Anda di halaman 1dari 20

ASET TIDAK LANCAR YANG DIMILIKI UNTUK DIJUAL

Ellyn Octavianty

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP


Salah satu tujuan Laporan keuangan adalah memberikan informasi yang cukup bagi pengguna laporan keuangan agar mampu membuat keputusan.

Aset Tidak Lancar adalah aset yang tidak memenuhi definisi aset lancar mis aset tetap atau aset takberujud.
Dimiliki Untuk dijual artinya nilai tercatat aset akan dipulihkan melalui penjualan, bukan digunakan dalam kegiatan usaha. Suatu Aset yang dimiliki untuk dijual adalah ketika entitas berniat untuk tidak menggunakan aset tersebut dalam kegiatan operasinya, namun berniat untuk menjualnya.

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP


Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual diatur tersendiri dalam PSAK 58 (revisi 2009) Aset Tidak lancar yang Dimiliki Untuk Dijual dan Operasi yang dihentikan PSAK 58 berlaku untuk semua aset tidak lancar bukan hanya aset tunggal, namun berlaku juga untuk kelompok aset dan liabilities terkait yang akan dilepas dalam satu transaksi tunggal (disebut dengan istilah kelompok lepasan). Yang dikecualikan dalam penerapan PSAK 58 ini adalah aset yang dinilai dengan nilai wajar, yang perubahannya diakui secara langsung di Laba Rugi. Aset tidak lancar yang dikecualikan dalam penerapan PSAK 58 ini adalah aset pajak tangguhan, aset keuangan, properti investasi dan aset biologis.

PENGAKUAN AWAL
PSAK 58 (revisi 2009) mengatur bahwa suatu aset tidak lancar harus diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, ketika entitas tidak akan menggunakan aset tersebut dalam kegiatan operasi berkelanjutan, namun berniat untuk menjualnya dan memulihkan nilai aset tersebut melalui penjulan. Klasifikasi aset dimiliki untuk dijual ada 2 syarat: 1. Berada dalam keadaan dapat dijual artinya aset ini sudah dalam kondisi siap dijual dengan syarat-syarat yang biasa dan umum diperlukan dalam penjualan aset tersebut. 2. Penjulan harus sangat mungkin terjadi. Transaksi penjualan yang dimaksud disini termasuk juga penjualan melalui pertukaran aset tidak lancar dengan aset tidak lancar lainnya ketika pertukaran tersebut memiliki substansi komersial.

PENGAKUAN AWAL
Kondisi yang harus tercapai agar termasuk ke dalam kriteria penjulan yang sangat mungkin terjadi yaitu penjualannya harus diharapkan dapat terjadi paling lambat dalam 1 (satu) tahun kedepan. Namun, sangat mungkin kondisi yang terjadi akan menyebabkan penjualan tersebut dapat melampaui periode lebih dari 1 tahun. Kondisi yang diperbolehkan terjadi agar aset tersebut tetap diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual walaupun kemungkinan realisasi penjualan lebih dari 1 tahun yaitu: 1. Penundaan tersebut disebabkan oleh situasi dan kondisi yang berada diluar kendali entitas 2. Terdapat cukup bukti bahwa entitas tetap berkomitmen untuk menjual aset tersebut.

Contoh: PT Multi telah mendapatkan komitmen pembelian atas suatu aset tersedia untuk dijual, tetapi pada saat inspeksi dilakukan oleh pembeli, terdapat hal yang tidak diduga sebelumnya, pihak pembeli menginginkan perusahaan melakukan uji kelayakan lingkungan terlebih dahulu, sehingga proses penjualan diharapkan baru dapat diselesaikan lebih dari 1 tahun. Aset tersebut tetap dapat diklasifikasikan sebagai aset tersedia untuk dijual jika: 1. PT Multi segera melakukan tindakan sebagai respons terhadap permintaan pembeli, agar kondisi penjulan sangat mungkin terjadi dapat tetap terpenuhi. 2. Hasil dari uji kelayakan lingkungan tersebut diharapkan akan baik.

PENGUKURAN
Pada saat aset tersebut diklasifikasi menjadi aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, aset tersebut diukur pada nilai yang lebih rendah antara nilai tercatat atau nilai wajar neto. Nilai Tercatat adalah nilai terakhir yang diakui pada Laporan Posisi keuangan. Nilai Wajar Neto adalah nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Biaya Untuk Menjual adalah biaya yang akan terjadi ketika entitas melepas asetnya. Mis: biaya transportasi untuk mengantar aset sampai ke tempat pembeli atau biaya untuk membuat iklan penjulan aset. Aset tidak lancar yang telah diklasifikasi sebagai dimiliki untuk dijual tidak didepresiasikan lagi. Jadi depresiasinya dihentikan sampai sesaat aset tersebut diklasifikasi sebagai aset dimiliki untuk dijual, dengan demikian tidak perlu didepresiasi lagi.
7

PENGUKURAN
Jika penjualan diperkirakan diselesaikan dalam periode waktu 1 tahun dan memenuhi kriteria pengakuan karena penundaan berasal dari pihak diluar kendali entitas, maka entitas harus menghitung biaya untuk menjual aset tersebut pada nilai kininya (present value). Jadi pengukuran aset yang seperti ini adalah mana yang terendah antara nilai tercatat dengan nilai wajar dikurangi nilai kini dari biaya untuk menjual. Kenaikan nilai kini akibat berjalannya waktu disajikan di laba Rugi sebagai beban keuangan.. Jika pada saat awal pengakuan, nilai wajar neto aset lebih rendah dari nilai tercatatnya, maka entitas harus mengakui sebesar nilai wajar netonya, sehingga rugi penurunan nilai aset tersebut langsung diakui di laba rugi pada saat awal pengakuan.

Contoh : PT Panasonic membeli mesin yang diakui sebagai aset tetap pada 1 Jan 2008 pada biaya perolehan Rp 100 jt. Aset ini diestimasi akan mempunyai nilai residu Rp 10 jt dan masa manfaat 10 tahun. Pada tanggal 1 Jan 2011 aset tersebut diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual. Nilai wajarnya Rp 60 jt dan diperkirakan akan mengeluarkan biaya ongkos angkut ke tempat pembeli sebesar Rp 2 jt . Pada tanggal 1 Jan 2011, mesin tersebut diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan diukur pada mana yang terendah antara nilai tercatat dengan nilai wajar neto.

Nilai tercatat aset = Rp100jt - ((Rp100jt - Rp10 jt) X 3/10)= Rp73jt. Nilai Wajar Neto = Rp60jt Rp2jt = Rp58 jt. Nilai yang harus diakui adalah yang lebih rendah, yaitu Rp58 jt

Dengan demikian entitas harus mencatat rugi penurunan niali untuk menurunkan nilai tercatat ke nilai wajar netonya, yaitu sebesar Rp73 jt Rp58 jt = Rp15 jt. Jurnalnya adalah sbt: Rugi penurunan nilai Rp15 jt Mesin Rp15 jt Jurnal pengakuan rugi penurunan nilai juga dapat dikreditkan sebagai cadangan penurunan nilai, tidak langsung mengurangi nilai aset. Kemudian entitas jug amembuat jurnal reklasifikasi aset sbt: Mesin dimiliki untuk dijual Rp58 jt Mesin Rp58 jt Sekarang, jika diasumsikan nilai wajar neto adalah Rp75 jt, maka nilai yang lebih rendah adalah nilai tercatat aset sebesar Rp73 jt. Dengan demikain, entitas tidak perlu mengakui rugi penurunan nilai, namun tetap perlu membuat jurnal reklasifikasi ke aset tersedia untuk dijual. Nilai aset tetap disajikan sebesar nilai tercatat Rp73 jt.

PENGUKURAN SELANJUTNYA
Dalam pengukuran selanjutnya, entitas me-review nilai tercatat nilai aset dibandingkan dengan nilai wajar netonya. Jika nilai wajar neto kemudian mengalami penurunan lagi dibandingkan dengan nilai tercatat terakhir maka entitas harus kembali mengakui rugi penurunan nilai tersebut. Namun, jika pada pengukuran berikutnya nilai wajar neto mengalami kenaikan, entitas dapat mengakui pemulihan penurunan nilai tersebut namun tidak melebihi akumulasi penurunan nilai yang telah dicatat sejak klasifikai aset sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual. Pemulihan atas penurunan nilai tersebut diakui sebagai keuntungandi Laba Rugi. Sebagai Ilustrasi, masih melanjutkan ilustrasi sebelumnya pada PT Panasonic mis pada tanggal 31 Jan, akhir periode pelaporan bulanan, nilai wajar neto mesin menjadi Rp55 jt, maka entitas membuat jurnal penyesuain pada 31 Jan 2011 sbt:
11

PENGUKURAN SELANJUTNYA
Rugi penurunan nilai Rp3.000.000 Rp3.000.000

Mesin dimiliki untuk dijual

Selanjutnya jika pada 30 Juni 2011, nilai wajar neto aset tersebut mengalami kenaikkan menjadi sebesar Rp57 jt, dan asumsikan antara 31 Jan 2011 sampai 30 Juni 2011 tidak terdapat perubahan nilai, maka PT Panasonic harus membuat jurnal penyesuaian pada 30 Juni 2011, sbt: Mesin dimiliki untuk dijual Keuntungan dr Rp2.000.000 Rp2.000.000 rugi penurunan nilai pemulihan

12

Entitas dapat mengakui keuntungan dari pemulihan rugi penurunan nilai karena pemulihan tersebut masih belum melampaui akumulasi rugi penurunan nilai yang telah diakui sebelumnya atas nilai aset pada awal klasifikasi sebesar Rp58 jt.

Aset Tidak Lancar yang Diukur menggunakan Model Revaluasi Ketika perusahaan menggunakan model revaluasi dalam mengukur aset tidak lancar yang kemudian diklasifikasi sebagai aset dimiliki untuk dijual, maka aset tersebut harus direvaluasi kenilai wajarnya sesaat sebelum di reklasifikasi. Setelah reklasifikasi, biaya menjual dikurangkan dan diakui sebagai rugi penurunan nilai sebagai bagian laba rugi periode berjalan. 13

Sebagai contoh PT Takayoshi mempunyai aset tetap berupa tanah dan mengukur tanahnya menggunakan model revaluasi. Sebidang tanah tersebut mempunyai nilai tercatat sebesar Rp120 jt. Tanah tersebut pada 1 Jan 2010 diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual, dan diketahui nilai wajarnya sebesar Rp140 jt dan estimasi biaya menjual sebesar Rp4 jt. Aset tersebut terjual pada 30 Juni 2010 pada harga Rp134 jt. Pada Tanggal1Jan 2010, tanah tersebut harus direvaluasi ke nilai wajarnya sebesar Rp140 jt. Keuntungan Rp20 jt diakui sebagai surplus revaluasi pada pendapatan komprehensif lain. Selanjutnya Tanah tersebut diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual. Kemudian, biaya menjual sebesar Rp4 jt akan diakui di laba rugi priode berjalan sebagai rugi penurunan nilai, sehingga nilai tercatatnya menjadi Rp136 jt
14

Pada saat penjualan tanggal 30 Juni 2010, terdapat rugi sebesar Rp2 jt yang diakui sebagai rugi pelepasan aset karena harga jual lebih rendah daripada nilai tercatat (Rp136 jt Rp134 jt). Pada saat surplus revaluasi telah terealisasi dan ditransfer seluruh ke saldo laba.

PENGHENTIAN PENGAKUAN DAN PERUBAHAN RENCANA Ketika entitas mengklasifikasi aset tidak lancar sebagai dimiliki untuk dijual, namun kemudian kriteria pengakuan aset tidak lagi terpenuhi atau perusahaan mengubah rencana untuk tidak menjual aset ini, maka entitas harus menghentikan pengklasifikasian aset tersebut sebagai dimiliki untuk dijual. Kondisi tidak tidak terpenuhinya lagi kriteria pengakuan aset tidak lancar sebagai dimiliki untuk dijual misalnya karena manajemen memutuskan akan menggunakan kembali aset ini. 15

Aset tidak lancar yang dihentikan pengklasifikasiannya sebagai dimiliki untuk dijual. Maka selanjutnya harus diukur pada nilai yang lebih rendah antara: 1. Nilai tercatat aset tersebut sebelum aset diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual, disesuaikan dengan penyusutan, amortisasi atau penilaian kembali yang telah diakui jika aset tersebut tidak diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual atau 2. Nilai terpulihkan pada saat tanggal keputusan untuk tidak menjual. melanjutkan ilustrasi PT Panasonic misalnya pada 31 Des karena upaya mendapatkan kontrak pembelian belum dapat segera terealisasikan, maka majemen memutuskan untuk membatalkan rencana penjulan tersebut dan menggunakan kembali aset tersebut sebagai aset tetap. Oleh karena itu, pada tanggal 31 Des PT Panasonic harus mereklasifikasi ulang aset 16 menjadi aset tetap, dan menghitung nilai tercatat yang baru.

Misalnya diketahui bahwa nilai terpulihkan aset tersebut sebasar Rp57 jt, sama dengan nilai tercatat aset saat ini pada 31 Des 2011 sebelum penyesuaian adalah Rp57 jt. Nilai tercatat aset jika tidak diklasifikasikan sebagai aset tersedia dijual dapat dihitung= Rp100 jt ((Rp100 jt Rp10 jt) x 4/10)) = Rp64 jt. Nilai yang lebih rendah adalah nilai terpulihkan sebesar Rp57 jt akan digunakan sebagai nilai aset pada 31 Des 2011. Dengan demikian, tidak ada jurnal penyesuaian atas nilai tercatat yang perlu dibuat pada 31 Des 2011, kecuali jurnal reklasifikasi sbt: Mesin Rp57.000.000 Mesin dimiliki untuk dijual Rp57.000.00
17

Penghentian pengakuan juga dapat terjadi ketika aset tersebut dijual. Pengakuan penjualan aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, pada prinsipnya sama seperti penjualan aset biasa. Keuntungan /kerugian muncul dari selisih antara nilai tercatat akhir aset tersebut dengan harga penjualan. Keuntungan / kerugian tersebut diakui di Laba Rugi. Contoh PT Dettol telah mereklasifikasikan aset tetapnya sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual pada 2 Jan 2011. Penjualan terjadi pada tanggal 2 Juli dengan harga jual Rp70 jt, nilai tercatat aset tidak lancar dimiliki untuk dijual pada 2 Juli 2011adalah sebesar Rp70 jt. PT detol harus mencatat penjualan tersebut sbt: Kas Rp70.000.000 Aset tdk lancar dimiliki untuk dijual Rp70.000.000 18

PENYAJIAN
Aset yang diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual harus disajikan secara terpisah dengan kelompok aset lainnya pada laporan posisi keuangan. Aset semacam ini disajikan sebagai kelompok aset terpisah dalam kelompok aset tidak lancar dimiliki untuk dijual dalam kelompok aset lancar. Aset ini disajikan dalam kelompok aset lancar karena akan direalisasikan melalui penjualan dalam jangka waktu satu tahun. Ketika aset tersebut berupa kelompok aset, maka aset dan liabilitas terkait masing-masing harus disajikan terpisah. Aset dan liabilitas tersebut tidak disajikan secara net-off. Kelompok aset dan liabilitas utama untuk kelompok aset disajikan terpisah, baik di laporan posisi keuangan atau pada catatan atas laporan keuangan.

Perlu diperhatikan bahwa penyajian terpisah atas aset yang dimiliki untuk dijual ini tidak memerlukan perlakuan penyajian kembali atas informasi pada periode komparasi. Hal ini dilakukan agar laporan posisi keuangan mencerminkan pengklasifikasian aset yang dilakukan dimperiode kini. ilustrasi penyajian aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual pada laporan posisi keuangan adalah sbt: 2011 2010 Aset Lancar: Kas dan setara kas 20.000 24.000 Piutang Usaha 150.000 135.000 Persediaan 365.000 402.000 Aset tdk Lancar dimiliki u dijual 56.500 Aset tidak Lancar: Aset Tetap 670.000 740.000 Aset Tak Berwujud 159.000 165.000