Anda di halaman 1dari 20

makalah dampak pengolahan sampah

BAB I LATAR BELAKANG DAN TUJUAN


1.1 Latar Belakang Sampah merupakan masalah yang selalu muncul di lingsungan kita. Karena setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah. Permasalahan sampah ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi terjadi pada setiap negara. Oleh karena itu setiap negara mempunyai cara masing-masing untuk meminimalisir sampah yang ada, bahkan memanfaatkan sampah tersebut. Pemanfaatan sampah tersebut sangatlah beragam. Contohnya dari sampah organik dapat dibuat pupuk yang bermanfaat untuk tumbuhan. Sampah organik ini apabila dibiarkan begitu saja akan membusuk dan akan mengganggu masyarakat. Sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat di urai. Dan sampah anorganik ini dapat dimanfaatkan menjadi karya seni atau di daur ulang. 1.2 Tujuan Dalam makalah ini penulis memiliki tujuan untuk mengetahui definisi dari sampah dan memaparkan penelusuran yang berkaitan dengan sampah. Selain itu penulis memiliki hasrat untuk memberi informasi dan mengajak pembaca untuk menyadari dampak sampah di bumi ini. Rumusan Masalah Dalam makalah ini penulis merumuskan : 1. Apa yang disebut dengan sampah 2. Apa dampak dari sampah 3. Bagaimana cara pengolahan sampah

BAB II DAMPAK DAN PENGELOLAAN SAMPAH


2.1 Pengertian Sampah Sebagai makhluk hidup, kita pasti menghasilkan sisa yang kita kenal sebagai sampah . Menurut Kamus Istilah Lingkungan Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatnan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. Sedangkan menurut Dr. Tandjung, M.Sc. , Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula. Jenis Sampah Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan sebagai: 1. Sampah Organik Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah

diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun. 2. Sampah Anorganik Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

2.2 Dampak dari Sampah Berikut ini merupakan dampak yang ditimbulkan akibat masalah sampah : 1. Perkembangan vektor penyakit Wadah sampah merupakan tempat yang sangat ideal bagi pertumbuhan vektor penyakit terutama lalat dan tikus. Hal ini disebabkan dalam wadah sampah tersedia sisa makanan dalam jumlah yang besar. Tempat Penampungan Sementara / Container juga merupakan tempat berkembangnya vektor tersebut karena alasan yang sama. Sudah barang tentu akan menurunkan kualitas kesehatan lingkungan sekitarnya. Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di lokasi TPA. Hal ini terutama disebabkan oleh frekwensi penutupan sampah yang tidak dilakukan sesuai ketentuan sehingga siklus hidup lalat dari telur menjadi larva telah berlangsung sebelum penutupan dilaksanakan. Gangguan akibat lalat umumnya dapat ditemui sampai radius 1-2 km dari lokasi TPA 2. Pencemaran Udara Sampah yang menumpuk dan tidak segera terangkut merupakan sumber bau tidak sedap yang memberikan efek buruk bagi daerah sensitif sekitarnya seperti permukiman, perbelanjaan, rekreasi, dan lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi pada sumber dan lokasi pengumpulan terutama bila terjadi penundaan proses pengangkutan sehingga menyebabkan

kapasitas tempat terlampaui. Asap yang timbul sangat potensial menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitarnya. Sarana pengangkutan yang tidak tertutup dengan baik juga sangat berpotensi menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang dilalui, terutama akibat bercecerannya air lindi dari bak kendaraan. Pada instalasi pengolahan terjadi berupa pelepasan zat pencemar ke udara dari hasil pembuangan sampah yang tidak sempurna; diantaranya berupa : partikulat, SO x, NO x, hidrokarbon, HCl, dioksin, dan lain-lain. Proses dekomposisi sampah di TPA secara kontinu akan berlangsung dan dalam hal ini akan dihasilkan berbagai gas seperti CO, CO2, CH4,H2S, dan lain-lain yang secara langsung akan mengganggu komposisi gas alamiah di udara, mendorong terjadinya pemanasan global, disamping efek yang merugikan terhadap kesehatan manusia di sekitarnya. Pembongkaran sampah dengan volume yang besar dalam lokasi pengolahan berpotensi menimbulkan gangguan bau. Disamping itu juga sangat mungkin terjadi pencemaran berupa asap bila sampah dibakar pada instalasi yang tidak memenuhi syarat teknis. Seperti halnya perkembangan populasi lalat, bau tak sedap di TPA juga timbul akibat penutupan sampah yang tidak dilaksanakan dengan baik. Asap juga seringkali timbul di TPA akibat terbakarnya tumpukan sampah baik secara sengaja maupun tidak. Produksi gas metan yang cukup besar dalam tumpukan sampah menyebabkan api sulit dipadamkan sehingga asap yang dihasilkan akan sangat mengganggu daerah sekitarnya. 3. Pencemaran Air Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial menghasilkan lindi terutama pada saat turun hujan. Aliran lindi ke saluran atau tanah sekitarnya akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Instalasi pengolahan berskala besar menampung sampah dalam jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi lindi yang dihasilkan di instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran air dan tanah di sekitarnya.Lindi yang timbul di TPA sangat mungkin mencemari lingkungan sekitarnya baik berupa rembesan dari dasar TPA yang mencemari air tanah di bawahnya. Pada lahan yang terletak di kemiringan, kecepatan aliran air tanah akan cukup tinggi sehingga dimungkinkan terjadi cemaran terhadap sumur penduduk yang trerletak pada elevasi yang lebih rendah.

Pencemaran lindi juga dapat terjadi akibat efluen pengolahan yang belum memenuhi syarat untuk dibuang ke badan air penerima. Karakteristik pencemar lindi yang sangat besar akan sangat mempengaruhi kondisi badan air penerima terutama air permukaan yang dengan mudah mengalami kekurangan oksigen terlarut sehingga mematikan biota yang ada. 4. Pencemaran Tanah Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di lahan kosong atau TPA yang dioperasikan secara sembarangan akan menyebabkan lahan setempat mengalami pencemaran akibat tertumpuknya sampah organik dan mungkin juga mengandung Bahan Buangan Berbahaya (B3). Bila hal ini terjadi maka akan diperlukan waktu yang sangat lama sampai sampah terdegradasi atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. 5. Gangguan Estetika Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan pandangan yang sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat terjadi baik di lingkungan permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya. Proses pembongkaran dan pemuatan sampah di sekitar lokasi pengumpulan sangat mungkin menimbulkan tumpahan sampah yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan lingkungan. Demikian pula dengan ceceran sampah dari kendaraan pengangkut sering terjadi bila kendaraan tidak dilengkapi dengan penutup yang memadai. Di TPA ceceran sampah terutama berasal dari kegiatan pembongkaran yang tertiup angin atau ceceran dari kendaraan pengangkut. Pembongkaran sampah di dalam area pengolahan maupun ceceran sampah dari truk pengangkut akan mengurangi estetika lingkungan sekitarnya. Sarana pengumpulan dan pengangkutan yang tidak terawat dengan baik merupakan sumber pandangan yang tidak baik bagi daerah yang dilalui. Lokasi TPA umumnya didominasi oleh ceceran sampah baik akibat pengangkutan yang kurang baik, aktivitas pemulung maupun tiupan angin pada lokasi yang sedang dioperasikan. Hal ini menimbulkan pandangan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat yang melintasi / tinggal berdekatan dengan lokasi tersebut. 6. Kemacetan Lalu lintas

Lokasi penempatan sarana / prasarana pengumpulan sampah yang biasanya berdekatan dengan sumber potensial seperti pasar, pertokoan, dan lain-lain serta kegiatan bongkar muat sampah berpotensi menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas. Arus lalu lintas angkutan sampah terutama pada lokasi tertentu seperti transfer station atau TPA berpotensi menjadi gerakan kendaraan berat yang dapat mengganggu lalu lintas lain; terutama bila tidak dilakukan upaya-upaya khusus untuk mengantisipasinya. Arus kendaraan pengangkut sampah masuk dan keluar dari lokasi pengolahan akan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas di sekitarnya terutama berupa kemacetan pada jamjam kedatangan. Pada TPA besar dengan frekwensi kedatangan truck yang tinggi sering menimbulkan kemacetan pada jam puncak terutama bila TPA terletak berdekatan dengan jalan umum. 7. Gangguan Kebisingan Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan berat / truck timbul dari mesin-mesin, bunyi rem, gerakan bongkar muat hidrolik, dan lain-lain yang dapat mengganggu daerah-daerah sensitif di sekitarnya. Di instalasi pengolahan kebisingan timbul akibat lalu lintas kendaraan truk sampah disamping akibat bunyi mesin pengolahan (tertutama bila digunakan mesin pencacah sampah atau shredder). Kebisingan di sekitar lokasi TPA timbul akibat lalu lintas kendaraan pengangkut sampah menuju dan meninggalkan TPA; disamping operasi alat berat yang ada. 8. Dampak Sosial Hampir tidak ada orang yang akan merasa senang dengan adanya pembangunan tempat pembuangan sampah di dekat permukimannya. Karenanya tidak jarang menimbulkan sikap menentang / oposisi dari masyarakat dan munculnya keresahan. Sikap oposisi ini secara rasional akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pendidikan dan taraf hidup mereka, sehingga sangat penting untuk mempertimbangkan dampak ini dan mengambil langkah-langkah aktif untuk menghindarinya. Setelah kita mengetahui pengertian dan dampak yang ditimbulkan dari sampah tersebut, tentunya ini meripakan masalah yang harus kita tanggulangi bersama.

2.3 Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan , atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat. Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Pengolahan sampah ini bertujuan untuk menjadikan sampah menjadi suatu barang yang memiliki nilai lebih, dan juga ttidak berbahaya lagi bagi lingkungan. Adapun konsep dari pengolahan sampah, yaitu : Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam penggunaannya, antara negara-negara atau daerah. Beberapa yang paling umum, banyak-konsep yang digunakan adalah :

Hirarki Sampah - hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang, yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hirarki limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.

Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah / Extended Producer Responsibility (EPR).(EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka di seluruh siklus hidup (termasuk akhir-of-pembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produser diperpanjang dimaksudkan

untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti perusahaan yang manufaktur, impor dan / atau menjual produk diminta untuk bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan serta selama manufaktur.

prinsip pengotor membayar - prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana pihak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini umumnya merujuk kepada penghasil sampah untuk membayar sesuai dari pembuangan

Cara atau teknis pengolahan sampah dibagi menjadi 2 macam, yaitu cara tradisional atau umum dan cara modern atau pengolahan dengan menggunakan teknologi khusus (daur ulang) 2.3.1 Cara tradisional

1. Penguburan sampah : Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan , lubang bekas pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedankan penimbunan darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan , diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya Hama , dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah). Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik.Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya , dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan samapah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik. 2. Pembakaran sampah : Pembakaran adalah metode yang melibatkan pembakaran zat sampah. Pengkremasian dan pengelolaan sampah lain yg melibatkan temperatur tinggi biasa disebut "Perlakuan panas". kremasi merubah sampah menjadi panas, gas, uap dan abu.

Pengkremasian dilakukan oleh perorangan atau oleh industri dalam skala besar. Hal ini bisa dilakukan untuk sampah padat , cari maupun gas. Pengkremasian dikenal sebagai cara yang praktis untuk membuang beberapa jenis sampah berbahaya, contohnya sampah medis (sampah biologis). Pengkremasian adalah metode yang kontroversial karena menghasilkan polusi udara. Pengkremasian biasa dilakukan dinegara seperti jepang dimana tanah begitu terbatas ,karena fasilitas ini tidak membutuhkan lahan seluas penimbunan darat.[[Sampah menjadi energi (wasteto-energy)|Sampah menjadi energi atau energi dari sampah adalah terminologi untuk menjelaskan samapah yang dibakar dalam tungku dan boiler guna menghasilkan panas/uap/listrik.Pembakaran pada alat kremasi tidaklah selalu sempurna , ada keluhan adanya polusi mikro dari emisi gas yang keluar cerobongnya. Perhatian lebih diarahkan pada zat dioxin yang kemungkinan dihasilkan di dalam pembakaran dan mencemari lingkungan sekitar pembakaran. Dilain pihak , pengkremasian seperti ini dianggap positif karena menghasilkan listrik , contoh di Indonesia adalah rencana PLTSa Gede Bage di sekitar kota Bandung.

2.3.2

Cara Modern ( daur ulang sampah )

1. Pengolahan kembali secara fisik : Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang , yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang , contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur. Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di daur ulang.Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena harus bagian bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya. 2. Pengolahan kembali secara biologis : Material sampah organik , seperti zat tanaman , sisa makanan atau kertas , bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan.Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.

Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga , seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan. 3. Pemulihan energi : Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menajdi bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui cara "perlakuan panas" bervariasi mulai dari menggunakannya sebakai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang berhubungan , dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat , gas, dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap. 4. Metode penghindaran dan pengurangan : Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk , atau dikenal juga dengan "pengurangan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki barang yang rusak , mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman). Beberapa pendekatan dan teknologi pengelolaan dan pengolahan sampah yang telah dilaksanakan akhir-akhir ini antara lain adalah: 1. Teknologi Komposting Pengomposan adalah salah satu cara pengolahan sampah, merupakan proses dekomposisi dan stabilisasi bahan secara biologis dengan produk akhir yang cukup stabil untuk digunakan di lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan (Haug, 1980). Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu (2008) menemukan bahwa pengomposan dengan menggunakan metode yang lebih modern (aerasi) mampu menghasilkan kompos yang memiliki butiran lebih halus, kandungan C,

N, P, K lebih tinggi dan pH, C/N rasio, dan kandungan Colform yang lebih rendah dibandingkan dengan pengomposan secara konvensional. 2. PLTS Pengolahan sampah menjadi listrik. Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar dan Tabanan telah melakukan kerjasama dalam usaha pengelolaan sampah secara terpadu yang berorientasi pada teknologi dalam suatu Badan Bersama yaitu SARBAGITA. Teknologi yang direncanakan yaitu teknologi GALFAD (gasifikasi landfill dan anaerobic digestion). Pengelolaan sampah dengan pendekatan teknologi diharapkan penanganan sampah lebih cepat, efektif dan efisien serta dapat memberikan manfaat lain. 3. Pengelolaan sampah mandiri Pengolahan sampah mandiri adalah pengolahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di lokasi sumber sampah seperti di rumah-rumah tangga. Masyarakat perdesaan yang umumnya memiliki ruang pekarangan lebih luas memiliki peluang yang cukup besar untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Model pengelolaan sampah mandiri akan memberikan manfaat lebih baik terhadap lingkungan serta dapat mengurangi beban TPA. Pemilahan sampah secara mandiri oleh masyarakat di Kota Denpasar masih tergolong rendah yakni baru mencapai 20% (Nitikesari, 2005). 4 . Pengelolaan sampah berbasis masyarakat 1) Berbagai masalah yang dihadapi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman kota yang ada di Desa Seminyak, Sanur Kauh dan Sanur Kaja, dan Desa Temesi Gianyar, yaituyang memadai, produksi kompos yang masih rendah, sulit dan terbatasnya pemasaran kompos sehingga secara ekonomi pengelola cendrung mengalami defisit. 2) Model pengelolaan sampah pemukiman kota yang berbasis sosial kemasyarakatan dapat dilakukan secara adaptif dengan memperhatikan aspek karakteristik sosial dan budaya masyarakat, aspek ruang (lingkungan), volume, dan jenis sampah yang dihasilkan.

Pola pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebaiknya dilakukan secara sinergis (terpadu) dari berbagai elemen (Desa, pemerintah, LSM, pengusaha/swasta, sekolah, dan komponen lain yang terkait) dengan menjadikan komunitas lokal sebagai objek dan subjek

pembangunan, khususnya dalam pengelolaan sampah untuk menciptakan lingkungan bersih, aman, sehat, asri, dan lestari

Pokok-pokok pikiran RUU tentang Pengelolaan Sampah a. Prinsip tanggung jawab pengelolaan sampah menjadi urusan Kabupaten/Kota dan merupakan bentuk pelayanan publik. Hal ini berkaitan pula dengan pelaksanaan dari Pasal 28 H UUD 1945, yaitu prinsip pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Sampah, apabila tidak dikelola dengan baik, baik secara langsung maupun tidak langsung akan dapat merugikan kesehatan masyarakat. b. Batasan pengertian yang dimaksud ?sampah? yang dumaksud dalam RUU ini adalah sampah padat atau setengah padat dari kegiatan seharihari (Limbah Domestik). Selain itu, cakupan pengelolaannya meliputi dari hulu sampai hilir, pengumpulan, pemilahan, pengangkutan, dan pengolahan. Batasan pengertian/cakupan ini berangkat dari hasil studi, pendapat para ahli, referensi beberapa undang-undang tentang sampah (antara lain Filipina, Jepang dan Inggris) serta hasil dari beberapa pertemuan seperti Konsultasi Publik. c. Di dalam pokok-pokok RUU tentang Pengelolaan Sampah akan memuat penjabaran tentang: 1. Asas Tanggung Jawab Pemerintah (mengatur/regulator), melayani kepentingan umum, melindungi masyarakat, dan penegakan hukum; 2. Manfaat ekonomi yang dapat meningkatkan investasi, pendanaan, lapangan kerja, pemanfaatan teknologi); 3. Manfaat ( benefit ) sosial yaitu, mengubah perilaku, pemberdayaan masyarakat dan pembudayaan; 4. Asas Subsidiaritas, meliputi pembagian kewenangan secara proporsional, mencegah konflik kewenangan, penyelarasan hubungan antara Pemerintah, Provinsi, Kabupaten/Kota, dan pendayagunaan manajemen yang efektif dan efisien; 5. Desentralisasi (Perda, perizinan, dan penegakan hukum melalui pengawasan dan penerapan sanksi); 6. Berwawasan ekologi/lingkungan hidup dengan mendayagunakan pendekatan 4 R ( replace , reduce, reuse, dan recycle ); 7. Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan; 8. Pengembangan kelembagaan yang efektif dan responsif dengan didukung oleh sumber daya manusia yang handal, kompeten dan jujur. d. Pengelolaan sampah merupakan urusan Pemerintah dengan berbagai permasalahan dan kompleksitas masalahnya yang bahkan melampaui urusan skala Kabupaten/Kota dan Provinsi, sehingga perlu diatur dengan undang-undang. Di dalam RUU ini akan diatur perubahan paradigma yang antara lain waste to energy , hak dan kewajiban masyarakat termasuk dunia usaha, peran serta masyarakat, hubungan kelembagaan Pemerintah, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, insentif dan dis-insentif baik secara tangible maupun intangible dalam pengelolaan sampah, peran sektor informal yang bergerak dalam pengelolaan sampah, pemilihan bahan baku sehingga dapat menghasilkan sampah yang

dapat dimanfaatkan lagi dan ramah lingkungan, akses pasar bagi dunia usaha yang mengelola sampah, extended producers responsibility, kerja sama antar-daerah, kerja sama antar-daerah dengan Badan Usaha Pengelola Sampah (dalam bentuk kontraktual), penyelesaian sengketa dan sanksi bagi pelanggarnya. e. Keberhasilan dalam pengelolan sampah sangat tergantung dari peran pemerintah, keterlibatan dunia usaha dan masyarakat. Oleh karena itu, tata keterkaitannya perlu diatur dalam suatu UU. f. Penentuan lokasi TPA dalam RTRW Daerah sangat menentukan. Oleh karena itu, wajib dicantumkan secara tegas berdasarkan standar, persyaratan, dan kriteria yang telah ditentukan di dalam RTRW Daerah masing-masing. Untuk lokasi TPA juga harus ditentukan buffer zone yang lokasinya harus terbebas dari berbagai kegiatan/pemukiman, sehingga lokasi tersebut aman dari berbagai aspek. g. Di dalam RUU ini akan diatur apa yang menjadi wewenang pemerintah, Provinsi, dan Kabupa ten/Kota. Artinya, RUU dibatasi terhadap hal-hal yang bersifat policy, standar, pedoman, dan kriteria sebagai dasar atau rambu bagi Provinsi, Kabupaten/Kota. Untuk menindak lanjutinya diperlukan peran daerah sampai pada tingkat PERDA dan Peraturan Kepala Daerah. Proses Penyusunan RUU Pengelolaan Sampah Dalam proses penyusunan RUU tentang Pengelolaan Sampah didahului dengan : (a) hasil kajian JICA; (b) hasil kajian Fak.Hukum Universitas Indonesia dan beberapa referensi seperti UndangUndang tentang Sampah di Philipina; (c) kajian tim perumus; (d) pertemuan teknis tentang pengelolaan sampah di beberapa daerah antara lain (Yogyakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya) dan; (e) pertemuan dengan beberapa pakar di Bandung. Selanjutnya, berdasarkan proses yang telah dilakukan seperti tersebut di atas dituangkan ke dalam background paper dan pokok-pokok pikiran penyusunan RUU tentang Pengelolaan Sampah yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan konsultasi publik di beberapa daerah baik dari aspek teknis maupun aspek hukum. Untuk konsultasi publik RUU dilakukan di beberapa daerah, yaitu Yogyakarta, Balikpapan, dan Pekanbaru (serentak pada tanggal 25 Oktober 2005), Denpasar (tanggal 26 Oktober 2005) dan Surabaya (tanggal 28 Oktober 2005). Putaran terakhir konsultasi publik ini dilakukan di DKI Jakarta dengan mengundang wakil dari beberapa daerah se-Jabodetabek pada hari ini tanggal 14 Nopember 2005. Masukan RUU tentang Pengelolaan Sampah selain diterima melalui konsultasi publik, draf RUU sejak tanggal 28 Oktober 2005 dapat diakses melalui Web-Site Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan menyampaikan saran masukannya melalui email ruusampah@menlh.go.id atau yazid@menlh.go.id . Hal ini penting agar memberikan ruang yang cukup bagi pelibatan publik dalam penyusunan RUU. Hal ini penting dalam rangka pemenuhan persyaratan sebagaimana diatur di dalam Pasal 5 huruf g yang menjamin asas keterbukaan dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Hasil dari konsultasi publik tersebut sejauh ini sudah diolah datanya dan sekarang menjadi Draf RUU: R-8 /11/11/2005 dan akan terus dikembangkan sesuai dengan hasil konsultasi publik.

Namun demikian, karena target RUU ini harus sudah diserahkan kepada DPR-RI paling lambat akhir Desember 2005, maka apabila ada masukan hendaknya dapat disampaikan dalam waktu paling lambat akhir Nopember 2005. Pengen berbagi sedikit cerita nih mengenai pengelolaan sampah di kampus kita..Mudah2an temen2 mau membaca tulisan yang amburadul dan sperti ceker ayam ini.. Ada yang tau ga, kalo sampah di kampus kita setelah dibuang di tempat sampah yang warna item-putih , terus dikemanain yaa? Dari hasil survey terhadap 350 responden, TERNYATA OH TERNYATA hanya 26% mahasiswa ITB yang tau kalo sampah kita diangkut dan diolah di PPS SABUGA..Weleh Weleh.. hmm.Mungkin ini yang ngebuat pada males memilah sampah kali ya? karena byk yg berpendapat, toh entar juga sampah nya disatuin lagi..Bener Ga sih? yuk kita telusuri perjalanan sampah di kampus kita.. Cekidot!! Alur Perjalanan Sampah dikampus kita gimana sih? Tempat Sampah Terpilah >>>> Pengangkutan oleh mobil pengangkut sampah >> Pusat Pengolahan Sampah Sabuga

Hmm..lalu di Pusat Pengolahan Sampah (PPS) Sabuga diapain aja sih sampahnya?

Jadi di PPS SABUGA sendiri ada beberapa alur pengolahan,yaitu : PENGOMPOSAN Di PPS SAbuga, sampah yang dapat mudah membusuk (potongan rumput, dedaunan kering, sisa makanan kantin,dll) akan dikomposkan menjadi pupuk Organik dengan produk KOMPOS GANESHA..Wah, mantap tuh!yang butuh kompos, beli aja kompos Ganesha..

Pengomposan di PPS Sabuga DIJUAL KE BANDAR

Nah, lalu yang sulit membusuk seperti kertas,kardus, botol, logam,dan barang lain nya yang memiliki nilai ekonomis (laku utk dijual ke Bandar) akan dikumpulkan dan disalurkan tersendiri.

Sampah yang terpilah untuk di jual ke Bandar INSENERASI Lalu, sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis diapain? ternyata ITB membuat sebuah mesin pembakar (insenerator) yang dibakar pada suhu yang relatif tinggi dan juga dilengkapi dengan alat pengendali pencemaran udara yang bernama Cyclone.

Pembakaran sampah dengan teknologi Insenerator Dari pembakaran ini, akan diperoleh debu atau abu sisa pembakaran yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan seperti batako, pot bunga, dll.

Abu hasil pembakaran insenerator jadi BATAKO cap ITB..hehe Pesan dari Direktorat Sarpras :

Hindari Pemakaian Kemasan Makanan dari Bahan Styrofoam!

Hal tsb karena keterbatasan kemampuan dr sarana pengolahan sampah saat ini belum mampu untuk mengolah sampah yang berasal dr bahan styrofoam, dan juga styrofoam tidak baik untuk kesehatan (karsinogenik). Oleh karena itu, diharapkan agar warga kampus ITB tidak memesan makanan yang dikemas dgn menggunakan kemasan styrofoam

Membantu Memilah sampah dari sumber (mudah membusuk dan sulit membusuk)

Seluruh Civitas akademika dapat berpastisipasi dengan memilah sampah sesuai jenisnya karena akan sangant membantu proses pengelolaan selanjutnya. Nah, Sahabat2 Kampus ITB yang cerdas2, gimana setelah mengetahui pengelolaan sampah kampus kita? ternyata sistem pengelolaannya sudah ada yah..Mudah2an menjawab dan memberi sedikit informasi, kalau SAMPAH di ITB tuh ada sistemnya loh. Tapi sayang nih, pada kenyataannya kondisi kampus kita seperti berikut (jangan takut ya melihat gambar dibawah ini, hehe) :

ini waktu tahun 2009 akhir, di tempat sampah deket altim, sekarang udah pake bak yang lebih besar sih..Tapi lita coba yang mengesalkannya..itu Sampah styrofoam nya maakkkjaangg.. Nah, ini salah satu contoh buruk perilaku anak2 ITB di RUang 32 CC barat ..Buang SAmPAH pada tempatnya AJA GA BISA! Ini yah yang katanya anak2 TERBAIK NEGERI INI? GA yakin tuh.. Pemesanan Konsumsi untuk kegiatan masih banyak nih yang pake Styrofoam..ckckck Jadi Kalo LO ANAK ITB! Bantu dong bapak2 yang setiap hari harus mengolah sampah kita biar lebih lancar pekerjaannya. Kasian kan kalo mereka Waktu kerja nya harus nambah lagi untuk memilah sampah di PPS SABUGA. (duh, ,maaf-maaf, kebawa esmosii nih gara2 kasian ngeliat kerjaan bapak2 disana yg milah2 teruuuzz.) Tapi di Balik itu Semua Ternyata temen2 lembaga baik himpunan dan unit pun membuat suatu program yang dapat mendukung sistem pengelolaan sampah di kampus ITB. Mau tau apa aja kegiatan yg dilakukan teman2 lembaga yang concern banget nih ke pelestarian lingkunganJeng Jeng Jeng,,siapakah merekaaa??? Mereka adalaah.

HMTL (Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan)

di HMTL ternyata sudah ada 6 jenis pemilahan sampah di dalam himpunaan dan juga tempat sampah khusus untuk kertas di seluruh sudut gedung Teknik Lingkungan.

6 jenis pemilahan sampah di HMTL (kertas,Tetrapak,bungkus kemasan,sampah organik,anorganik, dan botol plastik)..Gambar2. Tempat pemilahan sampah kertas, untuk di daur ulang atau dipakai lagi yang sisi nya masih kosong Selain itu, sistem perkuliahan di TL, terutama untuk laporan praktikum, dan juga draft Tugas Akhir untuk bimbingan, menggunakan kertas bekas yang sisinya masih kosong (REUSE PAPER).

IMA-G (Himpunan Mahasiswa Arisitektur)

Himpunan Mahasiswa Arsitektur pun membangun suatu sistem pemilahan sampah untuk kertas dan botol plastik yang dilakukan oleh tim SAMANTHA (Sebuah kelompok minat yang ada di IMA-G).

Pemilahan sampah di Gedung arsitektur Selain itu , himpunan mahasiswa arsitektu juga sangat concern terhadap tertib publikasi dengan sistem One Paper One Board,

Kampanye One Paper One Board dengan salah satu tujuannya mengurangi sampah kertas dari publikasi acara (REDUCE PAPER).

HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia)

Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia dengan tim Eco-Che nya telah membangun suatu sistem pengelolaan sampah di Program studi nya, dengan menambahkan tempat sampah khusus tetrapak (aseptik) selain tempat sampah yg mudah membusuk dan sulit membusuk.

tempat sampah di gedung Teknik Kimia

UGREEN

Teman2 U-Green juga concern dalam mengkampanyekan sistem pengelolaan sampah di kampus dan setiap anggotanya untuk memilah sampah. Salah satu program U-Green adalah WARUNG KERTAS. Sebuah kegiatan Daur Ulang terhadap sampah kertas untuk diproduksi menjadi kertas kembali (RECYCLE PAPER).

recycle paper Luar Biasa yah apa yang dilakukan oleh temen2 lembaga tersebut. Mudah2an gerakan mereka dapat terus kontinu (berkelanjutan).

Pengelolaan sampah di kampus kita tidak akan berjalan dengan baik, jika tidak didukung oleh seluruh civitas akademika ITB itu sndiri, terutama oleh mahasiswa2nya.. Ternyata Percuma jika Infrastruktur dan PERATURANnya sudah GREEN tetapi PERILAKU/ATTITUDE kita masih tidak tertib. Untuk itu dibutuhkan suatu gerakan bersama dalam membangun GREEN ATTITUDE tersebut, mulai dari berbagai hal kecil, tetapi berdampak besar. hmm.. Apa yah contohnyaa??? ADa beberapa hal yang bisa banget nih kita lakukan.. Misalnya :

Yuk Kita mengganti KULTUR PERANG AIR saat wisudaan, yang ternyata satu himpunan saja bisa sampai 8000 plastik, dan membuang air bersih begitu saja. Mari Kita TIDAK lagi MENGGUNAKAN STYROFOAM di setiap acara yang kita bikin. Sudah saatnya kita membawa BOTOL MINUM dan TEMPAT MAKAN SENDIRI untuk mengurangi pembelian botol plastik air kemasan, dan juga bungkus plastik untuk makanan Dan tentu sudah saatnya pula kita mengurangi konsumsi Kantong KRESEK dengan cara memakai kembali kantong kresek yang sudah kita simpan, atau dengan membawa tas yang praktis dan dapat menjadi wadah pengganti kantong kresek. Yuk kita Memilah sampah,cuma dua jenis ko, ga suliitt,, Ayo kita mengurangi publikasi dengan media kertas, karena kertas dari pohon, dan deforestasi semakin meningkat di Indonesia. Ganti yuk dengan media maya.sekarang lebih trend loh.. (bisa contoh tuh publikasi nya M-FEST HMM, dan juga BIOFRONT nya NyMPHAEA..PAPER LESS banget loh booooo..hehe

Jadiiiiiisudah saatnya kita semua berperan, berkolaborasi, dan bergerak.. Untuk Kampus yang kita cintaii, untuk lingkungan sekitar, dan untuk alam bumi ini.. A small thing, will give a big impact.. Lets think Globally, and Act Locally Walau usaha sekecil apapun,temen2 sudah menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain,,karena menjaga lingkungan itu simple sih..intinya gimana supaya kita ga berlebihan, agar alam ini dapat tetap mensupport untuk kehidupan anak cucu kita kelak.. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan , atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg

dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat. Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang , berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal , diantaranya tipe zat sampah , tanah yg digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area

Minggu, 06 Februari 2011

Warga Keluhkan Penanganan Sampah di Rantepao

TCN -- Warga kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, mengeluh soal sampah dan mengingatkan pemerintah serius menangani sampah. Di wilayah pasar Bolu di Tallunglipu misalnya, tumpukan sampah terlihat di mana-mana. Selain mengotori kota juga berpotensi mengganggu kesehatan. Pemda minta kerjasama warga. "Kasihan sekali kami ini, tinggal di depan tempat sampah. Ini sangat mengganggu aktivitas jual beli di tempat kami," ujar Yarman, salah seorang pemilik toko di kawasan pasar Bolu, Tallunglipu, Sabtu pekan lalu. Menurutnya, tumpukan sampah di depan tokonya sudah berlangsung cukup lama dan belum dibersihkan mobil sampah milik pemerintah atau pengelolah pasar. Yarman, yang mengaku rajin membayar rekening kebersihan ini, juga mengeluh karena keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah di depan tokonya, selain merusak pemandangan, juga

menimbulkan aroma tak sedap dan lalat. "Orang yang mau belanja terlihat tidak tenang, terus menutupi mulut dengan tangan, gara-gara bau dari sampah itu," tegasnya sambil menunjuk TPS di depan jualannya. Sesuai pantauan Palopo Pos di area Pasar Bolu, terdapat beberapa TPS dengan pemandangan yang hampir sama. Sampah terlihat berserakan di sekitar TPS. Hal ini bisa jadi karena TPS yang ada terlalu kecil sehingga tidak bisa menahan volume sampah yang besar. Selain itu, juga diduga karena truk sampah tidak melakukan pengangkutan secara rutin. Padahal, volume sampah di tempat itu cukup tinggi. Selain di pasar Bolu, sampah yang berserakan terlihat di beberapa tempat di Rantepao, seperti pasar pagi, pasar soreh, dan beberapa tempat lainnya. Di beberapa tempat sampah yang berada di sepanjang jalur jalan dari Rantepao ke Makale, juga terlihat tumpukan sampah yang belum diangkut. Persoalan sampah ini pernah dikeluhkan Pejabat Bupati Toraja Utara, Tautoto Tanaranggina, beberapa waktu lalu. Dikatakan Tautoto, persoalan utama yang dihadapi Torut dalam menangani sampah terutama disebabkan minimnya armada pengangkut sampah, tenaga kerja, dan tidak adanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ketua DPRD Torut, Sri Krisma Pirade, menyebut, alokasi dana pembangunan jalan ke TPA dianggarkan di APBD 2010 Rp655 juta. Sayangnya, hingga saat ini akses jalan menuju ke TPA belum tembus, sehingga sampah-sampah yang dihasilkan warga Rantepao dan Tallunglipu dibuang di samping lokasi pembangunan kantor Bupati Torut daerah Panga, Tondon. Tautoto juga mengeluhkan perilaku warga Rantepao yang acuh tak acuh terhadap kebersihan lingkungan. Warga kota, kata Tautoto, malas membayar retribusi sampah. "Ada kontainer di situ tapi kalian (wartawan-red) lihat sendiri, masyarakat masih membuang sampah di luar kontainer. Selain itu, mobil pengangkut sampah kita sudah tua-tua semua, jadi cukup sulit menuju ke TPA yang kondisi jalannya agak berat," bebernya.

Penanganan Sampah Terkendala TPA RANTEPAO-- Pemerintah kabupaten Toraja Utara merasa kesulitan mengatasi masalah sampah di kota Rantepao. Penyebab utamanya yakni akses jalan menuju ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang berlokasi di Lembang Lilikira kecam Balusu, belum baik, sehingga mobil pengangkut sampah mengalami kesulitan menjangkau lokasi TPA. Bukan kita tidak mampu menangani sampah di kota tapi kesulitan kita adalah akses jalan menuju ke lokasi TPA di Lilikira itu sangat sulit sehingga waktu angkut mobil kita sangat terbatas, jelas Pelaksana Tuga (Plt) kepala kantor Tata Ruang, Kebersihan, dan Pemadam Kebakaran Toraja Utara, Daud Tandilintin kepada Palopo Pos, kemarin.

Diuraikan Daud, sejak lokasi TPA sementara di Panga tidak beroperasi, pihaknya memang mengalami kesulitan mengatasi sampah yang diproduksi penduduk kota Rantepao dan sekitarnya. Ya itu tadi, kembali ke masalah jalan ke TPA, katanya. Dijelaskan, akses jalan menuju ke TPA Lilikira masih berupa jalan tanah dan hanya sedikit yang sudah tersentuh pengerasan. Ada enam lokasi pendakian yang cukup terjal yang amat menyulitkan kendaraan sampah, yang rata-rata sudah berusia tua itu. Kalau musim hujan, jalan itu sangat sulit dilalui mobil pengangkut sampah. Jika kering, proses pengangkutan sampah cukup lancar meski sopir dan karyawan kebersihan harus bersusah payah. Kadang-kadang mereka harus saling tarik di jalan. Biasa juga dibantu tenaga manusia, ujar Daud. Agar kota Rantepao bisa bebas dari sampah, kata Daud, jalan ke TPA Lilikira harus segera diperbaiki dengan aspal atau rabat beton. Selain itu, jumlah armada harus ditambah, demikian pula dengan jumlah karyawan. Kita mohon maaf kepada warga kota kalau merasa terganggu dengan tumpukan sampah di beberapa tempat beberapa waktu terakhir ini. Hal itu bukan karena kami tidak mau kerja, tetapi kondisi jalan ke TPA memang sangat sulit, terangnya. Menurut catatan Palopo Pos, akses jalan menuju ke TPA sudah dibiayai oleh APBD Toraja Utara selama tahun 2010 sebesar Rp 655 juta dan tahun 2011. Meski begitu dana itu belum cukup untuk membuat jalan menuju ke TPA layak untuk dilalui mobil pengangkut sampah. Menurut pantauan Palopo Pos, sampah memang menjadi pemandangan yang kurang mengenakkan mata saban hari di kota Rantepao. Beberapa waktu terakhir ini, tumpukan sampah makin bertambah, lokasinya pun makin tersebar. Di beberapa sudut kota, seperti di pertokoan Rantepao, pasar soreh, pasar Bolu, dan beberapa tempat lainnya, sampah nampak berserakan dan bertumpuk. Jadwal pengangkutan sampah juga tidak teratur sehingga sampah banyak menumpuk di sekitar kontainer yang disediakan pemerintah. (mg3/ikh/d) Rantepao adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia. Rantepao juga merupakan ibukota Kabupaten Toraja Utara. Rantepao dikenal sebagai pusat budaya Suku Toraja. Kota Rantepao dilalui oleh Sungai Sa'dan yang memberikan sumber air bagi pertanian dan peternakan di Rantepo dan wilayah sekitarnya. Manfaat sampah,pengelolaan sampah,kendala dalam pengelolaan sampah di Indonesia,manfaat pengelolaan sampah yg baik,kegunaan tpa dan kelemhan tpa