Anda di halaman 1dari 13

BAB III

BATERAI SEBAGAI SUPLAI TEGANGAN DC PADA GARDU INDUK 150 KV


TANJUNG MORAWA PT PLN (PERSERO) UPT MEDAN
Bateri merupakan suatu alat yang menghasilkan energi listrik dengan proses
reaksi kimia. Baterai dapat berupa susunan beberapa sel atau satu sel saja. Tiap sel dari
baterai terdiri dari elektroda positif (anoda) dan elektroda negatif atau katoda, dan larutan
elektrolit. Jenis elektroda dan elektrolit pada baterai tergantung dari pabrik yang
memproduksi baterai tersebut. Baterai digunakan sebagai sumber penghasil arus searah
atau DC. Di gardu-gardu induk maupun pusat-pusat pembangkit tenaga listrik baterai ini
berfungsi sebagai:
1. Sumber tenaga motor-motor untuk PMT, PMS, tap changer, trafo tenaga dan
sebagainya.
2. Sumber tenaga untuk alat-alat kontrol , tanda-tanda isyarat ( signal dan alarm)
3. Tenaga untuk peralatan telekomunikasi (PLC)
4. Tenaga untuk penerangan darurat
5. Tenaga untuk relay proteksi

Gambar di bawah menunjukkan susunan dasar suatu baterai:







Gambar 1 Susunan dasar suatu baterai



3.1 Klasifikasi Baterai
3.1.1 Menurut Kapasitas Baterai
Kapasitas baterai dinyatakan sebagai kemampuan baterai untuk memberikan arus listrik,
dengan tegangan pada waktu tertentu yang dinyatakan dalam Ampere-Hour (Ah).
Kapasitas baterai dapat dirumuskan sebagai berikut :
C = I x t
dengan :
C = Kapasitas baterai (Ah)
I = Arus pengujian (A)
t = Waktu pengujian (hour)
Kapasitas baterai ditentukan dengan memperhitungkan semua faktor yang menyangkut
penurunannya selama dipakai, perubahannya terhadap perubahan suhu dan jatuh
tegangan, keperluan kapasitas yang diperlukan dengan memperkirakan beban terus-
menerus dan beban terputus-putus (continous and intermittent load) yang harus dilayani
selama terputusnya pelayanan normal, serta lamanya pemutusan pelayanan. Berdasarkan
kapasitasnya suatu baterai dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

1. Kapasitas dengan harga rendah/menengah

Besarnya kapasitas baterai sampai 235Ah, dengan lama pengosongan selama 8
jam pada suhu 25C. Baterai ini dapat digunakan sebagai sumber searah DC
untuk :

Alat kontrol , tanda-tanda isyarat
Telekominikasi
Proteksi
Penerangan darurat
Sumber tenaga DC motor PMT, PMS

2. Kapasitas dengan harga tinggi
Baterai ini mempunyai kapasitas 235 Ah sampai 450 Ah dengan lama
pengosongan 5 jam pada suhu 25oC. Baterai ini dapat digunakan sebagai sumber DC
untuk :
Menjalankan motor listrik
Penerangan darurat

3.1.2 Menurut Bahan Elektrolit

Menurut bahan elektrolit baterai dapat dibedakan :
1. Baterai alkali (alkaline storage baterai)
bahan elektrolitnya adalah larutan alkali (potassium hydroxide/KOH).
Beterai alkali ada 2 macam :
Nickel-Iron Alkaline storage battery (Ni-Fe battery).
Nickel-Cadmium battery (Ni-Cd battery).
2. Baterai Timah Hitam (Lead Acid Storage battery), bahan elektrolitnya larutan
asam belerang (H2SO4). Baterai timah hitam ada 2 macam:
Lead-antimony
Lead-calcium
Beberapa keuntungan baterai Alkali dibanding dengan Timah hitam :
1. Lebih tahan terhadap goncangan.
2. Cukup tahan terhadap arus pengisian yang besar atau bila terjadi arus hubung singkat.
3. Tidak ada proses penggaraman.
4. Tidak mengeluarkan gas yang menyebabkan korosi.
5. Perubahan kapasitas akibat pengosongan kecil.

3.2 Kuantitas Elektrik Baterai
Besarnya kapasitas energi yang tersimpan pada sel baterai ditentukan oleh bahan
rangka pembungkus sel, banyaknya material aktif (elektroda) dan larutan elektrolit. Pada
baterai umumnya biasa dinyatakan dalam Cx , C adalah kapasitas baterai dan x adalah
waktu selama pengisian atau pengosongan. Kapasitas baterai berpengaruh terhadap kerja
baterai itu sendiri.
3.2.1 Efisiensi baterai
Efisiensi baterai dinyatakan sebagai perbandingan antar kapasitas pengosongan
dengan kapasitas pengisian, sehingga dapat dirumuskan:




3.2.2 Berat jenis elektrolit
Berat jenis elektrolit akan sangat mempengaruhi kapasitas suatu baterai. Semakin
tinggi berat jenis elektrolit akan membuat tahanan listrik makin rendah sehingga tegangan
sel dapat dipertahankan. Pengaruh tingginya berat jenis elektrolit adalah antara lain :

Kapasitas semakin besar
Umur pemakaian relatif pendek

Sedangkan pengaruh dari rendahnya berat jenis elektrolit antara lain :
Kapasitas berkurang
Umur pemakaian lebih lama

3.2.3 Tahanan elektrik baterai
Besarnya tahanan listrik dari baterai dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :


dengan :
V = Tegangan uji (Volt)
I = Arus Pengujian (A)
R = Tahanan listrik (Ohm)

3.2.4 Muatan elektrik
Kuantitas dasar dari substansi elektris disebut juga muatan listrik. Muatan listrik
disimbolkan dengan Q dan satuannya dinyatakan dalam Coulomb. Untuk baterai, muatan
listrik (Q) dapat dianalogikan dengan kapasitas baterai (C) karena Q adalah muatan listrik
yang terkandung pada benda saat terjadi aliran arus listrik dalam satu detik.

Karena


maka kapasitas baterai dapat juga dinyatakan dengan :

dengan :
Q = Muatan listrik (Coulomb)
I = Arus pengujian
T = Waktu uji (jam)
C = Kapasitas baterai (Ah)
3.2.5 Energi listrik
Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja sehingga kuantitas untuk energi sama
dengan kerja. Besarnya energi listrik dapat dirumuskan :

dengan :
W = Energi listrik (Joule)
V = Tegangan uji (Volt)
Q = Muatan listrik (Coulomb)

3.2.5 Daya lsitrik
Daya didefinisikan sebagai besarnya perkalian dari tegangan dengan arus yang mengalir
pada waktu pengujian. Daya yang dihasilkan oleh baterai dapat dirumuskan dengan :

dengan :
P = Daya listrik (Watt)
V = Tegangan uji (Volt)
I = Arus pengujian (A)

3.3 Rangkaian Baterai dan Pengisian Baterai
Untuk memberikan arus listrik pengisian (charging current) pada baterai
diperlukan suatu sumber listrik arus-searah (DC). Sumber arus-searah ini didapatkan dari
penyearah (rectifier) atau pengisian baterai (baterai charger). Alat pengisi baterai ini
harus dihubungkan ke baterai dengan hubungan kutub-kutub yang sama. Pada rangkaian
kerja baterai ini penyearah (rectifier) digunakan pada rangkaian normal yang
dihubungkan ke beban, sedangkan pengisi baterai (battery charger) digunakan untuk
mengisi baterai dan juga mensupply beban.
Macam kerja rangkaian baterai dengan penyearah (rectifier), dapat dibagi dalam beberapa
bagian :
3.3.1 Sistem sederhana (simple system)
Baterai selalau dihubungkan dengan pengisi baterai (charger) dalam pengisian
pemeliharaan. Baterai hanya sewaktu-waktu dihubungkan ke beban, misalnya untuk start
motor lsitrik (engine starting).







Gbr System Sederhana (Simple System)
Load Mains
Input
Battery
Charger
3.3.2 Sistem cadangan (standby system)
Pada operasi kerja normal beban langsung dihubungkan dengan penyearah (rectifer), dan
baterai dihubungkan dengan pengisi baterai (battery charger) dalam pengisian
pemeliharaan, maka bila sumber AC terganggu, secara otomatis beban akan terhubung ke
baterai. Sistem ini umumnya digunakan untuk lampu-lampu darurat.









Gbr Sistem cadangan (Standby System)

3.3.3 Sistem terapung (floating system)
Pada operasi kerja normal beban terhubung ke pengisi baterai (battery charger) dan
baterai, maka bila sumber arus-searah (DC) dari pengisi baterai terganggu, beban
langsung akan di-supply dari baterai.









Gbr Sistem terapung (Floating System)
Rechtifier
Charger
Load
Contactor
Battery
Mains
Input
Load
Mains
Input
Battery
Charger
2. Sistem Ganda (duplicate system)
Pada sistem ganda ini terdapat 2 (dua) buah pengisi baterai (battery charger) yang
dihubungkan dengan ke-2 (dua) unti baterai. Disini beban baterai dapat disupply dengan
menggunakan 2 (dua) unti baterai atau salah satu unit baterai.











Gambar Sistem ganda (duplicate system)


3.4 Pengisian ulang baterai yang beroperasi
Setelah terjadi pengosongan/pemakaian (discharge) baterai perlu pengisian
kembali/ulang. Macam-macam pengisian ulang tersebut adalah :

3.4.1 Cycle charging
Pengisian dengan cara cycle-charging adalah emngisi (charging) kembali baterai
setelah pengosongan (discharge) sebagian atau pengosongan secara normal. Untuk
pengisian cara ini biasanya dibutuhkan waktu antara 5 sampai 10 jam. Jika pengisian
sudah penuh kemudian pengisian dihentikan, umumnya secara otomatis. Cara cycle-
charging umumnya banyak digunakan pada baterai diesel ( electric industrial truck
service).


Charger
Charger
Battery 1
Battery 2
Load
Main
Input
3.4.2 Boost & quick charging
Pengisian dengan cara boost & quick charging adalah untuk pengisian bateraio
yang dipakai di pabrik-pabrik, juga untuk baterai diesel (industrial truck service) dimana
diperlukan tambahan pengisian dalam periode yang singkat misalnya pada jam-jam
istirahat. Pengisian cara ini cukup untuk pelayanan satu hari. Arus yang diberikan ke
baterai tidak boleh melebihi harga ampere-jamnya. Untuk menjaga pengisian yang
berlebihan dan arus yang terlalu besar, biasanya alat pengisi ini mempunyai automatic
out-off yang mana memberhentikan pengisian pada waktu baterai mencapai suhu tinggi.

3.4.3 Floating charging
Pengisian dengan cara ini, dimana baterai secara terus-menerus tersambung pada
rangkain luar (sumber AC), alat pengisi baterai (battery charge) dan beban. Alat pengisi
baterai ini direncanakan untuk menjaga suatu tegangan konstan dari baterai yang
tersambung ke beban. Besanya tegangan yang diberikan untuk mengalirkan arus untuk
mengatasi kerugian dalam baterai dan menjaga baterai selalu dalam keadaan pengisian
penuh (full-charge) adalah tetap (konstan), untuk :
Baterai timah hitam : 2,18Volt/sel
Baterai alkal: 1,40-1,42 Volt/sel
Pengoperasian baterai secara pengisia terapung (floating charging) umumnya
digunakan di gardu induk dan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik, dimana baterai dan
alat pengisian baterai dihubungkan paralel dengan busbar umum dari supply arus searah
(DC).



3.4.4 Equalizing charging
Dalam sel-sel dari suatu baterai yang beroperasi dengan pengisian terapung
(floating charge) akan selalu terjadi sedikit perbedaan (yang tidak dapat dihindarkan)
dalam kondisi kimia (chemical condition) antara satu sel dengan sel yang lainnya.
Equalizing charge dilaksanakan dengan cara menaikkan tegangan baterai sesuai dengan
yang ditentukan dalam buku petunjuk masing-masing pabrik. Pengisian ini berlangsung
sampai semua sel berhenti mengeluarkan gas (gas freely) dan pembacaan tegangan serta
berat jenis elektrolitnya menunjukkan bahwa baterai telah diisi penuh (full charge) sesuai
dengan harga yang ditentukan dalam petunjuk masing-masing pabrik.



3.4.5 Trickle charging
Pengisian dengan cara trickle charging adalah pengisian baterai dengan arus
konstan. Besarnya arus konstan dipilih untuk mendapatkan arus rata-rata yang dibutuhkan
untuk mengisi baterai sampai penuh (full charge) dan ditambah arus kompensasi untuk
melayani beban. Umumnya trickle charging digunakan pada baterai yang tidak terlalu
sering terjadinya pengosongan (discharge) seperti pada mesin stationer yang besar dan
starting turbin.
Setelah terjadi pengosongan, maka diperlukan pengisian dengan arus tinggi (highrate
charging), untuk mengembalikan kapasitas baterai penuh.

3. Konstruksi Baterai
Untuk baterai alkali jenis Nickel Cadmium pada dasarnya memiliki konstruksi
yang sama, perbedaannya terletak pada merk, tipe, ukuran plat, jumlah plat dalam sel,
jumlah sel dalam blok baterai.









Gambar Kontruksi Baterai Alkali NiCd.
Dalam sebuah sel baterai untuk merk Hoppecke terdiri atas :
1. Connector Cover
Merupakan pelindung bago konektor baterai. Biasanya terbuat dari bahan plastik PVC
2. Flame Arresting Flip Top Venis
Merupakan pelindung guna mencegah terjadinya loncatan listrik. Bahannya terbuat dari
Polypropilene dan stainless steel.
3. Cell Container
Bejana atau selimut dari sel baterai. Bahannya terbuat dari Polypropilene tembus
pandang.
4. Splash Guard
Pencegah percikan elektrolit dan hubung singkat oleh benda yang menyusup ke dalam
sel
5. Plate Groups/Plate Tab
Posisinya berada diantara ujung atas dan samping dari plat.

6. Plate
Lempengan utama dari sel, biasanya terdiri atas dua lapis yang terbuat dari baja.
7. Plate Groups Bus
Menghubungkan plate group/plate tab dengan terminal baterai.
8. Separating grids
Memisahkan antar plat dan memisahkan plate frame satu dengan yang lainnya. Grid
yang digunakan haruslah dapat dilewati sirkulasi elektrolit antar plat.
9. Plate frame
Merupakan pembatas plat.

4. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Baterai
Pemeliharaan terhadap baterai tersebut bertujuan untuk menjaga agar baterai dapat
selalu beroperasi dengan baik, sempurna dan sesuai dengan fungsinya . Dalam
pemeliharaan baterai difokuskan pada 3 hal, yaitu :
1. Sel baterai
2. Rangkaian arus searah (DC circuit)
3. Ruangan baterai




4.1 Pelaksanaan Pemeliharaan
a. Sel Baterai
Sebagai langkah pelaksanaannya adalah :
- Memeriksa semua sel dan bagian baterai apakah dalam keadaan bersih dan kering
- Membersihkan sel dan bagian baterai jika terdapat kotoran dan benda asing lainnya.
- Memeriksa lubang penguapan pada tiap tutup sel, apakah tertutup/tersumbat.
- Memeriksa dan melakukan pengukuran tegangan pada setiap sel baterai (individual),
dan mencatat hasil pengukuran tersebut. Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang teliti,
pengukuran dilakukan pada saat baterai dalam keadaan diisi (charge)/
- Memeriksa dan melakukan pengukuran berat jenis elektrolit pada setiap sel baterai.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang teliti, pengukuran dilakukan pada saat 15
menit seteleh selesai pengisian (charge) dan cairan elektrolit dalam keadaan tidak
mengeluarkan gas.

b. Rangkaian arus searah (DC circuit)
Sebagai langkah pelaksanaannya adalah :
Memeriksa rangkain arus searah (DC circuit) misalnya sekring DC atau otomat DC
apakah ada yang putus, dan mengganti jika ada yang putus.
- Mencatat tegangan, arus pengisian, dan arus beban sistem baterai setiap jam.
c. Ruangan baterai
Pemeriksaan ruangan baterai dilakukan dengan cara :
- Memeriksa suhu ruangan baterai apakah daam keadaan normal.
- Memeriksa ventilasi ruangan baterai apakah udara dalam ruangan baterai bersirkulasi
dengan udara luar.

4.2 Pengujian Kapasitas Baterai
Pengisian arus baterai yang akan diuji hingga full charged
I max : 0,2 x C= 0,2 x 275 = 55 A
Tegangan max : 1,7 x 82 = 139.4 V
Suhu max : 36C
Pengujian / test kapasitas baterai dengan pengaturan sebagai berikut :
Arus Discharged : 55 A
Tegangan Discharged : 82 V
BJ Electrolite tiap sel : 1,9Kg/Cm
Suhu ruangan : 31C
Suhu Electrolite : 39C
Kapasitas baterai : 275 Ah
Lama kapasitas = 275 / 55 = 5 jam


















BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari kerja praktek yang telah saya laksanakan di
PT PLN ( PERSERO) P3B TRAGI SEI ROTAN UNIT PELAYANAN TRANSMISI
MEDAN adalah :
1. Pada Gardu induk 150 kV Tanjung Morawa merupakan jenis GI pasangan luar atau GI
konvensional karena peralatan tegangan tingi (Trafo, PMT, PMS, dan sebagainya) berada
di luar gedung sedangkan peralatan kontrol berada di dalam Gedung.
2. Setiap sistem peralatan listrik utama dilengkapi dengan sistem proteksi untuk
mencegah terjadinya kerusakan pada peralatan pada sistem dan mempertahankan
kestabilan sistem ketika terjadi gangguan,sehingga kontinuitas pelayanan dapat
dipertahankan.
3. Baterai berfungsi sebagai suplai tegangan arus searah yang digunakan untuk
menjalankan motor-motor yang berada pada PMS, PMT dan sebagai sumber tenaga bagi
peralatan PLC yang berada di panel room.
4. Baterai yang terpasang pada GI 150 kV Kalisari mempunyai 2 (dua) spesifikasi output
tegangan yang berbeda, yaitu dengan output tegangan sebesar 110 volt DC dan 48 vot
DC.
5. Baterai dengan output 110 Volt DC digunakan untuk menjalankan motor motor yang
berada pada PMT, PMS dan untuk penerangan saat keadaan darurat.

6. Baterai output 48 Volt DC digunakan untuk menyuplai tenaga untuk system
komunikasi PLC dan SCADA.

7. Berdasarkan kapasitasnya maka baterai dibedakan menjadi dua yaitu dengan
kapasitansi berharga rendah/menengah dan kapasitansi baterai berharga tinggi.

8. Berat jenis elektrolit sangat mempengaruhi kapasitas dan usia pakai
dari baterai, oleh karena itu harus dijaga sesuai spesifikasi yang diberikan, yaitu sebesar
untuk jenis baterai Nicad, dan 1,215 gram/liter untuk jenis Lead Acid.

9. Pemeliharaan baterai pada gardu induk dibedakan menjadi tiga macam yaitu inspeksi
dalam keadaan operasi, pengukuran dalam keadaan operasi, dan pemeliharaan setelah
terjadi gangguan.