pusat Data dan Informasi
p
Profil Kesehatan Indonesia 2008. - - Jakarta :
Departemen Kesehatan RI 2009
I. Judul

1. HEALTH STATISTICS

Buku ini diterbitkan oleh


Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes.go.id
Web site: http://www.depkes.go.id

KATA PENGANTAR
Profil Kesehatan Indonesia 2008 merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari
kinerja Pusat Data dan Informasi. Supaya profil kesehatan ini tidak membingungkan, maka
tahun yang tercantum dalam judul profil kesehatan disamakan dengan tahun dari data dan
informasi yang disajikan.
Profil Kesehatan Indonesia 2008 ini selain memuat informasi seperti profil
kesehatan sebelumnya, juga memuat kejadian-kejadian penting yang terjadi pada tahun 2008.
Penyajian dalam Profil Kesehatan Indonesia 2008 ini masih terdapat keterbatasan karena
ada beberapa data yang masih belum bisa terkumpul sehingga untuk beberapa indikator
masih memuat data tahun 2007, termasuk kontribusi dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun
2007 yang diselenggarakan Balitbangkes Depkes. Beberapa data dan informasi tahun 2008
yang belum terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2008 ini akan disajikan dalam bentuk
sajian lain selain Profil Kesehatan Indonesia.
Profil Kesehatan Indonesia dengan segala keterbatasannya tetap diupayakan agar
dapat terbit lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Profil Kesehatan Indonesia 2008 ini
akan diterbitkan dalam dua versi bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Selain
diterbitkan dalam bentuk cetakan, Profil Kesehatan Indonesia 2008 juga dapat diakses
melalui internet; http://www.depkes.go.id.
Mudah-mudahan Profil Kesehatan Indonesia 2008 ini bermanfaat dalam mengisi
kebutuhan data dan informasi kesehatan yang terkini sesuai dengan harapan kita semua.

Jakarta, 2009
Kepala Pusat Data dan Informasi

Dr. Untung Suseno S., MKes


NIP. 19581017 198403 1 004

ii

SAMBUTAN
SEKRETARIS JENDERAL DEPKES

Saya menyambut gembira terbitnya Profil Kesehatan Indonesia 2008 yang lebih
cepat bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun berat dan banyak
tantangan di dalam proses pengumpulan data dan informasi kesehatan ini, akhirnya Pusat
Data dan Informasi berhasil menghimpun data tahun 2008 dan menyusunnya dalam bentuk
Profil Kesehatan Indonesia 2008.
Tantangan dan kendala dalam penyediaan data dan informasi yang tepat waktu
ternyata cukup banyak, sehingga data dan informasi dari setiap provinsi maupun program
masih belum dapat terisi secara lengkap. Dengan telah terbitnya Profil Kesehatan Indonesia
2008 ini, saya harapkan dapat bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan yang
didasari atas data dan informasi (evidence based) dan dapat digunakan pula sebagai salah satu
bahan evaluasi program pembangunan kesehatan.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan kontribusi sehingga
memungkinkan tersusunnya Profil Kesehatan Indonesia 2008 ini.

Jakarta, 2009
Sekretaris Jenderal
Departemen Kesehatan

Dr. H. Sjafii Ahmad, MPH


NIP. 19490929 197712 1 001

iii

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL

iii

DAFTAR ISI

DAFTAR LAMPIRAN

vii

BAB I:

PENDAHULUAN

BAB II:

GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK


A. Keadaan Penduduk
B. Keadaan Ekonomi
C. Keadaan Pendidikan
D. Keadaan Lingkungan
E. Keadaan Perilaku Masyarakat

3
3
6
10
12
18

BAB III:

SITUASI DERAJAT KESEHATAN


A. Mortalitas
B. Morbiditas
C. Status Gizi

24
24
31
67

BAB IV:

SITUASI UPAYA KESEHATAN


A. Pelayanan Kesehatan Dasar
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan
C. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
D. Perbaikan Gizi Masyarakat
E. Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana

73
73
90
94
114
118

BAB V:

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN


A. Sarana Kesehatan
B. Tenaga Kesehatan
C. Pembiayaan Kesehatan

120
120
133
137

BAB VI:

PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA


ASEAN DAN SEARO
A. Kependudukan
B. Derajat Kesehatan
C. Upaya Kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

140
140
149
158
163

LAMPIRAN

***

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 2.1
Lampiran 2.2
Lampiran 2.3
Lampiran 2.4
Lampiran 2.5
Lampiran 2.6
Lampiran 2.7
Lampiran 2.8
Lampiran 2.8.a
Lampiran 2.8.b
Lampiran 2.9
Lampiran 2.10
Lampiran 2.11

Lampiran 2.12
Lampiran 2.13
Lampiran 2.13.a
Lampiran 2.13.b

Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi Tahun


2007 - 2008
Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut
Provinsi Tahun 2008
Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tertentu, Angka Beban
Tanggungan dan Provinsi Tahun 2008
Jumlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2006
- 2008
Persentase Penduduk Buta Huruf Menurut Kelompok Umur
Angka Partisipasi Kasar (APK) Menurut Provinsi Tahun 2004 - 2008
Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Provinsi Tahun 2004 - 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan Provinsi
Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan Provinsi
Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan Provinsi
Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Rata - Rata Pemakaian Air Bersih
per Orang per Hari dan Provinsi, Riskesdas Tahun 2007
Persentase Rumah Tangga Menurut Kualitas Fisik Air Minum per
Provinsi Tahun 2007
Persentase Rumah Tangga dengan Sumber Air Minum dari
Pompa/Sumur/Mata Air Menurut Tipe Daerah, Jarak ke Tempat
Penampungan Akhir Kotoran/Tinja Terdekat dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Tempat Buang Air Besar,
Tipe Daerah dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Kloset dan Provinsi Tahun
2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Kloset dan Provinsi Tahun
2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Kloset dan Provinsi Tahun
2008

vii

Lampiran 2.14
Lampiran 2.14.a
Lampiran 2.14.b
Lampiran 2.15
Lampiran 2.16
Lampiran 2.17
Lampiran 2.18

Lampiran 2.18.a

Lampiran 2.18.b

Lampiran 2.19
Lampiran 2.19a
Lampiran 2.19.b
Lampiran 2.20
Lampiran 2.21

Lampiran 2.22
Lampiran 2.22.a
Lampiran 2.22.b

Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja


dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja
dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja
dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Luas Lantai Tempat Tinggal (m2).
Tipe Daerah dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Tipe Daerah, dan Jenis Lantai
Terluas (m2) dan Provinsi, Tahun 2008
Persentase Rumah Tangga Menurut Tipe Daerah, dan Jenis Dinding
Terluas (m2) dan Provinsi, Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama
Bulan Referensi Menurut Jenis Keluhan Kesehatan yang dialami dan
Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama
Bulan Referensi Menurut Jenis Keluhan Kesehatan yang dialami dan
Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama
Bulan Referensi Menurut Jenis Keluhan Kesehatan yang dialami dan
Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Menderita Sakit Selama Bulan Referensi
Menurut Jumlah Hari Sakit dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Menderita Sakit Selama Bulan Referensi
Menurut Jumlah Hari Sakit dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Menderita Sakit Selama Bulan Referensi
Menurut Jumlah Hari Sakit dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Berobat Jalan dan Mengobati Sendiri Selama
Bulan Referensi Menurut Tipe Daerah dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Mengobati Sendiri Selama Bulan Referensi
Menurut Jenis Obat yang Digunakan, Tipe Daerah dan Provinsi Tahun
2008
Persentase Penduduk yang Berobat Jalan Selama Bulan Referensi
Menurut Tempat/Cara Berobat dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Berobat Jalan Selama Bulan Referensi
Menurut Tempat/Cara Berobat dan Provinsi Tahun 2008
Persentase Penduduk yang Berobat Jalan Selama Bulan Referensi
Menurut Tempat/Cara Berobat dan Provinsi Tahun 2008

viii

Lampiran 2.23
Lampiran 2.24
Lampiran 2.25
Lampiran 2.26

Lampiran 2.27
Lampiran 2.28
Lampiran 2.29
Lampiran 3.1

Lampiran 3.2
Lampiran 3.3
Lampiran 3.3.a
Lampiran 3.4
Lampiran 3.4.a
Lampiran 3.5
Lampiran 3.6
Lampiran 3.7
Lampiran 3.8
Lampiran 3.9
Lampiran 3.10

Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup


Bersih dan Sehat (PHBS) Baik Menurut Provinsi Riskesdas Tahun 2007
Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam
Buang Air Besar dan Cuci Tangan Menurut Provinsi Tahun 2007
Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas Menurut Kebiasaan
Merokok dan Provinsi, Tahun 2007
Prevalensi Perokok Saat Ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang
Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas Menurut Provinsi Tahun
2008
Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok Menurut
Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi, Tahun 2007
Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir Menurut
Provinsi, Tahun 2007
Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk Umur 10 Tahun ke
Atas Menurut Provinsi Tahun 2007
Estimasi Angka Kematian Bayi, Angka Harapan Hidup, Net
Reproduction Rate, Angka Kelahiran Kasar, dan Angka Fertilitas Total
Menurut Provinsi Tahun 2008
Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun
2005 - 2007
Distribusi Pasien Rawat Jalan Menurut Bab ICD X di Rumah Sakit Di
Indonesia Tahun 2008
Distribusi Pasien Rawat Jalan Menurut Bab ICD-X di Rumah Sakit Di
Indonesia Tahun 2007
Distribusi Pasien Rawat Inap Menurut Bab ICD-X di Rumah Sakit Di
Indonesia Tahun 2008
Distribusi Pasien Rawat Inap Menurut Bab ICD-X di Rumah Sakit Di
Indonesia Tahun 2007
Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi
Tahun 2008
Annual Parasite Incidence (API) Malaria di Jawa-Bali Tahun 1997 2008
Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Tahun 2008
Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin dan
Provinsi Tahun 2008
Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur
(Tahun), Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2008
Jumlah Kumulatif Kasus AIDS, Meninggal, dan Angka Kumulatif Kasus
Per 100.000 Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2008
ix

Lampiran 3.11
Lampiran 3.12
Lampiran 3.13
Lampiran 3.14
Lampiran 3.15
Lampiran 3.16
Lampiran 3.16.a
Lampiran 3.17
Lampiran 3.18
Lampiran 3.19
Lampiran 3.20
Lampiran 3.21
Lampiran 3.22

Lampiran 3.23
Lampiran 3.24
Lampiran 3.25
Lampiran 3.26
Lampiran 3.27
Lampiran 3.28
Lampiran 3.29

Lampiran 3.30
Lampiran 3.31
Lampiran 3.32
Lampiran 3.33
Lampiran 3.34

Jumlah dan Persentase Kasus AIDS yang Menggunakan Napza Suntikan


(IDU) Menurut Provinsi s.d 31 Desember 2008
Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2008
Situasi Penyakit Kusta Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Kasus Baru Kusta dan Kecacatan Menurut Provinsi Tahun 2008
Prevalensi Frambusia Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi
Tahun 2008
Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi
Tahun 2008
Jumlah Kasus Penyakit Campak dan Status Vaksinasi Campak Menurut
Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2008
Frekuensi dan Jumlah Kasus Pada KLB Campak Menurut Provinsi
Tahun 2005-2008
Jumlah Kasus AFP Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Kasus AFP Menurut Kriteria Klasifikasi Klinis dan Provinsi
Tahun 2008
Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Tahun 2003 - 2008
Jumlah Penderita, Case Fatality Rate (%), dan Incidence Rate Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2003 2008
Jumlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2005 - 2008
Jumlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2003 - 2008
Kepesertaan dan Jenis Kasus Kecelakaan Kerja (PT Jamsostek) Tahun
2008
Situasi Leptospirosis pada Manusia di Indonesia Tahun 2004 - 2008
Situasi Antraks pada Manusia di Indonesia Tahun 2004 - 2008
Situasi Pes pada Manusia di Indonesia Tahun 2008
Jumlah dan Presentase Kabupaten Terjangkit dan Jumlah Kasus Gigitan
Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Spesimen Hewan
Menurut Provinsi Tahun 2008
Kasus Penyakit dapat dicegah dengan Imunisasi Menurut Provinsi Tahun
2008
Jumlah Kasus Hepatitis C (Hanya Data yang Positif) Tahun 2008
Persentase Balita Menurut Status Gizi (BB/U)* Per Provinsi Tahun 2007
Persentase Balita Menurut Status Gizi (TB/U)* Per Provinsi Tahun 2007
Persentase Balita Menurut Status Gizi (BB/ TB )* Per Provinsi Tahun
2007
x

Lampiran 3.35
Lampiran 3.36
Lampiran 3.37
Lampiran 3.38
Lampiran 3.39
Lampiran 3.40
Lampiran 3.41
Lampiran 3.42
Lampiran 3.43
Lampiran 3.44
Lampiran 4.1
Lampiran 4.2
Lampiran 4.2.a
Lampiran 4.2.b
Lampiran 4.3
Lampiran 4.3.a
Lampiran 4.3.b
Lampiran 4.4
Lampiran 4.5

Prevalensi Kurus dan Berat Badan Lebih Anak Umur 6 - 14 Tahun


Menurut Jenis Kelamin per Provinsi Tahun 2007
Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun ke Atas) Menurut
IMT Per Provinsi Tahun 2007
Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15 - 45 Tahun Menurut
Provinsi Tahun 2007
Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir Menurut
Provinsi Tahun 2007
Prevalensi Frambusia Menurut Provinsi Tahun 2008
Rawat Jalan Jemaah Haji di Arab Saudi Berdasarkan Pola Penyakit
Tahun 2006 2008
Jumlah Haji Indonesia Pola Penyakit - Pemeriksaan Kesehatan di
Embarkasi Tahun 2006 - 2008
Rawat Jalan Jemaah Haji di Arab Saudi Berdasarkan Pola Penyakit
Tahun 2006 2008
Sebab Jemaah Haji Wafat di Arab Saudi Berdasarkan Pola Penyakit
Tahun 2006 2008
Jemaah Haji Indonesia Berdasarkan Jumlah Wafat per 1000 Jemaah
(Rate Wafat) Tahun 2008
Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 Dan K4, Persalinan ditolong Tenaga
Kesehatan, dan Kunjungan Neonatus Menurut Provinsi Tahun 2008
Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama dan Provinsi
Tahun 2008 (Perkotaan+Perdesaan)
Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama dan Provinsi
Tahun 2008 (Perkotaan)
Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama dan Provinsi
Tahun 2008 (Perdesaan)
Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi
Tahun 2008 (Perkotaan+Perdesaan)
Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi
Tahun 2008 (Perkotaan)
Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi
(Perdesaan)
Cakupan Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti, dan Penanganan
Komplikasi Ibu Hamil dan Neonatal Menurut Provinsi Tahun 2008
Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke atas Yang Pernah Kawin dan
Jumlah Anak Yang Dilahirkan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008
(Perkotaan+Perdesaan)

xi

Lampiran 4.5.a

Lampiran 4.5.b

Lampiran 4.6
Lampiran 4.7

Lampiran 4.8

Lampiran 4.9

Lampiran 4.9.a

Lampiran 4.9.b

Lampiran 4.10
Lampiran 4.11
Lampiran 4.12
Lampiran 4.13
Lampiran 4.14
Lampiran 4.15
Lampiran 4.16
Lampiran 4.17
Lampiran 4.18

Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke atas yang Pernah Kawin dan


Jumlah Anak yang dilahirkan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008
(Perkotaan)
Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke atas yang Pernah Kawin dan
Jumlah Anak yang dilahirkan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008
(Perdesaan)
Rata - Rata Jumlah Anak Lahir Hidup per Wanita Usia 15-49 Tahun
Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2008
Proporsi Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin Yang
Sedang Menggunakan /Memakai Alat Kb Menurut Daerah Tempat
Tinggal dan Provinsi, Tahun 2008
Proporsi Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin yang
Pernah Menggunakan / Memakai Alat KB Menurut Daerah Tempat
Tinggal dan Provinsi, Tahun 2008
Persentase Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin Menurut
Alat / Cara KB yang sedang digunakan / dipakai dan Provinsi, Tahun
2008 (Perkotaan+Perdesaan)
Persentase Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin Menurut
Alat/Cara KB yang sedang digunakan /dipakai dan Provinsi, Tahun 2008
(Perkotaan)
Persentase Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin Menurut
Alat/Cara KB yang sedang digunakan /dipakai dan Provinsi, Tahun 2008
(Perdesaan)
Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan
Provinsi Tahun 2008
Jumlah dan Proporsi Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan
Provinsi Tahun 2008
Pencapaian Desa Universal Child Immunization (Uci) Menurut Provinsi
Tahun 2006 - 2008
Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2008*
Cakupan Imunisasi Hepatitis B pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2008
Drop Out Cakupan Imunisasi DPT1 - Campak pada Bayi Menurut
Provinsi Tahun 2003 - 2008
Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Provinsi,
Tipe Daerah dan Jenis Imunisasi, 2008
Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2008
Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Depkes dan Pemda Menurut
Provinsi Tahun 2007

xii

Lampiran 4.19
Lampiran 4.20
Lampiran 4.21
Lampiran 4.22
Lampiran 4.23
Lampiran 4.24
Lampiran 4.25
Lampiran 4.26
Lampiran 4.27
Lampiran 4.28
Lampiran 4.29
Lampiran 4.30
Lampiran 4.30.a
Lampiran 4.30.b
Lampiran 4.31
Lampiran 5.1
Lampiran 5.2
Lampiran 5.3
Lampiran 5.4
Lampiran 5.5
Lampiran 5.6

Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Provinsi


Tahun 2007
Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Rumah Sakit Umum
Depkes dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2007
Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di Puskesmas Tahun 2008
Jumlah Masyarakat Miskin dan Tidak Mampu untuk Jaminan Kesehatan
Masyarakat Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di RS/BKMM/BKIM/BKN/BP4
Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Pemberi Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjut Jamkesmas
Menurut Provinsi Tahun 2008
Penanganan Penyalahgunaan Napza di Rumah Sakit Menurut
Kepemilikan Tahun 2007
Cakupan TB Paru BTA Positif, Sembuh, Pengobatan Lengkap dan
Succes Rate (Sr) Menurut Provinsi Tahun 2008
Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita Menurut Provinsi
Tahun 2008
Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin "A" Tahun 2008
Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe) Pada Ibu Hamil Menurut Provinsi
Tahun 2008
Persentase Anak Usia 2-4 Tahun yang Pernah disusui Menurut Lamanya
disusui Per Provinsi Tahun 2008 (Perkotaan+Perdesaan)
Persentase Anak Usia 2-4 Tahun yang Pernah disusui Menurut Lamanya
disusui Per Provinsi Tahun 2008 (Perkotaan)
Persentase Anak Usia 2-4 Tahun yang Pernah disusui Menurut Lamanya
disusui Per Provinsi Tahun 2008 (Perdesaan)
Rekapitulasi Kejadian Bencana Tahun 2008
Jumlah Puskesmas dan Rasionya Terhadap Penduduk Menurut Provinsi
Tahun 2004 - 2008
Jumlah Puskesmas Non Perawatan dan Puskesmas Perawatan Menurut
Provinsi Tahun 2004 - 2008
Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2008
Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola Dan Provinsi
Tahun 2008
Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola
Tahun 2004 - 2008
Jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Umum Menurut Kelas Perawatan
dan Provinsi Tahun 2008

xiii

Lampiran 5.7
Lampiran 5.8
Lampiran 5.9
Lampiran 5.10
Lampiran 5.11
Lampiran 5.12
Lampiran 5.13
Lampiran 5.14
Lampiran 5.15
Lampiran 5.16
Lampiran 5.17
Lampiran 5.18
Lampiran 5.19
Lampiran 5.20
Lampiran 5.21
Lampiran 5.22
Lampiran 5.23
Lampiran 6.1
Lampiran 6.2

Jumlah Rumah Sakit Umum Depkes/Pemda Menurut Kelas dan Provinsi


Tahun 2008
Jumlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut Jenis
Rumah Sakit Tahun 2004 - 2008
Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Jurusan dan
Provinsi Tahun 2008
Jumlah Strata Akreditasi Jurusan/Program Studi Politeknik Kesehatan
(Poltekkes) Kumulatif sampai dengan Desember Tahun 2008
Jumlah Institusi Diknakes Non Politeknik Kesehatan (Poltekkes)
Menurut Jurusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2008
Jumlah Strata Akreditasi Institusi Non Poltekkes Kumulatif sampai
Desember Tahun 2008
Jumlah Institusi Diknakes Non-Poltekkes Menurut Status Kepemilikan
Kumulatif sampai dengan Desember Tahun 2008
Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Hasil Pendataan Potensi Desa
Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis dan Provinsi
Tahun 2008
Rasio Dokter, Dokter Gigi, Perawat dan Bidan Terhadap Jumlah
Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Tenaga Non Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis dan Provinsi
Tahun 2008
Jumlah Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT)
yang Masih Aktif Menurut Provinsi Tahun 2008
Jumlah Alokasi dan Realisasi Anggaran Departemen Kesehatan Menurut
Eselon I Tahun Anggaran 2008
Persentase Penduduk dengan Jaminan Pembiayaan/Asuransi Kesehatan
Menurut Provinsi dan Tipe Daerah Tahun 2007
Persentase Penduduk dengan Jaminan Pembiayaan/Asuransi Kesehatan
Menurutjenis Jaminan Kesehatan dan Provinsi Tahun 2007
Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara-Negara ASEAN
& SEARO Tahun 2008
Angka Kelahiran, Angka Kematian, dan Indeks Pembangunan Manusia
di Negara-Negara ASEAN & SEARO

xiv

Lampiran 6.3

Lampiran 6.4
Lampiran 6.5
Lampiran 6.6
Lampiran 6.7
Lampiran 6.8
Lampiran 6.9

Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan yang


Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara-Negara ASEAN &
SEARO Tahun 2006
Perbandingan Data Tuberkulosis di Negara-Negara ASEAN & SEARO
Tahun 2006/2007
Angka Estimasi HIV dan AIDS di Negara-Negara ASEAN & SEARO
Tahun 2007
Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi
di Negara-Negara ASEAN & SEARO
Perbandingan Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi di Negara-Negara
ASEAN & SEARO Tahun 2007
Perbandingan Upaya Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO
Tahun 2000-2008
Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun
2006

***

xv

Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan agar


manusia mempunyai kemampuan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang pendapatan,
kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan manusia sebagai ukuran kinerja pembangunan
secara keseluruhan dibentuk melalui pendekatan tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan
sehat, berpengetahuan, dan memiliki kehidupan yang layak. Masing-masing dimensi
direpresentasikan oleh indikator. Umur panjang dan sehat direpresentasikan oleh indikator
angka harapan hidup; pengetahuan direpresentasikan oleh indikator angka melek huruf dan
rata-rata lama sekolah; serta kehidupan yang layak direpresentasikan oleh indikator
kemampuan daya beli. Semua indikator yang merepresentasikan ketiga dimensi
pembangunan manusia ini terangkum dalam suatu nilai tunggal, yaitu Indeks Pembangunan
Manusia (human development index).
Sedangkan pembangunan kesehatan adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua
komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator, yang meliputi
indikator angka harapan hidup, angka kematian, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Departemen Kesehatan pada
periode 2005-2009 memprioritaskan pelayanan kesehatan ibu dan anak sebagai urutan
pertama dalam pembangunan kesehatan. Prioritas berikutnya adalah pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, pendayagunaan tenaga kesehatan, penanggulangan penyakit menular,
penanggulangan gizi buruk, dan penanganan krisis kesehatan akibat bencana.
Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008 ini berupaya untuk
menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber
daya kesehatan, dan faktor-faktor terkait lainnya, serta perbandingan Indonesia dengan
negara anggota ASEAN dan SEARO.
Profil Kesehatan Indonesia 2008 ini terdiri atas 6 (enam) bab, yaitu:
Bab I - Pendahuluan. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil
Kesehatan Indonesia 2008 ini serta sistimatika penyajiannya.
Bab II - Situasi Umum dan Perilaku Penduduk. Bab ini menyajikan tentang gambaran umum,
yang meliputi: kependudukan, perekonomian, pendidikan, dan lingkungan fisik; serta
perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan.
1

Bab III - Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan
kesehatan sampai dengan tahun 2008 yang mencakup tentang angka kematian, umur harapan
hidup, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat.
Bab IV - Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang
telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2008, untuk tercapainya dan
berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. Gambaran tentang upaya
kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar,
pencapaian pelayanan kesehatan rujukan, pencapaian upaya pencegahan dan pemberantasan
penyakit, dan upaya perbaikan gizi masyarakat.
Bab V - Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sumber daya
pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2008. Gambaran tentang keadaan sumber daya
mencakup tentang keadaan tenaga, sarana kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
Bab VI - Perbandingan Indonesia dengan Negara Anggota ASEAN dan SEARO. Bab ini
menyajikan perbandingan beberapa indikator yang meliputi data kependudukan, Angka
Kelahiran, Angka Kematian, Indeks Pembangunan Manusia, data tuberkulosis, angka
estimasi HIV/AIDS, kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi, cakupan
imunisasi pada bayi dan upaya kesehatan.
***

Indonesia terbentang antara 6o garis Lintang Utara sampai 11o garis Lintang
Selatan, dan dari 97 o sampai 141o garis Bujur Timur serta terletak antara dua benua
yaitu benua Asia dan Australia/Oceania. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh
yang sangat besar terhadap kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi. Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara, menurut data Bakosurtanal,
jumlah pulau di Indonesia 17.508 (17.506 pulau setelah dikurangi Sipadan dan
Ligitan). Jumlah pulau itu termasuk yang berada di muara dan tengah sungai, serta
delta. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat istiadat
dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Keragaman dalam berbagai aspek
tersebut juga terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.
Secara administratif wilayah Indonesia pada tahun 2008 terbagi atas 33
provinsi, 495 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 96 kota). Jika dibandingkan
dengan jumlah kabupaten/kota yang ada pada tahun 2007, maka selama tahun 2008
telah terjadi pembentukan 30 kabupaten/kota baru. Pembagian wilayah Indonesia
secara administratif pada tahun 2007 - 2008 dapat dilihat pada Lampiran 2.1.
Pada bab ini akan diuraikan gambaran umum Indonesia dan perilaku
penduduk pada tahun 2008 yang meliputi: keadaan penduduk, keadaan ekonomi,
keadaan pendidikan, keadaan lingkungan, dan perilaku penduduk yang berkaitan
dengan kesehatan.

A. KEADAAN PENDUDUK
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada tahun
2008 tercatat sebesar 228.523.342 jiwa terdiri dari 114.399.238 laki-laki dan
114.124.104 perempuan. Melalui estimasi BPS hasil SUPAS 2005 (estimasi
penduduk Indonesia dirinci menurut kelompok umur dan jenis kelamin tahun 2008),
kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk sebagai berikut.

GAMBAR 2.1
PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Badan Pusat Statistik, Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur
dan Jenis Kelamin Tahun 2008

Secara nasional, dengan luas wilayah Indonesia 1.910.931,32 km2 maka


tingkat kepadatan penduduk adalah sebesar 120 jiwa per km2. Tingkat kepadatan
yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Provinsi yang
memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI Jakarta, yaitu sebesar 13.774
jiwa per km2. Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang memiliki kepadatan
penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1.157 jiwa per km2. Provinsi dengan
tingkat kepadatan tertinggi ke-3 yaitu DI Yogyakarta sebesar 1.107 jiwa per km2.
Kepadatan penduduk terendah di Papua, yaitu hanya 6 jiwa per km2, Papua Barat
merupakan provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk terendah ke-2 yaitu sebesar
8 jiwa per km2, yang kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah dengan kepadatan 13
jiwa per km2.
Dari proyeksi jumlah penduduk dapat diketahui terdapat ketimpangan
persebaran penduduk antar pulau yang nyata. Lebih dari separuh penduduk Indonesia
berada di Pulau Jawa, yaitu sebesar 58,14%, dengan luas hanya 6,77% wilayah
Indonesia. Selebihnya tersebar di Sumatera sebesar 21,36 %, Sulawesi 7,23%,
Kalimantan 5,62%, Kepulauan Nusa Tenggara - Bali 5,43%, Papua dan Maluku

2,22%. Jumlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 2.2.
GAMBAR 2.2
PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA
MENURUT KELOMPOK PULAU-PULAU BESAR TAHUN 2008

Sumber : Badan Pusat Statistik, Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2008,


Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : 6 tahun 2008.

Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur, menunjukkan


bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 27,23%, yang berusia
produktif (15-64 tahun) sebesar 67,67%, dan yang berusia tua (> 65 tahun) sebesar
5,10%. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)
penduduk Indonesia pada tahun 2007 sebesar 47,77%.
Provinsi dengan persentase beban tanggungan tertinggi adalah Nusa
Tenggara Timur sebesar 60,44%, diikuti oleh Maluku sebesar 58,23%, dan Sulawesi
Tenggara sebesar 58,00%. Sedangkan provinsi dengan Angka Beban Tanggungan
terendah yaitu DKI Jakarta sebesar 37,76%, diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar
38,12% dan Jawa Timur sebesar 40,36%. Rincian jumlah penduduk menurut
kelompok umur, provinsi, dan Angka Beban Tanggungan tahun 2008 dapat dilihat
pada Lampiran 2.3.

GAMBAR 2.3
ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Badan Pusat Statistik, Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2008

B. KEADAAN EKONOMI
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam
menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Perekonomian Indonesia pada
tahun 2008 mengalami pertumbuhan sebesar 6,1% dibanding tahun 2007. Nilai
Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan pada tahun 2008 mencapai
Rp 2.082,1 triliun, sedangkan pada tahun 2007 sebesar Rp 1.963,1 triliun. Bila dilihat
berdasarkan harga berlaku, PDB tahun 2008 naik sebesar Rp 1.004,7 triliun, yaitu
dari Rp 3.949,3 triliun pada tahun 2007 menjadi sebesar Rp 4.954,0 triliun pada
tahun 2008.
Mengkaji kondisi perekonomian tentu saja tidak terlepas dari tingkat inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama periode Januari sampai Desember
tahun 2008 telah terjadi inflasi sebesar 11,06%. Selama tahun 2008 kelompok bahan
makanan memberi kontribusi terbesar pada inflasi sebesar 16,35%. Kelompok
lainnya dalam tahun 2008 masing-masing kelompok perumahan, air, listrik, gas dan
bahan bakar menyumbang sebesar 10,92% pada inflasi nasional; kelompok makanan
jadi, minuman, rokok dan tembakau 12,53%, kelompok sandang 7,33%, kelompok
kesehatan 7,96%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 6,66% dan kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 7,49%.
Selama tahun 2008, semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi yang
mencapai 16,7%, diikuti oleh sektor listrik, gas dan air bersih 10,9%, sektor
keuangan, real estate dan jasa perumahan 8,2%, sektor konstruksi 7,3%, sektor

perdagangan, hotel dan restoran 7,2%, sektor jasa-jasa 6,4%, sektor pertanian 4,8%,
dan sektor industri pengolahan 3,7%, serta sektor pertambangan dan penggalian
0,5%. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2008 mencapai 6,5% yang berarti
lebih tinggi dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya 6,1%.
Untuk mengetahui tingkat pengangguran, dilakukan Survei Angkatan Kerja
Nasional (Sakernas). Sakernas merumuskan konsep pengangguran sebelum tahun
2001 sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan dan
sedang mencari pekerjaan. Sejak tahun 2001 konsep pengangguran menjadi angkatan
kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan, yang mencakup angkatan kerja
yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha (MP), tidak mencari
pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan/putus asa
(sebelumnya dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja) dan yang punya
pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai Bekerja).
Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari
kerja dengan jumlah angkatan kerja. Pengangguran terbuka disini didefinisikan
sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan
usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi
mendapatkan pekerjaan, termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi
belum mulai bekerja. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih
sekolah atau mengurus rumah tangga, sehingga hanya orang yang temasuk angkatan
kerja saja yang merupakan pengangguran terbuka.
Menurut Sakernas, definisi operasional Angkatan Kerja adalah penduduk
usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan
penganggur. Sementara Bekerja menurut definisi Sakernas adalah kegiatan ekonomi
yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh
pendapatan atau keuntungan, paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu
yang lalu. Kegiatan itu termasuk juga kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu
dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi.
Berdasarkan data hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 2008, tahun 2008 ada penurunan angka
pengangguran, dengan bertambahnya lapangan kerja pada sektor jasa
kemasyarakatan seperti jasa pertukangan, pembantu rumah tangga, transportasi, dan
pertanian. Perkembangan angkatan kerja, penduduk yang bekerja dan pengangguran
pada Agustus 2007 - Agustus 2008 adalah sebagai berikut.
TABEL 2.1
PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA, PENDUDUK YANG BEKERJA
DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2007 - 2008
Tahun
Agustus 2007 (juta org)

Jumlah Angkatan Kerja

Agustus 2008 (juta org)

109,94

111,95

Jumlah penduduk yang bekerja

99,93

102,55

Pengangguran terbuka

10.01

9,39

9,11

8,39

Persentase pengangguran terbuka (%)


Sumber: BPS, Survei Angkatan Kerja Nasional 2007-2008

Pembangunan ekonomi yang diupayakan pemerintah diharapkan mampu


mendorong kemajuan, baik fisik, sosial, mental dan spiritual di segenap pelosok
negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal. Suatu daerah
dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab, yaitu
geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, prasarana dan sarana, daerah
rawan bencana dan konflik sosial, dan kebijakan pembangunan. Keterbatasan
prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan
masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas
ekonomi dan sosial.
Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah
administrasi kabupaten. Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan
menggunakan pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam) kriteria dasar
yaitu: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, prasarana (infrastruktur),
kemampuan keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas dan karakteristik daerah,
serta berdasarkan kabupaten yang berada di daerah perbatasan antarnegara dan
gugusan pulau-pulau kecil, daerah rawan bencana dan daerah rawan konflik.
Menurut data Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, pada tahun
2006 -2008 jumlah kabupaten tertinggal mencapai 199 kabupaten/kota di seluruh
Indonesia. Tahun 2008 persentase daerah tertinggal adalah 40,2% dari 495
kabupaten/kota. Menurut jumlah kabupaten/kota yang tertinggal angka ini sedikit
bertambah dibandingkan tahun 2005, yang menunjukkan jumlah 197 kabupaten
tertinggal. Penambahan 2 kabupaten tersebut terdapat pada Provinsi Sumatera Barat
yang pada tahun 2005 berjumlah 7 kabupaten kemudian bertambah menjadi 9
kabupaten. Provinsi dengan persentase kabupaten/kota tertinggal tertinggi adalah
Sulawesi Barat, yaitu sebesar 100% (2006-2008), diikuti oleh Sulawesi Tengah yang
sebesar 81,8% (2008) dan Bengkulu 80% (2008). Jumlah dan persentase
kabupaten/kota tertinggal menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.4.
GAMBAR 2.4
PROVINSI DENGAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal


Tahun 2004-2009

Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan


termasuk kesehatan. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
terkait dengan daya beli ekonomi. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam
pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan
daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakitpenyakit tertentu. Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali dikaitkan dengan
kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta betapa keterbatasan pemenuhan
pangan dapat menyebabkan busung lapar, Kwashiorkor, penyakit kekurangan
vitamin seperti Xeropthalmia, Scorbut, dan Beri-beri.
Pada bulan Maret 2007, jumlah penduduk miskin menurun menjadi 37,17
juta dari 39,3 juta penduduk miskin pada bulan Maret 2006. Hal ini menunjukkan
bahwa terjadi penurunan 2,13 juta penduduk miskin. Jumlah penduduk miskin pada
bulan Maret 2008 sebesar 34,96 juta orang (15,42%). Dibandingkan dengan
penduduk miskin pada bulan Maret 2007 yang berjumlah 37,17 juta orang (16,6%),
berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,21 juta orang.
Selama periode Maret 2007 - Maret 2008, penduduk miskin di daerah
perdesaan berkurang 1,42 juta orang, sementara di daerah perkotaan berkurang 0,79
juta orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak
banyak berubah. Pada bulan Maret 2008, sebagian besar (63,47%) penduduk miskin
berada di daerah perdesaan.
Persentase penduduk miskin dari tahun 2004-2008 disajikan pada Gambar 2.4
berikut ini.
GAMBAR 2.5
PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber: BPS, Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2007

Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan.pdf

C. KEADAAN PENDIDIKAN
Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah
dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Melalui pengetahuan,
pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan yang
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus
(predisposing) yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk
berperilaku sehat.
Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan. Sebab, penduduk
yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada
kebodohan, sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan.
Komposisi penderita buta huruf di Indonesia beragam. Jumlah penduduk buta huruf
di Indonesia tidak hanya dialami satu generasi, tetapi terdiri atas generasi muda dan
tua.
Berdasarkan data BPS 2004-2008, persentase penduduk yang buta huruf
cenderung menurun karena akses terhadap pendidikan meningkat dalam 5 tahun
terakhir ini. Persentase terbesar penduduk yang buta huruf berada dalam kelompok
umur lebih dari 45 tahun, diikuti kelompok umur kurang dari 15 tahun. Dengan
demikian, pendidikan sebagai senjata utama penghapusan buta huruf itu senantiasa
harus menyentuh baik generasi muda maupun generasi tuanya.
GAMBAR 2.6
PERSENTASE PENDUDUK YANG BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber: BPS, www.bps.go.id

Tahun 2008 persentase tertinggi penduduk berumur 15-45 tahun ke atas yang
buta huruf pada tahun adalah Provinsi Papua (26,23%), diikuti Nusa Tenggara Barat
(7,54%) dan Sulawesi Barat (6,70%). Persentase terendah adalah DKI Jakarta
(0,07%), diikuti Sulawesi Utara (0,32%) dan Riau (0,47%). Persentase penduduk
buta huruf menurut kelompok umur dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.5.
Persentase penduduk berumur 15-45 tahun yang buta huruf menurut provinsi dapat
dilihat pada Gambar 2.7 berikut ini.

10

GAMBAR 2.7
PERSENTASE PENDUDUK UMUR 15-45 TAHUN YANG BUTA HURUF
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: BPS, www.bps.go.id

Angka Partisipasi Kasar (APK) dari BPS dikategorikan menjadi 3 kelompok


umur, yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD, 13-15 tahun mewakili umur
setingkat SLTP, dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SLTA. Secara umum,
APK setingkat SD sebesar 109,37%, SLTP 81,08% dan SLTA 57,51%. Semakin
tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah APK. Persentase angka partisipasi kasar
menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.6.
GAMBAR 2.8
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber: BPS, www.bps.go.id

11

Berbeda dengan APK, Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan


banyaknya penduduk usia sekolah yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan
yang sesuai dengan usianya. Secara umum, APM setingkat SD sebesar 93,98%,
SLTP 66,75% dan SLTA 44,22%. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin
rendah APM. Persentase angka partisipasi murni menurut provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 2.7.
GAMBAR 2.9
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber: BPS, www.bps.go.id

D. KEADAAN LINGKUNGAN
Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian
khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor
perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik, lingkungan menentukan baik buruknya
status derajat kesehatan masyarakat.
Untuk menggambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator-indikator
seperti; persentase rumah tangga terhadap akses air minum, persentase rumah tangga
menurut sumber air minum, persentase rumah tangga dengan sumber air minum dari
pompa/sumur/mata air menurut jarak ke tempat penampungan akhir kotoran/tinja,
dan persentase rumah tangga menurut kepemilikan fasilitas buang air besar.
1. Akses Terhadap Air Minum
Berdasarkan data Susenas tahun 2008, BPS mengkategorikan sumber air
minum yang digunakan rumah tangga menjadi 2 kelompok besar, yaitu sumber air
minum terlindung dan tidak terlindung. Sumber air minum terlindung terdiri dari air
kemasan, ledeng, pompa, mata air terlindung, sumur terlindung, dan air hujan.

12

Sedangkan sumber air minum tak terlindung terdiri dari sumur tak terlindung, mata
air tak terlindung, air sungai, dan sumber lainnya.
Susenas tahun 2008 menyebutkan bahwa persentase rumah tangga yang
memiliki sumber air minum terlindung sebesar 94,20%, sedangkan persentase rumah
tangga yang memiliki sumber air minum tak terlindung sebesar 5,80%. Provinsi
dengan persentase terbesar untuk rumah tangga yang memiliki sumber air minum
terlindung adalah DKI Jakarta, yaitu 99,62%, diikuti oleh Sulawesi Tengah sebesar
98,17% dan Maluku Utara sebesar 97,78%. Persentase rumah tangga yang memiliki
sumber air minum terlindung yang paling rendah berada di Provinsi Bengkulu, yaitu
sebesar 69,56%, diikuti oleh Lampung (82,33%) dan Kalimantan Tengah (83,62%).
Pada kelompok sumber air minum terlindung, sebagian besar rumah tangga di
Indonesia memiliki sumur terlindung dengan persentase 28,60%. Persentase rumah
tangga yang menggunakan sumber air minum pompa menempati urutan ke-2 yaitu
17,06%, kemudian ledeng meteran (11,46%), mata air terlindung (8,73%), air isi
ulang (7,16%), air kemasan (4,11%), ledeng eceran (3,57%), dan air hujan (2,65%).
Sedangkan pada kelompok air minum tak terlindung, rumah tangga di Indonesia
sebagian besar memanfaatkan sumur tak terlindung dengan persentase 9,48%, diikuti
oleh mata air tak terlindung sebesar 4,05%, air sungai sebesar 2,75% dan lainnya
sebesar 0,38%. Persentase rumah tangga menurut sumber air minum, provinsi dan
wilayah secara lebih rinci disajikan pada Lampiran 2.8, 2.8.a, dan Lampiran 2.8.b.
GAMBAR 2.10
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT SUMBER AIR MINUM
DI INDONESIA TAHUN
2008

Sumber: BPS, Susenas Tahun 2008

13

2. Pemakaian Air Bersih


Jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan
risiko kesehatan masyarakat yang terkait dengan higiene. Risiko kesehatan
masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah dikategorikan
sebagai mempunyai risiko tinggi. Definisi operasional berdasarkan Riskesdas
tersebut menyebutkan rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah
pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota
rumah tangga. Rerata pemakaian air individu dikelompokkan menjadi <5
liter/orang/hari, 5-19,9 liter/orang/hari, 20-49,9 liter/orang/hari, 50-99,9
liter/orang/hari dan 100 liter/orang/hari.
Hasil Riskesdas tahun 2007 menyatakan bahwa secara nasional terdapat
16,2% rumah tangga yang masih rendah dalam pemakaian air bersih, terdiri dari
5,4% memakai air bersih kurang dari 5 liter/orang/hari dan 10,8% memakai air
bersih 5-19,9 liter/orang/hari, sehingga mempunyai risiko tinggi untuk mengalami
gangguan kesehatan/penyakit. Adapun rumah tangga yang mempunyai akses dasar
(minimal) sebesar 26,9%, akses menengah sebesar 25,3% dan akses optimal sebesar
31,6%.
Provinsi yang akses rumah tangga terhadap air bersih masih rendah (di atas
16,2%) antara lain Gorontalo, Sulawesi Barat dan Sumatera Barat. Sedangkan
provinsi yang mempunyai akses optimal yang tinggi adalah DKI Jakarta, DI
Yogyakarta dan Banten.
Persentase rumah tangga menurut rerata pemakaian air bersih per orang per
hari dan provinsi secara lebih rinci disajikan pada Lampiran 2.9.
3. Kualitas Fisik Air Minum
Kualitas fisik air minum baik jika air tersebut tidak keruh, tidak berbau, tidak
berasa, tidak berwarna dan tidak berbusa. Riskesdas 2007 menunjukkan secara
nasional persentase rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar
86,0%. Ada 15 provinsi yang persentase kualitas fisik air minum yang baik yang ada
di bawah persentase nasional, yang terendah adalah Kalimantan Tengah (58,6%).
Persentase rumah tangga menurut kualitas fisik air minum dan provinsi
secara lebih rinci disajikan pada Lampiran 2.10.
4. Jarak Sumber Air Minum dengan Tempat Penampungan
Akhir Kotoran/Tinja
Sumber air minum sering menjadi sumber pencemar pada penyakit water
borne disease. Oleh karena itu sumber air minum harus memenuhi syarat lokalisasi
dan konstruksi. Syarat lokalisasi menginginkan agar sumber air minum terhindar dari
pengotoran, sehingga perlu diperhatikan jarak sumber air minum dengan cubluk

14

(kakus) lubang galian sampah, lubang galian untuk air limbah dan sumber-sumber
pengotor lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan tanah dan kemiringannya.
Pada umumnya jarak sumber air minum dengan beberapa sumber pengotor termasuk
tempat penampungan akhir (TPA) kotoran/tinja tidak kurang dari 10 meter dan
diusahakan agar letaknya tidak berada di bawah sumber-sumber tersebut.
Susenas tahun 2008 juga menampilkan persentase rumah tangga dengan
sumber air minum dari pompa/sumur/mata air menurut jarak ke tempat
penampungan akhir kotoran/tinja terdekat. Data tersebut menyebutkan bahwa secara
nasional sebanyak 51,88% rumah tangga memiliki jarak sumber air minum dari
pompa/sumur/mata air terhadap tempat penampungan kotoran akhir/tinja > 10 meter.
Sedangkan sebanyak 24,14 % memiliki jarak < 10 meter dan sisanya sebanyak
23,97% tidak tahu.
Pada rumah tangga yang memiliki jarak > 10 meter pada sumber air
minumnya, persentase terbesar adalah DI Yogyakarta sebesar 71,73%, diikuti oleh
Kalimantan Selatan sebesar 66,00% dan Jambi 63,66%. Sedangkan provinsi dengan
persentase terendah adalah Gorontalo sebesar 33,39% diikuti oleh Banten sebesar
34,35% dan Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 35,82%. Persentase rumah tangga
dengan sumber air minum dari pompa/sumur/mata air menurut tipe daerah, jarak ke
tempat penampungan akhir kotoran/tinja/ terdekat dan provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 2.11.
GAMBAR 2.11
PROVINSI DENGAN PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN
JARAK SUMBER AIR MINUM KE TPA KOTORAN/TINJA >10 METER
DI INDONESIATAHUN 2008

Sumber: BPS, Susenas Tahun 2008

5. Fasilitas Tempat Buang Air Besar


Susenas tahun 2008 membagi rumah tangga berdasarkan kepemilikan
fasilitas tempat buang air besar yang terdiri atas milik sendiri, milik bersama, umum,

15

dan tidak ada. Secara nasional, persentase rumah tangga yang memiliki sendiri
fasilitas tempat buang air besar sebesar 61,68%, rumah tangga yang memiliki
bersama 13,38%, umum sebesar 3,79% dan tidak ada sebesar 21,14%.
Persentase rumah tangga yang memiliki sendiri fasilitas tempat buang air
besar di perkotaan dan perdesaan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan.
Persentase di perkotaan sebesar 71,92%, sedangkan di perdesaan sebesar 52,00%.
Provinsi dengan persentase rumah tangga yang memiliki sendiri fasilitas tempat
buang air besar tertinggi adalah Kepulauan Riau sebesar 82,54% diikuti oleh Riau
sebesar 81,88% dan Kalimantan Timur sebesar 77,03%. Sedangkan persentase
rumah tangga yang memiliki sendiri fasilitas tempat buang air besar terendah
terdapat di Provinsi Gorontalo sebesar 31,82% diikuti oleh Nusa Tenggara Barat
sebesar 37,76% dan Maluku Utara sebesar 44,21%. Persentase rumah tangga
menurut fasilitas tempat buang air besar, tipe daerah dan provinsi tahun 2008 dapat
dilihat pada Lampiran 2.12.
GAMBAR 2.12
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT
KEPEMILIKAN FASILITAS TEMPAT BUANG AIR BESAR
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : BPS, Susenas Tahun 2008

Rumah tangga yang menggunakan jamban leher angsa sebesar 74,67%,


cemplung/cubluk sebesar 13,19%, dan yang tidak pakai kloset sebesar 3,70%.
Penggunaan jenis kloset leher angsa di perkotaan lebih besar dibanding di perdesaan.
Sementara penggunaan jenis kloset cemplung/cubluk di perdesaan 5 kali lipat lebih
banyak dibanding di perkotaan. Persentase rumah tangga menurut jenis kloset dan
provinsi tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 2.13, 2.13.a dan Lampiran 2.13.b.
Berdasarkan tempat akhir pembuangan tinja, terlihat bahwa tangki septik
(53,33%) merupakan tempat penampungan akhir tinja yang paling banyak digunakan
rumah tangga, terutama di daerah perkotaan yang mencapai 72,29% sedangkan di
daerah perdesaan sebesar 35,39%. Namun di provinsi Nusa Tenggara Timur dan
Lampung sebagian besar penduduknya memilih lubang tanah sebagai tempat

16

penampungan akhir tinja (51,33% dan 42,85%). Persentase rumah tangga menurut
tempat pembuangan akhir tinja dan provinsi tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran
2.14, 2.14.a dan Lampiran 2.14.b.
6. Luas Lantai
Pertambahan penduduk baik di perkotaan maupun perdesaan berdampak
negatif terhadap terhadap perbandingan antara jumlah luas lantai hunian terhadap
penghuni dan berkurangnya ruang terbuka pada area pemukiman. Hal ini tentu saja
memiliki implikasi terhadap status kesehatan masyarakat penduduk. Jumlah
penduduk sangat berpengaruh terhadap jumlah koloni kuman. Kuman yang pada
umumnya adalah penyebab penyakit menular saluran napas semakin banyak bila
jumlah penghuni semakin banyak.
Ukuran rumah yang relatif kecil dan berdesak-desakan diketahui juga dapat
mempengaruhi tumbuh kembang mental atau jiwa anak-anak. Anak-anak
memerlukan lingkungan bebas, tempat bermain luas yang mampu mendukung daya
kreatifitasnya. Dengan kata lain, rumah bila terlampau padat di samping merupakan
media yang cocok untuk terjadinya penularan penyakit khususnya penyakit saluran
napas juga dapat mempengaruhi perkembangan anak.
Susenas tahun 2008 menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga
memiliki luas lantai 50-99 m2, sebesar 43,08%, diikuti oleh rumah tangga dengan
luas lantai 20-49 m2, sebesar 34,60% dan rumah tangga dengan luas lantai 100-149
m2 sebesar 10,43%. Persentase rumah tangga menurut luas lantai tempat tinggal
(m2), tipe daerah, dan provinsi tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 2.15.
7. Jenis Lantai
Apabila dilihat berdasarkan jenis lantai terluas yang ditempati, sebagian besar
rumah tangga menempati rumah yang berlantai bukan tanah. Persentase penggunaan
lantai bukan tanah di seluruh Indonesia sudah mencapai di atas 80%, dimana DKI
Jakarta merupakan provinsi dengan lantai terluas yang tertinggi dengan persentase
98,20% dan Nusa Tenggara Timur merupakan yang terendah dengan persentase
58,99%. Bila dibandingkan menurut tipe daerah, rumah tangga di perkotaan yang
lantai rumahnya bukan dari tanah lebih banyak dibandingkan dengan rumah tangga
di perdesaan (94,10% berbanding 81,32%). Persentase rumah tangga menurut jenis
lantai terluas, tipe daerah, dan provinsi tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 2.16.
8. Jenis Dinding
Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat juga dapat dilihat menurut
penggunaan jenis dinding, yaitu berupa tembok, kayu, bambu atau lainnya. Secara
nasional sebanyak 65,49% rumah tangga menggunakan dinding tembok, dengan
persentase tertinggi di Bali (93,67%) dan terendah di Kalimantan Selatan (14,23%).

17

Persentase rumah tangga menurut jenis dinding, tipe daerah, dan provinsi tahun 2008
dapat dilihat pada Lampiran 2.17.

E. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT


Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh
terhadap derajat kesehatan, akan disajikan beberapa indikator yaitu: persentase
penduduk yang menderita sakit selama bulan referensi, persentase penduduk yang
berobat jalan dan mengobati sendiri selama sebulan yang lalu, menurut tempat
tinggal (perkotaan dan perdesaan), persentase penduduk yang berobat jalan selama
sebulan yang lalu menurut tempat/cara berobat. Indikator yang disajikan mengacu
pada Susenas tahun 2008.
1. Penduduk yang Menderita Sakit selama Sebulan Referensi
Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan
penduduk adalah angka kesakitan. Berikut ini adalah tabel persentase penduduk yang
menunjukkan distribusi penduduk menurut tipe daerah, jenis kelamin dan keluhan
kesehatan dalam sebulan referensi tahun 2008.
Persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan secara nasional
adalah 33,24%. Provinsi yang persentase penduduk yang mempunyai persentase
keluhan kesehatan terbesar adalah Gorontalo 49,66%, Nusa Tenggara Timur 47,04%
dan Kalimantan Selatan 40,19%.
Dari beberapa jenis keluhan kesehatan yang dialami ada 3 jenis keluhan yang
paling banyak disampaikan dalam sebulan referensi pada tahun 2008, yaitu batuk
(15,24%), pilek (14,83%) dan panas (11,56%). Menurut tipe daerah. persentase
penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan lebih tinggi di daerah perdesaan
dibandingkan dengan perkotaan. Persentase rumah tangga menurut jenis keluhan
kesehatan, tipe daerah, dan provinsi tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 2.18,
2.18.a dan Lampiran 2.18.b.
Penduduk yang sakit sampai mengakibatkan terganggunya pekerjaan, sekolah
atau kegiatan sehari-hari selama sebulan yang lalu yaitu penduduk yang sakit kurang
dari 4 hari mencapai 49,44% dan yang mengalami sakit antara 4-7 hari sebesar
35,25%. Persentase penduduk yang menderita sakit selama bulan referensi menurut
provinsi dan jumlah hari sakit dapat dilihat pada Lampiran 2.19, 2.19.a dan Lampiran
2.19.b.
2. Upaya Penduduk dalam Pencarian Pengobatan
Susenas tahun 2008 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang memilih
untuk mengobati sendiri keluhan kesehatan yang dialami selama sebulan yang lalu
ternyata lebih besar dibandingkan persentase penduduk yang berobat jalan.

18

Sebanyak 65,59% penduduk yang memiliki keluhan kesehatan selama


sebulan referensi memilih untuk mengobati sendiri. Sedangkan yang memilih untuk
berobat jalan hanya sebesar 44,37% dari seluruh penduduk yang memiliki keluhan
kesehatan selama sebulan referensi.
Dari seluruh penduduk yang memiliki keluhan kesehatan selama sebulan
referensi dan memutuskan untuk berobat jalan sebagian besar berada di Provinsi
Bali, yaitu 55,04% yang diikuti oleh Sumatera Barat 50,75% dan DKI Jakarta
sebesar 50,71%. Sedangkan provinsi dengan persentase terendah adalah Sulawesi
Tenggara sebesar 28,03%, Kalimantan Tengah sebesar 28,10%, dan Maluku sebesar
31,97%.
Dalam hal keputusan untuk mengobati sendiri keluhan kesehatan yang
dialami selama sebulan referensi, Provinsi Maluku Utara menempati urutan teratas
dengan persentase sebesar 81,64%, diikuti oleh Gorontalo sebesar 78,79% dan
Kalimantan Selatan sebesar 78,01%. Sedangkan provinsi dengan persentase terendah
adalah Papua sebesar 50,72%, Bali sebesar 51,85% dan Nusa Tenggara Timur
sebesar 55,68%. Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.20.
Dari penduduk yang mengobati sendiri, 90,49% di antaranya menggunakan
obat modern, 22,26% menggunakan obat tradisional dan 5,53% menggunakan jenis
obat lainnya. Persentase penduduk yang mengobati sendiri selama bulan referensi
menurut provinsi, jenis obat yang digunakan, dan tipe daerah tahun 2008 dapat
dilihat pada Lampiran 2.21.
3. Tempat Penduduk Berobat Jalan
Persentase penduduk yang memiliki keluhan kesehatan selama sebulan
referensi dan memutuskan untuk berobat jalan, dikelompokkan berdasarkan tempat
berobat, yaitu Rumah Sakit Pemerintah, Rumah Sakit Swasta, Praktek Dokter,
Puskesmas/Pustu (Puskesmas Pembantu), Praktek Nakes (tenaga kesehatan), Praktek
Batra (Pengobatan Tradisional) dan Dukun. Menurut Susenas tahun 2008, tempat
yang paling banyak dikunjungi adalah Puskesmas/Pustu yaitu sebesar 35,50%,
diikuti oleh praktek Dokter sebesar 30,11%, dan Petugas Kesehatan sebesar 28,82%.
GAMBAR 2.13
PERSENTASE PENDUDUK YANG BEROBAT JALAN
MENURUT TEMPAT/CARA BEROBAT DI INDONESIA TAHUN 2008

19

Sumber : BPS, Susenas Tahun 2008

GAMBAR 2.14
PERSENTASE PENDUDUK YANG BEROBAT JALAN KE PUSKESMAS/PUSTU
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : BPS, Susenas Tahun 2008

Pada tahun 2008, tercatat provinsi dengan persentase penduduk yang berobat
jalan ke Puskesmas/Pustu terbesar adalah Papua Barat sebesar 73,83%, diikuti oleh
Nusa Tenggara Timur sebesar 73,36% dan Papua 72,36%. Sedangkan provinsi
dengan persentase penduduk yang berobat jalan ke Puskesmas/Pustu terendah adalah
Sumatera Utara sebesar 20,28%, diikuti oleh Jawa Timur sebesar 26,18% dan Riau
sebesar 28,75%. Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.22.
4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Berdasarkan Riskesdas 2007, persentase rumah tangga yang memenuhi
kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan kategori baik secara

20

nasional sebesar 38,7%. Provinsi yang memiliki persentase di atas 38,7% ada 5
provinsi yaitu DI Yogyakarta (58,2%), Bali (51,7%), Kalimantan Timur (49,8%),
Jawa Tengah (47%) dan Sulawesi Utara (46,9%). Provinsi dengan persentase PHBS
yang rendah adalah Papua (24,4%), Nusa Tenggara Timur (26,8%), Gorontalo
(27,8%), Riau (28,1%) dan Sumatera Barat (28,2%).
Persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan
sehat yang baik menurut provinsi secara rinci disajikan pada Lampiran 2.23.
5. Perilaku Higienis
Perilaku higienis yang disurvey dalam Riskesdas tahun 2007 meliputi
kebiasaan buang air besar (BAB) dan kebiasaan mencuci tangan. Perilaku BAB yang
benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban dan mencuci tangan yang benar
adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, sebelum
menyiapkan makanan, setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak dan
setelah memegang unggas/binatang.
Data dari Riskesdas 2007 secara nasional menunjukkan 71,1% penduduk 10
tahun ke atas berperilaku benar dalam kebiasaan BAB, tetapi hanya 23,2% yang
mempunyai kebiasaan cuci tangan yang baik. Provinsi yang mempunyai persentase
tertinggi dalam perilaku higienis ini adalah DKI Jakarta yaitu 98,6% dalam perilaku
BAB dan 44,7% dalam kebiasaan cuci tangan yang benar.
Provinsi yang persentasenya rendah dalam perilaku BAB ini adalah Sulawesi
Barat (57,4%), Gorontalo (59,2%) dan Sumatera Barat (59,3%). Sedangkan provinsi
yang persentasenya rendah dalam perilaku cuci tangan adalah Sumatera Barat (8,4%,
Sumatera Utara (14,5%) dan Riau (14,6%).
Persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam BAB
dan cuci tangan yang baik menurut provinsi secara rinci disajikan pada Lampiran
2.24.
6. Perilaku Merokok
Berdasarkan Riskesdas tahun 2007, persentase penduduk umur 10 tahun ke
atas 23,7% merokok setiap hari, 5,5% merokok kadang-kadang, 3,0% adalah mantan
perokok dan 67,8% bukan perokok.
GAMBAR 2.15
PERSENTASE PENDUDUK UMUR 10 TAHUN KE ATAS MENURUT
KEBIASAAN MEROKOK DI INDONESIA TAHUN 2008

21

Sumber : Badan Litbangkes, Riskesdas Tahun 2007

Menurut karakteristik responden, persentase penduduk yang merokok setiap


hari yang nilainya cukup tinggi adalah pada kelompok umur produktif (25-64 tahun)
dengan rentang antara 29% sampai 32%, di samping itu hampir separuh penduduk
laki-laki yang merokok setiap hari (45,8%). Menurut tingkat pendidikan, persentase
tertinggi penduduk yang merokok setiap hari adalah pada penduduk tamat SLTA.

GAMBAR 2.16
PERSENTASE PENDUDUK UMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT KEBIASAAN MEROKOK DAN JENIS KELAMIN
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Badan Litbangkes, Riskesdas Tahun 2007

Prevalensi perokok saat ini yang terdiri dari perokok setiap hari dan perokok
kadang-kadang adalah 29,2%. Prevalensi perokok tertinggi adalah di Provinsi
Lampung (34,3%), Bengkulu (34,1%) dan Gorontalo (32,6%). Berdasarkan rata-rata
jumlah batang rokok yang dihisap oleh perokok saat ini adalah 12 batang per hari.

22

Jumlah batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi adalah di Nanggroe Aceh
Darussalam (19 batang), Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16
batang rokok.
Persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut kebiasaan merokok, jumlah
rokok yang dihisap, usia mulai merokok dan provinsi secara rinci disajikan pada
Lampiran 2.25, 2.26 dan Lampiran 2.27.
7. Perilaku Minum Minuman Beralkohol
Kebiasaan minum alkohol merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya
risiko kesehatan. Berdasarkan Riskesdas 2007, secara nasional prevalensi penduduk
umur 10 tahun ke atas yang minum minuman alkohol selama 12 bulan terakhir
sebesar 4,6%, dan yang masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir sebesar 3,0%.
Provinsi yang prevalensi minum alkoholnya termasuk tinggi adalah Nusa Tenggara
Timur (17,7%), Sulawesi Utara (17,4%) dan Gorontalo (12,3%).
Berdasarkan karakteristik umur peminum alkohol, prevalensi peminum
alkohol 12 bulan terakhir dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 1524 tahun sebesar 5,5% dan 3,5%, kemudian meningkat menjadi 6,7% dan 4,3% pada
umur 25-34 tahun, dan selanjutnya prevalensi menurun dengan bertambahnya umur.
Menurut jenis kelamin, maka prevalensi peminum alkohol lebih besar pada laki-laki
dibandingkan perempuan. Menurut pendidikan, prevalensi peminum alkohol yang
tinggi terdapat pada peminum yang berpendidikan tamat SLTP dan tamat SLTA.
Persentase penduduk umur 10 tahun ke atas menurut kebiasaan minum
minuman alkohol dan provinsi secara lebih rinci disajikan pada Lampiran 2.28.
8. Perilaku Kurang Makan Buah dan Sayur
Berdasarkan Riskesdas 2007, penduduk dikategorikan cukup konsumsi sayur
dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu. Secara
nasional, persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang mempunyai kebiasaan
kurang makan buah dan sayur sebesar 93,6%. Provinsi yang persentasenya tertinggi
dalam kebiasaan kurang makan buah dan sayur adalah Riau (97,9%) dan Sumatera
Barat (97,8%). Sedangkan yang terendah adalah Gorontalo (83,5%), DI Yogyakarta
(86,1%) dan Lampung (87,7%).
Persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut kebiasaan makan buah dan
sayur dan provinsi secara lebih rinci disajikan pada Lampiran 2.29.
***

23

Derajat kesehatan masyarakat Indonesia ditentukan oleh banyak faktor, tidak hanya
ditentukan oleh pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan,
namun juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan, dan
faktor lainnya. Faktor-faktor ini berpengaruh pada kejadian morbiditas, mortalitas dan
status gizi di masyarakat. Angka morbiditas, mortalitas dan status gizi dapat
menggambarkan keadaan dan situasi derajat kesehatan masyarakat. Angka ini juga dapat
digunakan untuk perencanaan bidang kesehatan. Situasi derajat kesehatan masyarakat pada
tahun 2008 dapat dilihat melalui keadaan morbiditas, mortalitas dan status gizi berikut ini.
A. MORTALITAS
Mortalitas adalah angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat
tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu. Berikut ini adalah angka kematian pada
bayi, balita, ibu, angka kematian kasar, dan umur harapan hidup.
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Infant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi
yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran
hidup pada tahun yang sama.
AKB merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat
kesehatan masyarakat, baik pada tingkat provinsi maupun nasional. Selain itu, programprogram kesehatan di Indonesia banyak yang menitikberatkan pada upaya penurunan AKB.
GAMBAR 3.1
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA TAHUN 1991 S.D TAHUN 2007

Sumber: BPS, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007

24

Secara umum dari tahun ke tahun terjadi penurunan AKB. Hasil Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 diperoleh estimasi AKB di Indonesia sebesar
34 per 1.000 kelahiran hidup. Perkembangan AKB hasil estimasi SDKI tahun 1991-2007
dapat dilihat pada Gambar 3.1 di atas. Perlu diperhatikan bahwa pengukuran angka
kematian SDKI tersebut mengestimasikan Angka Kematian Bayi dalam periode 5 tahun
terakhir sebelum survei, misalnya pada SDKI tahun 2007 diperoleh AKB untuk periode 5
tahun sebelumya yaitu tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup.
Kecenderungan penurunan AKB dapat dipengaruhi oleh pemerataan pelayanan
kesehatan berikut fasilitasnya. Pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berperan
melalui perbaikan gizi yang pada gilirannya mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap
serangan penyakit.
AKB hasil SDKI tahun 2007 untuk masing-masing provinsi merupakan estimasi
AKB dalam periode 10 tahun sebelum survei (1998-2007). AKB terendah dimiliki oleh
Provinsi DI Yogyakarta sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup, diikuti Nanggroe Aceh
Darussalam sebesar 25 per 1.000 kelahiran hidup, dan Kalimantan Timur serta Jawa
Tengah sebesar 26 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB tertinggi dimiliki oleh
Provinsi Sulawesi Barat (74/1.000 kelahiran hidup), diikuti oleh Nusa Tenggara Barat
(72/1.000 kelahiran hidup) dan Sulawesi Tengah (60/1.000 kelahiran hidup). Besarnya
AKB per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.2. Distribusi Angka Kematian Bayi menurut
provinsi di Indonesia dapat dilihat pada Lampiran 3.1.
GAMBAR 3.2
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber: BPS, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007

Data mengenai kematian bayi dapat juga dilihat dari data kematian di Rumah sakit.
Jumlah lahir mati dan jumlah lahir hidup di rumah sakit 6 tahun terakhir dapat dilihat pada
Tabel 3.1 berikut.

25

TABEL 3.1
JUMLAH KEMATIAN BAYI DAN KELAHIRAN HIDUP
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003 2007

Tahun

Jumlah RS

Jumlah Lahir
Mati

Jumlah Kelahiran
Hidup di Rumah Sakit

2003
1,234
3,160
2004
1,246
3,321
2005
1,268
3,220
2006
1,292
3,041
2007
1,319
3,354
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI 2009

135,094
109,297
132,745
116,991
138,282

2. Angka Kematian Balita (AKABA)


AKABA adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal
sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup.
Nilai normatif AKABA > 140 sangat tinggi, antara 71 140 tinggi, 20-70 sedang dan < 20
rendah (Pedoman MDGs).
Angka Kematian Balita atau AKABA menggambarkan peluang terjadinya kematian
pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Dari hasil SDKI tahun 2007
diestimasikan AKABA untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 44 per
1.000 kelahiran hidup.
Gambaran perkembangan AKABA hasil SDKI tahun 1991 2007 disajikan pada
Gambar 3.3 berikut ini, di mana tahun menunjukkan waktu pelaksanaan SDKI dan
AKABA diestimasi untuk periode 5 tahun terakhir sebelum survei.
GAMBAR 3.3
ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA TAHUN 1991 2007

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2008

SDKI tahun 2007 dapat mengestimasi AKABA masing-masing provinsi untuk 10


tahun sebelum survei (1998-2007). Diperoleh hasil bahwa provinsi dengan AKABA
tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1.000 kelahiran hidup, diikuti oleh Maluku
sebesar 93 per 1.000 kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per 1.000
kelahiran hidup. Sedangkan AKABA terendah dimiliki oleh Provinsi DI Yogyakarta
sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup, diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 32 per 1000
26

kelahiran hidup dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Besarnya
AKABA per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.4.
GAMBAR 3.4
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber : BPS, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007

Rincian AKABA menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.1.


3. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu
penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak
termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa
nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000
kelahiran hidup.
Indikator ini secara langsung digunakan untuk memonitor kematian terkait dengan
kehamilan. AKI dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk status kesehatan secara umum,
pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.
Angka Kematian Ibu bersama dengan Angka Kematian Bayi senantiasa menjadi
indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. AKI mengacu pada jumlah
kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Hasil Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5
tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini
turun dibandingkan AKI hasil SDKI tahun 2002-2003 yang mencapai 307 per 100.000
kelahiran hidup.
Pada Gambar 3.5 berikut terlihat bahwa AKI dari hasil SDKI 1994-2007
menunjukkan kecenderungan penurunan. Tahun pada grafik menunjukkan tahun
pelaksanaan survei.

27

GAMBAR 3.5
ANGKA KEMATIAN IBU (PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP)
DI INDONESIA TAHUN 1994-2007

Sumber : Badan Pusat Statistik,2008

Sedangkan jumlah kematian ibu dan jumlah kelahiran hidup di rumah sakit pada
tahun 2003- 2007 dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut.
TABEL 3.2
JUMLAH KEMATIAN IBU MATERNAL DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2003 2008

Tahun
2003
2004
2005
2006
2007
2008

Jumlah Kematian
Ibu
153
956
116
237
170
505

Jumlah Lahir
Hidup
135,094
109,297
132,745
116,991
138,282
139,086

Sumber : Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI, 2009

4. Angka Kematian Kasar (AKK)


Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan
tempat tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun.
Angka Kematian Kasar (AKK) yang diestimasikan berdasarkan hasil SUPAS 2005,
menyebutkan bahwa AKK tahun 2007 sebesar 6,9 per 1.000 penduduk. Angka ini tidak
berubah sejak tahun 2005.
Dalam Riskesdas 2007 didapatkan mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33
provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4.552 kejadian kematian dari 258.488
rumah tangga responden. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1.000, yaitu
4.552 per 1.163.196 (=258.488 RT yang berhasil diwawancarai x 4,5 rata-rata jumlah
ART).
Tabel 3.3 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur
adalah stroke (15,4%), yang disusul oleh TB (7,5%), Hipertensi (6,8%) dan cedera (6,5%).
Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001, menurut empat (4) kelompok
penyebab kematian, tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi
epidemiologi dengan meningkatnya proporsi penyakit tidak menular, yang diikuti dengan
transisi demografi.
28

TABEL 3.3
POLA PENYEBAB KEMATIAN SEMUA UMUR
RISKESDAS 2007
No

Penyebab Kematian

Strok
1
TB
2
Hipertensi
3
Cedera
4
Perinatal
5
Diabetes Mellitus
6
Tumor ganas
7
Penyakit hati
8
Penyakit jantung iskemik
9
10 Penyakit saluran nafas bawah
11 Penyakit jantung
12 Pneumonia
13 Diare
14 Ulkus lambung dan usus dua belas jari
15 Tifoid
16 Malaria
17 Meningitis Ensefalitis
18 Malformasi kongenital
19 Dengue
20 Tetanus
21 Septikemi
22 Malnutrisi
Sumber: Laporan Riskesdas 2007

Proporsi Kematian (%)


15.4
7.5
6.8
6.5
6.0
5.7
5.7
5.1
5.1
5.1
4.6
3.8
3.5
1.7
1.6
1.3
0.8
0.6
0.5
0.5
0.3
0.2

Gambar 3.6 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam


12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44% menjadi 28%, dan proporsi penyakit tidak
menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42% menjadi 60%. Proporsi gangguan
maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan, sehingga
membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.
GAMBAR 3.6
DISTRIBUSI KEMATIAN PADA SEMUA UMUR MENURUT KELOMPOK PENYAKIT
SKRT 1995-2001 DAN RISKESDAS 2007

Sumber: SKRT dan Laporan Riskesdas 2007

29

Angka kematian di rumah sakit (Gross Death Rate) pada periode 2003 - 2007
berada pada kisaran 3,3 - 4,7% seperti dapat dilihat dalam Tabel 3.4.
TABEL 3.4
ANGKA KEMATIAN KASAR DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2001- 2008
Jumlah pasien
Jumlah Mati
keluar
2003
2,270,657
81,943
2004
2,140,954
99,615
2005
2,561,106
85,567
2006
2,233,204
84,214
2007
2,687,996
94,700
2008
2,775,813
100,410
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI, 2009
Tahun

%
3.61
4.65
3.34
3.77
3.52
3.62

Tabel 3.5 dan 3.6 berikut menyebutkan 10 penyebab kematian terbanyak pada
penderita rawat inap di rumah sakit pada tahun 2007 dan 2008.
TABEL 3.5.
10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN MENURUT GOLONGAN SEBAB SAKIT
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007
No

Golongan Sebab Sakit

1
2
3
4
5

Penyakit Sistem Sirkulasi Darah


Penyakit Infeksi & Parasit Tertentu
Kondisi Tertentu yang bermula pada masa Perinatal
Penyakit Sistem Napas
Penyakit Sistem Cerna
Cedera, Keracunan dan Akibat Sebab Luar Tertentu
6
Lainnya
7 Penyakit Endokrin, Nutrisi & Metabolik
8 Neoplasma
9 Penyakit Sistem Kemih Kelamin
Gejala, Tanda & Penemuan Laboratorium, Klinik
10
Abnormal YTK
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI, 2009

30

Jumlah
Pasien Mati

CFR (%)

21,830
14,323
9,822
7,214
6,590

11.02
2.52
11.89
3.65
2.93

5,945

2.94

5,277
4,585
4,557

6.73
4.82
3.75

3,967

2.60

TABEL 3.6
10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2008
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Golongan Sebab Sakit


Penyakit Sistem Sirkulasi Darah
Penyakit Infeksi & Parasit Tertentu
Kondisi Tertentu yang bermula pada masa Perinatal
Penyakit Sistem Napas
Penyakit Sistem Cerna
Cedera, Keracunan dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya
Penyakit Endokrin, Nutrisi & Metabolik
Penyakit Sistem Kemih Kelamin
Neoplasma
Gejala, Tanda & Penemuan Laboratorium, Klinik Abnormal YTK

Pasien
Mati
23,163
16,769
9,108
8,190
6,825
5,767
5,585
4,542
4,332
4,238

CFR (%)
11.06
2.89
9.74
3.99
2.91
2.99
6.73
3.56
4.70
2.80

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik (data sementara yang diterima s.d. Agustus 2009)

Pada Tabel 3.5 dan Tabel 3.6 terlihat bahwa penyakit sistem sirkulasi darah
merupakan penyakit yang menempati urutan teratas sebagai penyakit utama penyebab
kematian di rumah sakit baik pada tahun 2007 maupun 2008. Penyakit sirkulasi darah pada
tahun 2007 menyebabkan kematian sebanyak 21.830 orang dengan Case Fatality Rate
(CFR) 11,02% dan pada tahun 2008 menyebabkan kematian sebanyak 23.163 orang
dengan Case Fatality Rate (CFR) 11,06%.
5. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir
Selain AKB dan AKI, Umur Harapan Hidup (UHH) juga digunakan untuk menilai
derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat baik kabupaten/kota, provinsi, maupun
negara. UHH juga menjadi salah satu indikator dalam mengukur Indeks Pembangunan
Manusia. Adanya perbaikan pada pelayanan kesehatan melalui keberhasilan pembangunan
pada sektor kesehatan dapat diindikasikan dengan adanya peningkatan Umur Harapan
Hidup waktu lahir. Badan Pusat Statistik menyatakan UHH tahun 2007 sebesar 68,7,
terdapat sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2006 yang sebesar 68,5 dan tahun 2005
yang sebesar 68,1 tahun.
Provinsi dengan UHH tertinggi pada tahun 2007 adalah DI Yogyakarta, yaitu
sebesar 73,1 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 72,8 dan Sulawesi Utara sebesar 72,0
tahun. Sedangkan Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi dengan UHH terendah, yaitu
sebesar 61,2 tahun, yang diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 62,6 tahun dan Banten
sebesar 64,5 tahun. Data lebih rinci menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.1.

B. MORBIDITAS
Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi atau prevalensi) dari suatu penyakit
yang terjadi pada populasi dalam kurun waktu tertentu. Morbiditas berhubungan dengan
terjadinya atau terjangkitnya penyakit di dalam populasi, baik fatal maupun non-fatal.
Angka morbiditas lebih cepat menentukan keadaan kesehatan masyarakat daripada angka
mortalitas, karena banyak penyakit yang mempengaruhi kesehatan hanya mempunyai
31

mortalitas yang rendah. Berikut ini akan disajikan mengenai pola 10 penyakit terbanyak di
rumah sakit, penyakit menular, dan penyakit tidak menular .
1. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit
Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2007
menurut bab ICD-10 menunjukkan pasien yang paling banyak berkunjung adalah pasien
dengan penyebab faktor yang mempengaruhi keadaan kesehatan dan yang berhubungan
dengan pelayanan kesehatan, kemudian disusul dengan penyakit sistem pernapasan,
gejala, tanda dan penemuan laboratorium, klinik abnormal YTK, penyakit sistem cerna,
dan penyakit infeksi dan parasit tertentu, seperti dapat dilihat pada Tabel 3.7 berikut ini.
Perincian jumlah pasien rawat jalan di rumah sakit menurut bab pada ICD-10 tahun 2007
dapat dilihat pada Lampiran 3.3.a.
TABEL 3.7
POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN
DI RUMAH SAKIT TAHUN 2007
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Golongan Sebab Sakit


Faktor yg Mempengaruhi Keadaan Kesehatan & yg
Berhubungan dengan Pelayanan Kesehatan
Penyakit Sistem Napas
Gejala, Tanda & Penemuan Laboratorium, Klinik
Abnormal YTK
Penyakit Sistem Cerna
Penyakit Infeksi & Parasit Tertentu
Cedera, Keracunan dan Akibat Sebab Luar Tertentu
Lainnya
Penyakit Mata dan Adneksa
Penyakit Sistem Sirkulasi Darah
Penyakit Sistem Kemih Kelamin
Penyakit Sistem Muskuloskeletal dan Jaringan Ikat

Jumlah
Kunjungan

Admission
Rate

2,142,968

1.71

1,762,200

1.01

1,246,455

1.87

1,195,670
1,143,694

1.02
1.08

955,081

1.85

723,844
545,482
529,743
500,640

1.01
1.01
2.09
1.79

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik 2009

Sedangkan untuk tahun 2008, pasien yang paling banyak berkunjung adalah pasien
dengan penyakit sistem pernapasan, kemudian disusul dengan faktor yang mempengaruhi
keadaan kesehatan dan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan, penyakit sistem
cerna, penyakit infeksi dan parasit tertentu, dan penyakit sistem sirkulasi darah seperti
dapat dilihat pada Tabel 3.8 berikut ini. Perincian jumlah pasien rawat jalan di rumah sakit
menurut bab pada ICD-10 tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 3.3.

32

TABEL 3.8
POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN
DI RUMAH SAKIT TAHUN 2008
No
1

7
8
9

Penyakit Sistem Napas


Faktor yg Mempengaruhi Keadaan Kesehatan & yg
Berhubungan dengan Pelayanan Kesehatan
Penyakit Sistem Cerna
Penyakit Infeksi & Parasit Tertentu
Penyakit Sistem Sirkulasi Darah
Gejala, Tanda & Penemuan Laboratorium, Klinik Abnormal
YTK
Penyakit Mata dan Adneksa
Penyakit Endokrin, Nutrisi & Metabolik
Penyakit Sistem Muskuloskeletal dan Jaringan Ikat

10

Cedera, Keracunan dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya

2
3
4
5
6

Admission
Rate

Jumlah
Kunjungan

Golongan Sebab Sakit

469,067

1.86

463,664

1.91

360,247
344,635
324,656

1.68
1.95
2.84

211,419

1.46

181,210
180,926
175,132

1.76
3.99
2.98

168,123

1.41

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, 2009

Tabel 3.9 berikut menunjukkan pola 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di
rumah sakit tahun 2007 menurut ICD-10. Pasien rawat inap terbanyak adalah pasien
dengan penyakit infeksi dan parasit tertentu, kemudian disusul pasien kehamilan,
persalinan dan masa nifas. Akan tetapi kematian atau Case Fatality Rate (CFR) terbesar
adalah kematian dari pasien dengan alasan kondisi tertentu yang bermula pada masa
perinatal, kemudian disusul dengan pasien dari penyakit sistem sirkulasi darah. Perincian
jumlah pasien rawat inap di rumah sakit menurut bab pada ICD-10 tahun 2007 dapat
dilihat pada Lampiran 3.4.a.
TABEL 3.9
DISTRIBUSI PASIEN RAWAT INAP MENURUT BAB ICD-X
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007
No

Golongan Sebab Sakit

Jumlah

1
2
3

Penyakit Infeksi & Parasit Tertentu


Kehamilan, Persalinan & Masa Nifas
Penyakit Sistem Cerna
Cedera, Keracunan dan Akibat Sebab Luar Tertentu
4
Lainnya
5 Penyakit Sistem Sirkulasi Darah
6 Penyakit Sistem Napas
Faktor yg Mempengaruhi Keadaan Kesehatan & yg
7
Berhubungan dengan Pelayanan Kesehatan
Gejala, Tanda & Penemuan Laboratorium, Klinik
8
Abnormal YTK
9 Penyakit Sistem Kemih Kelamin
10 Neoplasma
Sumber: Ditjen Yanmedik 2009

Pasien Mati

CFR (%)

568,981
335,221
225,212

14,323
887
6,590

2.52
0.26
2.93

202,100

5,945

2.94

198,180
197,780

21,830
7,214

11.02
3.65

188,052

778

0.41

141,857

3,967

2.60

121,538
95,070

4,557
4,585

3.75
4.82

Pada tahun 2008, data yang terkumpul sampai dengan bulan Agustus 2009
menunjukkan pasien rawat inap terbanyak masih sama dengan tahun 2007 yaitu penyakit
infeksi dan parasit tertentu, kemudian disusul pasien kehamilan, persalinan dan masa nifas.
33

Sedangkan CFR terbesar terjadi pada penyakit sistem sirkulasi darah disusul penyakit
susunan saraf. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.10 di bawah ini dan Lampiran 3.4.
TABEL 3.10
DISTRIBUSI PASIEN RAWAT INAP MENURUT BAB ICD-X
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2008
Jumlah Pasien
Golongan Sebab Sakit
Baru

No
1
2
3
4

Penyakit Sistem Sirkulasi Darah


Penyakit Susunan Syaraf
Kondisi Tertentu yang bermula pada masa Perinatal
Penyakit Endokrin, Nutrisi & Metabolik

Malformasi, Deformasi Kongenital & Kelainan Kromosom

6
7

Neoplasma
Penyakit Sistem Napas

Penyakit Darah & Organ Pembuat Darah & Gangguan tertentu


yang Melibatkan Mekanisme Imun

9
10

Penyakit Sistem Kemih Kelamin


Sebab Luar Morbiditas & Mortalitas

Pasien
Mati

CFR (%)

209,347
31,082
93,466
83,045

23,163
3,218
9,108
5,585

11.06
10.35
9.74
6.73

12,030

605

5.03

92,110
205,076

4,332
8,190

4.70
3.99

31,069

1,223

3.94

127,742
63,707

4,542
2,046

3.56
3.21

Sumber: Ditjen Yanmedik 2009

2. Penyakit Menular
a. Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit (plasmodium) yang
ditularkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi (vektor-borne disease). Pada tubuh manusia,
parasit membelah diri dan bertambah banyak di dalam hati dan kemudian menginfeksi sel
darah merah.
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendalian dan
penurunan kasusnya merupakan komitmen internasional dalam Millenium Development
Goals (MDGs). Kasus malaria di Indonesia secara umum menunjukkan kecenderungan
menurun, namun masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat.
GAMBAR 3.7a
ANNUAL PARASITE INSIDENCE MALARIA ()
DI JAWA BALI TAHUN 2000 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

34

GAMBAR 3.7b
ANNUAL MALARIA INSIDENCE ()
DI LUAR JAWA BALI TAHUN 2000 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Pada Gambar 3.7a dan 3.7b dapat diketahui baik API maupun AMI menunjukkan
kecenderungan penurunan selama periode 2000-2008. API tahun 2000 yang berada pada angka
0,81 per 1.000 penduduk terus turun hingga 0,15 per 1.000 penduduk pada tahun 2004. Angka
ini meningkat menjadi 0,19 pada tahun 2006, untuk kemudian kembali turun hingga berada
pada angka 0,16 per 1.000 penduduk pada tahun 2007 dan 2008. Kecenderungan penurunan
juga ditunjukkan oleh AMI. Pada periode tahun 2000-2004 AMI cenderung menurun dari 31,09
menjadi 21,2 per 1.000 penduduk. Angka ini naik pada tahun 2005 menjadi 24,75, dan
kemudian terus mengalami penurunan sampai pada tahun 2008 menjadi 16,82 per 1.000
penduduk.
Di provinsi luar Jawa dan Bali, AMI tertinggi adalah di Papua Barat, yaitu sebesar
167,47 per 1.000 penduduk, diikuti oleh NTT (104,10), Papua (84,74) dan Maluku Utara
(51,42). Meskipun Papua Barat masih menjadi provinsi dengan AMI tertinggi pada tahun 2008,
angka ini telah banyak mengalami penurunan dari AMI tahun 2007 yang sebesar 346,04 per
1.000 penduduk. Sedangkan untuk wilayah Jawa dan Bali, API tertinggi adalah Provinsi Jawa
Timur sebesar 0,71 per 1.000 penduduk diikuti Jawa Barat sebesar 0,58 per 1.000 penduduk.
Sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Banten dan DI Yogyakarta yaitu masing-masing
sebesar 0,03 per 1.000 penduduk. Rincian API dan AMI menurut provinsi tahun 2008 dapat
dilihat pada Lampiran 3.5.
b. TB Paru

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium


tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ
tubuh lainnya. Penyakit ini menyebar dan ditularkan melalui udara, ketika orang yang
terinfeksi TB paru, batuk, bersin, berbicara atau meludah. Millenium Development Goals
(MDGs) menjadikan penyakit TB paru sebagai salah satu penyakit yang menjadi target untuk
diturunkan, selain malaria dan HIV dan AIDS.
Cakupan penemuan kasus TB paru menurut provinsi tahun 2008 yang tertinggi adalah di
Provinsi Sulawesi Utara yakni 89,6% diikuti DKI Jakarta sebesar 85,5% dan Banten sebesar
78,6% dari angka perkiraan kasus menular TB Paru.

35

GAMBAR 3.8
CAKUPAN PENEMUAN KASUS BARU TB BTA POSITIF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Kasus TB dapat dikategorikan menjadi BTA Positif, BTA Negatif, relaps/kambuh


dan ekstra paru. Perkembangan proporsi kasus TB menurut tipe/jenisnya dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
TABEL 3.11
HASIL CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA TB TAHUN 2001-2008
Penemuan Kasus
BTA Pos
Target

Tahun
Estimasi
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008

269,078
259.97
241,104
248,877
233,115
231,645
232,358
228,485

Realisasi

% CDR

Abs.

% CDR

Abs.

30
40
50
60
70
70
70
70

80,723
103,988
120,552
149,326
163,181
162,152
162,651
161,539

20
29
38
54
68.1
75.7
69.12
72.82

53,780
76,230
92,516
128,981
158,640
175,320
160,617
166,376

BTA Neg
Rotgen
Kambuh
Positive
2,822
3,731
4.07
4,429
4,446
4,227
3,915
3294

31,377
72,219
77,102
76,981
85,373
91,029
102,630
107,005

Ekstra
Paru
1,727
3,008
3,974
4,267
6,142
7,013
8,048
9,016

TB Anak
All Cases

5,360
1,884
26,492
30,728

Jumlah

89,706
155,188
177,662
214,658
259,969
277,589
275,210
298,329

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Proporsi kasus baru BTA positif menurut jenis kelamin di Indonesia pada tahun
2005 sampai tahun 2008 tidak banyak berubah, laki-laki berkisar 57-59% dan perempuan
40-43%.

36

GAMBAR 3.9
PROPORSI KASUS BARU BTA POSITIF MENURUT JENIS KELAMIN
DI INDONESIA TAHUN 2005 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

c. HIV & AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus (retrovirus) yang menginfeksi


sel-sel sistem imunologi sehingga merusak sistem kekebalan manusia. HIV dapat ditularkan
dari satu orang ke orang lain melalui kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi HIV,
misalnya melalui hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang
terkontaminasi, dan penularan dari ibu ke anak yang dilahirkan atau disusui.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi kesehatan seseorang
ketika HIV telah merusak sistem kekebalan terhadap penyakit.
Peningkatan kasus HIV dan AIDS terjadi setiap tahunnya. Sampai dengan Desember
2008, pengidap HIV positif yang terdeteksi adalah sebanyak 6.015 kasus. Sedangkan kumulatif
kasus AIDS sebanyak 16.110 kasus atau terdapat tambahan 4.969 kasus baru selama tahun
2008. Kematian karena AIDS hingga tahun 2008 sebanyak 3.362 kematian.
Pada Gambar 3.10 dapat dilihat adanya peningkatan kasus baru dan
penderita AIDS yang terjadi sampai tahun 2008.
GAMBAR 3.10
JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS
YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2001 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

37

kumulatif

Kasus AIDS telah terdeteksi di 32 provinsi, hanya provinsi Sulawesi Barat yang
belum tercatat adanya kasus AIDS. Jumlah kumulatif kasus AIDS dibandingkan jumlah
penduduk (case rate) sebesar 7,12 per 100.000 penduduk, case rate tertinggi di provinsi
Papua sebesar 129,35 per 100.000 penduduk.
Pada Gambar 3.11 terlihat bahwa provinsi dengan jumlah kasus AIDS terbanyak,
secara berurutan dari yang tertinggi adalah Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur,
Papua dan Bali.
GAMBAR 3.11
10 PROVINSI DI INDONESIA DENGAN KASUS AIDS TERBANYAK
S.D 31 DESEMBER 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Berdasarkan jenis kelamin, 74,9% penderita AIDS adalah laki-laki, 24,6%


perempuan dan 0,5% tidak tercatat jenis kelaminnya. Berdasarkan kelompok umur,
sebagian besar penderita AIDS berada pada usia produktif, yaitu kelompok umur 20-29
tahun sebesar 50,82% diikuti kelompok umur 30-39 tahun sebesar 29,36%.
Salah satu kelompok berisiko tinggi tertular HIV adalah penguna NAPZA suntik.
Kasus AIDS pada pengguna NAPZA suntik menunjukkan peningkatan yang tajam pada
periode tahun 2003-2006. Terjadi peningkatan sampai 13 kali lipat dari tahun 2003 yaitu
sebesar 120 kasus, menjadi 1.517 kasus baru pada tahun 2006. Pada tahun 2007 dan tahun
2008 terjadi sedikit penurunan jumlah kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA suntik,
yaitu sebanyak 1.437 kasus baru pada tahun 2007 menjadi 1.255 kasus baru pada tahun
2008. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.12 berikut ini.

38

GAMBAR 3.12
JUMLAH KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK DI INDONESIA
S.D 31 DESEMBER 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Berdasarkan jenis kelamin, 92% kasus AIDS pada pengguna NAPZA adalah lakilaki, 7% perempuan dan 1% tidak tercatat jenis kelaminnya. Berdasarkan umur, sebagian
besar juga terjadi pada usia produktif yaitu usia 20-29 tahun (65,2%) dan usia 30-39 tahun
(26,3%) seperti terlihat pada Gambar 3.13.
GAMBAR 3.13
PERSENTASE KUMULATIF KASUS AIDS PADA PENGGUNA
NAPZA SUNTIK BERDASARKAN GOLONGAN UMUR
DI INDONESIA s.d. 31 DESEMBER 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

d. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan padanan istilah bahasa
Inggris Acute Respiratory Infection (ARI) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang
salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran atas) hingga
alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah
dan pleura (selaput paru). Penyakit ISPA yang menjadi fokus program kesehatan adalah
Pneumonia, karena pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian anak.
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat
39

disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang ditemukan harus
mendapat tata laksana sesuai standar, dengan demikian angka penemuan kasus ISPA juga
menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA. Jumlah kasus ISPA di masyarakat
diperkirakan sebanyak 10% dari populasi. Target cakupan program ISPA nasional pada
Pneumonia Balita sebesar 76% dari perkiraan jumlah kasus, namun pada tahun 2008
cakupan penemuan kasus baru mencapai 18,81,% (laporan dari 26 provinsi).
Pada kasus Penumonia yang terjadi pada balita berdasarkan laporan 26 provinsi
tiga provinsi dengan cakupan tertinggi berturut-turut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat
sebesar 56,50%, Jawa Barat sebesar 42,50% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar
21,71%. Sedangkan cakupan terendah adalah Provinsi DI Yogyakarta sebesar 1,81%,
Kepulauan Riau sebesar 2,08%, dan NAD sebesar 4,56%. Data cakupan masing-masing
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.12.
e. Kusta

Kusta atau Lepra adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium leprae. Bila tidak ditangani dengan baik, Kusta dapat menjadi progresif,
menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata.
Strategi Global WHO menetapkan indikator eliminasi Kusta adalah angka
penemuan penderita (Newly Case Detection Rate, NCDR) yang menggantikan indikator
utama sebelumnya yaitu angka penemuan penderita terdaftar (prevalensi rate < 1/10.000
penduduk).
Prevalensi penyakit Kusta di Indonesia sejak tahun 2000 2008 tidak banyak
mengalami perubahan, hanya pada tahun 2008 ada penurunan sedikit dari tahun
sebelumnya. Sedangkan persebarannya hampir terdapat di seluruh provinsi di Indonesia,
dengan jumlah kasus Kusta yang berbeda-beda. Jumlah kasus Kusta terbanyak terdapat di
Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. (Lampiran 3.14)
NCDR penyakit Kusta di Indonesia sejak tahun 2005 hingga 2008 menunjukkan
penurunan hingga menjadi 0,76 per 10.000 penduduk pada tahun 2008. NCDR tertinggi
terdapat di Provinsi Papua Barat kemudian Provinsi Papua. Prevalensi dan NCDR per
provinsi selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.14.

40

GAMBAR 3.14
PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN PENDERITA BARU
DI INDONESIA TAHUN 2000 2008

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI 2009

Jumlah kasus Kusta di Indonesia pada tahun 2008 adalah 17.441 kasus terdiri dari
tipe PB 3.113 kasus dan tipe MB 14.328 kasus (Sumber Profil DitJen P2PL 2008).
Perkembangan jumlah penderita Kusta di Indonesia tahun 2003 - 2008 dapat dilihat
pada Tabel 3.12 berikut ini.
TABEL 3.12
JUMLAH PENDERITA KUSTA MENURUT TIPE
DAN ANGKA PENEMUAN PENDERITA PER 100.000 PENDUDUK
DI INDONESIA TAHUN 2003 2008
Tahun

Jumlah Kasus

Tipe PB

Tipe MB

2003
2004
2005
2006
2007
2008

15,550
16,572
18,735
18,300
17,726
17,441

3,594
3,615
3,859
3,550
3,643
3,113

11,956
12,957
14,876
14,750
14,083
14,328

NCDR
(per 100.000 pddk)
7.29
7.80
8.68
8.35
7.84
7.60

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI 2009

Dalam upaya penanggulangan penyakit kusta di Indonesia, salah satu indikator


yang digunakan untuk menilai keberhasilannya adalah angka proporsi cacat tingkat II
(kecacatan yang dapat dilihat dengan mata) dan proporsi anak di antara kasus baru. Angka
proporsi cacat tingkat II digunakan untuk menilai kinerja petugas dalam upaya penemuan
kasus. Angka proporsi cacat tingkat II yang tinggi mengindikasikan adanya keterlambatan
dalam penemuan penderita yang dapat diakibatkan rendahnya kinerja petugas dan
rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda-tanda dini penyakit kusta. Sedangkan
indikator proporsi anak di antara kasus baru mampu merepresentasikan penularan kusta
yang masih terjadi di masyarakat.

41

GAMBAR 3.15
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA
KASUS BARU DI INDONESIA TAHUN 2000-2008

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI 2009

Pada tahun 2008 angka kecacatan tingkat II di Indonesia mencapai 9,56%


meningkat dari angka tahun 2007 yang sebesar 8,8%. Di samping terjadi peningkatan,
angka ini masih berada di atas target indikator program, yaitu sebesar 5%. Provinsi yang
tertinggi angka tingkat kecacatannya adalah Sumatera Utara (22,87%) kemudian
Kalimantan Tengah (20,39%). Jumlah kasus baru dan kecacatan tingkat II menurut provinsi
pada tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 3.14.
Proporsi penderita berumur 0-12 tahun pada tahun 2008 menunjukkan angka
11,3%, meningkat dibandingkan tahun 2007 yang sebesar 10,2%. Tingginya proporsi
penderita usia 0-12 tahun (di atas target indikator program sebesar 5%) menunjukkan masih
adanya penularan Kusta pada masyarakat di Indonesia. Persentase Kusta tertinggi adalah
Provinsi Riau, yaitu sebesar 25,12%.
f. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
1) Tetanus Neonatorum

Tetanus adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bacillus Clostridium tetani,
yang masuk ke tubuh melalui luka. Tetanus Neonatorum (tetanus pada bayi baru lahir)
merupakan penyakit Tetanus yang masih terjadi di negara berkembang yang disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril.
Pada Tabel 3.13 terlihat bahwa pada tahun 2008 terjadi 165 kasus Tetanus
Neonatorum dengan kematian sejumlah 91 kasus atau CFR 55%. Dari kasus Tetanus
Neonatorum tersebut sebagian besar adalah bayi yang persalinannya ditolong oleh dukun
bersalin.

42

TABEL 3.13
JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM
DI 10 PROVINSI TAHUN 2008
% Penolong persalinan
No

Provinsi

Total Kasus

Meninggal

CFR

Tenaga
kesehatan

Dukun
bersalin

Tidak
diketahui

1 Banten

50

23

46

6.00

86.00

8.00

2 Jawa Barat

41

28

68

17.07

60.98

21.95

3 Sumatera Selatan

17

53

23.53

64.71

11.76

4 Jawa Timur

17

47

35.29

64.71

5 Riau

44

44.44

33.33

22.22

6 Lampung

67

33.33

66.67

7 Jawa Tengah

43

28.57

71.43

8 Sulawesi Tengah

71

28.57

57.14

14.29

9 Sumatera Barat

75

25.00

50.00

25.00

10 Sulawesi Selatan
4
Total
165
Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

2
91

50
55.15

0.00

100.00

2) Campak

Campak atau Morbili merupakan penyakit infeksi yang akut dan sangat menular,
dan sering terjadi pada anakanak. Campak dapat menular secara langsung maupun tidak
langsung melalui pernafasan yang terkontaminasi sekret orang yang terinfeksi, pada fase
catarhall (ditandai dengan bintik bintik merah di kulit, demam, conjunctivitis, bronchitis).
Pada Tabel 3.14 berikut ini menunjukkan bahwa kasus Campak pada tahun 2008
paling banyak terjadi di Provinsi Jawa Barat, yaitu sebanyak 3.424 kasus, dengan tidak ada
satu pun kasus terjadi pada orang yang telah divaksinasi. Data terinci menurut provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 3.17.
TABEL 3.14
10 PROVINSI JUMLAH KASUS CAMPAK TERBANYAK DAN STATUS VAKSINASI
TAHUN 2008
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Provinsi
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
Sumatera Selatan
Jawa Timur
Sulawesi Selatan
Lampung
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
DKI Jakarta

Jumlah
% Kasus
Kasus
kasus
divaksinasi
divaksinasi
3424
0
0.0
1552
36
2.3
1001
610
60.9
766
232
30.3
735
407
55.4
711
202
28.4
707
312
44.1
596
119
20.0
542
143
26.4
511
0
0.0

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

43

Meninggal
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0

3) Difteri

Difteri adalah penyakit yang menyerang sistem pernafasan bagian atas yang
ditandai dengan sakit leher, demam ringan, sakit tekak dan demam secara tiba-tiba disertai
tumbuhnya membran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan. Difteri
disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae.
Pembawa kuman ini adalah manusia sendiri. Kuman ini amat sensitif pada faktorfaktor alam sekitar seperti kekeringan, kepanasan dan sinar matahari. Difteri disebarkan
melalui saluran pernafasan. Tingkat kematian akibat Difteri paling tinggi di kalangan bayi
dan orang tua dan kematian biasanya terjadi dalam masa tiga hingga empat hari.
TABEL 3.15
JUMLAH KASUS DIFTERI DAN STATUS VAKSINASI
DI BEBERAPA PROVINSI TAHUN 2008

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Jumlah Kasus
Tidak
Vaksinasi
Vaksinasi
35
28
19
42
0
33
9
4
6
6
5
4
2
4
0
5
1
4
1
2
0
3
0
2
2
0
1
0
1
0
82
137

Provinsi
Jawa Timur
Sumatera Selatan
Jawa Barat
Jawa Tengah
Papua
Sumatera Barat
Sulawesi Selatan
Banten
Kalimantan Tengah
Lampung
DKI Jakarta
Sumatera Utara
Kalimantan Selatan
DI Yogyakarta
Sulawesi Tenggara
Indonesia

Total
63
61
33
13
12
9
6
5
5
3
3
2
2
1
1
219

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

Pada Tabel 3.15 di atas terlihat bahwa kasus Difteri tertinggi terdapat di Provinsi
Jawa Timur, yaitu sebanyak 63 kasus. Dari 63 kasus tersebut 35 kasus di antaranya adalah
dari orang yang telah mendapat imunisasi. Peringkat berikutnya adalah Provinsi Sumatera
Selatan, yaitu sebanyak 61 kasus dengan 19 kasus di antaranya adalah dari orang yang telah
mendapat imunisasi.
4) Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)

Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem
syaraf, dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Penyakit ini dapat menyerang semua umur,
akan tetapi terutama pada anak usia di bawah tiga tahun (>50% dari semua kasus). Virus ini
masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan berkembang biak dalam sistem percernaan.
Gejala utamanya adalah demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di
tungkai dan lengan. Satu di antara 200 orang yang terinfeksi dapat menyebabkan
44

kelumpuhan permanen dan biasanya pada kaki. Di antara semua kelumpuhan, 5%-10%
meninggal karena otot-otot pernafasannya tidak dapat bergerak.
AFP adalah kondisi yang abnormal yang ditandai dengan melemahnya, lumpuhnya
atau hilangnya kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas. Hal ini dapat disebabkan oleh
penyakit atau trauma yang mempengaruhi syaraf yang berhubungan dengan otot. AFP ini
sering juga dijelaskan sebagai tanda cepat munculnya serangan seperti pada penyakit Polio.
TABEL 3.16
10 PROVINSI DENGAN AFP RATE TERTINGGI TAHUN 2008

No

Provinsi

Jumlah
Kasus AFP

AFP Rate /
100.000
penduduk

Non Polio AFP


Rate / 100.000
penduduk

Persentase
Spesimen
Adekuat

Sulawesi Utara

27

4.91

4.91

81.4

DI Yogyakarta

29

4.83

4.67

86.2

Gorontalo

12

4.80

4.80

100

Bali

36

4.50

4.38

94.4

Kepulauan Riau

14

4.00

3.71

78.5

Sumatera Selatan

84

3.91

3.77

95.2

Kalimantan Timur

32

3.76

3.76

87.5

Nanggroe Aceh Darussalam

45

3.60

3.52

84.4

Lampung

79

3.59

3.55

83.5

10

Nusa Tenggara Timur

46

3.41

3.41

91.3

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

Jumlah kasus AFP pada tahun 2008 di seluruh Indonesia sebanyak 1.683 kasus.
Dari semua kasus AFP, yang tertinggi ratenya adalah di Sulawesi Utara sebesar 4,91 per
100.000 penduduk, namun bila melihat pada total kasus jumlah tertinggi terdapat di
Sumatera Selatan, yaitu sebanyak 84 kasus kemudian Lampung dengan 79 kasus. Jumlah
kasus AFP menurut provinsi pada tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 3.19.
g. Penyakit Potensial KLB/Wabah

Ada beberapa penyakit yang berpotensi KLB/wabah yang sering terjadi di


Indonesia, di antaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), Diare dan Chikungunya.
DBD banyak mengakibatkan kematian, demikian juga Diare, sementara Chikungunya
sangat berdampak pada economic loss.
1) Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypty. Umumnya menyerang anak di bawah umur 15 tahun, akan tetapi
dapat juga menyerang orang dewasa.
Gambar 3.16 menunjukkan terjadinya penurunan Insidence Rate (IR) Demam
Berdarah Dengue dari tahun 2007 ke tahun 2008, akan tetapi masih menunjukkan angka
yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. IR yang menurun
tahun 2008 diiringi dengan menurunnya Case Fatality Rate (CFR) juga, di mana CFR
menurun dari 1,01% pada tahun 2007 menjadi 0,86% pada tahun 2008. Data terinci
menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.22 dan 3.23.
45

GAMBAR 3.17
CASE FATALITY RATE DBD
DI INDONESIA TAHUN 2003 2008

GAMBAR 3.16
INCIDENCE RATE DBD PER 100.000 PENDUDUK
DI INDONESIA TAHUN 2003 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

2) Diare

Diare dapat didefinisikan sebagai perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi
buang air besar. Dikatakan Diare bila feses lebih berair dari biasanya. Diare dapat juga
didefinisikan bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi
tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Sementara diare yang berdarah didefinisikan sebagai
disentri.
Pada tahun 2008 dilaporkan terjadinya KLB Diare di 15 provinsi dengan jumlah
penderita sebanyak 8.443 orang, jumlah kematian sebanyak 209 orang atau CFR sebesar
2,48%. Jumlah provinsi, jumlah kasus dan CFR dari KLB Diare pada tahun 2000 2008
dapat dilihat pada Tabel 3.17 berikut ini. Sedangkan jumlah penderita, meninggal dan CFR
dalam KLB Diare menurut provinsi dari tahun 2003-2008 dapat dilihat pada Lampiran
3.21.
TABEL 3.17
JUMLAH KASUS, CFR, DAN JUMLAH PROVINSI DENGAN KLB DIARE
TAHUN 2000 2008
Tahun
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008

Jumlah Provinsi
dengan KLB
16
12
15
22
17
11
16
8
15

Jumlah
Kasus
5,680
4,428
5,789
4,622
3,314
5,051
13,451
3,659
8,443

Meninggal

CFR (%)

109
100
94
128
53
127
291
69
209

1.92
2.26
1.62
2.77
1.60
2.51
2.16
1.89
2.48

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 menyatakan prevalensi


nasional Diare klinis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala) adalah 9,0%
dengan rentang 4,2 % - 18,9 %. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare di atas
prevalensi nasional, dengan prevalensi tertinggi terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan yang terendah di Provinsi DI Yogyakarta.
46

GAMBAR 3.18
JUMLAH KASUS KLB DIARE DAN CFR DI INDONESIA TAHUN 2000-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

3) Chikungunya

Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan virus Chik yang merupakan grup
Arbovirus dari Alphavirus yang merupakan famili Togaviridae. Chikungunya berasal dari
bahasa Swahili (suatu daerah di Afrika) yang berarti berjalan membungkuk. Hal ini
dimungkinkan karena penderitanya merasakan sakit sendi yang amat sangat sehingga kalau
berdiri harus membungkuk menahan sakit. Penderita tidak bisa keluar rumah, sehingga tidak
dapat melakukan aktifitas karena mengalami lumpuh sementara.
Demam Chikungunya dijumpai terutama di daerah tropis dan sering menyebabkan
epidemi dalam interval tertentu (10-20 tahun). Beberapa faktor yang mempengaruhi
munculnya demam Chikungunya antara lain rendahnya status kekebalan kelompok
masyarakat, kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk
yang biasanya terjadi pada musim penghujan.
Selama lima tahun terakhir (2004 - 2008), Demam Chikungunya menyebar di 11
provinsi (Sumatra Utara, Sumatra Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah,
DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat)
dengan jumlah kasus sebanyak 13.634 penderita tanpa kematian yang tersebar di 42
kabupaten/kota, 90 kecamatan dan 134 desa/kelurahan. Pada tahun 2008 dilaporkan terjadi di
Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Barat dan DI Yogyakarta dengan jumlah
kasus sebanyak 2.608 penderita.

47

TABEL 3.18
JUMLAH KASUS DEMAM CHIKUNGUNYA
DI INDONESIA TAHUN 2008
No

Provinsi

Jawa Barat

DKI Jakarta

DI Yogya

Jml Kasus
P
M
177
145
90
10
10
12
102
211
82
43
80
30
149

Kab/Kota
Kab. Bogor
Kota Bandung
Kota Cirebon
Kota Tasikmalaya
Kota Depok
Kota Cimahi
Kab. Karawang
Kab. Sukabumi
Kab. Bandung
Kab. Sumedang
Kab. Cirebon
Kab. Bandung Barat
2 Kodya

Kota Yogyakarta
Total

784
1925

Jumlah
Kecamatan Desa/Kel
0
2
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
3
3
0
0

22
32

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

h. Rabies

Rabies adalah salah satu penyakit yang CFR-nya tinggi. Penyakit ini disebabkan
oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing,
kelelawar, kera, musang dan serigala yang di dalam tubuhnya terdapat virus Rabies.
Situasi yang berkaitan dengan Rabies di Indonesia sampai tahun 2008 dapat dilihat
dalam Gambar 3.19. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kejadian gigitan rabies cenderung
menurun sejak tahun 2005 sampai tahun 2007, namun mengalami peningkatan kembali
pada tahun 2008 dan bahkan melampaui kejadian gigitan yang terjadi dalam lima tahun
terakhir. Hal ini tentunya juga diikuti dengan meningkatnya pemberian Vaksin Anti Rabies
(VAR).
GAMBAR 3.19
SITUASI RABIES DI INDONESIA TAHUN 2003 2008

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

48

Pada tahun 2008 dilaporkan jumlah spesimen positif Rabies pada hewan sebanyak
1.024 spesimen. Selama 6 tahun terakhir (2003-2008) jumlah kasus positif pada hewan
bervariasi, meskipun pada tahun 2008 bila dibandingkan dengan tahun 2007 mengalami
penurunan dari 1.396 kasus menjadi 1.024 kasus positif. Situasi Rabies menurut provinsi
pada tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 3.28.
GAMBAR 3.20
JUMLAH SPESIMEN POSITIF RABIES PADA HEWAN
DI INDONESIA TAHUN 2000 2008

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

i. Filariasis

Limphatic Filariasis adalah penyakit parasit dimana cacing filaria (Wuchereria


bancrofti, Brugia malayi dan B. timori) menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Parasit
ini ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi, dan kemudian
menjadi cacing dewasa dan hidup di jaringan limfe. Penyakit ini juga sering menyebabkan
pembengkakan di lengan dan organ genital, sebagai tanda tingkat lanjut dari penyakit.
Penyakit ini juga sering disebut Elefantiasis, karena penderitanya sering mengalami
bengkak di kaki yang sangat besar menyerupai kaki gajah. Orang yang terkena penyakit ini
sering tidak dapat melakukan pekerjaan karena kecacatan mereka atau karena sebagian
orang enggan berdekatan dengan mereka.
Bila melihat pada Gambar 3.21 di bawah ini maka terlihat bahwa jumlah penderita
Filariasis yang dilaporkan dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peningkatan. Pada
tahun 2008 dilaporkan terdapat 11.699 kasus Filariasis di Indonesia. Tiga provinsi dengan
kasus terbanyak berturut-turut adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Timur
dan Papua. Data jumlah penderita Filariasis menurut provinsi tahun 2003 2008 dapat
dilihat di Lampiran 3.24.

49

GAMBAR 3.21
JUMLAH PENDERITA FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2002-2008

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI 2009

j. Frambusia

Frambusia adalah penyakit infeksi kronis yang sering terjadi di daerah tropis seperti
Afrika, Asia, Amerika Selatan dan Tengah, serta Kepulauan Pasifik. Penyakit ini
mempunyai banyak nama seperti pian, parangi, paru, frambesia tropica. Biasanya kasus ini
mulai terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun, dan insiden paling tinggi biasanya pada
anak usia 6-10 tahun. Insiden pada laki-laki dan perempuan biasanya hampir sama.
Frambusia merupakan penyakit yang sangat jarang ditemukan. Penyakit ini
berhubungan dengan hygiene/kebersihan perorangan dan ketersediaan air pada suatu area.
Di Asia, saat ini Frambusia hanya ditemukan di Indonesia dan Timor Leste. Dalam hal
pengobatan, Frambusia termasuk penyakit yang mudah diobati. Hanya dengan sekali
penyuntikan dengan menggunakan Benzathine Penicillin, Frambusia dapat disembuhkan
dengan mudah.
Pada tahun 2008 ditemukan sebanyak 5.926 kasus Frambusia. Jumlah kasus
terbanyak dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua. Penyakit
Frambusia seharusnya tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Namun, walaupun
prevalensinya sudah di bawah 1% masih perlu mendapat perhatian khusus. Apabila kurang
mendapat perhatian, maka dapat menimbulkan suatu fenomena yang disebut neglected
disease, atau penyakit yang terabaikan.
GAMBAR 3.22
KASUS PENYAKIT FRAMBUSIA DI INDONESIA TAHUN 2004-2008

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI 2009

50

Penyakit Frambusia ada yang menular dan tidak menular. Kasus Frambusia yang
menular sebanyak 3.466 kasus, dan yang tidak menular 2.460 kasus. Jumlah kasus
Frambusia menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 3.20 di bawah ini.
TABEL 3.19
KASUS PENYAKIT FRAMBUSIA TAHUN 2008
Frambusia
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Lampung
Jawa Timur
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tenggara
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Papua
Banten
Nusa Tenggara Barat
Bali
Total

Menular
0
0
0
0
0
17
16
2
2245
795
385
6
0
0
3466

Tidak Menular
0
0
0
2
0
2
22
25
1950
237
222
0
0
0
2460

Total
0
0
0
2
0
19
38
27
4195
1032
607
6
0
0

Notes District
23
28
7
15
10
7
2
2
20
8
9
1
9
9

Sumber: Ditjen PP&PL, Depkes RI, 2009

k. Antraks

Penyakit Antraks adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh spora dari
bakteri Bacillus anthracis. Spora Bacillus anthracis dapat bertahan hidup di lingkungan
selama bertahun-tahun hingga mendapatkan host baru. Umumnya penyakit ini terjadi pada
mamalia herbivora baik yang liar maupun peliharaan, meskipun dapat juga menyerang
mamalia lain dan beberapa jenis unggas. Manusia dapat tertular Antraks melalui kontak
langsung maupun tidak langsung atau mengkonsumsi binatang yang terinfeksi atau produk
hewan yang terkontaminasi bakteri/spora Antraks.
Sepanjang tahun 2008 dilaporkan 20 kasus Antraks pada manusia di Indonesia yaitu
18 kasus di Kabupaten Bogor dan 2 kasus di Kotamadya Jakarta Selatan, dengan Case
Fatality Rate 0%. Sampai dengan tahun 2007 masih terdapat beberapa daerah endemis
Antraks yaitu antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
Timur dan Sulawesi Selatan. Perkembangan jumlah kasus dan kematian Antraks pada
manusia dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

51

GAMBAR 3.23
JUMLAH KASUS & KEMATIAN ANTRAKS
PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2002
2008

GAMBAR 3.24
CASE FATALITY RATE ANTRAKS PADA
MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2002 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009


Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

l. Pes

Penyakit pes (bubonic plaque) disebabkan oleh bakteri yang bernama Pasteurella
pestis. Pes merupakan infeksi pada hewan pengerat liar, yang dikeluarkan dari satu hewan
pengerat ke hewan lain dan kadang-kadang dari hewan pengerat ke manusia karena gigitan
pinjal.
Surveilans aktif dan pasif terhadap binatang pengerat dan pinjalnya dilakukan
secara rutin di 4 daerah fokus Pes yaitu Provinsi Jawa Tengah (Boyolali), Jawa Barat
(Bandung), DI Yogyakarta (Sleman) dan Jawa Timur (Pasuruan). Pada tahun 2008
diperiksa 3.450 binatang pengerat, 416 di Sleman dan 3.034 di Pasuruan, didapatkan 2 hasil
positif Pes. Kemudian juga dilakukan pemeriksaan terhadap 6 orang yang diduga Pes di
Pasuruan dan didapatkan hasil positif 3 orang. Hasil pemeriksaan selengkapnya dapat
dilihat pada Lampiran 3.27.
Untuk mengetahui keadaan kejadian Pes di Indonesia dapat dilihat pada Gambar
3.25 di bawah ini. Terdapat beberapa daerah fokus Pes, dimana di daerah tersebut pernah
ditemukan kejadian penyakit Pes yaitu DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Hasil survei rutin
rodent Pes di daerah fokus pes menunjukkan adanya fluktuasi jumlah rodent yang diperiksa
maupun jumlah rodent yang positif mengandung bakteri.
GAMBAR 3.25
HASIL SURVEILANS RUTIN RODENT PES DI DAERAH FOKUS PES
TAHUN 2003-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI 2009

52

Menurut data yang ada pada tahun 2008, terjadi penurunan yang sangat drastis dari
kejadian gejala/mirip Pes pada manusia dibandingkan beberapa tahun sebelumnya seperti
dapat dilihat pada Gambar 3.26 berikut ini.
GAMBAR 3.26
SITUASI PES PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2003-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

m. Kecacingan

Gambar di bawah ini menunjukan pada tahun 2008 terjadi penurunan prevalensi
Kecacingan pada anak SD di daerah terpilih sebagai lokasi survei. Sedangkan pada tahun
2007 tidak dilaksanakan survei.
GAMBAR 3.27
DISTRIBUSI PREVALENSI KECACINGAN PADA ANAK SD
DI KABUPATEN TERPILIH TAHUN 2002 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Pada tahun 2008 pemeriksaan tinja dilaksanakan di 8 provinsi. Hasil pemeriksaan


tersebut menunjukkan prevalensi Kecacingan mempunyai rentang yang cukup lebar, yaitu
antara 2,7 % di Sulawesi Utara sampai dengan 60,7 % di Banten seperti dapat dilihat pada
Gambar 3.28 berikut ini.

53

GAMBAR 3.28
DISTRIBUSI PREVALENSI KECACINGAN DI 8 PROVINSI TAHUN 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI 2009

Sedangkan distribusi prevalensi Kecacingan menurut jenis cacing pada anak SD di


kabupaten terpilih di 27 provinsi tahun 2002 2008, dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.
GAMBAR 3.29
DISTRIBUSI PREVALENSI KECACINGAN MENURUT JENIS CACING
PADA ANAK SD DI KABUPATEN TERPILIH DI 27 PROVINSI
TAHUN 2002-2008

Sumber: Profil Ditjen PP-PL, Depkes RI 2009

n. Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan umumnya ada
di daerah tropis dan subtropis dengan curah hujan tinggi. Leptospirosis dapat menyebabkan
gangguan pada berbagai bagian dari tubuh manusia. Binatang yang terinfeksi, termasuk
binatang peliharaan dapat menularkan bakteri penyebab Leptospirosis melalui urinnya.
Manusia dapat tertular Leptospirosis melalui kontak dengan air, tanah basah, atau
tumbuhan yang terkontaminasi urin dari binatang yang terinfeksi.
Manifestasi klinis Leptospirosis dapat bervariasi dari gejala seperti flu biasa hingga
gangguan yang serius bahkan dapat menyebabkan kematian.
Leptospirosis dapat dicegah dengan mengurangi kontak dengan air dan lumpur yang
kemungkinan telah terkontaminasi dengan urin binatang yang terinfeksi.
54

Kasus penyakit Leptospirosis terutama dilaporkan pada daerah-daerah yang sering


terjadi bencana banjir. Selama tahun 20032007, kasus Leptospirosis terbanyak adalah di
DKI Jakarta bila dibandingkan dengan provinsi endemis Leptospirosis yang lain. Namun
pada tahun 2008 kasus Leptospirosis terbanyak dilaporkan terjadi di DI Yogyakarta, yaitu
sebanyak 125 kasus. Provinsi lain yang melaporkan kasus Leptospirosis pada tahun 2008
adalah Jawa Tengah 72 kasus, DKI Jakarta 37 kasus dan Jawa Timur 29 kasus.
Dibandingkan tahun 2007, terjadi penurunan jumlah kasus dari 666 kasus dengan
57 kematian menjadi 263 kasus dengan 16 kematian pada tahun 2008.

GAMBAR 3.30
SITUASI LEPTOSPIROSIS PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2003 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

o. Avian Influenza (AI)

Avian Influenza atau flu burung adalah penyakit menular pada binatang yang
disebabkan oleh virus influenza tipe A (H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan
sedikit kemungkinan menginfeksi babi. Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan
dapat menimbulkan penyakit flu yang berakibat kematian.
Jumlah kasus baru konfirmasi Avian Influenza pada tahun 2008 menurun jika
dibandingkan pada tahun 2007, yaitu dari 42 kasus pada tahun 2007 menjadi 20 kasus pada
tahun 2008. Demikian juga terjadi penurunan angka kematian (CFR) dari 88,1% pada tahun
2007 menjadi 85% pada tahun 2008. Perkembangan kasus konfirmasi AI sampai dengan
tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 3.31 di bawah ini.

55

GAMBAR 3.31
SITUASI KASUS KONFIRM AI DI INDONESIA
TAHUN 2005 2008

Sumber: Profil Ditjen PP-PL, Depkes RI 2009

Pada Gambar 3.32 terlihat bahwa pada tahun 2008 tidak terjadi penambahan
sebaran kasus konfirmasi AI. Perluasan daerah tertular AI pada manusia menurun jika
dibandingkan dengan tahun 2007, sebanding juga dengan penurunan jumlah kasus
konfirmasi pada tahun 2008.
GAMBAR 3.32
JUMLAH PROVINSI DAN KABUPATEN YANG BARU TERTULAR
FLU BURUNG PADA MANUSIA TAHUN 2005 2008

Sumber: Profil Ditjen PP-PL, Depkes RI 2009

Dari Tabel 3.21 dapat dilihat bahwa kasus konfirmasi AI terbanyak dilaporkan dari
Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten, kemudian secara berturut-turut adalah Jawa
Tengah, Sumatera Utara, Jawa Timur, Riau. Provinsi Lampung dan Sulawesi Selatan
sampai dengan Desember 2008 sudah tidak dilaporkan adanya kasus konfirmasi pada
manusia.

56

TABEL 3.20
KASUS KONFIRM AI PER TAHUN DARI TAHUN 2005 2008
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Provinsi
DKI
Banten
Jabar
Jateng
Jatim
Lampung
Sumbar
Sumut
Sulsel
Sumsel
Riau
Bali
Total

2005
K
8
5
3
1
0
3
0
0
0
0
0
0
20

M
7
4
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
13

2006
K
M
11
10
4
4
22
18
3
3
5
3
0
0
2
0
7
6
1
1
0
0
0
0
0
0
55
45

2007
K
8
11
5
5
2
0
1
1
0
1
6
2
42

M
8
9
4
5
1
0
1
1
0
1
5
2
37

2008
M
6
7
4
2

4
7
4
2

20

17

Total
K
M
33
29
27
24
34
28
11
10
7
4
3
0
4
1
8
7
1
1
1
1
6
5
2
2
137
112

Sumber : Profil Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Kasus konfirmasi AI terbanyak dilaporkan dari Provinsi Jawa Barat, kemudian


secara berturut-turut adalah DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.
Provinsi Lampung dan Sulawesi Selatan pada tahun 2007 sudah tidak dilaporkan adanya
kasus konfirmasi pada manusia. Perluasan daerah tertular pada manusia menurun jika
dibandingkan dengan tahun 2006, sebanding juga dengan penurunan jumlah kasus
konfirmasi pada tahun 2007.
GAMBAR 3.33
SEBARAN PENEMUAN KASUS AVIAN INFLUENZA DI INDONESIA
S.D TAHUN 2008

Sumber : Ditjen PP-PL, DepkesRI

Sejak ditemukan kasus pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2007, jumlah kasus
konfirmasi pada laki-laki relatif sama dengan jumlah kasus pada perempuan.

57

GAMBAR 3.34
KASUS KONFIRMASI AI MENURUT JENIS KELAMIN
DI INDONESIA TAHUN 2005-2008

Sumber : Profil Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Kasus konfirmasi AI yang terjadi pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008
paling banyak ditemukan di daerah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Persebaran
jumlah kasus dan kematian karena AI pada tahun 2005 2008 dapat dilihat pada Gambar
3.35 berikut ini.
GAMBAR 3.35
KASUS KUMULATIF KONFIRM AI DAN KEMATIAN AVIAN INFLUENZA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005-2008

Sumber : Ditjen PP-PL, DepkesRI

Menurut riwayat kontak penderita AI sebanyak 48,91% mempunyai riwayat


keterpaparan secara langsung dengan unggas sakit, unggas mati atau dengan produk unggas
lainnya, 37,23% riwayat keterpaparan dengan lingkungan, 2,19% riwayat keterpaparan
dengan pupuk, dan 11,68% kasus riwayat keterpaparannya tidak jelas.

58

GAMBAR 3.36
KASUS KONFIRM AI MENURUT RIWAYAT KONTAK
DI INDONESIA TAHUN 2005-2007

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

p. Hepatitis C

Hepatitis C adalah peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis C.
Virus Hepatitis C menular melalui darah dan produk darah, antara lain melalui transfusi
darah, pemakaian berulang jarum atau alat medis yang tidak steril, saling tukar alat suntik
oleh pengguna NAPZA, tindik dan tato dengan alat yang tidak steril. Penularan dapat juga
terjadi melalui hubungan seksual dan perinatal, namun hal ini jarang terjadi. Terjadinya
infeksi tidak selalu ditandai adanya gejala akan tetapi sebagian besar orang yang terinfeksi
menjadi hepatitis kronis, berjalan terus membentuk scar atau parut pada hati dan dapat
menjadi sirosis hati maupun kanker hati yang biasanya muncul setelah beberapa tahun.
Penyakit ini belum ada vaksin pencegahannya.
Departemen Kesehatan melaksanakan pendataan penyakit Hepatitis C tahap I di 11
provinsi pada bulan Oktober 2007, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Utara (Medan),
Sumatera Selatan (Palembang), Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Semarang), Jawa
Timur (Surabaya), Sulawesi Selatan (Makasar), Sulawesi Utara (Manado), Bali (Denpasar)
dan Kalimantan Barat (Pontianak), serta Papua (Jayapura). Pendataan tahap II melibatkan
10 provinsi dilaksanakan tanggal 1 Oktober 2008 - 31 Maret 2009 meliputi Provinsi
Kepulauan Riau, Jambi, Riau, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera
Barat, Banten, DI Yogyakarta dan NTB. Program ini bertujuan untuk mendapatkan
gambaran epidemiologi dan permasalahan penyakit Hepatitis C melalui pelaporan dari unitunit yang terlibat.
Pada tahun 2008, dilaporkan adanya 7.235 kasus positif Hepatitis C dari 21
provinsi. Tiga provinsi dengan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa
Timur seperti tersaji pada Tabel 3.22 di bawah ini, sedangkan data terinci menurut
golongan umur dapat dilihat pada Lampiran 3.30.

59

TABEL 3.21
JUMLAH KASUS HEPATITIS C DI INDONESIA TAHUN 2008
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Provinsi

Jumlah Kasus

DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Timur
Bali
Sulawesi Selatan
Jawa Tengah
Sumatera Utara
Sumatera Selatan
Kalimantan Barat
Sulawesi Utara
DI Yogyakarta
Banten
Riau
Papua
Sumatera Barat
Lampung
Kepulauan Riau
Kalimantan Timur
Nusa Tenggara Barat
Kalimantan Selatan
Jambi
Indonesia

2,810
960
621
576
571
418
233
226
195
111
91
85
81
60
47
44
39
24
21
14
8
7,235

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

3. Penyakit Tidak Menular


Pola penyebab kematian di Indonesia menunjukkan peningkatan proporsi kematian
disebabkan penyakit tidak menular. Bila dibandingkan hasil SKRT 1995, SKRT 2001 dan
Riskesdas 2007 terlihat proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin
meningkat sedangkan proporsi penyakit menular telah menurun. Proporsi kematian akibat
penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44%
menjadi 28%, dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi
dari 42% menjadi 60%. Menurut hasil Riskesdas 2007, stroke, hipertensi, penyakit jantung
iskemik dan penyakit jantung lainnya adalah penyakit tidak menular utama penyebab
kematian.
TABEL 3.22
PROPORSI PENYEBAB KEMATIAN ANTARA PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR
TAHUN 1980-2001

Jenis
Penyakit
Menular
Tidak
Menular

1980
69.49%

1986
60.48%

Tahun
1992
50.72%

25.41%

33.83%

43.60%

Sumber: Laporan Riskesdas 2007 (dari SKRT 2003)

60

1995
48.46%

2001
44.57%

45.42%

48.53%

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Ruang lingkup pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah meliputi:


hipertensi essensial, penyakit ginjal hipertensi, penyakit jantung hipertensi, stroke, gagal
jantung, penyakit jantung koroner (PJK), kardiomiopati, penyakit jantung rematik, penyakit
jantung bawaan, dan infark miocard akut.
Angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah cenderung meningkat dan
dapat menimbulkan kecacatan dan kematian. Sebagian besar kasus sebenarnya dapat
dicegah dengan metode intervensi yang efektif dengan perubahan perilaku kesehatan dan
penatalaksanaan yang tepat. Oleh karena itu pengendalian penyakit jantung dan pembuluh
darah perlu mendapat perhatian di bidang kesehatan masyarakat. Di negara maju terjadi
kecenderungan penurunan kasus penyakit jantung dan pembuluh darah dengan perbaikan
gaya hidup dan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap kesehatan. Sementara di negara
berkembang terdapat kecenderungan peningkatan kasus yang disebabkan gaya hidup,
urbanisasi dan peningkatan usia lanjut.
1) Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah >140 mm
Hg (tekanan sistolik) dan/atau >90 mmHg (tekanan diastolik) (Joint National Committe on
Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Pressure VII, 2003). Hipertensi
berkontribusi secara substansial terhadap risiko penyakit lain antara lain jantung koroner,
trombo-embolik, dan stroke dapat mengakibatkan timbulnya kerusakan jantung, otak dan
ginjal.
Hipertensi merupakan penyakit sirkulasi darah yang merupakan kasus terbanyak
pada rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit. Hasil pencatatan dan pelaporan rumah
sakit (SIRS, Sistem Informasi Rumah Sakit) menunjukkan kasus baru penyakit sistem
sirkulasi darah terbanyak pada kunjungan rawat jalan maupun jumlah pasien keluar rawat
inap dengan diagnosis penyakit Hipertensi tertinggi pada tahun 2007
Hasil Riskesdas 2007 prevalensi Hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas
di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Menurut provinsi, prevalensi Hipertensi tertinggi di
Kalimantan Selatan (39,6%) dan terendah di Papua Barat (20,1%).
2) Penyakit Jantung

Penyakit Jantung meliputi berbagai penyakit yang mengganggu fungsi jantung.


Riskesdas 2007 mendata penyakit Jantung yang berdasarkan jawaban pertanyaan adanya
riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan dan adanya gejala yang mengarah ke penyakit
jantung kongenital, angina, aritmia dan dekompensasi kordis. Diperoleh hasil prevalensi
penyakit Jantung di Indonesia berdasarkan wawancara sebesar 7,2%, berdasarkan riwayat
didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0,9%. Cakupan kasus Jantung yang
sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12,5% dari semua responden yang
mempunyai gejala subyektif menyerupai gejala penyakit Jantung.

61

Hasil pencatatan dan pelaporan rumah sakit (SIRS, Sistem Informasi Rumah Sakit)
menunjukkan jumlah kasus baru kunjungan rawat jalan dan jumlah pasien rawat inap
penyakit Jantung pada pada tahun 2007 sebagai berikut.
GAMBAR 3.37
JUMLAH PASIEN PENYAKIT JANTUNG DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik

Dari grafik di atas terlihat kasus terbanyak adalah penyakit Jantung Iskemik
lainnya, jika ditambah kasus Infark Miokard Akut maka semakin jelas bahwa kasus
terbanyak adalah kasus penyakit Jantung Iskemik atau yang biasanya lebih dikenal sebagai
penyakit Jantung Koroner. Sedangkan Case Fatality Rate (CFR) tertinggi terjadi pada
Infark Miokard Akut (13,49%), Gagal Jantung (13,42%) dan penyakit jantung lainnya
(13,37%).
GAMBAR 3.38
CFR PENYAKIT JANTUNG DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik

62

3) Penyakit Pembuluh Darah Otak

Penyakit pembuluh darah otak merupakan penyakit dengan kejadian, kecacatan dan
kematian yang cukup tinggi. Stroke merupakan penyakit pembuluh darah otak dengan
jumlah pasien terbanyak pada rawat jalan (jumlah kasus baru) maupun rawat inap (jumlah
pasien keluar) seperti tergambar pada grafik di bawah ini.
GAMBAR 3.39
JUMLAH PASIEN PENYAKIT PEMBULUH DARAH OTAK DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik

CFR penyakit pembuluh darah otak pada pasien rawat inap di rumah sakit juga
tinggi berkisar 11,2% pada infark serebral hingga tertinggi 34,46% pada perdarahan
intrakranial. Stroke tak menyebut perdarahan atau infark dan perdarahan intrakranial
merupakan penyebab kematian terbanyak di rumah sakit pada tahun 2007 masing-masing
5,24% dan 3,99% dari seluruh kematian di rumah sakit. CFR dari penyakit pembuluh darah
otak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
GAMBAR 3.40
CFR PENYAKIT PEMBULUH DARAH OTAK DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik, 2009

Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi stroke di Indonesia ditemukan


sebesar 8,3 per 1.000 penduduk, dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6
per 1.000 penduduk. Hal ini menunjukkan sekitar 72,3% kasus stroke di masyarakat telah
didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di Nanggroe Aceh
63

Darussalam (16,6 atau 16,6 per 1.000 penduduk) dan terendah di Papua (3,8/ atau 3,8
per 1.000 penduduk).
b. Diabetes Melitus (DM)

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis
atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme
dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai
kebutuhan tubuh atau bisa disebutkan sebagai suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula
sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan
insulin secara adekuat.
Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk
mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan respon yang
tepat terhadap insulin.
Menurut para pakar jumlah penderita atau penyandang DM dari tahun ke tahun
meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat.
International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems
(ICD-10) membagi DM menjadi lima kelompok, yaitu:
1. DM bergantung insulin (termasuk DM tipe 1)
2. DM tidak bergantung insulin (termasuk DM tipe 2)
3. DM berhubungan malnutrisi
4. DM YDT lainnya (DM yang ditentukan lainnya=Other specified DM)
5. DM YTT (DM yang tidak tentu= unspecified diabetes mellitus)
Jumlah kasus baru kunjungan rawat jalan rumah sakit pada tahun 2007 adalah
28.095 kasus. Keseluruhan DM menyebabkan 4.162 kematian atau CFR sebesar 7,02%.
Dari kelima jenis DM, DM YTT dan DM tidak bergantung insulin yang masuk dalam 50
peringkat utama penyebab kematian, rawat inap dan rawat jalan di RS di Indonesia selama
tahun 2007. DM YTT merupakan 2,34% penyebab kematian, 1,21% penyebab rawat inap
dan 0,89% kunjungan rawat jalan di rumah sakit pada tahun 2007. Sedangkan DM tidak
bergantung insulin merupakan 1,34% penyebab kematian, 0,56% penyebab rawat inap dan
0,48% kunjungan rawat jalan. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
TABEL 3.23
SITUASI PENYAKIT DM DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007
Jenis DM
DM YTT
DM tidak bergantung
Semua DM

Kematian
Rawat Inap
Jumlah
%*
Jumlah
%*
2,178
2.34
35,513
1.21
1,247
1.34
14,989
0.56
4,162
56,378

Rawat Jalan
Jumlah
%*
79,016
0.89
43,104
0.48
28.095
kasus baru

(CFR=7,38
Ket: %* adalah persentase dari seluruh kematian atau dari seluruh pasien rawat inap atau dari seluruh
kunjungan rawat jalan rumah sakit
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, 2009

Riskesdas 2007 melakukan wawancara dan pemeriksaan kadar glukosa darah pada
sejumlah sampel usia 15 tahun ke atas di daerah perkotaan, dengan diagnosis DM
64

menggunakan kriteria WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003, yaitu kadar
glukosa darah dua jam pembebanan < 140 mg/dl didiagnosis tidak DM, 140 - < 200 mg/dl
Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) dan > 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM). Diperoleh
hasil prevalensi total DM pada penduduk perkotaan (gabungan persentase responden yang
sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM dan persentase responden yang baru
terdiagnosis dalam Riskesdas) sebesar 5,7%, namun hanya 1,5% (kira-kira 26% dari total
DM) yang telah mengetahui dirinya menderita DM sebelum pemeriksaan Riskesdas.
Sedangkan prevalensi TGT diperoleh 10,2%. Prevalensi DM tertinggi terdapat di
Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1%), diikuti Riau (10,4 %) dan
Nanggroe Aceh Darussalam (8,5%). Prevalensi DM terendah di Papua (1,7%), diikuti NTT
(1,8%). Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat 157 (21,8%), diikuti Sulawesi Barat
(17,6%), dan Sulawesi Utara (17,3%), sedangkan terendah di Jambi (4%), diikuti NTT
(4,9%) .
Hasil Riskesdas 2007 tampaknya lebih rendah dibandingkan hasil Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 yang mendapatkan hasil prevalensi DM
adalah 1.2%, tahun 2001 sebesar 7.5% dan tahun 2003 sebesar 14,7% di perkotaan dan
7.2% di perdesaan.
Jumlah pasien keluar rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan diagnosis DM
tahun 2007 sebanyak 56.378 pasien dengan CFR 7,38%, sedangkan kasus baru pada rawat
jalan sebanyak 28.095 kasus.
c. Neoplasma/Tumor

Neoplasma atau tumor adalah pembengkakan atau luka yang terjadi karena
pertumbuhan sel yang abnormal. Tumor bisa berupa benign, pre-malignant dan malignant.
Tipe malignant inilah yang yang biasa disebut dengan kanker.
Data penyakit neoplasma/tumor ganas atau kanker diperoleh dari data pasien di
rumah sakit. Data yang tersedia adalah data jumlah pasien keluar rawat inap dengan
diagnosis kanker, jadi tidak menunjukkan jumlah kasus kanker yang dirawat. Meskipun
data ini belum menunjukkan jumlah pasti penderita kanker, namun data ini dapat
memberikan gambaran besaran masalah kanker di Indonesia.
Sepuluh peringkat utama penyakit neoplasma ganas pasien rawat inap di rumah
sakit sejak tahun 2004 hingga tahun 2008 tidak banyak berubah. Tiga peringkat pertama
adalah neoplasma ganas payudara disusul neoplasma ganas serviks uterus dan neoplama
ganas hati dan saluran empedu intrahepatik. Neoplasma ganas colon yang pada tahun
sebelumnya peringkat 8 menjadi peringkat 9 bertukar peringkat dengan neoplasma ganas
daerah rektosigmoid rectum. Grafik 10 peringkat utama penyakit neoplasma ganas dalam 4
tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut ini.

65

GAMBAR 3.41
10 PERINGKAT UTAMA PENYAKIT KANKER PASIEN RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT TAHUN 2004-2007

Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes

Riskesdas 2007 mendata responden yang pernah didiagnosis menderita


tumor/kanker oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan jawaban responden, diperoleh hasil
prevalensi nasional penyakit Tumor/Kanker adalah 0,43%, tertinggi di Provinsi DI
Yogyakarta (0,96%) dan terendah di Maluku (0,15%).

3. Morbiditas dan Mortalitas Jemaah Haji


Profil Kesehatan tahun 2008 ini memberikan gambaran morbiditas dan mortalitas jemaah
haji dalam penyelenggaraan kesehatan haji, dari mulai persiapan, keberangkatan sampai
tiba kembali di tanah air. Beberapa data mengenai jemaah haji dapat dilihat dalam Gambar
3.42 dan 3.43 serta Lampiran 3.39; 3.40; 3.41; 3.42; dan Lampiran 3.43.
GAMBAR 3.42
JEMAAH HAJI RISIKO TINGGI DI INDONESIA TAHUN 2006-2007

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

66

GAMBAR 3.43
JEMAAH HAJI RISIKO TINGGI DI INDONESIA TAHUN 2006-2007

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

Dalam gambar 3.43 dan 3.44 dapat dilihat perbandingan jumlah jemaah haji non
resiko tinggi dan dan risiko tinggi.
GAMBAR 3.44
POLA PENYAKIT JEMAAH HAJI BERDASARKAN PEMERIKSAAN
KESEHATAN DI EMBARKASI DI INDONESIATAHUN 2007-2008

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

Pola penyakit jemaah haji pada tahun 2007 dan 2008, hampir menunjukkan pola yang
sama, dimana penyakit Kardiovaskuler merupakan penyakit yang terbanyak tahun tersebut
(Gambar 3.44).

C. STATUS GIZI
Status gizi masyarakat dapat diukur melalui indikator-indikator, antara lain Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur Kurang Energi
Kronis (KEK), dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), sebagaimana
diuraikan berikut ini. Data terakhir mengenai status gizi dikumpulkan dalam Riset
Kesehatan Dasar tahun 2007.

67

1. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


Berat Badan Lahir Rendah adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram
yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir. Berat Badan
Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang
berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori
yaitu (1) BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu), dan (2) BBLR
karena intra uterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi
berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu
berstatus gizi buruk, anemia, Malaria, dan menderita penyakit menular seksual (PMS)
sebelum konsepsi atau pada saat hamil.
Angka BBLR secara nasional belum tersedia, walaupun demikian proporsi BBLR
dapat diketahui berdasarkan hasil estimasi dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI).
Riskesdas 2007, mendata berat badan bayi baru lahir dalam 12 bulan terakhir. Tidak
semua bayi diketahui berat badan hasil penimbangan waktu baru lahir. Dari bayi yang
diketahui berat badan hasil penimbangan waktu baru lahir, 11,5% lahir dengan berat badan
kurang dari 2.500 gram atau BBLR. Tiga provinsi dengan persentase BBLR tertinggi
adalah Papua sebesar 27%, Papua Barat sebesar 23,8% dan NTT sebesar 20,3%. Tiga
provinsi dengan BBLR terendah adalah Bali sebesar 5,8%, Sulawesi Barat sebesar 7,2%
dan Jambi sebesar 7,5%. Jika dilihat dari jenis kelamin, persentase BBLR lebih tinggi pada
bayi perempuan dibandingkan laki-laki yaitu masing-masing 13% dan 10% (Riskesdas,
2007)
Persentase BBLR hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 20022003 menunjukkan 7,6% bayi lahir dengan BBLR, dan Riskesdas 2007 seperti disebutkan
di atas sebesar 11,5%. Meskipun metode surveinya berbeda, sehingga tidak dapat langsung
dinilai adanya peningkatan BBLR, hal ini perlu mendapat perhatian.
TABEL 3.24
PROPORSI BAYI DENGAN BERAT LAHIR RENDAH
TAHUN 1992-1997 DAN 2002-2003

1992-1997
Nasional
7.7
Perkotaan
6.6
Perdesaan
8.4
Provinsi
3,6 - 15,6
Sumber: SDKI, Riskesdas 2007

SDKI
2002 - 2003

Riskesdas
2007

7.6

11.50%

2. Gizi Balita
Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).
Variabel BB dan TB tersebut disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu:
berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan
menurut tinggi badan (BB/TB). Angka berat badan dan tinggi badan setiap balita
dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku
antropometri WHO 2006.

68

Berdasarkan indikator BB/U, disebut (a) gizi buruk jika Z-score < -3,0, (b) gizi
kurang Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0, (c) gizi baik Z-score >=-2,0 s/d Z-score <=2,0, (d)
gizi lebih Z-score >2,0. Berdasarkan indikator TB/U, disebut (a) sangat pendek jika Zscore < -3,0, (c) pendek Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0, (c) normal Z-score >=-2,0.
Berdasarkan indikator BB/TB, disebut (a) sangat kurus jika Z-score < -3,0, (b) kurus Zscore >=-3,0 s/d Z-score <-2,0, (c) normal Z-score >=-2,0 s/d Z-score <=2,0, (d) gemuk Zscore >2,0.
Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum,
tidak spesifik. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang
mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita, tetapi tidak memberikan indikasi
apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut.
Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5,4% dan gizi kurang
13,0% atau 18,4% untuk gizi buruk dan kurang. Bila dibandingkan dengan target
pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18,5%, maka secara
nasional target-target tersebut sudah terlampaui.
Dari hasil Susenas dan SKRT 2003-2005 serta Riskesdas 2007, diperoleh gambaran
perkembangan status gizi Balita seperti terlihat pada Gambar 3.45 berikut.
GAMBAR 3.45
PERSENTASE BALITA GIZI BURUK, GIZI KURANG, GIZI BAIK
DAN GIZI LEBIH DI INDONESIA TAHUN 2000 2007

Sumber: Susenas/Survei Garam Yodium Rumah Tangga,


SKRT, Riset Kesehatan Dasar 2007

Meskipun target nasional tercapai, namun pencapaian tersebut belum merata di 33


provinsi. Persentase gizi buruk, gizi kurang, gizi baik dan gizi lebih menurut provinsi dapat
dilihat pada Lampiran 3.31; 3.32; 3.33. Gambaran persentase balita status gizi buruk
menurut provinsi dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

69

GAMBAR 3.46
PERSENTASE BALITA STATUS GIZI BURUK
MENURUT PROVINSI, TAHUN 2007

Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2007

Berdasarkan kelompok umur, persentase gizi buruk terbesar berdasarkan hasil


Riskesdas 2007 adalah pada kelompok umur 0-5 bulan. Sedangkan berdasarkan jenis
kelamin, gizi buruk pada laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan.
TABEL 3.25
PERSENTASE BALITA GIZI BURUK, GIZI KURANG, GIZI BAIK
DAN GIZI LEBIH (BB/U) MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN
TAHUN 2007
Gizi Buruk

Gizi
Kurang

Gizi Baik

Gizi Lebih

Kelompok umur
(bulan)
05
6-Nov
Dec-23
24-35
36-47
48-60

6.5
4.8
5
5.9
6.3
4.9

8.2
8.1
11.3
14.5
14.8
14.2

76.7
82.2
78.8
75.7
75.4
77.2

8.7
4.9
4.9
3.9
3.6
3.7

Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan

5.8
5

13.3
12.7

76.3
78.2

4.6
4

Karakteristik

Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2007

Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang yang dipengaruhi kondisi-kondisi


yang sifatnya kronis (akibat kondisi yang berlangsung dalam waktu lama). Masalah pendek
pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36,8% dengan 18 provinsi
menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Kondisi status gizi berdasarkan
TB/U dapat dilihat pada Lampiran 3.32.
Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut (akibat keadaan
yang berlangsung dalam waktu pendek). Indikator BB/TB juga digunakan sebagai indikator
kegemukan. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam
70

manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3,0
SD. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6,2%. Besarnya
masalah kurus (sangat kurus dan kurus) pada balita yang masih merupakan masalah
kesehatan masyarakt adalah jika prevalensi kurus > 5%. Masalah kesehatan masyarakat
sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10,1% - 15,0%, dan dianggap kritis bila
prevalensi kurus sudah di atas 15,0% (UNHCR).
Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13,6%. Hal ini berarti bahwa
masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius.
Bahkan, dari 33 provinsi, 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kritis (prevalensi
kurus >15%), 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%). Hanya 3
(tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa
Barat, DI Yogyakarta dan Bali. Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi
kegemukan di kalangan balita di Indonesia adalah 12,2%. Kondisi status gizi berdasarkan
BB/TB dapat dilihat pada Lampiran 3.33.
3. Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK)
Salah satu cara untuk mengetahui status gizi wanita usia subur (WUS) umur 15-49
tahun adalah dengan melakukan pengukuran lingkar lengan atas (LILA). Hasil pengukuran
ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang
wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik
(KEK) menggunakan standar LILA <23,5 cm.
Pada Riskesdas 2007, untuk menggambarkan adanya risiko KEK dalam kaitannya
dengan kesehatan reproduksi pada WUS, digunakan ambang batas nilai rerata LILA
dikurangi 1 SD, yang sudah disesuaikan dengan umur. Jika LILA lebih kecil dari nilai
rerata sesuai umur dikurangi 1 SD maka disebut berisiko KEK.
Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi risiko KEK secara nasional sebesar
13,6%. Tiga provinsi dengan prevalensi risiko KEK tertinggi adalah NTT sebesar 24,6%,
Papua 23,1% dan DIY 20,2%, sedangkan tiga provinsi dengan prevalensi risiko KEK
terendah adalah Sulawesi Utara sebesar 5,8%, Sumatera Utara 7,9% dan Bengkulu 8,2%.
Prevalensi risiko KEK wanita usia subur 10 provinsi tertinggi dapat dilihat pada Gambar
3.47 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.36.
Pada Riskesdas 2007 digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD,
yang sudah disesuaikan dengan umur. Jika LILA lebih kecil dari nilai rerata sesuai umur
dikurangi 1 SD maka disebut berisiko KEK.
Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi risiko KEK secara nasional sebesar
13,6%. Tiga provinsi dengan prevalensi risiko KEK tertinggi adalah NTT sebesar 24,6%,
Papua 23,1% dan DIY 20,2%, sedangkan tiga provinsi dengan prevalensi risiko KEK
terendah adalah Sulawesi Utara sebesar 5,8%, Sumatera Utara 7,9% dan Bengkulu 8,2%.
Prevalensi risiko KEK wanita usia subur menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.47
dan Lampiran 3.36.
71

GAMBAR 3.47
PREVALENSI RISIKO KEK PENDUDUK WANITA UMUR 15 - 45 TAHUN
DI 10 PROVINSI TERTINGGI TAHUN 2007

Sumber: Riskesdas 2007

Demikian gambaran singkat mengenai situasi derajat kesehatan di Indonesia sampai


dengan tahun 2008.

***

72

Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya


perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh
potensi bangsa. Jika upaya kesehatan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik
dan pelayanan kesehatan belum terjangkau secara merata oleh masyarakat, maka
sulit diharapkan derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat.
Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu upaya
kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan masyarakat
adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta
swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Upaya kesehatan
masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan,
pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan
lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan
jiwa, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat
aditif dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat adiktif
dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan
perorangan. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan,
pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan
dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan.
Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan selama lima tahun terakhir,
khususnya untuk tahun 2008.
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan
kesehatan dasar secara tepat dan cepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan

73

masyarakat dapat diatasi. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan


adalah sebagai berikut ini.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi
dan perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang
hamil dapat mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran
dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.
Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus
berhubungan dengan pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru
lahir yang diberikan di semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan, dari posyandu
sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta.
a. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)
Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan terhadap ibu hamil oleh
petugas kesehatan untuk memelihara kehamilannya yang dilaksanakan sesuai standar
pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan. Tujuan
pelayanan antenatal adalah mengantarkan ibu hamil agar dapat bersalin dengan sehat
dan memperoleh bayi yang sehat, mendeteksi dan mengantisipasi dini kelainan
kehamilan, dan deteksi serta antisipasi dini kelainan janin.
Pelayanan antenatal meliputi 5 hal yang dikenal dengan istilah 5T, yaitu
timbang berat badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, nilai status
imunisasi TT, dan memberikan Tablet Fe (tablet tambah darah). Pada petunjuk teknis
pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota, pelayanan antenatal meliputi 7T, yaitu 5T yang tersebut di atas
ditambah dengan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling)
dan test laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau berdasarkan indikasi
(HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC). Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat pada
cakupan K1 dan K4.
K1 adalah kunjungan pertama ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan
untuk mendapatkan pelayanan antenatal yang dilakukan pada trimester pertama
kehamilan. Sedangkan K4 adalah kunjungan ibu hamil untuk mendapatkan
pelayanan antenatal minimal 4 kali, yaitu 1 kali pada trimester pertama kehamilan, 1
kali pada trimester kedua, dan 2 kali pada trimester ketiga.
Gambar 4.1 memperlihatkan peningkatan cakupan K1 dan K4 dari tahun
2004 sampai 2008. Peningkatan K4 pada tahun 2008 dibandingkan dengan tahun
sebelumnya terlihat cukup tinggi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kenaikan hanya
berkisar 0,1-2,5%, pada tahun 2008 terjadi peningkatan hampir 6% dibandingkan
tahun 2007.

74

GAMBAR 4.1
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K1 DAN K4 IBU HAMIL
DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber : Dit. Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas

Dari gambar tersebut juga dapat dilihat selisih yang terjadi antara cakupan K1
dan K4. Kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4 semakin rendah. Jika
pada tahun 2004 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 11% kemudian
tahun 2006 menjadi 10% dan pada tahun 2008 semakin kecil, yaitu 6,61%. Hal itu
berarti semakin rendah angka drop out K1-K4 nasional dengan kata lain semakin
banyak ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal
diteruskan hingga kunjungan keempat pada trimester 3 sehingga kehamilannya dapat
terus dipantau oleh petugas kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.
Cakupan pelayanan K4 pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.2 berikut.
GAMBAR 4.2
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber : Dit. Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas, 2009

75

Berdasarkan cakupan K4 per provinsi pada tahun 2008, DKI Jakarta, Jawa
Barat, dan Sumatera Utara menempati peringkat 3 tertinggi yaitu masing-masing
95,78%, 95,78%, dan 94,53%. Sedangkan Papua (38,46%), Sulawesi Barat
(64,02%), dan Maluku (64,02%) merupakan 3 provinsi dengan cakupan K4 terendah.
Terjadi kesenjangan yang besar antara provinsi dengan cakupan K4 tertinggi (95,78)
dan terendah (38,46%), walaupun dibandingkan dengan tahun 2007 keduanya
mengalami peningkatan dengan cakupan tertinggi 93% dan terendah 25%.
Target K1 yang ingin dicapai di tiap provinsi pada tahun 2008 adalah 92,9%
dan target K4 adalah 87%. Pada tahun 2008 hanya 36% (12 provinsi) yang berhasil
mencapai target K1 dan sekitar 20% (7 provinsi) yang telah mencapai target K4
seperti pada gambar berikut ini.

GAMBAR 4.3a
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K1 IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber: Ditjen Binkesmas, 2009

GAMBAR 4.3b
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber: Ditjen Binkesmas, 2009

Gambar 4.3a dan 4.3b memperlihatkan provinsi-provinsi yang berhasil


mencapai target K1 dan K4. Provinsi yang berhasil mencapai target K4 yakni DKI
Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, DI Yogyakarta, Bali, NTB, dan NTT.
Selain mengupayakan peningkatan cakupan K4, harus diupayakan pula
peningkatan kualitas K4 yang sesuai standar. Salah satu pelayanan yang diberikan
saat pelayanan antenatal yang menjadi standar kualitas adalah pemberian zat besi
(Fe) 90 tablet dan imunisasi TT (Tetanus Toksoid). Dengan demikian seharusnya
ibu-ibu hamil yang tercatat sebagai cakupan K4 juga tercatat dalam laporan
pemberian Fe3 dan TT2. Pada Gambar 4.4 cakupan K4 pada tahun 2008 sebesar
86,04%, namun pemberian 90 tablet besi hanya sebesar 48,14%. Ada kemungkinan
sistem pelaporan ketiga variabel tersebut yang belum terpadu. Begitu pula dengan
status imunisasi TT2 pada ibu hamil juga merupakan syarat kualitas pelayanan K4,
akan tetapi seperti halnya Fe3, imunisasi cakupan TT2 masih lebih rendah
dibandingkan dengan cakupan K4.

76

GAMBAR 4.4
PERSENTASE CAKUPAN K4, Fe3 DAN STATUS IMUNISASI TT
PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Dit. Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas, 2009

Rincian cakupan K1 dan K4 tahun 2008 menurut provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 4.1.
b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan
Kompetensi Kebidanan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan
adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten. Tenaga kesehatan yang kompeten adalah dokter spesialis kebidanan,
dokter umum, dan bidan.
Pada prinsipnya, penolong persalinan harus memperhatikan beberapa hal,
yaitu 1) pencegahan infeksi; 2) metode pertolongan persalinan yang sesuai standar;
3) merujuk kasus yang memerlukan tingkat pelayanan yang lebih tinggi; dan 4)
melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Gambar 4.5 memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan dengan kompetensi kebidanan sejak tahun 2004 sampai tahun 2008
cenderung mengalami peningkatan. Bahkan pada tahun 2008 cakupan pertolongan
persalinan oleh petugas kesehatan di Indonesia telah mencapai lebih dari 80%.

77

GAMBAR 4.5
PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN
OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber : Dit. Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas

Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurut provinsi terlihat pada


Gambar 4.6 berikut ini.
GAMBAR 4.6
PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN
OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber : Dit. Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas, 2009

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di antara 33 provinsi


tertinggi dicapai oleh Bali (97,72%), DI Yogyakarta (94,45%), dan Kepulauan Riau
(92,67%). Sedangkan 3 provinsi dengan cakupan terendah adalah Papua (45,47%),
Maluku Utara (58,66%), dan Papua Barat (60,10%).
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2008, penolong
kelahiran terakhir pada balita yang tertinggi adalah oleh bidan (53,96%), diikuti oleh
dukun (30,27%), dan dokter (12,32%). Di daerah perkotaan sebagian besar penolong

78

persalinan pertama pada ibu bersalin adalah bidan (64,26%), kemudian oleh dokter
(20,71). Berbeda dengan di perdesaan di mana penolong kelahiran terakhir pada
balita oleh dukun sebesar 42,75%, sedangkan di perkotaan hanya sebesar13,40%. Di
perdesaan bidan dan dukun sama-sama diminati oleh ibu bersalin sebagai penolong
persalinannya. Perbandingan persentase penolong persalinan di perkotaan dan di
perdesaan dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.
TABEL 4.1
PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TERAKHIR
DAN TIPE DAERAH TAHUN 2008
Tipe Daerah
Perkotaan+Perdesaan
Perkotaan
Perdesaan

Dokter
12,32
20,71
6,11

Bidan
53,96
64,25
46,34

Nakes Lain
0,52
0,39
0,61

Dukun
30,27
13,40
42,75

Famili
2,69
1,12
3,86

Lainnya
0,24
0,13
0,33

Sumber: BPS, Susenas 2008

Rincian persentase balita menurut penolong kelahiran terakhir menurut


provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.3.
c. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6
jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini
komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas
dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi
waktu: 1) kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 7
hari; 2) kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan;
dan 3) kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan.
Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di
posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi (KB1).
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan nifas adalah dokter
spesialis kebidanan, dokter umum, perawat dan bidan. Pelayanan yang diberikan
meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu; 2) pemeriksaan
tinggi fundus uteri (involusi uterus); 3) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per
vaginam lainnya; 4) pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan; 5)
pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24 jam); dan 6)
pelayanan KB pasca persalinan.
Gambar 4.7 berikut menyajikan persentase ibu nifas yang mendapat Vitamin
A menurut provinsi.

79

GAMBAR 4.7
PERSENTASE IBU NIFAS YANG MENDAPAT VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber : Dit. Gizi, Ditjen Binkesmas, 2009

Pada tahun 2008, ibu nifas yang mendapat Vitamin A sebesar 58,57%.
Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Jawa Tengah (87,85%), Kepulauan Bangka
Belitung (86,37%), dan Sumatera Selatan (83,91%). Sedangkan provinsi dengan
cakupan terendah adalah Papua Barat (13,01%), NTB (18,83%), dan Maluku
(23,97%).
d. Kunjungan Neonatus
Bayi sampai umur kurang satu bulan merupakan golongan umur yang
memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan
untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari)
minimal dua kali, satu kali pada umur 0-7 hari (KN1) dan satu kali lagi pada umur 828 hari (KN2).
Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan di samping
melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi
kepada ibu. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar
(tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif,
pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian

80

imunisasi); pemberian Vitamin K; Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM); dan


penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.
Cakupan Kunjungan Neonatus (KN2) tahun 2003 - 2005 cenderung menurun
namun pada tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu mencapai lebih dari 75%.
Pada tahun 2008 cakupan KN2 sebesar 78,04%. Cakupan KN2 selama periode tahun
2003 2008 dapat dilihat pada Gambar 4.8. berikut ini.
GAMBAR 4.8
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS (KN2)
DI INDONESIA TAHUN 2003 2008

Sumber: Dit. Kesehatan Ibu dan Dit.Kes.Anak, Binkesmas, Depkes RI

Tahun 2008 provinsi dengan cakupan Kunjungan Neonatus (KN2) tertinggi


adalah DI Yogyakarta, Bali, dan Jawa Tengah. Sedangkan provinsi dengan cakupan
KN2 terendah adalah Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Barat seperti terlihat pada
Gambar 4.9 berikut ini.

81

GAMBAR 4.9
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS (KN2)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber: Dit. Bina Kes. Anak, Ditjen Binkesmas Depkes RI, 2009

Rincian mengenai cakupan kunjungan neonatus menurut provinsi terdapat


pada Lampiran 4.1.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Masa subur seorang wanita memiliki peran penting bagi terjadinya kehamilan
sehingga peluang wanita melahirkan menjadi cukup tinggi. Menurut hasil penelitian,
usia subur seorang wanita biasanya antara 15 49 tahun. Oleh karena itu untuk
mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran, wanita/pasangan ini lebih
diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Berdasarkan hasil Susenas tahun 2008, persentase wanita berumur 10 tahun
ke atas yang pernah kawin dengan jumlah anak yang dilahirkan hidup terbesar adalah
0-2 orang (49,72%) dan 3-5 orang (35,83%) untuk daerah perkotaan dan perdesaan.
Persentase wanita berumur 10 tahun ke atas yang pernah kawin yang memiliki anak
yang dilahirkan hidup > 3 orang di perdesaan lebih banyak dibandingkan dengan di
perkotaan. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini. Data selengkapnya
menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.5.
TABEL 4.2
PERSENTASE WANITA BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG PERNAH KAWIN
DAN JUMLAH ANAK YANG DILAHIRKAN HIDUP TAHUN 2008
Daerah

Jumlah Anak yang Dilahirkan

Perkotaan

0-2
52,07

3-5
35,57

6-8
9,11

9
3,25

Perdesaan

47,65

36,06

12,03

4,27

Perkotaan+Perdesaan

49,72

35,83

10,65

3,79

Sumber : BPS, Susenas 2008

82

Rata-rata jumlah anak lahir hidup per wanita umur 15 49 tahun adalah 1,77
dengan rincian: di perkotaan sebesar 1,57 dan di perdesaan sebesar 1,98. Data ratarata jumlah anak lahir hidup per wanita umur 15 49 tahun menurut provinsi dapat
dilihat pada Lampiran 4.6.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan
peserta KB yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi menurut daerah
tempat tinggal, tempat pelayanan KB, serta jenis kontrasepsi yang digunakan
akseptor. Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus menikah yang sedang dan yang
pernah menggunakan/memakai alat KB dapat dilihat pada Gambar 4.10 berikut ini.
GAMBAR 4.10
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
YANG SEDANG DAN YANG PERNAH MENGGUNAKAN ALAT KB
TAHUN 2004-2008

Sumber : BPS, Susenas 2008

Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang


menggunakan/memakai alat KB menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun
2008 sebesar 56,62%, tidak banyak mengalami perkembangan sejak tahun 2004.
Cakupan tertinggi dicapai oleh Provinsi Kalimantan Tengah (68,40%), Bengkulu
(67,62%) dan Sulawesi Utara (65,19%). Sedangkan provinsi dengan cakupan
terendah adalah Papua Barat (26,69%), Papua (27,71%) dan Maluku (32,10%). Data
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.7.
Persentase wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin menurut alat/cara KB
yang sedang digunakan tahun 2008 tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya sebagaimana terlihat dalam Gambar 4.11 berikut ini. Pada
tahun 2008 suntikan dan Pil KB masih banyak diminati sebagai alat KB oleh wanita
umur 15-49 tahun berstatus kawin yaitu masing-masing sebesar 58,7% dan 23,9%.

83

GAMBAR 4.11
PERSENTASE WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
MENURUT ALAT/CARA KB YANG SEDANG DIGUNAKAN
DI INDONESIA TAHUN 2004-2008

Sumber: BPS, Susenas

Berdasarkan alat/cara ber-KB menurut provinsi, alat kontrasepsi dalam rahim


(AKDR/IUD) banyak digunakan di Provinsi Bali dan DI Yogyakarta dengan
persentase jauh di atas provinsi yang lain. Jika pemakaian AKDR nasional sebesar
7,1% maka di Bali dan DI Yogyakarta pemakaian AKDR masing-masing sebesar
35,35% dan 21,56%. Rincian menurut provinsi terdapat pada Lampiran 4.9.
Persentase tempat pelayanan peserta KB baru tahun 2005-2008 dapat dilihat
pada gambar berikut ini.
GAMBAR 4.12
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN PESERTA KB BARU
DI INDONESIA TAHUN 2005 2008

Sumber : BKKBN

84

Sesuai dengan data BKKBN, tempat pelayanan peserta KB baru pada tahun
2008 tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak peserta KB baru
yang memanfaatkan klinik KB pemerintah sebagai tempat pelayanan KB (61,51%).
Selain klinik KB pemerintah, sebesar 31,01% peserta KB baru memanfaatkan bidan
praktek swasta sebagai tempat pelayanan KB. Data lebih rinci menurut provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 4.10.
3. Pelayanan Imunisasi
Bayi, anak umur muda maupun orang dewasa sama-sama memiliki risiko
terserang penyakit menular yang dapat mematikan, seperti: Difteri, Tetanus,
Hepatitis B, Influenza, Typhus, radang selaput otak, radang paru-paru, dan masih
banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik dan sangat
vital agar kelompok berisiko terlindungi adalah melalui imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada
umumnya, reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena
tubuh belum mempunyai "pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan
seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut
sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam
jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang
dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit
tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif
adalah pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan
tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah
imunisasi Polio atau Campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan
sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya
adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka
kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi
tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta selama
masa kandungan, misalnya antibodi terhadap Campak.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Imunisasi dasar pada bayi meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio,
4 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis Campak. Imunisasi pada ibu hamil dan WUS
meliputi 2 dosis TT dan imunisasi pada anak sekolah dasar meliputi 1 dosis DT, 1
dosis Campak, dan 2 dosis TT.
Di antara penyakit pada anak yang dapat dicegah dengan vaksin, Campak
adalah penyebab utama kematian anak. Oleh karena itu pencegahan Campak
merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa
85

tujuan yang disepakati dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya adalah
mempertahankan cakupan imunisasi Campak sebesar 90%. Di seluruh negara
ASEAN dan SEARO, imunisasi Campak diberikan pada bayi umur 9-11 bulan dan
merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib
lainnya (BCG, DPT, Polio, Hepatitis, dan Campak).
Pada tahun 2008, Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi Campak
sebesar 90,5%. Dengan demikian Indonesia telah mampu mencapai target imunisasi
Campak yang telah ditetapkan oleh WHO. Angka tersebut meningkat dibandingkan
dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 89,8%.
Gambar 4.13 berikut ini adalah persentase cakupan imunisasi Campak
menurut provinsi tahun 2008.
GAMBAR 4.13
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Dari 33 provinsi di Indonesia, 14 provinsi mencapai cakupan imunisasi


Campak 90%, 13 provinsi mencapai cakupan 80%-90%, dan 6 provinsi masih di
bawah 80%. Cakupan tertinggi dicapai DKI Jakarta (104,3%), DI Yogyakarta
(99,5%), dan Jawa Tengah (99,3%). Sedangkan cakupan terendah adalah Papua
(58,6%), Maluku (68,7%), dan Nanggroe Aceh Darussalam (70%). Data mengenai
cakupan imunisasi dasar pada bayi menurut provinsi terdapat pada Lampiran 4.13.
Menurut hasil Riskesdas 2007, pendidikan dan pengeluaran perkapita
berhubungan dengan persentase anak umur 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi
dasar termasuk juga Campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga
maka semakin tinggi pula anak mendapat imunisasi. Begitu pula dengan pengeluaran
perkapita, bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran perkapita semakin tinggi pula
anak mendapat imunisasi dasar. Tabel 4.3 berikut ini menjelaskan hubungan tersebut.

86

TABEL 4.3
PERSENTASE ANAK UMUR 12-23 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR
MENURUT KARAKTERISTIK RESPONDEN, 2007
Karakteristik responden

BCG

Tipe daerah
Perkotaan
92,4
Perdesaan
83,5
Pendidikan Kepala Keluarga
Tidak sekolah
78,6
Tidak tamat SD
79,3
Tamat SD
84,8
Tamat SMP
88,4
Tamat SMA
92,4
Tamat PT
95,7
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1
83,0
Kuintil 2
85,7
Kuintil 3
87,2
Kuintil 4
89,6
Kuintil 5
91,9
Sumber: Balitbangkes Depkes, Riskesdas 2007

Polio

Jenis imunisasi
DPT3
HB3

Campak

78,7
66,2

74,9
63,1

71
57,3

86,0
78,8

61,9
62,4
67,4
71,6
79,7
82,6

54,0
59,1
63,3
68,2
76,9
81,8

50,5
53,7
57,5
62,8
72,3
75,9

71,6
74,1
78,2
82,3
88,6
93,1

66,6
68,1
72,8
73,6
77,6

62,9
64,7
69,1
71,0
74,7

58,7
59,7
63,2
65,5
70,9

78,1
78,5
83,1
84,3
86,8

Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan


proksi terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0-11 bulan),
ibu hamil, WUS dan anak sekolah dasar. Desa UCI merupakan gambaran
desa/kelurahan dengan 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah
mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Standar pelayanan
minimal menetapkan target 100% desa/kelurahan UCI pada tahun 2010 untuk setiap
kabupaten/kota.
Gambar 4.14 berikut ini menggambarkan persentase desa/kelurahan UCI
yang belum menunjukkan perkembangan yang signifikan selama lima tahun terakhir.
Pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 76,23%. Tahun 2008 terdapat
74,02% desa/kelurahan UCI di Indonesia. Provinsi dengan pencapaian desa/
kelurahan UCI tertinggi pada tahun 2008 adalah Jawa Tengah (86,59%) dan terendah
di Maluku Utara (49,22%). Namun pada tahun 2008 angka nasional tersebut
diperoleh dari 20 provinsi yang menyampaikan laporan. Data lebih rinci mengenai
pencapaian desa UCI menurut provinsi tahun 2006-2008 terdapat pada Lampiran
4.12.

87

GAMBAR 4.14
PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN
DI INDONESIA TAHUN 2004-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Idealnya, seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya,


sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi dapat optimal. Namun kenyataannya, sebagian anak tidak mendapatkan
imunisasi dasar secara lengkap. Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out
imunisasi. Sebagai proksi bayi yang drop out digunakan imunisasi DPT1-Hb dan
Campak sebagai dasar perhitungan. Imunisasi DPT1-Hb adalah jenis imunisasi yang
pertama kali diberikan pada bayi. Sebaliknya, imunisasi Campak adalah imunisasi
dasar yang terakhir diberikan pada bayi. Diasumsikan bayi yang mendapat imunisasi
Campak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Selama enam tahun terakhir, angka drop out nasional paling rendah terjadi
pada tahun 2005 yaitu 1,4%. Angka drop out di Indonesia tahun 2008 sebesar 5,4%,
provinsi dengan angka drop out terendah adalah DI Yogyakarta (0%) dan tertinggi
adalah Papua Barat (19,9%). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.15. Rincian tentang
angka drop out menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.13.

88

GAMBAR 4.15
ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1Hb - CAMPAK PADA BAYI
DI INDONESIA TAHUN 2003-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

a. Imunisasi pada Ibu Hamil


Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut
Clostridium tetani. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi (Tetanus Neonatorum)
yang ditularkan melalui ibunya yang memang terinfeksi Tetanus atau pada saat
persalinan. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia.
Akan tetapi masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di
daerah-daerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih "jauh" dari
kondisi steril saat persalinan. Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun
bayinya terkena Tetanus.
Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program
eliminasi Tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. Strategi
yang dilakukan untuk mengeliminasi Tetanus Neonatorum dan maternal adalah 1)
pertolongan persalinan yang aman dan bersih; 2) cakupan imunisasi rutin yang tinggi
dan merata; dan 3) surveilans.
Bila ibu hamil terpapar oleh bakteri atau spora tersebut, maka si ibu berisiko
terinfeksi. Infeksi juga bisa diperoleh dari pusar bayi baru lahir. Karena bakteri ini
tumbuh melalui luka dan biasanya terjadi saat proses pemotongan tali pusat yang
menggunakan alat-alat seperti gunting atau pisau yang tidak steril.
Para ibu yang sudah menerima vaksin selama masa kehamilan, sudah
memberikan perlindungan untuk bayinya yang tentu saja akan mengurangi risiko
terkena Tetanus. Perlindungan tersebut cukup untuk masa dua bulan setelah
kelahiran di mana bayi akan mendapat imunisasi kombinasi sebagai bagian dari
program rutin imunisasi pemerintah untuk mencegah Difteri, Batuk rejan, dan
Tetanus setelahnya.

89

Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia


subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal, pencatatan yang dimulai dari
kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam, dan
cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan K4.
Dari Gambar 4.16 terlihat keadaan cakupan imunisasi TT2 selama enam
tahun terakhir tidak mengalami perkembangan, bahkan cenderung menurun.
Cakupan terendah terjadi pada tahun 2007. Tahun 2008 sebanyak 42,85% ibu hamil
mendapatkan imunisasi TT2 dengan cakupan tertinggi dicapai Nusa Tenggara Barat
dengan 80,89% dan terendah dicapai Kalimantan Timur dengan 4,08%.
GAMBAR 4.16
CAKUPAN TT2 PADA IBU HAMIL DI INDONESIA
TAHUN 2003-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi ke seluruh


petugas lapangan agar mengacu pada kriteria Ante Natal Care (ANC) berkualitas
yang salah satunya dengan imunisasi TT dan semua sistem pencatatan dalam
pelaksanaan imunisasi TT WUS termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan
yang sama yaitu T1-T5.
B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN
Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan
pelayanan kesehatan rujukan, pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III
di rumah sakit, cakupan pelayanan gawat darurat, dan lain-lain.
1. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari


berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi pelayanan.
Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang
dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR), rata-rata
lama hari perawatan (Length of Stay/LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn
Over/BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI),

90

persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase
pasien keluar yang meninggal >48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).
Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik, pemakaian tempat tidur BOR di
rumah sakit selama empat tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya
walaupun belum mencapai angka ideal yang diharapkan (60-85%), yaitu berkisar
antara 55% 57%. Namun pada tahun 2007 pemakaian tempat tidur meningkat
menjadi 65%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemanfaatan tempat tidur di
rumah sakit telah mencapai angka ideal.
GAMBAR 4.17
PENCAPAIAN BOR DAN BTO RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2003-2007

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Depkes RI

Keterangan:
BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur
BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai

BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali
tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun,
satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. Berdasarkan data yang sama, pada
tahun 2007 angka BTO rumah sakit telah mencapai angka ideal, yaitu sebesar 44
kali. Perkembangan BOR dan BTO sejak tahun 2003 dapat dilihat pada Gambar
4.17.
TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi
ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi
penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3
hari. Seperti halnya BOR dan BTO, pada tahun 2007 angka TOI rumah sakit di
Indonesia telah mencapai angka ideal, yaitu terdapat selang waktu 2,9 hari tempat
tidur tidak terisi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penggunaan tempat tidur
di rumah sakit telah memenuhi standar.
GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1.000 penderita keluar dari
rumah sakit. Nilai ideal GDR adalah < 45/1.000 pasien. Pada tahun 2007 angka GDR
di Indonesia sebesar 48,7 kematian per 1.000 pasien keluar rumah sakit.

91

NDR adalah angka kematian > 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1.000
pasien keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada
faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien.
Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 masa perawatan, dianggap faktor
keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien
meninggal. Nilai NDR yang ideal adalah < 25/1.000 pasien. NDR sejak tahun 2003
hingga 2007 berada di bawah 25, pada tahun 2007 sebesar 23,6. Dengan demikian
NDR mencapai angka ideal.
LOS adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini di samping
memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu
pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu
pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari.
Pada tahun 2007 LOS sebesar 5 hari. Gambar 4.18 memperlihatkan selama tahun
2003-2007 angka LOS belum mencapai angka ideal.
GAMBAR 4.18
PENCAPAIAN NDR, GDR DAN LOS RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2003-2007

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Depkes RI

Keterangan:
NDR = Net Death Rate (per 1.000 pasien keluar)
GDR = Gross Death Rate (per 1.000 pasien keluar)
LOS = Length of Stay rata-rata hari rawatan seorang pasien

2. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat

Tujuan penyelenggaraan Jamkesmas yaitu untuk meningkatkan akses dan


mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu
agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.
Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan
angka kematian ibu melahirkan, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta
penurunan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan
bagi masyarakat miskin umumnya. Program ini telah berjalan 4 tahun, dan telah
92

memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan


masyarakat miskin di puskesmas dan jaringannya yang disalurkan langsung ke
puskesmas. Pelayanan kesehatan di rumah sakit dikelola Departemen Kesehatan dan
pembayaran ke PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan) langsung melalui kas negara.
Sejak tahun 2005 hingga 2008 sasaran Jamkesmas yaitu jumlah orang miskin
dan hampir miskin terus bertambah kecuali pada tahun 2008 dengan jumlah sasaran
sama dengan tahun sebelumnya, yaitu 76,4 juta jiwa. Provinsi dengan jumlah sasaran
terbesar adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Gambar 4.19 berikut ini
menyajikan realisasi progrsm JPKM tahun 2005-2008.
GAMBAR 4.19
REALISASI PROGRAM JPKM
TAHUN 2005 2008

Sumber: Pusat PJK, Depkes RI

Dari 76,4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin, 26,22 juta
memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit sebagai
pelayanan kesehatan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahuntahun sebelumnya yang tidak lebih dari 7 juta jiwa. Mudahnya mendapatkan
pelayanan Jamkesmas bisa jadi meningkatkan pemanfaatan pelayanan Jamkesmas
oleh masyarakat miskin dan hampir miskin.
Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan
kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut. Pemberi pelayanan
kesehatan dasar Jamkesmas adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu,
polindes/poskesdes, pusling) yang berjumlah 8.234 unit. Sedangkan pemberi
pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada tahun 2008 berjumlah 920
dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah, 7% rumah sakit
TNI/POLRI, 33% rumah sakit swasta, dan 4% balai pengobatan seperti yang terlihat
pada Gambar 4.20.

93

GAMBAR 4.20
PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT
TAHUN 2008

Sumber: Pusat PJK, Depkes RI, 2009

Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan provinsi
dengan jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut, yaitu masing-masing
140, 115, dan 80 PPK. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga
disebabkan tingginya jumlah sasaran Jamkesmas. Jika di provinsi lain, jumlah
anggota masyarakat miskin dan hampir miskin kurang dari 5 juta jiwa, bahkan
beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa, namun di tiga provinsi tersebut
mencapai lebih dari 10 juta jiwa.
C. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
1. Pengendalian Penyakit Polio
Pada tahun 1988, sidang ke 41 WHA (World Health Assembly) yang dihadiri
para menteri kesehatan dari negara-negara anggota WHO, telah menetapkan program
eradikasi Polio secara global (global polio eradication initiative) yang ditujukan
untuk mengeradikasi penyakit Polio pada tahun 2000. Kesepakatan ini diperkuat oleh
sidang World Summit for Children pada tahun 1989, di mana Indonesia turut
menandatangani kesepakatan tersebut. Eradikasi dalam hal ini bukan sekedar
mencegah terjadinya penyakit Polio, melainkan mempunyai arti yang lebih luas lagi,
yaitu menghentikan terjadinya transmisi virus Polio liar di seluruh dunia.
Pengertian Eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus Polio liar
indigenous selama 3 tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan

94

surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi. Dasar pemikiran Eradikasi Polio
adalah:
1. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada manusia.
2. Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan.
3. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan mudah dalam
pemberian.
4. Layak dilaksanakan secara operasional.
Di Indonesia, selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang
disebabkan virus Polio liar. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak
pertengahan tahun 1995. Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi, namun
sejak adanya tenaga khusus (surveillance officer) di tingkat provinsi, kinerja
menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui
gerakan imunisasi Polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans
epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP)
kelompok umur <15 tahun dalam kurun waktu tertentu, untuk mencari kemungkinan
adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan
spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP
pada penduduk <15 tahun selama tahun 2003 2008, secara nasional diperoleh
gambaran seperti terlihat pada Gambar 4.21 berikut ini.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT
DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

95

Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans,


akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus
Polio liar yang menyerang masyarakat. Gambar 4.21 menunjukkan bahwa persentase
spesimen adekuat yang dikirim untuk pemeriksaan virus Polio semakin meningkat,
dengan demikian hasil pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili
kondisi di lapangan.
Sejak tahun 2003, kinerja surveilans AFP terus mengalami peningkatan.
WHO menetapkan target untuk non Polio AFP rate sebesar 2,5 per 100.000 anak
umur < 15 tahun. Sedangkan untuk standar spesimen adekuat adalah >80%, artinya
minimal 80% spesimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan yaitu diambil
14 hari setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0-8C sampai di laboratorium.
Dengan demikian sejak tahun 2003 hingga 2008 spesimen adekuat telah sesuai
standar WHO, kecuali pada tahun 2006 yaitu 79,10%.
Provinsi yang telah memenuhi target non polio AFP rate 2,5 per 100.000
anak umur < 15 tahun dan spesimen adekuat sesuai standar WHO sebanyak 18
provinsi. Provinsi-provinsi yang telah memenuhi standar kedua variabel tersebut
dapat dilihat pada Gambar 4.22 berikut ini.
GAMBAR 4.22
PENEMUAN KASUS AFP BERDASARKAN SPESIMEN ADEKUAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

Tahun 2005, sistem surveilans AFP di Indonesia berhasil mendeteksi kasus


virus Polio liar impor dari negara di Timur Tengah. Tahun 2008, berdasarkan
surveilans AFP kasus Polio liar sudah tidak ditemukan lagi di Indonesia.
2. Pengendalian TB-Paru

Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: 1) menurunkan insidens TB


Paru pada tahun 2015; 2) menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematian akibat
TB Paru menjadi setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990; 3)
sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA+ terdeteksi dan diobati melalui program DOTS

96

(Directly Observed Treatment Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan TB-Paru


dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO); dan 4)
sedikitnya 85% tercapai succes rate.
Pengembangan Program Pengendalian Penyakit TB Paru dengan strategi
DOTS sampai tahun 2008 telah dilaksanakan di seluruh provinsi, di 462
kabupaten/kota yang ada. Secara kuantitatif, DOTS telah dilaksanakan di 8.088
puskesmas (94,7%) dari 8.548 puskesmas. Untuk pelaksanaan DOTS di Balai
Pengobatan Penyakit Paru Provinsi (BP4)/ Rumah Sakit TB Paru (RSTP) sudah
mencapai 41 BP4 dan RSTP (65%) dari 63 BP4 dan RSTP. Sedangkan untuk rumah
sakit, sebanyak 563 (38,1%) dari 1.478 rumah sakit yang melaksanakan program
DOTS. Pelaksanaan pengendalian penyakit TB Paru sampai tahun 2008 telah dapat
menurunkan insidens kasus menular dari 130/100.000 penduduk (WHO-1995)
menjadi 101/100.000 penduduk.
DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan
pengawasan secara langsung. Dengan menggunakan strategi DOTS, maka proses
penyembuhan TB Paru dapat berlangsung secara cepat. DOTS menekankan
pentingnya pengawasan terhadap penderita TB Paru agar menelan obatnya secara
teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. Strategi DOTS memberikan
angka kesembuhan yang tinggi, dapat mencapai angka 95%. Strategi DOTS
direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB Paru.
Strategi DOTS terdiri atas 5 komponen, yaitu:
1) Adanya komitmen politis dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh
menanggulangi TBC.
2) Diagnosis penyakit TBC melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis.
3) Pengobatan TBC dengan paduan obat anti-TBC jangka pendek, diawasi secara
langsung oleh PMO (Pengawas Menelan Obat).
4) Tersedianya paduan obat anti-TBC jangka pendek secara konsisten.
5) Pencatatan dan pelaporan mengenai penderita TBC sesuai standar.
Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TBC, setiap tahunnya semakin
menunjukkan kemajuan. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita
yang ditemukan dan disembuhkan setiap tahun.
Gambar 4.23 memperlihatkan persentase penemuan suspek terhadap jumlah
perkiraan kasus TB Paru dan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru
selama tahun 2001-2008. Selama tahun 2001-2008 persentase penemuan suspek
terhadap jumlah perkiraan kasus TB Paru tertinggi terjadi pada tahun 2003 dan
terendah pada tahun 2001.

97

GAMBAR 4.23
PROPORSI SUSPEK TERHADAP PERKIRAAN KASUS TB PARU DAN
BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK
TAHUN 2001-2008

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes

Menurut standar, persentase BTA+ diperkirakan 10% dari suspek yang


diperkirakan di masyarakat dengan nilai yang ditoleransi antara 5-15%. Dengan
demikian, sejak tahun 2001-2008 persentase BTA+ terhadap suspek masih dalam
batas yang ditolerir. Berarti, petugas kesehatan mampu mendiagnosis kasus BTA+
sesuai standar.
Gambar 4.24 memperlihatkan kecenderungan angka penemuan kasus baru
(Case Detection Rate) dan angka keberhasilan pengobatan (Success Rate). Selama
tahun 2000-2008, angka CDR mengalami peningkatan yang berarti dari 20% pada
tahun 2000 menjadi 72,82% pada tahun 2008. CDR tertinggi terjadi pada tahun 2006
sebesar 75,7%. Target dunia CDR sebesar 70%. Dengan demikian pada tahun 2006
dan tahun 2008 Indonesia telah mampu mencapai target tersebut, walaupun pada
tahun 2007 sedikit menurun berada di bawah target.

98

GAMBAR 4.24
PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN
KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU
DI INDONESIA TAHUN 2000-2008

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

Keberhasilan pengobatan TB paru ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan


dalam berobat, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Angka keberhasilan pengobatan
semenjak 2000-2008 terlihat fluktuatif dengan kisaran 86% (pada tahun 2001 dan
2002) sampai 91% (pada tahun 2005 dan 2006). Namun semenjak tahun 2000,
Indonesia telah mencapai target keberhasilan pengobatan (85%).
Berdasarkan standar WHO, angka keberhasilan pengobatan penderita TB
Paru minimal 85%. Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2008
mencapai 91,02%, dengan kisaran antara 60% (Papua) sampai 99% (Gorontalo).
Gambar 4.27 memperlihatkan sebanyak 27 provinsi di Indonesia telah mencapai
target.
GAMBAR 4.26
ANGKA KEBERHASILAN (SUCCESS RATE) PENGOBATAN
PENDERITA TB PARU BTA+ PER PROVINSI TAHUN 2007

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

99

3. Pengendalian Penyakit ISPA

ISPA masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena


menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4
kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap
tahunnya. Antara 40% - 60% dari kunjungan di puskesmas adalah karena penyakit
ISPA. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena Pneumonia dan pada bayi
berumur kurang dari 2 bulan.
Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2
golongan yaitu Pneumonia dan yang bukan Pneumonia. Pneumonia dibagi atas
derajat beratnya penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat.
Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas
bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan Pneumonia. Etiologi dari sebagian
besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi
antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila
ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus
mendapat antibiotik.
Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang
ditemukan harus ditatalaksanakan sesuai standar, dengan demikian angka penemuan
kasus ISPA juga menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA.
Secara nasional, angka cakupan penemuan penderita Pneumonia pada balita
hingga saat ini masih belum mencapai target, seperti tampak pada Gambar 4.27 di
bawah ini.
GAMBAR 4.27
CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA DI INDONESIA
TAHUN 2005 2008

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

100

Cakupan penemuan penderita Pneumonia tetap rendah sejak tahun 2005


hingga 2008, bahkan cenderung menurun. Hambatan yang ditemui dalam
meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia balita di puskesmas yaitu:
a. Tenaga terlatih tidak melaksanakan MTBS/Tatalaksana Standar ISPA di
puskesmas.
b. Pembiayaan (logistik dan operasional) terbatas.
c. Pembinaan (bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih
sangat kurang.
d. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah
ISPA merupakan masalah multisektoral.
e. Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan
yang tidak terlatih.
Pada Gambar 4.28 memperlihatkan data cakupan penemuan Pneumonia pada
balita menurut provinsi belum ada yang mencapai target nasional yaitu 76%, tetapi
ada provinsi yang dengan cakupan yang jauh lebih tinggi dari provinsi lainnya, yaitu
NTB (56,60%) dan Jawa Barat (41,63%). Rata-rata cakupan secara nasional baru
mencapai 19,19%.
GAMBAR 4.28
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA MENURUT PROVINSI
TAHUN 2008

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2009

4. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS

Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit


HIV/AIDS, di samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga
diarahkan pada upaya pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang
dilanjutkan dengan kegiatan konseling.
Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap
darah donor, pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular
Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS), penyalahguna obat dengan
suntikan (IDUs), penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan
101

penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya.
Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS selama lima tahun terakhir menunjukkan
peningkatan sebagaimana terlihat pada Tabel 4.4 berikut ini.
TABEL 4.4
PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA
TAHUN 2003 2008
Tahun

Pengidap HIV
Per tahun

Kumulatif

Penderita AIDS
Per tahun

Kumulatif

Penderita AIDS Meninggal


Per tahun

Kumulatif

2003

168

2.720

316

1.487

261

479

2004

649

3.369

1.195

2.682

361

740

2005

875

4.244

2.638

5.321

592

1.332

2006

986

5.230

2.873

8.194

539

1.871

2007

836

6.066

2.947

11.141

498

2.369

4.969

16.110

993

3.362

2008
Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Case rate kumulatif kasus AIDS Nasional sampai dengan 31 Desember 2008
adalah 7,12 per 100.000 penduduk. Case rate kumulatif kasus AIDS tertinggi
dilaporkan dari Provinsi Papua (129,35), Bali (33,75), dan DKI Jakarta (30,52).
Dalam perjalanan penyakit dari HIV positif menjadi AIDS dikenal istilah window
periods yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini
menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit. Pada kelompok ini di samping
dilakukan pengobatan, yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk
menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan
lebih lanjut.
5. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit


yang perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu
singkat. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan
kejadian luar biasa di Indonesia.
Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu: 1)
peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor; 2) diagnosis dini dan
pengobatan dini; dan 3) peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit
DBD. Upaya pemberantasan vektor ini yaitu dengan pemberantasan sarang nyamuk
(PSN) dan pemeriksaan jentik berkala. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat
diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95%
diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Kegiatan PSN dilakukan
dengan cara 3M, yaitu: 1) menguras tempat-tempat penampungan air; 2) menutup
tempat penampungan air; dan 3) mengubur barang-barang bekas yang dapat
menampung air. Sedangkan pemeriksaan jentik berkala dilakukan oleh kader PKK
dan juru pemantau jentik (Jumantik).

102

Tabel 4.5 memperlihatkan pencapaian target indikator program P2DBD


selama dua tahun terakhir, yaitu tahun 2007 sampai tahun 2008. Angka Bebas Jentik
selama tahun 2007-2008 belum berhasil mencapai target (>95%). Begitu pula dengan
persentase kejadian DBD yang ditangani sesuai standar, belum mencapai target
(80%). Indikator pencapaian program P2DBD tahun 2007-2008 dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.
TABEL 4.5
INDIKATOR PROGRAM P2DBD DAN PENCAPAIAN TARGET 2007-2008
2007

INDIKATOR

Target

2008

Realisasi

Target

Realisasi

Persentase Rumah/ Bangunan Bebas


Jentik (%)

> 95

84

> 95

Persentase Kejadian DBD ditangani


sesuai Standard (%)
Angka Kesakitan DBD
(per 100.000 pddk)

80

50

80

< 20

71,78

< 20

60,06

<1

1,01

<1

0,86

Angka Kematian DBD (%)

82,6
-

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi/


penyampaian informasi/pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam
pelaksanaan PSN melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu Metode
Communication for Behavioral Impact (COMBI). Pada tahun 2007 pelaksanaan PSN
dengan metode COMBI telah dilaksanakan di beberapa kota antara lain Jakarta
Selatan, Jakarta Timur, Padang dan Yogyakarta; sedangkan pada tahun 2008
dilaksanakan di 5 kota, yaitu Jakarta Selatan, Bandung, Tangerang, Semarang dan
Surabaya. Kegiatan PSN dengan metode pendekatan COMBI tersebut menjadi salah
satu prioritas kegiatan dalam program P2DBD di masa yang akan datang.
6. Pengendalian Penyakit Malaria

Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dari


seluruh daerah, 73,6% merupakan daerah endemis Malaria dengan hampir separuh
(45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria. Meningkatnya jumlah penderita
Malaria dan terjadinya Kejadian Luar Biasa Malaria sangat berkaitan erat dengan
beberapa hal sebagai berikut: 1) adanya perubahan lingkungan yang berakibat
meluasnya tempat perindukan nyamuk penular malaria; 2) mobilitas penduduk yang
cukup tinggi; 3) perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan lebih panjang dari
musim kemarau; 4) krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan dampak pada
daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami gizi buruk
sehingga lebih rentan untuk terserang Malaria; 5) tidak efektifnya pengobatan karena
terjadi Plasmodium falciparum resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten;
dan 6) menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya
penanggulangan Malaria secara terpadu.
103

Eliminasi penyakit Malaria memiliki tujuan berikut:


Tujuan Umum
Pembebasan DKI Jakarta, Bali, Barelang Binkar: 2010
Pembebasan Jawa, NAD, Kepulauan Riau: 2015
Pembebasan Sumatera, NTB, Kalimantan, Sulawesi: 2020
Pembebasan Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, Maluku Utara: 2030
Tujuan Khusus2
1. Tahun 2010 jumlah desa dengan positif Malaria 5 per 1.000 penduduk
menurun 50%.
2. Tahun 2010 semua kabupaten/kota mampu melakukan pemeriksaan sediaan
darah malaria dan memberikan pengobatan tepat dan terjangkau.
3. Tahun 2020 seluruh wilayah Indonesia sudah melaksanakan intensifikasi dan
integrasi dalam pengendalian Malaria.
Penduduk yang menggunakan cara pencegahan terhadap Malaria diketahui
berdasarkan survei penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk
memerangi Malaria dengan kelambu. Pada tahun 2005 diketahui sebesar 1% dan
pada tahun 2006 berdasarkan survei yang dilaksanakan di Alor, Sumba Barat, Flores
Timur dan beberapa kabupaten di wilayah Sumatera rata-rata sebesar 24%. Bila
dibandingkan dengan target yang ingin dicapai maka angka tersebut masih lebih
kecil di mana pada tahun 2006 targetnya adalah sebesar 60%, sedangkan untuk tahun
2007 tidak dilakukan survey. Pada tahun 2008 berdasarkan survey yang dilakukan di
NAD, Sumatera Utara (Kabupaten Nias dan Nias Selatan) serta di 5 provinsi wilayah
timur diketahui bahwa persentase penduduk yang menggunakan kelambu yaitu pada
balita rata-rata sebesar 86,7% dan pada ibu hamil sebesar 87,75%. Target dan
realisasi persentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif
untuk memerangi Malaria selama tahun 2005-2008 dapat dilihat pada Gambar 4.29
berikut ini.
GAMBAR 4.29
PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN CARA PENCEGAHAN EFEKTIF
UNTUK MEMERANGI MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2005-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

104

Penderita Malaria yang diobati merupakan persentase penderita tersangka


Malaria dan/atau positif Malaria yang datang ke sarana kesehatan, diobati sesuai
pengobatan standar dalam kurun waktu 1 tahun.
Persentase penderita Malaria yang diobati sejak tahun 2003 hingga 2008
sebesar 100%, berarti semua penderita tersangka Malaria dan/atau positif Malaria
yang datang ke sarana kesehatan diobati sesuai pengobatan standar. Realisasi
pengobatan penderita tersangka Malaria dan/atau positif Malaria yang datang ke
sarana kesehatan sudah mencapai target seperti yang diperlihatkan Gambar 4.30
berikut ini.
GAMBAR 4.30
TARGET DAN PERSENTASE PENGOBATAN MALARIA
TAHUN 2003 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua penderita klinis


Malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya. Konfirmasi laboratorium 100%
telah dilakukan di Jawa Bali. Secara keseluruhan di Indonesia selama periode tahun
2004 2008 persentase pemeriksaan sediaan darah dibandingkan kasus Malaria
klinis mengalami peningkatan yang bermakna yaitu pada tahun 2004 sebesar 48%
sedangkan pada tahun 2008 meningkat menjadi 71% seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 4.31 di bawah ini.

105

GAMBAR 4.31
PENCAPAIAN KONFIRMASI LABORATORIUM/MIKROSKOP MALARIA
DI INDONESIA TAHUN 2004-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

7. Pengendalian Penyakit Kusta

Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit Kusta,


digunakan angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan cacat
terlihat). Tingginya proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan dalam
penemuan kasus atau dengan kata lain kinerja petugas yang rendah dalam
menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang rendah.
Penderita cacat tingkat II selama tahun 2004-2007 relatif stabil (8,6%-8,7%),
namun pada tahun 2008 terjadi sedikit kenaikan yaitu 9,6% seperti yang
diperlihatkan pada Tabel 4.6. Proporsi cacat tingkat II hingga tahun 2008 belum
mencapai target program (<5%). Hal ini berarti penularan masih terjadi di
masyarakat dan kasus ditemukan terlambat sehingga pada saat penemuan penderita
sudah mengalami cacat tingkat II.
TABEL 4.6
HASIL PEMERIKSAAN PENDUDUK, PENEMUAN KASUS BARU (CDR)
DAN PENDERITA CACAT TINGKAT II DI INDONESIA TAHUN 2004 - 2008
Tahun

Suspek Positif

CDR

Penderita Cacat
Tingkat II (%)

PB

MB

2004

3.615

12.957

7,8

8,6

2005

4.056

15.639

8,9

8,7

2006

3.550

14.750

8,3

8,6

2007

3.643

14.083

7,8

8,6

2008

3.113

14.328

7,3

9,6

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI


Catatan : MB = Multi Basiller, PB = Pausi Basiller, CDR = Case Detection Rate

106

8. Pengendalian Penyakit Filariasis

Di Indonesia penyakit Filariasis (penyakit kaki gajah) tersebar luas hampir di


seluruh provinsi. Program eliminasi Filariasis dilaksanakan atas dasar kesepakatan
global WHO tahun 2000 yaitu The Global Goal of Elimination of Lymphatic
Filariasis as a Public Health Problem the year 2020 yang merupakan realisasi dari
resolusi WHA (World Health Assembly) pada tahun 1997.
Program Eliminasi ini dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu :
a. Pengobatan massal (Mass Drug Administration/MDA) kepada semua penduduk
di kabupaten endemis Filariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB
dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama 5 tahun, guna
memutuskan rantai penularan.
b. Tatalaksana kasus klinis Filariasis guna mencegah dan mengurangi kecacatan.
Implementation Unit (IU) yang digunakan dalam program eliminasi Filariasis
sejak tahun 2005 adalah kabupaten/kota. Artinya satuan wilayah terkecil dalam
program ini adalah kabupaten/kota, baik untuk penentuan endemisitas maupun
pengobatan massal. Bila sebuah kabupaten/kota sudah endemis Filariasis, maka
sasaran pengobatan massal adalah semua penduduk di kabupaten/kota tersebut.
Semua penduduk harus minum obat, tetapi pengobatan untuk sementara ditunda
bagi: anak berumur < 2 tahun, ibu hamil, orang yang sedang sakit berat, penderita
kronis Filariasis yang dalam serangan akut dan balita dengan marasmus/kwashiorkor.
Target dan pencapaian pengobatan massal Filariasis tahun 2003-2008 dapat dilihat
pada Gambar 4.32 berikut ini.
GAMBAR 4.32
REALISASI PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2005 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Kegiatan penatalaksanaan kasus kronis Filariasis mulai tahun 20052008


terlihat adanya peningkatan. Pada tahun 2005 kasus kronis yang ditangani sebanyak
1.461 (21%), sedangkan pada tahun 2008 menjadi 4.695 kasus (40,13%). Diharapkan

107

pada tahun-tahun selanjutnya kasus kronis Filariasis yang mendapat tatalaksana


sesuai standar meningkat hingga mencapai target yaitu 90%.
Sejak tahun 2005 terjadi peningkatan persentase kabupaten/kota yang
melaksanakan pengobatan massal (MDA) setiap tahunnya, yaitu dari 13,25%
kabupaten/kota di antara 234 kabupaten/kota endemis pada tahun 2005 menjadi
30,70% kabupaten kota yang melaksanakan pengobatan massal pada tahun 2008.
Begitu pula dengan persentase kabupaten/kota yang melaksanakan pengobatan
massal seluas kabupaten/kota juga mengalami peningkatan pesat selama 4 tahun
terakhir, dari 9,68% pada tahun 2005 menjadi 53,61% pada tahun 2008.
GAMBAR 4.33
PENGOBATAN MASSAL FILARIASIS DI KABUPATEN/KOTA
TAHUN 2005-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Belum semua kabupaten/kota yang dapat melakukan pengobatan massal


dengan sasaran seluruh penduduknya, disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya
adalah karena besarnya biaya operasional yang harus disediakan serta belum semua
pemerintah daerah mempunyai komitmen untuk melakukan pengobatan massal
Filariasis tersebut. Padahal biaya operasional menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah baik kabupaten/kota maupun provinsi, sedangkan pengadaan obat merupakan
tanggung jawab pemerintah pusat. Oleh karena itu perlu diupayakan adanya
koordinasi dan komitmen dari pemerintah daerah maupun pusat serta mengupayakan
bantuan luar negeri untuk membantu daerah dalam penyediaan biaya operasional
pengobatan massal. Jumlah pengobatan massal Filariasis dapat dilihat pada Gambar
4.34 berikut ini.

108

GAMBAR 4.34
JUMLAH PENGOBATAN MASSAL FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2004 - 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Pada tahun 2008, target pengobatan massal adalah sekitar 29,7 juta penduduk,
sedangkan realisasinya adalah sekitar 12,3 juta (41,34%). Walaupun cakupan MDA
terlihat meningkat namun jika dibandingkan dengan target yang juga terus meningkat
setiap tahunnya, persentase pengobatan penduduk yang meminum obat Filariasis
sejak tahun 2004 cenderung menurun yaitu dari 86,85% pada tahun 2004 menjadi
41,34% pada tahun 2008.
9. Pengendalian Penyakit Avian Influenza

Upaya pencegahan penularan Avian Influenza (AI) dilakukan dengan cara


menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan beberapa
tindakan seperti:
Mencuci tangan dengan sabun cair pada air yang mengalir sebelum dan
sesudah melakukan suatu pekerjaan;
Melaksanakan kebersihan lingkungan;
Melakukan kebersihan diri;
Tiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna
unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata khusus);
Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas, seperti tinja harus ditata
laksana dengan baik (ditanam atau dibakar) agar tidak menjadi sumber
penularan bagi orang di sekitarnya;
Alat-alat yang digunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan;
Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan;
Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak dengan suhu 80o Celcius
selama satu menit, telur unggas dipanaskan dengan suhu 64o Celcius selama
lima menit.

109

Dari Gambar 4.35 dapat dilihat bahwa sebanyak 28% penderita Avian
Influenza berobat ke klinik swasta dan 18% ke bidan/mantri sebelum ke
pelayanan kesehatan yang lebih lengkap baik sarana maupun prasarananya.
Dengan demikian sosialisasi penatalaksanaan kasus yang meliputi identifikasi
kasus dan rujukan kasus AI ke RS rujukan saat ini adalah prioritas program
penatalaksanaan kasus AI.
GAMBAR 4.35
SARANA KESEHATAN PERTAMAKALI YANG DIKUNJUNGI
OLEH KASUS KONFIRMASI AI DI INDONESIA TAHUN 2005 - 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

Upaya-upaya yang sudah dilakukan dalam Penguatan Surveilans Avian


Influenza:
1. Pelatihan Penyelidikan dan Penanggulangan KLB khususnya AI untuk Tim
Gerak Cepat (TGC) tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
a. TGC provinsi: sudah dilatih 28 provinsi (sebanyak 5 regional), dan 5 provinsi
yang tersisa akan dilatih pada awal tahun 2009.
b. TGC kabupaten/kota: sudah dilatih sebanyak 345 kabupaten/kota, dan yang
lain sedang dalam proses pengusulan proposal pendanaan ke WHO.
2. Pertemuan review TGC provinsi sudah dilakukan sekali, untuk membahas
perkembangan TGC yang sudah dilatih.
3. Pelatihan District Surveillance Officer (DSO)/ petugas surveilans kabupaten/kota
untuk 90 kabupaten/kota di 9 provinsi, yaitu Banten, DI Yogyakarta, Bali,
Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara dan DKI
Jakarta. Masing-masing kabupaten/kota mempunyai 2 orang DSO yang
bekerjasama dengan PDSR (Participatory District Surveillance and Response)
dari sektor peternakan. DSO PDSR ini merupakan focal point pelaksana
surveilans integrasi AI di wilayah masing-masing, dengan harapan deteksi dini
kasus dan berbagi informasi dapat ditingkatkan.
4. Pertemuan review DSO (Agustus 2008), yang dihadiri oleh DSO dan
kasubdin/kasi untuk membahas permasalahan DSO di lapangan dan peningkatan
kinerja DSO ke depan.
5. Assessment terhadap DSO dan TGC yang dilakukan oleh tim eksternal yaitu
WHO. Assessment dilakukan di 6 provinsi dan 2 kabupaten/kota di masing-

110

6.

7.
8.
9.

masing provinsi tersebut. Hasil dari assessment tersebut secara garis besar adalah
bahwa TGC dan DSO sudah melakukan respon terhadap kasus-kasus AI, namun
perlu ditingkatkan untuk penyakit potensial KLB lainnya. Juga diperlukan
adanya perbaikan terhadap sistem manajemen data DSO, pelatihan penyegaran
untuk DSO dan TGC.
Masing-masing provinsi pilot secara berkala juga melakukan pertemuan review
DSO dan petugas teknis dari pusat (subdit surveilans) juga terlibat di dalam
pertemuan tersebut. Pertemuan dimaksudkan untuk mereview kegiatan-kegiatan
DSO, koordinasi dengan sektor peternakan dan berbagi informasi serta
pengalaman antar DSO dalam melaksanakan tugas dan memecahkan masalah di
lapangan. Dalam pertemuan ini juga disampaikan umpan balik dari pusat maupun
provinsi tentang laporan yang DSO kirimkan.
Penyelidikan epidemiologi terhadap kasus-kasus yang dianggap perlu dibantu
penyelidikan oleh pusat, sekaligus on the job training.
Sosialisasi tentang surveilans AI integrasi pada pertemuan-pertemuan teknis di
tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota.
Beberapa analisis dari laporan DSO dan kinerja DSO.

10. Surveilans Vektor

Salah satu hal yang senantiasa harus diperhatikan dalam pengendalian vektor
adalah monitoring resistensi vektor terhadap insektisida yang dipergunakan oleh
berbagai kalangan, seperti instansi pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan
kabupaten/kota dan jajarannya sebagai unit pelaksana kegiatan pengendalian vektor
di lapangan. Di samping itu UPT pusat yang berada di daerah seperti Kantor
Kesehatan Pelabuhan (KKP) termasuk salah satu instansi yang melakukan
pengendalian vektor dan binatang pengganggu lainnya secara rutin.
Keberadaan perusahaan pest control yang jumlahnya cukup banyak baik yang
terdaftar resmi maupun yang belum terdaftar, melakukan pengendalian vektor dan
serangga pengganggu pada umumnya menggunakan insektisida sebagai metode yang
paling sering dipergunakan untuk menurunkan populasi vektor.
Penggunaan insektisida rumah tangga merupakan permasalahan tersendiri
yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Insektisida rumah tangga yang dijual bebas di
pasaran serta penggunaannya di masyarakat yang tidak terpantau akan lebih
mempercepat terjadinya resistensi.
Pengendalian vektor saat ini memang identik dengan penggunaan insektisida,
meskipun upaya pengendalian dengan metode lain juga perlu dipertimbangkan.
Dengan kondisi seperti itu, maka pengawasan atau monitoring terhadap penggunaan
insektisida dan dampaknya perlu dilakukan agar hasilnya tetap efektif dan tidak
menimbulkan pencemaran lingkungan.

111

A. Indikator Program Pengendalian Vektor

Pencapaian target indikator program pengendalian vektor sampai dengan


tahun 2008 seperti terlihat pada Tabel 4.7. Masih banyak indikator yang belum
mencapai target yang telah ditentukan. Ada beberapa faktor atau kendala yang bisa
menjadi alasan. Pertama dari sisi pembiayaan yang sering tidak terealisasi sampai
akhir tahun karena tidak dapat dicairkan, faktor kedua yaitu indikator tersebut bukan
hanya menjadi tugas dan fungsi dari Subdit Pengendalian Vektor tetapi juga tugas
dan tanggung jawab dari instansi lainnya (lintas program dan lintas sektor di pusat
dan daerah).

No
1
2
3
4
5
6
7
8

TABEL 4.7
PENCAPAIAN PROGRAM SUBDIT PENGENDALIAN VEKTOR
PER JENIS INDIKATOR SAMPAI DENGAN TAHUN 2008
Jenis Indikator
Satuan Target Realisasi
Persentase kabupaten endemis (tertular) penyakit
%
40
38,64
bersumber binatang yang mempunyai tenaga teknis
Persentase kabupaten yang melaksanakan kegiatan
%
30
27,95
pemberantasan vector Malaria berdasarkan data
vektor dan dinamika penularan Malaria
Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan uji
%
60
35,68
kerentanan vektor
Persentase provinsi yang melaksanakan pemetaan
%
70
7,27
vektor Malaria
Persentase kabupaten/kota yang melakukan uji
%
5
2,73
efikasi terhadap insektisida yang digunakan
Persentase kabupaten/kota endemis Malaria yang
%
25
27,5
dilakukan evaluasi terhadap mutu pengendalian
vektor
Persentase kab/kota endemis DBD yang dilakukan
%
25
27,5
evaluasi terhadap mutu pengendalian vektor
Persentase kabupaten/kota yang positif jentik Aedes
%
1,36
aegypty ( House Index/H I < 5%)

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

B. Insektisida

Pengendalian vektor dilakukan dengan berbagai macam cara/metode seperti


pengendalian secara fisik, biologis, kimiawi, dan bentuk pengendalian vektor yang
dianjurkan sekarang adalah pengendalian secara terpadu atau yang lebih dikenal
dengan Integrated Vector Control.
Dalam kondisi tertentu jumlah populasi vektor meningkat tajam dan kasus
meningkat secara signifikan. Perlu adanya upaya-upaya untuk menurunkan populasi
vektor secara cepat dan penggunaan bahan insektisida merupakan pilihan yang tidak
bisa dihindarkan. Berikut ini data insektisida yang disetujui WHO untuk
pengendalian nyamuk dewasa dengan jenis yang terbatas untuk kurun waktu 15
tahun seperti yang terlihat pada Tabel 4.8 di bawah ini.

112

TABEL 4.8
JENIS INSEKTISIDA YANG DISETUJUI WHO
UNTUK PENGENDALIAN NYAMUK
Tahun
1940 - 45
1946 - 50
1951 - 55
1956 - 60
1961 - 65
1966 - 70
1971 - 75
1976 - 80
1981 - 85
1986 - 90

Jenis Insektisida
DDT
Lindane
Malathion
Fenitrothion
Chlorpyrifos-methyl
Pirimiphos-methyl
Cypermetrin
Alpha-cypermethrin
Lambda-cyhalothrin
Etofenprox

Propoxur
Bendiocarb

Permethrin

Cyfluthrin
Deltamethrin

Bifenthrin

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI


Keterangan:

Organochlorines
Organophosphates

Carbamates
Pyrethroids

C. Monitoring Resistensi

Penggunaan insektisida secara terus menerus di suatu wilayah tertentu akan


dapat menyebabkan resistensi terhadap spesies sasaran. Untuk mencegah terjadinya
resistensi vektor terhadap insektisida diperlukan kebijakan penggunaan insektisida
sesuai dengan standar yang berlaku.
Untuk memastikan status kerentanan vektor perlu dilakukan pemantauan
vektor di berbagai wilayah dengan institusi lain di bawah Departemen Kesehatan
maupun perguruan tinggi. Berikut ini gambaran resistensi Aedes aegypti terhadap
malathion 0,8 % di berbagai wilayah.
GAMBAR 4.36
RESISTENSI NYAMUK AEDES AEGYPTI TERHADAP MALATHION 0,8%
DI INDONESIA SAMPAI DENGAN TAHUN 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

113

Monitoring resistensi juga dilakukan terhadap vektor Malaria terhadap


beberapa jenis insektisida yang digunakan. Hasil uji resistensi beberapa spesies
vektor Malaria terhadap Lamda cihalothrin, Bendiocarb 0,1 % dan Deltametrin
sebagaimana terlihat pada Gambar 4.37 berikut ini.
GAMBAR 4.37
MONITORING RESISTENSI VEKTOR MALARIA
DI INDONESIA TAHUN 2007 - 2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Depkes RI

D. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT


Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani
permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang telah
dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada
kelompok masyarakat antara lain kekurangan Vitamin A dan anemia gizi besi.
1. Pemberian Kapsul Vitamin A

Vitamin A merupakan zat gizi yang penting (esensial) bagi manusia, karena
zat gizi ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar. Vitamin
A dapat diperoleh tubuh melalui bahan makanan antara lain bayam, daun singkong,
pepaya matang, ASI, bahan makanan yang diperkaya dengan Vitamin A, dan kapsul
Vitamin A dosis tinggi.
Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, dan lebih
penting lagi Vitamin A meningkatkan daya tahan tubuh. Anak-anak yang cukup
mendapat vitamin A, bila terkena Diare, Campak atau penyakit infeksi lain, maka
penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah, sehingga tidak
membahayakan jiwa anak.
Dengan adanya bukti-bukti yang menunjukkan peranan Vitamin A dalam
menurunkan angka kematian, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
114

Vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup anak, kesehatan dan
pertumbuhan anak.
Upaya meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber Vitamin A melalui
proses Komunikasi-Informasi-Edukasi (KIE) merupakan upaya yang paling aman
dan berkelanjutan. Namun seringkali penyuluhan tidak akan segera memberikan
dampak nyata. Selain itu kegiatan fortifikasi Vitamin A masih bersifat rintisan. Oleh
sebab itu penanggulangan kekurangan Vitamin A saat ini masih bertumpu pada
pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi.
Kelompok sasaran pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi yaitu bayi, anak
balita, dan ibu nifas.
1. Bayi
Kapsul Vitamin A 100.000 SI diberikan kepada semua anak bayi (umur 6-11
bulan) baik sehat maupun sakit. Diberikan setiap 6 bulan secara serempak pada
bulan Februari dan Agustus.
2. Anak Balita
Kapsul Vitamin A 200.000 SI diberikan kepada semua anak balita (umur 1-4
tahun) baik sehat maupun sakit. Diberikan setiap 6 bulan secara serempak pada
bulan Februari dan Agustus.
3. Ibu Nifas
Kapsul Vitamin A 200.000 SI diberikan kepada ibu yang baru melahirkan (nifas)
sehingga bayinya akan memperoleh Vitamin A yang cukup melalui ASI.
Diberikan paling lambat 30 hari setelah melahirkan.
Pemberian kapsul Vitamin A menurut sasaran tahun 2008 dapat dilihat pada
Gambar 4.38 berikut.
GAMBAR 4.38
PERSENTASE PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A
MENURUT SASARAN DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Depkes RI, 2009

Selain 3 kelompok di atas, ada kejadian tertentu yang harus segera diberikan
kapsul Vitamin A, yaitu:
115

a. Xerophthalmia; dengan tanda-tanda buta senja, bercak putih (bercak bitot), mata
keruh atau kering. Pemberian Vitamin A dilakukan dengan ketentuan sebagai
berikut:
Saat ditemukan: segera diberi 1 (satu) kapsul Vitamin A 200.000 SI;
Hari berikutnya: 1 (satu) kapsul Vitamin A 200.000 SI;
4 (empat) minggu berikutnya: 1 (satu) kapsul Vitamin A 200.000 SI.
b. Campak
Anak yang menderita campak, segera diberi satu kapsul Vitamin A 200.000 SI.
Untuk bayi diberi satu kapsul Vitamin A 100.000 SI.
2. Pemberian Tablet Besi

Anemia gizi merupakan masalah kesehatan yang ikut berperan sebagai


penyebab tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, produktivitas kerja,
prestasi olahraga dan kemampuan belajar. Oleh karena itu, penanggulangan anemia
gizi menjadi salah satu program potensial untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia, yang telah dilaksanakan pemerintah sejak Pembangunan Jangka Panjang I.
Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi
terutama anemia akibat kekurangan zat besi (Fe). Hasil Survey Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT)/Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia dari tahun ke tahun
dapat dilihat pada Gambar 4.39. Terjadi penurunan yang signifikan terhadap
persentase anemia pada ibu hamil, dari 73,3% pada tahun 1986 (SKRT) menjadi
24,5% pada tahun 2007 (Riskesdas, 2007).
GAMBAR 4.39
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDERITA ANEMIA DI INDONESIA
TAHUN 1986-2007

Sumber: Direktorat Bina Gizi Masyarakat, dan Balitbangkes, Depkes RI

Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak, umumnya


digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 736a/Menkes/XI/1989, yaitu :

116

Hb laki-laki dewasa: >13 g/dl


Hb perempuan dewasa: >12 g/dl
Hb anak-anak: >11 g/dl
Hb ibu hamil: >11 g/dl

Seseorang dikatakan anemia bila kadar Hb-nya kurang dari nilai baku tersebut di
atas.
Kurangnya asupan zat besi (Fe) yang adekuat mengakibatkan timbulnya
penyakit anemia gizi. Gejala yang tampak jika kadar Hb di bawah 11 g/dl adalah
pucat, lesu, letih, lemah dan terjadinya pendarahan.
Masalah yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia adalah masih relatif
tingginya prevalensi anemia ibu hamil dan sebagian besar penyebabnya adalah
kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, sehingga
anemia yang ditimbulkan disebut anemia kekurangan besi. Keadaan kekurangan besi
pada ibu hamil dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik
pada sel tubuh maupun sel otak pada janin. Pada ibu hamil dapat mengalami
keguguran, lahir sebelum waktunya, bayi berat lahir rendah (BBLR), perdarahan
sebelum serta pada waktu melahirkan, dan pada anemia berat dapat menimbulkan
kematian ibu dan bayi. Pada anak dapat mengalami gangguan pertumbuhan, tidak
dapat mencapai tinggi yang optimal dan anak menjadi kurang cerdas.
Gambar 4.40 memperlihatkan kecenderungan cakupan pemberian Fe1 dan
dan Fe3 sejak 2003 yang cenderung menurun pada tahun 2008.
GAMBAR 4.40
CAKUPAN PEMBERIAN Fe1 DAN Fe3 PADA IBU HAMIL
DI INDONESIA TAHUN 2003-2008

Sumber: Dit.Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas, Depkes RI

Pada tahun 2008 cakupan pemberian Fe3 (90 tablet) sebesar 48% dengan
rentang antar provinsi 20% di Maluku sampai 86% di Kepulauan Bangka Belitung.
Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar
4.41 berikut ini.

117

GAMBAR 4.41
CAKUPAN PEMBERIAN FE3 PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI
TAHUN 2008

Sumber: Dit.Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas, Depkes, 2009

Mengingat dampak anemia tersebut di atas yang dapat menurunkan kualitas


sumber daya manusia di Indonesia, maka perlu penanggulangan kekurangan zat besi
pada ibu hamil dengan segera. Oleh sebab itu pemerintah Indonesia mulai
menerapkan suatu program penambahan zat besi sekitar dua puluh tahun yang lalu.
Program ini dilaksanakan dengan harapan setiap ibu hamil secara teratur
memeriksakan diri ke puskesmas atau posyandu selama masa kehamilannya. Tablet
besi dibagikan oleh petugas kesehatan kepada ibu hamil secara gratis.
E. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA
Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana
lingkungan hidup dan bencana alam. Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari
kerusakan lingkungan seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan
lahan, kecelakaan industri, tumpahan minyak di laut; sedangkan bencana alam terjadi
sebagai akibat aktivitas lapisan/kerak bumi/fenomena alam seperti gempa bumi,
gelombang tsunami, letusan gunung berapi, badai atau angin ribut yang kejadiannya
sulit diprediksi.
Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes,
sepanjang tahun 2008 tercatat 456 kali kejadian bencana yang mengakibatkan krisis
kesehatan dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Jenisnya pun beraneka
ragam seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kecelakaan industri dan
konflik sosial. Beberapa di antaranya merupakan bencana besar yang menyebabkan
puluhan korban jiwa dan ratusan bahkan ribuan korban luka-luka serta adanya
pengungsi.

118

Banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi dengan frekuensi 42%
dari seluruh kejadian bencana. Jenis kejadian bencana lain yang juga sering terjadi
berturut-turut yaitu tanah longsor (17%) dan angin puting beliung (14%). Frekuensi
banjir yang tinggi terjadi pada bulan Januari-Maret dan November-Desember. Angka
kematian tertinggi diakibatkan tanah longsor yaitu sebanyak 103 jiwa. Kemudian
disusul akibat banjir yang menelan 58 korban meninggal.
Jumlah pengungsi tertinggi pada tahun 2008 diakibatkan oleh bencana banjir
sebanyak 303.277 jiwa, banjir bandang 23.075 jiwa dan gempa bumi 10.747 jiwa.
Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.30
Demikian gambaran mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai
dengan tahun 2008.
***

119

BAB V
SUMBER DAYA KESEHATAN

Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam


penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Pada bab ini, sumber daya kesehatan diulas dengan
menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan
kesehatan.
A. SARANA KESEHATAN

Sarana kesehatan yang digambarkan dalam bab ini meliputi: puskesmas, rumah
sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit khusus), sarana Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), sarana produksi dan distribusi farmasi, alat
kesehatan, serta institusi pendidikan tenaga kesehatan.
1. Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas adalah unit
pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam menyelenggarakan upaya
kesehatan terintegrasi dengan peran dan fungsi sebagai : 1) pusat pembangunan
berwawasan kesehatan; 2) pusat penggerakan peran serta masyarakat; dan 3) pusat
pelayanan kesehatan dasar.
Jumlah puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2008 adalah sebanyak
8.548 unit, dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2.438 unit dan puskesmas non
perawatan sebanyak 6.110 unit. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui
keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100.000
penduduk. Dalam kurun waktu 2004 hingga 2008, rasio ini menunjukkan adanya
peningkatan. Rasio puskesmas per 100.000 penduduk pada tahun 2004 sebesar 3,48, pada
tahun 2008 meningkat menjadi 3,74, seperti terlihat pada Gambar 5.1 berikut ini.

98

GAMBAR 5.1
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2004-2008

Sumber : Ditjen Bina Kesmas dan Pusdatin, Depkes RI

Rasio puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi menunjukkan


gambaran bahwa rasio tertinggi pada tahun 2008 adalah Provinsi Papua Barat, yaitu
sebesar 13,15, sedangkan rasio terendah adalah Provinsi Banten, yaitu sebesar 2,02.
Rasio puskesmas di tiap provinsi pada tahun 2008 terdapat pada Gambar 5.2. Sedangkan
rincian jumlah dan rasio puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi pada tahun
2008 terdapat pada Lampiran 5.1.
GAMBAR 5.2
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008

Sumber : Ditjen Bina Kesmas dan Pusdatin, Depkes RI

Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas,


beberapa puskesmas non perawatan telah ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas
perawatan. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, yaitu tahun 2004 2008 telah terjadi
peningkatan jumlah puskesmas perawatan dari 2.010 unit pada tahun 2004 menjadi 2.438
unit pada tahun 2008. Perkembangan jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan
pada tahun 2004-2008 dapat dilihat pada Gambar 5.3. Rincian mengenai jumlah
puskesmas non perawatan dan perawatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.2.
99

GAMBAR 5.3
JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN
TAHUN 2004 2008

Sumber: Ditjen Bina Kesmas dan Pusdatin, Depkes RI

Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap


masyarakat di wilayah kerjanya, puskesmas didukung oleh sarana pelayanan
kesehatan berupa puskesmas pembantu (pustu), puskesmas keliling dan
polindes/poskesdes. Menurut hasil pendataan Potensi Desa oleh BPS, jumlah
pustu pada tahun 2008 dilaporkan sebanyak 23.163 unit. Dengan demikian, maka
rasio pustu terhadap puskesmas sebesar 2,7 pustu per puskesmas. Rincian jumlah
pustu menurut provinsi pada tahun 2008 terdapat pada Lampiran 5.3.
2. Rumah Sakit

Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif, di


dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif. Rumah
sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan
kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan
rujukan.
Pada tahun 2008 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1.372 unit, yang
terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1.080 unit dan rumah sakit khusus (RSK)
berjumlah 292 unit. Rumah sakit tersebut dikelola oleh Departemen Kesehatan,
pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, TNI/POLRI, departemen lain/BUMN
serta sektor swasta.
Bila melihat perkembangan sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, maka
terjadi peningkatan jumlah rumah sakit, baik rumah sakit umum maupun rumah sakit
khusus. Pada tahun 2004 terdapat 1.246 rumah sakit di Indonesia, jumlah ini naik 10,11%
menjadi 1.372 unit pada tahun 2008.

100

Tabel 5.1 berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan
khusus) di Indonesia tahun 2004 2008. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun
2008 menurut pengelola dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.4.

TABEL 5.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS)
DI INDONESIA TAHUN 2004 2008
No.

Pengelola/Kepemilikan

2004

2005

2006

2007

2008

Departemen Kesehatan
dan Pemerintah Provinsi/
Kab/Kota

435

452

464

477

509

TNI/POLRI

112

112

112

112

112

BUMN/Departemen Lain

78

78

78

78

78

Swasta

621

626

638

652

673

1.246

1.268

1.292

1.319

1.372

Jumlah

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2004-2008) jumlah rumah sakit umum baik
yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami peningkatan,
pada tahun 2004 terdapat 976 unit menjadi 1.080 unit pada tahun 2008. Jumlah rumah
sakit umum di Indonesia menurut pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5.5.
Perkembangan RSU di Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.4
berikut ini.
GAMBAR 5.4
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM
DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI

Dari rumah sakit umum yang dikelola oleh Departemen Kesehatan, pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong RSU kelas C.
101

Dari jumlah 432 RSU, terdapat 256 unit (59,26%) kelas C, 88 unit (20,37%) kelas D, 79
unit (18,29%) kelas B dan 8 unit (1,85%) kelas A. Gambar 5.5 berikut ini menjelaskan
persentase RSU menurut kelas.

GAMBAR 5.5
PERSENTASE RUMAH SAKIT UMUM
MILIK DEPARTEMEN KESEHATAN/PEMERINTAH DAERAH
MENURUT KELAS TAHUN 2008

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI

Terdapat 8 RSU milik Departemen Kesehatan dan pemerintah daerah yang


termasuk kelas A, yang terdapat di 8 kota yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Semarang,
Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Informasi lebih rinci mengenai jumlah
RSU yang dikelola oleh Departemen Kesehatan dan pemerintah daerah menurut kelas
dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.7.
Jumlah rumah sakit khusus baik milik pemerintah maupun swasta dalam kurun
waktu tahun 2004-2008 menunjukkan adanya peningkatan. Pada tahun 2004 terdapat 270
unit rumah sakit khusus, meningkat menjadi 292 pada tahun 2008. Perkembangan jumlah
RSK selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.6 berikut ini.

102

GAMBAR 5.6
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS
DI INDONESIA TAHUN 2004 2008

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI

Sebagian besar rumah sakit khusus tersebut adalah RS Ibu dan Anak sebanyak 79
unit dan RS Bersalin sebanyak 57 unit, seperti dapat dilihat pada Gambar 5.7. Jumlah
rumah sakit khusus beserta jumlah tempat tidurnya tahun 2004-2008 terdapat pada
Lampiran 5.8.
GAMBAR 5.7
JENIS RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI

Jumlah tempat tidur suatu rumah sakit dapat digunakan untuk menggambarkan
kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Jumlah tempat tidur pada rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam

103

5 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. Gambaran peningkatan tersebut dapat


dilihat pada Gambar 5.8 di bawah ini.
GAMBAR 5.8
PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR
RUMAH SAKIT UMUM (RSU) DAN RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK)
DI INDONESIA TAHUN 2004-2008

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI

Rasio jumlah tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk juga dapat
menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan. Rasio jumlah
tempat tidur per 100.000 penduduk dari tahun 2004-2008 juga mengalami peningkatan,
rasio pada tahun 2004 sebesar 60,92 naik menjadi 65,44 pada tahun 2008. Gambar 5.9
menampilkan jumlah tempat tidur dan rasio tempat tidur per 100.000 penduduk di rumah
sakit pada tahun 2004-2008. Data mengenai jumlah tempat tidur pada rumah sakit umum
dan rumah sakit khusus dapat dilihat pada Lampiran 5.5, Lampiran 5.6 dan Lampiran 5.8.
GAMBAR 5.9
JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN
RASIONYA PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2004 2008

104

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI

Proporsi tempat tidur di rumah sakit umum menurut kelas perawatan


menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah Kelas III, yaitu sebesar 44,4%,
diikuti oleh Kelas II sebesar 23,6% dan Kelas I sebesar 11,9%. Selain tiga jenis kelas
perawatan tersebut, terdapat kelas VIP sebesar 8,4% dan tanpa kelas sebesar 11,7%.
Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tidur di RSU menurut jenis kelas
perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.6.
Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir
miskin terhadap pelayanan kesehatan, pemerintah melalui Departemen Kesehatan dan
beberapa pemerintah daerah telah memberikan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis
di puskesmas dan kelas III di rumah sakit bagi peserta Jamkesmas. Jumlah penduduk
yang ditanggung oleh program Jamkesmas pada tahun 2008 sebanyak 76.400.000 jiwa.
Sedangkan jumlah tempat tidur kelas III di RSU sebanyak 57.147 tempat tidur. Dengan
demikian, maka rasio jumlah tempat tidur kelas III di RSU terhadap jumlah peserta
Jamkesmas adalah 75 tempat tidur per 100.000 peserta.
3. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan

Sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat
digunakan untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi
masyarakat. Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terlihat adanya kecenderungan
peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan. Hal ini dapat dilihat
pada Gambar 5.12 berikut ini. Jumlah sarana produksi bidang kefarmasian dan alat
kesehatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.9.
GAMBAR 5.10
JUMLAH SARANA PRODUKSI BIDANG KEFARMASIAN
DAN ALAT KESEHATAN TAHUN 2004-2008

105

Sumber: Ditjen Binfar & Alkes, Depkes RI

Jumlah sarana distribusi bidang kefarmasian dan alat kesehatan selama lima tahun
terakhir (2004-2008) terdapat pada Gambar 5.11 berikut ini. Rincian menurut provinsi
pada kurun waktu tersebut dapat dilihat pada Lampiran 5.10.
GAMBAR 5.11
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI BIDANG KEFARMASIAN
DAN ALAT KESEHATAN 2004 -2008

Sumber: Ditjen Binfar & Alkes, Depkes RI

106

4. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat

Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan


berbagai pendekatan, termasuk di dalamnya dengan melibatkan potensi masyarakat. Hal
ini sejalan dengan konsep pemberdayaan pengembangan masyarakat. Langkah tersebut
tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM). UKBM di antaranya terdiri dari Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), Polindes
(Pondok Bersalin Desa) dan Poskesdes (Pos Kesehatan Desa) di Desa Siaga, Toga
(Tanaman Obat Keluarga), dan POD (Pos Obat Desa).
Salah satu jenis UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di
masyarakat adalah Posyandu. Dalam menjalankan fungsinya, posyandu diharapkan dapat
melaksanakan 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana,
perbaikan gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare. Dalam rangka menilai kinerja dan
perkembangnnya, posyandu diklasifikasikan menjadi 4 strata, yaitu Posyandu Pratama,
Posyandu Madya, Posyandu Purnama, dan Posyandu Mandiri. Menurut pendataan Potensi
Desa yang diselenggarakan oleh BPS, pada tahun 2008 terdapat 70.046 posyandu yang
aktif, dengan demikian maka rasio terhadap desa/kelurahan sebesar 0,9 posyandu aktif per
desa/kelurahan.
Keberadaan polindes dan poskesdes di desa-desa merupakan salah satu wujud
upaya mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di
dalamnya pelayanan kebidanan. Pelayanan yang diberikan polindes mencakup tempat
pertolongan persalinan dan pelayanan KIA. Data Podes menyebutkan bahwa pada tahun
2008 terdapat 25.271 unit Polindes. Rasio Polindes terhadap desa secara nasional pada
tahun 2008 sebesar 0,32. Rasio tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Timur dengan rasio 0,66
diikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 0,59 dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,53.
Informasi selengkapnya mengenai rasio polindes menurut provinsi pada tahun 2008 dapat
dilihat pada Gambar 5.12 berikut ini.
GAMBAR 5.12
RASIO POLINDES TERHADAP JUMLAH DESA TAHUN 2008

107

Sumber: Potensi Desa, BPS, 2008

Sedangkan jumlah Poskesdes pada tahun 2008 sebesar 11.287 unit. Rasio
Poskesdes terhadap jumlah desa pada tahun 2008 sebesar 0,14. Rasio tertinggi terdapat
pada Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Jawa Timur sebesar 0,32, diikuti oleh Jawa
Tengah sebesar 0,31. Gambar 5.13 berikut ini menyajikan rasio poskesdes menurut
provinsi pada tahun 2008. Sedangkan data mengenai sarana kesehatan hasil pendataan
Potensi Desa oleh BPS Tahun 2008 terdapat pada Lampiran 5.3.

GAMBAR 5.13
RASIO POSKESDES TERHADAP JUMLAH DESADI INDONESIA TAHUN 2008

108

Sumber: Potensi Desa, BPS, 2008

5. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan

Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang


memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan
yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula.
Departemen kesehatan merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di
dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. Institusi yang mengelola
pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) di lingkungan Departemen Kesehatan adalah
institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) dan institusi Diknakes Non Poltekkes.
Jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan pada tahun 2008 sebanyak 1.068
dengan rincian institusi Poltekkes sebanyak 214 dan institusi non Poltekkes sebanyak
854. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2007 yang berjumlah 954
institusi yang terdiri dari Poltekkes sebanyak 208 dan Non Poltekkes sebanyak 746.
Berdasarkan klasifikasi jenis program studi, institusi poltekkes terbanyak adalah program
studi Keperawatan sebanyak 137 program studi (64,02%); Gizi sebanyak 26 program
studi (12,15%) dan Kesehatan Masyarakat sebanyak 20 program studi (9,35%). Jumlah
program studi pada institusi diknakes Poltekkes terdapat pada Gambar 5.14 berikut ini.

109

GAMBAR 5.14
PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Pusdiknakes, Badan PPSDM Kesehatan, Depkes 2008

Pada institusi Diknakes non Poltekkes dari jumlah 854 insititusi, jurusan
Keperawatan menempati jumlah terbanyak yaitu sebesar 640 (74,94%), diikuti oleh
Kefarmasian berjumlah 97 (11,36%), dan Keteknisian Medis berjumlah 77 (9,02%).
Gambar 5.15 berikut ini menunjukkan jumlah program studi pada institusi Diknakes non
Poltekkes tahun 2008.
GAMBAR 5.15
JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Pusdiknakes, Badan PPSDM Kesehatan, Depkes 2008

Dalam rangka mengevaluasi perkembangan dari insititusi Diknakes Poltekkes,


Departemen Kesehatan telah melakukan proses akreditasi. Hingga tahun 2008 terdapat
183 program studi yang telah terakreditasi dan 31 program studi belum terakreditasi. Dari
seluruh program studi yang telah terakreditasi sebagian besar memiliki akreditasi B
dengan jumlah 99 program studi (54,1%). Sedangkan program studi dengan akreditasi A

110

sebanyak 77 program studi (42,08%) dan akreditasi C sebanyak 7 program studi (3,83%).
Gambar 5.16 berikut ini menunjukkan persentase akreditasi program studi pada institusi
Diknakes Poltekkes. Informasi selengkapnya mengenai jumlah dan persentase program
studi poltekkes yang telah terakreditasi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran
5.12.
GAMBAR 5.16
PERSENTASE STRATA AKREDITASI
PROGRAM STUDI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Pusdiknakes, Badan PPSDM Kesehatan, Depkes 2008

Akreditasi juga dilakukan pada institusi Diknakes non Poltekkes. Jumlah institusi
yang telah terakreditasi sebanyak 538 institusi dan jumlah yang belum terakreditasi
sebanyak 316 institusi. Dari jumlah yang sudah terakreditasi, terdapat 67 institusi
(12,45%) dengan strata A, 424 institusi (78,81%) dengan strata B dan 47 institusi
(8,74%) dengan strata C. Gambar 5.17 berikut ini menunjukkan persentase strata
akreditasi institusi Diknakes non Poltekkes pada tahun 2008. Sedangkan informasi
selengkapnya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.14.

111

GAMBAR 5.17
PERSENTASE STRATA AKREDITASI
INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Pusdiknakes, Badan PPSDM Kesehatan, Depkes 2008

Jumlah institusi Diknakes non Poltekkes menurut status kepemilikan


menunjukkan sebagian besar institusi dimiliki oleh swasta, yaitu sebesar 85,25%.
Sedangkan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah sebesar 11,24% dan TNI/POLRI sebesar
3,51%. Informasi lebih rinci mengenai jumlah dan persentase institusi Diknakes non
Poltekkes menurut kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5.15.
B. TENAGA KESEHATAN
1. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan

Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah
tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat. Menurut
pendataan Potensi Desa (Podes) oleh BPS pada tahun 2008, jumlah dokter di Indonesia
sebanyak 44.759 orang, dengan rasio sebesar 19,59 dokter per 100.000 penduduk, dengan
kisaran antara 10,36 53,89 dokter per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio
tertinggi adalah Sulawesi Utara sebesar 53,89 dokter per 100.000 penduduk, sedangkan
yang terendah adalah Provinsi Lampung dengan rasio 10,36 dokter per 100.000
penduduk. Rasio dokter terhadap jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2008
dijelaskan pada Gambar 5.18 berikut ini.

112

GAMBAR 5.18
RASIO DOKTER TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Potensi Desa, BPS, 2008

Jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2008 sebanyak 7.649 orang dengan rasio
sebesar 3,35 dokter gigi per 100.000 penduduk dengan kisaran antara 1,56 - 17,67 dokter
gigi per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah Papua Barat sebesar
17,67 dokter gigi per 100.000 penduduk, sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan
dengan rasio 1,56 dokter gigi per 100.000 penduduk.
Hasil pendataan potensi desa menunjukkan bahwa jumlah bidan pada tahun 2008
sebanyak 98.074 orang, sehingga rasionya terhadap penduduk sebesar 42,92 bidan per
100.000 penduduk. Menurut Indikator Indonesia Sehat 2010, rasio bidan terhadap
penduduk pada tahun 2010 diharapkan mencapai 100 bidan per 100.000 penduduk. Pada
tahun 2008 terdapat 2 provinsi yang telah mencapai rasio 100 bidan per 100.000
penduduk, yaitu Papua Barat dan NAD. Pada pendataan yang sama, jumlah nakes lainnya
/mantri kesehatan sebanyak 80.605 orang. Pada tahun yang sama tercatat dukun bayi
sebanyak 155.470 orang. Jumlah dan rasio tenaga kesehatan hasil pendataan Podes oleh
BPS tahun 2008 menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.16.
2. Persebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan
a. SDM Kesehatan di Puskesmas

Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat,


kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki, terutama
ketersediaan tenaga kesehatan. Pada tahun 2008, terdapat 185.401 orang yang bertugas di
puskesmas dengan rincian 157.030 tenaga kesehatan dan 28.371 tenaga non kesehatan.
Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan, dokter umum yang bertugas di puskesmas sebanyak
113

11.865 orang. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2007, yaitu sebanyak 11.701
orang. Bila dibandingkan antara jumlah puskesmas yang ada (8.548 puskesmas) dengan
jumlah dokter, maka rasio dokter umum adalah 1,39 dokter umum per puskesmas. Rasio
dokter umum terhadap jumlah puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi Kepulauan Riau
sebesar 3,05 dokter umum per puskesmas, diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 2,43 dokter
umum dan Bali sebesar 2,23 dokter umum per puskesmas. Rasio dokter umum di
puskesmas terhadap jumlah puskesmas tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 5.19 berikut
ini.
GAMBAR 5.19
RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Pusdatin, Depkes, 2008

Jumlah dokter gigi pada tahun 2008 sebanyak 5.278 orang. Bila dibandingkan
dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas
memiliki dokter gigi.
Pada tahun 2008 terdapat 109 dokter spesialis yang bertugas di puskesmas,
sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 63
orang (58%).
Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 55.194 orang, sehingga rata-rata
tiap puskesmas memiliki 6 - 7 orang perawat.
Jumlah masing-masing tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Gambar
5.20 di bawah ini. Rincian jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada
Lampiran 5.17, sedangkan rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah puskesmas dapat dilihat
pada Lampiran 5.18.

114

GAMBAR 5.20
JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS
DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Pusdatin, Depkes, 2008

Pada kelompok tenaga non kesehatan, sebagian besar berasal dari kelompok
pegawai Tata Usaha sebanyak 9.617 orang dan pekarya sebanyak 8.006 orang. Data lebih
rinci mengenai tenaga non kesehatan di puskesmas menurut jenis tenaga dan provinsi
terdapat pada Lampiran 5.19.
3. SDM Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT)

Tenaga kesehatan dengan status pegawai tidak tetap terdiri dari dokter umum,
dokter gigi dan bidan. Pada tahun 2008 terdapat 17.553 tenaga kesehatan PTT yang
bertugas di wilayah sangat terpencil, terpencil dan biasa. Jumlah dokter umum PTT
sebanyak 4.619 orang, dokter gigi berjumlah 1.502 orang, dan bidan berjumlah 11.432
orang. Sebagian besar tenaga kesehatan PTT berada di wilayah dengan kategori biasa
sebanyak 9.109 orang, sedangkan yang bertugas di wilayah terpencil sebanyak 6.123
orang dan yang bertugas di wilayah sangat terpencil sebanyak 2.321 orang.
Provinsi dengan dokter umum PTT terbanyak adalah Sumatera Utara sebanyak
459 orang, diikuti oleh Jawa Tengah sebanyak 371 orang dan Nanggroe Aceh
Darussalam sebanyak 304 orang, sedangkan dokter gigi PTT terbanyak bertugas di Jawa
Timur sebanyak 133 orang, diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 121
orang dan Jawa Tengah sebanyak 107 orang. Bidan PTT terbanyak bertugas di Sumatera
Utara dengan jumlah 2.104 orang, diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 1.783 orang dan
Jawa Timur sebanyak 1.483 orang. Untuk Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2008 tidak
terdapat tenaga kesehatan PTT. Gambar 5.21 berikut ini menampilkan jumlah tenaga
kesehatan berstatus PTT pada tahun 2008. Data selengkapnya mengenai distribusi tenaga
kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran.5.20.
GAMBAR 5.21

115

JUMLAH TENAGA KESEHATAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber: Biro Kepegawaian, Depkes RI, tahun 2009

C. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan


pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan. Pembiayaan kesehatan
bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber dari masyarakat. Berikut ini
diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk Departemen Kesehatan dan
anggaran yang disediakan untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan masyarakat.
1. Anggaran Departemen Kesehatan

Departemen Kesehatan pada tahun 2008 mengalokasikan anggaran sebesar


Rp18.475.260.479.000 dengan jumlah realisasi sebesar Rp 15.885.074.513.113 (85,98%).
Distribusi anggaran Departemen Kesehatan menurut unit kerja eselon I menunjukkan
bahwa alokasi terbesar dimiliki oleh Ditjen Bina Pelayanan Medik dengan jumlah Rp
10.250.275.495.000 (55,48%), sedangkan alokasi terkecil adalah Inspektorat Jenderal
sebesar Rp 103.743.900.000 (0,56%).
Realisasi anggaran tertinggi adalah Direktorat Jenderal Bina Pelayanan
Kefarmasian dan Alat Kesehatan dengan persentase penyerapan 94.91%. Sedangkan
realisasi terendah adalah Inspektorat Jenderal sebesar 63.84%. Dalam kurun waktu 5
tahun terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran Departemen
Kesehatan. Pada Tahun 2004 Departemen Kesehatan memiliki alokasi anggaran sebesar
Rp 6,16 trilyun dengan realisasi Rp 5,2 trilyun (84,42%), jumlah tersebut meningkat pada
tahun 2008 menjadi Rp 18,48 trilyun dengan realisasi Rp 15,89 trilyun (85,98%).
Peningkatan tersebut dijelaskan dalam Gambar 5.22 di bawah ini. Sedangkan informasi
selengkapnya tentang alokasi dan realisasi anggaran Departemen Kesehatan tahun 2008
terdapat pada Lampiran 5.21.

116

GAMBAR 5.22
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN DEPKES
TAHUN 2004 2008

Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan, Depkes RI

2. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat

Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Departemen Kesehatan, pada
tahun 2007 hanya 26,05% penduduk yang tercakup oleh jaminan pembiayaan/asuransi
kesehatan. Persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan kesehatan oleh program
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPK MM), Kartu Sehat dan JPK
Gakin Kartu Miskin dengan persentase 14,35%. Gambar 5.23 di bawah ini menyajikan
persentase penduduk yang dilindungi oleh pembiayaan kesehatan masyarakat menurut sumber
pembiyaan pada tahun 2007. Data mengenai persentase penduduk yang memiliki jaminan
pembiayaan/asuransi kesehatan menurut provinsi pada tahun 2007 terdapat pada Lampiran
5.22 dan Lampiran 5.23.
GAMBAR 5.23
PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/
ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Depkes RI

117

***

118

ASEAN (Association of Southeast Asia Nations ) merupakan sebuah organisasi


geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan
negara-negara anggota, serta memajukan perdamaian di tingkat regional. Anggota ASEAN
ada 10 negara yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja (Cambodia), Laos
(Lao People's Democratic Republic), Malaysia, Myanmar, Singapura (Singapore), Thailand,
dan Vietnam.
Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO, Indonesia termasuk dalam
negara SEARO (South East Asia Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya, yaitu
Bangladesh, Bhutan, Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea), India, Maladewa
(Maldives), Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste.
Perbandingan antar negara, baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO,
dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang
sama. Dalam bab ini akan dibahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan
SEARO dari aspek yang berhubungan dengan kesehatan yaitu aspek kependudukan, derajat
kesehatan, dan upaya kesehatan.
A. KEPENDUDUKAN
Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan
sesuai kebutuhan penduduk sebagai sarana sekaligus pelaku pembangunan. Jumlah penduduk
yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan.
Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk yaitu jumlah
penduduk, kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, angka beban tanggungan, dan
angka kelahiran.
1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Menurut World Populations Data Sheet 2008, pada pertengahan tahun 2008,
Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN
lainnya dengan jumlah penduduk 239,9 juta jiwa. Dengan wilayah negara terluas, Indonesia
selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN.

140

Sedangkan Brunei Darussalam memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu sekitar 0,4 juta
jiwa.
Jika di kawasan ASEAN, Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah
penduduk terbesar, di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India
(dengan jumlah penduduk 1.149,3 juta jiwa). Sedangkan 9 negara lainnya berpenduduk
kurang dari 150 juta jiwa, bahkan terdapat 2 negara dengan jumlah penduduk 1 juta atau
kurang, yaitu Bhutan (0,7 juta), dan Maladewa (0,3 juta). Jumlah penduduk di kawasan
ASEAN dan SEARO dapat kita lihat pada Gambar 6.1.
GAMBAR 6.1
JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2008

Sumber: World Population Data Sheet, USAID, 2008

Sementara bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk, Singapura tercatat sebagai


negara yang paling padat di kawasan ASEAN yaitu 7.013 penduduk per km2. Angka tersebut
jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya.Kepadatan penduduk terendah di Laos yaitu 25
penduduk per km2.
Sedangkan di kawasan SEARO, walaupun memiliki jumlah penduduk terkecil,
dengan luas wilayah yang juga kecil, Maladewa merupakan negara dengan kepadatan
penduduk tertinggi di kawasan SEARO yaitu 1.040 jiwa per km2. Kepadatan penduduk
terendah adalah Bhutan yaitu 14 jiwa per km2.
Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 126 jiwa per km2 . Bila dilihat dari tahun 20062008 kepadatan penduduk per km2 terus meningkat (tahun 2006 kepadaatannya 118 jiwa per
km2 , tahun 2007 kepadaatannya 122 jiwa per km2). Indonesia di kawasan ASEAN berada
pada peringkat ke lima terpadat. Sedangkan di kawasan SEARO, Indonesia menempati
peringkat ke delapan terpadat (perikat ke empat terjarang) di antara 11 negara. Tingkat
kepadatan penduduk negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada
Gambar 6.2 di bawah ini.
141

GAMBAR 6.2
KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEARO
(Jiwa per km2) TAHUN 2008

Sumber: World Population Data Sheet, USAID, 2008

2. Laju Pertumbuhan Penduduk


Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah
penduduk di suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang. Dengan diketahuinya
jumlah penduduk yang akan datang, diketahui pula kebutuhan dasar penduduk di segenap
bidang kehidupan termasuk di bidang kesehatan. Indikator tersebut biasa dikenal dengan laju
pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga faktor, yakni
kelahiran, kematian dan migrasi penduduk. Laju pertumbuhan penduduk di negara-negara
ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.3 di bawah ini.

142

GAMBAR 6.3
LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA
ASEAN & SEARO TAHUN 1990 - 2007

Sumber: World Population Data Sheet 2008, USAID

Pada periode 1990-2007, laju pertumbuhan penduduk yang tertinggi di antara negara
anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam dengan laju pertumbuhan penduduk 2,5%.
Sedangkan Thailand merupakan negara dengan laju pertumbuhan penduduk paling rendah
yaitu 1%.
Pada negara-negara SEARO selama periode 1990-2007 laju perumbuhan penduduk
berkisar 0,7% dan 2,7%. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi di negara Timor Leste dan
terendah pada negara Korea Utara dan Sri Lanka.
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1,4. Bila dilihat dari kawasan ASEAN,
Indonesia menduduki peringkat ke-3 terendah untuk laju pertumbuhan penduduk. Sedangkan
bila dilihat dar kawasan SEARO, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dengan laju
pertumbuhan penduduk dari 11 negara. Data kependudukan negara-negara ASEAN dan
SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
3. Penduduk Menurut Kelompok Umur
Salah satu indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu
negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang adalah Angka
Beban Tanggungan (dependency ratio). Semakin tinggi persentase dependency ratio
menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif
untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif (kelompok umur 0-14 tahun) dan
tidak produktif lagi (kelompok umur 65 tahun keatas).
Persentase penduduk menurut kelompok umur non produktif ( kelompok umur 0-14
tahun dan kelompok umur 65 tahun keatas) untuk keadaan tahun 2008, Laos merupakan
negara yang terbesar untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-negara lain di
kawasan ASEAN yaitu 48% . Sebaliknya Singapura merupakan negara dengan komposisi
penduduk kelompok umur non produktif terendah yaitu 28%.
Di antara negara-negara di kawasan SEARO, Timor Leste adalah negara dengan
komposisi penduduk usia non produktif tertinggi yaitu 48%. Sebaliknya, negara dengan
143

penduduk non produktif terendah di kawasan tersebut adalah Korea Utara yaitu 26%, yang
dapat dilihat pada Gambar 6.4.
GAMBAR 6.4
KOMPOSISI PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2008

Sumber: World Population Data Sheet 2008, USAID

Persentase penduduk non produktif yaitu kelompok umur 0 14 tahun dan kelompok
umur 65 tahun ke atas memberikan pengaruh terhadap rasio beban tanggungan (dependency
ratio). Rasio beban tanggungan mengukur seberapa besar tanggung jawab sosial ekonomi
yang ditanggung oleh kelompok umur pekerja/produktif yaitu penduduk yang berumur 15-64
tahun.
Dengan distribusi penduduk seperti yang telah digambarkan diatas, Laos merupakan
negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi yaitu 92% di kawasan ASEAN.
Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu
39%.
Di kawasan SEARO, Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban
Tanggungan tertinggi yaitu 92% sedangkan Korea Utara merupakan negara dengan Angka
Beban Tanggungan terendah yaitu 35%.
Sementara Indonesia memiliki Angka Beban Tanggungan yaitu 54%, hal tersebut
berarti setiap 100 orang usia produktif di Indonesia menanggung 54 orang yang belum
produktif dan yang dianggap tidak produktif lagi.
Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar angka beban tanggungan di
negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
4. Indeks Pembangunan Manusia
Human Development Index (HDI) merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi
tentang pembangunan manusia: panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari usia
harapan hidup), terdidik (diukur dari tingkat kemampuan baca tulis orang dewasa dan ratarata tamat sekolah di sekolah dasar, sekolah tingkat lanjutan dan perguruan tinggi) dan
memiliki standar hidup yang layak (diukur dari paritas daya beli, penghasilan).

144

Berdasarkan standar internasional, Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


dikategorikan sebagai berikut : kategori sangat tinggi, jika IPM > 0,900; kategori tinggi, jika
IPM > 0,800 0,899; kategori sedang, jika IPM 0,500-0,799; dan kategori rendah, jika IPM <
0,500.
Menurut kategori tersebut di atas, pada tahun 2007 terdapat 2 (dua) negara anggota
ASEAN masuk dalam kategori sangat tinggi, yaitu Singapura dan Brunai Darussalam.
Malaysia masuk dalam kategori tinggi, sedangkan 7 negara anggota ASEAN lainnya berada
pada kategori sedang, termasuk Indonesia. Bila dilihat dari peringkat di negara ASEAN pada
tahun yang sama, Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertinggi yaitu pada
peringkat ke-24 dan yang terendah adalah Myanmar dengan peringkat 138; sedangkan
Indonesia berada pada peringkat 111 dari 182 negara.
IPM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0,734, bila dibandingkan dengan tahun 2006
IPM Indonesia meningkat (IPM 2006 adalah 0,729). Menurut Human Development Report
(HDR) 2007/2008, pada tahun 2006 IPM Indonesia berada pada peringkat 109 dari 179
negara.

GAMBAR 6.5
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA
ASEAN & SEARO TAHUN 2007

Sumber: Human Development Report 2009

Pada tahun 2007 di kawasan SEARO, dari 11 negara (Korea Utara tidak ada data),
tidak ada negara yang memiliki IPM dengan kategori sangat tinggi dan tinggi, 9 negara
memiliki IPM dengan kategori sedang, dan satu negara yaitu Timor Leste masuk dalam
kategori rendah. Data IPM negara-negara di kawasan ASEAN dan SEARO tahun 2006 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.

145

5. Total Fertility Rate


Total Fertility Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang
dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun. Perbandingan angka TFR antar
negara dapat menunjukkan keberhasilan negara dalam melaksanakan pembangunan sosial
ekonominya. Angka TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah,
tingkat pendidikan yang rendah terutama perempuannya, tingkat sosial ekonomi rendah atau
tingkat kemiskinan yang tinggi. Selain itu tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan
program keluarga berencana yang dilaksanakan di negara tersebut.
Diketahuinya TFR untuk suatu daerah akan membantu para perencana program
pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin, dan meningkatkan program
pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak.
Angka Fertilitas Total atau Total Fertility Rate (TFR) dapat diklasifikasikan menjadi
3 tingkatan yaitu rendah, sedang, dan tinggi (ADB, Key Indicators 2002). Kesuburan rendah
terjadi ketika angka kesuburan wanita 2,1 atau kurang; kesuburan sedang antara 2,2-3,9; dan
kesuburan tinggi jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih.
Dengan menggunakan klasifikasi tersebut, maka pada tahun 2008 negara-negara yang
termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah adalah Singapura (1,4) dan Thailand
(1,6). Sedangkan Laos merupakan satu-satunya negara anggota ASEAN yang termasuk
dalam kategori angka kesuburan wanita tinggi yaitu 4,3. Sedangkan Indonesia masuk dalam
kategori sedang dengan angka kesuburan wanita 2,6 yang berarti untuk setiap wanita di
Indonesia rata-rata memiliki anak 2 sampai 3 orang selama masa suburnya.
Pada tahun 2007, diantara 11 negara SEARO, Thailand dan Korea Utara termasuk
negara dengan Angka Fertilitas Total berkategori rendah. Indonesia, Myanmar, Maladewa,Sri
Lanka, Bhutan, India, Bangladesh, dan Nepal masuk dalam kategori sedang. Sedangkan
Timor Leste merupakan satu-satunya negara di SEARO yang masuk dalam kategori tinggi
yaitu sebesar 6,7. Besaran Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat
pada Gambar 6.6 berikut ini.
GAMBAR 6.6
ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007

146

Sumber: World Population Data Sheet 2007, USAID

Tingginya angka kelahiran kasar juga memberikan kontribusi pada persentase


penduduk kelompok umur 0-14 tahun dan akhirnya memberi dampak pada Angka Beban
Tanggungan. Negara yang memiliki Angka Fertilitas Total tinggi kemungkinan memiliki
Angka Beban Tanggungan tinggi seperti yang terjadi pada Laos dan Timor Leste. Sementara
negara yang memiliki Angka Fertilitas Total rendah memiliki kemungkinan Angka Beban
Tanggungan yang rendah pula seperti terjadi pada Singapura dan Thailand. Data Angka
Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
6. Angka Kelahiran Kasar
Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan
banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang
sama. Tingkat kelahiran di masa lalu mempengaruhi tingginya tingkat fertilitas masa kini.
Jumlah kelahiran yang besar di masa lalu disertai dengan penurunan kematian bayi akan
menyebabkan bayi tersebut tetap hidup dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan
dengan tahun-tahun sebelumnya disaat kematian bayi masih tinggi.
Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2007 di negara-negara ASEAN dengan kisaran 11
sampai 34 per 1000 penduduk. Angka tertinggi, seperti tahun-tahun sebelumnya, terjadi di
Laos dengan Angka Kelahiran Kasar 34 per 1000 penduduk dan diikuti oleh Kamboja yaitu
26 per 1000 penduduk. Sedangkan Singapura memiliki Angka Kelahiran Kasar terendah
yaitu 11 kelahiran per 1.000 penduduk. Indonesia sendiri memiliki Angka Kelahiran Kasar
sebesar 21 kelahiran untuk setiap 1.000 penduduk.
Pada tahun 2007 kisaran angka kelahiran kasar di negara-negara SEARO antara 13
sampai 42 per 1000 penduduk. Terendah adalah Thailand (13) dan Korea Utara (16)
sedangkan tertinggi Timor Leste (42) dan Bhutan (30).
Sementara di Indonesia terdapat 21 kelahiran per 1000 penduduk pada tahun 2007.
Pada kawasan ASEAN Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi sedangkan di kawasan
SEARO menempati peringkat ke-6 tertinggi untuk angka kelahiran kasar.
GAMBAR 6.7
ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007

Sumber: World Population Data Sheet 2008, USAID

147

Gambar 6.7 memperlihatkan perbandingan angka kelahiran kasar negara-negara kawasan


ASEAN dan SEARO. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun
2007 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
7. Sosial Ekonomi
Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Pendapatan Nasional Bruto perkapita (Gross National Income) terdiri
dari sejumlah nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara, beserta pendapatan
yang diterima dari negara lain.
Pendapatan Nasional Bruto perkapita tertinggi di antara negara anggota ASEAN
(tidak termasuk Myanmar) adalah Brunai Darrusalam (US$ 49.900 perkapita) diikuti oleh
Singapura (US$ 48.520 per kapita). Laos dan Kamboja merupakan negara dengan
Pendapatan Nasional Bruto perkapita terendah yaitu masing-masing US$ 1.940 dan US$
1.690. Sedangkan Indonesia memiliki pendapatan nasional bruto perkapita US$ 3.580.
Pendapatan Nasional Bruto di negara ASEAN dan SEARO tahun 2007 dapat di lihat pada
Gambar 6.8 di bawah ini.
GAMBAR 6.8
PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007

Sumber: World Population Data Sheet 2008, USAID

Dari sembilan negara di SEARO (2 negara tidak terdapat data), pendapatan nasional
bruto perkapita tertinggi adalah Thailand yaitu sebesar US$ 7.800. Sedangkan negara lainnya
memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita kurang dari US$ 6000. Jika dibandingkan
dengan 9 negara di SEARO, Indonesia berada di peringkat ke-5 tertinggi pendapatan nasional
bruto per kapita.

148

B. DERAJAT KESEHATAN
MORTALITAS
1. Angka Kematian Bayi
Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika
AKB kurang dari 20; sedang 20-49; tinggi 50-99; dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per
1000 kelahiran hidup.
GAMBAR 6.9
ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007

Sumber: World Population Data Sheet 2007, USAID


Maladewa

Gambar 6.9 menunjukkan bahwa 5 negara ASEAN yaitu Singapura, Brunei


Darussalam, Malaysia,Vietnam dan Thailand termasuk negara dengan angka kematian bayi
rendah. 2 negara yaitu Filipina dan Indonesia termasuk kelompok sedang. Sedangkan 3
negara lainnya masuk dalam kelompok negara yang memiliki angka kematian bayi tinggi.
Tidak ada negara yang masuk dalam kelompok angka kematian bayi sangat tinggi (>100 per
1000 kelahiran hidup).
Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 2 negara di SEARO, yaitu Sri Lanka dan
Thailand masuk dalam kategori negara dengan angka kematian bayi rendah, 5 kategori
sedang dan sisanya, yaitu 4 termasuk kategori tinggi.
Besaran angka kematian bayi di negara-negara ASEAN dan SEARO antara 2,4 dan
88. Indonesia memiliki angka kematian bayi 34 per 1000 kelahiran hidup dan berada di
peringkat 10 di antara 18 negara tersebut. Data Angka Kematian Bayi di negara ASEAN dan
SEARO tahun 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
2. Angka Kematian Balita
Penurunan kasus kematian pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap
penting dalam tujuan pembangunan milenium. Pada kasus kematian yang tinggi biasanya
jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita ketika saat itu mereka rentan terhadap
149

penyakit. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian balita disebabkan diare,
pneumonia, campak, malaria, dan malnutrisi.
GAMBAR 6.10
ANGKA KEMATIAN BALITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007

Sumber: World Health Statistics 2009

Data yang didapat dari World Health Statistics 2009 memperlihatkan perbedaan
yang mencolok Angka Kematian Balita di antara negara-negara anggota ASEAN pada tahun
2007. Angka Kematian Balita terendah dicapai Singapura yaitu 3 kematian per 1000
kelahiran hidup sedangkan yang adalah dicapai Myanmar yaitu sebesar 113 kematian per
1000 kelahiran hidup. Sebagian besar negara ASEAN memiliki angka kematian balita kurang
dari 50 per 1000 kelahiran hidup, hanya Myanmar, Kamboja, dan Laos yang memiliki angka
kematian balita diatas 50 per 1000 kelahiran hidup.
Menurut sumber yang sama, Angka Kematian Balita di SEARO berkisar antara 7
sampai 113 per 1000 kelahiran hidup. Seperti di ASEAN, Myanmar merupakan negara
dengan angka kematian balita tertinggi, sedangkan terendah adalah Thailand. Jika di ASEAN
hanya terdapat 3 negara (dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1000 kelahiran
hidup, sebaliknya di SEARO hanya 4 negara dengan AKABA kurang dari 50.
Pada Gambar 6.10 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki Angka Kematian
Balita relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEARO. Telah
dipaparkan sebelumnya bahwa sebagian besar kematian balita disebabkan oleh diare,
pneumonia, dan malnutrisi. Hal itu berarti negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi
dan keadaan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEARO.
Sementara di Indonesia terdapat 31 kematian balita per 1000 kelahiran hidup. Pada
kawasan ASEAN, Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian balitanya,
sedangkan pada Kawasan SEARO, Indonesia menempati peringkat ke-4 terendah kematian
balita per 1000 kelahiran hidup. Data Angka Kematian Balita di negara ASEAN dan SEARO
tahun 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.

150

3. Angka Kematian Maternal


Berdasarkan klasifikasi angka kematian maternal dari WHO adalah sebagai berikut;
<15 per 100.000 kelahiran hidup; 15-199 per 100.000; 200-499 per 100.000; 500-999 per
100.000; dan 1000 per 100.000.
GAMBAR 6.11
ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2005

Sumber: World Health Statistics 2008

Pada tahun 2005 hanya 2 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura
yang mencapai angka kematian maternal <15 masing-masing 13 dan 14 per 100.000
kelahiran hidup. Negara-negara dengan angka kematian maternal > 500 di ASEAN pun ada 2
negara yaitu Laos (660 per 100000 kelahiran hidup) dan Kamboja (540 per 100000 kelahiran
hidup).
Pada tahun yang sama, negara-negara di SEARO tidak ada yang mencapai angka
kematian maternal <15. Sekitar 55% memiliki angka kematian maternal 200-499 per 100.000
kelahiran hidup. Dan 18% memiliki angka kematian maternal >500, yaitu Nepal (830) dan
Bangladesh (570).
Di antara kedua kawasan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18
negara di ASEAN dan SEARO) untuk angka kematian maternal yaitu 420 per 100.000
kelahiran hidup. Data Angka Kematian Ibu di negara ASEAN dan SEARO tahun 2005 dapat
dilihat pada Lampiran 6.2.
4. Angka Kematian Kasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa
besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka
ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai
risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda. Jika
tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran
mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan.
151

GAMBAR 6.12
ANGKA KEMATIAN KASAR DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007

Sumber: World Population Data Sheet 2008, USAID

Di antara negara-negara anggota ASEAN, pada tahun 2007 Laos dan Myanmar
merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi,
yakni sebesar 10 per 1000 penduduk. Keadaan Angka Kematian Kasar di negara-negara
kawasan SEARO, tidak berbeda jauh dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Timor
Leste merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar tertinggi yaitu 11 per 1000
penduduk dan terendah adalah Maladewa (4 kematian per 1.000 penduduk).
Sementara di Indonesia terdapat 6 kematian per 1.000 penduduk. Di kawasan
ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke-5 tertinggi Angka Kematian Kasar sedangkan di
kawasan SEARO , Indonesia menduduki peringkat ke-2 terendah. Data Angka Kematian
Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
5. Usia Harapan Hidup
Usia Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam
meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan
pada khususnya. Usia Harapan Hidup yang rendah di suatu negara harus diikuti dengan
program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan
lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.
Gambar 6.13 memperlihatkan bahwa pada tahun 2007 di antara sepuluh negara
anggota ASEAN, Singapura merupakan negara dengan Usia Harapan Hidup waktu lahir
(Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 81 tahun. Negara yang memiliki Usia
Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Laos yaitu 61 tahun.

152

GAMBAR 6.13
USIA HARAPAN HIDUP DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007

Sumber: World Population Data Sheet 2008, USAID

Untuk kawasan SEARO, Maladewa merupakan negara dengan Usia Harapan Hidup waktu
lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 73 tahun. Negara yang memiliki umur
harapan hidup waktu lahir terendah adalah Timor Leste yaitu 60 tahun.
Di kawasan ASEAN Indonesia dengan harapan hidup waktu lahir 70 tahun
menempati peringkat ke-6 tertinggi, sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke5 tertinggi. Data Usia Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEARO tahun 2007 dapat
dilihat pada Lampiran 6.2.
MORBIDITAS
1. Prevalensi Tuberkulosis (TBC)
Data dari World Health Statistics 2009 menunjukkan besarnya perbedaan
prevalensi tuberkulosis per 100.000 penduduk dan kematian yang berhubungan dengan
tuberkulosis per 100.000 penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO. Angka prevalensi
tuberkulosis pada tahun 2007 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai
664 per 100.000 penduduk. Kamboja merupakan negara dengan prevalensi Tuberkulosis
tertinggi di ASEAN yaitu 664 per 100.000 penduduk. Sedangkan Singapura dan Brunei
Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 100 kasus per 100.000 penduduk
yaitu masing-masing 27 dan 65 kasus per 100.000 ribu penduduk.
Masih menurut sumber yang sama, kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2007
tertinggi terjadi di Kamboja yaitu 77 per 100.000 penduduk. Sedangkan kasus kematian
akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam masing-masing 3
dan 7 kematian per 100.000 penduduk.

153

GAMBAR 6.14
PREVALENSI DAN KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007

Sumber: World Health Statistics 2009

Seperti halnya negara-negara di ASEAN, angka prevalensi tuberkulosis pada tahun


2007 di negara-negara SEARO memiliki kesenjangan yang cukup besar, berkisar antara 48
sampai 750 per 100.000 penduduk. Negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi tahun
2007 adalah Timor Leste (750 per 100.000 penduduk) dan terendah adalah Maladewa (48 per
100.000 penduduk).
Sedangkan kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEARO berkisar
antara 4 sampai 47 per 100.000 penduduk. Seperti angka prevalensi tuberkulosis, angka
kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 47 kematian per
100.000 penduduk. Begitu pula dengan angka terendah kematian akibat tuberkulosis terjadi
di Maladewa (4 per 100.00 penduduk).
Di antara 18 negara di ASEAN dan SEARO, Indonesia dengan prevalensi 326 per
100000 penduduk berada pada urutan ke 6 tertinggi yang dapat dilihat pada Lampiran 6.4.
2. Avian Influenza
Kemunculan strain virus influenza yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama
kali terdeteksi di Hongkong. Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit, dan
6 diantaranya meninggal dunia. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus avian influenza
dapat menular langsung dari unggas ke manusia. Sebelum tahun 1997, ilmuwan meyakini
penularan virus influenza dari unggas ke manusia tidak terjadi secara langsung.
Avian influenza pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui
Vietnam, 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. Sampai
dengan akhir tahun 2008, 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi avian influenza yaitu
Vietnam, Thailand, Indonesia, Laos, Myanmar dan Kamboja.

154

GAMBAR 6.15
JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2004-2008

Sumber: WHO, 2008

Gambar 6.15 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian akibat avian influenza di
wilayah ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2008. Kasus pertama kali menyerang Vietnam
dengan 3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematian. Tahun 2004 jumlah kasus
meningkat menjadi 46 dengan 32 kematian. Pada tahun tersebut selain Vietnam, Thailand
pun telah terinfeksi virus H5N1 ini. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan negara yang
terinfeksi avian influenza terus bertambah, 90 orang menjadi korban. Namun kali ini jumlah
kematian bisa ditekan, jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada kematian, tahun 2005
dari 90 penderita 42,22% meninggal. Semenjak itu jumlah kasus avian influenza terus
menurun, namun tidak dengan Angka Kematian (CFR). Pada tahun 2008 terdapat 31 kasus
dari 3 negara di ASEAN dengan CFR 80,65%.
TABEL 6.1
JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA
MENURUT NEGARA TAHUN 2004-2008
NEGARA
Kamboja
Laos
Vietnam
Indonesia
Myanmar
Thailand
ASEAN
SEARO

2003
K

2004
K

M
0
0
3
0
0
0
3
0

0
0
3
0
0
0
3
0

Sumber: WHO, 2008


Keterangan: K = Kasus

0
0
29
0
0
17
46
17

2005
M

0
0
20
0
0
12
32
12

2006
M

4
0
61
20
0
5
90
25

4
0
19
13
0
2
38
15

K
2
0
0
55
0
3
60
58

2007
M
2
0
0
45
0
3
50
48

K
1
2
8
42
1
0
54
43

2008
M
1
2
5
37
0
0
45
37

K
1
0
6
24
0
0
31
24

Total
M
0
0
5
20
0
0
25
20

8
2
104
141
1
25
281
167

7
2
49
115
0
17
183
132

M = Meninggal

Tabel 6.1 memperlihatkan bahwa Laos dan Myanmar mampu mengendalikan


penyebaran virus avian influenza sehingga terjadi penurunan jumlah kasus avian influenza,
bahkan pada tahun 2008 tidak ditemukan kasus.
Penyakit flu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEARO pada tahun 2004,
yaitu di Thailand. Negara-negara di SEARO yang terjangkit flu burung sejak 2004 adalah
155

negara-negara yang juga tergabung dalam ASEAN. Negara-negara tersebut adalah Thailand
dan Indonesia. Pada tahun 2007, sejak pertama kalinya sejak empat tahun terakhir, 1
penduduk Myanmar terserang virus ini walaupun tidak mengakibatkan kematian dan
kemudian pada tahun 2008 tidak ditemukan lagi penyakit flu burung.
3. POLIO
Beberapa penyakit dapat menular dengan cepat sehingga berpotensi menimbulkan
kejadian luar biasa. Namun, diantara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat
dicegah dengan melakukan imunisasi. Penyakit tersebut biasa disingkat dengan PD3I
(Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). Penyakit-penyakit tersebut adalah Difteri,
Pertusis, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, dan Polio.
TABEL 6.2
JUMLAH KASUS POLIO PER NEGARA
TAHUN 2004-2007
NEGARA

2004

2005

2006

2007

Kamboja

Laos

Indonesia

349

Myanmar

15

Bangladesh

18

India

134

66

676

873

Nepal

ASEAN

350

15

SEARO

134

419

702

893

Sumber: Incidence Series Immunization, WHO, 2007

Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN. Namun,
pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN.
Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio
mencapai puncaknya, sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan
Indonesia terserang penyakit polio, 349 di antaranya terjadi di Indonesia. Tahun 2006
penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan, sehingga hanya ditemukan 4 penderita di
kawasan ini, 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari
Kamboja dan Myanmar. Pada tahun 2007, di antara negara-negara anggota ASEAN, hanya
Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan
tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus. Indonesia yang pada tahun 2005 terjadi
kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu mengendalikan kejadian
tersebut sehingga pada tahun 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio.

156

GAMBAR 6.16
JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2004-2007

Sumber: WHO, 2007

Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN, jumlah seluruh kejadian polio di


kawasan SEARO cukup tinggi sejak tahun 2002 dan tahun-tahun sebelumnya. Semenjak
2004 sampai 2006 jumlah kasus lambat laun kembali meningkat. Tingginya angka kejadian
ini karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu
dari 4 negara endemis polio. Pada tahun 2007 kejadian polio di SEARO sebesar 893 kasus,
98% di antaranya terjadi di India.
4. Tetanus Neonatorum
Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih
memiliki kondisi kesehatan rendah. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan,
kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara
maju. Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan paling berisiko mengakibatkan
kematian.
Tetanus pada bayi, dikenal dengan istilah tetanus neonatorum, karena umumnya
terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan. Penyebabnya, spora Clostridium
tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak
memenuhi syarat kebersihan.
Pada tahun 2007 jumlah kasus tetanus neonatorum di antara 8 negara ASEAN,
tertinggi terjadi di Filipina dan Indonesia. Jumlah penderita di kedua negara tersebut melebihi
100 orang. Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, angka tertinggi kasus
tetanus neonatorum terjadi di Kamboja, Indonesia justru berada di urutan ke-5. Sedangkan
Singapura dan Thailand merupakan negara dengan kasus terendah, baik dari jumlah kasus
maupun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Di Singapura dilaporkan tidak ada
kasus tetanus neonatorum.
Berdasarkan Incidence Series Immunization, pada tahun 2007 pada kawasan SEARO
jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi kasus di negara lain di
kawasan ASEAN, yaitu 937 kasus. Bila dibandingkan dengan jumlah kasus kedua dan ketiga
terbesar di kawasan ini yaitu Bangladesh dan Indonesia masing-masing 206 dan 127 kasus.
157

Sedangkan di Bhutan, Korea Utara, Maladewa dan Sri Lanka dilaporkan tidak ada kasus
tetanus neonatorum.
Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka angka kasus tertinggi
terjadi di Timor Leste dan Bangladesh. India justru menempati urutan ke-5 angka kasus
tetanus neonatorum tertinggi. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi di negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2006 secara lengkap dapat dilihat
pada Lampiran 6.6.
C. UPAYA KESEHATAN
1. Cakupan Imunisasi
Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian
pada bayi dengan memberikan vaksin. Beberapa imunisasi yang wajib diberikan pada bayi
adalah imunisasi polio, BCG, dan campak. BCG seringkali digunakan sebagai cerminan
proporsi anak-anak yang dilindungi dari bentuk tuberkulosis yang parah selama 1 tahun
pertama hidupnya, dan juga digunakan sebagai salah satu indikator akses ke pelayanan
kesehatan.
Selain BCG, vaksin lain yang wajib diberikan pada bayi adalah polio. Imunisasi polio
merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio. Tidak seperti imunisasi BCG atau
campak yang membutuhkan 1 dosis, imunisasi polio membutuhkan 3 dosis. Maka untuk
mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang digunakan adalah polio3 yaitu ketika bayi telah
mendapatkan imunisasi polio sebanyak 3 dosis (3 kali).
Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan vaksin, campak adalah
penyebab utama kematian anak. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor
penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari 22 tujuan yang disepakati dalam
pertemuan dunia tentang anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan imunisasi
campak sebesar 90%. Di seluruh negara ASEAN dan SEARO, imunisasi campak diberikan
rata-rata umur 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di
antara imunisasi wajib lainnya (BCG, DPT, Polio, Hepatitis, dan Campak). Dengan
demikian, diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah mendapatkan
imunisasi lengkap. Berarti besarnya cakupan imunisasi campak juga menggambarkan
besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap.
Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya pada gambar 6.17 cakupan imunisasi
BCG pada bayi umumnya lebih tinggi. Hal tersebut terjadi karena jadwal pemberian
imunisasi BCG yang relatif lebih awal dibandingkan dengan imunisasi yang lainbahkan
beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi dilahirkansehingga bayi
masih dalam pantauan petugas kesehatan. Pada tahun 2007 cakupan imunisasi BCG tertinggi
di antara negara anggota ASEAN dicapai Thailand dan Malaysia 99% dan terendah Laos
56%.
Di kawasan SEARO, 7 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%.
Negara-negara tersebut adalah Thailand, Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, Maladewa,
Indonesia dan Sri Lanka. Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan
imunisasi BCG terendah yaitu 74%.

158

GAMBAR 6.17
CAKUPAN BEBERAPA IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA
ASEAN & SEARO TAHUN 2007

Sumber: WHO vaccine - preventable diseases: monitoring system 2007

Pada tahun 2007, 50% negara anggota ASEAN telah mencapai cakupan imunisasi
polio 90%. Cakupan tertinggi dicapai oleh Brunei Darussalam yaitu 99% dan terendah adalah
Laos yaitu 46%. Menurut sumber yang sama, 55% negara di kawasan SEARO telah
mencapai cakupan imunisasi polio3 90%. Cakupan imunisasi polio3 tertinggi adalah Korea
Utara 99% dan terendah adalah India dengan 62%.
Pada tahun yang sama, 50% negara anggota ASEAN juga telah mencapai target
imunisasi campak yaitu 90%. Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam, Filipina,
Malaysia, Singapura dan Thailand. Brunei Darussalam merupakan negara dengan cakupan
imunisasi campak tertinggi yaitu 97%. Sedangkan yang terendah adalah Laos dengan
cakupan campak sebesar 40%.
Di kawasan SEARO, 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi Campak 90%.
Negara-negara tersebut adalah Thailand, Bhutan, Korea Utara, Maladewa dan Sri Lanka.
Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan imunisasi Campak terendah
yaitu 63%.
Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEARO imunisasi hepatitis merupakan
imunisasi dasar yang diberikan pada bayi, namun tidak dengan yang terjadi India. Di India
imunisasi hepatitis bukan merupakan imunisasi dasar, maka pada Lampiran 7 dapat dilihat
hanya India negara dengan persentase bayi yang diberi imunisasi hepatitis3 6%, sedangkan
negara-negara lain telah mencapai imunisasi tersebut di atas 50%, bahkan beberapa di
antaranya telah melebihi 90%.
Sementara di Indonesia sebanyak 91% bayi telah mendapatkan imunisasi BCG, 83%
mendapatkan imunisasi polio3, dan 80% mendapatkan imunisasi campak. Cakupan 5
imunisasi dasar di ASEAN dan SEARO lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.7.
2. Pengendalian TB Paru
WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS
70% dan angka kesembuhan 85%. Sementara pencapaian secara global di dunia kasus
temuan TB Paru adalah 60% dan angka kesembuhan mencapai 84%. Hal tersebut berarti
159

pencapaian kedua indikator tersebut belum mencapai target walaupun untuk angka
kesembuhan hampir mencapai target.
Pada tahun 2007, 80% negara-negara ASEAN telah mencapai target penemuan
penderita yang ditetapkan WHO yaitu 70%. Bahkan beberapa negara telah mencapai 100%
yaitu Myanmar. Kamboja dan Indonesia yang belum mencapai target penemuan penderita
penyakit paru yaitu 61% dan 68%.
Dari 11 negara-negara di kawasan SEARO hanya 36% negara yang sudah mencapai
target penemuan penderita Tuberkulosis. Negara-negara tersebut adalah Maladewa,
Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand. Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di
Bhutan. Sedangkan penemuan kasus Tuberkulosis tertinggi adalah Myanmar yang telah
mencapai 100%.
GAMBAR 6.18
PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN &
SEARO TAHUN 2006

GAMBAR 6.19
ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN &
SEARO TAHUN 2005

Sumber: World Health Statistic 2008

Sumber: World Health Statistic 2008

Menurut sumber yang sama, pada tahun 2006 terdapat 50% negara di ASEAN dengan
angka kesembuhan mencapai target (85%). Indonesia termasuk salah satu negara yang
mencapai target untuk angka kesembuhan ini, yaitu 91%. Brunei, Malaysia, Singapura,
Myanmar dan Thailand termasuk negara yang belum mencapai target penyembuhan
penderita. Angka kesembuhan tertinggi dicapai Kamboja dengan 93% dan terendah adalah
Malaysia dengan 48%.
Pada Gambar 6.19 terlihat bahwa 63% negara di kawasan SEARO telah mencapai
angka penyembuhan penderita. Tertinggi dicapai Bangladesh dengan angka penyembuhan
masing-masing 92% dan terendah adalah Thailand dengan angka penyembuhan 77%.
Dari Gambar 6.18 dan 6.19 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai target yang
ditetapkan terhadap indikator case detection rate (angka penemuan penderita) dan succes rate
(angka kesembuhan). Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai angka
kesuksesan tertinggi ke-2 di kawasan SEARO.

160

3. Sumber Air Bersih dan Sanitasi


Pada tahun 2006, di antara 10 negara anggota ASEAN (Brunai Darussalam tidak ada
data), penduduk yang menggunakan sumber air bersih yang telah mencapai 80% atau lebih
sebanyak 7 negara. Hanya Kamboja dan Laos dengan persentase penduduk yang memiliki
akses terhadap air bersih kurang dari 80%. Persentase tertinggi dicapai Singapura yaitu 100%
dan terendah Laos dengan 60%.
Pada tahun yang sama, di antara negara-negara di kawasan SEARO hampir seluruh
negara dengan penduduk yang menggunkakan sumber air bersih 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 62%. Negara dengan persentase tertinggi adalah
Korea Utara yaitu 100%.
GAMBAR 6. 20
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN
SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2006

Sumber: World Health Statistics 2009

Berdasarkan Gambar 6.20 di atas terlihat bahwa di antara negara-negara di ASEAN


dan SEARO terdapat perbedaan persentase yang besar antar negara dengan penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi sehat tertinggi dan yang terendah dengan kisaran 27% dan
100%. Negara dengan cakupan 27% adalah Nepal dan negara dengan cakupan 100% adalah
Singapura. Dibandingkan persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih, maka
persentase penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat relatif rendah, masih terdapat
11 negara di kawasan ini dengan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat di bawah
80%. Persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih dan sarana sanitasi sehat di
negara ASEAN dan SEARO tahun 2006 dapat dilihat pada Lampiran 6.3.
4. Pelayanan Kesehatan Ibu
Dari 10 anggota ASEAN (Brunai, Laos, Malaysia dan Singapura tidak ada data),
Indonesia merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertinggi yaitu
161

sebesar 81%. Sedangkan yang terendah tercatat di Kamboja yaitu sebesar 27%. Untuk
kawasan SEARO cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertinggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 95%, diikuti oleh Maladewa (91%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 21 %.
Cakupan pertolongan persalinan di negara-negara ASEAN bervariasi dengan cakupan
tertinggi di Negara Singapura, Brunai Darussalam dan Malaysia masing-masing sebesar
100% dan yang terendah di Laos dengan cakupan 20%. Indonesia dengan cakupan K4 73%
berada pada peringkat ke-6 dari 10 negara. Untuk kawasan SEARO cakupan K4 tertinggi
dicapai oleh Sri Lanka yaitu sebesar 99% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 18%.
Persentase peserta KB aktif pada wanita suburdi negara-negara anggota ASEAN
(Brunei Darussalam dan Malaysia tidak ada data) yang tertinggi dicapai oleh Vietnam
dengan cakupan sebesar 78%, dan yang terendah di Laos sebesar 32%. Indonesia dengan
cakupan peserta KB aktif sebesar 61% berada pada peringkat ke-4 dari 10 negara ASEAN.
Untuk negara-negara anggota SEARO cakupan peserta KB aktif tertinggi dicapai oleh
Thailand sebesar 72% dan yang terendah di Timor Leste sebesar 10%.
***

162

DAFTAR PUSTAKA

ASEAN. 2005. ASEAN Statistical Yearbook 2005. The Asean Secretariat, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2006. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2003. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2002. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2003. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2006. BPS, Jakarta.
___________. 2008. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia 2005. BPS,
Jakarta.
___________. 2007. Beberapa Indikator Penting mengenai Indonesia. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Analisis Dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Indonesia 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Pedoman Millenium Development Goals. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan. www.bps.go.id, Jakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1997. Calverton, Maryland, USA.

___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.


Calverton, Maryland, USA.

___________. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Macro.
Calverton, Maryland, USA.
Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, UNFPA. 2005. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia
Population Projection 2000 - 2025). BPS, Jakarta.
Departemen Dalam Negeri. 2005. Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan 2005.
Depdagri, Jakarta.
Departemen Kesehatan. 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2007, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2007. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
2008. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Profil Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2007.
Depkes, Jakarta.
___________.2008. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2006. Profil Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia
Kesehatan 2005. Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 1: Kegiatan Pelayanan.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 2: Ketenagaan. Depkes, Jakarta.
___________. 2006.Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Profil Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2006. Pusdiknakes, Depkes
RI, Jakarta.
___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, Jakarta.
___________.2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dirjen PPPL
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

___________.2000. Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.


___________.1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, Jakarta.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2007. Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009. Jakarta.
USAID, 2008. The World Population Data Sheet. Population Reference Bureau.
The United Nations Development Programme. 2008. Human Development Report
2007/2008. UNDP, New York.
UNAIDS. 2008. 2008 Report on The Global AIDS Epidemic. UNAIDS/WHO.
UNICEF. 2008. The State of the Worlds Children 2008. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2009. The State of the Worlds Children 2009. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Incidence Series Immunization 2007. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Immunization Summary: The 2007 Edition. UNICEF/WHO, New York.
WHO. 2008. World Health Statistics 2007. WHO Press, Geneva.
___________. World Health Statistics 2008. WHO Press, Geneva.
___________. 2008. WHO Vaccine Preventable Diseases, Monitoring System. WHO, New
York.

***

Lampiran2.1

PEMBAGIANWILAYAHADMINISTRASIPEMERINTAHANMENURUTPROVINSITAHUN2008
PembagianWilayah
No

Provinsi

(1)

(2)

Kabupaten

Kota

Kab+Kota

Kecamatan

(3)

(4)

(5)

(6)

Kel.+Desa
(7)

NanggroeAcehDarussalam

18

23

276

6,424

SumateraUtara

25

33

417

5,855

SumateraBarat

12

19

175

965

Riau

11

151

1,622

Jambi

SumateraSelatan

11

128

1,346

11

15

217

3,122

Bengkulu

10

117

1,438

Lampung

12

14

204

2,365

KepulauanBangkaBelitung

40

360

10

KepulauanRiau

59

351

11

DKIJakarta

44

267

12

JawaBarat

17

26

620

5,877

13

JawaTengah

29

35

573

8,574

14

DIYogyakarta

78

438

15

JawaTimur

29

38

662

8,506

16

Banten

154

1,535

17

Bali

57

714

18

NusaTenggaraBarat

10

116

917

19

NusaTenggaraTimur

20

21

286

2,836

20

KalimantanBarat

12

14

175

1,868

21

KalimantanTengah

13

14

120

1,510

22

KalimantanSelatan

11

13

151

1,981

23

KalimantanTimur

10

14

136

1,420

24

SulawesiUtara

11

15

150

1,580

25

SulawesiTengah

10

11

147

1,733

26

SulawesiSelatan

21

24

304

2,953

27

SulawesiTenggara

10

12

201

2,098

28

Gorontalo

66

619

29

SulawesiBarat

66

602

30

Maluku

11

73

906

31

MalukuUtara

112

1,062

32

PapuaBarat

1,286

33

Papua

Indonesia
Sumber:BPS,2009

10

136

28

29

368

3,416

397

98

495

6,579

76,546

Lampiran2.2

LUASWILAYAH,JUMLAHPENDUDUKDANKEPADATANPENDUDUK
MENURUTPROVINSITAHUN2008

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Luas
Wilayah
(Km)(a)

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

Indonesia

57,956.00
72,981.23
42,012.89
87,023.66
50,058.16
91,592.43
19,919.33
34,623.80
16,424.06
8,201.72
664.01
35,377.76
32,800.69
3,133.15
47,799.75
9,662.92
5,780.06
18,572.32
48,718.10
147,307.00
153,564.50
38,744.23
204,534.34
13,851.64
61,841.29
46,717.48
38,067.70
11,257.07
16,787.18
46,914.03
31,982.50
97,024.27
319,036.05

1,910,931.32

JumlahPenduduk(Jiwa)[b]
Lakilaki
(4)

Perempuan
(5)

2,136,055
6,488,969
2,346,332
2,735,840
1,422,226
3,599,683
835,230
3,769,465
592,621
709,795
4,491,374
20,642,010
16,192,277
1,740,799
18,393,133
4,848,788
1,773,812
2,084,380
2,256,643
2,146,971
1,074,780
1,727,815
1,618,194
1,124,738
1,242,169
3,761,801
1,023,756
491,729
522,221
670,130
485,709
383,090
1,066,703

2,157,860
6,553,352
2,416,771
2,453,318
1,366,049
3,522,112
806,688
3,621,654
529,905
743,282
4,654,807
20,276,286
16,434,109
1,727,706
18,701,708
4,753,659
1,742,183
2,279,378
2,277,674
2,102,141
982,521
1,718,821
1,476,480
1,083,276
1,196,200
4,043,223
1,051,221
480,482
510,034
650,625
473,892
346,876
989,811

114,399,238

114,124,104

Total
(6)

4,293,915
13,042,321
4,763,103
5,189,158
2,788,275
7,121,795
1,641,918
7,391,119
1,122,526
1,453,077
9,146,181
40,918,296
32,626,386
3,468,505
37,094,841
9,602,447
3,515,995
4,363,758
4,534,317
4,249,112
2,057,301
3,446,636
3,094,674
2,208,014
2,438,369
7,805,024
2,074,977
972,211
1,032,255
1,320,755
959,601
729,966
2,056,514

228,523,342

Sumber:(a)LampiranPeraturanMenteriDalamNegeriNomor:6tahun2008,tanggal31Januari2008
(b)BadanPusatStatistik:EstimasiPendudukSasaranProgramKesehatan,dari"DataPendudukSasaranProgramPembangunanKesehatan20072011",DepkesRI,2009.

Kepadatan
Penduduk
PerKm
(7)

74
179
113
60
56
78
82
213
68
177
13,774
1,157
995
1,107
776
994
608
235
93
29
13
89
15
159
39
167
55
86
61
28
30
8
6
120

Lampiran2.3

JUMLAHPENDUDUKMENURUTKELOMPOKUMURTERTENTU,ANGKABEBANTANGGUNGAN
DANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
Lakilaki
No

Provinsi

Perempuan

KelompokUmur

Lakilaki+Perempuan

KelompokUmur

KelompokUmur

Jumlah
(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

014

1564

65+

(3)

(4)

(5)

(6)

Jumlah
014

1564

65+

(7)

(8)

(9)

(10)

Jumlah
014

1564

65+

(11)

(12)

(13)

AngkaBeban
Tanggungan

(14)

(15)

676,701

1,380,497

78,857

2,136,055

652,798

1,404,605

100,457

2,157,860

1,329,499

2,785,102

179,314

4,293,915

54.17

SumateraUtara

2,106,300

4,153,105

229,564

6,488,969

2,040,699

4,232,699

279,954

6,553,352

4,146,999

8,385,804

509,518

13,042,321

55.53

SumateraBarat

736,000

1,499,001

111,331

2,346,332

710,099

1,553,402

153,270

17,590,501

1,446,099

3,052,403

264,601

4,763,103

56.04

Riau

869,401

1,798,100

68,339

2,735,840

770,300

1,623,903

59,115

2,453,318

1,639,701

3,422,003

127,454

5,189,158

51.64

Jambi

426,801

946,003

49,422

1,422,226

409,302

910,799

45,948

1,366,049

836,103

1,856,802

95,370

2,788,275

50.17

SumateraSelatan

1,105,800

2,369,201

124,682

3,599,683

1,053,801

2,331,602

136,709

3,522,112

2,159,601

4,700,803

261,391

7,121,795

51.50

Bengkulu

249,600

557,098

28,532

835,230

236,699

540,600

29,389

806,688

486,299

1,097,698

57,921

1,641,918

49.58

Lampung

1,092,500

2,518,996

157,969

3,769,465

1,062,301

2,404,595

154,758

3,621,654

2,154,801

4,923,591

312,727

7,391,119

50.12

KepulauanBangkaBelitung

162,200

406,399

24,022

592,621

146,702

360,399

22,804

529,905

308,902

766,798

46,826

1,122,526

46.39

10

KepulauanRiau

225,502

467,603

16,690

709,795

226,599

499,901

16,782

743,282

452,101

967,504

33,472

1,453,077

50.19

11

DKIJakarta

1,113,401

3,235,199

142,774

4,491,374

1,095,399

3,404,201

155,207

4,654,807

2,208,800

6,639,400

297,981

9,146,181

37.76

12

JawaBarat

5,740,800

13,945,502

955,708

20,642,010

5,541,602

13,736,902

997,782

20,276,286

11,282,402

27,682,404

1,953,490

40,918,296

47.81

13

JawaTengah

4,220,899

10,954,800

1,016,578

16,192,277

4,026,199

11,114,798

1,293,112

16,434,109

8,247,098

22,069,598

2,309,690

32,626,386

47.83

14

DIYogyakarta

327,802

1,273,200

139,797

1,740,799

309,299

1,238,102

180,305

1,727,706

637,101

2,511,302

320,102

3,468,505

38.12

15

JawaTimur

4,100,301

13,143,501

1,149,331

18,393,133

3,911,499

13,284,702

1,505,507

18,701,708

8,011,800

26,428,203

2,654,838

37,094,841

40.36

16

Banten

1,498,101

3,196,101

154,586

4,848,788

1,451,300

3,138,799

163,560

4,753,659

2,949,401

6,334,900

318,146

9,602,447

51.58

17

Bali

422,502

1,246,104

105,206

1,773,812

401,400

1,217,000

123,783

1,742,183

823,902

2,463,104

228,989

3,515,995

42.75

18

NusaTenggaraBarat

687,600

1,318,699

78,081

2,084,380

687,700

1,499,100

92,578

2,279,378

1,375,300

2,817,799

170,659

4,363,758

54.86

19

NusaTenggaraTimur

767,400

1,389,003

100,240

2,256,643

730,899

1,437,198

109,577

2,277,674

1,498,299

2,826,201

209,817

4,534,317

60.44

20

KalimantanBarat

670,298

1,403,799

72,874

2,146,971

655,098

1,374,900

72,143

2,102,141

1,325,396

2,778,699

145,017

4,249,112

52.92

21

KalimantanTengah

316,800

727,999

29,981

1,074,780

298,799

655,899

27,823

982,521

615,599

1,383,898

57,804

2,057,301

48.66

22

KalimantanSelatan

489,999

1,179,201

58,615

1,727,815

470,201

1,174,001

74,619

1,718,821

960,200

2,353,202

133,234

3,446,636

46.47

23

KalimantanTimur

460,201

1,118,501

39,492

1,618,194

439,200

997,900

39,380

1,476,480

899,401

2,116,401

78,872

3,094,674

46.22

24

SulawesiUtara

275,999

789,300

59,439

1,124,738

265,301

749,602

68,373

1,083,276

541,300

1,538,902

127,812

2,208,014

43.48

25

SulawesiTengah

370,298

829,000

42,871

1,242.169

358,199

797,199

40,802

1,196,200

728,497

1,626,199

83,673

2,438,369

49.94

26

SulawesiSelatan

1,135,099

2,460,704

165,998

3,761,801

1,120,099

2,704,097

219,027

4,043,223

2,255,198

5,164,801

385,025

7,805,024

51.12

27

SulawesiTenggara

347,400

645,503

30,853

1,023,756

347,598

667,802

35,821

1,051,221

694,998

1,313,305

66,674

2,074,977

58.00

28

Gorontalo

147,600

326,200

17,929

491,729

137,601

322,704

20,177

480,482

285,201

648,904

38,106

972,211

49.82

29

SulawesiBarat

156,400

343,500

22,321

522,221

140,999

341,101

27,934

510,034

297,399

684,601

50,255

1,032,255

50.78

30

Maluku

221,700

422,603

25,827

670,130

211,401

412,099

27,125

650,625

433,101

834,702

52,952

1,320,755

58.23

31

MalukuUtara

163,100

308,500

14,109

485,709

158,401

300,102

15,389

473,892

321,501

608,602

29,498

959,601

57.67

32

PapuaBarat

117,601

259,006

6,483

383,090

112,597

230,300

3,979

346,876

230,198

489,306

10,462

729,966

49.18

33

Papua

329,699

718,600

18,404

1,066,703

316,600

659,099

14,112

989,811

646,299

1,377,699

32,516

2,056,514

49.27

31,731,805

77,330,528

5,336,905

113,158,311

30,496,691

77,320,112

6,307,301

129,297,834

62,228,496

154,650,640

11,644,206

228,523,342

47.77

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.4

JUMLAHDANPERSENTASEDAERAHTERTINGGAL
MENURUTPROVINSITAHUN20062008

No

Provinsi

(1)

2006

2007

2008

JumlahKab/Kota

KabupatenTertinggal

(%)

JumlahKab/Kota

KabupatenTertinggal

(%)

JumlahKab/Kota

KabupatenTertinggal

(%)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

21

16

76.19

23

16

69.57

23

16

69.57

SumateraUtara

25

24.00

28

21.43

33

18.18

SumateraBarat

19

47.37

19

47.37

19

47.37

Riau

11

18.18

11

18.18

11

18.18

Jambi

10

20.00

10

20.00

11

18.18

SumateraSelatan

14

42.86

15

40.00

15

40.00

Bengkulu

88.89

88.89

10

80.00

Lampung

10

50.00

11

45.45

14

35.71

KepulauanBangkaBelitung

42.86

42.86

42.86

10

KepulauanRiau

16.67

16.67

14.29

11

DKIJakarta

0.00

0.00

0.00

12

JawaBarat

25

8.00

26

7.69

26

7.69

13

JawaTengah

35

8.57

35

8.57

35

8.57

14

DIYogyakarta

40.00

40.00

40.00

15

JawaTimur

38

21.05

38

21.05

38

21.05

16

Banten

33.33

28.57

25.00

17

Bali

11.11

11.11

11.11

18

NusaTenggaraBarat

77.78

66.67

10

60.00

19

NusaTenggaraTimur

16

15

93.75

20

15

75.00

21

15

71.43

20

KalimantanBarat

12

75.00

14

10

71.43

14

10

71.43

21

KalimantanTengah

14

50.00

14

50.00

14

50.00

22

KalimantanSelatan

13

0.00

13

15.38

13

15.38

23

KalimantanTimur

13

38.46

14

21.43

14

21.43

24

SulawesiUtara

22.22

13

15.38

15

13.33

25

SulawesiTengah

10

90.00

10

90.00

11

81.82

26

SulawesiSelatan

23

13

56.52

23

13

56.52

24

13

54.17

27

SulawesiTenggara

10

80.00

12

66.67

12

66.67

28

Gorontalo

80.00

66.67

66.67

29

SulawesiBarat

100.00

100.00

100.00

30

Maluku

87.50

77.78

11

63.64

31

MalukuUtara

75.00

75.00

66.67

32

PapuaBarat

77.78

77.78

10

70.00

33

Papua

20

19

95.00

21

19

90.48

29

19

65.52

440

199

45.23

465

199

42.80

495

199

40.20

Jumlah
Sumber:KementerianPembangunanDaerahTertinggal

Lampiran2.5

PERSENTASEPENDUDUKBUTAHURUFMENURUTKELOMPOKUMUR
MENURUTPROVINSITAHUN20042008

1544

<15

No

>44

Provinsi

(1)

(2)

2004

2005

2006

2007

2008

2004

2005

2006

2007

2008

2004

2005

2006

2007

2008

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

NanggroeAcehDarussalam

4.31

5.73

5.49

4.06

1.39

SumateraUtara

3.36

SumateraBarat

3.61

3.39

3.27

2.96

1.21

4.27

4.02

4.12

3.90

3.34

Riau

3.59

2.24

2.76

2.72

Jambi

4.24

5.46

5.29

SumateraSelatan

4.31

4.37

Bengkulu

5.79

6.53

Lampung

6.92

KepulauanBangkaBelitung

6.49

10 KepulauanRiau

2.44

2.09

1.11

12.60

1.68

1.57

1.51

0.81

9.25

1.53

1.53

1.50

1.76

0.83

2.24

1.65

0.84

1.20

1.35

5.17

4.69

1.41

2.22

2.22

3.41

3.34

2.95

1.66

1.79

6.31

6.09

5.40

1.96

2.44

7.15

7.16

6.87

6.37

1.89

4.56

5.14

5.13

4.66

2.97

4.03

4.71

4.33

4.19

14.81

14.48

11.71

8.74

7.90

7.41

7.85

10.07

8.94

9.43

7.97

7.99

0.47

11.41

7.00

7.85

6.85

7.52

2.15

1.11

12.91

15.39

13.79

13.38

14.01

1.11

1.40

0.86

11.99

11.45

9.29

8.05

8.00

2.42

2.36

1.20

18.48

18.62

17.08

15.76

16.15

2.13

2.12

2.33

0.97

20.20

19.29

19.64

17.15

18.08

2.31

2.09

2.59

1.61

15.96

10.77

12.99

11.46

12.00

1.80

1.94

1.76

1.57

13.08

15.34

15.12

12.60

5.00

5.22

3.63

4.71

11 DKIJakarta

1.69

1.68

1.77

1.24

1.30

0.47

0.65

0.62

0.38

0.07

5.40

12 JawaBarat

6.04

5.35

5.09

4.68

4.47

1.73

1.69

1.57

1.57

0.76

16.82

14.04

13.03

11.25

11.99

13 JawaTengah

13.28

12.59

11.76

11.38

10.76

3.35

2.92

2.53

2.98

1.67

32.76

30.43

28.29

25.13

24.92

14 DIYogyakarta

14.22

13.28

13.57

12.22

10.54

2.21

2.10

2.29

1.53

0.72

34.51

31.28

31.34

28.76

24.87

15 JawaTimur

15.46

14.16

12.90

12.58

12.69

5.08

4.23

3.54

4.08

2.73

35.69

32.14

29.13

26.48

28.24

6.02

4.37

4.99

4.76

4.79

2.20

1.45

1.74

2.06

1.02

19.58

14.06

14.99

12.94

15.15

17 Bali

14.48

13.78

14.21

14.02

13.06

4.32

3.95

4.41

4.38

3.20

35.53

32.80

33.18

31.59

30.69

18 NusaTenggaraBarat

23.15

21.21

21.22

20.25

20.15

12.88

10.71

10.24

8.90

7.54

49.08

46.40

48.03

45.38

47.61

19 NusaTenggaraTimur

14.84

15.05

13.50

12.75

12.34

6.38

7.02

6.50

6.54

4.49

34.81

33.33

29.04

26.15

28.89

20 KalimantanBarat

11.82

12.34

11.01

10.60

11.48

4.85

5.23

4.69

5.02

3.78

32.21

31.80

27.71

24.22

29.83

21 KalimantanTengah

3.77

2.50

3.65

3.36

2.73

0.87

0.83

1.38

1.46

0.71

13.76

8.11

10.74

8.89

8.33

22 KalimantanSelatan

5.24

5.53

6.10

5.95

4.92

2.09

2.29

2.70

2.36

0.98

14.36

14.45

14.85

15.22

14.54

23 KalimantanTimur

5.03

4.69

4.52

4.30

3.64

2.12

1.75

1.55

1.86

1.04

15.15

14.72

13.61

11.93

11.40

24 SulawesiUtara

0.85

1.13

1.01

1.05

0.85

0.41

0.57

0.60

0.69

0.32

1.82

2.23

1.79

1.74

1.83

25 SulawesiTengah

5.59

6.07

5.19

5.14

4.32

2.58

3.01

2.51

2.89

1.63

14.74

15.24

12.61

11.37

11.34

26 SulawesiSelatan

16 Banten

15.51

15.40

14.30

13.76

13.47

6.90

7.17

6.07

6.49

4.97

35.60

34.64

32.87

29.49

31.34

27 SulawesiTenggara

9.27

10.01

10.16

9.50

8.85

3.26

3.92

3.81

4.53

2.11

27.43

28.55

28.69

22.94

26.67

28 Gorontalo

5.34

4.97

4.30

4.25

4.49

3.40

3.49

3.06

3.35

1.84

10.72

9.09

7.75

6.63

11.01

14.10

13.60

12.69

7.57

7.52

6.70

31.57

29.91

28.82

29 SulawesiBarat

30 Maluku

2.22

3.84

3.50

3.15

2.69

0.89

2.15

2.21

1.92

1.17

5.92

8.29

6.98

6.19

6.29

31 MalukuUtara

4.84

4.82

5.59

5.35

4.56

2.58

2.06

2.69

2.33

1.15

11.65

14.01

14.25

14.63

14.70

25.78

28.42

11.45

9.68

7.85

5.58

16.15

22.99

26.23

37.11

17.15

29.41

38.03

22.65

27.53

26.59

7.60

24.94

22.96

7.95

30.99

38.52

32.93

32.94

9.62

9.09

8.55

8.13

7.81

3.30

3.09

2.89

2.96

1.94

24.87

22.83

21.09

18.94

19.62

32 PapuaBarat
33 Papua

Indonesia
Sumber:www.bps.go.id

Lampiran2.6

ANGKAPARTISIPASIKASAR(APK)
MENURUTPROVINSITAHUN20042008
2004
No

Provinsi

(1)

(2)

2005

2006

2007

2008

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

(3)

(4)

(5)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(6)

(7)

(8)

NanggroeAcehDarussalam

108.84

95.87

75.28

SumateraUtara

106.62

89.92

70.91

105.84

90.80

SumateraBarat

106.66

88.80

65.32

104.14

Riau

108.52

87.54

59.05

Jambi

109.29

85.04

SumateraSelatan

107.75

Bengkulu

8
9

113.40

96.50

73.70

114.36

91.12

76.88

114.38

87.41

76.15

66.36

111.57

89.48

68.78

111.01

91.36

69.09

112.26

87.54

68.31

87.25

67.56

108.85

83.53

67.69

110.42

82.27

67.23

109.86

78.88

70.01

106.21

91.11

59.89

110.00

89.88

63.18

110.97

87.70

65.25

112.34

83.57

67.09

54.04

107.27

84.60

48.18

113.35

81.47

51.51

112.01

79.94

56.88

110.51

77.76

57.41

83.95

51.11

108.52

76.55

51.72

112.92

84.24

53.16

112.26

83.05

53.79

111.88

82.60

52.98

110.73

83.59

63.10

103.82

83.29

55.33

110.40

85.60

60.72

109.23

85.88

60.85

110.43

84.24

62.11

Lampung

109.33

83.82

44.26

106.80

80.36

47.66

111.55

80.83

51.55

109.48

82.99

53.38

106.66

82.21

55.82

KepulauanBangkaBelitung

109.94

77.43

48.99

106.77

81.11

47.49

114.87

73.74

50.27

113.10

69.63

51.08

111.67

70.09

52.64

107.56

87.42

66.98

111.33

91.79

67.52

115.18

88.93

75.70

115.15

85.54

70.16

10 KepulauanRiau

11 DKIJakarta

108.02

96.88

77.63

104.67

97.20

66.85

109.63

92.66

68.95

111.42

88.89

65.49

109.80

89.35

63.98

12 JawaBarat

104.67

75.19

46.42

100.69

74.44

42.85

107.52

75.13

51.07

107.26

80.29

46.69

105.97

80.60

46.35

13 JawaTengah

108.14

85.21

52.69

107.01

82.21

53.17

111.00

82.11

54.54

112.29

83.23

54.83

109.76

82.29

56.98

14 DIYogyakarta

107.36

97.29

77.48

106.26

98.37

75.47

107.97

91.30

72.57

109.36

95.34

74.66

112.78

93.22

74.08

15 JawaTimur

107.79

84.77

53.77

107.15

82.43

54.04

109.26

86.19

58.14

110.00

84.49

60.81

109.70

84.56

61.32

16 Banten

106.28

79.90

49.56

105.08

76.57

48.34

108.28

77.47

50.16

108.34

76.67

49.97

107.28

78.56

51.09

17 Bali

109.31

88.01

67.23

102.97

86.13

64.37

110.45

85.01

67.33

111.26

77.92

70.77

110.29

78.10

70.44

18 NusaTenggaraBarat

102.69

73.51

47.49

101.18

79.60

50.16

107.19

83.58

54.87

108.20

83.60

56.17

105.75

82.32

62.24

19 NusaTenggaraTimur

111.64

63.43

39.31

107.48

58.41

35.82

114.12

65.39

44.65

110.63

65.42

48.13

108.42

62.50

51.87

20 KalimantanBarat

113.52

70.27

42.94

108.93

73.03

40.08

114.56

77.93

43.76

117.63

70.96

49.28

115.71

70.46

52.23

21 KalimantanTengah

111.20

83.78

48.79

108.36

85.53

49.11

113.11

80.46

50.84

117.82

75.31

49.49

115.98

74.45

52.70

22 KalimantanSelatan

107.07

79.30

43.27

109.00

72.88

43.51

112.21

78.02

47.37

115.46

75.27

43.82

111.34

75.49

47.47

23 KalimantanTimur

109.29

90.49

69.96

105.42

90.31

63.65

111.45

83.41

71.54

111.43

91.27

70.57

110.95

87.53

69.89

24 SulawesiUtara

105.87

90.79

69.03

105.54

83.22

70.95

112.70

83.71

67.53

113.11

83.45

70.36

111.69

83.98

69.98

25 SulawesiTengah

107.54

79.28

47.63

103.43

75.84

45.50

113.45

77.48

53.34

108.93

77.53

52.82

109.34

75.23

56.42

26 SulawesiSelatan

103.28

70.10

48.23

101.43

71.15

48.93

107.70

74.28

55.54

108.56

71.70

52.69

109.25

72.43

52.47

27 SulawesiTenggara

105.90

83.40

51.47

105.41

83.08

56.33

109.25

91.40

57.58

109.66

82.53

59.14

113.34

77.16

59.78

28 Gorontalo

102.41

64.43

37.92

98.50

63.06

43.09

111.20

65.68

46.48

110.35

64.05

50.60

108.89

63.93

52.80

29 SulawesiBarat

106.06

68.90

44.41

109.93

63.79

41.80

106.83

59.46

43.52

30 Maluku

110.22

89.62

74.57

106.93

94.58

70.74

112.24

96.96

70.05

115.34

87.56

77.88

112.96

82.80

79.66

31 MalukuUtara

110.49

77.65

54.93

109.99

80.49

66.80

116.06

84.28

67.80

112.55

86.30

67.79

110.78

83.56

71.06

32 PapuaBarat

114.44

77.68

52.21

119.62

64.89

59.04

111.41

70.63

62.85

33 Papua

104.64

71.07

42.29

91.06

69.20

54.90

98.83

71.87

49.41

101.01

71.28

50.14

99.42

63.72

54.10

107.13

82.24

54.38

104.91

80.52

52.62

109.96

81.87

56.69

110.35

82.03

56.71

109.37

81.08

57.51

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.7

ANGKAPARTISIPASIMURNI(APM)
MENURUTPROVINSITAHUN20042008
2004
No

Provinsi

(1)

(2)

2005

2006

2007

2008

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

SD

SMP

SMA/
Sederajat

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

NanggroeAcehDarussalam

95.88

79.98

62.04

SumateraUtara

93.61

73.02

56.65

92.58

70.73

SumateraBarat

93.64

69.55

53.13

91.84

Riau

94.64

69.65

47.73

Jambi

93.46

65.69

SumateraSelatan

93.13

Bengkulu

8
9

95.48

78.39

57.07

95.73

76.36

61.76

96.16

76.67

62.05

51.71

93.96

73.08

54.14

93.91

73.61

54.84

94.25

73.95

54.84

66.09

51.51

94.17

67.77

51.05

94.45

67.23

54.19

94.70

66.95

53.87

93.86

71.00

47.10

94.72

72.93

49.43

94.80

69.96

51.43

95.24

69.70

50.08

42.24

92.33

62.72

36.09

94.36

65.32

40.95

93.88

65.77

44.24

94.17

65.60

44.08

64.81

39.48

92.65

59.97

39.98

93.01

68.01

43.15

92.69

64.97

42.64

93.05

64.92

42.22

94.72

67.02

49.01

90.62

60.74

42.11

93.89

66.73

47.10

94.21

68.73

48.53

94.63

68.64

47.96

Lampung

92.73

63.65

35.66

91.60

62.54

37.82

93.94

66.65

39.87

94.04

68.30

40.59

94.23

68.78

40.21

KepulauanBangkaBelitung

90.02

56.38

38.15

89.98

60.82

37.62

91.51

55.30

34.84

91.59

52.24

37.09

91.53

52.04

37.14

90.49

62.90

47.93

93.66

72.01

52.13

93.50

71.34

52.48

94.95

72.00

54.35

10 KepulauanRiau

11 DKIJakarta

91.87

76.08

61.25

91.09

73.83

52.19

90.78

71.41

52.82

93.27

71.26

49.58

93.71

71.35

49.74

12 JawaBarat

93.41

61.74

37.18

89.49

58.27

33.15

94.21

62.13

37.84

94.16

66.90

37.88

94.09

67.21

37.28

13 JawaTengah

93.32

67.82

41.67

93.39

66.32

41.09

94.05

67.67

42.36

94.78

68.84

43.81

95.12

69.14

43.51

14 DIYogyakarta

92.55

77.37

61.51

94.40

81.20

59.44

94.38

72.30

55.85

93.53

74.48

57.88

94.28

74.42

57.72

15 JawaTimur

93.71

67.10

41.94

93.17

64.78

42.40

94.20

70.28

46.35

94.45

69.02

47.60

94.53

68.90

47.02

16 Banten

94.12

63.75

39.68

90.91

60.39

39.13

94.83

66.56

41.44

92.97

58.41

38.44

93.34

58.28

37.54

17 Bali

93.48

69.37

54.11

91.57

69.01

50.57

93.33

70.15

53.54

94.43

66.63

55.64

94.82

67.03

55.04

18 NusaTenggaraBarat

92.42

61.70

38.63

90.91

65.41

40.03

94.50

69.62

43.58

94.09

70.65

47.98

94.36

70.51

48.45

19 NusaTenggaraTimur

90.79

43.26

28.27

88.07

38.67

25.42

91.58

47.23

30.97

91.59

49.48

33.64

91.67

49.56

33.51

20 KalimantanBarat

93.11

53.28

31.51

89.52

51.48

28.87

93.82

60.92

34.77

93.48

54.62

36.12

93.94

54.77

36.23

21 KalimantanTengah

95.10

65.15

38.82

93.62

66.66

37.51

95.97

67.69

42.66

95.42

60.07

39.04

95.61

60.12

39.18

22 KalimantanSelatan

93.19

59.27

35.57

93.29

55.77

30.06

93.28

62.12

37.23

94.00

59.27

35.18

94.15

59.53

34.95

23 KalimantanTimur

92.87

70.20

52.42

91.16

67.09

46.73

92.86

64.00

50.41

93.23

71.14

52.68

93.59

71.19

53.94

24 SulawesiUtara

88.26

67.87

50.71

89.09

62.61

49.38

90.40

66.03

48.78

90.75

65.95

50.24

91.24

66.39

49.44

25 SulawesiTengah

91.44

59.45

36.33

89.60

58.11

34.05

92.87

62.97

39.51

92.04

59.04

39.01

92.83

59.08

39.53

26 SulawesiSelatan

90.64

57.41

38.39

88.13

56.02

37.94

91.08

60.27

40.86

92.06

60.36

41.55

92.15

60.62

41.84

27 SulawesiTenggara

90.18

64.02

40.17

90.57

62.12

43.16

92.26

72.42

47.28

93.64

65.77

47.26

94.24

65.95

47.56

28 Gorontalo

88.85

49.27

28.12

82.62

45.01

30.89

90.48

52.31

34.47

90.18

52.16

37.70

90.44

52.35

37.43

91.67

55.19

32.35

92.17

52.21

33.03

92.90

51.72

33.74

29 SulawesiBarat

30 Maluku

90.92

68.06

56.39

89.39

68.14

52.53

92.24

76.86

55.66

93.45

70.08

59.21

93.77

70.01

59.60

31 MalukuUtara

93.80

64.17

44.08

91.75

60.04

50.68

93.10

65.31

48.66

91.95

64.67

51.32

92.44

65.01

50.62

88.16

53.94

35.31

90.67

48.76

43.16

91.20

54.47

43.14

32 PapuaBarat
33 Papua

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

85.21

47.78

30.39

72.56

44.21

38.50

78.11

47.36

33.36

80.92

48.60

35.66

82.90

48.56

35.23

93.04

65.24

42.96

91.24

62.70

40.66

93.54

66.52

43.77

93.75

66.64

44.56

93.98

66.75

44.22

Lampiran2.8

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTSUMBERAIRMINUMDANPROVINSI.TAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
Air
No

Provinsi

(1)

(2)

Air

Ledeng

Ledeng

Sumur

Sumur

MataAir

MataAir

Pompa
Kemasan

IsiUlang

Meteran

Eceran

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Terlindung

TakTerlindung

Terlindung

TakTerlindung

(8)

(9)

(10)

(11)

Airsungai

Airhujan

Lainnya

Jumlah

(12)

(13)

(14)

(15)

NanggroeAcehDarussalam

0.50

13.93

7.04

1.85

5.25

41.19

17.99

4.15

3.20

3.31

1.22

0.35

100.00

SumateraUtara

0.75

4.69

19.43

2.82

18.62

23.47

12.10

6.85

4.89

3.06

2.70

0.60

100.00

SumateraBarat

0.62

5.24

18.24

1.84

7.64

30.93

13.47

8.70

6.43

3.75

2.58

0.57

100.00

Riau

1.09

18.62

1.88

0.28

8.86

27.83

13.68

0.79

0.66

2.25

23.87

0.17

100.00

Jambi

1.31

5.56

15.82

1.23

2.33

30.05

19.62

2.82

0.70

6.76

13.50

0.28

100.00

SumateraSelatan

1.02

8.27

13.39

4.01

2.70

33.11

16.88

2.14

1.05

10.02

6.93

0.47

100.00

Bengkulu

0.12

4.52

11.72

0.86

5.21

20.25

44.55

3.42

5.73

2.88

0.15

0.58

100.00

Lampung

2.39

3.78

2.31

1.51

5.71

45.33

27.40

4.86

4.35

1.17

0.93

0.27

100.00

KepulauanBangkaBelitung

8.28

8.52

2.99

0.08

10.95

47.29

18.73

1.35

0.88

0.78

0.13

0.03

100.00

10

KepulauanRiau

2.19

21.41

13.41

5.17

1.92

27.10

20.46

5.39

1.16

0.20

1.50

0.10

100.00

11

DKIJakarta

24.37

24.64

17.73

7.56

23.43

1.28

0.18

0.17

0.02

0.44

0.19

100.00

12

JawaBarat

4.57

8.01

7.53

3.30

26.70

26.04

8.06

9.10

5.59

0.53

0.23

0.34

100.00

13

JawaTengah

1.57

2.52

10.69

4.15

16.30

39.97

7.38

12.35

3.61

0.79

0.45

0.21

100.00

14

DIYogyakarta

9.87

4.20

9.92

0.68

14.21

44.43

6.90

3.61

3.10

0.16

2.66

0.25

100.00

15

JawaTimur

4.55

4.93

10.78

4.06

22.00

34.18

4.91

10.97

2.37

0.23

0.36

0.66

100.00

16

Banten

11.09

16.68

4.38

3.92

29.79

16.90

6.94

3.48

3.52

3.05

0.15

0.09

100.00

17

Bali

12.94

8.18

29.80

0.86

6.06

13.81

1.64

16.84

3.87

1.70

3.72

0.59

100.00

18

NusaTenggaraBarat

3.78

3.51

11.16

2.46

9.99

40.99

9.61

12.70

5.33

0.28

0.10

0.09

100.00

19

NusaTenggaraTimur

0.17

0.84

14.10

2.73

1.52

18.51

9.73

28.46

16.14

4.90

2.42

0.48

100.00

20

KalimantanBarat

1.17

4.35

6.30

1.66

1.98

4.97

9.18

4.98

4.21

20.25

40.72

0.22

100.00

21

KalimantanTengah

0.92

4.45

13.09

1.57

14.14

13.01

10.54

1.00

0.63

32.86

7.44

0.35

100.00

22

KalimantanSelatan

0.58

2.70

24.80

11.00

12.41

10.72

15.82

0.98

0.75

17.60

2.16

0.49

100.00

23

KalimantanTimur

1.70

14.49

37.57

6.59

4.84

6.00

7.23

2.12

1.13

9.91

7.78

0.65

100.00

24

SulawesiUtara

2.60

12.12

17.58

4.39

8.04

27.67

9.43

13.51

2.93

0.10

1.46

0.17

100.00

25

SulawesiTengah

0.51

5.84

11.83

1.62

14.57

21.42

8.93

22.62

4.40

6.73

1.18

0.34

100.00

26

SulawesiSelatan

0.28

6.82

14.85

6.04

17.33

24.89

12.39

7.39

7.21

1.88

0.62

0.30

100.00

27

SulawesiTenggara

0.21

2.11

15.15

3.04

6.61

31.06

14.23

19.61

3.47

1.88

2.16

0.48

100.00

28

Gorontalo

0.19

4.18

12.40

1.60

5.84

54.72

11.18

4.75

2.62

2.50

0.02

100.00

29

SulawesiBarat

0.33

3.42

14.58

1.55

9.96

28.84

11.75

8.52

14.37

5.49

1.06

0.13

100.00

30

Maluku

0.11

0.75

11.13

2.99

9.05

31.70

11.08

23.31

6.75

1.51

1.48

0.15

100.00

31

MalukuUtara

0.15

2.26

17.47

2.03

1.65

39.54

17.34

5.66

2.12

6.69

4.74

0.35

100.00

32

PapuaBarat

2.89

11.32

7.10

5.22

3.11

10.06

8.91

8.03

13.55

15.73

13.02

1.05

100.00

33

Papua

0.78

5.70

10.71

1.43

3.16

6.89

9.40

10.50

21.92

16.54

11.85

1.12

100.00

4.11

7.16

11.46

3.57

17.06

28.60

9.48

8.73

4.05

2.75

2.65

0.38

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.8.a

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTSUMBERAIRMINUMDANPROVINSI.TAHUN2008
Perkotaan
No

Provinsi

(1)

(2)

Air

Air

Ledeng

Ledeng

kemasan

IsiUlang

Meteran

Eceran

(3)

(4)

(5)

(6)

NanggroeAcehDarussalam

0.87

SumateraUtara

SumateraBarat

Pompa
(7)

Sumur

Sumur

MataAir

MataAir

Terlindung

TakTerlindung

Terlindung

TakTerlindung

(8)

(9)

(10)

(11)

Airsungai

Airhujan

Lainnya

(12)

(13)

(14)

Jumlah
(15)

33.74

13.97

2.22

6.46

31.95

5.04

1.99

1.23

0.54

1.67

0.32

100.00

1.36

8.82

37.54

4.50

17.67

20.06

7.01

1.37

0.39

0.55

0.44

0.29

100.00

1.27

11.38

36.40

1.85

12.52

25.97

5.21

2.75

1.32

0.33

0.52

0.48

100.00

Riau

1.95

31.93

2.89

0.48

13.08

24.71

4.55

0.43

0.15

0.21

19.56

0.08

100.00

Jambi

3.22

9.99

29.12

2.73

3.07

22.33

7.56

1.59

0.38

0.84

19.10

0.08

100.00

SumateraSelatan

2.22

16.39

31.53

9.51

2.31

24.69

7.73

1.06

0.30

3.78

0.37

0.12

100.00

Bengkulu

0.16

9.38

26.15

1.10

10.03

22.26

28.73

0.40

1.42

0.00

0.08

0.29

100.00

Lampung

7.72

9.44

7.00

5.82

12.01

35.70

16.48

4.54

0.59

0.52

0.10

0.08

100.00

KepulauanBangkaBelitung

12.25

12.27

5.40

0.14

14.42

42.71

11.22

0.91

0.33

0.22

0.14

0.00

100.00

10

KepulauanRiau

4.07

38.13

20.29

3.05

1.57

22.98

5.84

2.11

0.14

0.12

1.58

0.10

100.00

11

DKIJakarta

24.37

24.64

17.73

7.56

23.43

1.28

0.18

0.17

0.00

0.02

0.44

0.19

100.00

12

JawaBarat

7.20

11.55

11.08

3.45

31.76

22.74

5.04

4.79

1.52

0.11

0.28

0.47

100.00

13

JawaTengah

2.76

3.93

17.27

6.37

19.61

39.66

5.03

4.16

0.66

0.16

0.19

0.18

100.00

14

DIYogyakarta

15.27

6.54

7.76

0.14

17.31

47.93

3.95

0.78

0.06

0.13

0.14

100.00

15

JawaTimur

8.41

7.99

16.38

6.12

23.85

28.75

2.44

5.06

0.43

0.01

0.36

0.19

100.00

16

Banten

17.82

23.02

6.54

4.76

35.46

9.31

1.88

0.58

0.25

0.16

0.16

0.08

100.00

17

Bali

20.79

13.18

29.52

0.65

8.84

14.60

0.85

8.64

0.75

0.83

1.26

0.08

100.00

18

NusaTenggaraBarat

6.12

6.74

18.88

3.61

9.12

37.77

5.73

6.73

5.12

0.10

0.09

0.00

100.00

19

NusaTenggaraTimur

0.81

3.66

54.32

4.46

2.54

22.88

4.99

3.96

1.25

0.07

0.17

0.88

100.00

20

KalimantanBarat

3.49

12.62

12.99

1.18

1.93

3.75

2.57

0.46

0.69

1.20

58.68

0.44

100.00

21

KalimantanTengah

2.53

12.04

26.82

3.61

26.65

9.51

5.98

0.57

0.36

9.22

1.89

0.83

100.00

22

KalimantanSelatan

1.15

5.43

48.52

18.73

7.20

8.88

5.16

0.13

0.04

4.41

0.26

0.10

100.00

23

KalimantanTimur

2.46

18.92

51.54

9.07

3.79

3.16

2.25

0.92

0.10

1.98

5.19

0.62

100.00

24

SulawesiUtara

4.03

21.96

27.02

4.67

13.15

19.29

5.76

3.09

0.44

0.00

0.44

0.14

100.00

25

SulawesiTengah

2.20

24.83

33.85

1.33

27.34

2.86

0.72

5.74

0.64

0.29

0.04

0.17

100.00

26

SulawesiSelatan

0.62

18.44

36.67

13.07

12.36

12.09

3.29

1.34

0.83

0.91

0.09

0.30

100.00

27

SulawesiTenggara

0.70

7.27

44.74

3.20

12.36

16.55

3.35

9.50

1.09

0.81

0.23

0.20

100.00

28

Gorontalo

0.41

8.67

26.40

3.16

9.63

46.24

3.19

2.00

0.28

29

SulawesiBarat

1.00

6.78

38.79

1.91

15.88

25.12

3.58

3.81

3.13

30

Maluku

0.37

2.52

36.31

5.80

18.86

19.19

5.80

7.75

2.93

31

MalukuUtara

0.51

6.67

47.21

3.78

3.33

29.39

1.21

0.45

32

Papua

4.80

28.69

23.52

4.74

5.45

13.12

3.30

3.11

0.43

33

PapuaBarat

2.45

16.02

41.64

2.71

7.99

10.63

5.12

4.39

7.80

12.36

18.57

5.17

21.45

23.79

4.32

3.39

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

100.00

0.10

0.28

100.00

6.45

1.01

100.00

0.44

11.52

0.88

100.00

0.42

2.94

4.72

0.96

100.00

0.78

0.43

1.66

0.26

100.00

0.09

100.00

Lampiran2.8.b

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTSUMBERAIRMINUMDANPROVINSI.TAHUN2008
Perdesaan
No

Provinsi

(1)

(2)

Air

Air

Ledeng

Ledeng

kemasan

IsiUlang

Meteran

Eceran

(3)

(4)

(5)

Pompa

(6)

(7)

Sumur

Sumur

MataAir

MataAir

Terlindung

TakTerlindung

Terlindung

TakTerlindung

(8)

(9)

(10)

(11)

Airsungai

Airhujan

Lainnya

(12)

(13)

(14)

Jumlah
(15)

NanggroeAcehDarussalam

0.36

5.92

4.24

1.71

4.77

44.93

23.23

5.02

3.99

4.43

1.04

0.37

100.00

SumateraUtara

0.22

1.17

3.94

1.39

19.44

26.40

16.46

11.54

8.74

5.21

4.62

0.87

100.00

SumateraBarat

0.29

2.03

8.74

1.83

5.09

33.51

17.78

11.81

9.10

5.54

3.66

0.62

100.00

Riau

0.22

5.11

0.86

0.08

4.58

31.00

22.97

1.17

1.18

4.32

28.26

0.26

100.00

Jambi

0.40

3.43

9.45

0.52

1.98

33.75

25.40

3.42

0.85

9.60

10.82

0.38

100.00

SumateraSelatan

0.26

3.15

1.97

0.55

2.95

38.42

22.65

2.82

1.53

13.96

11.07

0.70

100.00

Bengkulu

0.10

1.90

3.94

0.73

2.60

19.17

53.09

5.06

8.06

4.44

0.19

0.73

100.00

Lampung

0.75

2.04

0.87

0.19

3.77

48.29

30.76

4.95

5.50

1.37

1.18

0.32

100.00

KepulauanBangkaBelitung

4.64

5.08

0.78

0.03

7.78

51.49

25.60

1.75

1.38

1.29

0.12

0.05

100.00

10

KepulauanRiau

0.07

2.63

5.68

7.54

2.30

31.73

36.88

9.08

2.30

0.30

1.40

0.09

100.00

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

0.83

13

JawaTengah

0.45

14

DIYogyakarta

0.13

15

JawaTimur

0.86

16

Banten

17

3.01

2.50

3.09

19.52

30.72

12.35

15.21

11.35

1.12

0.16

0.15

100.00

4.48

2.05

13.18

40.26

9.61

20.09

6.39

1.39

0.69

0.24

100.00

13.81

1.64

8.64

38.13

12.22

8.72

8.59

0.46

7.23

0.44

100.00

2.00

5.42

2.08

20.22

39.38

7.28

16.62

4.23

0.45

0.36

1.11

100.00

0.92

7.10

1.11

2.64

21.20

28.39

14.61

7.87

8.47

7.43

0.15

0.11

100.00

Bali

2.22

1.36

30.17

1.14

2.28

12.73

2.70

28.03

8.14

2.88

7.07

1.28

100.00

18

NusaTenggaraBarat

2.09

1.19

5.60

1.63

10.62

43.30

12.41

17.00

5.48

0.41

0.11

0.15

100.00

19

NusaTenggaraTimur

0.04

0.23

5.37

2.36

1.29

17.56

10.76

33.78

19.37

5.95

2.91

0.39

100.00

20

KalimantanBarat

0.28

1.16

3.73

1.84

2.00

5.44

11.73

6.72

5.56

27.59

33.80

0.14

100.00

21

KalimantanTengah

0.09

0.54

6.03

0.51

7.70

14.81

12.89

1.22

0.77

45.04

10.29

0.11

100.00

22

KalimantanSelatan

0.18

0.76

7.97

5.52

16.11

12.03

23.38

1.59

1.25

26.96

3.51

0.76

100.00

23

KalimantanTimur

0.45

7.19

14.59

2.50

6.56

10.68

15.44

4.09

2.82

22.95

12.04

0.70

100.00

24

SulawesiUtara

1.50

4.57

10.34

4.18

4.13

34.09

12.24

21.50

4.84

0.17

2.25

0.20

100.00

25

SulawesiTengah

0.06

0.79

5.98

1.70

11.18

26.36

11.11

27.11

5.40

8.45

1.49

0.38

100.00

26

SulawesiSelatan

0.12

1.30

4.49

2.71

19.69

30.97

16.72

10.26

10.25

2.34

0.87

0.29

100.00

27

SulawesiTenggara

0.06

0.57

6.37

2.99

4.90

35.37

17.46

22.61

4.18

2.19

2.73

0.57

100.00

28

Gorontalo

0.08

2.14

6.03

0.89

4.11

58.58

14.82

6.00

3.69

3.64

0.03

100.00

29

SulawesiBarat

1.74

2.43

1.37

6.98

30.71

15.84

10.89

20.00

8.24

1.59

0.20

100.00

30

Maluku

0.02

0.12

2.24

1.99

5.58

36.11

12.94

28.81

8.10

2.01

1.97

0.11

100.00

31

MalukuUtara

0.00

0.40

4.91

1.29

0.94

43.83

24.15

7.86

3.01

9.52

4.02

0.07

100.00

32 Papua

2.33

6.19

2.25

5.37

2.41

9.16

10.57

9.49

17.42

20.25

13.46

1.11

100.00

33

0.29

2.69

1.69

1.06

1.75

5.80

10.65

12.29

28.19

20.50

13.93

1.17

100.00

0.60

2.24

4.73

2.06

12.91

33.15

14.36

13.77

7.15

4.95

3.59

0.49

100.00

PapuaBarat

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

1.18

Lampiran2.9

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTRERATAPEMAKAIANAIRBERSIH
PERORANGPERHARIDANPROVINSI,RISKESDASTAHUN2007

Reratapemakaianairbersihperorangperhari(dalamliter)
No

Provinsi
519,9

<5
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

Indonesia
Sumber:RiskesdasIndonesia2007

(3)

5099,9

2049,9

(4)

(5)

100

(6)

(7)

13.5
6.4
32.6
32.0
5.3
1.6
1.1
10.6
0.6
23.0
0.7
2.1
0.4
0.3
0.3
0.4
0.8
0.5
4.7
1.9
0.3
0.3
0.6
1.2
2.3
0.1
15.3
16.9
13.6
1.6
0.2
1.2
13.0

7.2
7.1
12.6
11.6
11.2
6.0
8.5
3.1
4.7
8.1
8.0
24.2
6.0
3.0
7.0
4.6
6.7
10.4
32.9
8.2
4.3
2.4
2.8
9.1
12.7
13.7
8.4
37.2
31.9
15.2
9.1
9.8
26.9

20.6
21.9
15.8
10.5
41.2
24.1
41.1
17.5
22.0
9.6
10.9
23.0
23.2
13.0
40.0
21.1
47.8
26.9
31.9
31.7
37.6
27.6
16.2
17.6
42.6
29.1
26.4
13.7
19.3
31.1
43.8
43.7
28.0

25.9
21.9
14.2
14.0
22.9
31.6
13.8
34.3
30.6
36.5
17.3
21.0
30.3
28.2
21.0
23.5
33.6
21.2
19.1
28.2
30.5
36.1
41.2
27.7
22.7
32.7
32.4
4.5
17.5
23.5
29.4
30.6
20.8

32.7
42.7
24.7
31.9
19.5
36.6
35.6
34.5
42.0
22.9
63.1
29.7
40.1
55.5
31.6
50.3
11.2
41.0
11.4
29.9
27.4
33.7
39.2
44.4
19.7
24.5
17.5
27.7
17.7
28.6
17.5
14.7
11.2

5.4

10.8

26.9

25.3

31.6

Lampiran2.10

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTKUALITASFISIKAIRMINUM
PERPROVINSITAHUN2007
Kualitasfisikairminum
No

Provinsi
Keruh

(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

(2)

Berbau

(3)

Berwarna

(4)

Berasa

(5)

Berbusa

(6)

Baik*)

(7)

(8)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

17.2
9.3
7.6
9.1
8.2
10.1
4.7
5.8
1.7
6.4
7.3
6.6
7.4
3.4
3.7
9.9
3.0
5.3
11.7
12.5
34.4
22.4
15.9
6.7
7.2
6.4
10.5
7.3
9.6
8.5
8.4
15.5
18.1

4.8
3.9
3.3
3.5
1.3
2.9
1.4
1.9
1.9
3.2
11.1
3.8
1.9
1.7
1.9
4.0
1.1
2.6
2.3
2.2
9.8
6.6
5.8
1.0
3.4
2.6
1.6
2.0
1.7
0.9
1.2
5.6
6.4

12.5
9.9
6.0
9.6
6.3
10.5
2.0
3.6
2.6
6.8
4.8
4.4
3.5
2.8
2.5
6.0
4.1
2.5
4.5
10.5
26.2
17.0
11.2
5.1
5.9
4.0
6.1
4.7
6.8
3.9
6.9
13.5
15.3

7.0
6.8
2.6
5.0
3.2
5.7
1.8
3.6
2.6
4.2
9.7
4.0
3.1
1.4
2.8
7.4
3.7
4.1
6.2
3.8
15.2
10.9
6.8
3.4
3.9
3.1
7.7
3.9
3.0
3.9
11.0
7.5
9.2

1.8
0.9
1.5
1.3
0.8
2.0
0.5
0.6
0.7
1.9
1.4
1.1
0.6
0.4
0.7
1.4
0.3
0.7
1.5
0.8
1.6
1.6
1.7
0.7
0.7
0.8
0.4
1.3
1.7
0.5
0.8
4.3
2.6

75.2
84.3
90.3
84.9
88.5
84.8
93.0
91.5
95.3
88.5
80.3
88.6
89.2
95.0
92.9
82.7
92.5
90.1
84.8
82.5
58.6
71.6
79.2
90.4
87.4
90.2
81.9
89.7
86.8
87.0
80.4
79.5
75.8

Indonesia

9.3

3.2

6.8

5.0

1.1

86.0

Baik*)=Tidakkeruh,tidakberwarna,tidakberasa,tidakberbusadantidakberbau
Sumber:RiskesdasIndonesia2007

Lampiran2.11

PERSENTASERUMAHTANGGADENGANSUMBERAIRMINUMDARIPOMPA/SUMUR/MATAAIR
MENURUTTIPEDAERAH,JARAKKETEMPATPENAMPUNGANAKHIRKOTORAN/TINJATERDEKATDANPROVINSI
TAHUN2008
No

Provinsi

(1)

(2)

<=10m
(3)

Perkotaan
>10m
TidakTahu
(4)

NanggroeAcehDarussalam

41.38

39.84

SumateraUtara

42.59

SumateraBarat

30.33

Riau

(5)

Jumlah

<=10m

(6)

(7)

Perdesaan
>10m
TidakTahu
(8)

(9)

Jumlah

<=10m

(10)

(11)

Perkotaan+Perdesaan
>10m
TidakTahu
(12)

(13)

Jumlah
(14)

18.77

100.00

27.52

34.89

37.59

100.00

30.12

35.82

34.07

100.00

48.82

8.59

100.00

23.39

48.34

28.26

100.00

29.63

48.50

21.87

100.00

50.02

19.66

100.00

24.77

47.92

27.31

100.00

26.13

48.43

25.44

100.00

39.97

47.84

12.19

100.00

30.23

52.81

16.96

100.00

34.30

50.73

14.97

100.00

Jambi

21.21

68.55

10.24

100.00

17.58

62.41

20.01

100.00

18.32

63.66

18.02

100.00

SumateraSelatan

41.88

46.55

11.57

100.00

21.93

58.58

19.49

100.00

26.91

55.58

17.51

100.00

Bengkulu

47.05

38.76

14.19

100.00

22.48

49.21

28.31

100.00

29.32

46.30

24.38

100.00

Lampung

37.75

50.27

11.98

100.00

21.69

65.04

13.27

100.00

24.68

62.29

13.03

100.00

KepulauanBangkaBelitung

23.97

61.28

14.75

100.00

23.03

49.78

27.19

100.00

23.42

54.61

21.96

100.00

10

KepulauanRiau

32.98

46.03

20.99

100.00

13.17

34.99

51.85

100.00

19.27

38.39

42.33

100.00

11

DKIJakarta

40.42

54.17

5.41

100.00

0.00

40.42

54.17

5.41

100.00

12

JawaBarat

37.22

42.74

20.04

100.00

26.39

42.99

30.62

100.00

31.93

42.86

25.21

100.00

13

JawaTengah

26.13

53.65

20.22

100.00

15.11

58.38

26.51

100.00

19.76

56.38

23.86

100.00

14

DIYogyakarta

23.86

70.02

6.12

100.00

15.07

74.55

10.37

100.00

20.55

71.73

7.72

100.00

15

JawaTimur

24.24

59.69

16.07

100.00

13.90

60.93

25.16

100.00

18.02

60.44

21.55

100.00

16

Banten

45.83

37.13

17.04

100.00

23.35

31.86

44.79

100.00

33.95

34.35

31.71

100.00

17

Bali

25.52

58.59

15.89

100.00

10.82

60.76

28.42

100.00

17.58

59.76

22.65

100.00

18

NusaTenggaraBarat

24.94

36.57

38.50

100.00

15.62

44.27

40.11

100.00

18.82

41.62

39.55

100.00

19

NusaTenggaraTimur

36.39

53.89

9.72

100.00

9.41

55.22

35.37

100.00

11.71

55.11

33.18

100.00

20

KalimantanBarat

32.77

44.50

22.73

100.00

17.65

51.76

30.59

100.00

19.21

51.01

29.78

100.00

21

KalimantanTengah

39.47

50.31

10.21

100.00

16.86

61.88

21.26

100.00

25.28

57.57

17.15

100.00

22

KalimantanSelatan

30.94

60.88

8.18

100.00

13.21

67.43

19.36

100.00

17.08

66.00

16.92

100.00

23

KalimantanTimur

28.76

47.59

23.65

100.00

16.92

60.63

22.45

100.00

20.45

56.75

22.81

100.00

24

SulawesiUtara

31.07

51.79

17.15

100.00

31.49

40.16

28.35

100.00

31.37

43.58

25.05

100.00

25

SulawesiTengah

35.74

42.65

21.62

100.00

15.74

42.04

42.22

100.00

17.92

42.11

39.97

100.00

26

SulawesiSelatan

32.59

48.59

18.82

100.00

16.25

51.93

31.83

100.00

18.52

51.46

30.02

100.00

27

SulawesiTenggara

21.08

64.47

14.45

100.00

13.32

59.03

27.66

100.00

14.33

59.74

25.93

100.00

28

Gorontalo

54.43

25.43

20.15

100.00

24.81

35.94

39.24

100.00

32.00

33.39

34.61

100.00

29

SulawesiBarat

23.70

52.79

23.50

100.00

12.17

47.15

40.68

100.00

14.87

48.48

36.66

100.00

30

Maluku

22.50

58.11

19.39

100.00

16.52

47.30

36.18

100.00

17.56

49.18

33.26

100.00

31

MalukuUtara

37.70

46.18

16.12

100.00

28.14

43.04

28.82

100.00

29.61

43.52

26.87

100.00

32

PapuaBarat

12.67

76.80

10.53

100.00

19.09

47.22

33.69

100.00

18.23

51.15

30.62

100.00

33

Papua

40.31

31.17

28.52

100.00

12.69

46.38

40.93

100.00

16.12

44.49

39.39

100.00

32.27

50.40

17.33

100.00

19.06

52.81

28.13

100.00

24.14

51.88

23.97

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.12

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTFASILITASTEMPATBUANGAIRBESAR,
TIPEDAERAHDANPROVINSITAHUN2008
No

Perkotaan

Provinsi

Perdesaan

Perkotaan+Perdesaan

Sendiri

Bersama

Umum

TidakAda

Jumlah

Sendiri

Bersama

Umum

TidakAda

Jumlah

Sendiri

Bersama

Umum

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

TidakAda Jumlah

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

78.19

10.62

3.68

7.51

100.00

47.10

7.05

10.06

35.79

100.00

56.05

8.08

8.22

27.64

100.00

SumateraUtara

87.65

7.89

1.66

2.80

100.00

60.03

5.64

6.06

28.28

100.00

72.76

6.67

4.03

16.53

100.00

SumateraBarat

72.11

14.71

3.08

10.10

100.00

40.24

13.76

7.76

38.23

100.00

51.18

14.09

6.16

28.57

100.00

Riau

89.84

7.17

0.68

2.31

100.00

73.79

5.69

1.72

18.80

100.00

81.88

6.44

1.20

10.49

100.00

Jambi

82.05

7.95

1.25

8.76

100.00

58.67

7.87

4.45

29.02

100.00

66.24

7.89

3.41

22.45

100.00

SumateraSelatan

79.82

11.24

2.42

6.52

100.00

52.92

9.97

5.69

31.41

100.00

63.31

10.46

4.43

21.79

100.00

Bengkulu

78.76

14.18

1.65

5.42

100.00

51.67

7.46

3.19

37.68

100.00

61.16

9.82

2.65

26.37

100.00

Lampung

74.40

13.11

2.19

10.31

100.00

68.90

13.72

1.33

16.06

100.00

70.19

13.58

1.53

14.70

100.00

KepulauanBangkaBelitung

81.15

6.14

2.76

9.96

100.00

52.35

4.27

3.02

40.36

100.00

66.11

5.16

2.89

25.83

100.00

10

KepulauanRiau

83.42

13.30

1.65

1.63

100.00

81.54

6.25

1.76

10.45

100.00

82.54

9.98

1.70

5.78

100.00

11

DKIJakarta

74.03

19.58

5.73

0.67

100.00

74.03

19.58

5.73

0.67

100.00

12

JawaBarat

72.63

14.82

4.30

8.25

100.00

49.16

13.46

10.22

27.16

100.00

62.92

14.26

6.75

16.07

100.00

13

JawaTengah

66.24

14.71

2.26

16.79

100.00

55.13

12.35

3.46

29.07

100.00

60.53

13.49

2.88

23.10

100.00

14

DIYogyakarta

58.45

31.18

0.70

9.67

100.00

78.68

15.25

0.53

5.55

100.00

65.67

25.49

0.64

8.20

100.00

15

JawaTimur

66.81

15.53

1.79

15.87

100.00

50.39

15.09

1.56

32.96

100.00

58.42

15.31

1.67

24.60

100.00

16

Banten

74.35

16.09

2.35

7.21

100.00

34.92

6.10

3.81

55.17

100.00

58.66

12.12

2.93

26.30

100.00

17

Bali

70.41

22.99

0.67

5.93

100.00

53.28

15.64

0.45

30.63

100.00

63.17

19.88

0.58

16.37

100.00

18

NusaTenggaraBarat

46.47

15.83

2.29

35.41

100.00

31.48

12.38

1.88

54.26

100.00

37.76

13.83

2.05

46.36

100.00

19

NusaTenggaraTimur

77.48

17.92

1.97

2.63

100.00

58.92

10.54

1.40

29.14

100.00

62.23

11.86

1.50

24.41

100.00

20

KalimantanBarat

87.25

7.12

1.25

4.38

100.00

47.66

6.04

3.81

42.49

100.00

58.67

6.34

3.10

31.90

100.00

21

KalimantanTengah

72.53

14.93

5.39

7.16

100.00

43.38

16.87

10.73

29.01

100.00

53.29

16.21

8.91

21.58

100.00

22

KalimantanSelatan

73.29

15.28

5.19

6.24

100.00

48.12

14.88

7.12

29.88

100.00

58.56

15.05

6.32

20.07

100.00

23

KalimantanTimur

83.92

10.23

3.73

2.12

100.00

65.70

10.93

6.13

17.24

100.00

77.03

10.49

4.64

7.84

100.00

24

SulawesiUtara

69.82

22.87

1.80

5.51

100.00

56.87

15.24

2.98

24.91

100.00

62.49

18.55

2.47

16.49

100.00

25

SulawesiTengah

75.68

11.55

4.74

8.03

100.00

43.91

7.83

3.70

44.56

100.00

50.58

8.61

3.92

36.89

100.00

26

SulawesiSelatan

73.15

17.60

1.57

7.67

100.00

51.10

9.13

1.66

38.10

100.00

58.20

11.86

1.63

28.31

100.00

27

SulawesiTenggara

70.73

18.65

3.70

6.91

100.00

54.41

7.55

2.23

35.81

100.00

58.15

10.09

2.57

29.19

100.00

28

Gorontalo

53.70

17.71

9.42

19.18

100.00

21.85

13.41

10.32

54.42

100.00

31.82

14.75

10.04

43.39

100.00

29

SulawesiBarat

63.72

11.85

3.06

21.37

100.00

37.33

8.43

2.12

52.12

100.00

46.14

9.57

2.44

41.85

100.00

30

Maluku

65.94

18.25

4.52

11.29

100.00

40.51

4.98

9.19

45.33

100.00

47.15

8.44

7.97

36.44

100.00

31

MalukuUtara

70.52

20.60

3.19

5.68

100.00

33.09

12.68

18.21

36.02

100.00

44.21

15.03

13.75

27.01

100.00

32

PapuaBarat

71.43

18.60

8.31

1.66

100.00

36.31

18.45

13.87

31.37

100.00

44.32

18.48

12.60

24.60

100.00

33

Papua

76.88

13.37

6.68

3.07

100.00

37.35

13.35

2.68

46.62

100.00

46.27

13.36

3.59

36.78

100.00

71.92

15.18

2.93

9.97

100.00

52.00

11.69

4.61

31.71

100.00

61.68

13.38

3.79

21.14

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

(16)

(17)

Lampiran2.13

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTJENISKLOSETDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Leherangsa

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

"Plengsengan"

Cemplung/cubluk

Tidakpakai

(4)

(5)

(6)

Jumlah
(7)

65.72

10.61

18.00

5.67

100.00

69.44

9.30

16.87

4.39

100.00

68.49

8.07

15.00

8.45

100.00

69.64

12.15

14.80

3.41

100.00

65.49

9.06

18.54

6.91

100.00

57.95

11.05

25.39

5.60

100.00

70.88

11.39

14.04

3.69

100.00

59.77

6.32

31.96

1.95

100.00

84.97

5.96

7.33

1.73

100.00

58.05

6.73

29.31

5.92

100.00

86.79

12.00

1.02

0.19

100.00

78.50

9.75

5.69

6.06

100.00

77.26

6.14

14.45

2.15

100.00

85.41

2.33

12.08

0.18

100.00

72.78

6.68

19.15

1.39

100.00

89.03

4.66

4.85

1.46

100.00

95.89

2.67

0.93

0.50

100.00

88.25

7.75

1.92

2.08

100.00

44.21

24.03

25.41

6.35

100.00

70.86

11.59

11.82

5.73

100.00

47.39

9.94

26.08

16.59

100.00

68.06

7.01

13.93

11.00

100.00

74.91

9.24

11.78

4.07

100.00

83.05

11.26

3.92

1.77

100.00

83.54

5.21

8.92

2.33

100.00

79.54

7.77

11.00

1.70

100.00

69.61

7.32

20.69

2.38

100.00

88.82

3.59

4.87

2.72

100.00

77.49

5.71

11.67

5.12

100.00

80.15

8.21

7.64

4.00

100.00

85.19

6.13

6.02

2.67

100.00

48.15

30.47

13.59

7.79

100.00

36.83

22.21

19.30

21.66

100.00

74.67

8.44

13.19

3.70

100.00

Lampiran2.13.a

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTJENISKLOSETDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Leherangsa

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

"Plengsengan"

Cemplung/cubluk

Tidakpakai

(4)

(5)

(6)

Jumlah
(7)

85.51
83.71
86.42
83.91
77.57
82.29
82.23
83.89
86.06
87.16
86.79
85.26
87.58
96.90
86.28
93.04
96.44
90.05
80.37
89.35
72.93
81.91
82.06
85.08
93.81
91.65
91.01
94.51
87.28
88.96
91.70
49.14
58.59

7.66
8.11
5.15
8.66
9.05
9.57
14.76
6.19
7.21
7.04
12.00
9.31
5.09
1.24
5.55
3.44
2.55
7.99
14.25
5.00
10.29
4.25
8.54
12.13
2.36
5.37
6.52
3.14
6.15
5.27
3.92
39.07
35.02

5.36
6.68
6.25
5.63
10.82
6.84
2.46
8.57
6.11
4.98
1.02
2.66
6.33
1.63
7.51
3.08
0.81
1.17
4.26
4.08
11.15
8.85
7.86
1.79
2.10
2.33
1.94
1.95
3.37
3.21
2.78
8.06
5.84

1.47
1.51
2.19
1.81
2.56
1.30
0.55
1.34
0.62
0.83
0.19
2.76
1.00
0.23
0.66
0.44
0.19
0.79
1.11
1.58
5.63
4.99
1.55
1.00
1.73
0.65
0.53
0.40
3.20
2.55
1.60
3.74
0.54

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

86.49

7.44

4.65

1.41

100.00

Lampiran2.13.b

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTJENISKLOSETDANPROVINSITAHUN2008
Perdesaan
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Leherangsa

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

"Plengsengan"

Cemplung/cubluk

Tidakpakai

(4)

(5)

(6)

54.19
52.91
54.85
52.19
58.05
37.06
61.59
51.85
83.46
22.13

12.33
10.67
10.29
16.43
9.06
12.33
8.62
6.36
4.24
6.34

25.36
28.68
21.66
26.01
23.30
41.32
23.52
39.63
9.02
59.33

Jumlah
(7)

8.11
7.74
13.21
5.37
9.59
9.29
6.26
2.15
3.27
12.20

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

66.43
65.82
65.61
56.57
76.46
94.88
86.42
33.43
59.03
30.19
54.93
60.98
81.09
79.01
70.96
60.39
84.23
69.43
75.09
81.13
47.73
25.30

10.54
7.30
4.23
8.03
8.50
2.89
7.50
26.94
15.81
9.71
9.63
10.61
10.42
6.47
9.47
7.67
3.94
5.36
9.89
7.50
26.83
15.43

11.09
23.46
30.08
33.13
10.39
1.15
2.69
31.72
16.78
36.14
18.75
19.43
5.98
11.93
17.14
28.76
7.23
18.51
10.18
8.03
15.94
26.42

11.94
3.42
0.09
2.27
4.65
1.07
3.39
7.91
8.39
23.96
16.69
8.98
2.51
2.60
2.44
3.18
4.59
6.71
4.83
3.34
9.50
32.84

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

59.93

9.68

23.84

6.55

100.00

Lampiran2.14

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTTEMPATPEMBUANGANAKHIRTINJA
DANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
No
(1)

Provinsi

Tangki/septik

Kolam/sawah

Sungai/danau/laut

Lobangtanah

Pantai/kebun

Lainnya

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Jumlah
(9)

1
2
3

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat

48.82

1.66

18.42

18.04

10.37

2.69

100.00

58.75

0.79

12.31

18.29

5.21

4.64

100.00

41.27

15.32

26.20

11.97

1.42

3.83

100.00

4
5

Riau
Jambi

58.48

1.52

10.65

24.26

4.26

0.83

100.00

42.29

1.67

25.38

26.31

3.39

0.96

100.00

6
7
8

SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung

44.92

2.22

22.55

24.74

4.22

1.35

100.00

34.99

1.28

22.07

33.11

5.77

2.78

100.00

40.61

3.42

10.85

42.85

1.47

0.80

100.00

KepulauanBangkaBelitung

63.82

0.94

2.65

9.90

19.95

2.74

100.00

10
11
12
13

KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah

49.42

0.54

28.06

11.52

8.98

1.49

100.00

88.74

0.81

6.61

2.56

0.06

1.23

100.00

53.70

13.94

21.76

7.94

1.44

1.22

100.00

54.09

4.81

19.60

18.36

2.05

1.08

100.00

14

DIYogyakarta

74.91

1.22

7.98

15.29

0.20

0.40

100.00

15
16
17
18

JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat

51.41

1.13

20.78

22.38

3.73

0.58

100.00

61.56

7.16

10.25

6.79

13.08

1.17

100.00

79.46

0.62

6.38

2.43

10.60

0.51

100.00

46.63

2.53

29.74

4.93

15.00

1.17

100.00

19

NusaTenggaraTimur

22.06

0.43

0.44

51.33

18.76

6.98

100.00

20
21
22
23
24

KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara

38.81

1.50

22.57

22.73

11.40

2.99

100.00

27.80

0.93

43.13

25.09

1.29

1.77

100.00

39.86

0.79

30.82

26.66

1.63

0.23

100.00

58.59

0.82

15.94

22.10

1.98

0.58

100.00

60.88

1.57

10.16

19.21

5.11

3.08

100.00

25
26
27
28
29

SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat

48.76

1.13

21.54

12.51

12.57

3.48

100.00

55.55

1.58

9.28

15.80

16.55

1.26

100.00

48.19

0.58

8.38

22.83

17.36

2.67

100.00

46.63

1.23

19.29

8.44

22.53

1.88

100.00

42.50

0.54

21.26

14.50

19.63

1.58

100.00

30
31
32

Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat

47.66

0.83

9.55

9.13

29.69

3.14

100.00

58.13

0.73

8.68

8.10

19.74

4.61

100.00

47.26

1.18

19.06

15.12

12.07

5.31

100.00

33

Papua

29.42

1.16

4.95

27.87

23.39

13.21

100.00

53.33

4.70

17.93

17.21

5.23

1.61

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.14.a

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTTEMPATPEMBUANGANAKHIRTINJA
DANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan
No
(1)

Provinsi

Tangki/septik

Kolam/sawah

Sungai/danau/laut

Lobangtanah

Pantai/kebun

Lainnya

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Jumlah
(9)

1
2
3

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat

79.36

1.48

5.80

8.80

2.48

2.08

100.00

82.98

0.62

5.24

8.37

0.64

2.15

100.00

70.10

7.08

9.96

7.55

1.32

3.99

100.00

4
5

Riau
Jambi

83.37

1.14

4.16

9.07

1.98

0.28

100.00

66.94

1.86

12.01

14.66

3.38

1.14

100.00

6
7
8
9

SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung

77.75

1.79

9.04

10.39

0.19

0.86

100.00

59.27

1.11

7.31

28.77

0.34

3.19

100.00

69.10

3.72

11.44

13.79

0.72

1.24

100.00

79.68

0.87

2.37

8.30

7.39

1.37

100.00

10

KepulauanRiau

78.62

0.62

5.10

12.90

1.91

0.85

100.00

11
12
13

DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah

88.74

0.81

6.61

2.56

0.06

1.23

100.00

62.99

6.89

22.35

5.68

0.42

1.67

100.00

68.32

2.44

17.31

10.40

0.96

0.57

100.00

14
15

DIYogyakarta
JawaTimur

84.23

1.13

10.26

4.09

0.00

0.29

100.00

69.19

0.82

16.60

12.06

1.05

0.28

100.00

16
17
18

Banten
Bali
NusaTenggaraBarat

83.07

6.59

3.82

3.74

1.92

0.86

100.00

90.22

0.73

4.26

1.87

2.54

0.37

100.00

58.33

2.53

28.54

4.07

6.03

0.50

100.00

19
20

NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat

53.24

0.54

0.59

43.02

2.10

0.51

100.00

76.17

1.42

6.58

13.74

1.49

0.60

100.00

21
22
23
24

KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara

54.91

0.72

17.26

24.91

0.18

2.01

100.00

62.74

0.79

17.96

18.31

0.00

0.20

100.00

74.19

0.85

9.65

13.88

1.24

0.19

100.00

74.35

1.74

4.28

15.15

1.64

2.83

100.00

25
26
27
28
29

SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat

83.49

0.07

8.08

5.66

1.49

1.21

100.00

83.47

0.55

4.20

7.47

3.35

0.97

100.00

82.69

0.43

3.51

9.68

2.86

0.84

100.00

77.01

0.65

9.52

2.97

8.39

1.46

100.00

70.40

0.00

9.62

4.43

14.71

0.84

100.00

30
31
32

Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat

76.51

0.58

8.08

4.92

8.51

1.40

100.00

85.68

0.41

3.36

3.95

4.34

2.27

100.00

77.84

1.28

8.29

8.55

1.65

2.38

100.00

33

Papua

78.85

1.29

4.17

13.34

2.14

0.21

100.00

72.29

2.93

13.97

8.64

1.14

1.04

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.14.b

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTTEMPATPEMBUANGANAKHIRTINJA
DANPROVINSITAHUN2008
Perdesaan
No
(1)

Provinsi

Tangki/septik

Kolam/sawah

Sungai/danau/laut

Lobangtanah

Pantai/kebun

Lainnya

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Jumlah
(9)

1
2

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara

36.47

1.73

23.53

21.78

13.56

2.93

100.00

38.03

0.94

18.36

26.78

9.13

6.76

100.00

3
4

SumateraBarat
Riau

26.20

19.62

34.68

14.28

1.47

3.75

100.00

33.18

1.91

17.25

39.69

6.58

1.39

100.00

5
6
7

Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu

30.47

1.59

31.79

31.90

3.39

0.87

100.00

24.24

2.50

31.06

33.78

6.77

1.66

100.00

21.88

1.37

30.04

35.45

8.70

2.56

100.00

8
9

Lampung
KepulauanBangkaBelitung

31.85

3.32

10.67

51.78

1.71

0.67

100.00

49.30

1.00

2.90

11.36

31.44

4.00

100.00

10
11
12

KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat

16.63

0.44

53.84

9.97

16.91

2.20

40.52

23.92

20.93

11.16

2.89

0.57

100.00

13

JawaTengah

40.63

7.05

21.76

25.90

3.09

1.57

100.00

14
15
16
17

DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali

58.13

1.38

3.87

35.46

0.57

0.59

100.00

34.39

1.42

24.78

32.24

6.29

0.88

100.00

29.02

8.02

19.96

11.40

29.95

1.64

100.00

64.77

0.47

9.28

3.19

21.60

0.70

100.00

18

NusaTenggaraBarat

38.19

2.53

30.60

5.55

21.47

1.66

100.00

19
20
21
22

NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan

15.29

0.41

0.40

53.13

22.38

8.39

100.00

24.42

1.53

28.73

26.19

15.22

3.91

100.00

13.83

1.03

56.45

25.19

1.86

1.65

100.00

23.63

0.79

39.95

32.58

2.79

0.26

100.00

23

KalimantanTimur

32.93

0.76

26.28

35.62

3.18

1.22

100.00

24
25
26
27

SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara

50.55

1.44

14.66

22.31

7.77

3.26

100.00

39.53

1.42

25.12

14.34

15.52

4.08

100.00

42.28

2.07

11.69

19.76

22.81

1.39

100.00

37.95

0.62

9.82

26.74

21.66

3.21

100.00

28
29
30
31
32

Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat

32.78

1.50

23.75

10.93

28.97

2.07

100.00

28.52

0.81

27.09

19.55

22.09

1.95

100.00

37.47

0.92

10.07

10.61

37.17

3.76

100.00

46.49

0.87

10.93

9.86

26.25

5.60

100.00

38.24

1.14

22.24

17.06

15.15

6.17

100.00

33

Papua

15.01

1.12

5.18

32.11

29.59

17.01

100.00

35.39

6.37

21.67

25.32

9.09

2.15

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

100.00

Lampiran2.15

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTLUASLANTAITEMPATTINGGAL(M2).
TIPEDAERAHDANPROVINSITAHUN2008
LuasLantai(m2)
No

Provinsi

(1)

(2)

Perkotaan

Perdesaan

Perkotaan/Perdesaan

<19

2049

5099

100149

150+

Jumlah

<19

2049

5099

100149

150+

Jumlah

<19

2049

5099

100149

150+

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

NanggroeAcehDarussalam

4.00

41.71

35.78

10.80

7.71

100.00

3.15

57.49

32.26

5.04

2.06

100.00

3.39

52.94

33.28

6.70

3.69

100.00

SumateraUtara

2.90

33.07

44.91

12.17

6.96

100.00

3.47

48.96

41.55

4.66

1.36

100.00

3.21

41.63

43.10

8.12

3.94

100.00

SumateraBarat

6.75

30.87

37.78

14.50

10.10

100.00

4.34

42.34

42.97

7.75

2.59

100.00

5.17

38.40

41.19

10.07

5.17

100.00

Riau

2.47

37.66

40.19

13.88

5.80

100.00

1.84

47.53

40.47

7.14

3.02

100.00

2.16

42.56

40.33

10.54

4.42

100.00

Jambi

1.65

35.65

45.08

13.48

4.13

100.00

2.17

41.23

47.60

6.77

2.23

100.00

2.00

39.42

46.79

8.94

2.85

100.00

SumateraSelatan

7.32

48.85

32.60

7.08

4.14

100.00

4.76

49.13

40.90

3.77

1.44

100.00

5.75

49.03

37.69

5.05

2.49

100.00

Bengkulu

7.69

37.81

37.22

10.69

6.59

100.00

3.48

55.15

37.18

2.57

1.61

100.00

4.96

49.07

37.20

5.42

3.36

100.00

Lampung

4.60

29.02

51.71

8.82

5.84

100.00

1.40

28.00

58.80

9.13

2.67

100.00

2.15

28.24

57.13

9.06

3.41

100.00

KepulauanBangkaBelitung

1.63

41.79

44.16

8.47

3.95

100.00

1.19

46.60

42.09

7.66

2.47

100.00

1.40

44.30

43.08

8.04

3.18

100.00

10

KepulauanRiau

7.85

37.29

40.34

9.08

5.44

100.00

3.61

38.51

40.23

7.40

10.24

100.00

5.85

37.87

40.29

8.29

7.70

100.00

11

DKIJakarta

24.17

31.36

22.09

10.49

11.88

100.00

24.17

31.36

22.09

10.49

11.88

100.00

12

JawaBarat

8.29

35.03

39.37

10.76

6.54

100.00

2.83

50.38

39.93

5.26

1.60

100.00

6.03

41.38

39.60

8.49

4.50

100.00

13

JawaTengah

3.00

17.99

52.19

15.70

11.11

100.00

0.58

14.85

56.29

17.60

10.67

100.00

1.76

16.38

54.30

16.68

10.88

100.00

14

DIYogyakarta

20.80

18.08

37.36

13.47

10.29

100.00

0.69

10.06

53.76

21.77

13.71

100.00

13.62

15.22

43.21

16.43

11.51

100.00

15

JawaTimur

6.52

26.27

47.50

12.25

7.47

100.00

1.43

25.98

51.94

13.64

7.01

100.00

3.92

26.12

49.77

12.96

7.23

100.00

16

Banten

11.96

24.18

41.75

12.38

9.73

100.00

2.14

36.07

53.96

5.86

1.97

100.00

8.05

28.91

46.61

9.78

6.64

100.00

17

Bali

18.36

25.71

32.69

13.51

9.74

100.00

5.41

45.81

38.91

6.90

2.98

100.00

12.88

34.21

35.32

10.71

6.88

100.00

18

NusaTenggaraBarat

14.09

54.35

22.25

5.60

3.71

100.00

9.02

63.14

24.71

2.32

0.81

100.00

11.14

59.46

23.68

3.69

2.02

100.00

19

NusaTenggaraTimur

11.94

44.53

31.80

7.40

4.33

100.00

5.71

67.33

23.93

2.47

0.55

100.00

6.82

63.26

25.34

3.35

1.23

100.00

20

KalimantanBarat

3.06

31.50

40.87

14.10

10.48

100.00

2.45

54.91

36.59

4.49

1.56

100.00

2.62

48.40

37.78

7.16

4.04

100.00

21

KalimantanTengah

6.48

43.30

37.24

8.51

4.47

100.00

2.60

53.28

39.81

3.15

1.15

100.00

3.92

49.88

38.94

4.98

2.28

100.00

22

KalimantanSelatan

10.22

40.40

34.24

8.65

6.49

100.00

4.34

44.66

43.28

6.12

1.61

100.00

6.78

42.89

39.53

7.17

3.64

100.00

23

KalimantanTimur

7.35

40.48

34.26

9.68

8.23

100.00

1.58

44.40

43.61

7.41

3.00

100.00

5.17

41.96

37.79

8.82

6.25

100.00

24

SulawesiUtara

9.29

47.81

30.99

7.37

4.53

100.00

3.97

59.38

30.76

4.01

1.88

100.00

6.28

54.36

30.86

5.47

3.03

100.00

25

SulawesiTengah

8.08

34.37

34.38

12.69

10.49

100.00

3.64

47.53

38.11

7.87

2.85

100.00

4.57

44.77

37.32

8.88

4.46

100.00

26

SulawesiSelatan

11.14

28.54

35.97

13.47

10.88

100.00

2.20

32.34

51.49

10.87

3.10

100.00

5.08

31.11

46.49

11.71

5.61

100.00

27

SulawesiTenggara

13.75

32.10

34.86

11.07

8.21

100.00

2.99

41.35

43.56

8.83

3.27

100.00

5.45

39.23

41.57

9.34

4.41

100.00

28

Gorontalo

3.48

45.02

35.58

9.36

6.56

100.00

7.76

57.35

27.12

4.78

2.99

100.00

6.42

53.49

29.77

6.21

4.11

100.00

29

SulawesiBarat

1.83

28.13

51.25

11.47

7.32

100.00

6.32

48.80

38.04

5.39

1.44

100.00

4.82

41.90

42.45

7.42

3.41

100.00

30

Maluku

7.91

46.12

35.23

7.26

3.48

100.00

1.99

50.88

41.01

5.13

0.99

100.00

3.54

49.64

39.50

5.68

1.64

100.00

31

MalukuUtara

12.29

20.87

44.97

15.42

6.46

100.00

0.98

38.95

49.54

8.69

1.84

100.00

4.34

33.58

48.18

10.69

3.21

100.00

32

PapuaBarat

16.53

39.77

29.60

9.11

4.99

100.00

6.94

63.03

26.37

1.96

1.70

100.00

9.13

57.72

27.11

3.59

2.45

100.00

33

Papua

13.24

50.42

25.25

6.29

4.80

100.00

37.08

52.57

8.98

1.16

0.20

100.00

31.70

52.09

12.65

2.32

1.24

100.00

8.68

30.48

40.83

11.87

8.13

100.00

2.99

38.49

45.20

9.06

4.25

100.00

5.76

34.60

43.08

10.43

6.14

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.16

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTTIPEDAERAH,DANJENISLANTAITERLUAS(M2)DANPROVINSI,TAHUN2008

Perkotaan
No

Perdesaan

Perkotaan+Perdesaan

Provinsi

(1)

(2)

Bukantanah

Tanah

Jumlah

BukanTanah

Tanah

Jumlah

BukanTanah

Tanah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

Jumlah
(11)

NanggroeAcehDarussalam

95.83

4.17

100.00

87.01

12.99

100.00

89.55

10.45

100.00

SumateraUtara

97.17

2.83

100.00

92.28

7.72

100.00

94.54

5.46

100.00

SumateraBarat

97.40

2.60

100.00

96.10

3.90

100.00

96.55

3.45

100.00

Riau

98.41

1.59

100.00

96.38

3.62

100.00

97.41

2.59

100.00

Jambi

97.93

2.07

100.00

92.94

7.06

100.00

94.56

5.44

100.00

SumateraSelatan

96.69

3.31

100.00

85.05

14.95

100.00

89.55

10.45

100.00

Bengkulu

97.73

2.27

100.00

87.51

12.49

100.00

91.09

8.91

100.00

Lampung

90.89

9.11

100.00

77.48

22.52

100.00

80.63

19.37

100.00

KepulauanBangkaBelitung

97.69

2.31

100.00

96.70

3.30

100.00

97.18

2.82

100.00

10 KepulauanRiau

95.03

4.97

100.00

94.49

5.51

100.00

94.78

5.22

100.00

11 DKIJakarta

98.20

1.80

100.00

98.20

1.80

100.00

12 JawaBarat

96.28

3.72

100.00

91.73

8.27

100.00

94.39

5.61

100.00

13 JawaTengah

85.94

14.06

100.00

62.58

37.42

100.00

73.93

26.07

100.00

14 DIYogyakarta

94.65

5.35

100.00

83.25

16.75

100.00

90.58

9.42

100.00

15 JawaTimur

91.76

8.24

100.00

69.71

30.29

100.00

80.49

19.51

100.00

16 Banten

96.23

3.77

100.00

85.31

14.69

100.00

91.88

8.12

100.00

17 Bali

97.03

2.97

100.00

91.22

8.78

100.00

94.58

5.42

100.00

18 NusaTenggaraBarat

91.13

8.87

100.00

85.88

14.12

100.00

88.08

11.92

100.00

19 NusaTenggaraTimur

92.01

7.99

100.00

51.82

48.18

100.00

58.99

41.01

100.00

20 KalimantanBarat

98.34

1.66

100.00

96.93

3.07

100.00

97.32

2.68

100.00

21 KalimantanTengah

97.55

2.45

100.00

96.18

3.82

100.00

96.65

3.35

100.00

22 KalimantanSelatan

98.68

1.32

100.00

97.17

2.83

100.00

97.80

2.20

100.00

23 KalimantanTimur

96.99

3.01

100.00

95.32

4.68

100.00

96.36

3.64

100.00

24 SulawesiUtara

94.15

5.85

100.00

87.67

12.33

100.00

90.48

9.52

100.00

25 SulawesiTengah

97.60

2.40

100.00

89.95

10.05

100.00

91.56

8.44

100.00

26 SulawesiSelatan

97.38

2.62

100.00

95.43

4.57

100.00

96.06

3.94

100.00

27 SulawesiTenggara

93.57

6.43

100.00

87.49

12.51

100.00

88.88

11.12

100.00

28 Gorontalo

96.47

3.53

100.00

86.83

13.17

100.00

89.85

10.15

100.00

29 SulawesiBarat

94.91

5.09

100.00

90.92

9.08

100.00

92.26

7.74

100.00

30 Maluku

96.50

3.50

100.00

80.07

19.93

100.00

84.36

15.64

100.00

31 MalukuUtara

96.35

3.65

100.00

73.86

26.14

100.00

80.54

19.46

100.00

32 PapuaBarat

96.54

3.46

100.00

86.85

13.15

100.00

89.06

10.94

100.00

33 Papua

95.40

4.60

100.00

70.62

29.38

100.00

76.21

23.79

100.00

94.10

5.90

100.00

81.32

18.68

100.00

87.53

12.47

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.17

PERSENTASERUMAHTANGGAMENURUTTIPEDAERAH,DANJENISDINDINGTERLUAS(M2)DANPROVINSI,TAHUN2008

Perkotaan
No

Perdesaan

Perkotaan+Perdesaan

Provinsi

(1)

(2)

Tembok

Kayu

Bambu

Lainnya

Jumlah

Tembok

Kayu

Bambu

Lainnya

Jumlah

Tembok

Kayu

Bambu

Lainnya

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

NanggroeAcehDarussalam

51.36

47.42

0.52

0.70

100.00

29.62

66.45

2.70

1.23

100.00

35.88

60.97

2.07

1.08

100.00

SumateraUtara

67.45

26.97

4.57

1.01

100.00

36.66

55.31

6.91

1.12

100.00

50.85

42.25

5.83

1.07

100.00

SumateraBarat

79.29

19.71

0.47

0.52

100.00

63.59

33.38

2.50

0.54

100.00

68.98

28.69

1.80

0.53

100.00

Riau

64.04

34.86

0.09

1.02

100.00

35.45

63.29

0.43

0.84

100.00

49.86

48.96

0.26

0.93

100.00

Jambi

58.16

41.28

0.10

0.46

100.00

45.57

53.29

0.58

0.57

100.00

49.65

49.39

0.42

0.53

100.00

SumateraSelatan

67.29

32.04

0.45

0.22

100.00

31.63

64.18

2.69

1.50

100.00

45.41

51.75

1.83

1.01

100.00

Bengkulu

74.41

21.66

3.47

0.46

100.00

44.12

50.36

4.96

0.56

100.00

54.74

40.30

4.44

0.52

100.00

Lampung

76.96

10.23

12.35

0.46

100.00

56.92

28.00

14.01

1.07

100.00

61.63

23.83

13.62

0.92

100.00

KepulauanBangkaBelitung

73.78

25.28

0.08

0.86

100.00

53.26

44.63

1.12

0.99

100.00

63.07

35.38

0.62

0.93

100.00

10 KepulauanRiau

78.45

20.70

0.17

0.68

100.00

19.24

79.75

0.40

0.62

100.00

50.56

48.51

0.28

0.65

100.00

11 DKIJakarta

91.31

7.37

0.31

1.01

100.00

91.31

7.37

0.31

1.01

100.00

12 JawaBarat

88.02

2.56

9.15

0.26

100.00

61.35

4.63

33.70

0.33

100.00

76.99

3.42

19.31

0.29

100.00

13 JawaTengah

82.20

11.81

5.74

0.26

100.00

56.57

31.10

11.71

0.62

100.00

69.03

21.72

8.81

0.44

100.00

14 DIYogyakarta

94.07

2.23

3.41

0.29

100.00

75.07

9.24

15.62

0.07

100.00

87.29

4.73

7.77

0.21

100.00

15 JawaTimur

88.55

4.62

6.41

0.42

100.00

67.57

16.58

14.97

0.87

100.00

77.83

10.73

10.78

0.65

100.00

16 Banten

92.64

3.28

3.73

0.36

100.00

61.55

3.88

34.40

0.17

100.00

80.27

3.51

15.94

0.29

100.00

17 Bali

95.97

1.60

2.16

0.28

100.00

90.55

2.45

6.81

0.19

100.00

93.67

1.96

4.13

0.24

100.00

18 NusaTenggaraBarat

80.08

4.91

14.84

0.17

100.00

57.47

15.62

26.41

0.51

100.00

66.94

11.13

21.57

0.36

100.00

19 NusaTenggaraTimur

59.11

7.73

15.90

17.26

100.00

21.28

10.64

43.66

24.42

100.00

28.03

10.12

38.71

23.14

100.00

20 KalimantanBarat

75.09

23.62

0.09

1.20

100.00

41.29

54.20

0.99

3.52

100.00

50.69

45.70

0.74

2.88

100.00

21 KalimantanTengah

33.82

65.56

0.38

0.23

100.00

6.67

92.31

0.65

0.37

100.00

15.90

83.22

0.56

0.32

100.00

22 KalimantanSelatan

23.83

75.22

0.25

0.70

100.00

7.41

91.41

0.60

0.57

100.00

14.23

84.69

0.46

0.62

100.00

23 KalimantanTimur

42.68

56.82

0.22

0.27

100.00

12.46

86.55

0.44

0.55

100.00

31.26

68.06

0.30

0.38

100.00

24 SulawesiUtara

72.28

23.28

3.22

1.22

100.00

56.32

35.28

7.86

0.54

100.00

63.25

30.07

5.84

0.83

100.00

25 SulawesiTengah

66.41

32.88

0.11

0.60

100.00

42.59

53.44

3.53

0.44

100.00

47.59

49.12

2.81

0.47

100.00

26 SulawesiSelatan

58.70

27.03

5.45

8.82

100.00

20.20

54.96

14.23

10.61

100.00

32.59

45.97

11.40

10.04

100.00

27 SulawesiTenggara

54.29

41.03

2.20

2.49

100.00

28.09

65.69

5.28

0.94

100.00

34.09

60.05

4.57

1.30

100.00

28 Gorontalo

78.54

7.63

13.10

0.73

100.00

49.47

26.59

23.04

0.90

100.00

58.57

20.66

19.93

0.85

100.00

29 SulawesiBarat

39.57

44.25

4.75

11.43

100.00

21.77

67.54

6.90

3.78

100.00

27.71

59.76

6.18

6.34

100.00

30 Maluku

71.87

24.89

1.07

2.17

100.00

65.30

25.67

2.79

6.23

100.00

67.02

25.47

2.34

5.17

100.00

31 MalukuUtara

81.14

16.00

0.76

2.10

100.00

61.30

31.33

4.53

2.83

100.00

67.19

26.78

3.41

2.62

100.00

32 PapuaBarat

75.75

23.76

0.00

0.49

100.00

36.17

55.67

1.78

6.38

100.00

45.20

48.39

1.38

5.03

100.00

33 Papua

73.27

25.77

0.55

0.41

100.00

10.52

80.23

0.79

8.46

100.00

24.69

67.93

0.74

6.64

100.00

81.26

12.59

5.38

0.78

100.00

50.56

32.60

14.87

1.96

100.00

65.49

22.87

10.26

1.39

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.18

PERSENTASEPENDUDUKYANGMEMPUNYAIKELUHANKESEHATANSELAMABULANREFERENSI
MENURUTJENISKELUHANKESEHATANYANGDIALAMIDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
KeluhanKesehatan
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

Panas

SakitKepala

Batuk

Pilek

Diare/Buang
BuangAir

Asma/Nafas
Sesak

SakitGigi

Keluhan
Lainnya

%Pendudukyang
MempunyaiKeluhan
Kesehatan

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

15.88

8.60

17.01

15.30

2.86

2.56

3.42

12.10

36.80

SumateraUtara

9.73

3.91

10.43

9.36

2.11

1.24

1.28

9.00

25.19

SumateraBarat

14.84

7.89

15.28

14.89

2.37

2.02

2.59

11.00

34.65

Riau

12.97

6.52

14.74

14.19

1.87

1.55

2.46

8.28

30.35

Jambi

9.06

4.39

10.66

10.00

1.39

1.35

1.54

8.78

25.77

SumateraSelatan

13.00

8.60

16.80

17.19

1.92

2.03

2.54

12.05

36.18

Bengkulu

11.08

4.91

14.34

14.35

1.56

1.84

1.98

11.97

32.50

Lampung

12.40

6.62

18.50

17.92

1.85

1.41

2.47

14.04

36.49

KepulauanBangkaBelitung

11.60

9.58

17.36

17.01

1.79

2.58

2.60

13.04

36.06

10

KepulauanRiau

13.04

5.18

15.26

14.55

1.20

1.38

1.53

8.48

29.81

11

DKIJakarta

11.86

5.99

19.02

18.33

1.88

1.45

1.51

12.93

37.83

12

JawaBarat

10.70

5.23

13.54

13.94

1.56

1.85

1.63

13.04

32.07

13

JawaTengah

8.68

5.66

15.09

15.26

1.30

1.21

1.56

12.29

32.05

14

DIYogyakarta

8.29

5.34

19.48

19.34

1.00

1.51

2.01

13.52

39.10

15

JawaTimur

9.83

4.78

14.86

13.99

1.49

1.52

1.71

11.57

31.81

16

Banten

11.98

7.62

16.37

15.87

1.64

1.89

2.10

14.44

37.01

17

Bali

18.27

7.91

17.96

18.26

1.71

2.52

2.42

14.69

39.58

18

NusaTenggaraBarat

17.44

8.19

17.02

18.14

2.40

2.25

2.37

14.40

38.81

19

NusaTenggaraTimur

24.38

14.71

29.28

27.19

4.28

3.61

4.17

15.19

47.04

20

KalimantanBarat

13.44

8.79

16.05

14.87

2.26

2.29

2.54

10.87

33.92

21

KalimantanTengah

9.21

5.31

12.05

11.44

1.86

1.69

1.99

6.33

26.04

22

KalimantanSelatan

13.08

7.41

18.23

16.99

2.53

2.03

2.68

12.51

40.19

23

KalimantanTimur

8.80

4.06

13.02

13.58

1.29

1.54

1.55

8.46

27.82

24

SulawesiUtara

17.20

8.38

19.72

18.38

2.34

1.76

3.48

11.61

38.43

25

SulawesiTengah

16.97

9.16

15.92

14.51

2.79

2.88

3.61

13.26

39.65

26

SulawesiSelatan

10.33

5.31

10.22

9.59

1.64

1.69

1.65

9.81

28.56

27

SulawesiTenggara

15.59

7.84

14.32

13.55

2.29

2.02

2.89

10.37

36.50

28

Gorontalo

32.98

11.39

25.05

18.64

4.27

3.50

5.03

10.81

49.66

29

SulawesiBarat

15.78

10.80

14.56

14.27

3.31

1.90

3.26

11.49

36.39

30

Maluku

14.97

7.15

18.43

15.92

2.53

2.30

2.88

10.49

34.47

31

MalukuUtara

19.07

9.91

16.62

11.82

3.12

2.16

2.99

9.61

35.59

32

PapuaBarat

12.29

5.29

13.07

12.74

1.15

1.46

1.42

10.03

29.51

33

Papua

12.25

6.43

16.02

14.96

2.86

1.98

3.33

9.51

31.81

11.56

6.15

15.24

14.83

1.79

1.72

1.98

11.96

33.24

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.18.a

PERSENTASEPENDUDUKYANGMEMPUNYAIKELUHANKESEHATANSELAMABULANREFERENSI
MENURUTJENISKELUHANKESEHATANYANGDIALAMIDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan
KeluhanKesehatan
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

Panas

SakitKepala

Batuk

(3)

(4)

(5)

Pilek

Diare/Buang
BuangAir

Asma/Nafas
Sesak

SakitGigi

Keluhan
Lainnya

%Pendudukyang
MempunyaiKeluhan
Kesehatan

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

12.03

6.33

13.30

12.67

1.84

1.49

2.80

10.58

31.57

SumateraUtara

9.23

3.38

9.91

8.61

1.78

0.89

0.97

8.16

23.81

SumateraBarat

12.43

5.75

13.87

12.99

1.55

1.31

1.64

8.96

29.17

Riau

12.10

4.93

14.44

14.18

1.41

1.20

1.81

7.38

27.89

Jambi

8.03

3.74

9.72

8.85

1.20

1.13

0.85

8.74

23.54

SumateraSelatan

15.05

10.16

21.22

21.30

1.74

2.17

2.72

13.86

41.26

Bengkulu

11.20

3.81

15.85

16.11

1.71

1.95

1.36

12.12

32.99

Lampung

14.86

7.90

21.91

21.13

2.13

1.59

3.00

15.35

41.34

KepulauanBangkaBelitung

11.41

9.09

16.96

17.00

1.53

2.13

2.26

13.12

36.24

10

KepulauanRiau

12.81

4.55

16.46

16.14

1.22

1.32

1.50

8.09

30.88

11

DKIJakarta

11.86

5.99

19.02

18.33

1.88

1.45

1.51

12.93

37.83

12

JawaBarat

9.66

4.47

13.03

13.27

1.45

1.65

1.39

11.89

30.12

13

JawaTengah

8.18

5.03

14.66

14.74

1.19

1.04

1.36

12.21

31.18

14

DIYogyakarta

8.20

5.09

20.43

20.06

1.04

1.57

2.00

12.64

39.24

15

JawaTimur

9.32

4.32

15.36

14.56

1.47

1.34

1.44

11.28

31.79

16

Banten

11.87

7.12

17.09

16.66

1.57

1.56

2.09

14.80

38.57

17

Bali

17.36

7.86

17.88

18.39

1.63

2.13

2.32

13.45

38.34

18

NusaTenggaraBarat

17.79

7.91

17.00

18.36

2.06

1.92

2.57

13.19

38.22

19

NusaTenggaraTimur

16.44

7.46

26.07

27.87

2.14

2.20

2.78

13.24

41.89

20

KalimantanBarat

13.50

7.65

15.90

15.07

1.39

1.67

1.76

12.33

35.92

21

KalimantanTengah

6.95

4.43

10.59

10.19

1.28

1.28

1.70

6.80

22.90

22

KalimantanSelatan

11.80

5.37

18.53

18.38

2.62

1.66

2.54

13.61

41.25

23

KalimantanTimur

7.68

3.72

12.39

13.00

1.08

1.15

1.25

8.48

26.85

24

SulawesiUtara

13.85

5.81

16.77

16.24

1.50

1.30

2.33

11.21

35.16

25

SulawesiTengah

17.77

9.49

19.61

19.61

3.19

2.31

4.03

11.90

40.87

26

SulawesiSelatan

9.54

4.56

9.53

10.03

1.45

1.12

1.43

8.07

26.36

27

SulawesiTenggara

15.34

7.61

16.67

17.10

2.32

1.66

2.71

11.32

38.38

28

Gorontalo

23.60

6.95

16.58

11.35

2.89

2.43

3.05

10.99

41.46

29

SulawesiBarat

11.51

6.81

12.97

14.06

2.07

0.93

1.97

10.24

30.07

30

Maluku

9.75

4.59

15.32

14.54

1.41

1.60

1.90

11.65

32.66

31

MalukuUtara

14.08

8.45

12.82

10.43

1.96

1.17

2.78

11.28

32.16

32

PapuaBarat

16.20

8.55

17.42

16.67

1.78

1.92

2.16

12.36

37.82

33

Papua

10.32

4.37

14.38

13.79

1.09

1.78

1.33

10.25

30.05

10.54

5.28

15.12

14.89

1.54

1.44

1.63

11.68

32.47

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.18.b

PERSENTASEPENDUDUKYANGMEMPUNYAIKELUHANKESEHATANSELAMABULANREFERENSI
MENURUTJENISKELUHANKESEHATANYANGDIALAMIDANPROVINSITAHUN2008
Perdesaan
KeluhanKesehatan
No

Provinsi

(1)

(2)

Panas

SakitKepala

Batuk

Pilek

Diare/Buang
BuangAir

Asma/Nafas
Sesak

SakitGigi

Keluhan
Lainnya

%Pendudukyang
MempunyaiKeluhan
Kesehatan

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

17.43

9.52

18.51

16.36

3.28

2.99

3.68

12.71

38.91

SumateraUtara

10.17

4.36

10.88

10.01

2.39

1.53

1.54

9.71

26.38

SumateraBarat

16.09

9.00

16.02

15.89

2.80

2.39

3.09

12.07

37.50

Riau

13.85

8.14

15.04

14.19

2.34

1.91

3.12

9.20

32.86

Jambi

9.56

4.70

11.11

10.55

1.48

1.45

1.87

8.80

26.84

SumateraSelatan

11.70

7.62

14.01

14.59

2.04

1.94

2.42

10.91

32.97

Bengkulu

11.01

5.50

13.52

13.39

1.47

1.78

2.32

11.89

32.23

Lampung

11.49

6.15

17.23

16.74

1.75

1.34

2.28

13.55

34.70

KepulauanBangkaBelitung

11.77

10.02

17.74

17.02

2.02

2.99

2.92

12.97

35.90

10

KepulauanRiau

13.30

5.88

13.91

12.78

1.17

1.45

1.57

8.92

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

12.17

6.30

14.26

14.88

1.72

2.12

1.96

14.69

34.85

13

JawaTengah

9.14

6.25

15.50

15.75

1.41

1.36

1.76

12.36

32.88

14

DIYogyakarta

8.46

5.77

17.78

18.05

0.93

1.39

2.02

15.10

38.84

15

JawaTimur

10.32

5.22

14.38

13.45

1.51

1.69

1.97

11.86

31.83

16

Banten

12.15

8.37

15.28

14.68

1.74

2.40

2.10

13.89

34.65

17

Bali

19.51

7.99

18.07

18.08

1.81

3.05

2.55

16.39

41.26

18

NusaTenggaraBarat

17.19

8.40

17.04

17.99

2.64

2.49

2.23

15.27

39.24

19

NusaTenggaraTimur

26.12

16.29

29.99

27.04

4.75

3.92

4.48

15.61

48.17

20

KalimantanBarat

13.42

9.22

16.11

14.80

2.60

2.52

2.84

10.31

33.15

21

KalimantanTengah

10.37

5.77

12.81

12.08

2.16

1.90

2.14

6.09

27.66

22

KalimantanSelatan

13.99

8.86

18.02

16.00

2.46

2.30

2.79

11.74

39.45

23

KalimantanTimur

10.64

4.62

14.05

14.54

1.64

2.18

2.05

8.42

29.42

24

SulawesiUtara

19.78

10.34

21.99

20.02

3.00

2.11

4.35

11.92

40.93

25

SulawesiTengah

16.76

9.07

14.93

13.15

2.68

3.03

3.50

13.62

39.33

26

SulawesiSelatan

10.71

5.66

10.55

9.38

1.73

1.96

1.76

10.64

29.61

27

SulawesiTenggara

15.67

7.91

13.62

12.49

2.28

2.13

2.94

10.08

35.94

28

Gorontalo

37.25

13.41

28.91

21.96

4.89

3.99

5.93

10.73

53.40

29

SulawesiBarat

17.93

12.80

15.36

14.38

3.93

2.39

3.91

12.12

39.56

30

Maluku

16.81

8.06

19.53

16.41

2.92

2.54

3.22

10.08

35.11

31

MalukuUtara

21.18

10.54

18.22

12.41

3.61

2.58

3.07

8.90

37.03

32

PapuaBarat

11.14

4.33

11.78

11.58

0.96

1.33

1.20

9.34

27.05

33

Papua

12.82

7.04

16.51

15.31

3.38

2.04

3.92

9.30

32.32

12.52

6.96

15.34

14.77

2.02

1.99

2.31

12.22

33.95

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

28.61

Lampiran2.19

PERSENTASEPENDUDUKYANGMENDERITASAKITSELAMABULANREFERENSI
MENURUTJUMLAHHARISAKITDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
Jumlahharisakit
No

Provinsi

Jumlah
<=3

(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

(2)

47

(3)

814

(4)

1521

(5)

2230

(6)

(7)

(8)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

51.70

35.91

5.65

3.10

3.64

100.00

48.93

33.69

5.76

3.90

7.72

100.00

46.70

35.37

5.77

6.03

6.12

100.00

53.79

33.59

4.24

2.83

5.55

100.00

46.35

38.54

6.49

3.45

5.17

100.00

51.73

35.27

5.76

3.50

3.73

100.00

48.24

38.06

5.96

3.25

4.49

100.00

49.82

35.75

5.16

5.08

4.19

100.00

54.44

31.82

5.23

3.45

5.07

100.00

53.64

34.51

4.89

2.13

4.82

100.00

63.60

27.11

4.61

1.94

2.74

100.00

44.48

37.62

7.92

4.04

5.94

100.00

54.45

31.32

4.78

3.36

6.10

100.00

56.44

30.69

4.64

2.02

6.20

100.00

48.39

34.54

6.26

3.64

7.18

100.00

52.47

33.84

5.80

3.28

4.60

100.00

57.30

29.46

5.89

2.32

5.03

100.00

41.71

41.00

7.86

3.09

6.33

100.00

41.49

43.50

8.71

2.58

3.71

100.00

53.59

33.59

5.10

2.38

5.34

100.00

51.77

36.16

5.46

2.77

3.84

100.00

52.24

33.50

5.28

4.01

4.97

100.00

50.08

37.91

4.81

2.80

4.39

100.00

48.06

38.55

8.08

2.10

3.21

100.00

48.33

38.21

7.69

2.62

3.14

100.00

49.46

32.13

7.15

3.07

8.20

100.00

47.43

39.72

6.66

2.42

3.77

100.00

46.07

41.22

8.70

2.22

1.80

100.00

45.26

38.17

7.77

3.27

5.53

100.00

42.39

41.24

8.41

2.81

5.16

100.00

38.70

44.63

8.80

2.47

5.39

100.00

50.69

37.77

6.65

2.10

2.79

100.00

44.32

42.86

8.56

2.25

2.01

100.00

Indonesia

49.44

35.25

6.33

3.41

5.58

100.00

Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.19.a

PERSENTASEPENDUDUKYANGMENDERITASAKITSELAMABULANREFERENSI
MENURUTJUMLAHHARISAKITDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan
Jumlahharisakit
No

Provinsi

Jumlah
<=3

(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

(2)

47

(3)

814

(4)

1521

(5)

2230

(6)

(7)

(8)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

55.04
52.66
53.22
59.95
51.40
57.81
50.15
52.97
56.37
61.99
63.60
47.44
57.89
60.28
51.80
58.02
60.40
41.62
50.70
59.08
50.50
55.41
53.06
50.91
53.78
54.85
50.08
50.33
44.63
48.20
46.98
46.45
44.65

33.41
31.26
32.23
28.59
33.38
30.07
37.39
34.86
30.68
28.47
27.11
36.72
28.76
28.79
32.40
30.33
26.44
42.05
36.76
26.58
35.04
29.74
36.20
36.43
35.76
30.15
39.46
39.36
36.14
37.21
38.75
41.42
44.12

4.62
5.21
4.34
2.62
5.80
4.62
5.74
4.43
4.82
4.25
4.61
7.44
4.06
4.15
5.92
5.38
5.65
8.33
5.99
5.20
6.14
4.82
4.17
6.95
5.33
5.65
5.12
7.01
7.11
8.45
6.44
6.96
6.82

2.88
3.38
4.44
2.57
3.74
3.70
3.29
3.89
2.47
2.22
1.94
3.10
2.97
1.66
2.98
2.69
1.92
3.01
1.95
2.80
2.93
4.37
2.63
2.01
2.28
2.89
1.36
0.69
4.50
2.79
2.86
2.08
1.98

4.05
7.49
5.77
6.28
5.68
3.80
3.43
3.85
5.67
3.07
2.74
5.29
6.31
5.12
6.91
3.58
5.58
4.98
4.59
6.34
5.39
5.65
3.94
3.69
2.85
6.46
3.97
2.60
7.61
3.34
4.98
3.08
2.42

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

Indonesia

53.60

32.50

5.65

2.89

5.36

100.00

Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.19.b

PERSENTASEPENDUDUKYANGMENDERITASAKITSELAMABULANREFERENSI
MENURUTJUMLAHHARISAKITDANPROVINSITAHUN2008
Perdesaan
Jumlahharisakit
No

Provinsi

Jumlah
<=3

(1)

(2)

814

47

(3)

(4)

1521

(5)

2230

(6)

(7)

(8)

NanggroeAcehDarussalam

50.60

36.73

5.99

3.18

3.50

100.00

SumateraUtara

46.30

35.42

6.14

4.26

7.88

100.00

SumateraBarat

44.20

36.58

6.32

6.64

6.25

100.00

Riau

49.61

36.99

5.35

3.00

5.05

100.00

Jambi

44.35

40.59

6.76

3.33

4.97

100.00

SumateraSelatan

48.11

38.37

6.45

3.39

3.69

100.00

Bengkulu

47.33

38.38

6.06

3.24

4.99

100.00

Lampung

48.55

36.10

5.45

5.57

4.33

100.00

KepulauanBangkaBelitung

52.52

32.95

5.64

4.41

4.47

100.00

10

KepulauanRiau

44.64

41.01

5.59

2.05

6.71

100.00

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

40.90

38.72

8.49

5.18

6.72

100.00

13

JawaTengah

51.65

33.39

5.36

3.67

5.93

100.00

14

DIYogyakarta

50.52

33.63

5.40

2.57

7.87

100.00

15

JawaTimur

45.53

36.34

6.54

4.19

7.40

100.00

16

Banten

45.23

38.43

6.35

4.05

5.94

100.00

17

Bali

53.95

32.72

6.14

2.75

4.43

100.00

18

NusaTenggaraBarat

41.78

40.30

7.54

3.14

7.25

100.00

19

NusaTenggaraTimur

40.18

44.46

9.10

2.67

3.58

100.00

20

KalimantanBarat

51.82

35.85

5.07

2.25

5.02

100.00

21

KalimantanTengah

52.24

36.58

5.21

2.70

3.27

100.00

22

KalimantanSelatan

50.32

35.78

5.56

3.80

4.55

100.00

23

KalimantanTimur

46.38

40.04

5.60

3.02

4.95

100.00

24

SulawesiUtara

46.36

39.80

8.75

2.16

2.93

100.00

25

SulawesiTengah

47.11

38.76

8.22

2.70

3.21

100.00

26

SulawesiSelatan

47.32

32.91

7.75

3.13

8.89

100.00

27

SulawesiTenggara

46.76

39.78

7.05

2.69

3.72

100.00

28

Gorontalo

44.77

41.78

9.21

2.69

1.56

100.00

29

SulawesiBarat

45.44

38.75

7.96

2.91

4.93

100.00

30

Maluku

40.97

42.22

8.40

2.81

5.60

100.00

31

MalukuUtara

36.26

46.37

9.50

2.36

5.52

100.00

32

PapuaBarat

52.29

36.38

6.53

2.11

2.68

100.00

33

Papua

44.24

42.54

9.00

2.31

1.91

100.00

46.30

37.32

6.84

3.80

5.74

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.20

PERSENTASEPENDUDUKYANGBEROBATJALANDANMENGOBATISENDIRISELAMABULANREFERENSI
MENURUTTIPEDAERAHDANPROVINSITAHUN2008
PersentasePendudukyangBerobatJalan
No

Provinsi

(1)

(2)

PersentasePendudukyangMengobatiSendiri

Perkotaan

Perdesaan

Perkotaan+Perdesaan

Perkotaan

Perdesaan

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Perkotaan+Perdesaan
(8)

NanggroeAcehDarussalam

46.79

50.54

49.61

63.25

68.19

66.97

SumateraUtara

45.70

42.91

44.12

66.74

66.78

66.76

SumateraBarat

55.62

48.77

50.75

57.57

62.41

61.01

Riau

45.67

34.57

39.71

64.99

71.68

68.58

Jambi

46.52

39.27

41.41

56.68

70.12

66.14

SumateraSelatan

41.17

34.76

37.59

72.60

72.62

72.62

Bengkulu

46.30

38.68

41.41

61.53

66.07

64.45

Lampung

45.70

42.02

43.14

64.85

70.64

68.87

KepulauanBangkaBelitung

44.18

42.34

43.22

73.17

71.79

72.45

10

KepulauanRiau

41.80

50.92

45.92

67.87

58.65

63.70

11

DKIJakarta

50.71

50.71

59.62

12

JawaBarat

50.86

47.14

49.19

66.23

71.76

68.71

13

JawaTengah

46.64

43.48

44.97

61.52

63.26

62.44

14

DIYogyakarta

42.61

46.86

44.11

58.52

54.61

57.14

15

JawaTimur

44.48

44.92

44.70

62.72

63.73

63.24

16

Banten

44.92

37.62

42.20

66.98

71.10

68.52

17

Bali

53.59

56.88

55.04

52.77

50.70

51.85

18

NusaTenggaraBarat

45.17

48.01

46.84

62.26

63.90

63.22

19

NusaTenggaraTimur

41.85

50.45

49.08

60.67

54.73

55.68

20

KalimantanBarat

41.43

33.56

35.88

65.79

70.48

69.10

21

KalimantanTengah

31.75

26.54

28.10

71.47

78.90

76.68

22

KalimantanSelatan

34.19

31.50

32.64

77.96

78.05

78.01

23

KalimantanTimur

42.31

41.18

41.85

63.19

64.77

63.82

24

SulawesiUtara

41.36

44.97

43.54

61.02

67.04

64.65

25

SulawesiTengah

31.51

35.00

34.24

71.84

73.10

72.83

26

SulawesiSelatan

39.54

35.59

36.77

67.63

66.01

66.49

27

SulawesiTenggara

32.65

26.55

28.03

68.93

77.42

75.37

28

Gorontalo

52.88

37.69

41.66

65.46

83.50

78.79

29

SulawesiBarat

37.69

34.22

35.18

54.35

68.19

64.37

30

Maluku

35.05

30.96

31.97

70.38

78.17

76.24

31

MalukuUtara

33.94

31.92

32.46

76.05

83.69

81.64

32

PapuaBarat

31.87

41.86

38.94

67.11

58.70

61.16

33

Papua

42.50

39.58

40.21

66.41

46.44

50.72

46.35

42.59

44.37

64.04

66.97

65.59

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

59.62

Lampiran2.21

PERSENTASEPENDUDUKYANGMENGOBATISENDIRISELAMABULANREFERENSI
MENURUTJENISOBATYANGDIGUNAKAN,TIPEDAERAHDANPROVINSI
TAHUN2008
Jenisobatyangdigunakandiperkotaan
No

Provinsi

(1)

(2)

Jenisobatyangdigunakandiperdesaan

Jenisobatyangdigunakandiperkotaandanperdesaan

Modern

Tradisional

Lainnya

Modern

Tradisional

Lainnya

Modern

Tradisional

Lainnya

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

91.17

20.31

6.41

88.69

39.31

6.49

89.27

34.88

6.47

SumateraUtara

89.30

16.85

5.90

88.12

23.41

4.53

88.64

20.56

5.12

SumateraBarat

85.98

23.21

4.55

80.38

40.53

5.85

81.91

35.81

5.50

Riau

92.08

16.69

6.25

89.97

27.89

5.71

90.90

22.98

5.95

Jambi

90.71

20.28

4.73

90.20

27.43

3.96

90.33

25.62

4.16

SumateraSelatan

94.60

16.94

5.39

89.18

30.87

8.62

91.57

24.72

7.20

Bengkulu

91.31

21.21

2.70

87.34

29.83

6.35

88.69

26.89

5.10

Lampung

92.56

16.42

8.11

90.90

21.28

9.14

91.38

19.88

8.84

KepulauanBangkaBelitung

94.67

14.02

4.85

93.66

22.28

7.20

94.15

18.28

6.06

10

KepulauanRiau

91.86

15.59

4.46

77.78

32.15

10.46

86.00

22.48

6.96

11

DKIJakarta

91.75

16.12

6.74

91.75

16.12

6.74

12

JawaBarat

93.36

15.13

3.73

94.76

19.29

3.46

94.02

17.07

3.61

13

JawaTengah

92.40

17.64

5.31

91.66

18.47

7.16

92.00

18.08

6.30

14

DIYogyakarta

90.16

14.24

4.78

84.77

25.64

9.76

88.33

18.10

6.47

15

JawaTimur

88.38

27.27

6.18

86.34

34.27

7.39

87.33

30.88

6.80

16

Banten

94.62

13.06

2.49

93.05

21.53

5.65

94.01

16.33

3.71

17

Bali

81.99

36.23

3.59

68.58

54.12

4.56

76.21

43.95

4.01

18

NusaTenggaraBarat

90.99

15.16

1.74

87.04

27.88

2.65

88.64

22.71

2.28

19

NusaTenggaraTimur

93.65

10.83

4.88

78.45

35.87

7.64

81.10

31.50

7.16

20

KalimantanBarat

93.74

19.84

3.83

90.57

26.04

8.81

91.46

24.30

7.42

21

KalimantanTengah

91.30

17.62

6.32

91.45

20.41

8.40

91.41

19.64

7.82

22

KalimantanSelatan

96.68

9.31

2.84

95.81

14.75

4.46

96.18

12.43

3.77

23

KalimantanTimur

92.45

13.16

5.37

90.13

18.64

7.82

91.51

15.38

6.36

24

SulawesiUtara

93.20

9.93

5.80

93.00

15.30

6.63

93.08

13.29

6.32

25

SulawesiTengah

92.37

11.37

3.03

90.58

17.45

6.27

90.96

16.15

5.58

26

SulawesiSelatan

93.99

13.08

3.20

88.86

28.01

3.60

90.41

23.50

3.48

27

SulawesiTenggara

92.79

15.56

4.85

92.20

23.08

7.69

92.33

21.42

7.06

28

Gorontalo

96.00

12.34

2.99

96.22

25.68

3.01

96.17

22.78

3.01

29

SulawesiBarat

94.94

13.26

2.68

86.43

26.08

3.97

88.41

23.09

3.67

30

Maluku

93.60

12.03

3.15

89.63

29.75

3.13

90.53

25.70

3.13

31

MalukuUtara

89.92

20.14

3.08

88.45

28.69

5.17

88.82

26.55

4.65

32

PapuaBarat

91.19

10.62

2.87

82.21

41.04

5.37

85.09

31.29

4.57

33

Papua

92.84

17.64

3.55

60.21

58.83

8.83

69.38

47.26

7.35

91.84

17.80

4.86

89.34

26.06

6.11

90.49

22.26

5.53

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.22

PERSENTASEPENDUDUKYANGBEROBATJALANSELAMABULANREFERENSI
MENURUTTEMPAT/CARABEROBATDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
Tempat/CaraBerobat
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

RumahSakit
Pemerintah

RumahSakitSwasta

TotalRS

PraktekDokter

Puskesmas/Pustu

PetugasKesehatan

PraktekBatra

DukunBersalin

Lainnya

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

10.69

4.14

14.83

17.67

45.30

34.64

2.52

0.74

4.35

SumateraUtara

4.45

6.45

10.90

24.88

20.28

42.70

3.11

0.35

4.64

SumateraBarat

7.25

2.38

9.63

15.72

37.77

36.65

5.78

0.13

3.55

Riau

6.01

8.53

14.54

37.63

28.75

21.49

1.27

0.11

1.70

Jambi

6.86

2.05

8.91

30.81

38.98

24.12

1.51

0.40

4.06

SumateraSelatan

4.92

3.67

8.59

25.04

35.51

31.57

1.43

0.34

3.72

Bengkulu

5.28

1.69

6.96

28.25

35.14

32.67

2.01

0.05

3.01

Lampung

2.85

2.36

5.21

22.89

28.82

46.40

1.97

0.03

2.01

KepulauanBangkaBelitung

7.50

5.79

13.29

30.67

39.27

21.74

1.92

0.10

2.39

10

KepulauanRiau

9.04

6.55

15.58

21.02

48.10

18.14

2.23

0.32

3.30

11

DKIJakarta

5.70

8.95

14.65

51.12

32.75

2.89

0.91

0.07

2.33

12

JawaBarat

4.38

3.76

8.14

36.63

35.56

24.60

1.57

0.14

2.06

13

JawaTengah

4.06

2.64

6.70

31.34

32.70

33.24

1.73

0.16

1.94

14

DIYogyakarta

5.09

9.94

15.02

37.02

33.33

18.45

1.23

0.09

1.61

15

JawaTimur

4.42

3.49

7.90

27.57

26.18

41.44

2.00

0.27

2.69

16

Banten

3.15

5.46

8.61

41.26

32.17

21.13

1.73

0.10

1.84

17

Bali

4.72

2.05

6.77

43.41

23.78

30.53

1.97

0.10

1.51

18

NusaTenggaraBarat

2.62

0.37

3.00

26.84

39.67

30.47

8.86

0.05

1.47

19

NusaTenggaraTimur

4.76

2.42

7.18

9.70

73.36

8.61

0.39

0.18

5.50

20

KalimantanBarat

6.74

2.57

9.31

17.83

40.28

35.02

1.83

0.21

2.17

21

KalimantanTengah

8.44

0.46

8.90

20.21

52.89

21.82

0.43

0.06

2.10

22

KalimantanSelatan

4.99

1.47

6.47

18.57

41.42

35.55

4.04

0.20

2.91

23

KalimantanTimur

7.85

6.61

14.47

30.05

43.51

14.12

0.37

0.03

1.93

24

SulawesiUtara

5.71

4.00

9.71

32.64

37.72

24.68

0.56

0.25

1.64

25

SulawesiTengah

6.30

0.83

7.14

15.51

51.90

27.35

1.97

0.25

2.36

26

SulawesiSelatan

6.85

1.90

8.75

19.71

51.65

23.01

1.00

0.19

3.23

27

SulawesiTenggara

8.26

1.80

10.05

16.61

59.53

14.88

3.20

0.44

3.48

28

Gorontalo

2.88

0.30

3.18

27.84

49.24

23.80

0.39

0.11

1.46

29

SulawesiBarat

4.56

0.35

4.90

13.22

59.22

25.19

0.25

0.21

1.75

30

Maluku

6.68

2.22

8.90

14.73

59.11

15.46

0.47

0.07

6.37

31

MalukuUtara

9.35

2.98

12.33

14.73

59.92

15.79

0.60

0.35

2.79

32

PapuaBarat

9.08

2.33

11.41

13.99

73.83

2.63

0.20

0.10

2.70

33

Papua

9.69

2.57

12.26

16.23

72.36

2.33

2.30

0.44

4.49

4.91

3.80

8.71

30.11

35.50

28.82

1.97

0.19

2.56

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.22.a

PERSENTASEPENDUDUKYANGBEROBATJALANSELAMABULANREFERENSI
MENURUTTEMPAT/CARABEROBATDANPROVINSITAHUN2008
Perkotaan
Tempat/CaraBerobat
No

Provinsi

RumahSakit
Pemerintah

RumahSakitSwasta

TotalRS

PraktekDokter

Puskesmas/Pustu

PetugasKesehatan

PraktekBatra

DukunBersalin

Lainnya

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

15.08

4.78

19.86

28.34

31.88

26.13

1.65

0.17

2.32

SumateraUtara

4.61

9.59

14.20

36.97

17.44

30.24

2.93

0.28

3.74

SumateraBarat

10.74

4.37

15.11

21.33

38.57

27.36

2.87

0.09

2.70

Riau

6.35

12.43

18.78

45.02

22.43

16.18

0.97

0.06

1.22

Jambi

8.38

2.64

11.02

35.30

37.63

15.95

0.97

0.45

6.26

SumateraSelatan

6.43

5.77

12.20

37.24

36.95

14.11

1.37

0.13

3.99

Bengkulu

7.47

2.91

10.37

36.30

36.16

21.09

2.05

0.13

2.50

Lampung

5.09

3.02

8.10

31.59

32.85

30.84

1.99

0.00

1.75

KepulauanBangkaBelitung

10.82

8.40

19.22

35.64

32.16

16.87

1.72

0.08

2.50

10

KepulauanRiau

7.12

12.02

19.14

38.37

32.31

13.04

1.42

0.23

2.77

11

DKIJakarta

5.70

8.95

14.65

51.12

32.75

2.89

0.91

0.07

2.33

12

JawaBarat

5.49

5.59

11.08

41.69

36.24

15.66

1.56

0.09

1.86

13

JawaTengah

5.09

3.44

8.53

36.09

36.86

22.28

1.76

0.15

1.99

14

DIYogyakarta

5.65

12.33

17.99

38.44

31.89

15.64

0.81

0.14

1.80

15

JawaTimur

6.30

5.44

11.74

35.20

27.35

29.00

1.97

0.35

2.89

16

Banten

3.33

7.58

10.91

51.09

27.15

12.87

1.86

0.07

1.82

17

Bali

5.71

2.85

8.56

51.28

20.69

23.01

2.02

0.16

1.75

18

NusaTenggaraBarat

4.36

0.82

5.18

31.20

40.76

24.25

8.08

0.00

0.93

19

NusaTenggaraTimur

16.17

3.46

19.63

32.19

41.92

8.73

0.85

0.06

3.60

20

KalimantanBarat

10.83

3.28

14.11

34.66

33.59

20.12

2.22

0.18

1.94

21

KalimantanTengah

15.23

0.71

15.94

35.66

39.22

13.28

0.57

0.00

1.61

22

KalimantanSelatan

6.99

1.73

8.72

26.70

37.83

26.05

4.54

0.17

2.76

23

KalimantanTimur

8.97

8.85

17.82

39.24

34.63

10.82

0.34

0.00

0.86

24

SulawesiUtara

7.45

5.31

12.76

44.80

34.40

12.84

0.73

0.27

1.97

25

SulawesiTengah

13.57

1.40

14.97

35.07

40.04

15.84

0.81

0.40

3.40

26

SulawesiSelatan

9.75

3.94

13.69

33.65

46.58

10.73

0.69

0.39

1.81

27

SulawesiTenggara

14.58

4.18

18.76

33.32

47.53

6.16

1.69

0.77

3.18

28

Gorontalo

2.89

0.64

3.53

32.43

53.37

13.36

0.10

0.00

1.43

29

SulawesiBarat

8.31

0.50

8.81

18.05

43.57

31.35

0.00

0.00

0.23

30

Maluku

11.30

2.29

13.59

33.88

43.53

11.93

0.65

0.00

1.75

31

MalukuUtara

17.22

4.98

22.20

39.70

35.11

8.49

0.79

0.70

1.67

32

PapuaBarat

13.76

4.92

18.69

37.11

43.26

4.14

0.00

0.00

2.44

20.28

5.01

25.30

45.08

32.58

5.39

2.04

1.08

6.24

6.16

5.81

11.97

39.77

32.85

18.51

1.77

0.16

2.26

33 Papua

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran2.22.b

PERSENTASEPENDUDUKYANGBEROBATJALANSELAMABULANREFERENSI
MENURUTTEMPAT/CARABEROBATDANPROVINSITAHUN2008
Perdesaan
Tempat/CaraBerobat
No

Provinsi

(1)

(2)

RumahSakit
Pemerintah

RumahSakitSwasta

TotalRS

PraktekDokter

Puskesmas/Pustu

PetugasKesehatan

PraktekBatra

DukunBersalin

Lainnya

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

9.35

3.95

13.30

14.43

49.38

37.23

2.79

0.91

4.96

SumateraUtara

4.33

3.86

8.18

14.93

22.62

52.93

3.27

0.41

5.39

SumateraBarat

5.63

1.46

7.09

13.12

37.40

40.95

7.12

0.14

3.95

Riau

5.62

4.09

9.71

29.22

35.96

27.55

1.61

0.17

2.25

Jambi

6.10

1.75

7.85

28.58

39.65

28.19

1.79

0.38

2.97

SumateraSelatan

3.52

1.70

5.21

13.62

34.16

47.92

1.49

0.54

3.47

Bengkulu

3.82

0.87

4.69

22.89

34.45

40.38

1.98

0.00

3.35

Lampung

1.78

2.04

3.82

18.72

26.89

53.85

1.96

0.04

2.13

KepulauanBangkaBelitung

4.30

3.27

7.57

25.88

46.13

26.43

2.12

0.12

2.28

10

KepulauanRiau

10.94

1.11

12.05

3.76

63.81

23.22

3.03

0.41

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

2.90

1.32

4.22

29.89

34.65

36.51

1.57

0.20

2.34

13

JawaTengah

3.08

1.86

4.94

26.77

28.69

43.79

1.71

0.17

1.90

14

DIYogyakarta

4.15

5.97

10.12

34.68

35.71

23.09

1.94

0.00

1.30

15

JawaTimur

2.63

1.64

4.27

20.35

25.07

53.21

2.03

0.19

2.50

16

Banten

2.79

1.18

3.97

21.51

42.26

37.74

1.46

0.15

1.88

17

Bali

3.54

1.08

4.62

34.00

27.47

39.52

1.92

0.03

1.22

18

NusaTenggaraBarat

1.47

0.08

1.55

23.96

38.94

34.58

9.38

0.08

1.82

19

NusaTenggaraTimur

2.96

2.26

5.21

6.14

78.33

8.59

0.32

0.20

5.80

20

KalimantanBarat

4.64

2.21

6.84

9.17

43.73

42.68

1.62

0.22

2.29

21

KalimantanTengah

4.98

0.33

5.31

12.33

59.86

26.18

0.37

0.09

2.35

22

KalimantanSelatan

3.38

1.27

4.65

12.02

44.31

43.21

3.64

0.22

3.03

23

KalimantanTimur

6.13

3.16

9.29

15.86

57.20

19.19

0.42

0.08

3.59

24

SulawesiUtara

4.66

3.21

7.87

25.27

39.73

31.86

0.45

0.24

1.44

25

SulawesiTengah

4.50

0.69

5.19

10.64

54.85

30.22

2.26

0.22

2.11

26

SulawesiSelatan

5.49

0.94

6.44

13.16

54.03

28.78

1.15

0.09

3.90

27

SulawesiTenggara

5.78

0.86

6.64

10.06

64.24

18.30

3.79

0.31

3.59

28

Gorontalo

2.88

0.13

3.00

25.56

47.19

28.98

0.54

0.16

1.47

29

SulawesiBarat

2.98

0.28

3.26

11.19

65.79

22.60

0.36

0.30

2.39

30

Maluku

4.96

2.20

7.15

7.61

64.91

16.77

0.41

0.10

8.09

31

MalukuUtara

6.28

2.19

8.47

4.99

69.60

18.63

0.53

0.22

3.23

32

PapuaBarat

7.61

1.52

9.13

6.72

83.44

2.15

0.26

0.13

2.77

33

Papua

6.58

1.86

8.44

7.77

84.03

1.43

2.37

0.25

3.98

3.69

1.85

5.54

20.71

38.09

38.85

2.16

0.22

2.86

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

3.83

Lampiran2.23

PERSENTASERUMAHTANGGAYANGMEMENUHIKRITERIA
PERILAKUHIDUPBERSIHDANSEHAT(PHBS)BAIKMENURUTPROVINSI
RISKESDASTAHUN2007

No

Provinsi

RumahTangga
denganPHBSBaik

No

Provinsi

RumahTangga
denganPHBSBaik

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

NanggroeAcehDarussalam

34.7

18 NusaTenggaraBarat

34.1

SumateraUtara

41.3

19 NusaTenggaraTimur

26.8

SumateraBarat

28.2

20 KalimantanBarat

37.9

Riau

28.1

21 KalimantanTengah

33

Jambi

33.4

22 KalimantanSelatan

40.6

SumateraSelatan

35.9

23 KalimantanTimur

49.8

Bengkulu

32.8

24 SulawesiUtara

46.9

Lampung

30.7

25 SulawesiTengah

34.9

KepulauanBangkaBelitung

47.8

26 SulawesiSelatan

44

10 KepulauanRiau

32.4

27 SulawesiTenggara

33.3

11 DKIJakarta

42.4

28 Gorontalo

27.8

12 JawaBarat

37.6

29 SulawesiBarat

28.8

13 JawaTengah

47.0

30 Maluku

33.8

14 DIYogyakarta

58.2

31 MalukuUtara

29.3

15 JawaTimur

45.2

32 PapuaBarat

33

16 Banten

35.8

33 Papua

17 Bali

51.7
Indonesia

Sumber:RiskesdasIndonesia2007

24.4

38.7

Lampiran2.24

PERSENTASEPENDUDUK10TAHUNKEATASYANGBERPERILAKUBENAR
DALAMBUANGAIRBESAR(BAB)DANCUCITANGANMENURUTPROVINSI
TAHUN2007

No
(1)

Provinsi
(2)

BerperilakubenardalamhalBAB*

Berperilakubenardalamhalcucitangan**

(3)

(4)

61.6
76.2
59.3
80.0
68.1
59.7
71.8
72.9
73.3
84.0
98.6
79.3
68.2
89.3
68.7
67.4
82.6
60.0
81.1
72.7
60.1
69.9
83.2
86.2
59.5
73.0
65.7
59.2
57.4
63.2
72.9
68.3
59.9

16.0
14.5
8.4
14.6
18.5
35.9
15.4
15.4
20.6
29.3
44.7
27.2
25.1
32.8
26.3
24.0
30.6
14.2
20.0
23.3
25.9
17.9
29.0
36.5
19.9
20.8
24.9
22.9
18.4
43.1
32.8
38.5
30.6

71.1

23.2

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

*=
**=

PerilakubenardalamBABbilaBABdijamban
Perilakubenardalamcucitanganbilacucitanganmemakaisabunsebelummakan,sebelummenyiapkanmakanan,setelahbuangairbesar,dan
setelahmencebokibayi/anakdansetelahmemegangunggas/binatang

Sumber:RiskesdasIndonesia2007

Lampiran2.25

PERSENTASEPENDUDUKUMUR10TAHUNKEATASMENURUTKEBIASAANMEROKOK
DANPROVINSITAHUN2007
Perokoksaatini
No

Provinsi

Perokok
Setiaphari

(1)

(2)

TidakMerokok
Perokok

Mantan

Bukan

Kadangkadang

Perokok

Perokok

(3)

(4)

(5)

(6)

23

6.7

2.1

68.2

SumateraUtara

23.3

5.5

2.2

68.9

SumateraBarat

25.7

4.5

2.3

67.5

Riau

24.4

3.1

66.6

Jambi

24.5

2.5

68.1

SumateraSelatan

25.4

6.3

2.7

65.6

Bengkulu

29.5

4.6

1.8

64

Lampung

28.8

5.6

2.5

63.2

KepulauanBangkaBelitung

NanggroeAcehDarussalam

2
3

24.6

3.6

2.2

69.6

10 KepulauanRiau

22.4

4.6

3.2

69.8

11 DKIJakarta

20.8

67.2

12 JawaBarat

26.6

5.8

3.5

64.1

13 JawaTengah

24.3

6.4

3.6

65.7

14 DIYogyakarta

23.8

5.9

64.4

15 JawaTimur

24.3

4.8

3.1

67.8

16 Banten

25.8

5.5

2.9

65.8

17 Bali

20.1

4.8

1.8

73.3

18 NusaTenggaraBarat

25.2

4.9

1.9

68

19 NusaTenggaraTimur

22.2

6.5

69.2

20 KalimantanBarat

21.7

5.5

3.4

69.4

21 KalimantanTengah

23.1

5.8

67.1

22 KalimantanSelatan

20.1

4.1

3.3

72.5

23 KalimantanTimur

21.4

4.4

3.6

70.7

24 SulawesiUtara

24.6

5.7

64.7

25 SulawesiTengah

24.6

6.1

3.9

65.4

26 SulawesiSelatan

20.9

4.6

71.5

27 SulawesiTenggara

19.8

6.5

2.3

71.3

28 Gorontalo

27.1

5.5

2.5

64.8

29 SulawesiBarat

20.1

5.3

3.1

71.6

30 Maluku

19.2

6.6

2.5

71.8

31 MalukuUtara

23.9

6.3

2.3

67.5

32 PapuaBarat

19.5

7.4

1.8

71.3

22

5.8

2.4

69.8

23.7

5.5

67.8

33 Papua

Indonesia
Sumber:RiskesdasIndonesia2007

Lampiran2.26

PREVALENSIPEROKOKSAATINIDANRERATAJUMLAHBATANGROKOK
YANGDIHISAPPENDUDUKUMUR10TAHUNKEATASMENURUTPROVINSI
TAHUN2007

No
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi
(2)
NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:RiskesdasIndinesia2007

Perokoksaatini

Reratajumlahbatang
rokok/hari

(3)
29.7
28.8
30.2
30.4
29.4
31.7
34.1
34.3
28.2
27
27.8
32.4
30.7
29.8
29.1
31.2
24.9
30.1
28.7
27.2
28.9
24.2
25.7
30.3
30.7
25.5
26.4
32.6
25.3
25.8
30.2
26.9
27.8

(4)
18.5
14.9
14.1
16
12
12.7
13.3
10.7
15.5
14.9
9.1
9.5
8.9
9.8
9.9
10.4
8.5
9.4
11.5
12.8
12.4
13.4
13.1
11.9
11.3
13.4
13
13.4
14.3
10.1
10.4
11.2
14

29.2

12

Lampiran2.27

PERSENTASEPENDUDUKUMUR10TAHUNKEATASYANGMEROKOK
MENURUTUSIAMULAIMEROKOKTIAPHARIDANPROVINSITAHUN2007
Usiamulaimerokoktiaphari(tahun)
No

Provinsi
59

(1)

(2)

1014

(3)

2024

1519

(4)

(5)

2529

(6)

30

(7)

Tidaktahu

(8)

(9)

NanggroeAcehDarussalam

0.0

6.8

30.6

17.4

3.4

2.5

39.4

SumateraUtara

0.0

7.3

33.5

20.0

3.3

2.5

33.4

SumateraBarat

0.0

13.6

40.0

13.8

3.1

1.9

27.5

Riau

0.0

9.3

37.5

14.3

2.3

1.7

34.8

Jambi

0.0

12.8

43.6

14.9

2.8

1.8

24.0

SumateraSelatan

0.0

10.9

38.0

12.4

3.2

1.7

33.8

Bengkulu

0.0

10.6

36.8

11.4

2.4

1.8

37.1

Lampung

0.6

9.3

36.3

13.9

3.1

2.2

34.6

KepulauanBangkaBelitung

0.0

12.2

46.5

15.1

3.5

3.2

19.5

10 KepulauanRiau

0.0

9.3

44.7

14.3

2.9

1.9

26.9

11 DKIJakarta

0.0

12.3

59.7

18.8

4.9

2.9

1.4

12 JawaBarat

0.0

9.3

39.6

19.0

5.3

4.2

22.7

13 JawaTengah

0.0

10.8

34.9

18.4

6.4

5.0

24.4

14 DIYogyakarta

0.0

12.6

39.3

16.5

4.8

5.1

21.6

15 JawaTimur

0.0

10.1

36.3

17.0

6.0

3.9

26.7

16 Banten

0.0

10.6

35.4

12.9

2.9

2.0

36.2

17 Bali

0.0

4.6

36.0

17.4

5.6

7.3

18 NusaTenggaraBarat

0.0

11.8

39.6

13.0

3.2

1.9

29.1
30.6

19 NusaTenggaraTimur

0.4

5.4

28.3

18.1

6.7

4.8

36.2

20 KalimantanBarat

0.0

8.0

33.0

14.8

3.6

2.5

38.1

21 KalimantanTengah

0.0

9.9

38.6

15.8

5.3

3.5

27.0

22 KalimantanSelatan

0.0

12.8

36.8

17.5

5.0

3.4

24.4

23 KalimantanTimur

0.0

8.2

36.7

17.1

3.9

2.7

31.4

24 SulawesiUtara

0.2

7.0

44.1

17.7

4.4

2.5

24.1

25 SulawesiTengah

0.0

10.4

34.7

18.7

5.2

3.8

27.1

26 SulawesiSelatan

0.8

10.0

32.2

15.4

4.4

2.7

34.5

27 SulawesiTenggara

0.0

8.0

26.4

13.9

3.3

1.6

46.9

28 Gorontalo

0.0

12.9

35.5

11.2

3.3

1.7

35.5

29 SulawesiBarat

0.0

6.7

29.2

8.0

2.6

1.0

52.5

30 Maluku

0.3

5.8

39.2

18.6

4.2

3.3

28.6

31 MalukuUtara

1.4

6.4

35.6

18.4

5.2

3.5

29.5

32 PapuaBarat

1.2

6.8

33.4

18.0

6.7

4.6

29.3

33 Papua

3.2

11.0

26.7

13.7

3.1

2.1

40.2

0.1

9.6

36.3

16.3

4.4

3.2

30.0

Indonesia
Sumber:RiskesdasIndonesia2007

Lampiran2.28

PREVALENSIPEMINUMALKOHOL12BULANDAN1BULANTERAKHIR
MENURUTPROVINSITAHUN2007

No

Provinsi

Konsumsialkohol
12bulanterakhir

Konsumsialkohol
1bulanterakhir

(1)
1
2
3
4
5
6

(2)
NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan

(3)
1.5
6.1
1.5
3.4
2.7
2.9

(4)
0.4
4.4
0.7
1.3
1.7
2.1

7
8
9
10

Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau

2.8
2.2
4.4
5.9

1.8
1.4
2.5
3.7

11
12
13
14
15
16
17
18

DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat

4
2.6
2.2
3.2
1.9
1.6
6.4
2

2.7
1.3
1.1
1.7
1.0
0.9
4.6
1.2

19
20
21

NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah

17.7
8.8
6.5

13.5
4.8
3.5

22
23
24
25
26
27
28
29
30

KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku

1.2
3.4
17.4
8.9
5.9
7.7
12.3
4
8.2

0.5
1.7
14.9
6.4
3.9
5.8
10.7
2.6
5.0

31
32
33

MalukuUtara
PapuaBarat
Papua

7.4
8.1
6.7

4.4
4.9
4.4

4.6

3.0

Indonesia
Sumber:RiskesdasIndonesia2007

Lampiran2.29

PREVALENSIKURANGMAKANBUAHDANSAYUR
PENDUDUKUMUR10TAHUNKEATASMENURUTPROVINSI
TAHUN2007

No

Provinsi

Kurangmakanbuah
dansayur*)

No

Provinsi

Kurangmakanbuah
dansayur*)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

NanggroeAcehDarussalam

95.9

18 NusaTenggaraBarat

92.6

SumateraUtara

94.4

19 NusaTenggaraTimur

94.2

SumateraBarat

97.8

20 KalimantanBarat

94.9

Riau

97.9

21 KalimantanTengah

91.5

Jambi

93.4

22 KalimantanSelatan

95.7

SumateraSelatan

96.9

23 KalimantanTimur

91.8

Bengkulu

92.1

24 SulawesiUtara

91.2

Lampung

87.7

25 SulawesiTengah

91.5

KepulauanBangkaBelitung

96.6

26 SulawesiSelatan

93.7

10 KepulauanRiau

96.4

27 SulawesiTenggara

92.9

11 DKIJakarta

94.5

28 Gorontalo

83.5

12 JawaBarat

96.4

29 SulawesiBarat

96.4

30 Maluku

96.5

13 JawaTengah

92

14 DIYogyakarta

86.1

31 MalukuUtara

96.1

15 JawaTimur

90.1

32 PapuaBarat

91.3

16 Banten

96.7

33 Papua

89.7

17 Bali

96.2
Indonesia

*)Konsumsimakanbuahdansayurkurangdari5porsi/hariselama7haridalamseminggu
Sumber:RiskesdasIndonesia2007

93.6

Lampiran3.1

ESTIMASIANGKAKEMATIANBAYI,ANGKAHARAPANHIDUP,NETREPRODUCTIONRATE,
ANGKAKELAHIRANKASAR,DANANGKAFERTILITASTOTALMENURUTPROVINSITAHUN2007
Estimasi
No

Provinsi

(1)

*AngkaKematianBayi

*AngkaKematianBalita

AngkaHarapanHidup

NetReproductionRate

AngkaKelahiranKasar

AngkaFertilitas

(IMR)

(AKABA)

(eo)2007

(NRR)

(CBR)

Total(TFR)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

25

45

68.4

1.180

23.0

2.410

SumateraUtara

46

67

69.1

1.245

23.4

2.476

SumateraBarat

47

62

68.8

1.225

22.3

2.460

Riau

37

47

71.0

1.174

23.2

2.360

Jambi

39

47

68.6

1.108

21.4

2.297

SumateraSelatan

42

52

69.0

1.082

21.4

2.207

Bengkulu

46

65

69.2

1.080

21.4

2.212

Lampung

43

55

68.8

1.104

20.7

2.277

KepulauanBangkaBelitung

39

46

68.5

1.081

20.1

2.200

10 KepulauanRiau

43

58

69.6

1.180

26.9

2.360

11 DKIJakarta

28

36

72.8

0.785

17.4

1.542

12 JawaBarat

39

49

67.6

1.051

20.2

2.199

13 JawaTengah

26

32

70.9

0.995

17.5

2.022

14 DIYogyakarta

19

22

73.1

0.667

12.4

1.388

15 JawaTimur

35

45

68.9

0.796

14.5

1.668

16 Banten

46

58

64.5

1.075

21.7

2.290

17 Bali

34

38

70.6

0.841

14.8

1.688

18 NusaTenggaraBarat

72

92

61.2

1.208

25.5

2.480

19 NusaTenggaraTimur

57

80

66.7

1.439

26.5

2.866

20 KalimantanBarat

46

59

66.1

1.228

23.6

2.465

21 KalimantanTengah

30

34

70.9

1.093

20.8

2.229

22 KalimantanSelatan

58

75

62.6

1.031

20.5

2.179

23 KalimantanTimur

26

38

70.6

1.102

20.9

2.240

24 SulawesiUtara

35

43

72.0

0.936

16.3

1.913

25 SulawesiTengah

60

69

65.9

1.140

22.3

2.339

26 SulawesiSelatan

41

53

69.4

1.117

21.9

2.291

27 SulawesiTenggara

41

62

67.2

1.353

26.6

2.667

28 Gorontalo

52

69

65.9

1.086

20.2

2.273

29 SulawesiBarat

74

96

67.2

1.115

20.9

2.289

30 Maluku

59

93

66.6

1.329

24.6

2.714

31 MalukuUtara

51

74

65.1

1.270

24.0

2.657

32 PapuaBarat

41

62

67.6

1.288

23.9

2.689

33 Papua

36

64

67.9

1.319

23.5

2.722

34

44

68.7

1.045

19.8

2.177

Indonesia
Sumber: BPS,HasilSurveiDemografidanKesehatanIndonesia2007
(LaporanPendahuluan)
*:Periodelimatahunansebelumsurvei.
AHH:BPS,IndeksPembangunanManusia20062007

Lampiran3.2

INDEKSPEMBANGUNANMANUSIADANKOMPONENMENURUTPROVINSITAHUN20052007
2005
No.

Provinsi

(1)

AngkaHarapan
Hidup(tahun)

RatarataLama
Sekolah(tahun)

2006

AngkaMelekHuruf PengeluaranRiil/
(%)
Kapita(Rp.000)

IPM

Peringkat

(2)

AngkaHarapan
Hidup(tahun)
(3)

2007

RatarataLama AngkaMelekHuruf PengeluaranRiil/


Sekolah(tahun)
(%)
Kapita(Rp.000)
(4)

(5)

(6)

IPM

Peringkat

(7)

(8)

Reduksi
ShortFall

(9)

AngkaHarapan
Hidup(tahun)
(10)

RatarataLama AngkaMelekHuruf PengeluaranRiil/


Sekolah(tahun)
(%)
Kapita(Rp.000)
(11)

(13)

(12)

IPM

Peringkat

(14)

(15)

Reduksi
ShortFall

(16)

NanggroeAcehDarussalam

68.0

8.4

96.0

588.9

69.0

18

68.3

8.5

96.2

589.5

69.4

18

1.15

68.40

8.50

96.20

600.95

70.35

17

3.06

SumateraUtara

68.7

8.5

97.0

618.0

72.0

68.9

8.6

97.0

621.4

72.5

1.55

69.10

8.60

97.03

624.12

72.78

1.16

SumateraBarat

68.2

8.0

96.0

618.2

71.2

68.5

8.0

96.0

622.5

71.6

1.58

68.80

8.18

96.10

625.93

72.23

2.05

Riau

70.7

8.4

97.8

623.2

73.6

70.8

8.4

97.8

625.0

73.8

0.69

71.00

8.40

97.80

634.11

74.63

3.12

Jambi

68.1

7.5

96.0

620.8

71.0

11

68.5

7.6

96.0

621.7

71.3

10

1.17

68.60

7.63

96.00

622.99

71.46

12

0.61

SumateraSelatan

68.3

7.5

95.9

610.3

70.2

13

68.8

7.6

96.6

615.3

71.1

13

2.90

69.00

7.60

96.66

617.59

71.40

13

1.06

Bengkulu

68.8

8.0

94.7

617.1

71.1

10

68.9

8.0

94.7

618.7

71.3

11

0.66

69.20

8.00

94.69

620.29

71.57

11

1.03

Lampung

68.0

7.2

93.5

605.1

68.8

19

68.5

7.3

93.5

607.0

69.4

19

1.70

68.80

7.30

93.47

610.09

69.78

20

1.30

KepulauanBangkaBelitung

68.1

6.6

95.4

628.0

70.7

12

68.3

6.9

95.4

630.2

71.2

12

1.71

68.50

7.18

95.40

631.75

71.62

10

1.51

10

KepulauanRiau

69.5

8.1

96.0

621.9

72.2

69.6

8.4

96.0

625.5

72.8

2.02

69.60

8.94

96.00

631.94

73.68

3.27

11

DKIJakarta

72.5

10.6

98.3

619.5

76.1

72.6

10.8

98.4

619.9

76.3

1.08

72.80

10.80

98.76

620.78

76.59

1.11

12

JawaBarat

67.2

7.4

94.6

619.7

69.9

14

67.4

7.5

94.9

621.1

70.3

14

1.28

67.60

7.50

95.32

623.64

70.71

15

1.32

13

JawaTengah

70.6

6.6

87.4

621.4

69.8

16

70.8

6.8

88.2

621.7

70.3

15

1.57

70.90

6.80

88.62

628.53

70.92

14

2.24

14

DIYogyakarta

72.9

8.4

86.7

638.0

73.5

73.0

8.5

86.7

638.8

73.7

0.76

73.10

8.59

87.78

639.88

74.15

1.72

15

JawaTimur

68.5

6.8

85.8

622.2

68.4

22

68.6

6.9

87.1

626.0

69.2

20

2.39

68.90

6.90

87.42

630.71

69.78

19

1.94

16

Banten

64.0

8.0

95.6

619.2

68.8

20

64.3

8.1

95.6

620.0

69.1

21

0.98

64.50

8.10

95.60

621.00

69.29

23

0.60

17

Bali

70.4

7.4

86.2

618.2

69.8

15

70.5

7.6

86.2

620.2

70.1

16

0.96

70.60

7.60

86.21

624.90

70.53

16

1.52

18

NusaTenggaraBarat

60.5

6.6

78.8

623.2

62.4

32

60.9

6.7

80.1

623.9

63.0

32

1.64

61.20

6.70

80.10

630.48

63.71

32

1.81

19

NusaTenggaraTimur

64.9

6.3

85.6

589.8

63.6

31

66.5

6.4

86.5

591.2

64.8

31

3.39

66.70

6.42

87.25

594.28

65.36

31

1.50

20

KalimantanBarat

65.2

6.6

89.0

609.6

66.2

28

66.0

6.7

89.0

613.9

67.1

28

2.58

66.10

6.70

89.40

617.90

67.53

29

1.37

21

KalimantanTengah

70.7

7.9

97.5

623.6

73.2

70.8

8.0

97.5

624.4

73.4

0.68

70.90

8.00

97.50

624.79

73.49

0.34

22

KalimantanSelatan

62.1

7.3

95.3

622.7

67.4

26

62.4

7.4

95.3

623.8

67.7

26

0.94

62.60

7.40

95.26

625.80

68.01

26

0.82

23

KalimantanTimur

70.3

8.7

95.3

621.4

72.9

70.4

8.8

95.5

623.6

73.3

1.20

70.60

8.80

95.70

628.10

73.77

1.91

24

SulawesiUtara

71.7

8.8

99.3

616.1

74.2

71.8

8.8

99.3

616.9

74.4

0.62

72.00

8.80

99.30

619.39

74.68

1.20

25

SulawesiTengah

65.4

7.6

94.9

610.3

68.5

21

65.6

7.7

94.9

613.2

68.8

22

1.19

65.90

7.73

94.94

616.98

69.34

22

1.57

26

SulawesiSelatan

68.7

7.0

84.6

616.8

68.1

23

69.2

7.2

85.7

618.3

68.8

23

2.35

69.40

7.23

86.24

625.23

69.62

21

2.59

27

SulawesiTenggara

66.8

7.6

91.3

598.9

67.5

24

67.0

7.6

91.3

601.0

67.8

25

0.85

67.20

7.71

91.30

604.96

68.32

25

1.60

28

Gorontalo

65.0

6.8

95.0

607.8

67.5

25

65.6

6.8

95.7

608.7

68.0

24

1.70

65.90

6.91

95.75

615.94

68.83

24

2.58

29

SulawesiBarat

66.4

6.0

83.4

616.3

65.7

29

67.0

6.3

85.9

619.4

67.1

29

3.90

67.20

6.51

86.40

622.90

67.72

28

1.99

30

Maluku

66.2

8.5

98.0

597.3

69.2

17

66.6

8.6

98.0

599.3

69.7

17

1.46

66.80

8.60

98.00

601.26

69.96

18

0.87

31

MalukuUtara

64.2

8.5

95.2

590.3

67.0

27

64.8

8.6

95.2

592.1

67.5

27

1.70

65.10

8.60

95.20

593.88

67.82

27

0.95

32

PapuaBarat

66.9

7.2

85.4

584.0

64.8

30

67.3

7.2

88.6

588.0

66.1

30

3.54

67.90

6.52

75.41

593.00

67.28

30

3.54

33

Papua

67.3

6.2

74.9

585.2

62.1

33

67.6

6.3

75.4

589.3

62.8

33

1.77

67.60

7.65

90.32

592.07

63.41

33

1.76

68.1

7.3

90.9

619.9

69.6

68.5

7.4

91.5

621.3

70.1

1.68

68.70

7.47

91.87

624.37

70.59

1.64

Indonesia

Sumber:BadanPusatStatistik,IndeksPembangunanManusia20062007,2009

Lampiran3.3

DISTRIBUSIPASIENRAWATJALANMENURUTBABICDX
DIRUMAHSAKITDIINDONESIATAHUN2008
DTD

ICDX

GolonganSebabSakit

(3)

(4)

(5)

PasienBaru

Jumlah
Admission
Kunjungan
Rate

No

Bab

(1)

(2)

001057,9 A00B99 PenyakitInfeksi&ParasitTertentu

90,333

86,685

177,018

344,635

1.95

II

058.0096.9 C00D48 Neoplasma

10,838

25,563

36,401

86,420

2.37

2,511

3,263

5,774

12,558

2.17

19,505

25,863

45,368

180,926

3.99

9,670

7,605

17,275

61,954

3.59

13,871

16,648

30,519

86,763

2.84

Lakilaki

Perempuan

(6)

(7)

Jumlah
(8)

(9)

(10)

III

097100

PenyakitDarah&OrganPembuatDarah&GangguantertentuyangMelibatkanMekanisme
D50D89
Imun

IV

101111

E00E90 PenyakitEndokrin,Nutrisi&Metabolik

112119.9

F00F99 GangguanMental&Perilaku

VI

120129

G00G99 PenyakitSusunanSyaraf

VII

130139,10 H00H59 PenyakitMatadanAdneksa

47,348

55,733

103,081

181,210

1.76

VIII

140142,9 H60H95 PenyakitTelingadanPros.Mastoideus

27,348

26,971

54,319

91,361

1.68

IX

143164.9

55,941

58,437

114,378

324,656

2.84

10

165.0179.9 J00J99 PenyakitSistemNapas

126,538

126,060

252,598

469,067

1.86

11

XI

180197

K00K93 PenyakitSistemCerna

97,152

117,247

214,399

360,247

1.68

12

XII

198199

L00L99 PenyakitKulit&JaringanSubkutan

28,112

36,445

64,557

115,100

1.78

13

XIII

200,0210 M00M99PenyakitSistemMuskuloskeletaldanJaringanIkat

24,994

33,751

58,745

175,132

2.98

14

XIV

211233

N00N99 PenyakitSistemKemihKelamin

23,941

44,213

68,154

129,271

1.90

15

XV

234244

O00O99 Kehamilan,Persalinan&MasaNifas

21,661

21,661

32,167

1.49

16

XVI

245253.9

P00P96 KondisiTertentuyangbermulapadamasaPerinatal

1,848

1,645

3,493

4,341

1.24

17

XVII

254266.9

Q00Q99 Malformasi,DeformasiKongenital&KelainanKromosom

2,703

2,517

5,220

12,307

2.36

18

XVIII

267270.9

R00R99 Gejala,Tanda&PenemuanLaboratorium,KlinikAbnormalYTK

74,492

70,090

144,582

211,419

1.46

19

XIX

271289

S00T98 Cedera,KeracunandanAkibatSebabLuarTertentuLainnya

75,264

43,643

118,907

168,123

1.41

20

XX

299.0306.13V00Y98 SebabLuarMorbiditas&Mortalitas

21

XXI

290.0298

I00I99

PenyakitSistemSirkulasiDarah

FaktorygMempengaruhiKeadaanKesehatan&ygBerhubungandenganPelayanan
Z00Z99
Kesehatan
Jumlah

Sumber:DitjenYanmed,DepkesRI,2009(Datasementaradarirumahsakityangtelahmelaporkan)
Keterangan:DTD(DaftarTabulasiDasar)

#DIV/0!

87,601

155,745

243,346

463,664

1.91

820,010

959,785

1,779,795

3,511,321

1.97

Lampiran3.3.a

DISTRIBUSIPASIENRAWATJALANMENURUTBABICDX
DIRUMAHSAKITDIINDONESIATAHUN2007
No

Bab

DTD

(1)

(2)

001057,9

II

III

IV

058.0096.9 C00D48 Neoplasma


PenyakitDarah&OrganPembuatDarah&Gangguan
097100
D50D89
tertentuyangMelibatkanMekanismeImun
101111
E00E90 PenyakitEndokrin,Nutrisi&Metabolik

112119.9

VI

120129

VII

(3)

ICDX

GolonganSebabSakit

(4)

(5)

A00B99 PenyakitInfeksi&ParasitTertentu

PasienBaru
Lakilaki

Perempuan

(6)

(7)

Jumlah
(8)

Jumlah
Kunjungan
(9)

Admission
Rate
(10)

524,770

558,462

1,083,232

1,143,694

1.06

59,227

110,226

169,453

172,413

1.02

14,807

11,795

26,602

27,157

1.02

134,093

114,795

248,888

263,567

1.06

F00F99 GangguanMental&Perilaku

30,963

34,302

65,265

65,942

1.01

G00G99 PenyakitSusunanSyaraf

87,277

78,353

165,630

167,093

1.01

130139,10 H00H59 PenyakitMatadanAdneksa

383,813

338,082

721,895

723,844

1.00

VIII

140142,9

H60H95 PenyakitTelingadanPros.Mastoideus

142,715

149,848

292,563

293,286

1.00

IX

143164.9

I00I99

263,637

277,429

541,066

545,482

1.01

10

165.0179.9 J00J99 PenyakitSistemNapas

853,133

895,101

1,748,234

1,762,200

1.01

11

XI

180197

K00K93 PenyakitSistemCerna

630,600

545,658

1,176,258

1,195,670

1.02

12

XII

198199

L00L99 PenyakitKulit&JaringanSubkutan

208,286

159,520

367,806

367,826

1.00

13

XIII

200,0210

M00M99 PenyakitSistemMuskuloskeletaldanJaringanIkat

46,440

232,914

279,354

500,640

1.79

14

XIV

211233

N00N99 PenyakitSistemKemihKelamin

74,957

178,764

253,721

529,743

2.09

15

XV

234244

O00O99 Kehamilan,Persalinan&MasaNifas

66,586

66,586

111,465

1.67

16

XVI

245253.9

P00P96 KondisiTertentuyangbermulapadamasaPerinatal

4,585

9,025

13,610

23,183

1.70

17

XVII

254266.9

5,326

15,903

21,229

36,135

1.70

18

XVIII

46,478

620,401

666,879

1,246,455

1.87

19

XIX

267,222

249,331

516,553

955,081

1.85

20

XX

127,757

198,336

326,093

360,752

1.11

21

XXI

157,637

1,098,749

1,256,386

2,142,968

1.71

4,063,723

5,943,580

10,007,303

12,634,596

1.26

5,941,558

10,005,281

PenyakitSistemSirkulasiDarah

Q00Q99 Malformasi,DeformasiKongenital&KelainanKromosom
Gejala,Tanda&PenemuanLaboratorium,KlinikAbnormal
267270.9
R00R99
YTK
Cedera,KeracunandanAkibatSebabLuarTertentu
271289
S00T98
Lainnya
299.0306.13 V00Y98 SebabLuarMorbiditas&Mortalitas
FaktorygMempengaruhiKeadaanKesehatan&yg
290.0298
Z00Z99
BerhubungandenganPelayananKesehatan
Jumlah

Sumber:DitjenYanmed,DepkesRI,2007
Keterangan:DTD(DaftarTabulasiDasar)

Lampiran3.4

DISTRIBUSIPASIENRAWATINAPMENURUTBABICDX
DIRUMAHSAKITDIINDONESIATAHUN2008
No Bab

DTD
(3)

ICDX

GolonganSebabSakit

(4)

(5)

(1)

(2)

II 058.0096.9 C00D48 Neoplasma

001057,9

A00B99 PenyakitInfeksi&ParasitTertentu

PasienBaru
Lakilaki
(6)

Perempuan
(7)

Jumlah
(8)

Pasien
Mati
(9)

CFR(%)
(10)

309,524

269,733

579,257

16,769

2.89

30,596

61,514

92,110

4,332

4.70

14,475

16,594

31,069

1,223

3.94

36,213

46,832

83,045

5,585

6.73

III 097100

IV 101111

PenyakitDarah&OrganPembuatDarah&GangguantertentuyangMelibatkanMekanisme
D50D89
Imun
E00E90 PenyakitEndokrin,Nutrisi&Metabolik

V 112119.9

F00F99 GangguanMental&Perilaku

14,566

12,850

27,416

204

0.74

VI 120129

G00G99 PenyakitSusunanSyaraf

16,376

14,706

31,082

3,218

10.35

VII 130139,10 H00H59 PenyakitMatadanAdneksa

18,488

17,258

35,746

123

0.34

VIII 140142,9

H60H95 PenyakitTelingadanPros.Mastoideus

2,437

2,345

4,782

109

2.28

IX 143164.9

I00I99

111,102

98,245

209,347

23,163

11.06

10

X 165.0179.9 J00J99 PenyakitSistemNapas

112,436

92,640

205,076

8,190

3.99

11

XI 180197

K00K93 PenyakitSistemCerna

122,180

112,332

234,512

6,825

2.91

12

XII 198199

L00L99 PenyakitKulit&JaringanSubkutan

8,836

7,891

16,727

324

1.94

PenyakitSistemSirkulasiDarah

13 XIII 200,0210

M00M99 PenyakitSistemMuskuloskeletaldanJaringanIkat

13,425

13,472

26,897

605

2.25

14 XIV 211233

N00N99 PenyakitSistemKemihKelamin

63,922

63,820

127,742

4,542

3.56

15

O00O99 Kehamilan,Persalinan&MasaNifas

344,497

344,497

1,807

0.52

48,103

45,363

93,466

9,108

9.74

6,719

5,311

12,030

605

5.03

80,365

70,838

151,203

4,238

2.80

125,995

66,819

192,814

5,767

2.99

41,835

21,872

63,707

2,046

3.21

89,223

124,065

213,288

1,627

0.76

1,266,816

1,508,997

2,775,813

100,410

XV 234244

16 XVI 245253.9

P00P96 KondisiTertentuyangbermulapadamasaPerinatal

17 XVII 254266.9

Q00Q99 Malformasi,DeformasiKongenital&KelainanKromosom

18 XVIII267270.9

R00R99 Gejala,Tanda&PenemuanLaboratorium,KlinikAbnormalYTK

19 XIX 271289

S00T98 Cedera,KeracunandanAkibatSebabLuarTertentuLainnya

20

XX 299.0306.13 V00Y98 SebabLuarMorbiditas&Mortalitas

21 XXI 290.0298

FaktorygMempengaruhiKeadaanKesehatan&ygBerhubungandenganPelayanan
Z00Z99
Kesehatan
Jumlah

Sumber:DitjenYanmed,DepkesRI,2009
Keterangan:DTD(DaftarTabulasiDasar)

Lampiran3.4.a

DISTRIBUSIPASIENRAWATINAPMENURUTBABICDX
DIRUMAHSAKITDIINDONESIATAHUN2007
No

Bab

DTD

(1)

(2)

001057,9

II

III

ICDX

GolonganSebabSakit

(4)

(5)

PasienBaru

CFR(%)

Perempuan

(6)

(7)

(9)

(10)

306,062

262,919

568,981

14,323

2.52

31,486

63,584

95,070

4,585

4.82

12,975

15,262

28,237

1,112

3.94

IV

058.0096.9 C00D48 Neoplasma


PenyakitDarah&OrganPembuatDarah&Gangguan
097100
D50D89
tertentuyangMelibatkanMekanismeImun
101111
E00E90 PenyakitEndokrin,Nutrisi&Metabolik

34,350

44,098

78,448

5,277

6.73

112119.9

F00F99 GangguanMental&Perilaku

13,536

11,879

25,415

145

0.57

VI

120129

G00G99 PenyakitSusunanSyaraf

15,862

14,400

30,262

3,194

10.55

VII

130139,10 H00H59 PenyakitMatadanAdneksa

14,849

11,941

26,790

138

0.52

VIII

140142,9

H60H95 PenyakitTelingadanPros.Mastoideus

2,315

2,224

4,539

0.20

IX

143164.9

I00I99

106,019

92,161

198,180

21,830

11.02

10

165.0179.9 J00J99 PenyakitSistemNapas

107,941

89,839

197,780

7,214

3.65

11

XI

180197

K00K93 PenyakitSistemCerna

118,026

107,186

225,212

6,590

2.93

12

XII

198199

L00L99 PenyakitKulit&JaringanSubkutan

8,365

7,538

15,903

258

1.62

13

XIII

200,0210

M00M99 PenyakitSistemMuskuloskeletaldanJaringanIkat

12,322

11,779

24,101

428

1.78

14

XIV

211233

N00N99 PenyakitSistemKemihKelamin

61,922

59,616

121,538

4,557

3.75

15

XV

234244

O00O99 Kehamilan,Persalinan&MasaNifas

335,221

335,221

887

0.26

16

XVI

245253.9

P00P96 KondisiTertentuyangbermulapadamasaPerinatal

40,570

42,029

82,599

9,822

11.89

17

XVII

254266.9

6,569

5,270

11,839

673

5.68

18

XVIII

78,112

66,745

144,857

3,967

2.74

19

XIX

132,965

69,135

202,100

5,945

2.94

20

XX

56,720

29,152

85,872

2,970

3.46

21

XXI

86,277

101,775

188,052

778

0.41

1,247,243

1,443,753

2,690,996

94,702

3.52

(3)

A00B99 PenyakitInfeksi&ParasitTertentu

PenyakitSistemSirkulasiDarah

Q00Q99 Malformasi,DeformasiKongenital&KelainanKromosom
Gejala,Tanda&PenemuanLaboratorium,Klinik
267270.9
R00R99
AbnormalYTK
Cedera,KeracunandanAkibatSebabLuarTertentu
271289
S00T98
Lainnya
299.0306.13 V00Y98 SebabLuarMorbiditas&Mortalitas
FaktorygMempengaruhiKeadaanKesehatan&yg
290.0298
Z00Z99
BerhubungandenganPelayananKesehatan
Jumlah

Sumber:DitjenYanmed,DepkesRI,2008
Keterangan:DTD(DaftarTabulasiDasar)

Jumlah

PasienMati

Lakilaki

(8)

Lampiran3.5

JUMLAHKASUSDANANGKAKESAKITANPENYAKITMALARIA
MENURUTPROVINSITAHUN2008
PopulasiBeresiko
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

JumlahPenderita

Provinsi
(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
Papua
PapuaBarat
Indonesia
JawaBali
LuarJawaBali

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Keterangan:API=AnnualParasiteIncidence(diP.Jawa+Bali)
AMI=AnnualMalariaIncidence(diluarP.Jawa+Bali)

(1)

MalariaPositif

(3)

(4)

4,260,934
8,995,264
2,453,986
4,132,768
2,843,135
5,350,075
1,353,159
6,295,088
1,042,108
1,244,515
NA
1,093,568
14,538,939
2,016,834
3,755,848
3,864,897
1,391,449
4,421,385
4,083,866
3,358,893
1,764,556
2,521,569
1,706,472
1,642,001
2,536,473
6,202,816
2,204,242
765,841
685,561
1,384,940
966,268
2,206,849
701,435
101,785,734
26,661,535
75,124,199

AMI

MalariaKlinis
8,637
73,275
6,325
12,644
51,401
29,212
31,064
17,566
42,288
16,572
NA

API

(5)

1,053
2,274
1,015
957
6,028
2,389
6,355
2,108
8,426
1,666

(6)

2.03
8.15
2.58
3.06
18.08
5.46
22.96
2.79
40.58
13.32

NA
42,924
120,042
3,040
38,920
2,692
18,522
96,621
425,134
10,859
19,784
10,581
14,654
27,063
45,164
9,386
22,612
10,674
8,213
54,907
49,683
187,005
117,466
1,624,930
226,140
1,398,790

NA
636
947
67
2,651
103
242
21,564
83,110
2,168
4,470
2,630
3,487
5,530
6,486
1,933
609
3,160
391
12,376
8,606
40,503
32,337
266,277
4,646
261,631

0.58
0.07
0.03
0.71
0.03
0.17
21.85
104.10
3.23
11.21
4.20
8.59
16.48
17.81
1.51
10.26
13.94
11.98
39.65
51.42
84.74
167.47
17.77
18.62

0.16
0.17

Lampiran3.6

ANNUALPARASITEINCIDENCE(API)MALARIA
DIJAWABALITAHUN19972008
AnnualParasiteIncidence(API)per1.000Penduduk
No

Provinsi

(1)

(2)

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(13)

DKIJakarta

0.00

0.00

0.00

0.07

0.01

t.a.d

t.a.d

t.a.d

t.a.d

t.a.d

t.a.d

t.a.d

JawaBarat

0.04

0.07

0.04

0.03

0.02

t.a.d

t.a.d

0.16

0.96

0.52

0.37

0.58

JawaTengah

0.32

0.65

1.06

1.74

1.46

t.a.d

t.a.d

0.51

0.06

0.13

0.12

0.07

DIYogyakarta

0.52

3.54

6.76

11.73

10.43

t.a.d

t.a.d

0.97

0.06

0.10

0.05

0.03

JawaTimur

0.04

0.03

0.05

0.17

0.12

t.a.d

t.a.d

0.08

0.47

0.18

0.18

0.71

Banten

t.a.d

t.a.d

t.a.d

0.00

0.02

0.05

0.17

Bali

0.03

0.03

0.04

0.04

0.08

t.a.d

t.a.d

0.03

0.02

0.55

0.42

0.03

0.12

0.30

0.52

0.81

0.62

0.47

0,22

0.15

0.15

0.19

0.16

0.16

JawaBali
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Ket:tad=tidakadadata

Lampiran3.7

HASILCAKUPANPENEMUANKASUSPENYAKITTBPARU
TAHUN2008
CakupanPenemuan
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

PerkiraanKasusMenular

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
Kep.BangkaBelitung
Kep.Riau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

SemuaKasus
(4)

6,870
20,868
7,621
8,303
4,461
11,395
2,627
11,826
1,735
2,325
9,786
43,783
34,910
2,220
39,691
10,275
2,250
9,164
9,522
8,923
4,320
7,238
6,499
4,637
5,121
16,391
4,358
2,042
2,168
2,773
2,015
1,533
4,319
228,485

CaseDetectionRate
(CDR)%

BTAPos
(5)

3,828
17,133
5,403
3,478
2,960
8,284
1,598
7,592
1,210
1,500
25,490
61,557
35,951
2,461
39,113
17,896
3,159
5,688
5,315
5,558
1,881
4,990
3,829
4,858
2,781
8,303
2,724
1,451
1,298
2,279
981
1,259
6,521
298,329

(6)

2,831
14,158
3,701
2,205
2,227
5,244
1,276
4,771
958
685
8,372
30,072
16,752
1,141
23,655
8,080
1,434
3,134
3,360
4,189
1,251
3,164
2,088
4,155
2,120
6,170
2,312
1,176
1,060
1,109
540
525
2,461
166,376

41.2
67.8
48.6
26.6
49.9
46.0
48.6
40.3
55.2
29.5
85.5
68.7
48.0
51.4
59.6
78.6
63.7
34.2
35.3
46.9
29.0
43.7
32.1
89.6
41.4
37.6
53.1
57.6
48.9
40.0
26.8
34.2
57.0
72.82

Lampiran3.8

JUMLAHKASUSBARUTBPARUBTAPOSITIF
MENURUTJENISKELAMINDANPROVINSITAHUN2008
JenisKelamin
No

Lakilaki

Provinsi
Jumlah

(1)

(2)

Perempuan
%

(3)

Jumlah

(4)

Lakilaki+Perempuan

(5)

(6)

(7)

NanggroeAcehDarussalam

1,870

66.91

925

33.09

2,795

SumateraUtara

9,154

64.66

5,004

35.34

14,158

SumateraBarat

2,389

64.62

1,308

35.38

3,697

Riau

1,347

64.05

756

35.95

2,103

Jambi

1,391

62.46

836

37.54

2,227

SumateraSelatan

3,256

62.41

1,961

37.59

5,217

Bengkulu

779

64.01

438

35.99

1,217

Lampung

2,777

59.81

1,866

40.19

4,643

Kep.BangkaBelitung

620

64.65

339

35.35

959

378

63.00

222

37.00

600

11 DKIJakarta

4,859

60.75

3,140

39.25

7,999

12 JawaBarat

10 Kep.Riau

17,181

57.14

12,886

42.86

30,067

13 JawaTengah

8,456

54.54

7,047

45.46

15,503

14 DIYogyakarta

641

56.28

498

43.72

1,139

12,477

55.00

10,209

45.00

22,686

4,367

57.69

3,203

42.31

7,570

846

59.12

585

40.88

1,431

18 NusaTenggaraBarat

1,876

60.07

1,247

39.93

3,123

19 NusaTenggaraTimur

1,623

53.55

1,408

46.45

3,031

20 KalimantanBarat

2,326

63.80

1,320

36.20

3,646

21 KalimantanTengah

674

60.29

444

39.71

1,118

22 KalimantanSelatan

1,941

61.48

1,216

38.52

3,157

23 KalimantanTimur

1,212

61.21

768

38.79

1,980

24 SulawesiUtara

2,457

61.30

1,551

38.70

4,008

25 SulawesiTengah

1,206

57.40

895

42.60

2,101

26 SulawesiSelatan

3,576

57.96

2,594

42.04

6,170

27 SulawesiTenggara

1,363

58.95

949

41.05

2,312

28 Gorontalo

680

57.82

496

42.18

1,176

29 SulawesiBarat

625

58.96

435

41.04

1,060

30 Maluku

487

52.76

436

47.24

923

31 MalukuUtara

274

62.84

162

37.16

436

32 PapuaBarat

240

52.63

216

47.37

456

1,170

57.55

863

42.45

2,033

94,518

58.80

66,223

41.20

160,741

15 JawaTimur
16 Banten
17 Bali

33 Papua
Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Lampiran3.9
JUMLAHKASUSBARUTBPARUBTAPOSITIF
MENURUTKELOMPOKUMUR(TAHUN),JENISKELAMINDANPROVINSITAHUN2008

No

014

Provinsi

(1)

(2)

1524

KelompokUmur(tahun)
3544
4554

2534

5564

Total

>65

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

NanggroeAcehDarussalam

13

12

214

166

374

206

370

166

387

153

336

158

176

64

1,870

925

2,795

SumateraUtara

86

84

1,157

905

1,867

1,085

2,035

1,085

2,073

940

1,385

652

551

253

9,154

5,004

14,158

SumateraBarat

10

19

365

274

514

280

391

247

482

239

375

157

252

92

2,389

1,308

3,697

Riau

11

18

212

146

319

189

288

146

233

149

193

78

91

30

1,347

756

2,103

Jambi

13

180

138

295

182

247

168

281

165

254

144

121

31

1,391

836

2,227

SumateraSelatan

30

25

462

322

694

453

626

402

668

411

508

265

268

83

3,256

1,961

5,217

Bengkulu

10

82

80

149

101

168

82

169

91

146

56

58

18

779

438

1,217

Lampung

39

40

355

302

565

428

511

323

494

306

451

263

362

204

2,777

1,866

4,643

Kep.BangkaBelitung

80

66

129

78

125

69

141

65

93

39

45

19

620

339

959

59

62

104

65

74

30

53

23

54

27

25

10

378

222

600

11 DKIJakarta

51

50

1,010

886

1,499

836

967

576

748

446

428

253

156

93

4,859

3,140

7,999

12 JawaBarat

10 Kep.Riau

183

194

3,373

3,169

4,539

3,447

3,327

2,510

2,755

1,944

2,074

1,168

930

454

17,181

12,886

30,067

13 JawaTengah

49

97

1,361

1,452

1,860

1,659

1,598

1,380

1,578

1,209

1,303

913

707

337

8,456

7,047

15,503

14 DIYogyakarta

108

112

144

127

111

88

112

67

97

61

68

39

641

498

1,139

106

125

1,646

1,880

2,447

2,219

2,372

2,061

2,646

1,972

2,314

1,481

946

471

12,477

10,209

22,686

28

45

878

702

1,150

837

906

699

714

529

523

312

168

79

4,367

3,203

7,570

109

86

211

139

143

108

129

114

169

90

83

46

846

585

1,431

18 NusaTenggaraBarat

14

249

203

376

272

354

251

410

265

361

217

112

33

1,876

1,247

3,123

19 NusaTenggaraTimur

21

24

258

246

338

323

255

227

280

262

281

208

190

118

1,623

1,408

3,031

20 KalimantanBarat

22

29

268

222

514

287

447

293

496

242

399

190

180

57

2,326

1,320

3,646

21 KalimantanTengah

19

13

85

71

141

100

121

107

166

89

104

44

38

20

674

444

1,118

22 KalimantanSelatan

32

23

229

183

430

263

434

248

380

256

325

192

111

51

1,941

1,216

3,157

23 KalimantanTimur

14

11

203

162

278

179

217

153

196

145

200

93

104

25

1,212

768

1,980

24 SulawesiUtara

18

17

280

267

488

342

476

321

507

264

395

199

293

141

2,457

1,551

4,008

25 SulawesiTengah

16

20

137

133

236

243

236

172

276

156

210

130

95

41

1,206

895

2,101

26 SulawesiSelatan

24

479

418

715

582

719

523

679

467

682

440

293

140

3,576

2,594

6,170

27 SulawesiTenggara

12

205

211

306

206

283

190

228

155

245

134

92

41

1,363

949

2,312

28 Gorontalo

100

98

127

106

150

96

142

90

106

73

52

27

680

496

1,176

29 SulawesiBarat

88

83

119

116

117

63

128

77

121

72

48

22

625

435

1,060

30 Maluku

17

91

77

104

111

89

82

89

64

63

53

44

32

487

436

923

31 MalukuUtara

47

37

69

42

50

38

46

21

39

17

20

274

162

436

32 PapuaBarat

55

55

66

73

41

34

40

26

20

13

12

240

216

456

31

37

329

332

369

244

211

139

129

72

80

27

21

12

1,170

863

2,033

868

993

14,754

13,546

21,536

15,820

18,459

13,077

17,855

11,474

14,334

8,219

6,712

3,094

94,518

66,223

160,741

15 JawaTimur
16 Banten
17 Bali

33 Papua
Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Lampiran3.10

JUMLAHKUMULATIFKASUSAIDS,MENINGGAL,DANANGKAKUMULATIFKASUSPER100.000PENDUDUK
MENURUTPROVINSITAHUN2008
No

Provinsi

JumlahKasus

(2)

(3)

(1)

NanggroeAcehDarussalam

CaseRate

Meninggal
(4)

(5)

26

0.67

SumateraUtara

487

95

3.95

SumateraBarat

204

65

4.48

Riau

364

116

8.01

Jambi

106

30

3.93

SumateraSelatan

153

31

2.25

Bengkulu

46

13

2.85

Lampung

143

42

2.00

Kep.BangkaBelitung

95

13

9.33

277

115

23.11

10

KepulauanRiau

11

DKIJakarta

2,781

419

30.52

12

JawaBarat

2,888

544

7.38

13

JawaTengah

530

221

1.35

14

DIYogyakarta

246

70

7.5

15

JawaTimur

2,591

584

6.99

16

Banten

17

Bali

18
19

74

12

0.81

1,177

228

33.75

NusaTenggaraBarat

80

47

1.92

NusaTenggaraTimur

110

23

2.64

20

KalimantanBarat

730

21

KalimantanTengah

103
2

17.9
0.47

22

KalimantanSelatan

22

0.68

23

KalimantanTimur

11

10

0.37

24

SulawesiUtara

161

53

7.45

25

SulawesiTengah

0.34

26

SulawesiSelatan

143

27

SulawesiTenggara

11

62
1

1.91
0.56

28

Gorontalo

0.33

29

SulawesiBarat

30

Maluku

31
32
33

Papua

187

69

14.05

MalukuUtara

PapuaBarat

58

7
19

0.77
10.24

Jumlah
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

2,382

351

129.35

16,110

3,362

7.12

Lampiran3.11

JUMLAHDANPERSENTASEKASUSAIDSYANGMENGGUNAKANNAPZASUNTIKAN(IDU)
MENURUTPROVINSIs.d31DESEMBER2008
No

Provinsi

(1)

(2)

KasusAIDSyangMenggunakanNAPZASuntik(IDU)

Jumlah
KasusKumulatif

Jumlah

(3)

(4)

(5)

1
2

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara

26
487

7
213

26.9
43.7

3
4
5

SumateraBarat
Riau
Jambi

204
364
106

147
97
67

72.1
26.6
63.2

6
7

SumateraSelatan
Bengkulu

153
46

83
28

54.2
60.9

8
9
10

Lampung
Kep.BangkaBelitung
Kep.Riau

143
95
277

111
36
22

77.6
37.9
7.9

11
12

DKIJakarta
JawaBarat

2,781
2,888

1,978
2,192

71.1
75.9

13
14
15

JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur

530
246
2,591

126
119
878

23.8
48.4
33.9

16

Banten

17
18
19
20

Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat

21
22
23
24
25

74

55

74.3

1,177
80
110
730

234
39
11
124

19.9
48.8
10.0
17.0

KalimantanTengah

55.6

KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah

22
11
161
8

9
4
39
5

40.9
36.4
24.2
62.5

26
27
28
29
30

SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku

143
11
3

187

91
1
2

79

63.6
9.1
66.7

42.2

31
32

MalukuUtara
PapuaBarat

7
58

2
5

28.6
8.6

33

Papua
Jumlah

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

2,382

0.0

16,110

6,810

42.3

Lampiran3.12

JUMLAHKASUSPNEUMONIAPADABALITA
MENURUTPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

JumlahPendudukUsia
TargetPenemuan
BalitaWil.PKMProgram PneumoniaBalita(10%)
(3)

(4)

RealisasiPenemuanPenderitaPneumoniaBalita
<1Tahun

14Tahun

(5)

Jumlah

(6)

(7)

(8)

417,777

41,778

647

1,257

1,904

4.56

SumateraUtara

1,276,361

127,636

7,365

11,717

19,082

14.95

SumateraBarat

469,776

46,978

2,584

7,112

9,696

20.64

Riau

518,900

51,890

2,062

4,507

6,569

12.66

Jambi

276,418

27,642

998

2,270

3,268

11.82

SumateraSelatan

680,135

68,013

4,972

9,567

14,539

21.38

Bengkulu

175,372

17,537

Lampung

728,666

72,867

3,836

11,601

15,437

21.19

Kep.BangkaBelitung

21.71

110,666

11,067

667

1,735

2,402

10 Kep.Riau

138,202

13,820

66

222

288

2.08

11 DKIJakarta

896,168

89,617

3,589

8,321

11,910

13.29

12 JawaBarat

3,912,714

391,271

58,728

107,568

166,296

42.50

13 JawaTengah

3,298,982

329,898

9,633

20,298

29,931

9.07

14 DIYogyakarta

343,868

34,387

132

492

624

1.81

15 JawaTimur

2,491,593

249,159

11,959

21,720

33,679

13.52

16 Banten

7.61

1,027,603

102,760

2,880

4,937

7,817

17 Bali

341,173

34,117

1,151

2,223

3,374

9.89

18 NusaTenggaraBarat

553,451

55,345

13,173

18,096

31,269

56.50

19 NusaTenggaraTimur

20 KalimantanBarat

466,782

46,678

1,309

2,738

4,047

8.67

21 KalimantanTengah

200,361

20,036

532

1,016

1,548

7.73

22 KalimantanSelatan

357,691

35,769

1,617

3,447

5,064

14.16

23 KalimantanTimur

297,194

29,719

1,424

2,576

4,000

13.46

24 SulawesiUtara

242,097

24,210

1,746

2,658

4,404

18.19

25 SulawesiTengah

243,771

24,377

1,421

2,285

3,706

15.20

26 SulawesiSelatan

793,615

79,362

2,497

5,584

8,081

10.18

27 SulawesiTenggara

205,455

20,545

1,099

2,277

3,376

16.43

91,975

9,198

29 SulawesiBarat

101,460

10,146

30 Maluku

130,506

13,051

98,526

9,853

203

409

612

6.21

32 PapuaBarat

33 Papua

20,887,256

2,088,726

28 Gorontalo

31 MalukuUtara

Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

136,290

256,633

392,923

18.81

Lampiran3.13
SITUASIPENYAKITKUSTAMENURUTPROVINSITAHUN2007

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi
(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia
%

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2008
Ket:

PB=PausiBasiler,MB=MultiBasiler

PB
(3)

113
23
15
27
6
41
3
33
14
8
209
530
167
9
574
92
8
133
65
42
5
35
24
67
71
188
35
20
34
54
113
307
274
3,339
14.12

KasusTercatat
MB

Jumlah

(4)

(5)

484
188
99
175
60
326
13
189
45
20
1,625
2,832
1,702
86
5,463
499
132
549
428
238
77
378
222
417
237
1,229
262
204
217
379
532
394
612
20,313
85.88

AngkaPrevalensi
/10.000Penduduk
(6)

597
211
114
202
66
367
16
222
59
28
1,834
3,362
1,869
95
6,037
591
140
682
493
280
82
413
246
484
308
1,417
297
224
251
433
645
701
886
23,652
100.00

1.41
0.17
0.25
0.42
0.24
0.54
0.09
0.29
0.55
0.26
2.03
0.81
0.58
0.28
1.62
0.64
0.42
1.60
1.18
0.68
0.42
1.26
0.84
2.15
1.28
1.86
1.42
2.44
1.82
3.02
6.66
9.69
4.42
1.05

Lampiran3.14

JUMLAHKASUSBARUKUSTADANKECACATANMENURUTPROVINSI
TAHUN2008
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi
(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Ket:
PB=PausiBasiler,MB=MultiBasiler

Total

MB

JumlahKasusBaru
CacatTk.2

Anak

Wanita

Kasus
Terdaftar

Kasus
Kambuh

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

437
188
157
215
95
280
16
151
46
25
891
1,743
1,564
52
4,912
565
106
270
193
244
103
230
209
419
328
1,240
289
197
216
382
571
353
754
17,441

326
167
121
164
69
244
15
125
35
19
759
1,509
1,338
39
4,323
456
81
201
159
209
98
189
193
333
254
1,007
247
147
143
300
385
194
479
14,328

47
43
10
43
11
37
2
21
5
0
9
206
213
6
527
61
2
7
3
40
21
25
18
28
31
145
13
14
10
14
32
7
17
1,668

37
26
24
54
6
36
1
6
1
0
73
184
166
3
571
83
1
29
4
29
5
15
20
42
22
87
23
29
14
31
141
81
143
1,987

169
73
77
98
23
112
6
38
19
10
250
546
513
17
1,703
218
17
95
21
109
30
71
35
147
131
533
134
78
77
168
261
151
273
6,203

476
205
140
341
108
307
26
234
49
35
860
2,260
2,108
71
6,863
880
119
274
255
202
103
265
277
388
320
1,107
294
236
229
480
684
479
863
21,538

RFTRate(%)
PB
MB
(10)

13
1
0
0
1
8
0
0
0
0
5
0
0
0
5
0
0
0
2
0
0
0
0
4
0
19
1
0
5
0
4
10
11
89

93
89
100
80
90
69
80
68
92
80
88
91
93
80
97
87
95
90
73
80
67
80
94
95
82
92
100
100
79
94
86
90
79
86.46

(11)

89
91
96
78
69
85
78
77
82
78
75
80
91
78
93
92
95
88
60
78
95
78
97
93
97
84
86
87
98
87
95
66
81
84.77

Lampiran3.15

PREVALENSIFRAMBUSIAMENURUTPROVINSI
TAHUN2008
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Populasi2008

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

4,363,500
12,914,600
4,555,800
4,813,653
2,784,271
7,019,964
1,753,716
7,804,587
1,106,657

2008
Infectius
(4)

Notes
District

Total

NonInfectius
(5)

(6)

(7)

0
0
0

0
0
0

0
0
0

23
28
7

15

10

3,320,715
4,257,306
4,387,146

17
6
0
0
2245

2
0
0
0
1950

19
6
0
0
4195

7
1
9
9
20

2,936,388
3,287,185
2,419,815

16

22

38

2,143,000
1,629,000

25

27

9,551,402

795

237

1032

748,159
2,213,997
124,877,655

385
3,466

222
2,460

607
5,926

9
150

3,430,640
37,436,154

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Lampiran3.16

JUMLAHKASUSTETANUSNEONATORUMDANFAKTORRISIKO
MENURUTPROVINSITAHUN2008
FaktorRisiko
No

Provinsi

PelayananAntenatalCare

Total
Kasus

Bidan/
Perawat

Dokter
(1)

(2)

StatusImunisasi

PenolongPersalinan

Meninggal

(3)

(4)

(5)

Dukun
Bersalin

(6)

TidakPeriksa TidakTahu

(7)

(8)

(9)

TT2+

TT1

10)

(11)

Tidak
Diimunisasi

TidakTahu

Dokter

(12)

(13)

(14)

Bidan/
Perawat

Dukun
Bersalin

(15)

Tidak
Diketahui

(16)

(17)

NanggroeAcehDarussalam

SumateraUtara

SumateraBarat

Riau

Jambi

SumateraSelatan

17

13

11

Bengkulu

Lampung

KepulauanBangkaBelitung

10 KepulauanRiau

11 DKIJakarta

12 JawaBarat

41

28

17

27

25

13 JawaTengah

14 DIYogyakarta

15 JawaTimur

17

13

11

16 Banten

50

23

20

20

35

43

17 Bali

18 NusaTenggaraBarat

19 NusaTenggaraTimur

20 KalimantanBarat

21 KalimantanTengah

22 KalimantanSelatan

23 KalimantanTimur

24 SulawesiUtara

25 SulawesiTengah

26 SulawesiSelatan

27 SulawesiTenggara

28 Gorontalo

29 SulawesiBarat

30 Maluku

31 MalukuUtara

32 PapuaBarat

33 Papua

183

100

10

81

22

42

28

21

25

103

34

35

116

28

Total
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2008

Lampiran3.16.a

JUMLAHKASUSTETANUSNEONATORUMDANFAKTORRISIKO
MENURUTPROVINSITAHUN2008
PerawatanTaliPusar
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi
(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Total

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Alkohol/
Tradisional Lainnya
iodin
(3)

(4)

0
0
1
4
0
2
0
3
1
0
0
7
1
0
7
9
0
1
0
1
0
0
0
0
2
2
0
1
0
0
0
0
0
42

(5)

0
0
0
1
0
12
0
4
0
0
0
1
0
0
4
20
1
0
0
1
0
3
0
0
3
0
0
1
0
0
0
0
1
52

PemotonganTaliPusar
TidakTahu Gunting
(6)

0
0
1
1
0
3
0
2
1
0
0
24
1
0
6
14
0
1
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
56

(7)

2
0
2
2
0
0
0
0
1
0
0
9
5
0
0
7
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
3
0
0
0
0
0
0
33

0
0
1
5
0
4
0
5
2
0
0
26
2
0
13
28
0
1
0
1
0
3
0
0
4
3
0
1
0
0
0
0
0
99

PerawatanRumahSakit

Bambu

Lainnya

TidakTahu

Ya

(8)

(9)

10)

(11)

0
0
0
1
0
10
0
2
0
0
0
4
0
0
3
7
1
0
0
1
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0
0
0
0
32

2
0
1
1
0
2
0
1
0
0
0
2
0
0
1
7
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
19

0
0
2
2
0
1
0
1
1
0
0
9
5
0
0
8
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
2
0
0
0
0
0
1
33

1
0
1
0
0
16
0
9
1
0
0
25
2
0
14
40
1
2
0
2
0
3
0
0
7
3
1
0
0
0
0
0
1
129

Tidak

TidakTahu

(12)

(13)

1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
7
0
0
3
5
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
17

0
0
3
9
0
1
0
0
2
0
0
9
5
0
0
5
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
2
0
0
0
0
0
0
37

Lampiran3.17

JUMLAHKASUSPENYAKITCAMPAKDANSTATUSVAKSINASICAMPAK
MENURUTKELOMPOKUMURDANPROVINSITAHUN2008
KasusCampak
<1Tahun
No.

14Tahun

59Tahun

1014Tahun

>14Tahun

Total

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

Jumlah
Kasus

Divaksinasi

Jumlah
Kasus

Divaksinasi

Jumlah
Kasus

Divaksinasi

Jumlah
Kasus

Divaksinasi

Jumlah
Kasus

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

10)

(11)

Divaksinasi Meninggal
(12)

(13)

Jumlah
Kasus

Divaksinasi

(14)

(15)

77

12

254

67

172

29

56

37

596

119

SumateraUtara

103

42

226

51

168

38

29

16

542

143

SumateraBarat

37

13

80

40

112

61

67

22

130

11

426

147

Riau

62

16

132

35

147

23

69

65

475

86

Jambi

18

22

32

14

32

11

15

119

31

SumateraSelatan

97

17

189

80

198

78

107

35

175

22

766

232

Bengkulu

14

12

11

10

10

50

31

Lampung

108

32

151

81

191

98

132

68

125

33

707

312

KepulauanBangkaBelitung

12

10

45

22

10 KepulauanRiau

45

93

17

128

14

85

20

97

448

58

11 DKIJakarta

70

143

116

58

124

511

12 JawaBarat

407

815

1,153

574

475

3,424

13 JawaTengah

117

57

276

216

318

206

112

63

178

68

1,001

610

14 DIYogyakarta

22

21

17

16

50

45

24

24

58

30

171

136

15 JawaTimur

137

75

208

137

171

92

99

45

120

58

735

407

16 Banten

158

378

12

552

21

228

236

1,552

36

17 Bali

28

22

61

15

18 NusaTenggaraBarat

19 NusaTenggaraTimur

21

17
97

20 KalimantanBarat

22

76

15

133

28

70

54

173

474

21 KalimantanTengah

44

20

36

26

52

25

19

11

37

188

86

22 KalimantanSelatan

43

23

70

38

45

24

37

12

29

224

103

23 KalimantanTimur

10

24

24 SulawesiUtara

26

27

13

12

77

25

25 SulawesiTengah

25

99

33

83

29

48

18

28

283

87

26 SulawesiSelatan

138

21

216

97

143

43

76

22

138

19

711

202

27 SulawesiTenggara

13

10

41

18

25

14

60

32

37

19

22

162

78

29 SulawesiBarat

30 Maluku

31 MalukuUtara

62

81

12

30

30

11

184

54

32 PapuaBarat

11

28

33 Papua

11

38

15

70

16

14,123

3,162

28 Gorontalo

Total
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

1,817

386

3,714

1,031

4,214

950

2,048

502

2,330

293

Lampiran3.18

FREKUENSIDANJUMLAHKASUSPADAKLBCAMPAK
MENURUTPROVINSITAHUN20052008
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
KepulauanRiau
Jambi
Bengkulu
SumateraSelatan
BangkaBelitung
Lampung
Jakarta
Banten
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
Gorontalo
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiBarat
SulawesiTenggara
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

2005

2006

2007

2008

Frekuensi

Total

Frekuensi

Total

Frekuensi

Total

Frekuensi

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

1
1

33
13

12

13

9
115

664
239

29

15

242

1,773

151

1
6
4
3

28

3
3

17

19
93
125
78

348

113

126

53
106

320

212

1
2

2
2
2

11
4
2
12
4
4
1
4
7
22
19
7

3
2
1

36
52

10
22
42

103
27
4
170
127
216
45
267
69
354
411
156

199
47
33

18

72

3,262

86

1,595

114

2,408

Total
(10)

9
30
0
3
11
0
0
2
2
1
0
11
5
1
0
4
0
0
0
1
0
2
0
3
1
2
0
1
0
1
6
0
0
96

165
567
0
15
52
0
0
42
6
9
0
119
46
5
0
38
0
0
0
14
0
40
0
51
126
18
0
18
0
4
152
0
0
1,487

Lampiran3.19

JUMLAHKASUSAFPMENURUTPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

JumlahKasusAFP

(2)

(3)

(1)

NanggroeAcehDarussalam

AFPRate/100.000penduduk

NonPolioAFPRate/100.000
penduduk

%SpesimenAdekuat

(4)

(5)

(6)

45

3.60

3.52

84.4

SumateraUtara

105

2.63

2.63

90.4

SumateraBarat

37

2.74

2.67

81

Riau

61

3.39

3.28

86.8

Jambi

24

2.82

2.82

87.5

SumateraSelatan

84

3.91

3.77

95.2

Bengkulu

17

3.40

3.40

88.2

Lampung

79

3.59

3.55

83.5

KepulauanBangkaBelitung

3.20

3.20

87.5

10

KepulauanRiau

14

4.00

3.71

78.5

11

DKIJakarta

70

3.33

3.19

82.8

12

JawaBarat

258

2.31

2.26

81

13

JawaTengah

187

2.29

2.26

82.8

14

DIYogyakarta

15

JawaTimur

16

29

4.83

4.67

86.2

206

2.69

2.63

76.2

Banten

68

2.23

2.13

72

17

Bali

36

4.50

4.38

94.4

18

NusaTenggaraBarat

40

2.86

2.71

85

19

NusaTenggaraTimur

46

3.41

3.41

91.3

20

KalimantanBarat

32

2.29

2.21

71.8

21

KalimantanTengah

15

2.14

2.14

86.6

22

KalimantanSelatan

23

2.42

2.32

95.6

23

KalimantanTimur

32

3.76

3.76

87.5

24

SulawesiUtara

27

4.91

4.91

81.4

25

SulawesiTengah

17

2.27

2.00

82.3

26

SulawesiSelatan

52

2.31

2.13

86.5

27

SulawesiTenggara

19

2.53

2.53

84.2

28

Gorontalo

12

4.80

4.80

100

29

SulawesiBarat

11

3.14

3.14

54.5

30

Maluku

2.00

2.00

87.5

31

MalukuUtara

2.67

2.33

87.5

32

PapuaBarat

1.50

1.50

100

33

Papua

10

1.67

1.50

50

2.75

2.68

83.3

Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

1,683

Lampiran3.20

JUMLAHKASUSAFPMENURUTKRITERIAKLASIFIKASIKLINISDANPROVINSITAHUN2008
KlasifikasiKlinis
No

Provinsi

(1)

(2)

VirusPolioLiar

Kompatibel

(3)

(4)

BukanPolio
(5)

NanggroeAcehDarussalam

44

SumateraUtara

105

SumateraBarat

36

Riau

59

Jambi

24

SumateraSelatan

81

Bengkulu

17

Lampung

78

KepulauanBangkaBelitung

10 KepulauanRiau

13

11 DKIJakarta

67

12 JawaBarat

252

13 JawaTengah

184

14 DIYogyakarta

28

15 JawaTimur

201

16 Banten

65

17 Bali

35

18 NusaTenggaraBarat

38

19 NusaTenggaraTimur

46

20 KalimantanBarat

31

21 KalimantanTengah

15

22 KalimantanSelatan

22

23 KalimantanTimur

32

24 SulawesiUtara

27

25 SulawesiTengah

15

26 SulawesiSelatan

48

27 SulawesiTenggara

19

28 Gorontalo

12

29 SulawesiBarat

11

30 Maluku

31 MalukuUtara

32 PapuaBarat

33 Papua

Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Keterangan:*masihterdapat43kasusAFPyangbelumdiklasifikasifinalolehpokjaahlipusatSurveilensAFP
UpdatingdatasampaidenganMaret2009

9
1,640

Lampiran3.21

KEJADIANLUARBIASA(KLB)DIARE
TAHUN20032008
2003
No

2004

2005

2006

2007

2008

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

CFR

CFR

CFR

CFR

CFR

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

CFR
(20)

401

10

2.5

267

2.2

163

3.1

178

SumateraUtara

67

3.0

145

4.1

401

13

3.2

390

1.8

636

12

1.9

SumateraBarat

442

1.6

367

10

2.7

40

Riau

113

4.4

Jambi

131

3.8

SumateraSelatan

442

0.2

95

1.1

46

Bengkulu

218

2.8

Lampung

20

5.0

133

5.3

95

2.1

KepulauanBangkaBelitung

10 KepulauanRiau

11 DKI

522

1.3

51

148

0.7

880

12

1.4

380

0.5

13 JawaTengah

53

7.5

137

2.9

216

0.5

14 DIYogyakarta

104

1.0

15 JawaTimur

248

0.8

349

1.1

48

0.0

226

0.4

1,468

0.5

362

2.5

16 Banten

161

2.5

43

4.7

1,371

26

1.9

1,057

0.3

68

199

1,047

0.4

15

2,194

28

256

373

1.9

12 JawaBarat

17 Bali
18 NusaTenggaraBarat

19 NusaTenggaraTimur

456

1.8

21 KalimantanTengah

54

22 KalimantanSelatan

352

17

4.8

325

53

3.8

139

25 SulawesiTengah

129

11

8.5

26 SulawesiSelatan

595

34

5.7

27 SulawesiTenggara

170

28 Gorontalo

125

125

29 SulawesiBarat

30 Maluku

31 MalukuUtara

32 PapuaBarat

38

4,622

252

20 KalimantanBarat

23 KalimantanTimur
24 SulawesiUtara

33 Papua
Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

P=Penderita,M=Meninggal,C=CaseFatelityRate

11.1

102

1.0

814

0.1

1,223

45

3.7

104

2.9

217

1.4

120

2.5

488

1.4

163

3.7

0.3

50

2.0

378

1.3

69

13

269

2.6

66

11

106

1.9

19.0

1.3

18.8

16.7

42

41

2.4

369

293

1.7

584

13

2.2

177

12

6.8

20

15.0

2,023

23

1.1

133

5.3

486

37

5.5

3,314

53

1.6

5,051

127

100.0

13.2

7.6
2.5

130

18

13.8

133

4.5

169

14

8.3

6,544

158

2.4

1,540

106

6.9

10,980

277

3,661

46

1.3

8,443

209

2.5

2.5

Lampiran3.22

JUMLAHPENDERITA,CASEFATALITYRATE(%),DANINCIDENCERATEPENYAKITDEMAMBERDARAHDENGUE(DBD/DHF)
MENURUTPROVINSITAHUN20032008

No

Tahun2004

Provinsi

(1)

(2)

1 NanggroeAcehDarussalam

Tahun2005

Tahun2006

Tahun2007

Tahun2008

CFR

IR

CFR

IR

CFR

IR

CFR

IR

CFR

IR

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

252

4.37

5.43

629

1.59

14.86

758

1.98

19.43

1,569

13

0.83

38.92

2,436

1.31

54.76

2 SumateraUtara

1,093

2.20

8.79

3,657

1.80

30.75

2,125

1.60

16.86

3,990

34

0.85

31.66

4,454

1.10

34.49

3 SumateraBarat

514

0.97

12.11

1,154

1.99

25.89

1,067

1.22

23.87

2,189

24

1.10

48.05

1,907

0.58

42.67

1,050

2.00

20.53

1,850

1.73

41.19

948

1.90

21.04

795

15

1.89

18.46

828

1.21

15.96

275

1.45

9.74

353

3.12

13.38

365

3.01

13.83

309

1.62

11.20

245

3.67

8.64

1,270

1.34

16.06

1,621

0.56

18.38

2,272

0.09

32.48

3,480

13

0.37

48.17

2,360

0.13

34.75

7 Bengkulu

204

0.98

13.25

61

3.28

3.60

129

0.78

7.61

274

2.55

15.62

339

0.29

19.39

8 Lampung

908

1.54

13.51

736

1.63

10.54

1,402

1.00

20.08

4,470

23

0.51

64.01

4,807

0.83

68.83

5.65

46

4.35

4.60

58

5.80

145

1.38

13.67

34

0.00

3.07

746

3.49

57.58

969

2.89

74.79

950

11

1.16

73.33

1,724

1.28

133.07

4 Riau
5 Jambi
6 SumateraSelatan

9 KepulauanBangkaBelitung
10 KepulauanRiau

53

11 DKIJakarta

20,510

0.43

260.08

23,466

0.34

296.87

24,932

0.16

316.17

31,836

86

0.27

392.64

28,361

0.09

317.09

12 JawaBarat

19,014

1.13

52.20

18,590

1.53

47.50

25,851

1.06

66.08

30,536

288

0.94

78.05

23,248

0.99

54.23

13 JawaTengah

9,047

1.80

27.11

6,583

2.29

19.61

10,924

2.01

33.72

20,391

327

1.60

61.96

19,235

1.19

58.45

14 DIYogyakarta

2,206

1.41

66.89

971

1.24

29.44

2,184

1.05

66.22

2,462

26

1.06

74.65

2,119

0.99

61.72

15 JawaTimur

8,287

1.45

23.48

15,251

1.74

42.94

20,374

1.21

56.19

25,950

372

1.43

69.95

16,589

0.99

44.68

16 Banten

2577

2.25

30.08

2,045

1.27

23.87

2,306

1.52

26.92

5,587

98

1.75

65.22

3,954

1.34

46.16

17 Bali

1935

0.41

58.64

3,596

0.50

108.97

5,629

0.53

170.57

6,375

14

0.22

193.18

6,254

0.30

181.31

18 NusaTenggaraBarat

805

1.99

20.77

1,062

1.41

26.62

623

0.64

15.59

720

0.28

16.90

777

0.51

18.10

19 NusaTenggaraTimur

1381

3.11

35.00

735

1.36

17.75

251

1.20

6.36

518

11

2.12

13.13

279

2.87

7.07

20 KalimantanBarat

212

2.36

5.55

1,220

1.07

31.92

2,659

1.32

65.94

508

1.38

12.98

947

3.38

22.29

21 KalimantanTengah

453

1.32

24.70

491

0.81

26.75

513

0.78

27.42

696

1.15

35.54

531

1.32

27.11

22 KalimantanSelatan

378

0.79

10.30

341

2.35

9.29

455

1.54

12.40

1,321

16

1.21

35.59

576

1.91

15.69

2276

1.80

91.37

3,165

2.59

121.74

2,714

2.80

103.64

5,341

102

1.91

193.15

5,762

1.82

220.03

24 SulawesiUtara

225

4.89

10.56

1,926

1.35

119.89

1,290

1.47

59.62

1,865

24

1.29

86.15

1,430

1.12

63.58

25 SulawesiTengah

293

3.41

13.06

780

1.00

31.73

492

2.24

20.01

1,338

17

1.27

54.02

1,389

1.22

55.25

26 SulawesiSelatan

3500

0.69

41.70

2,822

1.81

34.65

2,612

0.84

35.03

2,732

30

1.10

36.79

3,545

0.76

46.46

266

0.75

13.89

758

2.90

39.25

95

3.16

4.73

944

0.74

48.20

1,006

0.89

46.21

1.60

206

23.50

302

0.66

32.90

236

1.69

25.71

172

2.33

18.74

27

2.66

31

3.23

3.06

0.20

37

0.00

3.65

0.00

0.00

23 KalimantanTimur

27 SulawesiTenggara
28 Gorontalo

14

29 SulawesiBarat

30 Maluku

31 MalukuUtara
32 PapuaBarat
33 Papua
Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Ket:IR(Insidens)per100.000penduduk

74

9.46

2.00

8.71

24

4.17

2.65

138

2.90

0
0

#DIV/0!

16.09

275

2.55

29.22

250

2.80

25.25
90.41

184

3.26

32.62

128

22.69

208

0.96

28.76

510

0.39

390

2.05

18.84

183

1.09

11.02

60

3.55

103

3.88

6.09

228

0.44

1.20

37.11

95,279

1.36

43.42

114,656

52.48

158,115

1,599

1.01

71.78

136,333

79,462

1.04

0.86

13.47
60.06

Lampiran3.23

JUMLAHKABUPATEN/KOTAYANGTERJANGKITPENYAKITDEMAMBERDARAHDENGUE(DBD/DHF)
MENURUTPROVINSITAHUN20052008

No

Provinsi

(1)

(2)

Tahun

Jumlah
Kab/Kota
2005/2006

Jumlah
Kab/Kota
2007

Jumlah
Kab/Kota
2008

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

2005

2006

2007

2008

NanggroeAcehDarussalam

21

23

23

12

57.1

15

71.4

15

65.2

17

73.91

SumateraUtara

25

28

28

17

68.0

19

76.0

20

71.4

22

78.57

SumateraBarat

19

19

19

10

52.6

12

63.2

15

78.9

17

89.47

Riau

11

11

11

11

100.0

11

100.0

11

100.0

10

90.91

Jambi

10

10

10

70.0

10

100.0

80.0

90

SumateraSelatan

14

15

15

64.3

64.3

12

80.0

60

Bengkulu

33.3

77.8

100.0

100

Lampung

10

11

11

10

100.0

10

100.0

10

90.9

10

90.91

KepulauanBangkaBelitung

85.7

71.4

100.0

85.71

10

KepulauanRiau

83.3

50.0

66.7

66.67

11

DKIJakarta

83.3

83.3

100.0

100

12

JawaBarat

25

26

26

25

100.0

25

100.0

25

96.2

26

100

13

JawaTengah

35

35

35

35

100.0

35

100.0

35

100.0

35

100

14

DIYogyakarta

100.0

100.0

100.0

100

15

JawaTimur

38

38

38

38

100.0

38

100.0

38

100.0

38

100

16

Banten

100.0

100.0

85.7

85.71

17

Bali

100.0

100.0

100.0

300

18

NusaTenggaraBarat

100.0

88.9

88.9

88.89

19

NusaTenggaraTimur

16

20

18

43.8

6.3

25.0

27.78

20

KalimantanBarat

12

14

14

58.3

10

83.3

10

71.4

10

71.43

21

KalimantanTengah

14

14

14

42.9

42.9

12

85.7

64.29

22

KalimantanSelatan

13

13

13

13

100.0

12

92.3

13

100.0

13

100

23

KalimantanTimur

13

14

13

12

92.3

13

100.0

13

92.9

13

100

24

SulawesiUtara

13

13

100.0

100.0

69.2

69.23

25

SulawesiTengah

10

10

10

10

100.0

70.0

90.0

90

26

SulawesiSelatan

23

23

23

21

91.3

20

87.0

21

91.3

21

91.30

27

SulawesiTenggara

10

12

12

60.0

50.0

58.3

25

28

Gorontalo

100.0

100.0

83.3

100

29

SulawesiBarat

20.0

40.0

20.0

20

30

Maluku

0.0

0.0

0.0

31

MalukuUtara

37.5

37.5

75.0

50

32

PapuaBarat

33

Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

44.4

22.2

33.3

20

21

21

20.0

15.0

19.0

28.57

440

465

455

330

75.0

330

75.0

361

77.6

355

78.02

Lampiran3.24

JUMLAHPENDERITAFILARIASIS
MENURUTPROVINSITAHUN20032008
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Tahun
2003

2004

2005

2006

2007

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

1,940
52
32
267
134
91
67
73
37

12
156
136
7
167
69
5
62
1,706
156
123
135
282
72
115
154
197
14

57
12

390
6,720

1,940
45
32
267
134
91
71
73
37
27
12
156
136
7
167
119
11
62
1,478
156
118
381
272
72
329
135
197
14

57
12

390
6,998

2,318
91
88
529
273
182
71
73
122
27
12
306
209
7
167
125
11
62
1,478
219
118
381
247
23
376
51
220
82
58
15
12
254
36
8,243

2,359
104
231
532
255
191
94
74
151
31
53
252
224
5
207
67
18
62
1,682
232
202
385
409
30
451
60
181
224
92
70
12
355
1,132
10,427

2008
(8)

2,359
104
274
532
255
191
94
74
207
31
53
265
395
37
238
67
18
69
1,682
244
226
385
409
30
451
60
208
224
92
70
12
985
1,132
11,473

2,359
141
274
532
257
210
94
74
207
31
53
404
395
37
219
91
18
71
1,682
253
225
385
409
30
451
60
208
224
96
70
27
985
1,127
11,699

Lampiran3.25

SITUASILEPTOSPIROSISPADAMANUSIADIINDONESIA
TAHUN20042008

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi
(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
KalimantanTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Keterangan:K=Kasus,M=Meninggal

2004

Tahun
2006

2005

2007

2008

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
78
7
40
20
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
18
0
0
0
0
0
0
0
166

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
6
0
10
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
8
0
0
0
0
0
0
0
25

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
62
0
34
8
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
9
0
0
0
0
0
0
0
114

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
4
0
0
0
0
0
0
0
16

49
0
0
0
0
0
0
0
0
0
51
0
35
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
0
0
138

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
0
0
11

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
470
9
70
3
65
34
0
0
0
0
0
0
0
0
0
16
0
0
0
0
0
0
0
667

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
34
1
8
1
5
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
5
0
0
0
0
0
0
0
57

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
37
0
72
125
29
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
263

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
0
9
1
4
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
16

Lampiran3.26

SITUASIANTRAKSPADAMANUSIADIINDONESIA
TAHUN20042008
Tahun
No

Provinsi

Kab./Kota

2004
Kasus Diobati

(1)

(2)

(3)

1 JawaBarat

2 JawaTengah

3 NusaTenggaraTimur

(4)

(5)

2005
Meninggal
(6)

Kasus Diobati
(7)

(8)

2006
Meninggal
(9)

Kasus Diobati
(10)

(11)

2007
Meninggal
(12)

(13)

Kab.Bogor

69

69

KotaBogor

KotaDepok

Kab.Boyolali

KotaSemarang

Kab.Sikka

28

28

Kab.Ende

14

14

5 Sulawesiselatan

Kab.Sumbawa

6 DKIJakarta

(15)

34

34

13

26

30

30

Kab.Bima

KotaMakasar

15

15

KodyaJakartaSelatan
Jumlah

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

109

109

76

76

15

14

74

69

Kasus Diobati
(16)

18

26

kab.Wajo

(14)

2008
Meninggal

18

Kab.SumbaBarat

4 NusaTenggaraBarat

Kasus Diobati

(17)

Meninggal
(18)

18

18

20

20

Lampiran3.27

SITUASIPESPADAMANUSIADIINDONESIA
TAHUN2008
No

Provinsi

Kabupaten

(1)

(2)

(3)

JumlahSpesiesDiperiksa

HasilSpesiesPositif

SpesiesPool

F.1Umum

F.1Khusus

Human

Rodent

Human

Rodent

Diperiksa

Positip

Rata2/Bln

Rata2/Bln

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

1 NanggroeAcehDarussalam
2 SumateraUtara
3 SumateraBarat
4 Riau
5 Jambi
6 SumateraSelatan
7 Bengkulu
8 Lampung
9 KepulauanBangkaBelitung
10 KepulauanRiau
11 DKIJakarta
12 JawaBarat
13 JawaTengah
14 DIYogyakarta

Sleman

416

15 JawaTimur

Pasuruan

3,034

93

3,450

93

16 Banten
17 Bali
18 NusaTenggaraBarat
19 NusaTenggaraTimur
20 KalimantanBarat
21 KalimantanTengah
22 KalimantanSelatan
23 KalimantanTimur
24 SulawesiUtara
25 SulawesiTengah
26 SulawesiSelatan
27 SulawesiTenggara
28 Gorontalo
29 SulawesiBarat
30 Maluku
31 MalukuUtara
32 PapuaBarat
33 Papua
Jumlah
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Catatan:FleaIndeksUmumBaik<2,FleaIndeksKhususBaik<1

2.11

2.04

Lampiran3.28

JUMLAHDANPRESENTASEKABUPATENTERJANGKITDANJUMLAHKASUSGIGITANHEWANTERTULARRABIES
SERTAHASILPEMERIKSAANSPESIMENHEWANMENURUTPROVINSITAHUN2008
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

JumlahDaerahTertular
Desa

JumlahKabupaten/Kota

Kecamatan Seluruhnya Terjangkit

(3)

(4)

(5)

32
42
211
109
59
36
26
21

22
40
142
22
44
27
13
9

(6)

18
23
18
8
10
12
9
8

GHPR

(7)

(8)

VAR

Lyssa

(9)

(10)

269
2,660
2,374
791
480
883
353
886

248
2,073
1,688
560
382
769
265
466

489

50
325

3
3

2
2

1
1

651
13
12

110
355

68
1
52
81
19
140
40
22
192
121
7
28
13

33
1
26
41
23
78
19
112
82
41
7
5
3

8
1
9
11
9
13
11
12
8
5
2
3
3

3,095

385
165
197
1,917
391
2,554
1,015
238
101
844
187

2,755

256
125
131
534
246
1,070
913
107
85
650
181

1,334

802

205

20,926

14,377

JumlahKS

JumlahSpesiesHewan
Diperiksa

Positif

(11)

(12)

7
7
1

2
4
10

4
291
79
41

44

10
1
84
30
83

18
327

3
4

14
5
16
5
1
1
3
7

104

1,024

Lampiran3.29

KASUSPENYAKITDAPATDICEGAHDENGANIMUNISASI
MENURUTPROVINSITAHUN2008
JumlahKasus
No

(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Campak*

Provinsi

(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009
Keterangan:*LaporanSurvellansAFPdanPD3I
**LaporanSurvellansTerpaduPenyakit

Rutin

KLB

TN*

Vaksinasi

Total

Frekuensi

Total

(3)

(4)

(5)

(6)

119
143
147
86
31
232
31
312
22
58
0
0
610
136
407
36
15
2
17
97
86
103
7
25
87
202
0
78
0
0
54
3
16
3,162

596
542
426
475
119
767
49
707
45
448
511
3,424
1,001
171
735
1,552
61
2
22
483
188
217
24
77
283
711
41
162
5
0
184
28
70
14,126

FrekuensiKLB
CampakDalam

Difteri*

9
30
0
3
11
0
0
2
2
1
0
11
5
1
0
4
0
0
0
1
0
2
0
3
1
2
0
1
0
1
6
0
0
96

165
567
0
15
52
0
0
42
6
9
0
119
46
5
0
38
0
0
0
14
0
40
0
51
126
18
0
18
0
4
152
0
0
1,487

(7)

2
0
4
9
0
17
0
9
3
0
0
41
7
0
17
50
1
2
0
2
0
3
0
0
7
4
3
1
0
0
0
0
1
183

Vaksinasi

Total

(8)

(9)

0
0
5
0
0
19
0
1
1
0
0
0
9
1
35
0
0
0
0
0
1
2
0
0
0
2
1
0
0
0
0
0
6
83

Pertusis**

2BulanTerakhir*
Des.08

(10)

0
2
9
0
0
61
0
3
0
0
3
33
13
1
63
5
0
0
0
0
5
2
0
0
0
6
1
0
0
0
0
0
12
219

HepatitisB**
(11)

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Jan.09

(12)

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(13)

0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
2
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
2
0
0
8

Lampiran3.30
JUMLAHKASUSHEPATITISC
TAHUN2008

No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Usia
09

1019

2029

3039

4049

5059

6069

7079

8089

9099

>99

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

0
1
0
0
0

0
2
1
3
1
1
0
1
0

1
3
7
0
7

1
54
21
28
4
26
0
4
0

48
17
41
3
72

11

16
1,060
294
92
30
176
27
190
11

93

45
16
22
2
79

26

14
823
251
114
14
144
26
199
5

51

17
5
8
0
38

5
337
185
83
8
99
15
71
2

18

51
3
2
1
19

3
277
98
50
10
96
8
53
2

39
2
0
0
8

0
158
57
30
10
41
6
37
1

10

27
0
0
2
3

0
80
41
17
10
34
3
16
0

5
0
1
0
0

0
8
12
1
4
3
0
4
0

0
0
0
0
0

0
11
0
0
0
1
0
1
0

0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0

1
2
2

2
11
29

5
4
28

4
5
16

2
2
17

0
0
15

0
0
4

0
0
0

0
0
0

0
0
0

15

251

31

124

13

36

10

42

59

30

11

13

190

2,505

2,005

963

749

473

273

51

13

Lampiran3.31
PERSENTASEBALITAMENURUTSTATUSGIZI(BB/U)*PERPROVINSI
TAHUN2007

No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

*)BB/U=BeratBadanmenurutUmur
Sumber:Riskesdastahun2007

KategoriStatusGiziBB/U
GiziBuruk

GiziKurang

GiziBaik

(3)

(4)

(5)

GiziLebih
(6)

10.7
8.4
5.9
7.5
6.3
6.5
4.8
5.7
4.6
3.0
2.9
3.7
4.0
2.4
4.8
4.4
3.2
8.1
9.4
8.5
8.1
8.4
6.2
4.3
8.9
5.1
6.8
8.2
10.0
9.3
6.7
6.8
6.6
5.4

15.8
14.3
14.3
13.9
12.6
11.7
11.9
11.8
13.7
9.4
10.0
11.3
12.0
8.5
12.6
12.2
8.2
16.7
24.2
14.0
16.1
18.2
13.1
11.5
18.7
12.5
15.9
17.2
15.4
18.5
16.1
16.4
14.6
13.0

69.3
72.7
77.0
73.3
75.8
75.0
77.2
78.3
76.4
81.5
80.6
81.5
80.4
85.0
78.0
79.9
83.9
71.4
64.4
72.5
72.1
70.4
75.3
80.7
69.4
73.1
73.6
71.3
72.1
67.3
74.3
74.2
73.4
77.2

4.2
4.5
2.8
5.3
5.3
6.7
6.0
4.2
5.4
6.1
6.5
3.5
3.6
4.0
4.5
3.4
4.7
3.7
2.0
5.0
3.6
3.0
5.4
3.6
3.0
9.3
3.6
3.3
2.4
4.9
3.0
2.7
5.3
4.3

Lampiran3.32

PERSENTASEBALITAMENURUTSTATUSGIZI(TB/U)*PERPROVINSI
TAHUN2007
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

*)TB/U=TinggiBadanmenurutUmur
Sumber:Riskesdastahun2007

KategoriStatusGiziTB/U
SangatPendek

Pendek

(3)

(4)

Normal
(5)

26.9
25.2
17.1
18.0
20.1
28.1
20.0
22.6
18.1
13.4
13.7
15.7
17.8
11.5
17.4
20.6
16.0
23.8
24.2
20.9
23.5
20.9
17.9
14.6
19.8
13.9
21.6
19.7
27.1
25.9
25.4
19.7
20.2
18.8

17.7
17.9
19.4
15.0
16.3
16.6
16.0
16.1
17.5
12.7
13.0
19.7
18.6
16.1
17.4
18.3
15.0
19.9
22.5
18.3
19.3
20.9
17.3
16.6
20.5
15.2
18.9
20.2
17.4
19.9
14.8
19.7
17.4
18.0

55.4
56.9
63.5
67.0
63.6
55.3
64.0
61.3
64.5
73.8
73.3
64.5
63.5
72.3
65.2
61.0
69.0
56.3
53.2
60.7
57.3
58.2
64.8
68.8
59.6
70.9
59.5
60.1
55.5
54.2
59.8
60.6
62.3
63.2

Lampiran3.33
PERSENTASEBALITAMENURUTSTATUSGIZI(BB/TB)*PERPROVINSI
TAHUN2007

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

KategoriStatusGiziBB/TB

Provinsi
(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

*)BB/TB=BeratBadanmenurutTinggi
Sumber:Riskesdastahun2007

SangatKurus

Kurus

Normal

(3)

(4)

(5)

Gemuk
(6)

9.2
9.1
7.6
12.2
10.6
7.9
7.3
7.3
4.8
5.4
8.6
3.6
4.7
3.8
5.8
6.6
4.4
7.9
9.5
8.1
8.2
7.8
7.2
3.9
6.5
5.7
5.4
8.3
8.7
7.5
3.8
6.5
5.4

9.1
7.9
7.7
9.9
8.6
7.9
6.9
6.4
6.0
8.1
8.4
5.4
7.1
5.2
7.9
7.5
5.6
7.6
10.5
9.3
8.7
8.5
8.7
6.3
9.0
8.0
9.2
8.4
8.1
9.7
11.1
9.9
7.0

66.5
66.6
74.8
62.6
66.4
63.4
71.4
70.2
78.5
76.2
70.9
81.3
76.8
78.5
73.8
70.3
76.9
71.6
73.0
68.7
69.7
73.8
69.8
78.9
77.0
75.9
74.9
76.6
70.8
68.4
72.3
75.0
77.1

15.2
16.2
9.9
15.3
14.4
20.9
14.4
16.1
10.7
10.3
12.2
9.6
11.4
12.5
12.5
15.6
13.1
12.9
7.0
13.9
13.5
9.9
14.2
10.9
7.5
10.4
10.4
6.8
12.4
14.5
12.8
8.6
10.5

6.2

7.4

74.1

12.2

Lampiran3.34

PREVALENSIKURUSDANBERATBADANLEBIHANAKUMUR614TAHUNMENURUTJENISKELAMIN
PERPROVINSITAHUN2007

No

Provinsi

(1)

(2)

Lakilaki

Perempuan

Kurus

BBLebih

Kurus

(3)

(4)

(5)

BBLebih
(6)

12.40

12.00

NanggroeAcehDarussalam

14.20

13.80

SumateraUtara

12.40

14.90

9.70

11.80

SumateraBarat

13.70

6.40

10.50

5.10

Riau

15.40

15.10

13.90

9.20

Jambi

13.40

12.00

13.70

7.50

SumateraSelatan

14.90

16.00

13.80

11.00

Bengkulu

11.00

14.20

8.70

8.50

Lampung

12.60

11.60

11.10

8.30

KepulauanBangkaBelitung

10.50

9.70

9.30

6.50

10

KepulauanRiau

12.20

10.30

10.00

9.50

11

DKIJakarta

14.90

12.00

10.60

8.40

12

JawaBarat

10.90

7.40

8.30

4.60

13

JawaTengah

13.40

6.60

11.30

4.60

14

DIYogyakarta

12.30

7.60

9.70

4.80

15

JawaTimur

12.60

11.10

10.80

6.50

16

Banten

15.90

9.10

14.30

6.10

17

Bali

8.30

11.80

6.90

8.50

18

NusaTenggaraBarat

17.10

9.30

10.70

6.30

19

NusaTenggaraTimur

23.10

4.60

19.10

3.20

20

KalimantanBarat

17.40

10.40

11.80

6.80

21

KalimantanTengah

16.90

9.70

15.20

6.30

22

KalimantanSelatan

15.80

7.60

13.80

4.80

23

KalimantanTimur

12.70

11.40

10.70

8.00

24

SulawesiUtara

9.60

9.20

7.40

8.00

25

SulawesiTengah

12.20

5.60

9.80

4.00

26

SulawesiSelatan

15.50

7.40

13.40

4.80

27

SulawesiTenggara

14.50

6.20

11.50

4.50

28

Gorontalo

13.10

6.10

10.40

3.50

29

SulawesiBarat

12.20

7.50

11.90

6.20

30

Maluku

18.40

7.80

12.90

6.80

31

MalukuUtara

13.20

10.00

10.70

6.10

32

PapuaBarat

12.80

6.20

9.20

4.20

33

Papua

10.90

12.70

7.40

9.80

13.30

9.50

10.90

6.40

Indonesia
Sumber:Riskesdastahun2007

Lampiran3.35

PERSENTASESTATUSGIZIPENDUDUKDEWASA(15TAHUNKEATAS)MENURUTINDEKSMASSATUBUH(IMT)PERPROVINSI
TAHUN2007
KategoriIndeksMassaTubuh(IMT)
No

Provinsi

(1)

(2)

Kurus

Normal

BBLebih

(3)

(4)

(5)

Obese
(6)

13.60

69.80

7.90

8.70

NanggroeAcehDarussalam

SumateraUtara

9.30

69.90

10.70

10.20

SumateraBarat

15.90

67.80

7.90

8.40

Riau

12.10

69.30

9.30

9.40

Jambi

15.20

70.10

7.10

7.60

SumateraSelatan

14.90

73.60

6.50

4.90

Bengkulu

12.30

72.50

7.40

7.80

Lampung

14.70

70.30

7.70

7.30

KepulauanBangkaBelitung

11.70

66.20

10.40

11.80

10

KepulauanRiau

9.70

67.50

11.20

11.60

11

DKIJakarta

12.50

60.60

11.90

15.00

12

JawaBarat

14.60

63.30

9.30

12.80

13

JawaTengah

17.00

65.90

8.00

9.00

14

DIYogyakarta

17.60

63.70

8.50

10.20

15

JawaTimur

15.10

64.50

9.10

11.30

16

Banten

16.40

67.00

8.10

8.50

17

Bali

11.80

68.80

9.40

10.00

18

NusaTenggaraBarat

17.90

68.20

6.70

7.10

19

NusaTenggaraTimur

23.10

66.70

5.10

5.10

20

KalimantanBarat

16.00

71.00

6.60

6.40

21

KalimantanTengah

14.00

70.80

7.50

7.70

22

KalimantanSelatan

18.90

64.40

7.80

8.90

23

KalimantanTimur

9.80

66.70

11.60

11.90

24

SulawesiUtara

6.50

60.30

14.10

19.10

25

SulawesiTengah

12.60

66.70

9.20

11.50

26

SulawesiSelatan

16.50

67.20

7.90

8.40

27

SulawesiTenggara

13.70

71.20

7.20

7.90

28

Gorontalo

11.40

62.30

11.20

15.10

29

SulawesiBarat

13.60

72.10

7.30

7.00

30

Maluku

15.00

68.40

7.20

9.40

31

MalukuUtara

10.60

64.90

10.10

14.30

32

PapuaBarat

12.80

64.20

9.60

13.40

33

Papua

10.20

67.50

9.70

12.70

14.80

66.10

8.80

10.30

Indonesia
Sumber:Riskesdastahun2007

Lampiran3.36

PREVALENSIRISIKOKEKPENDUDUKWANITAUMUR1545TAHUN
MENURUTPROVINSITAHUN2007
No

Provinsi

RisikoKEK(%)

No

Provinsi

RisikoKEK(%)

(1)

(2)

(3)

(1)

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam

12.30

18

NusaTenggaraBarat

12.40

SumateraUtara

7.90

19

NusaTenggaraTimur

24.60

SumateraBarat

10.80

20

KalimantanBarat

10.80

Riau

10.10

21

KalimantanTengah

12.20

Jambi

9.40

22

KalimantanSelatan

14.00

SumateraSelatan

12.10

23

KalimantanTimur

11.20

Bengkulu

8.20

24

SulawesiUtara

5.80

Lampung

10.90

25

SulawesiTengah

10.90

KepulauanBangkaBelitung

8.40

26

SulawesiSelatan

12.50

10

KepulauanRiau

9.30

27

SulawesiTenggara

14.50

11

DKIJakarta

16.60

28

Gorontalo

9.00

12

JawaBarat

12.00

29

SulawesiBarat

12.50

13

JawaTengah

17.20

30

Maluku

15.10

14

DIYogyakarta

20.20

31

MalukuUtara

11.10

15

JawaTimur

15.90

32

PapuaBarat

19.60

16

Banten

12.60

33

Papua

23.10

17

Bali

8.60
Indonesia

Sumber:Riskesdastahun2007

13.60

Lampiran3.37

PERSENTASEBERATBADANBAYIBARULAHIR12BULANTERAKHIR
MENURUTPROVINSITAHUN2007
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
Kep.BangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Jumlah

Sumber:RiskesdasIndonesiaTahun2007

<2.500

Beratbadanbayilahir(gram)
2.5003.999

>=4.000

(3)

(4)

(5)

11.5
8.5
8.3
7.6
7.5
19.5
8.9
10.3
13.5
8.0
10.6
11.8
9.8
14.9
10.2
17.5
5.8
12.8
20.3
16.6
16.2
12.4
11.5
7.9
15.7
14.5
11.1
8.6
7.2
15.7
10.3
23.8
27.0
11.5

82.7
83.8
82.3
84.9
84.1
77.3
83.6
83.4
80.7
88.9
86.4
80.9
84.5
85.1
85.6
78.8
88.1
75.5
74.0
80.6
80.8
82.0
84.0
83.5
75.3
77.1
78.7
69.9
83.1
74.5
87.2
71.4
67.8
82.2

5.8
7.7
9.4
7.6
8.4
3.2
7.5
6.3
5.8
3.0
3.0
7.3
5.7
0.0
4.2
3.7
6.2
11.7
5.7
2.8
2.9
5.5
4.5
8.7
9.1
8.4
10.2
21.5
9.6
9.8
2.6
4.8
5.2
6.3

Lampiran3.38

PREVALENSIFRAMBUSIAMENURUTPROVINSI
TAHUN2008
No

Provinsi

Populasi2008

(1)

(2)

(3)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
Papua
PapuaBarat
Indonesia

Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

4,363,500
12,914,600
4,555,800
4813653
2,784,271
7,019,964
1,753,716
7,804,587
1,106,657

2008

Notes

Total

Infectious

NonInfectious

(4)

(5)

District
(6)

(7)

0
0
0

0
0
0

0
0
0

23
28
7

15

10

3,320,715
4,257,306
4,387,146

17
6
0
0
2245

2
0
0
0
1950

19
6
0
0
4195

7
1
9
9
20

2,936,388
3,287,185
2,419,815

16

22

38

2,143,000
1,629,000

25

27

9,551,402

795

237

1032

2,213,997
748,159
124,877,655

385

222

607

3,430,640
37,436,154

3,466

2,460

5,926

150

Lampiran3.39

RAWATJALANJEMAAHHAJIDIARABSAUDI
KONDISIKESEHATANTAHUN20062008

No

KondisiKesehatan
JemaahHaji

(1)

(2)

NonRisikoTinggi

RisikoTinggi

Jumlah
Sumber:SiskohatKesehatan,2008

2006

2007

2008

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

150,476

73.3

126,181

65.2

125,396

65

54,709

26.7

68,416

34.8

68,714

35

205,185

100

191,822

100

194,110

100

Lampiran3.40

JUMLAHHAJIINDONESIA
POLAPENYAKITPEMERIKSAANKESEHATANDIEMBARKASITAHUN20062008

No

Penyakit

(1)

(2)

2006

2007

2008

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Kardiovaskuler

27,389

25.4

1,515

20

2,269

22.9

SaluranPernapasan

31,517

29.3

1,444

19.1

1,967

19.8

2,401

2.2

1,224

16.2

1,165

11.8

11 Lainlain
3

SaluranPencernaan

17,995

16.7

1,219

16.1

1,671

16.9

Otot&Tulang

15,525

14.4

881

11.6

1,396

14.1

GangguanLainya

603

87

0.9

Kulit,Subkutan

5,070

4.7

300

404

4.1

Endokrin

5,680

5.3

275

3.6

829

8.4

Salurankemih

1,180

1.1

64

0.8

100

1.0

10 Kebidanan/kandungan

152

0.1

30

0.4

10

0.1

597

0.6

15

0.2

15

0.6

107,506

100

7,570

100

9,913

100

Neuropsikiatri
Jumlah

Sumber:LaporanPPIHBidangKesehatandiEmbarkasiHaji,2009

Lampiran3.41

RAWATJALANJEMAAHHAJIDIARABSAUDI
BERDASARKANPOLAPENYAKITTAHUN20062008
2006

2007

2008

No

Penyakit

(1)

(2)

SaluranPernapasan

141,447

61.5

143,505

67.2

116.467

58.2

SaluranPencernaan

22,209

9.7

18,945

8.9

20,268

10.1

Otot&Tulang

25,836

11.2

28,904

13.5

24,295

12.2

PenyakitParu

Kardiovaskuler

21,984

9.6

23,544

11

22,921

11.5

a.PenyakitKulit

14,010

6.1

10,000

4.7

8,953

4.5

b.PenyakitGigi&Mulut

150

0.1

c.PenyakitMataLainya

1,387

0.6

4,432

2.1

923

0.5

d.PenyakitSaluranAirseni

1,774

0.8

1,980

0.9

1,159

0.6

20

969

0.4

796

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

e.PenyakitKebidanan&Kandungan
f.Trauma/Fraktur

0.4

874

0.4

HeatStroke

Udaradingin

KelainanJiwa

237

0.1

637

0.3

264

0.1

10 Operasikescil

11 Lainlain

11,148

5.2

3,853

1.9

229,856

100

244,061

100

199,997

100

Jumlah
Sumber:LaporanPPIHBidangKesehatandiEmbarkasiHaji,2009

Lampiran3.42

SEBABJEMAAHHAJIWAFATDIARABSAUDI
BERDASARKANPOLAPENYAKITTAHUN20062008

No

Penyakit

(1)

(2)

PenyakitMenular

2006

2007

2008

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gangguankardiovaskuler/
pembuluhdarahp.parusalurannapas

367

56.7

252

54.5

292

65.5

Nifas

191

29.5

148

32

126

28.3

Saluranpencernaan

12

1.9

0.4

Neurologi

31

6.7

1.3

Neoplasma

1.4

11

2.4

1.3

Endokrin/Metabolik

17

2.6

0.2

0.4

DarahOrganpembentuk

17

2.6

Trauma/Injuris

1.1

0.2

0.9

10 Salurankemih

0.8

14

11 Infeksidanparasit

0.8

0.4

12 Otot/tulang

0.2

13 Kelainanmental

0.2

15

2.3

0.9

1.3

647

100

462

100

446

100

14 Lainlain
Jumlah
Sumber:LaporanPPIHBidangKesehatandiEmbarkasiHaji,2009

Lampiran3.43

JEMAAHHAJIINDONESIABERDASARKANJUMLAHWAFATPER1.000JEMAAH(RATEWAFAT)
TAHUN2008
JenisKelamin

No

Golongan
Umur

Lakilaki

Perempuan

(1)

(2)

(3)

<40

Total

Rate/1.000

(4)

(5)

(6)

4049

16

25

0.3

5059

49

39

88

1.55

6069

107

59

166

5.05

70+

104

60

164

13.7

TOTAL

277

169

446

Rate/1000

262

190

Sumber:SiskohatKesehatan,2008

Lampiran4.1

CAKUPANKUNJUNGANIBUHAMILK1DANK4PERSALINANDITOLONGTENAGAKESEHATANDANKUNJUNGANNEONATUS
MENURUTPROVINSITAHUN2008
IbuHamil
No

Provinsi

(1)

(2)

Jumlah

K1

(3)

(4)

IbuBersalin
K4

%K1
(5)

Jumlah

%K4

(6)

(7)

(8)

%KN2
DitolongNakes %DitolongNakes
(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

112,202

96,524

86.03

88,161

78.57

106,201

89,913

84.66

75.07

SumateraUtara

325,745

316,548

97.18

307,943

94.53

305,372

259,947

85.12

74.10

SumateraBarat

116,707

105,101

90.06

99,808

85.52

111,323

93,012

83.55

83.60

Riau

143,234

134,439

93.86

122,494

85.52

136,530

105,086

76.97

80.97

Jambi

74,754

68,910

92.18

62,500

83.61

69,985

60,125

85.91

80.59

SumateraSelatan

182,523

177,376

97.18

152,604

83.61

175,506

152,532

86.91

83.61

Bengkulu

48,177

42,872

88.99

38,728

80.39

46,010

35,247

76.61

77.85

Lampung

185,853

171,555

92.31

157,043

84.50

177,405

139,516

78.64

79.01

KepulauanBangkaBelitung

27,785

26,050

93.76

24,103

86.75

26,525

22,517

84.89

91.77

10

KepulauanRiau

42,074

38,279

90.98

33,345

79.25

39,325

36,441

92.67

85.46

11

DKIJakarta

209,790

209,790

100.00

200,935

95.78

201,090

175,431

87.24

92.75

12

JawaBarat

1,033,581

915,029

88.53

989,953

95.78

986,603

701,277

71.08

80.68

13

JawaTengah

623,232

564,806

90.63

540,165

86.67

593,950

502,079

84.53

94.45

14

DIYogyakarta

48,519

48,173

99.29

45,506

93.79

47,068

44,456

94.45

111.47

15

JawaTimur

675,241

97.51

557,313

82.54

620,045

557,807

89.96

90.13

16

Banten

248,029

237,195

95.63

187,773

75.71

224,605

161,030

71.69

81.11

17

Bali

66,174

63,858

96.50

62,059

93.78

63,219

61,775

97.72

97.63

18

NusaTenggaraBarat

111,957

110,260

98.48

104,994

93.78

107,131

90,172

84.17

86.52

19

NusaTenggaraTimur

127,661

113,417

88.84

114,262

89.50

121,854

94,546

77.59

80.03

20

KalimantanBarat

106,815

98,029

91.77

72,413

67.79

101,891

76,913

75.49

76.75

21

KalimantanTengah

58,006

51,428

88.66

48,867

84.24

53,856

40,055

74.37

78.45

22

KalimantanSelatan

81,696

74,375

91.04

63,652

77.91

77,564

63,705

82.13

86.44

23

KalimantanTimur

81,649

76,962

94.26

63,615

77.91

77,135

58,021

75.22

82.43

24

SulawesiUtara

50,912

45,589

89.54

38,313

75.25

47,186

34,695

73.53

58.64

25

SulawesiTengah

59,902

50,885

84.95

43,993

73.44

59,641

47,316

79.33

83.28

26

SulawesiSelatan

174,766

171,935

98.38

145,443

83.22

183,803

138,995

75.62

73.39

27

SulawesiTenggara

44,985

37,378

83.09

33,840

75.23

44,757

34,102

76.19

74.89

28

Gorontalo

26,694

23,933

89.66

22,035

82.55

25,413

22,117

87.03

75.40

29

SulawesiBarat

27,798

23,768

85.50

65.57

53.23

30

Maluku

36,287

32,488

89.53

23,231

64.02

34,437

23,813

69.15

68.33

31

MalukuUtara

24,634

20,580

83.54

16,793

68.17

23,608

13,848

58.66

65.60

32

PapuaBarat

17,141

9,834

60.10

37.76

33

Papua

45,928

19,935

45.47

33.79

80.08

78.04

Indonesia
Sumber:Dit.KesehatanIbu,DitjenBinkesmas,DepkesRI

5,240,451

658,394

12,766
36,692
4,855,384

74.48
79.89
92.65

17,796

11,685
17,664
4,509,029

64.02

68.17
38.46
86.04

19,255

16,362
43,840
4,968,495

12,625

3,978,883

Lampiran4.2

PERSENTASEBALITAMENURUTPENOLONGKELAHIRANPERTAMADANPROVINSI
TAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
Penolongkelahiranpertama
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

Dokter

Bidan

(3)

(4)

TenagaMedisLain
(5)

Dukun

Famili

Lainnya

(6)

(7)

(8)

Jumlah
(9)

8.96

69.04

0.44

19.97

1.45

0.13

100

SumateraUtara

10.26

73.15

0.53

12.28

3.33

0.45

100

SumateraBarat

14.66

70.46

0.51

13.57

0.55

0.14

100

Riau

14.28

59.60

0.26

23.29

2.36

0.21

100

Jambi

9.63

51.39

0.19

37.01

1.51

0.24

100

SumateraSelatan

11.93

57.09

0.34

29.92

0.63

0.10

100

Bengkulu

9.34

65.71

0.08

23.02

1.53

0.29

100

Lampung

7.58

60.44

0.44

29.79

1.32

0.26

100

KepulauanBangkaBelitung

9.87

61.21

1.04

25.78

1.85

0.26

100

10

KepulauanRiau

23.50

61.32

0.38

12.75

1.87

0.15

100

11

DKIJakarta

31.58

64.89

0.00

3.00

0.30

0.24

100

12

JawaBarat

11.70

48.48

0.33

38.81

0.56

0.12

100

13

JawaTengah

14.52

63.44

0.29

21.14

0.52

0.07

100

14

DIYogyakarta

36.53

58.72

0.56

3.83

0.36

15

JawaTimur

13.89

67.76

0.19

17.28

0.55

0.30

100

16

Banten

14.35

45.19

0.07

39.81

0.49

0.09

100

17

Bali

32.41

62.48

0.40

3.38

1.18

0.07

100

18

NusaTenggaraBarat

6.99

51.68

0.58

38.01

2.54

0.04

100

19

NusaTenggaraTimur

6.17

31.74

1.39

45.96

14.03

0.65

100

20

KalimantanBarat

5.88

45.62

0.76

44.27

2.95

0.40

100

21

KalimantanTengah

4.75

46.81

0.79

46.42

0.84

0.36

100

22

KalimantanSelatan

9.17

58.37

0.39

30.67

1.01

0.40

100

23

KalimantanTimur

17.38

59.01

1.35

18.36

3.69

0.18

100

24

SulawesiUtara

29.73

47.26

1.39

19.74

1.67

0.19

100

25

SulawesiTengah

8.74

34.99

1.00

48.28

6.48

0.47

100

26

SulawesiSelatan

10.87

46.14

0.57

34.35

7.57

0.42

100

27

SulawesiTenggara

4.68

32.62

0.36

57.20

4.90

0.22

100

28

Gorontalo

8.14

28.42

0.87

57.13

5.21

0.24

100

29

SulawesiBarat

2.02

22.06

0.63

67.34

7.28

0.62

100

30

Maluku

7.33

33.42

0.28

57.41

1.31

0.25

100

31

MalukuUtara

7.39

21.51

0.98

58.07

11.43

0.61

100

32

PapuaBarat

8.04

48.55

2.62

24.08

15.72

0.82

100

33

Papua

8.38

31.20

3.66

17.27

38.27

1.16

100

13.11

56.18

0.45

27.64

2.35

0.24

100

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

100

Lampiran4.2.a

PERSENTASEBALITAMENURUTPENOLONGKELAHIRANPERTAMADANPROVINSI
TAHUN2008
Perkotaan
Penolongkelahiranpertama
No

Provinsi

(1)

(2)

Dokter

Bidan

(3)

(4)

TenagaMedis
Lain

Dukun

Famili

(5)

(6)

(7)

Lainnya

Jumlah

(8)

(9)

NanggroeAcehDarussalam

15.86

78.88

0.42

3.84

0.99

100

SumateraUtara

16.53

81.07

0.20

1.71

0.37

0.12

100

SumateraBarat

25.60

71.37

0.44

2.27

0.05

0.08

100

Riau

20.64

66.95

0.16

8.97

3.02

0.25

100

Jambi

16.05

67.51

0.00

13.89

2.36

0.20

100

SumateraSelatan

24.23

67.16

0.29

7.63

0.62

0.06

100

Bengkulu

15.46

80.97

0.00

3.00

0.57

100

Lampung

11.83

78.02

0.03

9.44

0.34

0.19

100

KepulauanBangkaBelitung

14.53

74.62

1.96

7.01

1.88

100

10

KepulauanRiau

30.17

64.39

0.13

4.31

0.96

100

11

DKIJakarta

31.58

64.89

0.00

3.00

0.30

0.24

100

12

JawaBarat

16.51

58.34

0.44

23.99

0.63

0.10

100

13

JawaTengah

19.43

68.59

0.26

11.24

0.47

0.01

100

14

DIYogyakarta

45.73

51.21

0.47

2.32

0.27

100

15

JawaTimur

19.66

71.57

0.21

8.19

0.19

0.19

100

16

Banten

21.71

61.36

0.02

16.64

0.27

100

17

Bali

39.47

57.59

0.53

1.89

0.42

100

18

NusaTenggaraBarat

10.88

62.02

0.65

25.66

0.79

100

19

NusaTenggaraTimur

19.86

52.54

2.02

20.35

4.43

0.79

100

20

KalimantanBarat

12.75

70.34

0.54

14.34

1.75

0.12

100

21

KalimantanTengah

10.77

65.28

0.66

23.11

0.18

100

22

KalimantanSelatan

15.58

70.51

0.29

12.21

0.80

0.62

100

23

KalimantanTimur

22.68

64.16

0.57

9.63

2.76

0.16

100

24

SulawesiUtara

42.12

46.40

0.73

8.94

1.80

100

25

SulawesiTengah

24.76

50.10

1.02

21.86

2.27

100

26

SulawesiSelatan

22.40

59.41

0.45

15.35

2.34

0.05

100

27

SulawesiTenggara

12.51

57.35

0.63

26.76

2.75

100

28

Gorontalo

15.17

42.99

2.60

35.46

3.78

100

29

SulawesiBarat

2.88

38.98

0.53

56.28

1.33

100

30

Maluku

20.12

43.80

0.60

34.80

0.34

0.34

100

31

MalukuUtara

19.61

39.63

1.10

27.46

12.19

100

32

PapuaBarat

18.05

60.44

4.37

8.95

6.47

0.91

100

33

Papua

19.89

62.65

6.19

4.93

5.93

0.19

100

20.51

65.25

0.36

12.94

0.81

0.12

100

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran4.2.b

PERSENTASEBALITAMENURUTPENOLONGKELAHIRANPERTAMADANPROVINSI
TAHUN2008
Perdesaan
Penolongwaktulahir
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:BPS,Susenas2008

Dokter

Bidan

(3)

(4)

TenagaMedisLain
(5)

Dukun

Famili

Lainnya

Jumlah

(6)

(7)

(8)

(9)

6.18
5.61
9.54
7.35
6.35
4.43
5.98
6.07
6.23
14.75

4.67
9.93
19.52
8.07
3.38
21.36
4.25
3.72
3.17
1.66
4.58
8.26
19.99
5.03
5.32
2.58
4.86
1.69
3.35
3.51
5.20
4.67

65.06
67.28
70.03
51.58
43.17
50.96
57.34
54.19
50.72
57.29

34.03
58.64
72.61
63.91
21.12
70.15
44.40
28.04
35.90
37.30
49.67
50.15
47.95
31.49
39.75
25.98
21.64
15.66
30.18
15.76
45.17
21.08

0.45
0.77
0.54
0.37
0.28
0.37
0.12
0.58
0.32
0.70

0.17
0.31
0.72
0.18
0.14
0.20
0.52
1.28
0.85
0.86
0.45
2.69
1.90
1.00
0.63
0.28
0.06
0.66
0.18
0.94
2.13
2.85

26.48
20.12
18.86
38.90
48.80
43.48
34.00
37.03
40.44
23.84

60.52
30.38
6.64
26.45
74.32
5.72
46.72
50.52
56.05
58.42
43.89
33.40
28.22
54.42
43.50
65.37
67.21
71.52
64.46
67.80
28.38
21.24

1.63
5.52
0.79
1.64
1.07
0.63
2.06
1.67
1.83
3.07

0.46
0.56
0.52
0.91
0.81
2.38
3.77
15.74
3.42
1.17
1.15
5.29
1.56
7.46
10.09
5.48
5.87
9.53
1.61
11.19
18.34
48.67

0.18
0.70
0.17
0.16
0.26
0.12
0.44
0.28
0.46
0.34

0.15
0.13
0.00
0.41
0.23
0.19
0.08
0.62
0.52
0.54
0.25
0.21
0.34
0.58
0.59
0.28
0.35
0.85
0.22
0.80
0.79
1.47

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100

6.46

48.02

0.53

40.86

3.74

0.34

100

Lampiran4.3

PERSENTASEBALITAMENURUTPENOLONGKELAHIRANTERAKHIRDANPROVINSI
TAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
Penolongwaktulahir
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

Dokter

Bidan

(3)

(4)

TenagaMedisLain
(5)

Dukun

Famili

Lainnya

(6)

(7)

(8)

Jumlah
(9)

9.38

73.09

0.61

16.03

0.72

0.17

100

SumateraUtara

11.38

74.31

0.77

10.37

2.69

0.48

100

SumateraBarat

17.03

70.36

0.76

11.22

0.32

0.19

100

Riau

15.62

63.60

0.54

19.04

0.95

0.25

100

Jambi

9.85

58.63

0.73

29.44

1.00

0.30

100

SumateraSelatan

14.16

61.66

0.61

23.09

0.43

0.06

100

Bengkulu

11.16

69.56

0.40

17.35

1.38

0.12

100

Lampung

9.46

63.58

1.14

24.48

0.78

0.34

100

KepulauanBangkaBelitung

11.90

67.50

0.51

19.86

0.23

10

KepulauanRiau

27.78

62.42

1.32

8.35

0.10

0.04

100

11

DKIJakarta

34.55

62.19

0.38

2.53

0.30

0.06

100

12

JawaBarat

13.17

52.05

0.51

33.70

0.40

0.14

100

13

JawaTengah

17.02

67.62

0.24

14.79

0.22

0.07

100

14

DIYogyakarta

33.20

63.55

0.24

2.65

0.36

15

JawaTimur

16.27

67.36

0.40

15.22

0.50

0.20

100

16

Banten

15.71

47.64

0.19

35.74

0.58

0.14

100

17

Bali

32.66

63.00

0.56

2.83

0.81

0.07

100

18

NusaTenggaraBarat

7.31

58.99

0.74

31.57

1.18

0.05

100

19

NusaTenggaraTimur

7.13

37.43

1.49

41.58

11.66

0.64

100

20

KalimantanBarat

7.30

51.93

1.91

35.84

2.47

0.44

100

21

KalimantanTengah

5.77

51.32

1.95

38.38

1.81

0.33

100

22

KalimantanSelatan

11.11

63.92

0.73

22.75

1.23

0.22

100

23

KalimantanTimur

18.12

62.10

1.73

16.08

1.82

0.13

100

24

SulawesiUtara

29.12

50.98

2.10

15.17

2.19

0.33

100

25

SulawesiTengah

10.09

46.63

1.65

36.29

4.96

0.35

100

26

SulawesiSelatan

11.54

51.31

0.64

31.71

4.27

0.44

100

27

SulawesiTenggara

6.26

45.66

0.87

44.25

2.81

0.14

100

28

Gorontalo

11.12

46.75

1.44

37.00

3.60

0.10

100

29

SulawesiBarat

2.87

35.70

1.12

54.16

5.38

0.63

100

30

Maluku

8.04

36.25

0.46

53.73

1.28

0.25

100

31

MalukuUtara

10.16

26.09

0.68

59.11

3.44

0.53

100

32

PapuaBarat

7.18

51.28

2.31

20.12

17.71

1.09

100

33

Papua

9.28

32.96

4.63

16.15

35.70

1.22

100

14.72

59.45

0.69

23.09

1.77

0.22

100

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

100

100

Lampiran4.3.a

PERSENTASEBALITAMENURUTPENOLONGKELAHIRANTERAKHIRDANPROVINSI
TAHUN2008
Perkotaan
Penolongwaktulahir
No

Provinsi

(1)

(2)

Dokter

Bidan

TenagaMedisLain

Dukun

Famili

Lainnya

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

NanggroeAcehDarussalam

16.32

80.12

0.56

2.97

0.02

SumateraUtara

17.83

79.36

0.26

2.11

0.32

0.12

100

SumateraBarat

28.42

69.01

0.55

1.71

0.08

0.04

100

Riau

22.38

70.05

0.40

6.54

0.38

0.25

100

Jambi

15.32

69.28

0.20

14.23

0.97

SumateraSelatan

27.21

66.19

0.29

5.78

0.50

0.03

100

Bengkulu

18.65

77.69

0.20

2.90

0.57

0.00

100

Lampung

14.25

76.79

0.03

8.46

0.15

0.15

100

KepulauanBangkaBelitung

16.61

76.72

0.84

5.73

0.10

100

10

KepulauanRiau

37.40

61.44

0.31

0.80

0.04

100

11

DKIJakarta

34.55

62.19

0.38

2.53

0.30

0.06

100

12

JawaBarat

18.24

58.88

0.62

21.69

0.39

0.15

100

13

JawaTengah

21.39

69.78

0.08

8.52

0.23

100

14

DIYogyakarta

40.12

58.40

0.00

1.20

0.27

100

15

JawaTimur

22.25

69.47

0.22

7.47

0.33

0.26

100

16

Banten

23.67

61.88

0.22

13.70

0.44

0.09

100

17

Bali

39.20

57.96

0.66

1.74

0.34

100

18

NusaTenggaraBarat

11.27

65.19

0.65

22.40

0.49

100

19

NusaTenggaraTimur

20.60

54.29

1.67

18.27

4.38

0.79

100

20

KalimantanBarat

14.91

71.67

1.98

10.89

0.28

0.12

100

21

KalimantanTengah

12.19

65.82

2.89

17.72

1.38

100

22

KalimantanSelatan

18.75

69.40

0.56

10.40

0.80

100

23

KalimantanTimur

23.36

66.13

0.94

8.53

0.93

0.08

100

24

SulawesiUtara

40.47

47.62

1.23

8.82

1.61

0.12

100

25

SulawesiTengah

30.21

47.98

1.13

18.07

2.61

26

SulawesiSelatan

22.85

60.47

0.34

15.02

1.26

27

SulawesiTenggara

14.91

59.64

1.42

22.51

1.52

100

28

Gorontalo

20.62

48.29

2.20

21.31

7.57

100

29

SulawesiBarat

3.41

58.28

0.53

37.21

0.57

100

30

Maluku

21.29

45.54

1.34

31.14

0.34

31

MalukuUtara

29.53

39.90

0.43

28.92

1.22

32

PapuaBarat

17.69

61.24

4.37

9.21

5.78

0.91

100

33

Papua

22.36

61.93

6.24

4.06

4.77

0.42

100

22.36

65.31

0.48

11.19

0.51

0.12

100

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

0.05

0.34

100

100

100
100

100
100

Lampiran4.3.b

PERSENTASEBALITAMENURUTPENOLONGKELAHIRANTERAKHIRDANPROVINSI
TAHUN2008
Perdesaan
No

Provinsi

(1)

(2)

Penolongwaktulahir
Dokter

Bidan

TenagaMedisLain

Dukun

Famili

Lainnya

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Jumlah
(9)

NanggroeAcehDarussalam

6.57

70.24

0.63

21.30

1.01

0.24

100

SumateraUtara

6.60

70.57

1.15

16.49

4.44

0.75

100

SumateraBarat

11.69

71.00

0.86

15.67

0.43

0.26

100

Riau

8.26

56.57

0.68

32.67

1.57

0.25

100

Jambi

7.06

53.19

1.01

37.20

1.02

0.45

100

SumateraSelatan

6.21

58.90

0.80

33.63

0.38

0.07

100

Bengkulu

7.06

65.10

0.52

25.27

1.82

0.19

100

Lampung

7.75

58.88

1.54

30.17

1.00

0.41

100

KepulauanBangkaBelitung

8.22

60.30

0.25

30.89

0.33

100

10

KepulauanRiau

15.14

63.71

2.63

18.26

0.17

0.09

100

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

5.73

42.05

0.36

51.29

0.41

0.12

100

13

JawaTengah

12.96

65.61

0.38

20.64

0.21

0.14

100

14

DIYogyakarta

20.40

73.07

0.68

5.33

0.52

100

15

JawaTimur

10.24

65.24

0.59

23.03

0.66

0.15

100

16

Banten

3.85

26.42

0.14

68.56

0.79

0.23

100

17

Bali

22.42

70.90

0.40

4.54

1.56

0.19

100

18

NusaTenggaraBarat

4.52

54.63

0.79

38.04

1.66

0.09

100

19

NusaTenggaraTimur

4.73

34.43

1.46

45.73

12.96

0.62

100

20

KalimantanBarat

4.30

44.16

1.88

45.66

3.34

0.57

100

21

KalimantanTengah

2.47

43.85

1.47

49.01

2.03

0.51

100

22

KalimantanSelatan

5.65

60.00

0.85

31.59

1.54

0.37

100

23

KalimantanTimur

9.09

55.16

3.11

29.07

3.35

0.22

100

24

SulawesiUtara

20.20

53.61

2.79

20.16

2.64

0.48

100

25

SulawesiTengah

5.43

46.31

1.78

40.52

5.50

0.44

100

26

SulawesiSelatan

6.10

46.90

0.78

39.74

5.72

0.63

100

27

SulawesiTenggara

3.93

41.90

0.73

50.08

3.15

0.17

100

28

Gorontalo

6.70

46.03

1.08

44.30

1.75

0.14

100

29

SulawesiBarat

2.66

27.17

1.34

60.56

7.20

0.87

100

30

Maluku

3.92

33.35

0.18

60.76

1.57

0.22

100

31

MalukuUtara

4.00

21.70

0.75

68.71

4.15

0.70

100

32

PapuaBarat

4.20

48.46

1.72

23.22

21.09

1.14

100

33

Papua

5.08

23.64

4.11

20.03

45.65

1.48

100

7.85

54.17

0.88

33.80

2.90

0.32

100

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran4.4

PERSENTASEWANITABERUMUR10TAHUNKEATASYANGPERNAHKAWINDANJUMLAHANAKYANGDILAHIRKANHIDUP
MENURUTPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

SumateraUtara

SumateraBarat

Riau

Jambi

SumateraSelatan

Bengkulu

Lampung

KepulauanBangkaBelitung

10

KepulauanRiau

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

13

JawaTengah

14

DIYogyakarta

15

JawaTimur

16

Banten

17

Bali

18

NusaTenggaraBarat

19

NusaTenggaraTimur

20

KalimantanBarat

21

KalimantanTengah

22

KalimantanSelatan

23

KalimantanTimur

24

SulawesiUtara

25

SulawesiTengah

26

SulawesiSelatan

27

SulawesiTenggara

28

Gorontalo

29

SulawesiBarat

30

Maluku

31

MalukuUtara

32

PapuaBarat

33

Papua
Indonesia

Sumber:BPS,Susenas2008

Jumlahanakyangdilahirkanhidup
0

>=10

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

7.56
5.65
5.78
6.67
6.91
6.17
4.77
5.43
6.39
8.70
8.01
6.25
5.85
5.84
7.49
7.06
5.68
7.19
5.84
6.72
7.40
8.14
7.38
6.69
6.34
7.72
6.49
7.32
6.05
6.41
6.50
9.72
10.02
6.64

14.77
12.93
14.44
17.71
19.23
17.65
17.22
19.61
20.53
20.30
23.72
19.75
19.08
23.05
23.17
19.59
19.14
18.08
14.02
17.86
21.71
21.30
21.88
20.99
17.91
15.55
15.09
17.79
14.71
15.11
16.58
18.04
19.95
19.48

17.96
16.78
18.96
23.30
23.57
21.05
22.90
21.41
24.12
24.57
26.34
23.57
25.01
28.07
27.07
21.94
31.57
19.92
16.38
20.73
24.59
23.17
25.74
29.44
23.00
19.08
19.26
23.76
18.25
16.78
18.80
21.79
24.40
23.61

18.74
17.14
16.99
18.46
18.11
17.09
18.10
16.34
16.57
17.78
17.75
16.91
17.83
18.06
17.18
16.03
19.08
15.28
16.33
18.02
17.73
15.68
18.33
19.68
17.75
16.34
16.67
18.12
16.97
17.39
18.44
16.25
17.78
17.25

13.67
14.36
13.86
12.39
11.04
12.54
13.02
11.06
11.09
12.53
9.65
11.05
11.05
10.08
9.62
10.78
10.13
10.60
14.21
12.87
10.51
10.86
11.09
10.05
12.07
12.66
12.66
12.25
12.29
14.21
13.91
13.06
11.80
11.22

10.14
10.60
9.88
7.57
7.20
8.11
8.54
7.95
6.48
5.15
5.19
7.17
7.44
5.89
5.81
6.91
5.68
7.96
10.99
8.94
6.83
6.67
5.93
5.08
8.25
9.17
9.54
7.05
9.39
9.88
8.85
9.21
7.69
7.35

6.58
7.27
6.70
4.76
4.80
5.44
4.88
6.00
4.38
3.29
3.45
4.88
4.88
3.83
3.63
5.17
3.12
5.30
7.83
4.93
4.25
4.83
3.94
3.31
4.88
6.64
7.00
4.49
6.74
7.59
5.68
4.95
4.06
4.90

4.46
5.13
4.68
3.70
3.60
4.29
3.60
4.28
3.59
3.16
2.06
3.25
3.49
2.35
2.40
3.96
2.02
4.97
5.63
3.39
2.72
3.08
2.22
2.10
3.63
4.64
4.86
3.33
6.27
4.80
4.45
3.52
2.04
3.42

2.77
3.73
3.28
2.48
2.06
3.09
2.69
3.01
2.53
2.80
1.56
2.34
2.29
1.48
1.58
2.38
1.53
3.48
3.83
2.65
1.72
2.31
1.22
0.95
2.17
3.44
3.32
2.08
2.41
2.99
2.68
1.71
1.13
2.33

1.71
2.59
2.05
1.31
1.27
1.67
1.79
1.90
1.55
0.84
0.90
1.75
1.38
0.71
0.94
2.00
0.81
3.15
2.26
1.69
0.90
1.36
0.92
0.80
1.46
2.05
2.20
1.44
2.97
2.25
1.53
0.70
0.51
1.53

1.64
3.83
3.38
1.67
2.21
2.90
2.49
3.00
2.76
0.89
1.37
3.09
1.71
0.64
1.11
4.17
1.25
4.07
2.67
2.20
1.65
2.60
1.33
0.91
2.54
2.69
2.92
2.38
3.94
2.58
2.59
1.06
0.63
2.27

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100

Lampiran4.5.a

PERSENTASEWANITABERUMUR10TAHUNKEATASYANGPERNAHKAWINDANJUMLAHANAKYANGDILAHIRKANHIDUP
MENURUTPROVINSITAHUN2008
Perkotaan
No

Provinsi

(1)

(2)

Jumlahanakyangdilahirkanhidup
0

>=10

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

NanggroeAcehDarussalam

8.04

14.95

19.20

21.77

13.89

9.05

4.95

4.01

1.58

1.34

1.22

100

SumateraUtara

6.44

14.85

19.37

18.74

14.73

9.35

5.34

3.91

2.70

2.07

2.50

100

SumateraBarat

6.56

13.77

20.63

18.84

13.84

8.55

6.46

3.48

2.42

2.19

3.27

100

Riau

7.15

18.40

23.21

19.02

12.55

7.22

4.32

3.61

2.25

1.12

1.16

100

Jambi

8.10

18.42

23.97

19.69

10.93

6.87

4.21

3.25

1.67

1.19

1.70

100

SumateraSelatan

6.71

16.52

21.55

18.41

13.15

7.90

4.90

4.06

2.96

1.24

2.60

100

Bengkulu

5.14

16.94

21.28

19.27

15.14

7.82

3.75

2.96

2.61

1.79

3.30

100

Lampung

5.57

20.26

21.18

16.90

11.45

7.13

6.15

3.95

2.97

1.62

2.83

100

KepulauanBangkaBelitung

6.45

21.47

24.67

18.78

11.32

6.28

3.15

2.59

1.71

1.40

2.17

100

10

KepulauanRiau

9.02

24.81

25.87

17.95

10.36

4.67

2.93

2.01

0.77

0.74

0.88

100

11

DKIJakarta

8.01

23.72

26.34

17.75

9.65

5.19

3.45

2.06

1.56

0.90

1.37

100

12

JawaBarat

5.95

20.03

24.70

17.28

11.15

6.87

4.62

2.86

2.08

1.46

3.00

100

13

JawaTengah

6.21

19.58

24.96

18.24

10.66

7.09

4.57

3.42

2.17

1.29

1.82

100

14

DIYogyakarta

6.05

24.10

28.06

18.06

9.31

5.50

3.68

2.42

1.32

0.72

0.78

100

15

JawaTimur

7.64

22.43

27.56

17.95

9.96

5.54

3.37

2.27

1.43

0.82

1.04

100

16

Banten

6.90

22.06

24.77

18.45

10.22

5.80

3.89

2.93

1.21

1.11

2.65

100

17

Bali

6.36

19.81

32.22

19.03

9.96

5.44

2.71

1.96

1.07

0.60

0.83

100

18

NusaTenggaraBarat

7.58

18.38

20.79

15.60

10.15

7.81

5.37

5.02

2.67

3.15

3.47

100

19

NusaTenggaraTimur

5.12

16.25

20.15

18.03

13.97

9.20

7.61

4.46

2.01

1.45

1.75

100

20

KalimantanBarat

7.73

16.79

20.99

18.99

12.67

9.01

4.56

3.06

2.23

1.85

2.12

100

21

KalimantanTengah

8.00

22.33

25.89

17.60

9.73

5.68

4.22

2.42

1.54

1.12

1.49

100

22

KalimantanSelatan

8.55

22.21

24.74

15.54

10.59

6.21

3.83

2.50

2.21

0.96

2.67

100

23

KalimantanTimur

7.51

22.83

26.67

18.41

10.34

5.45

3.61

1.93

1.01

1.00

1.26

100

24

SulawesiUtara

7.33

21.54

30.31

19.79

9.78

4.55

2.83

1.74

0.80

0.66

0.66

100

25

SulawesiTengah

6.39

22.30

25.81

17.77

10.10

6.33

4.59

2.51

1.66

1.13

1.42

100

26

SulawesiSelatan

9.35

16.48

20.15

16.75

12.20

9.10

5.51

3.97

2.83

1.51

2.15

100

27

SulawesiTenggara

7.07

18.31

21.95

17.89

12.31

7.19

6.16

4.10

1.47

1.53

2.02

100

28

Gorontalo

7.65

18.27

25.46

19.74

12.18

6.27

3.40

2.48

1.72

0.86

1.96

100

29

SulawesiBarat

6.86

16.16

15.95

14.66

11.28

9.75

6.68

7.67

1.30

4.04

5.65

100

30

Maluku

6.69

18.79

18.61

19.33

13.64

8.46

6.26

4.29

1.91

1.20

0.83

100

31

MalukuUtara

6.21

20.21

21.32

20.04

15.12

6.96

3.53

2.87

1.86

0.65

1.22

100

32

PapuaBarat

9.02

21.42

22.45

17.27

11.51

7.27

4.12

1.95

1.82

1.07

2.10

100

33

Papua

8.19

23.61

24.01

16.97

12.28

6.59

3.87

1.86

1.32

0.53

0.77

100

6.86

20.33

24.87

17.95

10.98

6.65

4.27

2.94

1.90

1.25

2.00

100

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran4.5.b

PERSENTASEWANITABERUMUR10TAHUNKEATASYANGPERNAHKAWINDANJUMLAHANAKYANGDILAHIRKANHIDUP
MENURUTPROVINSITAHUN2008
Perdesaan
No

Provinsi

(1)

(2)

Jumlahanakyangdilahirkanhidup
0

>=10

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

NanggroeAcehDarussalam

7.37

14.70

17.49

17.59

13.58

10.55

7.21

4.63

3.22

1.86

1.81

100

SumateraUtara

4.98

11.30

14.58

15.78

14.05

11.66

8.91

6.16

4.60

3.02

4.96

100

SumateraBarat

5.40

14.77

18.16

16.10

13.87

10.51

6.82

5.26

3.69

1.98

3.44

100

Riau

6.20

17.04

23.38

17.91

12.23

7.91

5.19

3.78

2.71

1.49

2.16

100

Jambi

6.37

19.61

23.38

17.38

11.09

7.35

5.07

3.77

2.25

1.30

2.44

100

SumateraSelatan

5.84

18.33

20.75

16.30

12.17

8.24

5.76

4.43

3.17

1.92

3.07

100

Bengkulu

4.59

17.36

23.71

17.51

11.96

8.90

5.44

3.93

2.73

1.80

2.08

100

Lampung

5.39

19.39

21.49

16.14

10.93

8.23

5.95

4.40

3.03

2.00

3.06

100

KepulauanBangkaBelitung

6.34

19.63

23.59

14.44

10.87

6.67

5.56

4.55

3.31

1.69

3.33

100

10

KepulauanRiau

8.38

15.95

23.32

17.63

14.62

5.61

3.65

4.27

4.74

0.93

0.90

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

6.64

19.39

22.11

16.43

10.91

7.55

5.22

3.76

2.67

2.12

3.20

100

13

JawaTengah

5.52

18.64

25.06

17.48

11.39

7.75

5.15

3.55

2.39

1.46

1.61

100

14

DIYogyakarta

5.53

21.50

28.08

18.06

11.21

6.48

4.06

2.25

1.71

0.71

0.43

100

15

JawaTimur

7.36

23.82

26.63

16.49

9.33

6.04

3.87

2.51

1.71

1.06

1.18

100

16

Banten

7.29

15.91

17.71

12.42

11.63

8.57

7.07

5.49

4.13

3.34

6.43

100

17

Bali

4.83

18.29

30.76

19.13

10.35

5.98

3.63

2.10

2.11

1.06

1.77

100

18

NusaTenggaraBarat

6.93

17.88

19.34

15.06

10.90

8.06

5.25

4.93

4.02

3.15

4.47

100

19

NusaTenggaraTimur

5.98

13.60

15.67

16.02

14.26

11.33

7.87

5.85

4.17

2.41

2.84

100

20

KalimantanBarat

6.35

18.25

20.64

17.67

12.95

8.91

5.07

3.51

2.80

1.63

2.23

100

21

KalimantanTengah

7.09

21.39

23.92

17.79

10.91

7.41

4.26

2.87

1.81

0.78

1.73

100

22

KalimantanSelatan

7.86

20.67

22.08

15.79

11.04

7.00

5.52

3.49

2.37

1.64

2.55

100

23

KalimantanTimur

7.17

20.34

24.22

18.20

12.32

6.72

4.50

2.70

1.57

0.81

1.45

100

24

SulawesiUtara

6.19

20.56

28.78

19.60

10.26

5.48

3.68

2.37

1.06

0.91

1.10

100

25

SulawesiTengah

6.32

16.83

22.30

17.74

12.55

8.72

4.95

3.91

2.30

1.54

2.82

100

26

SulawesiSelatan

7.02

15.16

18.63

16.16

12.86

9.21

7.13

4.93

3.71

2.28

2.93

100

27

SulawesiTenggara

6.33

14.21

18.53

16.34

12.75

10.18

7.23

5.06

3.82

2.38

3.16

100

28

Gorontalo

7.18

17.57

23.00

17.40

12.28

7.39

4.97

3.71

2.23

1.70

2.57

100

29

SulawesiBarat

5.66

14.02

19.35

18.08

12.77

9.21

6.77

5.61

2.94

2.46

3.13

100

30

Maluku

6.32

13.88

16.18

16.74

14.40

10.35

8.04

4.97

3.35

2.60

3.17

100

31

MalukuUtara

6.62

15.06

17.74

17.77

13.41

9.64

6.58

5.11

3.02

1.90

3.16

100

32

PapuaBarat

9.94

16.99

21.58

15.94

13.54

9.81

5.21

4.01

1.67

0.59

0.73

100

33

Papua

10.52

18.94

24.51

18.00

11.67

7.99

4.12

2.10

1.07

0.50

0.59

100

6.44

18.72

22.49

16.64

11.44

7.97

5.45

3.85

2.72

1.77

2.50

100

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

100

Lampiran4.7

PROPORSIWANITABERUMUR1549TAHUNDANBERSTATUSKAWINYANGSEDANGMENGGUNAKAN/MEMAKAIALATKB
MENURUTDAERAHTEMPATTINGGALDANPROVINSITAHUN2008

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Perkotaan

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:BPS,Susenas2008

Perdesaan

Perkotaan+Perdesaan

(4)

(5)

45.29
42.74
47.38
48.19
57.57
56.76
63.87
61.43
62.53
50.32
52.68
61.43
55.69
54.68
60.07
60.02
61.56
54.32
38.78
53.79
65.47
62.31
53.62
59.37
50.44
42.89
42.44
54.31
41.05
36.84
47.08
35.13
35.77

41.20
41.18
47.29
56.45
64.19
66.47
69.50
65.65
65.85
55.94

59.27
62.26
61.86
59.06
54.84
69.79
52.19
35.31
63.13
69.88
65.58
58.01
69.69
57.22
43.32
47.46
61.58
46.97
30.44
41.76
24.24
25.69

42.40
41.91
47.32
52.41
62.16
62.92
67.62
64.58
64.30
53.07
52.68
60.51
59.19
57.42
59.54
58.00
65.06
53.07
35.91
60.73
68.40
64.25
55.29
65.19
55.91
43.18
46.34
59.54
45.23
32.10
43.33
26.69
27.71

56.44

56.78

56.62

Lampiran4.6

RATARATAJUMLAHANAKLAHIRHIDUPPERWANITAUSIA1549TAHUN
MENURUTPROVINSIDANTIPEDAERAHTAHUN2008
No

Provinsi

Perkotaan

(2)

(3)

(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara

PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:BPS,Susenas2008

Perdesaan

Perkotaan+Perdesaan

(4)

(5)

1.59
1.70
1.59
1.63
1.66
1.63
1.71
1.66
1.59
1.20
1.32
1.69
1.61
1.17
1.51
1.56
1.43
1.78
1.47
1.67
1.55
1.57
1.61
1.48
1.47
1.54
1.45
1.59
1.65
1.58
1.52
1.58
1.63

1.84
2.26
2.10
2.01
1.99
2.01
2.07
2.05
2.01
1.88

2.08
1.89
1.53
1.71
2.40
1.69
1.91
2.28
2.05
1.87
1.95
1.90
1.64
2.12
1.91
2.20
1.97
2.30
2.34
2.27
2.10
2.03

1.76
1.99
1.92
1.81
1.88
1.86
1.93
1.93
1.81
1.50
1.32
1.84
1.75
1.29
1.61
1.86
1.54
1.85
2.11
1.94
1.76
1.78
1.71
1.57
1.97
1.78
2.01
1.85
2.07
2.11
2.01
1.97
1.93

1.57

1.98

1.77

Lampiran4.8

PROPORSIWANITABERUMUR1549TAHUNDANBERSTATUSKAWINYANGPERNAHMENGGUNAKAN/MEMAKAIALATKB
MENURUTDAERAHTEMPATTINGGALDANPROVINSITAHUN2008

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Perkotaan

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:BPS,Susenas2008

Perdesaan

Perkotaan+Perdesaan

(4)

69.77
67.31
75.82
74.98
81.11
79.38
86.05
84.11
82.05
75.27
77.78
84.83
79.42
74.73
80.80
81.29
82.48
81.92
64.64
79.05
85.32
85.47
80.00
85.94
76.45
65.29
68.18
80.87
65.31
65.94
72.06
63.37
61.55
79.71

(5)

64.33
61.95
72.36
79.15
83.78
83.04
87.58
86.12
83.49
73.42
86.50
83.82
81.74
79.89
80.28
87.19
79.85
58.28
82.38
86.75
86.15
79.85
90.85
79.86
66.02
72.92
84.13
65.43
47.71
64.23
42.37
39.62

65.93
64.46
73.50
77.11
82.97
81.70
87.07
85.61
82.82
74.37
77.78
85.54
81.76
77.40
80.32
80.90
84.48
80.70
59.38
81.53
86.27
85.87
79.94
88.71
79.21
65.79
71.87
83.22
65.40
52.45
66.54
47.10
44.01

78.83

79.25

Lampiran4.9

PERSENTASEWANITABERUMUR1549TAHUNDANBERSTATUSKAWIN
MENURUTALAT/CARAKBYANGSEDANGDIGUNAKAN/DIPAKAIDANPROVINSI,TAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan
Alat/caraKByangdipakai
No

Provinsi

MOW/
Tubektomi

MOP/
Vasektomi

AKDR/IUD

Suntikan

SusukKB

Pil

Kondom

Intravagina/
tissue

Alat/Cara
Tradisional

Jumlah

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

NanggroeAcehDarussalam

1.16

0.62

2.30

67.00

0.90

26.13

0.54

SumateraUtara

5.41

0.84

5.07

47.59

4.46

31.98

1.39

SumateraBarat

2.47

0.82

8.63

59.04

7.81

18.75

Riau

1.99

0.85

4.10

60.46

2.89

Jambi

1.11

0.65

3.03

60.03

SumateraSelatan

1.83

1.08

2.11

Bengkulu

1.51

0.73

Lampung

1.39

KepulauanBangkaBelitung

10

1.35

100.00

0.26

3.01

100.00

0.98

0.17

1.32

100.00

26.77

1.34

0.25

1.35

100.00

4.38

30.01

0.41

0.05

0.33

100.00

68.76

7.36

17.52

0.60

0.10

0.64

100.00

4.07

64.32

8.80

18.74

0.80

0.14

0.87

100.00

1.11

3.66

65.81

5.91

20.83

0.34

0.19

0.78

100.00

0.90

0.62

1.79

56.00

2.26

36.08

1.31

0.05

0.99

100.00

KepulauanRiau

0.82

0.56

5.54

48.76

2.07

39.05

1.03

0.05

2.11

100.00

11

DKIJakarta

2.35

0.61

11.85

56.67

2.51

23.43

1.34

0.17

1.07

100.00

12

JawaBarat

1.87

1.07

7.80

56.92

2.60

28.82

0.49

0.10

0.34

100.00

13

JawaTengah

5.48

1.32

6.59

65.01

5.74

14.09

0.98

0.06

0.73

100.00

14

DIYogyakarta

4.73

0.81

21.56

48.00

4.71

13.67

3.20

0.29

3.02

100.00

15

JawaTimur

5.10

0.96

8.28

57.81

3.79

22.60

0.53

0.08

0.85

100.00

16

Banten

1.83

0.68

5.03

68.93

3.16

18.99

0.97

0.41

100.00

17

Bali

5.20

1.33

35.35

42.39

0.98

12.58

0.95

0.17

1.05

100.00

18

NusaTenggaraBarat

1.80

0.76

8.26

66.91

7.64

13.95

0.30

0.07

0.32

100.00

19

NusaTenggaraTimur

1.73

1.06

8.74

62.72

5.88

15.65

0.27

3.94

100.00

20

KalimantanBarat

1.50

0.45

1.93

64.32

1.36

28.91

0.45

1.08

100.00

21

KalimantanTengah

0.74

0.34

0.95

53.57

4.04

39.34

0.32

0.03

0.66

100.00

22

KalimantanSelatan

1.80

0.70

1.66

45.35

3.73

45.65

0.76

0.02

0.34

100.00

23

KalimantanTimur

1.25

0.62

6.38

46.94

2.82

40.14

1.02

0.19

0.65

100.00

24

SulawesiUtara

1.60

0.78

6.88

45.63

9.74

34.00

0.22

0.17

0.98

100.00

25

SulawesiTengah

1.57

0.57

4.24

46.44

5.92

39.82

0.19

0.05

1.19

100.00

26

SulawesiSelatan

0.94

0.48

2.78

58.79

5.09

30.17

0.39

1.35

100.00

27

SulawesiTenggara

1.12

0.80

2.36

46.13

8.00

38.95

0.30

0.14

2.19

100.00

28

Gorontalo

0.99

0.97

10.00

38.21

15.27

33.31

0.28

0.08

0.90

100.00

29

SulawesiBarat

1.13

0.11

2.81

51.74

4.51

38.41

0.19

1.10

100.00

30

Maluku

2.51

0.75

3.97

68.47

6.92

15.70

0.20

1.48

100.00

31

MalukuUtara

0.75

0.32

1.29

64.85

9.51

20.30

0.05

0.10

2.82

100.00

32

PapuaBarat

1.20

1.40

1.54

54.19

3.31

34.74

0.20

0.00

3.41

100.00

33

Papua

0.94

0.45

2.77

34.67

4.27

16.98

0.57

0.21

39.14

100.00

3.12

0.94

7.07

58.74

4.27

23.95

0.73

0.10

1.08

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran4.9.a

PERSENTASEWANITABERUMUR1549TAHUNDANBERSTATUSKAWIN
MENURUTALAT/CARAKBYANGSEDANGDIGUNAKAN/DIPAKAIDANPROVINSI,TAHUN2008
Perkotaan
Alat/CaraKByangDipakai
No

Provinsi

MOW/
Tubektomi

MOP/
Vasektomi

AKDR/IUD

Suntikan

SusukKB

Pil

Kondom

Intravagina/
tissue

Alat/Cara
Tradisional

Jumlah

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

NanggroeAcehDarussalam

2.05

0.73

5.31

61.32

0.62

27.77

0.88

0.00

1.32

100.00

SumateraUtara

4.71

0.96

6.71

43.11

4.17

34.30

2.07

0.24

3.74

100.00

SumateraBarat

4.33

1.14

16.18

49.93

4.24

20.30

1.34

0.32

2.20

100.00

Riau

3.51

1.29

7.02

58.94

2.72

21.51

2.24

0.33

2.44

100.00

Jambi

1.86

1.14

3.82

53.35

2.29

36.05

1.05

0.00

0.44

100.00

SumateraSelatan

3.50

1.53

3.35

62.11

4.02

22.11

1.38

0.16

1.83

100.00

Bengkulu

2.13

0.80

7.94

55.28

7.36

22.41

1.86

0.37

1.84

100.00

Lampung

1.60

0.54

6.12

66.03

5.13

19.36

0.30

0.28

0.63

100.00

KepulauanBangkaBelitung

1.28

0.90

2.72

52.58

2.39

36.49

2.22

0.11

1.31

100.00

10

KepulauanRiau

1.70

0.79

7.70

46.71

2.90

37.34

2.06

0.10

0.68

100.00

11

DKIJakarta

2.35

0.61

11.85

56.67

2.51

23.43

1.34

0.17

1.07

100.00

12

JawaBarat

2.10

0.98

11.14

52.70

2.20

29.44

0.79

0.11

0.54

100.00

13

JawaTengah

5.68

0.95

8.57

63.03

4.08

14.62

1.72

0.12

1.23

100.00

14

DIYogyakarta

5.44

1.17

24.59

43.55

4.19

12.08

4.59

0.20

4.20

100.00

15

JawaTimur

6.16

0.99

10.15

52.90

2.96

24.56

0.99

0.13

1.17

100.00

16

Banten

2.06

0.65

7.09

64.23

2.60

21.33

1.46

0.00

0.59

100.00

17

Bali

6.10

1.12

33.22

41.05

0.74

14.31

1.43

0.28

1.75

100.00

18

NusaTenggaraBarat

2.17

1.25

11.28

64.87

5.88

13.46

0.68

0.12

0.29

100.00

19

NusaTenggaraTimur

2.90

1.44

19.48

44.22

4.21

20.31

0.82

6.62

100.00

20

KalimantanBarat

2.71

0.41

5.07

53.60

1.07

33.26

1.52

2.36

100.00

21

KalimantanTengah

1.11

0.36

1.27

52.18

2.09

41.26

0.85

0.04

0.85

100.00

22

KalimantanSelatan

3.11

0.88

2.99

41.87

2.99

46.43

1.20

0.00

0.52

100.00

23

KalimantanTimur

1.61

0.59

8.81

45.96

2.43

38.26

1.41

0.16

0.77

100.00

24

SulawesiUtara

2.22

0.86

7.93

47.96

6.66

32.39

0.39

0.34

1.25

100.00

25

SulawesiTengah

1.95

0.58

8.25

43.98

2.86

39.32

0.97

2.09

100.00

26

SulawesiSelatan

1.22

0.26

5.95

56.82

3.05

30.15

0.65

1.91

100.00

27

SulawesiTenggara

1.82

1.32

6.20

38.09

7.76

41.33

1.24

2.25

100.00

28

Gorontalo

1.23

0.99

17.39

35.64

8.87

34.74

0.45

0.69

100.00

29

SulawesiBarat

2.53

0.00

4.01

57.41

4.32

29.80

1.93

100.00

30

Maluku

3.84

0.25

5.45

67.52

0.87

20.49

1.59

100.00

31

MalukuUtara

0.96

0.85

2.16

66.26

4.77

22.32

2.69

100.00

32

PapuaBarat

0.68

2.83

4.40

56.57

2.67

30.68

0.68

1.49

100.00

33

Papua

1.07

0.77

5.29

47.36

7.63

31.91

1.49

0.80

3.68

100.00

3.65

0.92

9.96

54.92

3.07

24.89

1.25

0.13

1.21

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran4.9.b

PERSENTASEWANITABERUMUR1549TAHUNDANBERSTATUSKAWIN
MENURUTALAT/CARAKBYANGSEDANGDIGUNAKAN/DIPAKAIDANPROVINSI,TAHUN2008
Perdesaan
Alat/CaraKByangDipakai
No

Provinsi

MOW/
Tubektomi

MOP/
Vasektomi

AKDR/IUD

Suntikan

SusukKB

Pil

Kondom

Intravagina/
tissue

Alat/Cara
Tradisional

Jumlah

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

16 NanggroeAcehDarussalam

0.76

0.56

0.91

69.61

1.03

25.37

0.39

1.36

100.00

2 SumateraUtara

6.04

0.74

3.57

51.68

4.72

29.86

0.76

0.28

2.34

100.00

3 SumateraBarat

1.56

0.66

4.89

63.54

9.57

17.99

0.80

0.10

0.89

100.00

4 Riau

0.75

0.50

1.71

61.71

3.03

31.06

0.59

0.18

0.46

100.00

5 Jambi

0.81

0.45

2.71

62.67

5.22

27.62

0.16

0.07

0.29

100.00

6 SumateraSelatan

1.00

0.86

1.50

72.04

9.01

15.26

0.22

0.07

0.05

100.00

7 Bengkulu

1.22

0.70

2.29

68.48

9.46

17.06

0.32

0.04

0.43

100.00

8 Lampung

1.32

1.29

2.87

65.74

6.16

21.29

0.35

0.16

0.82

100.00

9 KepulauanBangkaBelitung

0.58

0.39

1.02

58.84

2.15

35.75

0.56

0.71

100.00

10 KepulauanRiau

0.00

0.35

3.52

50.69

1.28

40.65

0.07

3.45

100.00

11 DKIJakarta

12 JawaBarat

1.56

1.19

3.11

62.85

3.15

27.94

0.06

0.08

0.06

100.00

13 JawaTengah

5.32

1.61

5.04

66.57

7.04

13.67

0.40

0.01

0.34

100.00

14 DIYogyakarta

3.72

0.30

17.20

54.40

5.47

15.97

1.20

0.42

1.34

100.00

15 JawaTimur

4.13

0.93

6.57

62.32

4.55

20.80

0.10

0.04

0.55

100.00

16 Banten

1.43

0.73

1.51

76.97

4.14

14.97

0.14

0.10

100.00

17 Bali

4.12

1.57

37.90

44.00

1.26

10.52

0.37

0.04

0.21

100.00

18 NusaTenggaraBarat

1.53

0.40

6.05

68.40

8.93

14.31

0.01

0.03

0.34

100.00

19 NusaTenggaraTimur

1.46

0.97

6.28

66.97

6.26

14.58

0.15

3.33

100.00

20 KalimantanBarat

1.15

0.46

1.00

67.48

1.44

27.62

0.14

0.70

100.00

21 KalimantanTengah

0.57

0.34

0.80

54.23

4.97

38.43

0.07

0.03

0.57

100.00

22 KalimantanSelatan

0.95

0.58

0.79

47.61

4.21

45.15

0.47

0.03

0.21

100.00

23 KalimantanTimur

0.70

0.66

2.71

48.41

3.40

42.97

0.45

0.23

0.46

100.00

24 SulawesiUtara

1.19

0.73

6.19

44.10

11.77

35.05

0.11

0.06

0.80

100.00

25 SulawesiTengah

1.49

0.56

3.40

46.96

6.57

39.92

0.03

0.07

1.00

100.00

26 SulawesiSelatan

0.81

0.58

1.33

59.69

6.04

30.19

0.28

0.00

1.09

100.00

27 SulawesiTenggara

0.94

0.67

1.38

48.19

8.06

38.34

0.06

0.18

2.18

100.00

28 Gorontalo

0.91

0.96

7.46

39.09

17.47

32.81

0.22

0.11

0.96

100.00

29 SulawesiBarat

0.62

0.16

2.38

49.69

4.57

41.53

0.26

0.80

100.00

30 Maluku

1.94

0.97

3.34

68.87

9.50

13.66

0.29

1.43

100.00

31 MalukuUtara

0.65

0.08

0.88

64.19

11.76

19.34

0.08

0.15

2.89

100.00

32 PapuaBarat

1.42

0.80

0.34

53.19

3.59

36.44

4.22

100.00

33 Papua

0.90

0.34

1.89

30.24

3.10

11.77

0.25

51.51

100.00

2.64

0.97

4.48

62.16

5.35

23.12

0.26

0.07

0.96

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran4.10

HASILPELAYANANPESERTAKBBARU
MENURUTMETODEKONTRASEPSIDANPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

MetodaKontrasepsi
IUD

MOW

MOP

Kondom

Implant

Suntikan

Pil

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

1,686

1.27

302

0.23

0.00

9,429

7.12

2,102

1.59

63,849

48.19

55,113

41.60

132,486

SumateraUtara

15,332

5.50

7,466

2.68

491

0.18

21,670

7.77

19,674

7.06

111,605

40.02

102,620

36.80

278,858

SumateraBarat

5,226

4.29

936

0.77

133

0.11

5,379

4.42

17,503

14.37

66,242

54.39

26,373

21.65

121,792

Riau

2,165

1.45

566

0.38

10

0.01

4,173

2.79

8,511

5.69

82,550

55.15

51,701

34.54

149,676

Jambi

1,904

1.67

204

0.18

58

0.05

2,490

2.18

9,484

8.30

61,600

53.92

38,511

33.71

114,251

SumateraSelatan

2,297

0.65

1,348

0.38

296

0.08

16,684

4.71

29,086

8.20

174,457

49.20

130,414

36.78

354,582

Bengkulu

1,314

1.42

588

0.63

77

0.08

16,245

17.51

8,448

9.11

38,278

41.27

27,805

29.98

92,755

Lampung

8,285

2.42

647

0.19

647

0.19

12,690

3.71

20,713

6.05

162,055

47.35

137,238

40.10

342,275

KepulauanBangkaBelitung

340

0.92

149

0.40

0.01

2,147

5.80

1,865

5.04

19,761

53.39

12,748

34.44

37,013

732

2.23

59

0.18

21

0.06

2,481

7.54

1,116

3.39

15,801

48.04

12,681

38.55

32,891

11 DKIJakarta

25,203

7.42

1,565

0.46

820

0.24

7,894

2.32

9,682

2.85

179,967

52.96

114,702

33.75

339,833

12 JawaBarat

10 KepulauanRiau

109,698

7.65

18,839

1.31

2,823

0.20

21,132

1.47

59,937

4.18

781,510

54.51

439,705

30.67

1,433,644

13 JawaTengah

25,461

3.13

1,747

0.21

1,541

0.19

28,176

3.46

84,364

10.36

530,903

65.17

142,441

17.49

814,633

14 DIYogyakarta

6,967

8.49

1,510

1.84

258

0.31

2,250

2.74

3,576

4.36

23,863

29.09

43,608

53.16

82,032

48,606

4.93

11,823

1.20

1,630

0.17

13,706

1.39

56,813

5.76

616,434

62.54

236,730

24.02

985,742
244,608

15 JawaTimur
16 Banten

6,316

2.58

1,072

0.44

222

0.09

4,691

1.92

1,407

0.58

143,715

58.75

87,185

35.64

10,656

19.21

1,128

2.03

113

0.20

1,865

3.36

1,255

2.26

33,447

60.30

7,000

12.62

55,464

18 NusaTenggaraBarat

5,920

4.10

981

0.68

82

0.06

2,319

1.60

13,658

9.45

93,494

64.68

28,103

19.44

144,557

19 NusaTenggaraTimur

2,730

3.46

1,483

1.88

145

0.18

2,337

2.97

9,023

11.45

49,576

62.92

13,495

17.13

78,789

20 KalimantanBarat

1,664

1.54

591

0.55

58

0.05

2,647

2.45

3,904

3.61

57,169

52.87

42,101

38.93

108,134

21 KalimantanTengah

326

0.48

256

0.38

58

0.09

1,633

2.43

4,569

6.79

35,826

53.25

24,617

36.59

67,285

22 KalimantanSelatan

1,235

1.05

1,680

1.43

46

0.04

3,213

2.73

5,766

4.90

55,932

47.55

49,765

42.30

117,637

23 KalimantanTimur

2,938

3.93

632

0.85

51

0.07

2,584

3.46

3,113

4.17

39,555

52.97

25,801

34.55

74,674

24 SulawesiUtara

3,262

4.43

600

0.81

444

0.60

3,053

4.15

7,777

10.56

36,320

49.32

22,181

30.12

73,637

25 SulawesiTengah

1,241

1.91

408

0.63

151

0.23

1,957

3.02

5,262

8.11

29,549

45.54

26,319

40.56

64,887

26 SulawesiSelatan

3,777

1.49

1,680

0.66

45

0.02

16,684

6.59

18,773

7.41

118,563

46.81

93,790

37.03

253,312

17 Bali

27 SulawesiTenggara

463

0.86

338

0.63

120

0.22

2,940

5.44

5,227

9.67

22,779

42.14

22,184

41.04

54,051

2,432

7.56

293

0.91

115

0.36

492

1.53

4,120

12.81

15,000

46.64

9,709

30.19

32,161

29 SulawesiBarat

256

0.91

117

0.42

19

0.07

2,270

8.07

2,303

8.19

12,754

45.34

10,411

37.01

28,130

30 Maluku

432

0.95

318

0.70

35

0.08

3,689

8.09

4,627

10.15

21,511

47.19

14,974

32.85

45,586

31 MalukuUtara

164

0.64

112

0.44

42

0.16

675

2.63

3,782

14.76

12,828

50.06

8,023

31.31

25,626

32 PapuaBarat

50

0.38

68

0.51

18

0.14

1,206

9.12

650

4.92

7,021

53.11

4,206

31.82

13,219

241

0.96

508

2.03

11

0.04

2,410

9.63

2,136

8.54

13,415

53.61

6,303

25.19

25,024

299,319

4.39

60,014

0.88

10,588

0.16

223,211

3.27

430,226

6.31

3,727,329

54.66

2,068,557

30.33

6,819,244

28 Gorontalo

33 Papua
Indonesia
Sumber:BKKBN,2009

Lampiran4.11

JUMLAHDANPROPORSIPESERTAKBBARU
MENURUTTEMPATPELAYANANDANPROVINSITAHUN2008
KlinikKB
No

Provinsi

(1)

(2)

Pemerintah
Peserta
%
(3)

(4)

Swasta
Peserta
(5)

DokterPraktekSwasta

BidanPraktekSwasta

Jumlah

Peserta

Peserta

Peserta

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

NanggroeAcehDarussalam

91,732

69.24

5,655

4.27

3,122

2.36

31,974

24.13

132,483

100.00

SumateraUtara

220,055

78.91

23,251

8.34

3,885

1.39

31,667

11.36

278,858

100.00

SumateraBarat

79,713

78.46

802

0.79

1,967

1.94

19,110

18.81

101,592

100.00

Riau

77,263

51.62

1,641

1.10

4,248

2.84

66,524

44.45

149,676

100.00

Jambi

74,118

64.87

434

0.38

4,395

3.85

35,304

30.90

114,251

100.00

SumateraSelatan

245,198

69.24

25,493

7.20

6,831

1.93

76,621

21.64

354,143

100.00

Bengkulu

58,039

72.37

439

0.55

2,037

2.54

19,685

24.54

80,200

100.00

Lampung

210,613

61.54

11,400

3.33

8,717

2.55

111,531

32.59

342,261

100.00

KepulauanBangkaBelitung

23,787

64.27

412

1.11

250

0.68

12,564

33.94

37,013

100.00

17,176

52.22

457

1.39

1,780

5.41

13,478

40.98

32,891

100.00

11 DKIJakarta

125,116

36.82

18,320

5.39

36,559

10.76

159,839

47.03

339,834

100.00

12 JawaBarat

812,696

57.49

101,359

7.17

30,458

2.15

469,131

33.19

1,413,644

100.00

13 JawaTengah

413,294

49.77

44,803

5.40

28,396

3.42

343,857

41.41

830,350

100.00

14 DIYogyakarta

17,064

39.15

6,888

15.80

648

1.49

18,988

43.56

43,588

100.00

15 JawaTimur

560,163

56.83

29,986

3.04

20,922

2.12

374,673

38.01

985,744

100.00

16 Banten

156,748

60.93

4,647

1.81

10,319

4.01

85,561

33.26

257,275

100.00

22,482

40.53

220

0.40

1,623

2.93

31,139

56.14

55,464

100.00

18 NusaTenggaraBarat

125,918

87.77

2,255

1.57

11

0.01

15,277

10.65

143,461

100.00

19 NusaTenggaraTimur

76,541

97.14

525

0.67

477

0.61

1,251

1.59

78,794

100.00

20 KalimantanBarat

63,747

58.95

4,126

3.82

6,645

6.15

33,616

31.09

108,134

100.00

21 KalimantanTengah

52,433

77.93

2,549

3.79

712

1.06

11,586

17.22

67,280

100.00

22 KalimantanSelatan

76,865

65.44

3,169

2.70

1,664

1.42

35,761

30.45

117,459

100.00

23 KalimantanTimur

41,878

56.08

5,572

7.46

2,975

3.98

24,249

32.47

74,674

100.00

24 SulawesiUtara

46,450

63.08

8,151

11.07

5,580

7.58

13,456

18.27

73,637

100.00

25 SulawesiTengah

58,953

90.84

2,141

3.30

364

0.56

3,439

5.30

64,897

100.00

26 SulawesiSelatan

216,831

85.63

2,515

0.99

3,301

1.30

30,566

12.07

253,213

100.00

27 SulawesiTenggara

47,610

88.08

281

0.52

650

1.20

5,510

10.19

54,051

100.00

28 Gorontalo

25,250

78.51

1,548

4.81

473

1.47

4,890

15.20

32,161

100.00

29 SulawesiBarat

32,450

87.40

45

0.12

320

0.86

4,314

11.62

37,129

100.00

30 Maluku

21,641

86.47

1,677

6.70

498

1.99

1,211

4.84

25,027

100.00

31 MalukuUtara

21,795

85.05

1,461

5.70

229

0.89

2,141

8.35

25,626

100.00

32 PapuaBarat

12,231

92.53

183

1.38

59

0.45

745

5.64

13,218

100.00

33 Papua

21,641

86.48

1,677

6.70

495

1.98

1,211

4.84

25,024

100.00

4,147,491

61.51

314,082

4.66

190,610

2.83

2,090,869

31.01

6,743,052

100.00

10 KepulauanRiau

17 Bali

Indonesia
Sumber:BKKBN,2009

Lampiran4.12

PENCAPAIANDESAUNIVERSALCHILDIMMUNIZATION(UCI)MENURUTPROVINSI
TAHUN20062008

No

Provinsi

(1)

(2)

Tahun2006

Tahun2007

JumlahDesa

DesaUCI

(3)

(4)

(5)

JumlahDesa
(6)

Tahun2008

DesaUCI

JumlahDesa

DesaUCI

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

6,199

5,316

85.76

6,199

5,316

85.76

SumateraUtara

5,464

4,540

83.09

5,643

4,097

72.60

5,772

4,079

70.67

SumateraBarat

2,787

2,210

79.30

3,127

2,273

72.69

3,380

2,297

67.96

Riau

82.72

1,508

1,082

71.75

1,559

1,171

75.11

Jambi

1,253

1,165

92.98

1,252

1,065

85.06

SumateraSelatan

2,816

2,368

84.09

2,919

2,606

89.28

3,012

2,466

81.87

Bengkulu

1,286

936

72.78

1,295

926

71.51

1,397

1,103

78.95

Lampung

2,173

1,732

79.71

2,155

1,883

87.38

2,310

1,511

65.41

KepulauanBangkaBelitung

321

265

82.55

321

269

83.80

339

298

87.91

10

KepulauanRiau

200

176

88.00

291

176

60.48

317

222

70.03

11

DKIJakarta

267

206

77.15

282

211

74.82

282

234

82.98

12

JawaBarat

5,805

3,636

62.64

5,828

3,893

66.80

13

JawaTengah

8,052

6,564

81.52

8,569

7,167

83.64

8,560

7,412

86.59

14

DIYogyakarta

438

404

92.24

438

428

97.72

438

371

84.70

15

JawaTimur

8,441

5,525

65.45

6,359

5,305

83.43

16

Banten

1,543

938

60.79

1,481

881

59.49

1,504

17

Bali

693

688

99.28

702

702

100

18

NusaTenggaraBarat

803

722

89.91

803

700

87.17

19

NusaTenggaraTimur

2,729

2,278

83.47

2,745

2,318

84.44

20

KalimantanBarat

1,514

1,107

73.12

1,603

1,223

76.29

1,520

1,057

21

KalimantanTengah

1,373

496

36.13

1,389

885

63.71

22

KalimantanSelatan

2,172

1,557

71.69

1,962

1,269

64.68

23

KalimantanTimur

1,345

1,073

79.78

1,345

1,106

82.23

24

SulawesiUtara

1,288

990

76.86

1,082

717

66.27

25

SulawesiTengah

1,542

1,139

73.87

1,591

1,080

67.88

1,637

1,189

72.63

26

SulawesiSelatan

2,866

2,268

79.13

2,866

2,369

82.66

2,898

2,370

81.78

27

SulawesiTenggara

1,624

1,424

87.68

1,709

1,405

82.21

1,939

1,015

52.35

28

Gorontalo

490

246

50.20

493

250

50.71

601

371

61.73

29

SulawesiBarat

860

654

76.05

496

74

14.92

543

196

36.10

30

Maluku

957

586

61.23

1,048

726

69.27

31

MalukuUtara

720

280

38.89

827

451

54.53

967

476

32

PapuaBarat

33

Papua

1,424

2,434

Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

71,879

1,178

361
53,028

875

885

793

1,221

448

36.69

14.83

1,606

874

54.42

73.77

71,155

54,175

76.14

39,860

29,506

58.18

89.60

69.54

49.22

74.02

Lampiran4.13

CAKUPANIMUNISASIDASARPADABAYI
MENURUTPROVINSITAHUN2008**

ImunisasiBayi
No

Provinsi

Sasaran

BCG

DPT/HB(1)

DPT/HB(2)

DPT/HB(3)

Polio1

Polio2

Polio3

Polio4

Campak
DO

(1)

(2)

(3)

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

(21)

(22)

NanggroeAcehDarussalam

107,209

85,457

79.7

86,555

80.7

82,779

77.2

76,723

71.6

94,638

88.3

87,563

81.7

81,860

76.4

77,563

72.3

75,135

70.1

13.2

SumateraUtara

318,623

299,617

94.0

302,320

94.9

289,852

91.0

286,109

89.8

310,678

97.5

296,959

93.2

290,368

91.1

285,658

89.7

289,052

90.7

4.4

SumateraBarat

106,599

94,907

89.0

95,637

89.7

94,510

88.7

90,601

85.0

99,627

93.5

94,467

88.6

90,532

84.9

86,505

81.1

88,193

82.7

7.8

Riau

132,406

118,671

89.6

128,029

96.7

124,293

93.9

121,876

92.0

128,563

97.1

125,427

94.7

121,972

92.1

118,394

89.4

119,296

90.1

6.8

Jambi

68,279

65,991

96.6

68,312

100.0

66,710

97.7

65,418

95.8

67,842

99.4

66,724

97.7

65,519

96.0

65,635

96.1

64,583

94.6

5.5

SumateraSelatan

171,818

160,851

93.6

163,209

95.0

158,701

92.4

156,994

91.4

166,343

96.8

162,415

94.5

159,977

93.1

156,675

91.2

155,557

90.5

4.7

Bengkulu

40,783

37,971

93.1

37,817

92.7

36,965

90.6

35,731

87.6

39,296

96.4

37,368

91.6

35,936

88.1

34,301

84.1

35,966

88.2

4.9

Lampung

174,794

147,637

84.5

153,657

87.9

150,575

86.1

149,336

85.4

155,634

89.0

151,808

86.8

149,954

85.8

147,063

84.1

149,510

85.5

2.7

KepulauanBangkaBelitung

25,259

23,418

92.7

23,962

94.9

23,487

93.0

22,557

89.3

24,032

95.1

23,589

93.4

22,827

90.4

22,525

89.2

22,210

87.9

7.3

10

KepulauanRiau

36,990

33,382

90.2

35,687

96.5

36,300

98.1

35,502

96.0

34,759

94.0

35,214

95.2

34,645

93.7

32,855

88.8

32,278

87.3

9.6

11

DKIJakarta

192,563

210,214

109.2

218,718

113.6

211,584

109.9

206,427

107.2

222,548

115.6

211,291

109.7

206,944

107.5

195,953

101.8

200,861

104.3

8.2

12

JawaBarat

939,620

819,577

87.2

866,852

92.3

840,212

89.4

825,534

87.9

887,447

94.4

851,802

90.7

833,199

88.7

815,329

86.8

825,984

87.9

4.7

13

JawaTengah

580,171

602,470

103.8

594,711

102.5

582,218

100.4

579,613

99.9

612,877

105.6

588,812

101.5

582,332

100.4

576,847

99.4

575,860

99.3

3.2

14

DIYogyakarta

44,766

49,394

110.3

44,221

98.8

43,563

97.3

42,521

95.0

45,631

101.9

44,999

100.5

43,000

96.1

37,507

83.8

44,555

99.5

(0.8)

15

JawaTimur

610,279

611,965

100.3

615,502

100.9

607,188

99.5

597,787

98.0

628,116

102.9

613,854

100.6

604,509

99.1

592,878

97.1

589,007

96.5

4.3

16

Banten

222,276

200,754

90.3

212,762

95.7

205,690

92.5

200,365

90.1

218,940

98.5

211,676

95.2

205,341

92.4

198,305

89.2

201,206

90.5

5.4

17

Bali

60,166

62,027

103.1

62,697

104.2

60,667

100.8

60,917

101.2

63,565

105.6

62,063

103.2

61,681

102.5

61,001

101.4

55,932

93.0

10.8

18

NusaTenggaraBarat

105,282

95,527

90.7

101,883

96.8

99,608

94.6

101,383

96.3

95,390

90.6

101,331

96.2

99,461

94.5

100,973

95.9

98,737

93.8

3.1

19

NusaTenggaraTimur

117,418

90,074

76.7

98,579

84.0

94,477

80.5

87,698

74.7

103,839

88.4

96,686

82.3

90,288

76.9

82,569

70.3

87,122

74.2

11.6

20

KalimantanBarat

99,336

83,949

84.5

86,443

87.0

85,359

85.9

81,745

82.3

90,323

90.9

87,009

87.6

84,342

84.9

81,687

82.2

82,056

82.6

5.1

21

KalimantanTengah

52,128

43,464

83.4

44,478

85.3

43,083

82.6

42,026

80.6

46,167

88.6

44,789

85.9

43,166

82.8

42,016

80.6

42,092

80.7

5.4

22

KalimantanSelatan

72,521

69,866

96.3

68,067

93.9

66,010

91.0

64,593

89.1

68,317

94.2

67,379

92.9

65,392

90.2

63,760

87.9

63,892

88.1

6.1

23

KalimantanTimur

76,140

71,272

93.6

73,423

96.4

73,472

96.5

71,573

94.0

73,635

96.7

72,656

95.4

69,036

90.7

67,128

88.2

67,670

88.9

7.8

24

SulawesiUtara

46,737

42,652

91.3

44,064

94.3

42,651

91.3

41,962

89.8

44,360

94.9

42,575

91.1

41,424

88.6

40,686

87.1

42,086

90.0

4.5

25

SulawesiTengah

51,546

49,320

95.7

53,977

104.7

51,376

99.7

50,132

97.3

54,768

106.3

51,741

100.4

51,231

99.4

49,518

96.1

49,547

96.1

8.2

26

SulawesiSelatan

174,552

169,446

97.1

173,744

99.5

163,973

93.9

168,811

96.7

177,858

101.9

168,936

96.8

166,318

95.3

165,602

94.9

164,361

94.2

5.4

27

SulawesiTenggara

54,824

51,096

93.2

51,920

94.7

50,578

92.3

48,752

88.9

53,370

97.3

51,646

94.2

49,951

91.1

48,512

88.5

48,581

88.6

6.4

28

Gorontalo

23,745

22,826

96.1

22,444

94.5

22,277

93.8

21,976

92.6

23,596

99.4

22,309

94.0

21,552

90.8

21,900

92.2

20,857

87.8

7.1

29

SulawesiBarat

26,003

22,144

85.2

22,361

86.0

21,670

83.3

20,897

80.4

23,439

90.1

22,397

86.1

21,247

81.7

20,373

78.3

20,169

77.6

9.8

30

Maluku

34,091

22,868

67.1

25,617

75.1

24,392

71.5

22,964

67.4

26,642

78.1

24,297

71.3

22,979

67.4

21,205

62.2

23,425

68.7

8.6

31

MalukuUtara

22,554

19,443

86.2

20,450

90.7

19,619

87.0

18,057

80.1

20,851

92.4

19,921

88.3

18,296

81.1

17,236

76.4

17,614

78.1

13.9

32

PapuaBarat

18,079

16,672

92.2

18,940

104.8

17,147

94.8

14,935

82.6

17,779

98.3

16,622

91.9

14,431

79.8

13,278

73.4

15,170

83.9

19.9

33

Papua

50,367

31,663

62.9

34,229

68.0

33,105

65.7

29,824

59.2

37,330

74.1

33,019

65.6

30,215

60.0

27,372

54.3

29,519

58.6

13.8

4,857,924

4,526,585

93.2

4,651,267

95.7

4,524,091

4,758,200

97.9

4,589,344

4,368,809

89.9

4,398,083

90.5

5.4

Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Keterangan:*TelahmenggunakanIPVbulanSeptember2007
**PerhitunganpersentasecakupanberdasarkanbulanterakhirlaporanprovinsiyangditerimaolehSubditImunisasi

93.1

4,441,339

91.4

94.5

4,479,925

92.2

Lampiran4.14

CAKUPANIMUNISASIHEPATITISBPADABAYI
MENURUTPROVINSITAHUN2008
StatusImunisasi
Provinsi

No
(1)

(2)

Sasaran
(3)

HB0<7HARI

HB0(728)HARI

HB0TOTAL

HEP.B1

HEP.B2

HEP.B3

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

NanggroeAcehDarussalam

107,209

27,558

25.70

11,646

10.86

39,204

36.57

86,555

80.73

82,779

77.21

76,723

71.56

SumateraUtara

318,623

139,629

43.82

139,629

43.82

302,320

94.88

289,852

90.97

286,109

89.80

SumateraBarat

106,599

46,740

43.85

17,328

16.26

64,068

60.10

95,637

89.72

94,510

88.66

90,601

84.99

Riau

132,406

57,407

43.36

20,702

15.64

78,109

58.99

128,029

96.69

124,293

93.87

121,876

92.05

Jambi

68,279

36,836

53.95

13,394

19.62

50,230

73.57

68,312

100.05

66,710

97.70

65,418

95.81

SumateraSelatan

171,818

76,452

44.50

34,857

20.29

111,309

64.78

163,209

94.99

158,701

92.37

156,994

91.37

Bengkulu

40,783

20,187

49.50

20,187

49.50

37,817

92.73

36,965

90.64

35,731

87.61

Lampung

174,794

94,743

54.20

94,743

54.20

153,657

87.91

150,575

86.14

149,336

85.44

KepulauanBangkaBelitung

15,276

60.48

714

2.83

15,990

63.30

23,962

94.87

23,487

92.98

22,557

89.30

10

KepulauanRiau

36,990

21,387

57.82

11,544

31.21

32,931

89.03

35,687

96.48

36,300

98.13

35,502

95.98

11

DKIJakarta

192,563

116,156

60.32

34,075

17.70

150,231

78.02

218,718

113.58

211,584

109.88

206,427

107.20

12

JawaBarat

939,620

587,815

62.56

60,385

6.43

648,200

68.99

866,852

92.26

840,212

89.42

825,534

87.86

13

JawaTengah

580,171

508,221

87.60

508,221

87.60

594,711

102.51

582,218

100.35

579,613

99.90

14

DIYogyakarta

44,766

41,207

92.05

5,584

12.47

46,791

104.52

44,221

98.78

43,563

97.31

42,521

94.99

15

JawaTimur

610,279

514,848

84.36

41,784

6.85

556,632

91.21

615,502

100.86

607,188

99.49

597,787

97.95

16

Banten

222,276

135,735

61.07

18

0.01

135,753

61.07

212,762

95.72

205,690

92.54

200,365

90.14

17

Bali

60,166

4,556

7.57

4,556

7.57

62,697

104.21

60,667

100.83

60,917

101.25

18

NusaTenggaraBarat

105,282

80,950

76.89

8,387

7.97

89,337

84.85

101,883

96.77

99,608

94.61

101,383

96.30

19

NusaTenggaraTimur

117,418

33,287

28.35

33,287

28.35

98,579

83.96

94,477

80.46

87,698

74.69

20

KalimantanBarat

99,336

32,669

32.89

10,681

10.75

43,350

43.64

86,443

87.02

85,359

85.93

81,745

82.29

21

KalimantanTengah

52,128

10,003

19.19

24,458

46.92

34,461

66.11

44,478

85.32

43,083

82.65

42,026

80.62

22

KalimantanSelatan

72,521

28,153

38.82

11,445

15.78

39,598

54.60

68,067

93.86

66,010

91.02

64,593

89.07

23

KalimantanTimur

76,140

38,737

50.88

5,776

7.59

44,513

58.46

73,423

96.43

73,472

96.50

71,573

94.00

24

SulawesiUtara

46,737

20,241

43.31

5,809

12.43

26,050

55.74

44,064

94.28

42,651

91.26

41,962

89.78

25

SulawesiTengah

51,546

22,250

43.17

5,699

11.06

27,949

54.22

53,977

104.72

51,376

99.67

50,132

97.26

26

SulawesiSelatan

174,552

100,664

57.67

100,664

57.67

173,744

99.54

163,973

93.94

168,811

96.71

27

SulawesiTenggara

54,824

21,864

39.88

21,864

39.88

51,920

94.70

50,578

92.26

48,752

88.92

28

Gorontalo

23,745

10,490

44.18

9,159

38.57

19,649

82.75

22,444

94.52

22,277

93.82

21,976

92.55

29

SulawesiBarat

26,003

7,831

30.12

243

0.93

8,074

31.05

22,361

85.99

21,670

83.34

20,897

80.36

30

Maluku

34,091

2,307

6.77

5,937

17.42

8,244

24.18

25,617

75.14

24,392

71.55

22,964

67.36

31

MalukuUtara

22,554

6,702

29.72

1,809

8.02

8,511

37.74

20,450

90.67

19,619

86.99

18,057

80.06

32

PapuaBarat

18,079

2,799

15.48

2,689

14.87

5,488

30.36

18,940

104.76

17,147

94.84

14,935

82.61

33

Papua

50,367

11,555

22.94

5,794

11.50

17,349

34.45

34,229

67.96

33,105

65.73

29,824

59.21

4,857,924

2,875,255

59.19

349,917

7.20

3,225,172

66.39

4,651,267

95.75

4,524,091

93.13

4,441,339

91.42

Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

25259

Lampiran4.15

DROPOUT CAKUPANIMUNISASIDPT1CAMPAKPADABAYIMENURUTPROVINSI
TAHUN20032008

No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

Tahun
2003

2004

2005

2006

2007

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

14.3

0.1

7.7

SumateraUtara

8.1

7.6

(1.6)

SumateraBarat

11.6

9.7

Riau

5.3

Jambi

SumateraSelatan

2008
(8)

10.7

21.6

13.2

1.3

4.4

7.9

9.9

15.0

7.8

5.7

(3.1)

2.0

7.2

6.8

8.2

6.1

4.8

1.4

7.8

5.5

9.3

9.6

6.3

21.8

6.9

4.7

Bengkulu

10.1

20.0

5.4

3.2

17.8

Lampung

3.7

2.8

(2.5)

KepulauanBangkaBelitung

6.9

6.0

12.2

17.1

11 DKIJakarta

10.2

11.4

12 JawaBarat

5.3

13 JawaTengah

4.9

(1.1)

2.7

4.0

7.3

10.7

9.6

6.4

23.0

0.6

8.2

3.7

(6.8)

21.5

5.7

4.7

4.0

4.2

14 DIYogyakarta

3.8

2.5

8.8

4.0
0.4

4.3
(0.8)

15 JawaTimur

7.1

5.0

1.7

4.8

5.9

16 Banten

4.0

3.1

(0.9)

15.1

1.4

5.4

17 Bali

7.1

4.8

0.2

8.5

4.5

10.8

18 NusaTenggaraBarat

6.0

7.1

3.7

3.4

4.0

19 NusaTenggaraTimur

18.8

5.9

0,8

22.7

20 KalimantanBarat

8.8

12.0

4.7

8.1

13.1

5.1

21 KalimantanTengah

9.4

0.2

5.7

1.7

3.3

5.4

22 KalimantanSelatan

7.9

7.2

6.9

8.2

7.0

6.1

23 KalimantanTimur

7.5

5.2

6.6

7.8

4.3

7.8

24 SulawesiUtara

11.9

5.1

5.2

4.3

10.6

4.5

25 SulawesiTengah

16.3

10.1

7.6

9.8

11.0

8.2

26 SulawesiSelatan

10.6

7.6

8.4

4.2

5.4

27 SulawesiTenggara

11.0

5.8

10.5

4.0

5.8

6.4

28 Gorontalo

18.4

10.9

11.8

11.1

6.8

7.1

22.3

15.8

(1.5)

9.8

30 Maluku

1.3

3.4

4.7

5.0

3.4

8.6

31 MalukuUtara

9.5

20.9

14.4

5.4

7.2

13.9

10 KepulauanRiau

29 SulawesiBarat

32 PapuaBarat
33 Papua
Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

7.6

19.8

18.0

15.7

6.9

21.6

7.6

7.7

1.4

9.3

6.1

3.2
(0.8)
4.3

3.1
11.6

19.9
13.8
5.4

Lampiran4.16

PERSENTASEBALITAYANGPERNAHMENDAPATIMUNISASI
MENURUTPROVINSI,TIPEDAERAHDANJENISIMUNISASI,2008
Perkotaan
No

Provinsi

(1)

(2)

BCG

DPT

Polio

(3)

(4)

(5)

Perdesaan
Campak HepatitisB
(6)

(7)

BCG

DPT

Polio

(8)

(9)

(10)

Perkotaan+Perdesaan
Campak HepatitisB
(11)

(12)

BCG

DPT

Polio

(13)

(14)

(15)

Campak HepatitisB
(16)

(17)

NanggroeAcehDarussalam

89.92

86.29

88.64

76.93

84.06

78.31

76.70

83.64

69.81

70.03

81.65

79.46

85.08

71.86

74.07

SumateraUtara

85.91

83.76

84.83

71.35

77.62

74.86

71.87

78.80

62.16

61.98

79.56

76.93

81.36

66.07

68.63

SumateraBarat

91.53

86.19

86.73

72.60

84.00

82.91

78.02

80.31

68.18

73.09

85.66

80.63

82.36

69.59

76.57

Riau

90.93

87.28

87.68

75.48

81.73

82.36

80.08

80.87

70.08

73.35

86.83

83.84

84.42

72.89

77.72

Jambi

89.83

84.94

83.93

74.72

80.37

86.32

82.75

82.60

73.12

75.48

87.51

83.49

83.05

73.66

77.13

SumateraSelatan

94.27

88.76

88.15

76.36

85.48

87.54

83.91

84.46

74.63

78.52

90.09

85.74

85.85

75.28

81.16

Bengkulu

96.95

93.26

91.76

82.09

93.11

92.66

88.24

87.46

79.53

86.36

94.18

90.02

88.99

80.43

88.75

Lampung

93.86

88.98

89.93

79.52

89.37

92.11

89.57

89.06

79.54

88.00

92.57

89.42

89.29

79.53

88.36

KepulauanBangkaBelitung

90.37

85.33

86.00

76.69

85.83

86.11

80.30

82.60

73.62

75.67

87.98

82.50

84.09

74.96

80.12

10

KepulauanRiau

93.55

89.88

89.27

78.74

87.16

87.95

86.39

88.48

77.13

85.25

91.13

88.37

88.93

78.04

86.33

11

DKIJakarta

94.70

91.34

91.28

76.86

89.72

94.70

91.34

91.28

76.86

89.72

12

JawaBarat

94.16

89.79

90.00

78.78

87.17

88.26

83.97

87.73

72.50

77.48

91.77

87.43

89.08

76.23

83.24

13

JawaTengah

96.87

92.00

91.50

80.48

89.89

95.76

90.77

91.06

80.14

88.29

96.30

91.36

91.27

80.30

89.06

14

DIYogyakarta

99.33

96.40

95.13

86.01

95.73

98.36

91.85

91.36

81.27

96.90

98.99

94.80

93.81

84.35

96.14

15

JawaTimur

95.27

90.96

90.81

80.83

89.91

89.52

85.69

86.23

75.20

80.52

92.41

88.34

88.53

78.03

85.23

16

Banten

89.05

85.30

87.45

71.69

78.15

77.16

74.10

82.82

57.78

53.14

84.27

80.80

85.59

66.10

68.11

17

Bali

97.68

92.94

91.12

83.04

94.85

97.76

91.33

91.86

83.08

93.91

97.72

92.31

91.41

83.05

94.48

18

NusaTenggaraBarat

96.80

91.98

90.86

82.00

91.94

94.38

88.71

89.83

78.98

88.90

95.38

90.06

90.26

80.23

90.16

19

NusaTenggaraTimur

96.42

91.90

92.05

82.81

89.30

89.02

86.75

87.25

78.48

81.42

90.14

87.53

87.98

79.14

82.61

20

KalimantanBarat

84.75

79.12

81.37

66.34

76.40

81.41

79.20

81.66

70.64

75.11

82.35

79.18

81.58

69.43

75.47

21

KalimantanTengah

89.13

82.70

82.99

74.86

81.61

82.85

80.24

83.93

75.56

75.98

84.98

81.08

83.62

75.32

77.89

22

KalimantanSelatan

89.77

87.36

84.92

73.18

79.83

84.10

81.20

82.44

71.67

75.08

86.47

83.77

83.48

72.30

77.07

23

KalimantanTimur

94.50

89.54

88.69

80.35

88.30

91.73

89.14

88.54

78.64

83.84

93.48

89.39

88.64

79.72

86.66

24

SulawesiUtara

97.66

92.14

91.71

80.25

91.93

94.97

90.26

89.75

81.54

86.11

96.15

91.08

90.61

80.97

88.67

25

SulawesiTengah

95.74

88.58

90.42

81.22

87.65

82.39

78.97

82.90

69.92

74.56

84.90

80.78

84.32

72.04

77.03

26

SulawesiSelatan

92.12

87.49

86.92

77.22

84.49

85.89

82.86

82.57

72.29

79.10

87.91

84.37

83.98

73.89

80.85

27

SulawesiTenggara

90.75

88.22

87.79

78.11

87.18

87.78

84.54

85.90

77.27

84.02

88.41

85.31

86.30

77.45

84.69

28

Gorontalo

93.28

90.98

89.26

78.62

86.30

88.39

85.62

87.07

77.31

83.20

89.94

87.33

87.77

77.73

84.18

29

SulawesiBarat

89.88

84.21

86.60

72.64

82.32

71.34

68.06

72.23

63.16

66.87

76.43

72.49

76.17

65.76

71.11

30

Maluku

87.78

82.42

85.27

76.79

81.30

72.75

69.07

74.94

65.11

66.78

76.32

72.24

77.39

67.88

70.23

31

MalukuUtara

92.20

90.06

90.98

86.72

89.16

77.62

73.70

79.94

67.07

69.20

81.13

77.65

82.60

71.81

74.01

32

PapuaBarat

91.38

87.13

89.09

75.88

84.48

89.89

83.69

83.54

71.50

74.02

90.22

84.45

84.76

72.47

76.33

33

Papua

93.23

89.47

89.20

82.71

89.48

60.29

58.20

60.45

50.89

52.16

68.31

65.81

67.44

58.63

61.24

93.59

89.37

89.46

78.02

86.79

86.66

82.99

85.14

73.03

77.72

89.94

86.01

87.19

75.39

82.02

Indonesia
Sumber:BPS,StatistikKesra2008

Lampiran4.17

CAKUPANIMUNISASITTPADAIBUHAMIL
MENURUTPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

Sasaran

TT1

IbuHamilDiimunisasi
TT3
Jumlah
%

TT2

Jumlah

Jumlah

(4)

(5)

(6)

(7)

TT4

TT5

Jumlah

Jumlah

(6)

(7)

(6)

(7)

NanggroeAcehDarussalam

(3)
112,680

53,819

47.76

48,819

43.33

15,010

13.32

10,270

9.11

6,042

5.36

SumateraUtara

350,486

171,676

48.98

155,284

44.31

90,720

25.88

74,882

21.37

63,642

18.16

SumateraBarat

115,825

41,329

35.68

38,172

32.96

17,170

14.82

14,368

12.40

10,644

9.19

Riau

145,647

53,934

37.03

50,217

34.48

25,742

17.67

21,018

14.43

19,109

13.12

Jambi

SumateraSelatan

(1)

(2)

(6)

(7)

76,170

60,467

79.38

59,688

78.36

11,479

15.07

1,369

1.80

0.00

187,432

156,043

83.25

145,793

77.78

0.00

0.00

0.00

Bengkulu

43,383

29,774

68.63

27,299

62.93

0.00

0.00

0.00

Lampung

192,893

141,368

73.29

133,160

69.03

15,200

7.88

11,867

6.15

10,394

5.39

KepulauanBangkaBelitung

27,785

20,680

74.43

18,830

67.77

2,083

7.50

1,116

4.02

688

2.48

10

KepulauanRiau

35,708

27,078

75.83

22,757

63.73

3,778

10.58

2,600

7.28

2,316

6.49

11

DKIJakarta

211,208

157,556

74.60

150,131

71.08

3,738

1.77

0.00

0.00

12

JawaBarat

1,071,026

813,345

75.94

734,971

68.62

44,650

4.17

27,631

2.58

21,358

1.99

13

JawaTengah

1,226,192

275,899

22.50

260,617

21.25

89,983

7.34

82,676

6.74

65,523

5.34

14

DIYogyakarta

72,457

22,649

31.26

15,537

21.44

12,011

16.58

7,848

10.83

5,944

8.20

15

JawaTimur

308,450

65,408

21.21

67,703

21.95

78,467

25.44

92,997

30.15

88,877

28.81

16

Banten

243,769

197,662

81.09

180,863

74.19

6,554

2.69

6,554

2.69

4,449

1.83

17

Bali

66,121

2,886

4.36

2,903

4.39

5,541

8.38

35,428

53.58

40,018

60.52

18

NusaTenggaraBarat

115,810

98,010

84.63

93,679

80.89

51,688

44.63

889

0.77

319

0.28

19

NusaTenggaraTimur

123,311

39,797

32.27

35,696

28.95

35,078

28.45

31,158

25.27

45,813

37.15

20

KalimantanBarat

291,942

29,941

10.26

32,848

11.25

0.00

0.00

0.00

21

KalimantanTengah

56,887

40,347

70.92

37,004

65.05

1,608

2.83

201

0.35

72

0.13

22

KalimantanSelatan

79,724

58,537

73.42

52,497

65.85

1,446

1.81

402

0.50

442

0.55

23

KalimantanTimur

562,325

25,891

4.60

22,927

4.08

12,672

2.25

8,623

1.53

6,275

1.12

24

SulawesiUtara

50,951

36,141

70.93

33,575

65.90

5,852

11.49

3,490

6.85

965

1.89

25

SulawesiTengah

66,547

47,405

71.24

44,549

66.94

0.00

0.00

0.00

26

SulawesiSelatan

188,417

147,513

78.29

125,684

66.71

0.00

0.00

0.00

27

SulawesiTenggara

60,306

21,546

35.73

19,383

32.14

9,413

15.61

8,638

14.32

8,759

14.52

28

Gorontalo

25,985

20,029

77.08

17,391

66.93

3,475

13.37

2,356

9.07

1,141

4.39

29

SulawesiBarat

28,449

22,241

78.18

18,569

65.27

394

1.38

0.00

0.00

30

Maluku

22,419

5,746

25.63

4,617

20.59

143

0.64

88

0.39

79

0.35

31

MalukuUtara

24,697

16,070

65.07

13,673

55.36

2,440

9.88

1,512

6.12

1,436

5.81

32

PapuaBarat

19,888

7,123

35.82

4,869

24.48

1,674

8.42

458

2.30

428

2.15

33

Papua

55,259

17,050

30.85

12,533

22.68

2,364

4.28

564

1.02

594

1.07

6,260,149

2,924,960

46.72

2,682,238

42.85

550,373

8.79

449,003

7.17

405,327

6.47

Indonesia
Sumber:DitjenPP&PL,DepkesRI,2009

Lampiran4.18

INDIKATORPELAYANANRUMAHSAKITUMUMDEPKESDANPEMDA
MENURUTPROVINSITAHUN2007

No

Provinsi

(1)

(2)

BedOccupancyRate
LengthofStay(LOS)
(BOR)
(3)

(4)

BedTurnOver
(BTO)

TurnOverInterval
(TOI)

(5)

NetDeathRate
(NDR)

(6)

GrossDeathRate
(GDR)

(7)

(8)

1
2
3
4

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau

79.0
60.3
58.9
62.7

5
7
6
4

56.3
31.0
35.4
54.8

1
5
4
2

23
45
32
22

49
69
57
48

Jambi

51.8

44.6

18

42

6
7
8
9

SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung

61.8
44.6
69.4
53.3

5
4
4
3

43.0
37.2
56.3
61.4

3
5
2
3

27
23
27
20

60
44
59
56

10 KepulauanRiau
11
12
13
14

DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta

77.4
67.5
64.1
83.5

6
6
5
10

50.0
41.9
42.1
29.3

2
3
3
2

29
21
21
20

49
54
46
38

15 JawaTimur

60.1

49.0

28

58

16
17
18
19

77.0
68.2
66.7
63.6

4
5
4
5

76.3
51.7
56.5
49.7

1
2
2
3

31
29
21
19

56
49
49
36

20 KalimantanBarat

65.0

45.5

25

51

21 KalimantanTengah
22 KalimantanSelatan
23 KalimantanTimur

56.2
62.0
71.1

5
4
5

41.2
61.8
54.4

4
2
2

18
15
15

39
42
31

24 SulawesiUtara
25 SulawesiTengah

61.2
63.4

8
5

27.8
44.9

5
3

20
13

39
32

26 SulawesiSelatan
27 SulawesiTenggara
28 Gorontalo

56.8
87.2

5
5

40.1
59.9

4
1

13
17

37
36

Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur

29 SulawesiBarat
30 Maluku
31 MalukuUtara
32 PapuaBarat
33 Papua
Indonesia
Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI,2009

40.0

24.1

23

32

98.1
55.7

14
4

24.7
49.2

25
11

44
27

64.8

5.3

44.1

2.9

23.6

48.7

Lampiran4.19

JUMLAHKUNJUNGANPASIENRAWATINAPDIRUMAHSAKIT
MENURUTPROVINSITAHUN2007

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

PasienKeluarHidup

PasienKeluarMati

(2)

(3)

(4)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI

40,872
53,949
68,342
57,101
30,314
62,125
15,620
52,554
5,915

JumlahHariPerawatan

(5)

(6)

2,094
4,511
4,110
2,904
1,322
3,945
724
3,288
350

141,955
174,615
322,709
38,599
223,993
34,084
85,802
40,645
60,338
36,603
21,452
31,339
68,382
26,909
32,065
80,374
19,638

TotalKunjungan
PasienRawatInap
42,966
58,460
72,452
60,005
31,636
66,070
16,344
55,842
6,265

7,275
9,914
15,698
39,344
13,719
2,006
4,396
2,072
2,240
1,966
862
1,367
2,210
1,097
1,056
3,089
730

216,898
409,917
433,937
247,034
132,183
341,768
70,531
247,520
19,560

149,230
184,529
338,407
77,943
237,712
36,090
90,198
42,717
62,578
38,569
22,314
32,706
70,592
28,006
33,121
83,463
20,368

831,501
1,071,334
1,856,067
411,728
1,048,254
131,138
428,047
181,641
288,177
198,199
109,656
118,077
332,433
221,996
168,398
425,428
106,691

11,793
3,780
10,729
24,330

396
172
296
742

12,189
3,952
11,025
25,072

72,927
56,532
44,882
202,255

1,876,926

133,895

2,010,821

10,424,709

Lampiran4.20

PEMERIKSAANKESEHATANGIGIDANMULUTPADARUMAHSAKITUMUMDEPKESDANPEMDA
MENURUTPROVINSITAHUN2007

No

Provinsi

Tumpatan
Gigi
Tetap

Tumpatan
Gigi
Sulung

Pengobatan
Pulpa/tumpatan
Sementara

(2)

(5)

(1)

Pencabutan Pencabutan
Pengobatan Pengobatan
Gigi
Gigi
Periodontal
Abses
Tetap
Sulung
(8)

(9)

Prothese
Sebagian

Prothese
Cekat

(10)

(11)

(12)

(13)

Orthodonsi BedahMulut

(3)

(4)

NanggroeAcehDarussalam

3,531

1,144

3,270

7,485

74,000

8,115

13,278

105,339

374

45

SumateraUtara

1,487

25

2,379

4,108

940

1,982

830

1,890

17

38

SumateraBarat

3,039

879

7,397

5,205

1,646

2,127

1,666

858

1,049

Riau

2,128

333

4,773

7,734

1,503

2,533

970

2,468

704

166

Jambi

422

135

1,084

2,411

735

811

570

247

11

52

225

SumateraSelatan

3,759

806

3,301

4,911

2,807

3,127

1,827

293

51

46

124

537

Bengkulu

1,607

289

718

1,649

668

145

333

152

2,569

28

94

105

Lampung

1,258

117

1,784

3,057

880

1,386

934

200

120

115

16

KepulauanBangkaBelitung

86

17

503

166

37

90

18

11 DKIJakarta

10,457

2,548

9,929

10,015

3,012

4,013

2,337

5,332

790

844

2,883

8,204

2,716

12 JawaBarat

10,177

1,082

15,430

15,091

6,265

5,700

5,483

5,581

79

602

217

5,186

8,252

13 JawaTengah

11,522

1,536

15,678

21,056

7,363

16,378

5,813

4,633

151

321

57

664

3,658

14 DIYogyakarta

1,450

57

1,390

1,728

629

1,884

583

498

42

529

207

15 JawaTimur

8,439

1,199

13,040

16,589

7,082

7,588

5,678

3,081

150

109

11

341

1,350

23

91

967

784

16 Banten

(7)

Prothese
Lengkap

10 KepulauanRiau

(6)

Pembersihan
Karang
Gigi

(14)

3,354

996

216

1,315

2,134

611

951

266

256

57

3,614

156

8,366

5,781

3,712

3,233

1,837

1,677

63

221

18 NusaTenggaraBarat

933

101

2,397

1,463

1,097

1,650

1,668

602

27

115

352

64

19 NusaTenggaraTimur

1,362

310

4,437

4,240

1,281

4,471

1,605

751

73

37

589

20 KalimantanBarat

3,203

144

2,111

3,024

669

354

389

514

11

40

21 KalimantanTengah

1,417

207

2,547

1,751

1,108

1,231

510

575

18

47

392

22 KalimantanSelatan

2,878

612

4,073

3,004

2,157

2,999

1,172

316

147

23 KalimantanTimur

3,352

226

3,234

3,344

1,199

3,124

1,041

706

225

27

142

11

432

24 SulawesiUtara

838

66

1,191

1,485

474

1,366

423

187

25 SulawesiTengah

612

40

1,162

2,346

1,048

902

677

103

84

26 SulawesiSelatan

4,095

638

7,940

5,989

2,566

4,934

1,977

935

98

28

225

27 SulawesiTenggara

1,790

342

3,017

2,477

1,282

1,309

796

184

28 Gorontalo

29 SulawesiBarat

30 Maluku

96

283

424

144

41

67

49

31 MalukuUtara

10

12

256

28

164

36

32 PapuaBarat

189

51

237

349

70

135

50

10

33 Papua

868

137

2,220

1,100

511

969

558

146

85,615

13,410

124,976

140,481

125,789

83,531

53,428

137,601

5,397

2,848

3,452

16,655

24,430

17 Bali

Indonesia
Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI

45

(15)

73

Lampiran4.21

JUMLAHKUNJUNGANPESERTAJAMKESMASDIPUSKESMAS
TAHUN2008

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

RJTP

RITP

(2)

(3)

(4)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:PusatPembiayaan&JaminanKesehatanDepkesRI
Keterangan:RJTP=RawatJalanTingkatPertama
RITP=RawatInapTingkatPertama

Rujukan
(5)

KunjunganIbuHamil KunjunganNeonatus
(K4)
(KN2)
(6)

(7)

Persalinanoleh
TenagaKesehatan
(8)

3,096,227
1,515,847
394,456
461,739
188,498
154,671
202,477
340,857
8,674
148,174

2,898,742
5,086,204
183,176
2,527,612
1,273,894
83,864
434,581
1,904,803
143,259
165,527
341,682
52,559
167,728
583,068
1,604,907
792,683
56,004

78,443
153,818
126,826
176,353

38,063
1,719
2,927
3,996
1,177
1,296
1,408
861
19
2,541

26,091
73,397
1,456
47,401
4,404
142
24,846
24,135
1,591
1,358
1,859
940
1,545
679,197
19,521
13,158
417

542
1,239
825
1,824

60,601
44,497
15,248
9,235
7,521
7,957
10,871
20,105
338
6,565

167,232
255,964
18,397
199,305
102,581
7,893
15,245
13,343
9,510
4,087
18,822
4,146
12,391
8,510
46,584
18,163
2,490

1,294
1,740
889
3,894

46,840
38,034
9,477
16,024
6,866
10,637
9,843
14,168
74
7,413

95,067
69,331
4,858
56,871
35,219
1,386
18,316
36,130
5,303
6,555
11,966
1,064
4,358
9,914
16,646
37,280
930

2,181
5,309
1,831
4,400

38,343
27,760
6,807
10,890
4,559
7,101
6,483
8,176
8
5,330

73,713
53,897
4,066
45,147
31,550
1,255
19,917
27,630
2,577
6,278
8,814
784
4,014
7,564
12,457
31,067
1,394

2,105
4,270
2,012
2,926

30,177
23,243
5,721
9,771
2,455
6,298
5,452
5,929
9
4,915

64,313
56,048
3,855
40,858
26,095
1,123
16,754
30,943
1,713
5,222
8,008
348
3,288
4,114
13,479
24,580
1,375

1,089
3,470
566
3,181

25,347,353

979,895

1,095,418

584,291

458,894

404,392

Lampiran4.22

JUMLAHMASYARAKATMISKINDANTIDAKMAMPUUNTUKJAMINANKESEHATANMASYARAKAT
MENURUTPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

(1)

(2)

Jumlah
RumahTangga

Jumlah
AnggotaRumah

Miskin

TanggaMiskin

(3)

(4)

NanggroeAcehDarussalam

497,038

2,682,285

SumateraUtara

944,972

4,124,247

SumateraBarat

312,640

1,361,281

Riau

293,707

1,230,911

Jambi

199,738

784,842

SumateraSelatan

683,181

2,793,317

Bengkulu

163,936

632,098

Lampung

785,041

3,146,184

KepulauanBangkaBelitung

33,652

116,726

73,679

277,589

10 KepulauanRiau
11 DKIJakarta

160,480

675,718

12 JawaBarat

2,905,217

10,700,175

13 JawaTengah

3,171,201

11,715,881

14 DIYogyakarta

275,110

942,129

3,236,880

10,710,051

16 Banten

702,049

2,910,506

17 Bali

147,044

548,617

18 NusaTenggaraBarat

567,605

2,028,491

19 NusaTenggaraTimur

623,137

2,798,871

20 KalimantanBarat

360,905

1,584,451

21 KalimantanTengah

197,473

763,556

22 KalimantanSelatan

245,948

843,837

23 KalimantanTimur

228,095

910,925

24 SulawesiUtara

127,295

485,084

25 SulawesiTengah

211,373

851,027

26 SulawesiSelatan

594,966

2,449,737

27 SulawesiTenggara

281,340

1,144,447

28 Gorontalo

102,731

431,299

29 SulawesiBarat

111,902

473,817

30 Maluku

182,841

840,680

31 MalukuUtara

65,354

302,436

32 PapuaBarat

127,518

521,558

33 Papua

486,857

1,943,517

19,100,905

76,400,000

15 JawaTimur

Anakanakterlantar,PantijompodanmasyarakattidakmemilikiKTP
Jumlah
Sumber:PusatPembiayaan&JaminanKesehatanDepkesRI

2,673,710

Lampiran4.23

JUMLAHKUNJUNGANPESERTAJAMKESMASDIRS/BKMM/BKIM/BKM/BP4
MENURUTPROVINSITAHUN2008
KunjunganRawatInapTingkatLanjut
No

Provinsi

Jumlah
RumahSakit

(2)

(3)

(1)

RumahSakit
Melapor

Jumlah
Kunjungan

(4)

(5)

KunjunganRawatJalan
TingkatLanjut

KunjunganIGD

KunjunganODC

(6)

(7)

(8)

NanggroeAcehDarussalam

22

11

22,282

85,639

11,957

SumateraUtara

63

35

14,961

40,105

673

13

SumateraBarat

27

19

22,656

21,853

3,449

213

Riau

14

100,715

35,896

1,778

Jambi

13

8,565

8,864

1,982

SumateraSelatan

22

1,947

12,623

2,441

Bengkulu

1,263

1,487

625

48

Lampung

16

14

14,792

23,910

2,968

153

KepulauanBangkaBelitung

1,680

4,155

276

10 KepulauanRiau

10

3,144

7,392

382

11 DKIJakarta

35

15

2,855

13,426

580

10

12 JawaBarat

116

74

55,044

175,848

10,469

1,365

13 JawaTengah

138

93

63,782

198,685

16,688

674

14 DIYogyakarta

27

20

4,345

11,014

1,211

15 JawaTimur

79

58

69,433

53,208

28,294

513

16 Banten

13

1,121

2,387

703

17 Bali

17

13

12,257

40,365

4,732

110

18 NusaTenggaraBarat

12

7,459

8,055

6,006

293

19 NusaTenggaraTimur

27

22

16,965

9,707

3,198

49

20 KalimantanBarat

29

18

8,355

7,669

1,822

21 KalimantanTengah

14

11,136

8,002

3,939

22 KalimantanSelatan

16

12

5,487

6,336

3,206

19

23 KalimantanTimur

21

14

5,588

14,330

5,714

24 SulawesiUtara

20

6,090

7,388

1,511

25 SulawesiTengah

15

3,395

4,371

1,485

85

26 SulawesiSelatan

48

32

12,509

34,474

8,867

549

27 SulawesiTenggara

16

3,423

2,842

642

39

28 Gorontalo

3,482

6,123

284

10

29 SulawesiBarat

2,209

3,620

1,237

258

30 Maluku

801

44

15

2,728

4,720

1,672

134

31 MalukuUtara

956

981

460

32 PapuaBarat

135

379

84

16

4,897

10,728

3,839

1,058

902

555

495,656

866,582

133,174

6,472

33 Papua
Indonesia
Sumber:PusatPembiayaan&JaminanKesehatanDepkesRI
Keterangan:IGD=InstalansiGawatDarurat
ODC=OneDayCare

Lampiran4.24

JUMLAHPEMBERIPELAYANANKESEHATANTINGKATLANJUTJAMKESMAS
MENURUTPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

RumahSakit
Pemerintah

RumahSakit
TNI/POLRI

RumahSakitSwasta

BalaiKesehatan

(2)

(1)

(3)

(4)

(5)

(6)

NanggroeAcehDarussalam

20

SumateraUtara

29

22

SumateraBarat

19

Riau

12

Jambi

11

SumateraSelatan

16

Bengkulu

10

Lampung

11

KepulauanBangkaBelitung

10 KepulauanRiau

11 DKIJakarta

17

14

12 JawaBarat

39

66

13 JawaTengah

52

73

11

14 DIYogyakarta

18

15 JawaTimur

56

16

16 Banten

17 Bali

12

18 NusaTenggaraBarat

19 NusaTenggaraTimur

14

11

20 KalimantanBarat

15

21 KalimantanTengah

14

22 KalimantanSelatan

15

23 KalimantanTimur

15

24 SulawesiUtara

10

25 SulawesiTengah

11

26 SulawesiSelatan

28

10

27 SulawesiTenggara

10

28 Gorontalo

29 SulawesiBarat

30 Maluku

31 MalukuUtara

32 PapuaBarat

33 Papua

11

508

61

296

37

Indonesia
Sumber:PusatPembiayaan&JaminanKesehatanDepkesRI

Lampiran4.25

PENANGANANPENYALAHGUNAANNAPZADIRUMAHSAKIT
MENURUTKEPEMILIKANTAHUN2007
DepkesRI
No

PemdaProvinsi

PemdaKab/Kota

Swasta

Jumlah

JenisNAPZA

(1)

(2)

Kuratif

Rehabilitatif

Aftercare

Kuratif

Rehabilitatif

Aftercare

Kuratif

Rehabilitatif

Aftercare

Kuratif

Rehabilitatif

Aftercare

Kuratif

Rehabilitatif

Aftercare

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

1 Opiat

3,222

239

a.Heroin

3,213

231

b.Morfin

16

76

16

76.00

2,267

13

8
5

c.Pethidin
d.Kodein

5,578

239

16

3,297

231

16

14

91

91

2,176

2,176

2 Kokain
3 Kanabis/Ganja

84

16

100

4 Lainnya

20

22

5,700

246

16

NARKOTIKA
1 Amfetamin

3,326
89

239
15

16

94

13

a.Methamfetamin(extacy)

35

b.Shabu

54

14

32

2,267

13

12

12

476

578

17

12

450

494

12

26

84

14

c.Lainnya
2 Sedative
a.Barbiturat
b.Benzodiazepin

13

13
32

c.Lainnya
3 Inhalan

4 Lainnya

31

PSIKOTROPIKA

156

1 Alkohol

24

2 Lainnya

141

ZATADIKTIFLAINNYA
Jumlah
Sumber:DitjenBinaYanmedik,Depkes,2008

13
16

26

18

31

10

12
24

165

36

3,647

255

42

161

12

480

54

14

17

19

2,286

12

32

13

13

32

53

13

667

26

38

95

179

54

274

547

6641

272

54

Lampiran4.26

CAKUPANTBPARUBTAPOSITIF,SEMBUH,PENGOBATANLENGKAP
DANSUCCESRATE(SR)MENURUTPROVINSITAHUN2008
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Sembuh

Provinsi

CakupanTBBTA
Positif

Jumlah

(2)

(3)

(4)

(5)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPPdanPL,DepkesRI,2008

2,551
13,369
3,660
2,403
1,957
4,941
1,333
4,541
821
774
8,312
29,243
16,481
1,139
22,945
7,853
1,362
3,000
3,276
3,936
1,170
3,200
1,889
3,753
1,954
6,336
2,231
1,157
822
1,104
601
1,839
664
160,617

2,060
12,099
2,851
1,463
1,608
4,192
1,228
3,772
726
504
5,425
24,637
13,895
897
18,584
6,899
1,000
2,230
2,586
3,466
932
2,717
1,254
3,373
1,673
5,343
1,635
999
608
715
329
1,036
237
130,973

PengobatanLengkap
Jumlah
%
(6)

80.75
90.50
77.90
60.88
82.17
84.84
92.12
83.07
88.43
65.12
65.27
84.25
84.31
78.75
80.99
87.85
73.42
74.33
78.94
88.06
79.66
84.91
66.38
89.87
85.62
84.33
73.29
86.34
73.97
64.76
54.74
56.33
35.69
81.54

252
657
407
487
228
457
72
510
17
243
1,951
2,230
1,035
48
1,748
619
181
460
369
225
140
185
299
268
179
282
491
141
111
258
162
351
161
15,224

SR
%

(7)

(8)

9.88
4.91
11.12
20.27
11.65
9.25
5.40
11.23
2.07
31.40
23.47
7.63
6.28
4.21
7.62
7.88
13.29
15.33
11.26
5.72
11.97
5.78
15.83
7.14
9.16
4.45
22.01
12.19
13.50
23.37
26.96
19.09
24.25
9.48

90.63
95.41
89.02
81.15
93.82
94.09
97.52
94.30
90.50
96.51
88.74
91.87
90.59
82.97
88.61
95.73
86.71
89.67
90.20
93.78
91.62
90.69
82.21
97.02
94.78
88.78
95.29
98.53
87.47
88.13
81.70
75.42
59.94
91.02

Lampiran4.27

CAKUPANPENEMUANPENDERITAPNEUMONIABALITA
MENURUTPROVINSITAHUN2008
PneumoniapadaBalita
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

TargetPenemuan

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPPdanPL,DepkesRI,2009

<1th

14th

Jumlah

(4)

(5)

(6)

(7)

41,778
127,636
46,978
51,890
27,642
68,013
17,537
72,867
11,067
13,820
89,617
399,417
283,713
34,387
249,158
101,257
34,117
55,345

647
7,365
2,584
2,062
998
4,972

1,257
11,717
7,112
4,507
2,270
9,567

1,904
19,082
9,696
6,569
3,268
14,539

3,836
667
66
3,589
58,728
9,633
132
11,959
2,880
1,151
13,173

11,601
1,735
222
8,321
107,568
20,298
492
21,720
4,937
2,223
18,096

15,437
2,402
288
11,910
166,296
29,931
624
33,679
7,817
3,374
31,269

46,737
20,036
35,769
29,719
24,210
24,377
79,362
20,545
9,198
10,146
11,788
9,853

2,047,977

1,309
532
1,617
1,424
1,746
1,421
2,497
1,099

203

136,290

2,738
1,016
3,447
2,576
2,658
2,285
5,584
2,277

409

256,633

4,047
1,548
5,064
4,000
4,404
3,706
8,081
3,376

612

392,923

4.56
14.95
20.64
12.66
11.82
21.38
0.00
21.19
21.71
2.08
13.29
41.63
10.55
1.81
13.52
7.72
9.89
56.50

8.66
7.73
14.16
13.46
18.19
15.20
10.18
16.43

6.21

19.19

Lampiran4.28

CAKUPANDISTRIBUSIKAPSULVITAMINA
TAHUN2008

No

Provinsi

(1)

(2)

Jumlah

Jumlah

Bayi

AnakBatita

CakupanVitaminA

(611bln)

(14thn)

Februari

Agustus

Februari

Agustus

(3)

(4)

(5)

(6)

BayiDiberiVitaminA

IbuNifas

(7)

Februari

BalitaDiberiVitaminA

Agustus

Februari

IbuNifasdiberiVitaminA

Agustus

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

NanggroeAcehDarussalam

72,930

75,853

366,155

350,321

92,925

52,183

71.55

65,165

85.91

324,934

88.74

342,569

97.79

45,570

49.04

SumateraUtara

207,333

235,439

1,029,136

1,105,995

211,947

157,046

75.75

301,658

128.13

784,070

76.19

833,653

75.38

123,711

58.37

SumateraBarat

65,887

65,887

381,933

381,933

111,409

53,553

81.28

56,409

85.61

343,608

89.97

333,429

87.30

68,755

61.71

Riau

84,738

84,092

541,581

542,815

142,917

65,609

77.43

66,163

78.68

439,298

81.11

426,927

78.65

98,178

68.70

Jambi

44,644

48,260

244,894

257,272

85,428

33,382

74.77

43,204

89.52

207,408

84.69

216,944

84.32

28,235

33.05

SumateraSelatan

142,050

140,948

684,377

695,493

172,757

106,082

74.68

115,202

81.73

575,179

84.04

578,466

83.17

119,191

83.91

Bengkulu

34,617

33,222

165,739

160,428

43,895

24,719

71.41

24,602

74.05

132,021

79.66

131,878

82.20

27,106

61.75

Lampung

151,497

151,658

703,296

719,224

178,222

102,158

67.43

108,332

71.43

379,066

53.90

462,989

64.37

102,049

57.26

KepulauanBangkaBelitung

13,333

13,306

95,858

102,585

26,525

11,891

89.18

12,340

92.74

83,124

86.72

81,691

79.63

22,909

86.37

10 KepulauanRiau

34,895

35,421

137,364

143,490

39,770

19,641

56.29

19,756

55.77

110,947

80.77

106,143

73.97

13,859

34.85

11 DKIJakarta

80,148

80,148

611,241

611,241

165,303

58,798

73.36

58,064

72.45

418,343

68.44

364,281

59.60

50,018

30.26

12 JawaBarat

462,363

462,363

3,126,133

3,126,133

1,011,570

449,544

97.23

424,205

91.75

2,814,626

90.04

2,841,539

90.90

487,473

48.19

13 JawaTengah

328,998

334,212

2,071,227

2,025,191

604,913

318,877

96.92

320,283

95.83

2,027,503

97.89

1,981,830

97.86

531,413

87.85

28,947

26,491

201,904

180,159

45,110

28,180

97.35

26,960

101.77

178,572

88.44

170,517

94.65

35,831

79.43

15 JawaTimur

325,299

325,299

2,427,827

2,427,827

438,271

300,997

92.53

295,440

90.82

1,986,929

81.84

2,027,882

83.53

282,025

64.35

16 Banten

130,989

147,528

813,400

952,731

241,101

116,192

88.70

125,339

84.96

707,351

86.96

786,864

82.59

149,006

61.80

17 Bali

45,838

36,675

230,341

224,293

62,564

37,887

82.65

32,975

89.91

220,305

95.64

218,884

97.59

50,174

80.20

18 NusaTenggaraBarat

58,097

60,954

392,107

386,741

104,988

54,458

93.74

58,794

96.46

362,920

92.56

358,475

92.69

19,767

18.83

19 NusaTenggaraTimur

80,217

65,151

399,274

418,024

81,329

55,016

68.58

54,961

84.36

299,936

75.12

320,228

76.61

41,876

51.49

20 KalimantanBarat

76,905

76,905

413,206

397,928

102,146

51,230

66.61

48,375

62.90

316,036

76.48

291,294

73.20

39,055

38.23

21 KalimantanTengah

35,107

35,527

231,273

233,807

53,255

20,051

57.11

19,016

53.53

134,573

58.19

139,627

59.72

29,911

56.17

22 KalimantanSelatan

55,909

47,734

343,079

341,264

75,613

38,508

68.88

37,571

78.71

270,364

78.81

279,036

81.77

59,833

79.13

23 KalimantanTimur

59,777

59,777

326,905

326,905

78,008

46,020

76.99

36,506

61.07

217,867

66.65

253,280

77.48

34,723

44.51

24 SulawesiUtara

23,399

24,670

145,659

147,478

47,585

21,192

90.57

22,163

89.84

126,546

86.88

116,118

78.74

37,126

78.02

25 SulawesiTengah

44,016

45,326

254,208

235,301

42,901

37,374

84.91

40,262

88.83

222,250

87.43

205,146

87.18

33,639

78.41

26 SulawesiSelatan

115,759

116,873

584,168

589,048

175,468

96,543

83.40

100,544

86.03

518,144

88.70

529,316

89.86

95,978

54.70

27 SulawesiTenggara

33,736

33,736

208,796

208,596

56,133

25,437

75.40

26,840

79.56

158,316

75.82

175,045

83.92

30,973

55.18

28 Gorontalo

14,970

14,939

82,473

83,152

24,791

12,620

84.30

12,254

82.03

66,683

80.85

71,670

86.19

18,954

76.46

29 SulawesiBarat

19,518

19,067

79,550

74,658

20,882

15,417

78.99

12,982

68.09

66,228

83.25

60,319

80.79

7,313

35.02

30 Maluku

27,169

26,999

163,271

163,271

36,709

19,717

72.57

13,508

50.03

109,152

66.85

86,761

53.14

8,798

23.97

31 MalukuUtara

12,937

12,425

104,965

106,799

22,732

9,134

70.60

8,338

67.11

62,899

59.92

70,263

65.79

9,254

40.71

32 PapuaBarat

11,616

11,616

66,867

66,867

25,720

5,506

47.40

4,542

39.10

17,220

25.75

31,784

47.53

3,346

13.01

33 Papua

45,424

45,424

184,396

184,396

49,486

25,117

55.29

25,087

55.23

70,281

38.11

69,683

37.79

30,562

61.76

2,969,062

2,993,925

17,812,603

17,971,366

4,672,373

2,470,079

83.19

2,617,840

87.44

14,752,699

82.82

14,964,531

83.27

2,736,611

58.57

14 DIYogyakarta

Indonesia
Sumber:DirektoratBinaGiziMasyarakat,2009

Ket:Provinsiygbelumlengkapdatakabupatennya:SumateraUtara,JawaTimur,SulawesiSelatan,PapuaBaratdanPapua(16Mei2008)

Lampiran4.29

CAKUPANPEMBERIANTABLETBESI(Fe)PADAIBUHAMIL
MENURUTPROVINSITAHUN2008
CakupanFeIbuHamil
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

Fe1

JumlahIbuHamil

(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:Dit.GiziKesehatanMasyarakat,DitjenBinkesmas,DepkesRI

(3)

66,554
330,311
121,116
146,141
74,348
153,544
47,061
1,969,516
27,785
42,056
173,176
1,033,581
456,175
46,655
624,223
269,796
66,195
115,987
127,701
106,806
58,197
77,027
86,357
50,587
46,292
195,102
65,620
26,181
27,798
34,710
24,160
11,619
55,771
6,758,148

Fe3

Jumlah

Jumlah

(4)

(5)

(6)

(7)

43,654
217,754
74,394
59,288
31,753
106,463
33,086
518,160
25,137
17,316
112,044
772,658
286,727
42,971
351,152
195,345
46,013
93,739
81,207
65,725
14,769
50,382
51,720
43,681
39,539
114,791
38,589
24,163
17,918
8,582
12,595
6,905
20,720
3,618,940

65.59
65.92
61.42
40.57
42.71
69.34
70.30
26.31
90.47
41.17
64.70
74.76
62.85
92.10
56.25
72.40
69.51
80.82
63.59
61.54
25.38
65.41
59.89
86.35
85.41
58.84
58.81
92.29
64.46
24.72
52.13
59.43
37.15
53.55

35,588
180,934
62,893
53,178
29,227
82,970
28,235
463,759
23,763
14,919
98,619
666,677
378,884
36,341
363,626
146,616
43,240
84,576
60,046
56,088
12,824
41,342
38,985
39,199
35,776
93,142
34,558
18,737
11,440
7,037
10,400
5,017
15,862
3,274,498

53.47
54.78
51.93
36.39
39.31
54.04
60.00
23.55
85.52
35.47
56.95
64.50
83.06
77.89
58.25
54.34
65.32
72.92
47.02
52.51
22.04
53.67
45.14
77.49
77.28
47.74
52.66
71.57
41.15
20.27
43.05
43.18
28.44
48.45

Lampiran4.30

PERSENTASEANAKUSIA24TAHUNYANGPERNAHDISUSUI
MENURUTLAMANYADISUSUIPERPROVINSITAHUN2008
Perkotaan+Perdesaan

No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
Bengkulu
SumateraSelatan
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanTimur
KalimantanSelatan
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiTenggara
SulawesiSelatan
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:BPS,Susenas2008

Lamadisusui(bulan)
1217
1823

611

(3)

(4)

(5)

(6)

24

Jumlah

(7)

(8)

3.75
6.25
3.24
8.07
2.79
3.17
2.08
4.39
12.71
15.21
12.37
4.12
4.76
5.61
8.19
9.26
4.24
1.99
1.02
4.73
3.76
7.94
7.30
6.91
3.83
3.83
2.43
3.87
1.89
4.34
3.92
2.24
4.95

5.24
12.98
6.12
8.66
4.59
5.30
4.70
5.67
11.86
13.27
12.11
5.24
5.08
5.98
7.97
8.70
7.16
3.71
6.13
4.68
4.49
5.87
8.90
11.55
9.54
9.40
6.98
8.78
7.88
17.65
10.47
21.09
11.97

18.21
30.87
17.89
19.66
14.86
16.13
16.09
20.94
18.15
19.78
21.91
13.59
11.78
10.94
17.97
17.84
23.94
15.49
36.49
15.49
17.93
10.36
18.83
31.58
21.27
31.33
25.84
25.38
27.51
43.96
38.43
29.45
27.80

35.08
18.96
27.64
19.18
26.07
20.59
30.75
24.82
16.76
9.23
14.93
22.41
18.46
19.69
19.35
23.37
31.69
24.59
17.49
11.90
16.22
18.44
13.25
14.41
12.81
18.31
19.89
11.50
19.00
11.92
19.92
16.00
17.14

37.72
30.93
45.11
44.43
51.69
54.80
46.38
44.17
40.52
42.52
38.68
54.65
59.92
57.77
46.52
40.82
32.96
54.22
38.87
63.20
57.59
57.39
51.71
35.56
52.56
37.14
44.85
50.47
43.73
22.12
27.25
31.21
38.15

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

5.52

7.35

19.08

20.25

47.81

100.00

Lampiran4.30.a

PERSENTASEANAKUSIA24TAHUNYANGPERNAHDISUSUI
MENURUTLAMANYADISUSUIPERPROVINSITAHUN2008
Perkotaan
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

2
3
4

Riau

Lamadisusui(bulan)
5

611

1217

(3)

(4)

(5)

1823

24

(6)

Jumlah

(7)

(8)

4.77

7.63

21.21

31.29

35.09

100.00

SumateraUtara

10.01

14.90

30.26

15.36

29.47

100.00

SumateraBarat

3.16

8.62

15.34

23.54

49.34

100.00

11.49

10.76

18.36

17.62

41.77

100.00

Jambi

3.34

6.10

16.21

21.98

52.38

100.00

Bengkulu

5.74

7.35

17.40

18.65

50.86

100.00

SumateraSelatan

3.05

6.23

16.81

35.95

37.96

100.00

Lampung

8.95

6.13

25.59

19.81

39.51

100.00

KepulauanBangkaBelitung

15.24

16.12

19.07

13.72

35.85

100.00

10

KepulauanRiau

17.05

11.31

23.90

11.17

36.57

100.00

11

DKIJakarta

12.37

12.11

21.91

14.93

38.68

100.00

12

JawaBarat

5.08

6.64

14.07

21.97

52.24

100.00

13

JawaTengah

6.16

6.86

12.92

17.05

57.01

100.00

14

DIYogyakarta

5.37

8.70

12.42

18.90

54.61

100.00

15

JawaTimur

11.08

9.50

17.74

15.77

45.91

100.00

16

Banten

13.40

10.87

19.07

18.04

38.63

100.00

17

Bali

5.96

8.10

22.54

29.05

34.35

100.00

18

NusaTenggaraBarat

2.94

3.47

11.42

27.74

54.42

100.00

19

NusaTenggaraTimur

3.91

11.33

33.05

15.63

36.07

100.00

20

KalimantanBarat

9.32

8.28

18.80

12.48

51.12

100.00

21

KalimantanTengah

7.68

3.89

16.99

12.86

58.58

100.00

22

KalimantanTimur

14.34

8.53

10.61

15.38

51.14

100.00

23

KalimantanSelatan

8.68

9.61

18.04

11.60

52.06

100.00

24

SulawesiUtara

9.49

13.97

25.86

12.08

38.61

100.00

25

SulawesiTengah

7.19

15.75

25.73

11.40

39.93

100.00

26

SulawesiTenggara

6.45

11.86

29.54

14.52

37.63

100.00

27

SulawesiSelatan

4.61

9.45

26.40

11.26

48.27

100.00

28

Gorontalo

5.13

11.53

26.43

10.42

46.49

100.00

29

SulawesiBarat

5.43

13.79

32.13

10.97

37.67

100.00

30

Maluku

7.61

23.67

37.87

10.60

20.24

100.00

31

MalukuUtara

8.88

10.28

39.47

16.77

24.61

100.00

32

PapuaBarat

5.66

19.37

29.20

6.13

39.64

100.00

33

Papua

6.71

6.22

34.66

13.33

39.08

100.00

8.08

8.94

18.25

18.25

46.49

100.00

Indonesia
Sumber:BPS,Susenas2008

Lampiran4.30.b

PERSENTASEANAKUSIA24TAHUNYANGPERNAHDISUSUI
MENURUTLAMANYADISUSUIPERPROVINSITAHUN2008
Perdesaan

No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
Bengkulu
SumateraSelatan
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanTimur
KalimantanSelatan
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiTenggara
SulawesiSelatan
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:BPS,Susenas2008

Lamadisusui(bulan)
1217
1823

611

(3)

(4)

(5)

(6)

24

Jumlah

(7)

(8)

3.33
3.77
3.28
4.48
2.52
1.72
1.53
2.92
10.87
12.91

2.71
3.46
6.07
5.27
3.92
1.84
1.27
0.55
3.14
2.02
3.99
4.99
4.96
3.08
2.58
1.87
3.36
0.77
3.52
2.47
1.41
4.47

4.24
11.71
5.02
6.45
3.84
4.15
3.84
5.52
8.76
15.70

3.18
3.43
0.69
6.43
5.91
5.85
3.89
5.29
3.43
4.76
4.23
7.73
9.72
8.17
8.23
6.34
7.68
6.01
16.15
10.53
21.51
13.54

16.96
31.27
19.01
21.02
14.19
15.42
15.68
19.44
17.47
14.64

12.88
10.71
8.08
18.20
16.25
25.90
18.53
37.05
14.34
18.35
10.20
20.14
35.90
20.28
32.17
25.70
24.95
26.05
45.48
38.12
29.52
25.92

36.65
21.34
29.45
20.82
28.10
21.69
27.82
26.44
18.98
6.82

23.06
19.77
21.23
22.95
30.27
35.40
22.24
17.79
11.70
17.72
20.33
16.00
16.17
13.12
20.11
22.11
11.94
21.53
12.25
20.85
18.39
18.17

38.81
31.90
43.25
47.22
51.34
57.03
51.12
45.68
43.92
49.93

58.17
62.63
63.93
47.14
43.65
31.01
54.07
39.32
67.39
57.15
61.24
51.14
33.25
55.34
36.91
43.97
52.07
45.64
22.60
28.03
29.17
37.90

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

3.32

5.99

19.80

21.96

48.94

100.00

Lampiran4.31

REKAPITULASIKEJADIANBENCANATAHUN2008

No

JenisBencana

JumlahProvinsi

(1)

(2)

(3)

1 Banjir

JumlahKorban
LukaBerat/
LukaRingan/
RawatInap
RawatJalan

Meninggal
(4)

(5)

(6)

Pengungsi

Hilang
(7)

(8)

191

58

128

42,323

303,277

2 BanjirBandang

21

42

89

26,245

23,075

3 BanjirdisertaiTanahLongsor

11

17

11

811

4 TanahLongsor

79

103

24

408

5 GelombangPasang

10

274

6 AnginKencang

15

12

7 AnginPutingBeliung

66

13

21

173

570

8 GempaBumi

11

14

51

779

10,747

9 LetusanGunungApi

2,685

4,934

10 Petir

11 KLB

34

58

2,223

2,207

12 KecelakaanIndustri

11

35

207

13 KegagalanTeknologi

44

14 LedakanBom

15 KonflikSosial

3
Jumlah

Sumber:PusatPenanggulanganKrisis,DepkesRI,2009

456

1
337

12
2,615

3
73,221

3,000

10

348,562

Lampiran5.1

JUMLAHPUSKESMASDANRASIONYATERHADAPPENDUDUK
MENURUTPROVINSITAHUN20042008

No

Provinsi

(1)

(2)

RasioPuskesmas

JumlahPuskesmas

per100.000Penduduk

2004

2005

2006

2007

2008

2004

2005

2006

2007

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(9)

(10)

(11)

(12)

2008
(13)

NanggroeAcehDarussalam

240

266

274

311

301

6.15

6.60

6.73

7.36

7.01

SumateraUtara

423

426

445

463

495

3.43

3.42

3.52

3.61

3.80

SumateraBarat

210

214

224

228

227

4.62

4.69

4.84

4.85

4.77

Riau

146

150

154

156

183

3.21

3.28

2.52

3.08

3.53

Jambi

47

135

140

148

158

3.92

5.12

5.22

5.40

5.67

SumateraSelatan

132

242

249

259

278

4.89

3.57

3.61

3.69

3.90

Bengkulu

250

113

126

140

142

3.68

7.29

8.04

8.66

8.65

Lampung

113

224

235

248

253

7.02

3.15

3.26

3.40

3.42

KepulauanBangkaBelitung

222

47

47

51

50

3.10

4.50

4.37

4.61

4.45

61

41

45

51

59

5.99

3.22

3.66

4.06

10

KepulauanRiau

11

DKIJakarta

329

335

342

341

351

3.61

3.78

3.82

3.76

3.84

12

JawaBarat

982

996

999

1,002

999

2.51

2.56

2.52

2.48

2.44

13

JawaTengah

857

853

858

871

842

2.60

2.67

2.67

2.69

2.58

14

DIYogyakarta

117

117

117

117

120

3.57

3.50

3.45

3.41

3.46

15

JawaTimur

907

919

930

929

940

2.45

2.53

2.54

2.52

2.53

16

Banten

172

173

177

180

194

1.88

1.92

1.92

1.91

2.02

17

Bali

109

110

110

112

114

3.13

3.25

3.21

3.22

3.24

18

NusaTenggaraBarat

125

128

130

134

142

3.00

3.06

3.05

3.12

3.25

19

NusaTenggaraTimur

220

228

251

253

278

5.27

5.35

5.76

5.69

6.13

20

KalimantanBarat

195

207

205

211

224

4.78

5.11

4.98

5.05

5.27

21

KalimantanTengah

132

134

154

163

169

6.94

7.00

7.95

8.04

8.21

22

KalimantanSelatan

193

192

201

204

214

5.95

5.85

6.01

6.01

6.21

23

KalimantanTimur

174

187

186

192

205

5.90

6.56

6.34

6.35

6.62

24

SulawesiUtara

114

119

130

142

144

5.28

5.59

6.02

6.49

6.52

25

SulawesiTengah

135

139

144

145

144

5.81

6.06

6.13

6.05

5.91

26

SulawesiSelatan

333

347

362

374

395

4.45

4.09

4.20

4.86

5.06

27

SulawesiTenggara

138

139

159

153

208

7.02

7.08

7.94

7.53

10.02

28

Gorontalo

44

45

55

55

73

4.80

4.88

5.84

5.73

7.51

29

SulawesiBarat

50

50

62

66

70

5.17

6.49

6.78

30

Maluku

103

109

125

142

153

7.74

8.71

9.83

10.91

11.58

31

MalukuUtara

55

56

62

64

91

6.03

6.33

6.75

6.78

9.48

32

PapuaBarat

55

60

81

83

96

9.71

11.59

13.15

33

Papua

167

168

236

246

236

9.07

6.67

8.87

2.05

11.48

7,550

7,669

8,015

8,234

8,548

3.48

3.50

3.61

3.65

3.74

Indonesia
Sumber:DitjenBinkesmas&Pusdatin,DepkesRI

Lampiran5.2

JUMLAHPUSKESMASNONPERAWATANDANPUSKESMASPERAWATAN
MENURUTPROVINSITAHUN20042008
JumlahPuskesmasNonPerawatan
No

Provinsi

(1)

(2)

JumlahPuskesmasPerawatan

2004

2005

2006

2007

2008

2004

2005

2006

2007

2008

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

NanggroeAcehDarussalam

158

177

189

186

235

82

89

85

125

66

SumateraUtara

326

328

300

341

351

97

98

145

122

144

SumateraBarat

147

150

143

144

159

63

64

81

84

68

Riau

108

111

108

107

138

38

39

46

49

45

Jambi

26

92

99

89

107

21

43

41

59

51

SumateraSelatan

94

167

173

173

201

38

75

76

86

77

Bengkulu

179

89

92

105

107

71

24

34

35

35

Lampung

88

193

196

168

216

25

31

39

80

37

KepulauanBangkaBelitung

193

33

30

32

36

29

14

17

19

14

35

24

29

34

35

26

17

16

17

24

10

KepulauanRiau

11

DKIJakarta

281

285

292

291

297

48

50

50

50

54

12

JawaBarat

850

864

857

852

859

132

132

142

150

140

13

JawaTengah

622

635

617

602

610

235

218

241

269

232

14

DIYogyakarta

85

85

79

79

79

32

32

38

38

41

15

JawaTimur

612

609

594

564

548

295

310

336

365

392

16

Banten

154

155

143

146

152

18

18

34

34

42

17

Bali

89

87

88

89

90

20

23

22

23

24

18

NusaTenggaraBarat

97

82

86

76

56

28

46

44

58

86

19

NusaTenggaraTimur

160

156

127

142

209

60

72

124

111

69

20

KalimantanBarat

128

137

134

140

142

67

70

71

71

82

21

KalimantanTengah

101

99

102

109

122

31

35

52

54

47

22

KalimantanSelatan

162

159

165

164

172

31

33

36

40

42

23

KalimantanTimur

107

117

99

110

109

67

70

87

82

96

24

SulawesiUtara

55

63

71

77

78

59

56

59

65

66

25

SulawesiTengah

76

80

80

81

77

59

59

64

64

67

26

SulawesiSelatan

193

200

183

185

227

140

147

179

189

168

27

SulawesiTenggara

103

94

107

105

145

35

45

52

48

63

28

Gorontalo

30

31

38

37

56

14

14

17

18

17

29

SulawesiBarat

32

31

40

42

48

18

19

22

24

22

30

Maluku

73

78

71

83

124

30

31

54

59

29

31

MalukuUtara

40

39

31

34

64

15

17

31

30

27

32

PapuaBarat

32

38

40

50

70

23

22

41

33

26

33

Papua
Indonesia

Sumber:DitjenBinkesmas&Pusdatin,DepkesRI

104

104

115

114

191

63

5,540

5,592

5,518

5,551

6,110

2,010

64
2,077

121
2,497

132
2,683

45
2,438

Lampiran5.3

JUMLAHSARANAKESEHATANMENURUTPROVINSIDIINDONESIATAHUN2008

No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

JumlahDesa

Pustu

Poskesdes

Polindes

Posyandu

Apotek

Toko
Khusus
Obat/Jamu

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

6,629
5,851
967
1,636
1,303
3,243
1,378
2,379
361
340
267
6,016
8,635
438
8,541
1,520
722
930
3,086
1,960
1,476
2,007
1,421
1,592
1,785
2,972
2,124
669
564
924
1,199
1,324
3,623
77,882

843
1,798
573
806
595
914
457
781
156
200
0
1,624
1,881
310
2,253
263
452
500
954
768
806
597
673
439
678
1,265
496
226
267
384
203
352
649
23,163

83
525
138
258
188
1,043
132
299
90
54
0
897
2,717
113
2,738
84
36
131
128
117
89
257
30
91
329
283
132
68
56
72
44
26
39
11,287

1,951
1,965
449
314
169
1,121
217
385
193
151
0
1,439
3,597
73
5,644
130
154
457
1,406
1,164
556
736
152
259
580
611
250
239
52
139
205
218
295
25,271

4,824
5,189
913
1,585
1,266
3,036
1,326
2,324
343
322
267
5,868
8,570
438
8,494
1,501
712
910
2,788
1,662
1,302
1,958
1,264
1,474
1,645
2,915
1,952
574
508
837
981
791
1,507
70,046

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

SumberData:BPS,PendataanPotensiDesa/Kelurahan2008
DiolaholehPusatDatadanInformasi,Depkes

162
373
114
136
71
102
57
113
27
56
241
900
893
119
876
190
125
84
65
51
38
68
91
75
63
228
38
30
17
30
25
28
51
5,537

325
490
205
239
122
151
69
161
45
82
217
1,377
976
120
3,073
324
84
49
29
123
102
199
193
71
109
306
105
39
45
31
18
34
47
9,560

Rasio
Poskesdes
terhadap
Desa
(10)

0.01
0.09
0.14
0.16
0.14
0.32
0.10
0.13
0.25
0.16
0.00
0.15
0.31
0.26
0.32
0.06
0.05
0.14
0.04
0.06
0.06
0.13
0.02
0.06
0.18
0.10
0.06
0.10
0.10
0.08
0.04
0.02
0.01
0.14

Rasio
Posyandu
terhadap
Desa
(11)

0.73
0.89
0.94
0.97
0.97
0.94
0.96
0.98
0.95
0.95
1.00
0.98
0.99
1.00
0.99
0.99
0.99
0.98
0.90
0.85
0.88
0.98
0.89
0.93
0.92
0.98
0.92
0.86
0.90
0.91
0.82
0.60
0.42
0.90

Rasio
Polindes
terhadap
Desa
(12)

0.29
0.34
0.46
0.19
0.13
0.35
0.16
0.16
0.53
0.44
0.00
0.24
0.42
0.17
0.66
0.09
0.21
0.49
0.46
0.59
0.38
0.37
0.11
0.16
0.32
0.21
0.12
0.36
0.09
0.15
0.17
0.16
0.08
0.32

Lampiran5.4

JUMLAHRUMAHSAKITDIINDONESIA
MENURUTPENGELOLADANPROVINSITAHUN2008
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi
(2)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI

Depkes/Pemda
RS
RS
Jumlah
Umum Khusus
(3)

(4)

(5)

RS
Umum
(6)

TNI/POLRI
RS
Jumlah
Khusus
(7)

(8)

DepartemenLain/BUMN
RS
RS
Jumlah
Umum Khusus
(9)

(10)

(11)

RS
Umum

Swasta
RS
Khusus

(12)

(13)

Jumlah

RS
Umum

(14)

(15)

SemuaRS
RS
Jumlah
Khusus
(16)

(17)

20

22

31

35

31

36

17

18

63

69

118

12

130

16

18

10

19

29

12

41

11

12

26

28

10

16

18

14

18

28

34

10

11

10

11

19

22

12

13

15

56

38

94

77

47

124

31

39

12

12

55

31

86

104

40

144

42

50

80

41

121

133

49

182

15

24

17

17

34

48

56

19

20

13

15

58

22

80

138

33

171

17

17

10

27

11

17

21

28

34

10

10

13

15

15

25

26

13

16

23

28

14

14

15

15

11

13

20

26

14

16

10

28

31

11

11

21

22

10

14

19

27

34

13

20

47

15

62

13

15

17

19

10

10

11

16

18

432

77

509

110

112

71

78

467

206

673

1080

292

1372

Lampiran5.5

JUMLAHRUMAHSAKITUMUMDANTEMPATTIDUR
MENURUTPENGELOLATAHUN20042008

No

Pengelola

(1)

(2)

Tahun2004

Tahun2005

Tahun2006

Tahun2007

Tahun2008

Jumlah

TempatTidur

Jumlah

TempatTidur

Jumlah

TempatTidur

Jumlah

TempatTidur

Jumlah

TempatTidur

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

DepartemenKesehatan

13

8,505

13

8,483

13

8,784

13

8,777

13

9,044

PemerintahProvinsi

43

12,391

43

12,902

43

12,834

43

13,182

43

13,605

PemerintahKab/Kota

305

31,959

322

33,896

334

35,375

345

37,575

375

41,285

TNI/POLRI

110

10,761

110

10,814

110

10,842

110

10,836

110

10,907

DepartemenLain/BUMN

71

6,537

71

6,827

71

6,880

71

6,851

71

6,643

Swasta

434

42,487

436

43,364

441

43,789

451

45,074

467

47,266

976

112,640

995

116,286

Jumlah
Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI

1,012

118,504

1,033

122,295

1,079

128,750

Lampiran5.6

JUMLAHTEMPATTIDURDIRUMAHSAKITUMUM
MENURUTKELASPERAWATANDANPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

TotalTempat
Tidur
(3)

VIP

KelasPerawatan
KelasII
Jumlah
%

KelasI

Jumlah

(4)

(5)

Jumlah

(6)

(7)

(8)

KelasIII
Jumlah

(9)

(10)

TanpaKelas
Jumlah
%

%
(11)

(12)

(13)

2,518

121

4.8

156

6.2

544

21.6

1,026

40.7

671

26.6

SumateraUtara

11,172

650

5.8

1,167

10.4

2,087

18.7

5,803

51.9

1,465

13.1

SumateraBarat

3,340

279

8.4

350

10.5

895

26.8

1,567

46.9

249

7.5

Riau

1,960

196

10.0

236

12.0

478

24.4

784

40.0

266

13.6

Jambi

1,294

145

11.2

148

11.4

232

17.9

530

41.0

239

18.5

SumateraSelatan

3,716

282

7.6

505

13.6

850

22.9

1,806

48.6

273

7.3

Bengkulu

755

49

6.5

66

8.7

155

20.5

192

25.4

293

38.8

Lampung

2,458

220

9.0

230

9.4

493

20.1

1,258

51.2

257

10.5

BangkaBelitung

511

32

6.3

51

10.0

137

26.8

233

45.6

58

11.4

10

KepulauanRiau

1,329

82

6.2

193

14.5

271

20.4

652

49.1

131

9.9

11

DKIJakarta

13,852

1,812

13.1

1,893

13.7

3,360

24.3

5,519

39.8

1,268

9.2

12

JawaBarat

14,589

1,192

8.2

1,846

12.7

3,978

27.3

6,011

41.2

1,562

10.7

13

JawaTengah

18,355

1,948

10.6

2,594

14.1

4,980

27.1

6,612

36.0

2,221

12.1

14

D.I.Yogyakarta

2,835

258

9.1

398

14.0

807

28.5

1,115

39.3

257

9.1

15

JawaTimur

18,472

1,344

7.3

1,978

10.7

4,548

24.6

8,888

48.1

1,714

9.3

16

Banten

2,186

149

6.8

343

15.7

577

26.4

921

42.1

196

9.0

17

Bali

3,174

449

14.1

486

15.3

750

23.6

1,163

36.6

326

10.3

18

NusaTenggaraBarat

1,080

71

6.6

142

13.1

214

19.8

564

52.2

89

8.2

19

NusaTenggaraTimur

2,188

123

5.6

281

12.8

436

19.9

1,061

48.5

287

13.1

20

KalimantanBarat

2,264

112

4.9

234

10.3

528

23.3

1,131

50.0

259

11.4

21

KalimantanTengah

975

84

8.6

82

8.4

128

13.1

365

37.4

316

32.4

22

KalimantanSelatan

2,020

160

7.9

191

9.5

450

22.3

1,000

49.5

219

10.8

23

KalimantanTimur

3,056

263

8.6

293

9.6

625

20.5

1,217

39.8

658

21.5

24

SulawesiUtara

2,637

84

3.2

277

10.5

642

24.3

1,508

57.2

126

4.8

25

SulawesiTengah

1,330

69

5.2

198

14.9

274

20.6

665

50.0

124

9.3

26

SulawesiSelatan

5,144

403

7.8

662

12.9

1,128

21.9

2,578

50.1

373

7.3

27

SulawesiTenggara

867

46

5.3

105

12.1

137

15.8

415

47.9

164

18.9

28

Gorontalo

400

35

8.8

24

6.0

81

20.3

204

51.0

56

14.0

29

SulawesiBarat

217

12

5.5

21

9.7

54

24.9

100

46.1

30

13.8

30

Maluku

1,465

44

3.0

67

4.6

157

10.7

849

58.0

348

23.8

31

MalukuUtara

479

20

4.2

20

4.2

57

11.9

171

35.7

211

44.1

32

PapuaBarat

686

53

7.7

22

3.2

66

9.6

445

64.9

100

14.6

33

Papua

1,426

20

1.4

93

6.5

229

16.1

794

55.7

290

20.3

128,750

10,807

8.4

15,352

11.9

30,348

23.6

57,147

44.4

15,096

11.7

Indonesia
Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI

Lampiran5.7

JUMLAHRUMAHSAKITUMUMDEPKES/PEMDA
MENURUTKELASDANPROVINSITAHUN2008
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

KelasA

(2)

(3)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
Indonesia

Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI2008(per1September2008)

KelasB

KelasC

(4)

KelasD

(5)

Total

(6)

1
1
1
1
1

2
4
2
1
1
1
1
1

6
11
16
1
11
2
4
1
1
1
1
1
3
1
2
1
1

11
21
12
7
7
10
3
7
3
4
1
18
24
4
30
3
4
6
3
8
5
9
7
4
6
21
5
2

2
2
3
4

79

256

(7)

7
5
2
3
1
3
4
1
1

1
1

11
4
8
1
4
3
1
4
1
1

5
4
2
4
88

20
31
16
11
9
14
8
9
4
4
8
31
42
6
48
5
9
7
15
13
14
11
14
8
9
27
7
3
1
8
6
5
9
432

Lampiran5.8

JUMLAHRUMAHSAKITKHUSUSDANTEMPATTIDURNYA
MENURUTJENISRUMAHSAKITTAHUN20042008

No

JenisRumahSakit

(1)

(2)

Tahun2004

Tahun2005

Tahun2006

Tahun2007

Tahun2008

RS

TT

RS

TT

RS

TT

RS

TT

RS

TT

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

RSJiwa

51

8,535

51

8,527

51

8,630

51

8,726

51

8,781

RSKusta

22

2,248

22

2,446

22

2,137

22

2,133

22

2,168

RSTP

751

766

718

10

757

11

782

RSMata

10

460

10

475

10

459

10

418

10

418

RSOP

187

187

187

187

187

RSPenyakitInfeksi

144

127

144

144

144

RSJantung

234

234

234

234

239

RSKanker

128

129

172

172

172

RSBersalin

55

2,439

56

2,533

57

2,458

57

2,635

57

2,577

10 RSIbudanAnak

63

3,100

64

3,629

69

3,388

74

3,556

79

3,804

11 RSKhususLainnya

55

1,365

56

1,427

57

1,420

57

1,450

57

1,516

270

19,591

273

20,480

280

19,947

286

20,412

292

20,788

Jumlah

Sumber:DitjenPelayananMedik,DepkesRI(per1September2008)

Lampiran5.9

JUMLAHSARANAPRODUKSI
BIDANGKEFARMASIANDANALATKESEHATANMENURUTPROVINSITAHUN2008

NO

PROVINSI

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

IndustriFarmasi

IndustriKecilObatTradisional
(IKOT)

IndustriObatTradisional(IOT)

PerbekalanKesehatandanRumah
Tangga(PKRT)

ProduksiAlatKesehatan

IndustriKosmetika

2006

2007

2008

2006

2007

2008

2006

2007

2008

2006

2007

2008

2006

2007

2008

2006

2007

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

2008
(20)

SumateraUtara

10

10

10

78

78

78

19

22

26

39

39

41

SumateraBarat

11

11

15

KepulauanRiau

Riau

KepulauanBangkaBelitung

Jambi

Bengkulu

SumateraSelatan

11 Banten

26

30

30

35

43

47

15

44

56

76

38

38

38

12 DKIJakarta

34

22

22

74

28

28

22

29

37

76

84

103

99

99

20

13 JawaBarat

76

76

77

37

32

32

143

184

184

26

49

63

124

137

162

108

108

108

14 JawaTengah

31

31

31

36

36

36

11

14

36

42

50

45

45

45

15 DIYogyakarta

39

42

42

51

59

54

17

17

17

343

343

411

13

17

50

55

64

148

150

150

17 Bali

13

13

18 NusaTenggaraBarat

19 NusaTenggaraTimur

20 KalimantanBarat

21 KalimantanTengah

22 KalimantanSelatan

23

24

26

18

18

19

23 KalimantanTimur

11

11

15

24 SulawesiUtara

25 SulawesiBarat

26 SulawesiTengah

27 Gorontalo

28 SulawesiSelatan

10

29 SulawesiTenggara

30 MalukuUtara

31 Maluku

32 PapuaBarat

33 Papua

233

231

232

72

60

67

837

862

951

76

125

164

369

416

507

512

515

453

10 Lampung

16 JawaTimur

TOTAL
Sumber:DitjenYanfardanAlkes,DepkesRI2008

Lampiran5.10

JUMLAHSARANADISTRIBUSI
BIDANGKEFARMASIANDANALATKESEHATANMENURUTPROVINSITAHUN2008
PedagangBesarFarmasi
NO

PROVINSI

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

Apotik

TokoObat

PenyalurAlatKesehatan(PAK)

SubPenyalurAlatKesehatan
(PAK)

2006

2007

2008

2006

2007

2008

2006

2007

2008

2006

2007

2008

2006

2007

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

2008
(17)

38

58

51

124

119

170

540

534

576

98

98

99

SumateraUtara

110

110

103

386

386

769

259

259

738

10

13

128

SumateraBarat

76

71

74

190

193

296

360

361

482

101

101

57

KepulauanRiau

20

20

28

105

98

129

279

286

336

19

19

38

Riau

82

44

81

269

269

313

606

290

328

195

195

235

KepulauanBangkaBelitung

10

46

46

62

72

72

79

28

28

30

Jambi

45

31

47

119

121

151

141

137

167

85

85

44

Bengkulu

14

17

17

46

77

96

90

104

95

64

72

SumateraSelatan

81

88

95

183

175

225

181

97

95

91

91

106

10 Lampung

54

74

48

162

162

212

122

123

157

39

39

65

11 Banten

62

34

79

426

137

137

14

25

31

12

12

12

12 DKIJakarta

310

521

279

1,234

807

1,162

493

349

732

326

435

499

268

268

268

13 JawaBarat

369

343

365

2,073

1,230

2,256

393

420

872

29

43

58

295

295

244

14 JawaTengah

249

328

329

1,133

522

522

600

361

361

13

17

15 DIYogyakarta

50

55

42

113

123

355

58

43

52

28

28

96

16 JawaTimur

428

370

461

1,721

890

1,586

217

218

218

17

22

27

399

399

274

17 Bali

72

81

81

336

179

383

104

104

159

52

52

109

18 NusaTenggaraBarat

32

31

38

128

34

162

118

100

102

92

19 NusaTenggaraTimur

27

27

27

88

39

103

160

81

183

99

99

153

20 KalimantanBarat

42

67

69

100

99

130

323

244

270

82

82

97

21 KalimantanTengah

10

11

14

72

80

84

153

148

162

49

22 KalimantanSelatan

57

69

59

134

134

171

305

233

433

135

135

154

23 KalimantanTimur

45

45

52

197

197

263

308

315

300

80

80

111

24 SulawesiUtara

41

43

43

89

100

122

125

49

40

82

82

109

25 SulawesiBarat

29

29

28

50

33

33

23

31

23

75

41

124

110

112

112

35

35

102

26 SulawesiTengah
27 Gorontalo

34

36

55

42

42

41

14

41

25

28 SulawesiSelatan

79

123

134

418

210

468

398

451

436

59

59

150

29 SulawesiTenggara

15

19

13

62

62

105

171

96

165

64

64

90

34

34

34

25

25

25

12

12

64

15

15

18

47

47

60

94

80

125

32

32

62

13

13

57

57

71

45

45

44

35

36

38

102

83

127

49

94

13

108

108

151

2,503

2,789

2,743

10,332

6,816

10,931

7,000

5,915

7,940

412

567

667

2,521

2,611

3,296

30 MalukuUtara
31 Maluku
32 PapuaBarat
33 Papua
TOTAL
Sumber:DitjenYanfardanAlkes,DepkesRI2008

Lampiran5.11

JUMLAHINSTITUSIPOLITEKNIKKESEHATAN(POLTEKKES)
MENURUTJURUSANDANPROVINSITAHUN2008
Jurusan/ProgramStudi
KEPERAWATAN
No

KEFARMASIAN

KESMAS

GIZI

AnalisFarmasi&
Makanan

Kesehatan
Lingkungan

Gizi

(7)

(8)

KETERAPIANFISIK

KETEKNISIANMEDIS

Provinsi

TOTAL
Kesehatan
Keperawatan

Kebidanan

Farmasi
Gigi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

SumateraUtara

SumateraBarat

Riau

Jambi

SumateraSelatan

Bengkulu

Lampung

KepulauanBangkaBelitung

10

KepulauanRiau

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

13

JawaTengah

14

DIYogyakarta

15

JawaTimur

16

Banten

17

Bali

18

NusaTenggaraBarat

19

NusaTenggaraTimur

20

KalimantanBarat

21

KalimantanTengah

22

KalimantanSelatan

23

KalimantanTimur

24

SulawesiUtara

25

SulawesiTengah

26

SulawesiSelatan

27

SulawesiTenggara

28

Gorontalo

29

SulawesiBarat

30

Maluku

31

MalukuUtara

32

PapuaBarat

33

Papua

(3)

(4)

Sumber:Pusdiknakes,PPSDMKesehatan,Depkes

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

Teknik
Elektromedik

TeknikRadio
Diagnostik

Teknik
Gigi

(15)

(16)

(17)

Ortotik
Prostetik
(18)

(19)

(6)

Akupunktur AnalisKesehatan

TOTAL

(5)

OkupasiTerapi TerapiWicara

Fisioterapi

9
9
7
5
4
8
4
8
0
0
16
16
20
6
19
0
5
5
8
6
3
6
4
6
4
9
3
3
0
6
3
0
12

67

52

18

20

26

12

214

31.3

24.3

8.4

2.8

0.5

9.3

12.1

0.9

0.5

0.5

0.5

5.6

0.9

1.4

0.5

0.5

100

JUMLAHSTRATAAKREDITASIJURUSAN/PROGRAMSTUDIPOLITEKNIKKESEHATAN(POLTEKKES)
KUMULATIFSAMPAIDENGANDESEMBERTAHUN2008
Strata
No

Poltekkes

Jumlah
Jurusan/programStudi

(1)

(2)

(3)

JurusanTerakreditasi

BelumTerakreditasi

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

BandaAceh

14

85.71

Medan

22

55.56

Pekanbaru

100

Padang

83

16.67

Jambi

50

50

Bengkulu

100

Palembang

TanjungKarang

77.78

100

40

60.00

85.71

14.29

100

50

100

100

100

87.50

0
2

0
22.22

22.22
0

0
50.00
0
12.50

JakartaI

67

33.33

100

10

JakartaII

57

42.86

100

11

JakartaIII

100

100

12

Bandung

11

82

11

100

13

Tasikmalaya

100

100

14

Yogyakarta

67

33.33

100

15

Semarang

13

82

18.18

11

84.62

15.38

16

Surakarta

50

50

57.14

42.86

17

Surabaya

12

58

41.67

12

100

18

Malang

71

28.57

100

19

Denpasar

40

60

100

20

Mataram

60

40

100

21

Kupang

100

87.50

12.50

22

Pontianak

50

66.67

33.33

23

Palangkaraya

100

66.67

33.33

24

Samarinda

50

50

50

50.00

25

Banjarmasin

50

50

100

26

Palu

100

100

27

Makassar

87.50

88.89

28

Kendari

100

100

29

Manado

100

66.67

30

Gorontalo

31

Ambon

66.67

32

Ternate

100

33

Jayapura

100

54.10

Jumlah
Sumber:Pusdiknakes,PPSDMKesehatan,Depkes

0
2
0

0
1

12

214

77

0
50
0

0
13

0
42.08

0
2
0

5
99

0
18.18
0

0
0
11.11
0
33.33

100.00

100

33.33

100

66.67

33.33

41.67

58.33

183

85.51

31

14.49

0
0
3.83

0
0

Lampiran5.13

NanggroeAcehDarussalam

SumateraUtara

SumateraBarat

Riau

Jambi

SumateraSelatan

Bengkulu

Lampung

KepulauanBangkaBelitung

10

KepulauanRiau

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

13

JawaTengah

14

DIYogyakarta

15

JawaTimur

16

Banten

17

Bali

18

NusaTenggaraBarat

19

NusaTenggaraTimur

20

KalimantanBarat

21

KalimantanTengah

22

KalimantanSelatan

23

KalimantanTimur

24

SulawesiUtara

25

SulawesiTengah

26

SulawesiSelatan

27

SulawesiTenggara

28

Gorontalo

29

SulawesiBarat

30

Maluku

31

MalukuUtara

32

PapuaBarat

33

Papua
JUMLAH

Sumber:Pusdiknakes,PPSDMKesehatan,Depkes

(8)

(11)

(12)

(13)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

(21)

(22)

DIII
Kardiovaskuler

DIPTTD

ATEM

APIKES

ARO

AAK

ATG

SMAK

ATW

(14)

KeteknisianMedis

ATRO

Keterapian
DIIIAKUPUNTUR

Gizi

AKFIS

(10)

Kesmas

AKZI

(9)

AKFAR

(7)

AKAFARMA

(6)

SMF

(5)

SMKF

(4)

AKG

(3)

AKBID

(2)

(1)

Kefarmasian

AKPER

Provinsi

SPK

No

SPRG

Keperawatan

AKL

JUMLAHINSTITUSIDIKNAKESNONPOLITEKNIKKESEHATAN(POLTEKKES)
MENURUTJURUSAN/PROGRAMSTUDIDANPROVINSITAHUN2008

(23)

(24)

Jumlah

(25)

(26)

2
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
2
0
0
0
1
1
2
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

13
42
13
7
7
12
4
6
2
1
35
13
44
5
42
5
0
4
3
6
3
6
6
4
5
24
6
0
0
1
0
0
0

27
51
10
18
5
16
4
10
1
1
25
12
44
2
24
10
2
7
0
3
2
6
6
0
0
13
3
0
0
0
2
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0

0
4
1
1
0
1
1
0
0
0
7
4
4
1
5
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
13
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
3
1
1
0
0
0
1
0
0
2
0
3
0
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
1
3
1
1
2
0
0
0
0
2
2
7
2
2
1
0
2
0
1
1
1
1
0
2
1
1
0
0
0
0
0
1

1
1
0
0
0
2
0
0
0
0
1
0
3
1
1
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0

0
2
1
0
0
0
0
0
0
0
2
0
2
0
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

2
2
1
1
0
1
0
0
0
0
2
1
2
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
2
0
2
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
2
1
1
1
0
0
0
0
1
0
2
4
1
4
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
1

1
1
0
0
0
0
0
1
0
0
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
2
1
2
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
0
2
1
0
1
0
0
0
0
2
1
6
2
2
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

12

319

304

32

14

15

36

14

14

22

20

51
113
34
32
14
35
9
18
4
3
91
50
128
16
93
16
4
16
5
10
7
14
14
5
7
46
13
0
0
1
2
0
3
854

Lampiran5.14

JUMLAHSTRATAAKREDITASIINSTITUSINONPOLTEKKES
KUMULATIFSAMPAIDESEMBERTAHUN2008
Strata

Jumlah
No

Provinsi

Institusi

(1)

(2)

(3)

Institusiyang
BelumTerakreditasi

telahterakreditasi

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

NanggroeAcehDarussalam

51

3.70

20

74.07

22.22

27

52.94

24

47.06

SumateraUtara

113

5.19

58

75.32

15

19.48

77

68.14

36

31.86

SumateraBarat

34

9.52

16

76

14.29

21

61.76

13

38.24

Riau

32

7.14

13

92.86

14

43.75

18

56.25

Jambi

14

100

64.29

35.71

SumateraSelatan

35

13.04

15

65.22

23

65.71

12

34.29

Bengkulu

20

80

55.56

44.44

Lampung

18

10

90.91

11

61.11

38.89

KepulauanBangkaBelitung

100

50

50

10

KepulauanRiau

0.00

100

11

DKIJakarta

91

68

90.67

17.58

12

JawaBarat

50

18.75

13

81.25

13

JawaTengah

128

13

14.44

69

76.67

14

DIYogyakarta

16

11.11

88.89

15

JawaTimur

93

20

26.67

54

72

16

Banten

16

20

80

17

Bali

100

18

NusaTenggaraBarat

16

19

NusaTenggaraTimur

20

KalimantanBarat

21

KalimantanTengah

22

KalimantanSelatan

14

40

60

23

KalimantanTimur

14

25

62.50

12.50

24

SulawesiUtara

80

25

SulawesiTengah

14.29

71.43

26

SulawesiSelatan

46

5.26

14

73.68

27

SulawesiTenggara

13

100

28

Gorontalo

0.00

0.00

29

SulawesiBarat

0.00

0.00

30

Maluku

100

31

MalukuUtara

0.00

32 PapuaBarat

0.00

33

Papua
Jumlah

Sumber:Pusdiknakes,PPSDMKesehatan,Depkes

10

854

0
1
0
2
0

67

0
25
0
25
0

12.45

5
0
1

21.74
0
9.09

1
0
8

0
8.89

82.42

16

16

32

34

68

90

70.31

38

29.69

56.25

43.75

80.65

18

19.35

31.25

11

68.75

75

25

75

25

12

75

100

60

40

75

80

20

100

42.86

57.14

10

71.43

28.57

57.14

42.86

20

100

14.29

100

21.05

19

41.30

27

58.70

53.85

46.15

0
0

100

75

75

1.33

1.33

100

424

78.81

47

8.74

1
0
0

0
0

0
100
0.00

33.33

66.67

538

63

316

37

Lampiran5.15

JUMLAHINSTITUSIDIKNAKESNONPOLTEKKESMENURUTSTATUSKEPEMILIKAN
KUMULATIFSAMPAIDENGANDESEMBERTAHUN2008
No.

JenisTenagaKesehatan

Pemda

TNI/Polri

Swasta

Jumlah

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

KEPERAWATAN
1 SekolahPerawatKesehatan(SPK)
2 AkademiKeperawatan(AKPER)
3 AkademiKebidanan(AKBID)
4 SekolahPengaturRawatGigi(SPRG)
5 (AKG)
SubTotal
KEFARMASIAN
1 SekolahMenengahFarmasi(SMF)
2 SMKF
3 AkademiAnalisFarmasidanMakanan(AKAFARMA)
4 AkademiFarmasi(AKFAR)
SubTotal
KESEHATANMASYARAKAT
1 AkademiKesehatanLingkungan(AKL)
SubTotal
GIZI
1 AkademiGizi(AKZI)
SubTotal
KETERAPIANFISIK
1 AkademiFisioterapi(AKFIS)
2 AOT
3 AkademiTerapiWicara(ATW)
4 AkademiAkupunktur
SubTotal
KETEKNISIANMEDIS
1 SekolahMenengahAnalisKesehatan(SMAK)
2 AkademiAnalisKesehatan(AAK)
3 AkademiTeknikerGigi(ATG)
4 DIPendidikanTeknikTransfusiDarah(PTTD)
5 AkademiTeknikRadiodiagnostikdanRadioterapi(ATRO)
6 AkademiPerekamInformasiKesehatan(APIKES)
7 AkademiTeknikElektromedik(ATEM)
8 AkademiRefraksionisOptisi(ARO)
9 AkademiTeknikKardiovaskuler
SubTotal
Total
%

Sumber:Pusdiknakes,PPSDMKesehatan,Depkes

3
69
17
0
0
89

5
15
1
3
0
24

4
235
286
1
1
527

12
319
304
4
1
640

0
0
0
2
2

2
0
0
1
3

30
14
15
33
92

32
14
15
36
97

1
1

0
0

13
13

14
14

1
1

0
0

8
8

9
9

0
0
0
0
0

0
0
0
0
0

14
0
1
2
17

14
0
1
2
17

1
2
0
0
0
0
0
0
0
3
96
11.24

1
0
1
0
0
0
1
0
0
3
30
3.51

6
20
1
2
8
20
5
8
1
71
728
85.25

8
22
2
2
8
20
6
8
1
77
854
100

Lampiran5.16
JUMLAHDANRASIOTENAGAKESEHATANHASILPENDATAANPOTENSIDESA
MENURUTPROVINSITAHUN2008

Bidan

Nakes
Lainnya
Mantri
Kesehatan

Dukun
Bayi

Dokter

DokterGigi

Bidan

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

Dokter
No
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Provinsi

JumlahPenduduk

Jumlah
Desa

(2)

(3)

(4)

NanggroeAcehDarussalam
SumateraUtara
SumateraBarat
Riau
Jambi
SumateraSelatan
Bengkulu
Lampung
KepulauanBangkaBelitung
KepulauanRiau
DKIJakarta
JawaBarat
JawaTengah
DIYogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
NusaTenggaraBarat
NusaTenggaraTimur
KalimantanBarat
KalimantanTengah
KalimantanSelatan
KalimantanTimur
SulawesiUtara
SulawesiTengah
SulawesiSelatan
SulawesiTenggara
Gorontalo
SulawesiBarat
Maluku
MalukuUtara
PapuaBarat
Papua
TOTAL

4,293,915
13,042,321
4,763,103
5,189,158
2,788,275
7,121,795
1,641,918
7,391,119
1,122,526
1,453,077
9,146,181
40,918,296
32,626,386
3,468,505
37,094,841
9,602,447
3,515,995
4,363,758
4,534,317
4,249,112
2,057,301
3,446,636
3,094,674
2,208,014
2,438,369
7,805,024
2,074,977
972,211
1,032,255
1,320,755
959,601
729,966
2,056,514
228,523,300

Sumber:PendataanPotensiDesa/Kelurahan2008,BPS
DiolaholehPusatDatadanInformasi,Depkes

6,629
5,851
967
1,636
1,303
3,243
1,378
2,379
361
340
267
6,016
8,635
438
8,541
1,520
722
930
3,086
1,960
1,476
2,007
1,421
1,592
1,785
2,972
2,124
669
564
924
1,199
3,623
1,324
77,882

Pria

Wanita

(5)

(6)

Jumlah

Dokter
Gigi

(7)

(8)

RasioPer100.000Penduduk

622
1,788
611
590
297
572
302
461
130
279
2,180
3,847
3,616
858
4,252
951
943
339
387
339
227
322
492
633
244
856
173
107
85
167
131
198
339

491
1,096
517
437
217
453
258
305
77
166
1,302
2,206
2,003
497
2,471
556
391
164
360
171
178
215
332
557
198
748
164
123
106
136
122
184
220

1,113
2,884
1,128
1,027
514
1,025
560
766
207
445
3,482
6,053
5,619
1,355
6,723
1,507
1,334
503
747
510
405
537
824
1,190
442
1,604
337
230
191
303
253
382
559

160
503
261
228
98
111
167
131
41
120
529
901
776
241
1,176
277
216
100
139
139
85
134
182
57
54
349
90
32
51
39
30
129
103

5,608
10,191
3,295
2,397
1,679
4,064
1,637
3,035
408
640
1,209
10,406
11,990
946
12,243
2,819
1,597
1,149
3,319
1,466
1,256
1,814
1,352
1,394
1,827
3,374
1,321
433
437
1,291
889
829
1,759

3,517
5,112
2,002
2,168
1,149
2,408
852
1,990
536
683
228
7,536
9,775
1,008
9,595
1,451
1,577
1,937
3,052
2,057
1,657
1,378
2,131
2,041
1,777
4,164
1,630
557
613
1,473
671
1,260
2,620

4,871
6,469
2,015
4,778
4,124
7,012
2,574
6,397
515
570
270
17,510
17,047
1,266
15,411
5,609
263
3,965
8,744
7,052
3,908
2,927
2,721
1,570
3,345
6,479
4,215
1,355
1,634
2,995
2,232
1,537
4,090

25.92
22.11
23.68
19.79
18.43
14.39
34.11
10.36
18.44
30.62
38.07
14.79
17.22
39.07
18.12
15.69
37.94
11.53
16.47
12.00
19.69
15.58
26.63
53.89
18.13
20.55
16.24
23.66
18.50
22.94
26.37
52.33
27.18

3.73
3.86
5.48
4.39
3.51
1.56
10.17
1.77
3.65
8.26
5.78
2.20
2.38
6.95
3.17
2.88
6.14
2.29
3.07
3.27
4.13
3.89
5.88
2.58
2.21
4.47
4.34
3.29
4.94
2.95
3.13
17.67
5.01

130.60
78.14
69.18
46.19
60.22
57.06
99.70
41.06
36.35
44.04
13.22
25.43
36.75
27.27
33.00
29.36
45.42
26.33
73.20
34.50
61.05
52.63
43.69
63.13
74.93
43.23
63.66
44.54
42.33
97.75
92.64
113.57
85.53

27,338

17,421

44,759

7,649

98,074

80,605

155,470

19.59

3.35

42.92

Lampiran5.17

JUMLAHTENAGAKESEHATANDIPUSKESMAS
MENURUTJENISDANPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

Dokter
Spesialis

Dokter
Umum

Dokter
Gigi

Perawat

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

JUMLAHTENAGAKESEHATAN
Bidan
(tidak
Bidandi Apoteker
Perawat
Asisten Kefarmasi Analis
termasuk Desa/di
&S1
Gigi
Apoteker
an
Farmasi
Bidandi Poskesdes Farmasi
desa)
(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

Kesmas
(S1)
(14)

Kesmas
Sanitarian
(S2)
(15)

(16)

Gizi

(17)

Keterapian Keteknisi
Fisik
anMedis
(18)

(19)

Jumlah

(20)

NanggroeAcehDarussalam

362

72

2,291

126

1,986

1,235

80

36

64

146

366

229

149

7,153

SumateraUtara

920

383

4,295

102

5,123

1,003

142

185

60

122

321

326

213

13,201

SumateraBarat

306

167

1,569

162

1,707

447

165

46

54

125

213

167

133

5,280

Riau

369

165

1,649

38

1,040

124

40

43

12

19

118

93

75

3,790

Jambi

248

71

1,212

1,070

79

25

193

64

142

3,104

SumateraSelatan

365

104

2,157

181

1,703

486

10

130

30

93

214

12

285

193

46

6,017

Bengkulu

246

75

1,089

114

1,124

473

76

63

83

67

24

3,455

Lampung

278

114

1,642

172

1,237

640

56

40

95

238

137

30

4,692

BangkaBelitung

88

29

534

29

229

94

15

13

31

12

33

19

10

1,146

10

KepulauanRiau

180

71

654

14

286

67

13

25

10

21

21

17

1,390

11

DKIJakarta

63

582

511

1,119

183

1,074

45

117

37

49

10

152

197

10

56

4,205

12

JawaBarat

1,241

758

5,063

376

2,955

1,766

155

122

70

605

17

604

437

33

242

14,456

13

JawaTengah

1,708

690

5,149

755

6,406

1,763

28

502

174

330

22

706

638

26

186

19,091

14

DIYogyakarta

292

163

785

44

512

124

18

42

14

49

132

120

128

2,429

15

JawaTimur

1,301

736

5,152

136

6,576

128

25

218

136

98

140

1,161

1,597

209

17,621

16

Banten

335

161

1,302

1,270

10

61

103

61

30

3,333

17

Bali

254

146

1,033

156

867

270

65

15

15

70

220

90

11

3,224

18

NusaTenggaraBarat

153

59

1,097

37

615

195

16

35

60

127

139

73

2,611

19

NusaTenggaraTimur

269

68

1,892

155

1,153

766

78

35

53

28

234

136

25

4,901

20

KalimantanBarat

210

71

1,674

55

1,009

10

28

17

15

196

126

121

3,533

21

KalimantanTengah

149

41

1,050

70

683

131

13

14

10

84

61

28

2,347

22

KalimantanSelatan

295

78

1,269

14

1,272

77

137

73

290

182

150

3,846

23

KalimantanTimur

220

123

1,073

632

51

19

263

75

45

2,501

24

SulawesiUtara

232

21

957

57

384

148

36

11

140

57

2,052

25

SulawesiTengah

173

47

1,406

11

1,318

11

20

80

262

64

22

3,421

26

SulawesiSelatan

455

215

2,483

47

1,381

273

24

47

27

316

388

286

205

6,153

27

SulawesiTenggara

138

41

1,190

34

441

305

15

10

56

23

167

171

273

2,872

28

Gorontalo

77

15

396

14

250

26

126

70

982

29

SulawesiBarat

67

22

523

154

81

40

46

42

19

1,025

30

Maluku

35

488

297

79

83

46

13

1,060

31

MalukuUtara

38

301

283

14

10

36

51

747

32

PapuaBarat

122

16

1,190

692

55

11

13

60

49

43

2,268

33

Papua
TOTAL

Sumber:Pusdatin,Depkes2008

157

34

1,510

967

56

16

43

41

89

95

102

3,124

109

11,865

5,278

55,194

3,107

46,696

10,793

192

2,029

1,184

935

2,955

128

7,540

6,106

89

2,830

157,030

Lampiran5.18

RASIODOKTER,DOKTERGIGI,PERAWATDANBIDANTERHADAPJUMLAHPUSKESMAS
MENURUTPROVINSITAHUN2008

No

Provinsi

Jumlah
Puskesmas

DokterUmum

DokterGigi

(2)

(3)

(4)

(5)

(1)

Perawat

Bidan

(6)

(7)

RasioDokter
Umum

RasioDokterGigi

RasioPerawat

RasioBidan

(8)

(9)

(10)

(11)

NanggroeAcehDarussalam

301

362

72

2,291

3,221

1.20

0.24

7.61

10.70

SumateraUtara

495

920

383

4,295

6,126

1.86

0.77

8.68

12.38

SumateraBarat

227

306

167

1,569

2,154

1.35

0.74

6.91

9.49

Riau

183

369

165

1,649

1,164

2.02

0.90

9.01

6.36

Jambi

158

248

71

1,212

1,070

1.57

0.45

7.67

6.77

SumateraSelatan

278

365

104

2,157

2,189

1.31

0.37

7.76

7.87

Bengkulu

142

246

75

1,089

1,597

1.73

0.53

7.67

11.25

Lampung

253

278

114

1,642

1,877

1.10

0.45

6.49

7.42

BangkaBelitung

50

88

29

534

323

1.76

0.58

10.68

6.46

10

KepulauanRiau

59

180

71

654

353

3.05

1.20

11.08

5.98

11

DKIJakarta

351

582

511

1,119

1,074

1.66

1.46

3.19

3.06

12

JawaBarat

999

1,241

758

5,063

4,721

1.24

0.76

5.07

4.73

13

JawaTengah

842

1,708

690

5,149

8,169

2.03

0.82

6.12

9.70

14

DIYogyakarta

120

292

163

785

636

2.43

1.36

6.54

5.30

15

JawaTimur

940

1,301

736

5,152

6,704

1.38

0.78

5.48

7.13

16

Banten

194

335

161

1,302

1,270

1.73

0.83

6.71

6.55

17

Bali

114

254

146

1,033

1,137

2.23

1.28

9.06

9.97

18

NusaTenggaraBarat

142

153

59

1,097

810

1.08

0.42

7.73

5.70

19

NusaTenggaraTimur

278

269

68

1,892

1,919

0.97

0.24

6.81

6.90

20

KalimantanBarat

224

210

71

1,674

1,009

0.94

0.32

7.47

4.50

21

KalimantanTengah

169

149

41

1,050

814

0.88

0.24

6.21

4.82

22

KalimantanSelatan

214

295

78

1,269

1,349

1.38

0.36

5.93

6.30

23

KalimantanTimur

205

220

123

1,073

632

1.07

0.60

5.23

3.08

24

SulawesiUtara

144

232

21

957

532

1.61

0.15

6.65

3.69

25

SulawesiTengah

144

173

47

1,406

1,325

1.20

0.33

9.76

9.20

26

SulawesiSelatan

395

455

215

2,483

1,654

1.15

0.54

6.29

4.19

27

SulawesiTenggara

208

138

41

1,190

746

0.66

0.20

5.72

3.59

28

Gorontalo

73

77

15

396

250

1.05

0.21

5.42

3.42

29

SulawesiBarat

70

67

22

523

235

0.96

0.31

7.47

3.36

30

Maluku

153

35

488

376

0.23

0.02

3.19

2.46

31

MalukuUtara

91

38

301

283

0.42

0.09

3.31

3.11

32

PapuaBarat

96

122

16

1,190

747

1.27

0.17

12.40

7.78

33

Papua

236

157

34

1,510

1,023

0.67

0.14

6.40

4.33

8,548

11,865

5,278

55,194

57,489

1.39

0.62

6.46

6.73

TOTAL
Sumber:Pusdatin,Depkes2008

Lampiran5.19

JUMLAHTENAGANONKESEHATANDIPUSKESMAS
MENURUTJENISDANPROVINSITAHUN2008

JumlahTenagaNonKesehatan
No

Provinsi

(1)

(2)

Pekarya

TU

Sopir

Keuangan

TenagaNonKesehatanLain

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

NanggroeAcehDarussalam

243

81

25

32

102

483

SumateraUtara

261

304

12

126

704

SumateraBarat

258

100

91

22

165

636

Riau

78

129

38

40

72

357

Jambi

105

62

14

10

22

213

SumateraSelatan

343

276

16

20

181

836

Bengkulu

213

110

33

73

99

528

Lampung

247

121

50

141

164

723

KepulauanBangkaBelitung

86

67

35

22

45

255

28

30

26

70

157

417

341

83

135

540

1,516

10 KepulauanRiau
11 DKIJakarta
12 JawaBarat

665

840

97

239

607

2,448

13 JawaTengah

1,409

1,701

547

944

2,143

6,744

14 DIYogyakarta

213

486

45

50

189

983

15 JawaTimur

991

3,093

406

480

1,001

5,971

16 Banten

76

261

50

15

90

492

17 Bali

173

93

67

24

246

603

18 NusaTenggaraBarat

139

122

32

16

112

421

19 NusaTenggaraTimur

345

143

99

23

37

647

20 KalimantanBarat

322

252

21

24

37

656

21 KalimantanTengah

148

63

31

247

22 KalimantanSelatan

267

96

30

32

431

23 KalimantanTimur

150

288

23

42

504

24 SulawesiUtara

114

48

173

25 SulawesiTengah

52

60

121

26 SulawesiSelatan

398

225

40

60

39

762

27 SulawesiTenggara

43

63

12

17

37

172

28 Gorontalo

43

13

72

29 SulawesiBarat

49

38

11

11

113

30 Maluku

32

15

51

31 MalukuUtara

13

12

26

58

32 PapuaBarat

15

37

14

27

96

33 Papua

70

47

14

10

57

198

8,006

9,617

1,926

2,453

6,369

28,371

TOTAL
Sumber:Pusdatin,Depkes2008

Lampiran5.20

JUMLAHTENAGAKESEHATANDENGANSTATUSPEGAWAITIDAKTETAP(PTT)YANGMASIHAKTIF
MENURUTPROVINSITAHUN2008
DokterUmum
No

Provinsi

(1)

(2)

NanggroeAcehDarussalam

DokterGigi

Bidan

JumlahTenaga

Biasa

Terpencil

Sangat
Terpencil

Jumlah

Biasa

Terpencil

Sangat
Terpencil

Jumlah

Biasa

Terpencil

Sangat
Terpencil

Jumlah

Biasa

Terpencil

Sangat
Terpencil

Jumlah

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

35

123

146

304

22

48

73

110

1150

1,260

148

1295

194

1,637

SumateraUtara

191

195

73

459

41

47

16

104

954

1150

2,104

1186

1392

89

2,667

SumateraBarat

86

58

31

175

20

28

21

69

218

26

244

324

112

52

488

Riau

74

91

28

193

16

41

14

71

183

335

518

273

467

42

782

Jambi

52

87

61

200

10

35

46

41

210

251

94

307

96

497

SumateraSelatan

47

58

105

11

96

105

201

148

166

317

Bengkulu

13

45

28

86

15

31

145

176

46

194

37

277

Lampung

51

50

19

120

14

17

11

42

570

52

622

635

119

30

784

Kep.BangkaBelitung

21

27

43

46

68

80

10

KepulauanRiau

14

28

15

57

14

14

30

19

82

101

35

124

29

188

11

DKIJakarta

12

JawaBarat

133

133

70

70

776

131

907

979

131

1,110

13

JawaTengah

371

371

106

107

1779

1,783

2256

2,261

14

DIYogyakarta

59

59

36

36

102

102

197

197

15

JawaTimur

205

205

133

133

1446

37

1,483

1784

37

1,821

16

Banten

70

70

23

23

219

146

365

312

146

458

17

Bali

65

65

17

17

136

139

218

221

18

NusaTenggaraBarat

25

35

12

72

11

24

35

23

58

68

69

17

154

19

NusaTenggaraTimur

36

233

269

12

109

121

77

77

125

342

467

20

KalimantanBarat

45

92

140

44

47

104

104

152

136

291

21

KalimantanTengah

48

49

97

29

33

45

45

97

78

175

22

KalimantanSelatan

10

86

69

165

13

42

55

170

171

11

269

111

391

23

KalimantanTimur

33

43

21

97

18

21

45

14

19

44

75

42

161

24

SulawesiUtara

61

44

114

10

14

31

32

11

95

54

160

25

SulawesiTengah

37

76

113

15

16

108

108

146

91

237

26

SulawesiTenggara

19

132

151

37

39

36

74

110

36

95

169

300

27

SulawesiSelatan

71

67

28

166

50

29

16

95

99

82

181

220

178

44

442

28

Gorontalo

23

48

77

21

22

13

18

11

37

69

117

29

SulawesiBarat

79

87

33

36

61

61

72

112

184

30

Maluku

144

153

49

52

99

99

111

193

304

31

MalukuUtara

47

53

13

16

41

41

48

60

110

32

Papua

24

121

145

17

20

28

138

166

33

PapuaBarat

16

75

91

12

13

22

87

109

1,646

1,298

1,675

4,619

558

298

646

1,502

6,905

4,527

11,432

9,109

6,123

2,321

17,553

Jumlah
Sumber:BiroKepegawaian,Depkes

Lampiran5.21

JUMLAHALOKASIDANREALISASIANGGARANDEPARTEMENKESEHATAN
MENURUTESELONITAHUNANGGARAN2008

BelanjaPegawai
No

BelanjaBarang

BelanjaModa

BelanjaBantuanSosial

Jumlah

EselonI

(1)

(2)

Alokasi

Realisasi

Alokasi

Realisasi

Alokasi

Realisasi

Alokasi

Realisasi

Alokasi

Realisasi

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

SekretariatJenderal

1,199,003,521,000

846,190,717,383

70.57

795,360,754,000

591,357,748,526

74.35

650,608,199,000

InspektoratJenderal

15,284,750,000

7,928,911,007

51.87

87,107,150,000

57,651,717,9