Anda di halaman 1dari 14

PENYULUHAN

MANFAAT ASI EKSKLUSIF

Pembimbing: dr. Indiana Aulia Disusun oleh: Suwenny [100100059]

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK RSUP HAJI ADAM MALIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2014

HALAMAN PERSETUJUAN

Penyuluhan dengan Judul :

Manfaat Asi Eksklusif

Yang dipersiapkan oleh : Suwenny 100100059

Makalah ini telah diperiksa dan disetujui untuk dilakukan penyuluhan

Medan, 10 April 2014

Dosen Pembimbing

Disetujui PPDS Pembimbing

dr. Fera Wahyuni, M.Ked(Ped), Sp.A

dr. Indiana Aulia

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah penyuluhan ini. Makalah penyuluhan dengan judul Manfaat ASI Eksklusif ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi salah satu tugas kepaniteraan klinik senior Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Dalam penyelesaian penulisan makalah ini, penulis mendapatkan bantuan dari banyak pihak. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian penulisan makalah ini. Penulis masih menyedari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun bahasanya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi menyempurnakan makalah ini. Akhir kata penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat membawa manfaat terutama bagi penulis sendiri dan para pembaca sekalian.

Medan, 7 April 2014 Penulis,

Suwenny

ii

Daftar Isi

Halaman Persetujuan ..........................................................................................................i Kata Pengantar .................................................................................................................... ii Daftar Isi ............................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................1 1.1. Latar Belakang.......................................................................................................1 1.2. Tujuan .................................................................................................................... 2 1.3. Manfaat .................................................................................................................. 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 3 2.1. Pengertian ASI Eksklusif ...................................................................................... 3 2.2. Tahap dalam Pemberian ASI Eksklusif .................................................................3 2.3. Manfaat ASI Eksklusif .......................................................................................... 4 2.4. Kendala Pemberian ASI Eksklusif dan Pemecahannya ........................................6 BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................ 9

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................10

iii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Sampai saat ini diyakini bahwa ASI merupakan makanan pilihan pertama dan utama

untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan. Komposisi ASI yang demikian unik, berubah sepanjang hari, meyebabkan tidak ada satupun susu formula yang dapat menyamakan komposisinya, hanya dapat memberikan efek yang menyerupai (mimicking) ASI. Pemberian ASI eksklusif merupakan gold standard untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan.1 Data Riskesdas 2010 menunjukkan pemberian ASI eksklusif yang masih sangat rendah (15%). Namun di tahun 2013 cakupan ASI eksklusif menunjukkan peningkatan menjadi 30,2%, meskipun persentase ini seharusnya masih dapat terus ditingkatkan lagi.2 Sedangkan data dari penelitian multisenter yang dilakukan IDAI sebesar 27%. Hasil penelitian IDAI juga memperlihatkan bahwa baru sekitar 40-60% rumah sakit yang menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui secara utuh. Angka tersebut juga tidak berbeda antara pulau Jawa dengan pulau besar lainnya.1 Pada waktu lahir sampai beberapa bulan sesudahnya, bayi belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna. ASI memberikan zat-zat kekebalan yang belum dapat dibuat oleh bayi tersebut, sehingga bayi yang minum ASI lebih jarang sakit, terutama pada awal dari kehidupannya. Komponen zat anti infeksi yang banyak dalam ASI akan melindungi bayi dari berbagai macam infeksi, baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan antigen lainnya.3 PP Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif menegaskan bahwa dalam rangka melindungi, mendukung, dan mempromosikan pemberian ASI eksklusif perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan dukungan dari pemerintah, pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan, masyarakat serta keluarga agar ibu dapat memberikan ASI eksklusif pada bayi.4 Seluruh kebijakan yang memfasilitasi pemberian ASI/menyusui harus didukung. Tidak ada satupun makanan yang ideal untuk bayi baru lahir selain ASI. Edukasi orang tua sejak kehamilan merupakan komponen penting penentu keberhasilan menyusui. Pengetahuan dan keterampilan petugas yang terkait dalam keberhasilan manajemen menyusui harus selalu ditingkatkan agar mereka dapat berperan aktif dalam mengatasi kendala yang mungkin timbul selama proses menyusui.5

1.2

Tujuan Penyuluhan Tujuan yang diharapkan dapat dicapai dari penyusunan makalah ini adalah: a. Mensosialisasikan kepada para ibu di poliklinik Ilmu Kesehatan Anak tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif. b. Meningkatkan kesadaran para ibu tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi mulai dari lahir sampai usia 6 bulan. c. Meningkatkan pengetahuan para ibu tentang bagaimana menangani kendalakendala yang mungkin terjadi pada proses pemberian ASI eksklusif.

1.3

Manfaat Penyuluhan Manfaat yang dapat diberikan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Memberikan informasi kepada masyarakat luas, khususnya orang tua mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif. b. Memberikan pengetahuan, wawasan dan keterampilan kepada penulis mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian ASI Eksklusif Definisi ASI eksklusif bermacam-macam tetapi definisi yang sering digunakan adalah

definisi WHO yang menyebutkan ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa cairan atau makanan padat apapun kecuali vitamin, mineral, atau obat dalam bentuk tetes atau sirup sampai usia 6 bulan.6 Pemberian vitamin, mineral, dan obat-obatan diperbolehkan selama pemberian ASI eksklusif. Suplemen (air, air gula, susu formula, dan cairan lain) tidak diberikan pada bayi kecuali atas permintaan dokter sesuai dengan indikasi medis. Empeng/dot dihindari pada bayi yang menyusui.5 Kandungan protein dan laktosa pada susu manusia dan susu sapi itu berbeda. Susu sapi kadar proteinnya lebih tinggi, yakni 3,4 persen sedangkan susu manusia hanya 0.9 persen. Kadar laktosa susu manusia lebih tinggi yakni 7 persen sedangkan susu sapi hanya 3,8 persen. Fungsi dari kedua zat gizi ini bertolak belakang. Laktosa sangat penting dalam proses pembentukan mielin otak. Sementara pada susu sapi, kandungan protein yang tinggi berfungsi untuk membantu pembentukan otot.7

2.2

Tahap dalam Pemberian ASI Eksklusif Menyusui satu jam pertama kehidupan yang diawali dengan kontak kulit antara ibu

dan bayi dinyatakan sebagai indikator global. Ini merupakan hal baru bagi Indonesia, dan merupakan program pemerintah, sehingga diharapkan semua tenaga kesehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan baik swasta, maupun masyarakat dapat mensosialisasikan dan melaksanakan mendukung suksesnya program tersebut, sehingga diharapkan akan tercapai sumber daya Indonesia yang berkualitas.8 Pada minggu-minggu pertama menyusui, bayi disusui sesering kemauan bayi. Ibu menawarkan payudara apabila bayi menunjukkan tanda-tanda lapar seperti terjaga terus, aktif, mouthing, atau rooting. Penempatan ibu dan bayi dalam satu ruangan (rooming-in) sepanjang hari sangat membantu keberhasilan menyusui. Lamanya menyusui tergantung pada kehendak bayi. Payudara diberikan bergantian kanan dan kiri pada awal menyusui, agar kedua payudara mendapat stimulasi yang sama dan mendapat pengeringan yang sama. Pada minggu-minggu pertama, bayi sebaiknya dibangunkan atau dirangsang untuk menyusui maksimum setiap 3 jam.5

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya untuk mencapai tumbuh kembang optimal.9 Makanan pendamping ASI kaya besi diberikan secara bertahap mulai usia 6 bulan. Bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, dan bayi yang memiliki kelainan hematologi tidak memiliki cadangan besi adekuat pada saat lahir umumnya membutuhkan suplementasi besi sebelum usia 6 bulan, yang dapat diberikan bersama dengan ASI eksklusif.5 Kebutuhan dan perilaku makan setiap bayi adalah unik. Pengenalan makanan pendamping sebelum usia 6 bulan tidak meningkatkan asupan kalori maupun kecepatan pertumbuhan berat badan. Selama 6 bulan pertama, bayi yang mendapat ASI tidak membutuhkan air putih maupun jus buah, bahkan dalam cuaca panas sekalipun. Pemberikan minuman atau makanan selain ASI berisiko mengandung kontaminan atau alergen. Pemanjangan durasi menyusui bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan dan perkembangan bayi. Bayi yang telah disapih sebelum usia 12 bulan tidak menerima susu sapi, tetapi harus mendapat formula bayi yang difortifikasi zat besi.5 Durasi pemberian ASI eksklusif yang dianjurkan adalah selama enam bulan pertama kehidupan untuk mencapat tumbuh kembang optimal. Setelah enam bulan, bayi mendapat makanan pendamping yang adekuat sedangkan ASI dilanjutkan sampai usia 24 bulan.5

2.3

Manfaat ASI Eksklusif ASI diberikan kepada bayi karena banyak manfaat dan kelebihannya, antara lain: 1. Menurunkan risiko terjadinya penyakit infeksi, misalnya infeksi pada saluran pencernaan (diare), infeksi pada saluran pernafasan, dan infeksi pada telinga. 2. Menurunkan dan mencegah terjadinya penyakit non infeksi, misalnya penyakit alergi, obesitas, kurang gizi, asma, dan eksim. 3. Selain itu dapat meningkatkan IQ dan EQ anak.5 ASI mempunyai kandungan yang sangat bervariasi yang dipengaruhi oleh diet utama

ibu selama kehamilan, tingkat nutrisi ibu, dan saat diberikannya ASI kepada bayi. ASI yang dikeluarkan pada 7 hari pertama setelah bayi lahir disebut kolostrum. Kolostrum sangat baik diberikan pada bayi baru lahir karena mengandung banyak antibodi dan sel darah putih, serta vitamin A yang diperlukan bayi karena dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi.5 Menyusui memberikan beberapa keuntungan bagi bayi. Sebagai makanan bayi yang paling sempurna, keuntungan ASI bagi bayi adalah: 1. ASI mudah dicerna dan diserap karena mengandung enzim pencernaan.
4

2. ASI dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi karena mengandung zat penangkal penyakit antara lain immunoglobulin. 3. ASI praktis dan mudah memberikannya, serta murah dan bersih. 4. ASI mengandung rangkaian asam lemak tak jenuh yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan otak. 5. ASI selalu berada dalam suhu yang tepat. 6. ASI tidak menyebabkan alergi. 7. ASI dapat mencegah kerusakan gigi. 8. ASI mengoptimalkan perkembangan bayi. 9. ASI meningkatkan hubungan ibu dan bayi.5 Bagi ibu, menyusui juga memberikan beberapa keuntungan, yaitu: 1. mencegah perdarahan setelah persalinan karena efek stimulasi kontraksi rahim, 2. mempercepat mengecilnya rahim, 3. mengurangi anemia, 4. menurunkan berat badan usai melahirkan karena ketika menyusui sekitar 500 kalori terbakar setiap harinya, 5. mencegah kanker ovarium dan kanker payudara karena proses menyusui mempunyai efek pada keseimbangan hormon wanita, dan 6. sebagai kontrasepsi alamiah (menunda masa subur).5 Dari sudut psikologis, kegiatan menyusui akan membantu ibu dan bayi membentuk tali kasih. Kontak akan terjalin setelah persalinan pada saat ibu menyusui bayinya untuk pertama kali. Keadaan ini akan menumbuhkan ikatan psikologis antara ibu dan bayinya. Proses ini disebut perlekatan (bonding). Bayi jarang menangis atau rewel dan akan tumbuh lebih cepat jika ia tetap berada dekat ibunya serta disusui secepat mungkin setelah persalinan. Ibu-ibu yang menyusui akan merawat bayi mereka dengan penuh kasih sayang. Memberi ASI dapat membantu pertumbuhan dan kecerdasan bayi.5 Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan harus ditingkatkan karena mempunyai hubungan dengan angka kejadian diare akut.9 Salah satu kandungan unik ASI adalah oligosakarida yang akan menciptakan suasana asam dalam saluran cerna. Suasana asam ini berfungsi sebagai sinyal untuk pertahanan saluran cerna, yaitu SIgA (Secretory Imunnoglobulin A) yang juga terdapat dalam ASI itu sendiri. SIgA dapat mengikat mikroba patogen, mencegah perlekatannya pada sel enterosit di usus dan mencegah reaksi imun yang bersifat inflamasi.10
5

Hasil penelitian dari Oxford University dan Institute for Social and Economic Research sebagaimana dilansir Daily Mail, menyebutkan bahwa anak bayi yang mendapat ASI Eksklusif akan tumbuh menjadi anak yang lebih pintar dalam membaca, menulis, dan matematika. Salah satu peneliti, Maria Iacovou mengemukakan asam lemak rantai panjang (long chain fatty acids) yang terkandung di dalam ASI membuat otak bayi berkembang.7 Kendala Pemberian ASI Eksklusif dan Pemecahannya11 Dalam kenyataannya, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan tidak sesederhana yang dibayangkan. Banyak kendala yang timbul dalam upaya memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Akan tetapi dengan motivasi ibu/ayah yang kuat, pengetahuan dasar yang dimiliki ibu dan ayah, serta usaha yang terus menerus, sabar dan tekun, tidak mustahil pemberian ASI eksklusif dapat berhasil. Beberapa kendala yang sering menjadi alasan ibu dalam pemberian ASI eksklusif: 1. produksi ASI kurang 2. ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar 3. ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi) 4. bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/dekstrosa, susu formula pada hari-hari pertama kelahiran) 5. kelainan ibu: puting ibu lecet, puting ibu luka, payudara bengkak, engorgement, mastitis dan abses 6. ibu hamil lagi padahal masih menyusui 7. ibu bekerja 8. kelainan bayi: bayi sakit, abnormalitas bayi. Ada beberapa faktor yang perlu diidentifikasi dan diperbaiki sebagai penyebab berkurangnya ASI, yaitu : 1. Faktor menyusui : (1) tidak melakukan inisiasi menyusu dini, (2) menjadwal

2.4

pemberian ASI, (3) memberikan minuman prelaktal (bayi diberi minum sebelum ASI keluar), apalagi memberikannya dengan botol/dot, (4) kesalahan pada posisi dan perlekatan bayi pada saat menyusu, (5) tidak mengosongkan salah satu payudara saat menyusui 2. Faktor psikologis ibu

Stres, khawatir, ketidakbahagiaan ibu pada periode menyusui sangat berperan dalam mensukseskan pemberian ASI eksklusif. Peran keluarga dalam meningkatkan percaya diri ibu sangat besar. 3. Faktor fisik ibu Faktor fisik ibu seperti ibu sakit, lelah, ibu yang menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang mengandung hormon, ibu menyusui yang hamil lagi, peminum alkohol, perokok, atau ibu dengan kelainan anatomis payudara dapat mengurangi produksi ASI. 4. Faktor bayi Ada beberapa faktor kendala yang bersumber pada bayi, misalnya bayi sakit, prematur, dan bayi dengan kelainan bawaan. Bila bayi terpisah dengan ibu untuk sementara waktu, ibu memerah ASInya dan diberikan kepada bayinya dengan sendok atau cangkir. Sebaiknya tidak menggunakan dot karena akan mempersulit bayi bila kembali menyusu (bingung puting). Relaktasi merupakan suatu keadaan ibu yang telah berhenti menyusui ingin memulai menyusui kembali. Untuk mengembalikan agar bayi dapat menyusu dari ibu kembali, kita dapat menggunakan alat yang disebut suplementer.Suplementer menyusui adalah alat yang digunakan sebagai suplemen kepada bayi saat bayi menyusu pada payudara yang kurang memproduksi ASI. Jenis suplementer yang tersedia, antara lain cangkir dan slang plastik atau breast feeding supplementer. Dengan menggunakan suplementer bayi tidak marah karena mendapatkan susu dari selang dan payudara ibu akan terangsang kembali untuk memproduksi ASI. Puting lecet paling sering disebabkan perlekatan yang kurang baik. Bila bayi tidak melekat dengan baik, bayi akan menarik puting, menggigit dan menggesek kulit payudara, sehingga menimbulkan rasa sangat nyeri dan bila bayi terus menyusu akan merusak kulit puting dan menimbulkan luka ataupun retak pada puting. Yang pertama dan utama diperhatikan adalah posisi bayi saat menyusu dan pelekatannya. Puting yang retak, luka juga dapat disertai jamur (Kandidiasis). Mulut bayi sebaiknya dilihat apakah terdapat jamur yang dapat mengganggu proses menyusu atau adakah ikatan dibawah lidah yang membuat lidah tidak dapat menjulur keluar (tongue tie). Pengobatan yang sesuai baik untuk ibu maupun bayi harus segera diberikan. Membangkitkan rasa percaya diri ibu sangat diperlukan. Membangkitkan rasa percaya diri ibu dan penjelasan bahwa kelainan hanya bersifat sementara akan membantu ibu melanjutkan untuk menyusui bayi. Posisikan bayi agar mulutnya melekat dengan baik sehingga rasa nyeri
7

akan segera berkurang. Tidak perlu mengistirahatkan payudara, tetapi tetaplah menyusu on demand. Bila diperlukan, bantu ibu untuk memerah ASI, dan ASI perah diberikan dengan cangkir. Membersihkan payudara hanya pada waktu mandi, hindari penggunaan sabun, lotion, salep, atau menggosok-gosok dengan handuk. Payudara penuh, (1) terjadi beberapa hari setelah persalinan, yaitu saat ASI sudah mulai diproduksi, (2) payudara terasa nyeri berat, keras, tapi ASI masih dapat mengalir keluar, (3) ibu tidak merasa demam. Yakinkan ibu bahwa payudara penuh adalah suatu hal yang normal dan usahakan ibu menyusui sesering mungkin sehingga payudara terasa lebih nyaman, rasa berat akan berkurang dan payudara menjadi lebih lunak. Payudara bengkak (engorgement), (1) payudara tampak merah, mengkilat, dan sangat nyeri, (2) terjadi karena bendungan pada pembuluh darah dan limfe, (3) sekresi ASI sudah mulai banyak, (4) ASI tidak dikeluarkan sempurna. Payudara bengkak dapat dicegah dengan menyusukan bayi segera setelah lahir, menyusukan bayi tanpa jadwal, dan jangan memberi minuman lain pada bayi. Lakukan masase dan keluarkan ASI. Mastitis, memperlihatkan gejala klinis payudara nampak merah, bengkak keras, terasa panas dan nyeri sekali. Dapat mengenai kedua atau hanya satu payudara. Penyebabnya antara lain puting lecet atau saluran ASI tersumbat yang tidak ditatalaksana dengan baik. Mastitis dapat di tatalaksana dengan mengistirahatkan ibu, ASI tetap harus dikeluarkan, berikan antibiotik dan kompres/minum obat pengurang rasa sakit Abses, memperlihatkan gejala klinis berupa benjolan kemerahan, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri. Pada benjolan teraba fluktuasi dan suhu tubuh meningkat. Bila dijumpai keadaan ini, ibu harus istirahat, ASI tetap dikeluarkan, berikan antibiotik, insisi abses, dan kompres / minum obat pengurang rasa sakit. Seandainya ibu hamil lagi saat masih menyusui, maka dianjurkan: 1. Bila bayi belum berusia 6 bulan, terus menyusui karena ASI masih merupakan makanan tunggal. 2. Bila bayi berusia 6-12 bulan, terus menyusui karena ASI masih merupakan makanan utama. 3. Bila bayi sudah berusia lebih dari 12 bulan, boleh disapih. Bila menyusui tetap diteruskan, maka perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu (1) volume ASI dapat berkurang karena pengaruh hormon ibu hamil, (2) puting akan lecet, (3) ibu akan mengalami keletihan, (4) rasa ASI berubah ke arah kolostrum, (5) terjadi kontraksi rahim karena hormon ibu hamil.

BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN

3.1

KESIMPULAN ASI eksklusif adalah makanan terbaik bagi bayi pada awal masa kehidupannya hingga

berusia 6 bulan. ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi dalam jumlah yang pas sehingga optimal untuk pertumbuhannya. Selain itu ibu juga memperoleh manfaat bagi dirinya sendiri melalui pemberian ASI eksklusif. Dukungan terhadap ibu dalam menangani kendala-kendala saat pemberian ASI eksklusif sangatlah penting agar tercapaui keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif.

3.2

SARAN Promosi pemberian ASI eksklusif perlu dilakukan dengan dukungan dari pemerintah,

pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan, masyarakat serta keluarga agar ibu dapat memberikan ASI eksklusif pada bayi. Diharapkan semua tenaga kesehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan baik negeri, swasta, maupun masyarakat dapat mensosialisasikan dan melaksanakan mendukung suksesnya program ASI eksklusif tersebut sehingga diharapkan akan tercapai sumber daya Indonesia yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hegar, B. Understanding and implementation of breastfeeding regulation. 2012. Jakarta. 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2013. Kementerian Kesehatan RI. Available from: depkes.go.id [Accessed 7 April 2014]. 3. Suraatmaja, S. Gastroenterologi Anak. 2007. Jakarta: CV.Sagung Seto. 4. Peraturan Pemerintah RI. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif. 2012. Jakarta. 5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Air susu ibu dan menyusui. 2014. Jakarta. Available from: idai.or.id [Accessed 7 April 2014]. 6. Fikawati, Sandra, Syafiq A. Kajian implementasi dan kebijakan air susu ibu eksklusif dan inisiasi menyusui dini di Indonesia. 2010. Jakarta. 7. Departemen Kesehatan RI. ASI eksklusif; bayi cerdas, ibu pun sehat. 2013. 8. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Paket modul kegiatan-Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI eksklusif 6 bulan. 2008. 9. Rahmadhani E.P, Lubis G, Edison. Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan angka kejadian diare akut pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Kuranji Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2013; 2(2). 10. Jackson K.M, Nazar A.M. Breastfeeding, the immune response, and longterm health. J. Am Osteopath Assoc. 2006. 11. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kendala pemberian ASI eksklusif. 2013. Jakarta. Available from: idai.or.id [Accessed 7 April 2014].

10