Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada
tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga
seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia dalam
praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan
secara teoritis (Ellis, 1974).
Teori Rasional Emotif ini merupakan sintesis baru dari Behavior Therapy yang klasik (termasuk
Skinnerian Reinforcement dan Wolpein Systematic Desensitization).Oleh karena itu Ellis
menyebut terapi ini sebagai Cognitive Behavior Therapy atau Comprehensive Therapy.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar pada filsafat
eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan
Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam
Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.

B. Rumusan Masalah
1. Tokoh atau pendiri teori Rasional Emotif ?
2. konsep dasar teori Rasional Emotif ?
3. Asumsi tingkah laku bermasalah ?
4. Tujuan konseling ?
5. Fungsi dan peran konselor ?
6. Tahap-tahap konseling ?
7. Teknik-teknik konseling ?
8. Kelebihan dan Kekurangan?
9. Contoh Penerapan?

Tujuan Penulisan
Mahasiswa diharapkan mengerti dan mampu menjelaskan tentang Rasional Emotif Terapi, dari
pengertian, tujuan, karakteristik dll.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Tokoh Rasional Emotif


Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah Albert Ellis, menurut
pengakuan Ellis sendiri, corak konseling rasional emotif terapi berasal dari aliran pendekatan
kognitif behavioristik. Menurut Ellis (dalam Latipun, 2001 : 92) berpandangan bahwa RET
merupakan terapi yang sangat komprehensif, yang menangani masalah-masalah yang
berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku.
Albert Ellis dilahirkan pada tahun 1930 di Pittsburk dan kemudian menetap di New York sejak
umur empat tahun. Semasa kanak-kanak beliau telah sembilan kali dimasukkan ke hospital
karena nephiritis dan seterusnya mendapat penyakit renal glycosuria pada umur 19 tahun dan
kencing manis pada umur 40 tahun. Walaupun begitu beliau menikmati kehidupan yang aktif
karena

beliau

berfikiran

positif

terhadap

masalah

kesehatannya

dan

senantiasa

menjaganya.Menyadari beliau boleh mengkonseling orang dengan baik dan gembira


melakukannya, beliau mengambil keputusan untuk menjadi ahli psikologi. Selepas delapan tahun
tamat pengajian kolej, beliau memasuki program psikologi klinikal di Maktab Perguruan
Columbia. Beliau mulai menjalankan konseling perkawinan, konseling keluarga dan terapi
seks.Ellis percaya psikoanalisis adalah membentuk psikoterapi yang mendalam.Beliau telah
dilatih dalam psikoterapi di Sekolah Karen Horney.Dari tahun 1947 hingga 1953 beliau
memperaktikan analisis klasik dan psikoterapi berorientasikan analisis.
Selepas membuat kesimpulan bahan psikoanalisis adalah bentuk rawatan yang tidak saintifik dan
superficikal, beliau coba mengkaji beberapa sistem yang lain. Pada awal 1955 beliau
mengabungkan terapi humanistik, falsafah dan tingkah laku untuk membentuk terapi rasionalemotif (yang sekarang dikenal sebagai terapi rasional emotif tingkahlaku).Ellis dikenal sebagai

bapak teori RET. Ellis telah membina teori berasaskan kepada kognitif tapi selepas itu beliau
telah meluaskan asas teorinya yang memasukkan konsep tingkah laku dan emosi. Teori ini
adalah satu usaha yang konsisten untuk memperkenalkan pendekatan pemikiran logika dan
proses kognitif di dalam konseling. Ellis percaya bahwa manusia mempunyai pemikiran dan
kepercayaan yang tidak rasional perkara ini lah yang selalu menyebabkan gangguan emosi.
Rasional emotive adalah teori yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya. Manusia
adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia
adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang
berarti manusia bebas berpikir, bernafas, dan berkehendak.
B.

KONSEP DASAR

Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk
berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif,
bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak
efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan
filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut
merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang
menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari
orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata
yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata
yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan
diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut
akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep
kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent
event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal
dengan konsep atau teori ABC.

1. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan
merupakan antecendent event bagi seseorang.
2. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan
yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal,
bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan
keyakinan atau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan
keran itu tidak produktif.
3. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan
antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi
disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB
maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini.Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampakdampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Sebagai contoh, orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa
dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan
orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan
sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang
negatif terhadap diri sendiri.
Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan
irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil pengondisian
filosofis, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita
yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.

C.Asumsi Tingkah laku Bermasalah


Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah, didalamnya
merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.
Adapun ciri-ciri berpikir irasional adalah :
1. Tidak dapat dibuktikan
2. Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang
sebenarnya tidak perlu
3. Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif.

Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional disebabkan oleh:


1. Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyatan dan
imajinasi.
2. Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.
3. Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan
kepada individu melalui berbagai media.
Indikator sebab keyakinan irasional adalah:
1. Manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari
segala sesuatu yang dikerjakan.
2. Banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam
sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum.

3. Kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang


dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia
dalam hidupnya.
4. Lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk
menghadapi dan menanganinya.
5. Penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu
hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan
emosional tersebut.
6. Pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu
dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang.
7. Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang
menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural.
8. Nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari
kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.
Menurut Albert Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang
diprogram untuk selalu menanggapi pengondisian-pengondisian semacam ini.Keyakinankeyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis
pikiran-pikiran yang keliru yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:
1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
2. Terpaku pada yang negatif,
3. Terlalu cepat menggeneralisasi.
Secara ringkas, Ellis mengatakan bahwa ada tiga keyakinan irasional:
1. Saya harus punya kemampuan sempurna, atau saya akan jadi orang yang tidak berguna:

2. Orang lain harus memahami dan mempertimbangkan saya, atau mereka akan
menderita.
3. Kenyataan harus memberi kebahagiaan pada saya, atau saya akan binasa

D. Tujuan Konseling
Tujuan dari terapi ini adalah agar setiap individu bisabmendapatkan cara yang lebih efektif untuk
memenuhi kebutuhan menjadi bagian dari suatu kelompok, kekuasaan, kebebasan, dan
kesenangan. tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi.
Pada dasarnya, otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan seseorang untuk
mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal. Kemampuan ini menyiratkan bahwa
orang-orang mampu bertanggung jawab atas siapa mereka dan ingin menjadi apa mereka serta
mengembangkan rencana-rencana yang bertanggung jawab dan realistis guna mencapai tujuantujuan mereka.
Tujuan lain dari terapi ini adalah menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya
dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. Mendorong konseling agar
berani bertanggung jawab serta memikul segala risiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan
keingnannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya mengembangkan rencana-rencana nyata
dan realistic dalam mencapai tujuan yang ditetapkan .
Tujuan dari Konseling RET ini antara lain:
1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan
logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal
mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.

2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa


takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
E.Fungsi dan peran konselor dalam Rational Emotive Therapy (RET)
Fungsi konselor dalam Rational Emotive Therapy ini adalah mengajak dan membuka
ketidaklogisan pola berfikir klien dan membantu klien mengubah pikirannya yang irasional
dengan mendiskusikannya secara terbuka dan terus terang.
Peran konselor dalam proses konseling rasional emotif akan tampak jelas dengan langkahlangkah konseling sebagai berikut:
a)

Langkah pertama

Dalam langkah ini konselor berusaha menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang
dihadapinya berkaitan dengan keyakinannya yang tidak rasional.Disini klien harus belajar untuk
memisahkan keyakinan rasional dari yang tidak rasional.Pada tahap ini peranan konselor adalah
sebagai propagandis yang berusaha mendorong, membujuk, meyakinkan, bahkan sampai kepada
mengendalikan klien untuk menerima gagasan yang logis dan rasional. Jadi, pada langkah ini
peran konseling ialah menyadarkan klien bahwa gangguan atau masalah yang dihadapinya
disebabkan oleh cara berfikirnya yang tidak logis.
b)

Langkah kedua

Peranan konselor adalah meyadarkan klien bahwa pemecahan masalah yang dihadapinya
merupakan tanggung jawab sendiri. Maka dari itu dalam konseling rasional emotif ini konselor
berperan untuk menunjukkkan dan menyadakan klien, bahwa gangguan emosional yang selama
ini dirasakannya akan terus menghantuinya apabila dirinya akan tetap berfikir secara tidak logis.
Oleh karenanya klienlah yang harus memikul tanggung jawab secara keseluruhan terhadap
masalahnya sendiri.
c)

Langkah ketiga

Pada langkah ketiga ini konselor berperan mengajak klien untuk menghilangkan cara berfikir dan
gagasan yang tidak rasional. Konselor tidaklah cukup menunjukkan klien bagaimana proses
ketidaklogisan berfikir ini, tetapi lebih jauh dari itu konselor harus berusaha mengajak klien
mengubah cara berfikirnya dengan cara menghilangkan gagasan-gagasan yang tidak rasional.
d)

Langkah keempat

Peranan konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang realistis dan menghindarkan diri


dari keyakinan yang tidak rasional. Konselor berperan untuk menyerang inti cara berfikir yang
tidak rasional dari klien dan mengajarkan bagaimana caranya mengganti cara berfikir yang tidak
rasional dengan rasional.

F.TEKNIK KONSELING
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik dimaksud antara
lain adalah sebagai berikut:
1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
1) Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan konseli untuk secara terusmenerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.Latihan-latihan yang
diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri konseli.
2) Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan
negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga konseli dapat secara
bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.

3) Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud
menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong konseli ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan
memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Teknik ini dimaksudkan
untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada konseli dan menggantinya
dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka konseli
akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b. Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada konseli. Teknik ini dilakukan agar
konseli dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru),
mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem
model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
2. Teknik-teknik Kognitif
1. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri,
dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.
Dengan tugas rumah yang diberikan, konseli diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan
ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan
tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan
latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh konseli dalam suatu
pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan

mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan
untuk pengarahan diri, pengelolaan diri konseli dan mengurangi ketergantungannya kepada
konselor.
2. Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian konseli dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku
tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial.
Maksud utama teknik latihan asertif adalah :
(a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan
emosinya;
(b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa
menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;
(c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan
(d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk
diri sendiri.
G.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Pendekatan rasional emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellis mempunyai Kelebihan sebagai
berikut :
1. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif dan menantang klien untuk meneliti
rasionalitas dari keputusan yang telah diambil serta nilai yang klien anut.
2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkan pemahaman yang di dapat oleh
klien sehingga klien akan langsung mampu mempraktekkan perilaku baru mereka.
3. Rasional emotif menekankan pada praktek terapeutik yang komprehensif dan eklektik.

4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukanterapi sendiri tanpa
intervensi langsung dari terapis.
Kekurangan dari pendekatan ini adalah sebagai berikut :
1. Rasional emotif tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalam proses terapeutik ada
hal-hal yang tidak diperhatikan.
2. Rasional emotif kurang melakukan pembangunan hubungan antara klien dan terapis sehingga
klien mudah diintimidasi oleh konfrontasi cepat terapis.
3.Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh kekuatan dan wewenang terapis dengan menerima
pandangan terapis tanpa benar-benar menantangnya atau menginternalisasi ide-ide baru.
4. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran dan pertahanan ego.
H. Contoh Penerapan
Penerapan teori konseling Rasional-emotif ini sangat ideal apabila diterapkan disekolah,
terutama oleh:Guru,Konselor atau pemimbing yang berwibawa. Contoh penerapan di gunakan
pada kasus , berpikir mengenai hal-hal yang tidak rasional.
Guru/konselor yang berwibawa akan mampu untuk membantu siswa yang mengalami gangguan
mental atau gangguan emosional untuk mengarahkan secara langsung pada para siswa yang
memiliki pola berfikir yang tidak rasional, serta mempengaruhi cara berfikir mereka yang tidak
rasional untuk meninggalkan anggapan atau pandangan yang keliru itu menjadi rasional dan
logis.
Guru melalui bidang studi yang diajarkan kepada siswanya secara langsung bisa mengaitkan pola
bimbingan yang terpadu untuk mempengaruhinya, untuk secara meninggalkan tindakan pikiran
dan perasaan yang tidak rasional.
Pendekatan ini pada menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar dari gangguan-gangguan
pribadi. Sumbangan utamanya adalah penekananya pada keharusan praktek dan bertindak
menuju perubahan tingkah laku masalah.

Contoh kasusnya :
Ada siswa mau ujian . Ia takut,cemas akan ujian nya nanti,ia takut tidak lulus.Padahal ujian
masih 4 bulan lagi. Siswa tersebut berpikir irasional. Konselor membantu klien agar klien sadar
dan bisa berpikir rasional karena jika klien tetap berpikir irasional itu akan membuat klien tidak
siap menghadapi ujian dan bisa berakibat pada konsentrasi saat mengerjakan soal ujian dan bisa
berakibat buruk. Konselor membantu klien mengubah pikiran irasional menjadi rasional
sehingga klien menyadari akan pikirannya itu,klien bisa berpikir rasional dengan belajar selama
4 bulan itu dan menjadi siap menghadapi ujianf

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Pengertian Rational Emotive Therapy (RET), yakni corak konseling yang menekankan
kebersamaan

dan

interaksi

antara

berpikir

dan

akal

sehat(rational

thinking),

berperasaan(emoting), dan berperilaku(acting), serta sekaligus menekankan bahwa suatu


perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti
dalam cara berperasaan dan berperilaku. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam
perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali caranya berpikir dan memanfaatkan akal
sehat.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Hartono dan Soedarmadja boy . (2012). Psikologi Konseling . Jakarta :

RENCANA PRENADA MEDIA GROUP


Kurnonanto edi . (2013) . KOnseling kelompok . Bandung : Alfabreta CV
Corey, Teori dan praktek konseling dan psikoterapi , Bandung : PT Refika

Aditama, 2010
Mappire AT, Andi. Pengantar konseling dan psikoterapi , jakarta : PT. Raja
Grafindo persada, 2010