Anda di halaman 1dari 26

Oleh

dr. Joko Siswanto



Pembimbing
dr. Iskandar, M.Kes, Sp.BS




REFERAT

Perdarahan intrakranial= penyebab utama
kematian pada 40-50% pasien trauma kepala dan
menyebabkan kecatatan jangka panjang.
Pada penderita dengan cedera kepala ringan dan
sedang hanya 3% -5% yang memerlukan tindakan
operasi
Salah satu penanganan bedah pada cedera kepala
terbanyak adalah burr hole.
Prognosa pasien cedera kepala akan lebih baik bila
penatalaksanaan dilakukan secara tepat dan cepat

cedera mekanik yang secara
langsung atau tidak langsung
mengenai kepala yang
mengakibatkan luka di kulit kepala,
fraktur tulang tengkorak, robekan
selaput otak, dan kerusakan jaringan
otak itu sendiri, serta mengakibatkan
gangguan neurologis
Cedera
Kepala
Prolong hipoksia dan hipotensi
Herniasi otak
Komplikasi-komplikasi sistemik

1. Berdasarkan Mekanisme:
a. Cedera kepala tumpul
b. Cedera kepala tembus

2. Berdasarkan derajat beratnya:
a. Ringan (GCS 14-15)
b. Sedang (GCS 9-13)
c. Berat (GCS 3-8)
Hal yang harus dipertimbangkan:
a) Status neurologis
b) Status radiologis
c) Pengukuran tekanan intrakranial


Definisi
suatu tindakan pembuatan lubang pada
tulang kepala yang bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya perdarahan
intrakranial, sebelum tindakan definitif
kraniotomi dilakukan.

Definisi
adalah membuat lubang di beberapa bagian
kranium untuk mengeluarkan bekuan darah di
bawah kranium dimana fasilitas CT scan tidak
tersedia.

Burr hole eksploratif ditempatkan di bagian
pupil yang midriasis, apabila tidak ada
midriasis, burr hole pertama diletakkan di
lokasi fraktur kranium.
Natarajan dkk.,
dari 110 pasien cedera kepala berat dan
dilakukan burr hole eksplorasi, 61 pasien
dinyatakan burr eksplorasi positif sementara 49
pasien dinyatakan negatif. Hasil penelusuran
post mortem ditemukan hanya sedikit bekuan
darah yang tersisa.

Penelitian tersebut mengindikasikan burr hole
eksplorasi diagnostik merupakan metode yang
sensitif untuk mendeteksi masa intrakranial di
tempat-tempat dimana fasilitas CT scan tidak
tersedia
Burr hole eksploratif belum dikatakan negatif
sebelum seluruh sisi kepala di borr. Apabila
dipastikan eksplorasi negatif di satu sisi, maka
burr-hole dilakukan di sisi kontralateral.

setelah eksplorasi dari kedua hemisfer
dinyatakan negatif, pasien diletakkan dalam
posisi telungkup dan 2 burr hole tambahan
dilakukan di tulang oksipital.
Eksplorasi sisi pupil yang berdilatasi
Hemiparesis atau hemiplegia mengindikasikan
kompresi kontralateral
Hematoma biasanya merembes ke kulit kepala,
hal ini disebabkan derah yang mengalir
melalui celah-celah fraktur ke dalam jaringan
lunak.


Indikasi Burr hole eksplorasi dilakukan bila
pemeriksaan CT Scan tidak memungkinkan dan
didapat:
Dilatasi pupil ipsilateral
Hemiparese kontralateral
Lucid interval/penurunan GCS tiba-tiba
Mengetahui ada tidaknya perdarahan
intrakranial
Mengurangi tekanan intrakranial
Mengetahui ukuran serta posisi letak
perdarahan sebelum tindakan definitif
kraniotomi dilakukan.

1. Resiko yang berkaitan dengan tindakan
operasi:
- Kulit kepala robek pada saat pemakaian klem
- Terjadi kerusakan jaringan otak akibat
paparan operasi
2. Resiko umum
- Koma
- Infeksi
- Kejang
- perdarahan


3. Resiko terkait tindakan anastesi:
- Trombosis tungkai
- Serangan jantung
- Efek samping obat bius
- Reaksi alergi terhadap obat bius
- Reaksi transfusi darah

Inform concern.
Cegah hipotensi, hipoksia.
Periksa CT scan, foto skedel, foto thoraks dan
servikal.
Dua jalur infus line menggunakan blood set.
Periksa analisis gas darah, elektrolit dan darah rutin
serta cross match
Pasang kateter
Antibiotik profilaksis sebelum operasi dimulai.
ETT yang adekuat.
lindungi kedua mata dari cairan, udara kering dan
tekanan.

Tentukan areanya : di sisi pupil yang dilatasi,
kontralateral hemiparese.
Burr hole I : di temporal walaupun frakturnya di lokasi
yang berbeda. Bila positif lanjutkan dengan kraniotomi.
Bila berhasil lakukan langkah burr hole selanjutnya.
Burr hole II : di frontal
Burr hole III : di parietal, bila berhasil dilakukan disisi
sebaliknya.
Ada yang menambahkan burr hole IV di fossa posterior
Insisi linier dan bila perlu dilanjutkan dengan bentuk
tanda tapal kuda
Bila duramater tampak tegang dan kebiruan tapi
pembekuan darah (clotting) belum ditemukan sebaiknya
dilakukan lebih dahulu burr hole bilateral baru
mengintip duramater karena sering subdural tersebut
hanya tipis.

Cukur dan posisikan tengkorak, daerah temporal
terletak di atas antara telinga dan batas eksternal
orbital, di sisi yang dicurigai terjadinya fraktur.
Suntikkan anestesi lokal ke kulit kepala, dan membuat
sayatan 3 cm melalui kulit dan fasia temporal.
Pisahkan otot temporalis dan insisi periosteum.
Kontrol perdarahan dengan retraktor atau kauter
listrik. Epinefrin pada anestesi lokal juga akan
membantu mengontrol perdarahan superfisial.
Buat burr hole dengan ukuran 2 cm di atas dan di balik
jalur orbital tulang frontal. Menggunakan bor, mulai
membuat lubang melalui lapisan luar dan dalam
tengkorak. Gunakan sedikit tekanan saat memotong
lapisan dalam untuk menghindari penetrasi tembus ke
otak. Berganti ke burr hole kerucut atau silindris untuk
berhati-hati dalam memperbesar pembukaan.

Bila perlu perbesar pembukaan dengan ronguer:
Kontrol pendarahan dari cabang anterior dari arteri
meningeal medial menggunakan kauter atau ligasi
Kontrol perdarahan vena dengan sepotong otot
dihancurkan atau spons gelatin
Kontrol perdarahan dengan bone wax
Cuci hematoma ekstradural dengan jarum suntik. Jika
hematoma ekstradural tidak ditemukan , cari
hematoma subdural . Jika ada, mempertimbangkan
membuka dura untuk melepaskannya atau menutup
secara situasional untuk perawatan di rumah sakit
rujukan. Jika tidak ada hematoma ditemukan.