Anda di halaman 1dari 18

PSIKOLOGI SOSIAL

DIRI: BELAJAR TENTANG DIRI








Disusun oleh:

Sri Aryani (46112120052)
Tri Astuti (46112120022)


Jurusan Psikologi
Universitas Mercu Buana
Jakarta
2014
Daftar Isi


Pengantar ................................................................................................................... i
I. Pengertian Diri ................................................................................................... 1
II. Pengetahuan Diri ................................................................................................ 3
III. Berpikir Mengenai Diri Pribadi ......................................................................... 5
IV. Harga Diri Pribad ............................................................................................... 9
V. Penilaian Diri Pribadi ......................................................................................... 11
VI. Diri Pribadi Sebagai Sasaran Prasangka ............................................................ 13
Daftar Pustaka ........................................................................................................... 14



















Psikologi Sosial - Diri Page i

Pengantar

Seberapa Pentingkah Konsep Diri?

Istilah kepribadian berasal dari bahasa latin persona yang berarti topeng, melihat
kepribadian sebagai diri seseorang yang tampil dihadapan publik yang merupakan aspek
kedirian yang telah kita pilih untuk kita tampilkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Beberapa teorisi kepribadian percaya apa yang membedakan seseorang dan orang lain
adalah sifat-sifat yang dimiliki atau yang lebih populer disebut pembawaan. Para teorisi
yang melihat perilaku manusia berjalan mulus, konsisten dan terorganisasi dengan baik
membutuhkan suatu konsep yang bertanggung jawab untuk karakteristik-karakteristik
perilaku ini. Beberapa teorisi mempostulasikan diri sebagai agen pengorganisasi
kepribadian.
Teori dari Horney, Allport dan Rogers mengandalkan betul konsep diri ini. Teorisi lain
mengklain bahwa penggunaan konsep diri sekedar mengganti semua pertanyaan yang kita
miliki tentang seseorang menjadi pertanyaan tentang diri. Dengan kata lain, diri dilihat
sebagai homunkulus (yaitu istilah lama untuk individu kecil didalam otak, penggambaran
kuno tentang fungsi kepribadian) di dalam diri seseorang yang menyebabkan semua
tindakannya
Bagaimana kita memandang diri kita sendiri? Kita sendiri yang menentukan skema diri
kita, silahkan pilih dan tentukan sendiri









Psikologi Sosial - Diri Page 1

I. PRESENTASI DIRI /SELF PRESENTATION

Ketika kita memikirkan mengenai gumpalan jaringan yang terletak di kepala, yang
membuat kita mampu mengingat, bermimpi dan berpikir-gumpalan yang jika tercederai
atau sakit akan membuat eksistensi diri menjadi mimpi buruk yang mengerikan-mau
tidak mau kita akan bertanya-tanya: dimanakah letak diri kita (self) sebenarnya?. Hal
ini merupakan pertanyaan yang sudah direnungkan sejak ribuan tahun yang lalu
Pada saat kita merasa bahagia ataupun sedih maka amigdala, reseptor serotonin, endorfin
serta sejumlah bagian otak sedang berproses secara aktif. Selanjutnya kita akan bertanya
kembali, siapakah saya yang membuat perasaan ini?, siapakan sebenarnya saya, yang
sedang memperhatikan pikiran Anda mempermainkan Anda? Dan siapakah yang sedang
dipermainkan itu? Tidakkah self yang sedang mengamati dirinya sendiri itu dapat
diibaratkan dengan sebuah jari yang menunjuk ujung jarinya sendiri? Menurut Zimmer,
(2005) "Korteks prefrontal medial", bagian tersebut menjadi lebih aktif saat kita berpikir
tentang diri kita sendiri
Kebanyakan ahli agama memecahkan persoalan ini dengan mengajarkan bahwa
keberadaan self atau jiwa yang abadi itu harus dipisahkan dari keberadaan otak yang
bersifat sementara. Sebegitu banyaknya pendapat mengenai diri atau self dari para ahli
yang masing-masing mendefinisikan diri atau self sebagai berikut:
Self memberikan sebuah kerangka berpikir yang menentukan bagaimana kita
mengolah informasi tentang diri kita sendiri, termasuk motivasi, keadaan emosional,
evaluasi diri, kemampuan dan banyak hal lainnya (Klein, Loftus & Burton, 1989;
Van Hook & Higgins, 1988)
Menurut Hattie (dalam Rayner, 2001), Leary dan Tangney (2003) bahasan mengenai
Self dapat ditemukan pada karya-karya filsuf seperti Plato (427-347 SM) ataupun
Aristoteles (384-322 SM)
AristotelesTeori Hilemorfisme; manusia terdiri atas materi dan bentuk (jiwa)
Plato ajaran tentang idea: realitas yang ada dlm dunia yang tetap/dunia baka
Ajaran Budha mengajarkan bahwa Self bukanlah "sesuatu" yang holistik,melainkan
koleksi dari berbagai pikiran, persepsi, konsep, dan perasaan yang berubah dari
waktu ke waktu
Psikologi Sosial - Diri Page 2

Ibnu Sina: teori tentang manusia yang terdiri atas unsur jiwa dan jasad
William James (1890-1950) sebagai yang "mengetahui" ("self-as-knower"), perasaan
yang kita semua miliki mengenai adanya sebuah pribadi tersendiri yang mampu
berpikir, merasa dan bertindak. William James yang pertama kali yang membahas
secara detail mengenai self
Menurut Leary, Mc Donald, dan Tangney (2003):
Self adalah kelengkapan psikologis yang memungkinkan refleksi diri
berpengaruh terhadap pengalaman kesadaran, yang mendasari semua jenis
persepsi, kepercayaan dan perasaaan tentang diri sendiri, serta yang memungkinkan
seseorang untuk meregulasi perilakunya sendiri

Konsep Tentang Diri
Menurut Carl Rogers (1902-1987)
Self adalah aspek pengalaman fenomenologis (salah satu aspek dari pengalaman
kita yang ada didunia yaitu yang memenuhi pengalaman sadar kita)
Rogers posited that people were inherently good and creative, and only became
destructive when external constraints or a poor self-concept superseded the valuing
process
Gordon Allport (1897-1967)-Teori Sifat
Allport yakin bahwa sifat adalah unit dasar dari kepribadian. Sifat dapat di
definisikan melalui tiga properti-Frekuensi, Intensitas dan Rentang Situasi,
misalnya: org yang sangat patuh biasanya menjadi sangat patuh sepanjang
rentang situasi yang luas
Karen Horney (1885-1952)
Konsep utama Horney adalah basic anxiety, sehingga untuk meminimkan
kecemasan dasar tersebut, Horney mengelompokkan menjadi 3 pola utama
penyesuaian diri yaitu: Moving toward people, Moving against people dan
Moving away from people
Presentasi Diri (Self Presentation) mengacu pada keinginan kita untuk menampilkan
sebuah gambaran yang diinginkan, yaitu terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri
Bagi beberapa orang, kesadaran presentasi diri adalah sebuah jalan hidup. Mereka secara
Psikologi Sosial - Diri Page 3

terus menerus mengawasi perilaku & mencatat bagaimana orang lain beraksi, lalu
menyesuaikan penampilan sosial mereka untuk mendapatkan pengaruh yang diinginkan
A. Pengawasan Diri (self-monitoring) tinggi, cenderung bertindak seperti
bunglon-bunglon sosial-mereka menyesuaikan perilaku mereka dalam merespons
situasi-situasi eksternal (Gangestad & Snyder,2000; Snyder, 1987)
Membiasakan perilaku mereka terhadap situasi, mereka lebih mirip mendukung
sikap yang sesungguhnya mereka tidak pegang (Zanna & Olson, 1982)
B. Pengawasan Diri (self-monitoring) rendah, mereka secara lugas akan mengungkapkan
apa yang mereka pikirkan, tanpa menghiraukan tingkah laku dari yang
diharapkan oleh khalayak (Klein & dkk, 2004). Atau dengan kata lain, individu
tersebut kurang peduli terhadap apa yang dipikirkan orang lain

Presentasi diri mengacu pada keinginan-keinginan kita untuk menampilkan sebuah
gambaran yang disukai bagi kedua hal, yaitu sebuah penonton luar (orang lain) dan
penonton dalam (diri sendiri)

II PENGETAHUAN DIRI PRIBADI
Nasehat peramal Yunani kuno berkata: Kenalilah diri Anda. Mengutip pernyataan C.S
Lewis (1952), ada satu hal dan hanya satu-satunya diseluruh alam semesta yang kita
ketahui lebih dari yang dapat kita pelajari dari pengamatan eksternal. Satu hal tersebut
adalah diri kita sendiri. Jadi, kita harus menyampaikan informasi yang berada didalam
yaitu, diri kita yang kita ketahui. Memang benar. Tetapi terkadang kita pikir kita tahu,
tetapi informasi yang berasal dari dalam diri kita ternyata salah. Hal tersebut merupakan
kesimpulan yang tidak terhindarkan dari beberapa penelitian yang menarik. Penjelasan
dibawah ini merupakan cara bagaimana kita dapat menambah pengetahuan mengenai diri
kita sendiri:
1. Menjelaskan perilaku kita
Memprovokasikan pemikiran adalah penelitian di mana orang mencatat suasana hati
mereka setiap hari selama dua atau tiga bulan (Stone&dkk, 1985; Wess&dkk, 1982)
- mencatat faktor yang mempengaruhi suasana hati
- cuaca
Psikologi Sosial - Diri Page 4

- jumlah waktu tidur

Sebagai contoh:
Orang mungkin mengira mereka akan mengalami suasana hati yang lebih negative
pada hari Seniin, tetapi faktanya suasana hati mereka di hari Senin tidak lebih
negative disbanding dengan hari kerja lainnya.

2. Memperkirakan perilaku kita
Salah satu kesalahan paling umum dalam memperkirakan perilaku adalah
meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang
disebut dengan Ramalan Perencanaan (planning fallacy). Bagaimana kita dapat
meningkatkan ketepatan dalam memprediksi diri? Cara yang terbaik dilakukan
adalah dengan menjadi lebih realistis kira-kira berapa lama tugas dikerjakan di masa
lalu.

3. Memperkirakan perasaan kita
Banyak keputusan penting dalam hidup menggunakan perkiraan perasaan kita di
masa depan. Apakah saya akan merasa bahagia sepanjang hidup saya bila saya
menikahi dia?
Penelitian bertema meramalkan afeksi mengungkapkan bahwa orang memiliki
kesulitan terbesar dalam memperkirakan intensitas dan durasi emosi mereka dimasa
yang akan datang (Wilson & Gilbert, 2003). Orang telah salah memperkirakan
bagaimana perasaan mereka setelah putus cinta, menerima hadiah, kalah dalam
pemilihan, memenangkan pertandingan dan dilecehkan (Gilbert & Ebert, 2002;
Loewenstein &Schkade, 1999).

4. Kebijaksanaan dan tipuan dari analisis diri
Untuk peristiwa2 yang memberi pukulan, intuisi kita sering kali kali salah mengenai
apa yang mempengaruhi kita dan apa yang akan kita kerjakan & rasakan. Menurut
Wilson dkk (2009) menggambarkan bahwa kita memiliki sistem sikap ganda (dual
attitude) yaitu implisit (otomatis) dan eksplisit (dikendalikan secara sadar). Sikap
Psikologi Sosial - Diri Page 5

eksplisit yang diungkapkan dapat berubah dengan pendidikan dan persuasi;
sedangkan sikap implisit berubah secara perlahan dengan latihan membentuk
kebiasaan baru dengan meninggalkan kebiasaan lama

Dari poin-poin tersebut diatas ternyata pengetahuan diri kita tidak selalu benar. Kita
seringkali tidak mengetahui mengapa kita berperilaku seperti yang kita lakukan. Ketika
penyebab perilaku kita tidak kentara diamati siapapun, maka kita pun bisa jadi tidak
mengetahui penyebabnya

III BERPIKIR MENGENAI DIRI PRIBADI
Ketika kita sedang memiliki waktu luang untuk diri sendiri, apa yang terlintas di pikiran
kita mengenai diri kita? Apakah kita sudah memelihara diri kita? Sejauh mana kita
mengenal diri kita sendiri? Seberapa besar pengaruh lingkungan dan budaya terhadap diri
kita? Seberapa baikkah diri kita dibandingkan dengan orang lain? Begitu banyak
pertanyaan yang menghampiri. Kemampuan untuk merenungkan siapa diri kita adalah hal
yang membedakan kita dari hewan. Berikut ini kita akan fokus pada bagaimana diri
diorganisasikan, dipelihara dan bagaimana diri mengatur perilaku kita serta cara
memandang diri dari sisi budaya.
1. Diri sebagai sistem multidimensional
Yang akan di bahas dalam sistem ini adalah mengenai Konsep Diri. Konsep Diri
dipandang sebagai representasi kognitif diri yang berupaya memberikan koherensi
dan makna bagi pengalaman-pengalaman kita, bagaimana diri di organisasikan,
dipelihara dan dapat mengatur perilaku kita. Bagaimana pengetahuan tentang diri
diorganisasikan? Seiring bertumbuhnya kita dan memproses lebih banyak informasi,
sehingga pengetahuan tentang diri kita makin berkembang dan diorganisasikan
secara kognitif dengan cara terstruktur, struktur-struktur ini yang disebut Skema Diri
(Markus, 1977).




Psikologi Sosial - Diri Page 6

Skema Diri:
1. Isi
Pengetahuan tentang diri.
2. Dari mana asalnya?
Generalisasi-generalisasi sebelumnya.
3. Disimpan sebagai apa?
Sebagai generalisasi kognitif.
4. Tujuan?
Membantu mengorganisasikan dan memandu informasi yang berkaitan dengan
diri.

Contoh skema diri: merasa diri cantik, merasa diri pintar, merasa diri pendek, suka
jogging, takut kepanasan, suka makan ikan, pembohong, malas dsb

Tentang skema diri:
Skema diri dapat memandu kita dengan memprediksi bagaimana kita akan
berperilaku dan merasa dalam situasi-situasi tertentu. Contoh, orang dengan skema
diri pemalu akan memiliki pikiran-pikiran berbeda tentang menghadiri pesta yang
akan diselenggarakan ketimbang jika memiliki skema diri mudah bergaul.
Konsep diri kita terdiri dari sangat banyak skema diri, dan ini dianggap lebih
kompleks ketimbang skema-skema lainnya yang kita miliki dalama memori karena
informasi tentang diri kita yang kita miliki lebih banyak dari semua informasi lain
yang mungkin kita simpan.
Kemenonjolan skema diri terutama relevan jika skema yang digunakan untuk
memandu kita dan mengurangi ketidakpastian. Informasi yang sesuai dengan skema
diri akan diproses dengan cepat, sedangan informasi yang tidak sesuai akan ditolak.

2. Bagaimana Diri dipelihara?
Guna membentuk diri yang positif tampaknya kita menggunakan strategi-strategi
yang dapat dikategorikan sebagai pemeliharaan konsep diri:

Psikologi Sosial - Diri Page 7

Pentingnya perbandingan
Para psikolog sosial berpendapat bahwa proses perbandingan penting untuk
memahami bagaimana diri di bentuk dan dipelihara. Dengan siapa kita membuat
perbandingan?
Perbandingan yang dibuat dengan diri
Menurut Carver dan Scheier (1981,1998) dikenal sebagai "teori kendali"
pengaturan-diri, didasarkan pada gagasan tentang sistem umpan balik kognitif
empat tahap, sebagai berikut:
1) Tes: diri dibandingkan dengan standar pribadi atau umum
2) Operasi: jika individu merasa standar-standar yang layak tidak tersedia,
maka ia akan melakukan perubahan perilaku untuk mengatasi hal tersebut.
3) Tes ulang: merenungkan kembali perilaku dengan menggunakan poin-poin
perbandingan seperti dalam tahap 1. Jika diri masih belum mencapai standar
yang diinginkan, maka pengulangan umpan balik kembali dimulai. Jika sdh,
dilanjutkan ke tahap 4.
4) Keluar: diri telah seimbang dengan titik perbandingan, tidak diperluka
umpan balik lebih lanjut

Ada lagi satu teori perbandingan yang dibuat dengan diri yaitu Teori Diri
Higgins (1987, 1989) menggambarkan bagaimana kesenjangan antara
perbandingan perbandingan diri kita dapat menghasilkan perilaku-perilaku,
perasaan-perasaan yang berbeda. Higgins mengkategorikan perbandingan
sebagai perbandingan diri yang "seharusnya" atau yang "ideal" (kita
membandingkan diri kita yang sekarang dengan perasaan kita tentang seperti
apa seharusnya kita atau idealnya kita ingin menjadi apa).

Membuat perbandingan dengan individu-individu lain
Festinger (1954) yang pertama kali memperkenalkan gagasan tentang
perbandingan sosial.
Tesser (1988) mengembangkan model pemeliharaan evaluasi diri. Model ini
mengidentifikasi empat strategi yang kita gunakan untuk melindungi harga
Psikologi Sosial - Diri Page 8

diri kita ketika melakukan perbandingan keatas dengan orang lain:
1. Melebih-lebihkan kemampuan target yang berhasil
2. Mengubah target perbandingan
3. Menjauhkan diri dari target yang berhasil
4. Mengecilkan nilai dimensi perbandingan

Jika orang dalam contoh diatas menggunakan strategi 4, ia mungkin melindungi
harga dirinya denan mengatakan Aku mungkin bukan orang yang paling pintar
dikelas, tapi aku sangat baik dalam pekerjaan lainnya dan itu sangat penting
untuk memperoleh pengalaman kerja dimasa depan.

Membuat perbandingan dengan kelompok
Teori yang mendukung hal tersebut diatas adalah "teori kategorisasi-diri (Turner,
Hogg, Oakes, Reicher &Wetherel), 1987 yang berfokus pada
perbandingan-perbandingan di dalam (antar) dan di antara (intra)
kelompok-kelompok. Turner dkk menggunakan istilah "Purwarupa kognitif" untuk
menggambarkan skema yang kita miliki keterkaitan kelompok. Purwarupa tersebut
akan memandu perilaku dan perasaan-perasaan kita tentang diri sebagai anggota
kelompok.

I. Dampak Budaya Terhadap Diri
Penafsiran diri Markus dan Kitayana
Mandiri Saling Tergantung
Biasanya ditunjukkan dalam budaya
Amerika dan Eropa Barat
Biasanya ditunjukkan dalam budaya Jepang
dan Asia lainnya, Afrika, Amerika Latin
dan banyak budaya Eropa Selatan
Individu merupakan unit primer kesadaran Diri dalam hubungannya dengan orang2
lain merupakan fokus pengalaman
individual
Diri terpisah dari orang-orang lain Diri terhubung dengan orang-orang lain
Otonomi dan kemandirian merupakan Otonomi merupakan pertimbangan
Psikologi Sosial - Diri Page 9

atribut yang diinginkan sekunder-menyesuaikan diri dengan
orang-orang lain yang relevan merupakan
bagian wajib dalam hubungan yang saling
bergantung
Atribut-atribut batin dipandang penting
dalam mengatur perilaku
Harmoni antar pribadi dipandang penting
dalam mengatur perilaku
Mementingkan tujuan-tujuan sendiri Mementingkan tujuan-tujuan orang lain

IV. HARGA DIRI PRIBADI
Harga diri pribadi, atau sering disebut juga dengan istilah self-esteem mempunyai
beberapa pengertian menurut para tokoh psikologi, yaitu:
a. Baron dan Byrne, harga diri sebagai penilaian terhadap diri sendiri yang dibuat
individu dan dipengaruhi karakteristik yang dimiliki orang lain dalam menjadi
pembanding (Geldard, 2010).
b. Harper, harga diri adalah penilaian diri yang dipengaruhi oleh sikap, interaksi,
pengahargaan, dan peneraimaan orang lain terhaap individu (2002).
c. Shahizan, harga diri merupakan evaluasi positif dan negatif tentang diri sendiri
yang dimiliki seseorang (2003).
d. Gecas dan Rosenberg, harga diri sebagai evaluasi positif yang menyeluruh tentang
dirinya (Hurlock, 2007).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, didapatkan bahwa harga diri (self-esteem)
adalah penilaian individu terhadap dirinya sendir,baik secara positif dan negatif yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hasil interaksi, penerimaan, penghargaan, dan
perlakuan orang lain.
Menurut Brown (dalam Santrock, 2003) adapun beberapa aspek yang berhubungan
dengan harga diri atau self-esteem ini, yaitu:
a. Global self-esteem
Variabel keseluruhan dalam diri individu, dan relatif menetap dalam berbagai
waktu dan situasi.

Psikologi Sosial - Diri Page 10


b. Self-evaluation
Merupakan bagaimana seseorang dalam mengevaluasi variabel dan atribusi yang
terdapat pada diri mereka. Pengaruh terbesar dalam aspek ini adalah diri individu
itu sendiri. Contoh : seorang anak perempuan yang merasa kurang cantik, dengan
wajah dipenuhi dengan jerawat, maka dia akan merasa kurang percaya diri di
dalam lingkungan pergaulannya, atau bisa disebut juga anak perempuan ini
mempunyai self-esteem, yang rendah.
c. Emotion
Keadaan emosi sesaat terutama sesuatu yang muncul sebagai konsekuensi positif
dan negatif. Di sini situasi yang terjadi pada diri individu sangat mempunyai
pengaruh yang besar. Contoh: seorang karyawan yang baru saja mendapatkan
promosi jabatan di perusahaan tempat dia bekerja akan mempunyai self-esteem
yang tinggi dalam lingkungan pergaulannya.

Monks (2004) menyebutkan bahwa terdapat empat factor yang mempengarui
self-esteem pada diri individu, yaitu:
a. Lingkungan keluarga
Keluarga adalah lingkungan social terkecil yang individu temui dari mereka lahir.
Perlakuan yang diperoleh seorang individu di lingkungan keluaraga sangat
mempengaruhi tingkat self-esteem seorang individu. Individu yang dibesarkan
dalam lingkungan yang nyaman dan hangat, akan cenderung memiliki self-esteem
yang tinggi, dan begitupun sebaliknya.
b. Lingkungan social
Lingkungan social setelahnya adalah di mana seorang individu mulai melakukan
interaksi dengan komunitas atau kelompok-kelompok yang terdapat di masyarakat.
Sama dengan lingkungan keluarga, di lingkungan social iniperlakuan yang
diterima oleh individu mempengaruhi tingkat self-esteem mereka. Sebagai contoh,
seorang individu yang cenderung diasingkan di lingkungan sosialnya akan
mempunyai self-esteem yang sangat rendah. Dan individu yang menerima
perlakuan menyenangkan dari lingkungan sosialnya akan mempunyai self-esteem
Psikologi Sosial - Diri Page 11

yang tinggi, hal ini dikarenakan individu tersebut merasa diterima di
lingkungannya.
c. Faktor psikologis
Factor ketiga ini muncul atau berasal dari diri individu. Penerimaan pada diri
sendiri mempengaruhi bagaimana seorang individu melakukan interaksi dengan
lingkungan sosialnya.
d. Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin, ini berpengaruh pada pola pikir, cara pandang atas
sebuah fenomena, memaknai diri, dan lain sebagainya.

Hurlock (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi yang dapat
mempengaruhi self-esteem seorang individu, yaitu:
a. Teman sebaya
Mereka mempengaruhi pola kepribadian seseorang dengan dua cara. Antara lain,
konsep diri merupakan cerminan tentang lingkungan social terhadap diri. Kedua,
terkadang seseorang memilih berada dalam tekanan untuk mengembangkan cirri
kepribadiannya agar diakui oleh lingkungan atau kelompok.
b. Cita-cita
Jika seseorang memiliki keinginan yang tidak realistic akan rentan mengalami
kegagalan. Dalam hal ini akan menimbulkan keadaan tidak mampu dan reaksi
bertahan, di mana orang tersebut akan cenderung menyalahkan orang lain atas
kegagalannya.

V. PENILAIAN DIRI PRIBADI
a) C. H. Cooley (1902), mengembangkan konsep looking glass-self, yakni bahwa
orang memandang diri mereka sebagaimana orang memandang dan merespons
mereka (Leary et al., 2003).
b) Persepsi kita tentang bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita, dinamakan
reflected appraisal.
c) Penilaian diri pribadi yang bersumber dari tanggapan orang lain, terbagi dalam
beberapa bentuk, yakni:
Psikologi Sosial - Diri Page 12

1) Ada hubungan erat antara pandangan orang tua tentang kemampuan anak
dengan konsep diri si anak tentang kemampuannya (Felson&Reed, 1986).
2) Pada masa kanak-kanak akhir dan remaja awal, tanggapan dari teman sebaya
dianggap lebih penting (Leary, Cottrel, & Phillips, 2001).
3) Dalam bidang akademik, seoarang anak juga membutuhkan tanggapan dari
guru mereka tentang kemampuan yang mereka miliki dalam bentuk komentar
dan nilai (Jussim, Soffin, Brown, Ley, & Kohlhepp, 1992).
4) Secara keseluruhan, orang lebih menyukai tanggapan atau umpan balik yang
objektif (seperti nilai ujian) tentang atribut personal yang mereka miliki
(Festinger, 1954).
d) Tanggapan yang bersifat objektif dianggap tidak terlalu bias dan lebih fair, jika
dibandingkan dengan opini personal. (Taylor, 2009)
e) Lingkungan memberi petunjuk lain tentang kualitas personal kita. Secara khusus
konsep diri amat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang membuat kita berbeda
(McGuire&McGuire, 1982; McGuire&Padawer-Singer, 1976).
f) Individu memandang diri mereka dalam term keanggotaan (Turner, Oakes,
Haslam, &McGarty, 1994).
g) Social identity, adalah bagian dari konsep diri individu yang berasa dari
keanggotaannya dalam satu kelompok sosial (atau kelompok-kelompok sosial)
dan nilai siginifikansi emosional yang ada diletakan dalam keanggotaan (Tajfel,
1981, h. 248; et al., 1994)
h) Identitas etnis adalah bagian dari pengetahuan diri individu yang berhubungan
dengan keanggotaannya dalam kelompok etnis tertentu.
i) Identitas sosial dan identitas etnis mempunyai satu aspek menarik, yaitu keduanya
dapat menimbulkan stereotipe diri. Stereotipe diri adalah memandang diri sendiri
sebagai anggota kelompok tertentu dan konsekuensinya berperilaku sesuai dengan
identitas sosial tersebut (Tuner, Hogg, Oakes, Reicher, &Wetherell, 1987).
j) Dalam satu riset, Phinney (1991) menemukan bahwa identitas etnis yang kuat
biasanya terkait dengan penghargaan diri yang tinggi, tetapi hanya dengan diiringi
dengan orientasi positif.

Psikologi Sosial - Diri Page 13

VI. DIRI PRIBADI SEBAGAI SASARAN PRASANGKA
Menurut Carl Rogers, setiap manusia memiliki kebutuhan dasar untuk
kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu.
Kebutuhan ini disebut dengan need for positive regard, yang dibagi menjadi 2,
yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard
(tak bersyarat).
Prasangka adalah evaluasi negatif atas satu kelompok atau seseorang berdasarkan
pada keanggotaan orang itu dalam suatu kelompok. Prsangka didasarka pada
dua dimensi, yakni dimensi evaluatif dan afektif. Selain itu prasangka juga
didasarkan pada pra-penilaian, yang sering kali merefleksikan evaluasi yang
dilakukan sebelum tahu banyak tentang karakteristik seseorang (Taylor, 2009).
Prasangka yang dikaitkan dengan diri pribadi berhubungan dengan cara penilaian
atas diri pribadi yang cenderung ke arah negatif, sehingga konsekuensinya sebagai
skema yang berpengaruh pada cara memproses informasi.
















Psikologi Sosial - Diri Page 14


Daftar Pustaka

Budiman, Didi. Universitas Pendidikan Indonesia Positive Self-Esteem. 15 Mei 2014.
http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._OLAHRAGA/197409072001121-D
IDIN_BUDIMAN/psikologi_olahraga/positive_self-esteem.pdf
Cooley, C. H. (1902). Human natureand the social order. New York: Scribners
Daniel Cervone & Lawrence A. Pervin. Teori dan Penelitian "Kepribadian" . Salemba
Humanika, 2012
David G. Myers. Psikologi Sosial. Salemba Humanika, 2012
Dr, Agus Abdul Rahman, M.Psi . Psikologi Sosial. RajaGrafindo Persada, 2010
Felson, R. B., & Reed, M. D. (1986). Reference groups and self-appraisals of academic
ability and performance. Social Psychology Quarterly, 49, 103-109
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison prosesses. Human Relation, 7,
117-140
Hurlock, Elizabeth B (1953). Developmental Psychology. New York : McGraw-Hill
Book Company
John W. Santrock (2003). Psychology. McGraw-Hill Companies, The
Jussim, L., Soffin, S., Brown, R., ley, J, & Kohlepp, K. (1992). Understanding
reactions to performance feedback by integrating ideas from symbolic interactionism
and cognitive evaluation theory. Journal of personality and social psychology, 62,
402-421
Leary, M. R., Cottrell, C. A., & Phillips, M. (2001). Deconfounding the effects of
dominance and social acceptance on self-esteem. Journal Of Personality And Social
Psychology, 81, 898-909.
Mathhew H. Olson & B.R Hergenhahn. Pengantar Teori Kepribadian Edisi Kedelapan.
Pustaka Pelajar, 2013
McGuire&McGuire, 1982; McGuire&Padawer-Singer. (1976). Trait Salience in the
spontaneous self-concept. Journal of personality and social psychology, 33, 743-754
Phinney, J. S. (1991). Ethnic identity and self-esteem: A review and integration.
Hispanic Journal of Behavioral Science, 13, 193-208.
Psikologi Sosial - Diri Page 15

Rosenberg. M . (1965). Society and the adolescent self-image. Princeton, NJ: Princeton
University Press.
Shelley E. Taylor, Letitia Anne Peplau, David O. Sears. Psikologi Sosial Edisi Kedua
Belas. Jakarta: Kencana, 2009
Tajfel, H. (1981). Human groups and social categories. Cambridge, England: Cambridge
University Press
Turner, J. C., Hogg, M. A., Oakes, P. J., Reicher, S. D., & Wetherell, M. (1987).
Rediscovering the social group: A self-categorization theory. Oxford, England: Basil
Blackwell
Turner, J. C., Oakes, P. J. , Haslam, S. A., & McGarry, C. (1994). Self and the
collective: Cognition and social context. Personality and social psychology bulletin,
20, 454-463
Universitas Bina Nusantara. Pengertian Pengetahuan Self-Esteem. 15 Mei 2014.
http://thesis.binus.ac.id/Asli/Bab2/2011-2-00003-PL%202.pdf