Anda di halaman 1dari 15

Empat tahun telah berlalu sejak mencuatnya kasus Reksadana Antaboga.

Namun, nasib pemilik Reksadana Antaboga itu hingga kini belum juga menemui titik terang walaupun kasus ini telah diupayakan melalui jalur hukum. Kasus ini bergulir ketika nasabah Antaboga resah karena investasi mereka tak bisa dicairkan, meski sudah jatuh tempo sejak bulan September 2008.

Kasus Antaboga ini banyak sekali melibatkan nasabah Bank Century. Sebab sebagian besar investor adalah nasabah bank yang sekarang berganti nama menjadi Bank Mutiara. Dana nasabah Bank Century yang tersangkut di produk Antaboga diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun. Dana itu dikelola dalam bentuk portofolio discretionary fund, Reksadana Berlian, Berlian Plus dan Berlian Terproteksi. Kabarnya dana kelolaan Reksadana Berlian per 21 Oktober 2008 Rp49,44 miliar, lalu Berlian Plus Rp5,24 miliar. Produk investasi yang ditawarkan kepada nasabah Bank Century adalah jenis reksadana terproteksi. Sehingga modal awal pasti akan kembali ditambah dengan hasil bunga. Investasi Antaboga menawarkan imbal hasil 13 persen per tahun.

PT Antaboga Delta Sec.Ind. diketahui mendapat izin usaha sebagai perantara pedagang efek dan manajer investasi sejak tahun 1992, tepatnya tanggal 21 Maret 1992.[1] Sebanyak 82,18% saham Antaboga dimiliki PT Aditya Rekautama dan sisanya 17,82% dimiliki PT Mitrasejati Makmurabadi. PT Aditya Rekautama sendiri sebanyak 12,5% sahamnya dimiliki Robert Tantular, Hartawan Aluwi dan Budi PV Tanudjaja.

Robert dan Hartawan merupakan menantu Sukanta Tanudjaja, mantan pemilik Great River. Budi merupakan kerabat Sukanta. Sedangkan PT Mitrasejati Makmurabadi dimiliki Harry Sutomo Raharjo dan Hendro Wiyanto. Hendro kini menjabat sebagai direktur utama Antaboga. Perusahaan didirikan dengan modal dasar Rp60 miliar dan modal disetor Rp55 miliar. Antaboga sendiri merupakan pemilik Bank Century dengan andil saham 7,44%. Di Century selain lewat Antaboga, keluarga Tantular juga memiliki saham lewat PT Century Mega Investindo yang menguasai 9% saham bank dan PT Century Super Investindo yang memegang 5,64% saham.[2]

Ada tiga permasalahan pokok dalam kasus di atas. Pertama, bagaimana Uji Kepatuhan Reksa Dana yang dilakukan oleh Petugas Uji Kepatuhan dari Bapepam sejak tahun 1992 hingga terjadi kasus itu, pada tahun 2008? Lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: Kep38/PM/2003 PERATURAN NOMOR II.F.14 tentang PEDOMAN UJI KEPATUHAN REKSA DANA menjelaskan bahwa Uji Kepatuhan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara berkala oleh biro teknis untuk menguji kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, penerapan prinsip kehatihatian dan manajemen risiko serta kinerja Reksa Dana. Bagaimana mungkin kasus ini bisa terjadi sedemikian rumit kalau Uji Kepatuhan yang dilakukan oleh Bapepam ini benar-benar berjalan baik?

Peraturan tersebut menentukan dalam melakukan uji kepatuhan, Petugas Uji Kepatuhan harus:

a. mengumpulkan data, informasi, dan atau keterangan lain yang diperlukan; b. mengidentifikasikan penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam pengelolaan Reksa Dana; c. mengetahui terlebih dahulu Anggaran Dasar, Kontrak Investasi Kolektif, Komposisi Investasi, Portofolio, Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana, Bank Kustodian,Prospektus dan laporan terakhir yang diterima Bapepam serta Pihak yang terafiliasi dengan Manajer Investasi; dan d. mempelajari dan memahami prosedur standar operasional transaksi Reksa Dana. Selain itu, juga disebutkan, dalam melakukan Uji Kepatuhan terhadap pengelolaan portofolio Reksa Dana, maka Petugas Uji Kepatuhan harus: a. memastikan kesesuaian antara kegiatan pengelolaan Reksa Dana dengan Kontrak Reksa Dana yang telah dibuat sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor IV.A.4 tentang Pedoman Kontrak Pengelolaan Reksa Dana Berbentuk Perseroan atau Peraturan Nomor IV.B.2 tentang Pedoman Kontrak Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif; b. memastikan Manajer Investasi dalam mengelola portofolio telah menerapkan prinsip kehatihatian dan manajemen risiko, antara lain: 1) adanya Komite Investasi dan Tim Pengelola Investasi; 2) Komite Investasi telah mengarahkan dan mengawasi Tim Pengelola Investasi sesuai dengan kebijakan dan strategi investasi yang telah ditetapkan dalam Prospektus dengan memperhatikan beberapa faktor meliputi mikro dan makro ekonomi; 3) Tim Pengelola Investasi dalam melakukan transaksi sehari-hari telah menjalankan kebijakan dan strategi investasi yang ditetapkan oleh Komite Investasi; 4) memastikan adanya kertas kerja yang merupakan dasar untuk melakukan investasi dalam suatu portofolio; 5) Tim Pengelola Investasi telah memperhatikan risiko investasi yang mungkin terjadi dan tindakan apa yang akan dilakukan jika risiko investasi tersebut terjadi; dan 6) adanya pembagian kewenangan yang jelas dalam menentukan jumlah transaksi. c. memastikan Manajer Investasi telah mematuhi Peraturan Nomor IV.A.3 tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Berbentuk Perseroan, Peraturan Nomor IV.A.4 tentang Pedoman Kontrak Pengelolaan Reksa Dana Berbentuk Perseroan, Peraturan Nomor IV.B.1 tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif dan Peraturan Nomor IV.B.2 tentang Pedoman Kontrak Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif; d. memastikan Manajer Investasi telah memenuhi kebijakan investasi yang dilakukan dengan tidak melebihi batas maksimun dan batas minimum sebagaimana diungkapkan dalam Kontrak; e. memastikan biaya yang harus dikeluarkan oleh Reksa Dana, Manajer Investasi, dan pemegang Unit Penyertaan telah sesuai dengan kontrak;

f. memastikan Manajer Investasi tidak melakukan kegiatan yang mengakibatkan Reksa Dana terlibat dalam berbagai bentuk pinjaman, atau membeli saham atau Unit Penyertaan Reksa Dana lain; dan g. memastikan penentuan Nilai Pasar Wajar dari Portofolio Efek telah dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Nomor IV.C.2 tentang Nilai Kedua, di kasus posisi disebutkan pegawai bank yang menjual produk tersebut tidak mempunyai izin dari Bapepam-LK. Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-11/BL/2006 PERATURAN NOMOR V.B.4 tentang PERILAKU AGEN PENJUAL EFEK REKSA DANA pada angka 1 menyatakan Agen Penjual Efek Reksa Dana hanya dapat melakukan kegiatan penjualan Efek Reksa Dana melalui pegawai yang telah memperoleh izin sebagai Wakil Perusahaan Efek atau Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana dan pegawai dimaksud wajib mendapat penugasan secara khusus dari Agen Penjual Efek Reksa Dana yang bertindak untuk dan atas nama Agen Penjual Efek Reksa Dana.

Sayangnya tidak ada aturan Bapepam yang memuat sanksi apapun apabila ada pegawai Agen Penjual Efek Reksa Dana yang tidak memperoleh izin sebagai Wakil Perusahaan Efek atau Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana dan tidak mendapat penugasan secara khusus dari Agen Penjual Efek Reksa Dana yang bertindak untuk dan atas nama Agen Penjual Efek Reksa Dana tersebut menjual produk reksadana.

Ketiga, Manager Investasi tak pernah disinggung seakan-akan tak ikut bertanggung-jawab atas masalah ini. Selain itu, sekali lagi, bagaimana pengawasan Bapepam terhadap Manager Investasi? Di dalam Peraturan Nomor II.F.14 tentang PEDOMAN UJI KEPATUHAN REKSA DANA yang telah disebutkan di atas juga menentukan bahwa Petugas Uji Kepatuhan dari Bapepam harus memastikan bahwa transaksi yang dilakukan oleh Manajer Investasi dengan Perantara Pedagang Efek yang terafiliasi, promotor Reksa Dana, pemegang saham utama Manajer Investasi, pengendali Manajer Investasi, dan pemegang kontrak pengelolaan dana (discretionary fund) dari Manajer Investasi telah dilakukan dengan wajar dan dengan kondisi dan syarat yang normal.

Akhirnya, adalah benar dikatakan bahwa persoalan terjadinya kejahatan dan pelanggaran di pasar modal tak hanya berdasarkan alasan kesalahan pelaku, namun juga kelemahan aparat yang mencakup integritas dan profesionalisme, dan kelemahan peraturan.

Salah seorang pemegang saham Bank Century, Robert Tantular, diketahui adalah pemilik perusahaan investasi PT Antaboga Delta Sekuritas. Di sinilah uang nasabah Bank Century diputar, dan hilang. ***** REPUBLIK ini memang agak aneh. Coba kita lihat kembali rekaman rapat dengar pendapat yang diadakan Komisi XI DPR pada Selasa, 10 Februari silam. Ketika itu Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Siti Ch Fadjrijah membeberkan kronologis kasus PT Bank Century Tbk. Bedasarkan temuan BI, produk investasi berupa reksa dana yang diterbitkan PT Antaboga Delta Sekuritas, tidak mempunyai izin dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Terakhir diketahui, bahwa perusahaan sekuritas tersebut dimiliki Robert Tantular, salah satu pemegang saham di Bank Century. Fadjrijah menceritakan kasus ini bermula pada Januari 2005. Waktu itu Bank Century memang menjadi sub agen penjual produk reksadana, yaitu Investasi Dana Pasti. Sedangkan agennya adalah Antaboga. BI kemudian melakukan pemeriksaan, dan diketahui bahwa pegawai bank yang menjual produk tersebut tidak mempunyai izin dari Bapepam-LK. Pada saat itu juga BI meminta agar penjualan produk tersebut dihentikan. Mei 2005, BI membahas secara internal soal maraknya produk reksa dana. Kemudian di bulan Juni, BI mengeluarkan aturan mengenai syarat bank yang bisa bisa menjadi agen penjual reksa dana (APERD). (Daftar APERD lihat di tabel). Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa sebagai agen reksa dana, bank harus dapat memastikan bahwa reksadana yang bersangkutan telah memperoleh pernyataan yang efektif dari otoritas pasar modal. Lalu, bank dilarang menjamin pelunasan dan kepastian besarnya imbal hasil termasuk nilai aktiva bersih (NAB) secara langsung maupun tidak langsung. Bank juga wajib melapor ke BI setiap bulan mengenai jenis-jenis produk reksa dana yang dijual. Setelah mengadakan pertemuan dengan pihak Bank Century, BI akhirnya mengeluarkan memo internal yang memberitahukan bahwa sejak Desember 2005 penjualan produk Antaboga di Bank Century dihentikan. Memo itu kemudian disampaikan ke seluruh cabang Bank Century per 22 Desember 2005. Awal 2006, bagian pengawas BI berpura-pura menjadi nasabah Bank Century. Ternyata produk itu masih ada. BI memanggil direksi dan menegur manajemen Bank Century. Pada saat itu juga Bank Century mengeluarkan memo untuk mempertegas penghentian penjualan produk Antaboga. Setelah itu, di buku bank tidak ada catatan-catatan dalam pembukuan. Ini fakta yang kami peroleh dari pemeriksaan, ujar Fadjrijah. Sebelumnya, Bank Century tidak pernah mencatat hasil penjualan reksadana Anaboga ke dalam pembukuan perusahaan. Menurut Fadjrijah, dari temuan BI sejak 2005, formulir penjualan produk tersebut awalnya

tercantum logo Antaboga dan Bank Century. Namun, belakangan sudah tidak ada logo Bank Century, yang ada hanya Antaboga. Dari situ BI langsung memberikan informasi ke Bapepam-LK dan meminta lembaga tersebut untuk meneliti reksadana yang dijual Antaboga. Kegagalan BI-Bapepam Ketika itu, anggota Komisi XI DPR Drajad Wibowo mengatakan, BI telah gagal dalam melaksanakan pilar Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Tugas BI melindungi kepentingan nasabah dinilai tidak berjalan. BI telah gagal melaksanakan pilar ke 6 dari API, yaitu melindungi kepentingan nasabah, tegasnya saat memberikan jawaban atas pernyataan yang disampaikan Siti Fadjrijah. Selama ini, kata Drajad, BI lalai melaksanakan tugasnya dan terlalu bersikap reaksioner dalam menangani kasus-kasus perbankan. Padahal, banyak kasus perbankan yang merugikan nasabah hingga triliunan rupiah. Ini bukti bahwa fungsi pengawasan BI tidak jalan sama sekali, katanya. Bukti lainnya, kata dia, kasus Antaboga baru mencuat ke publik di tahun 2008. Padahal, praktek penjualan produk tersebut sudah lama terjadi, tambahnya. Bila hal ini berlangsung secara terus menerus, Drajad khawatir kepercayaan masyarakat untuk menginvestasikan dana ke bank akan berkurang. Soalnya, kata dia, tidak ada nasabah yang mau menaruh dananya di bank bila ujung-ujungnya duit mereka hilang. Sementara pengamat perbankan Avi Aviliani menilai pengawasan BI sudah optimal. Dalam kasus Century, pemicu utama adalah reksa dana Antaboga, yang dimiliki oleh orang yang sama dengan pemilik lama Bank Century yaitu Robert Tantular. Dikatakan Avi, persoalan reksadana tidak termasuk wilayah pengawasan oleh Bank Indonesia, karena produk itu termasuk produk non bank yang menjadi wewenang penanganan dan pengawasan Bapepam-LK Depkeu. Tidak terawasinya penerbitan reksa dana Antaboga yang mengakibatkan kesulitan dana di Bank Century menurut Avi karena tidak menyatunya sistem pengawasan keuangan secara nasional sehingga produk non bank yang menyangkut praktek operasi perbankan tidak terawasi dengan baik. Kasus Century karena tidak adanya arsitektur keuangan nasional yang menyatu, kata Avi. Penyebutan kelemahan Bapepam-LK Depkeu tentu menohok Menkeu Sri Mulyani. Karuan Sri Mulyani langsung mereaksi. Ia tampak gerah atas tudingan yang dialamatkan kepada Bapepam-LK lantaran kasus perusahaan sekuritas PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia. Menurutnya, kasus Antaboga bukan semata-mata kesalahan dari Bapepam-LK. Kendati demikian, dia mengakui bahwa lembaga tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebelumnya anggota Komisi XI, Nursanita Nasution, mempertanyakan peran Bapepam-LK sebagai regulator di pasar modal. Menurutnya, selama ini kasus-kasus reksa dana bodong yang terjadi dari tahun ke tahun sering lewat dari pengawasan Bapepam-LK. Selama ini, kata dia, Bapepam-LK tidak melakukan pengawasan secara ketat. Contohnya dalam kasus Antaboga. Baru tahun 2005 lembaga yang dipimpin Fuad Rahmany itu memberikan surat peringatan kepada

Antaboga, setelah perusahaan broker saham itu mengeluarkan produk yang tidak tercatat di Bapepam-LK. Sri Mulyani rupanya tidak terima tudingan yang dilontarkan Nursanita. Menurutnya, sejak tahun 2005, belum ada nasabah Century yang menderita suatu kerugian terkait reksadana Antaboga. Saat itu mungkin para nasabah menganggap investasi yang ditanamkan terus berjalan dan tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bila nasabah belum mengalami kerugian, tentu mereka tidak akan melakukan pengaduan kepada Bapepam-LK, ujarnya. Jadi, tidak ada alasan bagi Bapepam-LK untuk melakukan teguran selama interaksi antara investor dan pengelola dana dinilai masih saling menguntungkan. Terkait keluarnya surat dari BI yang menengarai bahwa Bank Century telah melakukan operasi yang menggunakan modus penggunaan Badan atau Sekuritas seperti Antaboga, kata Sri Mulyani, maka Bapepam-LK akan melakukan investigasi. Dalam hal ini, ada kesalahan yang dilakukan Bank Century dan Antaboga saat itu. Berdasarkan aturan perundang-undangan yang ada, maka yang bisa dilakukan oleh Bapepam-LK saat itu hanyalah memberi teguran berupa sanksi, paparnya. Setelah ditegur, Antaboga dan Bank Century rupanya masih menjual produk-produk reksadana yang sifatnya resmi ada. Jadi reksadana yang dia jual, invetasinya itu memang ada sehingga bila nasabah kemudian mem-file untuk mendapatkan reksadana itu memang ada underlying invetasinya, urainya. Namun setelah tahun 2005, kembali terjadi suatu pelanggaran yang lebih serius. Akan tetapi, saat itu Bapepam-LK belum menerima suatu pengaduan, yang menyatakan Antaboga dengan menggunakan Bank Century telah menjual reksadana yang tidak resmi. Bapepam-LK baru mengetahui ada suatu instrumen reksadana palsu setelah mendapat pengaduan tanggal 24 November 2008. Artinya, memang ada reksadana yang teregister di dalam Bapepam-LK, namun ada suatu institusi atau Badan yang bisa menjual suatu instrumen yang sebetulnya tidak ada, terang Menkeu. Lantas, apakah berarti Bapepam-LK layak disalahkan karena ada institusi yang menjual sesuatu produk yang fiktif? tanya Sri Mulyani. Ya, mungkin dari sisi kapasitas untuk melakukan enforcement dan pengawasan, Bapepam-LK seharusnya tahu akan hal itu, katanya. Namun perlu diingat, para investor harusnya terlebih dahulu mengecek untuk mengetahui apakah instrumen yang dijual oleh Antaboga formal atau tidak, tambahnya dengan kesan membela Bapepam-LK

PELAJARAN PENTING DARI KASUS REKSADANA 'BODONG' DI BANK CENTURY

Di pekan ini, cerita bank Century memasuki bab baru yang lebih menakutkan dari cerita horor. Ternyata selama ini, Bank Century dalam operasinya juga melakukan penjualan reksadana padahal bank ini tidak mempunyai perizinan untuk menjual Reksadana. Ketika saya cek ke situs Bapepam, Bank Century tidak terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana). Kisah seram ini lalu ternyata berkembang menjadi lebih menyeramkan lagi. Salah satu reksadana yang dijual oleh Bank Century merupakan reksadana 'bodong', alias reksadana yang dibuat tanpa seizin Bapepam. Reksadana yang bermasalah ini dijual dengan nama Investasi Dana Tetap Terproteksi dan dikeluarkan oleh PT. Antaboga Delta Sekuritas. Hebatnya lagi, produk ini kabarnya sudah dijual sejak tahun 2001. Kini dikabarkan bahwa bahwa Rp 1 Triliun - Rp 1,5 Triliun milik nasabah bank Century terkena masalah seputar produk ini. Jika teman-teman pembaca berpikir bahwa cerita ini berakhir di sini, maka anda salah besar, karena masih ada sisi menarik lainnya. Per 30 September 2008, PT. Antaboga Delta Sekuritas tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar Bank Century (dengan total kepemilikan 7,44%).<!--more--> -----oOo----Cerita perkembangan terbaru Bank Century ini mengundang begitu banyak pertanyaan. Yang pertama adalah bagaimana bisa sampai terjadi sebuah bank menjual reksadana tanpa mempunyai izin sebagai Agen Penjual Reksadana (APERD)? Bagaimana pertanggungjawaban Bapepam sebagai badan PENGAWAS Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dalam hal ini? Bagaimana juga dengan pertanggung-jawaban BI sebagai PENGATUR dan PENGAWAS Bank? (Adegan berikutnya kemungkinan besar adalah acara saling tuding menuding dan lempar tanggung jawab antara kedua badan ini). Pertanyaan kedua yang amat mengganggu adalah mengapa suatu produk reksadana 'bodong' tanpa izin bisa lolos dari pengawasan Bapepam, padahal seperti yang dikabarkan, produk tersebut sudah dijual sejak lama (2001)? Pertanyaan lainnya yang saya rasa timbul di kepala banyak orang adalah, apakah dalam hal ini posisi PT. Antaboga sebagai salah satu pemegang saham utama Bank Century mempunyai andil dalam timbulnya kasus ini? Mungkin tidak sedikit yang akan berpendapat IYA. Jika kasusnya adalah demikian, bagaimana dengan potensi terjadinya kasus yang sama di bank-bank lain? Dalam krisis finansial di tahun 97, terkuak fakta bahwa bank-bank seringkali hanya dieksploitasi oleh pemiliknya untuk mendukung anak usahanya yang lain. Pada akhirnya, yang menanggung malpraktek ini adalah nasabah bank. Kasus Bank Century ini meskipun berbeda dalam prakteknya, tetapi mempunyai 'aroma' yang sama. Pertanyaan terbesarnya kini adalah apakah kasus Bank Century ini unik (cuma satu) ataukah justru merupakan cerminan kondisi sektor perbankan?

-----oOo----Dengan begitu banyaknya pertanyaan yang mengganggu, bagaimana harusnya seorang investor Reksadana di Indonesia bertindak? Belajar dari kasus Bank Century ini, maka sebelum berinvestasi di suatu reksadana, ada baiknya kita:

I. Memeriksa apakah tempat kita membeli reksadana tersebut terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksadana). Dari situs Bapepam, daftar Agen Penjual Reksadana yang terdaftar (per saat artikel ini ditulis) adalah: 1. PT Bank CommonWealth 2. American Express Bank Ltd. 3. PT Bank Niaga 4. Deutsche Bank AG 5. PT Bank DBS Indonesia 6. PT Bank Internasional Indonesia (BII) 7. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 8. PT Citibank NA Cabang Indonesia 9. Standard Chartered Bank Indonesia 10. PT ABN AMRO Bank (yang sekarang tampil dengan nama baru RBS) 11. PT BRI (Persero) Tbk 12. PT Bank Buana Indonesia TBK (sekarang lebih dikenal dengan nama UOB Buana) 13. Bank Permata Tbk 14. PT HSBC Ltd 15. PT Bank Lippo Tbk 16. PT Bank Danamon Tbk 17. PT Bank Bukopin Tbk 18. Bank BCA Tbk 19. Bank NISP Tbk 20. PT Bank Mayapada Internasional Tbk

21. PT Victoria Internasional Tbk 22. PT Bank SinarMas 23. PT Bank Pan Indonesia Tbk 24. PT Bank Mega Tbk 25. PT Bank Syariah Mandiri 26. PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk 27. PT BNI (Persero) Tbk Jika selama ini anda membeli Reksadana tidak langsung dari Pengelola Reksadana tersebut, melainkan melalui agen penjual, periksalah apakah tempat anda membeli Reksadana masuk dalam daftar di atas. Jika tidak, ada baiknya diselidiki lebih lanjut. PS: Sekali lagi saya ingatkan bahwa data di atas adalah data yang saya dapatkan di situs Bapepam pada saat artikel ini ditulis. Jika anda membaca artikel ini dalam kurun waktu yg lama setelah artikel ini ditulis, ada baiknya dikonfirmasikan kembali di situs Bapepam.

II. Memeriksa apakah reksadana yang kita beli telah terdaftar dan memiliki izin dari Bapepam LK Ini bisa dilakukan melalui situs Bapepam. Link yang saya temukan ada dua: 1. http://www.bapepamlk.depkeu.go.id/reksadana/ 2. http://www.bapepam.go.id/e-monitoring/Default.asp Sayangnya, saat ini keduanya sedang down karena ada pengembangan sistem dan aplikasi baru. Sementara sistem online ini masih diperbaiki, mungkin pilihan yang tersisa adalah dengan konfirmasi langsung ke Bapepam (per telpon).

III. Ada baiknya juga mengkonfirmasi apakah orang yang menjual Reksadana kepada anda memiliki izin sebagai Wakil Perusahaan Efek ataupun Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD) Berdasarkan Peraturan Nomor V.B.2 (2006) tentang Perizinan Wakil Agen Penjual Efek Reksa, ditetapkan bahwa: Untuk mencegah terjadinya kekeliruan penyampaian informasi dalam memasarkan produk Reksa Dana, maka penjualan Efek Reksa Dana hanya dapat dilakukan oleh orang perseorangan yang memiliki izin sebagai Wakil Perusahaan Efek ataupun Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD) Ini ditekankan lagi dalam Peraturan Nomor V.B.3 (2006) tentang Pendaftaran Agen Penjual Efek Reksa Dana bahwa:

Pegawai Agen Penjual Efek Reksa Dana yang melakukan penjualan Efek Reksa Dana wajib memiliki izin orang perseorangan sebagai WAPERD Tidak ada salahnya memastikan bahwa orang yang melayani pembelian reksadana anda selama ini memiliki izin WAPERD untuk menghindari adanya informasi yang tidak akurat karena kurangnya kualifikasi orang tersebut.

IV. Jangan lupa untuk : BACA, BACA dan BACA KEMBALI prospektus reksadana yang diterima. Ingat, pada akhirnya, yang bertanggung jawab atas uang kita adalah kita sendiri. Membaca prospektus dengan teliti adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap investor.

KASUS CENTURY BERAWAL DARI ANTABOGA, Bapepam-LK Harus Bertanggung Jawab Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) harus ikut bertanggung jawab atas kasus Bank Century. Sebab, kolapsnya bank tersebut berawal dari penerbitan discretionary fund oleh PT Antaboga Delta Sekuritas yang dimiliki keluarga Tantular. Discretionary fund adalah kontrak pengelolaan dana (KPD) antara nasabah dan manager investasi (MI). Dalam kasus Century, dosa Bapepam-LK adalah membiarkan perusahaan sekuritas menjual produk discretionary fund yang ternyata bodong. Selain itu, investor publik tidak memperoleh informasi memadai terkait skandal Century, padahal bank tersebut adalah listed company. Hal itu diungkapkan pengamat hukum pasar modal Indra Safitri, praktisi hukum Ery Yunasri, ekonom Indef Iman Sugema, dan Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (Missi) Nyak Dan Murdani di Jakarta, akhir pekan lalu. Bapepam tidak boleh lepas tangan, karena Antaboga selaku manajer investasi mendapat izin dan di bawah pengawasan Bapepam. Apalagi Bank Century juga merupakan perusahaan terbuka, tegas Indra Safitri kepada Investor Daily. Sementara itu, Iman Sugema mengatakan, kolapsnya Bank Century berawal dari gagal bayar discretionary fund Antaboga yang dipasarkan melalui Bank Century. Sejak itu, kepercayaan nasabah runtuh dan mereka ramai-ramai menarik dana dari Bank Century sehingga bank tersebut kolaps. Kasus Century merupakan kesalahan berjamaah, kata dia. Tak hanya Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang berdosa karena memutuskan penyelamatan bank tersebut sehingga berpotensi merugikan negara triliunan rupiah, tetapi juga Bapepam-LK. Sebab, kolapsnya Bank Century berawal dari lemahnya pengawasan Bapepam-LK atas manajer investasi, yakni PT Antaboga Delta Sekuritas. Ketika dikonfirmasi tentang hal itu, Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany mengatakan, penjualan produk investasi oleh Antaboga Delta Sekuritas melalui Bank Century bukan merupakan tanggung jawab otoritas pasar modal. Pasalnya, produk tersebut diperjualbelikan di Bank Century dan bukan Antaboga. Jadi ini bukan tanggung jawab Bapepam-LK, kata dia. Menurut Fuad, produk yang dijual Antaboga tersebut bukanlah produk reksa dana melainkan discretionary fund. Produk tersebut juga bukan merupakan produk investasi yang pernah mendapat peringatan dari Bapepam-LK pada 2005. Dia menilai, produk investasi yang telah menampung dana sebesar Rp 1,4 triliun dan diperjuabelikan di Bank Century merupakan produk palsu. Fuad mengaku pihaknya tidak dapat memproteksi nasabah Bank Century, karena otoritas pasar modal hanya melindungi para pemegang saham perseroan. Kami sudah melakukan semuanya, meminta report, laporan keuangan, dan pelaporan aksi korporasi ataupun suspensi ketika ada masalah, tandas dia. Pengawasan Lemah

Iman Sugema menegaskan, sudah menjadi rahasia umum bahwa pengawasan Bapepam-LK sangat lemah. Ini tercermin dari banyaknya kasus di pasar modal, mulai dari transaksi repo, produk derivatif, hingga kasus Sarijaya Sekuritas. Dalam kasus Antaboga, kata dia, Bapepam LK semestinya memberikan early warning kepada investor bahwa produk yang dipasarkan Bank Century itu bukan produk pasar modal. Namun, Bapepam tidak bertindak apapun hingga akhirnya masyakarat tertipu dengan total kerugian sekitar Rp 1,4 triliun. Kisruh produk Antaboga berawal pada Agustus 2008, ketika pegawai customer service Bank Century menawarkan pengalihan dana di rekeningnya untuk diinvestasikan ke salah satu produk Antaboga dengan iming-iming bunga 13% dalam tiga bulan. Sebagai bukti investasi, para nasabah hanya diberi selembar kertas sertifikat berwarna coklat, berlabelkan tulisan discretionary fund di pojok kanan atas. Pada pertengahan November 2008, direksi Antaboga mengeluarkan surat edaran tentang waktu jatuh tempo redemption. Direksi Antaboga meminta para nasabah memperpanjang redemption seluruh produk investasi hingga beberapa bulan lagi. Dengan rincian, 10% akan dibayar pada bulan pertama, 40% bulan ketiga, dan sisanya akan dibayarkan enam bulan kemudian. Pengumuman ini menimbulkan kecurigaan para nasabah bahwa discretionary fund Antaboga tidak beres sehingga redemption besar-besaran pun tak terhindarkan dan akhirnya gagal bayar. Menurut Indra, meskipun discretionary fund Antaboga tidak mendapat izin dari Bapepam, otoritas pasar modal ini tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Pasalnya, setiap perusahaan efek dan manajer investasi wajib menyampaikan laporan keuangannya kepada Bapepam. Dalam konteks Antaboga saat ini, Bapepam setidaknya ikut membantu bagaimana caranya mengembalikan dana nasabah, ujar Indra. Untuk ke depannya, Bapepam seharusnya mencermati laporan berkala dari setiap manajer investasi. Tidak hanya reksa dana, juga produk KPD yang banyak dijual MI. Pengawasan secara ketat itu sangat penting supaya tidak menimbulkan kasus penggelapan dana nasabah. Hal serupa juga ditegaskan Ery Yunasri. Menurut dia, Bapepam dapat menjerat Antaboga dengan Undang-Undang (UU) Pasar Modal yang mengatur tentang penggelapan dana nasabah perusahaan efek atau manajer investasi. Saya dengar, Bapepam sedang melakukan penyidikan secara khusus, kata dia.

Akhirnya, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mencabut tiga izin usaha perusahaan efek PT Antaboga Deltasekuritas Indonesia. Tiga izin usaha yang dicabut yakni sebagai perantara pedagang efek, manajer investasi, dan penjamin emisi. Pencabutan izin usaha ini dilakukan melalui Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor: Kep-01/BL/PE/S.5/2009 tanggal 31 Desember 2009. Namun, pengumumannya sendiri baru dilansir akhir pekan lalu.

Sekretaris Bapepam-LK Ngalim Sawega dalam siaran pers menuturkan, dengan berlakunya keputusan ini, maka Antaboga wajib menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada nasabah dalam kegiatan usaha sebagai perantara pedagang efek, manajer investasi, dan penjamin emisi efek.

Lika-liku pemeriksaan terhadap Antaboga cukup panjang. Perusahaan efek yang pernah terafiliasi dengan Bank Century ini terbelit reksa dana bodong. Nasabah Antaboga rugi besar gara-gara kasus ini. Dana lima ribu nasabah Antaboga disedot melalui 62 kantor cabang Bank Century dan masuk ke rekening Bank Century Pusat atas nama Antaboga.

Kemudian, duit panas itu mengalir ke kantong para pemilik perusahaan, yaitu Robert Tantular & Grup sebanyak Rp277 miliar, Anton Tantular & Grup sebanyak Rp248 miliar, dan Hartawan Aluwi & Grup sebanyak Rp854 miliar.

Hampir setahun lebih Bapepam-LK mengusut kasus ini. Tapi hasil pengusutan tak kunjung tiba, Bapepam-LK pun menjadi bulan-bulanan anggota dewan. Nursanita Nasution, anggota Komisi XI DPR periode 2004-2009 mempertanyakan peran Bapepam-LK sebagai regulator di pasar modal. Menurutnya, kasus-kasus reksa dana bodong yang terjadi dari tahun ke tahun kerap lewat dari pengawasan Bapepam-LK.

Bapepam-LK, lanjut Nursanita, tidak melakukan pengawasan ketat. Contohnya dalam kasus Antaboga. Baru tahun 2005, lembaga yang dipimpin A Fuad Rahmany itu memberikan surat peringatan kepada Antaboga, setelah perusahaan broker saham itu mengeluarkan produk yang tidak tercatat di Bapepam-LK.

Bapepam-LK sendiri, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, baru mengetahui adanya reksa dana palsu Antaboga setelah mendapat pengaduan tanggal 24 November 2008.

Luthfi Zain Fuady dari Biro Perundangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK mengatakan untuk memeriksa sebuah kasus pasar modal memang dibutuhkan waktu tidak sebentar. Apalagi, kata dia,

pelanggaran yang dilakukan oleh Antaboga cukup banyak. Ada banyak pelanggaran peraturan pasar modal, ujarnya kepada hukumonline.

Namun, Lutfi enggan menjelaskan lebih lanjut pelanggaran yang dilakukan Antaboga. Yang, jelas, menurutnya, setelah pencabutan izin ini, Bapepam-LK akan mengenakan sanksi kepada direksi maupun manajemen Antaboga yang terlibat dalam kasus ini. Pelaku pelanggaran, orang-orang ini akan diproses, ungkapnya.

Dalam rapat Pansus Angket kasus Bank Century, Senin (18/1), Ketua Bapepam-LK A Fuad Rahmany mengungkapkan pihaknya sudah mendeteksi pelanggaran yang dilakukan Antaboga. Bahkan, Bapepam-LK telah mencium adanya tindak pidana. Menurut Fuad, berdasarkan penyidikan Bapepam-LK, ditemukan adanya produk Antaboga yang dijual di setiap cabang Bank Century dan dananya ditransfer langsung ke rekening Antaboga di Bank Century.

Dana itu kemudian ditransfer ke rekening Robert Tantular. Dana kelolaan outstandingnasabah Century yang membeli produk Antaboga sejumlah Rp1,4 triliun dengan total 1.190 nasabah. Fuad memaparkan produk tersebut tidak tercatat di Bapepam-LK. Kasusnya sendiri sedang ditangani Tim BersamaBapepam-LK, Mabes Polri, Depkumham dan Kejaksaan, PPATK.

Alasan Pencabutan Sekadar informasi, ada tiga kondisi yang melegalkan Bapepam-LK mencabut izin usaha perusahaan efek. Pertama, izin usaha dikembalikan oleh perusahaan efek yang bersangkutan kepada Bapepam dan LK. Kedua, pelanggaran terhadap perundang-undangan di bidang Pasar Modal. Atau ketiga, perusahaan efek bubar.

Angka 6 huruf e Peraturan Bapepam-LK No. V.A.1 tentang Perizinan Perusahaan Efek (Lampiran Ketua Bapepam-LK No. Kep-334/BL/2007), menyatakan izin usaha perusahaan efek dapat dicabut, apabila antara lain: pertama, perusahaan tidak melakukan kegiatan sebagai perusahaan efek dengan kondisi; kantor perusahaan efek tidak ditemukan; kantor perusahaan efek ditemukan, namun dalam jangka waktu dua tahun berturut-turutp erusahaan efek tidak melakukan kegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek, perantara pedagang efek, dan atau manajer investasi; dan atau perusahaan efek tidak memiliki pegawai.

Kedua, perusahaan efek tidak dapat memenuhi kekurangan yang dipersyaratkan sesuai dengan peraturan yang berlaku setelah kesempatan dan jangka waktu yang diberikan terlewati; dan

atau ketiga, perusahaan terbukti melakukan pelanggaran tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Dalam peraturan itu juga diatur, direksi perusahaan efek dilarang mempunyai jabatan rangkap pada perusahaan lain. Namun, hal ini dikecualikan untuk jabatan sebagai komisaris bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan atau lembaga penyimpanan dan penyelesaian. Direksi dan komisaris perusahaan efek juga wajib tidak pernah melakukan perbuatan tercela atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan.

Di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri status Antaboga saat ini sudah tidak aktif. Pada Feburari 2009 lalu, Surat Persetujuan Anggota Bursa (SPAB) Antaboga dicabut oleh BEI. Pada 4 Desemebr 2008, BEI menghentikan kegiatan perdagangan (suspend) Antaboga karena dinilai kurang tertib administrasi. BEI menemukan ada ketidaktertiban dalam hal penanganan administrasi rekening perusahaan dan administrasi modal kerja bersih disesuaikan (MKBD).

Penjelasan tentang profil broker berkode AD itu juga tidak lengkap. Dalam profil hanya tertulis nilai Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) hari terakhir Antaboga serta susunan direksi dan komisarisnya. Nilai MKBD tercatat Rp32.591.389.162. Sementara direksi dijabat oleh Hendro Wiyanto (direktur utama) dan Rudy Wibawa (direktur), sedangkan komisaris dijabat oleh Abdul Haris dan Mustafa Boediman.