Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar
penduduknya hidup dari usaha pertanian. Diversifikasi tanaman padi dan
tanaman pangan lainnya sangat membantu pemerintah dalam mendukung
pembangunan pertanian. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya protein hewani bagi tubuh disertai perbaikan sosial ekonomi
masyarakat menyebabkan permintaan bahan pangan yang berasal dari
ternak makin meningkat, sehingga menuntut peningkatan produksi di bidang
peternakan.
Salah satu masalah pokok yang dihadapi dalam usaha
pengembangan peternakan adalah persoalan makanan ternak terutama yang
berupa hijauan. Pakan hijauan adalah bahan pakan dalam bentuk daun-daun
yang bercampur dengan batang, ranting, maupun bunga. Menurut jenisnya
digolongkan dalam bentuk rumput-rumputan (graminae) dan kacang-
kacangan (leguminosa), sedangkan menurut cara pemberiannya digolongkan
menjadi hijauan potongan dan padang penggembalaan.
Kondisi kekurangan pakan hijauan sering cenderung meningkatkan
jumlah pemberian pakan konsentrat yang secara ekonomis kurang
menguntungkan karena meningkatkan biaya pakan. Di daerah tropis usaha-
usaha pertanian sangat menentukan berhasil tidaknya usaha peternakan,
terutama dalam penyediaan tanaman bahan pangan cukup dan kualitas
tinggi.
Tujuan dari praktikum pengukuran produktivitas adalah untuk
mengukur produksi pasture dan untuk mengetahui komposisi botani,
identifikasi rumput dan legum yang berguna bagi makanan ternak.
Penanaman bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap
pertumbuhan tanaman dan produksi tanaman. Praktikum silase dan hay
2

adalah untuk mengetahui cara pembuatan silase dan hay serta faktor yang
berpengaruh terhadap keduanya. Pemupukan untuk mengetahui pengaruh
pemupukan terhadap pertumbuhan tanaman. Traktor untuk memahami
pengoperasian alat tersebut.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pastura
Pastura atau lapangan pengembalaan berperan penting dalam bidang
peternakan, baik dalam lingkup peternak kecil maupun yang telah besar.
Lapangan pengembalaan sendiri sering dimanfaatkan oleh peternak sebagai
sumber pakan ternak mereka, sehingga lama kelamaan rumput di lapangan
akan berkurang jumlahnya. Syarat padang penggembalaan yang baik adalah
produksi hijauan tinggi dan kualitasnya baik, persistensi biasa ditanam
dengan tanaman yang lain yang mudah dikembangbiakkan. Pasture
sampling bertujuan untuk mengukur produksi pasture dan untuk mengetahui
komposisi botani dari padang penggembalaan. Padang penggembalaan yang
baik mempunyai komposisi botani 50% rumput dan 50% legume. Biasanya
kadar air dan bahan keringnya 20 sampai 30% (Reksohadiprodjo, 1985).
Metode yang digunakan dalam pengamatan pasture yaitu metode
Nested Frequency berguna untuk pengambilan sampel suatu kumpulan di
mana banyak spesies yang sedang dipantau karena penggunaan satu petak
ukuran biasanya tidak cukup untuk mengumpulkan data frekuensi pada
semua spesies penting dalam kumpulan tersebut. Dengan kata lain, ukuran
petak yang sesuai untuk satu spesies mungkin tidak sesuai untuk spesies
lain. Untuk mengukur suatu spesies tunggal mungkin lebih efisien untuk
menggunakan ukuran kuadrat tunggal yang dirancang khusus untuk density
dan distribusi spesies itu. Namun, desain Nested Frequency yang digunakan
untuk target spesies tunggal dapat bermanfaat ketika berhadapan dengan
spesies yang perubahan frekuensi secara dramatis dari tahun ke tahun yaitu,
annual atau short-lived perennial (Colson dan Karl, 2011).

4

Produksi Hjauan Makanan Ternak
Produksi tanaman merupakan hasil biomass tanaman rumput pakan.
Pertambahan biomass dipengaruhi oleh faktor tumbuh tanaman berupa
ketersediaan air, hara serta sinar matahari. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa jenis rumput dan perlakuan salinitas menunjukkan pengaruh nyata
terhadap produksi hijauan segar, demikian pula interaksi antara keduanya
(Purbajanti, et al.,2007).
Saat ini diakui disemua belahan dunia bahwa sistem yang paling
ekonomis dari pemeliharaan ternak adalah melalui pemanfaatan maksimum
dari bahan tanaman yang tersedia, terutama padang rumput atau penutup
rumput. Sistem alternatif untuk membesarkan hewan di feed berkonsentrasi
tidak hanya mahal akan tetapi juga cenderung tidak perlu strain sumber daya
yang sudah sedikit biji-bijian yang diperlukan untuk memberi makan populasi
manusia. Daya dukung ternak di daerah manapun harus mempertimbangkan
dalam konteks ini, oleh karena itu, tergantung pada banyak faktor, termasuk
jenis tanah yang tersedia; vegetasi, ekologi wilayah; jenis dan persyaratan
produksi ternak; dan kemungkinan memperkenalkan teknologi baru untuk
membesarkan di daerah tersebut (Antenna, 2011).
Suatu hasil penelitian diketahui bahwa produksi bahan kering tertinggi
adalah rumput benggala 0 mM NaCl yang tidak berbeda nyata dengan
rumput raja 0 mM NaCl dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya,
masing-masing 199,44 , 185,19 g/pot. Produksi bahan kering hijauan rumput
terendah adalah rumput gajah pada salinitas 300 mM NaCl yaitu sebesar
25,3 g/pot. Bila dilihat dari masing-masing rumput dapat diketahui bahwa
semakin tinggi salinitas yang diberikan maka akan menurunkan produksi
bahan kering tanaman (Purbajanti, et al., 2007).
Rumput gajah mempunyai produksi bahan kering yang lebih tinggi
dibanding rumput kolonjono pada semua macam pemupukan yang sama.
Baik pada jenis rumput gajah maupun rumput kolonjono menunjukkan
5

bahwa, perlakuan pupuk organik (T3) menghasilkan produksi bahan kering
yang nyata (P<0,05) lebih tinggi dibanding tanpa pemupukan (T0)
dan pemupukan 30 kg N ha-1 (T1), tetapi tidak berbeda nyata dibanding
pemupukan 60 kg N ha-1 (T2). Rumput gajah mempunyai nisbah daun
batang yang lebih tinggi dibanding rumput kolonjono pada semua macam
pemupukan yang sama. Baik pada jenis rumput gajah maupun rumput
kolonjono menunjukkan bahwa, perlakuan pupuk organik (T3) menghasilkan
Nisbah Daun Batang yang lebih tinggi dibanding tanpa pemupukan (T0),
pemupukan 30 kg N ha-1 (T1), dan pemupukan 60 kg N ha-1(T3)
(Sumarsono,et al.,2006).
Satu hewan Unit (AU) membutuhkan 780 (355 kg) bahan kering
hijauan per bulan yang dikenal sebagai satuan bulan hewan (AUM). Selama
periode empat bulan merumput, yang total 3.120 (1.429 kg). Sebuah
kawanan hewan 30 unit selama periode empat-bulan yang sama akan
membutuhkan 93.600 (4.212 kg) atau hampir 47 ton (21,15 ton) pakan.
Produsen harus menentukan apakah padang rumput tertentu dapat
memberikan yang hijauan banyak (Anonim, 2011).
Hewan satuan bulan (AUM), tingkat ketersediaan dan carrying
capacity adalah salah satu kunci untuk operasi ternak yang sukses dengan
penggunaan yang tepat dari padang rumput, baik rangeland asli atau hijauan
jinak. Untuk benar mengelola lahan tersebut, produser harus terbiasa dengan
jumlah hijauan benda kering padang rumput dapat menghasilkan dan jumlah
pakan yang dibutuhkan selama musim merumput oleh masing-masing hewan
dan ternak secara keseluruhan (Anonim, 2011).
Minimal Sampling Area
Minimal Sampling Area merupakan area terkecil dimana komposisi
spesies dalam suatu komunitas cukup terwakili yang memberi indikasi berapa
luas area yang seharusnya digunakan. Minimal sampling area diharapkan
telah berisi semua jenis species yang ada didalam suatu komunitas,
6

sehingga area tersebut dapat mewakili komposisi spesies dari komunitas
tersebut. Minimal sampling area bermanfaat untuk mengetahui luas sampel
yang diperlukan dalam sampling dan dapat dijadikan sebagai indikasi berapa
luas lahan yang dibutuhkan atau seharusnya digunakan. Minimal sampling
area dibuat untuk mengetahui komposisi spesies suatu botani dengan
metode pengukuran sederhana, dimana dibuat suatu luasan lahan dan
dihitung komposisinya (Anonim, 2007).
Adapun tujuan sampling yaitu menentukan informasi seperti tingkat
keakuratan target ,kekuatan, perubahan tingkat kesalahan yang diterima, dan
besarnya perubahan yang diharapkan untuk mendeteksi. Tidak seperti tujuan
manajemen, yang menetapkan tujuan spesifik untuk mencapai beberapa
kondisi ekologi atau mengubah nilai, tujuan pengambilan sampel menetapkan
tujuan spesifik untuk pengukuran nilai tersebut (Elzinga et al., 2004).
Metode yang digunakan dalam pengukuran Minimal Sampling Area
yaitu metode relev atau "sampel berdiri", yaitu mengembangkan konsep
tentang jenis komunitas tertentu yang diulang di habitat yang sama dan
kemudian memilih beberapa perwakilan dari kumpulan tanaman tersebut.
Nama kumpulan didasarkan pada komposisi spesies yang paling melimpah
(misalnya"Larrea scrub"). Dudukan yang paling mewakili vegetasi masyarakat
dan profil tanah dipilih. Data dari serangkaian petak bersarang diplot pada
kurva spesies vs area untuk menentukan daerah terkecil di mana kumpulan
spesies terwakili secara memadai (minimal area) (Fidelibus dan McAller,
1993).
Penanaman
Penanaman tanaman jagung dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu
multikultur dan monokultur. Multikultur adalah penanaman lahan dengan
banyak tanama yang berbeda-beda secara bersama-sama dalam waktu yang
sama. Misalnya dalam satu waktu lahan ditanami jagung, ketela pohon, dan
kacang tanah. Cara ini sering juga disebut denga istilah tumpang sari, yang
7

mempunyai tujuan agar kesuburan tanah tetap terjaga, yaitu denga menjaga
keseimbangan persediaan unsur-unsur yang ada dalam tanah (Rochani,
2000).
Monokultur adalah menanami lahan hanya denga satu jenis tanaman
secara berselang-selin, atau bergantian. Misalnya sekarang jagung, tahap
yang kedua padi atau sebaliknya. Penanaman dengan cara ini sering disebut
dengan istilah rotasi tanaman. Rotasi tanaman pada dasarnya memiliki tujuan
yang hampir samam denga tumpang sari, hanya saja waktu pananaman
yang berbeda maka pengambilan unsur yang ada dalam tanah juga
betgantian. Tapi denga cara bergatian pula unsur itu akan berkurang,
sehingga diharapkan denga penanaman yang bergantian, keseimbangan
jumlah unsur-unsur dalam tanah juga tetap terjaga (Rochani, 2000).
Pemupukan
Penanaman yang baik harus diberi pupuk sehingga tanaman menjadi
subur karena bertambahnya unsur hara tanah. Pupuk digolongkan menjadi
dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk
yan terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses
pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya dalah pupuk
kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman,
dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai
kandungan unsur hara lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut
rendah. Sesuai dengan namanya, kandungan bahan organik ini termasuk
tinggi. Pupuk anorganik atau puuk buatan adalah jenis pupuk ynag dibuat
oleh pabrik dengan cara meramu berbagai macam bahan kimia sehingga
memiliki presentase kandungan hara yang tinggi. Comtoh pupuk anorganik
adalah urea, TSP dan Gandasil (Novizan, 2002).
Manfaat pupuk organik cukup banyak seperti menjaga kesuburan tanah,
menyediakan unsur hara secara bertahap, menambah daya serap tanah
terhadap air sehingga kelembaban tetap terjaga, serta membantu penguraian
8

bahan organik sehingga hasil perombakan nutrisi dapat diserap oleh
tanaman setiap saat. Keuntungan pemberian pupuk kimia (anorganik) antara
lain cara pemberiannya mudah, ringan dan praktis sehingga mudah diangkut,
mudah larut dalam ait sehingga cepat terserap akar, serta dosis dan takaran
pemupukan mudah diketahui sesuai umur tanaman sehingga
penggunaannya mudah dan efektif (Parimin, 2008).
Jenis unsur hara yang dikandung pupuk tidak tidak dinyatakan dalam
unsur tunggal tetapi dunyatakan dalam presentase total N (total ammonium
dan nitrat), P
2
O
5
, dan K
2
O. sebagai contoh, pupuk urea mengandung 45% N,
berarti dalam 100 kg pupuk urea terdapat 45 kg N total. Pupuk NPK BASF
dengan analisis 15.15.15 menunjukkan pupuk tersebut mengandung 15% N
total, 15% P
2
O, dam 15% K
2
O (Novizan, 2002).
Unsur hara yang terkandung dalam pupuk akan membuat tanaman
jagung dapat tumbuh dengan maksimal. Jagung tidak hanya dikonsumsi
oleh manusia tapi juga untuk konsumsi ternak sebagai penguat selain hijauan
dan macam-macam umbi-umbian. Penguat ini dibutuhkan pada saat ternak
bunting, menyusui juga pada saat masa pertumbuhan (Rochani, 2000).
Silase
Silase hijauan adalah forase segar yang berasal dari rumput ataupun
legum yang sengaja disimpan pada suatu tempat yang kedap udara sehingga
mengalami proses fermentasi secara anaerobik. Proses fermentasinya
dikontrol oleh adanya asam organik terutama asam laktat sebagai hasil
aktivitas bakteri yang tumbuh disitu. Bakteri anaerob berkembang dengan
menggunakan energi dari karbohidrat mudah larut (ekstrak tanpa nitrogen)
yang berupa gula dan pati yang selanjutnya menghasilkan asam laktat
sebagai hasil utama dan sedikit asam format, asam propionat dan asam
butirat (Kamal, 1998). Pada dasarnya, pembuatan silase yaitu mempercepat
keadaan hampa udara (anaerob) ditempat penyimpanan dan membuat
suasana asam. Dalam keadaan hampa udara dan suasana asam yang
9

optimal bakteri pembusuk dan jamur berhenti bekerja atau mati sehingga
hijauan makanan ternak yang diawetkan dapat tahan lama (Siregar et al.,
1991).
Ensilase merupakan metode pengawetan hijauan pakan ternak melalui
fermentasi secara anaerob. Silase berkualitas baik akan dihasilkan ketika
fermentasi didominasi oleh bakteri yang menghasilkan asam laktat,
sedangkan aktivitas bakteri clostridia rendah (Santoso et al., 2009). Gula
dengan konsentrasi tinggi dalam hijauan sangat diperlukan untuk
menghasilkan silase berkualitas baik karena glukosa, fruktosa dan sukrosa
digunakan sebagai substrat BAL. Namun demikian kebanyakan rumput di
daerah tropika mengandung gula dan karbohidrat mudah larut air dengan
konsentrasi yang rendah, sehingga sulit untuk memperoleh silase yang
berkualitas baik (McDonald et al., 1991).
Proses ensilase pada dasarnya serupa dengan proses fermentasi
dalam rumen (anaerob), bedanya adalah bahwa dalam silase hanya
sekelompok bakteri yang aktif dalam proses, sedangkan dalam rumen, lebih
beraneka ragam. Mikroorganisme yang terlibat dalam proses fermentasi
mendapat energinya dari substrat. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa
mikroorganisme tidak akan banyak memperoleh lagi substrat yang
dibutuhkan bila silase tersebut diberikan kepada ruminan (hampir semua
substrat sudah terlebih dahulu difermentasi dalam silo). Bakteri aerob bila
banyak didapatkan dalam proses ensilase akan banyak mendegradasi
substrat (Parakkasi, 1995).
Tujuan pembuatan silase adalah tidak semata-mata untuk pengawetan
forase masih dalam keadaan segar, tetapi salah satu tujuan yang lain adalah
untuk kontinyuitas penyediaan pakan setiap hari tanpa tergantung pada
ketersediaan forase di lahan pada saat itu (Kamal,1998). Menurut Siregar et
al. (1991), tujuan pembuatan silase adalah sebagai persediaan makanan
yang dapat digunakan pada saat-saat kekurangan hijauan makanan ternak,
10

menampung kelebihan hasil hijauan makanan ternak, memanfaatkan hijauan
pada saat pertumbuhan terbaik, yang pada saat itu belum akan digunakan
secara langsung, mendayagunakan hasil limbah pertanian maupun hasil
ikutan pertanian.
Rumput raja (Pennisetum purpuphoides)
Rumput raja (Pennisetum purpuphoides) merupakan rumput tropika
yang mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi
lingkungan serta tahan terhadap kekeringan dan lindungan. Rumput tersebut
mempunyai produksi tinggi, palatabel dan pertumbuhannya cepat, sehingga
baik dibuat silase (Mcllroy, 1976 cit. Santoso et al., 2009). Menurut Santoso
et al. (2009), penambahan inokulan BAL pada rumput tersebut diharapkan
dapat meningkatkan kualitas silase yang dihasilkan. Komposisi kimia silase
rumput raja tanpa bahan tambahan adalah bahan kering (16,0), bahan
organik (88,7), protein kasar (8,8), NDF (71,4), dan ADF (46,8).
Faktor yang mempengaruhi kualitas silase
Kualitas dan nilai nutrisi silase dipengaruhi sejumlah faktor, seperti
spesies tanaman yang dibuat silase, fase pertumbuhan dan kandungan
bahan kering saat panen, mikroorganisme yang terlibat dalam proses dan
penggunaan bahan tambahan (additive). Silase dapat dibuat dari berbagai
jenis tanaman seperti rumput, legum, sereal dan hasil ikutan tananam
lainnya. Bahan yang baik dijadikan silase harus mempunyai substrat mudah
terfermentasi dalam bentuk WSC (Water soluble carbohydrate) yang cukup,
buffering capacity yang relatif rendah dan kandungan bahan kering di atas
200 g kg
-1
. Aditif silase dapat dibagi menjadi 3 kategori umum yaitu a)
stimulan fermentasi, seperti inokulan bakteri dan enzim; b) inhibitor
fermentasi seperti asam propionat, asam format dan asam sulfat; dan c)
substrat seperti molases, urea dan ammonia (Santoso et al., 2009).

11

Manfaat silase
Menurut Santoso et al. (2009), manfaat silase yaitu diantaranya
sebagai persediaan makanan ternak pada musim kemarau, menampung
kelebihan hijauan makanan ternak pada musim hujan dan memanfaatkan
secara optimal serta mendayagunakan hasil ikutan dari limbah pertanian dan
perkebunan. Menurut Luthan (2010), bahan yang telah diawetkan pada
umumnya dipergunakan pada saat ketersediaan pakan hijauan di lapang
telah habis, tidak tersedia, pada saat ternak dalam perjalanan/transportasi
ataupun sebagai komoditi untuk dapat diperdagangkan.
Pembuatan silase dimaksudkan untuk mempertahankan kualitas atau
bahkan meningkatkan kualitas hijauan makanan ternak. Hal ini sangat
penting karena produktivitas ternak merupakan fungsi dari ketersediaan
pakan dan kualitas (Leng, 1991).
Uji Perkecambahan (Uji Tetrazolium)
Viabilitas benih adalah kemampuan benih untuk berkecambah yang
dapat diindikasikan oleh berbagai tolok ukur. Ada dua macam cara pengujian
viabilitas benih yaitu uji langsung atau uji perkecambahan dan uji tidak
langsung, yaitu tanpa harus mengecambahkan benih-benih tersebut antara
lain dengan uji Tetrazolium (Sudjoko, 1991 cit. Hutahaean, 2008). Uji
tetrazolium cocok dilakukan terutama pada lot benih yang
perkecambahannyalama, benih sulit di dipatahkan dormansinya,
perkecambahan rendah danmemastikan sisa benih tidak tumbuh pada akhir
pengujian perkecambahan (Anonim, 2007).
Larutan tetrazolium (2,3,5 triphenyl tetrazolium klorida atau bromida)
digunakansebagai indikator untuk menunjukkan proses biologis yang terjadi
di dalam selhidup. Perlu diketahui bahwa bahan kimia tetrazolium diduga
menyebabkancarcinogenic effects. Oleh karena itu diharapkan agar hati-hati
dalammenggunakan larutan kimia ini (Anonim, 2007).
12

Kelebihan metode tetrazolium meliputi waktu pengujian yang singkat,
sangat tepat diaplikasikan padabenih yang mengalami dormansi serta
benihyang mengalami pemasakan lanjutan (afterripening), tingkat ketelitian
tinggi, sedangkankelemahannya memerlukan keahlian danpelatihan yang
intensif, bersifat laboratoris,tidak dapat mendeteksi kerusakan akibatfungi
atau mikroba lainnya dan bersifatmerusak (Zanzibar, 2006).
13

MATERI DAN METODE

Materi
Pengukuran Produksi Visual
Alat. Alat yang digunakan dalam pengukuran produksi secara visual adalah
kolom sampling (ubinan), sabit dan timbangan.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah beberapa jenis rumput, legum dan
gulma yang ada di KP4.
Minimal Sampling Area (MSA)
Alat. Alat yang digunakan dalam pengukuran minimal sampling area
ini adalah tali rafia dan ubinan 1m
2
.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah beberapa jenis rumput yang
ada di Kebun Penelitian Pengembangan dan Percobaan Pertanian (KP4).
Produksi Lahan
Alat. Alat-alat yang digunakan pada pengukuran produksi lahan
adalah golok atau parang, rafia, meteran, timbangan, koran, straples dan
seperangkat analisis BK.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum pengukuran produksi
lahan adalah rumput Pennicetum purpureum (Rumput gajah).
Penanaman dan pemupukan
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum antara lain cangkul, tali
raffia, cetok, plastik, gelas ukur 2000 ml, dan timbangan.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum antara lain pupuk
kandang, pupuk urea, dan jagung.
Silase
Alat. Alat-alat yang digunakan pada praktikum silase adalah sabit,
toples, isolasi, perekat TBA, gunting, timbangan dan seperangkat uji PH.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum silase adalah rumput
raja (Pennisetum purpuphoides) yang dilayukan.
14

Uji Perkecambahan (Uji Tetrazolium)
Alat. Alat-alat yang digunakan dalam uji tetrazolium adalah
beakerglass, Aliminium foil, kain strimin, tali rafia, jarum, cutter, pinset, pisau
skapel dan cawan petri.
Bahan. Bahan-bahan yang digunakanpada praktikum adalah larutan
tetrazolium, 6 biji kacang tanah, 6 biji kacang kedelai, dan air panas.

Metode
Pengukuran Produksi Visual
Pengukuran produksi secara visual dimulai dengan penafsiran produk
rumput padang penggembalaan fodder. Cara penafsiran yang dilakukan
adalah dengan memperkirakan produksi hijauan per m
2
dengan
menggunakan kolom sampling (ubinan). Sebelumnya telah ditentukan berat
satu ikat rumput yang akan ditafsir. Penafsiran yang dilakukan kemudian
dibandingkan dengan pengukuran sebenarnya.
Minimal Sampling Area (MSA)
Minimal Sampling Area dilakukan dengan menentukan lahan yang
akan diukur, setelah itu lahan yang akan diukur dibatasi seluas 64 m, lalu
lahan tersebut dibagi dua, pembagian terus dilakukan sampai didapatkan
lahan dengan luas 0,25 m. Perlakuan selanjutnya adalah jenis tanaman
yang tumbuh di area tersebut dicari dan dihitung mulai dari petak yang paling
kecil sampai petak yang paling besar. Jenis tumbuhan yang telah dihitung
pada petak sebelumnya tidak dihitung lagi pada petak berikutnya.
Produksi Lahan
Pengukuran produksi lahan dilakukan dengan cara membuat ubinan
dengan rafia yang berukuran 1 x 1 m
2
kemudian hijauan dipotong 25 cm dari
tanah dengan kemiringan 45 menggunakan golok atau parang. Hasil
pengukuran produksi lahan kemudian ditimbang dan dicacah yang kemudian
dimasukkan dalam kantong koran dan dimasukkan ke dalam oven pada suhu
15

55C lalu ditimbang, selanjutnya dilakukan analisis BK. Setelah diketahui BK-
nya kemudian dilakukan perhitungan kemampuan lahan(carrying capacity)
Penanaman dan Pemupukan
Tanah yang sudah dipetak-petak dibuat parit pada bagian tepinya.
Tanah yang digunakan adalah tiga petak. Perlakuan terhadap tanaman
disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Perlakuan tanaman pada saat praktikum
Petak
Jumlah
biji
Berat pupuk Metode pemberian
kandang urea kandang Urea
I 3 1 kg 0 gram
Dicampur 1 kg
tanah
Tidak diberi
II 3 1 kg 22 gram
Dicampur 1 kg
tanah
Dilarutkan 1
liter air
III 3 1 kg 44 gram
Dica
mpur 1 kg
tanah
Dilarutkan 1
liter air
Ketiga petak tersebut kemudian ditaburi dengan pupuk kandang 1 kg
yang telah dicampur dengan 1 kg tanah. Buat 6 lubang pada setiap petak.
Taburkan 3 biji jagung pada setiap petak. Kemudian diberi pupuk urea
dengan perlakuan petak peretama tidak diberi pupuk urea, petak kedua diberi
pupuk urea 22 gram, dan petak ketiga diberi pupuk urea 44 gram. Pemberian
pupuk urea dengan cara melarutkan terlebih dahulu urea kedalam satu
(untuk melarutkan 22 gram urea) dan dua liter air (untuk melarutkan 44 gram
urea).
Silase
Silase dibuat dengan menggunakan bahan hijauan rumput raja
(Pennisetum purpuphoides) yang dilayukan. Bahan yang akan dibuat silase
dipotong kecil-kecil (ukuran kira-kira 5 cm), kemudian dimasukkan ke dalam
botol kaca yang terlebih dahulu ditimbang beratnya. Saat pemasukan bahan
ke dalam botol diusahakan silo dikondisikan anaerob dengan cara bahan
dipadatkan atau ditekan sampai tidak ada tempat bagi udara. Botol diisi
sampai penuh dan ditimbang. Selanjutnya dilakukan pemeraman silase
16

selama 21 hari. Setelah selama 21 hari maka dibuka, diamati dan diukur PH
dan beratnya.
Uji Perkecambahan (Uji Tetrazolium)
Biji kacang tanah dan biji kacang kedelai, masing-masing diambil 6 biji
dan dibungkus dalam kain strimin dan kemudian kain diikat dengan
menggunakan tali rafia. Selanjutnya, kedua jenis biji tersebut dimasukkan ke
dalam beaker glass yang berisi air panas. Biji kacang tanah direndam selama
15 menit, sedangkan biji kacang kedelai direndam selama 30 menit.
Kemudian biji diangkat bersama kain strimin dan diletakkan dalam cawan
petri, lalu biji tersebut ditusuk-tusuk dengan jarum sampai terluka.
Diusahakan jangan sampai biji pecah dan tidak menyentuh tangan secara
langsung. Setelah itu, biji dimasukkan ke dalam beaker glass berisi larutan
tetrazolium yang sudah dilapisi dengan aluminium foil dan di rendam selama
30 menit. Setelah 30 menit, biji diangkat dari rendaman kemudian biji dibelah
dengan pinset untuk dilakukan pengamatan warna biji.





17

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengukuran Produksi Visual
Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan
hasil pengukuran produksi lahan sebagai berikut :
Tabel 2. pengukuran produksi visual ubinan I
Nama
praktikan
Spesies
Rumput Legume Gulma
Berat
taksira
n (g)
Kesalaha
n (%)
Berat
taksiran
(g)
Kesalahan
(%)
Berat
taksiran
(g)
Kesalahan
(%)
Septiarini 10 89,7 - - 25 21,8
Widitya Tri 25 72,8 - - 22 31,25
Miftahul 80 13,0 - - 35 6,25
Eko Puji 60 34,7 - - 25 21,8
Fakriansyah 40 56,5 - - 20 37,5
Berat Sebenarnya 92 gram - gram 32 gram

Tabel 3. pengukuran produksi visual ubinan II
Nama
praktikan
Spesies
Rumput Legume Gulma
Berat
taksiran
(g)
Kesalahan
(%)
Berat
taksiran
(g)
Kesalahan
(%)
Berat
taksiran
(g)
Kesalahan
(%)
Bayu 70 73 - - 35 22
Galy H. 60 76 25 44
Rizky Ancen 77 80 25 60
Arif S. 50 70 33 26
Tri Sunu 75 71 12 73
Berat Sebenarnya 260 gram - gram Gram
Praktikum kali ini, penggunaan metode ubinan dilakukan dengan
melempar ubinan dengan luas 1m
2
secara acak pada pastura. Hijauan yang
ada pada ubinan dipotong kemudian ditimbang. Menurut Brower et al.,
(1990), biasanya perhitungan kepadatan tanaman ini diekspresikan dalam
bentuk perhitungan kepadatan tanaman per unit luasan tanah dan
18

persentase imbangan dari satu spesies dengan total individu dari semua
spesies.
Menurut Reksohadiprodjo (1985), padang penggembalaan alam
didominasi oleh rumput dan sedikit legume tetapi juga terdapat gulma.
Perbandingan rumput dan legum dalam suatu padangan adalah 50%:50%.
Berdasarkan praktikum ini diperoleh hasil pengukuran rata-rata tanaman
pada ubinan I berat taksiran rumput 80 gram, berat sebenarnya 92 gram dan
presentase kesalahan 6,25%, berat taksiran gulma 25 gram, berat
sebenarnya 32 gram dengan presentase kesalahan 21,8%. Hasil pada
Ubinan II, berat taksiran rumput 60 gram, berat sebenarnya 68 gram,
presentase kesalahan 4.41%, berat taksiran legume 10 gram, berat
sebenarnya 14 gram, presentase kesalahan 28.57% dan gulma 0 gram.
Jumlah rumput lebih banyak dibandingkan legume.
Minimal Sampling Area (MSA)
Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan
hasil Minimal Sampling Area (MSA) sebagai berikut :
Tabel 4. Jumlah spesies dalam plot
No. Sub Plot Size (luas) Jumlah spesies Jumlah kumulatif spesies
1 0,25 m
2
2 2
2 0,5 m
2
2 4
3 1 m
2
1 5
4 2 m
2
1 6
5 4 m
2
1 7
6 8 m
2
2 9
7 16 m
2
3 12
8 32 m
2
4 16
9 64 m
2
6 22


19

Berdasarkan hasil pangamatan dapat diketahui bahwa komposisi
spesies suatu botani pada tiap luas berbeda. Hal ini disebabkan daya
adaptasi tanaman terhadap lingkungan dalam hal ini termasuk kondisi tanah
mengalami perbedaan.Praktikum MSA dilakukan di Kebun Penelitian
Pengembangan dan Percobaan Pertanian (KP4), Berbah, Yogyakarta milik
Universitas Gadjah Mada. Jumlah spesies kumulatifnya adalah 22 spesies
yang tumbuh di lahan seluas 64 m
2
.
Menurut Anonimous (2007), Minimal sampling area dibuat untuk
mengetahui komposisi spesies suatu botani dengan metode pengukuran
sederhana, dimana dibuat suatu luasan lahan dan dihitung komposisinya.
Dengan MSA, kita akan tahu luas lahan minimal yang digunakan untuk
sampling. Spesies yang ada dalam area tersebut terdiri dari rumput, gulma,
dan legum.
Produksi Lahan
Produksi hijauan segar dari lahan HMT rata-rata sampling berdasarkan
praktikum yang dilakukan adalah sebesar 4,2 kg/m
2
dengan luas lahan 5000
m
2
. Hasil analisis bahan kering (BK) dari rumput Pennicetum purpureum
adalah KA
total
sebesar 81, 42% dan DM
total
sebesar 18,58%.
Analisis bahan kering yang dilakukan mendapati kualitas hijauan yang
dijadikan sampel sebagai berikut: kadar air total 81,41% sehingga diketahui
bahan keringnya ialah 18,59%. Persentase BK dan kadar air dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain: umur potong, kualitas tanah dan salinitas.
Menurut hasil penelitian, Produksi bahan kering hijauan rumput terendah
adalah rumput gajah pada salinitas 300 mM NaCl yaitu sebesar 25,3 g/pot.
Bila dilihat dari masing-masing rumput dapat diketahui bahwa semakin tinggi
salinitas yang diberikan maka akan menurunkan produksi bahan kering
tanaman (Purbajanti, et al., 2007).
Carrying capasity dari lahan seluas 5000 m
2
menurut perhitungan
Digestible Protein (DP) dapat mencukupi kebutuhan sapi sebanyak 6 ekor
20

dengan berat 300 kg. menurut perhitungan TDN, lahan tersebut mampu
menukupi kebutuhan sapi sebanyak 10 ekor dengan 1 animal unit
disetarakan 350 kg. Carrying capasity dari lahan hijauan seluas 5000 m
2
,
kandungan protein yang tercerna lebih kecil daripada TDN sehingga perlu
adanya suplementasi dari bahan pakan yang mengandung protein tinggi agar
komponen nutriennya seimbang. Digestible protein (DP) dan TDN yang tidak
seimbang akan mempengaruhi proses anabolisme (penyimpanan daging
akan berkurang).
Hewan satuan bulan (AUM), tingkat ketersediaan dan carrying
capacity adalah salah satu kunci untuk operasi ternak yang sukses dengan
penggunaan yang tepat dari padang rumput, baik rangeland asli atau hijauan
jinak. Untuk benar mengelola lahan tersebut, produser harus terbiasa dengan
jumlah hijauan benda kering padang rumput dapat menghasilkan dan jumlah
pakan yang dibutuhkan selama musim merumput oleh masing-masing hewan
dan ternak secara keseluruhan (Anonim, 2011).
Penanaman dan Pemupukan
Sebelum dilakukan penanaman tanah dipersiapkan terlebih dahulu
dengan cara membuat drainase dan pemberian pupuk kandang. Menurut
Park (2001), tanah seharusnya dibajak dua kali pada kedalaman 15 sampai
20 cm. Hal ini juga perlu untuk membuat jalur drainase dengan kedalaman 20
sampai 30 selama musim hujan. Dianjurkan jarak tanam adalah 75x20
sampai 25cm atau 80x10 sampai 20cm dengan satu benih per lubang atau
75x40 sampai 50 cm dengan menyebar dua benih per lubang.
Menurut Purwono dan Rudi (2007), pengairan dilakukan apabila tidak
turun hujan selama 3 hari berturut-turut. Pedoman perlu tidaknya pengairan
dengan cara melihat keadaan tanah dan tanaman. Namun, menjelang
tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih banyak sehingga perlu dialirkan
air parit di antara bumbunan tanaman jagung (lub). Biji yang ditanam pada
21

saat praktikum adalah biji jagung dengan pupuk kandang dan pupuk urea.
Perlakuan penanaman ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 5. Hasil pengamatan perlakuan pemupukan
Petak
Jumlah
biji
Berat pupuk Metode pemberian
kandang urea kandang Urea
I 3 1 kg 0 gram
Dicampur 1 kg
tanah
Tidak diberi
II 3 1 kg 22 gram
Dicampur 1 kg
tanah
Dilarutkan 1
liter air
III 3 1 kg 44 gram
Dicampur 1 kg
tanah
Dilarutkan 2
liter air
Pemberian pupuk urea dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk
urea tepat pada bagian benih jagung dan di sekitarnya. Banyak nutrien pakan
yang ada di ternak dan berakhir menjadi pupuk (pupuk kandang). Lebih dari
70 persen nitrogen, 60 persen fosfor, 80 persen potassium yang ada dalam
pakan sekarang terdapat dalam pupuk untuk kembali ke lahan hijauan dan
lahan lainya. Di samping nutrien tersebut, pupuk terdiri dari begitu banyak
kalsium, magnesium, sulfur, dan sedikit unsur lainya yang dapat
meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang akan meningkatkan
kapasitas pertukaran kation dan peningkatan pH. Semua keuntungan dari
pemupukan ini adalah dapat menurunkan kebutuhan penggunaan pupuk dan
kapur (Murphy, 1998).
Pupuk yang biasanya direkomendasikan adalah 300 sampai 350 kg
urea per hektar ditambah dengan SP-36 (super pospat 36%) ditambah
dengan KCl (potassium chloride) per hektar. Sepertiga dari total jumlah
pupuk nitrogen yang diberikan pada saat penanaman dan dua per tiga 1
bulan setelah penanaman. Seluruh dosis pupuk SP-36 dan KCL diberikan
selama penanaman. Daerah yang pencahayaannya baik dan tingkat curah
hujannya tinggi, pemberian nitrogen dapat dilakukan dengan tiga tahap yaitu
pada saat penanaman, pada hari ke 30 dan 40 hari setelah penanaman
(Park, 2001). Pupuk urea cair yang diberikan adalah 0 g pada petak I, 22 g
22

pada petak II, dan 44 gram pada petak III. Hasil pengukuran tanaman jagung
disajikan dalam tabel 2 sebagai berikut.
Tabel 6. Hasil pengukuran penanaman tanaman jagung
Perlakuan
Tinggi tanaman Tinggi tanaman
Keterangan
1 2 3 4 1 2 3 4
Urea 0g 12 24 60 85 3 5 5 9
Urea 22g 14 31 61 98 4 7 8 9
Urea 44g 15 32 72 103 6 7 7 8
Berdasarkan hasil praktikum tinggi tanaman pada perlakuan I yaitu
tidak diberi pupuk urea adalah minggu pertama 12 cm dengan jumlah daun 3
helai, minggu ke II 24 cm dengan jumlah daun 5 helai, minggu III 60 cm
dengan jumlah daun 5 helai, dan minggu IV 85 cm dengan jumlah daun 9
helai. Perlakuan II yaitu dengan pemberian pupuk urea 22 g adalah minggu
pertama 14 cm dengan jumlah daun 4 helai, minggu ke II 31 cm dengan
jumlah daun 7 helai, minggu III 61 cm dengan jumlah daun 8 helai, dan
minggu IV 103 cm dengan jumlah daun 8 helai.
Pemberian pupuk urea dan pupuk kandang berbanding lurus dengan
pertambahan tinggi tanaman. Semakin banyak jumlah pupuk yang diberikan
semakin bertambah cepat tinggi tanaman begitu pula dengan jumlah
daunnya. Semakin banyak jumlah pupuk yang diberikan semakin banyak
jumlah daun yang terbentuk. Menurut Sunarya dan Agus (2007), dalam air,
urea bersifat netral dan mudah larut. Urea dikonsumsi oleh tanaman tidak
langsung, tetapi harus diubah dahulu menjadi senyawa nitrat oleh baktei
tanah. Pupuk ZA dapat dihasilkan langsung oleh tanaman. Akan tetapi
kendalanya dalam air, pupuk ZA bersifat asam sehingga tanah menjadi
asam. Oleh karena itu pupuk ZA kurang tepst dipakai sebagai pupuk dasar,
kecuali dicampur dengan kapur agar tanah menjadi netral.
Pemupukan dilakukan sebagai penambah unsur hara yang ada di
dalam tanah. Dosis pupuk yang diberikan sangat bergantung pada kesuburan
tanah dan varietas jagung yang ditanam. Dosis anjuran pemupukan rata-rata
23

pemupukan per hektar yaitu 200 sampai 300 kg urea, 100 sampai 200 kg SP-
36, dan 50 sampai 100 kg KCL. Dosis yang dianjurkan untuk varietas hibrida
yaitu 300 kg urea, 200 kg Sp-36, dan 100 kg KCl. Dosis per hektar yang
dianjurakan untuk varietas bersari bebas yaitu 200 kg urea, 150 kg SP-36,
dan 100 kg KCL (Purwono dan Rudi, 2007). Berdasarkan hasil praktikum
pemberian pupuk urea untuk perlakuan I adalah 0 kg per hektar, perlakuan II
100 kg per hektar, dan perlakuan III 200 kg per hektar.
Penggembalaan sapi perah setelah pemberian pupuk cair membuat
grazing tidak lebih dekat dengan tanah daripada sebelumnya, tetapi grazing
lebih seragam. Keuntungan lain dari pupuk cair terlihat dalam pengendalian
gulma Canada (Cirsium arvense). Mungkin dikarenakan dari asam yang
terkandung pada pupuk, gulma ditutup oleh pupuk cair sehingga kering, mati
dan hilang (Murphy, 1998).
Silase
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada acara silase,
diketahui terdapat dua macam perlakuan yang dilakukan sebelum membuat
silase yaitu rumput segar yang dibuat silase secara langsung (tanpa
dilayukan) dan rumput yang dilayukan terlebih dahulu kemudian baru dibuat
silase. Bahan yang digunakan adalah rumput raja (pennisetum
purpuphoides). Silase hasil proses ensilase selama 21 hari telah mengalami
perubahan baik pada tekstur luar yang meliputi warna, tekstur, bau, rasa
maupun PH nya. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan hasil ensilase
rumput raja (pennisetum purpuphoides) kelompok 1 (tanpa dilayukan) dan
kelompok 20 (rumput dilayukan) :

24

Tabel 7. Berat sebelum dan setelah proses silase
Parameter Dilayukan Tanpa dilayukan
Berat toples (g) 1138 1121
Berat toples + hijauan awal (g) 1855 2011
Berat toples + hijauan akhir (g) 1850 1992
Berat hijauan awal (g) 717 890
Berat hijauan akhir (g) 712 871
PH awal 7 7
PH akhir 5 5

Tabel 8. Uji fisik sebelum dan setelah proses silase
Parameter Dilayukan Tanpa dilayukan
Warna awal Hijau kekuningan Hijau
Warna akhir Hijau kecoklatan Hijau kecoklatan
Tekstur awal Keras, kaku Kasar
Tekstur akhir Jelas &Lembut Jelas & Kasar
Bau dan rasa awal Hijauan segar Hijauan segar
Bau dan rasa akhir Asam segar Asam segar
Perubahan PH pada rumput yang dilayukan dan tanpa dilayukan
mengalami penurunan dari 7 menjadi 5. Menurut Henderson (1993), tingkat
keasaman silase sangat penting untuk diperhatikan karena merupakan
penilaian yang utama terhadap keberhasilan pembuatan silase. Kondisi asam
akan menghindarkan hijauan dari pembusukan oleh mikrobia perusak atau
pembusuk.. Siregar (1996) mengkategorikan kualitas silase berdasarkan PH
nya yaitu 3,5 - 4,2 baik sekali, 4,2 - 4,5 baik, 4,5 4,8 sedang dan lebih dari
4,8 adalah jelek. Berdasarkan literatur tersebut dapat diketahui bahwa hasil
PH pada saat praktikum memiliki penilaian yang jelek. Menurut Seglar (2003),
asam laktat adalah asam yang paling kuat diantara semua asam yang
dihasilkan selama ensilase, sehingga lebih efektif dalam menurunkan pH
dibandingkan VFA.
25

Berdasarkan praktikum yang dilakukan, perlakuan rumput segar dan
perlakuan yang dilayukan menghasilkan warna akhir hijau kecoklatan.
Menurut Siregar (1996), secara umum silase yang baik mempunyai ciri-ciri
yaitu warna masih hijau atau kecoklatan. Perubahan warna yang terjadi pada
tanaman yang mengalami proses ensilase disebabkan oleh perubahan-
perubahan yang terjadi dalam tanaman karena proses respirasi aerobik yang
berlangsung selama persediaan oksigen masih ada, sampai gula tanaman
habis. Gula akan teroksidasi menjadi CO2 dan air, dan terjadi panas hingga
temperatur naik. Bila temperatur tak dapat terkendali, silase akan berwarna
coklat tua sampai hitam. Hal ini menyebabkan turunnya nilai makanan,
karena banyak sumber karbohidrat yang hilang dan kecernaan protein turun,
yaitu pada temperatur 55
o
C. Selanjutnya dijelaskan bahwa, warna coklat
pada silase disebabkan karena adanya pigment phatophytin suatu derivat
chlorophil yang tak ada magnesiumnya. Pada silase yang baik dengan
temperatur yang naik tak terlalu tinggi kadar carotene tak berubah seperti
bahan asalnya. Caroten hilang pada temperatur terlalu tinggi.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, perlakuan rumput segar dan
perlakuan yang dilayukan menghasilkan bau asam segar. Menurut Siregar
Siregar (1996) bahwa, secara umum silase yang baik mempunyai ciri-ciri
yaitu rasa dan bau asam, tetapi segar dan enak. Hasil praktikum sesuai
dengan literatur.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, perlakuan rumput segar dan
perlakuan yang dilayukan menghasilkan tekstur jelas. Menurut Siregar
(1996), secara umum silase yang baik mempunyai ciri-ciri yaitu tekstur masih
jelas seperti alaminya. Hasil praktikum sesuai dengan literatur.
Menurut (Pinheiro, 1986 cit. Ridwan et al., 2005) Hasil silase rumput
gajah segar tanpa pelayuan dengan 2,17% WSC dan dari rumput umur 50
hari yang dilayukan dengan 3 % :

26

Tabel 9. Hasil silase rumput segar dan dilayukan
Parameter Segar Dilayukan
N ammonia (%) 9,4 14,8
PH 4,4 4,5
Total asam dari % BK (%) 5,9 5,1
Asam butirat (%) 2,4 4,1
Asam laktat (%) 66,6 41,7
Hasil PH akhir pada praktikum yaitu 5. Hal ini tidak sesuai dengan
hasil yang terdapat pada literatur.
Uji Perkecambahan (Uji Tetrazolium)
Pengamatan warna biji yang dilakukan pada saat praktikum, diperoleh
hasil sebagai berikut :
Tabel 10. Hasil uji tetrazolium
No
Warna yang timbul
Kacang tanah Kacang kedelai
1 Putih Putih
2 Putih Merah Muda
3 Putih Merah Muda
4 Putih Merah Muda
5 Putih Merah Muda
6 Putih Putih
Keterangan:
Merah cerah = hidup Merah Muda = Lemah
Merah Tua = rusak Putih = mati

Hasil pengamatan terhadap warna biji kacang tanah dan kacang
kedelai yang dilakukan pada saatpraktikum,menunjukan bahwa keenam biji
kacang tanah yang di uji tetrazolium, semuanya berwarna putih. Hal ini
menunjukan bahwa, keenam biji kacang tanah tersebut telah mati atau tidak
dapat mengalami pertumbuhan. Sedangkan pada biji kacang kedelai,
diketahui dua biji yang berwarna putih dan empat biji yang berwarna merah
muda. Hal ini menunjukkan bahwa, dua dari enam biji kacang kedelai telah
mati dan empat biji lainnya memiliki daya perkecambahan atau viabilitas yang
lemah.
27

Prinsip metode tetrazolium adalah bahwa setiap sel hidup akan
berwarna merah oleh reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan
membentuk endapan formazan merah, sedangkan sel-sel mati akan
berwarna putih. Enzim yang mendorong terjadinya proses ini adalah
dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi (Byrd, 1988 cit Zanzibar,
2006).
N N C
6
H
5
N NH C
6
H
5

+2e
+
2H
+

C
6
H
5
C C
6
H
5
C + H
+
Cl
-

N = N+ - C
6
H
5
N= N C
6
H
5

Cl


2,3,5 triphenyl tetrazolium chloride formazan (merah)
(tanpa warna)
Reaksi kimia perubahan larutan tetrazolium menjadi formazan (Hutahean,
2008).
Tetrazolium di dalam benih, berinteraksi dengan jaringan sel hidup dan
menyerap hidrogen. Hasil reaksi dengan hidrogen menyebabkan perubahan
warna, darijernih menjadi merah. Karena itu, uji tetrazolium memungkinkan
kita untuk membedakan antara jaringan hidup yang berwarna merah dengan
jaringan mati yang tidak berwarna. Selain benih hidup yang seluruhnya
berwarna merah dan benih tidak hidup yangtidak berwarna, mungkin didapat
benih dengan pewarnaan sebagian. Pewarnaan sebagian ini dapat terjadi
karena pada benih hidup terdapat jaringan mati (jaringan nekrotik) (Anonim,
2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi daya perkecambahan biji di
antaranya adalah kadar air yang terdapat di dalam biji pada saat biji
disimpan. Apabila benih disimpan dengan kadar air yang relatif tinggi, benih
akancepat mengalami penurunan viabilitas. Hal ini disebabkan kadar air
tinggiakan mempengaruhi peningkatan kegiatan enzym yang
28

akanmempercepat terjadinya respirasi yang dapat berakibat benih
kehabisanbahan cadangan makanan. Respirasi benih akan
menghasilkanpanas dan air yang dapat mempengaruhi kelembaban di sekitar
benih menjadi tinggi (Anonim, 2003).
Sangatlah penting untuk membuka jaringan benih sebelum pewarnaan
untukmemungkinkan penetrasi larutan tetrazolium, dan memudahkan
evaluasi.Pengujibenih harus mencoba berbagai macam pilihan cara dan
mengambil cara yangmemberikan hasil pewarnaan terbaik.Benih direndam
dalam larutan tetrazolium 1% dalam gelas piala atau wadah lainyang sesuai.
Jaringan benih harus terendam sempurna dalam larutantetrazolium. Larutan
ini jangan sampai terkena sinar matahari karena akanmenyebabkan turunnya
efektifitas larutan tetrazolium (tetrazolium tidak akanbekerja). Karena itu
benih dan larutannya harus ditutup rapat selama masaproses pewarnaan,
misalnya dengan aluminium foil atau bahan lain yang sejenis (Anonim, 2007).




29

BAB V
KESIMPULAN

Pengukuran produksi visual yang diperoleh yaitu komposisi tanaman
yaitu tidak terdapat legum pada ubinan pertama maupun kedua. Jadi dapat
diketahui bahwa padang penggembalaan tersebut cukup baik, karena
produksi rumput lebih banyak dari pada legume.
MSA (Minimal Sampling Area) dapat mengetahui banyaknya spesies
dalam suatu area minimum. Jumlah spesies kumulatif yang ada dalam area
tersebut terdiri dari 22 spesies. Semakin luas areanya maka jumlah kumulatif
spesies juga semakin banyak.
Praktikum produksi lahan meliputi pemotongan hijauan, pengeringan
hiajauan di oven 55C, dlakukan pemotongan kecil-kecil dengan mesin.
Analisis bahan kering dilkukan setelahnya guna dijadikan bahan untuk
melakukan perhitungan kapasitas atau kemampuan daya tampung ternak
pada suatu lahan (carrying capacity). Kemampuan daya tampung ternak
pada suatu lahan menjadi hal yang mutlak untuk dipahami dan dipersiapkan
untuk manajerial pakan ternak yang baik.
Berdasarkan hasil praktikum terdapat korelasi antara pemberian pupuk
kandang dan urea dengan kecepatan pertambahan tinggi tanaman dan
jumlah daun. Semakin banyak jumlah pupuk yang diberikan semakin cepat
tanaman tumbuh dan semakin banyak jumlah daunnya.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
perubahan PH pada rumput yang dilayukan maupun yang tidak dilayukan
mengalami penurunan yaitu dari 7 ke 5. Penurunan kadar air lebih banyak
mengalami penyusutan pada rumput yang segar.
Berdasarkan praktikum uji tetrazolium yang dilakukan, dapat diketahui
bahwa biji kacang kedelai yang digunakan pada saat praktikum memiliki daya
30

perkecambahan atau viabilitas yang rendah. Sedangkan biji kacang tanah
diketahui telah mati atau tidak memiliki daya perkecambahan.


31

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Ali. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. Citra Aji Parama.
Yogyakarta
Agustrina, Rochmah. 2008. Perkecambahan dan Pertumbuhan Kecambah
Leguminoceae DibawahPengaruh Medan Magnet. Seminar Hasil
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Jurusan Biologi
FMIPA. Universitas Lampung. Lampung
Anonim. 2003. Modul: Melakukan Pengujian Benih. Jakarta.
Anonim, 2011. Animal Unit Months, Stocking Rate and Carrying Capacity. UK
Anonim, 2007. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik Fisiologi Benih.
Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.
Departemen Kehutanan. Jakarta
Anonim. 2007. Diktat Panduan Praktikum Manajemen Pastura. Fakultas
Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Antenna B.K. dan B.K. Soni, , 2011. Animal Carrying Capacity, Including
Concepts and Definition, Methods For Assessment and Use Of
Standard Stock Units. Direktur Jenderal (Hewan Ilmu Pengetahuan),
India Dewan Penelitian Pertanian Krishi, Bhavan di New Delhi. India
Colson, K. and J. Karl. 2011. Nested Frequency. Available at
http://wiki.landscapetoolbox.org/doku.php/field_methods:nested_frequ
ency. Accessed at 15 Desember 2011
Elzinga, C L., D. W. Salzer, and J. W.Willoughby. 2001. Measuring and
Monitoring Plant Populations. U.S. Department of the Interior Bureau
of Land Management.
Fidelibus, M. W. and R.T.F. Mac Aller. 1993. Methods for Plant Sampling.
Biology Department San Diego State University. San Diego
Henderson, N. 1993. Silage aditifs. Anim. Sci. And Tech., 45 : 35-56
Hutahaean, J. E. 2008. Tesis: Viabilitas Benih Kedelai dengan Varietas dan
Kemasan yang Berbeda pada Beberapa Ruang Penyimpanan.
Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumatera Utara. Medan
Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta
32

Leng, R. A. 1991. Application of Biotechnology to nutrition of animals in
developing countries. FAO Animal Production and Health Paper no 90,
Rome. Italy
Luthan, F. 2010. Pedoman Teknis Pengembangan Usaha Integrasi Ternak
Sapi dan Tanaman. Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia. Jakarta
Murphy, Bill. 1998. Greener Pastures on Your Side of The Fence Fourth
Edition. Arribia Publishing. United States of America
Mc Donald, P., A.R. Hunderson & S.J.E. Heron. 1991. The Biochemistry of
Silage. 2nd ed. Cambrian Printers Lt., Aberystwyth.
Novizan. 2005. Petunjuk pemupukan yang efektif. Agromedia Pustaka.
Jakarta
Parakkasi, A. 1995. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Indonesia
University Press. Jakarta
Parimin. 2008. Jambu Biji. Penebar Swadaya. Jakarta
Park, Kyung Joo. 2001. Corn Production in Asia. Taiwan.
Purwono dan Rudi Hartono. 2007. Bertanam Jagung Unggul. Penebar
Swadaya. Jakarta
Purbajanti E. D., D.Soetrisno, E.Hanudin, dan S.P.S. Budi, 2007. Karakteristik
Lima Jenis Rumput Pakan Pada Berbagai Tingkat Salinitas. Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak
Tropik. BPFE. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Ridwan, R., S. Ratnakomala, G. Kartina dan Y. Widyastuti. 2005. Pengaruh
Penambahan Dedak Padi dan Lactobacillus plantarum IBL-2 dalam
pembuatan silase rumput gajah. Media peternakan. 117-123. vol 28 no
3
Rochani, Siti. 2000. Bercocok Tanam Jagung. Axza press. Jakarta
Santoso B., B. Tj. Hariadi, H. Manik, dan H. Abu bakar, B. 2009. Kualitas
Rumput Unggul Tropika Hasil Ensilase dengan Bakteri Asam Laktat
dari Ekstrak Rumput Terfermentasi. Media Peternakan. 137-144. vol
32 no 2
Seglar, B. 2003. Fermentation analysis andsilage quality testing. Proceeding
of the innesota Dairy Health Conference College of Veterinary
Medicine, University of Minnesota. p. 119-136.
Siregar, M. E. dan Panca Dewi M. H. K. S. 1991. Budidaya Hijauan Makanan
Ternak. Balai Penelitian Ternak. Bogor
33

Siregar, M. E. 1996. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sumarsono, S. Anwar, S. Budianto, dan D. W. Widjajanto, 2006. Penampilan
Morfologi dan Produksi Bahan Kering Hijauan Rumput Gajah dan
Kolonjuno di Lahan Pantai Yang Dipupuk Dengan Pupuk Organik dan
Dua Level Pupuk Urea. Fakultas Peternakan Universitas Diponogoro.
Semarang
Yayan Sunarnya dan Agus. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Zanzibar, Muhamad. 2006. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi
pengujian Kualitas benih tanaman hutan di indonesia. Balai Litbang
Teknologi Perbenihan. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan. Departemen Kehutanan
34

LAMPIRAN

Perhitungan penanaman dan pemupukan
Pemberian pupuk:

)


Perhitungan Produksi Lahan
Luas lahan 5000m
2
Hasil produksi hijauan segar 4,2 kg/m
2
Diberi setiap hari dari total, sisanya 25% (batang)
Umur potong hijauan 39 hari
Kebutuhan ternak 1 UT = berat = 350 kg, dengan asumsi kenaikan berat
badan 0,7- 0,8 kg/hari, yakni memutuhkan :
5,1 TDN dan 0,85 kg PK
Hasil analisis proksimat rumput raja :
KA1 = 78,3%
35

DW = 100% - 78,3%
= 21,7%
KA2 = 14,31%
DM basis = 100% - 14,31%
= 85,63%
KA total Hijauan = KA1 + (KA2 x DW)
= 81,41%
DM = 100% - 81,41%
= 18,59%


36

Gambar penanaman dan pemupukan

Grafik pertambahan tinggi tanaman

Grafik pertambahan jumlah daun
0
20
40
60
80
100
120
minggu 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3
t
i
n
g
g
i

(
c
m
)

Grafik 1. Pertambahan Tinggi
Tanaman
urea 0g
urea 22g
urea 44g
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
minggu 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4
j
u
m
l
a
h

d
a
u
n

(
h
e
l
a
i
)

Grafik 2. Pertambahan Jumlah Daun
urea 0g
urea 22g
urea 44g
37


Grafik MSA 5%

0
1
2
3
4
5
6
7
8
0 1 2 3 4 5
Grafik 1. MSA 5%
Grafik 1. MSA 5%