Anda di halaman 1dari 5

Model Alat Pengatur Lampu Otomatis

Jimmy Agustian Loekito, Andrew Sebastian Lehman Jurusan Sistem Komputer, Fakultas Teknik, Universitas Kristen Maranatha Jl. Prof. drg. Suria Soemantri, MPH. No 65, Bandung, Indonesia e-mail : jimmy.loekito@gmail.com , andrewsebastianl@gmail.com

ABSTRAK Nowadays people still need to spend some time to turn on or turn off lights in the house and its garden area. This automatic lights controlled model will help people to turn on or turn off the lights. It also able to control the intensity of the lights. This model uses LDR (Light Dependent Resistor) that sensitive to light as a feedback. This automatic lights controlled model uses Arduino microcontroller. Keywords : lights, LDR, microcontroller 1. PENDAHULUAN Di zaman sekarang dimana teknologi yang semakin berkembang dan efisien, kebutuhan masyarakat akan fleksibilitas waktu semakin bertambah. Hal yang sederhana pun menjadi sulit dikerjakan. Sebagai contoh lampu yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah, hal sederhana untuk mematikan atau menyalakan lampu terkadang menjadi permasalahan waktu bagi sebagian orang. Dengan alat pengaturan lampu rumah yang dibuat ini, orang tidak perlu repot dalam mematikan atau menyalakan lampu. Alat ini mampu mengatur lampu ruangan di dalam maupun di luar rumah. Ketika malam hari lampu halaman maupun masing masing ruangan dapat nyala dengan otomatis. Alat ini diharapkan dapat membuat kebutuhan waktu pengguna dapat lebih efisien karena tidak perlu berjalan untuk menekan saklar lampu. Dengan begitu waktu tidak akan terbuang dengan sia sia dan dapat memaksimalkan pekerjaan yang lebih penting. Semua dapat diatur dengan satu kendali kapan pun. Biaya listrik pun akan menjadi lebih ekonomis karena pengaturan listrik untuk lampu lebih efisien. Alat pengaturan lampu rumah sangat cocok bagi orang dengan mobilitas yang tinggi. 2. URAIAN 2.1 Microcontroller Arduino Microcontroller adalah suatu alat elektronika digital yang mempunyai masukan dan keluaran serta kendali program. Pogram tersebut bisa ditulis dan dihapus dengan cara khusus. Sederhananya, cara kerja microcontroller sebenarnya hanya membaca dan menulis
Gambar 1: Microcontroller Arduino

data. Dengan penggunaan microcontroller, pengaturan fungsi kerja alat penggerak akan lebih variatif. Penggunaan Microcontroller digunakan untuk memproses perintah berupa program yang telah disusun sesuai dengan keinginan. Perintah ini berupa kontrol pada kipas dengan menggunakan output port 11 dan 12. Bila microcontroller ini mengeluarkan tegangan sebesar 5 Volt dan arus sebesar 1 Ampere pada salah satu port, maka salah satu motor pada samping robot akan berputar.

Untuk memutarkan mengerakan roda pada robot ini memiliki 2 cara. 1. Dengan memberikan sinyal tegangan pada rangkaian transistor pada keadaan menyala dan mati saja.

2.

Sedangkan cara kedua adalah menggunakan teknik PWM (Pulse Width Modulation). Caranya adalah dengan memberikan sinyal tegangan berulang-ulang kepada perangkat elektronik yang diinginkan pada satuan waktu tertentu dan mengatur periode sinyal tegangan tersebut.

Tabel 1 Warna dan Bahan LED

2.2 LED (LIGHT EMITTING DIODE) LED (Light Emitting Diode) adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik nonkoheren ketika diberi tegangan maju. LED juga merupakan indikator dalam beberapa hardware. Awalnya cahaya LED hanya berintensitas merah, sekarang sudah tersedia di seluruh panjang gelombang yang terlihat, ultraviolet dekat , dan inframerah dekat, dengan kecerahan yang sangat tinggi. LED terdiri dari sebuah chip bahan semikonduktor yang diisi penuh, dengan ketidakmurnian untuk menciptakan sebuah struktur yang disebut p-n junction. Pembawa-muatan elektron dan lubang mengalir ke junction dari elektrode dengan tegangan berbeda. Ketika elektron bertemu dengan lubang, akan jatuh ke tingkat energi yang lebih rendah, dan melepas energi dalam bentuk photon. Panjang gelombang cahaya yang dipancarkan, dan warnanya, tergantung selisih pita energi dari bahan yang membentuk p-n junction. Sebuah dioda terbuat dari silicon atau germanium, yang memancarkan cahaya inframerah.

Ketika LED diaktifkan, elektron dapat bergabung kembali dengan lubang elektron dalam perangkat, melepaskan energi dalam bentuk proton. Efek ini disebut electroluminescence dan warna cahaya ditentukan oleh kesenjangan energi dari semikonduktor. 2.3 Sensor PIR Untuk mendeteksi adanya gerakan mahluk hidup terutama gerakan manusia dapat menggunakan sensor PIR (Passive Infra Red). Pendeteksian ini didasarkan atas perubahan suhu pada area deteksi. Pada kondisi normal suhu area deteksi akan berbeda saat tidak ada manusia dan ada manusia di tempat tersebut Jika pilihan mode seperti pada gambar maka yang terpilih adalah mode Repeat Triggered dimana output akan selalu HIGH selama ada gerakan terdeteksi dan akan LOW setelah tidak ada gerakan terdeteksi dan time delay terlampaui. jika setting TIME diset sekitar 5 detik, sesaat setelah terdeteksinya suatu gerakan output akan HIGH, misalkan sudah berjalan 3 detik lalu terdeteksi lagi sebuah gerakan maka timer otomatis direset ke awal lagi dengan output tetap HIGH, demikian seterusnya hingga tidak terdeteksi gerakan lagi dan timer mencapai 5 detik maka output kembali LOW

Gambar 2 : Sensor PIR

2.4. Sensor Ultrasonic Sensor ulrasonic membantu agar robot dapat bergerak bebas tanpa menabrak sesuatu. Sensor ini dibatasi oleh jarak tertentu sehingga robot dapat berhenti dan dapat menghindari rintangan rintangan di depan robot. Sensor PING merupakan sensor ultrasonik yang dapat mendeteksi jarak obyek dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik dengan frekuensi 40 KHz dan kemudian mendeteksi pantulannya. Tampilan sensor jarak PING ditunjukkan pada Gambar 3:

Selama menunggu pantulan, PING akan menghasilkan sebuah pulsa. Pulsa ini akan berhenti (low) ketika suara pantulan terdeteksi oleh PING. Oleh karena itulah lebar pulsa tersebut dapat merepresentasikan jarak antara PING dengan objek. Untuk penjelasan atau prinsip aksesnya sama kok ma srf04, hanya saja untuk sensor PING hanya memakai 3 pin, pin trigger sama echo digunakan dalam 1 pin, sehingga dengan menggunakan sensor PING kita dapat menghemat penggunaan I/O mikrokontroler. Konfigurasi pin sensor PING:

Gambar 4 : Konfigurasi Pin Sensor PING

Timming akses sensor PING

Gambar 3 : PING Sensor

Sensor ini dapat mengukur jarak antara 3 cm sampai 300 cm. keluaran dari sensor ini berupa pulsa yang lebarnya merepresentasikan jarak. Lebar pulsanya bervariasi dari 115 uS sampai 18,5 mS. Pada dasanya, PING terdiri dari sebuah chip pembangkit sinyal 40KHz, sebuah speaker ultrasonik dan sebuah mikropon ultrasonik. Speaker ultrasonik mengubah sinyal 40 KHz menjadi suara sementara mikropon ultrasonik berfungsi untuk mendeteksi pantulan suaranya. Pin signal dapat langsung dihubungkan dengan mikrokontroler tanpa tambahan komponen apapun. PING hanya akan mengirimkan suara ultrasonik ketika ada pulsa trigger dari mikrokontroler (Pulsa high selama 5uS). Suara ultrasonik dengan frekuensi sebesar 40KHz akan dipancarkan selama 200uS. Suara ini akan merambat di udara dengan kecepatan 344.424m/detik (atau 1cm setiap 29.034uS), mengenai objek untuk kemudian terpantul kembali ke PING.

Gambar 5 : Timming Akses Sensor PING

3. PERANCANGAN 3.1. Cara kerja Cara kerja alat ini adalah dengan menyalakan microcontroller Arduino. Setelah itu alat akan mengaktifkan sensor PIR yang terdapat di luar ruangan maupun di dalam ruangan, sensor akan membaca berapa besar intensitas panas yang terdapat di berbagai ruangan. Untuk ruangan yang terdapat di taman sensor PIR akan aktif secara otomatis. Sementara untuk sensor PIR yang berada di dalam ruangan akan aktif ketika sensor PING menditeksi sesuatu yang memasuki ruangan maupun keluar ruangan. Ketika sensor PING aktif maka sensor PIR akan mengecek terdapat orang atau tidak di suatu ruangan.

3.2. Flowchart Pada gambar 11 adalah flowchart program Model Alat Pengatur Lampu Otomatis:
Start

Inisilisasi LED dalam keadaan Mati

Gambar 7 LED 1 dan 2 Dalam Keadaan Terang

Sensor PING 1

Ya

Sensor PIR

Gambar 8 LED 1 Terang dan LED 2 Mati


Gelap Tidak LED Nyala

Tidak

Sensor PING 2

Gambar 9 LED 1 Mati dan LED 2 Terang

Ya

LED Mati

Gambar 6 Flowchart

4.

DATA PENGAMATAN
Gambar 10 LED 1 dan LED 2 Mati

4.1 Pengujian Model Alat Pengatur Lampu Otomatis


Tabel 3 Data Pengamatan Model Alat Pengatur Lampu Otomatis

5.

PENUTUP Pembuatan Model Alat Pengatur Lampu Otomatis dengan Arduino sebagai microcontroller, LED sebagai lampu dan PIR sebagai sensor feedback untuk alat telah berhasil dibuat. Model Alat Pengatur Lampu Otomatis hanya dapat menditeksi 1 orang saja. Dari hasil percobaan alat yang dibuat dapat disimpulkan bahwa alat ini berfungsi dengan baik pada keadaan intensitas cahaya ruangan dan menggunakan LED berwarna putih .

Keadaan Ruangan Tidak Ada Orang Ada Orang Tidak Ada Orang

Sensor PING 1 0 1 0

Sensor PING 2 0 0 1

Sensor PIR 0 1 0

Hasil LED Mati LED Nyala LED Mati

6.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Ardiuno, McRoberts, Mike. 2010. Arduino Starter Kit Manual. Jakarta : Earthshine Design, [2] Artanto, Dian, Interaksi Arduino dan LabVIEW, Penerbit Kompas Gramedia, Jakarta, 2012 [3] Darmawan, Aan, Modul Pelatihan Arduino Teknik Elektro Universitas Kristen Maranatha, Teknik Elektro UKM, 2011 [4] Massimo Banzi, Getting Started with Arduino, OReilly, 2011 [5] Tim Pustena ITB, Jurus Kilat Jago membuat Robot, Penerbit Dunia Komputer, Bekasi, 2011

[6] Arduino, http://en.wikipedia.org/wiki/Arduino, 15-11-2012 [7] Delphi, http://id.wikipedia.org/wiki/Borland_D elphi, 15-11-2012 [8]LDR,http://jurnal.unikom.ac.id/_s/data/jur nal/v08-n02/volume-82artikel5.pdf/pdf/ volume-82-artikel5.pdf,15-11-2012 [9]LED, http://en.wikipedia.org/wiki/Lightemitt ing_diode&prev=/, 15-11-2012