Anda di halaman 1dari 3

Pengecatan Spora Bakteri

BAB I PENDAHULUAN Spora bakteri adalah bentuk bakteri yang sedang dalam usaha mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari luar. Segera setelah keadaan luar baik lagi bagi mereka, maka pecahlah bungkus spora dan tumbuhlah bakteri. Spora lazim disebut endospora ialah karena spora itu dibentuk di dalam sel. Endospora jauh lebih tahan terhadap pengaruh luar yang buruk dari pada bakteri biasa yaitu bakteri dalam bentuk vegetatif. Sporulasi dapat dicegah, jika selalu diadakan pemindahan piaraan ke medium yang baru. Endospora dibuat irisan dapat terlihat terdiri atas pembungkus luar, korteks dan inti yang mengandung struktur nukleus. Apabila sel vegetatif membentuk endospora, sel ini membuat enzim baru, memproduksi dinding sel yang sama sekali baru dan berubah bentuk. Dengan kata lain sporulasi adalah bentuk sederhana diferensiasi sel, karena itu, proses ini diteliti secara mendalam untuk mempelajari peristiwa apa yang memicu perubahan enzim dan morfologi. Spora biasanya terlihat sebagai badan-badan refraktil intrasel dalam sediaan suspensi sel yang tidak diwarnai atau sebagai daerah tidak berwarna pada sel yang diwarnai secara biasa. Dinding spora relatif tidak dapat ditembus, ini pula yang mencegah hilangnya zat warna spora setelah melalui pencucian dengan alkohol yang cukup lama untuk menghilangkan zat warna sel vegetatif. Sel vegetatif akhirnya dapat diberi zat warna kontras. Spora biasanya diwarnai dengan hijau malachit atau carbol fuchsin. Spora bakteri dapat berbentuk bulat, lonjong atau silindris. Berdasarkan letaknya spora di dalam sel kuman, dikenal letak sentral,subterminal dan terminal. Ada spora yang garis tengahnya lebih besar dari garis tengah sel kuman, sehingga menyebabkan pembengkakan sel bakteri.

BAB II TINJAUAN TEORI A. Definisi Endospora adalah struktur spesifik yang ditemukan pada beberapa jenis bakteri. Karena kandungan air endospora sangat rendah bila dibandingkan dengan sel vegetatifnya, maka endospora berbentuk sangat padat dan sangat refraktil bila dilihat di bawah mikroskop. Endospora sangat sukar diwarnai dengan pewarna biasa, sehingga harus digunakan pewarna spesifik dan yang biasa digunakan adalah malachite green.

Dua jenis bakteri yang dapat membentuk spora misalnya Clostridium dan Bacillus. Clostridium adalah bakteri yang bersifat anaerobic, sedangkan Bacillus pada umumnya bersifat aerobic. Struktur endospora mungkin bervariasi untuk setiap jenis spesies, tapi umumnya hamper sama. Endospora bakteri merupakan struktur yang tahan terhadap keadaan lingkungan yang ekstrim misalnya kering, pemanasan, dan keadaan asam. Bakteri pembentuk spora lebih tahan terhadap desinfektan, sinar, kekeringan, panas, dan kedinginan. Kebanyakan bakteri pembentuk spora tinggal di tanah, namun spora bakteri dapat tersebar di mana saja. B. Metode Pengecatan Endospora Endosopora tidak mudah diwarnai dengan zat pewarna pada umumnya, tetapi sekali diwarnai, zat warna tersebut akan sulit hilang. Hal inilah yang menjadi dasar dari metode pengecatan spora secara umum. Pada metode Schaeffer-Fulton yang banyak dipakai dalam pengecatan endospora, endospora diwarnai pertama dengan malachite green dengan proses pemanasan. Larutan ini merupakan pewarna yang kuat yang dapat berpenetrasi ke dalam endospora. Setelah perlakuan malachite green, biakan sel dicuci dengan air lalu ditutup dengan cat safranin. Teknik ini akan menghasilkan warna hijau pada endospora dan warna merah muda pada sel vegetatifnya. Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Gunakan teknik aseptis, siapkan biakan bakteri dalam kondisi udara yang kering dan dengan pemanasan yang baik. 2. Siapkan waterbath yang dipanaskan. 3. Tutup gelas preparat dengan selembar tisu dan letakkan pada rak di atas waterbath. 4. Tetesi dengan malachite green 5. Panaskan gelas preparat selama 5 menit. 6. Pindahkan gelas preparat dari waterbath dan ambil kertas tisu dari preparat. 7. Biarkan gelas preparat dingin lalu cuci dengan air deionisasi. 8. Keringkan dan tambahkan safranin, diamkan selama 2 menit. 9. Cuci sisa safranin dengan air deionisasi dan keringkan noda. 10. Lakukan pengamatan preparat dengan mikroskop dengan bantuan minyak emersi. C. Respon Bakteri Penghasil Spora dan yang Tidak Tahan Pengecatan Pewarnaan Spora menggunakan reagensia yang bebeda, yaitu: a. Zat Warna Primer: Malachite Green. Spora tidak bisa diwarnai seperti mewarnai sel vegetatif, disebabkan karena adanya spore coat yang tidak mudah mengikat zat warna primer. Untuk penetrasi zat warna, diperlukan pemanasan. Setelah diberi zat warna primer, kemudian preparat dipanasi, sel vegetatif dan spora akan berwarna hijau. b. Zat Peluntur: Air. Sekali malachite green masuk ke dalam spora, tidak bisa lagi dilunturkan dengan air mengalir, yang hanya melunturkan sisa-sisa zat warna primer. c. Spora tetap berwarna hijau. sebaliknya zat warna tidak menunjukkan affeniteit yang kuat dengan komponen sel vegetatif, air bisa melunturkannya, yang kemudian menjadi tidak berwarna. d. Zat Warna Kontras: Safranin atau larutan Fuchsin. Zat warna kontras yang berwarna merah ini digunakan untuk mewarnai sel vegetatif yang sudah dilunturkan, yang kemudian akan mengabsorbsi zat warna kontras dan akan berubah menjadi berwarna merah. Spora tetap berwarna hijau seperti warna zat primer. Contoh yang paling mudah adalah untuk spesies Bacilllus subtilis dan E. Coli. B. Subtilis akan berwarna hijau setelah pengecatan. Hal ini berarti B. Subtilis memiliki

endospora. Endospora lebih tahan lama meski dalam keadaan linghkungan ekstrim seperti kering, panas, atau bahan kimia yang beracun. Selain itu, endospora juga lebih tahan terhadap pewarnaan. Sekali berhasil diwarnai, spora sangat sukar untuk melepaskan zat warna sehingga saat diberi warna dari safranin tetap berwarna hijau karena spora sudah mengikat malachite dan sulit mengikat warna yang diberikan kemudian. Eschericia coli setelah pengecatan akan berwarna merah muda dari safranin. E.coli berarti tidak memiliki endospora, hanya memiliki sel vegetatif. Karena E.coli hanya memiliki sel vegetatif, sel vegetatif tidak tahan terhadap pewarnaan. Saat diwarnai denga malachite, sel vegetatif tidak dapat mengikat malachite sehingga saat dilunturkan, warna malachite dapat hilang. Kemudian saat diberi safranin, sel vegetatif dapat mengikat warna kembali sehingga warna sel menjadi merah muda.