Anda di halaman 1dari 9

66

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Ny. G dengan sectio
caesarea atas indikasi cephalopelvik disproporsi (CPD) hari ke-1 di Ruang Dahlia RSUD
Majalengka pada tanggal 15 Maret 2013 sampai dengan 17 Maret 2013, penulis
memahami bahwa proses keperawatan yang dilaksanakan tidak jauh berbeda dengan teori
yang telah didapat. Proses keperawatan tersebut meliputi pengkajian, penentuan diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Walaupun demikian terdapat beberapa
kesenjangan yang ditemukan antara teori dengan praktek.
Dalam pengkajian penulis tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan
pasien dan keluarga karena pasien dan keluarga komunikatif dan kooperatif. Penulis
mendapatkan data hasil pengkajian dari keluarga dan pasien sendiri dengan cara
wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik pada pasien. Penulis tidak menguraikan
pengkajian pada bayinya karena bayi ada diruang perawatan bayi dan penulis fokus pada
pengkajian ibu.
Hasil analisis dan interpretasi data yang berhasil dikumpulkan pada tahap
pengkajian dapat disampaikan sebagai berikut :
a. Prioritas diagnosa keperawatan disusun berdasarkan pada :
1. Berdasarkan kebutuhan Maslow
1) Kebutuhan fisiologi meliputi masalah respirasi, sirkulasi, suhu, nutrisi, nyeri,
mobilitas, eliminasi.
2) Kebutuhan keamanan dan keselamatan meliputi : masalah lingkungan,kondisi
tempat tinggal,perlindungan,pakaian, bebas dari infeksi dan rasa takut.
3) Kebutuhan mencintai dan dicintai meliputi Kasih sayang, seksualitas,hubungan
antar manusia.
4) Kebutuhan harga diri meliputi masalah respek dari keluarga,perasaan menghargai
diri sendiri.
5) Kebutuhan aktualisasi diri meliputi masalah kepuasan terhadap lingkungan.
2. Berdasarkan tingkat kegawatan ( mengancam jiwa)
1) Prioritas tinggi
Mencerminkan situasi yang mengancam kehidupan (nyawa seseorang)
sehingga perlu dilakukan terlebih dahulu.
67


2) Prioritas sedang
Prioritas ini menggambarkan situasi yang tidak gawat dan tidak mengancam
hidup klien seperti masalah higiene perseorangan.
3) Prioritas Rendah
Prioritas rendah ini menggambarkan situasi yang tidak berhubungan
langsung dengan prognosis dari suatu penyakit yang secara spesifik seperti
masalah keuangan.
b. Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus dan ada pada teori adalah sebagai
berikut :
1) Nyeri abdomen bawah atas simpisis berhubungan dengan trauma pembedahan dan
kontraksi uterus.
Nyeri yaitu keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa
ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan akibat adanya
kerusakan jaringan yang aktual atau potensial pada abdomen (Judith, 2007).
Diagnosa nyeri dapat ditegakkan apabila terdapat data-data : individu melaporkan
ketidaknyamanan, adanya respon autonomik pada nyeri, raut wajah kesakitan,
merintih. (Carpenito, 2009)
Diagnosa nyeri pada Ny. G ditegakkan, karena terdapat data-data : klien
mengeluh nyeri pada luka operasi area abdomen bawah atas simpisis, klien tampak
kesakitan, nyeri sedang, skala nyeri 6 (1-10), luka insisi melintang 10 cm pada
abdomen bawah atas simpisis, dan kontraksi uterus kuat, maka dari data tersebut
dapat diangkat diagnosa nyeri. Nyeri diangkat sebagai prioritas pertama diagnosa
keperawatan pada Ny. G, karena nyeri merupakan keluhan utama pasien dan
merupakan masalah aktual yang memerlukan intervensi paling cepat. Disamping itu
menurut hirarki Kalish penghindaran nyeri merupakan kebutuhan bertahan hidup
yang berada pada tingkat dasar. (Doengoes, 2001)
Menurut Maslow, seorang pelopor psikologi mengatakan bahwa kebutuhan
rasa nyaman merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi. Seseorang yang
mengalami nyeri akan berdampak terhadap aktivitas sehari-harinya. Orang tersebut
akan terganggu pemenuhan kebutuhan istrahat dan tidurnya, juga aspek interaksi
sosialnya yang dapat berubah menghindari percakapan, menarik diri dan
menghindari kontak.( Potter dan Perry 1997 ; Istichomah 2007 )
68

Bebas dari nyeri merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi manusia.
Nyeri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kenyamanan tubuh ( Aziz
& musrifatul, 2004). Jika seseorang menderita nyeri maka akan mempengaruhi
fisiologis dan psikologis dari oarang tersebut. Sesorang dapat menjadi mudah
marah, denyut nadi cepat, cemas, dang gangguan pola tidur bahkan aktivitas
sehari-hari dapat terganggu. ( Tamsuri Anas , 2007 )
Dalam mengatasi nyeri dilakukan intervensi antara lain : mengkaji skala nyeri
pasien, monitor nadi dan respirasi yang berhubungan dengan keluhan atau
penghilangan nyeri, mengamati keadaan pasien saat nyeri muncul,
menginformasikan pada pasien tentang penyebab nyeri, melatih teknik relaksasi-
distraksi diharapkan dapat menurunkan rasa nyeri dan menurunkan ketegangan otot
dan melepaskan perasaan kontrol yang mungkin dapat meningkatkan kemampuan
koping terhadap nyeri. (Doengoes, 2001)
Untuk mengatasi masalah nyeri telah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam, dan hasilnya terjadi penurunan skala nyeri dari skala 6 menjadi skala 2
(1-10), pasien telah mampu mengurangi nyeri dengan intervensi yang dilakukan,
namun belum sesuai dengan kriteria hasil dari tujuan yang diharapkan. Sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah keperawatan nyeri belum teratasi dengan
intervensi yang dilakukan.
2) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Intoleransi aktivitas dan nyeri
Hambatan mobilitas fisik merupakan suatu keterbatasan dalam kemandirian
pergerakan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih
(Judith, 2005).
Diagnosa hambatan mobilitas fisik pada Ny. G ditegakkan karena terdapat
data-data : Klien mengatakan belum berani untuk bergerak dan masih lemas, kaki
dan tangan masih sulit digerakkan, keterbatasan rentang gerak, klien tampak lemah.
Hambatan mobilitas fisik diangkat sebagai prioritas ke-2 diagnosa
keperawatan pada Ny. G, karena mobilisasi fisik merupakan keluhan utama pasien
dan merupakan masalah aktual yang memerlukan intervensi cepat. Hal ini sesuai
dengan konsep teori bahwa penatalaksaan keperawatan pada pasien dengan post
operasi sectio caesarea setelah 6 jam pasca operasi adalah mobilisasi dini (early
ambulation) secara bertahap sehingga pada hari ke-3 pasca operasi klien sudah
mampu untuk berjalan. Hal ini bertujuan untuk melancarkan pengeluaran lokia,
mengurangi infeksi puerperium, mempercepat involusi alat kandungan,
69

melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan, eningkatkan
kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran
sisa metabolisme.
Dalam mengatasi gangguan mobilisasi fisik dilakukan intervensi, antara lain
sebagai berikut : mengkaji respon klien terhadap aktivitas dan mencatat tipe
anestesi yang diberikan pada saat intra partus pada waktu klien sadar untuk
mengetahui perubahan yang terjadi pada klien, menganjurkan klien untuk istirahat
agar memulihkan tenaga, membantu dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari sesuai
kebutuhan, serta meningkatkan aktifitas secara bertahap agar mampu memberikan
rasa tenang dan aman.
Untuk mengatasi masalah gangguan mobilitas fisik telah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam, dan hasilnya terjadi peningkatan pergerakan secara
perlahan, namun belum optimal. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah
keperawatan belum teratasi dengan intervensi yang dilakukan.
3) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan ADL
pada diri sendiri. (Judith, 2005)
Diagnosa keperawatan defisit perawatan diri dapat ditegakan bila terdapat
tanda-tanda : ketidakmampuan untuk makan, mandi, berpakaian, toileting, oral
higiene dan ketidakmampuan untuk membersihkan area perineal. (Judith, 2005)
Diagnosa keperawatan defisit perawatan diri pada klien Ny. G ditegakan
karena terdapat tanda-tanda : klien mengatakan takut untuk bergerak dan nyeri jika
bergerak, klien tampak lemah, Kebutuhan makan, mandi, berpakaian dan toileting
dipenuhi dengan bantuan.
Dalam mengatasi masalah defisit perawatan diri dilakukan intervensi antara
lain : mengajarkan kepada keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukanya,
memandikan dan membersihkan area perineal (Vulva higiene).
Untuk mengatasi masalah defisit perawatan diri, telah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam, dan hasilnya pasien belum mampu melakukan ADL
secara mandiri. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah defisit
paerawatan diri belum teratasi.

70

4) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan kerusakan kulit
sekunder pembedahan.
Terdapat banyak cara penularan mikroorganisme dari reservoir ke penjamu
(host). Luka merupakan salah satu pintu masuknya kuman kedalam tubuh. Begitu
pula dengan adanya benda yang terpasang di dalam tubuh merupakan pintu masuk
kuman. Dengan adanya luka/terbukanya jaringan maka tubuh tidak mempunyai
perisai untuk mencegah masuknya kuman/bakteri ke dalam tubuh sehingga kuman
yang masuk akan beredar dalam pembuluh darah dan akhirnya dapat menimbulkan
reaksi peradangan yang merupakan tanda awal dari Infeksi (Perry, Potter, 2005).
Masalah infeksi dapat diangkat bila terdapat data-data sebagai berikut : timbul
dolor, rubor, kalor, tumor dan fungsiolaesa, terdapat demam, suhu tubuh per axila
lebih dari 37
0
C, leukosit lebih dari 11.000 ul, terdapat pus, luka basah. (Doengoes,
2001)
Data yang diperoleh hasil pengkajian pada klien Ny. G meliputi : luka insisi
melintang pada abdomen atas simpisis, panjang luka 10 cm, luka bersih,
terpasang cateter dan infus, suhu axila 37
o
C, leukosit : 9.500 ul, terdapat nilai atau
kepercayaan pantang makan. Berdasarkan data tersebut maka tidak dapat diangkat
sebagai diagnosa infeksi, karena tidak ditemukan tanda-tanda infeksi lain seperti,
adanya pus, dan jumlah leukosit dalam batas normal. Resiko terhadap infeksi
menggambarkan situasi bila pertahanan pejamu lemah, dan membuat pejamu lebih
mudah terserang oleh patogen-patogen yang ada dilingkungan. (Perry, 2000)
Diagnosa resiko tinggi infeksi diangkat menjadi prioritas ke-4 dalam kasus ini
karena masalah bukan merupakan masalah aktual yang memerlukan penanganan
dengan segera, meskipun demikian penanganan yang tepat sangat diperlukan untuk
mencegah masalah menjadi aktual, sehingga diagnosa resiko infeksi tidak menjadi
masalah utama. Untuk mencegah terjadinya infeksi telah dilakukan beberapa
intervensi diantaranya : mengamati luka dan tanda-tanda infeksi, merawat luka
dengan teknik aseptik antiseptik, menganjurkan pasien selalu menjaga kebersihan
dengan tujuan meminimalkan masuknya kuman, memberikan antibiotik sesuai
program terapi untuk mengontrol mencegah infeksi dan pendidikan kesehatan akan
pentingnya nutrisi bagi ibu post partum/paska operasi. (Doengoes, 2001)
Untuk mengatasi masalah resiko tinggi infeksi telah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam, dan hasilnya luka jahitan bersih, jahitan menutup,
tidak ada pus, tidak ada tanda-tanda peradangan pada luka, kateter dan infus
71

dilepas. Berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa masalah resiko tinggi infeksi telah teratasi sebagian, karena masih
memerlukan perawatan luka jahitan.
5) Resiko tidak efektifnya laktasi berhubungan dengan terhambatnya pengeluaran ASI
karena cemas dan kurang pengetahuan tentang perawatan bayi.
Ibu bertanggung jawab atas perawatan bayi yang tidak berdaya, ia
harus pula memberikan perhatikan terhadap suami, malam hari sering terganggu, ia
merasa tidak mampu atau tidak yakin akan kemampuannya menjadi ibu (Liewellyn,
2001). Perubahan psikologis lain yaitu kecemasan pada kemampuannya untuk
merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit dan rasa takut menjadi tidak
menarik lagi bagi suaminya. (Cunningham, 1995)
Perubahan yang mendadak pada status hormonal menyebabkan ibu yang
berada dalam masa nifas menjadi sensitif terhadap faktor-faktor yang dalam
keadaan normal mampu diatasinya. Kecemasan akan bayi dan suaminya, sebagian
ibu merasa tidak berdaya dalam waktu yang singkat, namun perasaan ini umumnya
akan menghilang setelah kepercayaan pada diri dan bayinya tumbuh. (Farrer, 1999)
Data yang diperlukan untuk mendukung diagnosa tidak efektif menyusui
adalah ASI belum keluar, bayi tidak menghisap terus menerus, masuknya mulut
bayi tidak adekuat, bayi menangis saat disusui dan menolak hisapan.
(Carpenito, 1998)
Menurut Wis (2007), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
kecemasan pada ibu post partum, terutama pada primipara, yaitu : faktor sosial
budaya seperti tidak boleh makan ikan, telur, daging agar ASI nya tidak amis,
faktor pengetahuan, lingkungan, minat dan kemauan ibu, media masa dan
dukungan orang terdekat.
Jika ibu dilanda kecemasan, akibat yang jelas antara lain hormon oksitosin
ibu tidak akan keluar. Hormon oksitosin merupakan salah satu hormon yang
berperan dalam proses produksi ASI. Sebaliknya jika ibu merasa tenang,
hatinya senang, hormon oksitosin bisa keluar dan bekerja dengan baik. Oksitosin
berpengaruh dalam proses pengeluaran ASI dikelenjar susu (Roesli, 2007).
Tidak efektif menyusui merupakan keadaan dimana ibu, bayi atau anak
mengalami atau beresiko mengalami ketidakpuasan atau kesukaran dengan proses
menyusui (Carpenito, 1998). Pada hari 2-3 post partum payudara akan
72

membengkak, keras, lembut dan hangat bila disentuh, terjadi karena akumulasi air
susu. (Bobak, 2000)
Data yang diperoleh dari hasil pengkajian pada klien Ny. G meliputi : klien
mengatakan ASI belum lancar dan hanya keluar sedikit, payudara tegang, puting
menonjol, hiperpigmentasi areola mamae, pengetahuan tentang ASI kurang. Pasien
juga mengatakan kurang tahu tentang perawatan bayi, tidak tahu tentang ASI
eksklusif dan belum pernah melakukan perawatan payudara karena tidak tahu
caranya. Sehingga masalah hanya dapat diangkat menjadi diagnosa resiko.
Diagnosa resiko tidak efektifnya laktasi menjadi prioritas terakhir dari
diagnosa yang diangkat penulis, karena masalah bukan merupakan masalah aktual
yang memerlukan penanganan dengan segera, produksi laktasi baru efektif pada
hari ke-3 post partum.
Untuk mengatasi resiko tidak efektifnya laktasi pada pasien dikaji terlebih
dahulu system pendukung yang tersedia pada klien dan sikap pasangan atau
keluarga untuk mengetahui motivasi, keadaan psikis dan untuk merumuskan
intervensi lebih lanjut. Dikaji juga pengetahuan pasien mengenai perawatan
payudara yang dapat menjadi salah satu penyebab menyusui menjadi tidak efektif.
Memberikan pendidikan kesehatan (Penkes) ASI eksklusif dan tentang perawatan
payudara (breast care) untuk menstimulasi duktus-duktus pada mamae merupakan
intervensi utama untuk mengatasi masalah ini. Mendemonstrasikan perawatan
payudara dan mengevaluasi pengetahuan dan ketrampilan pasien dalam perawatan
payudara, agar selanjutnya pasien dapat melakukan sendiri tanpa bantuan.
(Doenges, 2001)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, produksi ASI
meningkat, pasien dapat melakukan perawatan payudara secara mandiri, sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah resiko tidak efektifnya laktasi dapat
teratasi.
b. Diagnosa keperawatan yang ada pada teori namun tidak muncul pada kasus adalah
sebagai berikut :
1) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan efek anastesi
Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan untuk
membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk
mempertahankan kebersihan jalan nafas. (Judith, 2005)
73

Data yang diperlukan untuk mengangkat diagnosa keperawatan ini adalah
klien mengeluh dispneu, penurunan suara nafas, orthopneu, cyanosis, kelainan
suara nafas (rales, wheezing), kesulitan berbicara, batuk tidak efektif atau tidak ada,
produksi sputum, gelisah, perubahan frekuensi dan irama nafas. (Judith, 2005)
Data yang ditemukan hasil pengkajian pada klien Ny. G adalah kesadaran compos
mentis, respirasi 22 x/menit, tidak ada keluhan batuk, tidak ada ronchi dan wheezing, pola
napas reguler, bunyi napas vesikuler.
Berdasarkan data yang ditemukan hasil pengkajian, maka diagnosa keperawatan
bersihan jalan napas tidak efektif tidak muncul, karena tidak ada data yang mendukung.
2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dalam pembedahan
Defisit volume cairan adalah penurunan cairan intravaskuler, interstisiil, dan
atau mengarah intravaskuler. Ini mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan
pengeluaran sodium. (Judith, 2005)
Data yang diperlukan untuk mengangkat diagnosa keperawatan ini adalah
adanya rasa haus, penurunan turgor kulit, membran mukosa/kulit kering,
peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan
nadi, pengisian vena menurun, perubahan status mental, konsentrasi urine
meningkat, temperatur tubuh meningkat, kehilangan berat badan secara tiba-tiba,
penurunan urine output, hematokrit meningkat, kelemahan. (Judith, 2005)
Data yang ditemukan hasil pengkajian pada klien Ny. G adalah kesadaran compos
mentis, TD 110/70, nadi 84 x/menit, suhu 37
o
C, respirasi 22 x/menit, turgor baik, akral
hangat, CRT < 2 detik, kontraksi uterus baik, perdarahan pervaginam (-), lochea rubra pada
pembalut.
Berdasarkan data yang ditemukan hasil pengkajian, maka diagnosa keperawatan
defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dalam pembedahan tidak
muncul, karena tidak ada data yang mendukung.

Dari 5 (lima) diagnosa keperawatan yang penulis angkat, 1 diagnosa dari masalah
keperawatan dapat teratasi sesuai dengan waktu dan kriteria hasil yang telah ditetapkan,
yaitu : tidak efektifnya laktasi berhubungan terhambatnya pengeluaran ASI karena cemas
dan kurang pengetahuan tentang perawatan bayi. Sedangkan diagnosa keperawatan resiko
tinggi infeksi, masalah teratasi sebagian karena luka jahitan masih memerlukan perawatan
lebih lanjut, sedangkan penulis hanya melakukan pengelolaan selama 3 hari, dan
disimpulkan infeksi tidak terjadi selama pengelolaan tersebut.
74

Sedangkan 3 diagnosa lainya yang dikelola belum berhasil diatasi, nyeri abdomen
bawah atas simpisis, gangguan mobilitas fisik dan defisit perawatan diri. Ketiga diagnosa
keperawatan tersebut masih memerlukan intervensi lebih lanjut untuk mencapai kriteria
hasil yang telah ditetapkan, sehingga intervensi yang telah disusun dikonfirmasikan
kembali dengan perawat di ruangan.