Anda di halaman 1dari 10

September 29, 2013

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah swt karena telah memberi kemudahan untuk menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas farmasi veteriner. Makalah ini memuat tentang pengembangan prinsip maximum asclepiades pada penggunaan obat hewan dan alat kesehatan hewan Saya menyadari bahwa kemampuan dalam penyusunan makalah ini jauh dari kata

sempurna karena keterbatasan bekal ilmu pengetahuan yang dimiliki, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan untuk pembelajaran dikemudian hari. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat dijadikan sebagai pembuka jalan untuk suatu karya yang lebih baik lagi dikemudian hari. Terima kasih.

PENULIS

Farmasi veteriner

September 29, 2013

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. 1 DAFTAR ISI . 2 BAB I PENDAHULUAN . 3 1.1 Latar belakang 1.2 Rumusan masalah 1.3 Tujuan BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 5 BAB III PEMBAHASAN 7 BAB IV KESIMPULAN 9 DAFTAR PUSTAKA . 10

Farmasi veteriner

September 29, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam rentang waktu 460-370 SM telah muncul satu konsep pemikiran oleh seorang tabib asclepios, yang dikenal dengan prinsip maximum asclepiades. Prinsipprinsip tersebut sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang obat hewan dan pengobatan untuk hewan baik saat ini maupun dimasa yang akan mendatang. Prinsip umum maximum asclepiades pertamakali digunakan untuk memberikan orientasi pada sala satu cabang ilmu pengobatan hewan berupa peresepan obat hewan. Selanjutnya konsep umum tersebut tetap digunakan seiring dengan berdirinya pertama kali pendidikan kedokteran hewan yaitu di inggris tahun 1771. Terdapat empat muatan pada prinsip maximum esclepiades yang diketahui yaitu cito (cepat), tuto (aman), curare (manjur), etjucunde (dan menyenangkan). Diketahui pula didalam resep selembar yang berwarna putih ukuran seperempat kertas folio, terdapat bagian resep seperti inscripto, prescripto, signatura dan subscripto. Bagian resep prescripto inilah implementasi prinsip maximum asclepiades pertamakali dipaparkan. Dalam paparan awal diuraikan bahwa untuk memenuhi kriteria cito maka peranannya ditekankan pada bahan-bahan yang disebut adjuvant sedangkan untuk kriteria tuto peranannya dilakukan oleh bahan-bahan yang tergolong remedium cardinal, sedangkan untuk kriteriajucunde diperankan oleh bahan-bahan yang disebut vehikulum. Upaya pemutakhiran prinnsip maximum asclepiades dalam penggunan obat hewan dan alat-alat kesehatan hewan mulai dirasakan sejak tahun 1950, terutama dibanyak Negara diwilayah eropa barat. Dengan berjalannya waktu serta prilaku kehatihatian dalam penggunaan obat hewan dan atau alkeswan serta seiring perkembangan jaman, maka nuansa tuntunan penggunaan prinsip maximum asclepiades makin mengemuka.

Farmasi veteriner

September 29, 2013

1.2 Rumusan masalah mengapa masyarakat dunia semakin berhati-hati dengan masalah obat hewan danalkeswan ? Apa yang dimaksud perkembangan prinsip maximum asclepiades ?

1.3 Tujuan Supaya kita mengetahui apa iti prinsip maximum asclepiades dan pengembangannya dalam pengobatan pada hewan maupun perkembangan pada alat kesehatan hewan (alkeswan).

Farmasi veteriner

September 29, 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Maximum Asklepiades Perkembangan prinsip cito memiliki makna sesegera mungkin mendekaatkan obat atau alkeswan terhadap sasaran bagian patologis tubuh. Namun bila bagian patologgis tubuh telah pulih, maka secepatnya obat atau alkeswan yang digunakan harus dieliminasi. Perkembangan prinsip tuto memiliki empat makna yaitu (i) aman bila digunakan sebagai sarana pengobatan, (ii) aman dari dampak residu cemaranterhadap produk olahan asal hewan, (iii) aman dari penimbul kerusakan habitat hewan, (iv) aman dari penyalahgunaan obat hewan dan penggunasalahan obat hewan. Pengembangan prinsip curare memiliki persyaratan yaitu pemilihan berdasarkan strategi pengobatan penderita dengan merancang dosis, memilih jenis bahan aktif, mengatur waktu dan cara pemberiaan, serta menetapkan bentuk sediaan. Pengembangan prinsip jucunde memiliki makna harus meakomodasi kriteria-kriteria kesejahteraan hewan (animal walfare) diantaranya adalah sedian obat hewan tidak boleh menimbulkan rasa sakit atau rasa lapar, rasa takut dan rasa tidak menyenangkan pada hewan. Makna lain dari prinsip jucunde adalah aktifitas pemberian obat hewan harus menimbulkan rasa aman dari kemungkinan serangan hewan penderita sehingga membuat nyaman pemberian obat. Falsafah logis dan bertanggung jawab Falsafah logis dan bertanggung jawab pertamakali digunakan oleh badan kesehatan dunia dan dipromosikan untuk melakukan strategi pengobbatan individual melalui penulisan resep menggunakan konsep p-drug yang telah dikenal di eropa sejak awal tahun 1990. Falsafah bertanggung jawab mengandung makna bahwa obat hewan adalah suatu bahan yang berbahaya oleh sebab itu sejak obat tersebut diproduksi, diedarkan hingga digunakan dan bahkan dimusnahkan terdapatpihak otoritas yang bertanggung jawab. Ditngkat pengguna obat hewan, maka bentuk pertanggungjawaban ada dipihak penjual obat dan pihak peminta obat. Bila obat hewan tergolong obat bebas dan obat terbatas suatu saat terjadi suatu dampak merugikan akibat penggunaan obat hewan, maka pertanggungjawaban ada dipihak pemerintah sebagai pemeggang
Farmasi veteriner 5

September 29, 2013

hak otoritas melalui hak otorotas veteriner. Namun bila obat yang dimintakan termasuk obat keras, maka suatu saat bila terjadi dampak yang merugikan pasca penggunaan obat hewan oleh dokter hewan penanggungjawab. Oleh sebab itu bagi dokter hewan peminta obat hewan golongan obat keras ataupun alkesan harus disertai pernyataan tertulis yang dilengkapi paraf atau tandatangan.

Farmasi veteriner

September 29, 2013

BAB III PEMBAHASAN Obat hewan serta alat dan mesin kesehatan hewan dalam tatalaksananya diatur dalam undang-undang No. 18 tahun 2009 bagian ke II dan Ke III dibawah tanggungjawab pemerintah melalui otoritas veteriner. Secara teknis aturan obat hewan dan alat kesehatan hewan diatur pemerintah dibawah kendali kementrian pertanian maupun direktorat jendral peternakan dan kesehatan hewan. Obat hewan didalam penggolongan dikenal terbagi menjadi kelompok farmakoseutik, premik dan biologic serta obat hewan bersumber bahan alami, yang diklasifikasikan menjadi obat keras, bebas terbatas dan obat bebas. Obat hewan dan alkeswan dalam peredarannya di Indonesia diawasi secara ketat oleh tiga komponen yaitu (i) komponen pemerintah pusat, (ii) komponen pemerintah propinsi dan (iii) pengguna obat hewan. Komponen pemerintah pusat dilakukan oleh subdirektorat pengawas obat hewan, direktorat kesehatan hewan dan balai besar pengujian mutu dan sertifikasi obat hewan (BBPMSOH). Komponen pemerintah propinsi dilakukan oleh unit-unit pengawas obat hewan dan alkeswan dinas-dinas terkait dibawah kendali pemerintah provinsi. Dasar pengawasan obat hewan dan alkeswan dari tahun ketahun berlangsung cukup ketat seiring dengan meningkatnya temuan-temuan derivatif jenis bahan aktif baru serta teknologi aneka bentuk sedian obat hewan termasuk teknologi sistem penyampayan bahan aktif obat. Sejak tahun 1984 hinnga tahun 2009 target pengawasan adalah (i) mendapatkan produk bermutu, (ii) pencegahan residu obat hewan, (iii) aman terhadap kesehatan manusia serta lingkungan, (iv) pembinaan produsen obat hewan agar tetap menjaga ketersediaan produk dipasaran dengan harga terjangkau, (v) dapat dilakukan pemantauan kualitas obat hewan oleh siapapun. Prinsip maximum asclepiades dengan orientasi penggunaan obat hewan logis dan bertanggungjawab pada bidang pengabdian kepada masyarakat dapat dicontohkan berupa layanan pengobatan hewan. Dalam melakukan tindakan layanan pengobatan perlu dilakukan perancangan pemberian obat hewan dengan pengaturan regimentasi dosis agar ketersediaan hayati obat bebas dalam tubuh penderita berlangsung lama namun tak menimbulkan penyakit
Farmasi veteriner 7

September 29, 2013

baru karena obat hewan. Hasil rancangan regimentasi dosis obat hewan juga tidak boleh menyebabkan timbulnya residu obat hewan akibat meningkatnya waktu henti obat hewan. Hasil rancangan obat hewan juga tidak diperkenankan menggunakan bahan aktif yang diekresi dalam bentuk utuh dan mudah terurai di alam. Rancangan regimentasi dosis dilakukan pengaturan obat hewan agar agen penyakit terpapar dengan kecukupan kadar. Dalam perancangan pemberian obat dikenal dengan nama pengaturan strategi pengobatan yang dirancang oleh dokter hewan dan melibatkan lebih dari satu macam obat hewan dan atau beserta alkeswan. Beberapa kemotripanosidal yang ada di dunia umumnya bersifat spectrum sempit diantaranya adalah golongan asam naftilamine, golongan fenatridin, golongan kuinaldin dan golongan diamidin. Diantara golongan-golongan tersebut terdapat satu jenis kemotripanosidal yang dianggap merupakan obat pilihan yaitu suramin. Namun soramin pada tahun 1995 telah ditarik peredarannya diakibatkan sifat ketersediaan hayati obat yang mencapai tiga hingga empat bulan. Suramin juga terkenal dengan jenis kemotrapanosidal yang diekskresikan dalam bentuk utuh dari tubuh hewan penderita dan tak mudah terurai di alam. Akibat sifat-sifat yang tidak mendukung prinsip maximum asclepiades, maka kemotrapanosidal tersebut dinyatakan dilarang untuk digunakan sebagai obat hewan pada ternak.

Farmasi veteriner

September 29, 2013

BAB IV KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari paparan di atas amat jelas resiko obat hewan pada umat manusia bila mengabaikan prinsip-prinsip maximum asclepiades serta berorientasi logis dan bertanggungjawab dalam penggunaan obat hewan, lima hal yang dapat merugikan jika mengabaikan prinsip-prinsip tersebut yaitu : bahaya residu cemaran obat hewan dan alkeswan pada produk olahan asal hewan, bahaya cemaran habitat hewan, bahaya terhadap gangguan keseimbangan ekosistem yang berdampak mengakibatka kepunahan salasatu spesies hewan, dan bahaya penyalahgunaan obat hewan ataupun alkeswan yang pada akhirnya dapat merugikan umat manusia.

Farmasi veteriner

September 29, 2013

DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Obat Hewan Indonesia, 2005.

Indeks Obat Hewan Indonesia. Edisi 5. RH JLt 2, Jl. Harsono RM No. 28, Ragunan 12550, Jakarta: PT Gallus Indonesia Utama (GITA pustaka)

Farmasi veteriner

10