Anda di halaman 1dari 9

Evolusi Teori Organisasi

TEORI ORGANISASI KLASIK Konsep-konsep tentang organisasi telah berkembang mulai tahun 1800-
an, dan konsep-konsep ini sekarang dikenal sebagai teori klasik (classical theory) atau kadang-kadang
disebut juga teori tradisional. Organisasi secara umum digambarkan oleh para teoritisi klasik sebagai
sangat tersentralisasi, dan tugas-tugasnya terspesialisasi. Para teoritisi klasik menekankan
pentingnya rantai perintah dan penggunaan disiplin, aturan dan supervisi ketat untuk mengubah
organisasi-organisasi agar beroprasi lebih efisien. Teori klasik berkembang dalam tiga aliran : teori
birokrasi, teori administrasi, dan manajemen ilmiah. Ketiga aliran ini dibangun atas dasar anggapan-
anggapan yang sama. Ketiganya juga mempunyai efek yang sama dalam praktek, dan semuanya
dikembangkan sekitar tahun 1990 1950 oleh kelompok-kelompok penulis yang bekerja secara
terpisah dan tidak saling berhubungan. Teori Birokrasi Teori ini dikemukakan oleh Max Weber dalam
bukunya : The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism. Kata birokrasi mula-mula berasl dari kata
legal-rasional. Organisasi disebut rasional dalam hal penetapan tujuan dan perancanan organisasi
untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut waber bentuk organisasi yang birokratik secara kodratnya
adalah bantuk organisasi yang palinga efisien. Weber mengemukakan karakteristik-karakteristik
birokrasi sebagai berikut : 1. Pembagian kerja yang jelas. 2. Hirarki wewenang yang di rumuskan
secara baik. 3. Program rasional dalam pencapaian tujuan organisasi. 4. Sistem prosedur bagi
penanganan situasi kerja. 5. Sistem aturan yan mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban posisi
para pemegang jabatan. 6. Hubungan-hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal. Jadi,
birokrasi adalah sebuah model organisasi normatif, yang menekankan struktur dalam organisasi.
Unsur-unsur birokrasi masih banyak ditemukan di organisasi-organisasi modern yang labih kompleks
daripada hubungan face-to-face yang sederhana. Teori Administrasi Teori administrasi adalah
bagian kedua dari teori organisasi klasik. Teori administrasi berkembang sejak tahun 1990. teori ini
sebagian besar dikembangkan atas dasar sumbangan Henri Fayol dan Lynlali Urwick dari Eropa,
serata Mooney dan Reiley di Amerika. Fayol mengatakan bahwa semua kegiatan-kegiatan industrial
dapat menjadi 6 kelompok : 1. Kegiatan teknikal (produksi,adaptasi). 2. Kegiatan komersial
(pembelian, pertukaran). 3. Kegiatan finansial (pencarian suatu pengguna optimum dari modal). 4.
Kegiatan keamanan (perlindungan terhadap kekayaan dan personalia organisasi). 5. Kegiatan
akutansi (pentuan persedian, biaya, penyusunan neraca dan lapoaran rugi-laba). 6. Kegiatan
manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pemberi perintah dan pengawasan). Fayol
mengemukakan dan membahas 14 kaidah manajemen yang menjadi dasar perkembangan teori
administrasi. Prinsip-prinsip dari Fayol tersebut secara ringkas dapat di uraikan sebagai berikut : 1.
Pembagian kerja, dengan adanya pembagian kerja atau spesialisasi akan meningkatkan
produktivitas, karena seseorang dapat memutuskan diri pada pekerjaan. 2. Wewenang dan tanggung
jawab, wewenang adalah hak untuk memberi perintah. Seorang anggota suatu organisasi
mempunyai tanggung jawab dalam pencapaian tujuan organisasi sesuai dengan kedudukannya. 3.
Disiplin, harus ada respek dan ketaatan pada peranan-peranan dan tujuan-tujuan organisasi. 4.
Kesatuan perintah, untuk mengirangi kekacauan, kebingungan, dan konflik. 5. Kesatuan pengarahan,
suatu organisasi akan efektif bila anggota-anggotanya bekerja bersama berdasarkan tujuan-tujuan
yang sama. 6. Mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. 7. Balas jasa,
pembayaran upah atau gaji harus bijaksana, adail, tidak eksploatif dan sedapat mungkin memuaskan
kedua blah pihak dan harus ada penghargaan atas pelaksanaan tugas yang baik. 8. Sentralisasi,
organisasi perlu mengatur tingkat keseimbangan optimum antara sentralisasi dan desentralisasi. 9.
Rantai skala, hubungan antara tugas-tugas disusun atas dasar suatu hirarki dari atas ke bawah. 10.
Aturan, konsepsi Fayol menyatakan bahwa harus ada suatu tempat untuk setiap orang, dan setiap
orang harus menduduki tempat yang memang seharusnya menjadi tempatnya. 11. Keadilan,
keadilan juga berarti adanya kesamaan perlakuan dalam organisasi. 12. Kelanggengan personalia,
pentingnya adanya kelangsungan, keamanan, dan kepastian kerja. 13. Inisiatif, dalam setiap tugas
harus ada kemungkinan untuk menunjukan inisiatif sendiri dalam menyelesaikan dan mengerjakan
rencana di setiap tingkat. 14. Semangat Korps, persatuan adalah kekuatan. Pelaksanaan oprasi
organisasi yang baik perlu adanya kebanggaan, kesetiaan, dan rasa memiliki dari para anggotanya.
Disamping itu, Fayol memerinci fungsi-fungsi kegiatan administrasi menjadi elemen-elemen
manajemen : perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian, dan
pengawasan. Pembagian kegiatan-kegiatan administrasi atas fuingsi-fungsi ini dikenal sebagai Fayols
Fungctionalism atau teori fungsionalisme fayol. Mooney dan Reilly menyebut Koordinasi sebagai
faktor terpenting dalam perencanaan organisasi maupun bangun teori yang mereka kemukakan.
Mereka menekankan tiga perinsip oranisasi yang mereka teliti dan temukan telah dijalankan dalam
organisasi-organisasi pemerintahan, agama, militer dan bisnis. Ketiga prinsip tersebut adalah :
1)Prinsip koordinasi, 2)Prinsip skalar, dan 3)Prinsip fungsional. Manajemen Ilmiah Bagaian ketiga dari
teori klasik adalah manajemen ilmiah. Manajemen ilmiah dikembangkan mulai sekitar tahun 1990
oleh Frederick Winslow Taylor, telah dipergunakan cukup luas. Teori manajemen ilmiah masih
banyak dijumpai dalam praktek-praktk manajemen modern. Manajemen iliah merupakan penerapan
metode ilmiah pada stidi, analisa, dan pemecahan maslah-masalah organisasai. Bagai kita yang
penting adalah memandang manajemen ilmiah sebagai teknik-teknik manajerial yang sangat
berharga. Empat kaidah dasar manajemen yang harus dilaksanakan dalam organisasi perusahaan,
yaitu : 1. Menggantikan metode-metode kerja dalam praktek dengan berbagai metode yang
dikembangkan atas dasar ilmu pengethuan tentang kerja yang ilmuah dan benar. 2. Mengadakan
seleksi, latihan-latihan dan pengenbangan para karyawan secara ilmiah, agar memungkinkan para
karyawan bekerja sabaik-baiknya sesuai dengan spesialisasinya. 3. Pengembangan ilmu tentang kerja
seleksi, latihan dan pengenbangan secara ilmiah harus diintegrasikan, sehingga para karyawan
memperoleh kesempatan untuk mencapai tingkat upah yang tinggi, sementara manajemen dapat
menekankan biaya produksi menjadi rendah. 4. Untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah, perlu
dikembangkan semangat dan mental para karyawan melalui pendekatan antara karyawan dan
manajer sebagai upaya untuk menimbulkan suasana kerja sama yang baik. Teori Klasik : Anatomi
Organisasi Formal Teori organisasi klasik hampir sepenuhnya menguraikan anatomi organisasi
formal. Hal ini tercermin dalam teori-teori di muka yang dikemukakan oleh para penulis terkenel,
antara lain seperti Weber, Fayol, Taylor, Mooney dan reilly, Guilck dan Urwick, Definisi organisasi
formal Tiga unsur pokok orgaisasi formal yang selalu muncul dalam literatur-literatur manajemen
adalah : 1) Sistem kegiatan yang terkoordinasi, 2) Kelompok orang, dan 3) Kerjasama untuk
mencapai tujuan. Dasar-dasar organisasi menurut teori klasik Menurut para pengikut aliran teori
organisasi klasik, adanya suatu organisasi atau koordinasi bergantung pada empat kondisi pokok
yang harus ada sebelum kesatuan kegiatan (unity of action) itu mungkin tterjadi. Kondisi-kondisi
tersebut adalah sebagai berikut : 1) Kekuasaan, 2) Saling melayani, 3) Doktrin, dan 4) Disiplin. Tiang
dasar teori organisasi formal 1. Pembagian kerja : pembagian kerja sebagai tiang dasar yang paling
penting di antara empat tiang dasar teori organisasi klasik. Pertimbangan pembagian kerja
(spesialisasi) adalah bahwa dengan mengembangkan pekerjaan-pekerjaan teknis organisasi akan
dicapai hasil kerja. Pendekatan untuk pembagaian kerja dalam teori organisasi klasik ini sering juga
disebut departementalisasi, atau evolusi dan devolusi fungsional. Pembagian kerja merupakan dasar
utama teori organisasi klasik dam koordinasi. Tiang-tiang dasar lainnya dikembangkan dengan
mengambil manfaat dari adanya pembagian kerja. 2. Proses skalar dan fungsional : Proses-proses ini
adalah proses pertumbuhan vertikal dan horizontal organisasi. Proses skalar adalah mengenai
perkembangan rantai perintah yang menghasilkan pertambahan tinkat-tingkat pada struktur
organisasi. Proses skalar dicapai melalui pendelegasian wewenang dan tanggung jawab. Proses
fungsional adalah cara organisasi untuk berkembang horizontal. Dinamika proses fungsional adalah
pembagian kerja. 3. Struktur : Struktur adalah hubungan antara berbagai kegiatan berbeda yang
dilaksanakan di dalam suaru organisasi. Tujuan struktur ialah menyediakan atau memberi wadah
pada fungsi-fungsi organisasi, agar tujuam organisasi tercapai denan efektif. Struktur organisasi
meliputi sistem dan pola. 4. Rentang kendali : konsep rentang kendali berhubungan dengan berapa
banyak seorang atasan dapat mengendalikan bawahan secara efektif. Rentang kendali ini dapat
bersifat lebih mendatar, yaitu struktur flat atau melunjang yaitu struktur tall. Para penulis klasik
menyatakan bahwa perlu untuk membatasi rentang kendali para manajer, karena tidaklah mungkin
seorang manajer melaksanakan banyak fungsi dan mencuranhkan dirinya secara sama bagi tiap-tiap
fungsi. Maka perlu pembagian kerja dan rentang kendali yang efektif. TEORI ORGANISASI NEOKLASIK
Aliran pemikiran lebih lanjut yang muncul digambarkan sebagai neoklasik, dan secara sederhana
sebagai teori atau aliran hubungan manusiawi. Teori neoklasik dikembangkan atas dasar teori klasik.
Teori neoklasik merubah, menambah, dan dalam banyak hal memperluas teori klasik. Teori neoklasik
adalah menekankan pentingnya aspek psikologi dan sosial karyawan sebagai individu maupun
sebagai bagian kelompok kerjanya. Perkembangan Teori Neoklasik Teori neoklasik sebenarnya bukan
merupakan teori baru yang muncul seperti teori klasik. Teori neoklasik muncul dan mengusulkan
perubahan-perubahan pada teori klasik, sejak diperkenalkannya ilmu pengetahuan tentang perilaku
manusia. Pendekatan neoklasik mencakup uraian sistematis organisasi informal, dan pengaruhnya
para organisasi formal. Perkembangan teori neoklasik dimulai dengan inspirasi percobaan-percoaan
yang dilakukan di Hawthorne, serta tulisan Hugo Nunsterberg. Pendekatan neoklasik ditemukan juga
di dalam buku-buku tentang hubungan manusiawi seperti Ardner dan Moore, Human Ralation in
Industry dan sebagainya. Perubahan Neoklasik pada Tiang Dasar Teori Organisasi Formal Aliran
neoklasik bukan merupakan atau mencetuskan suatu teori murni seperti yang dilakukan aliran klasik.
Pengikut aliran neoklasik adalah mereka yang membahas kelemahan model klasik pada perilaku
organisasi, tetapi tidak menentang seluruh teori klasik. Pembagian Kerja (Division of Labor) Sejak
pembagian kerja dilakukan, timbul masalah yang disebut anomie. Anomie adalah situasi dimana
pedoman kerja tidak ada dan disiplin diri menjadi berkurang. Akibat adanya pembagian kerja adalah
spesialisasi yang mengakibatkan orang terpecah belah, merasa cemburu (iri) dengan orang lain, dan
sebagainya. Oleh karena itu teori neoklasik mengemukakan perlunya : 1. Partisipasi atau melibatkan
setiap orang dalam proses pengambilan keputusan, agar merasa terlibat dengan pekerjaanya dan
berkepentingan dalam perusahaan. 2. Perluasan kerja (job enlargement) sebagai kebalikan dari pola
spesialisasi, agar orang menjadi tidak terlalu spesial tetapi dapat memperluas kemampuan dan
keahlian dalam bidang lain. 3. Managemen bottom-up yang memberi kesempatan kepada para
junior untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan manajemen puncak. Proses-proses Skalar
dan Fungsional Proses skalar dan fungsional (sclar and functional processes) menimbulkan berbagai
masalah dalam pendelegasian wewenang dan tanggung jawab. Neoklasik menyatakan bahwa
kapasitas dan kekuasaan tak dapat dikompensasikan, karena bukan merupakan satu-satunya
hubungan; ada faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan terutama hasil kegiatan kaki-tangan
manusia. Struktur Organisasi Tentang struktur irganisasi, teori neoklasik menyatakan bahwa
struktur merupakan penyebab terjadinya pergeseran-pergeseran (frictions) internal di antara orang-
orang yang melaksanakan fungsi yang berbeda-beda. Pergeseran-pergeseran ini terjadi terutama
antara orang-orang operasional (lini) dan oarang-orang staf. Menurut Melville Dalton penyebabnya
adalah : 1)Perbedaan tugas antara orang lini dan staf, 2)Perbedaan umur dan pendidikan, dan
3)Perbedaan sikap. Rentang Kendali Penentuan rentang sangat tergantung pada pebedaan individu
dalam kemempuan manajemennya, tipe orangnya, efektivitas komunikasi, fungsi pengawasan
formal, serta derajat sentralisasi, dimana neoklasik mengusulkan pengawasan bebas demokratis,
sedang klasik memilih pengawasan ketat. Rentang yang pendek mengakibatkan pengawasan yang
ketat, rentang yang luas memerlukan pendelegasian yang baik dengan mengurangi pengawasan.
Karena perbedaan individu dan organisasi, kadang-kadang yang satu lebih baik daripada yang lain,
maka rentang kendali tidak dapat ditetapkan secara kaku. Pandangan Neoklasik Terhadap Organisasi
Informal Titik tekanan teori neoklasik adalah pada dua elemen pokok dalam organisasi, yaitu
perilaku individu dan kelompok pekerja. Faktor-faktor yang dapat menentukan munculnya organisasi
informal, antara lain : 1)Lokasi : Untuk membentuk suatu kelompok, orang harus mempunyai kontak
tatap muka yang baik. 2)Jenis Pekerjaan : Ini merupakan faktor kunci yang menentukan munculnya
dan komposisi organisasi informal. 3)Minat : Walaupun orang-orang mungkin ada pada lokasi yang
sama, melaksanakan kerja yang sejenis, pebedaan minat di antara mereka menjelaskan mengapa
muncul beberapa organisasi informal yang kecil, di samping satu yang besar. 4)Masalah-masalah
khusus : Dalam hal ini, yang sama bergabung bersama untuk kapentingan khusus. Usaha yang labih
baik bagi manajer adalah mengembangkan suatu hubungan kerja dengan organisasi informal yang
dapat menghasilkan keselarasan pandangan organisasi formal dan informal. TEORI ORGANISASI
MODERN Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu sistem tertutup yang
berkaitan dengan lingkungan yang stabil, tetapi organisasi adalah suatu sistem terbuka yang harus
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya. Teori modern adalah multidisiplin
dengan sumbangan dari berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan. Dasar Pemikiran Teori
Organisasi Modern Teori organisasi dan manajemen modern dikembangkan sejak tahun 1950, Teori
modern, dengan tekanan pada perpaduan dan perancangan, menyediakn pemenuhan suatu
kebutuhan yang menyeluruh. Teori organisasi modern labih dinamis daripada teori-teori lainnya dan
meliputi lebih banyak variabel yang dipertimbangkan. Teori modern bisa disebut sebagai teori
organisasi dan manajemen yang memadukan teori klasik dan neoklasik dengan konsep-konsep yang
lebih maju. Teori modern menyebutkan bahwa kerja suatu organisasi adalah sangat kompeleks,
dinamis, multilevel, multidimensional, multivariabel, dan probabilistik. Organisasi terdiri dari antara
hubungan bagian-bagian dalam suatu sistem, ada badan-badan yang dihubungkan dengan tali
elastis. Sebagi suatu sistem, organisasi tediri atas 3 unsur : 1) unsur struktur yang bersifat makro, 2)
unsur proses yang juga bersifat makro dan 3) unsur perilaku anggota organisasi yang bersifat mikro.
Ketiganya saling kait-mengkait dan sebenarnya tak terpisahkan satu sama lain. Teori Sistem Umum
Tujuan teori sistem umum adalah penciptaan suatu ilmu pengetahuan organisasi universal dengan
menggunakan elemen-elemen dan proses-proses umum seluruh sistem sebagi titik awal. Secara
ringkas, teori organisasi modern dan teori sistem umum, mempelajari: 1. Bagian-bagian dalam
keseluruhan dan pergerakan individu di dalam dan di luar sistem. 2. Interaksi individu-individu
dengan lingkungan yang terjadi dalam sistem. 3. Interkasi di antara individu-individu dalam sistem. 4.
Masalah-masalah pertumbuhan dan stabilitas sistem. Teori Organisasi Dalam Suatu Kerangka Sistem
Teori organisasi modern sebenarnya bukan merupakan kesatuan kerangka berpikir. Barangkali yang
paling berguna dalam mempelajari sistem organisasi adalah usaha memandang organisasi sebagai
suatu keseluruhan. Bagian-bagian dari sistem dan saling ketergantungannya. 1. Sistem adalah
individu, dan terstruktur kepribadiannya yang diberikan kepada organisasi. 2. Sistem adalah
penentuan fungsi-fungsi formal, yang bisa disebut organisasi formal. 3. Dalam sistem Organisasi
adalah organisasi informal. 4. Struktur status dan peranan. 5. Lingkungan phisik pelaksana pekerjaan.
Proses-proses hubungan dalam sistem. Teori organisasi modern menunjukan tiga kegiatan proses
hubungan universal yang selalu mucul pada sistem manusia dalam perilakunya berorganisasi. Ketiga
proses tersebut adalah komunikasi, berusaha untuk mencapai keseimbangan, dan pengambilan
keputusan. Teori modern mendefinisikan organisasi sebagai proses-proses yang tersusun dalam
suatu sistem dimana orang-orang didalamnya berinteraksi untuk mencapai tujuan. Pendekatan-
Pendekatan Manajemen Pendekatan-pendekatan manajemen, yaitu pendekatan-pendekatan
proses, perilaku, kuantitatif, sistem dan contingency (situasional). Pendekatan Proses Pendekatan
proses dalam manajemen juga disebut pendekatan fungsional, oprasional, universal, tradisional atau
klasik. Empat prinsip pendekatan proses klasik yang penting adalah : 1)Kesatuan perintah,
2)Persamaan wewenang dan tanggung jawab, 3)Rentang kendali yang terbatas, dan 4)Delegasi
pekerjaan-pekerjaan rutin. Pendekatan Keperilakuan Pendekatan keprilakuan muncul karena
ketidakpuasn terhadap pendekatan klasik. Pendekatan ini, sering disebut pendekatan hubungan
manusiawi, mengemukakan bahwa pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi
produksi dan keharmonisan kerja, karena mengabaikan faktor perilaku masing-masing individu yang
berbeda-beda dalam organisasi. Pendekatan keprilakuan menekankan pentingnya koperasi dan
moral karyawan. Pendekatan Kuantitatif Pendekatn kuantitatif sering dinyatakan dengan istilah
managemen science atau operations research (OR). Pendekatan ini terutama memandang
manajemen dari perspektif model-model matematis dan proses-proses kuantitatif. Menurut
pendekatan kuantitatif, masalah-masalah manajemen dapat dirumuskan dan dijabarkan dalam
berbagai bentuk model matematis, dan kemudian dianalisa serta dipecahkan dengan menggunakan
berbagai teknik atau metode kuantitatif untuk memperoleh hasil optimum. Pendekatan ini
menganalisa masalah-masalah manajemen secara logik dan mengembangkan berbagai alternatif
keputusan pamecahannya. Pendekatn kuantitatif bukan keseluruhan manajemen, tetapi
memberikan teknik-teknik sangat efektif untuk penyelesaian masalah-masalah manajemen tertentu.
Pendekatan Sistem Pendekatan Sistem dalam manajemen merupakan pendekatn paling akhir, dan
dapat dipahami dengan sudut pandang teori sistem umum atau analisis sistem. Pendekatan sistem
terutama menekankan saling ketergantungan dan keterkaitan bagian-bagian organisasi sebagai
keseluruhan. Pendekatan ini memberikan kepada manajemen cara memandang organisasi sebagai
keseluruhan dan sebagai bagian lingkungan eksternal yang lebih luas. Pendekatan sistem umumnya
dapat dikaitkan dengan konsep-konsep organisasi formal dan teknis, sosiopsikologis dan filisofis.
Analisis berbagai sistem manajemen khusus meliputi bidang-bidang seperti stuktur organisasi,
desain pekerjaan, akutansi. Sistem informasi, dan mekanisme-mekanisme perencaan dan
pengawasan. Pendekatan Contingency Pendekatan Contingency muncul karena ketidakpuasan atas
anggapan keuniversalan dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai variabel lingkungan ke dalam
teori dan praktek manajemen. Pendekatan contingency menggunakan hubungan-hubungan
fungsional bila-maka (if-then), dimana bila menunjukan variabel-variabel lingkungan dan maka
tejadi atas konsep-konsep dan teknik-teknik manejemen yang mengarahkan ke pencapaian tujuan
organisasi. Ada tiga komponen pokok dalam kerangka konsepsual untuk pendekatan contingency :
lingkungan, konsep-konsep dan teknik-teknik manajemen, hubungan kontingensi antara keduanya.



Teori Organisasi dan Perkembangannya
19 October 2012 2 Comments






Rate This

Salah satu kejadian paling penting sebelum abad ke duapuluh kaitannya dengan perkembangan teori
organisasi adalah revolusi industri. Dimulai pada abad ke delapan belas di Inggris, revolusi tersebut
menyebrangi samudra Atlantik dan ke Amerika pada akhir perang dunia ke dua. Revolusi tersebut
mempunyai dua elemen utama yaitu kekuatan mesin telah menggantikan kekuatan manusia secara
cepat, dan pembangunan sarana transfortasi yang cepat mengubah metode pengiriman barang.
Hasilnya adalah menyebarnya pendirian pabrik-pabrik. Dampaknya terhadap desain organisasi jelas,
yaitu pembangunan pabrik membutuhkan penciptaan yang terus menerus dari struktur-struktur
organisasi untuk memungkinkan terjadinya proses produksi yang efesien. Pekerjaan harus
dirumuskan, arus pekerjaan harus ditetapkan, departemen diciptakan, dan mekanisme koordinasi
dikembangkan, dengan demikian struktur organisasi yang kompleks harus dirancang. Perkembangan
teori organisasi dimulai pada tahun 1919-an dengan lahirnya teori manajemen ilmiah, dan berakhir
pada tahun 1960-an dengan lahirnya teori modern yang mengakomodasi segi manusia, mesin,
teknolgi, dan lingkungan sebagai dasar peningkatan produktivitas organisasi. Pendekatan mutakhir
untuk memahami organisasi dipengaruhi oleh persfektif sosial kerangka kerja sistem terbuka. Evolusi
merupakan perubahan yang sangat cepat dalam perkembangan organisasi dengan memberikan
inovasi baru dalam bentuk keunggulan-keunggulan dan keunikan-keunikan dari perkembangan awal
sampai perkembangan yang paling mutakhir dalam teori organisasi. Evolusi atau perkembangan
teori organisasi memunculkan berbagai macam pendekatan-pendekatan yang masing-masing
dipengaruhi oleh cara yang digunakan untuk meninjau masalah organisasi. Keseluruhan pendekatan
ini bisa dikelompokan menjadi tiga aliran utama, sesuai kurun waktu permunculan masing-masing
pendekatan tersebut, yaitu pendekatan teori klasik, pendekatan neo-klasik dan pendekatan modern.
Pada perkembangannya organisasi memiliki sejarah yang sudah lebih dulu berkembang dan memiliki
unsur-unsur yang berlaku hingga sekarang, adapun teori organisasi yang masih digunakan dari
sejarah hingga sekarang yakni :
1. Teori Klasik
Awal terjadinya teori klasik sebagai pemerhati bidang manajemen dan organisasi ditandai
oleh terbitnya buku karya Frederick Taylor (1911) yang berjudul Principles of Scientific
Management yang lebih dikenal dengan istilah scientific management atau manajemen
ilmiah. Taylor berusaha memperbaiki pekerjaan dengan menggunakan metode ilmiah
terhadap tugas-tugas didalam organisasi. Keinginannya untuk mendapatkan metode terbaik
tentang bagaimana setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan mengacu pada desain
pekerjaan. Taylor mengusulkan empat prinsip scientific management, yaitu: (1) penggantian
metode untuk menentukan elemen pekerjaan ditentukan secara ilmiah; (2) seleksi dan
pelatihan pekerja secara ilmiah; (3) kerjasama antara pimpinan dan bawahan untuk
mencapai tujuan sesuai dengan metode ilmiah; (4) pembagian tanggung jawab yang lebih
merata diantara manajer sebagai perencana dan supervise dan para pekerja sebagai
pelaksana. Teori klasik ini dikembangkan pula oleh Henry Fayol. Fayol mencoba
mengembangkan prinsip-prinsip umum yang dapat diaplikasikan pada semua manajer dari
semua tingkatan organisasi, dan menjelaskan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh
seorang manajer. Sedangkan Taylor memusatkan perhatian pada tingkatan yang paling
rendah dari organisasi manajemen yaitu aspirasi bawahan. Fayol mengusulkan empat belas
prinsip-prinsip organisasi, yaitu (1) pembagian kerja; (2) wewenang; (3) disiplin; (4) kesatuan
komando; (5) kesatuan arah; (6) mendahulukan kepetingan umum diatas kepentingan
pribadi; (7) remunerasi (gaji sesuai pekerjaan); (8) sentralisasi; (9) rantai scalar (garis
wewenang); (10) tata tertib; (11) keadilan; (12) stabilitas masa kerja para pegawai; (13)
inisiatif; (14) esprit de corps (persatuan dan kesatuan dalam organisasi). Teori ini juga
dikembangkan oleh Max Weber dengan istilah teori birokrasi. Weber telah mengembangkan
sebuah model structural yang ia katakana sebagai alat yang paling efesien bagi organisasi-
organisasi untuk mencapai tujuannya yang disebut dengan istilah birokrasi. Birokrasi
ditandai dengan adanya pembagian kerja, hierarkhi wewenang yang jelas, prosedur seleksi
yang formal, peraturan yang rinci, serta hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan
pribadi (impersonal) dalam organisasi. Tokoh terakhir dalam teori klasik adalah Ralph C.
Davis, ia lebih menekankan pada perspektif perencanaan rasional, dan mengatakan bahwa
struktur merupakan hasil logis dari tujuan-tujuan organisasi. Sedangkan tujuan utama
perusahaan adalah pelayanan ekonomis. Nilai ekonomis ini dikembangkan melalui aktivitas
yang dilakukan oleh para anggotanya untuk menciptakan produk atau jasa organisasi,
aktivitas tersebut kemudian menghubungkan tujuan organisasi dengan hasil yang dicapai
organisasi. Perspektif perencanaan rasional menawarkan sebuah model yang sederhana dan
langsung untuk merancang sebuah organisasi. Perencanaan organisasi dalam manajemen
menentukan tujuan-tujuan organisasi, tujuan-tujuan tersebut kemudian menentukan
pengembangan struktur, arus wewenang dan hubungan interrelasi.
2. Teori Neo-klasik
Tokoh teori ini diawali oleh Elton Mayo (1927) yang membentuk aliran antar manusia
(human relation school), memandang organisasi sebagai sesuatu yang terdiri dari tugas-
tugas dari sisi manusia dibanding sisi mesin. Pada masa ini dilakukan percobaan yang
menyangkut rancang ulang pekerjaan, perubahan panjangnya hari kerja dan waktu kerja
dalam seminggu, pengenalan waktu istirahat, serta rencana upah individual dibandingkan
dengan upah kelompok. Disimpulkan bahwa norma sosial kelompok merupakan kunci
penentu perilaku kerja seseorang. Kemudian Hawthorne mempersatukan pandangan Taylor,
Fayol, dan Weber dengan kesimpulan bahwa organisasi merupakan sistem kerjasama.
Organisasi terdiri dari tugas-tugas dan manusia yang harus dipertahankan pada suatu
keseimbangan. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Chester Barnard, yang menawarkan
ide-ide dalam the functions of the executive, yaitu ia menentang pandangan klasik yang
mengatakan bahwa wewenang harus didefinisikan sesuai dengan tanggapan dari bawahan,
ia memperkenalkan peran dari organisasi informal ke dalam teori organisasi dan
mengusulkan agar peran utama manager adalah memperlancar komunikasi dan mendorong
para bawahan untuk berusaha lebih keras. Tokoh lainnya Douglas McGregor, menyatakan
bahwa ada dua pandangan tentang manusia, teori X pandangan negative dan teori Y
pandangan positif. Kesimpulannya adalah pandangan seorang manajer tentang sifat manusia
didasarkan atas pengelompokan asumsi tertentu, dan manusia cenderung untuk
menyesuaikan perilakunya terhadap bawahanya sesuai asumsi tersebut. Dengan demikian
teori Y lebih disukai dan asumsi tersebut harus dapat membimbing para manajer dalam
merancang organisasi dan memotivasi para pegawainya. Sedangkan Warren Benis
mengatakan bahwa pengambilan keputusan pada birokrasi yang disentralisasi, kepatuhan
kepada wewenang, serta pembagian kerja yang sempit diganti dengan struktur yang
didesentralisasi dan demokratis yang diorganisasi pada kelompok yang fleksibel. Pengaruh
yang diambil dari kekuasan diganti dengan pengaruh yang diambil dari keahlian. Bentuk
organisasi yang ideal adalah adhocracy yang fleksibel.
3. Teori Modern
Teori modern ditandai dengan lahirnya gerakan contingency yang dipelopori Herbert Simon,
yang menyatakan bahwa teori organisasi perlu melebihi prinsip-prinsip yang dangkal dan
terlalu disederhanakan bagi suatu kajian mengenai kondisi yang dibawahnya dapat
diterapkan prinsip yang saling bersaing. Kemudian Katz dan Robert Kahn dalam bukunya
the social psychology of organization mengenalkan perspektif organisasi sebagai suatu
sistem terbuka. Buku tersebut mendeskripsikan keunggulan-keunggulan perspektif sistem
terbuka untuk menelaah hubungan yang penting dari sebuah organisasi dengan
lingkungannya, dan perlunya organisasi menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang
berubah jika organisasi ingin tetap bertahan.
Pada tahun 1960, Joan Woodward dan Charles Perrow, menyampaikan alasan yang
disampaikan oleh James Thomson bahwa dalam menentukan struktur yang sesuai dalam
organisasi diperlukan adanya teknologi. Pendekatan paling mutakhir mengenai teori
organisasi memusatkan perhatian pada sifat politis organisasi. Teori ini mula-mula dibuat
James March dan Herbert Simon, namun telah diperbaiki secara intensif oleh Jeffrey Preffer.
Model yang dikembangkan yaitu teori organisasi yang mencakup koalisi kekuasaan, konflik
inherent atas tujuan, serta keputusan desain organisasi yang mendukung kepentingan
pribadi dari para pemegang kekuasaan. Organisasi merupakan koalisi yang terdiri dari
berbagai kelompok dan individu dengan tuntutan yang berbeda-beda. Desain organisasi
merupakan hasil dari pertarungan kekuasaan berbagai koalisi tersebut. Jika kita ingin
mengerti mengapa dan bagaimana organisasi tersebut dirancang, maka kita harus menilai
preferensi dan kepentingan dari mereka yang berada di dalam organisasi yang mempunyai
pengaruh terhadap pengambilan keputusan mengenai desain organisasi. Pemikiran ini
membangun atas dasar pengetahuan tentang pengambilan keputusan berdasarkan perilaku
dan ilmu politik yang telah meningkatkan kemampuan kita untuk menjelaskan fenomena-
fenomena organisasi.
Sumber :
Adam, Indrawijaya, (1983). Perubahan dan Pengembangan Organisasi. Sinar Baru: Bandung.
Etzioni Amitai, (1984). Organisasi-organisasi Modern. UPI Press: Bandung.
Hersey, Faul, Blanchard, (1982). Management of Organization Behavior. Terjemahan Agus
Darma. Erlangga: Jakarta.
Hick, Herbert, G. and Gullet, G. Ray, (1975). Organization Theory and Behavior. Terjemahan
Ali Saefullah. Usaha Nasional: Surabaya.
Lubis, Hari & Huseini, Martani, (1987). Teori Organisasi; Suatu Pendekatan Makro. Pusat
Antar Ilmu-ilmu Sosial UI: Jakarta
Richard, Beckard, (1969). Organizational Development Strategis and Models. Terjemahan Ali
Saefullah. Usaha Nasional: Surabaya.
Tim Dosen MKDU, (2007). Pengelolaan Pendidikan. Jurusan Adpend UPI: Bandung.